Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Menanamkan Cinta Satwa Sejak Dini: Perayaan Hari Anak Nasional Bersama YIARI
Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2025, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelenggarakan serangkaian kegiatan edukatif dan menyenangkan yang berlangsung di tiga lokasi berbeda, yaitu Taman Baca Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Bogor, Jawa Barat; Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren di Ketapang, Kalimantan Barat; serta SDN 23 Matan Hilir Selatan di wilayah Sungai Besar, Ketapang, Kalimantan Barat.
Kegiatan ini menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan hidup sejak usia dini. Anak-anak sebagai generasi penerus perlu dibekali dengan pemahaman akan pentingnya menjaga alam dan makhluk hidup di dalamnya, salah satunya melalui pengenalan terhadap satwa liar dan habitat alaminya.
Membaca nyaring dan membuat poster
Kegiatan “Kenali Satwa, Sayangi Alam” yang diselenggarakan di TBM Lentera Pustaka, menjadi sarana untuk menumbuhkan literasi dan meningkatkan minat baca di bidang lingkungan. Selain difasilitasi oleh YIARI, kegiatan ini juga dibantu oleh 7 relawan TBM Lentera Pustaka dan 8 mahasiswa KKN IPB.
Kegiatan dikemas secara edukatif dan interaktif, dimulai dari sesi membaca nyaring buku cerita petualangan “Karmila & Gito bersama Owa Kelempiau” yang mengangkat kisah tentang melindungi satwa. Menariknya, setiap karakter yang ada dalam buku diperankan dan dibacakan oleh kakak-kakak YIARI. Keseruan membaca ini berhasil menarik perhatian anak-anak terhadap alur cerita dan pesan-pesan yang dibawakan.
Usai membaca nyaring, kegiatan dilanjutkan dengan aktivitas prakarya. Mulai dari membuat poster habitat satwa, dan mewarnai untuk anak-anak prasekolah dan tingkat bawah. Dari aktivitas ini, anak-anak belajar mengenai perbedaan ruang habitat yang digunakan oleh satwa liar.
Kakak-kakak YIARI membaca nyaring dengan memerankan karakter pada buku cerita Petualangan Karmila dan Gito bersama Owa Kelempiau di TBM Lentera Pustaka, Bogor. (YIARI)
Kegiatan ini memberikan pengalaman berkesan bagi anak-anak. Mereka tampak antusias mengikuti setiap sesi dan banyak yang baru mengenal satwa seperti kukang dan owa jawa. Selain memperluas wawasan, kegiatan ini juga membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian satwa dan habitatnya.
“Kegiatan-kegiatannya seru banget, asik,” kata Ade Amirah (15), salah satu peserta kegiatan.
“Dan juga nambahin pengetahuan aku, bagaimana bentuk rupa owa jawa, yang ternyata harus dilindungi dan tidak boleh diburu,” ungkapnya menambahkan.
Hak anak dan kesejahteraan satwa
Sementara itu, di Ketapang, Kalimantan Barat, perayaan Hari Anak Nasional juga berlangsung meriah di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren. Anak-anak dari komunitas sekitar, seperti Zwageri Generation, berpartisipasi dalam berbagai aktivitas kreatif seperti mewarnai sketsa satwa, membuat bando berbentuk hewan, dan membuat video ucapan bertema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap pemenuhan hak anak. Sekaligus juga, dikaitkan dengan tanggung jawab anak terhadap kesejahteraan satwa.
Peserta mewarnai di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren. (YIARI)
Kegiatan serupa juga diselenggarakan di SDN 23 Matan Hilir Selatan. Dalam kolaborasi ini, anak-anak mengikuti lomba mewarnai dengan tema kesejahteraan satwa, mendengarkan materi edukatif, serta menonton film edukasi “Monpai Exploit” bersama. Dari hasil kegiatan ini, anak-anak mulai memahami bahwa kesejahteraan bukan hanya hak manusia saja, tetapi juga hak satwa, baik peliharaan maupun satwa liar di hutan. Pemahaman ini tergambarkan dari karya mereka yang menunjukkan interaksi positif antara anak dan satwa, serta ucapan refleksi dalam video yang mereka buat.
Foto bersama dengan peserta di SDN 23 MHS Sungai Besar. (YIARI)
Kegiatan Hari Anak Nasional yang dilakukan YIARI menjadi bukti bahwa edukasi konservasi bisa dikenalkan sejak dini, dengan cara yang menyenangkan dan bermakna. Melalui pengenalan terhadap satwa liar dan habitatnya, anak-anak tidak hanya mendapat pengetahuan baru, tetapi juga nilai-nilai empati, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Nasya Karina Nur’aziza
Dari Kebun Warga ke Rimba: Perjalanan Orangutan Menuju Rumah Barunya
Beberapa waktu lalu, warga di Dusun Sumber Priangan, Kalimantan Barat, dikejutkan oleh kemunculan seekor orangutan di pekarangan rumah mereka.
