Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Menanamkan Cinta Satwa Sejak Dini: Perayaan Hari Anak Nasional Bersama YIARI
Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2025, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelenggarakan serangkaian kegiatan edukatif dan menyenangkan yang berlangsung di tiga lokasi berbeda, yaitu Taman Baca Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Bogor, Jawa Barat; Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren di Ketapang, Kalimantan Barat; serta SDN 23 Matan Hilir Selatan di wilayah Sungai Besar, Ketapang, Kalimantan Barat.
Kegiatan ini menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan hidup sejak usia dini. Anak-anak sebagai generasi penerus perlu dibekali dengan pemahaman akan pentingnya menjaga alam dan makhluk hidup di dalamnya, salah satunya melalui pengenalan terhadap satwa liar dan habitat alaminya.
Membaca nyaring dan membuat poster
Kegiatan “Kenali Satwa, Sayangi Alam” yang diselenggarakan di TBM Lentera Pustaka, menjadi sarana untuk menumbuhkan literasi dan meningkatkan minat baca di bidang lingkungan. Selain difasilitasi oleh YIARI, kegiatan ini juga dibantu oleh 7 relawan TBM Lentera Pustaka dan 8 mahasiswa KKN IPB.
Kegiatan dikemas secara edukatif dan interaktif, dimulai dari sesi membaca nyaring buku cerita petualangan “Karmila & Gito bersama Owa Kelempiau” yang mengangkat kisah tentang melindungi satwa. Menariknya, setiap karakter yang ada dalam buku diperankan dan dibacakan oleh kakak-kakak YIARI. Keseruan membaca ini berhasil menarik perhatian anak-anak terhadap alur cerita dan pesan-pesan yang dibawakan.
Usai membaca nyaring, kegiatan dilanjutkan dengan aktivitas prakarya. Mulai dari membuat poster habitat satwa, dan mewarnai untuk anak-anak prasekolah dan tingkat bawah. Dari aktivitas ini, anak-anak belajar mengenai perbedaan ruang habitat yang digunakan oleh satwa liar.
Kakak-kakak YIARI membaca nyaring dengan memerankan karakter pada buku cerita Petualangan Karmila dan Gito bersama Owa Kelempiau di TBM Lentera Pustaka, Bogor. (YIARI)
Kegiatan ini memberikan pengalaman berkesan bagi anak-anak. Mereka tampak antusias mengikuti setiap sesi dan banyak yang baru mengenal satwa seperti kukang dan owa jawa. Selain memperluas wawasan, kegiatan ini juga membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian satwa dan habitatnya.
“Kegiatan-kegiatannya seru banget, asik,” kata Ade Amirah (15), salah satu peserta kegiatan.
“Dan juga nambahin pengetahuan aku, bagaimana bentuk rupa owa jawa, yang ternyata harus dilindungi dan tidak boleh diburu,” ungkapnya menambahkan.
Hak anak dan kesejahteraan satwa
Sementara itu, di Ketapang, Kalimantan Barat, perayaan Hari Anak Nasional juga berlangsung meriah di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren. Anak-anak dari komunitas sekitar, seperti Zwageri Generation, berpartisipasi dalam berbagai aktivitas kreatif seperti mewarnai sketsa satwa, membuat bando berbentuk hewan, dan membuat video ucapan bertema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap pemenuhan hak anak. Sekaligus juga, dikaitkan dengan tanggung jawab anak terhadap kesejahteraan satwa.
Peserta mewarnai di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren. (YIARI)
Kegiatan serupa juga diselenggarakan di SDN 23 Matan Hilir Selatan. Dalam kolaborasi ini, anak-anak mengikuti lomba mewarnai dengan tema kesejahteraan satwa, mendengarkan materi edukatif, serta menonton film edukasi “Monpai Exploit” bersama. Dari hasil kegiatan ini, anak-anak mulai memahami bahwa kesejahteraan bukan hanya hak manusia saja, tetapi juga hak satwa, baik peliharaan maupun satwa liar di hutan. Pemahaman ini tergambarkan dari karya mereka yang menunjukkan interaksi positif antara anak dan satwa, serta ucapan refleksi dalam video yang mereka buat.
Foto bersama dengan peserta di SDN 23 MHS Sungai Besar. (YIARI)
Kegiatan Hari Anak Nasional yang dilakukan YIARI menjadi bukti bahwa edukasi konservasi bisa dikenalkan sejak dini, dengan cara yang menyenangkan dan bermakna. Melalui pengenalan terhadap satwa liar dan habitatnya, anak-anak tidak hanya mendapat pengetahuan baru, tetapi juga nilai-nilai empati, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Nasya Karina Nur’aziza
Pusat Belajar Bahari: Upaya YIARI Tingkatkan Kualitas Pendidikan di Pulau Cempedak
Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan kesadaran lingkungan di Pulau Cempedak, Kalimantan Barat, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) membangun sebuah fasilitas edukatif bernama Pusat Belajar Bahari.
Proyek ini tidak dilaksanakan secara mandiri, melainkan melibatkan kolaborasi aktif dengan masyarakat lokal, para pemangku kepentingan setempat, serta mahasiswa magang dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dan Fakultas Ilmu Sains dan Teknologi (FIST).
Peresmian Pusat Belajar Bahari dilaksanakan pada 27 Februari 2025 dan dibuka secara hangat oleh Ketua Program YIARI, Karmele Llano Sanchez. Dalam momen simbolis tersebut, pembukaan ditandai dengan penyingkapan tirai pada spanduk bertuliskan “Pusat Belajar Bahari”, sebagai lambang dimulainya perjalanan edukatif di kawasan pesisir ini.
Seperti apa kisah di balik pembangunannya? Simak selengkapnya di bawah ini!
Kolaborasi YIARI dengan BPSPL Pontianak
Pembangunan Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dengan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak. Kepala BPSPL Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, menyambut positif inisiatif YIARI dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan serta pelestarian lingkungan di wilayah pesisir tersebut.
Pemangku kepentingan hingga masyarakat lokal hadir dalam acara ini (Muffidz Ma’sum | YIARI)
“Hari ini kita bersyukur menyaksikan dimulainya sebuah inisiatif yang luar biasa, yakni Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak,” ujar Syarif dalam sambutannya.
Ia juga menekankan kegiatan ini merupakan bentuk sinergi antara YIARI dan Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui BPSPL Pontianak. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi contoh nyata kerja sama lintas sektor dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di kawasan pesisir.
Tak lupa, Syarif menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam mewujudkan proyek ini. Ia menilai para pendukung Pusat Belajar Bahari adalah individu maupun kelompok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan dan kelestarian lingkungan hidup.
Acara Dihadiri oleh Lebih dari 100 Orang Warga
Siapa sangka, pembukaan Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak mendapat sambutan yang begitu antusias dari masyarakat setempat. Antusiasme tersebut terlihat dari jumlah peserta yang hadir, yakni lebih dari 100 orang, terdiri atas sekitar 70 orang dewasa dan 30 anak usia sekolah.
Kehadiran mereka menjadi bukti nyata dukungan masyarakat terhadap inisiatif pembangunan Pusat Belajar Bahari.
Lebih dari sekadar menjadi audiens, warga juga terlibat aktif dalam sesi interaktif bersama tim edukasi dari YIARI, menunjukkan ketertarikan dan harapan besar terhadap masa depan pendidikan di wilayah mereka.
Pusat Belajar Bahari disambut baik oleh masyarakat (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Syarif menyebut acara tersebut sebagai momen yang sangat bermakna bagi warga Pulau Cempedak. Ia menyoroti tingginya semangat partisipasi yang ditunjukkan oleh masyarakat sejak awal hingga akhir acara.
“Mulai dari sesi sambutan, pembukaan spanduk sebagai simbol dimulainya kegiatan, hingga pengenalan Pusat Belajar kepada masyarakat—semuanya menjadi momen yang penuh makna,” ungkap Syarif.
Sesi Membaca Membuat Acara Lebih Berwarna
Kemeriahan acara pembukaan Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak semakin terasa dengan hadirnya sesi membaca buku. Buku-buku yang dibacakan merupakan hasil donasi dari Lina Katarsasmita—seorang ibu, guru, dan life coach yang telah lama berkontribusi dalam berbagai program edukasi YIARI.
Selain itu, beberapa koleksi buku juga berasal dari mahasiswa magang UKDW dan FIST yang turut ambil bagian dalam kegiatan ini.
Sesi membaca ini disambut dengan antusias, terutama oleh anak-anak. Mereka terlihat begitu antusias mengikuti jalannya kegiatan, menjadikan momen ini sebagai salah satu sorotan utama dalam acara.
