Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

9 Fakta Menarik tentang Badak Jawa, Satwa Langka dari Ujung Kulon!

Pernah dengar tentang badak jawa (Rhinoceros sondaicus)? Satwa langka ini bisa dibilang bintang eksklusif Indonesia, karena saat ini hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.

Menariknya, badak jawa adalah hewan darat terbesar kedua di Asia setelah gajah Asia. Dengan tubuh gagah dan bercula satu, ia jadi ikon penting kekayaan alam Nusantara.

Namun bukan hanya itu saja, badak jawa juga punya banyak fakta menarik yang bikin kita makin kagum. Yuk, kenalan lebih dekat dengan satwa luar biasa yang sedang diperjuangkan kelestariannya ini!

9 Fakta Badak Jawa

Sebagai salah satu satwa paling langka di dunia, badak jawa menyimpan banyak hal unik yang jarang diketahui. Yuk, cek satu per satu!

1. Populasinya Sangat Sedikit

Badak jawa kini termasuk salah satu spesies paling langka di dunia, dengan populasi yang ditaksir hanya sekitar 80 ekor di alam liar.

Pada tahun 2024, jumlahnya bertambah setelah empat anak badak lahir di Taman Nasional Ujung Kulon, satu-satunya habitat badak jawa yang masih tersisa di dunia.

Dahulu, badak jawa hidup di wilayah yang sangat luas, mulai dari India Timur, Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand, Vietnam, hingga pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.

2. Bongsor tapi Jarang Terlihat

Jejak badak jawa di tanah yang diukur dengan penggaris/Source: Taman Nasional Ujung Kulon

Badak jawa memiliki tubuh yang sangat besar. Tingginya bisa mencapai 1,5–1,7 meter, dengan panjang tubuh sekitar 2–4 meter. Berat individu dewasa berkisar antara 900 hingga 2.300 kilogram. Saat lahir, anak badak jawa sudah memiliki berat badan sekitar 40–64 kilogram.

Meski bertubuh bongsor, satwa ini justru sangat jarang terlihat karena memiliki sifat soliter. Badak jawa lebih suka hidup menyendiri di hutan tropis yang lebat. Salah satu kebiasaannya adalah berguling di kubangan lumpur. Aktivitas ini berfungsi untuk menjaga kelembapan kulit sekaligus melindunginya dari gigitan serangga, parasit, maupun infeksi kulit.

3. Hanya Punya Satu Cula

Salah satu ciri paling khas badak jawa adalah hanya memiliki satu cula kecil. Hal ini membedakannya dari badak Afrika yang bercula dua. Cula badak jawa terbuat dari keratin, sama seperti kuku manusia, dan memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Ukuran relatif kecil: pada jantan, panjang cula rata-rata sekitar 25 sentimeter.
  • Betina nyaris tanpa cula: sebagian besar betina hanya memiliki tonjolan kecil, bahkan ada yang sama sekali tidak bercula.
  • Fungsi praktis, bukan untuk bertarung: cula digunakan untuk mengikis lumpur dari kubangan, menarik tumbuhan dari tanah, serta membantu saat menembus semak belukar.
  • Cula sebagai identitas: meski ukurannya kecil, cula tetap menjadi ciri khas yang menegaskan perbedaan badak jawa dengan spesies badak lain.

4. Herbivora Pemilih

Badak jawa dikenal sebagai satwa herbivora, tetapi tidak sembarangan dalam memilih makanan.

Berbeda dengan spesies badak lain, mereka tidak memakan rumput. Sebaliknya, badak jawa lebih menyukai tumbuhan lunak seperti pohon kleinhovia (Kleinhovia variegata) dan buah ara (Ficus variegata). Meski begitu, mereka juga mampu mengonsumsi bambu dan tanaman berduri.

