Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Susi dan Sisa Luka yang Tak Pernah Sirna
Embun pagi masih menggelayut di kanopi Hutan Lindung Gunung Tarak, Kalimantan Barat. Suara rangkong dan owa bersahutan, memecah keheningan hutan yang baru terbangun. Di antara rimbunnya pepohonan, orangutan betina bernama Susi terbangun di sarangnya, menjalani kehidupan liar yang perlahan ia bangun kembali, dengan jejak masa lalu yang belum sepenuhnya lepas darinya.
Bertahun-tahun lalu, Susi bukanlah penghuni hutan. Ia hidup terkurung di sebuah rumah di Pontianak, dipelihara secara ilegal. Saat tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI menyelamatkannya pada 2011, kondisi Susi sangat memprihatinkan. Sebuah rantai melilit lehernya terlalu kencang, menyebabkan luka terbuka yang terinfeksi, bernanah, dan berbau busuk. Ketika memeriksanya tim medis menemukan karet yang telah tertanam di jaringan kulit lehernya.
Perlu lima tahun rehabilitasi sebelum Susi dinyatakan siap kembali ke alam. Pada 2016, BKSDA Kalbar, Dinas Kehutanan Kalbar dan YIARI melepasliarkan Susi di Hutan Lindung Gunung Tarak. Di sanalah babak baru hidupnya dimulai dengan satu catatan penting, Susi tidak benar-benar dilepas sendirian.
Ketika menemukan luka pada tubuh Susi saat penyelamatan pada tahun 2011, tim medis segera melakukan upaya penyembuhan luka Susi (YIARI)
Sejak hari pertama, tim monitoring YIARI mengikuti setiap langkahnya. Pemantauan dilakukan dari pagi hingga sore hari, sejak Susi turun dari sarang hingga kembali membangun sarang untuk beristirahat. Aktivitasnya dicatat dengan detail, ke mana ia bergerak, apa yang dimakannya, bagaimana perilakunya, hingga kondisi fisiknya. Data lokasi direkam menggunakan GPS, membentuk peta jelajah kehidupan Susi di alam liar.
Upaya monitoring pasca-pelepasliaran bukanlah pekerjaan sederhana. Pemantauan orangutan di alam membutuhkan sumber daya yang besar. Mulai dari waktu yang panjang, tim yang terlatih, hingga biaya operasional yang tidak sedikit. Tim harus bekerja berhari-hari di medan hutan yang sulit, mengikuti pergerakan orangutan dari pagi hingga sore, mencatat data perilaku secara detail, serta memastikan keselamatan tim dan satwa. Proses ini dilakukan secara berkelanjutan, bahkan bertahun-tahun setelah pelepasliaran, karena dampak pemeliharaan ilegal tidak selalu muncul dalam waktu singkat. Namun bagi upaya konservasi, investasi besar ini menjadi krusial untuk memastikan bahwa orangutan yang telah dikembalikan ke alam benar-benar memiliki hidup yang layak dan sejahtera.
Kabar gembira kembali datang dari Susi pada akhir Maret 2020. Di tengah situasi pandemi Covid-19, Susi melahirkan satu bayi orangutan betina dengan selamat. Bayi itu diberi nama Sinar. Bagi tim, kelahiran Sinar menjadi salah indikator penting bahwa Susi mampu beradaptasi dan berkembang biak di alam.
Namun monitoring tidak hanya soal menunggu dan merayakan keberhasilan. Fungsinya justru paling terasa ketika masalah muncul. Pada Desember 2025, tim monitoring menemukan luka di bagian dada Susi. Luka itu tidak tampak sebagai cedera baru akibat interaksi dengan lingkungan. Dugaan awal mengarah pada dampak lanjutan dari cedera lama di area leher sebagai warisan dari masa ketika Susi dirantai dan dipelihara secara ilegal bertahun-tahun silam.
Penanganan luka pada bagian dada susi pada bulan Desember 2025 (Muffidz Ma’sum | YIARI)
“Kami bisa mengenali perubahan sekecil apapun karena kami mengikuti aktivitas hariannya secara konsisten,” ujar Deni, Koordinator Tim Survey Monitoring YIARI. “Pada kasus Susi, luka di dada teridentifikasi karena kami memantau pergerakan, perilaku, hingga kondisi fisiknya setiap hari.” Menurutnya, tanpa pemantauan jangka panjang, kondisi seperti ini berisiko luput dari perhatian hingga menjadi lebih serius. Luka lama yang tampak telah sembuh bisa memunculkan dampak lanjutan bertahun-tahun kemudian.
Berdasarkan evaluasi bersama tim medis YIARI dan BKSDA, diputuskan untuk mengevakuasi Susi sementara ke pusat rehabilitasi YIARI. Selama kurang lebih satu bulan, ia menjalani perawatan intensif. Setelah kondisinya dinyatakan pulih, Susi kembali ke habitatnya di Gunung Tarak,
Direktur Utama YIARI, Karmele L. Sanchez, menegaskan bahwa monitoring pasca-pelepasliaran merupakan bagian tak terpisahkan dari konservasi orangutan. “Pemantauan rutin memungkinkan deteksi dini terhadap risiko kesehatan dan keselamatan individu yang telah kembali ke alam,” ujarnya. “Monitoring memastikan orangutan hasil rehabilitasi benar-benar mampu bertahan hidup dan beradaptasi”
Kisah Susi, menurut Karmele, memperlihatkan satu hal yang kerap luput dari perhatian publik. Luka akibat pemeliharaan ilegal tidak selalu langsung hilang ketika orangutan dilepasliarkan. Dampaknya bisa muncul bertahun-tahun kemudian, diam-diam, di tengah hutan yang tampak aman. “Ini menjadi alarm bahwa perdagangan dan pemeliharaan satwa liar secara ilegal meninggalkan luka panjang, baik fisik maupun psikologis,” tambahnya. “Monitoring pasca-pelepasliaran adalah kunci untuk memastikan setiap individu benar-benar aman dan sejahtera.”
