Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
The Power of Mama: Ibu-Ibu Garda Terdepan Penjaga Hutan
Saat sebagian besar orang mulai bersantai di rumah, sekelompok ibu-ibu di pinggiran Desa Ketapang justru bersiap keliling kampung. Bukan untuk belanja bahan makanan atau ngerumpi, tapi untuk berpatroli. Dengan baju merah menyala dan semangat tinggi, mereka menyusuri jalan setapak, memeriksa titik-titik rawan api.
Ketapang adalah daerah yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan peladang. Komoditas utama di wilayah ini adalah kelapa sawit, karena iklimnya yang cocok dan kemampuan tanaman ini untuk dipanen sepanjang tahun.
Sementara itu, padi yang ditanam di Ketapang umumnya merupakan jenis padi sendua atau padi tahunan, yang hanya bisa dipanen dua kali dalam setahun. Hal ini berbeda dengan wilayah Jawa, di mana padi dapat dipanen hingga tiga atau empat kali setahun. Perbedaan ini disebabkan oleh rendahnya curah hujan di sekitar Ketapang, yang berdampak pada ketersediaan air untuk pertanian.
The Power of Mama ketika melakukan pemadaman kebakaran ( Tim TPoM | YIARI )
Sebagian besar lahan di Ketapang merupakan lahan gambut, yaitu tanah lembap yang terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan yang belum hancur sempurna. Saat musim kemarau datang, jenis tanah ini menjadi sangat kering dan mudah terbakar. Ditambah dengan angin yang kencang, kebakaran pun bisa menyebar dengan cepat. Bahkan puntung rokok yang dibuang sembarangan bisa menjadi pemicu api.
Setiap musim kemarau, kebakaran bisa terjadi 1–2 kali dalam setahun, membawa dampak besar seperti pada hasil lahan, pencemaran udara, dan kesehatan warga. Melihat ancaman ini terus berulang, para ibu di beberapa desa memutuskan untuk tidak tinggal diam. Mereka membentuk The Power of Mama (TPOM), kelompok ibu-ibu tangguh yang rutin memantau titik rawan api dan aktif mengedukasi warga soal pencegahan dini kebakaran hutan.
Diawali dengan inisiasi Bu Siti dan Bu Maimun, di Desa Sukamaju dan Desa Pematang Gadung. Saat ini, TPOM telah hadir di delapan desa: Pematang Gadung, Sungai Besar, Suka Maju, Sungai Awan Kiri, Tanjung Pura, Ulak Medang, Kuala Tolak, dan Sungai Putri. Setiap hari, dari pukul 10 pagi hingga 3 sore, mereka berpatroli menyusuri titik-titik resiko api.
Kegiatan sosialisasi kebakaran hutan dan lahan ke masyarakat sekitar ( Tim TPoM |YIARI )
Selain patroli rutin, TPOM juga aktif melakukan sosialisasi langsung kepada warga tentang bahaya pembakaran lahan sembarangan dan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Mereka tidak serta-merta melarang aktivitas membakar lahan, melainkan menekankan edukasi tentang cara membakar yang aman—seperti membuat parit air sebagai penghalang agar api tidak menyebar, menyediakan alat pemadam di lokasi, dan memastikan proses pembakaran saat membuka lahan diawasi oleh pihak terkait. Pendekatan ini menjadi cara TPOM menjembatani kebiasaan lokal dengan upaya pencegahan kebakaran, mendorong warga untuk lebih berhati-hati dan bertanggung jawab dalam mengelola lahannya.
Kehadiran TPOM membawa perubahan nyata di lingkungan sekitar. Kasus kebakaran yang dulu sering terjadi kini berkurang secara signifikan, dan warga semakin sadar akan pentingnya pencegahan dini. Namun, medan patroli yang harus dilalui para ibu-ibu ini jauh dari mudah. Jalan berbatu, lokasi terpencil, hingga cuaca panas menjadi tantangan harian yang tak bisa dianggap sepele.