Secara umum, makanan badak jawa terdiri atas:

  • Daun
  • Tunas muda
  • Ranting
  • Berbagai jenis buah

Satwa ini mengonsumsi lebih dari 100 jenis tumbuhan berbeda, menjadikannya salah satu pemakan tumbuhan paling adaptif di antara semua badak.

Kebiasaan makannya juga cukup selektif. Badak jawa cenderung mencari pakan di area terbuka tanpa naungan, misalnya di semak belukar, celah bekas pohon tumbang, atau daerah dengan vegetasi rendah.

Lokasi tersebut biasanya menyediakan tumbuhan dengan kualitas gizi lebih tinggi dibandingkan daerah hutan yang terlalu rapat.

Baca juga: Mengenal Yaki, si Monyet Hitam Endemik Sulawesi

5. Perenang dan Pemanjat Handal

Anak badak jawa yang sedang berjalan di tengah hutan/Source: Taman Nasional Ujung Kulon

Meskipun tubuhnya besar, badak jawa ternyata cukup lincah. Mereka merupakan perenang dan pemanjat yang andal, sehingga mampu menjelajahi rawa, hutan tropis, maupun semak belukar.

Saat mencari makan, badak jantan memanfaatkan cula kecilnya untuk menarik tanaman atau membuka jalan di vegetasi rapat.

6. Mengandalkan Indera Penciuman dan Pendengaran

Dari sisi indera, penglihatan badak jawa tergolong lemah. Untuk mengatasinya, mereka lebih mengandalkan indera penciuman dan pendengaran yang tajam dalam mendeteksi bahaya maupun interaksi sosial.

Dalam hal komunikasi, badak jawa menggunakan kombinasi sinyal kimia dan suara:

  • Sinyal kimia: mereka menandai wilayah dengan kotoran, urine, dan goresan beraroma dari kelenjar kaki. Jantan dominan biasanya buang kotoran di atas atau dekat bekas kotoran badak lain untuk menunjukkan kekuasaan. Bahkan, ada kebiasaan buang air besar di dalam air, termasuk di kubangan.
  • Suara: Badak jawa dapat mengeluarkan beragam bunyi, mulai dari ringkikan, embikan, jeritan, getaran bibir, sampai dengusan. Setiap suara memiliki fungsi, baik untuk berkomunikasi antar-individu maupun untuk mengekspresikan keadaan tertentu.

7. Perilaku Kawin dan Reproduksi

Badak jawa memiliki sistem kawin poliginandri atau promiskuitas. Artinya, jantan maupun betina dapat memiliki lebih dari satu pasangan.

Proses pendekatan sebelum kawin terbilang unik dan cukup agresif. Jantan dan betina sering terlibat dalam pertarungan, saling mengejar hingga jarak lebih dari 200 meter, bahkan merobek vegetasi bersama. Selama interaksi ini, keduanya juga mengeluarkan raungan keras.

Untuk menarik perhatian betina, jantan biasanya mengeluarkan suara siulan. Menariknya, jantan dominan mampu menghasilkan siulan paling keras, sehingga lebih berpeluang menarik pasangan.

Badak jawa dapat kawin sepanjang tahun, tetapi tingkat reproduksinya sangat lambat. Betina hanya melahirkan satu anak dalam setiap kelahiran, dengan interval 4–5 tahun. Faktor ini dipengaruhi oleh masa kehamilan yang panjang, sekitar 16 bulan, serta adanya interaksi intens antara induk dan anak yang membutuhkan waktu lama.

Kematangan seksual badak jawa juga berbeda antara jantan dan betina. Betina mulai matang pada usia 5–7 tahun, sedangkan jantan baru siap kawin setelah berusia sekitar 10 tahun. Siklus reproduksi yang lambat inilah yang membuat pertumbuhan populasi badak jawa berjalan sangat lambat meskipun berada di kawasan lindung.