Awalnya dikira hanya monyet biasa, tapi setelah dilihat lebih dekat, ternyata satwa dilindungi yang makin jarang terlihat. Kejadian ini bukan pertama kalinya—orangutan masuk ke area kebun dan permukiman karena hutan tempat tinggalnya makin sempit.
Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, tim dari BKSDA Kalimantan Barat, KPH Ketapang Selatan, dan YIARI pun bergerak cepat. Tujuannya sederhana: membantu orangutan ini kembali ke habitat yang lebih aman, jauh dari aktivitas manusia.
Di artikel ini, kita akan menyelami perjalanan penyelamatan orangutan tersebut—dari laporan warga, proses evakuasi, sampai momen pelepasliaran di Hutan Lindung Gunung Tarak. Sebuah cerita nyata tentang bagaimana manusia dan alam bisa saling menjaga, selama ada kemauan untuk bekerja bersama. Yuk, simak!
Dari Pekarangan Warga ke Alam Liar: Awal Mula Kisah
Orangutan kalimantan jantan yang ditranslokasi dari kebun warga dari Dusun Sumber Priangan, Kalimantan Barat, dimasukkan ke kandang translokasi setelah dibius (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Kemunculan orangutan di sekitar pemukiman Dusun Sumber Priangan terjadi lebih dari sekali. Ia terlihat berjalan di antara pepohonan, mendekati rumah warga, dan memakan buah-buahan di kebun seperti jambu, kelapa, hingga nanas.
Reaksi warga pun beragam—ada yang panik, ada pula yang merasa kasihan. “Awalnya kami kira hanya monyet biasa,” ujar salah satu warga. “Tapi setelah dilihat lebih dekat, ternyata orangutan. Kami takut, tapi juga kasihan. Mungkin dia tersesat atau habitatnya terganggu.”
Kejadian ini langsung menarik perhatian tim Orangutan Protection Unit (OPU) dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Setelah melakukan pemantauan, tim menemukan bahwa lokasi tersebut mengalami kerusakan habitat yang cukup parah akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan.
Fragmentasi lahan dan jaraknya yang dekat dengan jalan utama Ketapang–Pontianak juga membuat kehadiran orangutan menjadi sangat berisiko, baik bagi satwa maupun manusia.
Atas dasar itu, setelah koordinasi dengan BKSDA Kalimantan Barat dan KPH Ketapang Selatan, translokasi dianggap sebagai solusi terbaik. Bukan hanya untuk menyelamatkan orangutan, tapi juga untuk mencegah potensi konflik yang bisa membahayakan warga sekitar.
Proses Penyelamatan yang Penuh Perhitungan
Dokter hewan YIARI melakukan pemeriksaan awal setelah orangutan kalimantan dibius (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Tim gabungan dari YIARI, BKSDA Kalimantan Barat, dan KPH Ketapang Selatan bergerak sejak dini hari. Sekitar pukul 04.30 WIB, mereka tiba di lokasi untuk memulai proses evakuasi. Karena orangutan merupakan satwa liar yang kuat dan bisa berbahaya jika merasa terancam, proses penanganannya harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Tim dokter hewan dari YIARI menggunakan senjata bius untuk menenangkan orangutan sebelum dilakukan pemeriksaan medis. Dosis obat dihitung secara cermat, disesuaikan dengan ukuran dan perkiraan berat badan orangutan. Penembakan bius ini juga tidak bisa dilakukan sembarangan—hanya dilakukan oleh petugas yang memiliki izin resmi dan pelatihan khusus.
Setelah orangutan terbius dan jatuh di atas jaring pengaman, tim medis segera memeriksa kondisinya. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa orangutan ini memiliki berat sekitar 60–65 kilogram dan terdapat luka lama di punggung tangan kirinya.
Luka tersebut sudah membentuk jaringan ikat, meski masih mengeluarkan sedikit nanah dan darah. Selain itu, beberapa gigi terlihat rusak atau hilang, kemungkinan karena faktor usia. Meski begitu, secara keseluruhan, kondisi orangutan cukup stabil dan memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali ke alam.
Perjalanan Menuju Rumah Baru: Hutan Lindung Gunung Tarak
Setelah memastikan kondisi fisiknya memungkinkan untuk dilepasliarkan, tim segera membawa orangutan menuju lokasi translokasi: kawasan Hutan Lindung Gunung Tarak. Perjalanan darat ini memakan waktu sekitar tujuh jam, dan melibatkan bantuan masyarakat setempat, terutama saat membawa orangutan masuk lebih dalam ke dalam hutan.
Pemilihan lokasi tidak dilakukan sembarangan. Kawasan ini telah melalui survei kelayakan dan dinyatakan cocok sebagai habitat baru. Selain letaknya yang relatif jauh dari permukiman, hutan ini juga masih memiliki tutupan vegetasi yang baik serta sumber pakan alami yang cukup untuk mendukung kehidupan orangutan di alam liar.
