Pengalaman Magang dan Penelitian Lima Bulan Amel Bersama YIARI
Halo, nama saya Amelia Okta Sari, biasa dipanggil Amel. Saya merupakan mahasiswa semester 8 dari Institut Teknologi Sumatera Program Studi Rekayasa Kehutanan. Saya mendapat kesempatan melaksanakan magang dan penelitian di YIARI Batutegi. Saya tertarik untuk magang dan penelitian di YIARI Batutegi karena saya ingin belajar dan mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan oleh yayasan ini.
YIARI merupakan lembaga non-profit yang memiliki komitmen kuat dalam upaya perlindungan primata dan habitatnya di Indonesia. Melalui berbagai program konservasi yang dijalankan, YIARI tidak hanya berfokus pada pelestarian primata, tetapi juga berupaya memahami berbagai tantangan di lapangan, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta membangun kerja sama dengan pemerintah dan komunitas lokal. Semangat dan dedikasi tersebut menjadi alasan utama yang mendorong saya untuk memilih YIARI sebagai tempat belajar dan bertumbuh melalui program magang dan penelitian.
Kegiatan magang dan penelitian saya dilaksanakan dari tanggal 20 Januari – 23 Mei 2025. Saya belajar banyak mulai dari memprogramkan SMART Mobile untuk inventarisasi kehati, pemasangan kamera trap hingga folderisasi, melakukan kegiatan Community Development (Comdev) berupa penyuluhan mengenai sosialisasi pendampingan petani berkelanjutan serta mengunjungi taman baca Jalosi Sanak Negeri. Selain itu, kegiatan lapangan yang saya ikuti yaitu kegiatan pendataan fenologi Ficus di Stasiun Riset Way Rilau, monitoring Ficus sebagai pal batas di Talang Ajir dan Talang Gadum serta kegiatan survei pelepasliaran Kukang Sumatra di kawasan KPH Way Waya, Lampung Tengah.

Pengalaman menarik yang saya dapatkan ketika mengikuti kegiatan monitoring Ficus sebagai pal batas di Talang Ajir dan Talang Gadum adalah kegiatan berlangsung selama 3 hari dimana ketika kegiatannya kita harus berjalan kaki menyusuri hutan untuk mencari keberadaan Ficus tersebut sesuai dengan titik koordinat yang telah terdata di Apk Locus Map. Setelah ditemukan kemudian dicatat bagaimana kondisi Ficus tersebut dan seterusnya dilakukan sampai titik Ficus selesai. Kegiatan ini berlangsung dari pagi hari sampai sore hari, kemudian dilanjutkan survei pengamatan kukang pada malam harinya. Ketika akan berpindah tempat ke Talang Gadum saya mendapat pengalaman seru dan pertama kali bagi saya yaitu menyebrang menggunakan sampan dimana hanya bisa diisi oleh 2 orang saja dan harus menjaga keseimbangan.
Kemudian saat kegiatan survei pelepasliaran kukang sumatra di kawasan KPH Way Waya, Lampung Tengah banyak hal menarik sekaligus menyenangkan yang terjadi. Kegiatan berlangsung selama 10 hari dan dilaksanakan bersama staf YIARI Bogor, yaitu Kang Rifqi, Kang Igud, Kang Uchi, dan Kang Marco, yang mendampingi selama proses survei di lapangan. Survei lapangan ini memberikan tantangan tersendiri karena kami harus menempuh perjalanan dengan medan yang cukup menanjak dan jarak yang tidak dekat untuk mencapai lokasi. Tantangan tersebut semakin terasa ketika memasuki hari kelima kegiatan yang bertepatan dengan hari pertama pelaksanaan ibadah puasa. Kondisi fisik benar-benar diuji, namun hal tersebut justru menjadi pengalaman berharga dalam proses pembelajaran di lapangan.

