Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Monyet Ekor Panjang: Ciri, Perilaku, sampai Tantangan Hidupnya

Pernah lihat monyet ekor panjang di pinggir jalan, hutan kota, atau tempat wisata? Satwa primata ini memang gampang banget ditemui di Indonesia.

Gerakannya lincah, ekspresinya sering bikin gemas, dan kelihatannya pintar beradaptasi di sekitar manusia. Tapi, monyet ekor panjang bukan sekadar satwa yang “sering lewat”. Mereka punya peran penting di alam dan juga menghadapi berbagai tantangan, terutama karena semakin dekat dengan aktivitas manusia.

Yuk, kenalan lebih dekat dengan monyet ekor panjang!

Apa Itu Monyet Ekor Panjang?

Monyet ekor panjang adalah satwa primata yang banyak ditemukan di Indonesia dan dikenal mampu hidup di berbagai jenis lingkungan.

Satwa ini memiliki nama ilmiah Macaca fascicularis dan termasuk kelompok primata yang aktif serta cerdas. Di alam, monyet ekor panjang merupakan satwa liar yang hidup bebas dan memiliki perilaku alami yang berbeda dengan satwa peliharaan.

Meski sering terlihat di sekitar pemukiman atau kawasan wisata, keberadaan monyet ekor panjang tetap berkaitan erat dengan habitat alaminya dan keseimbangan lingkungan tempat ia hidup.

Nama “monyet ekor panjang” sendiri merujuk langsung pada ciri fisik yang paling mudah dikenali, yaitu ekornya yang panjang dan ramping. Ciri ini membedakannya dari beberapa jenis monyet lain yang memiliki ekor lebih pendek atau tidak mencolok.

Ciri Fisik dan Karakteristik Utama

Monyet ekor panjang termasuk satwa primata berukuran sedang dengan tubuh yang dirancang untuk bergerak aktif di darat maupun di pepohonan. Berikut ciri fisik dan karakteristik utamanya:

  • Ukuran tubuh sedang: Panjang tubuh monyet ekor panjang dewasa umumnya berkisar antara 40–55 sentimeter, tidak termasuk ekor. Ukuran ini memungkinkan satwa ini bergerak lincah tanpa membutuhkan energi terlalu besar.
  • Berat badan relatif ringan: Berat tubuh rata-rata berada di kisaran 3–6 kilogram. Jantan biasanya memiliki bobot lebih besar dibandingkan betina, seiring dengan perbedaan peran dan struktur tubuh.
  • Ekor sangat panjang dan ramping: Ekor menjadi ciri paling menonjol. Panjangnya bisa menyamai, bahkan melebihi, panjang tubuh. Ekor berfungsi sebagai alat keseimbangan saat berjalan di dahan, melompat, atau berpindah tempat dengan cepat, meskipun tidak digunakan untuk bergelantungan penuh.
  • Postur tubuh ramping dan proporsional: Bentuk tubuh yang tidak terlalu besar membuat monyet ekor panjang gesit dan mudah bermanuver di berbagai medan, baik di tanah maupun di vegetasi rapat.
  • Warna bulu dominan cokelat keabu-abuan: Bulu tubuh umumnya berwarna cokelat keabu-abuan hingga cokelat kekuningan. Bagian perut cenderung lebih terang, sementara punggung dan sisi tubuh terlihat lebih gelap.
  • Wajah relatif tanpa bulu: Area sekitar mata dan mulut tidak ditutupi bulu tebal, sehingga ekspresi wajah terlihat jelas. Ciri ini membantu individu dalam kelompok mengenali isyarat visual satu sama lain.
  • Mata tajam dan menghadap ke depan: Posisi mata membantu penglihatan binokular, yang penting untuk memperkirakan jarak saat melompat atau bergerak di pepohonan.
  • Perbedaan fisik jantan dan betina (dimorfisme seksual): Jantan umumnya bertubuh lebih besar dan berotot, sedangkan betina berukuran lebih kecil dengan tubuh lebih ramping. Perbedaan ini umum ditemukan pada satwa primata yang hidup berkelompok.

Habitat Alami dan Sebaran Lingkungan

Gambar individu monyet ekor panjang/Itang YIARI

Monyet ekor panjang secara alami hidup di berbagai tipe habitat yang menyediakan pakan, tempat berlindung, dan ruang untuk bergerak. Satwa ini banyak ditemukan di kawasan tropis dan dikenal memiliki sebaran yang cukup luas di Indonesia.

Habitat alami monyet ekor panjang meliputi:

  • Hutan hujan tropis, baik hutan primer maupun hutan sekunder
  • Hutan mangrove, terutama di wilayah pesisir
  • Tepi sungai dan rawa, yang menyediakan sumber air dan pakan
  • Kawasan hutan yang terfragmentasi, selama masih memiliki vegetasi penyangga

Selain di habitat alami, monyet ekor panjang juga kerap dijumpai di area yang berbatasan langsung dengan aktivitas manusia, seperti hutan kota, perkebunan, dan kawasan wisata alam. Kehadiran di wilayah-wilayah ini umumnya terjadi akibat perubahan bentang alam dan penyusutan ruang hidup alami.

Secara geografis, monyet ekor panjang tersebar luas di berbagai pulau di Indonesia. Sebaran ini menunjukkan satwa tersebut mampu bertahan di lingkungan yang beragam, selama kebutuhan dasarnya tetap terpenuhi.

Namun, semakin sempit dan terputusnya habitat alami dapat membatasi ruang gerak serta meningkatkan tekanan terhadap keberlangsungan hidup monyet ekor panjang di alam.

Baca juga:

Pola Hidup dan Perilaku Sosial Monyet Ekor Panjang

Monyet ekor panjang dikenal sebagai satwa yang sangat sosial. Dalam kehidupan alaminya, mereka hampir tidak pernah hidup sendiri. Pola hidup inilah yang membantu mereka bertahan di alam sekaligus beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah.

Berikut beberapa aspek utama pola hidup dan perilaku sosial monyet ekor panjang:

1. Hidup Berkelompok dalam Sistem Sosial

Monyet ekor panjang merupakan satwa primata yang secara alami hidup berkelompok dan jarang ditemukan hidup sendiri. Kelompok ini dikenal sebagai troop dan terdiri dari individu dewasa, remaja, hingga anak.

Beberapa penelitian primatologi menunjukkan bahwa Macaca fascicularis hidup dalam sistem multi-jantan dan multi-betina. Studi yang dimuat dalam International Journal of Primatology menjelaskan, struktur kelompok seperti ini umum ditemukan pada genus Macaca dan berperan penting dalam menjaga stabilitas sosial.

Hidup berkelompok membantu monyet ekor panjang meningkatkan keamanan dari ancaman dan mempermudah koordinasi saat mencari pakan di alam.

Ciri umum kehidupan berkelompok monyet ekor panjang:

  • Jumlah anggota kelompok dapat mencapai puluhan individu
  • Terdapat individu dominan dalam kelompok
  • Setiap individu memiliki posisi sosial yang berbeda

2. Struktur Sosial dan Hierarki dalam Kelompok

Di dalam kelompok, monyet ekor panjang memiliki struktur sosial yang tersusun secara hierarkis. Posisi sosial ini memengaruhi akses terhadap sumber daya, pasangan, dan ruang dalam kelompok.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Primates: Journal of Primatology menyampaikan, hierarki sosial membantu mengurangi konflik terbuka antar-individu. Dengan adanya struktur yang jelas, interaksi sosial menjadi lebih teratur dan risiko pertikaian serius dapat ditekan.

Beberapa ciri struktur sosial monyet ekor panjang:

  • Individu dominan memiliki pengaruh besar dalam kelompok
  • Individu dengan status lebih rendah cenderung menghindari konflik langsung
  • Hubungan sosial bersifat dinamis dan dapat berubah seiring waktu

3. Peran Jantan, Betina, dan Anak dalam Kehidupan Kelompok

Setiap individu dalam kelompok monyet ekor panjang memiliki peran yang berbeda, tergantung usia dan jenis kelaminnya. Pembagian peran ini membantu kelompok berfungsi secara efektif.

Studi perilaku yang dimuat dalam American Journal of Primatology mengungkapkan, betina memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan sosial kelompok, sementara jantan sering terlibat dalam perlindungan dan interaksi antar kelompok.

Secara umum:

  • Betina dewasa berperan besar dalam merawat anak dan menjaga kohesi sosial
  • Jantan dewasa berperan dalam perlindungan kelompok
  • Anak belajar perilaku sosial melalui interaksi dan pengamatan

4. Grooming sebagai Bentuk Interaksi Sosial

Salah satu perilaku sosial paling penting pada monyet ekor panjang adalah grooming, yaitu aktivitas saling membersihkan bulu. Perilaku ini bukan sekadar menjaga kebersihan, tetapi juga memiliki fungsi sosial yang kuat.

Primates menjelaskan, grooming berperan dalam:

  • Mempererat hubungan antar-individu
  • Mengurangi stres dan agresivitas
  • Menjaga stabilitas sosial kelompok

5. Pola Aktivitas Harian dalam Kehidupan Sosial

Monyet ekor panjang termasuk satwa diurnal, yaitu aktif pada siang hari. Aktivitas harian seperti berpindah tempat, berinteraksi, dan mencari pakan dilakukan bersama-sama dalam kelompok.

Studi lapangan yang dipublikasikan dalam International Journal of Primatology menunjukkan, aktivitas sosial dan pergerakan kelompok saling berkaitan dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.

