Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Elang Jawa: Ciri, Habitat, Populasi, dan Upaya Pelestarian

Pulau Jawa punya banyak satwa unik yang nggak bisa ditemukan di tempat lain, dan salah satu yang paling terkenal adalah elang jawa (Nisaetus bartelsi).

Burung gagah ini sering disebut sebagai jelmaan Garuda, karena punya jambul tegak yang mirip banget dengan burung di lambang negara Indonesia.

Kalau dilihat dari jauh, elang jawa memang terlihat seperti elang pada umumnya. Tapi kalau diperhatikan lebih dekat, ada banyak hal yang bikin burung ini beda dan istimewa. Penasaran apa saja ciri khasnya? Yuk, kenalan lebih jauh dengan si “Garuda hidup” satu ini!

Ciri-ciri Elang Jawa

Elang jawa atau Nisaetus bartelsi adalah salah satu jenis elang berukuran sedang dari keluarga Accipitridae, yaitu kelompok burung pemangsa yang juga mencakup elang, rajawali, alap-alap, sampai burung nasar.

Jadi, bisa dibilang elang jawa ini masih satu keluarga dengan elang brontok (Nisaetus cirrhatus), elang gunung (Nisaetus alboniger), dan rajawali papua (Harpyopsis novaeguineae).

Nah, berikut ini beberapa ciri khas yang bikin elang jawa beda dari kerabatnya:

  • Ukurannya sedang, tingginya sekitar 70 cm dengan rentang sayap sekitar 1 meter.
  • Punya jambul menonjol sebanyak 2–4 helai dengan panjang sekitar 12 cm.
  • Jambulnya berwarna hitam dengan ujung putih, jadi kelihatan gagah banget.
  • Warna tubuhnya dominan cokelat sampai cokelat gelap, dengan corak coretan di dada dan perut.
  • Matanya berwarna kuning atau kecokelatan, tajam banget kalau sedang mengintai mangsa.
  • Tenggorokannya putih dengan garis-garis hitam.
  • Paruhnya kuat dan berwarna kehitaman, pas banget buat mencabik mangsa.
  • Punya dua kaki yang kokoh dan cakar tajam yang jadi senjatanya berburu.

Dari semua ciri itu, bagian yang paling khas tentu jambul panjang dan tegaknya, mirip sama Garuda di lambang negara kita.

Soal kebiasaannya, elang jawa suka terbang tinggi di langit, tapi juga sering diam bertengger di atas pohon sambil mengamati sekelilingnya dengan tenang.

Habitat Elang Jawa

Sesuai namanya, elang jawa hanya bisa ditemukan di Pulau Jawa, mulai dari Taman Nasional Ujung Kulon di barat sampai Semenanjung Blambangan di Taman Nasional Alas Purwo di ujung timur.

Burung ini lebih suka tinggal di hutan-hutan alami yang masih asri (hutan primer), meski kadang juga bisa ditemukan di hutan sekunder yang masih berdekatan dengan hutan primer.

Elang jawa bisa hidup di berbagai ketinggian, mulai dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian hingga 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Mereka paling betah di hutan lebat dengan pepohonan tinggi, tempat ideal untuk bertengger, berburu, dan membangun sarang.

Habitat favorit elang jawa adalah hutan hujan tropis yang selalu hijau dan jauh dari aktivitas manusia. Di tempat seperti inilah mereka bisa hidup dengan tenang, membesarkan anak, dan menjaga kelestarian populasinya tanpa banyak gangguan.

Baca juga: 9 Fakta Menarik tentang Badak Jawa, Satwa Langka dari Ujung Kulon!

Fakta Menarik Elang Jawa

Burung berjambul gagah ini tak hanya menarik dari penampilannya saja, tapi juga dari sifat dan perilakunya. Yuk, simak beberapa fakta menarik tentang elang jawa berikut:

1. Identik dengan Lambang Negara Indonesia

Elang jawa sedang bertengger di pohon/Aris Hidayat YIARI 

Banyak orang masih penasaran seperti apa wujud asli Garuda, burung mitologis yang jadi lambang negara Indonesia. Ternyata, elang jawa sering dianggap sebagai representasi visual dari Garuda karena punya kemiripan bentuk dan warna.

Jambul tegak, postur tubuh yang gagah, serta warna bulu cokelat gelap hingga keemasan membuat elang jawa terlihat mirip dengan burung sakral tersebut. Tak heran kalau banyak yang menyebutnya “Garuda hidup”.

2. Setia pada Pasangannya (Monogami)

Sama seperti kisah cinta sejati, elang jawa dikenal sebagai burung yang setia. Berdasarkan data dari Perpustakaan Kementerian Lingkungan Hidup, elang jawa bersifat monogami, artinya hanya memiliki satu pasangan seumur hidup.

