Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Kalau Banyak Capung, Berarti Lingkungannya Sehat? Batutegi Punya Jawabannya!

Pernah melihat capung terbang pelan di atas permukaan sungai?

Biasanya kita cuma menganggapnya bagian dari pemandangan alam. Datang sebentar, lalu pergi. Tidak terlalu dipikirkan.

Padahal, kehadiran capung sebenarnya bisa “bercerita” banyak hal.

Dari capung, kita bisa tahu apakah air di sungai itu masih bersih, apakah ekosistemnya masih seimbang, bahkan apakah lingkungan di sekitarnya masih sehat atau tidak.

Hal inilah yang ingin dipahami dalam penelitian berjudul “Inventory of Dragonfly Types (Odonata) Around The Batutegi Protected Forest River” oleh Widayanti dan tim.

Di Hutan Lindung Batutegi, Lampung, para peneliti mencoba membaca “cerita” itu, bukan lewat alat canggih, tapi lewat capung-capung yang beterbangan di tepi sungai.

Penelitian di Balik Capung Batutegi

Untuk memahami “cerita” dari capung-capung ini, para peneliti melakukan pengamatan langsung di kawasan Hutan Lindung Batutegi, Lampung, tepatnya di sekitar aliran sungai yang menjadi habitat utama capung.

Penelitian ini dilakukan pada Januari 2024 di empat titik yang berbeda, mulai dari aliran sungai besar (bagian hulu dan hilir), sungai kecil, hingga area rawa dengan vegetasi semak. Tujuannya sederhana: melihat jenis capung apa saja yang hidup di masing-masing kondisi lingkungan tersebut.

Dibandingkan menggunakan alat yang rumit, pengamatan dilakukan dengan cara yang cukup sederhana. Para peneliti berjalan menyusuri jalur sepanjang sungai, mengamati capung yang terlihat, lalu menangkap dan mendokumentasikannya untuk diidentifikasi.

Pengamatan dilakukan dua kali dalam sehari:

  • pagi sekitar pukul 09.00
  • sore sekitar pukul 16.00

Waktu ini dipilih karena capung biasanya aktif terbang pada kondisi tersebut. Hasilnya, ditemukan keanekaragaman capung yang cukup tinggi di kawasan ini.

Apa yang Ditemukan di Sungai Batutegi?

Spesies capung Zygoptera di sekitar sungai Hutan Lindung Batutegi: (A) Neurobasis chinensis jantan, (B) Neurobasis chinensis betina, (C) Heliochypa fenestrata, (D) Pseudagrion pruinosum, (E) Dhyspaea dimidiata (F) Copera marginipes, (G) Prodasineura collaris, (H) Nososticta coelestina. | Image via dokumentasi penelitian

Dari hasil pengamatan tersebut, peneliti berhasil mengidentifikasi 21 spesies capung yang tersebar di empat lokasi berbeda di sekitar sungai Hutan Lindung Batutegi. Temuan ini menunjukkan bahwa kawasan Batutegi menyimpan keanekaragaman capung yang cukup tinggi.

Spesies-spesies ini berasal dari dua kelompok besar dalam ordo Odonata, yaitu Anisoptera (capung biasa) dan Zygoptera (capung jarum).

Beberapa poin penting dari temuan ini:

  • Total ditemukan 21 spesies capung dari 7 famili
  • Famili Libellulidae menjadi yang paling dominan dengan 13 spesies
  • Spesies capung tersebar berbeda di setiap lokasi pengamatan

Dominasi Libellulidae bukan hal yang mengejutkan.

Kelompok ini memang dikenal memiliki jumlah anggota yang besar dan mampu hidup di berbagai tipe habitat. Selain itu, capung dari famili ini juga merupakan predator yang aktif, sehingga lebih sering terlihat dibandingkan jenis capung lain yang lebih sensitif terhadap kondisi lingkungan.

Namun, yang menarik bukan hanya jumlahnya, melainkan bagaimana capung tersebar di tiap lokasi. Tidak semua area memiliki jumlah dan jenis capung yang sama, yang menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di sekitar sungai sangat berpengaruh terhadap keberadaan mereka.

Kenapa Capung Bisa Banyak di Batutegi?

Spesies capung Anisoptera di sekitar sungai Hutan Lindung Batutegi: (A) Crocothemis servilia, (B) Orthetrum glaucum (betina), (C) Acisoma panorpoides, (D) Brachydiplax chalybea, (E) Neurothemis ramburii, (F) Orthetrum sabina, (G) Orthetrum chrysis, (H) Trithemis aurora, (I) Neurothemis fluctuans, (J) Orthetrum pruinosum, (K) Orthetrum testaceum, (L) Pantala flavences, (M) Trithemis festiva, (N) Phyllogomphoides bifasciatus

Setelah melihat hasilnya, muncul pertanyaan berikutnya: kenapa capung bisa begitu beragam di Batutegi?

Ternyata, jawabannya bukan cuma satu faktor. Ada beberapa kondisi lingkungan yang secara bersama-sama membuat kawasan ini cocok untuk capung:

  • Perairan sebagai habitat utama: Capung sangat bergantung pada air, terutama saat fase nimfa yang hidup di dalam perairan. Di Batutegi, keberadaan aliran sungai seperti Way Sekampung, Way Sangarus, dan Way Rilau menyediakan habitat yang ideal untuk siklus hidup capung.
  • Vegetasi sebagai tempat hidup: Tanaman di sekitar sungai berfungsi sebagai tempat capung bertengger, berlindung, dan bertelur.
  • Sumber makanan yang melimpah: Ekosistem sungai yang sehat menyediakan banyak mangsa seperti serangga kecil dan larva, yang menjadi sumber makanan bagi capung di berbagai fase hidupnya.

Kenapa Tidak Semua Sungai Punya Capung yang Sama?

Kalau dilihat sekilas, semua lokasi penelitian sama-sama berada di sekitar sungai. Tapi hasilnya berbeda: ada lokasi yang capungnya banyak, ada juga yang jauh lebih sedikit.

Dari sini, terlihat bahwa tidak semua habitat perairan punya kondisi yang sama di mata capung.

Beberapa temuan penting dari penelitian ini:

  • Sungai besar dan area terbuka cenderung lebih kaya spesies: Lokasi dengan aliran sungai besar dan area yang lebih terbuka mencatat jumlah capung yang lebih banyak.
  • Rawa dengan semak juga cukup mendukung: Area rawa yang tidak terlalu tertutup masih memungkinkan cahaya masuk, sehingga tetap mendukung aktivitas capung.
  • Sungai kecil dengan vegetasi rapat justru paling sedikit capungnya: Di lokasi ini, pepohonan dan semak yang terlalu lebat menghalangi masuknya cahaya matahari, sehingga jumlah capung yang ditemukan jauh lebih sedikit.

Bagi capung, habitat yang ideal bukan hanya soal ada air, tetapi juga soal akses cahaya matahari, struktur vegetasi, dan ruang untuk beraktivitas. Cahaya matahari penting karena membantu capung menghangatkan tubuh dan menguatkan otot sayap sebelum terbang.

Apa Makna Capung Ini Bagi Ekosistem Kita?

Dari hasil penelitian ini, kita tidak hanya mendapatkan daftar jenis capung yang hidup di Batutegi. Lebih dari itu, kita juga bisa membaca kondisi lingkungan di kawasan tersebut.

Beberapa hal penting yang bisa kita pahami:

  • Capung adalah bioindikator: Kehadiran dan keanekaragaman capung bisa menjadi petunjuk kondisi lingkungan. Semakin beragam jenis capung yang ditemukan, biasanya menunjukkan kualitas ekosistem perairan yang masih baik.
  • Temuan ini menjadi sinyal positif bagi Batutegi: Keanekaragaman capung yang ditemukan menunjukkan bahwa sungai di Batutegi masih mampu mendukung rantai makanan dan habitat yang cukup lengkap.
  • Keseimbangan habitat lebih penting daripada sekadar terlihat alami: Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas ekosistem ditentukan oleh kombinasi banyak faktor yang saling mendukung.
  • Ini baru awal, bukan gambaran lengkap: Penelitian ini merupakan inventarisasi capung pertama di Hutan Lindung Batutegi. Artinya, kemungkinan masih ada spesies lain yang belum terdata.
  • Capung bisa jadi alat pemantauan lingkungan ke depan: Temuan ini membuka peluang untuk menjadikan capung sebagai bioindikator dalam pemantauan kualitas perairan di masa depan.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekosistem sungai di Hutan Lindung Batutegi masih dalam kondisi yang cukup baik. Namun, kondisi ini tentu perlu dijaga agar tidak menurun di masa depan.