Kandang transportasi dibawa menembus hutan untuk persiapan pemindahan orangutan kalimantan ini (Heribertus Suciadi | YIARI)
Sesampainya di lokasi, kandang dibuka perlahan. Orangutan itu sempat menoleh sejenak sebelum melangkah cepat ke dalam hutan, menjauh dari manusia. Ia memanjat pohon, bergerak lincah, dan menunjukkan perilaku alami yang menjadi tanda kesiapan untuk hidup bebas kembali. Momen ini menjadi titik akhir dari proses penyelamatan, sekaligus awal dari babak baru kehidupannya di rumah yang lebih aman.
Gunung Tarak: Surga Baru bagi Sang Penjelajah Hutan
Kandang transportasi dibawa menembus hutan untuk persiapan pemindahan orangutan kalimantan ini (Heribertus Suciadi | YIARI)
Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menjaga kelangsungan hidup satwa liar. “Kami mengapresiasi keterlibatan aktif masyarakat yang membantu proses pelepasan hingga ke dalam kawasan hutan. Ini adalah langkah kecil yang membawa dampak besar bagi pelestarian hutan dan masa depan keanekaragaman hayati Indonesia,” ujarnya.
Kepala KPH Ketapang Selatan, Kuswadi, SP., juga menyampaikan terima kasih atas partisipasi semua pihak, khususnya masyarakat Dusun Sumber Priangan. Ia mengajak masyarakat di sekitar kawasan lindung untuk terus menjaga hutan sebagai sumber air, oksigen, dan rumah bagi satwa-satwa langka.
Senada dengan itu, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, S.Hut., M.Si., menekankan bahwa translokasi ini merupakan bagian dari komitmen untuk merespons cepat potensi konflik manusia dan satwa. “Kami mengajak semua pihak untuk terus menjaga habitat alami agar tidak ada lagi satwa yang kehilangan tempat hidupnya,” tegasnya.
Mengapa Kisah Ini Penting untuk Kita Semua?
Kisah orangutan yang tersesat di perkebunan lalu dikembalikan ke hutan ini bukan sekadar cerita penyelamatan satwa. Ini adalah cermin dari masalah yang lebih besar: semakin menyempitnya habitat alami akibat aktivitas manusia. Ketika hutan dikonversi menjadi lahan perkebunan atau pemukiman, satwa liar kehilangan ruang untuk hidup—dan konflik pun menjadi tak terhindarkan.
Namun di balik tantangan itu, kisah ini juga menunjukkan bahwa solusi tetap ada. Selama ada kemauan untuk berkolaborasi, konflik bisa diubah menjadi peluang untuk belajar dan bertindak. Masyarakat yang peduli, pemerintah yang responsif, dan lembaga konservasi yang tangguh adalah kombinasi penting dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Perjalanan orangutan kembali ke Hutan Lindung Gunung Tarak adalah harapan. Harapan bahwa masih ada ruang bagi kehidupan liar untuk pulih. Dan bahwa kita semua punya peran dalam memastikan hutan tetap lestari—bukan hanya untuk orangutan, tapi juga untuk masa depan kita bersama.
YIARI Kolaborasi: Cegah Zoonosis dengan Pendekatan One Health
Dalam upaya mencegah penyebaran zoonosis, Yayasan Inisiasi Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelenggarakan pelatihan penyegaran (refreshment training) bertema zoonosis dan pendekatan One Health di Ketapang, Kalimantan Barat, pada Selasa, 25 Februari 2025.
Kegiatan ini berlangsung selama satu hari penuh di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren dan diikuti secara luring maupun daring melalui platform Zoom Meeting, memungkinkan partisipasi dari berbagai wilayah.
Kegiatan Refreshment Training Zoonosis dan One Health di Ketapang (Tim Media | YIARI)
Pelatihan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan di Ketapang, antara lain Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, Puskesmas, Puskeswan, RSUD Dr. Agoesdjam, Laboratorium Kesehatan Daerah, serta Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan.
Seperti apa kegiatannya? Yuk, simak!
Apa itu Zoonosis
Zoonosis adalah penyakit atau infeksi yang dapat ditularkan antara hewan dan manusia, baik secara langsung maupun melalui perantara (vektor) seperti nyamuk atau kutu. Beberapa contoh penyakit zoonotik meliputi flu burung, rabies, antraks, demam berdarah dengue (DBD), malaria, cacar monyet, dan virus Nipah.
Para pemangku kepentingan di Ketapang turut hadir dalam kegiatan ini(Tim Media | YIARI)
Menurut data dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat, sekitar 75 persen penyakit baru pada manusia dalam dua dekade terakhir berasal dari penularan patogen hewan. Dari 1.415 jenis mikroorganisme patogen yang menyerang manusia, 61,6 persen di antaranya diketahui bersumber dari hewan.
Di Indonesia sendiri, beberapa penyakit zoonotik telah teridentifikasi dan menjadi perhatian utama, seperti rabies, antraks, avian influenza, serta helminthiasis.
