Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Kenapa Kukang Sumatera Lebih Sering di Kabel Listrik? Sebuah Penelitian Menjawabnya!

Bayangkan kamu sedang berjalan di sebuah desa di Lampung pada malam hari. Lampu jalan redup, kebun-kebun warga mulai sunyi, dan suara serangga terdengar dari berbagai arah. Tiba-tiba, di atas kabel listrik, ada sesuatu yang bergerak perlahan.

Bukan kucing. Bukan juga tupai.

Seekor kukang sumatera sedang berjalan pelan di sepanjang kabel.

Sekilas pemandangan ini mungkin terlihat unik, bahkan menggemaskan. Tapi sebenarnya, situasi ini cukup berbahaya. Kukang bisa tersengat listrik, bahkan berpotensi menyebabkan gangguan pada jaringan listrik warga.

Fenomena inilah yang kemudian diteliti oleh Suryani dan tim dalam penelitian berjudul “Faktor-Faktor Penyebab Kehadiran Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) di Jaringan Listrik di Kecamatan Air Naningan, Tanggamus, Lampung.”

Pertanyaannya sederhana: kenapa kukang justru sering ditemukan di kabel listrik, bukan di pohon?

Penelitian yang Mencoba Menjawab Misteri Ini

Kukang sumatera tergantung di jaringan listrik (Denny Setiawan|YIARI)

Untuk mencari jawabannya, para peneliti melakukan pengamatan langsung di Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Lampung, sebuah wilayah yang masih didominasi kebun-kebun milik warga.

Karena kukang merupakan satwa nokturnal, pengamatan dilakukan pada malam hari, saat mereka mulai aktif bergerak di pepohonan. Selama 16 hari pengamatan, para peneliti menghabiskan sekitar 41 jam untuk mengamati aktivitas kukang di alam.

Mereka mengikuti pergerakan kukang di sekitar kebun dan jaringan listrik, mencatat di mana kukang muncul dan bagaimana mereka menggunakan lingkungan di sekitarnya.

Hasilnya cukup mengejutkan.

Dalam pengamatan tersebut, kukang sumatera justru lebih sering ditemukan di jaringan listrik dibandingkan di pohon atau vegetasi alami.

Secara rinci, temuan penelitian menunjukkan:

  • 53% kukang ditemukan di jaringan listrik
  • 47% ditemukan di pohon atau tanaman

Artinya, lebih dari separuh kukang yang teramati dalam penelitian ini berada di kabel listrik.

Temuan ini kemudian memunculkan pertanyaan baru: mengapa kukang justru menggunakan jaringan listrik sebagai jalur pergerakan mereka?

Untuk menjawabnya, para peneliti kemudian mengidentifikasi beberapa faktor yang kemungkinan besar mendorong kukang muncul di jaringan listrik.

Jadi, Apa Saja Faktor yang Membuat Kukang Sering Muncul di Jaringan Listrik?

Kukang sumatera tergantung di jaringan listrik (Denny Setiawan|YIARI)

Dari hasil pengamatan di lapangan, para peneliti menemukan keberadaan kukang sumatera di jaringan listrik bukan terjadi secara kebetulan. Ada beberapa kondisi lingkungan yang membuat kabel listrik justru sering dimanfaatkan oleh kukang saat beraktivitas di malam hari.

Berikut enam faktor utama yang ditemukan dalam penelitian tersebut:

1. Kebun Campuran Menyediakan Banyak Sumber Pakan

Di Air Naningan, jaringan listrik banyak melintas tepat di atas kebun warga. Menariknya, kebun-kebun ini tidak ditanami satu jenis tanaman saja, melainkan kebun campuran atau sistem agroforestri.

Dalam satu area kebun, warga menanam berbagai tanaman sekaligus, misalnya:

  • kakao
  • kopi
  • pisang
  • durian
  • alpukat
  • murbei

Lingkungan seperti ini menyediakan banyak sumber pakan bagi kukang, mulai dari buah-buahan, nektar, hingga serangga kecil. Karena kabel listrik sering berada sangat dekat dengan pohon-pohon tersebut, kukang bisa dengan mudah berpindah dari kabel ke tanaman pakan di sekitarnya.

Dengan kata lain, jaringan listrik sering berada tepat di tengah area tempat kukang mencari makan.

2. Kabel Listrik Memiliki Ukuran Mirip Cabang Pohon

Kukang adalah primata arboreal yang hampir seluruh aktivitasnya dilakukan di atas pohon. Saat berpindah tempat, mereka biasanya menggunakan cabang dengan ukuran tertentu.

Penelitian menunjukkan bahwa kukang cenderung bergerak pada cabang berdiameter sekitar 5–10 cm atau lebih. Menariknya, beberapa kabel listrik memiliki ukuran yang tidak jauh berbeda dengan cabang tersebut.

Bagi kukang, kabel listrik bisa terasa seperti cabang pohon yang dapat digunakan untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Kabel ini bahkan sering dimanfaatkan sebagai jalur penghubung antar pohon ketika vegetasi tidak saling bersambungan.

3. Gangguan Habitat Alami

Salah satu faktor yang mendorong kukang mendekati area permukiman adalah perubahan pada habitat alaminya.

Aktivitas seperti penebangan pohon atau perubahan tutupan lahan dapat mengurangi jumlah pohon pakan dan tempat berlindung yang biasa digunakan kukang di hutan. Ketika kondisi habitat berubah, kukang perlu mencari area lain yang masih menyediakan sumber makanan dan vegetasi yang cukup.

Dalam situasi seperti ini, mereka mulai memanfaatkan lanskap di sekitar permukiman yang masih memiliki pohon dan kebun.

4. Vegetasi di Sekitar Pemukiman Menjadi Habitat Pengganti

Meski berada dekat dengan aktivitas manusia, wilayah Air Naningan masih memiliki vegetasi yang cukup rimbun. Peneliti menemukan kukang menggunakan pohon dengan ketinggian sekitar 2 hingga 11 meter untuk beristirahat dan berlindung.

Kukang biasanya memilih pohon dengan tajuk yang lebat agar terlindung dari predator dan paparan sinar matahari.

Struktur vegetasi di kebun campuran (yang terdiri dari pohon tinggi, pohon sedang, dan semak) secara tidak langsung menciptakan lingkungan yang masih cukup mirip dengan habitat alami kukang.

Karena itu, area kebun di sekitar permukiman masih bisa berfungsi sebagai tempat berlindung bagi mereka.

5. Kondisi Iklim yang Mendukung

Faktor lingkungan lain yang turut mendukung keberadaan kukang di wilayah ini adalah kondisi iklim. Kabupaten Tanggamus memiliki suhu rata-rata sekitar 28°C dengan curah hujan yang cukup sepanjang tahun.

Kondisi ini membantu menjaga ketersediaan air, pertumbuhan tanaman, serta keberadaan serangga yang menjadi bagian dari sumber pakan kukang.

6. Kemampuan Kukang Beradaptasi dengan Lingkungan yang Dipengaruhi Manusia

Temuan menarik dari penelitian ini adalah kemampuan kukang untuk beradaptasi dengan lanskap yang sudah banyak dipengaruhi oleh aktivitas manusia.

Beberapa kukang tetap terlihat beraktivitas meskipun berada di dekat:

  • jalan
  • rumah warga
  • kendaraan yang melintas

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian populasi kukang mampu menyesuaikan perilakunya dengan lingkungan yang semakin berubah.

Namun adaptasi ini juga membawa risiko baru. Kabel listrik bukanlah tempat yang aman bagi kukang. Ketika tubuh mereka menyentuh dua bagian kabel yang berbeda atau bagian kabel yang terbuka, sengatan listrik bisa terjadi dan dapat menyebabkan luka serius bahkan kematian.

Selain itu, keberadaan kukang di jaringan listrik juga dapat memicu gangguan pada infrastruktur listrik, misalnya ketika kukang menyentuh komponen jaringan atau masuk ke area gardu listrik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika habitat satwa liar semakin bercampur dengan lingkungan manusia, konflik antara satwa dan infrastruktur menjadi semakin mungkin terjadi.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Kukang sumatera tergantung karena tersengat listrik (Denny Setiawan|YIARI)

Meskipun fenomena ini menimbulkan risiko, sebenarnya ada berbagai langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampaknya.

Beberapa upaya yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • Memasang pengaman atau pelindung pada jaringan listrik di area yang sering dilalui satwa
  • Menjaga keberadaan vegetasi dan habitat alami kukang
  • Meningkatkan edukasi masyarakat tentang pentingnya melindungi kukang
  • Memperkuat kerja sama antara masyarakat, pemerintah, penyedia listrik, dan organisasi konservasi

Ketika Lanskap Manusia Menjadi Bagian dari Dunia Kukang

Fenomena kukang sumatera di jaringan listrik menunjukkan satu hal penting: ruang hidup satwa liar dan manusia kini semakin saling bertemu.

Di lanskap seperti Air Naningan, kebun, rumah, jalan, dan kabel listrik menjadi bagian dari lingkungan yang harus dihadapi kukang setiap malam.

Memahami bagaimana kukang menggunakan lanskap ini membantu kita melihat masalahnya dengan lebih jelas, dan menjadi langkah awal untuk mencari cara agar manusia dan satwa liar bisa berbagi ruang hidup dengan lebih aman.

Tautan Jurnal

Faktor-Faktor Penyebab Kehadiran Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) Di Daerah Sekitar Jaringan Listrik Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Journal of People, Forest and Environment. [Buka]

Featured image: Kukang sumatera melewati jaringan listrik di Air Naningan (Denny Setiawan|YIARI)

Apakah Semua Kukang Pemalu? Eksperimen Cermin ini Menjawabnya!

Di hutan tropis Asia Tenggara, ada satu primata kecil yang aktif saat malam hari: kukang. Gerakannya lambat, ekspresinya terlihat hati-hati, sehingga banyak orang menganggap kukang sebagai satwa yang pemalu.

Tapi benarkah semua kukang seperti itu?

Sebuah penelitian mencoba menjawab pertanyaan ini dengan cara sederhana: meletakkan cermin di depan kukang dan melihat bagaimana mereka bereaksi. Dari situ, para peneliti menemukan bahwa tidak semua kukang bersikap sama. Ada yang berani mendekat, ada yang ragu-ragu, dan ada juga yang memilih menjauh.

