Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Kenapa Orangutan Bisa Sehat Meski Terinfeksi Malaria? Ini Rahasianya!

Kita sering mikir kalau tubuh yang sehat itu berarti benar-benar “bersih” dari penyakit. Tidak ada virus, tidak ada bakteri, apalagi parasit.

Tapi ternyata, di alam liar, ceritanya bisa berbeda.

Pada orangutan di Kalimantan, malaria bukan selalu jadi musuh yang harus dihindari mati-matian. Justru, dalam banyak kasus, mereka bisa membawa parasit malaria di dalam tubuhnya… tanpa terlihat sakit sama sekali.

Hal yang lebih mengejutkan, orangutan yang terlalu lama “bebas” dari malaria justru bisa jadi lebih rentan saat terinfeksi lagi.

Temuan ini datang dari penelitian berjudul “Naturally acquired immunity to Plasmodium pitheci in Bornean orangutans (Pongo pygmaeus)” yang dipimpin oleh Sanchez dan tim peneliti lintas institusi, termasuk YIARI, Freie Universität Berlin, dan University of Oxford.

Jadi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa sesuatu yang kita anggap berbahaya malah bisa berperan penting untuk menjaga mereka tetap sehat?

Penelitian selama hampir enam tahun ini mencoba menjawabnya, dan hasilnya mungkin akan mengubah cara kita melihat penyakit di alam liar.

Tidak Semua Infeksi Berarti Sakit

Orangutan kalimantan dilepasliarkan di atas pohon hutan TNBBBR (Muffidz Ma’sum|YIARI)

Kalau dengar kata malaria, kebanyakan dari kita langsung membayangkan demam tinggi, tubuh lemas, dan kondisi yang cukup serius.

Tapi pada orangutan, ceritanya tidak selalu seperti itu.

Dalam penelitian ini, para peneliti menemukan banyak orangutan membawa parasit malaria Plasmodium pitheci di dalam darah mereka, tanpa menunjukkan tanda-tanda sakit sama sekali. Mereka tetap aktif, makan normal, bahkan berperilaku seperti biasa.

Kondisi ini disebut sebagai infeksi tanpa gejala (asimtomatik).

Artinya, tubuh mereka tidak benar-benar “mengusir” parasit tersebut, tetapi justru hidup berdampingan tanpa menimbulkan gangguan yang berarti.

Di sini, ada perbedaan penting yang perlu dipahami:

  • Terinfeksi berarti ada parasit di dalam tubuh
  • Sakit berarti tubuh tidak mampu mengendalikan infeksi tersebut

Pada orangutan, dua hal ini tidak selalu berjalan bersamaan.

Dari sini, muncul satu pertanyaan menarik: kalau infeksi ringan saja sudah cukup untuk “melatih” tubuh, lalu apa yang terjadi pada orangutan yang jarang atau tidak pernah terpapar sama sekali?

Penelitian 6 Tahun yang Mengungkap Rahasianya

Untuk menjawab pertanyaan itu, para peneliti tidak hanya mengamati beberapa kasus lalu menarik kesimpulan. Mereka mengikuti kondisi orangutan dalam jangka panjang, dari Januari 2017 sampai Desember 2022, di pusat rehabilitasi orangutan YIARI di Ketapang, Kalimantan Barat.

Selama periode itu, tim peneliti mengumpulkan total 2.140 sampel darah dari 135 orangutan, dengan rata-rata lama pengamatan sekitar 4,3 tahun per individu. Dari jumlah itu, 1.351 sampel dari 132 orangutan digunakan untuk menganalisis pola infeksi tanpa gejala menurut kelompok umur.

Sampel darah ini diperiksa dengan dua cara utama:

  • Mikroskop, untuk melihat langsung ada tidaknya parasit malaria di dalam darah
  • PCR, yaitu tes laboratorium yang mencari jejak materi genetik parasit, sehingga infeksi tetap bisa terdeteksi meski jumlah parasitnya sangat sedikit

Dengan pendekatan ini, peneliti tidak hanya bisa melihat siapa yang terinfeksi, tetapi juga membandingkan:

  • seberapa sering infeksi muncul
  • seberapa tinggi kepadatan parasit di darah
  • kelompok umur mana yang lebih rentan mengalami malaria klinis atau sakit parah

Jadi, penelitian ini bukan sekadar mencatat “ada malaria atau tidak”, tetapi benar-benar mencoba membaca pola hubungan antara usia, riwayat paparan, dan risiko sakit pada orangutan.

Orangutan Muda Lebih Sering Terinfeksi, Tapi Justru Lebih Tangguh

Dari hasil pengamatan selama bertahun-tahun, peneliti menemukan pola yang cukup mengejutkan.

Kalau biasanya kita mengira yang sering terinfeksi pasti lebih rentan, pada orangutan justru tidak demikian.

Polanya seperti ini:

Kelompok UsiaInfeksi Tanpa GejalaKepadatan ParasitRisiko Sakit Parah
Infant (bayi)34,7%Tertinggi0 kasus
Juvenile (anak)Tertinggi (45,9%)TinggiRendah
Sub-adult26,5%TerendahSedang
Adult (dewasa)23,1%Lebih rendahTertinggi

Dari tabel ini, terlihat satu pola yang cukup kontras:

  • Orangutan muda lebih sering terinfeksi, bahkan dengan jumlah parasit yang tinggi
  • Orangutan dewasa lebih jarang terinfeksi, tetapi lebih sering mengalami kondisi serius

Artinya, frekuensi infeksi tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat keparahan penyakit.

Menariknya lagi, pada kelompok bayi bahkan tidak ditemukan kasus malaria klinis selama periode penelitian. Padahal, mereka tetap bisa membawa parasit dalam jumlah cukup tinggi di dalam darahnya.

Temuan ini memberi petunjuk bahwa sejak usia dini, tubuh orangutan kemungkinan sudah mulai beradaptasi terhadap keberadaan parasit malaria. Bukan dengan menghilangkannya sepenuhnya, tetapi dengan mengendalikannya agar tidak berkembang menjadi penyakit yang serius.