Seusai sesi membaca, tim edukasi YIARI melanjutkan dengan sesi storytelling, membawakan cerita-cerita yang tak hanya menghibur, tetapi juga sarat pesan moral dan edukatif tentang kehidupan dan lingkungan sekitar.
Sesi membaca bersama anak-anak di Pembukaan Pusat Belajar Bahari (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Sesi membaca ini disambut dengan antusias oleh warga, terutama anak-anak. Setelah sesi membaca selesai, tim edukasi YIARI juga mengadakan sesi story telling untuk membagikan cerita-cerita yang tidak hanya menghibur tetapi juga mendidik, meningkatkan pemahaman tentang banyak aspek kehidupan dan alam sekitar.
Syarif menilai sesi interaktif seperti membaca dan bercerita tidak hanya memperkaya acara secara emosional, tetapi juga memperkuat nilai edukatif dari inisiatif Pusat Belajar Bahari.
“Kegiatan ini semakin berwarna dengan kehadiran tim edukasi YIARI, interaksi yang menyenangkan bersama anak-anak, serta pembacaan buku-buku donasi dari Ibu Lina,” ujar Syarif. Ia juga menegaskan bahwa kolaborasi seperti inilah yang menjadi kunci keberhasilan sebuah program berbasis komunitas.
Pusat Belajar Bahari Jadi Ruang untuk Tumbuh Bersama
Kehadiran Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak diharapkan menjadi langkah nyata dalam peningkatan kualitas pendidikan masyarakat pesisir. Melalui fasilitas ini, warga memiliki ruang untuk belajar bersama, memperluas wawasan, membangun jejaring sosial, dan tumbuh sebagai komunitas yang peduli terhadap lingkungan dan masa depan bersama.
Sesi interaksi bersama anak-anak di Pembukaan Pusat Belajar Bahari (Muffidz Ma’sum | YIARI)
“Harapannya, pusat pembelajaran bahari ini bisa menjadi ruang bagi masyarakat untuk terus belajar dan tumbuh bersama, serta semakin memahami pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan laut,” ujar Syarif.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi. Semoga ini menjadi langkah awal dari banyak hal baik yang akan datang,” tambahnya.
Melalui pengembangan ruang-ruang belajar yang inklusif, YIARI membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi seluruh lapisan masyarakat. Di saat yang sama, kolaborasi menjadi fondasi utama dalam setiap program.
YIARI terus menjalin kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan demi menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, untuk kesejahteraan generasi masa kini dan mendatang.
Featured image: Pembukaan Pusat Belajar Bahari di Pulau Cempedak (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Edukasi Hari Primata Lampung, Kenalkan Konservasi Sejak Dini!
Pada 9 Februari 2025, kegiatan edukasi dalam rangka peringatan Hari Primata Indonesia sukses diselenggarakan di Dusun Beringin 4, Lampung. Acara ini meliba tkan sebanyak 52 anak-anak dari keluarga petani, yang berasal dari jenjang pra-PAUD sampai SMP.
Kegiatan ini bukan sekadar perayaan simbolis, melainkan sebuah langkah nyata dalam menanamkan kesadaran lingkungan dan pentingnya konservasi sejak usia dini. Melalui serangkaian aktivitas seperti pengenalan jenis-jenis primata Indonesia, mewarnai, mendongeng, sampai permainan edukatif, anak-anak diajak untuk belajar sambil bermain, mengenal primata lebih dekat, serta memahami peran penting mereka dalam ekosistem.
Ingin tahu bagaimana anak-anak di Dusun Beringin 4 belajar mencintai alam sambil bermain? Simak selengkapnya di artikel ini!
Apa Tujuan dan Output dari Kegiatan Perayaan Hari Primata Indonesia di Dusun Beringin 4?
Kegiatan edukasi dalam rangka Hari Primata Indonesia di Dusun Beringin 4 bukan hanya bertujuan untuk memperingati hari penting ini, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam upaya konservasi satwa liar.
Menurut Jurnal Primatologi Indonesia, Indonesia merupakan rumah bagi lebih dari 59 spesies primata dari 11 genus, yang tersebar di berbagai habitat mulai dari hutan hujan tropis hingga pegunungan.
Sayangnya, keberadaan mereka semakin terancam oleh perburuan, perdagangan ilegal, serta kerusakan hutan yang masif.
Melalui kegiatan ini, YIARI merancang pendekatan edukatif yang menyasar anak-anak dari keluarga petani sebagai langkah awal membangun kesadaran kolektif sejak dini. Adapun tujuan utamanya mencakup:
Memberikan pendampingan intensif kepada anak-anak petani dampingan dalam memahami pentingnya pelestarian satwa liar.
Meningkatkan pengetahuan anak-anak mengenai berbagai jenis primata di Indonesia dan fungsi ekologisnya.
Menanamkan nilai-nilai konservasi sejak usia dini, agar terbentuk kebiasaan menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
Melakukan survei dan pendataan persepsi anak-anak serta keluarga mereka untuk mendukung keberlanjutan program edukasi konservasi.
Rangkaian Kegiatan untuk Edukasi Konservasi Primata
Berikut rangkaian kegiatan ini:
1. Penyampaian Materi: Mengenal Primata dan Habitatnya
Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu mengenal primata dan habitatnya (Tim Edukasi | YIARI)
Sesi ini menjadi inti dari kegiatan edukasi konservasi. Anak-anak dikenalkan pada berbagai jenis primata yang hidup di Indonesia, seperti orangutan, lutung, dan tarsius. Mereka juga diajak memahami peran ekologis primata, misalnya sebagai penyebar biji tanaman yang membantu regenerasi hutan.
Materi disampaikan melalui media visual seperti gambar dan video edukatif agar lebih menarik dan mudah dicerna. Selain itu, anak-anak juga dikenalkan dengan berbagai ancaman nyata yang dihadapi primata, seperti deforestasi, perburuan liar, dan perdagangan satwa ilegal.
Melalui sesi ini, peserta memperoleh pengetahuan sekaligus diharapkan menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap satwa liar.
2. Mewarnai
Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu mewarnai(Tim Edukasi | YIARI)
Mewarnai menjadi salah satu kegiatan favorit yang menyenangkan sekaligus mendidik. Anak-anak diberikan sketsa bergambar primata khas Indonesia untuk diwarnai sesuai dengan imajinasi mereka.
Kegiatan ini mengasah kemampuan motorik dan kreativitas, serta menjadi sarana mengenal satwa lebih dekat melalui pendekatan visual dan artistik.
Dengan tema yang sesuai, mewarnai menjadi media pembelajaran yang efektif untuk memperkuat pemahaman anak tentang jenis dan ciri khas primata Indonesia.
3. Mendongeng
Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu mendongeng(Tim Edukasi | YIARI)
Dongeng adalah salah satu metode paling efektif dalam menyampaikan pesan kepada anak-anak. Dalam sesi ini, mereka diajak mendengarkan cerita yang mengangkat tema pentingnya menjaga hutan dan melindungi satwa liar.
Cerita disampaikan dengan alur yang menarik serta tokoh-tokoh hewan yang mudah dikenali dan disukai oleh anak-anak.
Melalui dongeng, anak-anak dihibur sekaligus belajar bahwa tindakan manusia dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup satwa di alam liar. Pesan moral yang disampaikan mampu membentuk kesadaran ekologis dan menanamkan nilai-nilai konservasi sejak usia dini.
4. Games Edukasi
Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu games edukasi(Tim Edukasi | YIARI)
Bagi anak-anak, belajar akan lebih menyenangkan jika dilakukan melalui permainan. Dalam sesi ini, tim YIARI mengajak anak-anak untuk mengikuti berbagai permainan edukatif setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan lainnya.
Permainan yang disajikan dirancang untuk melatih kerja sama tim, ketelitian, serta kemampuan berpikir kritis. Dengan metode belajar sambil bermain ini, anak-anak menjadi lebih mudah memahami isu-isu konservasi dan lebih sadar akan pentingnya menjaga primata serta lingkungan hidup mereka.
5. Membaca Buku
Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu membaca(Tim Edukasi | YIARI)
Selain mendengarkan dongeng, anak-anak juga diajak untuk membaca buku-buku bertema konservasi satwa liar. Buku-buku ini berisi cerita inspiratif serta informasi menarik mengenai primata dan ekosistem hutan tempat mereka hidup.
Kegiatan membaca ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai konservasi melalui literasi, serta meningkatkan minat baca anak-anak. Melalui cerita yang dikemas secara ringan dan edukatif, diharapkan anak-anak dapat memahami pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan menghargai kehidupan satwa liar di sekitarnya.