Pasca operasi, Susi sudah kembali dilepasliarkan kembali di Hutan Lindung Gunung Tarak (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Di kanopi Gunung Tarak, Susi kembali menjalani hidupnya. Sekilas, ia tampak telah sepenuhnya kembali menjadi bagian dari hutan. Namun luka di tubuhnya mengingatkan bahwa tidak semua dampak pemeliharaan ilegal berhenti ketika rantai dilepas dan kandang dibuka.Pemeliharaan meninggalkan konsekuensi jangka panjang yang tak selalu terlihat. Cedera fisik, gangguan kesehatan, hingga trauma dapat muncul kembali bertahun-tahun setelah orangutan dilepasliarkan, bahkan ketika mereka telah berhasil beradaptasi di alam. Luka akibat eksploitasi satwa liar bisa jauh lebih panjang daripada yang kerap dibayangkan.
Bagi YIARI dan para mitra, kisah Susi adalah catatan bahwa konservasi bukan sekadar mengembalikan orangutan ke hutan, tapi juga memastikan mereka benar-benar pulih dan terlindungi. Lebih dari itu, kisah ini menjadi seruan agar pemeliharaan dan perdagangan satwa liar harus dihentikan sejak awal, sebelum luka-luka seperti yang dialami Susi terus berulang, tersembunyi di balik rimbunnya hutan.
Pulih dari Luka, Marisa Dipulangkan ke TANAGUPA
SIARAN PERS
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melakukan pelepasan satu individu orangutan (Pongo pygmaeus) di Bukit Daun Sandar, RPTN II Sempurna, Taman Nasional Gunung Palung, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang pada Kamis (14/11).
Orangutan berjenis kelamin betina berusia 6 tahun ini sebelumnya diselamatkan dari kasus konflik manusia – orangutan oleh tim gabungan Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalimantan Barat, Balai TANAGUPA dan YIARI di salah satu kebun milik warga di Desa Riam Berasap, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara pada 10 Juli 2024. Marisa diselamatkan setelah induknya ditemukan mati di kebun warga. Berdasarkan hasil nekropsi oleh tim medis YIARI, kematian induknya diduga disebabkan oleh infeksi akibat luka yang cukup dalam di punggungnya. Sementara itu, Marisa juga ditemukan dengan luka parah di kaki kanannya. Luka ini diduga disebabkan oleh senjata tajam.
Melihat kondisi Marisa yang terluka, BKSDA Kalbar memutuskan untuk menitiprawatkan anak orangutan ini ke Pusat Penyelamatan Orangutan YIARI di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang untuk dilakukan pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Setelah empat bulan menjalani perawatan intensif di bawah pengawasan tim medis dan perawat satwa di pusat rehabilitasi orangutan YIARI, Marisa dinyatakan pulih dan siap untuk dikembalikan ke habitat aslinya yang lebih aman.
Pemeriksaan Marisa sebelum dilepasliarkan (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Koordinator tim medis YIARI, Fina Fadiah, menegaskan luka Marisa sudah sembuh dan dia bisa segera dikembalikan ke habitatnya. “Saat ini luka di Marisa sudah sembuh dan setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, kami yakin sudah saatnya Marisa dipulangkan ke habitatnya. Ketika diselamatkan, luka di kakinya cukup parah. Ada fraktur terbuka yang sudah terinfeksi dan bernanah. Luka pada bagian kaki kanannya juga cukup dalam sampai menembus ke otot dan tulang. Untungnya, berkat kerja keras semua tim, saat ini lukanya sudah pulih dan Marisa siap dipulangkan ke TANAGUPA,” terangnya. Dia juga menjelaskan pemulihan ini tidak hanya fokus pada fisik, tetapi juga dengan psikisnya. “Kami merawat Marisa dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip kesejahteraan satwa. Kami berupaya mengurangi stresnya dengan meminimalkan kontak langsung dengan Marisa,” tambah Fina.
Untuk mencegah konflik serupa terjadi lagi, orangutan ini dilepaskan di kawasan yang jauh dari pemukiman dan kebun masyarakat. TANAGUPA dipilih menjadi tempat pelepasan karena berdasarkan titik lokasi penyelamatannya, Marisa diperkirakan berasal dari wilayah sekitar perbatasan TANAGUPA. Selain itu, Resort Daung Sandar juga dinilai cukup bagus, karena berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Balai TANAGUPA dan YIARI, jumlah dan jenis pakan masih cukup tinggi. Status kawasan sebagai Taman Nasional juga lebih menjamin keselamatan Marisa di masa depan. Lokasi ini dikelilingi sungai yang bisa menjadi barier alami untuk mencegah orangutan kembali ke kebun masyarakat.
Setelah menempuh perjalanan selama 6 jam dari pusat rehabilitasi orangutan YIARI, tim berhasil sampai di titik pelepasan. Marisa pun dilepaskan di dalam kawasan TANAGUPA. Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari dukungan masyarakat yang turut serta membantu membawa orangutan ke dalam kawasan taman nasional.
Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi yang terjalin antara pemerintah, Non-profit Organization (NGO), dan masyarakat dalam upaya pelestarian orangutan dan habitatnya. Silverius menekankan pentingnya peran bersama dalam menjaga keberlanjutan ini. “Kami mengundang seluruh pemangku kepentingan, khususnya masyarakat, untuk menjadi garda terdepan dalam upaya konservasi satwa liar, terutama orangutan dan habitatnya. Penemuan orangutan di area kebun warga ini menjadi pengingat pentingnya memperkuat kerjasama, terutama dengan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan habitat orangutan. Jika masyarakat yang tinggal di perbatasan habitat orangutan dapat hidup harmonis berdampingan, orangutan dapat terjaga keberlanjutannya dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.”
“Hal ini selaras dengan visi YIARI untuk menciptakan dunia di mana manusia dan satwa hidup berdampingan dalam ekosistem yang sehat. Ini juga mendukung arahan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, dalam sambutannya di upacara serah terima jabatan menteri Kehutanan yang menekankan agar kita semua memiliki spirit bagaimana menjaga keseimbangan hidup dengan alam,” tutupnya.
Kepala Balai TANAGUPA, Himawan Sasongko mengatakan “Pelepasliaran anak orangutan ini adalah bentuk harapan baru setelah kehilangan induknya akibat konflik dengan manusia. Kami berkomitmen untuk memastikan ia dapat hidup mandiri di habitat alaminya. Dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menggantikan peran induk orangutan dengan menjamin pulihnya kesehatan fisik dan psikis serta perilaku di pusat rehabilitasi dan kemudian memberikan tempat hidup yang bisa menjamin kelangsungan hidupnya, tapi yang perlu diingat adalah seberapapun hebat dan majunya pengetahuan kita, kita tidak akan pernah, sekali lagi tidak akan pernah bisa menggantikan kasih sayang induknya di alam. Melalui upaya pelepasliaran ini, kami berharap anak orangutan dapat menemukan kembali kehidupan baru di habitat alaminya serta menjadi simbol pentingnya harmoni antara manusia dan satwa liar.”