  • Salah satu langkah penting adalah menjaga kualitas perairan, karena capung sangat bergantung pada air yang bersih, terutama pada fase hidupnya di dalam air. Perubahan kecil pada kualitas air bisa berdampak besar pada keberadaan mereka.
  • Selain itu, vegetasi di sekitar sungai juga perlu dipertahankan dalam kondisi seimbang. Tidak terlalu terbuka, tapi juga tidak terlalu rapat, agar tetap mendukung kebutuhan capung akan tempat bertengger sekaligus akses cahaya matahari.

Penelitian ini juga membuka peluang untuk langkah selanjutnya, yaitu menjadikan capung sebagai bioindikator dalam pemantauan lingkungan. Dengan memantau keanekaragaman capung secara berkala, kita bisa lebih cepat mendeteksi perubahan kondisi ekosistem tanpa harus selalu bergantung pada alat yang kompleks.

Ketika Kita Mulai Memperhatikan Hal Kecil

Capung mungkin tidak pernah jadi perhatian utama. Tapi dari mereka, kita bisa melihat bagaimana sebuah ekosistem bekerja, atau mulai berubah.

Penelitian di Batutegi menunjukkan satu hal sederhana: kondisi alam tidak selalu terlihat dari hal besar, tapi justru dari hal-hal kecil yang sering kita lewatkan.

Dan mungkin, menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang rumit. Kadang, cukup dengan mulai memperhatikan.

Tautan Jurnal

Inventory of Dragonfly Types (Odonata) Around The Batutegi Protected Forest River. Indonesian Journal of Biotechnology and Biodiversity. [Buka]

Featured image: Neurobasis chinensis (Tim Biodiv|YIARI)

Voluntrip by KitaBisa Belajar Mengenal Kukang dan Macaca bersama YIARI

Konservasi satwa liar bukan cuma urusan para ahli biologi atau aktivis lingkungan. Di tengah ancaman perdagangan ilegal, rusaknya habitat, dan menurunnya populasi satwa liar, penting bagi siapa pun untuk belajar dan memahami bagaimana cara hidup berdampingan dengan alam.

Itulah yang coba kami lakukan lewat kegiatan “Edukasi Konservasi Kukang dan Monitoring Macaca”, hasil kolaborasi antara YIARI, Voluntrip by Kitabisa, dan IDX (Bursa Efek Indonesia). Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 11 Oktober 2025 ini mengajak para relawan dan karyawan dari berbagai latar belakang untuk turun langsung ke lapangan.

Di Pusat Rehabilitasi dan Curug Nangka, kita belajar tentang kukang dan macaca, dua primata yang punya peran penting bagi keseimbangan ekosistem, sekaligus menghadapi ancaman serius di alam. Seperti apa ya kegiatannya? Yuk, simak!

Belajar Konservasi, Langsung dari Ahlinya

Salah satu materi yang disampaikan tentang rehabilitasi satwa primata YIARI (Rendi Afandi|YIARI)

Pagi itu, 21 peserta dan panitia Voluntrip by Kitabisa berkumpul di Alun-Alun Kota Bogor sebelum berangkat bareng tim YIARI ke kantor YIARI di sekitar Curug Nangka. Begitu tiba, peserta disambut hangat oleh tim YIARI dan cuaca sejuk di daerah Tamansari, Bogor.

Acara dibuka oleh Pratiwi Nur Aizah sebagai MC, dilanjutkan safety briefing dari Rikardus selaku Asisten Manajer K3L, lalu sesi pengenalan YIARI oleh Yayuk Rahmawati selaku Supervisor Media dan Komunikasi yang menjelaskan berbagai program konservasi yang YIARI lakukan. Kemudian, drh. Cici Sri Ningsih membagikan cerita dan pengalaman dalam proses penyelamatan dan rehabilitasi kukang dan macaca, mulai dari penanganan medis hingga pelepasliaran ke habitat alami mereka.

Lewat sesi ini, peserta belajar bahwa kukang bukanlah hewan peliharaan lucu, melainkan satwa nokturnal berbisa yang memiliki peran penting dalam penyerbukan hutan. Sementara Macaca fascicularis atau monyet ekor panjang kini  mulai hidup berdampingan dengan manusia karena habitatnya yang bersinggungan dengan kita. Dari sini, muncul kesadaran baru: konservasi bukan cuma soal menyelamatkan satwa, tapi juga menjaga keseimbangan hidup di alam.

Dari Kelas ke Aksi Lapangan

Salah satu kelompok saat berkegiatan membuat enrichment hammock macaca (Rendi Afandi|YIARI)

Setelah teori, waktunya praktik! Para relawan diajak bikin enrichment, yaitu serangkaian aktivitas atau alat yang dirancang untuk menumbuhkan kembali naluri alami dan kemampuan bertahan hidup mereka. Dipandu beberapa perawat satwa yaitu Jakaria, Ruli, Yudi, dan tim YIARI lainnya yaitu Itang dan Julitasari peserta dibagi menjadi tiga kelompok.

Enrichment yang dibuat ialah box tidur untuk kukang serta hammock untuk macaca. Selain seru, kegiatan ini bikin peserta lebih paham bahwa kesejahteraan satwa bukan cuma soal makan dan tempat tinggal, tapi juga tentang kebutuhan mental dan perilaku alaminya.

Peserta kegiatan ini, Dio dan Ayi menyatakan pengalaman menyenangkannya ketika membuat enrichment. “Ini pengalaman pertama kami bikin hammock. Seneng banget! Jadi tahu ternyata bikin alat enrichment itu perlu tenaga dan kerja sama. Kami juga terinspirasi untuk buat alat yang sama untuk peliharaan di rumah,” ujar mereka.

Setelah makan siang bareng dengan konsep less plastic dan edukasi pemilahan sampah, mereka bersiap menuju Curug Nangka, kawasan di bawah pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Sebelumnya, mereka sudah diberikan briefing singkat tentang cara melakukan pengamatan mep di alam dan etika bijak berwisata oleh Itang selaku koordinator konservasi macaca memberikan.

Memantau Monyet Ekor Panjang di Habitatnya

Peserta melakukan pengamatan monyet ekor panjang di wilayah Curug Nangka (Rendi Afandi|YIARI)

Setibanya di Curug Nangka, secara berkelompok, para peserta melakukan pengamatan monyet ekor panjang di habitat aslinya. Dengan membawa handbook pengamatan, mereka menelusuri area hutan dan mengamati langsung perilaku macaca di habitat alaminya.

Dari aktivitas ini, peserta belajar mengamati perilaku sosial, interaksi kelompok, mencari makan, juga sifat alami monyet ekor panjang lainnya. Mereka juga belajar bijak berwisata, bagaimana berinteraksi di alam tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem. Hal ini diterapkan dengan cara menjaga jarak dan tidak memberi makan satwa liar.

Aisyah dan Rahma membagikan pengalaman barunya ketika belajar pengamatan perilaku satwa di habitat alami. “Seru banget! Ternyata perilaku kita sangat memengaruhi reaksi macaca. Kalau kita bawa sesuatu, mereka langsung memperhatikan. Jadi sekarang tahu, satwa liar nggak boleh dikasih makan,” ujar Aisyah.

Para peserta voluntrip membagikan pengalamannya saat melakukan pengamatan monyet ekor panjang (Rendi Afandi|YIARI)

Setelah melakukan pengamatan, setiap kelompok membagikan hasil pengamatannya dan berdiskusi dengan Elisabet dan Itang. Elisabet, Asisten Manajer Konservasi Macaca YIARI menjelaskan alasan mengapa pemberian makanan pada satwa liar dilarang. “Monyet ekor panjang di alam sebenarnya sudah bisa mencari makan sendiri. Tapi kalau terus diberi makan oleh manusia, mereka jadi tergantung dan bisa berubah perilakunya menjadi agresif,” terangnya.

Zaky dari Voluntrip by KitaBisa mengungkapkan pesan yang ia pelajari tentang pentingnya berwisata secara bijak. “Bijak berwisata itu penting banget. Kita tahu Indonesia punya potensi wisata luar biasa, tapi harus diimbangi dengan rasa empati dan tanggung jawab terhadap alam dan satwa liar,” ujarnya.