Kalau salah satu pasangannya mati, elang jawa bisa membutuhkan waktu lama untuk kembali mencari pasangan baru, bahkan ada yang memilih hidup sendiri.

3. Bertelur Sekali dalam Dua Tahun

Elang jawa punya periode bertelur antara Januari sampai Juni, dengan masa inkubasi sekitar 47 hari. Uniknya, dalam satu periode, induk betina hanya menghasilkan satu butir telur saja. Itu pun setiap dua tahun sekali.

Selain itu, meskipun sepasang elang jawa ditempatkan dalam satu kandang, mereka belum tentu berjodoh. Butuh kecocokan alami agar keduanya benar-benar bisa menjadi pasangan.

4. Suka Bersarang di Pohon-Pohon Tinggi

Elang jawa sedang bertengger di pohon/Denny Setiawan YIARI 

Elang jawa dikenal pintar memilih tempat untuk bersarang. Biasanya, mereka membuat sarang di pohon-pohon tinggi dengan cabang yang tidak terlalu rapat, supaya mudah dijangkau saat terbang masuk atau keluar.

Dari sekian banyak jenis pohon di habitatnya, elang jawa paling sering memilih pohon cemara (Pinus merkusii), ki sireum (Eugenia clavimyrtus), rasamala (Altingia excelsa), puspa (Schima wallichii), pasang (Lithocarpus sundaicus), dan huru (Litsea cordata).

Menariknya, mereka sering menggunakan sarang yang sama selama bertahun-tahun, hanya menambah ranting dan daun baru untuk memperbaikinya setiap musim kawin.

5. Punya Penglihatan Super Tajam

Selain jambulnya yang khas, elang jawa terkenal dengan penglihatannya yang luar biasa tajam. Mata elang jawa bisa mendeteksi gerakan kecil dari jarak sangat jauh. Saat terbang tinggi atau bertengger di dahan, elang ini bisa langsung menandai targetnya dengan presisi luar biasa sebelum menyambar dengan cepat dan tepat.

6. Si Pemangsa Daging (Karnivora)

Sebagai burung pemangsa sejati, elang jawa adalah karnivora. Mereka memakan mamalia kecil, reptil, amfibi, hingga burung-burung kecil lainnya. Elang jawa tergolong predator oportunis. Artinya, mereka akan memangsa apa pun yang tersedia di wilayah jelajahnya, selama ukuran mangsa sesuai dan mudah diburu.

Dengan kekuatan cakar dan paruhnya yang tajam, elang jawa mampu menangkap, mencengkeram, dan mencabik mangsa dengan sangat efisien.

7. Pemalu dan Menjauhi Aktivitas Manusia

Meskipun tampak gagah dan ganas saat berburu, ternyata elang jawa adalah burung yang pemalu. Mereka tidak suka berada di area yang ramai atau dekat dengan aktivitas manusia. Itulah sebabnya elang jawa lebih sering ditemukan di hutan-hutan terpencil dan lebat, jauh dari pemukiman.

Burung ini lebih memilih bersembunyi di balik rimbunnya pepohonan dan baru terlihat ketika sedang terbang melintas di langit.

Populasi Elang Jawa

Elang jawa sedang terbang/Aris Hidayat YIARI 

Sayangnya, populasi elang jawa terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK):

  • Pada tahun 2005, jumlah elang jawa tercatat sekitar 425 pasang.
  • Lima tahun kemudian (2010), jumlahnya menurun menjadi 325 pasang.
  • Penurunan drastis terjadi pada tahun 2018, dengan hanya tersisa sekitar 188 pasang.
  • Kini, populasi elang jawa diperkirakan hanya sekitar 150–250 pasang atau sekitar 300–500 individu saja di alam liar.

Penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti hilangnya habitat akibat deforestasi, perburuan liar, dan gangguan manusia terhadap area bersarang.

Status Konservasi Elang Jawa

Dalam Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature), elang jawa dikategorikan sebagai spesies terancam punah (Endangered).

Di Indonesia, perlindungan terhadap elang jawa diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Perlindungan tersebut juga ditegaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Selain itu, berdasarkan keputusan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), elang jawa telah ditetapkan sebagai simbol satwa langka nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993.

Upaya Pelestarian Elang Jawa

Elang jawa sedang bertengger di pohon/Aris Hidayat YIARI 

Populasi elang jawa di alam liar menunjukkan burung berjambul ini tengah menghadapi ancaman serius, mulai dari hilangnya habitat hingga gangguan aktivitas manusia. Untuk menjaga kelestariannya, berbagai upaya konservasi telah dilakukan oleh pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat.