Tentang YIARI
Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran, dan pemantauan pasca lepas liar. YIARI juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara habitat, satwa, dan manusia.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
YIARI: +62 821-5346-2720 (Heribertus Suciadi, Manager Media dan Komunikasi YIARI)
Komunitas Power of Mama: Satu Tahun Berkarya bagi Lingkungan
Gak kerasa loh, udah setahun aja ibu-ibu super dari Kabupaten Ketapang ini membantu mengamankan lingkungan dari berbagai ancaman kerusakan alam. Iya nih Sob, ibu-ibu tangguh yang tergabung dalam Komunitas The Power of Mama ini baru aja memperingati satu tahun umurnya yang pertama banget. The Power of Mama ini bukan geng-gengan superhero ala-ala, tapi lebih keren lagi karena mereka adalah ibu-ibu keren yang berhasil jadi pahlawan lingkungan!
Komunitas ini terbentuk tanggal 8 Juni 2022, dan baru-baru ini tanggal 16 Juni 2023 kemarin mereka ngadain acara ultah sekaligus pelatihan dan pengesahan anggota baru. Lahir tanggal 8 Juni kok malah milih tanggal 16 Juni buat merayakan? Nah, sebenernya gampang aja, soalnya pas tanggal itu juga ada pelatihan dasar dan pengesahan buat dua desa yang baru gabung. Kedua desa itu adalah Desa Kuala Tolak dan Desa Sungai Putri di Kecamatan Matan Hilir Selatan. Dua desa ini bikin tambah meriah komunitas TPOM dengan nambahin 32 anggota baru. Sebelumnya anggota TPoM ini terdiri 56 orang anggota dari 4 desa, yakni Desa Pematang Gadung, Desa Sungai Besar di Kecamatan Matan Hilir Selatan, juga Desa Sungai Awan Kiri dan Desa Sukamaju di Kecamatan Delta Pawan.
Foto bersama dalam momen perayaan satu tahun The Power of Mama (Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)
Semua anggota lama juga hadir untuk mendapatkan penyegaran materi dan peningkatan kapasitas. Mereka juga berbagi cerita soal aksi-aksi mereka, baik yang di lapangan maupun pertemuan-pertemuan dengan pihak lain. Wah, makin akrab aja kayaknya mereka! Jadi, total mereka sekarang udah jadi 88 orang nih, semakin banyak semakin asyik kan?
Nah, kalian pasti pada mikir, apa aja sih yang sudah mereka lakuin selama setahun ini? Cekidot deh, mereka ini tipe-tipe ibu-ibu yang nggak main-main, bawaannya aksi terus. Ngebentuk barisan patroli, ngelawan kobaran api, dan gak pernah capek buat melakukan sosialisasi cara menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran. Mulai dari area Matan Hilir Utara, Muara PAwan, sampai Matan Hilir Selatan.
Selain itu, mereka juga nggak ketinggalan terjun langsung dalam pertanian dan ngebantu ngajarin masyarakat soal mangrove. Gak cuma itu, mereka juga jadi guru kece nih buat anak-anak, berbagi cerita dan pengetahuan tentang betapa pentingnya jagain lingkungan biar kehidupan kita semua tetap happy, termasuk manusia, satwa, dan alam sekitarnya.
Seru ya, teman-teman? Ini baru satu tahun aja udah banyak banget yang mereka lakuin. Apalagi ini bukan cuma cuap-cuap doang, tapi aksi nyata untuk membantu menjaga lingkungan. Jadi gak sabar lihat aksi mereka ke depannya kayak apa. Pasti lebih keren lagi dengan tambahan anggotanya itu.
Atensi yang muncul dari aksi para mama-mama super ini gak cuma datang dari Kabupaten Ketapang aja lho. Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Dapil Kalimantan Barat, Pak Daniel Johan bahkan sengaja mengunjungi ibu-ibu ini di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, pada Senin, 19 Juni 2023, gak lama setelah acara ulangtahun mereka. Gak cuma kunjungan dan ngobrol-ngobrol aja, Pak DJ (Daniel Johan maksudnya) ini juga menyatakan apresiasi dan dukungannya.
Kunjungan Pak Daniel Johan ke Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren pada 19 Juni 2023 (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
“Saya mendukung apa yang dilakukan YIARI bersama masyarakat karena ancaman terbesar Indonesia, ancaman terbesar dunia saat ini, selain krisis pangan adalah bencana alam sehingga segala upaya yang bisa kita lakukan untuk mengkonservasi, menjaga, merehabilitasi, melindungi, memberikan dukungan terhadap kekuatan masyarakat dalam menjaga lingkungan menjadi sangat penting. YIARI bersama masyarakat sudah melakukan seluruh proses itu, cukup lama sehingga perannya menjadi sangat penting untuk kelestarian alam, pelestarian lingkungan,” ujar Pak Daniel.
Beliau juga menegaskan perlunya upaya-upaya nyata berkolaborasi dan berkomitmen dalam meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menjaga alam. “Memastikan sumber-sumber daya hayati itu terjaga dengan baik, adalah bagian dari komitmen untuk mendukung dan menjaga Indonesia agar bencana tidak menjadi ancaman yang semakin serius untuk Indonesia, untuk bumi, dan manusia. Sehingga bukan hanya dalam konservasi, tetapi kita juga mengapresiasi YIARI dalam memberikan penguatan kepada masyarakat di bidang pertanian, di bidang nelayan, perhutanan sosial, hutan adat, dan perekonomian masyarakat. Semua upaya ini perlu kita dukung demi masa depan Indonesia, demi masa depan dunia, dan demi kelangsungan hidup manusia,” ujarnya menambahkan.
