Kenapa Kukang Sumatera Lebih Sering di Kabel Listrik? Sebuah Penelitian Menjawabnya!
Bayangkan kamu sedang berjalan di sebuah desa di Lampung pada malam hari. Lampu jalan redup, kebun-kebun warga mulai sunyi, dan suara serangga terdengar dari berbagai arah. Tiba-tiba, di atas kabel listrik, ada sesuatu yang bergerak perlahan.
Bukan kucing. Bukan juga tupai.
Seekor kukang sumatera sedang berjalan pelan di sepanjang kabel.
Sekilas pemandangan ini mungkin terlihat unik, bahkan menggemaskan. Tapi sebenarnya, situasi ini cukup berbahaya. Kukang bisa tersengat listrik, bahkan berpotensi menyebabkan gangguan pada jaringan listrik warga.
Fenomena inilah yang kemudian diteliti oleh Suryani dan tim dalam penelitian berjudul “Faktor-Faktor Penyebab Kehadiran Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) di Jaringan Listrik di Kecamatan Air Naningan, Tanggamus, Lampung.”
Pertanyaannya sederhana: kenapa kukang justru sering ditemukan di kabel listrik, bukan di pohon?
Penelitian yang Mencoba Menjawab Misteri Ini

Untuk mencari jawabannya, para peneliti melakukan pengamatan langsung di Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Lampung, sebuah wilayah yang masih didominasi kebun-kebun milik warga.
Karena kukang merupakan satwa nokturnal, pengamatan dilakukan pada malam hari, saat mereka mulai aktif bergerak di pepohonan. Selama 16 hari pengamatan, para peneliti menghabiskan sekitar 41 jam untuk mengamati aktivitas kukang di alam.
Mereka mengikuti pergerakan kukang di sekitar kebun dan jaringan listrik, mencatat di mana kukang muncul dan bagaimana mereka menggunakan lingkungan di sekitarnya.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Dalam pengamatan tersebut, kukang sumatera justru lebih sering ditemukan di jaringan listrik dibandingkan di pohon atau vegetasi alami.
Secara rinci, temuan penelitian menunjukkan:
- 53% kukang ditemukan di jaringan listrik
- 47% ditemukan di pohon atau tanaman
Artinya, lebih dari separuh kukang yang teramati dalam penelitian ini berada di kabel listrik.
Temuan ini kemudian memunculkan pertanyaan baru: mengapa kukang justru menggunakan jaringan listrik sebagai jalur pergerakan mereka?
Untuk menjawabnya, para peneliti kemudian mengidentifikasi beberapa faktor yang kemungkinan besar mendorong kukang muncul di jaringan listrik.
Jadi, Apa Saja Faktor yang Membuat Kukang Sering Muncul di Jaringan Listrik?