Beberapa lembaga dan kawasan yang berperan aktif dalam pelestarian elang jawa antara lain:

  • Pusat Konservasi Elang Jawa (PKEK) di Kamojang, Garut, Jawa Barat
  • Pusat Konservasi Elang Loji, Sukabumi, Jawa Barat
  • Cagar Alam Gunung Sigogor dan Cagar Alam Gunung Picis, Ponorogo, Jawa Timur
  • Taman Safari Indonesia, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

Selain itu, upaya konservasi juga dilakukan di berbagai taman nasional dan kawasan hutan lindung yang merupakan habitat alami elang jawa, seperti:

  • Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Jawa Barat
  • Taman Nasional Ujung Kulon, Banten
  • Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur
  • Taman Nasional Gunung Merbabu dan Gunung Merapi, Jawa Tengah
  • Kawasan hutan lindung di Pegunungan Dieng, Pegunungan Slamet, dan Pegunungan Argopuro

Kawasan-kawasan tersebut berfungsi sebagai habitat alami, lokasi rehabilitasi, dan tempat pelepasliaran bagi elang jawa yang telah menjalani perawatan di pusat konservasi.

Baca juga: 30 Kupu-Kupu Langka di Indonesia yang Wajib Kamu Tahu

Menjaga Si “Garuda Hidup” Tetap Terbang Bebas

Elang jawa bukan cuma burung biasa, ia adalah simbol kebanggaan Indonesia sekaligus penjaga keseimbangan hutan di Pulau Jawa. Dengan jambul tegaknya yang khas dan posturnya yang gagah, elang jawa jadi gambaran sempurna dari keteguhan dan keindahan alam nusantara.

Sayangnya, populasinya yang terus menurun membuat kita harus sadar kalau pelestarian satwa ini tidak bisa ditunda lagi. Hal sederhana seperti menjaga kelestarian hutan, tidak membeli satwa liar, dan mendukung program pelestarian sudah jadi langkah besar untuk membantu mereka tetap hidup aman di alamnya.

Yuk, sama-sama kita jaga si “Garuda hidup” dari Tanah Jawa ini agar tetap bisa terbang tinggi di langit Indonesia!

Referensi

  1. eBird. Javan Hawk-Eagle [Buka]
  2. Peraturan Menteri Kehutanan RI Nomor P.58/Menhut-II/2013. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Elang Jawa Tahun 2013 – 2022 [Buka]
  3. Perpustakaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Pelestarian Elang Jawa Terkendala [Buka]
  4. Featured image: Elang jawa sedang bertengger di pohon/Denny Setiawan YIARI

11 Fakta Unik Badak Sumatera, Badak Paling Kecil di Dunia!

Di antara semua spesies badak yang masih hidup, ternyata ada satu yang ukurannya paling kecil, lho! Namanya badak sumatera, dengan nama latin Dicerorhinus sumatrensis.

Meski tubuhnya paling mungil, badak ini punya banyak keunikan yang membedakannya dari jenis badak lainnya.

Yuk, kenalan lebih dekat lewat fakta-fakta menarik tentang badak sumatera!

11 Fakta Badak Sumatra

Sebagai salah satu satwa paling langka di dunia, badak sumatera menyimpan banyak keunikan yang jarang diketahui:

1. Satu-satunya Badak yang Berbulu

Badak sumatera merupakan satu-satunya spesies badak yang memiliki bulu.

Kulitnya berwarna cokelat kemerahan dengan bulu pendek, gelap, dan kaku. Pada individu yang hidup di penangkaran, bulu cenderung lebih lebat dan panjang karena minim gesekan dengan tumbuhan.

Fungsi bulu ini sangat penting, yakni membantu menjaga lumpur tetap menempel di kulit. Lumpur berperan untuk mendinginkan tubuh sekaligus melindungi dari gigitan serangga.

Karakteristik berbulu ini membuat badak sumatera lebih erat kaitannya dengan spesies badak berbulu yang sudah punah, dibandingkan dengan spesies badak lain yang masih hidup hingga kini.

2. Punya Dua Cula

Badak sumatera memiliki dua cula berwarna abu-abu gelap hingga hitam. Cula ini berbentuk kerucut ramping, melengkung ke belakang, dan permukaannya relatif halus.

Cula depan berukuran lebih besar, dengan panjang sekitar 25–79 sentimeter. Sementara itu, cula kedua jauh lebih kecil, rata-rata hanya sekitar 10 sentimeter, bahkan kadang hanya berupa benjolan tidak beraturan di ujung hidung.

Seperti halnya rambut dan kuku manusia, cula badak sumatera tersusun dari keratin. Artinya, jika patah, cula tersebut mampu tumbuh kembali.

Baca juga: Mengenal Burung Cendrawasih: Definisi, Jenis, Habitat, Ancaman, dan Upaya Pelestarian

3. Tinggal di Hutan Tropis yang Sulit Dijangkau

Habitat badak sumatera berada di hutan hujan tropis yang lebat, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.

Hutan ini menyediakan tempat hidup ideal, dengan medan berbukit dan pegunungan yang sesuai untuk gaya hidup spesies ini.