Keren banget ya? Wakil rakyat dari Senayan aja sampai dateng lho buat menyampaikan dukungannya ke ibu-ibu di Ketapang ini. Kita bisa belajar banyak nih dari Power of Mama, kalau ada niat dan semangat, nggak ada yang nggak mungkin. Jadi, jangan pernah meremehkan potensi diri kita sendiri untuk berbuat baik bagi lingkungan dan sesama, kayak ibu-ibu hebat di TPOM ini!
Heribertus Suciadi
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Perjuangan Orangutan Covita dari Malnutrisi Hingga Lepas Liar di Hutan
Sobat #KonservasYIARI masih ingat dengan Covita? Itu lho, bayi orangutan betina yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan satwa liar dilindungi di waktu pandemi kemarin. Covita yang saat itu masih berusia dua tahun diselamatkan tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI pada akhir Agustus 2020. Dia dipelihara secara ilegal oleh seorang warga di Dusun Ensayang, Desa Karang Betong, Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau. Kondisinya saat itu mengalami malnutrisi dan menderita penyakit kulit. Setelah diperiksa di Pusat Penyelamatan dan Konservasi kami, hasil rontgen menunjukan adanya patahan pada tulang paha kanan peluru senapan pada paha kiri Orangutan Covita.
Untungnya, sekarang Covita sudah hidup bebas dan merdeka di habitat aslinya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Kok bisa? Gimana ceritanya? Kan dia masih bayi, emang bisa bertahan hidup sendiri gitu? Eits tenang dulu, Covita ini enggak sendirian di hutan kok gengs. Dia dilepaskan bersama induk asuhnya bernama Faini.
Kondisi Covita ketika direscue (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Makin bingung ya gimana ceritanya kok Covita bisa sampai punya induk asuh segala? Jadi, setelah diselamatkan dan mendapat perawatan intensif dari tim medis kami di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Ketapang, Covita menjalani masa rehabilitasi untuk mengembalikan kemampuan bertahan hidupnya sebagai orangutan. Asal Sobat #KonservasYIARI tahu, bayi orangutan di alam akan tinggal dengan induknya selama 6-8 tahun sebelum bisa hidup mandiri. Selama tinggal dengan induknya inilah anak orangutan belajar mencari makan, memanjat, membuat sarang dan sebagainya. Covita yang udah ditinggal induknya dalam usia semuda itu menjadi clueless bagaimana bertahan hidup sebagai orangutan di dalam hutan, makanya proses rehabilitasi itu diperlukan di sini.
Untungnya dalam proses rehabilitasi ini, Covita bertemu dengan orangutan betina bernama Faini, yang diselamatkan tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI dari daerah Desa Randau Jekak, Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang pada Desember 2015. Orangutan ini juga mengalami nasib malang, kehilangan induknya dan menjadi korban pemeliharaan ilegal satwa dilindungi. Faini yang saat ini berusia sekitar 10 tahun ini sangat perhatian dengan Covita. Bahkan mereka kemudian mengembangkan ikatan alami sebagai ibu dan anak. Faini sangat protektif terhadap Covita dan sebaliknya, Covita terlihat nyaman dan menjadi lebih percaya diri ketika bersama Faini. Selama masa rehabilitasi, interaksi antara keduanya menimbulkan hal positif. Berkat Faini, Covita berani menjelajah hutan tempat rehabilitasi karena Faini juga aktif menjelajah. Covita memang belum mahir membuat sarang tapi bersama Faini, dia menunjukkan kemajuan yang sangat pesat untuk orangutan seusianya.
Saat Faini membuat sarang untuk mereka berdua, Covita selalu berusaha membantu orang tua asuhnya membuat sarang dengan cara mengumpulkan ranting dan daun. Salah satu hal positif tentang Covita adalah dia masih semi-liar dan sangat jarang melakukan kontak atau mendekati para pemelihara hewan. Bahkan ia cenderung menjauhi manusia dan kerap menyulitkan tim medis atau animal keeper yang ingin melakukan pemeriksaan. Mereka juga lebih aktif di atas pohon. Covita dan Paini adalah orangutan yang sangat pandai mencari makan. Kemampuan mencari makan keduanya sangat mencengangkan karena kamus spesies makanan hutan yang mereka kenal jauh lebih banyak dibandingkan orangutan lainnya. Inilah yang membuat tim kami tidak ragu memasukan nama keduanya dalam daftar orangutan yang akan segera dilepasliarkan.
Perjuangan pelepasliaran Covita dan orangutan lainnya di dalam kawasan TNBBBR pada 26 Juni 2023 (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Selain mereka berdua, ada empat orangutan lainnya, yaitu Budi, Tulip, Binaca, dan Jamilah yang juga dilepasliarkan di dalam kawasan TNBBBR pada 26 Juni 2023.Mereka semua juga mengalami nasib malang sebagai korban pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi. Budi yang merupakan satu-satunya orangutan jantan dalam pelepasliaran kali ini dulunya sempat dipelihara di dalam kandang ayam selama berbulan-bulan dan hanya diberi makan kental manis sehingga dia mengalami malnutrisi parah sampai tubuhnya membengkak. Budi diselamatkan dari daerah Kubing, Dusun Sawah Sempurna, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang pada Desember 2014 ketika masih berusia 1 tahun. Setelah menjalani masa rehabilitasi selama 9 tahun, Budi akhirnya memperoleh kebebasan sejati di habitat alaminya.
Orangutan lainnya, Tulip, diselamatkan pada April 2012 dari kasus pemeliharaan ilegal oleh warga Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang. Saat ini Tulip diperkirakan berusia 13 tahun. Sementara Bianca merupakan orangutan betina berumur ± 7 tahun berasal dari hasil penyelamatan Balai KSDA Kalimantan Barat di daerah Desa Randau Jungkal Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang pada tanggal 5 Oktober 2016. Terakhir ada Jamilah, orangutan betina berusia 9 tahun yang diselamatkan di daerah Sandai, Kabupaten Ketapang pada Februari 2016.
Yuk kita doakan mereka semua sehat selalu di rumah mereka di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.