Dari hasil pengamatan di lapangan, para peneliti menemukan keberadaan kukang sumatera di jaringan listrik bukan terjadi secara kebetulan. Ada beberapa kondisi lingkungan yang membuat kabel listrik justru sering dimanfaatkan oleh kukang saat beraktivitas di malam hari.
Berikut enam faktor utama yang ditemukan dalam penelitian tersebut:
1. Kebun Campuran Menyediakan Banyak Sumber Pakan
Di Air Naningan, jaringan listrik banyak melintas tepat di atas kebun warga. Menariknya, kebun-kebun ini tidak ditanami satu jenis tanaman saja, melainkan kebun campuran atau sistem agroforestri.
Dalam satu area kebun, warga menanam berbagai tanaman sekaligus, misalnya:
- kakao
- kopi
- pisang
- durian
- alpukat
- murbei
Lingkungan seperti ini menyediakan banyak sumber pakan bagi kukang, mulai dari buah-buahan, nektar, hingga serangga kecil. Karena kabel listrik sering berada sangat dekat dengan pohon-pohon tersebut, kukang bisa dengan mudah berpindah dari kabel ke tanaman pakan di sekitarnya.
Dengan kata lain, jaringan listrik sering berada tepat di tengah area tempat kukang mencari makan.
2. Kabel Listrik Memiliki Ukuran Mirip Cabang Pohon
Kukang adalah primata arboreal yang hampir seluruh aktivitasnya dilakukan di atas pohon. Saat berpindah tempat, mereka biasanya menggunakan cabang dengan ukuran tertentu.
Penelitian menunjukkan bahwa kukang cenderung bergerak pada cabang berdiameter sekitar 5–10 cm atau lebih. Menariknya, beberapa kabel listrik memiliki ukuran yang tidak jauh berbeda dengan cabang tersebut.
Bagi kukang, kabel listrik bisa terasa seperti cabang pohon yang dapat digunakan untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Kabel ini bahkan sering dimanfaatkan sebagai jalur penghubung antar pohon ketika vegetasi tidak saling bersambungan.
3. Gangguan Habitat Alami
Salah satu faktor yang mendorong kukang mendekati area permukiman adalah perubahan pada habitat alaminya.
Aktivitas seperti penebangan pohon atau perubahan tutupan lahan dapat mengurangi jumlah pohon pakan dan tempat berlindung yang biasa digunakan kukang di hutan. Ketika kondisi habitat berubah, kukang perlu mencari area lain yang masih menyediakan sumber makanan dan vegetasi yang cukup.
Dalam situasi seperti ini, mereka mulai memanfaatkan lanskap di sekitar permukiman yang masih memiliki pohon dan kebun.
4. Vegetasi di Sekitar Pemukiman Menjadi Habitat Pengganti
Meski berada dekat dengan aktivitas manusia, wilayah Air Naningan masih memiliki vegetasi yang cukup rimbun. Peneliti menemukan kukang menggunakan pohon dengan ketinggian sekitar 2 hingga 11 meter untuk beristirahat dan berlindung.
Kukang biasanya memilih pohon dengan tajuk yang lebat agar terlindung dari predator dan paparan sinar matahari.
Struktur vegetasi di kebun campuran (yang terdiri dari pohon tinggi, pohon sedang, dan semak) secara tidak langsung menciptakan lingkungan yang masih cukup mirip dengan habitat alami kukang.
Karena itu, area kebun di sekitar permukiman masih bisa berfungsi sebagai tempat berlindung bagi mereka.
5. Kondisi Iklim yang Mendukung
Faktor lingkungan lain yang turut mendukung keberadaan kukang di wilayah ini adalah kondisi iklim. Kabupaten Tanggamus memiliki suhu rata-rata sekitar 28°C dengan curah hujan yang cukup sepanjang tahun.
Kondisi ini membantu menjaga ketersediaan air, pertumbuhan tanaman, serta keberadaan serangga yang menjadi bagian dari sumber pakan kukang.
6. Kemampuan Kukang Beradaptasi dengan Lingkungan yang Dipengaruhi Manusia
Temuan menarik dari penelitian ini adalah kemampuan kukang untuk beradaptasi dengan lanskap yang sudah banyak dipengaruhi oleh aktivitas manusia.
Beberapa kukang tetap terlihat beraktivitas meskipun berada di dekat:
- jalan
- rumah warga
- kendaraan yang melintas
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian populasi kukang mampu menyesuaikan perilakunya dengan lingkungan yang semakin berubah.
Namun adaptasi ini juga membawa risiko baru. Kabel listrik bukanlah tempat yang aman bagi kukang. Ketika tubuh mereka menyentuh dua bagian kabel yang berbeda atau bagian kabel yang terbuka, sengatan listrik bisa terjadi dan dapat menyebabkan luka serius bahkan kematian.
Selain itu, keberadaan kukang di jaringan listrik juga dapat memicu gangguan pada infrastruktur listrik, misalnya ketika kukang menyentuh komponen jaringan atau masuk ke area gardu listrik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika habitat satwa liar semakin bercampur dengan lingkungan manusia, konflik antara satwa dan infrastruktur menjadi semakin mungkin terjadi.
Apa yang Bisa Dilakukan?

Meskipun fenomena ini menimbulkan risiko, sebenarnya ada berbagai langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampaknya.
Beberapa upaya yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- Memasang pengaman atau pelindung pada jaringan listrik di area yang sering dilalui satwa
- Menjaga keberadaan vegetasi dan habitat alami kukang
- Meningkatkan edukasi masyarakat tentang pentingnya melindungi kukang
- Memperkuat kerja sama antara masyarakat, pemerintah, penyedia listrik, dan organisasi konservasi
Ketika Lanskap Manusia Menjadi Bagian dari Dunia Kukang
Fenomena kukang sumatera di jaringan listrik menunjukkan satu hal penting: ruang hidup satwa liar dan manusia kini semakin saling bertemu.
Di lanskap seperti Air Naningan, kebun, rumah, jalan, dan kabel listrik menjadi bagian dari lingkungan yang harus dihadapi kukang setiap malam.
Memahami bagaimana kukang menggunakan lanskap ini membantu kita melihat masalahnya dengan lebih jelas, dan menjadi langkah awal untuk mencari cara agar manusia dan satwa liar bisa berbagi ruang hidup dengan lebih aman.
Tautan Jurnal
Faktor-Faktor Penyebab Kehadiran Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) Di Daerah Sekitar Jaringan Listrik Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Journal of People, Forest and Environment. [Buka]
Featured image: Kukang sumatera melewati jaringan listrik di Air Naningan (Denny Setiawan|YIARI)