Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Cerita Lima Bulan Perjalanan Mey Bersama YIARI

Nama saya Meydilla Dian Saputri, biasa dipanggil Mey. Saya mahasiswa Rekayasa kehutanan, Fakultas teknologi industri, Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Saat awal semester 8 kemarin, Saya beserta teman-teman berkesempatan untuk mengikuti program magang sekaligus penelitian di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Kesempatan ini tentu bukan datang dua kali, jadi rasanya sayang banget kalau dilewatkan.

Selama menjalani perkuliahan, saya memiliki ketertarikan yang kuat di bidang konservasi satwa. Ketertarikan ini pelan-pelan tumbuh jadi minat yang mendorong saya untuk terus belajar dan berkontribusi dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati, khususnya perlindungan terhadap satwa liar dan habitatnya. Berangkat dari minat tersebut, saya merasa YIARI adalah tempat yang tepat untuk magang dan melakukan penelitian, yang saya ketahui bahwa YIARI salah satu lembaga konservasi yang memiliki komitmen kuat dalam melindungi dan merehabilitasi satwa liar, khususnya primata seperti kukang dan orangutan. tidak hanya berfokus pada penyelamatan satwa, tetapi juga pada edukasi masyarakat dan pelestarian habitat, sangat sejalan dengan minat dan nilai-nilai yang saya pegang di bidang konservasi satwa

Kegiatan magang dan penelitian saya dilaksanakan selama 5 bulan, rasanya bukan waktu yang sebentar, tapi justru itu yang bikin pengalaman di sana jadi berkesan banget. Selama magang saya diberi kesempatan untuk belajar di semua divisi. Divisi Community Development, Perlindungan & Pengamanan Habitat (PPH), Biodiversity, dan Edukasi jadi benar-benar ngerasain langsung gimana kerja konservasi dari berbagai sisi. Nggak cuma belajar teori, saya juga langsung turun ke lapangan. Mulai pakai aplikasi SMART buat mengelola dan nyatet data lapangan (yang kalau nggak teliti bisa bikin pusing sendiri). Saya juga dikenalkan dengan bioakustik, belajar mengenali suara satwa, yang bikin saya sadar kalau hutan itu sebenarnya rame, cuma kita aja yang jarang denger. 

Pengambilan data lapangan bersama tim YIARI (Meydilla Dian Saputri)

Selain itu, saya juga ikut terlibat dalam kegiatan edukasi di taman baca anak-anak. Di sini saya belajar kalau konservasi itu nggak melulu soal hutan dan satwa, tapi juga soal ngenalin dan nanemin rasa peduli sejak kecil, dengan cara yang santai dan menyenangkan dan saya juga  ikut serta pendampingan kelompok tani (gapoktan) dalam program gulir kambing. Dari kegiatan ini saya makin paham kalau konservasi nggak bisa jalan sendirian, tapi harus barengan sama pemberdayaan masyarakat. Buat saya, semua pengalaman ini luar biasa, karena nggak semua orang punya kesempatan buat belajar selengkap ini dan langsung terjun ke lapangan. Capeknya dapet, ilmunya dapet, pengalamannya, lengkap deh. 

Salah satu pengalaman yang paling berkesan selama saya magang yaitu ikut serta dalam survei potensi habitat untuk lokasi pelepasliaran kukang sumatera yang dilaksanakan selama 10 hari di KPH Way Waya, tepatnya di Resort Sedang Agung yang meliputi pada blok Wana Sejahtera, Blok Sendang Sari dan Blok Menggeh Sipin. Mungkin bagi orang lain ini hal yang biasa saja tapi bagi saya adalah hal yang luar biasa. Selain karena kegiatannya yang menantang dan penuh pembelajaran, saya juga berkesempatan bekerja sama dengan “akang-akang bagor” yang asik banget, ada Kang Ricky (yang akrab dipanggil kang gepeng), Kang Uci, Kang Igud, dan Kang Marco.

Potret “Akang-akang Bagor” saat berkegiatan bersama di di Resort Sedang Agung (Meydilla Dian Saputri)

Mendengar cerita pengalaman dari akang-akang, saya bersyukur bisa dapat bertemu dan mengenal orang-orang yang hebat dan asik ini. Awalnya saya sempat ragu apakah saya bisa cepat beradaptasi, mengingat ini adalah pertemuan pertama dan langsung harus turun ke lapangan hampir dua minggu. Namun, suasana yang seru, asik dan kebersamaan selama di lapangan membuat semua rasa canggung itu hilang begitu saja, bahkan waktu terasa berjalan sangat cepat hingga akhirnya tiba saatnya untuk berpisah.   

Penelitian yang saya lakukan berfokus pada kelimpahan relatif kukang sumatera di blok inti dan blok pemanfaatan KPH Batutegi. Dalam prosesnya, saya nggak jalan sendirian, saya banyak dibantu dan didampingi oleh staf YIARI Mas Ayun, Bang Irfan, Mas Anang, Bang Hendra, dan Nanang, serta teman-teman penelitian lainnya. Saya sangat berterima kasih atas bantuan dan kebersamaan mereka, apalagi karena penelitian ini dilakukan pada malam hari, yang jelas butuh konsentrasi ekstra dan fokus penuh. Rasa lelah pasti ada, tapi selalu terbayar saat waktu istirahat diisi dengan canda tawa yang bikin capek terasa hilang. Bahkan ketika pulang pengamatan kami harus menyeberangi sungai yang sedang banjir sampai setinggi dada, semua itu sama sekali nggak mematahkan semangat justru jadi cerita dan pengalaman yang nggak terlupakan.

Lewat penelitian ini, saya berkesempatan untuk menggali lebih dalam kehidupan kukang, mulai dari kondisi habitatnya, jenis pakan yang dimanfaatkan, hingga pengaruh lingkungan di sekitarnya. Prosesnya jelas nggak mudah dan penuh tantangan, apalagi harus dilakukan dalam kondisi gelap, medan yang sulit, dan keterbatasan pengamatan malam hari. Tapi justru di situlah rasa penasaran saya tumbuh makin besar. Keingintahuan untuk memahami kukang secara lebih utuh bukan cuma sebagai satwa, tapi sebagai bagian dari ekosistem menjadi dorongan kuat yang bikin saya terus bertahan dan belajar sampai sekarang. Penelitian ini bukan sekadar tugas akademik, tapi perjalanan yang membentuk cara pandang saya tentang konservasi dan arti sebuah proses.

Kegiatan saat pengambilan data (Meydilla Dian Saputri)

Melalui kesempatan ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada YIARI atas kesempatan dan pengalaman berharga yang telah diberikan kepada kami para mahasiswa. Bagi saya, YIARI bukan hanya menjadi tempat penelitian dan magang, tetapi juga rumah belajar yang penuh dengan ilmu, pengalaman, semangat, serta dukungan yang luar biasa.

Artikel ini ditulis oleh Meydilla Dian Saputri, mahasiswi Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera, sebagai bagian dari program magang di YIARI.