Sebaliknya, pada orangutan yang lebih tua, paparan yang lebih jarang justru bisa membuat tubuh mereka kurang siap ketika infeksi benar-benar terjadi.

Ternyata Sistem Imun Butuh “Latihan”

Dari seluruh hasil penelitian, ada satu pola yang paling menonjol: sistem imun orangutan tidak bersifat tetap, ia perlu terus “dilatih”.

Peneliti melihat kondisi kesehatan orangutan sangat dipengaruhi oleh riwayat paparan mereka terhadap malaria, terutama dalam satu tahun terakhir.

Secara sederhana, polanya seperti ini:

  • Orangutan yang sering terpapar malaria tanpa gejala cenderung punya risiko sakit parah yang lebih rendah
  • Orangutan yang lama tidak terpapar cenderung mengalami penurunan perlindungan imun

Dengan kata lain, tubuh orangutan tampaknya tidak selalu menghilangkan parasit sepenuhnya, tetapi belajar mengendalikannya. Konsep ini sering disebut sebagai use it or lose it,” kalau tidak digunakan, kemampuan itu bisa perlahan hilang.

Bahaya yang Tidak Terduga: Saat Tubuh Terlalu “Bersih”

Peneliti menemukan bahwa orangutan yang tidak terpapar malaria selama sekitar satu tahun memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk mengalami sakit parah saat terinfeksi kembali.

  • Ada paparan dalam 12 bulan terakhir, sehingga infeksi cenderung tetap ringan
  • Tidak ada paparan selama 12 bulan, sehingga risiko sakit parah meningkat drastis

Dalam konteks ini, tubuh yang terlalu lama bebas dari parasit justru kehilangan kesiapan untuk menghadapi infeksi berikutnya. Ketika parasit kembali masuk, respons imun bisa menjadi kurang efektif, sehingga penyakit berkembang lebih serius.

Temuan ini juga menjelaskan kenapa sebagian kasus malaria klinis justru terjadi pada individu yang sebelumnya tidak memiliki riwayat infeksi dalam waktu lama.

Lalu, kalau kondisi ini terjadi pada orangutan yang hidup di pusat rehabilitasi, apa dampaknya ketika mereka kembali ke alam liar?

Apa Artinya Ini untuk Konservasi Orangutan?

Orangutan bernama Mawa di atas pohon yang berada di Pusat Rehabilitasi YIARI  (Muffidz Ma’sum|YIARI)

Di pusat rehabilitasi, kondisi lingkungan sering kali lebih terkontrol. Dalam beberapa kasus, orangutan bisa saja lebih jarang terpapar parasit dibandingkan saat mereka hidup di hutan alami.

Sekilas, ini terlihat seperti hal yang baik. Tapi dari hasil penelitian ini, justru muncul sisi lain yang perlu diperhatikan. Saat mereka kembali ke alam liar (di mana paparan nyamuk dan parasit jauh lebih tinggi), risiko sakit parah bisa meningkat.

Ada beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan:

  • Paparan alami dalam tingkat tertentu bisa membantu menjaga sistem imun tetap aktif
  • Riwayat infeksi menjadi faktor penting sebelum orangutan dilepasliarkan

Selain itu, perubahan lingkungan seperti deforestasi dan fragmentasi hutan juga bisa ikut memengaruhi pola penyebaran malaria. Jika ekosistem berubah, interaksi antara orangutan, nyamuk, dan parasit juga ikut berubah, dan ini bisa berdampak pada kesehatan populasi mereka dalam jangka panjang.

Tidak Selalu Harus Bersih untuk Tetap Sehat

Penelitian ini memberi satu pelajaran sederhana, tapi cukup mengubah cara pandang kita.

Dalam kadar tertentu, keberadaan parasit justru membantu sistem imun mereka tetap “siap siaga”. Tanpa paparan itu, tubuh bisa kehilangan kemampuan untuk merespons saat infeksi benar-benar datang.

Di alam liar, kesehatan bukan tentang menghilangkan semua risiko, tetapi tentang menjaga keseimbangan.

Dari sini, kita bisa melihat bahwa tubuh (baik manusia maupun satwa liar) sebenarnya terus belajar dari lingkungannya. Dan terkadang, hal-hal yang terlihat berbahaya justru punya peran penting dalam menjaga kita tetap bertahan.

Tautan Jurnal

Naturally acquired immunity to Plasmodium pitheci in Bornean orangutans (Pongo pygmaeus). Jurnal Parasitology. [Buka]

Featured image:Orangutan kalimantan bernama Giet di atas pohon yang berada pada Pusat Rehabilitasi YIARI (Muffidz Ma’sum|YIARI)

Pengalaman Magang dan Penelitian Lima Bulan Amel Bersama YIARI

Halo, nama saya Amelia Okta Sari, biasa dipanggil Amel. Saya merupakan mahasiswa semester 8 dari Institut Teknologi Sumatera Program Studi Rekayasa Kehutanan. Saya mendapat kesempatan melaksanakan magang dan penelitian di YIARI Batutegi. Saya tertarik untuk magang dan penelitian di YIARI Batutegi karena saya ingin belajar dan mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan oleh yayasan ini. 

YIARI merupakan lembaga non-profit yang memiliki komitmen kuat dalam upaya perlindungan primata dan habitatnya di Indonesia. Melalui berbagai program konservasi yang dijalankan, YIARI tidak hanya berfokus pada pelestarian primata, tetapi juga berupaya memahami berbagai tantangan di lapangan, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta membangun kerja sama dengan pemerintah dan komunitas lokal. Semangat dan dedikasi tersebut menjadi alasan utama yang mendorong saya untuk memilih YIARI sebagai tempat belajar dan bertumbuh melalui program magang dan penelitian. 