Temuan ini berasal dari penelitian berjudul “Are Slow Lorises Bold or Shy? Uncovering Personality Traits with a Mirror as a Novel-Object Test (NOT)” yang dipublikasikan dalam IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (2025).

Menariknya, studi ini melibatkan peneliti IPB University bersama Kyoto University, Jepang, serta dilaksanakan di YIARI, Bogor. So, what did they actually find? Apakah kukang ternyata lebih pemalu dari yang kita kira atau justru sebaliknya?

Menguji Kepribadian Kukang dengan Sebuah Cermin

Individu kukang sumatera di pusat rehabilitasi YIARI (Fathia Rosatika|YIARI)

Untuk mengetahui apakah kukang cenderung berani atau pemalu, para peneliti menggunakan metode yang disebut Novel Object Test (NOT). Metode ini cukup sederhana: hewan diperlihatkan sebuah benda yang belum pernah mereka temui sebelumnya, lalu peneliti mengamati bagaimana mereka bereaksi.

Dalam penelitian ini, objek yang digunakan adalah sebuah cermin. Bagi kukang, cermin merupakan benda asing yang memunculkan bayangan menyerupai individu lain. Karena itu, pantulan di cermin sering memicu berbagai respons perilaku.

Ketika cermin diletakkan di kandang, reaksi kukang pun berbeda-beda. Beberapa individu langsung mendekat dengan rasa penasaran, sementara yang lain memilih mengamati dari jarak tertentu.

Secara umum, respons yang terlihat antara lain:

  • mendekati cermin untuk menyelidiki objek baru
  • mengendus atau menyentuh permukaan cermin
  • mengamati dari jarak aman sebelum bergerak lebih dekat
  • menjauh atau menghindari objek tersebut

Menariknya, perilaku seperti menyentuh, menyerang, atau mencari di belakang cermin menunjukkan bahwa kukang kemungkinan mengira bayangan tersebut sebagai kukang lain, bukan dirinya sendiri. Karena itu, dalam penelitian ini cermin berfungsi sebagai stimulus baru yang memancing berbagai respons perilaku kukang.

Dari pola reaksi inilah para peneliti mulai membaca kecenderungan kepribadian setiap individu, apakah mereka lebih berani (bold) atau lebih hati-hati (shy) ketika menghadapi hal baru di lingkungannya.

Eksperimen pada 11 Kukang di Pusat Rehabilitasi

JF adalah kode untuk kukang kukang jawa betina, JM kode untuk kukang jawa jantan, CF kode untuk kukang sumatera betina, dan CM kode untuk kukang sumatera jantan. (IOP Conference Series: Earth and Environmental Science)

Penelitian ini dilakukan pada 11 kukang dewasa yang sedang menjalani proses rehabilitasi di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Bogor. Individu yang diamati terdiri dari dua spesies kukang yang umum ditemukan di Indonesia, yaitu kukang jawa (Nycticebus javanicus) dan kukang sumatera (Nycticebus coucang).

Untuk memastikan perilaku yang diamati benar-benar alami, proses eksperimen dilakukan secara bertahap. Secara sederhana, langkah-langkah penelitian ini adalah sebagai berikut:

  • Fase habituasi: Sebelum pengujian dimulai, para peneliti melakukan fase habituation selama beberapa minggu. Pada tahap ini, kukang dibiasakan dengan lingkungan penelitian dan kehadiran peneliti agar respons yang muncul saat eksperimen tidak dipengaruhi stres atau rasa takut.
  • Penempatan cermin sebagai objek baru: Setelah fase habituasi selesai, eksperimen dilakukan menggunakan metode Novel Object Test. Sebuah cermin berukuran sekitar 30 × 40 cm dipasang di dalam kandang kukang sebagai objek baru yang akan memicu respons perilaku.
  • Cermin dipasang sebelum kukang aktif: Cermin ditempatkan sebelum kukang bangun dan mulai beraktivitas pada malam hari, sehingga reaksi pertama mereka terhadap objek tersebut dapat diamati secara lebih alami.
  • Perilaku direkam dengan kamera inframerah: Selama pengamatan, aktivitas kukang direkam menggunakan kamera CCTV inframerah, sehingga perilaku malam hari mereka tetap dapat dipantau tanpa mengganggu aktivitas alaminya.
  • Pengamatan dilakukan dalam tiga sesi: Eksperimen dilakukan dalam tiga sesi pengamatan yang dipisahkan beberapa hari. Dengan cara ini, peneliti tidak hanya melihat reaksi awal kukang terhadap objek baru, tetapi juga apakah respons mereka tetap konsisten atau berubah seiring waktu.

Melalui rangkaian pengamatan ini, para peneliti kemudian mencatat dan menganalisis berbagai respons perilaku kukang untuk melihat kecenderungan kepribadian masing-masing individu, mulai dari yang sangat berani hingga yang lebih berhati-hati saat menghadapi hal baru.

Kukang Ternyata Tidak Semuanya Pemalu

Ketika cermin diperkenalkan sebagai objek baru, Rizky, R.F. dan tim menemukan bahwa setiap kukang menunjukkan respons yang berbeda. Dari 11 individu yang diamati, sebagian besar justru menunjukkan kecenderungan perilaku yang cukup berani.

Sebagian besar kukang dalam penelitian ini termasuk kategori bold atau bahkan extremely bold. Mereka terlihat aktif mendekati dan mengeksplorasi cermin, misalnya dengan mengendus, menyentuh, atau menyelidiki objek tersebut.

Namun tidak semua kukang bereaksi dengan cara yang sama. Ada juga individu yang menunjukkan respons lebih hati-hati dan cenderung menjaga jarak dari objek baru.

Jika dilihat dari skor kepribadian yang dihitung peneliti, kukang sumatera jantan berkode CM3 tercatat sebagai individu paling berani dalam penelitian ini. Sebaliknya, kukang sumatera betina berkode CF2 menunjukkan kecenderungan paling pemalu karena lebih sering menghindari cermin.

Temuan ini menunjukkan bahwa kukang tidak semuanya memiliki karakter yang sama. Bahkan dalam satu spesies yang sama, setiap individu dapat memiliki tingkat keberanian dan kehati-hatian yang berbeda ketika menghadapi sesuatu yang baru di lingkungannya.

Kukang Jantan Cenderung Lebih Berani dari Betina

Kukang jawa di tempat tidur yang juga merupakan upaya pengayaan (Rendi Afandi|YIARI)

Selain melihat perbedaan antar individu, para peneliti juga membandingkan respons kukang berdasarkan jenis kelamin dan spesies.

Hasilnya menunjukkan pola yang cukup jelas. Jika dilihat dari jenis kelamin, kukang jantan cenderung menunjukkan perilaku yang lebih berani dibandingkan kukang betina.

Perbedaan ini tidak langsung terlihat pada awal eksperimen. Pada sesi pertama, skor kepribadian jantan dan betina masih relatif mirip. Namun pada sesi kedua dan ketiga, perbedaan mulai tampak lebih jelas. Kukang jantan menunjukkan skor keberanian yang lebih tinggi dibandingkan betina.

Secara umum, kukang jantan lebih sering:

  • mendekati cermin lebih cepat
  • menghabiskan waktu lebih lama di dekat objek
  • mengeksplorasi cermin dengan mengendus atau menyentuhnya

Sementara itu, kukang betina lebih sering menunjukkan perilaku yang lebih hati-hati, seperti:

  • mengamati cermin dari jarak tertentu
  • menunda untuk mendekat
  • menjaga jarak dari objek baru

Sebaliknya, ketika dibandingkan berdasarkan spesies, yaitu kukang jawa (Nycticebus javanicus) dan kukang sumatera (Nycticebus coucang), para peneliti tidak menemukan perbedaan yang signifikan dalam skor kepribadian keduanya.

Dengan kata lain, dalam penelitian ini faktor yang paling terlihat memengaruhi kecenderungan perilaku kukang adalah jenis kelamin, bukan spesiesnya.

Kepribadian Kukang Bisa Berubah Seiring Waktu

Menariknya, respons kukang terhadap cermin tidak selalu sama di setiap sesi pengujian. Ketika eksperimen diulang beberapa kali, beberapa individu menunjukkan perubahan skor kepribadian.

Ada kukang yang semakin berani setelah beberapa kali melihat cermin. Individu yang awalnya hanya mengamati dari jauh mulai berani mendekat dan mengeksplorasi objek tersebut. Namun ada juga yang justru menjadi lebih pasif.

Beberapa pola perubahan yang diamati peneliti antara lain:

  • JF3 dan JM2 menunjukkan peningkatan skor keberanian dari sesi pertama hingga sesi berikutnya
  • JF2 mengalami penurunan skor setelah sesi pertama
  • beberapa individu menunjukkan pola yang naik turun di setiap sesi pengujian

Perubahan ini menunjukkan bahwa respons kukang terhadap objek baru juga dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya. Setelah beberapa kali melihat cermin, sebagian individu menjadi lebih berani karena mulai terbiasa. Sebaliknya, ada juga yang menjadi lebih pasif karena sudah mengenali objek tersebut dan menganggapnya tidak terlalu menarik atau tidak berbahaya.

Artinya, perilaku kukang tidak selalu tetap. Pengalaman dan proses belajar juga dapat memengaruhi bagaimana mereka merespons lingkungan di sekitarnya.

Dari Cermin ke Hutan: Mengapa Penelitian ini Penting?

Kukang yang telah melewati masa perawatan dilepasliarkan YIARI di habitatnya (Rendi Afandi|YIARI)

Memahami kepribadian kukang bukan sekadar menjawab rasa penasaran ilmiah. Informasi ini juga sangat penting dalam proses rehabilitasi dan pelepasliaran satwa liar.

Setiap kukang yang berada di pusat rehabilitasi memiliki latar belakang yang berbeda. Banyak dari mereka merupakan korban perdagangan satwa liar, sehingga pengalaman hidup sebelumnya dapat memengaruhi perilaku mereka.

Penelitian ini menunjukkan bahwa keberanian dan kehati-hatian merupakan bagian dari spektrum kepribadian satwa, yang masing-masing memiliki kelebihan dan risiko di alam liar.