Tingginya keanekaragaman hayati di Indonesia, ditambah dengan pertumbuhan populasi manusia yang pesat, memperbesar potensi interaksi antara manusia dan hewan yang dapat memicu penyebaran penyakit ini.
Cegah Zoonosis dengan One Health
Dalam pelatihan penyegaran yang digelar pada Selasa, 25 Februari 2025, Yayasan Inisiasi Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengajak berbagai pemangku kepentingan di Ketapang, Kalimantan Barat, untuk bersama-sama mencegah penyebaran zoonosis melalui pendekatan One Health.
Konsep One Health atau Satu Kesehatan merupakan integrasi lintas sektor yang menggabungkan aspek kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan secara holistik.
Peserta kegiatan Refreshment Training Zoonosis dan One Health (Tim Media | YIARI)
Para peserta yang menjadi sasaran pelatihan ini mencakup tenaga kesehatan lapangan, penyedia layanan kesehatan, pendidik, hingga pengambil kebijakan. Pendekatan One Health kini dianggap sebagai strategi paling efektif dalam menghadapi tantangan kompleks dari penyakit zoonotik, yang tidak dapat diselesaikan oleh satu sektor saja.
Melalui pendekatan kolaboratif ini, berbagai sektor didorong untuk saling bekerja sama, berbagi pengetahuan, dan memanfaatkan sumber daya secara optimal.
Sinergi antar sektor diharapkan mampu memperkuat kapasitas deteksi dini, respon cepat, serta pencegahan zoonosis secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Meningkatkan Pemahaman dan Komitmen
Melalui pelatihan, YIARI berharap para peserta dapat memahami secara lebih mendalam konsep One Health serta mengenali jenis-jenis zoonosis yang umum terjadi pada hewan domestik, ternak, dan satwa liar.
Pelatihan ini juga menjadi wadah bagi para pemangku kepentingan untuk saling mengenal, membangun jejaring, dan memperkuat komitmen dalam mencegah penyebaran penyakit zoonotik di wilayah kerja masing-masing.
Khusus bagi petugas lapangan, pelatihan ini dirancang agar mereka mampu melakukan identifikasi awal, pencatatan, serta pelaporan insiden zoonosis secara tepat.
Dengan keterampilan tersebut, mereka diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan dan pengendalian zoonosis di tingkat komunitas.
Komunikasi dan Koordinasi sebagai Kunci Sukses
Keberhasilan pendekatan One Health sangat bergantung pada komunikasi yang efektif dan koordinasi yang solid antar sektor. Oleh karena itu, pelatihan ini juga menekankan pentingnya membangun hubungan kerja yang harmonis dan kolaboratif antara lembaga dan institusi yang terlibat.
Selain memperkuat kapasitas teknis, YIARI juga memberikan pemahaman mendalam kepada para peserta mengenai dampak zoonosis terhadap keanekaragaman hayati dan kesehatan masyarakat. Informasi berbasis data lapangan turut disampaikan, termasuk aktivitas masyarakat di wilayah berisiko tinggi di Ketapang, yang dinilai rentan terhadap penyebaran zoonosis.
Para Stakeholder Merespons Baik Pelatihan
Kebersamaan YIARI dan peserta Refreshment Training Zoonosis – One Health (Tim Media | YIARI)
Pelatihan refreshment yang digelar oleh YIARI terkait zoonosis dan pendekatan One Health mendapatkan respons positif dari para pemangku kepentingan yang hadir. Sepanjang kegiatan, peserta aktif berdiskusi dan bertukar wawasan dengan para narasumber secara interaktif, membahas tantangan dan solusi dalam pencegahan serta penanganan zoonosis di lapangan.
Untuk mendukung kenyamanan peserta, panitia menyediakan dua sesi coffee break dan satu kali makan siang. Selain itu, YIARI juga memfasilitasi layanan antar-jemput menggunakan bus atau kendaraan dari Kantor Dinas Kesehatan menuju lokasi kegiatan, yakni Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren.
Kegiatan ini menjadi bukti konkret komitmen YIARI terhadap isu zoonosis yang semakin relevan di Indonesia. Mengingat keterkaitan erat antara zoonosis dengan hewan peliharaan, ternak, serta satwa liar, pendekatan One Health dinilai sebagai solusi strategis karena melibatkan kolaborasi lintas sektor—mulai dari kesehatan, lingkungan, hingga pertanian.
Komitmen ini pun sejalan dengan langkah pemerintah yang telah menerbitkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2022 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis dan Penyakit Infeksius Baru.
Regulasi ini diterbitkan sebagai respons terhadap meningkatnya kejadian penyakit zoonotik dan penyakit infeksius baru yang berpotensi menimbulkan dampak besar, baik secara sosial, ekonomi, keamanan, maupun kesejahteraan masyarakat.
Dengan meningkatnya kesadaran dan sinergi berbagai pihak, tidak ada alasan untuk bersikap pasif di tengah ancaman zoonosis yang terus berkembang. Pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan adalah kunci untuk menjaga kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan secara terpadu.
