Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Pengalaman Magang dan Penelitian Lima Bulan Amel Bersama YIARI

Halo, nama saya Amelia Okta Sari, biasa dipanggil Amel. Saya merupakan mahasiswa semester 8 dari Institut Teknologi Sumatera Program Studi Rekayasa Kehutanan. Saya mendapat kesempatan melaksanakan magang dan penelitian di YIARI Batutegi. Saya tertarik untuk magang dan penelitian di YIARI Batutegi karena saya ingin belajar dan mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan oleh yayasan ini. 

YIARI merupakan lembaga non-profit yang memiliki komitmen kuat dalam upaya perlindungan primata dan habitatnya di Indonesia. Melalui berbagai program konservasi yang dijalankan, YIARI tidak hanya berfokus pada pelestarian primata, tetapi juga berupaya memahami berbagai tantangan di lapangan, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta membangun kerja sama dengan pemerintah dan komunitas lokal. Semangat dan dedikasi tersebut menjadi alasan utama yang mendorong saya untuk memilih YIARI sebagai tempat belajar dan bertumbuh melalui program magang dan penelitian. 

Kegiatan magang dan penelitian saya dilaksanakan dari tanggal 20 Januari – 23 Mei 2025. Saya belajar  banyak mulai dari memprogramkan SMART Mobile untuk inventarisasi kehati, pemasangan kamera trap hingga folderisasi, melakukan kegiatan Community Development (Comdev) berupa penyuluhan mengenai sosialisasi pendampingan petani berkelanjutan serta mengunjungi taman baca Jalosi Sanak Negeri. Selain itu, kegiatan lapangan yang saya ikuti yaitu kegiatan pendataan fenologi Ficus di Stasiun Riset Way Rilau, monitoring Ficus sebagai pal batas di Talang Ajir dan Talang Gadum serta kegiatan survei pelepasliaran Kukang Sumatra di kawasan KPH Way Waya, Lampung Tengah. 

Berkegiatan dengan anak-anak di Taman Baca Jalosi Sanak Negeri (Amelia Okta Sari)

Pengalaman menarik yang saya dapatkan ketika mengikuti kegiatan monitoring Ficus sebagai pal batas di Talang Ajir dan Talang Gadum adalah kegiatan berlangsung selama 3 hari dimana ketika kegiatannya kita harus berjalan kaki menyusuri hutan untuk mencari keberadaan Ficus tersebut sesuai dengan titik koordinat yang telah terdata di Apk Locus Map. Setelah ditemukan kemudian dicatat bagaimana kondisi Ficus tersebut dan seterusnya dilakukan sampai titik Ficus selesai. Kegiatan ini berlangsung dari pagi hari sampai sore hari, kemudian dilanjutkan survei pengamatan kukang pada malam harinya. Ketika akan berpindah tempat ke Talang Gadum saya mendapat pengalaman seru dan pertama kali bagi saya yaitu menyebrang menggunakan sampan dimana hanya bisa diisi oleh 2 orang saja dan harus menjaga keseimbangan. 

Kemudian saat kegiatan survei pelepasliaran kukang sumatra di kawasan KPH Way Waya, Lampung Tengah banyak hal menarik sekaligus menyenangkan yang terjadi. Kegiatan berlangsung selama 10 hari dan dilaksanakan bersama staf YIARI Bogor, yaitu Kang Rifqi, Kang Igud, Kang Uchi, dan Kang Marco, yang mendampingi selama proses survei di lapangan. Survei lapangan ini memberikan tantangan tersendiri karena kami harus menempuh perjalanan dengan medan yang cukup menanjak dan jarak yang tidak dekat untuk mencapai lokasi. Tantangan tersebut semakin terasa ketika memasuki hari kelima kegiatan yang bertepatan dengan hari pertama pelaksanaan ibadah puasa. Kondisi fisik benar-benar diuji, namun hal tersebut justru menjadi pengalaman berharga dalam proses pembelajaran di lapangan.

Kegiatan pendataan fenologi Ficus yang mencakup pencatatan kondisi Ficus (Amelia Okta Sari)

Selama kegiatan berlangsung, aktivitas survei dilakukan sejak pagi hingga sore hari, meliputi survei lokasi serta analisis vegetasi (anveg) untuk menilai kesesuaian habitat. Sementara itu, pada malam hari kami melanjutkan kegiatan dengan melakukan survei keberadaan kukang sebagai bagian penting dalam penilaian calon lokasi pelepasliaran. Pola kegiatan ini memberikan gambaran nyata mengenai tahapan survei konservasi satwa secara menyeluruh. Meski melelahkan, kegiatan ini terasa sangat menyenangkan. Dukungan dan kebersamaan bersama staf  YIARI Bogor menjadi penyemangat tersendiri, terutama ketika rasa lelah mulai terasa di lapangan. Canda dan suasana kekeluargaan yang terbangun membuat kegiatan tetap berjalan dengan penuh semangat. Melalui pengalaman ini, saya tidak hanya memperoleh pengalaman lapangan yang berharga, tetapi juga mempelajari banyak hal dan materi baru mengenai kukang serta upaya konservasinya.

Penelitian yang saya lakukan di YIARI Batutegi adalah Kajian Pendahuluan Serangga Penyerbuk Ficus spp. di Blok Inti Hutan Lindung Batutegi. Saya dibantu oleh Mas Aris, Kang Nedi, Bang Irfan, Bang Gunawan, Mas Nari dan teman-teman dalam melaksanakan penelitian. Saya sangat berterima kasih atas bantuan mereka, terutama saat mengambil buah Ficus spp. dari pohon-pohon yang tinggi, karena tanpa pendampingan mereka, proses ini akan jauh lebih sulit. Selama kegiatan penelitian, saya mendapatkan kesempatan untuk mempelajari hubungan unik antara pohon Ficus spp. dan serangga penyerbuknya. Setiap spesies Ficus spp. ternyata memiliki penyerbuk spesifik, seperti Ceratosolen constrictus pada Ficus fistulosa, Ceratosolen fusciceps pada Ficus callophylla, dan Ceratosolen appendiculatus pada Ficus virgata.

Saat berkegiatan bersama dengan Tim Lapangan (Amelia Okta Sari)

Dari hasil pengamatan, Ficus fistulosa menunjukkan jumlah penyerbuk paling tinggi, yang kemungkinan terkait dengan pola pembuahan dan ketersediaan buah pada fase reseptif yang lebih banyak dibandingkan spesies lainnya. Pengalaman ini memberikan saya pemahaman langsung mengenai pentingnya interaksi spesifik antara tumbuhan dan serangga. Saya belajar bahwa keseimbangan ekosistem sangat bergantung pada hubungan mutualisme yang unik ini, dan setiap detail kecil dalam interaksi tersebut memiliki peran yang krusial bagi kelangsungan hidup kedua spesies.

Lima bulan magang dan penelitian di YIARI Batutegi benar-benar penuh warna dan keseruan! Dari pagi sampai sore saya berkeliling hutan, mencatat pohon Ficus, mempelajari serangga penyerbuknya, sampai malamnya ikut survei kukang yang bikin deg-degan, apalagi ketika harus menyeberang sungai pakai sampan mini yang hanya muat dua orang. Setiap kegiatan mengajarkan sesuatu yang berbeda: kerja keras, ketelitian, dan pentingnya kebersamaan. Bersama staf dan teman-teman, saya merasakan sendiri bagaimana dedikasi dan kolaborasi membuat konservasi jadi nyata.

Penelitian tentang hubungan spesifik antara pohon Ficus dan serangga penyerbuknya juga membuka mata saya ternyata detail terkecil di alam bisa punya peran besar dalam keseimbangan ekosistem. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa konservasi itu bukan cuma motivasi, tapi aksi nyata. Dan yang paling berkesan: setiap langkah kecil di hutan bisa berarti besar untuk masa depan satwa dan alam.

Artikel ini ditulis oleh Amelia Okta Sari, mahasiswa Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera, sebagai bagian dari program magang di YIARI.

Catatan Lapangan Magang dan Penelitian Davit bersama YIARI

Halo, Sobat #KonservasiYIARI!

Saya Davit Aditya, biasa dipanggil Davit. Sebagai mahasiswa semester delapan program studi Rekayasa Kehutanan ITERA, saya berkesempatan melakukan magang serta berkewajiban untuk menyelesaikan tugas akhir/skripsi. Disaat YIARI membuka peluang untuk melakukan magang dan penelitian, saya tanpa ragu langsung mengajukan diri. Mari simak paragraf singkat tentang cerita magang dan penelitian saya bersama dengan orang-orang yang tetap mempertahankan kelestarian alam di saat banyak orang yang memandang sebelah mata.

YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia) merupakan suatu organisasi nirlaba yang berperan dalam upaya perlindungan primata serta habitatnya di Indonesia. Dalam mewujudkan upaya tersebut, YIARI berfokus dalam meningkatkan kesadaran masyarakat melalui pengembangan, edukasi, perlindungan habitat, dan kesehatan masyarakat. YIARI juga berkolaborasi dengan berbagai pihak, salah satunya mahasiswa untuk berkomitmen menjaga kelestarian dan keanekaragaman hayati demi generasi yang mendatang.

Foto bersama dengan tim lapang yang mendampingi selama berkegiatan (Davit Aditya)

Selama periode magang, saya mengerjakan tugas dan mengikuti berbagai kegiatan yang berhubungan langsung dengan alam dan masyarakat. Hal ini memberikan kesempatan saya untuk belajar lebih dalam mengenai konservasi satwa dan habitatnya, selain itu saya juga belajar bersosialisasi dengan masyarakat dari beberapa gapoktan yang dibina oleh YIARI. 

Setiap kegiatan yang saya ikuti memiliki kesan yang berbeda-beda. Namun, karena saya orangnya itu suka kegiatan yang bersinggungan langsung dengan alam, kegiatan-kegiatan di alam sangat berkesan bagi saya terutama yang memacu adrenalin. Salah satu contohnya adalah kegiatan pemasangan plang batas kawasan hutan. Pada kegiatan ini saya ikut bersama Mas Mail, Mas Anang, dan Mas wahyu.

Kegiatan ini paling berkesan karena kegiatan ini diawali dengan perjalanan yang cukup jauh serta rute yang dilewati cukup ekstrim. Bahkan sepanjang perjalanan kami diguyur hujan lebat nonstop, dengan mengendarai motor dan barang bawaan yang lumayan banyak, beberapa kali kami jatuh bangun sampai mandi lumpur. Kami memasang empat plang batas yang titik pemasangannya saling berjauhan dan sesekali nyasar. Meskipun banyak rintangan yang dilewati, kegiatan ini malah jadi sangat berkesan dan seru bagi saya, mungkin kalo ada kesempatan lagi saya bakalan ikut sih…

Kegiatan pemasangan plang batas kawasan hutan (Davit Aditya)

Disela-sela kegiatan magang, saya juga melaksanakan penelitian saya di Stasiun Riset Way Rilau. Karena saya meneliti tentang kodok jadi saya lebih sering berkegiatan malam, diawal survey lokasi penelitian saya didampingi oleh Mas Mail dan Bang Irfan, saya diajak mengeksplor aliran-aliran sungai yang ada di sekitar camp. Pada saat pengambilan data saya lebih sering didampingi Mas Jum, Mas Gunawan, Mas Hendra, dan Bang Irfan.

Selain melakukan penelitian saya sendiri, saya juga terkadang membantu pengambilan data penelitian beberapa rekan saya. Disitu saya bersama Kang Nedi dan terkadang juga bersama Mas Ayun dan Mas Anang. Disela pengambilan data penelitian, terkadang saya diajak memancing dan memanah ikan bersama Mas Ayun dan Mas Gunawan, walaupun saya cuma jadi penonton dan tukang bawa ikannya aja sih…

Pengambilan data penelitian (Davit Aditya)

Selama periode magang bukan hanya keseruan yang saya dapat, berbagai pengalaman yang menjadi first time juga banyak saya dapatkan. Saya juga dipertemukan dengan orang-orang baik yang selalu menghibur saya dan menuntun setiap kegiatan dan tugas yang saya lakukan. Materi-materi yang saya dapatkan di kampus tidak dapat menggantikan apa yang saya dapat disini, dan hal ini juga yang menjadikan saya lebih peduli terhadap kelestarian alam di Indonesia, dan semoga kepedulian ini tidak berhenti di saya saja. See you in the next adventure! Salam lestari!

Artikel ini ditulis oleh Davit Aditya, mahasiswa Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera, sebagai bagian dari program magang di YIARI.

Cerita Lima Bulan Perjalanan Mey Bersama YIARI

Nama saya Meydilla Dian Saputri, biasa dipanggil Mey. Saya mahasiswa Rekayasa kehutanan, Fakultas teknologi industri, Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Saat awal semester 8 kemarin, Saya beserta teman-teman berkesempatan untuk mengikuti program magang sekaligus penelitian di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Kesempatan ini tentu bukan datang dua kali, jadi rasanya sayang banget kalau dilewatkan.

Selama menjalani perkuliahan, saya memiliki ketertarikan yang kuat di bidang konservasi satwa. Ketertarikan ini pelan-pelan tumbuh jadi minat yang mendorong saya untuk terus belajar dan berkontribusi dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati, khususnya perlindungan terhadap satwa liar dan habitatnya. Berangkat dari minat tersebut, saya merasa YIARI adalah tempat yang tepat untuk magang dan melakukan penelitian, yang saya ketahui bahwa YIARI salah satu lembaga konservasi yang memiliki komitmen kuat dalam melindungi dan merehabilitasi satwa liar, khususnya primata seperti kukang dan orangutan. tidak hanya berfokus pada penyelamatan satwa, tetapi juga pada edukasi masyarakat dan pelestarian habitat, sangat sejalan dengan minat dan nilai-nilai yang saya pegang di bidang konservasi satwa

Kegiatan magang dan penelitian saya dilaksanakan selama 5 bulan, rasanya bukan waktu yang sebentar, tapi justru itu yang bikin pengalaman di sana jadi berkesan banget. Selama magang saya diberi kesempatan untuk belajar di semua divisi. Divisi Community Development, Perlindungan & Pengamanan Habitat (PPH), Biodiversity, dan Edukasi jadi benar-benar ngerasain langsung gimana kerja konservasi dari berbagai sisi. Nggak cuma belajar teori, saya juga langsung turun ke lapangan. Mulai pakai aplikasi SMART buat mengelola dan nyatet data lapangan (yang kalau nggak teliti bisa bikin pusing sendiri). Saya juga dikenalkan dengan bioakustik, belajar mengenali suara satwa, yang bikin saya sadar kalau hutan itu sebenarnya rame, cuma kita aja yang jarang denger. 

Pengambilan data lapangan bersama tim YIARI (Meydilla Dian Saputri)

Selain itu, saya juga ikut terlibat dalam kegiatan edukasi di taman baca anak-anak. Di sini saya belajar kalau konservasi itu nggak melulu soal hutan dan satwa, tapi juga soal ngenalin dan nanemin rasa peduli sejak kecil, dengan cara yang santai dan menyenangkan dan saya juga  ikut serta pendampingan kelompok tani (gapoktan) dalam program gulir kambing. Dari kegiatan ini saya makin paham kalau konservasi nggak bisa jalan sendirian, tapi harus barengan sama pemberdayaan masyarakat. Buat saya, semua pengalaman ini luar biasa, karena nggak semua orang punya kesempatan buat belajar selengkap ini dan langsung terjun ke lapangan. Capeknya dapet, ilmunya dapet, pengalamannya, lengkap deh. 

Salah satu pengalaman yang paling berkesan selama saya magang yaitu ikut serta dalam survei potensi habitat untuk lokasi pelepasliaran kukang sumatera yang dilaksanakan selama 10 hari di KPH Way Waya, tepatnya di Resort Sedang Agung yang meliputi pada blok Wana Sejahtera, Blok Sendang Sari dan Blok Menggeh Sipin. Mungkin bagi orang lain ini hal yang biasa saja tapi bagi saya adalah hal yang luar biasa. Selain karena kegiatannya yang menantang dan penuh pembelajaran, saya juga berkesempatan bekerja sama dengan “akang-akang bagor” yang asik banget, ada Kang Ricky (yang akrab dipanggil kang gepeng), Kang Uci, Kang Igud, dan Kang Marco.

Potret “Akang-akang Bagor” saat berkegiatan bersama di di Resort Sedang Agung (Meydilla Dian Saputri)

Mendengar cerita pengalaman dari akang-akang, saya bersyukur bisa dapat bertemu dan mengenal orang-orang yang hebat dan asik ini. Awalnya saya sempat ragu apakah saya bisa cepat beradaptasi, mengingat ini adalah pertemuan pertama dan langsung harus turun ke lapangan hampir dua minggu. Namun, suasana yang seru, asik dan kebersamaan selama di lapangan membuat semua rasa canggung itu hilang begitu saja, bahkan waktu terasa berjalan sangat cepat hingga akhirnya tiba saatnya untuk berpisah.   

Penelitian yang saya lakukan berfokus pada kelimpahan relatif kukang sumatera di blok inti dan blok pemanfaatan KPH Batutegi. Dalam prosesnya, saya nggak jalan sendirian, saya banyak dibantu dan didampingi oleh staf YIARI Mas Ayun, Bang Irfan, Mas Anang, Bang Hendra, dan Nanang, serta teman-teman penelitian lainnya. Saya sangat berterima kasih atas bantuan dan kebersamaan mereka, apalagi karena penelitian ini dilakukan pada malam hari, yang jelas butuh konsentrasi ekstra dan fokus penuh. Rasa lelah pasti ada, tapi selalu terbayar saat waktu istirahat diisi dengan canda tawa yang bikin capek terasa hilang. Bahkan ketika pulang pengamatan kami harus menyeberangi sungai yang sedang banjir sampai setinggi dada, semua itu sama sekali nggak mematahkan semangat justru jadi cerita dan pengalaman yang nggak terlupakan.