6. Survei Persepsi Anak-anak
Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu survei persepsi anak-anak(Tim Edukasi | YIARI)
Sebagai bagian dari evaluasi program dan upaya perbaikan berkelanjutan, tim YIARI juga melakukan survei terhadap anak-anak dan keluarga mereka. Survei ini bertujuan untuk menggali pemahaman, sikap, serta tingkat kesadaran mereka terhadap konservasi primata.
Hasil survei akan menjadi dasar dalam merancang program edukasi selanjutnya agar lebih relevan dan efektif. Dengan melibatkan partisipasi langsung dari peserta, pendekatan ini membantu memastikan kegiatan konservasi benar-benar berdampak dan diterima oleh masyarakat, terutama generasi muda.
Harapan dan Dampak Edukasi Konservasi Primata
Dengan adanya edukasi konservasi primata, terdapat beberapa harapan dan dampak edukasi yang bisa dicapai dalam jangka pendek maupun panjang, antara lain:
1. Peran Penting Primata dalam Ekosistem
Primata memegang peranan penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem hutan. Mereka berfungsi sebagai penyebar biji, pengendali populasi serangga, hingga indikator alami terhadap kesehatan lingkungan. Sayangnya, ancaman terhadap populasi primata terus meningkat akibat perburuan liar, perdagangan ilegal, serta kerusakan habitat.
Upaya konservasi primata tidak bisa hanya mengandalkan kalangan ilmuwan atau aktivis lingkungan semata. Keterlibatan masyarakat luas, termasuk anak-anak sebagai generasi penerus, menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan spesies ini di masa depan.
2. Edukasi Konservasi untuk Generasi Muda
Melalui kegiatan edukatif dalam rangka Hari Primata Indonesia, YIARI menanamkan nilai-nilai konservasi kepada anak-anak dengan pendekatan yang menyenangkan dan interaktif. Anak-anak dikenalkan pada keanekaragaman primata Indonesia serta diajak memahami bagaimana perilaku manusia dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup mereka.
Aktivitas seperti mendongeng, mewarnai, membaca buku, hingga bermain permainan edukatif menjadi media efektif dalam menyampaikan pesan-pesan konservasi. Dengan metode ini, anak-anak diharapkan mengalami proses pembelajaran yang membekas secara emosional.
3. Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Dalam jangka pendek, kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran anak-anak mengenai pentingnya pelestarian primata dan lingkungan hidup. Anak-anak mulai memahami bahwa tindakan sederhana, seperti tidak membeli atau memelihara satwa liar, dapat memberikan dampak besar terhadap kelestarian ekosistem.
Di masa depan, edukasi ini diharapkan dapat melahirkan generasi yang lebih sadar lingkungan dan berperan aktif dalam upaya pelestarian satwa liar. Anak-anak yang tumbuh dengan nilai-nilai konservasi berpotensi menjadi agen perubahan yang mendorong terciptanya masyarakat yang lebih ramah lingkungan dan bertanggung jawab.
4. Membangun Masa Depan yang Harmonis
Kegiatan edukasi seperti Hari Primata Lampung membuktikan proses pembelajaran yang dikemas secara menyenangkan mampu menumbuhkan rasa empati yang mendalam terhadap alam. Selain memahami pentingnya melindungi primata, anak-anak juga terdorong untuk terlibat langsung dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh peserta, relawan, dan pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Semangat yang ditunjukkan anak-anak Dusun Beringin 4 menjadi bukti bahwa pendidikan dan konservasi dapat berjalan beriringan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
Program seperti ini diharapkan dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak wilayah, sehingga semakin banyak anak-anak Indonesia yang tumbuh dengan kesadaran akan pentingnya konservasi. Mari bersama-sama menjaga sahabat hutan kita—primata—demi masa depan bumi yang lestari, harmonis, dan berkelanjutan!
HPSN 2025: YIARI Ajak Anak-anak di Ketapang Bersih-bersih Sampah
Sampah merupakan persoalan serius yang tidak hanya menjadi tanggung jawab nasional, tetapi juga tantangan global yang hingga kini masih terus diupayakan penyelesaiannya.
Berdasarkan Surat Edaran (SE) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025, data dari Global Waste Management Outlook 2024 mencatat bahwa sekitar 38 persen sampah di dunia masih belum terkelola dengan baik. Kondisi ini memberikan kontribusi besar terhadap tiga krisis lingkungan utama yang dikenal sebagai Triple Planetary Crisis, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.
Di tingkat nasional, Indonesia mencatat timbunan sampah sebesar 56,63 juta ton pada tahun 2023. Dari total tersebut, hanya 39,01 persen atau sekitar 22,09 juta ton yang berhasil dikelola. Sisanya, yaitu 60,99 persen atau sekitar 34,54 juta ton, belum mendapatkan penanganan yang memadai.
Sebagai bagian dari peringatan HPSN 2025, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menginisiasi kegiatan bersih-bersih lingkungan bersama anak-anak di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Aksi ini bertujuan menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini, serta mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah di sekitar mereka.
Penasaran seperti apa kegiatan yang dilakukan? Yuk, simak keseruan aksi YIARI bersama anak-anak di Ketapang berikut ini!
Aksi Bersih Sampah Dilakukan di Tujuh Titik Lokasi
Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bersama anak-anak di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menyelenggarakan aksi bersih sampah di tujuh titik lokasi berbeda. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yakni pada 21 dan 22 Februari 2025.
Tepat pada tanggal 21 Februari, bertepatan dengan peringatan HPSN, kegiatan diawali dengan aksi bersih sampah bersama siswa-siswi SDN 20 Pangkalan Jihing, yang juga menjadi bagian dari site kerja Gunung Tarak.
Aksi bersih sampah YIARI dan siswa-siswi di SDN 20 Pangkalan Jihing. (Tim Edukasi | YIARI)
Masih di hari yang sama, YIARI mengadakan kegiatan daur ulang sampah di Learning Centre Sir Michael Uren (LC SMU). Pada kegiatan ini, YIARI berkolaborasi dengan Genta (Gerakan Pecinta Alam) dari SMKN 1 Ketapang, menciptakan momen edukatif seputar pengelolaan dan pemanfaatan sampah secara kreatif.
Selain itu, YIARI turut menggelar aksi bersih lingkungan bersama anak-anak di Desa Nusa Poring, yang merupakan bagian dari site project Melawi.
Pada tanggal 22 Februari, aksi bersih sampah dilanjutkan di tiga sekolah dasar dan satu desa, yakni SDN 33 Cali, SDN 14 Pulau Cempedak, SDN 07 Hulu Sungai, serta Desa Batu Lapis.
Masyarakat Sambut Positif Aksi Bersih Sampah yang Diinisiasi YIARI
Aksi bersih sampah di Desa Nusa Poring. (Tim Edukasi | YIARI)
Aksi bersih sampah yang diinisiasi oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Desa Nusa Poring mendapatkan respons positif dari masyarakat setempat. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025.
Menurut Dieka Pertiwi, Manajer Edukasi dan Penyadartahuan YIARI, kegiatan bersih-bersih sampah sebenarnya bukanlah hal baru bagi anak-anak maupun warga di Kabupaten Ketapang. Aksi serupa telah menjadi kegiatan rutin yang dilakukan di berbagai desa.
“Sebenarnya, aksi bersih sampah ini bukan kegiatan baru. Kegiatan seperti ini memang sudah rutin dilakukan. Jadi, HPSN itu sifatnya hanya seremonial saja, karena di luar momen perayaan seperti ini, aktivitas bersih-bersih sudah menjadi agenda reguler di desa-desa,” jelas Dieka.
Lebih lanjut, Dieka menjelaskan dalam rangka HPSN 2025, YIARI menyelenggarakan aksi bersih sampah dengan pendekatan yang lebih seremonial dan melibatkan sejumlah sekolah di wilayah Ketapang.
“Respons dari masyarakat sangat positif, terutama dari anak-anak yang memang terbiasa mengikuti kegiatan ini secara rutin setiap bulan,” tambahnya.
Anak-anak di Ketapang Terbiasa Bermain sambil Membersihkan Sampah
Salah satu fakta menarik dari kegiatan bersih sampah di Kabupaten Ketapang adalah kebiasaan anak-anak yang menjadikan aksi peduli lingkungan sebagai bagian dari aktivitas bermain sehari-hari. Di beberapa wilayah, seperti di Mentatai, anak-anak kerap berenang atau menyelam di sungai sambil memungut sampah yang mereka temui di permukaan maupun dasar sungai.