Kegiatan magang dan penelitian saya dilaksanakan dari tanggal 20 Januari – 23 Mei 2025. Saya belajar  banyak mulai dari memprogramkan SMART Mobile untuk inventarisasi kehati, pemasangan kamera trap hingga folderisasi, melakukan kegiatan Community Development (Comdev) berupa penyuluhan mengenai sosialisasi pendampingan petani berkelanjutan serta mengunjungi taman baca Jalosi Sanak Negeri. Selain itu, kegiatan lapangan yang saya ikuti yaitu kegiatan pendataan fenologi Ficus di Stasiun Riset Way Rilau, monitoring Ficus sebagai pal batas di Talang Ajir dan Talang Gadum serta kegiatan survei pelepasliaran Kukang Sumatra di kawasan KPH Way Waya, Lampung Tengah. 

Berkegiatan dengan anak-anak di Taman Baca Jalosi Sanak Negeri (Amelia Okta Sari)

Pengalaman menarik yang saya dapatkan ketika mengikuti kegiatan monitoring Ficus sebagai pal batas di Talang Ajir dan Talang Gadum adalah kegiatan berlangsung selama 3 hari dimana ketika kegiatannya kita harus berjalan kaki menyusuri hutan untuk mencari keberadaan Ficus tersebut sesuai dengan titik koordinat yang telah terdata di Apk Locus Map. Setelah ditemukan kemudian dicatat bagaimana kondisi Ficus tersebut dan seterusnya dilakukan sampai titik Ficus selesai. Kegiatan ini berlangsung dari pagi hari sampai sore hari, kemudian dilanjutkan survei pengamatan kukang pada malam harinya. Ketika akan berpindah tempat ke Talang Gadum saya mendapat pengalaman seru dan pertama kali bagi saya yaitu menyebrang menggunakan sampan dimana hanya bisa diisi oleh 2 orang saja dan harus menjaga keseimbangan. 

Kemudian saat kegiatan survei pelepasliaran kukang sumatra di kawasan KPH Way Waya, Lampung Tengah banyak hal menarik sekaligus menyenangkan yang terjadi. Kegiatan berlangsung selama 10 hari dan dilaksanakan bersama staf YIARI Bogor, yaitu Kang Rifqi, Kang Igud, Kang Uchi, dan Kang Marco, yang mendampingi selama proses survei di lapangan. Survei lapangan ini memberikan tantangan tersendiri karena kami harus menempuh perjalanan dengan medan yang cukup menanjak dan jarak yang tidak dekat untuk mencapai lokasi. Tantangan tersebut semakin terasa ketika memasuki hari kelima kegiatan yang bertepatan dengan hari pertama pelaksanaan ibadah puasa. Kondisi fisik benar-benar diuji, namun hal tersebut justru menjadi pengalaman berharga dalam proses pembelajaran di lapangan.

Kegiatan pendataan fenologi Ficus yang mencakup pencatatan kondisi Ficus (Amelia Okta Sari)

Selama kegiatan berlangsung, aktivitas survei dilakukan sejak pagi hingga sore hari, meliputi survei lokasi serta analisis vegetasi (anveg) untuk menilai kesesuaian habitat. Sementara itu, pada malam hari kami melanjutkan kegiatan dengan melakukan survei keberadaan kukang sebagai bagian penting dalam penilaian calon lokasi pelepasliaran. Pola kegiatan ini memberikan gambaran nyata mengenai tahapan survei konservasi satwa secara menyeluruh. Meski melelahkan, kegiatan ini terasa sangat menyenangkan. Dukungan dan kebersamaan bersama staf  YIARI Bogor menjadi penyemangat tersendiri, terutama ketika rasa lelah mulai terasa di lapangan. Canda dan suasana kekeluargaan yang terbangun membuat kegiatan tetap berjalan dengan penuh semangat. Melalui pengalaman ini, saya tidak hanya memperoleh pengalaman lapangan yang berharga, tetapi juga mempelajari banyak hal dan materi baru mengenai kukang serta upaya konservasinya.

Penelitian yang saya lakukan di YIARI Batutegi adalah Kajian Pendahuluan Serangga Penyerbuk Ficus spp. di Blok Inti Hutan Lindung Batutegi. Saya dibantu oleh Mas Aris, Kang Nedi, Bang Irfan, Bang Gunawan, Mas Nari dan teman-teman dalam melaksanakan penelitian. Saya sangat berterima kasih atas bantuan mereka, terutama saat mengambil buah Ficus spp. dari pohon-pohon yang tinggi, karena tanpa pendampingan mereka, proses ini akan jauh lebih sulit. Selama kegiatan penelitian, saya mendapatkan kesempatan untuk mempelajari hubungan unik antara pohon Ficus spp. dan serangga penyerbuknya. Setiap spesies Ficus spp. ternyata memiliki penyerbuk spesifik, seperti Ceratosolen constrictus pada Ficus fistulosa, Ceratosolen fusciceps pada Ficus callophylla, dan Ceratosolen appendiculatus pada Ficus virgata.

Saat berkegiatan bersama dengan Tim Lapangan (Amelia Okta Sari)

Dari hasil pengamatan, Ficus fistulosa menunjukkan jumlah penyerbuk paling tinggi, yang kemungkinan terkait dengan pola pembuahan dan ketersediaan buah pada fase reseptif yang lebih banyak dibandingkan spesies lainnya. Pengalaman ini memberikan saya pemahaman langsung mengenai pentingnya interaksi spesifik antara tumbuhan dan serangga. Saya belajar bahwa keseimbangan ekosistem sangat bergantung pada hubungan mutualisme yang unik ini, dan setiap detail kecil dalam interaksi tersebut memiliki peran yang krusial bagi kelangsungan hidup kedua spesies.

Lima bulan magang dan penelitian di YIARI Batutegi benar-benar penuh warna dan keseruan! Dari pagi sampai sore saya berkeliling hutan, mencatat pohon Ficus, mempelajari serangga penyerbuknya, sampai malamnya ikut survei kukang yang bikin deg-degan, apalagi ketika harus menyeberang sungai pakai sampan mini yang hanya muat dua orang. Setiap kegiatan mengajarkan sesuatu yang berbeda: kerja keras, ketelitian, dan pentingnya kebersamaan. Bersama staf dan teman-teman, saya merasakan sendiri bagaimana dedikasi dan kolaborasi membuat konservasi jadi nyata.