Dahulu, badak sumatera dapat ditemukan di seluruh Asia Tenggara, terutama di hutan pegunungan lebat di Malaysia, Indonesia, Myanmar, dan Thailand, serta di kaki Pegunungan Himalaya di Bhutan.

Namun, populasinya menurun drastis. Kini badak sumatera hanya bertahan di beberapa kawasan di Indonesia, seperti Taman Nasional Bukit Barisan, Gunung Leuser, dan Way Kambas. Sebuah populasi kecil juga baru-baru ini ditemukan di Kalimantan Tengah.

4. Mengalami Krisis Populasi

Saat ini, populasi badak sumatera diperkirakan hanya tersisa 39–47 ekor di alam liar. Jumlah yang sangat sedikit ini membuatnya masuk dalam kategori sangat terancam punah (Critically Endangered) menurut IUCN sejak 1996.

Penurunan populasi ini dipicu oleh perburuan liar, kerusakan habitat, serta meningkatnya aktivitas manusia di sekitar kawasan hutan.

Sebagai langkah pelestarian, pemerintah mendirikan Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) di Taman Nasional Way Kambas pada tahun 1998.

Berdiri di atas lahan seluas 100 hektare, SRS kini menjadi rumah bagi tujuh ekor badak, termasuk dua anak badak sumatera yang lahir di sana: Andatu (2012) dan Delilah (2016).

5. Ukuran Tubuh yang Kecil

Individu badak sumatera sedang berendam di kubangan lumpur/Source: Instagram Kemenhut

Badak sumatera merupakan spesies badak terkecil di dunia. Berat tubuhnya berkisar antara 500–960 kilogram, dengan tinggi sekitar 1–1,5 meter dan panjang tubuh mencapai 2,5 meter. Tinggi bahunya umumnya berada di kisaran 1,2–1,45 meter.

Ukuran tubuh yang relatif kecil ini membuat badak sumatera lebih lincah saat bergerak di hutan hujan tropis yang lebat dan berbukit. Hal ini menjadi salah satu keunggulan adaptif dibandingkan dengan spesies badak lain.

6. Gemar Mandi Lumpur

Di siang hari, badak sumatera menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berendam di kubangan lumpur.

Aktivitas ini bermanfaat untuk mengatur suhu tubuh, mencegah kulit mengering, serta menghilangkan ektoparasit (parasit yang hidup di permukaan tubuh) dan serangga pengisap darah.

Ketika sulit menemukan kubangan lumpur, terutama di daerah pegunungan, mereka dapat menggunakan kubangan yang sama berulang kali dalam jangka waktu yang lama.

Lama-kelamaan, lubang ini menjadi ciri khas karena bisa terbentuk sampai beberapa meter ke dalam lereng.

7. Penyendiri dan Pemalu

Anak badak sumatera yang diselimuti lumpur/Source: Instagram Kemenhut

Badak sumatera adalah hewan penyendiri yang dikenal tidak agresif. Mereka cenderung memilih melarikan diri ketika menghadapi ancaman, daripada bertarung langsung.

Hal ini juga terlihat dari tidak adanya indikasi perebutan wilayah melalui pertarungan, meskipun wilayah jelajah badak sumatera kerap tumpang tindih.

Meski begitu, mereka tetap menandai wilayahnya di sepanjang jalur utama dengan urin, kotoran, goresan, serta batang pohon yang dipelintir.

Badak sumatera jantan memiliki wilayah jelajah yang luas, mencapai sekitar 50 kilometer persegi, sedangkan betina memiliki wilayah jelajah yang lebih kecil, sekitar 10–15 kilometer persegi.

Baca juga: Anoa Sulawesi: Karakteristik, Habitat, Ancaman, dan Upaya Konservasi

8. Pola Makan dan Makanan Favorit

Badak sumatera adalah hewan herbivora yang mengonsumsi berbagai jenis tumbuhan, mulai dari daun, ranting, semak, hingga buah-buahan. Beberapa makanan favoritnya meliputi:

  • Buah ara
  • Bambu
  • Mangga liar

Dalam sehari, mereka dapat mengonsumsi sekitar 50–60 kilogram tumbuhan, yang setara dengan hampir sepuluh persen dari berat tubuhnya.

Saat mencari makan, badak sumatera menyantap berbagai bagian tumbuhan. Mereka memakan ujung tanaman yang tumbuh di lantai hutan, mengunyah daun dari pohon muda yang dipatahkan untuk mencapai pucuknya, serta menarik tanaman merambat dari batang pohon.

Biasanya, mereka mencari makan di area yang subur dengan vegetasi sekunder, seperti lokasi bekas longsor, pohon tumbang, atau di sepanjang tepi sungai.

9. Cara Komunikasi dan Jejak Pergerakan

Badak sumatera berkomunikasi dengan berbagai suara, seperti siulan dan keluhan. Mereka juga meninggalkan tanda aroma untuk menandai wilayah sekaligus berkomunikasi dengan badak lain.