Cara Berkomunikasi dan Menjalin Interaksi

Gambar monyet ekor panjang dan anaknya/Itang YIARI

Sebagai satwa primata yang hidup berkelompok, monyet ekor panjang memiliki sistem komunikasi yang beragam. Komunikasi ini berperan penting dalam menjaga hubungan sosial, menghindari konflik, serta memastikan koordinasi antarindividu di dalam kelompok:

1. Komunikasi Melalui Suara (Vokalisasi)

Monyet ekor panjang menggunakan berbagai jenis suara untuk berkomunikasi dengan anggota kelompoknya. Vokalisasi digunakan untuk memberi peringatan, menjaga jarak, hingga menandai keberadaan individu lain.

International Journal of Primatology juga menyatakan, vokalisasi pada Macaca fascicularis memiliki konteks sosial yang jelas, misalnya untuk memperingatkan ancaman atau memanggil anggota kelompok.

Fungsi utama vokalisasi meliputi:

  • Memberi peringatan terhadap potensi bahaya
  • Menjaga kohesi kelompok saat berpindah lokasi
  • Menandai posisi individu dalam kelompok

2. Ekspresi Wajah sebagai Isyarat Sosial

Selain suara, monyet ekor panjang mengandalkan ekspresi wajah sebagai bentuk komunikasi visual. Gerakan mata, posisi mulut, dan perubahan ekspresi digunakan untuk menyampaikan emosi atau niat tertentu.

Studi yang dimuat dalam Primates menunjukkan bahwa ekspresi wajah berperan penting dalam:

  • Menunjukkan dominasi atau kepatuhan
  • Memberi sinyal waspada
  • Menghindari konfrontasi langsung

3. Bahasa Tubuh dan Gerakan Fisik

Bahasa tubuh juga menjadi bagian penting dalam komunikasi monyet ekor panjang. Gerakan tubuh, posisi duduk, sampai cara berjalan dapat menyampaikan pesan sosial tertentu kepada individu lain.

Bahasa tubuh pada primata sosial berfungsi sebagai sinyal nonverbal yang efektif untuk mengatur interaksi tanpa harus menggunakan suara. Bahasa tubuh umumnya digunakan untuk:

  • Menunjukkan niat mendekat atau menjauh
  • Mengatur jarak antar-individu
  • Menjaga ketertiban sosial dalam kelompok

4. Interaksi Sosial Melalui Kontak Fisik

Kontak fisik, seperti sentuhan ringan dan bermain, menjadi bagian dari interaksi sosial monyet ekor panjang, terutama antara induk dan anak atau antar-individu yang memiliki hubungan dekat.

American Journal of Primatology menjelaskan, kontak fisik berperan penting dalam pembelajaran sosial dan pembentukan ikatan sejak usia dini.

Adaptasi Monyet Ekor Panjang di Lingkungan Manusia

Perubahan bentang alam akibat aktivitas manusia membuat monyet ekor panjang semakin sering hidup di wilayah yang berdekatan dengan permukiman, perkebunan, dan kawasan wisata.

Dalam kondisi ini, monyet ekor panjang menunjukkan kemampuan adaptasi tinggi terhadap lingkungan yang telah dimodifikasi manusia. Adaptasi tersebut terlihat dari perubahan:

  • Cara mencari pakan
  • Waktu beraktivitas
  • Respons terhadap kehadiran manusia

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Animals (MDPI) menyebutkan, monyet ekor panjang dapat menyesuaikan waktu dan lokasi mencari pakan ketika hidup di area dengan aktivitas manusia tinggi.

Satwa ini juga mampu mengenali sumber pakan baru yang berasal dari manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Fleksibilitas perilaku ini membantu monyet ekor panjang bertahan di lingkungan yang ruang hidup alaminya semakin terbatas.

Pola Makan dan Peran Ekologis

Monyet ekor panjang dikenal sebagai satwa yang tidak pilih-pilih makanan. Fleksibilitas ini bikin mereka bisa bertahan di berbagai kondisi lingkungan, terutama di hutan tropis. Dalam kajian ekologi, monyet ekor panjang termasuk satwa omnivora karena memanfaatkan beragam sumber pakan yang tersedia di alam.

Berdasarkan berbagai penelitian primatologi, pola makan monyet ekor panjang di habitat alaminya meliputi:

  • Buah-buahan, terutama buah matang yang mudah dicerna
  • Biji dan daun muda, sebagai sumber energi tambahan
  • Bunga dan tunas tanaman, tergantung musim
  • Serangga kecil dan invertebrata, sebagai sumber protein

Variasi pakan ini membantu monyet ekor panjang tetap bertahan saat ketersediaan makanan berubah, misalnya ketika musim buah sedang sedikit. Dengan kata lain, mereka tidak bergantung pada satu jenis pakan saja.

Namun, peran monyet ekor panjang di alam tidak berhenti pada urusan makan. Satwa ini juga punya fungsi penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Salah satu peran ekologis utamanya adalah sebagai penyebar biji alami.

Saat mencari makan, monyet ekor panjang:

  • Membawa biji buah ke berbagai lokasi
  • Meninggalkan biji melalui sisa pakan
  • Membantu biji tumbuh jauh dari pohon induknya

Dilansir dalam Primates: Journal of Primatology, proses ini berkontribusi besar pada regenerasi tumbuhan dan menjaga keanekaragaman hayati hutan. Bahkan, penelitian di American Journal of Primatology menegaskan, berkurangnya satwa penyebar biji dapat berdampak langsung pada menurunnya variasi tumbuhan dalam jangka panjang.

Ancaman terhadap Populasi Monyet Ekor Panjang

Walaupun monyet ekor panjang masih sering terlihat di sekitar kita, bukan berarti satwa ini bebas dari masalah. Justru karena sering berdekatan dengan manusia, ancamannya makin beragam dan sering tidak disadari.

Beberapa ancaman yang paling sering dihadapi monyet ekor panjang, antara lain:

  • Habitat alami yang terus menyusut: Hutan yang menjadi tempat hidup monyet ekor panjang semakin berkurang akibat pembukaan lahan untuk permukiman, pertanian, dan infrastruktur. Saat ruang hidupnya menyempit, monyet ekor panjang terpaksa berpindah ke area yang lebih dekat dengan manusia, yang sebenarnya bukan lingkungan ideal bagi satwa liar.
  • Konflik dengan manusia yang makin sering terjadi: Ketika habitatnya terganggu, monyet ekor panjang kerap masuk ke kebun, ladang, atau permukiman untuk mencari makan. Dari sini, konflik mudah muncul, mulai dari dianggap hama, diusir, sampai disakiti.
  • Kebiasaan diberi makan oleh manusia: Banyak orang memberi makan monyet ekor panjang karena merasa kasihan atau ingin berinteraksi. Padahal, kebiasaan ini bisa mengubah perilaku alami satwa. Monyet menjadi terlalu berani, agresif, dan bergantung pada manusia, serta kehilangan kemampuan mencari pakan alami di hutan.
  • Penangkapan dan perdagangan satwa liar: Di beberapa wilayah, monyet ekor panjang masih ditangkap untuk berbagai kepentingan, mulai dari dipelihara hingga tujuan komersial lainnya. Penangkapan ini mengurangi populasi di alam dan sering dilakukan tanpa memperhatikan kesejahteraan satwa.
  • Tekanan di kawasan wisata alam: Di lokasi wisata, monyet ekor panjang sering terpapar keramaian, suara bising, dan interaksi berlebihan dengan pengunjung. Kondisi ini dapat menyebabkan stres, perubahan pola makan, dan perubahan perilaku sosial dalam kelompok.
  • Risiko penyakit akibat kontak dekat dengan manusia: Interaksi yang terlalu dekat meningkatkan risiko penularan penyakit, baik dari manusia ke monyet ekor panjang maupun sebaliknya. Hal ini bisa berdampak pada kesehatan individu dan kelompok satwa di alam.

Baca juga:

Status Konservasi Monyet Ekor Panjang

Gambar individu monyet ekor panjang/Itang YIARI

Kalau sering melihat monyet ekor panjang di berbagai tempat, wajar kalau muncul anggapan bahwa satwa ini “aman-aman saja”. Padahal, status konservasi tidak hanya dilihat dari seberapa sering satwa tersebut dijumpai.

Secara global, monyet ekor panjang dengan nama ilmiah Macaca fascicularis dinilai oleh IUCN sebagai satwa dengan status rentan (vulnerable). Status ini menunjukkan bahwa populasinya berisiko menurun jika ancaman yang ada terus berlangsung.

Beberapa hal penting yang perlu dipahami soal status konservasi monyet ekor panjang:

  • Populasinya tidak merata, ada wilayah yang masih banyak, tapi ada juga yang mulai menurun
  • Tekanan dari aktivitas manusia terus meningkat, terutama akibat kehilangan habitat dan konflik
  • Penurunan populasi bisa terjadi secara perlahan, sehingga sering tidak langsung terlihat

Cara Kita Berkontribusi Melindungi Monyet Ekor Panjang

Melindungi monyet ekor panjang bisa dimulai dari kebiasaan kecil sehari-hari. Hal-hal sederhana ini kelihatannya sepele, tapi dampaknya besar kalau dilakukan bersama-sama.