Lewat penelitian ini, saya berkesempatan untuk menggali lebih dalam kehidupan kukang, mulai dari kondisi habitatnya, jenis pakan yang dimanfaatkan, hingga pengaruh lingkungan di sekitarnya. Prosesnya jelas nggak mudah dan penuh tantangan, apalagi harus dilakukan dalam kondisi gelap, medan yang sulit, dan keterbatasan pengamatan malam hari. Tapi justru di situlah rasa penasaran saya tumbuh makin besar. Keingintahuan untuk memahami kukang secara lebih utuh bukan cuma sebagai satwa, tapi sebagai bagian dari ekosistem menjadi dorongan kuat yang bikin saya terus bertahan dan belajar sampai sekarang. Penelitian ini bukan sekadar tugas akademik, tapi perjalanan yang membentuk cara pandang saya tentang konservasi dan arti sebuah proses.

Kegiatan saat pengambilan data (Meydilla Dian Saputri)

Melalui kesempatan ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada YIARI atas kesempatan dan pengalaman berharga yang telah diberikan kepada kami para mahasiswa. Bagi saya, YIARI bukan hanya menjadi tempat penelitian dan magang, tetapi juga rumah belajar yang penuh dengan ilmu, pengalaman, semangat, serta dukungan yang luar biasa.

Artikel ini ditulis oleh Meydilla Dian Saputri, mahasiswi Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera, sebagai bagian dari program magang di YIARI.

Magang dan Penelitian Rasa Petualangan Anita di KPH Batutegi Bersama YIARI


Halo, Sobat #KonservasiYIARI!

Perkenalkan, saya Anita Fransiska Sihotang, mahasiswa Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Di semester akhir perkuliahan, saya mendapat kesempatan untuk menjalani magang sekaligus penelitian di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Buat saya, kesempatan ini benar-benar berharga, apalagi karena selama ini saya memang tertarik dengan kegiatan lapangan dan dunia konservasi.
Selama magang di YIARI, saya terlibat dalam berbagai kegiatan dari beberapa divisi. Mulai dari belajar menggunakan aplikasi SMART untuk pencatatan data lapangan, ikut kegiatan Perlindungan dan Pengamanan Habitat, sampai kegiatan Community Development (Comdev). Dari sini saya makin paham kalau konservasi itu luas banget, nggak cuma soal hutan dan satwa, tapi juga tentang manusia yang hidup berdampingan dengan alam.

Perjalanan menuju Stasiun Riset Way Rilau ditempuh menggunakan perahu (Anita Fransiska Sihotang)

Kegiatan lapangan yang saya ikuti cukup beragam. Di Stasiun Riset Way Rilau, saya ikut berbagai aktivitas lapangan yang menuntut ketelitian dan kesabaran. Di sini juga saya pertama kali benar-benar merasakan suasana hutan yang “hidup”. Saya menemukan dan mendengarkan langsung beberapa suara satwa, yang bikin saya sadar kalau hutan itu sebenarnya ramai, cuma kita saja yang sering nggak peka. Momen-momen kecil seperti ini justru jadi pengalaman berkesan, karena terasa sangat dekat dengan alam.

Saya juga ikut monitoring Ficus di Mitra Jaya, menyusuri hutan untuk mengecek titik-titik pohon Ficus yang sudah terdata. Walaupun capek jalan kaki dan medan nggak selalu bersahabat, kegiatan ini bikin saya makin paham betapa pentingnya satu jenis pohon bagi keseimbangan ekosistem. Sambil jalan, kadang disuguhi pemandangan hutan yang bagus, kadang juga diuji sama jalur yang bikin napas ngos-ngosan.

Selain kegiatan di hutan, saya juga ikut kegiatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Salah satunya di Taman Baca Jalosi Sanak Negeri, tempat saya belajar kalau konservasi juga bisa dilakukan dengan cara yang santai dan menyenangkan. Bermain, membaca, dan ngobrol bersama anak-anak jadi pengalaman yang bikin hati hangat. Nggak kalah seru, saya juga ikut pendampingan kelompok tani (gapoktan), yang membuka pandangan saya bahwa konservasi akan lebih kuat kalau berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.

Kegiatan magang meliputi mendongeng untuk anak-anak petani dampingan YIARI di Gapoktan Beringin 4, juga kegiatan pendampingan lainnya (Anita Fransiska Sihotang)

Pengalaman yang cukup berkesan bagi saya adalah saat pendampingan anak-anak gapoktan di Beringin 4. Di sinilah saya pertama kalinya berdongeng di depan anak-anak. Awalnya sempat grogi dan bingung harus mulai dari mana, tapi melihat antusiasme mereka, rasa canggung itu perlahan hilang. Dari pengalaman sederhana ini, saya belajar bahwa menyampaikan pesan tentang alam dan kepedulian bisa dilakukan dengan cara yang ringan, dekat, dan menyenangkan.

Saya juga berkesempatan ikut kegiatan di Resort Batulima, seperti pengecekan kamera trap dan analisis vegetasi (anveg). Kondisi lapangannya cukup menantang: medan curam, udara dingin, dan akses ke lokasi harus naik motor lewat jalan tanah. Beberapa kali kami berkeliling lokasi di tengah hujan deras, yang bikin perjalanan jadi licin dan deg-degan. Tapi justru di situ serunya. Walaupun basah dan capek, suasana hutan dan spot-spot alam yang bagus bikin pengalaman ini terasa lengkap dan memacu adrenalin.

 Perjalanan menuju Resort Batulima ditempuh melalui medan yang curam (Anita Fransiska Sihotang)

Selama magang, saya tidak hanya mendapatkan ilmu dan pengalaman lapangan, tetapi juga bertemu dengan orang-orang baik yang selalu membantu dan menciptakan suasana kerja yang seru. Capek pasti ada, tapi selalu terbayar dengan kebersamaan, tawa, dan cerita-cerita kecil yang nggak akan saya temukan di bangku kuliah.

Foto bersama dengan teman-teman seperjuangan dan Tim YIARI (Anita Fransiska Sihotang)

Magang dan penelitian di YIARI menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Dari hutan, masyarakat, hingga anak-anak, semuanya memberi pelajaran berbeda tentang arti konservasi. Semoga pengalaman ini bisa menjadi bekal untuk langkah saya ke depan, dan semoga semangat menjaga alam ini bisa terus tumbuh.

Terima kasih YIARI atas kesempatan dan cerita yang luar biasa.
Sampai jumpa di petualangan berikutnya.

Salam Lestari! 🌿

Artikel ini ditulis oleh Anita Fransiska Sihotang, mahasiswi Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera, sebagai bagian dari program magang di YIARI.

Pengalaman Magang Syifa: Langkah Awal Menuju Karier dalam Konservasi Satwa

Halo, sobat #KonservasYIARI!
Mari berkenalan dengan Syifa Syafira Oktaviani, sering dipanggil Syifa. Ia adalah mahasiswa Kedokteran Hewan dari Universitas Udayana di Bali.

Setelah menyelesaikan pendidikan S1, Syifa menantikan wisudanya di bulan Juni. Menunggu kesempatan melanjutkan ke Program Profesi Dokter Hewan, Syifa memilih untuk mengisi waktu dengan magang di YIARI, pusat rehabilitasi satwa di Bogor.

Yuk, simak kisah magangnya!

Motivasi Magang

Dorongan kuat untuk terjun ke dunia konservasi satwa liar membuat Syifa mencari pengalaman praktis.

Dengan cita-cita menjadi dokter hewan satwa liar, ia merasa penting untuk mendalami tidak hanya teori kedokteran hewan, tetapi juga praktik manajemen hewan.

Ini membawanya pada kesempatan magang di pusat rehabilitasi satwa yang dikelola oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia.

Membantu drh.Imam melakukan monitoring anestesi pada tindakan operasi (Dok. Pribadi)

Pengalaman Magang di YIARI

Magangnya berlangsung selama tiga minggu, dari 13 Mei sampai 3 Juni 2024.

Selama waktu tersebut, Syifa terlibat langsung dalam berbagai kegiatan praktis yang diarahkan oleh tim animal management YIARI.

Pembelajarannya meliputi berbagai aspek kedokteran hewan, mulai dari pemeriksaan fisik dasar hingga prosedur-prosedur medis lanjutan yang dibutuhkan oleh satwa yang direhabilitasi.

Melakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan feses metode natif.  drh. Indri sedang melakukan pemeriksaan biokimia darah (Dok. Pribadi)

Belajar dengan Pakar

drh. Indri, drh. Imam, dan drh. Purbo selaku dokter hewan YIARI menjadi mentor Syifa selama magang.

Dari drh. Indri, Syifa mempelajari pemeriksaan fisik dasar seperti mengukur suhu, berat badan, dan melakukan perkusi abdomen. Beliau juga mengajarkan Syifa tentang pemeriksaan penunjang seperti metode natif untuk feses dan biokimia darah, serta tindakan-tindakan medis seperti kastrasi pada kucing.

drh. Imam memperkenalkan Syifa pada teknik pemeriksaan darah, termasuk penghitungan white blood cell count dan differential. Pengalaman praktis dengan drh. Imam juga termasuk monitoring anestesi selama operasi, serta berkesempatan mengobati kambing warga yang mengidap scabies.

drh. Purbo memberikan pengetahuan teoritis dan praktis melalui diskusi intensif. Syifa juga berkesempatan mempresentasikan proyek yang dikerjakannya selama magang, termasuk studi kasus tentang suspect chronic kidney injury pada kukang jawa yang dinamai Harbol.

 

Membantu menyisir bulu kukang yang menggumpal pada saat pemeriksaan fisik (Dok. Pribadi)

Pengalaman di Pos Macaca dan Kukang

Di pos macaca, Syifa belajar mengenai pemberian enrichment, persiapan pakan, pembersihan kandang, dan observasi perilaku Macaca nemestrina serta Macaca fascicularis.

Sementara di pos kukang (yang beraktivitas di malam hari) ia belajar tentang kebutuhan khusus kukang jawa dan kukang sumatera, mulai dari enrichment hingga pemberian pakan dan observasi perilakunya.

Tiga minggu berharga di YIARI telah memperluas pengetahuan dan pengalaman Syifa dalam konservasi satwa. Selain mengasah kemampuan praktisnya, kegiatan ini juga memperkuat komitmennya terhadap pelestarian satwa liar.

Syifa berterima kasih atas peluang luar biasa ini dan berharap bisa memberikan kontribusi lebih banyak lagi di masa depan. Terima kasih Yayasan IAR Indonesia, atas kesempatan belajar yang begitu inspiratif!

Syifa Syafira Oktaviani

_

Ingin memiliki pengalaman magang di YIARI seperti Syifa? Sobat #KonservasYIAR bisa kirimkan detail permohonan magang melalui email atau WhatsApp kami untuk diproses lebih lanjut ya 😉🙏

📧 Email: informasi@internationalanimalrescue.org

📱 WhatsApp:

YIARI Bogor dan Lampung: +628567536660

YIARI Ketapang: +6285652373497

Catatan Magang dan Penelitian Dua Mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Sumatera di Hutan Gambut Kabupaten Ketapang, Kalbar

YIARI membuka banyak peluang magang dan penelitian. Nah, baru-baru ini, tepatnya di akhir tahun 2023 lalu, ada dua mahasiswa Rekayasa Institut Teknologi Sumatera dari Program Studi Rekayasa Kehutanan yang melakukan magang di YIARI untuk melakukan penelitian bersama kami. Masing-masing dari mereka meneliti hal yang berbeda, alhasil pengalaman yang mereka dapatkan juga berbeda. Seperti apa, sih, kisah mereka selama bekerja bersama YIARI? Yuk, simak bersama-sama!

Kisah Magang Irfan Fauzi

Halo, Sobat #KonservasYIARI! 

Nama saya Irfan Fauzi, sebenarnya banyak nama panggilannya, tapi saya lebih suka kalo di panggil Irfan. Saya merupakan mahasiswa tingkat akhir di Institut Teknologi Sumatera dengan mengambil Program Studi Rekayasa Kehutanan yang berfokus pada konservasi satwa. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya diwajibkan untuk melakukan penelitian tugas akhir atau skripsi. Penelitian di bidang konservasi satwa liar termasuk kedalam penelitian yang memerlukan sumber daya yang tinggi mulai dari biaya yang besar, waktu yang lama dan kompetensi yang tinggi. Sempat berpikir untuk pindah ke bidang lain karena hal tersebut. Namun, ketika saya diposisi itu, tiba-tiba saya menerima pesan di group WhatsApp dari salah satu dosen bahwa ada NGO yang bergerak di bidang konservasi dan sedang mengadakan penerimaan penelitian mahasiswa, NGO tersebut adalah YIARI. Saya sudah mengenal YIARI sebelumnya, bahkan saya juga pernah mengundang salah satu orang hebat di YIARI yaitu Mas Robihotul Huda dalam sebuah acara seminar yang diselenggarakan oleh FORESTA ITERA. Tanpa berpikir panjang, saya langsung meyakinkan diri saya untuk mengajukan diri melakukan penelitian bersama YIARI Ketapang.

Perjalanan Irfan Fauzi menuju Camp Punggur Rawan bersama tim YIARI (Dok: Istimewa)

Perjalanan saya bersama YIARI dimulai pada bulan November 2023. Pada dua bulan pertama (November – Desember 2023) saya menjalani kegiatan magang untuk mengenal lebih jauh tentang YIARI, belajar tentang materi sesuai topik yang saya ambil dan survey lapangan untuk menentukan metode penelitian yang akan digunakan. Intinya dua bulan tersebut di berikan untuk persiapan penelitian saya agar diharapkan dapat berjalan dengan lancar. Magang selesai pada pertengahan januari, kemudian penelitianpun di mulai. Saya diarahkan untuk penelitian di hutan desa pematang gadung (HDGP) dengan topik yang saya ambil yaitu tentang mamalia kecil dengan judul “Keanekaragaman Jenis Ordo Scandentia, Rodentia dan Chiroptera di Hutan Desa Pematang Gadung, Kalimantan Barat”.

Selama melakukan penelitian di Hutan Desa Pematang Gadung bersama dengan tim Biodiv banyak pengalaman menarik yang saya alami. Saat di HDGP saya tinggal di camp punggur rawan, camp yang menurut saya adalah keajaiban meskipun camp tersebut ketika musim penghujan, kita tidak akan menemukan daratan di sekelilingnya. Camp punggurawan berada sekitar 1 jam perjalanan menggunakan speedboat dari pelabuhan desa pematang gadung. Posisinya berada sekitar 200 meter dari sungai besar, dibangun diatas air, hanya musim kemarau camp tersebut memiliki dataran disekelilingnya. Ya benar-benar ajaib bagi saya yang sudah cukup sering ke hutan. Kenapa tidak? Hanya disini saya bisa mendapatkan akses internet yang kencang dalam hutan, sehingga mempermudah dalam berkomunikasi dengan pembimbing tugas akhir saya. Selain itu saya juga bisa mendapatkan energi listrik yang cukup baik siang maupun malam, karena di camp Punggur rawan energi listriknya tidak pernah terputus (24 jam). Kemudian dari segi logistik, hanya disini juga saya bisa merasakan minum es teh manis dalam hutan, bagi saya ini adalah salahsatu keajaiban. YIARI memang sangat mengerti terhadap karyawan-karyawannya dengan fasilitas terbaik yang sudah diberikan.

“Penghuni” Camp Punggur Rawan setelah melakukan observasi di lapangan (Dok: Istimewa)

Topik yang saya ambil dalam penelitian ini mengharuskan kami untuk melakukan flying camp. Jangan tanya soal fasilitas, sudah pasti sangat memadai meskipun kegiatan ini jarang di lakukan oleh tim biodiv itu sendiri. Kegiatan flying camp ini benar-benar untuk memenuhi penelitian saya. Saya sangat terbantu banget penelitian bersama dengan YIARI. Selama pengambilan data saya dibantu oleh Tim patroli dan Tim biodiv yang isinya adalah orang-orang baik dan tulus dalam membantu penelitian saya. Banyak hal menarik yang saya alami ketika pengambilan data di hutan desa pematang gadung salahsatunya dalah dari segi medannya. Hutan desa pematang gadung didominasi oleh area gambut yang ketika berjalan rasanya ingin melepas sepatu dan memberikannya ke gambut, soalnya beberapa meter berjalan gambut selalu menahan sepatu saya. Namun hal tersebut terbayarkan dengan keanekaragaman satwa yang saya jumpai. Saya banyak berjumpa dengan satwa-satwa eksotis. Saya bertemu dengan orangutan, bekantan, monyet ekor panjang, burung rangkong, kucing kepala datar, beberapa jenis ular, burung dan terakhir saya bertemu dengan si pemburu bermata bola. Ya saya berjumpa dengan Tarsius, salahsatu yang membuat saya sedikit sombong dengan kawan-kawan saya. Kenapa tidak sombong, berjumpa dengan tarsius liar itu salahsatu anugerah, bagi kawan-kawan konservasi pasti tau alasannya. Perasaan cape, malas, jenuh itu terbayarkan oleh keanekaragaman satwa yang saya temui. Pokoknya seru dan banyak yang bisa saya dapatkan ketika magang bersama dengan YIARI, tidak dapat saya ceritakan satu persatu Intinya sangat-sangat-sangat memuaskan.