Seorang anak memungut sampah di Desa Batu Lapis, Kecamatan Hulu Sungai. (Tim Edukasi | YIARI)
“Mereka, kalau melihat sampah di dasar sungai, langsung diambil. Itu sudah menjadi kebiasaan,” ungkap Dieka.
Ia menambahkan, kesadaran ini merupakan hasil dari berbagai kegiatan edukatif dan aksi peduli lingkungan yang dilakukan secara konsisten di wilayah Ketapang.
“Kegiatan-kegiatan yang sudah rutin dilakukan membuat anak-anak lebih sadar. Bahkan, mereka dengan inisiatif sendiri memungut sampah, termasuk yang berada di dasar sungai sekalipun,” jelasnya.
Sampah Plastik Masih Menjadi Tantangan Terbesar
Dari berbagai jenis sampah yang mencemari lingkungan, sampah plastik menjadi tantangan terbesar yang dihadapi saat ini. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di kalangan anak-anak. Di Kabupaten Ketapang, misalnya, anak-anak masih memiliki kebiasaan membeli jajanan yang umumnya dikemas dalam plastik sekali pakai.
Meski demikian, kesadaran anak-anak terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sudah tergolong baik. Meski masih mengonsumsi produk berkemasan plastik, mereka telah terbiasa membuang sampah pada tempatnya, bukan sembarangan.
Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan, YIARI terus mengedukasi anak-anak dan masyarakat di Ketapang, khususnya terkait bahaya dan pengelolaan sampah plastik. Salah satu kebiasaan positif yang mulai dibangun adalah membawa wadah atau tempat minum sendiri saat membeli jajanan, guna mengurangi ketergantungan terhadap kemasan plastik sekali pakai.
Masalah sampah memang tidak akan pernah benar-benar habis. Namun, sebagai individu, kita bisa berkontribusi melalui langkah-langkah kecil yang konsisten, seperti memilah sampah, membawa wadah sendiri, atau rutin mengikuti kegiatan bersih-bersih lingkungan. Tak harus menunggu momen tertentu seperti Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), aksi menjaga kebersihan bisa dilakukan setiap minggu, bahkan setiap hari, di lingkungan tempat tinggal kita.
Seperti yang telah ditunjukkan oleh anak-anak di Ketapang—bermain sambil memungut sampah—aksi sederhana ini memiliki dampak besar jika dilakukan secara kolektif. Sudah saatnya kita menjadikan kepedulian terhadap sampah sebagai bagian dari gaya hidup. Yuk, mulai sekarang biasakan memungut sampah dan membuangnya di tempat yang semestinya!
Featured image: Siswa SDN O7 Hulu Sungai membersihkan sampah. (Tim Edukasi | YIARI)
Daur Ulang Sampah: Langkah Kecil, Berdampak Besar
Halo sobat #KonservasYIARI,
Sudah berapa lama kamu mengenal istilah daur ulang sampah? Mungkin kamu sudah sering mendengar tentang pentingnya mengelola sampah dan dampak besar yang dapat dihasilkan bagi lingkungan.
Namun, sejauh mana kamu sudah mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari?
Langkah sederhana seperti memilah sampah ternyata bisa menjadi pintu awal untuk mendukung proses daur ulang, lho, baik untuk sampah organik maupun anorganik. Dengan memulai dari hal kecil, seperti memisahkan sampah berdasarkan jenisnya, kamu sudah ikut berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan bumi.
Yuk, kita bahas lebih dalam tentang bagaimana tindakan sederhana seperti ini bisa membawa perubahan besar bagi lingkungan dan kehidupan kita sehari-hari!
Sebelum memulai langkah nyata dalam mendaur ulang sampah, penting untuk memahami terlebih dahulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan daur ulang sampah.
Daur ulang adalah proses mengubah material yang tidak terpakai atau limbah menjadi produk baru yang bermanfaat. Tujuan utamanya adalah mengurangi penggunaan bahan baku baru, menghemat energi, dan menekan tingkat polusi.
Menurut laporan dari Sustainable Waste Indonesia (SWI), tingkat daur ulang sampah di Indonesia masih tergolong rendah, yaitu di bawah 10%. Bahkan, hanya sekitar 7% sampah plastik yang berhasil didaur ulang. Angka ini tentu cukup memprihatinkan, bukan?
Padahal, dengan meningkatkan daur ulang sampah plastik, Indonesia dapat memangkas hingga 13 juta ton emisi karbon—jumlah ini setara dengan mematikan 61 pembangkit listrik tenaga batu bara. Dampaknya tentu sangat besar bagi kelestarian lingkungan.
Selain itu, pengelolaan sampah yang baik juga berperan penting dalam mencegah pencemaran lingkungan dan risiko kesehatan. Sebagai contoh, limbah elektronik sering kali mengandung bahan berbahaya seperti merkuri yang dapat merusak ekosistem dan membahayakan kesehatan manusia jika tidak dikelola dengan benar.
Apa Manfaat Daur Ulang Sampah?
Tidak ada yang sia-sia dari kegiatan daur ulang sampah. Daur ulang memiliki dampak signifikan bagi kehidupan kita sehari-hari, baik dari sisi lingkungan, ekonomi, maupun kesehatan. Berikut beberapa manfaat utama dari daur ulang sampah:
1. Mengurangi jumlah sampah
Daur ulang berperan penting dalam mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dengan berkurangnya jumlah sampah, kita dapat menekan risiko pencemaran lingkungan, seperti polusi tanah, air, dan udara.
Selain itu, hal ini juga mengurangi masalah kesehatan yang kerap muncul akibat penumpukan sampah, seperti wabah penyakit yang ditimbulkan oleh sampah yang tidak terkelola.
2. Menghemat sumber daya alam
Melalui daur ulang, material yang sudah digunakan dapat dimanfaatkan kembali, sehingga kita dapat mengurangi ketergantungan pada bahan mentah baru. Dengan cara ini, kita turut membantu menjaga keseimbangan ekosistem.
Misalnya, dengan meminimalkan penebangan pohon untuk produksi kertas atau penggalian logam untuk kebutuhan industri, kita melindungi habitat alami serta keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.
3. Menghemat energi
Proses daur ulang umumnya membutuhkan energi yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan memproduksi barang baru dari bahan mentah. Hal ini berarti mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan selama proses produksi.
Sebagai contoh, daur ulang aluminium hanya memerlukan 5% energi dibandingkan dengan energi yang dibutuhkan untuk memproduksi aluminium dari bijih bauksit. Dampak positifnya adalah berkurangnya konsumsi energi global dan penurunan emisi karbon.
4. Mengurangi emisi gas rumah kaca
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Ellen MacArthur Foundation, daur ulang kemasan plastik secara luas dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 69%.
Angka ini menunjukkan peningkatan praktik daur ulang mampu secara signifikan menekan emisi yang dihasilkan dari proses produksi bahan plastik baru, sehingga berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim.
5. Mengurangi polusi lingkungan
Dengan mengolah sampah secara efektif melalui daur ulang, kita dapat mencegah pencemaran tanah, air, dan udara. Penumpukan sampah di TPA yang tidak terkendali, serta pembakaran sampah, menjadi salah satu penyebab utama polusi lingkungan. Melalui daur ulang, polusi yang dihasilkan dari proses pembuatan produk baru juga dapat diminimalkan.
6. Menciptakan peluang bisnis dan lapangan kerja
Aktivitas daur ulang membuka peluang bisnis baru, khususnya di sektor pengolahan dan pemilahan sampah. Selain itu, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang bergerak dalam produksi barang berbahan dasar material daur ulang juga dapat berkembang pesat.
Dengan demikian, praktik daur ulang turut membantu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menyediakan lapangan kerja baru.
7. Meningkatkan kesadaran lingkungan
Partisipasi dalam program daur ulang secara tidak langsung meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Daur ulang dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan hidup yang lebih ramah lingkungan, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan menerapkan prinsip reduce, reuse, recycle (3R).
Cara Memanfaatkan Daur Ulang Sampah
Ketika berbicara tentang pemanfaatan daur ulang sampah, kita tidak bisa lepas dari konsep 3R: Reduce, Reuse, dan Recycle. Ketiga langkah ini adalah dasar dalam mengelola sampah dengan cara yang ramah lingkungan.
Langkah pertama dalam 3R adalah reduce, yang berarti mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan. Mengurangi sampah bisa dimulai dengan memilih produk yang memiliki sedikit atau bahkan tanpa kemasan, seperti membeli barang dalam jumlah besar daripada yang dikemas satuan.
Hindari penggunaan barang sekali pakai seperti sedotan plastik, kantong plastik, atau peralatan makan plastik. Selain itu, belilah barang hanya sesuai kebutuhan untuk mengurangi konsumsi yang berlebihan.