Empat Bulan yang Mengubah Hidup: Catatan Perjalanan Kahiu Academy Batch 3
Setelah empat bulan penuh proses belajar dan bertumbuh, para peserta Kahiu Academy Batch 3 akhirnya menuntaskan perjalanan mereka.
Momen kelulusan yang dirayakan dalam acara Farewell Kahiu menjadi simbol penting dari sebuah transformasi—dari remaja putus sekolah menjadi individu yang lebih percaya diri, terampil, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Program ini bukan sekadar pelatihan, melainkan ruang aman untuk menggali potensi, membangun karakter, dan menemukan harapan baru.
Yuk, simak perjalanan mereka selama di Kahiu Academy dan bagaimana program ini telah membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah!
Kahiu Academy: Cahaya Harapan bagi Remaja Putus Sekolah
Sejak pertama kali didirikan pada tahun 2022, Kahiu Academy menjadi cahaya harapan bagi remaja putus sekolah di Kalimantan Barat.
Program ini dirancang untuk memberikan pendidikan dan pelatihan yang komprehensif, dengan tujuan membekali para peserta dengan keterampilan teknis dan non-teknis agar mereka dapat menjadi individu yang lebih mandiri dan berdaya.
Kahiu Academy mengusung pendekatan yang menyeluruh. Tidak hanya fokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan praktis, program ini juga menanamkan nilai-nilai penting seperti kepedulian terhadap lingkungan dan pengembangan karakter.
Dengan demikian, setiap peserta tidak hanya mendapatkan bekal untuk dunia kerja atau usaha mandiri, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kesadaran sosial dan tanggung jawab terhadap komunitas serta alam sekitarnya.
Perjalanan Belajar di Kahiu Academy: Lebih dari Sekadar Pelatihan
Selama empat bulan terakhir, sebanyak 14 peserta dari empat kecamatan di Kalimantan Barat mengikuti program pelatihan intensif yang diselenggarakan di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren YIARI Ketapang.
Mereka menjalani proses belajar yang padat, mencakup lebih dari 40 materi yang terbagi dalam dua kategori utama: keterampilan teknis (hard skill) dan pengembangan diri (soft skill).
Peserta Kahiu Academy Batch 3 (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Seluruh materi yang diberikan tidak hanya ditujukan untuk membentuk kompetensi individu, tetapi juga untuk menumbuhkan semangat berkontribusi terhadap masyarakat dan lingkungan.
Melalui pendekatan ini, peserta diajak untuk belajar demi masa depan mereka sendiri, sekaligus didorong untuk menjadi bagian dari perubahan yang lebih luas di komunitas masing-masing.
Materi Pelatihan yang Beragam dan Komprehensif
Selama mengikuti program, peserta Kahiu Academy Batch 3 mendapatkan berbagai pelatihan yang dirancang untuk membekali mereka dengan keterampilan praktis sebagai bekal menghadapi masa depan. Materi yang disampaikan mencakup:
Keterampilan teknis, yang relevan dengan berbagai bidang pekerjaan. Materi ini memungkinkan peserta untuk langsung terjun ke dunia kerja atau bahkan memulai usaha mandiri sesuai minat dan potensi masing-masing.
Pengembangan karakter dan kepemimpinan, yang bertujuan membentuk kepercayaan diri serta ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Pendidikan lingkungan, yang meningkatkan kesadaran peserta akan pentingnya pelestarian alam serta bagaimana menerapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih dari sekadar teori di dalam kelas, para peserta juga mendapat kesempatan untuk menerapkan ilmu mereka secara langsung melalui praktik. Pendekatan berbasis praktik ini membantu peserta memahami konteks nyata dari keterampilan yang dipelajari, sekaligus memperkuat pemahaman mereka dalam situasi dunia nyata.
Farewell Kahiu: Merayakan Kelulusan dengan Penuh Makna
Setelah melalui perjalanan panjang yang penuh tantangan dan proses pembelajaran, peserta Kahiu Academy Batch 3 akhirnya berhasil menyelesaikan program mereka.
Momen kelulusan ini dirayakan dalam acara Farewell Kahiu, sebuah perayaan yang sarat makna dan emosi. Bukan hanya menjadi ajang perpisahan, acara ini juga menjadi simbol keberhasilan dan pencapaian luar biasa, baik bagi para peserta, mentor, pembimbing, maupun seluruh pihak yang terlibat dalam program ini.
Peserta melakukan presentasi (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Dalam acara yang diselenggarakan, setiap peserta diberikan kesempatan untuk berbagi cerita dan refleksi tentang perjalanan mereka selama mengikuti pelatihan.
Mereka menceritakan perubahan yang mereka alami, bagaimana program ini telah mengubah cara pandang mereka terhadap masa depan, serta bagaimana keterampilan yang mereka peroleh telah menumbuhkan kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh.