Menyebar Semangat Konservasi 

Lewat kegiatan ini, kami menunjukkan bahwa belajar konservasi bisa dilakukan siapa saja, dari mana saja. Kolaborasi antara YIARI, Voluntrip by Kitabisa, dan IDX ini membuktikan bahwa seluruh masyarakat bisa terlibat dengan konservasi.

Dari mengenal satwa liar seperti kukang dan macaca, membuat enrichment, hingga mengamati perilaku mereka langsung di habitatnya, semua peserta pulang dengan semangat baru untuk menjaga alam. Karena pada akhirnya, menyelamatkan satwa liar berarti menyelamatkan masa depan kita juga.

Salam konservasi!

Featured image: Rendi Afandi YIARI

Translokasi dan Pelepasliaran Kukang, Monyet Ekor Panjang, serta Beruk di Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

 

Siaran Pers

Lampung, 27 Juli 2024 – Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) bersama-sama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, dan mitra kerja Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melaksanakan program translokasi dan pelepasliaran satwa. Acara ini diadakan di Kawasan Hutan Resort Balik Bukit, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung. Satwa yang dilepasliarkan adalah empat individu kukang sumatera (Nycticebus coucang), empat individu beruk (Macaca nemestrina), dan dua puluh individu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif berkelanjutan untuk mendukung keanekaragaman hayati dan konservasi satwa liar di Indonesia.

 

Proses translokasi salah satu satwa ke kandang habituasi (Rendi Afandi | YIARI)

Sebelum dilepasliarkan, satwa-satwa telah menjalani proses rehabilitasi intensif di pusat rehabilitasi YIARI yang memiliki perjanjian kerjasama dengan BBKSDA Jawa Barat. Mereka dipersiapkan kembali ke alam setelah beberapa di antaranya diserahkan oleh masyarakat Jawa Barat, disita dari aktivitas perdagangan ilegal oleh Pihak Kepolisian (Polda Metro Jaya), atau ditemukan terlibat dalam konflik di sekitar area rehabilitasi. Proses rehabilitasi meliputi penilaian mendalam terhadap kesehatan fisik dan perilaku, memastikan mereka siap beradaptasi dengan lingkungan aslinya.

Pentingnya translokasi dan pelepasliaran terletak pada perannya dalam memulihkan populasi satwa di habitat asli mereka, mengurangi konflik antara manusia dan satwa, serta mendukung pemulihan ekosistem yang terganggu. Selain membantu memastikan kelangsungan hidup satwa-satwa di alam liar, kegiatan ini juga menegaskan komitmen bersama dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia untuk generasi mendatang.

Perjalanan menuju kandang habituasi di dalam kawasan hutan TNBBS (Fattreza Ihsan | YIARI)

Resort Balik Bukit di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dipilih sebagai lokasi pelepasliaran karena menyediakan ekosistem yang ideal untuk keberlangsungan hidup berbagai satwa. Area ini menawarkan berbagai tipe habitat, mulai dari hutan sekunder hingga tepi hutan dan perkebunan, yang semuanya mendukung kehidupan kukang, monyet ekor panjang, dan beruk. Faktor penting lain dalam pemilihan lokasi adalah ketersediaan pakan alami yang melimpah, seperti tumbuhan, serangga, reptil, dan burung kecil. Selain itu, tingkat kesadaran dan dukungan dari masyarakat setempat juga membantu meminimalkan potensi ancaman dan gangguan terhadap satwa-satwa yang dilepasliarkan.

Kegiatan seremoni translokasi yang merupakan kolaborasi multipihak (Fattreza Ihsan | YIARI)

Rangkaian kegiatan pelepasliaran turut mengundang masyarakat setempat di Kecamatan Balik Bukit untuk berpartisipasi dalam acara pembukaan rangkaian pelepasliaran satwa. Pada acara pembukaan, masyarakat setempat diimbau untuk lebih peduli terhadap kelangsungan hidup satwa liar di alam. Harapannya, masyarakat juga dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga keutuhan wilayah konservasi TNBBS.

 

Contact Person

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

BBTNBBS: 0812-7976-238 (Decis Maroba, S.Hut., M.Sc)

BBKSDA Jawa Barat: 0822-1656-2150 (Ery)

BKSDA Bengkulu: 08117388100

YIARI: 0815-4621-7456 (Fathia)

 

Tentang YIARI

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) nirlaba, yang berkaitan dalam upaya konservasi primata Indonesia melalui penyelamatan, perlindungan, rehabilitasi (perbaikan dan peningkatan kesejahteraan satwa), reintroduksi/pelepasliaran satwa liar tersebut ke habitat alaminya, hingga pemantauan pasca lepas liar. YIARI memiliki fasilitas Pusat Rehabilitasi Satwa Ciapus yang juga berfungsi sebagai kantor dari YIARI, di Jl. Curug Nangka. Kp. Sinarwangi RT004/RW005, Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari – Ciapus, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat dan Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan di Sei Awan, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. YIARI juga didukung oleh International Animal Rescue (IAR) dan bekerjasama dengan berbagai instansi pemerintahan, organisasi, instansi pendidikan, hingga sektor privat. Melalui kerjasama dengan berbagai pihak, kami berkomitmen memberikan perlindungan terhadap primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa, dan manusia.

BBKSDA Bersama YIARI Melepasliarkan 6 Satwa Dilindungi Kukang Jawa di Gunung Papandayan 

Garut, 7 Mei 2024  – Tim gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat dan YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia) berhasil melepasliarkan enam kukang jawa (Nycticebus javanicus) dikawasan CA/TWA Gunung Papandayan. Enam kukang jawa yang dilepasliarkan terdiri dari tiga individu kukang jantan bernama Apem, Nasrul, Tero, serta tiga kukang betina bernama Cibun, Sambal, dan Jahe. Kukang yang merupakan satwa dilindungi ini merupakan serahan masyarakat di berbagai daerah kepada BKSDA Jawa Barat. Satwa endemik Pulau Jawa ini dinyatakan dapat kembali bebas ke habitatnya setelah menjalankan proses rehabilitasi di pusat rehabilitasi YIARI yang berlokasi di Ciapus, Jawa Barat. 

Lokasi pelepasliaran dipilih berdasarkan sebaran habitat alami kukang jawa (Nycticebus javanicus). Salah satu habitat potensialnya berada di kawasan konservasi Gunung Papandayan Blok Hutan Kawah. Kawasan GP Resort Papandayan blok hutan kawah ini secara administratif berada di desa Karya Mekar, kecamatan Pasir Wangi, kabupaten Garut. Lokasi ini juga berada di dalam Wilayah Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Star Energy Geothermal Darajat.

Penentuan lokasi pelepasliaran ini juga mempertimbangkan ketersediaan pakan, keamanan dari perburuan atau gangguan, juga mempertimbangkan keberadaan populasi satwa yang sudah ada untuk menghindari potensi konflik teritorial. Lokasi pelepasliaran juga harus relatif jauh dari pemukiman untuk meminimalisir konflik baru dengan manusia.

Kegiatan pelepasliaran ini merupakan kabar yang menggembirakan karena salah satu dari kukang ini merupakan korban perdagangan satwa liar. Kukang bernama Apem ini datang ke pusat rehabilitasi dengan kondisi gigi yang mengalami infeksi. drh. Indri Saptorini, salah satu dokter hewan YIARI yang menangani Apem mengungkapkan bahwa gigi merupakan organ yang esensial untuk kukang. “Selain sebagai alat untuk mencari makan, gigi kukang juga berfungsi sebagai alat pertahanan diri.” Infeksi gigi yang cukup parah membuat tim animal management YIARI khawatir Apem tidak mungkin bisa dilepaskan ke alam lagi.

Tim pelepasliaran yang terdiri dari Staf BBKSDA Jawa Barat, YIARI, dan masyarakat lokal menembus hutan Gunung Papandayan untuk mencapai kandang translokasi (Rendi Afandi | YIARI)

Pemeriksaan lanjutan Apem menunjukkan infeksi tersebut hanya menyerang beberapa gigi, sehingga masih ada harapan gigi yang tersisa dapat berfungsi dengan baik. Harapan ini pun ternyata terwujud. Tim manajemen satwa yang terdiri dari dokter hewan dan perawat satwa melihat perilaku mencari makan (foraging) dan makan Apem sangat baik, layaknya kukang di alam liar. Kabar baiknya, berdasarkan hasil evaluasi Apem kemudian dinyatakan bisa kembali ke habitatnya di alam!