Perjalanan TPoM menuju lokasi patroli ( Ucil | YIARI)
Salah satu cerita lucu namun mengesankan datang dari Ibu Daniar saat ia berpatroli bersama Ibu Waskia. Ia mengenang sebuah kejadian, “Waktu itu kami sedang patroli, terus lihat ada api. Saya panik, fokus banget sama apinya sampai nggak sadar ada batang sawit di depan. Karena terlalu fokus sama api, saya malah nabrak pohon sawit itu! Saya jatuh, tapi bukannya sakit, malah ketawa-ketawa sendiri. Habis itu langsung bangkit lagi, terus lanjut bertugas.” Kisah itu menjadi gambaran semangat tak kenal lelah sekaligus sisi hangat dari perjuangan mereka. Karena di balik kerja keras dan risiko yang mereka hadapi, ada tawa, persahabatan, dan kekuatan yang tumbuh dari kebersamaan.
Banyak anggota TPOM yang awalnya belum memiliki keterampilan teknis. Namun melalui berbagai pelatihan seperti pemadaman api, penggunaan drone, pembuatan pupuk organik, komunikasi publik, dan penggunaan medsos dan fotografi, mereka terus belajar dan berkembang. TPOM membuktikan bahwa perempuan juga mampu menjadi penjaga lingkungan, pemadam kebakaran, sekaligus penggerak perubahan di komunitasnya.
TPoM saat mengikuti pelatihan SMART ( Heribertus Suciadi | YIARI )
Dampak keberadaan TPOM sangat terlihat. Warga mulai beralih ke metode membuka lahan yang lebih ramah lingkungan, seperti penggunaan herbisida. TPOM tidak hanya memadamkan api, tapi juga menyalakan kesadaran menjaga alam.
Kisah mereka juga tidak selalu serius. Saat patroli bertepatan dengan musim panen, para ibu kerap mendapat oleh-oleh buah segar dari warga. Di sela-sela obrolan ringan, mereka menyelipkan sosialisasi tentang bahaya kebakaran hutan, mengimbau agar tidak membakar lahan, menjelaskan risikonya, dan mengenalkan cara-cara yang lebih aman. Patroli pun menjadi momen untuk belajar, menjalin keakraban, dan memperkuat peran mereka di tengah masyarakat.
Pada ulang tahun TPOM, tanggal 16 Juni 2025, sebanyak 118 ibu-ibu dari delapan desa berkumpul di kantor YIARI (Yayasan IAR Indonesia), Ketapang. Acara ini menjadi momen untuk merayakan tiga tahun perjalanan mereka, mulai dari kerja keras, kebersamaan, hingga kontribusi nyata dalam menjaga lingkungan.
Perayaan ulang tahun The Power of Mama yang ketiga ( Muffidz Ma’sum | YIARI )
The Power of Mama bukan sekadar nama, tapi simbol kekuatan perempuan desa yang berani menjaga bumi untuk generasi mendatang. Dari pelosok Ketapang, mereka membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil dan semangat yang tulus.
Penulis: Theoni Damaris Foedianto
Featured Image: The Power of Mama ketika melaksanakan pemadaman kebakaran (Tim TPoM |YIARI)
Ini Dia Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan serta Cara Pencegahannya!
Halo Sobat #KonsevasYIARI!
Akhir-akhir ini, bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia semakin meningkat. Dikutip dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah karhutla di Indonesia tahun 2024 sampai bulan Juli mencapai 150 kejadian.
Bahkan, luas total hutan dan lahan yang terbakar mencapai sekitar 48.725 hektar sejak Januari 2024. Jika dibayangkan, luasnya seperti 68 kali luas lapangan sepak bola!
Bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sendiri telah ditetapkan sebagai bencana alam nasional karena selalu terjadi setiap tahun pada musim kemarau. Dampak yang ditimbulkan dari karhutla tentu ga main-main, nih!
Melalui artikel ini, yuk kita kenali penyebab kebakaran hutan dan lahan, dampak, sekaligus cara pencegahannya!
Faktor Penyebab Karhutla
Pada dasarnya, faktor penyebab karhutla ada dua, yaitu manusia dan alam:
1. Faktor manusia
Aktivitas manusia yang dapat menimbulkan kebakaran hutan dan lahan adalah pembukaan lahan dengan cara dibakar, serta kelalaian manusia saat berwisata alam.
Pembukaan lahan dengan cara dibakar marak dilakukan saat musim kemarau dan tidak terkendali. Tentu, musim kemarau merupakan musim di mana sangat minim sekali intensitas hujan sehingga dinilai dapat mempercepat proses pembakaran.
Pembukaan lahan dengan cara dibakar juga tidak dilengkapi dengan pengawasan, sehingga api bisa saja menjalar kemana-mana.