Selama kegiatan berlangsung, aktivitas survei dilakukan sejak pagi hingga sore hari, meliputi survei lokasi serta analisis vegetasi (anveg) untuk menilai kesesuaian habitat. Sementara itu, pada malam hari kami melanjutkan kegiatan dengan melakukan survei keberadaan kukang sebagai bagian penting dalam penilaian calon lokasi pelepasliaran. Pola kegiatan ini memberikan gambaran nyata mengenai tahapan survei konservasi satwa secara menyeluruh. Meski melelahkan, kegiatan ini terasa sangat menyenangkan. Dukungan dan kebersamaan bersama staf YIARI Bogor menjadi penyemangat tersendiri, terutama ketika rasa lelah mulai terasa di lapangan. Canda dan suasana kekeluargaan yang terbangun membuat kegiatan tetap berjalan dengan penuh semangat. Melalui pengalaman ini, saya tidak hanya memperoleh pengalaman lapangan yang berharga, tetapi juga mempelajari banyak hal dan materi baru mengenai kukang serta upaya konservasinya.
Penelitian yang saya lakukan di YIARI Batutegi adalah Kajian Pendahuluan Serangga Penyerbuk Ficus spp. di Blok Inti Hutan Lindung Batutegi. Saya dibantu oleh Mas Aris, Kang Nedi, Bang Irfan, Bang Gunawan, Mas Nari dan teman-teman dalam melaksanakan penelitian. Saya sangat berterima kasih atas bantuan mereka, terutama saat mengambil buah Ficus spp. dari pohon-pohon yang tinggi, karena tanpa pendampingan mereka, proses ini akan jauh lebih sulit. Selama kegiatan penelitian, saya mendapatkan kesempatan untuk mempelajari hubungan unik antara pohon Ficus spp. dan serangga penyerbuknya. Setiap spesies Ficus spp. ternyata memiliki penyerbuk spesifik, seperti Ceratosolen constrictus pada Ficus fistulosa, Ceratosolen fusciceps pada Ficus callophylla, dan Ceratosolen appendiculatus pada Ficus virgata.

Dari hasil pengamatan, Ficus fistulosa menunjukkan jumlah penyerbuk paling tinggi, yang kemungkinan terkait dengan pola pembuahan dan ketersediaan buah pada fase reseptif yang lebih banyak dibandingkan spesies lainnya. Pengalaman ini memberikan saya pemahaman langsung mengenai pentingnya interaksi spesifik antara tumbuhan dan serangga. Saya belajar bahwa keseimbangan ekosistem sangat bergantung pada hubungan mutualisme yang unik ini, dan setiap detail kecil dalam interaksi tersebut memiliki peran yang krusial bagi kelangsungan hidup kedua spesies.
Lima bulan magang dan penelitian di YIARI Batutegi benar-benar penuh warna dan keseruan! Dari pagi sampai sore saya berkeliling hutan, mencatat pohon Ficus, mempelajari serangga penyerbuknya, sampai malamnya ikut survei kukang yang bikin deg-degan, apalagi ketika harus menyeberang sungai pakai sampan mini yang hanya muat dua orang. Setiap kegiatan mengajarkan sesuatu yang berbeda: kerja keras, ketelitian, dan pentingnya kebersamaan. Bersama staf dan teman-teman, saya merasakan sendiri bagaimana dedikasi dan kolaborasi membuat konservasi jadi nyata.
Penelitian tentang hubungan spesifik antara pohon Ficus dan serangga penyerbuknya juga membuka mata saya ternyata detail terkecil di alam bisa punya peran besar dalam keseimbangan ekosistem. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa konservasi itu bukan cuma motivasi, tapi aksi nyata. Dan yang paling berkesan: setiap langkah kecil di hutan bisa berarti besar untuk masa depan satwa dan alam.
Artikel ini ditulis oleh Amelia Okta Sari, mahasiswa Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera, sebagai bagian dari program magang di YIARI.