  • Tidak memberi makan sembarangan: Memberi makan monyet ekor panjang, terutama makanan manusia, bisa mengubah perilaku alaminya. Satwa jadi malas mencari pakan sendiri, lebih agresif, dan terlalu bergantung pada manusia. Dalam jangka panjang, ini bisa merugikan kesehatan dan kemampuan bertahan hidup mereka di alam.
  • Menjaga jarak aman saat bertemu satwa: Monyet ekor panjang tetaplah satwa liar, meskipun sering terlihat dekat manusia. Menjaga jarak membantu mengurangi stres pada satwa dan mencegah risiko konflik atau penularan penyakit.
  • Tidak mengganggu atau memancing interaksi: Menggoda, melempar benda, atau memaksa berinteraksi bisa memicu respons agresif. Satwa yang merasa terancam bisa menyerang sebagai bentuk perlindungan diri.
  • Mendukung pengelolaan kawasan yang ramah satwa: Saat berada di kawasan wisata alam, patuhi aturan yang berlaku, seperti larangan memberi makan atau mendekati satwa. Aturan ini dibuat bukan untuk membatasi pengunjung, tetapi untuk melindungi monyet ekor panjang dan lingkungannya.
  • Tidak terlibat dalam perdagangan satwa liar: Membeli, memelihara, atau mendukung perdagangan monyet ekor panjang berarti ikut merusak populasinya di alam. Satwa liar seharusnya hidup bebas di habitatnya, bukan dijadikan peliharaan atau komoditas.
  • Menyebarkan edukasi yang benar: Mengajak teman, keluarga, atau lingkungan sekitar untuk memahami cara hidup berdampingan dengan monyet ekor panjang adalah langkah penting. Semakin banyak orang paham, semakin kecil risiko konflik dan salah perlakuan terhadap satwa.

Belajar Mengenal, Lalu Menjaga

Monyet ekor panjang bukan sekadar satwa yang sering kita temui di sekitar manusia. Mereka punya peran penting dalam ekosistem dan cara hidup yang unik, yang patut kita pahami bersama. Semakin kita mengenal monyet ekor panjang, semakin besar peluang kita untuk hidup berdampingan tanpa konflik.

Upaya menjaga monyet ekor panjang tidak selalu harus rumit. Sikap sederhana seperti tidak memberi pakan sembarangan, menjaga jarak, dan menghormati ruang hidup satwa sudah menjadi langkah berarti. Dari kebiasaan kecil inilah, dampak besar untuk kelestarian alam bisa tercipta.

Yuk, mulai lebih peduli terhadap monyet ekor panjang dan satwa liar lainnya. Dengan pemahaman dan tindakan yang tepat, kita bisa ikut menjaga keseimbangan alam dan memastikan satwa tetap hidup aman di habitatnya!

Referensi

  1. International Journal of Primatology – Springer. [Buka]
  2. Primates: Journal of Primatology – Springer. [Buka]
  3. American Journal of Primatology – Wiley Online Library. [Buka]
  4. Behaviour (Journal of Behavioural Biology) – Brill. [Buka]
  5. Animals – MDPI Journal of Animal Science & Zoology. [Buka]
  6. IUCN – International Union for Conservation of Nature. [Buka]
  7. Featured image: Gambar individu monyet ekor panjang/Itang YIARI

Memperingati Hari Primata Indonesia, ITERA dan YIARI Bahas Tantangan Konservasi Macaca di Indonesia

Dalam rangka memperingati Hari Primata Indonesia, Program Studi Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Sumatera (ITERA) bersama Himpunan Mahasiswa Rekayasa Kehutanan (FORESTA) bekerja sama dengan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelenggarakan kuliah umum bertema “Situasi Konservasi Macaca di Indonesia” pada Sabtu, 31 Januari 2026.

Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–12.00 WIB ini menghadirkan dua narasumber dari YIARI, yaitu Elisabet R.R.B. Hutabarat (Asisten Manajer Konservasi Macaca) dan Ismail Agung Rusmadipraja (Senior Manajer Edukasi dan Penyadartahuan). Kuliah umum diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk ITERA, Universitas Lampung, dan UIN Raden Intan Lampung.

Elisabet R.R.B. Hutabarat, Asisten Manajer Konservasi Macaca, memaparkan presentasi tentang Konservasi Macaca dan Peluang Riset di Indonesia (ITERA)

Dalam pemaparannya, Elisabet menjelaskan bahwa Indonesia memiliki 11 anggota genus Macaca, dengan Macaca fascicularis sebagai spesies dengan sebaran terluas. Ia juga menyoroti spesies endemik seperti yaki (Macaca nigra), boti (Macaca ochreata), serta beruk Mentawai (Macaca pagensis) yang berperan penting sebagai penyebar biji di ekosistem hutan.

“Konservasi Macaca menghadapi berbagai tantangan, mulai dari deforestasi, perburuan liar, hingga konflik dengan manusia. Oleh karena itu, diperlukan penguatan riset yang mencakup aspek biologi maupun sosial, serta penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal,” jelas Elisabet.

Ismail Agung Rusmadipraja, Senior Manajer Edukasi dan Penyadartahuan, memaparkan tentang Problematika Monyet Ekor Panjang & Beruk di Media Sosial (ITERA)

Sementara itu, Ismail Agung Rusmadipraja membahas fenomena eksploitasi primata di ruang digital. Ia memaparkan bahwa konten kekerasan terhadap monyet masih ditemukan di berbagai platform ilegal, serta perdagangan satwa melalui media sosial kerap melibatkan perburuan induk di alam. Fenomena ini diperparah oleh tren pemeliharaan satwa liar yang tidak memperhatikan aspek kesejahteraan satwa.

Kuliah umum ini bertujuan meningkatkan pemahaman civitas akademika mengenai situasi konservasi Macaca di Indonesia sekaligus mendorong keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan penelitian, magang, dan kolaborasi konservasi bersama YIARI. Selain sesi pemaparan, kegiatan juga diisi dengan presentasi poster penelitian mahasiswa Rekayasa Kehutanan ITERA terkait primata.

Peserta dan narasumber YIARI dalam peringatan Hari Primata Indonesia membahas konservasi Macaca di Indonesia (ITERA)

Melalui kolaborasi antara lembaga pendidikan dan organisasi konservasi, diharapkan upaya perlindungan primata Indonesia dapat diperkuat melalui riset, edukasi, dan keterlibatan generasi muda.

Kontributor: Jhon Jackfri, FORESTA ITERA

Voluntrip by KitaBisa Belajar Mengenal Kukang dan Macaca bersama YIARI

Konservasi satwa liar bukan cuma urusan para ahli biologi atau aktivis lingkungan. Di tengah ancaman perdagangan ilegal, rusaknya habitat, dan menurunnya populasi satwa liar, penting bagi siapa pun untuk belajar dan memahami bagaimana cara hidup berdampingan dengan alam.

Itulah yang coba kami lakukan lewat kegiatan “Edukasi Konservasi Kukang dan Monitoring Macaca”, hasil kolaborasi antara YIARI, Voluntrip by Kitabisa, dan IDX (Bursa Efek Indonesia). Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 11 Oktober 2025 ini mengajak para relawan dan karyawan dari berbagai latar belakang untuk turun langsung ke lapangan.

Di Pusat Rehabilitasi dan Curug Nangka, kita belajar tentang kukang dan macaca, dua primata yang punya peran penting bagi keseimbangan ekosistem, sekaligus menghadapi ancaman serius di alam. Seperti apa ya kegiatannya? Yuk, simak!

Belajar Konservasi, Langsung dari Ahlinya

Salah satu materi yang disampaikan tentang rehabilitasi satwa primata YIARI (Rendi Afandi|YIARI)

Pagi itu, 21 peserta dan panitia Voluntrip by Kitabisa berkumpul di Alun-Alun Kota Bogor sebelum berangkat bareng tim YIARI ke kantor YIARI di sekitar Curug Nangka. Begitu tiba, peserta disambut hangat oleh tim YIARI dan cuaca sejuk di daerah Tamansari, Bogor.

Acara dibuka oleh Pratiwi Nur Aizah sebagai MC, dilanjutkan safety briefing dari Rikardus selaku Asisten Manajer K3L, lalu sesi pengenalan YIARI oleh Yayuk Rahmawati selaku Supervisor Media dan Komunikasi yang menjelaskan berbagai program konservasi yang YIARI lakukan. Kemudian, drh. Cici Sri Ningsih membagikan cerita dan pengalaman dalam proses penyelamatan dan rehabilitasi kukang dan macaca, mulai dari penanganan medis hingga pelepasliaran ke habitat alami mereka.

Lewat sesi ini, peserta belajar bahwa kukang bukanlah hewan peliharaan lucu, melainkan satwa nokturnal berbisa yang memiliki peran penting dalam penyerbukan hutan. Sementara Macaca fascicularis atau monyet ekor panjang kini  mulai hidup berdampingan dengan manusia karena habitatnya yang bersinggungan dengan kita. Dari sini, muncul kesadaran baru: konservasi bukan cuma soal menyelamatkan satwa, tapi juga menjaga keseimbangan hidup di alam.

Dari Kelas ke Aksi Lapangan

Salah satu kelompok saat berkegiatan membuat enrichment hammock macaca (Rendi Afandi|YIARI)

Setelah teori, waktunya praktik! Para relawan diajak bikin enrichment, yaitu serangkaian aktivitas atau alat yang dirancang untuk menumbuhkan kembali naluri alami dan kemampuan bertahan hidup mereka. Dipandu beberapa perawat satwa yaitu Jakaria, Ruli, Yudi, dan tim YIARI lainnya yaitu Itang dan Julitasari peserta dibagi menjadi tiga kelompok.

Enrichment yang dibuat ialah box tidur untuk kukang serta hammock untuk macaca. Selain seru, kegiatan ini bikin peserta lebih paham bahwa kesejahteraan satwa bukan cuma soal makan dan tempat tinggal, tapi juga tentang kebutuhan mental dan perilaku alaminya.