Perlu dipahami, pembukaan lahan dengan cara dibakar ini termasuk ilegal, ya. Karena sudah ada pelarangannya di dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Api unggun sebagai salah satu aktivitas manusia saat berwisata alam di kawasan hutan (ValentynVolkov | Getty Images)
Selain itu, karhutla bisa terjadi karena kelalaian manusia, khususnya saat berwisata alam di kawasan hutan. Tak jarang para wisatawan membawa sumber api seperti kompor, korek, dan kembang api serta membuat api unggun saat berwisata alam.
Salah satu contoh kasusnya yang terjadi pada tahun 2023 silam di Bukit Teletubbies, Bromo. Percikan api dari kembang api yang dibawa oleh wisatawan terjatuh ke lahan sabana sehingga menyebabkan kebakaran.
2. Faktor alam
Faktor alam yang dapat menyebabkan karhutla biasanya terjadi saat musim kemarau panjang dan aktivitas vulkanik.
Kemarau panjang menyebabkan kenaikan suhu bahkan di wilayah hutan. Naiknya suhu secara ekstrim saat musim kemarau panjang serta wilayah hutan yang kering dapat menimbulkan terjadinya kebakaran hutan.
Vegetasi pada musim kemarau (Jaka Firman Purnama | CC BY-SA 4.0 DEED | Wikimedia)
Wilayah hutan yang berada di sekitar pegunungan berapi juga berpotensi mengalami kebakaran. Seperti saat terjadi letusan gunung berapi, lahar yang dikeluarkan akan mengenai wilayah hutan sehingga terjadi kebakaran hutan.
Apa Saja Dampak Karhutla bagi Kehidupan?
Karhutla memberikan dampak kerusakan dan kerugian, baik bagi lingkungan, satwa liar, dan manusia:
1. Hilangnya habitat flora dan fauna
Hutan merupakan habitat dari berbagai jenis flora dan fauna tak terkecuali flora dan fauna endemik. Ketika terjadi karhutla , tentu api akan melahap apapun yang berada di dalam hutan. Melahap pepohonan yang bahkan tingginya sudah melebihi monumen nasional di Jakarta. Melahap sarang-sarang satwa liar seperti burung dan orang utan. Bahkan melahap satwa liar itu sendiri.
Sebagai contoh kebakaran hutan terparah yang terjadi di Australia pada tahun 2019-2020, lahan hutan seluas 12,6 juta hektar terbakar, menewaskan sekitar 3 miliar hewan. Banyak spesies menjadi terancam punah atau hampir punah sebagai akibatnya. Koala yang merupakan satwa liar endemik Australia terlalap api saat kebakaran terjadi.
2. Penyumbang gas rumah kaca
Gas rumah kaca yang dikenal sebagai penyumbang besar terhadap perubahan iklim dan pemanasan global adalah karbon dioksida. Saat terjadi karhutla, proses pembakaran akan menghasilkan dan melepas gas karbon dioksida terlebih jika lahan yang terbakar adalah lahan gambut. Lahan gambut mengandung konsentrasi karbon yang sangat tinggi loh Sob!
Merujuk ke data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), karhutla yang terjadi di seluruh Indonesia selama periode Januari-Juli 2023 sudah menghasilkan emisi karbon sekitar 9,60 juta ton.
3. Mengganggu kesehatan manusia
Karhutla dapat menjangkau wilayah di luar areal kebakaran, karena menghasilkan kabut asap tebal yang jangkauannya luas. Sebaran kabut asap hasil karhutla dapat mencapai wilayah perkotaan dan pemukiman warga yang menyebabkan perubahan kualitas udara sehingga terjadi pencemaran udara.
Kabut asap akibat karhutla dapat mengganggu kesehatan manusia, seperti bronkitis kronis, menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi lokal pada selaput lendir di hidung, mulut dan tenggorokan, iritasi pada mata dan kulit, menimbulkan keluhan gatal, mata berair, peradangan dan infeksi yang memberat.
Karhutla yang terjadi pada tahun 2019 di Provinsi Riau menyebabkan beberapa wilayah di provinsi tersebut tertutup oleh kabut asap selama beberapa waktu. Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Kota Pekanbaru (2019), jumlah penderita ISPA di Pekanbaru meningkat saat bencana kabut asap akibat karhutla melanda Provinsi Riau.
