Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

HPSN 2025: YIARI Ajak Anak-anak di Ketapang Bersih-bersih Sampah

Sampah merupakan persoalan serius yang tidak hanya menjadi tanggung jawab nasional, tetapi juga tantangan global yang hingga kini masih terus diupayakan penyelesaiannya.

Berdasarkan Surat Edaran (SE) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025, data dari Global Waste Management Outlook 2024 mencatat bahwa sekitar 38 persen sampah di dunia masih belum terkelola dengan baik. Kondisi ini memberikan kontribusi besar terhadap tiga krisis lingkungan utama yang dikenal sebagai Triple Planetary Crisis, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.

Di tingkat nasional, Indonesia mencatat timbunan sampah sebesar 56,63 juta ton pada tahun 2023. Dari total tersebut, hanya 39,01 persen atau sekitar 22,09 juta ton yang berhasil dikelola. Sisanya, yaitu 60,99 persen atau sekitar 34,54 juta ton, belum mendapatkan penanganan yang memadai.

Sebagai bagian dari peringatan HPSN 2025, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menginisiasi kegiatan bersih-bersih lingkungan bersama anak-anak di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Aksi ini bertujuan menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini, serta mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah di sekitar mereka.

Penasaran seperti apa kegiatan yang dilakukan? Yuk, simak keseruan aksi YIARI bersama anak-anak di Ketapang berikut ini!

Aksi Bersih Sampah Dilakukan di Tujuh Titik Lokasi

Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bersama anak-anak di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menyelenggarakan aksi bersih sampah di tujuh titik lokasi berbeda. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yakni pada 21 dan 22 Februari 2025.

Tepat pada tanggal 21 Februari, bertepatan dengan peringatan HPSN, kegiatan diawali dengan aksi bersih sampah bersama siswa-siswi SDN 20 Pangkalan Jihing, yang juga menjadi bagian dari site kerja Gunung Tarak.

Aksi bersih sampah YIARI dan siswa-siswi di SDN 20 Pangkalan Jihing. (Tim Edukasi | YIARI)

Masih di hari yang sama, YIARI mengadakan kegiatan daur ulang sampah di Learning Centre Sir Michael Uren (LC SMU). Pada kegiatan ini, YIARI berkolaborasi dengan Genta (Gerakan Pecinta Alam) dari SMKN 1 Ketapang, menciptakan momen edukatif seputar pengelolaan dan pemanfaatan sampah secara kreatif.

Selain itu, YIARI turut menggelar aksi bersih lingkungan bersama anak-anak di Desa Nusa Poring, yang merupakan bagian dari site project Melawi.

Pada tanggal 22 Februari, aksi bersih sampah dilanjutkan di tiga sekolah dasar dan satu desa, yakni SDN 33 Cali, SDN 14 Pulau Cempedak, SDN 07 Hulu Sungai, serta Desa Batu Lapis.

Masyarakat Sambut Positif Aksi Bersih Sampah yang Diinisiasi YIARI

Aksi bersih sampah di Desa Nusa Poring. (Tim Edukasi | YIARI)

Aksi bersih sampah yang diinisiasi oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Desa Nusa Poring mendapatkan respons positif dari masyarakat setempat. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025.

Menurut Dieka Pertiwi, Manajer Edukasi dan Penyadartahuan YIARI, kegiatan bersih-bersih sampah sebenarnya bukanlah hal baru bagi anak-anak maupun warga di Kabupaten Ketapang. Aksi serupa telah menjadi kegiatan rutin yang dilakukan di berbagai desa.

Sebenarnya, aksi bersih sampah ini bukan kegiatan baru. Kegiatan seperti ini memang sudah rutin dilakukan. Jadi, HPSN itu sifatnya hanya seremonial saja, karena di luar momen perayaan seperti ini, aktivitas bersih-bersih sudah menjadi agenda reguler di desa-desa,” jelas Dieka.

Lebih lanjut, Dieka menjelaskan dalam rangka HPSN 2025, YIARI menyelenggarakan aksi bersih sampah dengan pendekatan yang lebih seremonial dan melibatkan sejumlah sekolah di wilayah Ketapang.

“Respons dari masyarakat sangat positif, terutama dari anak-anak yang memang terbiasa mengikuti kegiatan ini secara rutin setiap bulan,” tambahnya.

Anak-anak di Ketapang Terbiasa Bermain sambil Membersihkan Sampah

Salah satu fakta menarik dari kegiatan bersih sampah di Kabupaten Ketapang adalah kebiasaan anak-anak yang menjadikan aksi peduli lingkungan sebagai bagian dari aktivitas bermain sehari-hari. Di beberapa wilayah, seperti di Mentatai, anak-anak kerap berenang atau menyelam di sungai sambil memungut sampah yang mereka temui di permukaan maupun dasar sungai.

Seorang anak memungut sampah di Desa Batu Lapis, Kecamatan Hulu Sungai. (Tim Edukasi | YIARI)

Mereka, kalau melihat sampah di dasar sungai, langsung diambil. Itu sudah menjadi kebiasaan,” ungkap Dieka.

Ia menambahkan, kesadaran ini merupakan hasil dari berbagai kegiatan edukatif dan aksi peduli lingkungan yang dilakukan secara konsisten di wilayah Ketapang.

Kegiatan-kegiatan yang sudah rutin dilakukan membuat anak-anak lebih sadar. Bahkan, mereka dengan inisiatif sendiri memungut sampah, termasuk yang berada di dasar sungai sekalipun,” jelasnya.

Sampah Plastik Masih Menjadi Tantangan Terbesar

Dari berbagai jenis sampah yang mencemari lingkungan, sampah plastik menjadi tantangan terbesar yang dihadapi saat ini. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di kalangan anak-anak. Di Kabupaten Ketapang, misalnya, anak-anak masih memiliki kebiasaan membeli jajanan yang umumnya dikemas dalam plastik sekali pakai.

Meski demikian, kesadaran anak-anak terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sudah tergolong baik. Meski masih mengonsumsi produk berkemasan plastik, mereka telah terbiasa membuang sampah pada tempatnya, bukan sembarangan.

Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan, YIARI terus mengedukasi anak-anak dan masyarakat di Ketapang, khususnya terkait bahaya dan pengelolaan sampah plastik. Salah satu kebiasaan positif yang mulai dibangun adalah membawa wadah atau tempat minum sendiri saat membeli jajanan, guna mengurangi ketergantungan terhadap kemasan plastik sekali pakai.

Masalah sampah memang tidak akan pernah benar-benar habis. Namun, sebagai individu, kita bisa berkontribusi melalui langkah-langkah kecil yang konsisten, seperti memilah sampah, membawa wadah sendiri, atau rutin mengikuti kegiatan bersih-bersih lingkungan. Tak harus menunggu momen tertentu seperti Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), aksi menjaga kebersihan bisa dilakukan setiap minggu, bahkan setiap hari, di lingkungan tempat tinggal kita.

Seperti yang telah ditunjukkan oleh anak-anak di Ketapang—bermain sambil memungut sampah—aksi sederhana ini memiliki dampak besar jika dilakukan secara kolektif. Sudah saatnya kita menjadikan kepedulian terhadap sampah sebagai bagian dari gaya hidup. Yuk, mulai sekarang biasakan memungut sampah dan membuangnya di tempat yang semestinya!

Featured image: Siswa SDN O7 Hulu Sungai membersihkan sampah. (Tim Edukasi | YIARI)