Peserta melakukan presentasi(Muffidz Ma’sum | YIARI)
Tak hanya itu, para peserta juga mempresentasikan rencana mereka setelah kelulusan. Ada yang ingin mengejar cita-cita profesionalnya, ada yang berencana untuk mengadakan kegiatan pemberdayaan di kampung halaman, dan ada pula yang bercita-cita mengembangkan pertanian berkelanjutan.
Ragam ide dan inisiatif yang mereka sampaikan menunjukkan bahwa program ini telah membuka wawasan dan membekali mereka dengan kemampuan nyata untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Menatap Masa Depan dengan Optimisme
Antusiasme dan semangat para peserta dalam menyongsong kehidupan setelah lulus sangat terasa sepanjang acara perpisahan. Dengan bekal yang telah mereka peroleh selama mengikuti program di Kahiu Academy, para lulusan kini lebih percaya diri untuk menghadapi berbagai tantangan, serta menciptakan peluang baru bagi diri mereka sendiri dan komunitas tempat mereka tinggal.
Kelulusan dari Kahiu Academy bukanlah akhir, melainkan awal dari langkah-langkah baru yang penuh harapan. Para peserta kini memiliki keterampilan dan wawasan yang lebih luas—baik untuk bekerja di berbagai sektor maupun membangun usaha mandiri. Lebih dari itu, mereka juga dibekali semangat untuk berkontribusi nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
Kami berharap, program ini terus berkembang dan menjangkau lebih banyak remaja di Kalimantan Barat. Keberhasilan para lulusan Kahiu Academy menjadi bukti nyata bahwa pendidikan dan pelatihan yang tepat dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam mendukung perjalanan ini—para mentor, fasilitator, mitra, dan seluruh pendukung program. Semoga para lulusan Kahiu Academy terus melangkah maju, meraih mimpi mereka, dan membawa perubahan positif bagi komunitasnya.
Macan Dahan dan Persebarannya di Indonesia: Ciri, Karakteristik, dan 9 Fakta Menarik
Jika berbicara soal hewan yang bisa memanjat dan bergelantungan di atas pohon, hewan apa yang pertama kali terlintas di kepalamu? Mungkin, pikiranmu akan langsung tertuju pada monyet atau tupai yang sudah jelas andal dalam hal panjat memanjat.
Namun, lebih dari monyet dan tupai, ada satwa lain yang tak kalah lihai berpindah tempat dari pohon ke pohon dalam waktu yang singkat.
Satwa tersebut adalah macan dahan (Neofelis), kucing berukuran sedang yang banyak menghabiskan waktu di atas pohon.
Macan dahan adalah spesies kucing yang unik dan menarik. Mereka memiliki gigi taring yang sangat panjang dan tajam. Hal tersebut membuat mereka mirip dengan kucing besar purba yang telah punah, yaitu harimau gigi pedang (Smilodon populator).
Meskipun ukurannya tak sebesar harimau Sumatera atau macan tutul Jawa, macan dahan termasuk predator yang ditakuti oleh sebagian besar mamalia darat, seperti monyet, rusa, babi, dan mamalia-mamalia kecil lainnya. Mereka berburu dengan cara menyergap, kemudian membawa mangsa mereka ke atas pohon untuk dinikmati hingga habis tak tersisa.
Ingin tahu lebih detail tentang macan dahan? Yuk, simak penjelasan lebih lengkapnya berikut ini!
Mengenal Macan Dahan
Macan dahan merupakan spesies kucing liar berukuran sedang yang dikenal karena keahliannya dalam memanjat dan bergelantungan di pohon. Hewan ini masih termasuk dalam keluarga Felidae, sehingga berkerabat dekat dengan harimau, singa, macan tutul, serta kucing domestik.
Seperti halnya kucing lainnya, macan dahan punya gigi taring dan cakar yang tajam. Namun, yang membedakannya adalah kemampuan luar biasa dalam memanjat pohon—salah satu yang terbaik di antara keluarga kucing.
Mengutip dari Khao Sok National Park, Thailand, macan dahan dikenal sebagai pemanjat pohon terbaik di antara semua spesies kucing. Mereka mampu memanjat dengan posisi tubuh terbalik, serta bergelantungan menggunakan kaki belakang. Bahkan, mereka bisa turun dari pohon dengan kepala lebih dulu, sebuah teknik yang jarang ditemukan pada kucing liar lainnya.
Karena sangat bergantung pada pohon, habitat favorit macan dahan adalah hutan hujan tropis yang lebat dan selalu hijau. Namun, mereka juga dapat ditemukan di berbagai jenis habitat lainnya seperti hutan kering, rawa-rawa, padang rumput, dan semak belukar.
Sebagai hewan karnivora, macan dahan berburu berbagai jenis mamalia, mulai dari yang kecil hingga besar, seperti tupai, tikus, landak, monyet, rusa, babi hutan, serta berbagai jenis burung.