Setelah kita mengetahui apa saja faktor penyebab dan dampak dari karhutla, saatnya kita melakukan aksi pencegahan karhutla nih Sob!
3 Cara Mencegah Karhutla
Mencegah kebakaran hutan dan lahan bisa dilakukan dengan cara berikut:
1. Pemantauan lokasi titik rawan kebakaran
Pemantauan terhadap lokasi yang memiliki potensi karhutla dapat dilakukan dengan melakukan pemetaan terhadap titik lokasi rawan karhutla. Selain itu, dibutuhkan juga pemetaan terhadap desa penyangga atau sekitar hutan sebagai upaya pencegahan dan akses utama jika terjadi karhutla.
Pemantauan ini biasanya dilakukan oleh instansi terkait (seperti polisi hutan) saat berpatroli. Upaya kolaborasi ketika pemantauan juga bisa dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar lokasi rawan karhutla.
2. Menghindari membuat api di area hutan dan lahan
Masyarakat yang tinggal di sekitar areal hutan ada baiknya tidak melakukan pembakaran lahan dan pembakaran sampah dekat area hutan, yang berpotensi menyebabkan api menjadi lebih besar.
Bagi para wisatawan yang hendak melakukan wisata ke hutan dan lahan, dihimbau untuk lebih memperhatikan sumber api yang dibawa, seperti korek, kompor, dan saat membuat api unggun. Ada baiknya memastikan seluruh sumber api padam sempurna.
3. Melaporkan pada petugas setempat
Jika karhutla terjadi, segera melapor ke petugas setempat atau pihak berwenang seperti kepala desa atau polisi hutan. Hal ini berguna agar segera dilakukan langkah lanjutan, sehingga api tidak semakin besar dan meluas.
Partisipasi dan Peran Masyarakat Dalam Pencegahan Karhutla
Dalam upaya pencegahan karhutla, dibutuhkan semangat kolaboratif antar berbagai pihak terutama dibutuhkan partisipasi dan peran masyarakat secara menyeluruh. Masyarakat menjadi garda terdepan dalam pencegahan karhutla terutama masyarakat yang berada dekat dengan area hutan.
Melalui inisiasi individu, tokoh masyarakat, kelompok masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), sampai pendampingan oleh instansi pemerintah, kini bermunculan berbagai aktivitas dalam upaya pencegahan karhutla.
Prinsipnya, upaya pencegahan karhutla dilakukan secara swadaya, kolektif, dan partisipatif.
Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), yang merupakan salah satu LSM dalam bidang konservasi, turut berpartisipasi aktif dalam upaya pencegahan karhutla. YIARI berkolaborasi dan melakukan pembinaan terhadap komunitas The Power of Mama (TPoM), yaitu melibatkan peran masyarakat (khususnya ibu-ibu) dalam upaya pencegahan karhutla di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Informasi di atas semoga dapat menambah informasi mengenai karhutla, ya.
Tidak perlu turun langsung ke lapang kok, ada cara lain yang bisa kita lakukan. Salah satunya turut serta menyebarluaskan informasi mengenai karhutla ini!
Referensi:
Mulia P, Nofrizal, Dewi WN. 2021. Analisis dampak kabut asap karhutla terhadap gangguan kesehatan fisik. Jurnal Ners Indonesia. 12(1): 51-66.
Widiatmoko WP, Astiani D, Muin S. 2022. Faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan gambut dan upaya pengendalian masyarakat di lanskap Bentang Pesisir Padang Tikar Kabupaten Kubu Raya. Jurnal Hutan Lestari. 10(4): 901-916.
Feature image: Fire forest (Kongdigital | Getty Images)
Sempat Menjadi Peraih Penghargaan Pengendalian Karhutla di Indonesia, The Power of Mama Bagikan Kisah Perjuangannya Mengendalikan Karhutla
Sobat #KonservasYIARI, masih ingat gak sih kalau tahun lalu The Power of Mama (TPoM) yang diwakili oleh Ibu Siti Maimun diundang ke Bogor untuk menerima penghargaan “Clean Air Championship Award 2023”?
Good news, tahun ini TPoM is back to Bogor loh Sob! Ngapain ya?
Jadi, TPoM yang kembali diwakili Ibu Siti Maimun yang kerap dipanggil Ibu Maimun ini mendapat amanah untuk menjadi narasumber talkshow tentang pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Dilaksanakan pada 27 Maret 2024 di IPB International Conference Center (ICC), talkshow ini juga bertajuk “Komunitas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia”.