Kabar ajaib ini juga datang dari Nasrul, kukang jantan serahan masyarakat ke BKSDA Bandung. Ketika sampai ke pusat rehabilitasi, sudah terdapat luka pada matanya. Luka ini menimbulkan infeksi, sehingga dokter hewan harus menanganinya dengan operasi pengambilan mata. Meski kini hanya hidup dengan satu buah bola mata, Nasrul tetap dinyatakan mampu bertahan di alam.

Perjalanan keenam ekor kukang ini dimulai dari kandang rehab ke kandang transport untuk membawa kukang secara aman dan nyaman dalam perjalanan. Sebelum menempuh perjalanan pandang ini tim animal management memastikan mereka tercukupi kebutuhan nutrisinya. Tim pelepasliaran menggunakan empat kandang transport yang masing-masing berisi satu ataupun dua ekor kukang.

Titik pelepasliaran yang berada di Kecamatan Pasirwangi, Garut ini berjarak sekitar 278 kilometer dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Bogor. Perjalanan ditempuh melalui jalur darat menggunakan mobil dengan waktu tempuh sekitar 8 jam, lalu dilanjutkan berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit.

Apem, salah satu kukang jawa yang telah direhabilitasi, ditranslokasi ke kandang habituasi oleh Andi Witria Rudianto, Kepala Bidang KSDA Wilayah III BBKSDA Jawa Barat (Rendi Afandi | YIARI)

Sesampainya di lokasi, mereka akan dipindahkan ke kandang habituasi yang telah dibangun dahulu, sebelum nantinya dilepasliarkan ke alam bebas. Kandang habituasi ini berupa area seluas 18 meter persegi yang diberi pagar dari jaring dan bambu ini berfungsi sebagai sarana adaptasi bagi kukang di lokasi baru. Kukang yang dilepasliarkan akan menjalani proses habituasi selama ± (kurang lebih) 1 minggu. Pada tahapan ini, satwa masih diberikan pakan agar kebutuhan pakan satwa tercukupi, sebelum dilepasliarkan ke luar kandang habituasi. Selama masa habituasi, tim Survey, Release, dan Monitoring YIARI akan mengamati perilaku serta kesehatan seluruh kukang tersebut. Jika dinilai baik dalam beradaptasi di lingkungan barunya, kukang-kukang ini akan dilepasliarkan dari kandang habituasi ke alam bebas. 

Pemerintah Indonesia sudah menetapkan kukang jawa ke dalam satwa yang dilindungi melalui Undang – Undang no. 5 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi dan diperbaharui dengan PermenLHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tahun 2018. International Union for Conservation of Nature (IUCN) juga mendaftarkan jenis primata ini sebagai satwa terancam (Endangered). Kukang jawa juga termasuk ke dalam apendiks I menurut Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) yang artinya dilarang diperjualbelikan.

Upaya konservasi kukang telah banyak dilakukan, diantaranya pelepasliaran dan peningkatan kesadaran masyarakat, sehingga menunjukkan populasi kukang di alam semakin membaik. Jumlah kukang yang dititiprawatkan di pusat rehabilitasi kami pun menunjukkan jumlah yang paling kecil selama 5 – 10 tahun terakhir. Untuk mempertahankan ini, perlu adanya upaya monitoring perdagangan kukang terus menerus untuk memastikan upaya-upaya konservasi yang dilakukan telah berhasil.

Nasrul adalah salah satu kukang yang mendapat perhatian khusus selama rehabilitasi, hal ini karena ia mengalami kebutaan pada mata kanannya. Untungnya hasil pengamatan menunjukkan ia layak untuk dilepasliarkan (Rendi Afandi | YIARI)

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Plt. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Bapak Irawan Asaad, Ph.D menyampaikan apresiasinya dalam upaya penyelamatan satwa liar. “Kami menyampaikan apresiasi kepada YIARI yang telah sekian lama bersama Balai Besar KSDA Jawa Barat melakukan upaya-upaya penyelamatan terhadap satwa liar dilindungi, khususnya Kukang Jawa. Hingga saat ini, Balai Besar KSDA Jawa Barat mencatat upaya penyelamatan dan pelepasliaran satwa liar dilindungi Kukang Jawa di wilayah kerja Balai Besar KSDA Jawa Barat, merupakan satwa liar terbanyak dibandingkan satwa liar lainnya. Hal ini menandakan peredaran ilegal satwa liar kukang di tengah masyarakat dapat dikatakan masih banyak. Penting untuk diperhatikan bersama, bahwa satwa liar kukang merupakan satwa liar yang lebih baik hidup di alamnya, karena satwa liar tersebut bukan satwa peliharaan, bahkan tidak benar secara hukum untuk diperjualbelikan dengan cara-cara bertentangan dengan peraturan perundangan. Pesan kami kepada masyarakat, jangan memelihara kukang dan jangan memperjual belikan kukang, biarkan satwa liar kukang jawa tetap hidup di habitatnya.”   

Direktur Utama YIARI, Karmele Llano Sanchez menyatakan apresiasinya atas kerjasama multipihak untuk konservasi satwa liar, “Kami mengapresiasi dukungan masyarakat dan pihak pemerintah, dalam hal ini BBKSDA Jawa Barat pada kegiatan pelepasliaran ini. Kesadaran dan upaya multipihak dibutuhkan untuk mencapai tujuan bersama, yaitu terciptanya ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa dan manusia. Untuk itu, terus jaga dan tingkatkan kolaborasi dan sinergi untuk menjaga satwa liar dan habitatnya.”

Bimbingan Teknis SMART Conservation Tools bersama BBKSDA Jabar Lanjut sampai Part 2!

Orang pintar pakai? SMART Conservation Tools! Apakah SMART ini ramai digunakan  sampai lanjut part 2? Pastinya!

Kali ini bimbingan teknis (bimtek) terkait SMART-CT (SMART Patrol)  ini dilaksanakan di Kantor BBKSDA Jawa Barat yang berlokasi di Kecamatan Gedebage, Bandung, Jawa Barat. Selama dua hari, 19-20 Maret 2024, yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, mayoritas Tim YIARI melaksanakan kegiatan sambil menunaikan ibadah puasa nih Sob. No lemes-lemes dan bukan menjadi hambatan, justru menjadi pemantik semangat tim yang makin gacor loh!

Bimtek tahap satu telah kami laksanakan tahun lalu, tepatnya pada 21 – 22 Juli 2023.

Baca: Bimbingan Implementasi SMART Bersama BBKSDA Jabar Wilayah II Soreang

Lalu, apa bedanya bimtek lalu dan yang kini dilakukan?

Pada bimtek tahap satu itu masih tahap pendahuluan Sob. Jadi isi materinya antara lain pengenalan SMART, praktik pengambilan serta input data dengan SMART Mobile, penjelasan cara analisis, laporan, juga diskusi rencana aksi Penerapan SMART di lingkup BBKSDA Jabar.

Di bimtek satu  kan para peserta sudah paham mekanisme pengumpulan datanya, nah selanjutnya datanya diapain? Kami bahas di pelatihan bimtek part dua ini! Jadi focus bimtek dua ini adalah data data data. Mulai dari pengolahannya, pengenalan SIPEDATI (Sistem informasi pengelolaan data spatial), pembahasan struktur data, alur data, validasi data, verifikasi data, pengolahan, analisis data, pembuatan report, juga diakhiri dengan diskusi rencana dan tindak lanjut. Wow, padat sekali ya acaranya!

Peserta pelatihan bimtek menyimak dan mempraktikkan materi dengan seksama (Uci Sanusi | YIARI) 

SMART terus SMART terus, memang apa sih masalah terkait konservasi kawasan dan biodiversitas yang dapat diatasi dari implementasi SMART-CT? Terutama di wilayah Jawa Barat?

Untuk menjawab keresahan itu, Tim YIARI pun langsung bertanya ke dua narasumber ahli nih. Tidak lain tidak bukan sang pemateri atau , Alfin Muhammad Alfiyasin S.Hut serta Kabalai BBKSDA Jabar, Irawan Asaad, S.T., M.Sc., Ph.D. Simak ya, Sob!

Alfin: Dengan dukungan data dari SMART, masalah yang bisa diatasi diantaranya adalah mencegah gangguan kawasan konservasi dan ancaman bagi biodiversitas. Kita juga bisa melihat tren gangguan secara berkala, juga lokasinya. Nah data yang sudah terkumpul dan terkelola dengan baik di SMART Mobile ini bisa membantu keputusan pengambilan kebijakan yang sesuai dalam pengelolaan kawasan.