Penelitian tentang hubungan spesifik antara pohon Ficus dan serangga penyerbuknya juga membuka mata saya ternyata detail terkecil di alam bisa punya peran besar dalam keseimbangan ekosistem. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa konservasi itu bukan cuma motivasi, tapi aksi nyata. Dan yang paling berkesan: setiap langkah kecil di hutan bisa berarti besar untuk masa depan satwa dan alam.

Artikel ini ditulis oleh Amelia Okta Sari, mahasiswa Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera, sebagai bagian dari program magang di YIARI.

Catatan Lapangan Magang dan Penelitian Davit bersama YIARI

Halo, Sobat #KonservasiYIARI!

Saya Davit Aditya, biasa dipanggil Davit. Sebagai mahasiswa semester delapan program studi Rekayasa Kehutanan ITERA, saya berkesempatan melakukan magang serta berkewajiban untuk menyelesaikan tugas akhir/skripsi. Disaat YIARI membuka peluang untuk melakukan magang dan penelitian, saya tanpa ragu langsung mengajukan diri. Mari simak paragraf singkat tentang cerita magang dan penelitian saya bersama dengan orang-orang yang tetap mempertahankan kelestarian alam di saat banyak orang yang memandang sebelah mata.

YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia) merupakan suatu organisasi nirlaba yang berperan dalam upaya perlindungan primata serta habitatnya di Indonesia. Dalam mewujudkan upaya tersebut, YIARI berfokus dalam meningkatkan kesadaran masyarakat melalui pengembangan, edukasi, perlindungan habitat, dan kesehatan masyarakat. YIARI juga berkolaborasi dengan berbagai pihak, salah satunya mahasiswa untuk berkomitmen menjaga kelestarian dan keanekaragaman hayati demi generasi yang mendatang.

Foto bersama dengan tim lapang yang mendampingi selama berkegiatan (Davit Aditya)

Selama periode magang, saya mengerjakan tugas dan mengikuti berbagai kegiatan yang berhubungan langsung dengan alam dan masyarakat. Hal ini memberikan kesempatan saya untuk belajar lebih dalam mengenai konservasi satwa dan habitatnya, selain itu saya juga belajar bersosialisasi dengan masyarakat dari beberapa gapoktan yang dibina oleh YIARI. 

Setiap kegiatan yang saya ikuti memiliki kesan yang berbeda-beda. Namun, karena saya orangnya itu suka kegiatan yang bersinggungan langsung dengan alam, kegiatan-kegiatan di alam sangat berkesan bagi saya terutama yang memacu adrenalin. Salah satu contohnya adalah kegiatan pemasangan plang batas kawasan hutan. Pada kegiatan ini saya ikut bersama Mas Mail, Mas Anang, dan Mas wahyu.

Kegiatan ini paling berkesan karena kegiatan ini diawali dengan perjalanan yang cukup jauh serta rute yang dilewati cukup ekstrim. Bahkan sepanjang perjalanan kami diguyur hujan lebat nonstop, dengan mengendarai motor dan barang bawaan yang lumayan banyak, beberapa kali kami jatuh bangun sampai mandi lumpur. Kami memasang empat plang batas yang titik pemasangannya saling berjauhan dan sesekali nyasar. Meskipun banyak rintangan yang dilewati, kegiatan ini malah jadi sangat berkesan dan seru bagi saya, mungkin kalo ada kesempatan lagi saya bakalan ikut sih…

Kegiatan pemasangan plang batas kawasan hutan (Davit Aditya)

Disela-sela kegiatan magang, saya juga melaksanakan penelitian saya di Stasiun Riset Way Rilau. Karena saya meneliti tentang kodok jadi saya lebih sering berkegiatan malam, diawal survey lokasi penelitian saya didampingi oleh Mas Mail dan Bang Irfan, saya diajak mengeksplor aliran-aliran sungai yang ada di sekitar camp. Pada saat pengambilan data saya lebih sering didampingi Mas Jum, Mas Gunawan, Mas Hendra, dan Bang Irfan.

Selain melakukan penelitian saya sendiri, saya juga terkadang membantu pengambilan data penelitian beberapa rekan saya. Disitu saya bersama Kang Nedi dan terkadang juga bersama Mas Ayun dan Mas Anang. Disela pengambilan data penelitian, terkadang saya diajak memancing dan memanah ikan bersama Mas Ayun dan Mas Gunawan, walaupun saya cuma jadi penonton dan tukang bawa ikannya aja sih…

Pengambilan data penelitian (Davit Aditya)

Selama periode magang bukan hanya keseruan yang saya dapat, berbagai pengalaman yang menjadi first time juga banyak saya dapatkan. Saya juga dipertemukan dengan orang-orang baik yang selalu menghibur saya dan menuntun setiap kegiatan dan tugas yang saya lakukan. Materi-materi yang saya dapatkan di kampus tidak dapat menggantikan apa yang saya dapat disini, dan hal ini juga yang menjadikan saya lebih peduli terhadap kelestarian alam di Indonesia, dan semoga kepedulian ini tidak berhenti di saya saja. See you in the next adventure! Salam lestari!

Artikel ini ditulis oleh Davit Aditya, mahasiswa Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera, sebagai bagian dari program magang di YIARI.

Cerita Lima Bulan Perjalanan Mey Bersama YIARI

Nama saya Meydilla Dian Saputri, biasa dipanggil Mey. Saya mahasiswa Rekayasa kehutanan, Fakultas teknologi industri, Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Saat awal semester 8 kemarin, Saya beserta teman-teman berkesempatan untuk mengikuti program magang sekaligus penelitian di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Kesempatan ini tentu bukan datang dua kali, jadi rasanya sayang banget kalau dilewatkan.