Heribertus Suciadi
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Restorasi Mangrove – Jalan Berliku Penanaman Bakau
Masih ingat kan dengan logo baru kami? Di logo baru kami, terdapat karakter pohon yang kami ambil inspirasinya dari mangrove. Kami mengambil karakter pohon ini berangkat dari aksi nyata kami dalam melakukan penanaman dan restorasi mangrove, terutama di pesisir Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Ketapang. Kegiatan restorasi mangrove yang kami kerjakan bersama PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (MPK) ini memang masih tergolong muda. Kami memulai proyek ini dari tahun 2021. Meskipun baru dua tahun, kami sudah menanam lebih dari 50.000 bibit mangrove di area seluas 15 ha yang tersebar di delapan desa dan empat kecamatan di Kabupaten Ketapang. Dalam penanaman mangrove ini, kami sangat memperhatikan spesies mangrove asli pada masing-masing lokasi sehingga kami menanam lima jenis mangrove yaitu, Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Bruguiera sp., dan Avicennia Alba
Kegiatan ini juga melibatkan lebih dari 100 orang warga desa yang berperan aktif dalam melakukan pembibitan, penanaman, dan perawatan. Tidak hanya itu, mereka juga menganyam ecopolybag dari daun nipah lho untuk pembibitan mangrovenya. Jadi kegiatan ini tidak meninggalkan sampah plastik bekas polybag yang justru mengancam kelestarian ekosistem mangrove dan berpotensi mematikan bibit mangrove yang ditanam.
Tim penanaman di Desa Sungai Besar, Kalimantan Barat terdiri dari para ibu peduli lingkungan (Heribertus Suciadi | Yayasan IAR Indonesia)
Menanam mangrove itu juga nggak semudah nanam pohon pisang. Salah satu tantangan terbesar dalam penanaman mangrove adalah anakan mangrove itu sangat rentan dan mudah mati dibandingkan dengan anakan pohon yang ada di daratan atau hutan selain hutan mangrove. Kami melakukan pengamatan dan mendapati bahwa pertumbuhan anakan mangrove itu hanya tumbuh 10 cm per tahun dan harus menahan terpaan ombak serta cuaca yang sering berubah. Hal ini yang sering kali kurang dipahami dalam kegiatan restorasi mangrove di Indonesia. Pada kebanyakan restorasi mangrove di Indonesia, kegiatan yang dilakukan hanya fokus pada penanaman dengan pemahaman bahwa mangrove sama dengan pohon lainnya dan perlakuannya pun harus sama: Tanam-tinggal-hidup. Fokusnya hanya pada tanam tanpa pemahaman mendasar sehingga berujung kegagalan.
Program restorasi mangrove memang bukan hanya sekadar tanam dan tinggal. Mangrove yang ditanam perlu dirawat dan dipantau pertumbuhannya, juga dilakukan tanam sisip bila diperlukan. Bahkan, perlu langkah-langkah strategis yang cukup panjang sebelum penanaman ini dilakukan untuk memastikan program restorasi mangrove ini berumur panjang dan berkelanjutan.
Di tahap awal kami melakukan pendekatan persuasif kepada para pemangku kepentingan, terutama masyarakat untuk mendapatkan kepercayaan dari mereka. Kami juga membentuk komunitas pemuda yang diberi nama SHIELD (sahabat Hijau Eco Lestari Desa) Sungai Besar yang dapat bergerak setiap saat serta untuk mendapatkan dukungan dari banyak pihak.
Karmele Llano Sanchez, Direktur Utama Yayasan IAR Indonesia turut menanam mangrove di Desa Kuala Tolak, Kalimantan Barat. Penanaman mangrove di desa ini sudah mencapai lebih dari 1000 bibit (Heribertus Suciadi | Yayasan IAR Indonesia)
Kemudian kami melakukan survei biodiversitas pada ekosistem mangrove dan pemetaan lokasi yang paling terdampak dan perlu dilakukan rehabilitasi. Kami juga melakukan penguatan kelompok masyarakat yang akan melakukan rehabilitasi mangrove dengan mengadakan pelatihan keterampilan dalam melakukan rehabilitasi mangrove.
Terakhir kami melakukan implementasi rehabilitasi mangrove dengan memilih benih mangrove yang sesuai jenisnya dengan lokasi tanam, penyemaian benih hingga menjadi bibit unggul dan memiliki tingkat survival rate yang tinggi, perawatan semasa tahap penyemaian secara intensif dan partisipatif, penanaman bibit mangrove yang siap dan melakukan monitoring hingga perawatan pasca panen selama mungkin hingga bibit mangrove dewasa dan stabil pertumbuhannya.
Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam restorasi mangrove adalah akuntabilitas program. Sistem monitoring, reporting dan verifikasi (MRV) rehabilitasi mangrove harus bersifat transparan sehingga masyarakat mengetahui efektivitas dari program tersebut karena menggunakan dana publik. Sistem MRV yang andal dan transparan sangat perlu untuk meningkatkan kredibilitas dan akuntabilitas program rehabilitasi mangrove. Jangka waktu pemantauan selama 5 tahun dapat digunakan mengingat tingginya risiko biofisik lingkungan dan sosial yang mungkin terjadi di kawasan sekitarnya.
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Galih Hakim dan Heribertus
Suksesnya Panen Padi di Tiga Desa di Ketapang, Kalimantan Barat
Siapa yang menanam dia yang menuai, kata-kata ini pas banget nih buat para petani dampingan kami di tiga desa di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, yaitu Desa Pematang Gadung, Desa Kuala Tolak, dan Desa Tanjung Pura. Ketiga kelompok tani yang ada di tiga desa ini, merupakan kelompok tani yang anggota-anggotanya pernah bekerja sebagai penambang dan pembalak (logger). Dengan bertani, mereka telah meninggalkan pekerjaan lama mereka. Yuk kita ikuti keberhasilan panen mereka.
Di Desa Pematang Gadung, kelompok tani Sejahtera Kite dan ibu-ibu yang tergabung dalam komunitas The Power of Mama melakukan panen padi di dua lahan milik Pak Misrai dan Ibu Nuraida pada 26 Januari 2023 lalu. Keduanya adalah warga masyarakat di Desa Pematang Gadung. Di kedua lahan tersebut, kelompok tani ini menanam padi varietas Ampara dan Srikandi yang mereka tanam pada Oktober 2022.