So, di talkshow ini Ibu Maimun juga ditemani empat narasumber lain yang menceritakan upaya inspiratifnya dalam mengendalikan kebakaran hutan di wilayahnya masing-masing. Seperti Ibu Maimun yang mewakili TPoM, para narasumber talkshow ini juga mewakili kelompoknya yang juga mendapatkan penghargaan Clean air Championship Award tahun lalu. Di antara para narasumber ini, Ibu Maimun-lah yang paling cantik, sebab ia wanita sendiri loh, luar biasa ya! 🤩
Diinisiasi oleh Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University dan Farmers’ Initiatives for Ecological Livelihood and Democracy (FIELD) Indonesia, penghargaan dan talkshow ini dilaksanakan dalam rangka menjalankan program udara bersih Indonesia.
Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya kebanggaan kita, acara kemudian dibuka oleh ketua panitia rangkaian kegiatan yaitu, Prof Bambang Hero Saharjo. Dilanjutkan dengan sambutan dari Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB, Dr. Ir. Naresworo Nugroho
Acara utama terbagi menjadi dua agenda, yaitu pemberian penghargaan “Clean air Championship Award 2024” dan talkshow. Selain dihadiri para peserta undangan, acara ini juga terbuka untuk masyarakat umum yang turut hadir melalui zoom meeting.
Setelah pemberian penghargaan, talkshow karhutla yang moderatori oleh Dr. Ati Dwi Nurhayati selaku dosen departemen Silvikultur IPB pun dimulai. Pada sesi ini, Ibu Maimun juga menceritakan latar belakang terbentuknya TPoM oleh Mama-Mama di Kabupaten Ketapang,
Suasana Pemberian Penghargaan Program Udara Bersih Indonesia Tingkat Nasional Tahun 2024 (Fattreza Ihsan | YIARI)
“Kebakaran yang banyak terjadi pada tahun 2019, terutama di Desa Sukamaju Kabupaten Ketapang menyadarkan kami, para masyarakat yang terdampak. Kami tentunya tidak mau hanya menjadi penonton dan penerima akibat dari karhutla yang terjadi, Kami juga ingin ikut serta dalam pengendalian kebakaran hutan. Kami yang dulunya hanya menerima akibat dari kebakaran hutan dan lahan tersebut, sekarang sudah berpikir akan kegiatan pengendalian karhutla. Kami tidak mau hanya menutup mata dan tidak berpangku tangan ketika karhutla terjadi,” terang Ibu Maimun mengenai keresahan yang ia dan kelompoknya alami pada seluruh peserta talkshow. Ia juga menjelaskan upaya-upaya apa yang telah dilakukan oleh TPOM dalam pemadaman api di desa-desa di Ketapang, Kalimantan Barat. “Upaya yang kami lakukan diantaranya pencegahan dengan penyadartahuan dan sosialisasi yang dilakukan kepada masyarakat, Kami juga ikut memadamkan api. Kami bangga bisa memberikan kontribusi yang baik kepada masyarakat di beberapa desa di lingkungan kami dan akan terus memperluas kontribusi kami ke beberapa desa lain,” ujarnya.
Para narasumber lain juga menceritakan pengalaman tentang upaya yang sudah dilakukan dalam pengendalian karhutla untuk menciptakan udara bersih. Selain Ibu Maimun perwakilan TPoM, narasumber yang hadir antara lain Ir. H. Adi Yani, MH. selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, Bachyuni Deliansyah, SH.MH. selaku Penjabat Bupati Muaro Jambi, Kepala BPBD Provinsi Jambi, Andrean selaku Anggota Manggala Agni Daops Sumatera VII, Rengat, Muhammad Nur. S.Pd. selaku Guru SDN 7, Bandar Laksamana, Bengkalis, Riau dan Muhammad Salim selaku Kader Petani Kuburaya Binaan Field Indonesia.
Ibu Maimun menerangkan pengalamannya bersama kelompoknya, The Power of Mama, mengenai upaya mereka dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Fattreza Ihsan | YIARI)
Tidak hanya selesai di ICC, para panitia, peserta, narasumber bersama sama bertolak ke Kampus IPB Dramaga, tepatnya auditorium Fakultas Ekonomi dan Manajemen untuk ikut menghadiri acara “Pesona Kampus Hijau.”