Selama menjalani perkuliahan, saya memiliki ketertarikan yang kuat di bidang konservasi satwa. Ketertarikan ini pelan-pelan tumbuh jadi minat yang mendorong saya untuk terus belajar dan berkontribusi dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati, khususnya perlindungan terhadap satwa liar dan habitatnya. Berangkat dari minat tersebut, saya merasa YIARI adalah tempat yang tepat untuk magang dan melakukan penelitian, yang saya ketahui bahwa YIARI salah satu lembaga konservasi yang memiliki komitmen kuat dalam melindungi dan merehabilitasi satwa liar, khususnya primata seperti kukang dan orangutan. tidak hanya berfokus pada penyelamatan satwa, tetapi juga pada edukasi masyarakat dan pelestarian habitat, sangat sejalan dengan minat dan nilai-nilai yang saya pegang di bidang konservasi satwa

Kegiatan magang dan penelitian saya dilaksanakan selama 5 bulan, rasanya bukan waktu yang sebentar, tapi justru itu yang bikin pengalaman di sana jadi berkesan banget. Selama magang saya diberi kesempatan untuk belajar di semua divisi. Divisi Community Development, Perlindungan & Pengamanan Habitat (PPH), Biodiversity, dan Edukasi jadi benar-benar ngerasain langsung gimana kerja konservasi dari berbagai sisi. Nggak cuma belajar teori, saya juga langsung turun ke lapangan. Mulai pakai aplikasi SMART buat mengelola dan nyatet data lapangan (yang kalau nggak teliti bisa bikin pusing sendiri). Saya juga dikenalkan dengan bioakustik, belajar mengenali suara satwa, yang bikin saya sadar kalau hutan itu sebenarnya rame, cuma kita aja yang jarang denger. 

Pengambilan data lapangan bersama tim YIARI (Meydilla Dian Saputri)

Selain itu, saya juga ikut terlibat dalam kegiatan edukasi di taman baca anak-anak. Di sini saya belajar kalau konservasi itu nggak melulu soal hutan dan satwa, tapi juga soal ngenalin dan nanemin rasa peduli sejak kecil, dengan cara yang santai dan menyenangkan dan saya juga  ikut serta pendampingan kelompok tani (gapoktan) dalam program gulir kambing. Dari kegiatan ini saya makin paham kalau konservasi nggak bisa jalan sendirian, tapi harus barengan sama pemberdayaan masyarakat. Buat saya, semua pengalaman ini luar biasa, karena nggak semua orang punya kesempatan buat belajar selengkap ini dan langsung terjun ke lapangan. Capeknya dapet, ilmunya dapet, pengalamannya, lengkap deh. 

Salah satu pengalaman yang paling berkesan selama saya magang yaitu ikut serta dalam survei potensi habitat untuk lokasi pelepasliaran kukang sumatera yang dilaksanakan selama 10 hari di KPH Way Waya, tepatnya di Resort Sedang Agung yang meliputi pada blok Wana Sejahtera, Blok Sendang Sari dan Blok Menggeh Sipin. Mungkin bagi orang lain ini hal yang biasa saja tapi bagi saya adalah hal yang luar biasa. Selain karena kegiatannya yang menantang dan penuh pembelajaran, saya juga berkesempatan bekerja sama dengan “akang-akang bagor” yang asik banget, ada Kang Ricky (yang akrab dipanggil kang gepeng), Kang Uci, Kang Igud, dan Kang Marco.

Potret “Akang-akang Bagor” saat berkegiatan bersama di di Resort Sedang Agung (Meydilla Dian Saputri)

Mendengar cerita pengalaman dari akang-akang, saya bersyukur bisa dapat bertemu dan mengenal orang-orang yang hebat dan asik ini. Awalnya saya sempat ragu apakah saya bisa cepat beradaptasi, mengingat ini adalah pertemuan pertama dan langsung harus turun ke lapangan hampir dua minggu. Namun, suasana yang seru, asik dan kebersamaan selama di lapangan membuat semua rasa canggung itu hilang begitu saja, bahkan waktu terasa berjalan sangat cepat hingga akhirnya tiba saatnya untuk berpisah.   

Penelitian yang saya lakukan berfokus pada kelimpahan relatif kukang sumatera di blok inti dan blok pemanfaatan KPH Batutegi. Dalam prosesnya, saya nggak jalan sendirian, saya banyak dibantu dan didampingi oleh staf YIARI Mas Ayun, Bang Irfan, Mas Anang, Bang Hendra, dan Nanang, serta teman-teman penelitian lainnya. Saya sangat berterima kasih atas bantuan dan kebersamaan mereka, apalagi karena penelitian ini dilakukan pada malam hari, yang jelas butuh konsentrasi ekstra dan fokus penuh. Rasa lelah pasti ada, tapi selalu terbayar saat waktu istirahat diisi dengan canda tawa yang bikin capek terasa hilang. Bahkan ketika pulang pengamatan kami harus menyeberangi sungai yang sedang banjir sampai setinggi dada, semua itu sama sekali nggak mematahkan semangat justru jadi cerita dan pengalaman yang nggak terlupakan.

Lewat penelitian ini, saya berkesempatan untuk menggali lebih dalam kehidupan kukang, mulai dari kondisi habitatnya, jenis pakan yang dimanfaatkan, hingga pengaruh lingkungan di sekitarnya. Prosesnya jelas nggak mudah dan penuh tantangan, apalagi harus dilakukan dalam kondisi gelap, medan yang sulit, dan keterbatasan pengamatan malam hari. Tapi justru di situlah rasa penasaran saya tumbuh makin besar. Keingintahuan untuk memahami kukang secara lebih utuh bukan cuma sebagai satwa, tapi sebagai bagian dari ekosistem menjadi dorongan kuat yang bikin saya terus bertahan dan belajar sampai sekarang. Penelitian ini bukan sekadar tugas akademik, tapi perjalanan yang membentuk cara pandang saya tentang konservasi dan arti sebuah proses.

Kegiatan saat pengambilan data (Meydilla Dian Saputri)

Melalui kesempatan ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada YIARI atas kesempatan dan pengalaman berharga yang telah diberikan kepada kami para mahasiswa. Bagi saya, YIARI bukan hanya menjadi tempat penelitian dan magang, tetapi juga rumah belajar yang penuh dengan ilmu, pengalaman, semangat, serta dukungan yang luar biasa.