Kisah Magang Farros Daffa Churrifian

Saya Farros Daffa Churrifian, mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Kurang lebih satu tahun lalu saya mencari informasi tempat magang di bidang konservasi yang sekaligus bisa melakukan penelitian. Namun salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah pesan yang berisi:

“Yang berminat magang dan riset terkait konservasi di areal Gambut/Hutan Desa di Ketapang, Kalimantan Barat, dengan YIARI Ketapang silakan hubungi saya. Posisi magang dan penelitian terbuka untuk 2 orang.”

Tawaran yang menggiurkan dari Pak Muhajir, dosen saya, untuk bergabung dalam program magang dan penelitian di YIARI Ketapang menjadi awal dari sebuah petualangan yang penuh makna. Dengan fokus pada konservasi di areal gambut dan hutan desa di Ketapang, Kalimantan Barat, tawaran ini tidak hanya menjanjikan pengetahuan akademis, tetapi juga pengalaman lapangan yang tak terlupakan. Setelah menerima tawaran tersebut, saya merasakan antusiasme dan ketertarikan yang besar. Pertemuan dengan Pak Muhajir membuat saya semakin yakin bahwa langkah ini akan memberi dampak besar pada pengembangan pribadi saya di bidang konservasi satwa liar.

Untuk mengarungi hutan gambut, kami menggunakan speed boat supaya jarak yang ditempuh bisa lebih jauh (Dok: Istimewa)

Ketika tiba di kantor YIARI, saya disambut dengan hangat oleh tim yang ramah dan penuh semangat. Mereka seperti membuka pintu untuk kami sebagai anggota baru keluarga YIARI. Melihat kemegahan YIARI Ketapang secara langsung, dengan segala fasilitas dan infrastruktur yang mendukung, membuat saya semakin yakin bahwa saya telah membuat keputusan yang tepat.

Di lingkungan kerja yang hangat ini, saya bertemu dengan para mentor di Divisi Biodiversity seperti Bang Kenned, Bang Busran, dan Bang Lo’o. Mereka bukan hanya berbagi pengetahuan tentang pengolahan data di kantor, tetapi juga membimbing kami tentang kehidupan di lapangan. Dari mereka, saya tidak hanya belajar tentang aspek teknis pekerjaan, tetapi juga mendapatkan wawasan mendalam tentang pentingnya keterlibatan aktif dalam konservasi alam.
Salah satu momen puncak dalam perjalanan ini adalah ketika berada di Camp Punggur Rawan Hutan Desa Pematang Gadung. Camp ini terletak di atas sungai, menyajikan pengalaman yang unik dan mengesankan bagi kami sebagai peserta magang. Fasilitas yang disediakan tidak hanya memenuhi kebutuhan kami, tetapi juga menciptakan atmosfer yang hangat dan nyaman di tengah lingkungan yang alami dan indah.

Ketika observasi, kami menyempatkan diri untuk beristirahat (Dok: Istimewa)

Meskipun medan lapangan yang kami hadapi adalah gambut yang terasa berat, tim lapangan YIARI, terutama Bang Yoyo dan Bang Ujang, senantiasa memberikan dukungan dan bimbingan yang sangat membangun. Mereka tidak hanya mengajar kami keterampilan teknis yang diperlukan di lapangan, tetapi juga memperkuat semangat dan tekad kami untuk terlibat aktif dalam pelestarian lingkungan.

Selama berada di YIARI, saya mempelajari berbagai kegiatan seperti identifikasi satwa dan penggunaan kamera jebak, serta melakukan sensus satwa dan pengolahan data. Pengalaman ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan praktis saya, tetapi juga mengubah pandangan saya tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan memperhatikan ekosistem alam.

Kegiatan yang dilakukan selain belajar bersama tim Biodiversity YIARI, saya juga melakukan penelitian. Penelitian saya mengenai Preferensi Habitat Felidae menjadi tantangan yang nyata. Menghadapi medan yang berat untuk mencapai kamera jebak di setiap lokasi membutuhkan ketahanan fisik yang kuat. Meskipun terkadang terasa melelahkan, setiap langkah yang kami ambil di lapangan membawa kami lebih dekat pada pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan di alam liar dan ekosistem yang kompleks.

Dalam penelitian tersebut, seringkali hasilnya tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Jika mengalami hambatan, saya akan beristirahat sejenak agar membuka kembali pikiran saya dan melanjutkan apa yang saya kerjakan.

Namun, di tengah hambatan yang saya alami, saya juga mendapat bantuan dan arahan yang sangat berarti dari Bang Kenned dan Mbak Nova dari tim YIARI. Dengan penuh kesabaran, mereka membimbing saya melalui setiap langkah analisis, mulai dari pemrosesan data hingga interpretasi hasil.

Kegiatan magang dan penelitian diakhiri dengan presentasi (Dok: Istimewa)


Dengan belajar bersama mereka, saya mulai memahami lebih dalam tentang logika dan metodologi di balik analisis data. Mereka tidak hanya mengajari saya cara menggunakan RStudio dengan efektif, tetapi juga memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana menerapkan berbagai teknik analisis sesuai dengan konteks penelitian. Melalui bimbingan mereka, saya berhasil menyelesaikan analisis data dan akhirnya sampai pada hasil yang signifikan.

Dalam perjalanan magang dan penelitian di YIARI Ketapang, saya telah dibimbing dengan penuh kesabaran dan semangat oleh tim yang luar biasa. Setiap tantangan dan hambatan yang saya hadapi telah menjadi pembelajaran berharga, dan saya merasa bertumbuh baik secara pribadi maupun profesional. Pengalaman ini tidak hanya memberi saya pengetahuan dan keterampilan yang berharga, tetapi juga menginspirasi saya untuk terus terlibat secara aktif di bidang konservasi satwa liar. Terima kasih kepada tim YIARI, atas dukungan, bimbingan, dan inspirasi yang diberikan. Pengalaman ini akan selalu menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi saya.

Pengalaman Herma dan Isna Magang Multidivisi: Belajar SMART Patrol sampai Membuat Pestisida Nabati

HERMA YULIANTIKA

Proses melepaskan plastik sambungan stek pucuk bibit alpukat bersama kelompok tani beringin 4 (Dok. pribadi)

Halo, Sobat #KonservasYIARI saya Herma Yuliantika kerap disapa dengan panggilan herma. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Institut Teknologi Sumatera, program studi S1 Rekayasa Kehutanan semester 6, Saya berasal dari Kotabumi Utara, Lampung Utara. Sebagai seorang mahasiswa Rekayasa Kehutanan, saya tertarik untuk mengikuti magang di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) untuk mengeksplorasi kegiatan di YIARI, kemudian saya juga pernah mengikuti kegiatan di YIARI sebagai volunteer penelitian kupu-kupu pada Agustus 2022.

Saya memiliki minat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pengendalian hama & penyakit atau pemeliharaan tanaman, salah satunya yaitu pestisida nabati. Salah satu divisi di YIARI yaitu Community Developmet (Comdev) memiliki program pendampingan dan monitoring terhadap Gapoktan, salah satunya yaitu pembuatan pestisida nabati yang diaplikasikan di persemaian. Hal tersebut membuat saya semakin tertarik magang di YIARI.

Aktivitas saya selama magang lebih dominan mengikuti kegiatan COMDEV bersama bang Aji Mandala. Saya mengikuti kegiatan pendampingan dan monitoring peternakan dan persemaian di kelompok tani Sumber Makmur, di lokasi tersebut juga saya melakukan wawancara dengan mas wawan dan ibu sri mengenai pestisida nabati yang sudah mereka aplikasikan sebagai bahan pengetahuan saya dalam melakukan penelitian, hasil dari wawancara yang saya dapatkan bahwa kelompok tani yang dibina oleh YIARI cenderung memiliki kemajuan berpikir dalam pengelolaan pertanian yang ditandai dengan penggunaan pestisida nabati yang lebih dominan dibandingkan pestisida kimia.

Kemudian, saya juga mengikuti monitoring persemaian di kelompok tani beringin 4 dan balai rejo. Saat monitoring persemaian di beringin 4, saya bersama anggota kelompok tani mencoba membuat pestisida nabati sebagai bahan penelitian saya yang terbuat dari bahan brotowali dan sereh wangi yang diaplikan pada hama ulat dan penggerek buah kopi.

Hasil diskusi yang saya dapatkan dari kelompok tani beringin 4, penggerek buah kopi menjadi permasalahan yang cukup merugikan petani, oleh sebab itu saya memilih penggerek buah kopi sebagai bahan uji coba pestisida nabati. Hasil pengujian mortalitas yang dilakukan, pestisida nabati cenderung efektif pada hama ulat dan penggerek buah kopi di semua perlakuan hanya yang membedakan lamanya waktu kematian hama.