Irawan: Saat ini data patroli belum terstruktur dengan baik. Melalui SMART-CT diharapkan data keberadaan dan sebaran satwa, tumbuhan dapat terdokumentasi dengan baik. Salah satu hasil dari SMART juga dapat digunakan untuk melihat kesesuaian habitat terutama untuk lokasi pelepasliaran berdasarkan hasil perjumpaan satwa tersebut.

Seluruh tim BBKSDA Jabar dan YIARI seusai pelaksanaan bimtek tahap dua (Uci Sanusi | YIARI) 

Selanjutnya, bagaimana ya sistem kerja SMART Conservation Tools ini?

Alfin: SMART bisa berjalan dengan adanya petugas di lapangan yang mencatat setiap temuan, kemudian divalidasi dan diverifikasi oleh tim admin dari setiap temuan, sehingga data yang terkumpul clear. Hal ini bisa terwujud dengan adanya dukungan peralatan yang memadai dan dukungan dari pimpinan.

Irawan: SMART merupakan tool untuk collect data yang dipakai pada tingkat tapak, data yang diambil di lapangan tersebut kemudian dapat diolah dan dianalisis menjadi salah satu tool untuk pengambilan keputusan dan kebijakan pengelolaan.

Bagaimana keberjalanan implementasi SMART Conservation Tools ini di lingkup kerja BBKSDA Jawa Barat?

Alfin: Implementasi SMART di BBKSDA Jabar sedang berjalan, karena sudah dilakukan 2 tahap pelatihan atau bimtek. Tahap pertama dilakukan pelatihan pada petugas pengambil data di setiap resort atau seksi atau bidang.  Tahap kedua telah dilakukan pelatihan lanjutan untuk tim admin untuk membuat sistem database SMART di BBKSDA Jabar serta analisis pemanfaatan data untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi dan biodiversitas yang lebih efektif. Dengan dua pelatihan tersebut, diharapkan implementasi penggunaan dan pemanfaatannya  SMART di BBKSDA Jabar bisa lebih cepat.

Irawan: SMART di BBKSDA Jabar dikenal sejak 2018 namun baru kembali diaktifkan lagi pada triwulan IV Tahun 2023. Sehingga masih perlu adaptasi dengan operator atau petugas lapangan dan perlu dievaluasi hasilnya secara berkelanjutan.

Yuk Sob, kita aamiinkan dan dukung bersama, segala harapan baik terkait SMART-CT yang sudah disampaikan, apalagi yang mendukung konservasi dan keanekaragaman hayati 🌳😄

Sempat Menjadi Peraih Penghargaan Pengendalian Karhutla di Indonesia, The Power of Mama Bagikan Kisah Perjuangannya Mengendalikan Karhutla

Sobat #KonservasYIARI, masih ingat gak sih kalau tahun lalu The Power of Mama (TPoM) yang diwakili oleh Ibu Siti Maimun diundang ke Bogor untuk menerima penghargaan “Clean Air Championship Award 2023”?

(Baca: Komunitas The Power of Mama Terima Penghargaan Nasional Clean Air Championship Award )

Good news, tahun ini TPoM is back to Bogor loh Sob! Ngapain ya?

Jadi, TPoM yang kembali diwakili Ibu Siti Maimun yang kerap dipanggil Ibu Maimun ini mendapat amanah untuk menjadi narasumber talkshow tentang pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Dilaksanakan pada 27 Maret 2024 di IPB International Conference Center (ICC), talkshow ini juga bertajuk “Komunitas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia”.

So, di talkshow ini Ibu Maimun juga ditemani empat narasumber lain yang menceritakan upaya inspiratifnya dalam mengendalikan kebakaran hutan di wilayahnya masing-masing. Seperti Ibu Maimun yang mewakili TPoM, para narasumber talkshow ini juga mewakili kelompoknya yang juga mendapatkan penghargaan Clean air Championship Award tahun lalu. Di antara para narasumber ini, Ibu Maimun-lah yang paling cantik, sebab ia wanita sendiri loh, luar biasa ya! 🤩

Diinisiasi oleh Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University dan Farmers’ Initiatives for Ecological Livelihood and Democracy (FIELD) Indonesia, penghargaan dan talkshow ini dilaksanakan dalam rangka menjalankan program udara bersih Indonesia.

Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya kebanggaan kita, acara kemudian dibuka oleh ketua panitia rangkaian kegiatan yaitu, Prof Bambang Hero Saharjo. Dilanjutkan dengan sambutan dari Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB, Dr. Ir. Naresworo Nugroho

Acara utama terbagi menjadi dua agenda, yaitu pemberian penghargaan “Clean air Championship Award 2024” dan talkshow. Selain dihadiri para peserta undangan, acara ini juga terbuka untuk masyarakat umum yang turut hadir melalui zoom meeting.

Setelah pemberian penghargaan, talkshow karhutla yang moderatori oleh Dr. Ati Dwi Nurhayati selaku dosen departemen Silvikultur IPB pun dimulai. Pada sesi ini, Ibu Maimun juga menceritakan latar belakang terbentuknya TPoM oleh Mama-Mama di Kabupaten Ketapang,

Suasana Pemberian Penghargaan Program Udara Bersih Indonesia Tingkat Nasional Tahun 2024 (Fattreza Ihsan | YIARI)

“Kebakaran yang banyak terjadi pada tahun 2019, terutama di Desa Sukamaju Kabupaten Ketapang menyadarkan kami, para masyarakat yang terdampak. Kami tentunya  tidak mau hanya menjadi penonton dan penerima akibat dari karhutla yang terjadi, Kami juga ingin ikut serta dalam pengendalian kebakaran hutan. Kami yang dulunya hanya menerima akibat dari kebakaran hutan dan lahan tersebut, sekarang sudah berpikir akan kegiatan pengendalian karhutla. Kami tidak mau hanya menutup mata dan tidak berpangku tangan ketika karhutla terjadi,” terang Ibu Maimun mengenai keresahan yang ia dan kelompoknya alami pada seluruh peserta talkshow. Ia juga menjelaskan upaya-upaya apa yang telah dilakukan oleh TPOM dalam pemadaman api di desa-desa di Ketapang, Kalimantan Barat. “Upaya yang kami lakukan diantaranya pencegahan dengan penyadartahuan dan sosialisasi yang dilakukan kepada masyarakat, Kami juga ikut memadamkan api. Kami bangga bisa memberikan kontribusi yang baik kepada masyarakat di beberapa desa di lingkungan kami dan akan terus memperluas kontribusi kami ke beberapa desa lain,” ujarnya.

Para narasumber lain juga menceritakan pengalaman tentang upaya yang sudah dilakukan dalam pengendalian karhutla untuk menciptakan udara bersih. Selain Ibu Maimun perwakilan TPoM, narasumber yang hadir antara lain Ir. H. Adi Yani, MH. selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, Bachyuni Deliansyah, SH.MH. selaku Penjabat Bupati Muaro Jambi, Kepala BPBD Provinsi Jambi, Andrean selaku Anggota Manggala Agni Daops Sumatera VII, Rengat, Muhammad Nur. S.Pd. selaku Guru SDN 7, Bandar Laksamana, Bengkalis, Riau dan Muhammad Salim selaku Kader Petani Kuburaya Binaan Field Indonesia.

Ibu Maimun menerangkan pengalamannya bersama kelompoknya, The Power of Mama, mengenai upaya mereka dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Fattreza Ihsan | YIARI)

Tidak hanya selesai di ICC, para panitia, peserta, narasumber bersama sama bertolak ke Kampus IPB Dramaga, tepatnya auditorium Fakultas Ekonomi dan Manajemen untuk ikut menghadiri acara “Pesona Kampus Hijau.”

Acara ini merupakan kolaborasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Media Indonesia dan IPB University berupa talkshow dengan tema “Keberhasilan Indonesia dalam Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan”. Turut dimeriahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, ratusan mahasiswa dan masyarakat umum yang menghadiri acara ini. 

Pada kesempatan ini Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc sebagai Keynote Speaker, memberikan sambutannya, “Kegiatan ini merupakan salah satu upaya penyebarluasan informasi dan apresiasi kepada seluruh pihak terkait upaya-upaya yang telah dilakukan pengendalian karhutla di Indonesia. Hal ini juga relevan dan komplementer dengan prakarsa Fahutan IPB yaitu penghargaan pada tingkat tapak dan lapangan dalam upaya kerja penanganan Karhutla”

Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc, selaku Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI memberikan pandangannya mengenai bagaimana keberhasilan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga kedaulatan Republik Indonesia (Fattreza Ihsan | YIARI)

Agenda acara dilanjutkan dengan talkshow yang dimoderatori oleh Valerina Daniel. Narasumber talkshow ini ialah Rektor IPB University,  Prof. Dr. Arif Satria, SP, MSi dan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Dr. Bambang Hendroyono, MM.