Dengan mengurangi produksi sampah sejak awal, kita juga dapat mengurangi tekanan pada tempat pembuangan akhir (TPA) serta menghemat uang yang dihabiskan untuk barang-barang yang tidak perlu.
Reuse (menggunakan kembali)
Langkah kedua adalah reuse, yaitu menggunakan kembali barang-barang yang masih bisa dimanfaatkan daripada langsung membuangnya. Misalnya, gunakan botol minum isi ulang daripada membeli air dalam kemasan plastik, atau bawa tas kain saat berbelanja untuk menghindari penggunaan kantong plastik.
Barang-barang seperti pakaian, buku, atau perabot rumah tangga yang masih layak pakai juga bisa didonasikan kepada yang membutuhkan. Dengan menggunakan kembali barang-barang tersebut, kita memperpanjang masa pakai produk, mengurangi kebutuhan produksi baru, dan secara tidak langsung mengurangi limbah yang mencemari lingkungan.
Recycle (mendaur ulang)
Tahapan terakhir adalah recycle, yaitu mengolah sampah yang sudah tidak terpakai menjadi bahan baru yang bermanfaat. Sampah seperti kertas, plastik, logam, dan kaca dapat didaur ulang melalui proses tertentu. Misalnya, kertas bekas dapat diubah menjadi kertas daur ulang untuk keperluan cetak sederhana, sementara botol plastik dapat diolah menjadi bahan dasar untuk tekstil atau furniture.
Proses ini biasanya melibatkan tiga langkah utama: pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan material daur ulang. Dengan mendaur ulang, kita dapat mengurangi kebutuhan bahan mentah baru, menghemat energi, dan menekan emisi karbon yang dihasilkan dari proses produksi barang baru.
Contoh Daur Ulang Sampah
Setelah memahami konsep dan teori daur ulang, kamu mungkin bertanya, “Apa saja jenis sampah yang bisa didaur ulang?” dan “Bagaimana cara melakukan daur ulang sampah?”
Secara umum, sampah yang dapat didaur ulang terbagi menjadi dua kategori, yaitu sampah organik dan sampah anorganik.
Sampah organik mencakup sisa makanan, sayuran, dan buah-buahan yang dapat diolah menjadi kompos. Sementara Sampah anorganik, seperti plastik, kertas, logam, kaca, baterai, hingga barang elektronik, memiliki potensi untuk didaur ulang melalui berbagai metode.
Namun, penting untuk diketahui, tidak semua plastik mudah didaur ulang karena terdiri dari berbagai jenis dengan tingkat kesulitan yang berbeda dalam pengolahannya.
Daur ulang sampah bukan hanya tentang mengolah limbah, tetapi juga tentang bagaimana kita memanfaatkannya kembali dalam kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa contoh pemanfaatan sampah yang didaur ulang:
1. Daur ulang sampah organik
Sampah organik seperti sisa makanan dan kulit buah dapat diolah menjadi kompos untuk pupuk tanaman. Selain itu, sampah organik seperti kulit jeruk dan sisa sayuran bisa difermentasi untuk menghasilkan eco-enzyme, yaitu cairan pembersih serbaguna yang ramah lingkungan.
2. Daur ulang sampah plastik
Botol plastik bekas bisa dimanfaatkan menjadi pot bunga, tempat pensil, celengan, atau bahkan lampu hias. Dalam skala industri, plastik dapat dicacah, dipanaskan, dan dicetak ulang menjadi bahan konstruksi seperti paving block atau batu bata plastik, yang memiliki nilai ekonomis tinggi sekaligus ramah lingkungan.
3. Daur ulang sampah kertas
Kertas bekas bisa dilebur dan dicetak ulang menjadi kertas baru yang dimanfaatkan untuk buku catatan, amplop, atau seni kerajinan tangan. Bagi yang menyukai kreativitas, kertas bekas juga bisa diubah menjadi hiasan seperti bunga kertas, origami, atau dekorasi unik lainnya.
4. Daur ulang sampah logam
Kaleng minuman bekas dapat dimanfaatkan sebagai tempat lilin, hiasan dinding, atau wadah serbaguna. Sementara itu, pada skala besar, logam bekas dari kendaraan atau alat elektronik biasanya dilebur untuk digunakan kembali sebagai bahan baku produk baru.
5. Daur ulang sampah kaca
Botol kaca bekas bisa dimanfaatkan untuk dekorasi rumah, seperti vas bunga, tempat lilin, atau wadah bumbu dapur. Dalam skala industri, kaca bekas dapat dilebur dan dijadikan bahan dasar untuk pembuatan kaca baru.
6. Daur ulang sampah elektronik
Perangkat elektronik bekas, seperti ponsel, komputer, atau baterai, dapat didaur ulang dengan memanfaatkan komponen-komponen logam dan kacanya. Bagian-bagian ini sering digunakan kembali sebagai bahan baku untuk produksi perangkat elektronik baru, sehingga mengurangi limbah berbahaya yang mencemari lingkungan.
Itulah tadi penjelasan lengkap mengenai daur ulang sampah. Mari berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui praktik daur ulang. Saatnya kita bergerak bersama demi bumi yang lebih bersih dan lestari!
Featured image: Ilustrasi Daur Ulang Sampah / Sumber: repurpose global
Biji Kopi, Sebuah Harapan di Tanah Batu Lapis
Di tengah bayangan kelam akan habisnya sumber daya hutan, muncul secercah harapan baru di Desa Batu Lapis.
Deli, seorang pemuda desa yang dulunya hidup dari menebang kayu, kini menemukan cara lain untuk bertahan—melalui biji kopi. Langkah kecil yang ia ambil ini perlahan mengubah bukan hanya hidupnya, tetapi juga masa depan desanya.
Ketidakpastian Masa Depan di Desa Batu Lapis
Moses, seorang ayah dari tiga anak, kerap merenung memikirkan masa depan keturunannya. Ia sadar bahwa sumber daya alam di hutan kian menipis.
Moses ( Muffidz Ma’sum | YIARI )
“Mungkin generasi kami masih bisa bertahan, tapi bagaimana dengan anak cucu kami?” ujarnya saat berbincang di teras rumahnya.
Selama puluhan tahun, Moses telah bekerja sebagai penebang kayu di hutan Kalimantan. Sebagai bagian dari suku Dayak, Moses menggantungkan hidup dari hasil hutan.
Bertani dan menebang kayu ulin adalah pekerjaan utama mayoritas warga di Desa Batu Lapis, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Dalam dua dekade terakhir, pekerjaan ini memang telah memajukan desa. Kondisi ekonomi masyarakat semakin membaik.
“Dulu rumah-rumah di sini kecil, tapi sekarang sudah lebih besar, dan kami bisa membangun jalan untuk mempermudah transportasi,” cerita Moses.
Namun, ia menyadari ketergantungan pada penebangan kayu tak bisa selamanya diandalkan. Peraturan pemerintah yang semakin ketat terkait logging menjadi tekanan bagi warga desa.
“Kami tentu ingin mencari pekerjaan lain yang lebih aman dan tidak lagi merusak hutan,” kata Moses dengan penuh harap.
Moses sedang mengecek alat penebang kayu di bengkel miliknya( Muffidz Ma’sum | YIARI )
Deli dan Clarisa: Harapan Baru untuk Masa Depan Desa
Harapan itu kini mulai terlihat, berkat usaha dua anak muda dari Desa Batu Lapis, Deli dan Clarisa.
Deli ( Muffidz Ma’sum | YIARI )
Mereka adalah lulusan dari Kahiu Academy–sebuah program pendampingan untuk anak-anak putus sekolah yang diinisiasi oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Setelah mengikuti pelatihan, Deli dan Clarisa didampingi untuk mengembangkan usaha mandiri, seperti mengajar anak-anak atau bercocok tanam.
“Jika ada edukasi untuk anak-anak, serta pelatihan dan pendampingan bagi warga, seperti dalam bertani, ini bisa menjadi harapan bagi kami ke depan,” kata Moses dengan senyum optimis.
Membangun Perkebunan Kopi di Desa Batu Lapis
Suatu pagi, sebuah kapal kayu melaju di atas sungai Biha yang surut akibat kemarau.
Di atasnya, Deli dengan pendamping dari YIARI duduk bersiap menuju ladang.
Sesampainya di ladang, Deli segera mempersiapkan peralatan untuk berkebun. Ia berjalan melewati jalan setapak menuju ladangnya, di mana sepuluh bedeng tanaman sudah ia siapkan.