Acara ini merupakan kolaborasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Media Indonesia dan IPB University berupa talkshow dengan tema “Keberhasilan Indonesia dalam Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan”. Turut dimeriahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, ratusan mahasiswa dan masyarakat umum yang menghadiri acara ini.
Pada kesempatan ini Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc sebagai Keynote Speaker, memberikan sambutannya, “Kegiatan ini merupakan salah satu upaya penyebarluasan informasi dan apresiasi kepada seluruh pihak terkait upaya-upaya yang telah dilakukan pengendalian karhutla di Indonesia. Hal ini juga relevan dan komplementer dengan prakarsa Fahutan IPB yaitu penghargaan pada tingkat tapak dan lapangan dalam upaya kerja penanganan Karhutla”
Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc, selaku Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI memberikan pandangannya mengenai bagaimana keberhasilan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga kedaulatan Republik Indonesia (Fattreza Ihsan | YIARI)
Agenda acara dilanjutkan dengan talkshow yang dimoderatori oleh Valerina Daniel. Narasumber talkshow ini ialah Rektor IPB University, Prof. Dr. Arif Satria, SP, MSi dan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Dr. Bambang Hendroyono, MM.
Agenda acara ini pun ditutup dengan grup musik ternama di Indonesia, yaitu ADA Band 🧑🎤
Semoga The Power of Mama dapat terus menginspirasi dan memberikan dampak positif, tidak hanya untuk wilayah Ketapang ya, tapi juga Pulau Kalimantan, dan Indonesia! 🔥Semangat terus Mama-Mama TPoM! 🙌
Komunitas The Power of Mama Terima Penghargaan Nasional Clean Air Championship Award
Pada 17 November 2023, komunitas The Power of Mama (TPoM) menerima penghargaan “Clean air Championship Award 2023” tingkat petani, MPA, perorangan wilayah Kalimantan. Penerimaan penghargaan ini diwakili oleh Maimun bertempat di Institut Pertanian Bogor (IPB) International Convention Center, Kota Bogor, Jawa Barat. Penghargaan yang diberikan oleh Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University dan Farmers’ Initiatives for Ecological Livelihood and Democracy (FIELD) Indonesia ini merupakan bentuk apresiasi dalam rangka program udara bersih Indonesia.
Menurut Prof. Bambang Hero Saharjo, selaku Ketua Tim Seleksi Penerima Awards di tingkat Kabupaten, Provinsi dan Nasional untuk tiga kategori, penghargaan ini pertama kali diadakan pada tahun 2022. “Latar belakang adanya penghargaan ini di antaranya kami melihat peran dari penerima award ini. Ada yang dari MPA (masyarakat peduli api), kemudian ada yang dari petani, kemudian ada yang dari masyarakat, perorangan. Kemudian juga ada dari instansi, seperti dari DLHK. Kemudian dari manggala agni, sampai ke tingkat perorangan. Menurut kami itu sangat penting dalam hal memberi support dan semangat semua level untuk sepakat menciptakan udara bersih. Kami juga dibantu oleh satu tim research dari United Kingdom yang menetapkan 7 kriteria untuk pemilihan penerima award ini. Jadi sebetulnya ini penghargaan internasional,” ujar Prof. Bambang Hero Saharjo yang juga merupakan Direktur Regional Fire Management Research Center (RFMRC) South East Asia di bawah Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB.
Dalam pidato yang disampaikan di depan para tamu undangan acara penghargaan ini, Maimun sangat mengapresiasi dukungan yang diterima The Power of Mama terutama dari YIARI dan The Orangutan Project (TOP).