Jenis-jenis Macan Dahan
Secara taksonomi, macan dahan terbagi menjadi dua spesies utama, yaitu:
1. Macan dahan benua (Neofelis nebulosa)
Macan dahan benua tersebar luas di wilayah Asia daratan, termasuk Bhutan, Nepal, Bangladesh, Myanmar, India, Tiongkok, hingga Semenanjung Malaysia. Spesies ini memiliki pola berbentuk awan di sekujur tubuhnya, dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan macan dahan Sunda.
2. Macan dahan Sunda (Neofelis diardi)
Macan dahan Sunda hidup di wilayah Kepulauan Sunda, seperti Pulau Sumatera dan Kalimantan. Pola awan pada tubuhnya lebih kecil, dengan warna bulu cenderung lebih abu-abu. Berdasarkan persebarannya, macan dahan Sunda dibagi lagi menjadi dua subspesies:
a. Macan dahan Sumatera (Neofelis diardi sumatraensis)
Subspesies ini hidup di Pulau Sumatera dan Kepulauan Batu. Mereka memiliki sifat yang sangat arboreal, artinya lebih sering berada di atas pohon dan jarang turun ke tanah. Hal ini disebabkan oleh keberadaan harimau Sumatera yang mendominasi wilayah daratan dan dapat menjadi ancaman.
b. Macan dahan Kalimantan (Neofelis diardi borneensis)
Berbeda dengan kerabatnya di Sumatera, macan dahan Kalimantan hidup tanpa kehadiran kucing besar lain sebagai kompetitor. Oleh karena itu, mereka sering turun ke tanah dan menjadi predator puncak di habitatnya. Kehadiran mereka sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan Kalimantan.
Ciri dan Karakteristik Macan Dahan
Macan dahan memiliki sejumlah ciri khas yang membedakannya dari spesies kucing lainnya, baik kucing besar maupun kucing domestik. Selain dikenal sebagai pemanjat pohon ulung, salah satu keunikan utama macan dahan adalah gigi taringnya yang panjang dan tajam, yang tidak dimiliki oleh kucing modern lain saat ini.
Berikut karakteristik fisik dan perilaku khas macan dahan:
Warna bulu bervariasi dari abu-abu kecokelatan, kuning pucat, hingga cokelat tua.
Memiliki pola bercak hitam berbentuk seperti awan di seluruh tubuhnya—ciri khas yang menjadi asal nama “clouded leopard” dalam bahasa Inggris.
Gigi taring sangat panjang dan kuat, proporsional dengan rahangnya.
Ekor panjang dan tebal, berfungsi sebagai penyeimbang saat bergerak di atas pohon.
Kaki pendek dengan cakar besar dan kuat, sangat mendukung kemampuan memanjat.
Penglihatan sangat tajam, mendukung aktivitas berburu, terutama di malam hari.
Bersifat arboreal, yaitu menghabiskan sebagian besar waktunya di pohon.
Nokturnal, aktif berburu dan bergerak pada malam hari.
Ukuran tubuh sedang, dengan panjang tubuh sekitar 90 cm, belum termasuk ekor.
Memiliki sifat soliter, hidup menyendiri kecuali saat musim kawin atau merawat anak.
Bersifat poligami, yaitu berganti pasangan saat musim kawin tiba.
Tidak memiliki musim kawin yang tetap; berkembang biak sepanjang tahun.
Bobot tubuh jantan dapat mencapai 23 kilogram.
Bobot tubuh betina berkisar antara 11 hingga 21 kilogram.
Sebagai perbandingan, ukuran tubuh macan dahan sekitar empat kali lebih kecil daripada harimau Sumatera, namun lima kali lebih besar dibandingkan kucing domestik. Meskipun tubuhnya tidak terlalu besar, macan dahan tetap merupakan predator yang tangguh dan mendominasi wilayahnya, terutama di ekosistem hutan tropis yang lebat.
9 Fakta Menarik Macan Dahan
Ilustrasi macan dahan (pixabay.com/piviso)
Dikenal sebagai salah satu pemanjat terbaik di antara semua jenis kucing, macan dahan memiliki sejumlah fakta menarik yang membuatnya semakin unik. Berikut beberapa fakta menarik mengenai macan dahan:
1. Tidak Bisa Mengaum dan Mendengkur
Menurut Smithsonian’s National Zoo & Conservation Biology Institute, macan dahan tidak dapat mengaum seperti harimau atau singa. Hal ini disebabkan oleh perbedaan struktur tulang laring dan tulang hyoid yang tidak fleksibel seperti pada kucing besar lainnya.
Selain itu, mereka juga tidak bisa mendengkur secara penuh, berbeda dengan kucing domestik.
2. Berkomunikasi dengan Geraman, Desisan, dan Endusan
Karena tidak mampu mengeluarkan suara auman maupun dengkuran, macan dahan berkomunikasi dengan geraman, desisan, suara mendesis, hingga endusan. Bentuk komunikasi ini digunakan untuk menandai wilayah, menarik perhatian pasangan, atau memberi sinyal saat merasa terancam.