Di tengah ladang, berdiri rumah semai dengan terpal hitam yang menaungi daun-daun semai kopi yang mulai tumbuh. Dengan hati-hati, Deli menyirami tanaman yang akan menjadi cikal bakal perkebunan kopi pertama di Desa Batu Lapis.
Deli sedang menyiram semai kopi yang nantinya akan dia tanam untuk perkebunan kopi( Muffidz Ma’sum | YIARI )
Sebelum terjun ke dunia pertanian, ia bekerja sebagai penebang kayu dan pemburu satwa. “Dulu saya menebang kayu dan berburu, tapi saya sadar pekerjaan ini tidak cocok untuk saya,” ujarnya.
Pertemuan dengan Kahiu Academy mengubah hidupnya. Ia tertarik dengan ilmu pertanian yang diajarkan dalam program tersebut dan mengikuti pelatihan selama empat bulan di Ketapang.
Setelah lulus, Deli dikirim ke Lampung untuk belajar lebih dalam tentang budidaya kopi, termasuk teknik penyemaian, pembibitan, hingga penanaman.
Pemilihan kopi sebagai tanaman utama bukan tanpa alasan.
“Di Desa Batu Lapis, kebanyakan warga menanam sawit yang penyimpanannya itu hanya bertahan 2 hari paling lama. Sementara biji kopi itu bisa disimpan lebih lama, dikeringkan dan disimpan berbulan-bulan,” ungkap Deli.
Selain itu, hasil kopi bisa saya kirim ke kota dengan motor, jadi ini lebih praktis bagi saya,” tambahnya. Ini menjadi solusi yang lebih efektif bagi Deli yang masih belum memiliki kendaraan besar untuk transportasi hasil tani.
Harapan Baru untuk Masa Depan Desa
Bagi Deli, perkebunan kopi adalah harapan baru. Dukungan dari keluarga dan teman-temannya semakin menguatkan tekadnya.
“Saya berharap, usaha ini bisa menginspirasi warga lain. Jika banyak yang mengikuti, kehidupan masyarakat bisa lebih baik, ekonomi desa meningkat, dan lingkungan pun terjaga dari kerusakan hutan,” katanya dengan penuh semangat.
Dieka, manajer program Kahiu Academy, ikut serta meninjau perkembangan Deli dan Clarisa.
“Kahiu Academyditujukan untuk anak-anak putus sekolah agar mereka memiliki keterampilan dan bisa mandiri,” jelas Dieka.
Program ini diperuntukkan bagi pemuda usia 17-25 tahun, dengan pelatihan intensif selama empat bulan yang mencakup berbagai materi, mulai dari pertanian hingga kesetaraan gender.
“Kami berharap para peserta dapat mengamalkan ilmu yang mereka dapatkan untuk diri sendiri dan komunitasnya,” tambah Dieka.
Dengan 48 materi yang diberikan selama pelatihan, Dieka berharap akan ada lebih banyak “Deli” dan “Clarisa” lain yang bisa mengamalkan ilmu mereka untuk kebaikan diri sendiri dan komunitas.
Lima Prinsip Kesejahteraan Satwa yang Harus Kamu Ingat!
Pasti Sobat #KonservasYIARI mendambakan hidup sejahtera dan bebas, bukan?
Seperti halnya manusia, hewan juga merupakan makhluk hidup yang berhak menikmati kehidupan yang bebas dan sejahtera.
Kesejahteraan hewan, yang dikenal dengan lima prinsip kebebasan kesejahteraan hewan atau ‘five freedoms’, adalah suatu kondisi di mana kebutuhan alami dan esensial hewan terpenuhi secara memadai.
Konsep ini pertama kali diusulkan oleh John Webster pada tahun 1994 dan kini telah menjadi standar global minimal untuk kesejahteraan hewan.
Prinsip kesejahteraan satwa sangat penting dalam konservasi ex-situ, yaitu penanganan satwa liar yang tidak berada dalam habitat asli mereka. Prinsip ini menjadi acuan utama saat berinteraksi dengan hewan serta dalam pembuatan habitat buatan seperti kandang.
Kebanyakan, prinsip ini diterapkan oleh lembaga konservasi untuk tujuan umum seperti di kebun binatang, serta oleh lembaga spesialis seperti Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), yang fokus pada rehabilitasi primata seperti kukang, orangutan, dan berbagai jenis makaka.
Di YIARI, prinsip kesejahteraan satwa dijadikan sebagai dasar dalam proses rehabilitasi hingga pelepasliaran kembali ke alam liar.
Lalu, apa saja sebenarnya kelima prinsip kesejahteraan satwa? Dan bagaimana penerapannya di YIARI?
Untuk menjawab itu, kami berkesempatan berbincang dengan drh. Nur Purba Priambada, salah satu Dokter Hewan di YIARI. Yuk, simak penjelasannya!
1. Bebas dari lapar dan haus
Inilah prinsip pertama kesejahteraan satwa! Prinsip ini melibatkan penyediaan pakan dan air minum yang memadai, karena kedua hal ini merupakan kebutuhan dasar semua makhluk hidup, termasuk manusia, Sob!
Penting untuk memastikan jenis pakan yang diberikan sesuai dengan makanan alami dari masing-masing spesies, lengkap dengan nutrisi yang seimbang. Akses ke pakan dan air juga harus mudah, dengan penempatan yang disesuaikan dengan perilaku alami satwa.
Sebagai contoh, YIARI menyiapkan pakan untuk kukang dengan berbagai improvisasi agar pakan tersebut setidaknya mendekati makanan alami mereka, termasuk pemberian getah (meskipun getahnya instan), serangga, nektar, hingga sayuran sebagai pengganti buah hutan yang kaya serat.
Selain itu, ada juga persiapan enrichment untuk kukang, seperti madu yang dibungkus dengan daun, yang dilakukan oleh tim Animal Management di YIARI.
Persiapan penyediaan enrichment kukang, madu yang dibungkus dengan daun(Animal Management | YIARI)
Sementara itu, untuk makaka, YIARI menyediakan buah dan sayuran dengan kandungan nutrisi yang seimbang. Semua ini adalah hasil dari kajian mendalam bersama para ahli nutrisi, bertujuan untuk memastikan kesejahteraan satwa tersebut terpenuhi dengan baik.
Prinsip selanjutnya adalah memastikan satwa bebas dari rasa tidak nyaman. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan satwa terhadap tempat tinggal atau naungan atau sarang yang sesuai dengan habitat aslinya.
Selain itu, Sobat harus memerhatikan faktor lingkungan yang meliputi kelembapan, ventilasi, pencahayaan, dan temperatur. Tentu faktor lingkungan harus sesuai dengan kondisi alami habitat satwa tersebut.
Penggunaan lampu cahaya merah untuk mengurangi intensitas cahaya tinggi di kandang rehabilitasi kukang YIARI (Denny Setiawan | YIARI)
Dalam prinsip kedua ini, YIARI menyesuaikan intensitas cahaya pada kandang kukang, mengingat kukang adalah satwa nokturnal. Selain itu, YIARI menggunakan cahaya merah, yang memiliki tingkat intensitas cahaya rendah saat melakukan pengambilan gambar satwa. Hal ini dilakukan agar satwa tetap merasa aman dan nyaman.
3. Bebas dari sakit, luka, dan penyakit
Prinsip ketiga ini menekankan satwa tidak boleh terpapar pada stimulasi yang menyakitkan seperti pemukulan, penyiksaan, atau pengikatan yang terlalu kencang. Ingat, Sob, satwa juga memiliki perasaan dan mampu merasakan sakit!
Lebih lanjut, penting untuk memastikan satwa bebas dari luka, baik luka fisik maupun internal, dan terhindar dari sumber penyakit apapun. Dalam kondisi kandang atau lingkungan urban, penyakit dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk pakan yang tidak segar atau sudah busuk.
Interaksi dengan manusia juga dapat menjadi sumber penyakit, karena manusia dan satwa dapat saling menularkan penyakit, yang dikenal sebagai zoonosis.
Di YIARI, penerapan prinsip ini diwujudkan melalui pemeriksaan kesehatan secara berkala pada primata yang sedang menjalani rehabilitasi.
Pengecekan kesehatan secara berkala terhadap kukang yang dilakukan oleh Dokter Hewan di YIARI (Reza Septian | YIARI)
4. Bebas mengekspresikan perilaku alamiah
Prinsip keempat menekankan pentingnya memungkinkan satwa untuk mengekspresikan perilaku alaminya. Ini termasuk menyediakan atau menambahkan fasilitas di kandang yang mendukung pengayaan kandang, atau yang sering disebut enrichment.