Misalnya, ketika menemukan tumpukan kotoran, badak sumatera biasanya menaruh tumpukan baru di dekatnya. Setelah itu, mereka menggaruk kaki belakang di tumpukan tersebut dan menendangnya ke semak-semak. Tindakan ini diduga bertujuan untuk menandai jejak kaki dan area sekitar dengan aroma khas.

Selain itu, badak sumatera sering menggunakan jaringan jalur satwa di sepanjang punggungan utama dan tepian sungai untuk berpindah dari satu area ke area lain, seperti tempat makan, kubangan garam, atau saat melakukan migrasi musiman. Jalur-jalur ini biasanya terbuka dan mudah terlihat karena juga dilalui hewan besar lain, terutama gajah.

10. Pentingnya Punya Kubangan Garam

Induk badak sumatera dan satu anaknya yang berjalan berdampingan/Source: Instagram Kemenhut

Salah satu cara badak sumatera menjaga kesehatannya adalah dengan menyerap mineral penting melalui kubangan garam.

Kubangan ini biasanya terbentuk di sekitar mata air panas kecil, rembesan air mineral, atau yang dikenal sebagai “gunung lumpur.”

Setiap individu badak umumnya memiliki kubangan favorit yang dikunjungi setiap satu hingga dua bulan, dan lebih sering jika betina sedang bersama anaknya.

Selain sebagai sumber mineral, kubangan garam juga berfungsi sebagai titik temu sosial. Di tempat ini, badak jantan dapat mengenali jejak aroma betina yang sedang dalam masa birahi.

11. Lambat dalam Bereproduksi

Umur hidup badak sumatera berkisar antara 35–40 tahun. Mereka memiliki masa kehamilan yang cukup panjang, sekitar 15–16 bulan. Di alam liar, badak betina biasanya hanya melahirkan satu anak setiap 4–5 tahun.

Lambatnya proses reproduksi ini juga dipengaruhi oleh usia kematangan seksual. Badak betina baru siap berkembang biak pada usia sekitar 4 tahun, sedangkan jantan mulai aktif secara seksual pada usia 7 tahun.

Menjaga Harapan untuk Badak Sumatera

Badak sumatera adalah salah satu satwa paling langka di dunia. Sayangnya, mereka harus berjuang menghadapi berbagai ancaman, mulai dari hilangnya hutan tempat tinggal hingga sulitnya berkembang biak.

Meski begitu, harapan belum hilang. Program konservasi seperti Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) dan perlindungan di taman nasional sudah mulai menunjukkan hasil. Lahirnya anak-anak badak di penangkaran jadi tanda bahwa masa depan mereka masih bisa diselamatkan.

Kita semua bisa ikut ambil bagian, sekecil apa pun langkahnya. Dengan lebih peduli pada lingkungan dan mendukung upaya konservasi, kita membantu memastikan badak sumatera tetap ada untuk generasi mendatang!

Referensi:

  1. International Fund for Animal Welfare (IFAW) – Sumatran Rhinos[Buka]
  2. National Geographic – Sumatran Rhinoceros Facts.[Buka]
  3. International Rhino Foundation – Sumatran Rhino. [Buka]
  4. Save Sumatran Rhinos – Official Campaign to Save the Sumatran Rhino. [Buka] 
  5. Save the Rhino International – Sumatran Rhino. [Buka] 
  6. World Wildlife Fund (WWF) – Sumatran Rhino. [Buka]
  7. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) – Sanctuary Badak Sumatera di Taman Nasional Way Kambas. [Buka]
  8. Featured image: Badak sumatera yang sedang mengasuh satu anaknya/Source:KSDAE

Trenggiling: Pengertian, Ciri-ciri, Jenis, Fakta Unik, dan Persebarannya di Indonesia

Predator puncak seperti singa dan harimau dikenal sebagai ancaman besar bagi satwa liar di habitat aslinya.

Namun, berbeda dengan sebagian besar hewan, ada satu makhluk unik yang mampu bertahan dari serangan predator tanpa harus melarikan diri—cukup dengan berdiam diri. Dapatkah kamu menebak hewan apa itu?

Yup, jawabannya adalah trenggiling, mamalia bersisik yang memiliki pertahanan alami luar biasa. Dikenal sebagai “si bola bersisik”, trenggiling memiliki lapisan sisik keras yang menyelimuti hampir seluruh tubuhnya. Sisik tersebut berfungsi layaknya perisai yang efektif untuk melindunginya dari serangan hewan buas.

Lalu, bagaimana cara trenggiling melindungi diri? Saat merasa terancam, trenggiling akan segera menggulung tubuhnya hingga membentuk bola padat. Dengan posisi ini, bagian tubuhnya yang rentan tersembunyi di dalam gulungan, sementara bagian luar yang dilapisi sisik keras menjadi tameng pertahanan.