Misalnya:

  • Individu yang lebih berani cenderung lebih eksploratif dan cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, tetapi juga berisiko lebih besar menghadapi predator.
  • Individu yang lebih pemalu biasanya lebih berhati-hati dan menghindari bahaya, tetapi mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.

Dengan memahami karakter masing-masing individu, program rehabilitasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan kukang. Misalnya:

  • kukang yang terlalu berani dapat dilatih untuk lebih waspada terhadap potensi bahaya
  • kukang yang pemalu dapat diberi waktu adaptasi lebih lama sebelum dilepasliarkan

Pendekatan seperti ini membantu memastikan bahwa pelepasliaran tidak dilakukan secara sembarangan. Setiap individu dapat dipersiapkan sesuai dengan karakter dan kemampuannya agar peluang bertahan hidup di alam liar menjadi lebih besar.

Kukang Tidak Sekadar Lambat dan Pemalu

Selama ini kukang sering dianggap sebagai primata yang lambat dan pemalu. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu. Seperti banyak hewan lain, kukang juga memiliki kepribadian yang berbeda-beda.

Memahami karakter tiap individu dapat membantu peneliti dan praktisi konservasi merancang proses rehabilitasi yang lebih tepat. Dengan begitu, peluang kukang untuk bertahan hidup setelah kembali ke alam liar pun menjadi lebih besar.

Featured image: individu kukang tinggal di kandang habituasi untuk beradaptasi dan diamati perilakunya, sebelum dilepasliarkan ke alam (Rendi Afandi|YIARI)

Tautan Jurnal

Are slow lorises bold or shy? Uncovering personality traits with a mirror as a Novel-Object Test. The 6th International Conference on Biosciences (ICoBio). [Buka]

Kukang Jawa: Ciri-ciri, Habitat, Ancaman, dan Upaya Konservasi

Pernah coba cari informasi soal kukang jawa di internet?

Mirisnya, salah satu kata kunci yang paling sering muncul justru “harga kukang jawa”. Artinya, masih banyak orang yang penasaran bukan hanya tentang kehidupan satwa mungil ini, tapi juga bagaimana cara memilikinya sebagai peliharaan.

Padahal, kukang jawa seharusnya hidup bebas di alam, bukan di kandang. Nah, di artikel ini kita akan bahas lebih dalam tentang kukang jawa, mulai dari ciri khas, tempat tinggal asli, sampai ancaman yang membuat satwa ini makin langka!

Apa itu Kukang Jawa?

Kukang jawa (Nycticebus javanicus) adalah primata kecil endemik Pulau Jawa yang aktif di malam hari (nokturnal) dan termasuk dalam famili Lorisidae.

Satwa ini mudah dikenali dari wajahnya yang menggemaskan, mata besar yang membantu mereka melihat dalam gelap, serta gerakan lambat dan penuh kehati-hatian. Karena itulah, kukang sering dijuluki “monyet malas”, meski sebenarnya sebutan ini tidak tepat, kukang justru memiliki strategi bertahan hidup yang khas dan cerdas.

Dalam dunia internasional, kukang jawa dikenal sebagai Javan Slow Loris. Lebih dari sekadar primata lucu, mereka punya peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, mulai dari mengendalikan populasi serangga hingga membantu penyerbukan tanaman.

Baca juga tentang Apa itu Kukang? Ciri Khas, Perilaku, Habitat, Jenis, hingga Ancaman yang Dihadapi

Ciri-ciri Kukang Jawa

Kukang jawa memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari primata lain:

  • Mata besar dan bulat: mata kukang jawa berukuran besar, adaptasi alami untuk membantu mereka melihat dengan jelas di malam hari saat mencari makan atau bergerak di hutan.
  • Tubuh kecil dengan gerakan lambat: ukuran tubuhnya relatif kecil, dengan panjang rata-rata 30–38 cm. Mereka terkenal dengan gerakannya yang pelan dan hati-hati, sebuah strategi untuk menghindari predator.
  • Bulu tebal berwarna cokelat abu-abu: kukang jawa memiliki bulu halus berwarna cokelat keabu-abuan dengan garis gelap yang memanjang dari kepala hingga punggung. Corak ini membantu mereka berkamuflase di antara pepohonan
  • Gigi khusus untuk mengeluarkan racun: uniknya, kukang jawa adalah salah satu primata berbisa. Mereka punya kelenjar di lengan yang menghasilkan racun, lalu menjilatnya untuk bercampur dengan air liur. Gigitan mereka bisa menimbulkan reaksi berbahaya.
  • Ekornya sangat pendek: kukang jawa memiliki ekor yang sangat pendek sehingga tubuhnya tampak lebih mungil dan bulat.
  • Suara halus dan jarang terdengar: kukang jawa cenderung tenang dan jarang bersuara. Mereka lebih banyak berkomunikasi melalui isyarat tubuh atau bau yang ditinggalkan di ranting pohon.

Sebaran dan Populasi Kukang Jawa

Populasi kukang jawa kini semakin terfragmentasi akibat berbagai aktivitas manusia, seperti penggundulan hutan untuk industri perkebunan, pembukaan lahan pertanian, serta ekspansi pemukiman.

Satwa ini terutama dapat ditemukan di kawasan hutan primer dan sekunder, misalnya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak di Jawa Barat, Taman Nasional Ujung Kulon di Banten, serta hutan-hutan di sekitar Gunung Slamet dan Gunung Merapi.

Selain itu, kukang jawa juga tercatat mendiami hutan bakau dan hutan pantai yang masih memiliki tutupan vegetasi rapat.

Namun, semakin banyak individu yang terlihat di perkebunan karet dan kopi, yang meskipun menyediakan sumber makanan, bukanlah habitat alaminya. Kondisi ini menyebabkan fragmentasi habitat yang serius, meningkatkan risiko isolasi genetik, serta memperkecil peluang kukang jawa untuk bertahan hidup di alam liar.

Populasi Kukang Jawa

Menurut data dari IUCN, laporan dari YIARI, serta penelitian yang diterbitkan oleh Mongabay, kukang jawa dikategorikan sebagai spesies Kritis (Critically Endangered) karena populasi mereka terus menurun drastis. Perburuan untuk dijadikan peliharaan eksotis, pemotongan gigi yang menyiksa, serta hilangnya habitat akibat deforestasi menjadi faktor utama kepunahan mereka.

Dalam beberapa dekade terakhir, diperkirakan lebih dari 80% populasi kukang jawa telah hilang akibat perburuan dan perusakan lingkungan.

Jika tidak ada tindakan serius, spesies ini bisa punah dalam waktu dekat.

Habitat dan Ekologi Kukang Jawa

Gambar kukang jawa/Fattreza Ihsan YIARI

Habitat dan ekologi yang stabil sangat penting bagi kelangsungan hidup kukang jawa. Mengetahui di mana mereka tinggal dan bagaimana mereka beradaptasi akan membantu memahami mengapa konservasi spesies ini menjadi krusial.

Habitat Kukang Jawa

Kukang jawa paling banyak ditemukan di hutan primer dengan tutupan pohon rapat, karena lingkungan ini memberi perlindungan alami dari predator maupun manusia.

Hutan yang masih utuh juga menawarkan suhu dan kelembapan stabil, mendukung metabolisme serta pola hidup nokturnal mereka, sekaligus membantu menghindari stres akibat perubahan lingkungan yang mendadak. Selain sebagai tempat berlindung, hutan primer menyediakan sumber makanan berlimpah seperti buah, nektar, dan serangga.

Sayangnya, akibat deforestasi dan perubahan fungsi lahan, kukang jawa kini semakin sering ditemukan di hutan sekunder, hutan bakau, sampai hutan pantai dengan vegetasi beragam.

Beberapa bahkan bertahan di perkebunan karet, kopi, dan cengkeh yang masih memiliki pohon besar untuk tempat tinggal. Kondisi ini menunjukkan adanya fragmentasi habitat yang memaksa kukang beradaptasi di lingkungan kurang ideal. Tak jarang mereka terlihat di sekitar pemukiman manusia, di mana risiko perburuan, perdagangan ilegal, dan konflik semakin tinggi.

Peran Ekologi Kukang Jawa

  • Penyerbuk alami: saat mengisap nektar, serbuk sari menempel di tubuh kukang dan berpindah ke bunga lain ketika mereka bergerak, sehingga membantu proses penyerbukan yang penting bagi regenerasi tumbuhan hutan.
  • Pengendali populasi serangga: kukang memangsa berbagai serangga, termasuk hama seperti belalang, kecoa, dan serangga kecil lainnya yang berpotensi merusak vegetasi, sehingga membantu menjaga keseimbangan ekosistem secara alami.
  • Indikator kesehatan ekosistem: keberadaan kukang menandakan bahwa suatu kawasan hutan masih memiliki keanekaragaman hayati yang baik, sedangkan penurunan populasinya sering menjadi tanda ekosistem sedang mengalami degradasi akibat aktivitas manusia.

Ancaman Kukang Jawa

Gambar kukang jawa sedang memanjat pohon/Rendi Afandi YIARI

Meski sudah berstatus satwa yang dilindungi, kukang jawa tetap menghadapi berbagai ancaman serius yang membuat populasinya terus menurun.

1. Perdagangan ilegal

Kukang sering dijadikan hewan peliharaan eksotis karena penampilannya yang menggemaskan. Menurut laporan Yayasan IAR Indonesia (YIARI), ribuan kukang diperdagangkan secara ilegal setiap tahunnya, terutama melalui media sosial seperti Facebook dan WhatsApp.

2. Pemotongan gigi secara paksa

Untuk menghilangkan bahaya gigitannya, pedagang kerap mencabut gigi kukang dengan cara brutal. Tindakan ini sering menyebabkan infeksi parah, dan banyak kukang mati dalam perjalanan sebelum sampai ke tangan pembeli.

3. Hilangnya habitat

Studi Wich et al. (2018) mencatat, lebih dari 50% habitat kukang jawa telah hilang dalam tiga dekade terakhir akibat konversi hutan menjadi lahan pertanian dan pemukiman.

4. Perubahan iklim dan penggunaan pestisida

Perubahan suhu dan curah hujan yang tidak menentu memengaruhi ketersediaan makanan bagi kukang. Selain itu, penggunaan pestisida di perkebunan turut menurunkan populasi serangga yang merupakan sumber makanan utama mereka.