8. Pahlawan Ekosistem Hutan

Badak jawa jantan yang sedang berjalan di tengah hutan/Source: World Wild Life

Badak jawa dijuluki sebagai pahlawan ekosistem hutan karena:

  • Membuka jalur hutan: saat mencari makan, mereka merobohkan vegetasi sehingga tercipta ruang bagi tumbuhan baru untuk tumbuh.
  • Mengonsumsi banyak tumbuhan: dalam sehari, individu badak jawa dapat memakan sekitar 50 kilogram daun, tunas, ranting, dan buah, membantu menjaga dinamika vegetasi.
  • Menjaga kesehatan hutan: aktivitas mereka membuat hutan tetap produktif, mampu menyerap lebih banyak karbon dioksida, dan menghasilkan lebih banyak oksigen.
  • Menyebarkan biji tumbuhan: biji dari buah dan tanaman yang dimakan ikut tersebar melalui kotoran, lalu tumbuh menjadi tanaman baru.
  • Meningkatkan keanekaragaman hayati: proses alami ini memperkaya variasi tumbuhan, baik di dalam hutan maupun ekosistem sekitarnya.

Baca juga: Bekantan: Upaya Pelestarian Ikon Fauna Kalimantan yang Terancam

9. Menghadapi Ancaman Serius

Badak jawa termasuk dalam kategori Critically Endangered atau kritis terancam punah menurut daftar Red List dari International Union for Conservation of Nature (IUCN). Mereka juga tercatat dalam Apendiks I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yang berarti perdagangan internasional spesies ini dilarang keras.

Di Indonesia, perlindungan hukum terhadap badak jawa ditegaskan melalui Peraturan Pemerintah No. P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.

Meski begitu, ancaman terhadap kelangsungan hidupnya masih sangat besar, di antaranya:

  • Populasi sangat kecil: dengan jumlah kurang dari 80 ekor, risiko perkawinan sedarah (inbreeding) sangat tinggi sehingga mengurangi keberagaman genetik.
  • Keterbatasan habitat: Taman Nasional Ujung Kulon menjadi satu-satunya habitat tersisa, padahal luas wilayahnya terbatas dan rawan bencana alam.
  • Perdagangan ilegal: meski sangat jarang, cula badak masih menjadi incaran perburuan gelap di pasar gelap internasional.
  • Hilangnya ketersediaan makanan: perubahan ekosistem dapat menurunkan kualitas dan jumlah vegetasi yang dibutuhkan.
  • Penyakit: dengan populasi yang kecil, serangan penyakit dapat berdampak besar pada kelangsungan spesies.

Harapan untuk Masa Depan Badak Jawa

Badak jawa bukan hanya satwa langka, tapi juga “penjaga hutan” yang diam-diam punya peran besar untuk kehidupan kita. Mulai dari menjaga keseimbangan hutan, bantu sebar biji tumbuhan, sampai bikin ekosistem tetap sehat, semua itu mereka lakukan tanpa kita sadari.

Sayangnya, jumlah mereka sekarang sangat sedikit. Kalau kita lengah, bisa-bisa satwa megah ini hanya tinggal cerita. Nah, di sinilah peran kita penting. Dukungan terhadap upaya konservasi, sekecil apa pun, bisa jadi langkah besar buat masa depan badak jawa.

Jadi, yuk sama-sama peduli. Dengan melindungi badak jawa, kita juga lagi melindungi hutan, udara bersih, dan kehidupan yang ada di dalamnya, termasuk kita sendiri!

Referensi

  1. ADW: Rhinoceros sondaicus – INFORMATION [Buka]
  2. Javan rhinoceros | Population, Habitat, & Facts – Britannica [Buka]
  3. Javan Rhinos: Threats, Conservation, Interesting Facts – IFAW [Buka]
  4. The Elusive Badak Jawa – International Rhino Foundation [Buka]
  5. Javan Rhino | Species – Save the Rhino International [Buka]
  6. Javan Rhino | Species – WWF [Buka]
  7. Featured image: Badak Jawa jantan di kubangan lumpur/Source: Taman Nasional Ujung Kulon