Sayangnya, di balik keunikan dan kemampuannya bertahan dari predator, trenggiling justru menghadapi ancaman besar dari manusia. Mamalia ini tercatat sebagai salah satu hewan yang paling banyak diperdagangkan secara ilegal di dunia. Permintaan tinggi terhadap sisik dan dagingnya membuat trenggiling menjadi target perburuan liar yang masif.

Lalu, apa yang membuat trenggiling begitu diburu, dan bagaimana upaya pelestariannya saat ini? Simak penjelasan lengkapnya di bagian selanjutnya.

Mengenal Trenggiling

Trenggiling merupakan salah satu hewan yang termasuk dalam kelas mamalia. Sebagai mamalia, trenggiling berkembang biak secara seksual dan melahirkan anak (vivipar). Trenggiling betina memiliki kelenjar susu untuk menyusui anak-anaknya.

Nama “trenggiling” berasal dari bahasa Melayu yang berarti berguling, merujuk pada kebiasaan hewan ini menggulungkan tubuh saat merasa terancam. Dalam bahasa Inggris, trenggiling dikenal dengan sebutan pangolin.

Hewan unik ini memiliki sisik keras dan kuat yang melapisi hampir seluruh tubuhnya, kecuali bagian perut. Fungsi utama sisik ini adalah sebagai pelindung dari serangan predator. Ketika merasa dalam bahaya, trenggiling akan menggulung tubuhnya hingga membentuk bola, menyembunyikan bagian tubuh yang rentan di dalam gulungan tersebut.

Habitat trenggiling sangat beragam, mulai dari hutan hujan tropis, sabana, padang rumput, hingga lahan pertanian di dataran rendah. Makanan utamanya adalah semut dan rayap, yang ditangkap menggunakan lidah panjang dan lengket—ciri khas trenggiling yang membantunya menjangkau mangsa di dalam sarang.

Trenggiling (commons.wikimedia.org/A. J. T. Johnsingh/WWF-India and NCF)

Saat ini terdapat delapan spesies trenggiling yang tersebar di dua benua, yaitu Asia dan Afrika. Berikut daftarnya:

Spesies Trenggiling di Asia:

  • Trenggiling Cina (Manis pentadactyla)
  • Trenggiling India (Manis crassicaudata)
  • Trenggiling Filipina (Manis culionensis)
  • Trenggiling Sunda (Manis javanica)

Spesies Trenggiling di Afrika:

  • Trenggiling tanah (Smutsia temminckii)
  • Trenggiling raksasa (Smutsia gigantea)
  • Trenggiling pohon (Phataginus tricuspis)
  • Trenggiling berekor panjang (Phataginus tetradactyla)

Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, spesies trenggiling yang ditemukan adalah trenggiling Sunda (Manis javanica). Hewan ini tersebar di beberapa wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, dan Jawa, serta sejumlah pulau kecil seperti Bangka, Belitung, dan Nias.

Mengutip laporan dari Traffic, trenggiling Sunda saat ini dikategorikan sebagai spesies kritis (Critically Endangered) dalam Daftar Merah Spesies Terancam IUCN. Populasi trenggiling ini mengalami penurunan drastis, yang sebagian besar disebabkan oleh maraknya perdagangan ilegal.

Di Indonesia, trenggiling termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Perlindungan terhadap trenggiling Sunda juga ditegaskan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018.

Setiap orang yang menangkap, membunuh, melukai, atau memperdagangkan trenggiling secara ilegal dapat dikenai sanksi pidana. Sesuai Pasal 40 Ayat (2) jo Pasal 21 Ayat (2) Huruf (d) UU No. 5 Tahun 1990, pelanggaran tersebut dapat dikenai hukuman penjara maksimal lima tahun dan denda hingga Rp100 juta.

Ciri-ciri Trenggiling

Trenggiling merupakan mamalia yang memiliki sejumlah ciri fisik dan perilaku unik, menjadikannya berbeda dari hewan lainnya. Faktanya, trenggiling adalah satu-satunya mamalia di dunia yang memiliki sisik.

Sisik ini menjadi salah satu sistem pertahanan tubuh paling khas di antara hewan mamalia.