Baca juga: Kisah Barda, Kukang Jawa Korban Tembakan Senapan Angin

Jangan Biarkan Kukang Jawa Hanya Tinggal Cerita

Bayangkan jika suatu hari nanti anak-anak kita hanya bisa melihat kukang jawa di buku sejarah, bukan lagi di alam liar. Jika eksploitasi terus berlanjut, skenario ini bukan sekadar kemungkinan, melainkan kenyataan yang kian mendekat.

Kita semua punya pilihan: membiarkan mereka punah, atau bertindak sekarang. Jangan pernah membeli kukang sebagai peliharaan, sebarkan informasi tentang bahaya perdagangan ilegal, dan dukung lembaga konservasi yang bekerja keras untuk menyelamatkan mereka.

Satu langkah kecil dari kita bisa menjadi harapan besar bagi kelangsungan hidup kukang jawa.

Hutan akan kehilangan salah satu penjaganya jika kukang benar-benar lenyap. Namun, selama masih ada kepedulian dan keberanian untuk bertindak, harapan itu tetap ada. Kini giliran kita: akankah kamu ikut menyelamatkan mereka?

Featured image: Gambar kukang jawa/Denny Setiawan YIARI

Magang di YIARI, Mengintip Kegiatan Lala Melepasliarkan Kukang Ke Hutan

Dari Goresan Desain Menuju Jantung Konservasi

Diantara tumpukan tugas magang, Lala, siswi kelas 12 Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) SMK Negeri 1 Leuwiliang, menemukan panggilan tak terduga. Bukan pada kanvas digital, melainkan di hutan lebat Taman Nasional Ujung Kulon.

Sebagai bagian dari program magang di divisi edukasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Lala berkesempatan mendokumentasikan proses pelepasliaran delapan individu Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) yang telah direhabilitasi. Sebuah kolaborasi penting untuk menyeimbangkan ekosistem itu terjadi pada 14 Agustus 2025 berkat kolaborasi antara BBKSDA Jawa Barat, BTNUK, dan YIARI.

Sebelum kegiatan pelepasliaran dilakukan, hal penting yang harus dilakukan adalah proses pemeriksaan kesehatan setiap individu kukang bersama tim dokter hewan dan animal keeper yang telah merawat kukang selama proses rehabilitasi. Dari Banowati yang pernah diselamatkan di Yogyakarta hingga Agam yang selamat dari sengatan listrik, setiap kukang memiliki kisahnya. Namun, melihat kukang-kukang ini bergelantungan dengan lincah, siap kembali ke alam liar, adalah visual paling puitis yang pernah Lala lihat, jauh lebih hidup dari desain apa pun di layar digital.

Lala dan tim berfoto dengan pose salam kukang setelah berhasil melepasliarkan kukang di Taman Nasional Ujung Kulon. (Hulwia Malik|YIARI)

Berbagi Cerita & Menginspirasi Generasi Baru

Perjalanan Lala mengikuti proses pelepasliaran bukan ending dari cerita ini. Selama lima hari pasca pelepasliaran, Lala dan tim edukasi mengunjungi dua Sekolah Dasar dan satu Sekolah Menengah Atas di Kecamatan Sumur. Sebuah wilayah yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), habitat baru bagi delapan individu kukang. Di sana, Lala dan tim tidak hanya membagikan materi konservasi, tapi juga berbagi pengalaman pribadi tentang upaya konservasi kukang dan pentingnya kukang untuk ekosistem bagi kehidupan manusia.

Ini adalah momen pertama bagi Lala, bercerita tentang dunia konservasi yang ternyata sangat luas dan menarik, jauh dari bayangan membosankan sekedar duduk dan menatap layar kode warna. Lala menyadari bagaimana peran DKV bisa masuk ke dalam dunia konservasi; tidak hanya sekedar  membuat poster, mendesain website, namun memproduksi konten visual yang kuat bagi konservasi kukang yang juga dibutuhkan banyak pengalaman dan pengetahuan.

Melihat mata para siswa berbinar saat tim edukasi menunjukkan foto-foto kukang dan cerita di baliknya, itu adalah “bensin” emosional yang menyulut semangat Lala untuk terus belajar. Lala berharap dan bergumam dengan lirih, semoga di antara puluhan antusiasme siswa ini, akan ada satu, tiga, atau sepuluh orang yang terinspirasi untuk menjadi penjaga alam di masa depan. Menjadi garda dan benteng kokoh untuk kehidupan satwa liar dan habitatnya di mana pun mereka akan tumbuh kelak.

Bercerita dan menyemai inspirasi untuk merawat kukang di hutan, kunjungan edukasi ke Sekolah Dasar di Kecamatan Sumur (Hulwia Malik|YIARI)

Mendengarkan Hutan dan Hati Warga

Di malam hari, Lala juga berkesempatan untuk hadir dalam kegiatan ngaji rutin malam Kamis dengan warga setempat. Kesempatan ini dimanfaatkan betul untuk bertanya dan berdiskusi sepanjang malam. Bukan hanya tentang kukang, tetapi juga tentang kehidupan, tantangan, dan kearifan lokal di bibir hutan Ujung Kulon, rumah badak jawa, macan tutul, dan satwa liar kebanggan Indonesia. Lala belajar bahwa konservasi tidak bisa dilakukan sendiri, butuh dukungan penuh dari masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan.

Menggali informasi, mendengarkan cerita, dan memahami pandangan masyarakat tentang hutan lebatnya semak, hingga derasnya riak lautan Ujung Kulon. “Ini mengajarkan saya satu hal; untuk melindungi alam, kita harus terlebih dahulu memahami manusianya. Saya juga merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian kecil dari cerita pelepasliaran yang luar biasa ini. ”, ujar Lala sambil tersenyum.

Arah Baru Konservasi

Lala, siswi kelas 12 Jurusan Desain Komunikasi Visual SMK Negeri 1 Leuwiliang (Lala/Dokumentasi Pribadi)

Alih-alih menjadi sekadar penonton, Lala, seorang siswa SMK, mengambil peran aktif dalam upaya konservasi. Ia terjun langsung dan mengikuti setiap tahapan yang rumit dalam proses pelepasliaran satwa liar. Pengalaman ini menjadi bukti bahwa konservasi bukanlah hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan urusan bersama.

Sebagaimana yang ditekankan oleh Kepala BTNUK, Ardi Andono, dan Kepala BBKSDA Jawa Barat, Agus Arianto, kunci keberhasilan konservasi adalah kolaborasi dari berbagai pihak. Mulai dari pemerintah, organisasi seperti YIARI, hingga generasi muda seperti Lala, semua memiliki peran penting.

Pelepasliaran delapan individu kukang ini lebih dari sekadar sebuah acara. Ini adalah sebuah narasi besar yang penuh dengan harapan, kolaborasi, dan semangat untuk melestarikan kekayaan alam Indonesia.

Kisah Barda, Kukang Jawa Korban Tembakan Senapan Angin

Barda, seekor kukang jawa (Nycticebus javanicus), ditemukan dalam kondisi yang bikin hati miris.

Matanya ditembus peluru, membuat ia kehilangan penglihatan dan tak bisa lagi menikmati hutan tempatnya hidup.

Kejadian ini terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Sukabumi, Jawa Barat, sebuah bukti betapa perburuan masih jadi ancaman nyata bagi satwa liar.

Namun, cerita Barda tidak berhenti di sana. Di balik luka yang ia bawa, ada orang-orang yang berusaha memberinya kesempatan kedua untuk bertahan.

Barda, kukang jawa jantan yang akan menjadi saksi nyata kekejaman perburuan liar. (Rendi Afandi|YIARI)

Artikel ini akan mengajak kita mengenal lebih dekat perjalanan Barda, perawatan yang ia jalani di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), sekaligus membahas bagaimana kukang jawa (salah satu satwa endemik Jawa) terus berjuang melawan ancaman kepunahan.

Barda Harus Menjalani Operasi Pengangkatan Mata

Hasil pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan, peluru yang merenggut penglihatan Barda bersarang di dekat pelipis matanya. Kondisi ini membuat kedua matanya tak lagi memiliki refleks normal.

Menurut penjelasan drh. Indri Saptorini, dokter hewan YIARI, kerusakan paling parah terjadi pada bola mata kanan yang mengalami luka serius dan meradang.

Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata kedua matanya tidak memiliki refleks, dan ada kelukaan di bola mata kanan,” jelas drh. Indri.

Karena itu tim memutuskan untuk melakukan prosedur pengangkatan bola mata atau enukleasi.”

Dokter sedang melakukan prosedur operasi pengangkatan mata Barda. (Rendi Afandi|YIARI)

Prosedur enukleasi ini terpaksa dilakukan demi menyelamatkan nyawa Barda.

Luka pada mata kanannya dikhawatirkan bisa menyebarkan infeksi ke seluruh tubuh, yang berpotensi memperburuk kondisinya. Operasi ini dilakukan dengan cara mengangkat seluruh organ mata yang rusak, termasuk saraf dan pembuluh darah yang sudah tidak berfungsi normal.

Proses enukleasi pada kukang sama seperti pada hewan lain, yaitu mengangkat semua organ mata termasuk saraf dan pembuluh darah yang mengalami kerusakan,” tambah drh. Indri.

Selama operasi berlangsung, tim medis harus bekerja dengan sangat hati-hati. Area bola mata memiliki banyak pembuluh darah, sehingga sedikit kesalahan saja bisa menyebabkan pendarahan.

Baca juga: Apa itu Kukang? Ciri Khas, Perilaku, Habitat, Jenis, hingga Ancaman yang Dihadapi

Kini Barda Ditempatkan di Kandang Perawatan

Setelah menjalani operasi enukleasi, tim medis YIARI terus melakukan observasi terhadap kondisi Barda.

Dua minggu pertama menjadi masa kritis, karena perkembangan kesehatannya harus dipantau dari hari ke hari.

Kabar baiknya, kondisi Barda kini berangsur membaik. Ia ditempatkan di sebuah kandang kecil yang disebut kandang perawatan.

Di sinilah Barda mulai beradaptasi dengan hidup barunya. Meski tidak lagi bisa melihat, kukang jawa jantan ini sudah berani melakukan aktivitas ringan seperti makan dan minum sendiri, walau sesekali masih terlihat kesulitan.