Di lahan Pak Misrai yang seluas satu hektar, 24 warga masyarakat terlibat dalam kegiatan ini, termasuk para anggota kelompok tani Sejahtera Kite. Dari kegiatan panen tersebut, diperoleh padi sebanyak 825 kilogram. Sementara di lahan Bu Nuraida, 26 orang ibu-ibu yang tergabung dalam komunitas The Power of Mama menghasilkan 972 kilogram padi dari lahan seluas satu hektar. Jumlah ini meningkat pesat dibandingkan sebelumnya ketika kami belum memberikan pendampingan dan para petani masih menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Di tahun sebelumnya, di lahan yang sama, mereka hanya menghasilkan padi sebanyak 216 kilogram di lahan Pak Misrai dan padi 600 kg di lahan Bu Nuraida.
Panen padi di Desa Pematang Gadung, Kalimantan Barat bisa dikatakan cukup sukses. Program kolaborasi YIARI dengan PT. Mohairson Pawan Khatulistiwa (MPK) ini berhasil meningkatkan produksi gabah kering padi dari lahan pertanian warga sebesar kurang lebih sepertiga dari panen sebelumnya. (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
Mayoritas anggota kelompok tani Sejahtera Kite di Desa Pematang Gadung ini merupakan mantan pekerja Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dan keluarganya. Pada tahun 2021 jumlah anggotanya baru tujuh orang dan setahun berselang, jumlah anggotanyanya berkembang pesat menjadi 22 orang.
Di Kuala Tolak, petani dampingan kami yang tergabung dalam kelompok tani Semangat Jaya Bersama juga melakukan panen padi pada 15 Februari 2023. Dalam panen yang melibatkan 13 orang anggota kelompok tani ini, mereka berhasil mendapatkan 563 kilogram padi dari lahan seluas 1.800 m2. Sebagian besar anggota kelompok tani ini dulunya adalah para pembalak liar. Para anggota kelompok tani ini menanam padi varietas Bramo dan Thailand pada bulan Oktober 2022.
Selain padi kami juga melakukan pendampingan kegiatan agroforestri kepada kelompok tani Hijrah Bersama di Desa Tanjung Pura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang. Kelompok Tani ini terdiri dari 19 orang yang sebelumnya berprofesi sebagai pembalak. Di dalam kegiatan ini kami mendampingi mereka melakukan penanaman petai, jengkol, durian, cabe, terong, dan bawang merah. Kami juga memberikan pelatihan pembuatan pupuk dan pestisida organik beserta penerapannya untuk tanaman agroforestri. Dari berbagai jenis tanaman yang sudah ditanam oleh anggota kelompok tani Hijrah Bersama, bawang merah menjadi tanaman pertama yang dipanen. Pada 10 Maret 2023 kemarin, anggota Hijrah Bersama melakukan panen bawang merah sebanyak 30 kilogram yang akan dimanfaatkan sendiri oleh anggota kelompok.
Cabe, salah satu bahan masakan favorit masyarakat Ketapang turut ditanam warga di sela-sela kesibukannya mengurus padi (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
Sejak tahun lalu, kami melakukan pendampingan kepada para kelompok tani ini dengan memberikan pelatihan mengenai pembuatan pupuk dan pestisida organik serta penerapannya pada tanaman. Sebelumnya kelompok tani Semangat Jaya Bersama masih menggunakan pupuk kimia dan belum melakukan perawatan tanaman padi secara baik. Hasilnya panen padi bisa meningkat sebanyak 43 persen dibandingkan dengan hasil panen sebelumnya yang masih menggunakan pupuk kimia. Dulunya, mereka hanya mampu menghasilkan padi sebanyak 394 kilogram di lahan yang sama.
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Mengantar Pulang Lima Orangutan Kalimantan Kembali ke Hutan
Pernah ngebayangin nggak kalian mengantarkan pulang orangutan kembali ke habitatnya? Mau tahu rasanya? Tentu luar biasa seru dan bahagianya, SobatIAR. Pelepasliaran – istilah yang biasa kami pakai untuk nganterin orangutan kembali ke hutan – merupakan pengalaman yang keren yang kali ini mau kami ceritain! Pada 18 Juni 2022 lalu, jalani bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR), kami melepasliarkan lima individu orangutan, di kawasan TNBBBR. Kelima orangutan ini terdiri dari satu orangutan betina bernama Joyce dan empat orangutan jantan bernama Otan, Kotap, Anjas, dan Cemong. Kelimanya merupakan orangutan yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi dan kemudian telah menjalani proses rehabilitasi di tempat kami di Ketapang, Kalimantan Barat.
Otan yang saat ini berusia delapan tahun, dulunya ditemukan oleh pekerja sawit di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Orangutan ini kemudian diserahkan ke BKSDA Kalbar dan dibawa ke pusat penyelamatan dan konservasi orangutan Yayasan IAR Indonesia di Desa Sungai Awan Kiri, Kabupaten Ketapang pada 18 September 2015. Setelah menjalani proses rehabilitasi selama tujuh tahun, Otan akhirnya siap kembali ke habitat aslinya.
Joyce bergelantungan pasca dilepasliarkan (Muffidz Ma’sum | IAR Indonesia)
Untuk orangutan Kotap, ia sempat jadi korban pemeliharaan ilegal oleh warga Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Kotap dipelihara selama tiga tahun dan ditempatkan di kandang kayu kecil di depan rumah. Kotap kemudian diselamatkan tim gabungan BKSDA Kalbar dan YIARI pada 12 April 2017. Saat ini Kotap berusia sembilan tahun dan berdasarkan hasil pemeriksaan, Kotap sudah memenuhi persyaratan untuk dilepasliarkan ke habitat aslinya.
Sementara Cemong, dulunya dipelihara oleh warga di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat sebelum diselamatkan oleh tim gabungan BKSDA Kalbar dan YIARI pada 26 Januari 2011. Awalnya, Cemong ditemukan oleh warga di dalam area pembukaan lahan untuk kebun sawit dalam keadaan terluka dan induknya ditemukan sudah mati. Untuk mengembalikan sifat alami dan kemampuanya bertahan hidup sebagai orangutan, Cemong harus menjalani masa rehabilitasi selama sebelas tahun sebelum akhirnya bisa dilepasliarkan.
Sedangkan Anjas, berasal dari Kabupaten Kubu Raya dan dulunya dipelihara oleh seorang pedagang yang menemukannya di hutan tanpa induk. Anjas dipelihara selama tiga tahun sebelum akhirnya Anjas diserahkan secara sukarela kepada BKSDA Kalbar dan YIARI pada 6 Februari 2014. Setelah menjali rehabilitasi selama delapan tahun, kini Anjas yang sudah berusia 12 tahun ini siap untuk dilepasliarkan.