Contoh dari penerapan ini adalah penyediaan enrichment harian untuk makaka, seperti rumah jamur yang memungkinkan mereka bersembunyi di kandang rehabilitasi. Sementara itu, untuk kukang, enrichment disediakan secara bulanan dengan lebih beragam, termasuk batang pohon, lorong bambu, tali ban, serta lubang-lubang pohon yang dapat digunakan sebagai tempat bersembunyi atau bermain.
Penyediaan enrichment di kandang makaka berupa rumah jamur(Animal Management | YIARI)Penyediaan enrichment lorong bambu di kandang kukang (Reza Septian | YIARI)
Selain itu, YIARI juga mengelola beberapa pulau khusus yang diperuntukkan untuk rehabilitasi orangutan. Pulau-pulau tersebut dijadikan tempat agar orangutan dapat merasakan kehidupan di alam liar dan bebas mengekspresikan perilaku alami selama masa rehabilitasi. Ini semacam simulasi kehidupan di habitat asli mereka, Sob!
Beberapa pulau yang digunakan YIARI untuk rehabilitasi orangutan termasuk Pulau Pak Ali, Pulau Setrum, Pulau Monyet, dan Pulau Rangkong.
Orangutan di pulau yang digunakan untuk rehabilitasi orangutan (Heribertus Suciadi | YIARI)
Penting juga untuk menyediakan kesempatan bereproduksi dan bersosialisasi, karena seperti manusia, satwa juga memiliki kebutuhan sosial. Di YIARI, kukang dikelompokkan dengan individu lain untuk merangsang perilaku sosial mereka, yang dapat membantu mengurangi stres yang mungkin mereka alami sebelumnya.
Selain itu, kita juga perlu memperhatikan waktu aktivitas satwa. Ada satwa yang aktif di siang hari (diurnal) dan yang aktif di malam hari (nokturnal). Penting untuk tidak mengganggu satwa di luar waktu aktif mereka, seperti memberi makan pada waktu yang salah.
Sama seperti manusia, Sobat pasti akan merasa terganggu jika dibangunkan dari istirahat, bukan?
Prinsip terakhir ini sebenarnya merupakan prinsip paling sulit untuk dipenuhi, yaitu bebas dari rasa takut dan tertekan. Prinsip ini sulit dilakukan pada satwa liar dan belum terdomestikasi.
Pada prinsip kelima, yang menjadi sumber ketakutan dari satwa justru datang dari pemelihara atau manusia. Bagi satwa, manusia adalah objek asing yang bisa menjadi ancaman. Tak hanya itu suara bising kendaraan juga bisa menyebabkan satwa tertekan.
Di YIARI, prinsip kelima ini dapat dilakukan dengan berusaha mengurangi kontak langsung antara manusia dengan satwa.
Oh iya, Sob! Karena YIARI adalah lembaga konservasi khusus, akses ke kandang rehabilitasi sangat terbatas. Hanya orang-orang yang memiliki kepentingan langsung, seperti dokter hewan dan perawat satwa, yang diizinkan masuk ke area kandang rehabilitasi di YIARI. Bahkan mereka pun harus menjalani berbagai tes kesehatan yang ketat sebelum diperbolehkan masuk, lho!
Dokter hewan dan perawat satwa sedang bertugas di kandang rehabilitasi kukang YIARI (Reza Septian | YIARI)
Pastinya, dokter hewan memiliki tugas utama untuk memeriksa kesehatan satwa dan mengamati perilaku mereka. Sementara itu, perawat satwa mendukung dokter dengan memberikan pakan, menambahkan enrichment, dan juga melakukan observasi perilaku satwa.
Bagaimana, Sob? Semoga Sobat selalu ingat akan lima prinsip kesejahteraan satwa dan menjadi lebih bijak dalam berinteraksi dengan mereka, ya👍
Memang menjadi dilema, sebab pada umumnya satwa liar hidup bebas di alam tanpa interaksi dengan manusia. Jadi, sebaiknya Sobat tidak memelihara satwa liar secara pribadi tanpa alasan yang jelas!
Teguh IG, Masy’ud B, Rachmawati E. 2010. Kajian pengelolaan kesejahteraan satwa di Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang Sumatera Selatan. Media Konservasi. 15(1):26-30.
Feature image : YIARI | Design by Elif Ivana Hendastari
YIARI Rayakan Hari Keanekaragaman Hayati melalui Harmonisasi Seni dan Konservasi
Ketapang, 19 Mei 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati (HKH), Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengadakan serangkaian kegiatan di Learning Centre Sir Michael Uren, Ketapang. Acara ini diisi dengan presentasi kreatif dari siswa yang terlibat dalam After School Program (ASP) YIARI, dihadiri oleh siswa, orang tua, perwakilan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang, perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Ketapang, PT. MPK, aparatur Desa Sungai Awan Kiri, juga beberapa media lokal.
After School Program (ASP) yang dijalankan oleh YIARI merupakan inisiatif pendidikan untuk melibatkan siswa dalam aktivitas pembelajaran dan kreativitas di luar jam sekolah reguler. Berfokus pada edukasi lingkungan dan konservasi, program ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi dan memperdalam pengetahuan serta keterampilan mereka tentang keanekaragaman hayati dan pelestarian alam.
Hadirin tetap semangat mengikuti rangkaian acara di tengah cuaca terik siang itu (Heribertus Suciadi | YIARI)
Sekretaris Dinas Pendidikan, Rudy, S.Sos., M.Si, menyampaikan apresiasi Dinas Pendidikan kepada YIARI, “Program ASP mendorong siswa lebih termotivasi dan berinovasi dalam karya dan kegiatan lainnya dalam rangka meningkatkan kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan yang mungkin belum didapatkan secara optimal di sekolah. Kami melihat apa yang telah dilakukan oleh YIARI bisa menjadi contoh dalam penerapan muatan lokal.”
Ia juga menyampaikan pentingnya kolaborasi untuk meningkatkan kesadaran menjaga kelestarian alam, “Kami juga mengharapkan beberapa program kegiatan antara Dinas Pendidikan dengan YIARI untuk mengadakan sosialisasi memberikan pengetahuan ke sekolah-sekolah untuk muatan lokal, terutama menyangkut tentang Sekolah Hijau. Kami akan menggandeng YIARI dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam bidang pelestarian alam, karena potensi alam yang ada di Ketapang sangat banyak dan melimpah. Kita tidak hanya mengenalkan kekayaan alam yang hampir punah, tapi juga sumber daya alam yang masih melimpah. Semoga kegiatan seperti ini akan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran kekayaan alam yang kita miliki.”
Hari keanekaragaman hayati sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 Mei merupakan kesempatan global untuk mengakui dan merayakan kekayaan alam yang kita miliki di planet ini. Tahun ini, HKH mengusung tema “Be Part of the Plan“, sebuah ajakan global yang melibatkan semua pihak dalam upaya pemulihan keanekaragaman hayati. Pertunjukan karya seni, pertunjukan tari tradisional dan modern, pembacaan puisi, serta pemutaran video animasi yang ditampilkan, semuanya bertujuan untuk mendidik dan memotivasi masyarakat tentang pentingnya pelestarian alam.
Penampilan tari melayu “pokok bakau” yang menunjukkan kekuatan, keindahan, dan fungsi bakau (Heribertus Suciadi | YIARI)
Seluruh rangkaian acara memegang peranan penting dalam upaya konservasi. Acara ini juga memfasilitasi dialog antara para pelajar dan para pemangku kepentingan, membuka lebih banyak kesempatan kerjasama dalam upaya konservasi. Melalui edukasi dan seni, peringatan HKH tidak hanya merayakan keindahan alam, tetapi juga menanamkan pentingnya tindakan konservatif dalam kehidupan sehari-hari. Pesan yang disampaikan melalui tarian, puisi, solo vokal, multimedia, serta teater dalam bahasa Inggris memperkuat urgensi dan tanggung jawab bersama dalam melindungi ekosistem kita.
Pada kunjungannya dalam rangka Edu-tourism 16 Mei 2024, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Ketapang, Junaidi Firawan S.Sos., M.E mengapresiasi adanya YIARI di Ketapang. “YIARI sangat peduli terhadap kesimbangan alam, serta habitat dan satwa yang ada di lingkungan YIARI ini.”