Peserta kegiatan ini, Dio dan Ayi menyatakan pengalaman menyenangkannya ketika membuat enrichment. “Ini pengalaman pertama kami bikin hammock. Seneng banget! Jadi tahu ternyata bikin alat enrichment itu perlu tenaga dan kerja sama. Kami juga terinspirasi untuk buat alat yang sama untuk peliharaan di rumah,” ujar mereka.

Setelah makan siang bareng dengan konsep less plastic dan edukasi pemilahan sampah, mereka bersiap menuju Curug Nangka, kawasan di bawah pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Sebelumnya, mereka sudah diberikan briefing singkat tentang cara melakukan pengamatan mep di alam dan etika bijak berwisata oleh Itang selaku koordinator konservasi macaca memberikan.

Memantau Monyet Ekor Panjang di Habitatnya

Peserta melakukan pengamatan monyet ekor panjang di wilayah Curug Nangka (Rendi Afandi|YIARI)

Setibanya di Curug Nangka, secara berkelompok, para peserta melakukan pengamatan monyet ekor panjang di habitat aslinya. Dengan membawa handbook pengamatan, mereka menelusuri area hutan dan mengamati langsung perilaku macaca di habitat alaminya.

Dari aktivitas ini, peserta belajar mengamati perilaku sosial, interaksi kelompok, mencari makan, juga sifat alami monyet ekor panjang lainnya. Mereka juga belajar bijak berwisata, bagaimana berinteraksi di alam tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem. Hal ini diterapkan dengan cara menjaga jarak dan tidak memberi makan satwa liar.

Aisyah dan Rahma membagikan pengalaman barunya ketika belajar pengamatan perilaku satwa di habitat alami. “Seru banget! Ternyata perilaku kita sangat memengaruhi reaksi macaca. Kalau kita bawa sesuatu, mereka langsung memperhatikan. Jadi sekarang tahu, satwa liar nggak boleh dikasih makan,” ujar Aisyah.

Para peserta voluntrip membagikan pengalamannya saat melakukan pengamatan monyet ekor panjang (Rendi Afandi|YIARI)

Setelah melakukan pengamatan, setiap kelompok membagikan hasil pengamatannya dan berdiskusi dengan Elisabet dan Itang. Elisabet, Asisten Manajer Konservasi Macaca YIARI menjelaskan alasan mengapa pemberian makanan pada satwa liar dilarang. “Monyet ekor panjang di alam sebenarnya sudah bisa mencari makan sendiri. Tapi kalau terus diberi makan oleh manusia, mereka jadi tergantung dan bisa berubah perilakunya menjadi agresif,” terangnya.

Zaky dari Voluntrip by KitaBisa mengungkapkan pesan yang ia pelajari tentang pentingnya berwisata secara bijak. “Bijak berwisata itu penting banget. Kita tahu Indonesia punya potensi wisata luar biasa, tapi harus diimbangi dengan rasa empati dan tanggung jawab terhadap alam dan satwa liar,” ujarnya.

Menyebar Semangat Konservasi 

Lewat kegiatan ini, kami menunjukkan bahwa belajar konservasi bisa dilakukan siapa saja, dari mana saja. Kolaborasi antara YIARI, Voluntrip by Kitabisa, dan IDX ini membuktikan bahwa seluruh masyarakat bisa terlibat dengan konservasi.

Dari mengenal satwa liar seperti kukang dan macaca, membuat enrichment, hingga mengamati perilaku mereka langsung di habitatnya, semua peserta pulang dengan semangat baru untuk menjaga alam. Karena pada akhirnya, menyelamatkan satwa liar berarti menyelamatkan masa depan kita juga.

Salam konservasi!

Featured image: Rendi Afandi YIARI

7 Fakta Unik Macaca yang Jarang Diketahui

Pernah melintasi jalan Alas Purwo di Banyuwangi dan melihat macaca atau monyet ekor panjang di pinggir jalan?

Primata lincah ini sering tampak bergelantungan di pohon atau berlarian dalam kelompok, tapi ternyata ada banyak hal menarik tentang mereka yang jarang kita ketahui.

Macaca tersebar luas mulai dari Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Afrika Utara. Mereka bukan sekadar “monyet biasa”, melainkan satwa sosial dengan peran penting dalam ekosistem.

Penasaran dengan fakta unik lainnya tentang primata cerdas ini? Yuk, simak tujuh fakta menarik tentang macaca berikut ini!

7 Fakta Tentang Macaca

Yuk, simak beberapa fakta menarik berikut ini:

1. Punya Kecerdasan Luar Biasa

Macaca dikenal sangat cerdas. Mereka bisa mengenali wajah, menghitung benda sederhana, sampai memahami hubungan sebab-akibat.

Penelitian di Universitas Kyoto, Jepang, menemukan bahwa macaca Jepang (Macaca fuscata) bahkan bisa mengingat urutan angka yang hanya muncul sekilas di layar lebih baik daripada mahasiswa. Ini menunjukkan betapa kuatnya memori mereka.

Selain itu, macaca pandai belajar hanya dengan mengamati. Misalnya, mereka tahu cara memecahkan batok kelapa untuk mendapatkan air atau menyembunyikan makanan agar tidak diambil oleh anggota kelompok lain.

2. Hidup dalam Hierarki Sosial

(Beberapa individu macaca sedang berada di ranting pohon | Itang YIARI)

Selain pintar, macaca juga punya kehidupan sosial yang teratur. Mereka hidup berkelompok hingga ratusan individu, dengan aturan siapa yang berhak lebih dulu mendapatkan makanan, tempat istirahat, atau pasangan.

Biasanya, status sosial diwariskan dari induk betina ke anaknya. Pada macaca ekor panjang (Macaca fascicularis), betina dengan pangkat tinggi sering mendapat perlindungan dan dukungan saat ada konflik.

Sementara itu, pejantan harus berjuang untuk mendapatkan posisi, entah lewat kekuatan atau membentuk aliansi. Menariknya, jurnal yang dipublikasikan di Science menunjukkan, macaca dengan hierarki yang terlalu ketat bisa mengalami lebih banyak stres dibanding yang hidup di kelompok lebih fleksibel.

Baca juga: Trenggiling: Pengertian, Ciri-ciri, Jenis, Fakta Unik, dan Persebarannya di Indonesia

3. Jago Berenang

Tidak seperti banyak primata lain yang cenderung menghindari air, macaca justru jago berenang. Spesies seperti macaca ekor panjang bisa menyeberangi perairan untuk mencari makanan atau menjelajahi tempat baru.

Di Pulau Koshima, Jepang, para peneliti bahkan pernah melihat macaca yang sengaja berenang ke laut untuk mendinginkan tubuh. Mereka juga bisa menyelam beberapa meter ke dalam air untuk mencari kerang atau satwa kecil lainnya.

Berdasarkan AFJRD.org, beberapa kelompok macaca bahkan bisa menahan napas hingga 30 detik saat menyelam. Dengan kemampuan ini, mereka mampu menjelajahi pulau-pulau terpencil dan memperluas wilayah hidupnya.

4. Bisa Menggunakan Beberapa Alat Sederhana

(Beberapa individu macaca sedang berada di ranting pohon | Itang YIARI)

Meski tidak secanggih simpanse atau orangutan, macaca ternyata mampu menggunakan alat sederhana untuk membantu memenuhi kebutuhannya.

Misalnya, di Thailand dan Kepulauan Andaman, macaca diketahui memakai batu untuk memecahkan cangkang kerang atau kacang yang keras. Mereka bahkan memilih batu dengan ukuran dan bentuk tertentu agar lebih efektif.

Menariknya, kebiasaan ini bukan terjadi secara kebetulan. Ada proses belajar dari induk ke anak, sehingga pengetahuan ini diwariskan turun-temurun. Para peneliti menyebutnya sebagai bentuk “budaya non-manusia” karena perilaku ini terus berkembang dan bertahan di kelompok tertentu.

5. Mampu Beradaptasi di Berbagai Habitat

Macaca adalah salah satu primata yang paling mudah beradaptasi. Mereka bisa hidup di hutan tropis, pegunungan bersalju, wilayah pesisir, bahkan di tengah perkotaan.

Contohnya, monyet yaki (Macaca nigra) di Sulawesi Utara hidup di hutan hujan tropis, tapi juga mampu bertahan di habitat vulkanik. Mereka mencari makanan di tanah subur pasca letusan gunung, memanfaatkan tanaman pionir, dan bahkan berlindung di gua lava.

Di kota-kota besar Asia, macaca juga terbiasa hidup berdampingan dengan manusia. Mereka sering terlihat mengambil makanan dari pasar, atau bahkan “menukar” barang curian dengan makanan.

Kemampuan adaptasi ini memang membuat macaca sangat tangguh, tapi di sisi lain juga menimbulkan tantangan konservasi karena konflik dengan manusia menjadi semakin sering.

6. Punya “Habit” Mencuci Makanan

(Individu macaca sedang berada di ranting pohon | Itang YIARI)

Kebiasaan unik lainnya adalah mencuci makanan sebelum dimakan. Dirangkum dari Folia Primatologica, fenomena ini pertama kali tercatat tahun 1953 di Pulau Koshima, Jepang, ketika seekor macaca muda bernama Imo terlihat mencuci ubi manis di air laut sebelum memakannya.