Herma bersama kelompok tani membuat pestisida nabati dari sereh wangi dan brotowali (Dok. pribadi)

Saya berkesempatan untuk belajar menggunakan aplikasi SMART oleh Mas Ari Sutopo, beliau mengajarkan penggunaan smart desktop dan mobile. Kemudian, saya juga berkesempatan mengikuti kegiatan edukasi oleh kak inggit dalam acara ulang tahun ke-8 Taman Baca Jalosi Sanak Negeri.

Saya juga belajar mengidentifikasi satwa dari hasil camera trap Batutegi yang didampingi oleh bang Aris, saat mengidentifikasi satwa tersebut saya cukup senang karena di hutan batutegi khususnya blok inti masih terdapat satwa yang sebelumnya belum pernah saya lihat secara langsung yaitu kuau, landak, kancil, musang leher kuning, linsang, babi, beruang, dan lain sebagainya.

Kegiatan akhir yang saya ikuti yaitu acara Hari Bebas Plastik Sedunia di gunung tanggamus bersama IAR-BOLANG LANSIA, dari acara tersebut saya jadi memiliki pengalaman mendaki di campground gunung tanggamus dan membuka pemikiran saya mengenai bahaya nya sampah plastik terhadap lingkungan.

Banyak pengalaman menarik selama magang di YIARI, baik di lapangan atau di kantor. Kegiatan COMDEV merupakan kegiatan yang paling berkesan untuk saya karena di COMDEV saya mendapatkan ilmu baru mengenai pengelolaan pertanian dan peternakan yang bijak, serta meningkatkan jiwa bersosialisasi bersama kelompok tani.  Hal menarik lainnya yaitu saya banyak bertemu orang-orang yang hebat di YIARI ataupun komunitas-komunitas lain yang menambah ilmu pengetahuan saya. 

ROISNA YURISBA

Proses pembuatan pestisida nabati dengan bahan disekitar lingkungan masyarakat (Dok. pribadi)

Hai teman-teman, nama saya Roisna Yurisba biasa dipanggil Isna. Saya adalah mahasiswa semester 6 Program Studi S1 Rekayasa Kehutanan dari Institut Teknologi Sumatera, saya berasal dari Tanggamus. Saya tertarik melakukan kegiatan magang di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dikarenakan Program Studi yang saya tempuh memiliki kegiatan yang sama dengan YIARI, sehingga saya dapat peluang untuk belajar, mengasah keterampilan, mengeksplorasi minat, berkontribusi dan dapat membuka pandangan tentang masa depan.

Saya mengenal YIARI saat Bapak Robithotul Huda, S.Si., M.Ling menghadiri acara Seminar Nasional Hasil Ekspedisi Observasi Lingkungan Kehutanan (ORANGUTAN) yang diadakan oleh Himpunan FORESTA serta rekomendasi teman yang pernah menjadi volunteer di naungan YIARI. 

Kegiatan yang telah saya lakukan selama sebulan magang di YIARI Indonesia antara lain mempelajari penggunaan dan mengolah data di SMART App yang berguna untuk mengumpulkan data yang terjadi di sekitar lingkungan didampingi oleh Bang Ari, berkesempatan dapat mengidentifikasi dan mengetahui persebaran satwa liar yang ada di kawasan Batutegi dari camera trap yang didampingi oleh Bang Aris dan melakukan kegiatan Community Development (Comdev) diantaranya menghadiri ulang tahun ke-8 Taman Baca Jalosi Sanak Negeri di Batutegi.

Di sana saya melihat bagaimana antusiasnya anak-anak dalam memeriahkan acara tersebut, saat itu saya bertanya kepada keluarga pemilik Taman Baca tersebut dan menyatakan bahwa anak-anak sangat senang membaca buku bahkan datang ke Taman Baca sebelum waktu yang ditentukan, mengikuti pemantauan dan evaluasi terhadap Gapoktan di Sumber Makmur, Beringin 4, dan Balai Rejo dimana saya mengetahui bagaimana cara melakukan persemaian yang baik terhadap jenis tanaman yang berbeda, pembuatan JAKABA (Jamur Keberuntungan Abadi).

Kemudian saya berkesempatan diajak oleh Kak Inggit untuk mengikuti edukasi Peringatan Hari Tanpa Kantong Plastik Sedunia yang diadakan di Gunung Tanggamus. Penelitian yang saya lakukan di YIARI adalah uji efektivitas insektisida nabati menggunakan bahan buah maja dengan campuran kunyit yang dilakukan di desa Beringin 4 bersama Gapoktan yang dibantu oleh Bang Aji. 

Pembuatan Pestisida Nabati Buah Maja dan Kunyit yang Dibantu Oleh Petani Gapoktan Beringin 4 (Dok. pribadi)

Menurut hasil wawancara bersama Gapoktan desa Beringin 4 menyatakan bahwa hama penggerek buah dapat menyebabkan kerusakan sebesar 20 % yang mengakibatkan buah kopi mengalami pembusukan. Sehingga dengan dibantu dalam pencarian buah maja dan kunyit di lahan petani diharapkan hasil Insektisida Nabati yang telah saya buat dapat mematikan hama tersebut dan menjadi solusi bagi petani kopi. Menurut saya hasil desa yang di bina oleh YIARI sangat berdampak positif bagi pola pikir warga yang dulunya bekerja sebagai pemburu sekarang fokus terhadap persemaian dan warga setempat sangat aktif mengikuti kegiatan dari YIARI seperti berkontribusi mengikuti sekolah lapang.

Selain ramah lingkungan, alasan warga memilih menggunakan pestisida nabati dibandingkan pestisida kimia adalah rendah residu terpaparnya pada hewan, penggunaan lebih aman, bermanfaat bagi kesehatan manusia, dan memanfaatkan keanekaragaman hayati setempat untuk dijadikan sebagai pestisida nabati sehingga saya mendapatkan pengalaman selama magang di YIARI seperti saya memperoleh banyak pengalaman baru, meningkatkan semangat yang tinggi terhadap pengetahuan baru, saya senang bertemu dengan warga yang dapat bertukar informasi terkait pertanian dan bagaimana mengelola tanaman yang baik serta para staf YIARI yang mau membagikan pengetahuannya kepada saya. 

Singkat namun Bermakna, Pengalaman Magang Trio Mahasiswa KSHE IPB melalui Program Merdeka Belajar

Halo, Sobat #KonservasYIARI!

Seneng banget, deh, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menjadi salah satu mitra dari program magang MBKM (Merdeka Belajar – Kampus Merdeka) di departemen kami yaitu departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB University. Bagaimana keseruannya? Inilah pengalaman kami bertiga selama magang di YIARI!

HAFIZA RIZKI NURBAITI

Halo, Sobat #KonservasYIARI!

Nama saya Hafiza Rizki Nurbaiti, biasa dipanggil Fiza. Saya mahasiswa Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE), Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB University. Pada dasarnya, magang di semester 7 merupakan program MBKM wajib di departemen KSHE, dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menjadi salah satu mitra dari program magang tersebut.

Saat stalking media sosialnya YIARI, benak saya langsung berkata “Hah keren banget sosmednya! Pengen deh ngajuin magang di sini!”. Yap! minat dan passion saya memang ada di digital creative, seperti mendesain dan mengedit. Bagaimana YIARI membuat konten kreatif terkait konservasi dan menyampaikan pesan-pesan konservasi di media sosial membuat saya tertarik untuk mempelajari hal tersebut lebih dalam. Alhamdulillah, pada akhirnya, saya dan kedua teman saya yaitu Ayun dan Idon mendapat kesempatan untuk magang di YIARI selama 20 hari.

“Meski singkat, namun bermakna”

Itulah yang saya rasakan selama magang di YIARI. 

Hasil magang Hafiza di YIARI (Dok. Pribadi)
Hasil magang Hafiza di YIARI (Dok. Pribadi)

Selama magang, saya membuat beberapa desain untuk instagram @iar_indonesia, seperti desain hari besar dan desain hasil kegiatan YIARI yang dikemas secara kreatif dan informatif. Oh ya, saya senang banget karena muka dan suara saya juga bisa debut di instagram @iar_indonesia dari konten reels pengenalan The Power of Mama! Hehe. Selain itu, dalam memperingati Hari Owa Sedunia, saya membuat Filter Instagram sebagai bentuk pembaharuan kampanye konservasi. Filter Instagram tersebut dapat kita temukan dan gunakan di Instagram @gibbonesia, yaitu platfrom kampanye satwa Owa.

Ngomong-ngomong soal Gibbonesia, saat magang saya berkesempatan untuk ikut serta dalam kolaborasi Brotherhood for Nature x Gibbonesia di Lapangan Adiron, Jakarta Selatan. Saya bersama tim kampanye ikut memeriahkan acara peringatan ulang tahun ke-35 Bikers Brotherhood. Dan tahu gak, sih? saya ketemu banyak artis di acara itu! 