Para performer setelah menyampaikan pesan konservasi melalui pertunjukkan seni yang mereka tampilkan (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Setiap pertunjukan dan kegiatan yang diadakan selama HKH memiliki makna mendalam. Tarian anak Dayak, misalnya, bukan hanya perwujudan estetika, tapi juga menggambarkan persatuan dan persahabatan anak anak yang mencintai alam, sekaligus percaya pentingnya menjaga satwa. Pembacaan puisi dan orasi yang dilakukan oleh para siswa ASP lebih dari sekadar ekspresi artistik; pesannya mengingatkan kita tentang kerusakan yang disebabkan manusia, serta urgensi untuk melakukan upaya menjaga alam. Di sisi lain, video animasi tentang kebakaran hutan mengingatkan kita tentang konsekuensi nyata dari tindakan tidak bertanggung jawab dan pentingnya pemulihan dan pelestarian ekosistem.
Dieka Pertiwi, manajer edukasi dan penyadartahuan YIARI menyampaikan harapan terselenggaranya acara ini sebagai wadah berekspresi para siswa. “Semoga kegiatan ini bisa terus berjalan dan menjadi wadah bagi anak-anak berekspresi dan menyuarakan pesan konservasi.”
YIARI berterima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dan berkontribusi dalam acara peringatan ini. Semoga acara ini bisa menjadi upaya mengokohkan komitmen bersama dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati yang berkelanjutan! 🙌
Potret suksesor di balik perayaan HKH ini (Heribertus Suciadi | YIARI)
***
Narahubung:
Heribertus Suciadi Nugraha
Manajer Media dan Komunikasi
Telp: +62 821-5346-2720
Email: heribertus@internationalanimalrescue.org
Tentang Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI):
Berdiri sejak 2008, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) adalah organisasi yang didukung secara penuh oleh International Animal Rescue (IAR) untuk bergerak di bidang pelestarian primata Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran dan pemantauan pasca lepas liar. YIARI berkomitmen memberikan perlindungan terhadap primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa, dan manusia.
Perlu Diketahui! 7 Jenis Plastik ini Sering Kita Pakai
Sobat #KonservasYIARI pada mulanya plastik diciptakan manusia sebagai pengganti paper bag, loh! Seiring berjalannya waktu plastik diproduksi secara besar-besaran.
Tidak hanya itu, kini plastik sudah menjadi pencemar lingkungan seperti kemasan plastik sekali pakai 😲
Bahkan plastik dapat masuk ke dalam tubuh manusia dan menyebabkan penyakit yang disebut dengan mikroplastik. Mengerikan sekali bukan Sob?
Oleh sebab itu, untuk turut serta dalam upaya memerangi pencemaran plastik Sobat harus tahu terlebih dahulu mengenai jenis-jenis plastik yang umum digunakan pada kemasan.
Tidak hanya satwa liar ya Sob! Plastik juga beragam jenisnya! Tentunya jenis ini berdasarkan bahan yang menyusun plastik tersebut. Biasanya setiap kemasan plastik diberi kode daur ulang berbentuk segitiga dengan angka mulai dari 1 hingga 7.
Yuk langsung kita bahas!
Jenis plastik dengan kode daur ulang (Design by Elif Ivana Hendastari | Canva)
1. Kode 1 : PETE atau PET (Polythylene Terephthalate)
Kode 1 (tokoplas.com)
Kode 1 yaitu PETE atau PET lebih dikenal dengan plastik kemasan sekali pakai. Sering digunakan untuk kemasan botol air mineral.
Jenis plastik ini tidak dapat dipakai berulang kali karena dapat meningkatkan risiko baterai dan bahan berbahaya masuk ke dalam tubuh 😟. Jadi Sobat harus membuangnya setelah dipakai ya!
Plastik ini memiliki wujud transparan dan cenderung tipis. Plastik jenis ini akan melunak pada suhu 80°C. Biasanya para tukang loak lebih banyak menerima plastik jenis ini untuk ditukarkan ya Sob!
2. Kode 2 : HDPE (High-Density Polyethylene)
Kode 2 (tokoplas.com)
Selanjutnya, Kode 2 yaitu HDPE yang merupakan plastik paling sering dijumpai di berbagai jenis botol untuk kebutuhan sehari-hari, yaitu botol air minum (tumbler), botol susu, botol deterjen, botol sampo, botol pelembap, mainan, dan beberapa tas plastik.
Plastik jenis ini merupakan plastik paling aman untuk digunakan kembali atau berkali-kali. Wujudnya kaku, kuat, keras, buram terkadang putih, lebih tahan terhadap suhu tinggi, dan mudah didaur ulang. Jenis plastik ini akan melunak pada suhu 75°C Sob! 🫠
Namun Sob, walau HDPE merupakan jenis plastik paling aman untuk mengemas makanan dan minuman, tapi tetap dianjurkan untuk dipakai sekali saja.
3. Kode 3 : V atau PVC (Polyvinyl Chlorida)
Kode 3 (tokoplas.com)
Kode 3, V atau PVC, nah Sobat tidak asing ya dengan PVC? Ya benar biasanya digunakan untuk bahan pembuatan pipa.
Plastik jenis ini paling sulit didaur ulang, dapat ditemukan pada botol-botol cairan pembersih komersil, pembungkus kabel, dan pipa plastik. Oleh sebab itu PVC relatif tahan terhadap sinar matahari dan beragam cuaca ya Sob!
Walaupun tahan terhadap segala kondisi, namun tidak disarankan untuk digunakan mengemas makanan dan minuman. Jenis PVC akan melunak pada suhu 80°C Sob!
Mengapa ya Sob? Kandungan DEHA (Diethylhydroxylamine) yang ada di dalamnya akan bereaksi cepat saat bersentuhan langsung dengan makanan yang tentunya sangat berbahaya bagi kesehatan ginjal dan hati 🥲
4. Kode 4 : LDPE (Low-Density Plyethylene)
Kode 4 (tokoplas.com)
Plastik jenis ini dibuat menggunakan minyak bumi (thermoplastic). Plastik jenis ini memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap reaksi kimia, maka LDPE tergolong cukup aman nih Sob untuk membungkus makanan atau minuman 👍
Biasanya ditemukan pada kantong plastik tipis transparan, kresek, plastik pembungkus, atau botol minuman yang dapat diperas. LDPE akan melunak pada suhu 70°C Sob!
5. Kode 5 : PP (Polypropylene)
Kode 5 (tokoplas.com)
Plastik jenis ini bersifat kuat, ringan, dan tahan terhadap panas. Plastik jenis ini mempu menjaga bahan di dalamnya dari berbagai gangguan luar seperti kelembapan, minyak, dan bahan kimia.
PP biasa ditemukan pada botol minuman, botol bayi, kotak makanan, sedotan, gelas, serta wadah margarin dan yoghurt. Jenis plastik yang kuat seperti PP dapat melunak pada suhu 140°C.
6. Kode 6 : PS (Polystyrene)
Kode 6 (tokoplas.com)
Kode 6 merupakan jenis plastik yang sulit untuk didaur ulang, biasanya Sobat akan menemukan PS pada styrofoam.
Jenis plastik ini sangat tidak disarankan untuk digunakan sebagai pembungkus makanan atau minuman. Tapi Sobat kalau kita lihat masih banyak ya penjual yang membungkus makanan dan minuman dengan styrofoam, hal ini disebabkan harganya yang sangat murah. Bahan styrene yang terkandung dalam PS dapat dengan mudah menyebar pada makanan yang tentunya berbahaya untuk kesehatan otak, hormon estrogen, reproduksi, pertumbuhan, serta sistem syaraf 😭
7. Kode 7 : Other (BPA, Polycarbonate, dan LEXAN)
Kode 7 (tokoplas.com)
Jenis plastik kode 7 lebih sering digunakan dalam pembuatan aksesoris kendaraan atau pabrik. Kemasan dengan kode 7 sering digunakan sebagai bahan baku galon, botol saus, dan penutup gelas kopi.
Namun sayangnya Sob plastik jenis ini banyak digunakan untuk botol minum bayi yang sebenarnya tidak dianjurkan karena mempunyai kandungan zat seperti BPA (Bisphenol A) yang dapat mengganggu kerja hormon-hormon tubuh. Jadi Sob jika mencari botol minum pilihlah botol yang memiliki kode BPA Free ya!
Setelah Sobat mengetahui arti dari setiap kode pada kemasan plastik, sekarang giliran Sobat nih untuk lebih cermat dalam menggunakan plastik, kalau perlu lebih baik mengurangi penggunannya ya!
Dalam memperingati Hari Sampah Plastik Nasional 2024 yang jatuh pada tanggal 21 Februari, yuk Sobat kita mengambil peran dalam usaha mengurangi penggunaan sampah plastik.
Mulai dari hal simpel ya melakukan pengelolaan sampah rumah tangga secara mandiri, yaitu 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle)!