Perilaku ini kemudian ditiru oleh anggota kelompok lain, terutama kerabatnya, dan akhirnya diwariskan ke generasi berikutnya. Ilmuwan menyebutnya sebagai “preadaptasi budaya”, bukti primata juga bisa menciptakan dan mewariskan tradisi.

Kebiasaan sederhana ini menunjukkan bagaimana inovasi bisa muncul dari satu individu, lalu menyebar melalui observasi dan interaksi sosial.

Baca juga: Mengenal Burung Cendrawasih: Definisi, Jenis, Habitat, Ancaman, dan Upaya Pelestarian

7. Komunikasi Non-Verbal yang Kaya Makna

(Individu macaca sedang membuka mulut lebar | Itang YIARI)

Walaupun tidak punya bahasa seperti manusia, macaca memiliki cara komunikasi yang sangat beragam. Mereka menggunakan suara, ekspresi wajah, postur tubuh, dan sentuhan untuk menyampaikan pesan.

Contohnya, tatapan mata bisa menjadi tanda ancaman, sementara anggukan kecil atau senyum singkat (dengan memperlihatkan gigi) bisa menjadi tanda damai. Ekspresi “grimace” atau senyum takut sering digunakan individu berpangkat rendah untuk meredakan ketegangan.

Menariknya, macaca juga bisa membaca ekspresi manusia. Penelitian menunjukkan mereka mampu membedakan ekspresi wajah manusia yang menunjukkan emosi positif atau negatif, lalu merespons sesuai dengan itu.

Kemampuan ini membantu mereka tidak hanya dalam menjaga hubungan sosial sesama macaca, tetapi juga saat berinteraksi dengan manusia di habitat yang semakin sering bersinggungan.

Menjaga Macaca, Menjaga Alam

Sekarang kita tahu macaca bukan sekadar “monyet pinggir jalan”. Mereka adalah primata cerdas, tangguh, dan penuh keunikan yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Dengan memahami sisi-sisi menarik dari kehidupan mereka, mulai dari kecerdasan, kemampuan beradaptasi, hingga tradisi unik, kita diajak untuk lebih menghargai keberadaan macaca dan habitat alaminya.

Semoga setelah membaca ini, kita semua bisa melihat macaca bukan hanya sebagai satwa liar, tetapi sebagai bagian dari hutan yang layak dilindungi dan dijaga keberlangsungannya!

Referensi:

  1. Aktivitas Makan Monyet Ekor Panjang. [Buka]
  2. Sekolah Kedokteran Hewan & Biomedis IPB – Asosiasi Rumah Sakit Hewan Indonesia. [Buka]
  3. Featured image: (Macaca sedang duduk di ranting pohon|Itang YIARI)

Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang Pada 4 Pulau di Indonesia: Ancaman dan Harapan

 

Monyet ekor panjang dengan nama ilmiah Macaca fascicularis, termasuk salah satu primata yang tersebar luas di Indonesia. Bahkan, beberapa subspesiesnya hanya ditemukan di pulau-pulau kecil dan kini tengah menghadapi tekanan serius.

Untuk mengungkap kondisi terbaru spesies tersebut, Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan bersama YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia)  menyelenggarakan Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang Pada Empat Pulau di Indonesia pada 18 Maret 2025.

Apa saja hasil penting dari seminar ini terkait konservasi monyet ekor panjang? Berikut rangkumannya.

Hasil dan Dampak Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang pada 4 Pulau di Indonesia

Latar Belakang dan Pelaksanaan Survei

Bertempat di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, seminar hybrid ini menghadirkan akademisi dan organisasi konservasi untuk membahas hasil survei cepat Monyet Ekor Panjang (MEP) yang dilakukan oleh YIARI bersama Ditjen. KSDAE Kemenhut, BKSDA Aceh, BKSDA Kalimantan Timur, dan BTN Karimunjawa.

Survei dilaksanakan pada Mei hingga Juli 2023 di empat lokasi, yaitu Pulau Simeulue, Pulau Lasia, Taman Nasional Karimunjawa, dan Pulau Maratua. Keempat pulau tersebut diketahui merupakan habitat bagi subspesies monyet ekor panjang yang memiliki ciri morfologi khas serta sebaran geografis yang sangat terbatas.

Minimnya data ilmiah mengenai populasi dan distribusi mereka menjadikan wilayah-wilayah ini sebagai prioritas dalam konservasi primata di Indonesia. Selain itu, status taksonomi keempat subspesies tersebut belum didukung oleh data molekuler yang memadai. Karena itu, survei ini menjadi langkah penting untuk mendukung upaya konservasi yang lebih terarah dan berbasis bukti ilmiah.

Temuan Survei dan Dampaknya terhadap Strategi Konservasi

Bapak Silverius Oscar Unggul memberikan sambutan di atas mimbar (Hasna Latifatunnisa|YIARI)

 

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menekankan bahwa survei ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi populasi monyet ekor panjang di wilayah-wilayah yang selama ini kurang mendapatkan perhatian.

Data yang dihasilkan menjadi referensi penting bagi pemerintah, akademisi, dan organisasi konservasi dalam menyusun strategi pelestarian jangka panjang.

Penelitian lanjutan, terutama dalam bidang studi genetik dan konservasi Macaca, sangat dibutuhkan untuk memperdalam pemahaman ilmiah sekaligus menyempurnakan pendekatan konservasi yang diterapkan.

Salah satu komponen penting dalam menjaga keberlangsungan hidup monyet ekor panjang di alam liar adalah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat guna menumbuhkan kesadaran kolektif.

Seminar ini diharapkan dapat membentuk komitmen bersama dalam memperkuat perlindungan monyet ekor panjang di habitat alaminya, serta menghasilkan rekomendasi konkret untuk meningkatkan efektivitas konservasi melalui sinergi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan kalangan akademisi.

Hasil diskusi ini diharapkan menjadi landasan kebijakan konservasi yang lebih kokoh, berbasis data ilmiah, dan mampu mendorong upaya pelestarian ke depan.

Namun, strategi yang disusun tidak akan efektif tanpa pemahaman mendalam terhadap berbagai ancaman nyata yang dihadapi spesies ini di lapangan.

Ancaman Serius terhadap Monyet Ekor Panjang

Dalam kesempatan yang sama, Silverius juga menyoroti berbagai ancaman serius yang dihadapi monyet ekor panjang, terutama akibat praktik pemeliharaan ilegal dan meningkatnya konflik dengan manusia.

Permintaan untuk menjadikan monyet sebagai hewan peliharaan eksotis terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Penangkapan dari alam liar tidak hanya membahayakan individu yang diambil tetapi juga induk dari bayi monyet ekor panjang yang dibunuh dengan tragis, selain itu juga merusak struktur sosial kelompoknya di habitat asli.

Penyiksaan terhadap monyet ekor panjang pun sering terjadi, membuat mereka hidup dalam kondisi yang tidak sesuai dengan standar kesejahteraan satwa. Padahal, setiap satwa berhak atas 5 Freedoms atau Lima Kebebasan yang harus dipenuhi untuk memastikan kualitas hidup satwa. Kebebasan tersebut mencakup: bebas dari lapar dan haus, ketidaknyamanan, sakit dan cedera, bebas berperilaku alami, serta bebas dari stres dan ketakutan.


Tanpa upaya perlindungan yang segera dan terkoordinasi, populasi monyet ekor panjang di pulau-pulau kecil terancam terus menurun dan menghadapi risiko kepunahan.

Menyadari urgensi ancaman tersebut, berbagai pihak kini mendorong penguatan upaya konservasi yang lebih terstruktur dan berbasis data.

Harapan dan Upaya Konservasi Berbasis Data

Narasumber dan MC duduk di atas panggung saat seminar tengah berlangsung (Hasna Latifatunnisa|YIARI)

 

Dalam konteks itulah, Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang pada Empat Pulau di Indonesia menjadi momentum penting dalam merumuskan langkah konservasi yang lebih ilmiah dan sistematis.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik, Nunu Anugrah S.Hut., M.Sc., menyampaikan bahwa prioritas kegiatan konservasi spesies ke depan akan difokuskan pada pendekatan Red List IUCN (Daftar Merah IUCN), sebuah instrumen penting untuk memantau perubahan status konservasi spesies dari waktu ke waktu.

Pendekatan ini dinilai krusial karena mampu membantu memahami dinamika populasi satwa secara ilmiah, dan menjadi dasar dalam merancang kebijakan konservasi yang lebih tepat sasaran dan berbasis sains.

Slide presentasi IUCN Red List yang ditampilkan pada layar proyektor (Hasna Latifatunnisa|YIARI)



Sebagai bagian dari penguatan kapasitas nasional, Kementerian Kehutanan bersama BRIN dan ID SSG IUCN tengah merumuskan pembentukan lembaga atau komite nasional yang akan berperan dalam melakukan asesmen mandiri terhadap status keterancaman spesies di Indonesia.

Harapannya, hasil dari Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang pada 4 Pulau di Indonesia dapat menjadi acuan strategis bagi investasi konservasi yang lebih terstruktur dan sistematis, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

YIARI juga aktif mengembangkan program konservasi monyet ekor panjang, dengan perhatian khusus pada isu zoonosis, kesejahteraan satwa, serta mitigasi konflik antara manusia dan satwa. 

Pendataan populasi monyet ekor panjang dan beruk di wilayah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan juga terus dilakukan sebagai dasar penguatan strategi perlindungan.

Langkah-langkah ini menjadi bukti bahwa konservasi monyet ekor panjang membutuhkan kolaborasi lintas sektor, berbasis ilmu pengetahuan, dan dilandasi komitmen jangka panjang.