Barda sedang terbaring lemas di ruang tindakan. (Rendi Afandi|YIARI)

Kandang perawatan dibuat khusus untuk satwa dengan kebutuhan berbeda. Lingkungannya lebih sederhana, sehingga Barda lebih mudah menemukan makanan dan beraktivitas tanpa harus bersaing dengan kukang lain.

Menurut drh. Indri Saptorini, hal ini penting agar Barda tetap bisa bertahan hidup.

Kalau ditempatkan di kandang biasa, dikhawatirkan ia kalah saing dengan kukang lain yang masih normal, terutama dalam mencari makan,” jelas drh. Indri.

Selain tempat tinggal yang lebih aman, Barda juga mendapat pengawasan medis setiap hari. Tim YIARI memantau kesembuhan lukanya, perilakunya, hingga pola makannya.

Setelah luka benar-benar pulih, tim akan menilai apakah hilangnya penglihatan membuat perilaku Barda berubah, misalnya menjadi lebih aktif di siang hari atau tidur lebih lama di malam hari.

Baca juga: Operasi Sistotomi Kukang: Pengangkatan Batu dari Kandung Kemih Shuri

Kukang Bukanlah Objek Perburuan

Barda hanyalah satu dari banyak satwa yang menjadi korban kekejaman perburuan liar di alam bebas. Peluru senapan angin yang bersarang di matanya menjadi bukti betapa bengisnya tangan manusia yang tega melukai satwa dilindungi.

Padahal, kukang bukanlah objek perburuan. Mereka adalah satwa liar yang memiliki peran penting di ekosistem dan seharusnya hidup bebas di habitat alaminya.

Seperti yang disampaikan drh. Indri Saptorini, peluru yang ditemukan di mata Barda jelas menunjukkan adanya pelaku yang sengaja melukai, bukan kejadian alami.

Harapannya, jangan pernah berburu dengan alasan apa pun, termasuk menggunakan senapan angin. Kukang bukan objek perburuan, mereka adalah satwa liar yang seharusnya hidup di alam,” tegas drh. Indri.

Menanamkan Cinta Satwa Sejak Dini: Perayaan Hari Anak Nasional Bersama YIARI

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2025, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelenggarakan serangkaian kegiatan edukatif dan menyenangkan yang berlangsung di tiga lokasi berbeda, yaitu Taman Baca Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Bogor, Jawa Barat; Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren di Ketapang, Kalimantan Barat; serta SDN 23 Matan Hilir Selatan di wilayah Sungai Besar, Ketapang, Kalimantan Barat.

Kegiatan ini menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan hidup sejak usia dini. Anak-anak sebagai generasi penerus perlu dibekali dengan pemahaman akan pentingnya menjaga alam dan makhluk hidup di dalamnya, salah satunya melalui pengenalan terhadap satwa liar dan habitat alaminya.

Membaca nyaring dan membuat poster

Kegiatan “Kenali Satwa, Sayangi Alam” yang diselenggarakan di TBM Lentera Pustaka, menjadi sarana untuk menumbuhkan literasi dan meningkatkan minat baca di bidang lingkungan. Selain difasilitasi oleh YIARI, kegiatan ini juga dibantu oleh 7 relawan TBM Lentera Pustaka dan 8 mahasiswa KKN IPB.

Kegiatan dikemas secara edukatif dan interaktif, dimulai dari sesi membaca nyaring buku cerita petualangan “Karmila & Gito bersama Owa Kelempiau” yang mengangkat kisah tentang melindungi satwa. Menariknya, setiap karakter yang ada dalam buku diperankan dan dibacakan oleh kakak-kakak YIARI. Keseruan membaca ini berhasil menarik perhatian anak-anak terhadap alur cerita dan pesan-pesan yang dibawakan.

Usai membaca nyaring, kegiatan dilanjutkan dengan aktivitas prakarya. Mulai dari membuat poster habitat satwa, dan mewarnai untuk anak-anak prasekolah dan tingkat bawah. Dari aktivitas ini, anak-anak belajar mengenai perbedaan ruang habitat yang digunakan oleh satwa liar.

Kakak-kakak YIARI membaca nyaring dengan memerankan karakter pada buku cerita Petualangan Karmila dan Gito bersama Owa Kelempiau di TBM Lentera Pustaka, Bogor. (YIARI) 

Kegiatan ini memberikan pengalaman berkesan bagi anak-anak. Mereka tampak antusias mengikuti setiap sesi dan banyak yang baru mengenal satwa seperti kukang dan owa jawa. Selain memperluas wawasan, kegiatan ini juga membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian satwa dan habitatnya.

“Kegiatan-kegiatannya seru banget, asik,” kata Ade Amirah (15), salah satu peserta kegiatan.

“Dan juga nambahin pengetahuan aku, bagaimana bentuk rupa owa jawa, yang ternyata harus dilindungi dan tidak boleh diburu,” ungkapnya menambahkan.

Hak anak dan kesejahteraan satwa

Sementara itu, di Ketapang, Kalimantan Barat, perayaan Hari Anak Nasional juga berlangsung meriah di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren. Anak-anak dari komunitas sekitar, seperti Zwageri Generation, berpartisipasi dalam berbagai aktivitas kreatif seperti mewarnai sketsa satwa, membuat bando berbentuk hewan, dan membuat video ucapan bertema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap pemenuhan hak anak. Sekaligus juga,  dikaitkan dengan tanggung jawab anak terhadap kesejahteraan satwa.

Peserta mewarnai di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren. (YIARI)

Kegiatan serupa juga diselenggarakan di SDN 23 Matan Hilir Selatan. Dalam kolaborasi ini, anak-anak mengikuti lomba mewarnai dengan tema kesejahteraan satwa, mendengarkan materi edukatif, serta menonton film edukasi “Monpai Exploit” bersama. Dari hasil kegiatan ini,  anak-anak mulai memahami bahwa kesejahteraan bukan hanya hak manusia saja, tetapi juga hak satwa, baik peliharaan maupun satwa liar di hutan. Pemahaman ini tergambarkan dari karya mereka yang menunjukkan interaksi positif antara anak dan satwa, serta ucapan refleksi dalam video yang mereka buat.

Foto bersama dengan peserta di SDN 23 MHS Sungai Besar. (YIARI)

Kegiatan Hari Anak Nasional yang dilakukan YIARI menjadi bukti bahwa edukasi konservasi bisa dikenalkan sejak dini, dengan cara yang menyenangkan dan bermakna. Melalui pengenalan terhadap satwa liar dan habitatnya, anak-anak tidak hanya mendapat pengetahuan baru, tetapi juga nilai-nilai empati, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Nasya Karina Nur’aziza

Operasi Sistotomi Kukang: Pengangkatan Batu dari Kandung Kemih Shuri

Terbaring lemah di ruang tindakan, seekor kukang jawa jantan bernama Shuri tampak tenang di bawah pengaruh anestesi.

Namun di balik ketenangan itu, tubuhnya tengah berjuang menghadapi kondisi serius—dua batu berukuran cukup besar bersarang di dalam kandung kemihnya. Batu-batu tersebut, jika tidak segera ditangani, bisa memicu komplikasi berbahaya yang mengancam keselamatannya.

Shuri bukanlah kukang muda. Ia termasuk individu kukang lansia yang berada dalam perawatan di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Dalam pemeriksaan rutin melalui X-Ray, terdapat dua batu di kandung kemih Shuri. Kondisi ini mengharuskan tindakan medis segera melalui prosedur operasi sistotomi, yaitu pembedahan untuk mengangkat batu dari kandung kemih.

Lalu, dari mana sebenarnya asal batu yang ada di dalam kandung kemih Shuri? Yuk, simak penjelasan lebih lanjutnya berikut ini!

Apa Itu Operasi Sistotomi?

Untuk menangani kondisi Shuri, tim medis YIARI melakukan operasi sistotomi, yaitu tindakan bedah yang dilakukan untuk mengangkat batu dari dalam kandung kemih.

Operasi ini juga umum dilakukan pada satwa lain—bahkan manusia—ketika batu kandung kemih sudah berukuran besar dan tidak dapat dikeluarkan secara alami.

Menurut drh. Imam Arifin, dokter hewan yang menangani langsung Shuri, sistotomi menjadi satu-satunya pilihan terbaik dalam kasus ini.

“Operasi sistotomi itu berarti pembedahan kandung kemih pada kukang. Tujuannya untuk mengambil batu, karena di dalam kandung kemih Shuri sudah terbentuk dua batu berukuran cukup besar,” jelasnya.

drh. Imam Arifin melakukan tindakan operasi sistotomi pada Shuri (Rendi Afandi | YIARI)

Jika tidak segera diangkat, batu-batu tersebut dapat mengganggu proses berkemih, menyebabkan rasa sakit, dan dalam jangka panjang memicu infeksi hingga kerusakan organ.

“Kalau dibiarkan, bisa timbul komplikasi yang lebih serius. Makanya tindakan cepat dan tepat sangat diperlukan,” tambah Imam.

Operasi sistotomi tidak dilakukan secara sembarangan. Prosedur ini membutuhkan persiapan matang karena kukang termasuk satwa yang sangat sensitif terhadap stres. Bahkan sedikit tekanan berlebih bisa memengaruhi kondisi fisiologis mereka secara drastis.

Oleh karena itu, sebelum operasi dilakukan, tim medis harus memastikan bahwa Shuri dalam kondisi stabil dan cukup kuat untuk menjalani anestesi serta pembedahan.

Proses Operasi: Dua Batu Berhasil Diangkat dari Kandung Kemih Shuri

Setelah dipastikan dalam kondisi stabil, Shuri dijadwalkan menjalani operasi pada 16 Januari 2025. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, kukang jantan ini menunjukkan respons tubuh yang cukup baik menjelang prosedur.

Pagi itu, ruang tindakan di fasilitas YIARI dipersiapkan secara khusus. Segala alat steril, obat anestesi, serta dukungan tenaga medis hewan sudah disiapkan. Shuri diposisikan dengan hati-hati, dan proses anestesi total dilakukan agar ia tidak merasakan sakit selama operasi berlangsung.

“Saat operasi, Shuri tampak tertidur dengan tenang. Ini sangat penting untuk menghindari stres berlebih, karena kukang sangat sensitif terhadap rasa sakit dan tekanan,” jelas drh. Imam.