Hafiza di Acara Peringatan Ulang Tahun ke-35 Bikers Brotherhood (Dok. Pribadi)

Yap! Saya berkesempatan untuk ngajak Chef Juna, Kang Ferry Maryadi, A Eddi Brokoli, dan Kak Bimo Kusumo Yudo untuk kampanye edukasi Owa dengan tag line “Sayangi, Lindungi, Owa”. Tag line tersebut merupakan tema hari Owa Sedunia yang dibuat bersama oleh Gibbonesia, KIARA dan SwaraOwa. Seru banget deh!

Oh ya, meski saya ditempatkan di divisi/program Media and Communication, YIARI juga mempersilahkan saya, Ayun, dan Idon untuk saling bertukar informasi atau bahkan berbagi job desc sehingga kami mendapat kesempatan yang sama untuk belajar di seluruh divisi/program YIARI. Selama magang, banyak hal yang saya pelajari, terutama mengenai cara membuat positive campaign terkait konservasi.

Bagaimana YIARI bekerja dengan pendekatan holistik, membuat pemahaman saya terkait konservasi semakin luas. Ternyata, kita tidak bisa sendirian dalam menghadapi isu konservasi. Kita harus dapat berkolaborasi dengan banyak pihak untuk menyukseskan upaya konservasi yang kita lakukan. Selebihnya, coba deh kalian explore sendiri dengan magang di YIARI! Semua pengalaman yang kalian dapatkan di YIARI pasti berguna untuk kehidupan selanjutnya.

DWI NUR AYUNI

Saya Dwi Nur Ayuni, biasa dipanggil Ayun. Berkuliah di IPB pada program studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan membuat saya terobsesi pada kegiatan turun lapang. Saat semester 7 (tujuh) kemarin, saya beserta teman-teman satu program studi (prodi) berkesempatan melaksanakan magang di berbagai lokasi mitra dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE). Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) adalah lokasi magang yang saya pilih, begitu juga dengan teman-teman saya yakni Hafiza dan Virdhan. Saya sempat merasa minder karena mereka berdua adalah orang hebat di bidangnya yakni content creator dan orang yang terhitung sangat sering turun lapang. Namun biarlah, setiap orang punya masa dan ceritanya sendiri.

Seperti yang semua orang tahu, YIARI adalah lembaga non-profit yang berkomitmen dalam upaya perlindungan primata dan habitatnya di Indonesia. Melalui program-programnya, YIARI berupaya memahami tantangan perlindungan primata, membangun kesadaran masyarakat, dan bekerja sama dengan pemerintah serta komunitas lokal untuk melestarikan primata. Hal tersebutlah yang semakin memotivasi saya untuk melaksanakan magang di YIARI. Selama magang di YIARI, saya berkesempatan untuk belajar menjadi bagian dari tim kampanye. Namun, dalam beberapa kesempatan saya juga turut serta mengikuti kegiatan dari program Animal Management dan menjadi bagian dari tim media untuk dokumentasi kegiatan.

Hasil magang Ayun di YIARI (Dok. Pribadi)

Kegiatan-kegiatan ataupun tugas yang saya kerjakan selama periode magang, tidak hanya memberikan kesempatan untuk belajar mengenai konservasi satwa dan habitatnya, akan tetapi saya juga belajar untuk berkontribusi secara nyata dalam upaya perlindungan satwa-satwa langka dan dilindungi. Selama magang, saya ditugaskan untuk membuat beberapa konten berupa artikel dan trivia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perlindungan primata terutama kukang dan owa jawa. Meskipun awalnya sulit bagi saya yang jarang menulis, saya berhasil menulis beberapa artikel yang beberapa diantaranya dijadikan bahan konten trivia. Menurut saya, ini adalah hal baru dimana saya mengetahui bahwa dibalik konten edukasi sederhana, perlu usaha yang ekstra mulai dari pencarian bahan konten, yang mana sebagai pembuat konten harus tau dan paham apa yang disampaikan, hingga pengeditan konten dengan visual yang menarik sehingga pembaca atau audiens mudah memahami isi konten.

Ayun di Acara Peringatan Hari Owa Sedunia 2023 di PPTK Gambung, Kabupaten Bandung (Dok. Pribadi)

Salah satu pengalaman yang berkesan bagi saya adalah kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan lapangan dalam mendukung konservasi kukang dan owa jawa. Sebagai orang yang lebih suka berkegiatan di luar ruangan, saya sangat menunggu kesempatan ini dan akhirnya yang ditunggu pun datang. Banyak pengalaman yang saya dapatkan di lapangan, mulai dari koordinasi hingga pembuatan press release supaya khalayak umum mengetahui apa yang sudah dilaksanakan oleh YIARI untuk menjaga komitmennya dalam upaya perlindungan primata dan habitatnya.

Suasana kerja yang baik dan dukungan yang diberikan oleh tim dari YIARI membuat pengalaman magang pertama saya menjadi sangat berharga dan menyenangkan. Saya merasa diterima dengan baik di lingkungan kerja ini dan mendapat banyak sudut pandang baru dari rekan-rekan YIARI yang memiliki dedikasi tinggi untuk melindungi primata dan habitatnya. Dengan pengalaman yang saya dapatkan, saya berharap tidak hanya saya, namun semua orang dapat terus berkontribusi dalam upaya pelestarian alam dan menjadi manusia yang membawa perubahan positif dalam masyarakat.

Terima kasih, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia.

VIRDHAN AIMAN HADI

Halo, Sobat #KonservasYIARI!  

Saya Virdhan Aiman Hadi, silahkan panggil saya, Idon. Sebagai mahasiswa semester tujuh program studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, saya berkewajiban melaksanakan magang. YIARI menjadi tempat yang tanpa ragu, langsung saya pilih. Inilah cerita magangku, tentang konservasi dan orang-orang pekerja keras dibalik suara keras primata yang menggaung di alam bebas.

Aktivitas magang Virdhan (Dok. Pribadi)

Pertama kali lihat ada kesempatan magang disini, saya langsung ambil. Kenapa? Magang di YIARI kalo bagi saya tuh “One of a kind..” banget. Dari pertama kuliah, belajar tentang konservasi, salah satu lembaga non pemerintah yang buat saya tertarik ya YIARI ini. Awalnya sih, karena suka belajar primata dan YIARI juga berfokus pada primata, tapi makin kesini makin kesana, kok YIARI ini keren juga. Dari visinya “Dunia tempat manusia dan satwa hidup berdampingan dalam ekosistem yang sehat”, kita bisa lihat bahwa YIARI tidak hanya berfokus untuk menyelamatkan satwa tetapi lebih dari itu, masyarakat pun harus terlibat. 

Berangkat dengan ketertarikan dan minat yang tinggi pada dunia konservasi satwa liar dan sistem informasi geografis, saya sangat menikmati seluruh aktivitas yang telah dilakukan selama magang. Ditempatkan pada Divisi Resiliensi Habitat, saya mendapatkan banyak insight baru tentang upaya konservasi. Salah satunya adalah bahwa untuk menjaga keberlanjutan hidup satwa liar, pendekatan terhadap masyarakat di sekitar kawasan sebegitu pentingnya dan itulah yang dilakukan YIARI. Terbukti dari program yang dilakukan seperti pelatihan SMART Patrol, Community Development, dan juga penyadartahuan kepada masyarakat.

Duduk di kantor, memandang laptop, sambil nyeruput kopi, itu kegiatan saya waktu magang, waktu pura-pura jadi pegawai tetap. Mimpi dulu aja sih. Nah,  Sebenernya, ngapain sih selama magang? kegiatan saya selama magang secara mudahnya berfokus pada tiga hal. Diawali dengan mengolah data SMART Patrol, analisis tutupan lahan dengan sistem informasi geografis, hingga mengikuti patroli di kawasan Resor Gunung Bodas Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Kegiatan yang ketiga, merupakan pengalaman paling berkesan buat saya.

Kegiatan patroli di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (Dok. Pribadi)

Selama mengikuti patroli, saya jadi punya banyak kesempatan untuk berbincang dengan Tim YIARI yang ikut. Selama disana, saya jadi “anak bawang” Kang Gepeng, Kang Kojek, Kang Marko, Kang Uling dan Mang Nedi. Meskipun “anak bawang”, mereka tidak sungkan untuk mengajak, mengajarkan dan membantu saya selama melaksanakan patroli. Pengalaman paling berkesan selama patroli adalah tidak hanya menjadi duet maut pengambil data bersama Kang Kojek, tetapi banyak pengalaman seru lain seperti melihat elang jawa dari dekat, mendaki gunung melewati lembah, sampai menikmati hari dari kering, hujan, hingga kering lagi. Pokoknya kalo kata anak jaksel, patrolinya tuh “It’s a wrapped.” Jadi, magang di YIARI itu seru, asik, dan insightful!