Trenggiling (commons.wikimedia.org/U.S.Fish and Wildlife Service Headquarters)

Berikut ciri-ciri umum trenggiling yang perlu kamu ketahui:

  • Memiliki sisik keras dan kuat yang menutupi seluruh tubuhnya, kecuali bagian bawah. Sisik ini tersusun dari keratin, protein yang sama dengan yang membentuk kuku dan rambut manusia.
  • Mampu melindungi diri dari predator dengan cara menggulungkan tubuhnya menjadi bola rapat, sehingga hanya sisik kerasnya yang terlihat.
  • Memiliki ekor panjang yang berfungsi sebagai penyeimbang saat bergerak dan juga sebagai alat bantu saat memanjat.
  • Kaki trenggiling tergolong pendek dengan cakar besar dan kuat, yang digunakan untuk menggali sarang semut dan rayap.
  • Mempunyai 46–47 ruas tulang belakang, jumlah terbanyak di antara semua mamalia yang diketahui hingga saat ini.
  • Tidak memiliki gigi. Sebagai gantinya, trenggiling menelan makanan utuh dan menggilingnya menggunakan kerikil kecil di lambungnya.
  • Memiliki lidah yang sangat panjang, lengket, dan fleksibel, yang bisa menjulur lebih panjang dari tubuhnya sendiri. Lidah ini digunakan untuk menangkap semut dan rayap di dalam sarang.
  • Bersifat nokturnal, artinya aktif di malam hari untuk mencari makan dan bergerak.
  • Soliter, yaitu hidup menyendiri dan jarang terlihat dalam kelompok.
  • Merupakan pemakan serangga (insektivora), dengan makanan utama berupa semut dan rayap.
  • Memiliki indra penciuman yang tajam, yang membantunya mendeteksi lokasi koloni semut atau rayap.
  • Panjang tubuhnya (dari kepala hingga ekor) berkisar antara 79–88 sentimeter.
  • Berat tubuhnya dapat mencapai 12 kilogram, meskipun umumnya berada di kisaran 8–10 kilogram.
  • Bereproduksi secara seksual, dan termasuk hewan vivipar, yaitu berkembang biak dengan cara melahirkan anak.

12 Fakta Unik tentang Trenggiling

Selain dikenal karena sisiknya yang keras, trenggiling juga memiliki perilaku dan karakteristik yang sangat unik. Mamalia ini tergolong pemalu dan lebih suka hidup menyendiri (soliter). Di habitat alaminya, trenggiling menunjukkan sejumlah perilaku menarik yang membedakannya dari hewan lainnya.

Berikut beberapa fakta unik trenggiling yang hidup di alam bebas:

1. Sisiknya terbuat dari keratin

Sisik trenggiling tersusun dari keratin, yaitu protein yang sama yang menyusun kuku dan rambut manusia. Meskipun bukan tulang, sisik ini sangat kuat dan keras sehingga mampu melindungi trenggiling dari predator buas seperti singa, harimau, bahkan manusia.

2. Menghancurkan makanan di lambung

Karena tidak memiliki gigi, trenggiling tidak mengunyah makanannya di mulut. Sebaliknya, makanan seperti semut dan rayap akan dihancurkan di lambung, dibantu oleh kerikil kecil yang ikut tertelan untuk menggiling makanan secara mekanis.

3. Tinggal di celah pohon atau lubang tanah

Pada siang hari, trenggiling biasanya beristirahat di celah-celah pohon, rongga batang, atau lubang tanah yang ia gali sendiri. Tempat persembunyian ini melindunginya dari panas matahari dan ancaman predator.

4. Ukuran lidahnya melebihi panjang tubuh

Mengutip dari American Association for the Advancement of Science (AAAS), lidah trenggiling bisa lebih panjang dari tubuhnya sendiri. Lidah yang fleksibel ini sangat membantu saat menjangkau serangga di dalam sarang semut atau rayap yang berada jauh di dalam tanah atau kayu.

5. Memiliki air liur yang lengket

Trenggiling memiliki air liur yang sangat lengket, yang berfungsi untuk menjerat semut dan rayap saat lidahnya menjulur masuk ke dalam sarang serangga. Dalam satu kali makan, trenggiling bisa mengonsumsi ribuan serangga sekaligus.

6. Memiliki indera penciuman yang tajam

Trenggiling mengandalkan indra penciuman yang sangat sensitif untuk mencari makan. Dengan kemampuan ini, mereka bisa mendeteksi keberadaan koloni semut atau rayap bahkan dari jarak jauh. Indra penciuman menjadi alat navigasi utama dalam kelangsungan hidupnya, terutama karena penglihatannya cenderung lemah.

7. Memiliki Indera penglihatan yang buruk

Trenggiling dikenal memiliki penglihatan yang kurang tajam. Oleh karena itu, mereka sangat mengandalkan indra penciumannya untuk mencari makanan dan mengenali lingkungan sekita

Trenggiling (commons.wikimedia.org/Shukran888)

8. Bisa berjalan dengan kaki belakang saja

Trenggiling memiliki kemampuan berjalan secara bipedal, yaitu dengan dua kaki belakang saja. Saat berjalan tegak, ia menggunakan ekornya yang panjang sebagai penyeimbang tubuh. Gerakan ini biasanya dilakukan saat menjelajah atau menghindari rintangan.

9. Satu-satunya mamalia bersisik di dunia

Trenggiling merupakan satu-satunya mamalia di dunia yang seluruh tubuhnya dilapisi sisik besar dan keras. Menariknya, berat sisik tersebut dapat mencapai sekitar 20 persen dari total berat tubuhnya.