Pembedahan dilakukan langsung oleh drh. Imam Arifin, dibantu oleh beberapa tenaga medis lainnya. Operasi berlangsung lancar, dua batu berhasil diangkat dari kandung kemih Shuri. Batu-batu tersebut memiliki bentuk pipih dan berwarna putih, persis seperti yang ditunjukkan hasil X-Ray sebelumnya.

Ukuran batu cukup besar jika dibandingkan dengan ukuran tubuh Shuri. Hal ini semakin menegaskan keberadaan batu tersebut memang berpotensi mengganggu sistem perkemihannya secara serius jika tidak segera ditangani.

Operasi berjalan baik. Dua batu yang bersemayam di kandung kemih berhasil diangkat seluruhnya tanpa komplikasi. Kami lega melihat hasilnya,” ungkap Imam.

Setelah operasi selesai, Shuri dipindahkan ke ruang pemulihan. Dalam beberapa jam pertama, tim medis terus memantau tanda-tanda vitalnya: detak jantung, suhu tubuh, dan respons pernapasan. Semua berada dalam batas normal.

Meskipun masih dalam kondisi lemah, respons Shuri menunjukkan tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan proses pemulihan pasca operasi.

Apa Penyebab Terbentuknya Batu di Kandung Kemih Kukang?

Munculnya batu di kandung kemih bukanlah hal yang terjadi secara tiba-tiba. Ada sejumlah faktor yang secara umum dapat memicu terbentuknya batu tersebut pada satwa, termasuk kukang. Menurut drh. Imam Arifin, faktor-faktor tersebut meliputi:

  • Jenis makanan atau pola makan yang tidak sesuai
  • Infeksi saluran kemih
  • Faktor genetik
  • pH urin yang terlalu basa atau terlalu asam
  • Usia lanjut
Kondisi Shuri saat berada di ruang tindakan (Rendi Afandi | YIARI)

Shuri, sebagai kukang jantan berusia tua, kemungkinan mengalami penurunan fungsi organ secara alami. Hal ini dapat memengaruhi sistem ekskresi, termasuk kualitas dan keseimbangan pH urin.

Namun demikian, Imam menyatakan belum bisa dipastikan secara spesifik faktor dominan penyebab terbentuknya batu pada Shuri.

“Faktornya banyak. Bisa karena makanan, bisa juga karena pH urin yang berubah. Tapi dalam kasus Shuri, kami belum bisa menentukan penyebab pastinya. Analisis urin lebih lanjut akan kami lakukan,” ujar Imam.

Untuk memastikan akar masalahnya, tim medis YIARI akan melakukan urinalisis guna mengecek komposisi urin Shuri, termasuk kadar mineral, pH, dan potensi infeksi.

Hasil dari pemeriksaan ini akan sangat penting untuk menentukan langkah pencegahan di masa mendatang, tidak hanya untuk Shuri, tetapi juga kukang lain yang berada dalam program rehabilitasi.

Terkait kemungkinan faktor makanan, Imam menjelaskan pakan kukang di YIARI sudah disesuaikan sedekat mungkin dengan makanan alami mereka di alam liar. Pemberian buah-buahan, serangga kecil, dan dedaunan dipastikan dalam porsi dan frekuensi yang tepat.

“Pakan kami sudah diatur mengikuti pola makan mereka di alam. Tapi untuk memastikan, tetap akan kami evaluasi ulang dan sesuaikan jika perlu,” tambahnya.

Tantangan saat Melakukan Operasi Sistotomi

Menangani satwa liar dalam kondisi kritis bukanlah tugas mudah, apalagi ketika prosedur medis melibatkan pembedahan seperti operasi sistotomi.

Meski Shuri bukanlah kasus pertama yang dihadapi, setiap tindakan medis tetap memerlukan kesiapan fisik dan mental yang tinggi dari tim dokter hewan.

Potret dua batu yang berhasil diangkat dari kandung kemih Shuri (Rendi Afandi | YIARI)

drh. Imam Arifin mengungkapkan operasi pada Shuri merupakan kasus ketiga sistotomi pada kukang yang pernah ia tangani bersama tim YIARI dalam beberapa tahun terakhir.

Ini bukan pengalaman pertama, tapi setiap kasus pasti punya tantangannya sendiri. Apalagi kukang adalah primata yang sangat sensitif terhadap stres. Itu yang membuat penanganannya harus ekstra hati-hati,” jelas Imam.

Ia mengenang saat pertama kali melakukan sistotomi pada kukang beberapa tahun lalu. Saat itu, Imam mengaku sempat ragu karena minimnya referensi dan pengalaman praktik operasi serupa pada satwa dengan karakteristik unik seperti kukang. Namun setelah operasi pertama berjalan sukses, kepercayaan dirinya meningkat, dan pendekatan medis pun terus disempurnakan dari waktu ke waktu.

Waktu pertama kali, jujur saya sempat tegang. Tapi kami belajar banyak dari pengalaman itu. Sekarang, kami lebih siap, lebih terstruktur. Tapi tetap, harus waspada—karena risikonya tetap besar,” tambahnya.

Salah satu tantangan terbesar dalam operasi ini adalah menjaga kestabilan fisiologis kukang selama prosedur. Kukang bisa mengalami drop secara tiba-tiba jika stres, bahkan hanya karena suara bising atau perubahan suhu ruang. Maka dari itu, YIARI selalu memastikan ruang operasi tenang, steril, dan tim bekerja dengan koordinasi yang rapi dan minim distraksi.

Imam juga menekankan, meskipun batu yang dikeluarkan dari kandung kemih terlihat kecil, dampaknya bisa sangat besar terhadap kesehatan. Jika tidak segera ditangani, batu tersebut dapat memicu infeksi serius, radang, dan kerusakan organ yang sulit dipulihkan.

Komitmen YIARI dalam Menjaga Kesehatan Satwa Liar

Kisah Shuri menjadi salah satu cerminan nyata dari komitmen tanpa henti YIARI dalam menjaga kesejahteraan satwa liar, terutama yang berada dalam masa rehabilitasi. Setiap individu satwa yang dirawat, termasuk kukang seperti Shuri, mendapatkan perhatian dan penanganan menyeluruh, mulai dari deteksi dini penyakit hingga prosedur medis lanjutan.

Pengalaman Shuri menjadi pengingat bahwa kesehatan satwa perlu terus dipantau secara berkala, terlebih bagi yang telah berusia lanjut. Tak hanya itu, kisah ini juga membuka ruang diskusi lebih luas tentang pentingnya penelitian lanjutan, edukasi masyarakat, serta kolaborasi lintas pihak dalam menjaga kelestarian dan kesejahteraan satwa liar Indonesia.

Featured image: Shuri, kukang jawa jantan lansia yang harus menjalani operasi sistotomi (Rendi Afandi | YIARI)

Editor: Hasna Latifatunnisa

Apa itu Kukang? Ciri Khas, Perilaku, Habitat, Jenis, hingga Ancaman yang Dihadapi

Pernahkah kamu mendengar tentang kukang? Primata dengan mata besar yang menawan dan gerak lambatnya yang hampir tidak terdengar.

Namun, di balik keunikannya, kukang menghadapi ancaman serius yang mengancam kelangsungan hidupnya di alam liar. Mulai dari perburuan ilegal hingga degradasi habitat, setiap hari menjadi perjuangan bagi keberlangsungan spesies ini.

Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang kukang—mulai dari ciri khas fisik, habitat alami, pola makan, jenis, hingga berbagai ancaman yang terus membayangi. Yuk, kita telusuri kehidupan si bermata besar yang menyimpan segudang “keajaiban” ini!

Pengenalan Kukang

Kukang adalah primata kecil yang tergolong dalam genus Nycticebus, bagian dari keluarga Lorisidae.

Dalam bahasa Inggris, satwa ini dikenal dengan sebutan slow loris karena pergerakannya yang sangat lambat dan penuh kehati-hatian. Ukuran tubuh kukang relatif kecil, umumnya tidak lebih dari 30 sentimeter.

Sebagai satwa nokturnal, kukang aktif di malam hari. Mereka menghabiskan sebagian besar siang dengan tidur di balik dedaunan lebat atau bersembunyi di celah-celah pohon. Pergerakannya yang pelan dan senyap menjadi mekanisme alami untuk menghindari predator dan menjaga keberadaan mereka tetap tersembunyi.

Kukang tersebar luas di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk India, Vietnam, Filipina, Indonesia, dan negara-negara lainnya yang memiliki ekosistem hutan tropis. Keberadaan mereka sangat bergantung pada kelestarian hutan yang menjadi habitat utama.

Ciri Khas dan Perilaku

Salah satu ciri paling mencolok dari kukang adalah sepasang mata besar dan bulat yang memancarkan kesan menggemaskan. Namun, fungsi mata ini lebih dari sekadar penampilan. Sebagai satwa nokturnal, kukang mengandalkan penglihatannya yang tajam dalam gelap untuk mencari makan dan menghindari ancaman di malam hari.

Gerakan kukang yang sangat lambat dan hati-hati bukan tanpa alasan. Ini merupakan bentuk adaptasi alami untuk menghindari perhatian predator. Dengan bergerak perlahan, kukang tidak menimbulkan suara atau gerakan mencolok yang bisa mengundang bahaya. Selain itu, cengkeramannya yang kuat memungkinkan kukang menggantung di dahan pohon dalam waktu lama tanpa kelelahan, sebuah kemampuan penting dalam habitat arboreal.

Keunikan lain dari kukang yang jarang ditemukan pada primata lain adalah kemampuan menghasilkan racun. Kelenjar di bagian siku kukang mengeluarkan zat beracun yang, ketika bercampur dengan air liur, menjadi senjata pertahanan yang efektif. Racun ini dapat dipakai untuk melindungi diri dari predator maupun untuk melumpuhkan mangsa kecil.

Secara perilaku, kukang adalah satwa soliter dan sangat teritorial. Mereka lebih suka hidup menyendiri, kecuali selama musim kawin atau saat merawat anak. Salah satu mekanisme pertahanan unik mereka adalah kemampuan untuk “berpura-pura mati”—berhenti total dari pergerakan ketika merasa terancam, sebuah strategi yang dapat mengecoh predator.