Agenda acara ini pun ditutup dengan grup musik ternama di Indonesia, yaitu ADA Band 🧑‍🎤

Semoga The Power of Mama dapat terus menginspirasi dan memberikan dampak positif, tidak hanya untuk wilayah Ketapang ya, tapi juga Pulau Kalimantan, dan Indonesia! 🔥Semangat terus Mama-Mama TPoM! 🙌

6 Fakta Julang Emas, Indikator Hutan yang Sehat dan Terjaga

Sobat #KonservasYIARI tau gak Indonesia memiliki total spesies burung yang kaya banget, totalnya sebanyak 1826 spesies! Salah satunya adalah julang emas, yang sebarannya luas banget. Wilayah sebarannya meliputi Butan Selatan, India Timur, Cina Barat Daya, Asia Tenggara dan Semenanjung Malaysia. Di Indonesia sendiri, julang emas tersebar di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Bali, juga termasuk beberapa pulau lepas pantai.

Mereka umumnya hidup di hutan dataran rendah dan perbukitan sampai ketinggian 2.000 m. Namun jangan salah, Ia gak pernah asal pilih hutan untuk dijadikan habitatnya loh. Julang emas dianggap tidak toleran terhadap hilangnya habitat karena membutuhkan area hutan yang luas dan terjaga.

Selain fakta tersebut, masih ada beberapa fakta lain burung dengan nama ilmiah Rhyticeros undulatus ini, yuk simak Sob!

1. Satu Keluarga dengan Rangkong

Yoi Sob, Julang emas termasuk dalam famili Bucerotidae, seperti rangkong, enggang, julang, dan kangkareng. Semua jenis burung tersebut dalam bahasa inggris biasa disebut dengan Hornbill. Burung-burung pada famili ini dikenal memiliki 

Nama ilmiah ‘Buceros’ dalam bahasa Yunani memiliki arti tanduk sapi, yang merujuk pada bentuk paruhnya. Burung-burung pada famili ini memiliki paruh seperti tanduk sapi yang berwarna terang. 

2. Merupakan Satwa Dimorfik

Julang emas jantan (Bobby Muhidin | YIARI)
Julang emas betina (Bobby Muhidin | YIARI)

Julang emas merupakan satwa termasuk dimorfik, yaitu satwa yang dengan penampakan berbeda antara jantan dan betinanya. Perbedaan jenis kelamin dari burung ini dapat dilihat dari warna temboloknya, warna kepala, dan warna bulu pada tengkuk.

Tembolok (gular skin) adalah kantong leher burung yang bisa digunakan untuk menyimpan makanan. Warna tembolok julang emas jantan umumnya berwarna kuning terang dengan garis hitam, sedangkan tembolok betina berwarna biru. Warna kepala jantan julang emas krem dengan bulu kemerahan bergantung dari tengkuk, sedangkan kepala dan tengkuk betina berwarna hitam. 

3. Betina Menjaga dan Membesarkan Anak dari Lubang Sarang

Tau gak sih kalau burung-burung dari famili Bucerotidae ini memiliki sistem bertelur yang unik, Sob? Mereka membutuhkan lubang pohon alami sebagai tempat tinggal sementara individu betina, sekaligus untuk melindungi ia dan anaknya dari predator. Ia akan berada dalam sarang ini selama masa bertelur, hingga sang anak dinilai siap untuk belajar terbang.

Nah, lubang alami pada pohon tersebut kemudian ditutup menggunakan tanah, lumpur, kotoran dan sisa makanan, sampai  besar lubang tersebut hanya sebesar paruh mereka aja. Lubang tersebut akan digunakan sebagai jalur jantan menyuapi betina dengan makanan yang sudah ia kumpulkan dari hutan, juga sebagai pintu mengeluarkan kotoran atau fesesnya.

Dengan jumlah telur yang biasanya berjumlah 2 butir, biasanya hanya satu anak burung yang selamat sampai dewasa. Spesies ini menghabiskan waktu bersarang sekitar 111-137 hari, dengan masa persiapan dan bertelur 13-14 hari, lalu masa pengeraman telur 40 hari dan masa perawatan anak burung 90 hari. Jadi dalam waktu tersebut, sang ibu harus tetap berada dalam sarang tersebut, loh! Luar biasa ya perjuangan sang Ibu!

4. Setia! Sang Jantan akan Memberi Makan Betina Selama Masa Bertelur

Julang emas jantan sedang memberi pakan pada sang betina yang berada di dalam lubang sarang (Aris Subagio | YIARI)

Selain karena monogami, spesies ini juga dikenal setia karena selama masa bertelur, sang jantan lah yang memiliki tugas penting untuk mencari pakan. Gak cuma untuk dirinya sendiri loh, tapi juga untuk sang betina di sarang, sweet banget ya. Makanan utama burung ini adalah buah-buahan seperti buah ficus. Selain itu burung ini juga akan memakan satwa kecil seperti serangga, kadal, katak, dan beberapa satwa kecil lain untuk memenuhi kebutuhan proteinnya.

Julang emas jantan akan menyimpan pakan pada temboloknya, yang kemudian akan dikeluarkan satu per satu pakan dari dalam temboloknya ke ujung paruh. Ia kemudian memosisikan paruhnya untuk menyuapi sang betina.

Ketika sedang tidak dalam masa bertelur, julang emas akan terbang bersama pasangannya, atau dalam kelompok kecil. Mereka terbang dengan kepakan sayap yang berat dan suara keras. 

5. Rentan Punah

1826 spesies burung di Indonesia pada 2023, menunjukkan peningkatan 11 spesies dari tahun sebelumnya. Namun juga menunjukkan pengurangan tiga spesies juga, Sob😞. Ternyata masih ada ancaman terhadap kelestarian burung Indonesia ya.

Kini julang emas Memiliki Status Konservasi Vulnerable atau rentan punah.Hilangnya luasan hutan karena kebakaran hutan, maupun perambahan wilayah hutan menjadi ancaman hilangnya habitat julang emas ini. Ia juga terancam dari perburuan liar karena bentuk paruhnya yang unik. Sedangkan dari cerita diatas, coba bayangkan deh apa yang akan terjadi kalau sang jantan diburu. Otomatis dengan memburu satu julang jantan sama dengan membunuh seluruh keluarga julang, kan? 😭

YIARI rutin melakukan pendataan keanekaragaman hayati satwa dan tumbuhan di beberapa lokasi, salah satunya ialah Hutan Lindung Batutegi. Fungsi pendataan kehati ini adalah untuk melihat potensi kawasan dan kesesuaian kawasan tersebut untuk habitat atau kehidupan satwa liar. 

Pendataan jenis burung di kawasan HL Batutegi sendiri telah dilakukan sejak tahun 2009, namun kegiatan ini belum dilaksanakan secara rutin. Survey keragaman satwa mulai dilakukan secara khusus dengan membuat jalur-jalur pengamatan di blok inti kawasan HL Batutegi pada akhir tahun 2016.

Berdasarkan kompilasi data yang telah dilakukan dari 2009 hingga 2021, jumlah jenis burung di kawasan HL Batutegi telah mencapai 245 jenis yang tergabung ke dalam 61 famili. Salah satu spesies yang ditemukan ialah burung langka dan terancam punah ini, julang emas.

6. Indikator Hutan yang Sehat dan Terjaga

Jadi tahu kan Sob, untuk bisa berkembangbiak, julang emas membutuhkan pohon yang besar dan tinggi dengan lubang alami. Pohon dengan karakteristik ini tentunya hanya bisa ditemukan pada area hutan yang luas dan terjaga dong? Karena itu, julang emas dianggap tidak toleran terhadap hilangnya habitat hutan.

Perkembangbiakan julang emas di wilayah HL Batutegi menunjukkan bahwa kondisi hutan di KPH Batutegi sehat, luas, aman, dan terjaga. Wilayah ini bisa menjadi habitat yang baik bagi sang julang emas tentunya karena peran KPH Batutegi, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, dan YIARI, yang senantiasa melakukan patroli hutan untuk menjaga kelestarian sumber daya alam di dalamnya!

