The Power of Mama: Ibu-Ibu Garda Terdepan Penjaga Hutan
Saat sebagian besar orang mulai bersantai di rumah, sekelompok ibu-ibu di pinggiran Desa Ketapang justru bersiap keliling kampung. Bukan untuk belanja bahan makanan atau ngerumpi, tapi untuk berpatroli. Dengan baju merah menyala dan semangat tinggi, mereka menyusuri jalan setapak, memeriksa titik-titik rawan api.
Ketapang adalah daerah yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan peladang. Komoditas utama di wilayah ini adalah kelapa sawit, karena iklimnya yang cocok dan kemampuan tanaman ini untuk dipanen sepanjang tahun.
Sementara itu, padi yang ditanam di Ketapang umumnya merupakan jenis padi sendua atau padi tahunan, yang hanya bisa dipanen dua kali dalam setahun. Hal ini berbeda dengan wilayah Jawa, di mana padi dapat dipanen hingga tiga atau empat kali setahun. Perbedaan ini disebabkan oleh rendahnya curah hujan di sekitar Ketapang, yang berdampak pada ketersediaan air untuk pertanian.

Sebagian besar lahan di Ketapang merupakan lahan gambut, yaitu tanah lembap yang terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan yang belum hancur sempurna. Saat musim kemarau datang, jenis tanah ini menjadi sangat kering dan mudah terbakar. Ditambah dengan angin yang kencang, kebakaran pun bisa menyebar dengan cepat. Bahkan puntung rokok yang dibuang sembarangan bisa menjadi pemicu api.
Setiap musim kemarau, kebakaran bisa terjadi 1–2 kali dalam setahun, membawa dampak besar seperti pada hasil lahan, pencemaran udara, dan kesehatan warga. Melihat ancaman ini terus berulang, para ibu di beberapa desa memutuskan untuk tidak tinggal diam. Mereka membentuk The Power of Mama (TPOM), kelompok ibu-ibu tangguh yang rutin memantau titik rawan api dan aktif mengedukasi warga soal pencegahan dini kebakaran hutan.
Diawali dengan inisiasi Bu Siti dan Bu Maimun, di Desa Sukamaju dan Desa Pematang Gadung. Saat ini, TPOM telah hadir di delapan desa: Pematang Gadung, Sungai Besar, Suka Maju, Sungai Awan Kiri, Tanjung Pura, Ulak Medang, Kuala Tolak, dan Sungai Putri. Setiap hari, dari pukul 10 pagi hingga 3 sore, mereka berpatroli menyusuri titik-titik resiko api.

Selain patroli rutin, TPOM juga aktif melakukan sosialisasi langsung kepada warga tentang bahaya pembakaran lahan sembarangan dan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Mereka tidak serta-merta melarang aktivitas membakar lahan, melainkan menekankan edukasi tentang cara membakar yang aman—seperti membuat parit air sebagai penghalang agar api tidak menyebar, menyediakan alat pemadam di lokasi, dan memastikan proses pembakaran saat membuka lahan diawasi oleh pihak terkait. Pendekatan ini menjadi cara TPOM menjembatani kebiasaan lokal dengan upaya pencegahan kebakaran, mendorong warga untuk lebih berhati-hati dan bertanggung jawab dalam mengelola lahannya.
Kehadiran TPOM membawa perubahan nyata di lingkungan sekitar. Kasus kebakaran yang dulu sering terjadi kini berkurang secara signifikan, dan warga semakin sadar akan pentingnya pencegahan dini. Namun, medan patroli yang harus dilalui para ibu-ibu ini jauh dari mudah. Jalan berbatu, lokasi terpencil, hingga cuaca panas menjadi tantangan harian yang tak bisa dianggap sepele.

Salah satu cerita lucu namun mengesankan datang dari Ibu Daniar saat ia berpatroli bersama Ibu Waskia. Ia mengenang sebuah kejadian, “Waktu itu kami sedang patroli, terus lihat ada api. Saya panik, fokus banget sama apinya sampai nggak sadar ada batang sawit di depan. Karena terlalu fokus sama api, saya malah nabrak pohon sawit itu! Saya jatuh, tapi bukannya sakit, malah ketawa-ketawa sendiri. Habis itu langsung bangkit lagi, terus lanjut bertugas.” Kisah itu menjadi gambaran semangat tak kenal lelah sekaligus sisi hangat dari perjuangan mereka. Karena di balik kerja keras dan risiko yang mereka hadapi, ada tawa, persahabatan, dan kekuatan yang tumbuh dari kebersamaan.
Banyak anggota TPOM yang awalnya belum memiliki keterampilan teknis. Namun melalui berbagai pelatihan seperti pemadaman api, penggunaan drone, pembuatan pupuk organik, komunikasi publik, dan penggunaan medsos dan fotografi, mereka terus belajar dan berkembang. TPOM membuktikan bahwa perempuan juga mampu menjadi penjaga lingkungan, pemadam kebakaran, sekaligus penggerak perubahan di komunitasnya.

Dampak keberadaan TPOM sangat terlihat. Warga mulai beralih ke metode membuka lahan yang lebih ramah lingkungan, seperti penggunaan herbisida. TPOM tidak hanya memadamkan api, tapi juga menyalakan kesadaran menjaga alam.
Kisah mereka juga tidak selalu serius. Saat patroli bertepatan dengan musim panen, para ibu kerap mendapat oleh-oleh buah segar dari warga. Di sela-sela obrolan ringan, mereka menyelipkan sosialisasi tentang bahaya kebakaran hutan, mengimbau agar tidak membakar lahan, menjelaskan risikonya, dan mengenalkan cara-cara yang lebih aman. Patroli pun menjadi momen untuk belajar, menjalin keakraban, dan memperkuat peran mereka di tengah masyarakat.
Pada ulang tahun TPOM, tanggal 16 Juni 2025, sebanyak 118 ibu-ibu dari delapan desa berkumpul di kantor YIARI (Yayasan IAR Indonesia), Ketapang. Acara ini menjadi momen untuk merayakan tiga tahun perjalanan mereka, mulai dari kerja keras, kebersamaan, hingga kontribusi nyata dalam menjaga lingkungan.

The Power of Mama bukan sekadar nama, tapi simbol kekuatan perempuan desa yang berani menjaga bumi untuk generasi mendatang. Dari pelosok Ketapang, mereka membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil dan semangat yang tulus.
Penulis: Theoni Damaris Foedianto
Featured Image: The Power of Mama ketika melaksanakan pemadaman kebakaran (Tim TPoM |YIARI)