Tim gabungan menjaga kandang transport orangutan ketika menyeberang sungai (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Joyce juga pernah dipelihara warga Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Pemeliharanya mengaku diberi orangutan sebagai tukar uang bensin oleh pengendara motor yang tidak dia kenal. Gila kan Sob?! Karena mengetahui bahwa memelihara satwa liar merupakan perbuatan melawan hukum, dia menyerahkan Joyce ke BKSDA Kalbar dan YIARI pada bulan Januari 2013. Saat ini Joyce yang sudah berusia sebelas tahun dirasa sudah siap untuk kembali ke habitatnya.
Buat kalian yang mikir, kenapa sih orangutan perlu direhabilitasi abis dipelihara manusia? Sini kami jelasin. Proses rehabilitasi tuh sulit lho dan bisa berlangsung lama tergantung kemampuan masing-masing individu. Bahkan bisa berlangsung sampai belasan tahun. Rehabilitasi diperlukan untuk mengembalikan sifat dan kemampuan alami orangutan untuk bertahan hidup di habitat aslinya.
Kawasan TNBBBR jadi lokasi the best buat mereka pulang, karena berdasarkan hasil kajian yang udah kami lakukan, kesesuaian habitatnya tinggi, dan jenis-jenis vegetasi penyusun hutan di TNBBBR mempunyai kecukupan baik dalam jumlah maupun keragaman jenis sebagai pakan orangutan.
Nah, nganterin kawan-kawan orangutan kita ini juga luar biasa banget jadi cerita lho Sobat. Untuk mencapai lokasi pelepasliaran ini, tim bersama orangutan harus menempuh perjalanan darat sejauh 700 kilometer, melewati enam kabupaten yaitu Ketapang, Kayong Utara, Sanggau, Sekadau, Sintang dan Melawi, lalu dilanjutkan dengan perahu dan berjalan kaki. Total makan waktu tiga hari tuh untuk sampai ke TNBBBR dari Ketapang.
Kandang transport orangutan diangkut beriring-iringan (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta tentunya happy banget dengan kegiatan ini dan ngajakin kita semua untuk mendukung upaya-upaya konservasi. “Apresiasi saya sampaikan kepada seluruh pihak baik itu instansi maupun lembaga non pemerintah serta masyarakat yang terlibat dalam upaya penyelamatan satwa endemik Kalimantan ini. Namun begitu kita masih perlu inovasi-inovasi program jangka panjang yang lebih efektif dalam upaya konservasi orangutan,” ujar Pak Sadtata.Nah kalau SobatIAR lihat bagaimana kelima orangutan yang dilepasliarkan ini rata-rata menjalani rehabilitasi 7-11 tahun sebelum bisa diantar pulang, sebenarnya masih ada proses selanjutnya lho. “Setelah pelepasliaran, tim monitoring kami masih harus mengikuti perkembangan orangutan setiap hari dan memastikan orangutan bisa bertahan hidup di alam. Untuk itu, kami dibantu masyarakat lokal dari area penyangga taman nasional di wilayah sungai Mentatai. Selain tim monitoring ada juga dokter hewan yang bertugas di lokasi pelepasan untuk memastikan kondisi orangutan ini sehat dan prinsip kesejahteraan terpenuhi. Upaya ini membutuhkan tenaga dan waktu yang sangat panjang demi memastikan bahwa orangutan yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi ini kembali mempunyai kemampuan untuk bertahan hidup di habitat aslinya,” ujar Argitoe Ranting, Kepala Program YIARI.
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Hore! Taman Nasional di Indonesia Kembali Sukses Jadi Tempat Kelahiran Bayi Orangutan!
Ada kabar seru dan membahagiakan nih Sobat IAR. Jadi pada 21 April lalu, orangutan bernama Muria, telah melahirkan bayi orangutan jantan yang kemudian dinamakan Bumi, di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kalimantan Barat.
Fyi ya Sob, Muria ini usianya 12 tahun. Dia dulunya sempat dirawat di tempat rehabilitasi orangutan kami di Ketapang selama lima tahun. Kemudian, pada 14 Februari 2019, ia dilepasliarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui jajaran Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama tim dari TNBBBR dan YIARI.
Nah, proses melahirkannya ini seru banget! Jadi pas tim patroli kami jalan di kawasan yang dekat dengan flying camp, staf patroli mendapati Muria menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Dengan segera, staf patroli melaporkan kejadian ini ke dokter hewan yang bertugas di kamp Teluk Ribas, ini nama kamp kami yang ada di kawasan TNBBBR.
Muria pasca melahirkan Bumi di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) (Muffidz Ma’sum | IAR Indonesia)
Setelah berada di lokasi Muria melahirkan, tim monitoring dan dokter hewan kami, memantau kondisi Muria yang tengah menjalani proses melahirkan, untuk memastikan dirinya tidak mengalami komplikasi dan pendarahan. Pada pukul 11.12 WIB, anak Muria lahir dalam kondisi sehat, responsif, tangan memegang erat induknya, aktif menangis, dan kemudian menyusu pada Muria.
Selama dua hari, kami menunggui Muria yang masih dalam proses pemulihan di lokasi tersebut, sekaligus untuk menjaga induk dan anak ini dari ancaman serangga dan binatang lainnya. Di hari kedua, Muria sudah tampak kembali aktif memanjat pohon dan bergerak untuk mencari makanan sambil terus menggendong Bumi.
Setelah melahirkan, Muria dan Bumi dipantau secara penuh oleh tim monitoring, untuk memastikan keduanya hidup secara aman dan sehat. Pemantauan ini merupakan prosedur rutin dan biasa dilakukan bagi orangutan rehabilitasi yang telah dilepasliarkan, terutama bagi orangutan yang melahirkan di taman nasional.