Ibu Maimun selaku perwakilan The Power of Mama saat menyampaikan pidatonya (Fattreza Ihsan | YIARI)
“Ini suatu penghargaan yang sangat luar biasa, kalau bagi saya orang biasa, ini adalah mimpi. Tapi tentu ini merupakan suatu tanggung jawab yang bakal kami emban ke depannya. Saya berdiri di sini hari ini sebagai perwakilan dari salah satu anggota organisasi kami, yaitu The Power of Mama. Kami dari The Power of Mama itu terinspirasi oleh Ibu Dokter Karmele Llano Sanchez, Direktur Utama YIARI, karena beliau adalah inisiator kegiatan dari komunitas ini, dan oleh ibu Menteri LHK kita, Ibu Siti Nurbaya, karena beliau adalah sosok perempuan yang menjadi contoh bagi kami untuk bergerak dan berjuang di bidang lingkungan hidup. Kami tidak dibayar dan bukan merupakan suatu instansi, namun sebagai relawan yang bergerak di bidang lingkungan. Jadi kami menjadi bagian dari komunitas ini semata-mata dari hati nurani kami,” ujar Maimun, 53 tahun, yang berasal dari Desa Suka Maju, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Sejumlah dukungan yang telah diterima The Power of Mama, disampaikan lebih lanjut oleh Maimun dalam pidatonya. Ia menjelaskan bahwa kelompok The Power of Mama telah menerima sejumlah program peningkatan kapasitas. Di antaranya pelatihan menggunakan drone untuk memantau kawasan yang rawan kebakaran, SMART Patrol, public speaking, dan pemadaman kebakaran. “Kami berharap The Power of Mama ini akan semakin berkembang, semakin maju, juga bisa menginspirasi kaum wanita, kaum ibu-ibu, tentunya yang ada di pedesaan. Karena kebakaran hutan dan lahan itu tentu beradanya di pedesaan, seperti desa kami yang sering terjadi kebakaran. Semoga kegiatan komunitas kami ini bisa diterima di masyarakat, kami mengharapkan itu bantuan dan dorongan dari semua pihak pemerintah yang ada di Indonesia,” ujar Maimun yang juga aktif sebagai fasilitator desa dan penggerak pertanian organik di desanya.
The Power of Mama yang didirikan pada 8 Juni 2022 ini merupakan komunitas yang terdiri dari para perempuan lintas generasi dan terutama kaum ibu, yang tinggal di kawasan desa di sekitar Ketapang, Kalimantan Barat. Komunitas ini bertujuan menjadikan kaum perempuan dan para ibu sebagai pelopor dalam menggerakkan kesadaran masyarakat sekitar untuk peduli terhadap lingkungan, terutama dalam kegiatan-kegiatan pelestarian alam di kawasan tempat mereka tinggal. Saat ini kegiatan berfokus pada patroli dan monitoring pencegahan kebakaran hutan dan lahan di desa masing-masing sebagai bagian dari persiapan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim.
Selain penghargaan untuk tingkat petani, MPA, perorangan, penghargaan serupa juga diberikan pada tingkat Manggala Agni atau BPBD dan tingkat kelompok di wilayah Kalimantan dan Sumatera (Fattreza Ihsan | YIARI)
YIARI sebagai lembaga yang menginisiasi kemunculan The Power of Mama, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi mendalam atas prestasi yang didapatkan kelompok yang sekarang telah berjumlah 92 ibu-ibu rumah tangga dari 6 desa di Ketapang. “Mereka perempuan hebat yang telah berhasil memberikan inspirasi bagi kita semua, terutama bagi komunitas di sekeliling mereka. Tanggung jawab mereka tidak putus hanya di rumah tangga, tetapi mereka berperan aktif dalam menjaga lingkungan untuk kita semua. Kita harus saling memberi dukungan dan inspirasi sebagai sosok perempuan yang punya peran sangat penting dalam menjaga lingkungan seperti ibu Siti Nurbaya, Menteri LHK yang tidak pernah berhenti menjadi inspirasi untuk kami semua. Kami juga sangat berterima kasih kepada para pihak yang telah memberikan pengakuan atas kerja keras mereka yang telah bekerja dengan sukarela mengamankan lingkungan desa mereka dari kerusakan alam, terutama api. Kami dari YIARI berharap, kemunculan The Power of Mama ini akan menumbuhkan inisiatif-inisiatif masyarakat dalam menjaga alam dan bumi ini,” ujar Karmele Llano Sanchez, Direktur Utama YIARI.
Sejalan dengan harapan YIARI ini, Prof. Bambang Hero Saharjo mengungkapkan bahwa perlu banyak upaya-upaya masyarakat untuk menjaga kualitas udara. “Ketika kita bicara tentang kualitas udara itu, tidak berkaca pada hari ini saja. Karena bisa jadi apa yang terjadi sekarang itu adalah kulminasi dari perjalanan-perjalanan sebelumnya. Di situlah kita melihat ada peran dari masing-masing, apakah itu perorangan, co-leadership dan sebagainya.”