Dukung Bersama Kelangsungan Hidup Monyet Ekor Panjang

Para peserta yang hadir langsung pada seminar hybrid hasil survei cepat monyet ekor panjang pada 4 pulau di Indonesia (Hasna Latifatunnisa|YIARI)

 

Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang pada 4 Pulau di Indonesia memberikan pemahaman lebih dalam tentang berbagai tantangan yang mengancam keberlangsungan hidup spesies ini.

Perlindungan mereka membutuhkan dukungan nyata dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga organisasi konservasi.

Berikut beberapa langkah yang dapat kita upayakan bersama:

1. Hindari Memelihara Satwa Liar

Monyet ekor panjang adalah satwa liar yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Memelihara mereka sebagai hewan peliharaan justru merusak struktur sosial kelompoknya dan mempercepat penurunan populasi di alam.

2. Meningkatkan Kesadaran Tentang Bahaya Eksploitasi Satwa

Salah satu tantangan utama dalam konservasi adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap dampak perdagangan satwa liar. Edukasi mengenai pentingnya melindungi satwa dapat mengurangi permintaan terhadap monyet ekor panjang sebagai hewan peliharaan.

3. Menyebarkan Informasi Tentang Pentingnya Konservasi

Semakin banyak orang mengetahui pentingnya melindungi spesies yang terancam punah, semakin besar pula dampaknya. Penyebaran informasi yang edukatif dan akurat dapat menumbuhkan kepedulian dan peran serta masyarakat dalam upaya pelestarian.

YIARI terus mengembangkan berbagai program konservasi monyet ekor panjang melalui riset, edukasi, dan kolaborasi dengan berbagai pihak.

Dukungan dari seluruh lapisan masyarakat sangat penting untuk menjaga keberadaan spesies ini di alam liar.

Yuk, ambil bagian dalam upaya pelestarian. Sebarkan informasi ini agar semakin banyak orang yang peduli dan turut menjaga monyet ekor panjang dari eksploitasi dan kepunahan.

Translokasi dan Pelepasliaran Kukang, Monyet Ekor Panjang, serta Beruk di Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

 

Siaran Pers

Lampung, 27 Juli 2024 – Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) bersama-sama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, dan mitra kerja Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melaksanakan program translokasi dan pelepasliaran satwa. Acara ini diadakan di Kawasan Hutan Resort Balik Bukit, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung. Satwa yang dilepasliarkan adalah empat individu kukang sumatera (Nycticebus coucang), empat individu beruk (Macaca nemestrina), dan dua puluh individu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif berkelanjutan untuk mendukung keanekaragaman hayati dan konservasi satwa liar di Indonesia.

 

Proses translokasi salah satu satwa ke kandang habituasi (Rendi Afandi | YIARI)

Sebelum dilepasliarkan, satwa-satwa telah menjalani proses rehabilitasi intensif di pusat rehabilitasi YIARI yang memiliki perjanjian kerjasama dengan BBKSDA Jawa Barat. Mereka dipersiapkan kembali ke alam setelah beberapa di antaranya diserahkan oleh masyarakat Jawa Barat, disita dari aktivitas perdagangan ilegal oleh Pihak Kepolisian (Polda Metro Jaya), atau ditemukan terlibat dalam konflik di sekitar area rehabilitasi. Proses rehabilitasi meliputi penilaian mendalam terhadap kesehatan fisik dan perilaku, memastikan mereka siap beradaptasi dengan lingkungan aslinya.

Pentingnya translokasi dan pelepasliaran terletak pada perannya dalam memulihkan populasi satwa di habitat asli mereka, mengurangi konflik antara manusia dan satwa, serta mendukung pemulihan ekosistem yang terganggu. Selain membantu memastikan kelangsungan hidup satwa-satwa di alam liar, kegiatan ini juga menegaskan komitmen bersama dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia untuk generasi mendatang.

Perjalanan menuju kandang habituasi di dalam kawasan hutan TNBBS (Fattreza Ihsan | YIARI)

Resort Balik Bukit di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dipilih sebagai lokasi pelepasliaran karena menyediakan ekosistem yang ideal untuk keberlangsungan hidup berbagai satwa. Area ini menawarkan berbagai tipe habitat, mulai dari hutan sekunder hingga tepi hutan dan perkebunan, yang semuanya mendukung kehidupan kukang, monyet ekor panjang, dan beruk. Faktor penting lain dalam pemilihan lokasi adalah ketersediaan pakan alami yang melimpah, seperti tumbuhan, serangga, reptil, dan burung kecil. Selain itu, tingkat kesadaran dan dukungan dari masyarakat setempat juga membantu meminimalkan potensi ancaman dan gangguan terhadap satwa-satwa yang dilepasliarkan.

Kegiatan seremoni translokasi yang merupakan kolaborasi multipihak (Fattreza Ihsan | YIARI)

Rangkaian kegiatan pelepasliaran turut mengundang masyarakat setempat di Kecamatan Balik Bukit untuk berpartisipasi dalam acara pembukaan rangkaian pelepasliaran satwa. Pada acara pembukaan, masyarakat setempat diimbau untuk lebih peduli terhadap kelangsungan hidup satwa liar di alam. Harapannya, masyarakat juga dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga keutuhan wilayah konservasi TNBBS.

 

Contact Person

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

BBTNBBS: 0812-7976-238 (Decis Maroba, S.Hut., M.Sc)

BBKSDA Jawa Barat: 0822-1656-2150 (Ery)

BKSDA Bengkulu: 08117388100

YIARI: 0815-4621-7456 (Fathia)

 

Tentang YIARI

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) nirlaba, yang berkaitan dalam upaya konservasi primata Indonesia melalui penyelamatan, perlindungan, rehabilitasi (perbaikan dan peningkatan kesejahteraan satwa), reintroduksi/pelepasliaran satwa liar tersebut ke habitat alaminya, hingga pemantauan pasca lepas liar. YIARI memiliki fasilitas Pusat Rehabilitasi Satwa Ciapus yang juga berfungsi sebagai kantor dari YIARI, di Jl. Curug Nangka. Kp. Sinarwangi RT004/RW005, Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari – Ciapus, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat dan Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan di Sei Awan, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. YIARI juga didukung oleh International Animal Rescue (IAR) dan bekerjasama dengan berbagai instansi pemerintahan, organisasi, instansi pendidikan, hingga sektor privat. Melalui kerjasama dengan berbagai pihak, kami berkomitmen memberikan perlindungan terhadap primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa, dan manusia.

Lima Prinsip Kesejahteraan Satwa yang Harus Kamu Ingat!

Pasti Sobat #KonservasYIARI mendambakan hidup sejahtera dan bebas, bukan?

Seperti halnya manusia, hewan juga merupakan makhluk hidup yang berhak menikmati kehidupan yang bebas dan sejahtera.

Kesejahteraan hewan, yang dikenal dengan lima prinsip kebebasan kesejahteraan hewan atau ‘five freedoms’, adalah suatu kondisi di mana kebutuhan alami dan esensial hewan terpenuhi secara memadai.

Konsep ini pertama kali diusulkan oleh John Webster pada tahun 1994 dan kini telah menjadi standar global minimal untuk kesejahteraan hewan.

Prinsip kesejahteraan satwa sangat penting dalam konservasi ex-situ, yaitu penanganan satwa liar yang tidak berada dalam habitat asli mereka. Prinsip ini menjadi acuan utama saat berinteraksi dengan hewan serta dalam pembuatan habitat buatan seperti kandang.

Kebanyakan, prinsip ini diterapkan oleh lembaga konservasi untuk tujuan umum seperti di kebun binatang, serta oleh lembaga spesialis seperti Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), yang fokus pada rehabilitasi primata seperti kukang, orangutan, dan berbagai jenis makaka.

Di YIARI, prinsip kesejahteraan satwa dijadikan sebagai dasar dalam proses rehabilitasi hingga pelepasliaran kembali ke alam liar.

Lalu, apa saja sebenarnya kelima prinsip kesejahteraan satwa? Dan bagaimana penerapannya di YIARI?

Untuk menjawab itu, kami berkesempatan berbincang dengan drh. Nur Purba Priambada, salah satu Dokter Hewan di YIARI. Yuk, simak penjelasannya!

1. Bebas dari lapar dan haus 

Inilah prinsip pertama kesejahteraan satwa! Prinsip ini melibatkan penyediaan pakan dan air minum yang memadai, karena kedua hal ini merupakan kebutuhan dasar semua makhluk hidup, termasuk manusia, Sob!

Penting untuk memastikan jenis pakan yang diberikan sesuai dengan makanan alami dari masing-masing spesies, lengkap dengan nutrisi yang seimbang. Akses ke pakan dan air juga harus mudah, dengan penempatan yang disesuaikan dengan perilaku alami satwa.

Sebagai contoh, YIARI menyiapkan pakan untuk kukang dengan berbagai improvisasi agar pakan tersebut setidaknya mendekati makanan alami mereka, termasuk pemberian getah (meskipun getahnya instan), serangga, nektar, hingga sayuran sebagai pengganti buah hutan yang kaya serat.

Selain itu, ada juga persiapan enrichment untuk kukang, seperti madu yang dibungkus dengan daun, yang dilakukan oleh tim Animal Management di YIARI.

Persiapan penyediaan enrichment kukang, madu yang dibungkus dengan daun (Animal Management | YIARI) 

Sementara itu, untuk makaka, YIARI menyediakan buah dan sayuran dengan kandungan nutrisi yang seimbang. Semua ini adalah hasil dari kajian mendalam bersama para ahli nutrisi, bertujuan untuk memastikan kesejahteraan satwa tersebut terpenuhi dengan baik.