And do you know, Sob. Kelahiran orangutan di TNBBBR tuh nggak cuma sekali ini doang. Kita harus berterima kasih nih untuk pemerintah kita, yang telah berhasil menjadikan taman nasional kita, salah satunya TNBBBR sebagai lokasi kelahiran satwa-satwa liar yang dilindungi. Apa aja sih kelahiran orangutan yang sudah pernah terjadi? Pada awal November 2019, orangutan bernama Shila melahirkan bayi orangutan berjenis kelamin jantan yang kemudian diberi nama Surya oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. Kesuksesan ini berulang pada Juni 2020, ketika orangutan bernama Desi juga melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin betina. Oleh Bu Menteri LHK, bayi orangutan ini diberi nama Dara. Terakhir, orangutan bernama Laksmi juga menyumbangkan generasi baru orangutan di dalam kawasan TNBBBR pada awal Oktober 2021. Oleh Wakil Menteri LHK, Dr. Alue Dohong, bayi orangutan betina ini diberi nama Lusiana. Ketiga orangutan yang melahirkan itu, Shila, Desi, dan Laksmi, semuanya pernah menjalani proses rehabilitasi di YIARI, Sob.
Laksmi beberapa minggu setelah melahirkan bayinya, Lusiana, Oktober 2021 lalu di kawasan TNBBBR (Heribertus Suciadi | IAR Indonesia)
Kelahiran generasi baru orangutan ini memperlihatkan keberhasilan pemerintah dan mitra dalam menjadikan taman nasional sebagai rumah sejati bagi orangutan dan satwa liar dilindungi lainnya. Kelahiran mereka menjadi penting dan bersejarah karena merupakan bukti keberhasilan program rehabilitasi orangutan. Program penyelamatan, rehabilitasi, pelepasliaran, dan monitoring orangutan ini tidak hanya berhasil membuat Muria, Shila, Desi, dan Laksmi berhasil pulih kembali menjadi orangutan sejati dan kembali hidup bebas di habitat aslinya, tetapi juga sukses mencetak cikal bakal generasi baru orangutan di dalam kawasan taman nasional tercinta kita. Yuk, terus dukung kelestarian hutan dan taman nasional kita!
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Bantuan Handtractor Dukung Pertanian Organik Berkelanjutan di Melawi
Tau nggak sih rasanya mencangkul tanah seluas empat hektar? Beuh, ngebayanginnya aja udah keringat dingin kan, Sob. Nah, buat meringankan pekerjaan mengolah lahan tersebut, Yayasan IAR Indonesia (YIARI) baru-baru ini ngasih bantuan satu unit handtracktor buat empat kelompok tani di Desa Nusa Poring, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Karena alat ini baru dikenal masyarakat di sana, so waktu kami menyerahkan sumbangan pada Mei 2022, kami juga ngasih pelatihan perakitan, penggunaan, dan perawatan kepada empat kelompok tani. Kami juga bikinin jadwal penggunaan handtracktor supaya bisa dipakai bergantian di antara keempatnya, yaitu Kelompok Lacok Kerojo, Mamal Kerojo, Semangat Kerojo Samo, dan Belantong Beroto.
Bantuan ini baru awal aja nih Sob. Kami saat ini sedang melakukan pendampingan pertanian berkelanjutan sejak Februari tahun ini, tapi baru di satu dusun aja, yaitu di Dusun Sekujang di Desa Nusa Poring tadi. Nah, empat kelompok tani ini adanya di Dusun Sekujang ini. Masing-masing kelompok punya lahan satu hektar. Oya, kelompok-kelompok ini dibentuk dari inisiasi warga desa lho, tentu saja kami dampingi pembentukannya. Uniknya lagi, keempat kelompok ini diinisiasi oleh para ibu-ibu, yang kemudian menjabat sebagai ketua dan para pengurus di masing-masing kelompok. Nah kemudian barulah bapak-bapak di dusun itu pada ikutan. Keren kan! Rencananya nih, kami nggak cuma akan mengembangkannya di satu dusun. Ada total lima dusun di Nusa Poring, dan kami berharap bisa melakukan pendampingan ini ke semua dusun.
Para ibu sedang meyiapkan media tanam untuk pembibitan. Bersama-sama, mereka menginisiasi proyek pertanian berkelanjutan di Dusun Sekujang, Desa Nusa Poring (Muffidz Ma’sum | IAR Indonesia)
Lantas, apa sih yang kami ajarin ke mereka? Buat yang kepo, kami kenalkan nih kegiatan pertanian berkelanjutan yang menerapkan pola pertanian menetap. Sebelumnya, masyarakat masih mengandalkan sistem ladang berpindah yang berjarak cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Sering kali, karena jarak yang jauh, tanaman pertanian yang sudah ditanam tidak sempat dirawat dengan baik sehingga hasil panennya tidak maksimal. Sementara itu, lahan di sekitar pemukiman belum dimanfaatkan secara optimal untuk pertanian masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan di bidang pertanian mulai dari cara menanam, perawatan, sampai penanganan organisme pengganggu tanaman.
Kami juga mengenalkan teknologi pertanian seperti teknik membuat pupuk kompos, pupuk cair organik sampai pengenalan alsintan (alat dan mesin pertanian). Nggak lupa juga, kami memberikan alat-alat penunjang pertanian, seperti cangkul, pupuk, paranet, terpal, selang, dan lain-lain.
Para petani Desa Nusa Poring bergotong-royong membuat pupuk kompos. Pupuk kompos ini nantinya akan digunakan di lahan pertanian berkelanjutan mereka (Muffidz Ma’sum | IAR Indonesia)
Nggak muluk-muluk, kami berharap dengan bertani menetap ini, masyarakat setempat bisa menerapkan pertanian yang berkelanjutan dengan memanfaatkan lahan non-produktif di desa untuk budidaya tanaman sayur hutan atau tanaman sayur yang biasa mereka jual di pasar. Selain memaksimalkan lahan, kegiatan pertanian menetap ini diharapkan bisa mengurangi aktivitas pembukaan ladang untak ladang berpindah. Kegiatan ini juga dilakukan dengan melibatkan para pekerja kayu dan istri mereka untuk menjadi petani sayur.
Respon para kelompok tani ini seneng banget, Sob. Salah satunya Pak Andreas, salah satu anggota Mamal Kerojo. “Ya memang kami sudah jauh tertinggal. Kami punya lahannya, tetapi kami tidak paham mengolahnya. Kami bersyukur masih ada lembaga yang mau mengajarkan kami. Saya sendiri tertarik untuk berladang dan berkebun dengan menggunakan traktor ini untuk mengolah lahan. Karena kami bisa lebih cepat dan ringan kerjanya. Coba kalau pakai cangkul, lahan sebesar ini berbulan-bulan kita kerjakan.”
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.