Habitat Kukang

Kukang mendiami hutan tropis lembap yang lebat di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Mereka ditemukan di berbagai jenis hutan, mulai dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan dengan suhu lebih sejuk.

Primata ini sangat bergantung pada keberadaan kanopi pohon yang rapat sebagai tempat berlindung dan beraktivitas. Kanopi rindang tidak hanya menyediakan perlindungan dari predator, tetapi juga menjadi jalur utama bagi kukang untuk berpindah tempat dan mencari makanan tanpa perlu turun ke tanah. Oleh sebab itu, kehilangan habitat akibat deforestasi dan fragmentasi hutan menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup mereka.

Makanan Kukang

Kukang adalah omnivora dengan pola makan yang beragam, tergantung pada spesies dan habitat tempat mereka hidup. Diet alaminya mencakup serangga, telur burung, reptil kecil, serta aneka buah-buahan dan getah pohon. Fleksibilitas ini mencerminkan kemampuan adaptasi kukang terhadap kondisi lingkungan, yang memungkinkan mereka memaksimalkan asupan nutrisi yang tersedia di alam liar.

Salah satu sumber makanan yang sangat penting bagi kukang adalah getah pohon. Getah ini kaya akan nutrisi dan relatif mudah ditemukan di habitat hutan tropis. Kukang menggunakan gigi khusus yang tajam (dikenal sebagai dental comb) untuk mengikis permukaan kulit pohon dan merangsang keluarnya getah. Setelah itu, mereka menjilati cairan manis tersebut dengan perlahan.

Selain itu, kukang juga memakan serangga dan hewan kecil lainnya, yang memberikan asupan protein tinggi. Selain penting bagi keseimbangan gizinya, perilaku ini juga berkontribusi pada pengendalian populasi serangga di ekosistem hutan. Dengan memangsa serangga secara selektif, kukang memainkan peran ekologis yang signifikan sebagai pengendali hayati alami.

Kukang dikenal sangat selektif dalam memilih makanan. Mereka tidak sembarangan mengonsumsi apa pun yang tersedia, melainkan menunjukkan preferensi terhadap jenis makanan tertentu yang paling sesuai dengan kebutuhan nutrisinya. Kebiasaan ini merupakan bagian dari strategi bertahan hidup yang cerdas di lingkungan yang terus berubah.

Jenis-jenis Kukang di Indonesia

Indonesia merupakan rumah bagi beberapa spesies kukang, yang masing-masing memiliki karakteristik unik dan menarik. Jenis-jenis kukang di Indonesia antara lain:

1. Kukang Sumatera (Nycticebus coucang)

Nycticebus coucang | Bobby Muhidin (YIARI)

Kukang Sumatera dikenal sebagai salah satu spesies kukang dengan ukuran tubuh terbesar.

Panjang tubuhnya dapat mencapai 27 hingga 38 sentimeter. Ciri khas utama dari kukang ini adalah bulunya yang lebat dengan warna bervariasi, mulai dari cokelat keabu-abuan sampai cokelat kemerahan, biasanya dihiasi oleh garis di punggung yang kontras.

Wajahnya tampak mencolok dengan “topeng” gelap yang melintang dari mata ke mata, serta sepasang mata besar yang sangat menonjol. Kukang Sumatera juga memiliki gigi khusus yang digunakan untuk menggores kulit pohon agar getahnya keluar.

Secara geografis, spesies ini tersebar di Pulau Sumatera, Semenanjung Malaysia, dan sebagian wilayah selatan Thailand. Mereka mendiami hutan hujan tropis dataran rendah, namun juga bisa ditemukan di hutan sekunder dan hutan mangrove yang masih memiliki vegetasi lebat.

2. Kukang Jawa (Nycticebus javanicus)

Nycticebus javanicus | Reza Septian (YIARI)

Kukang Jawa merupakan spesies endemik yang hanya ditemukan di Pulau Jawa. Ukuran tubuhnya lebih kecil dibandingkan kukang Sumatera, dan memiliki bulu cenderung lebih gelap, berfungsi sebagai kamuflase alami saat beraktivitas di malam hari.

Spesies ini sangat teritorial dan menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pohon. Mereka jarang sekali turun ke tanah, karena pergerakan arboreal lebih aman dari predator. Pola makan kukang Jawa terdiri dari serangga, getah pohon, dan buah-buahan, dengan kecenderungan kuat terhadap konsumsi getah sebagai sumber nutrisi utama.

3. Kukang Kalamasan Kalimantan (Nycticebus menagensis)

Nycticebus menagensis | Heribertus Suciadi (YIARI)

Kukang Kalamasan, atau yang juga dikenal sebagai Kukang Filipina, merupakan spesies kukang yang mendiami wilayah pesisir utara dan timur Kalimantan, serta Kepulauan Sulu di Filipina. Dulunya, spesies ini dianggap sebagai subspesies dari kukang Kalimantan (Nycticebus borneanus), namun studi genetik dan morfologis terbaru telah mengukuhkan statusnya sebagai spesies yang terpisah.

Ciri fisik kukang Kalamasan menyerupai kukang lain, dengan bulu lebat berwarna abu-abu hingga cokelat yang membantu menyamarkan diri di antara pepohonan. Ukurannya relatif kecil, dengan panjang tubuh rata-rata di bawah 25 sentimeter. Seperti kukang lainnya, mereka aktif di malam hari dan mengandalkan indra penciuman serta penglihatan untuk mencari makan.

4. Kukang Kayan (Nycticebus kayan)

Nycticebus kayan | Jmiksanek (Wikimedia)

Kukang Kayan merupakan salah satu spesies kukang yang baru diidentifikasi secara ilmiah pada dekade terakhir. Nama spesies ini diambil dari Sungai Kayan yang berada di Kalimantan Utara, salah satu wilayah utama dalam sebaran alaminya.

Ciri khas kukang ini terletak pada pola wajahnya yang unik, yakni adanya garis putih tegas yang melintang dari mata ke arah mulut, memberikan tampilan kontras yang khas. Warna bulunya cenderung lebih gelap dibandingkan spesies kukang lainnya, berfungsi sebagai kamuflase di habitat hutan tropis.

Penyebaran kukang Kayan mencakup wilayah tengah hingga utara Pulau Kalimantan, termasuk Brunei, Sarawak, Sabah, Kalimantan Timur, hingga Sungai Mahakam dan Sungai Rajang. Spesies ini menghuni berbagai tipe ekosistem hutan, mulai dari dataran rendah sampai pegunungan, dan bergantung pada kelestarian hutan lebat sebagai tempat berlindung dan mencari makan.

5. Kukang Bangka (Nycticebus bancanus)

Nycticebus bancanus | Denny Setiawan (YIARI)

Kukang Bangka adalah spesies kukang yang secara geografis terbatas pada Pulau Bangka, lepas pantai timur Sumatera. Hidup di lingkungan pulau yang relatif terisolasi, spesies ini mengembangkan beberapa adaptasi unik.

Secara fisik, kukang Bangka berukuran lebih kecil dibandingkan kerabatnya di daratan utama, dengan bulu yang cenderung lebih pucat dan padat. Diet mereka serupa dengan kukang lain, terdiri dari buah-buahan, getah pohon, serta serangga kecil.

Karena keterbatasan habitat dan ancaman dari aktivitas manusia, kukang ini termasuk spesies yang rawan terhadap tekanan lingkungan dan memerlukan perhatian konservasi khusus.

6. Kukang Benggala (Nycticebus bengalensis)

Meskipun bukan spesies endemik Indonesia, kukang Benggala ditemukan di beberapa bagian barat wilayah Indonesia, terutama yang berbatasan dengan daratan Asia Tenggara seperti Myanmar, Laos, dan Thailand.

Kukang ini memiliki tubuh lebih besar dan bulu lebih tebal, yang merupakan adaptasi terhadap lingkungan dengan suhu yang lebih rendah di wilayah pegunungan. Warna bulunya bervariasi dari cokelat muda hingga kelabu, dengan pola wajah khas menyerupai “topeng” gelap.

Polanya dalam mencari makan tidak jauh berbeda dengan spesies kukang lainnya—mereka mengonsumsi buah, getah pohon, dan serangga sebagai bagian utama dari dietnya.

7. Kukang Kalimantan (Nycticebus borneanus)

Kukang Kalimantan merupakan spesies kukang endemik yang secara eksklusif ditemukan di Pulau Kalimantan. Sebelumnya, spesies ini kerap diklasifikasikan sebagai bagian dari kukang Sumatera atau kukang Menagensis. Namun, analisis genetika dan morfologi terkini telah menetapkannya sebagai spesies yang berdiri sendiri.

Ciri-ciri kukang Kalimantan mencakup ukuran tubuh sedang dengan warna bulu yang bervariasi antara cokelat keabu-abuan hingga kemerahan, serta pola wajah yang menyerupai spesies kukang lain, namun dengan garis yang lebih halus dan kontras warna yang berbeda.

Mereka mengonsumsi serangga, buah-buahan, dan getah pohon, serta sangat bergantung pada keberadaan hutan tropis Kalimantan yang masih utuh untuk bertahan hidup.

Status Perlindungan Kukang

Kukang merupakan salah satu primata yang menghadapi ancaman kepunahan serius. Berdasarkan Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature), sebagian besar spesies kukang masuk dalam kategori Rentan (Vulnerable) hingga Terancam Punah (Endangered). Kondisi ini diperparah oleh perburuan liar yang masif dan kerusakan habitat yang semakin meluas.

Dua ancaman terbesar terhadap keberlangsungan hidup kukang adalah perdagangan ilegal dan deforestasi. Kukang kerap diburu untuk dijadikan hewan peliharaan eksotis karena penampilannya yang dianggap lucu. Tidak jarang, proses penangkapan dilakukan secara brutal, yang menyebabkan luka serius bahkan kematian. Selain itu, bagian tubuh kukang juga digunakan dalam praktik pengobatan tradisional di beberapa budaya, yang semakin mendorong angka perburuan.

Untuk melindungi spesies ini, berbagai regulasi internasional dan nasional telah diterapkan. Kukang termasuk dalam daftar Apendiks I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yang berarti segala bentuk perdagangan internasional spesies ini dilarang secara ketat.