10. Jumlah sisik berbeda tiap spesies

Jumlah sisik pada tubuh trenggiling bervariasi tergantung jenis spesiesnya. Dilansir dari ScienceDirect, berikut perbandingan jumlah sisik pada beberapa spesies:

  • Trenggiling Cina (Manis pentadactyla): sekitar 527–581 sisik
  • Trenggiling Filipina (Manis culionensis): sekitar 940 sisik
  • Trenggiling Sunda (Manis javanica): bisa mencapai sekitar 1.000 sisik

11. Mamalia dengan jumlah tulang ruas terbanyak

Trenggiling memiliki 46 hingga 47 ruas tulang belakang, menjadikannya mamalia dengan jumlah ruas tulang paling banyak dibandingkan mamalia lain. Fleksibilitas tulang ini juga mendukung kemampuannya untuk menggulung tubuh secara sempurna.

12. Memangsa hingga 20.000 serangga per malam

Berdasarkan laporan Planet Wild, trenggiling dapat memangsa hingga 20.000 serangga seperti semut dan rayap dalam satu malam. Dengan kemampuan ini, trenggiling berperan sebagai spesies kunci dalam menjaga keseimbangan populasi serangga di ekosistemnya.

Status Konservasi Trenggiling

Trenggiling saat ini berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Meskipun memiliki kemampuan bertahan dari predator alam, ancaman terbesar bagi keberlangsungan hidup trenggiling justru berasal dari manusia. Perburuan liar dan perdagangan ilegal menjadi penyebab utama menurunnya populasi trenggiling secara drastis dalam beberapa dekade terakhir.

Menurut Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature), seluruh spesies trenggiling yang ada di dunia telah dikategorikan sebagai spesies yang terancam punah, dengan beberapa di antaranya berstatus kritis (Critically Endangered), termasuk trenggiling Sunda (Manis javanica) yang tersebar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Ancaman terbesar datang dari perdagangan ilegal internasional, baik dalam bentuk sisik maupun daging. Sisik trenggiling dipercaya memiliki khasiat medis dalam pengobatan tradisional, meskipun belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut. Selain itu, daging trenggiling dianggap sebagai makanan eksotis di beberapa negara, terutama di kawasan Asia Timur.

Untuk mengatasi ancaman ini, berbagai langkah perlindungan telah dilakukan. Di Indonesia, trenggiling merupakan satwa yang dilindungi secara hukum. Perlindungan ini diatur dalam:

  • Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
  • Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018, yang menetapkan daftar tumbuhan dan satwa liar dilindungi, termasuk trenggiling Sunda.

Setiap orang yang menangkap, memelihara, melukai, membunuh, atau memperdagangkan trenggiling secara ilegal dapat dikenai sanksi pidana. Berdasarkan Pasal 40 ayat (2) jo Pasal 21 ayat (2) huruf (d) UU No. 5 Tahun 1990, pelanggaran tersebut dapat dikenakan hukuman penjara hingga 5 tahun dan denda maksimal Rp100 juta.

Selain upaya hukum, lembaga konservasi nasional dan internasional seperti TRAFFIC, WWF, dan IUCN juga terus menggalakkan edukasi, patroli satwa, serta rehabilitasi dan pelepasliaran trenggiling hasil sitaan.

Mengapa Kita Harus Peduli pada Trenggiling?

Trenggiling bukan hanya hewan yang unik dengan sisik keras dan lidah super panjang, tetapi juga makhluk penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sebagai pemangsa alami semut dan rayap, trenggiling membantu mengendalikan populasi serangga yang bisa menjadi hama bagi tanaman dan merusak struktur tanah.

Dengan lebih mengenal trenggiling—dari ciri-cirinya, fakta unik, hingga status konservasinya—diharapkan kesadaran kita semua akan pentingnya melindungi satwa ini semakin meningkat. Kamu bisa ikut berperan dengan tidak membeli produk berbahan dasar trenggiling, menyebarkan informasi yang benar, serta mendukung program konservasi dan penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar.

Mari kita jaga trenggiling agar tetap lestari di alam, demi generasi yang akan datang dan demi bumi yang lebih seimbang!

Sumber dan Referensi:

Pangolin. WWF.

What is a Pangolin. Save Pangolins.

The Plight of the Pangolin. EcoHealth Alliance.

Facts About Pangolins. World Animal Protection.

Weird and Wonderful Creatures: The Pangolin. American Association for the Advancement of Science (AAAS).

Pangolins. ZSL.

Evaluating the application of scale frequency to estimate the size of pangolin scale seizures. Science Direct.

Pangolins: Introducing the lonely and sweet-natured scaly anteater. Planet Wild.

Featured image: Ilustrasi trenggiling (unsplash.com/Studio Crevettes)