Artikel ini ditulis oleh Meydilla Dian Saputri, mahasiswi Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera, sebagai bagian dari program magang di YIARI.

Magang dan Penelitian Rasa Petualangan Anita di KPH Batutegi Bersama YIARI


Halo, Sobat #KonservasiYIARI!

Perkenalkan, saya Anita Fransiska Sihotang, mahasiswa Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Di semester akhir perkuliahan, saya mendapat kesempatan untuk menjalani magang sekaligus penelitian di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Buat saya, kesempatan ini benar-benar berharga, apalagi karena selama ini saya memang tertarik dengan kegiatan lapangan dan dunia konservasi.
Selama magang di YIARI, saya terlibat dalam berbagai kegiatan dari beberapa divisi. Mulai dari belajar menggunakan aplikasi SMART untuk pencatatan data lapangan, ikut kegiatan Perlindungan dan Pengamanan Habitat, sampai kegiatan Community Development (Comdev). Dari sini saya makin paham kalau konservasi itu luas banget, nggak cuma soal hutan dan satwa, tapi juga tentang manusia yang hidup berdampingan dengan alam.

Perjalanan menuju Stasiun Riset Way Rilau ditempuh menggunakan perahu (Anita Fransiska Sihotang)

Kegiatan lapangan yang saya ikuti cukup beragam. Di Stasiun Riset Way Rilau, saya ikut berbagai aktivitas lapangan yang menuntut ketelitian dan kesabaran. Di sini juga saya pertama kali benar-benar merasakan suasana hutan yang “hidup”. Saya menemukan dan mendengarkan langsung beberapa suara satwa, yang bikin saya sadar kalau hutan itu sebenarnya ramai, cuma kita saja yang sering nggak peka. Momen-momen kecil seperti ini justru jadi pengalaman berkesan, karena terasa sangat dekat dengan alam.

Saya juga ikut monitoring Ficus di Mitra Jaya, menyusuri hutan untuk mengecek titik-titik pohon Ficus yang sudah terdata. Walaupun capek jalan kaki dan medan nggak selalu bersahabat, kegiatan ini bikin saya makin paham betapa pentingnya satu jenis pohon bagi keseimbangan ekosistem. Sambil jalan, kadang disuguhi pemandangan hutan yang bagus, kadang juga diuji sama jalur yang bikin napas ngos-ngosan.

Selain kegiatan di hutan, saya juga ikut kegiatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Salah satunya di Taman Baca Jalosi Sanak Negeri, tempat saya belajar kalau konservasi juga bisa dilakukan dengan cara yang santai dan menyenangkan. Bermain, membaca, dan ngobrol bersama anak-anak jadi pengalaman yang bikin hati hangat. Nggak kalah seru, saya juga ikut pendampingan kelompok tani (gapoktan), yang membuka pandangan saya bahwa konservasi akan lebih kuat kalau berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.

Kegiatan magang meliputi mendongeng untuk anak-anak petani dampingan YIARI di Gapoktan Beringin 4, juga kegiatan pendampingan lainnya (Anita Fransiska Sihotang)

Pengalaman yang cukup berkesan bagi saya adalah saat pendampingan anak-anak gapoktan di Beringin 4. Di sinilah saya pertama kalinya berdongeng di depan anak-anak. Awalnya sempat grogi dan bingung harus mulai dari mana, tapi melihat antusiasme mereka, rasa canggung itu perlahan hilang. Dari pengalaman sederhana ini, saya belajar bahwa menyampaikan pesan tentang alam dan kepedulian bisa dilakukan dengan cara yang ringan, dekat, dan menyenangkan.

Saya juga berkesempatan ikut kegiatan di Resort Batulima, seperti pengecekan kamera trap dan analisis vegetasi (anveg). Kondisi lapangannya cukup menantang: medan curam, udara dingin, dan akses ke lokasi harus naik motor lewat jalan tanah. Beberapa kali kami berkeliling lokasi di tengah hujan deras, yang bikin perjalanan jadi licin dan deg-degan. Tapi justru di situ serunya. Walaupun basah dan capek, suasana hutan dan spot-spot alam yang bagus bikin pengalaman ini terasa lengkap dan memacu adrenalin.

 Perjalanan menuju Resort Batulima ditempuh melalui medan yang curam (Anita Fransiska Sihotang)

Selama magang, saya tidak hanya mendapatkan ilmu dan pengalaman lapangan, tetapi juga bertemu dengan orang-orang baik yang selalu membantu dan menciptakan suasana kerja yang seru. Capek pasti ada, tapi selalu terbayar dengan kebersamaan, tawa, dan cerita-cerita kecil yang nggak akan saya temukan di bangku kuliah.

Foto bersama dengan teman-teman seperjuangan dan Tim YIARI (Anita Fransiska Sihotang)

Magang dan penelitian di YIARI menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Dari hutan, masyarakat, hingga anak-anak, semuanya memberi pelajaran berbeda tentang arti konservasi. Semoga pengalaman ini bisa menjadi bekal untuk langkah saya ke depan, dan semoga semangat menjaga alam ini bisa terus tumbuh.

Terima kasih YIARI atas kesempatan dan cerita yang luar biasa.
Sampai jumpa di petualangan berikutnya.

Salam Lestari! 🌿

Artikel ini ditulis oleh Anita Fransiska Sihotang, mahasiswi Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Sumatera, sebagai bagian dari program magang di YIARI.

Catatan Magang dan Penelitian Dua Mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Sumatera di Hutan Gambut Kabupaten Ketapang, Kalbar

YIARI membuka banyak peluang magang dan penelitian. Nah, baru-baru ini, tepatnya di akhir tahun 2023 lalu, ada dua mahasiswa Rekayasa Institut Teknologi Sumatera dari Program Studi Rekayasa Kehutanan yang melakukan magang di YIARI untuk melakukan penelitian bersama kami. Masing-masing dari mereka meneliti hal yang berbeda, alhasil pengalaman yang mereka dapatkan juga berbeda. Seperti apa, sih, kisah mereka selama bekerja bersama YIARI? Yuk, simak bersama-sama!