Pakan makaka disesuaikan mendekati pakan alaminya (Animal Management | YIARI)

2. Bebas dari rasa tidak nyaman 

Prinsip selanjutnya adalah memastikan satwa bebas dari rasa tidak nyaman. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan satwa terhadap tempat tinggal atau naungan atau sarang yang sesuai dengan habitat aslinya.

Selain itu, Sobat harus memerhatikan faktor lingkungan yang meliputi kelembapan, ventilasi, pencahayaan, dan temperatur. Tentu faktor lingkungan harus sesuai dengan kondisi alami habitat satwa tersebut. 

Penggunaan lampu cahaya merah untuk mengurangi intensitas cahaya tinggi di kandang rehabilitasi kukang YIARI (Denny Setiawan | YIARI)

Dalam prinsip kedua ini, YIARI menyesuaikan intensitas cahaya pada kandang kukang, mengingat kukang adalah satwa nokturnal. Selain itu, YIARI menggunakan cahaya merah, yang memiliki tingkat intensitas cahaya rendah saat melakukan pengambilan gambar satwa. Hal ini dilakukan agar satwa tetap merasa aman dan nyaman. 

3. Bebas dari sakit, luka, dan penyakit

Prinsip ketiga ini menekankan satwa tidak boleh terpapar pada stimulasi yang menyakitkan seperti pemukulan, penyiksaan, atau pengikatan yang terlalu kencang. Ingat, Sob, satwa juga memiliki perasaan dan mampu merasakan sakit!

Lebih lanjut, penting untuk memastikan satwa bebas dari luka, baik luka fisik maupun internal, dan terhindar dari sumber penyakit apapun. Dalam kondisi kandang atau lingkungan urban, penyakit dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk pakan yang tidak segar atau sudah busuk.

Interaksi dengan manusia juga dapat menjadi sumber penyakit, karena manusia dan satwa dapat saling menularkan penyakit, yang dikenal sebagai zoonosis.

Di YIARI, penerapan prinsip ini diwujudkan melalui pemeriksaan kesehatan secara berkala pada primata yang sedang menjalani rehabilitasi.

Pengecekan kesehatan secara berkala terhadap kukang yang dilakukan oleh Dokter Hewan di YIARI (Reza Septian | YIARI)

4. Bebas mengekspresikan perilaku alamiah

Prinsip keempat menekankan pentingnya memungkinkan satwa untuk mengekspresikan perilaku alaminya. Ini termasuk menyediakan atau menambahkan fasilitas di kandang yang mendukung pengayaan kandang, atau yang sering disebut enrichment.

Contoh dari penerapan ini adalah penyediaan enrichment harian untuk makaka, seperti rumah jamur yang memungkinkan mereka bersembunyi di kandang rehabilitasi. Sementara itu, untuk kukang, enrichment disediakan secara bulanan dengan lebih beragam, termasuk batang pohon, lorong bambu, tali ban, serta lubang-lubang pohon yang dapat digunakan sebagai tempat bersembunyi atau bermain.

Penyediaan enrichment di kandang makaka berupa rumah jamur (Animal Management | YIARI)
Penyediaan enrichment lorong bambu di kandang kukang  (Reza Septian | YIARI)

Selain itu, YIARI juga mengelola beberapa pulau khusus yang diperuntukkan untuk rehabilitasi orangutan. Pulau-pulau tersebut dijadikan tempat agar orangutan dapat merasakan kehidupan di alam liar dan bebas mengekspresikan perilaku alami selama masa rehabilitasi. Ini semacam simulasi kehidupan di habitat asli mereka, Sob!

Beberapa pulau yang digunakan YIARI untuk rehabilitasi orangutan termasuk Pulau Pak Ali, Pulau Setrum, Pulau Monyet, dan Pulau Rangkong.

Orangutan di pulau yang digunakan untuk rehabilitasi orangutan (Heribertus Suciadi | YIARI)

Penting juga untuk menyediakan kesempatan bereproduksi dan bersosialisasi, karena seperti manusia, satwa juga memiliki kebutuhan sosial. Di YIARI, kukang dikelompokkan dengan individu lain untuk merangsang perilaku sosial mereka, yang dapat membantu mengurangi stres yang mungkin mereka alami sebelumnya.

Selain itu, kita juga perlu memperhatikan waktu aktivitas satwa. Ada satwa yang aktif di siang hari (diurnal) dan yang aktif di malam hari (nokturnal). Penting untuk tidak mengganggu satwa di luar waktu aktif mereka, seperti memberi makan pada waktu yang salah.

Sama seperti manusia, Sobat pasti akan merasa terganggu jika dibangunkan dari istirahat, bukan?

Baca juga : Artikel Tentang Enrichment Kukang di Kandang Rehabilitasi YIARI

Baca juga : Artikel Tentang Enrichment MEP di Kandang Rehabilitasi YIARI

5. Bebas dari rasa takut dan tertekan 

Nah kita tiba di prinsip yang terakhir!

Prinsip terakhir ini sebenarnya merupakan prinsip paling sulit untuk dipenuhi, yaitu bebas dari rasa takut dan tertekan. Prinsip ini sulit dilakukan pada satwa liar dan belum terdomestikasi. 

Pada prinsip kelima, yang menjadi sumber ketakutan dari satwa justru datang dari pemelihara atau manusia. Bagi satwa, manusia adalah objek asing yang bisa menjadi ancaman. Tak hanya itu suara  bising kendaraan juga bisa menyebabkan satwa tertekan. 

Di YIARI, prinsip kelima ini dapat dilakukan dengan berusaha mengurangi kontak langsung antara manusia dengan satwa. 

Oh iya, Sob! Karena YIARI adalah lembaga konservasi khusus, akses ke kandang rehabilitasi sangat terbatas. Hanya orang-orang yang memiliki kepentingan langsung, seperti dokter hewan dan perawat satwa, yang diizinkan masuk ke area kandang rehabilitasi di YIARI. Bahkan mereka pun harus menjalani berbagai tes kesehatan yang ketat sebelum diperbolehkan masuk, lho!

Dokter hewan dan perawat satwa sedang bertugas di kandang rehabilitasi kukang YIARI (Reza Septian | YIARI)

Pastinya, dokter hewan memiliki tugas utama untuk memeriksa kesehatan satwa dan mengamati perilaku mereka. Sementara itu, perawat satwa mendukung dokter dengan memberikan pakan, menambahkan enrichment, dan juga melakukan observasi perilaku satwa.

Bagaimana, Sob? Semoga Sobat selalu ingat akan lima prinsip kesejahteraan satwa dan menjadi lebih bijak dalam berinteraksi dengan mereka, ya👍

Memang menjadi dilema, sebab pada umumnya satwa liar hidup bebas di alam tanpa interaksi dengan manusia. Jadi, sebaiknya Sobat tidak memelihara satwa liar secara pribadi tanpa alasan yang jelas!

Elif Ivana Hendastari

Referensi : 

  1. Puhun SPO, Sulastri S, Widyastuti. 2017. Pengelolaan kesejahteraan satwa (animal welfare) rusa timor (Rusa timorensis) di Oilsonvai Kupang. Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan. 1(4):18.29. 
  2. Teguh IG, Masy’ud B, Rachmawati E. 2010. Kajian pengelolaan kesejahteraan satwa di Taman Wisata Alam  Punti Kayu Palembang Sumatera Selatan. Media Konservasi. 15(1):26-30.
  3. https://animalwelfare.id/mengenal-5-domain-dalam-penilaian-kesejahteraan-hewan/
  4. https://distanpangan.baliprov.go.id/kesejahteraan-hewan-animal-welfare/ 
  5. https://www.idntimes.com/science/discovery/huda-nur-prasetyo/prinsip-kesejahteraan-satwa-atau-animal-welfare-c1c2?page=all 
  6. https://skhb.ipb.ac.id/prinsip-prinsip-kesejahteraan-hewan-animal-welfare-di-dalam-penelitian-biomedis/  
  7. Feature image : YIARI | Design by Elif Ivana Hendastari

Potensi Transmisi Zoonosis pada Makaka, Berbahaya tapi Bisa Dicegah! 

Selamat Hari Makaka Internasional, Sobat #KonservasYIARI! Tanggal 16 Maret diperingati Hari Makaka Internasional. Hari makaka diperingati pertama kalinya pada tanggal 16 Maret tahun 2016, yang dilatarbelakangi oleh kecintaan serta upaya untuk melakukan pelestarian terhadap makaka di seluruh dunia.

Makaka adalah genus primata yang banyak ditemukan di dunia. Populasinya dapat ditemukan mulai dari Maroko, Aljazair, Afghanistan, Cina, Jepang, dan Asia Tenggara (Napier dan Napier 1985), banyak juga ya Sob! Di Indonesia Genus Makaka juga memiliki tingkat persebaran yang luas, terutama di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi hingga kepulauan di Nusa Tenggara. Jenis makaka yang dapat ditemukan di Indonesia di antaranya ialah Macaca nemestrina, M. siberu, M. pagensis, M. nigra, M. nigrescens, M. tonkeana, M. ochreata, M. hecki, M. maura, M. fascicularis (Ruskhanidar et al. 2017)

  Aktivitas terlarang masyarakat terhadap Macaca Fascicularis (Monyet Ekor Panjang) di Suaka Margasatwa Angke Kapuk (YIARI)

makaka merupakan salah satu genus yang memiliki tingkat adaptasi cukup baik. Jadi, jangan heran ya Sob, kalau kalian lagi berkunjung ke lokasi yang dekat dengan tempat tinggal makaka ada kemungkinan kalian bakal disamperin hihihi. Seperti foto di atas, merupakan kejadian yang berlokasi di kawasan Suaka Margasatwa Angke Kapuk, Jakarta. Hal tersebut terjadi karena habitat makaka yang berdampingan secara langsung dengan aktivitas manusia yang menyebabkan makaka terbiasa bertemu manusia. 