Semua keseruan saya selama magang menuntun saya untuk belajar bekerja keras. Karena selama disana, saya dipertemukan dengan banyak orang yang mulai dari nol (bukan SPBU) hingga benar-benar paham dan pandai sama pekerjaannya. Dari warga lokal biasa, sampai jadi Local Hero! Disini, teori-teori kuliah yang saya dapat di kelas tentang memberdayakan masyarakat benar-benar jadi bahan bakar untuk konservasi yang berkelanjutan. Keterlibatan multipihak, benar benar memiliki arti. Lebih dari sekadar motivasi, konservasi juga butuh dedikasi. Bukan waktunya basa basi, saatnya beraksi untuk konservasi. Semoga manusia dapat hidup berdampingan dengan satwa, living peacefully in harmony.

30 Hari Menjadi bagian dari YIARI bersama Mahasiswi Kedokteran Hewan Unpad

Halo, Sobat #KonservasYIARI

Libur telah tiba bagi kami para mahasiswa semester 2 dan 4. Seneng banget, dong tentunya pulang ke rumah dan bertemu keluarga dan teman. Sebulan di rumah masih oke, tiga bulan di rumah? Tentu aja bosan lah! Ini pengalaman kami mengisi liburan produktif selama 30 hari di Yayasan IAR Indonesia.

Fadhilah Nashrillah

Kegiatan magang Dila di YIARI (dok. pribadi)

Halo, Sobat #KonservasYIARI! Perkenalkan aku Fadhilah Nashrillah, panggil aja Dila. Aku adalah mahasiswa kedokteran hewan semester dua dari Universitas Padjajaran, aku  mengikuti kegiatan magang ini melalui organisasi Asosiasi Minat Bidang Veteriner (Ambivet) dari unit kegiatan mahasiswa jurusan kampusku.

Menurutku magang adalah salah satu aktivitas produktif yang bisa dilakukan selama masa liburan perkuliahan yang cukup panjang. YIARI menjadi salah satu pilihan buatku nih untuk magang, alasan pertama adalah karena yayasan ini berfokus kepada rehabilitasi satwa dan salah satu pusat rehabilitasi kukang terbesar, kebetulan banget aku sangat tertarik untuk mempelajari apa itu rehabilitasi pada satwa liar terutama kukang. Selain itu sebagai mahasiswa kedokteran hewan aku juga tertarik dong untuk mempelajari bagaimana cara pemeriksaan serta pengobatan yang dilakukan kepada satwa liar di tempat rehabilitasi ini.

Kegiatan yang aku lakukan disini sangat beragam. Aku berkesempatan untuk merasakan pengalaman menjadi seorang keeper satwa monyet (Macaca fascicularis), beruk (Macaca nemestrina), kukang jawa (Nycticebus javanicus) dan kukang sumatera (Nycticebus coucang) selama 3 minggu. Sebagai seorang keeper aku belajar untuk berinteraksi dengan satwa di tempat rehabilitasi dengan baik dan benar,Ternyata keeper juga ga boleh terlalu dekat dengan satwanya, loh!. Aku juga belajar untuk membuat berbagai macam enrichment lingkungan dan perilaku yang menarik, enrichment ini gunanya untuk menjaga perilaku normal dari satwa. Tidak hanya membuat enrichment, memberi makan, dan membersihkan kandang sebagai keeper aku belajar untuk bisa mengobservasi perilaku satwa-satwa tersebut, dari hasil observasilah ditentukan apakah satwa rehabilitasi layak untuk dilepasliarkan atau tidak.

Terkadang disela-sela kegiatan aku dipanggil ke klinik untuk mengamati pemeriksaan harian dan melakukan pengobatan pada kukang maupun macaca. Pengalaman di klinik yang cukup seru adalah aku melakukan pengamatan operasi vasectomy sebanyak dua kali pada monyet ekor panjang dan aku juga membantu pemeriksaan ulas darah kukang dan macaca.

Selain di kandang aku juga belajar kampanye sosial media di bagian campaign selama 10 hari terakhir. Berbeda dengan di kandang, di campaign aku mempelajari banyak hal tentang owa dan kukang, di sini aku ngebuat artikel dan trivia. Aku yang tidak pernah membuat artikel dan trivia mencoba pengalaman pertama di kantor YIARI, desain dan artikel aku pun di post di website resmi  gibbonesia.id dan juga instagram @gibbonesia dan @kukangku. Jujur, aku seneng banget!

Walaupun lika-liku perizinannya tidak mudah, banyaknya tes-tes kesehatan yang harus dilakukan agar bisa turun tangan langsung dengan satwa, surat perizinan yang lama turun dari kampus, tapi it’s really worth it! Dengan menjadi keeper aku merasakan ikatan terhadap satwa yang  kurawat. Aku juga memperoleh banyak pengetahuan mulai dari ilmu tentang konservasi alam hingga ilmu saat sedang di klinik.

Pengalaman magang ini membuka pikiran aku terhadap konservasi, dulu dipikiranku konservasi ya hanya melindungi satwa aja. Ternyata banyak aspek lingkungan dan manusia juga yang diperhatikan di tempat konservasi. Nah, sobat #KonservasYIARI pokoknya kalian harus coba deh magang di sini, dijamin ga bakal nyesel!

Atria Destriana Fath

Kegiatan magang Atria di YIARI (Dok. pribadi)

Halo, Sobat #KonservasYIARI !

Kenalin, nama aku Atria Destriana Fath, biasa dipanggil Atria atau Tria. Tapi, kalau ada yang mau manggil sayang juga boleh, kok! Aku mahasiswa semester empat kedokteran hewan dari Universitas Padjadjaran. Aku ikut magang ini melalui unit kegiatan mahasiswa program studi yaitu Asosiasi Minat Bidang Veteriner (Ambivet).

Menurut aku, magang di YIARI seru dan bikin produktif banget! Soalnya selama empat minggu magang, aku dapet banyak banget ilmu, keterampilan, dan pengalaman yang bermanfaat. Awalnya aku pilih YIARI karena YIARI salah satu pusat rehabilitasi satwa yang berfokus di rehabilitasi dan pelepasliaran satwa. Mangkanya aku tertarik banget magang di sini! Selain itu, karena aku pengen banget nambah pengetahuan dan pengalaman aku tentang satwa liar. Oh iya, karena basic aku di kedokteran hewan, aku juga pengen banget belajar gimana cara handling dan perawatan satwa liar.

Kayak yang udah aku sebutin sebelumnya, kalau magang di sini tuh seru dan produktif banget. Lho, kenapa? Soalnya aku bisa ngerasain jadi perawat satwa, khususnya satwa beruk (Macaca nemestrina), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kukang jawa (Nycticebus javanicus), kukang sumatera (Nycticebus coucang), dan kukang kalimantan (Nycticebus borneanus). Selain itu, karena waktu yang aku punya cukup banyak jadinya aku dapet kesempatan buat magang di bagian campaign, lho! Buat cerita lengkapnya aku ceritain di bawah, ya!

Jadi di 10 hari pertama, aku dapet kesempatan jadi perawat satwa di kukang. Seru banget! Aku jadi tau kebiasaan kukang, pakan kukang, dan perilaku normal serta abnormal dari kukang. Aku ngerasain gimana nyiapin pakan kukang, ngasih pakan kukang, bikin enrichment, dan merawat kukang. Terus, aku juga coba observasi kukang jadi aku tau gimana perilaku normal dan abnormal dari kukang. Ternyata bikin enrichment dan observasi kukang seru dan semenarik itu!

Selanjutnya, di 10 hari kedua, aku dapet kesempatan jadi perawat satwa di macaca. Jujur, ternyata seru pisan! Aku jadi tau kebiasaan, pakan, perilaku normal dan abnormal macaca, sama dikasih sneak peek cara vasectomy monyet ekor panjang, xixi. Oh iya, pembuatan enrichment-nya juga seru dan menarik-menarik banget, lho!

Di 10 hari terakhir, aku magang di campaign. Gak kalah seru sama magang di kandang! Magang di campaign ini nambah pengetahuan aku tentang satwa liar, khususnya owa dan kukang. Selain itu, aku juga belajar tentang nulis artikel, bikin video tentang larangan pelihara satwa liar, dan desain buat instastory di akun Instagram @kukangku dan @gibbonesia.

Seru banget, deh! Pokoknya magang di YIARI beneran nambah ilmu, pengalaman, pengetahuan, dan relasi. Pokoknya seru banget dan gak bosenin, hihi! Ditambah, YIARI gak hanya mementingkan kesejahteraan hewan, tapi mementingkan kesejahteraan manusia dan lingkungan. Udahan dulu kali ya cerita-cerita ini. Sampai jumpa lagi Sobat #KonservasYIARI !

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.