Kisah Magang Irfan Fauzi

Halo, Sobat #KonservasYIARI! 

Nama saya Irfan Fauzi, sebenarnya banyak nama panggilannya, tapi saya lebih suka kalo di panggil Irfan. Saya merupakan mahasiswa tingkat akhir di Institut Teknologi Sumatera dengan mengambil Program Studi Rekayasa Kehutanan yang berfokus pada konservasi satwa. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya diwajibkan untuk melakukan penelitian tugas akhir atau skripsi. Penelitian di bidang konservasi satwa liar termasuk kedalam penelitian yang memerlukan sumber daya yang tinggi mulai dari biaya yang besar, waktu yang lama dan kompetensi yang tinggi. Sempat berpikir untuk pindah ke bidang lain karena hal tersebut. Namun, ketika saya diposisi itu, tiba-tiba saya menerima pesan di group WhatsApp dari salah satu dosen bahwa ada NGO yang bergerak di bidang konservasi dan sedang mengadakan penerimaan penelitian mahasiswa, NGO tersebut adalah YIARI. Saya sudah mengenal YIARI sebelumnya, bahkan saya juga pernah mengundang salah satu orang hebat di YIARI yaitu Mas Robihotul Huda dalam sebuah acara seminar yang diselenggarakan oleh FORESTA ITERA. Tanpa berpikir panjang, saya langsung meyakinkan diri saya untuk mengajukan diri melakukan penelitian bersama YIARI Ketapang.

Perjalanan Irfan Fauzi menuju Camp Punggur Rawan bersama tim YIARI (Dok: Istimewa)

Perjalanan saya bersama YIARI dimulai pada bulan November 2023. Pada dua bulan pertama (November – Desember 2023) saya menjalani kegiatan magang untuk mengenal lebih jauh tentang YIARI, belajar tentang materi sesuai topik yang saya ambil dan survey lapangan untuk menentukan metode penelitian yang akan digunakan. Intinya dua bulan tersebut di berikan untuk persiapan penelitian saya agar diharapkan dapat berjalan dengan lancar. Magang selesai pada pertengahan januari, kemudian penelitianpun di mulai. Saya diarahkan untuk penelitian di hutan desa pematang gadung (HDGP) dengan topik yang saya ambil yaitu tentang mamalia kecil dengan judul “Keanekaragaman Jenis Ordo Scandentia, Rodentia dan Chiroptera di Hutan Desa Pematang Gadung, Kalimantan Barat”.

Selama melakukan penelitian di Hutan Desa Pematang Gadung bersama dengan tim Biodiv banyak pengalaman menarik yang saya alami. Saat di HDGP saya tinggal di camp punggur rawan, camp yang menurut saya adalah keajaiban meskipun camp tersebut ketika musim penghujan, kita tidak akan menemukan daratan di sekelilingnya. Camp punggurawan berada sekitar 1 jam perjalanan menggunakan speedboat dari pelabuhan desa pematang gadung. Posisinya berada sekitar 200 meter dari sungai besar, dibangun diatas air, hanya musim kemarau camp tersebut memiliki dataran disekelilingnya. Ya benar-benar ajaib bagi saya yang sudah cukup sering ke hutan. Kenapa tidak? Hanya disini saya bisa mendapatkan akses internet yang kencang dalam hutan, sehingga mempermudah dalam berkomunikasi dengan pembimbing tugas akhir saya. Selain itu saya juga bisa mendapatkan energi listrik yang cukup baik siang maupun malam, karena di camp Punggur rawan energi listriknya tidak pernah terputus (24 jam). Kemudian dari segi logistik, hanya disini juga saya bisa merasakan minum es teh manis dalam hutan, bagi saya ini adalah salahsatu keajaiban. YIARI memang sangat mengerti terhadap karyawan-karyawannya dengan fasilitas terbaik yang sudah diberikan.

“Penghuni” Camp Punggur Rawan setelah melakukan observasi di lapangan (Dok: Istimewa)

Topik yang saya ambil dalam penelitian ini mengharuskan kami untuk melakukan flying camp. Jangan tanya soal fasilitas, sudah pasti sangat memadai meskipun kegiatan ini jarang di lakukan oleh tim biodiv itu sendiri. Kegiatan flying camp ini benar-benar untuk memenuhi penelitian saya. Saya sangat terbantu banget penelitian bersama dengan YIARI. Selama pengambilan data saya dibantu oleh Tim patroli dan Tim biodiv yang isinya adalah orang-orang baik dan tulus dalam membantu penelitian saya. Banyak hal menarik yang saya alami ketika pengambilan data di hutan desa pematang gadung salahsatunya dalah dari segi medannya. Hutan desa pematang gadung didominasi oleh area gambut yang ketika berjalan rasanya ingin melepas sepatu dan memberikannya ke gambut, soalnya beberapa meter berjalan gambut selalu menahan sepatu saya. Namun hal tersebut terbayarkan dengan keanekaragaman satwa yang saya jumpai. Saya banyak berjumpa dengan satwa-satwa eksotis. Saya bertemu dengan orangutan, bekantan, monyet ekor panjang, burung rangkong, kucing kepala datar, beberapa jenis ular, burung dan terakhir saya bertemu dengan si pemburu bermata bola. Ya saya berjumpa dengan Tarsius, salahsatu yang membuat saya sedikit sombong dengan kawan-kawan saya. Kenapa tidak sombong, berjumpa dengan tarsius liar itu salahsatu anugerah, bagi kawan-kawan konservasi pasti tau alasannya. Perasaan cape, malas, jenuh itu terbayarkan oleh keanekaragaman satwa yang saya temui. Pokoknya seru dan banyak yang bisa saya dapatkan ketika magang bersama dengan YIARI, tidak dapat saya ceritakan satu persatu Intinya sangat-sangat-sangat memuaskan.