Faktanya, hutan juga membutuhkan spesies ini untuk dapat lestari, loh! Dengan daya jelajahnya yang luas, ia dapat membantu penyebaran berbagai benih tumbuhan. Regenerasi vegetasi hutan dapat terjadi secara alami melalui benih tumbuhan sisa makanan atau yang terkandung pada fesesnya.

Semoga kita semua makin sadar akan pentingnya peran julang emas untuk hutan. Satwa cantik dengan suara unik ini seharusnya tetap lestari bebas di hutan ‘kan, bukan di dalam kandang? 🐦🌳

 

Referensi:

  1. Burung.org 
  2. Rangkong.org
  3. Kemp AC, Boesman PFD. 2020. Wreathed Hornbill (Rhyticeros undulatus). In del Hoyo J; Elliott A; Sargatal J & Christie DA. (eds.). Handbook of the Birds of the World. Vol. Volume 6: Mousebirds to Hornbills. Barcelona: Lynx Edicions. ISBN 978-8487334306.
  4. Robithotul Huda. 2022. Burung Liar Kawasan Hutan KPH Batutegi, Lampung. Menyingkap Keragaman Burung di Hutan Lindung Batutegi.  YIARI (ID): Bogor.
  5. Featured image: Uci Sanusi | YIARI

 

Fathia Rosatika

Ikuti Kuy Serunya Survei Populasi Monyet Ekor Panjang di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan

Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang, tempat yang baru belum pernah terjamah🎵. Mungkin lagu dari kartun Ninja Hatori  itulah yang cocok dinyanyikan untuk menggambarkan petualangan Tim Makaka yang habis berkelana kemarin! Kemana dan ngapain ya mereka? Mencari kitab sakti seperti Sun Go Kong kah? Yuk ikuti ceritanya!


Pada periode Mei – Juli 2023, Tim Makaka kami yang terdiri dari Kang Itang, Kang Amun Nawawi, Kang Dadang, Kang Yudi, Kang Ruli, Kang Hermawan, secara bertahap dan bergantian berkelana ke empat pulau di tiga provinsi. Pulau tersebut di antaranya ialah Pulau Karimunjawa di Jawa Tengah, Pulau Maratua di Kalimantan Timur, Pulau Lasia dan Pulau Simeulue di Aceh. Ketika di Pulau Karimunjawa, Tim Makaka tersebut juga dibantu Kang Riki, Kang Uci dari divisi resiliensi habitat. Nah, mereka kesana bukan untuk mencari kitab sakti seperti Sun Go Kong ya Sob hehe, melainkan mencari pembuktian keberadaan dan estimasi populasi makaka atau monyet ekor panjang (MEP) atau Macaca fascicularis dengan metode survei cepat.

Pengamatan makaka di Pulau Maratua (Tim Makaka | Yayasan IAR Indonesia)

Sobat #KonservasYIARI tahu gak kalau status konservasi global MEP baru-baru ini diperbarui menjadi terancam punah pada red list atau daftar merah IUCN. Spesies ini juga terdaftar dalam Apendiks II di CITES, yang artinya spesies ini mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan.

Namun, hanya ada sedikit bukti ilmiah tentang ukuran populasi aktual dan distribusi monyet ekor panjang di seluruh Asia Tenggara, Sob. Dari beberapa studi sih, banyak yang menunjukkan perbedaan antara persepsi kelimpahan dan kepadatan MEP sebenarnya, beberapa juga menunjukkan penurunan.
Di Indonesia ada empat subspesies MEP yang memerlukan penelitian lebih lanjut, diantaranya M.f. fuscus (Pulau Simeulue), M.f. karimondjawae (Kepulauan Karimunjawa), M.f. lasiae (Pulau Lasia), dan M.f. tua (Pulau Maratua). Oleh karena itu, Tim Makaka pun turun ke lapang untuk memberikan tambahan data subspesies monyet ekor panjang yang hidup di pulau-pulau terluar di Indonesia tersebut.

Perjalanan menuju lokasi pengamatan di Pulau Karimunjawa (Tim Makaka | Yayasan IAR Indonesia)

Pengamatan dilakukan dengan metode langsung terkonsentrasi (concentration count), yaitu pengamatan pada titik yang diduga sebagai tempat dengan peluang perjumpaan satwa yang tinggi. Pertama, Tim Makaka menentukan lokasi survei cepat melalui studi literatur, riwayat perjumpaan sebelumnya, laporan dan wawancara dengan petugas setempat, juga wawancara dengan organisasi, komunitas lokal, dan masyarakat sekitar. Lalu mulai deh Tim Makaka melakukan pengamatan berdasarkan informasi tersebut.Pengamatan pun dilakukan pada tempat berkumpulnya satwa seperti tempat minum, makan, pohon tidur,  maupun tempat yang sering dilintasi oleh satwa.

Di lapangan, Tim Makaka pun mengidentifikasi morfologi, juga menghitung jumlah dan komposisi MEP, serta mendokumentasikan MEP. Gak hanya data MEP yang mereka kumpulkan, informasi mengenai gambaran interaksi masyarakat dengan MEP juga dikumpulkan melalui wawancara langsung pada warga lokal. 

Proses wawancara dan Edukasi terkait MEP (Tim Makaka | Yayasan IAR Indonesia)

Ketika pindah berkala pulau ke pulau, Tim Makaka harus berhadapan tantangan dan kejadian menarik nih Sob. Tantangan yang dialami antara lain akses yang jauh, cuaca, juga adaptasi dengan berbagai macam kondisi masyarakat lokal secara sosial. Lebih seru lagi, ada beberapa cerita menarik ketika Tim Makaka berada di Pulau Lasia. Mungkin kenalan sedikit dulu ya dengan Pulau Lasia, pulau tidak berpenghuni yang berada di sebelah barat Pulau Sumatera, dan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.

Kondisi lingkungan Pulau Lasia (Tim Makaka | Yayasan IAR Indonesia)

Beberapa bagian pada pulau ini sebetulnya ada yang dimanfaatkan masyarakat untuk berkebun, namun sudah sekitar satu tahun ditinggal oleh para petani sehingga rumput dan ilalang di Pulau tersebut tinggi, hutannya pun sangat lebat. Pulau ini tuh memiliki seorang yang disebut dengan “Panglima Laut”, yaitu sosok yang tahu kondisi cuaca laut hanya dengan menatap laut dan kondisi sekitar dari kejauhan, keren banget bukan?

Di Pulau Lasia, tantangan awal yang dialami Tim Makaka adalah sulitnya mereka masuk ke bagian dalam pulau karena vegetasi yang begitu lebat sehingga pengamatan dilakukan dengan mengelilingi kawasan hutan yang ada di pinggir pulau. Tantangan selanjutnya datang ketika mereka selesai melakukan pengamatan. Tim yang awalnya berangkat dari camp ke lokasi pengamatan dengan berjalan kaki, tidak bisa kembali dengan jalan kaki. Mereka pun harus dijemput kapal yang dinahkodai oleh bukan sembarang orang melainkan oleh sang Panglima Laut!

Hal ini terjadi karena kegiatan pengamatan selesai terlalu larut, yaitu pada pukul 20.00 dengan kondisi pulau yang benar-benar gelap, dengan air yang mulai pasang, juga banyak karang sekitar pulau yang terjal sehingga sangat tidak memungkinkan kembali dengan berjalan kaki. Tapi proses mereka naik ke kapal tersebut juga tak semudah itu Sob! Mereka harus berenang dulu untuk bisa naik ke kapal tersebut, jadi dibantu dengan pelampung yang dilemparkan dari kapal.

Tim Makaka ini pun sempat mengalami kehabisan air ketika berada di Pulau Lasia😭. Untung saja di pulau tersebut banyak pohon kelapa, jadi tinggal panjat pohon kelapa tersebut aja deh supaya bisa minum, lumayan dapat bonus daging kelapa juga hehe. Memang ya setelah kesulitan pasti ada kemudahan! Ketika kembali dari Pulau Lasia menuju Pulau Simeulue, tim juga mendapat tantangan lain yaitu harus melewati angin kencang dan ombak laut yang tidak tenang, bahkan badan seluruh Tim Makaka  pun sampai basah kuyup.