Tapi, jangan sampai kamu melakukan interaksi langsung dengan mereka ya! Karena makaka berpotensi membawa virus, bakteri, dan parasit yang bisa menularkan penyakit ke manusia. Penularan penyakit tersebut biasa disebut zoonosis, yang berarti penularan penyakit dari hewan ke manusia atau sebaliknya.

Tau ga kenapa makaka bisa menimbulkan ancaman penyakit bagi manusia? Karena, makaka termasuk ke dalam ordo Primata yang memiliki kemiripan genetik, fisiologis dan perilaku dengan manusia (Schillaci et al. 2005). Satwa primata merupakan agen atau sumber penyakit zoonosis yang signifikan bagi manusia, karena dapat menularkan 25% penyakit menular yang muncul (emerging infectious disease) (Pedersen dan Davies 2009).

Lalu, bagaimana cara penularannya? Terdapat berbagai cara Infeksi bakteri dari makaka ke manusia nih Sob, baik secara langsung atau tidak langsung. Terinfeksi secara langsung jika kamu terkena gigitan atau cakaran dari makaka. Sedangkan infeksi secara tidak langsung di antaranya melalui air yang terkontaminasi, juga makanan yang terkontaminasi kista Entamoeba spp. Selain itu potensial utama infeksi yaitu dari fecal-oral dan kontak langsung antara manusia dan Non Human Primates¹ (Lastuti 2021). Untuk lebih jelasnya, bisa menyimak poster di bawah ini ya!

Cara Penularan Zoonosis (Ria Risyanti | YIARI) 

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Lastuti (2021), pada Macaca fascicularis (monyet ekor panjang) di Taman Nasional Baluran menunjukkan hasil positif Entamoeba coli. Bakteri tersebut merupakan agen penyakit yang menginfeksi saluran pencernaan. Selain E.coli masih banyak agen penyakit yang dibawa makaka antara lain Plasmodium knowlesi yaitu parasit pada makaka di kawasan Asia Tenggara (Macaca nemestrina dan M. fascicularis), yang dapat menyebabkan malaria loh Sob. (Jongwutiwes et al. 2011; Millar dan Cox-Singh 2015). 

Ohiya, Kalian harus tahu bahwa salah satu zoonosis yang paling signifikan ialah tuberkulosis. Penyebab utama penyakit ini adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium bovis (Une dan Mori 2007).

Lalu, bagaimana caranya supaya kita tidak tertular zoonosis? Sobat #KonservasYIARI bisa melakukan pencegahan dini dengan cara-cara sebagai berikut ya!

Cara Pencegahan Zoonosis (Ria Risyanti | YIARI) 

Potensi transmisi zoonosis harus diwaspadai karena dapat menyebabkan wabah pandemi. Hal ini bisa dipengaruhi peningkatan distribusi populasi manusia dan aktivitas manusia pada habitat satwa primata yang dapat memicu interaksi manusia dan satwa secara negatif.

Jadi tetap hati-hati dan waspada ya Sob! Jangan sampai tertular dan menularkan penyakit terhadap primata.

Selamat Hari Makaka Internasional!

Ria Risyanti

¹ Non Human Primates: Sekelompok mamalia yang terdiri dari simian – monyet dan kera – dan prosimian, seperti kukang dan tarsius. Monyet dibagi lagi menjadi dua sub kelompok: Monyet Dunia Lama , yang berasal dari Afrika dan Asia, dan Monyet Dunia Baru , yang berasal dari Amerika Tengah dan Selatan.

Referensi: 

Jongwutiwes S, Buppan P, Kosuvin R, Seethamchai S, Pattanawong U,33 Sirichaisinthop J, Putaporntip C. 2011. Plasmodium knowlesi malaria in humans and macaques, Thailand. Emerg Infect Dis. 17(10):1799–1806. doi:10.3201/eid1710.110349

Lastuti NDR, Lucia Tri Suwanti LT, Hastutiek P, Kurniawati DA , Puspitasari H (2021). Molecular Detection of Entamoeba spp in Long-tailed Macaque (Macaca Fascicularis) at Baluran National Park, Indonesia. Mal J Med Health Sci 17(SUPP2): 85-88, April 2021.

Napier JR, Napier PH. 1985. The Natural History Of The Primates. British Museum: London.

Pedersen AB, Davies TJ. 2009. Cross-species pathogen transmission and disease emergence in primates. Ecohealth. 6(4):496–508. doi:10.1007/s10393-010-0284-3.

Schillaci MA, Jones-Engel L, Engel GA, Paramastri Y, Iskandar E, Wilson B, Allan JS, Kyes RC, Watanabe R, Grant R. Prevalence of enzootic simian viruses among urban performance monkeys in Indonesia. Trop Med Int Health. 2005 Dec;10(12):1305-14. doi: 10.1111/j.1365-3156.2005.01524.x. PMID: 16359412.

Ruskhanidar, Maulana VS, Loe FR. 2017. Spesies dan Sebaran Satwa Primata di Indonesia. 14 (1): Jurnal Primatologi Indonesia.

Une Y, Mori T. 2007. Tuberculosis as a zoonosis from a veterinary perspective.Comp Immunol Microbiol Infect Dis. 30(5–6):415–425. doi:10.1016/j.cimid.2007.05.002. 

Masuk Status Terancam, Inilah Upaya Konservasi untuk Monyet Ekor Panjang

Di tahun 2022 ini, ternyata ada kabar yang cukup mengkhawatirkan tentang monyet ekor panjang nih Sobat YIARI. Menurut Redlist IUCN, Macaca fascicularis atau biasa kita sebut monpai atau monyet ekor panjang (MEP), dalam satu tahun terakhir ini sudah mengalami dua kali penurunan status konservasi, dari nyaris terancam, rentan, hingga, terancam. Pasalnya nih, mereka sering diburu dan dipelihara di rumah-rumah yang menyebabkan keberadaannya di alam berkurang drastis. Pandangan masyarakat juga menganggap bahwa monyet jenis ini populasinya masih melimpah di Indonesia, bahkan ada pula yang menganggapnya hama karena sering memasuki perumahan dan perkebunan penduduk dan mengambil bahan-bahan makanan milik warga. Anggapan ini muncul karena monyet ekor panjang memang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi yang menyebabkannya mudah ditemukan di sekitar kita.

Oleh karena itu, untuk melindungi mereka di luar dan di dalam habitatnya perlu upaya holistik alias menyeluruh yang melibatkan banyak pihak. Kami bekerjasama dengan beberapa instansi, di antaranya adalah Taman Nasional Gunung Halimun Salak serta Pemadam Kebakaran Kota dan Kabupaten Bogor untuk menjaga MEP ini bisa hidup aman dan damai di habitatnya, jauh dari interaksi negatif dengan manusia.

Kegiatan perlindungan MEP diawali di bulan Maret di sekitar kawasan konservasi yaitu di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Tim gabungan TNGHS dan Yayasan IAR Indonesia (YIARI) mengajak masyarakat di sekitar kawasan untuk menghadiri penyuluhan terkait potensi konflik dan interaksi negatif antara masyarakat dengan monyet ekor panjang. Dalam kegiatan ini, kami memberikan penyuluhan untuk melaporkan temuan monyet ekor panjang di luar kawasan yang memasuki area pemukiman dan memberikan penyadartahuan untuk menghindari interaksi-interaksi yang berpotensi negatif dengan MEP. Setelah kegiatan ini selesai, konflik antara warga dengan monyet ekor panjang bisa diredam.

Monyet ekor panjang memakan buah pidada yang merupakan pakan alaminya di Suaka Margasatwa Muara Angke, DKI Jakarta (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)

Sementara itu, untuk kegiatan perlindungan monyet di luar kawasan konservasi kami lakukan bersama instansi Pemadam Kebakaran pada akhir September ini. Kami bersama BBKSDA Jawa Barat menginisiasi peningkatan kapasitas Petugas Pemadam Kebakaran Kota dan Kabupaten Bogor yang bertugas untuk mengevakuasi satwa liar. Kalian pernah melihat atau mendengar Damkar yang bertugas di sekitar tempat tinggal kalian beraksi untuk mengevakuasi satwa seperti tawon dan ular di rumah atau kebun warga ‘kan? Nah, para Petugas Damkar juga terkadang mengevakuasi primata termasuk MEP yang masuk ke pemukiman warga. Dalam pelatihan yang telah disusun sebagai upaya kerjasama lebih lanjut antara BKSDA Jawa Barat, Damkar Kota dan Kabupaten Bogor, serta YIARI selama dua tahun terakhir ini menitikberatkan pada upaya penanganan primata secara aman. Banyaknya konflik antara MEP dengan manusia menjadikan primata ini perhatian para konservasionis. Maka dari itu, di Indonesia, perlu adanya upaya bersama untuk melindungi mereka dari kepunahan. Jangan sampai akibat kita melupakan nasib mereka, satwa yang biasa kita temui dengan mudah hari ini hanya bisa dilihat lewat buku bergambar oleh anak cucu kita di masa depan. Yuk, kita lindungi para monyet ini bersama-sama.

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.