Kisah Magang Farros Daffa Churrifian

Saya Farros Daffa Churrifian, mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Kurang lebih satu tahun lalu saya mencari informasi tempat magang di bidang konservasi yang sekaligus bisa melakukan penelitian. Namun salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah pesan yang berisi:

“Yang berminat magang dan riset terkait konservasi di areal Gambut/Hutan Desa di Ketapang, Kalimantan Barat, dengan YIARI Ketapang silakan hubungi saya. Posisi magang dan penelitian terbuka untuk 2 orang.”

Tawaran yang menggiurkan dari Pak Muhajir, dosen saya, untuk bergabung dalam program magang dan penelitian di YIARI Ketapang menjadi awal dari sebuah petualangan yang penuh makna. Dengan fokus pada konservasi di areal gambut dan hutan desa di Ketapang, Kalimantan Barat, tawaran ini tidak hanya menjanjikan pengetahuan akademis, tetapi juga pengalaman lapangan yang tak terlupakan. Setelah menerima tawaran tersebut, saya merasakan antusiasme dan ketertarikan yang besar. Pertemuan dengan Pak Muhajir membuat saya semakin yakin bahwa langkah ini akan memberi dampak besar pada pengembangan pribadi saya di bidang konservasi satwa liar.

Untuk mengarungi hutan gambut, kami menggunakan speed boat supaya jarak yang ditempuh bisa lebih jauh (Dok: Istimewa)

Ketika tiba di kantor YIARI, saya disambut dengan hangat oleh tim yang ramah dan penuh semangat. Mereka seperti membuka pintu untuk kami sebagai anggota baru keluarga YIARI. Melihat kemegahan YIARI Ketapang secara langsung, dengan segala fasilitas dan infrastruktur yang mendukung, membuat saya semakin yakin bahwa saya telah membuat keputusan yang tepat.

Di lingkungan kerja yang hangat ini, saya bertemu dengan para mentor di Divisi Biodiversity seperti Bang Kenned, Bang Busran, dan Bang Lo’o. Mereka bukan hanya berbagi pengetahuan tentang pengolahan data di kantor, tetapi juga membimbing kami tentang kehidupan di lapangan. Dari mereka, saya tidak hanya belajar tentang aspek teknis pekerjaan, tetapi juga mendapatkan wawasan mendalam tentang pentingnya keterlibatan aktif dalam konservasi alam.
Salah satu momen puncak dalam perjalanan ini adalah ketika berada di Camp Punggur Rawan Hutan Desa Pematang Gadung. Camp ini terletak di atas sungai, menyajikan pengalaman yang unik dan mengesankan bagi kami sebagai peserta magang. Fasilitas yang disediakan tidak hanya memenuhi kebutuhan kami, tetapi juga menciptakan atmosfer yang hangat dan nyaman di tengah lingkungan yang alami dan indah.

Ketika observasi, kami menyempatkan diri untuk beristirahat (Dok: Istimewa)

Meskipun medan lapangan yang kami hadapi adalah gambut yang terasa berat, tim lapangan YIARI, terutama Bang Yoyo dan Bang Ujang, senantiasa memberikan dukungan dan bimbingan yang sangat membangun. Mereka tidak hanya mengajar kami keterampilan teknis yang diperlukan di lapangan, tetapi juga memperkuat semangat dan tekad kami untuk terlibat aktif dalam pelestarian lingkungan.

Selama berada di YIARI, saya mempelajari berbagai kegiatan seperti identifikasi satwa dan penggunaan kamera jebak, serta melakukan sensus satwa dan pengolahan data. Pengalaman ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan praktis saya, tetapi juga mengubah pandangan saya tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan memperhatikan ekosistem alam.

Kegiatan yang dilakukan selain belajar bersama tim Biodiversity YIARI, saya juga melakukan penelitian. Penelitian saya mengenai Preferensi Habitat Felidae menjadi tantangan yang nyata. Menghadapi medan yang berat untuk mencapai kamera jebak di setiap lokasi membutuhkan ketahanan fisik yang kuat. Meskipun terkadang terasa melelahkan, setiap langkah yang kami ambil di lapangan membawa kami lebih dekat pada pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan di alam liar dan ekosistem yang kompleks.

Dalam penelitian tersebut, seringkali hasilnya tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Jika mengalami hambatan, saya akan beristirahat sejenak agar membuka kembali pikiran saya dan melanjutkan apa yang saya kerjakan.

Namun, di tengah hambatan yang saya alami, saya juga mendapat bantuan dan arahan yang sangat berarti dari Bang Kenned dan Mbak Nova dari tim YIARI. Dengan penuh kesabaran, mereka membimbing saya melalui setiap langkah analisis, mulai dari pemrosesan data hingga interpretasi hasil.

Kegiatan magang dan penelitian diakhiri dengan presentasi (Dok: Istimewa)


Dengan belajar bersama mereka, saya mulai memahami lebih dalam tentang logika dan metodologi di balik analisis data. Mereka tidak hanya mengajari saya cara menggunakan RStudio dengan efektif, tetapi juga memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana menerapkan berbagai teknik analisis sesuai dengan konteks penelitian. Melalui bimbingan mereka, saya berhasil menyelesaikan analisis data dan akhirnya sampai pada hasil yang signifikan.

Dalam perjalanan magang dan penelitian di YIARI Ketapang, saya telah dibimbing dengan penuh kesabaran dan semangat oleh tim yang luar biasa. Setiap tantangan dan hambatan yang saya hadapi telah menjadi pembelajaran berharga, dan saya merasa bertumbuh baik secara pribadi maupun profesional. Pengalaman ini tidak hanya memberi saya pengetahuan dan keterampilan yang berharga, tetapi juga menginspirasi saya untuk terus terlibat secara aktif di bidang konservasi satwa liar. Terima kasih kepada tim YIARI, atas dukungan, bimbingan, dan inspirasi yang diberikan. Pengalaman ini akan selalu menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi saya.