Setelah melalui perjalanan panjang dengan berbagai cuaca dan kondisi lapang, tentunya Tim Makaka gak pulang dengan tangan kosong dong Sob, mereka juga membawa hasilnya survei cepatnya! Secara umum, hasilnya menunjukkan bahwa terdapat keberadaan MEP di masing-masing pulau.  Ada banyak tantangannya untuk kelestarian MEP, juga satwa lain di pulau ini yang mungkin butuh penelitian lebih lanjut. Interaksi antara MEP dengan manusia di pulau-pulau tersebut juga cukup tinggi, dengan tantangan berbeda pada masing-masing pulau, seperti pariwisata, juga perkebunan. Kesamaan 3 pulau tersebut, kecuali Pulau Lasia yang tidak berpenghuni adalah MEP lebih banyak ditemui di pinggir hutan atau di wilayah yang dekat dengan masyarakat.

Potret MEP di Pulau Simeulue yang disebut masyarakat sebagai lutung (Tim Makaka | Yayasan IAR Indonesia)

Oiya ada info menarik juga nih tentang panggilan masyarakat kepada MEP. Masyarakat Pulau Maratua menyebut MEP sebagai “kuya”, kemudian masyarakat Pulau Simeulue menyebut MEP sebagai “lutung”. Mungkin mereka mengira MEP tersebut adalah lutung karena warnanya yang cenderung lebih gelap, padahal ada beberapa masyarakat yang tahu bentuk lutung yang sebenarnya.

Seperti pada Pulau Karimunjawa, Maratua, dan Simeulue, kehidupan manusia dan satwa liar seperti MEP secara berdampingan tidak bisa terelakkan. Yang bisa kita lakukan diantaranya adalah menghindari kontak fisik dengan satwa, tidak memberi makan satwa tersebut, juga dengan menjaga lingkungan! Menjaga lingkungan bisa dilakukan dengan membuang sampah pada tempatnya, bahkan lebih baik lagi jika mengolah sampah organik dengan benar agar satwa liar tidak memakan dari kumpulan limbah organik tersebut!

Kegiatan ini tentunya bisa berlangsung berkat dukungan berbagai pihak terkait. Oleh karena itu kami dari YIARI ingin mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik (KKHSG), Taman Nasional Karimunjawa, BKSDA Kalimantan Timur, BKSDA Aceh, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, BKPH Simeulue, Ecosystem Impact, dan seluruh pihak yang sudah mendukung kegiatan survei ini.

Semoga aktivitas ini dapat meningkatkan pemahaman dan informasi terkait keberadaan subspesies monyet ekor panjang dan dapat berkontribusi untuk ilmu pengetahuan di masa yang akan datang! 😊

Fathia Rosatika

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Bimbingan Implementasi SMART Bersama BBKSDA Jabar Wilayah II Soreang

Pada hari Jum’at – Sabtu, 21 – 22 Juli 2023, kami bersama BBKSDA Jawa Barat melakukan bimbingan teknis terkait SMART Conservation Tool di Villa Amarilis Gambung, Kabupaten Bandung.

Apa tuh SMART Conservation Tool?

Jadi, SMART Conservation Tool merupakan salah satu alat yang dapat membantu aktivitas patroli atau pengamanan kawasan hutan. Alat ini dapat mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, mengevaluasi, dan  melaporkan hasil kegiatan lapangan di tingkat tapak.

Emang urgensinya apa sih sampai harus pakai alat smart ini?

Jadi, pengelolaan kawasan konservasi tuh membutuhkan strategi pengelolaan yang efektif dalam menghadapi berbagai tantangan dan ancaman terhadap kawasan. Strategi pengelolaan yang efektif tersebut harus fokus pada isu-isu strategis dan menetapkan prioritas intervensi dalam rencana yang terintegrasi dan realistis. Dalam menghadapi tantangan manajemen tersebut, maka KLHK telah mendorong untuk menerapkan RBM (Resort Based Management). Pendekatan ini akan mendorong pola manajemen untuk fokus pada masalah nyata di lapangan dan menciptakan arus data dan informasi yang lancar dari tingkat resort ke Balai BKSDA Jawa barat dan sebaliknya. Nah, SMART Conservation Tool inilah yang dirasa mampu membantu mewujudkan hal tersebut.

Siapa sajakah peserta yang hadir?

Peserta kegiatan ini adalah Bapak Ibu BBKSDA Jabar, juga meliputi administrator, operator dan petugas lapangan SMART. Harapannya para staf BBKSDA Jabar mampu menggunakan perangkat lunak SMART Desktop dan SMART Mobile, mampu mengambil data lapangan dengan menggunakan SMART Mobile, juga menyusun rencana tindak lanjut implementasi SMART Conservation Tool di lingkup BBKSDA Jabar. Total peserta yang hadir sebanyak 35 orang.

Kegiatan hari pertama, pengenalan dan penginstalan aplikasi SMART ( Fattreza Ihsan | Yayasan IAR Indonesia)

Kan namanya SMART Conservation Tool yang artinya alat konservasi SMART ya, jadi penasaran bentuk alatnya seperti apa ya? Mirip-mirip alat doraemon kah?

Hehe bukan dong, alat ini gak ada wujudnya karena merupakan software atau perangkat lunak aja Sob, jadi merupakan aplikasi ya. Nah perangkat lunak SMART bisa dioperasikan menggunakan komputer atau laptop berbasis windows, kalau aplikasi SMART Mobile merupakan aplikasi smartphone berbasis android.

Kegiatan hari kedua. praktik langsung penggunaan aplikasi SMART ( Fattreza Ihsan | Yayasan IAR Indonesia)

Materi yang disampaikan apa aja ya? Narasumbernya siapa aja ya?

Pengisi materi pada kegiatan pelatihan ini selain kami, ada pula SMART Trainer dari Direktorat Pengelolaan Kawasan Konservasi Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan. Materi yang disampaikan meliputi penjelasan umum tentang SMART, penjelasan dan praktik pengambilan data dan input data dengan SMART Mobile, cara analisis dan laporan, juga diskusi rencana aksi Penerapan SMART di lingkup BBKSDA Jabar.

Gimana ya tanggapan dari inisiator dan peserta?

Bapak Yohan Hendratmoko, S.Hut, M.Si selaku Kepala Bidang KSDA Wilayah II Soreang BBKSDA Jawa Barat selaku inisiator acara ini menyampaikan harapannya bahwa aplikasi ini bisa digunakan di seluruh resort wilayah II Soreang, agar informasi yang didapat dari lapang dapat tertata, terstruktur, juga dikelola dengan baik agar mampu membantu pengambilan keputusan dan analisis yang sesuai. Pengawalan penerapan aplikasi SMART ini akan tetap berlangsung, dengan harapan metode ini juga bisa diterapkan di seluruh wilayah kerja.

Bapak Yohan Hendratmoko, S.Hut, M.Si selaku Kepala Bidang KSDA Wilayah II Soreang BBKSDA Jawa Barat menyampaikan harapannya terkait implementasi SMART ( Fattreza Ihsan | Yayasan IAR Indonesia)

Halu Oleo, SP selaku ka seksi konservasi wilayah III Bandung menyampaikan terima kasihnya kepada YIARI yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Pelatihan yang telah dilakukan memiliki suasana yang enjoy, kemudian materi dan pemateri bimbingan teknologi sesuai dengan visi yang dimiliki BBKSDA. Praktik yang dilakukan tidak kalah asik karena dengan praktik sangat mendukung teori yang telah dipelajari. Aplikasi SMART ini juga dirasa sangat memudahkan proses pencatatan informasi karena aplikasi ini terintegrasi dan tetap dapat beroperasi meski tidak ada sinyal. 

Vitriana Yulalita Marwitawati, S.Pi, MP. selaku Kasie Wil IV Purwakarta menyampaikan bahwa pelatihan ini sangat berkesan dari awal sampai akhir, terutama bagian pengantar karena menajamkan pentingnya SMART Patrol. “Selama ini, kami banyak mendengar namun belum paham mengapa hal tersebut penting dalam pengelolaan kawasan serta dalam menjalankan tugas sehari-hari. Banyak hal baru yang saya pelajari, diantaranya meningkatkan kemampuan yang selama ini dilakukan, mendigitalisasi apa yang sudah dilakukan, serta membuat hasil patroli lebih bermanfaat. Kami akan sangat mendukung penggunaan SMART Patrol dalam menjalankan tugas kami,” ujarnya. 

Sekian cerita tentang SMART Patrol kali ini, semoga materi yang disampaikan bisa membantu pemahaman Bapak Ibu peserta dan bisa membawa manfaat untuk upaya konservasi ya!

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Fathia Rosatika