Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Voluntrip by KitaBisa Belajar Mengenal Kukang dan Macaca bersama YIARI

Konservasi satwa liar bukan cuma urusan para ahli biologi atau aktivis lingkungan. Di tengah ancaman perdagangan ilegal, rusaknya habitat, dan menurunnya populasi satwa liar, penting bagi siapa pun untuk belajar dan memahami bagaimana cara hidup berdampingan dengan alam.

Itulah yang coba kami lakukan lewat kegiatan “Edukasi Konservasi Kukang dan Monitoring Macaca”, hasil kolaborasi antara YIARI, Voluntrip by Kitabisa, dan IDX (Bursa Efek Indonesia). Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 11 Oktober 2025 ini mengajak para relawan dan karyawan dari berbagai latar belakang untuk turun langsung ke lapangan.

Di Pusat Rehabilitasi dan Curug Nangka, kita belajar tentang kukang dan macaca, dua primata yang punya peran penting bagi keseimbangan ekosistem, sekaligus menghadapi ancaman serius di alam. Seperti apa ya kegiatannya? Yuk, simak!

Belajar Konservasi, Langsung dari Ahlinya

Salah satu materi yang disampaikan tentang rehabilitasi satwa primata YIARI (Rendi Afandi|YIARI)

Pagi itu, 21 peserta dan panitia Voluntrip by Kitabisa berkumpul di Alun-Alun Kota Bogor sebelum berangkat bareng tim YIARI ke kantor YIARI di sekitar Curug Nangka. Begitu tiba, peserta disambut hangat oleh tim YIARI dan cuaca sejuk di daerah Tamansari, Bogor.

Acara dibuka oleh Pratiwi Nur Aizah sebagai MC, dilanjutkan safety briefing dari Rikardus selaku Asisten Manajer K3L, lalu sesi pengenalan YIARI oleh Yayuk Rahmawati selaku Supervisor Media dan Komunikasi yang menjelaskan berbagai program konservasi yang YIARI lakukan. Kemudian, drh. Cici Sri Ningsih membagikan cerita dan pengalaman dalam proses penyelamatan dan rehabilitasi kukang dan macaca, mulai dari penanganan medis hingga pelepasliaran ke habitat alami mereka.

Lewat sesi ini, peserta belajar bahwa kukang bukanlah hewan peliharaan lucu, melainkan satwa nokturnal berbisa yang memiliki peran penting dalam penyerbukan hutan. Sementara Macaca fascicularis atau monyet ekor panjang kini  mulai hidup berdampingan dengan manusia karena habitatnya yang bersinggungan dengan kita. Dari sini, muncul kesadaran baru: konservasi bukan cuma soal menyelamatkan satwa, tapi juga menjaga keseimbangan hidup di alam.

Dari Kelas ke Aksi Lapangan

Salah satu kelompok saat berkegiatan membuat enrichment hammock macaca (Rendi Afandi|YIARI)

Setelah teori, waktunya praktik! Para relawan diajak bikin enrichment, yaitu serangkaian aktivitas atau alat yang dirancang untuk menumbuhkan kembali naluri alami dan kemampuan bertahan hidup mereka. Dipandu beberapa perawat satwa yaitu Jakaria, Ruli, Yudi, dan tim YIARI lainnya yaitu Itang dan Julitasari peserta dibagi menjadi tiga kelompok.

Enrichment yang dibuat ialah box tidur untuk kukang serta hammock untuk macaca. Selain seru, kegiatan ini bikin peserta lebih paham bahwa kesejahteraan satwa bukan cuma soal makan dan tempat tinggal, tapi juga tentang kebutuhan mental dan perilaku alaminya.

Peserta kegiatan ini, Dio dan Ayi menyatakan pengalaman menyenangkannya ketika membuat enrichment. “Ini pengalaman pertama kami bikin hammock. Seneng banget! Jadi tahu ternyata bikin alat enrichment itu perlu tenaga dan kerja sama. Kami juga terinspirasi untuk buat alat yang sama untuk peliharaan di rumah,” ujar mereka.

Setelah makan siang bareng dengan konsep less plastic dan edukasi pemilahan sampah, mereka bersiap menuju Curug Nangka, kawasan di bawah pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Sebelumnya, mereka sudah diberikan briefing singkat tentang cara melakukan pengamatan mep di alam dan etika bijak berwisata oleh Itang selaku koordinator konservasi macaca memberikan.

Memantau Monyet Ekor Panjang di Habitatnya

Peserta melakukan pengamatan monyet ekor panjang di wilayah Curug Nangka (Rendi Afandi|YIARI)

Setibanya di Curug Nangka, secara berkelompok, para peserta melakukan pengamatan monyet ekor panjang di habitat aslinya. Dengan membawa handbook pengamatan, mereka menelusuri area hutan dan mengamati langsung perilaku macaca di habitat alaminya.

Dari aktivitas ini, peserta belajar mengamati perilaku sosial, interaksi kelompok, mencari makan, juga sifat alami monyet ekor panjang lainnya. Mereka juga belajar bijak berwisata, bagaimana berinteraksi di alam tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem. Hal ini diterapkan dengan cara menjaga jarak dan tidak memberi makan satwa liar.

Aisyah dan Rahma membagikan pengalaman barunya ketika belajar pengamatan perilaku satwa di habitat alami. “Seru banget! Ternyata perilaku kita sangat memengaruhi reaksi macaca. Kalau kita bawa sesuatu, mereka langsung memperhatikan. Jadi sekarang tahu, satwa liar nggak boleh dikasih makan,” ujar Aisyah.

Para peserta voluntrip membagikan pengalamannya saat melakukan pengamatan monyet ekor panjang (Rendi Afandi|YIARI)

Setelah melakukan pengamatan, setiap kelompok membagikan hasil pengamatannya dan berdiskusi dengan Elisabet dan Itang. Elisabet, Asisten Manajer Konservasi Macaca YIARI menjelaskan alasan mengapa pemberian makanan pada satwa liar dilarang. “Monyet ekor panjang di alam sebenarnya sudah bisa mencari makan sendiri. Tapi kalau terus diberi makan oleh manusia, mereka jadi tergantung dan bisa berubah perilakunya menjadi agresif,” terangnya.

Zaky dari Voluntrip by KitaBisa mengungkapkan pesan yang ia pelajari tentang pentingnya berwisata secara bijak. “Bijak berwisata itu penting banget. Kita tahu Indonesia punya potensi wisata luar biasa, tapi harus diimbangi dengan rasa empati dan tanggung jawab terhadap alam dan satwa liar,” ujarnya.

Menyebar Semangat Konservasi 

Lewat kegiatan ini, kami menunjukkan bahwa belajar konservasi bisa dilakukan siapa saja, dari mana saja. Kolaborasi antara YIARI, Voluntrip by Kitabisa, dan IDX ini membuktikan bahwa seluruh masyarakat bisa terlibat dengan konservasi.

Dari mengenal satwa liar seperti kukang dan macaca, membuat enrichment, hingga mengamati perilaku mereka langsung di habitatnya, semua peserta pulang dengan semangat baru untuk menjaga alam. Karena pada akhirnya, menyelamatkan satwa liar berarti menyelamatkan masa depan kita juga.

Salam konservasi!

Featured image: Rendi Afandi YIARI