Di Indonesia, kukang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Perburuan, kepemilikan, atau perdagangan kukang tanpa izin merupakan tindakan ilegal dan dapat dikenakan sanksi pidana.

Ancaman yang Dihadapi Kukang

Inilah beberapa ancaman utama yang dihadapi oleh kukang:

  • Perdagangan ilegal

Kukang sering menjadi korban perdagangan hewan peliharaan ilegal. Wajahnya yang dianggap menggemaskan menjadikannya buruan utama pasar satwa eksotis. Banyak kukang yang ditangkap dari alam liar secara kejam—taringnya dipotong tanpa bius agar tidak menggigit, yang justru menyebabkan infeksi hingga kematian.

Perdagangan ini tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak populasi alami kukang.

  • Penggunaan dalam pengobatan tradisional

Di beberapa daerah, kukang dipercaya memiliki nilai pengobatan. Bagian tubuhnya digunakan sebagai bahan ramuan tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Praktik ini memperkuat permintaan pasar gelap dan memperparah perburuan.

  • Kehilangan dan fragmentasi habitat

Kegiatan seperti pembukaan lahan untuk pertanian, penebangan hutan, dan pembangunan infrastruktur telah mengakibatkan kerusakan parah pada habitat kukang. Hilangnya kanopi pohon yang menjadi tempat hidup utama menyebabkan kukang kehilangan sumber makanan dan tempat berlindung.

Selain itu, fragmentasi habitat membuat populasi kukang terisolasi, yang menurunkan keanekaragaman genetik dan memperbesar risiko kepunahan.

  • Interaksi negatif dengan manusia

Ketika habitatnya terganggu dan berdekatan dengan pemukiman, kukang kadang dianggap sebagai hama. Banyak yang ditangkap, dibunuh, atau diusir dari habitat aslinya. Interaksi negatif ini sering terjadi karena ketidaktahuan masyarakat tentang nilai ekologis kukang.

  • Ketidaktahuan dan kurangnya kesadaran masyarakat

Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai status kukang sebagai satwa yang dilindungi menyebabkan banyak orang masih membeli atau memelihara kukang secara ilegal. Kampanye edukasi yang masih terbatas dan minimnya sosialisasi hukum juga memperburuk situasi ini.

Bersama Menjaga Warisan Alam

Di penghujung perjalanan kita mengenal kukang, satu hal menjadi semakin nyata: keberadaan mereka bukan sekadar harta karun biologis, tetapi juga indikator penting dari kesehatan ekosistem hutan kita. Kukang adalah bagian tak terpisahkan dari jaringan kehidupan yang menjaga keseimbangan alam semesta.

Setiap individu kukang yang menghilang dari hutan menjadi pertanda ekosistem yang mendukung kehidupan kita tengah terganggu. Melindungi kukang berarti menjaga kelestarian hutan tropis dan seluruh kehidupan yang bergantung padanya—mulai dari mikroorganisme tanah sampai pepohonan raksasa, dari burung langka hingga manusia.

Tindakan yang kita ambil hari ini akan menentukan masa depan kukang dan kualitas lingkungan yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang. Kini saatnya kita bergandengan tangan—masyarakat, pemerintah, lembaga konservasi, dan dunia usaha—untuk memperkuat komitmen terhadap pelestarian alam.

Yuk, pastikan suara dari hutan-hutan kita tidak akan hilang dalam senyap. Biarkan suara kehidupan tetap mengalun, dan biarkan kukang terus berayun di antara cabang pohon, menjadi simbol harapan dan keberlangsungan alam yang lestari!

Featured image: Nycticebus javanicus | Denny Setiawan (YIARI)

Scroll, Click, Act: Bersama Lawan Perdagangan Ilegal Kukang

Perdagangan ilegal satwa liar, terutama melalui media sosial, kian mengancam kelangsungan hidup beragam spesies satwa dilindungi, termasuk kukang. Menyadari pentingnya masalah ini, Global Health Agromaritime-One Health Collaborating Center (GHA-OHCC) IPB University bersama OHCC Universitas Udayana menggelar talkshow bertajuk “Scroll, Click, Act: Saving Slow Lorises from Online Trade & Hidden Health Risks”.

Kegiatan yang diadakan di Aula Transformasi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB ini bertujuan meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap ancaman perdagangan ilegal kukang, serta dampaknya terhadap ekosistem dan kesehatan manusia.

Kukang merupakan salah satu satwa dilindungi yang sering menjadi target perdagangan ilegal di Indonesia. Praktik ini tidak hanya mengancam kelangsungan populasinya di alam liar, tetapi juga berisiko memperluas penyebaran penyakit zoonosis—penyakit yang dapat menular dari satwa ke manusia.

Dari kiri, Moderator Acara (S2 Ilmu Biomedis Hewan SKHB IPB) drh. Sarasvathi Cecile, KKHSG Kemenhut drh. Dedi Candra, Koordinator GHA-OHCC IPB drh. Srihadi Agungpriyono, Manager Animal Management YIARI drh. Nur Purba Priambada dalam acara Talkshow Scroll, Click, Act: Saving Slow Lorises from Online Trade & Hidden Health Risks, Bogor, Sabtu, 15 Februari 2025 (Cahya Riza | YIARI)

Risiko ini semakin meningkat karena kukang yang diperdagangkan sering mengalami perlakuan yang tidak semestinya, seperti pencabutan gigi untuk menghindari gigitan. Tindakan kejam ini tidak hanya menyebabkan penderitaan bagi kukang, tetapi juga berpotensi memperbesar risiko infeksi dan penyebaran penyakit yang dapat berdampak pada manusia.

Koordinator Global Health Association – One Health Collaborating Center (GHA-OHCC) IPB, drh. Srihadi Agungpriyono, menegaskan bahwa pendekatan One Health menjadi strategi penting dalam menangani permasalahan ini.

“Pendekatan One Health telah lama diterapkan untuk menghubungkan kesehatan manusia dan satwa. Oleh karena itu, dalam upaya konservasi ini, kita membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, termasuk ahli kesehatan satwa, kesehatan manusia, lingkungan, serta aspek sosial dan ekonomi yang turut memengaruhi praktik perdagangan satwa liar,” terangnya.

Pendekatan One Health menekankan pentingnya keseimbangan antara kesehatan manusia, satwa, dan lingkungan untuk mencegah dampak negatif dari perdagangan satwa liar. Dengan kolaborasi lintas sektor dan peningkatan kesadaran masyarakat, diharapkan ancaman perdagangan ilegal kukang dapat diminimalisir, sehingga spesies ini dapat terus hidup di habitat alaminya tanpa tekanan dari aktivitas ilegal.

Dari kiri, Moderator Acara (S2 Ilmu Biomedis Hewan SKHB IPB) drh. Sarasvathi Cecile, KKHSG Kemenhut drh. Dedi Candra, Manager Animal Management YIARI drh. Nur Purba Priambada membahas tren perdagangan kukang dalam acara Talkshow Scroll, Click, Act: Saving Slow Lorises from Online Trade & Hidden Health Risks, Bogor, Sabtu, 15 Februari 2025(Cahya Riza | YIARI)

Dukungan Kebijakan Tekan Angka Perdagangan Kukang di Sosial Media

Selain aspek kesehatan dan ekologi, upaya pemberantasan perdagangan ilegal kukang memerlukan dukungan regulasi yang lebih ketat. Drh. Dedi Candra menyoroti adanya regulasi baru yang memperkuat perlindungan terhadap satwa liar di Indonesia.

“Kami optimis bahwa pada tahun 2025 ini, perdagangan ilegal kukang dapat ditekan lebih jauh. Salah satu langkahnya melalui pengesahan Undang-Undang No. 32 Tahun 2024, yang merupakan revisi dari Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Regulasi ini memperketat sanksi serta meningkatkan denda bagi pelaku perdagangan ilegal. Selain itu, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 17 Tahun 2024 semakin mengoptimalkan upaya penyelamatan satwa liar dilindungi, termasuk kukang,” jelas drh. Dedi dalam kesempatan talkshow ini.

Dengan adanya peraturan yang lebih tegas, diharapkan perdagangan kukang secara daring dapat berkurang secara signifikan, sekaligus memberikan efek jera bagi para pelaku perdagangan ilegal.

Kukang jawa (Nycticebus javanicus) yang direhabilitasi di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) 

Komitmen Multipihak dalam Konservasi Kukang

Kukang di Indonesia saat ini berstatus Terancam Punah (Endangered) hingga Kritis (Critically Endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Kondisi ini menjadikan kukang sebagai salah satu fokus utama dalam berbagai upaya konservasi di Indonesia.

Salah satu lembaga yang berperan aktif dalam pelestarian kukang adalah Pusat Rehabilitasi Satwa Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Dalam kesempatan ini, drh. Nur Purba Priambada menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam upaya konservasi kukang.

“Dalam 17 tahun perjalanan kami, YIARI berkomitmen untuk memastikan kesejahteraan kukang, tidak hanya melalui rehabilitasi individu, tetapi juga dengan pendekatan holistik yang melibatkan ekosistem secara menyeluruh. Kami bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menciptakan harmoni antara habitat, satwa, dan manusia,” tuturnya.

Dengan semakin kuatnya kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan lembaga konservasi, upaya pelestarian kukang diharapkan dapat berjalan lebih efektif. Kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, juga menjadi kunci utama dalam mencegah maraknya perdagangan ilegal dan melindungi spesies yang semakin rentan punah ini.

“Penyelamatan kukang bukan hanya tugas para konservasionis, melainkan tanggung jawab bersama.”

Pernyataan ini menjadi pesan kuat dalam talkshow yang membahas ancaman perdagangan ilegal satwa liar. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan dukungan kebijakan yang lebih kuat, ada harapan besar bahwa kukang dan satwa liar lainnya dapat terus hidup di habitat aslinya tanpa ancaman perburuan dan perdagangan ilegal.

Setiap individu dapat berkontribusi dalam upaya konservasi dengan:

  • Tidak membeli atau mendukung perdagangan satwa liar
  • Menyebarkan informasi tentang pentingnya pelestarian kukang
  • Melaporkan aktivitas perdagangan ilegal kepada pihak berwenang

Dengan langkah-langkah konkret ini, kita dapat turut berperan dalam menyelamatkan kukang dan menjaga kelestarian ekosistemnya untuk masa depan!