3. Harapan Hidup Lebih Pendek Dibandingkan Singa
Di alam liar, macan dahan memiliki harapan hidup rata-rata sekitar 12–15 tahun. Namun, jika dirawat dalam penangkaran atau lingkungan terkontrol, usia hidup mereka bisa mencapai 17 tahun.
Angka ini tergolong lebih pendek dibandingkan singa, yang dapat hidup hingga 16 tahun di alam liar dan bahkan 20 tahun dalam penangkaran.
4. Dapat Memangsa Hewan yang Lebih Besar dari Tubuhnya
Meskipun tubuhnya tidak sebesar predator lain seperti harimau, macan dahan mampu memangsa hewan yang lebih besar darinya. Mangsa mereka dapat mencakup siamang, babi hutan, serta primata dan mamalia berukuran sedang hingga besar, berkat teknik menyergap yang efektif dan kekuatan gigitan yang luar biasa.
5. Matang Secara Seksual pada Usia Sekitar Dua Tahun
Macan dahan mencapai kematangan seksual saat berusia sekitar dua tahun. Pada usia ini, mereka sudah siap untuk berkembang biak, dengan musim kawin yang tidak terbatas pada waktu tertentu sepanjang tahun.
6. Puncak Perkembangbiakan Terjadi antara Desember dan Maret
Meskipun secara umum macan dahan dapat berkembang biak kapan saja sepanjang tahun, dalam lingkungan penangkaran atau perawatan manusia, mayoritas proses perkembangbiakan tercatat terjadi pada bulan Desember hingga Maret.
Hal ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan pola aktivitas yang lebih stabil dalam kondisi terkontrol.
7. Betina Dapat Melahirkan 1 hingga 5 Anak
Saat memasuki masa reproduksi, macan dahan betina mampu melahirkan antara satu hingga lima anak dalam satu kali kehamilan. Anak-anak macan dahan akan diasuh dan dijaga oleh induknya secara mandiri hingga cukup kuat untuk hidup sendiri di alam.
8. Mampu Membuka Mulut Hingga 100 Derajat
Salah satu keunikan anatomi macan dahan terletak pada kemampuan membuka mulut yang sangat lebar, yaitu hingga 100 derajat. Sebagai perbandingan, singa hanya dapat membuka mulutnya sekitar 65 derajat. Kemampuan ini mendukung efektivitas gigitan macan dahan saat menangkap dan melumpuhkan mangsanya.
9. Mirip dengan Harimau Gigi Pedang Purba
Macan dahan memiliki gigi taring yang panjang, kuat, dan melengkung, yang menyerupai harimau gigi pedang purba (Smilodon populator). Meskipun tidak sebesar Smilodon yang telah punah jutaan tahun lalu, kemiripan struktur gigi ini menunjukkan bahwa macan dahan mewarisi karakteristik predator purba yang tangguh.
Status Konservasi Macan Dahan
Macan dahan saat ini dikategorikan sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Kedua spesies utama macan dahan—yaitu macan dahan benua (Neofelis nebulosa) dan macan dahan Sunda (Neofelis diardi)—masing-masing memiliki status yang mengkhawatirkan.
Neofelis nebulosa (macan dahan benua) terdaftar dalam status Vulnerable (Rentan) menurut IUCN Red List.
Neofelis diardi (macan dahan Sunda) masuk dalam kategori Vulnerable, namun beberapa subpopulasinya dianggap memiliki risiko lebih tinggi secara lokal.
Selain itu, macan dahan juga telah dilindungi secara hukum di banyak negara Asia, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Di Indonesia, macan dahan Sunda tercantum dalam Lampiran I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species), yang berarti segala bentuk perdagangan internasional spesies ini dilarang kecuali untuk kepentingan konservasi ilmiah.
Penutup
Macan dahan bukan hanya sekadar kucing liar yang ahli memanjat pohon. Ia adalah simbol dari keunikan dan kekayaan biodiversitas hutan tropis Asia Tenggara. Dengan karakteristik fisik yang luar biasa, perilaku yang khas, dan peran penting sebagai predator dalam ekosistem, kehadiran macan dahan sangatlah vital bagi keseimbangan alam.
Sayangnya, berbagai ancaman terus mengintai kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran dan aksi nyata dari semua pihak—mulai dari pemerintah, lembaga konservasi, hingga masyarakat umum—untuk melindungi spesies ini dari kepunahan.
Mari bersama-sama menjaga hutan dan seluruh makhluk yang bergantung padanya, termasuk macan dahan yang mengagumkan ini!
Featured image:Ilustrasi macan dahan (pixabay.com/dannynic)
Tebar Bibit Ikan Nila di Pematang Gadung: Langkah Nyata Mewujudkan Ekonomi Berkelanjutan
Di tengah upaya membangun desa yang mandiri dan berkelanjutan, sebuah langkah penting diambil oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan Koperasi Mandiri Pematang Gadung Sejahtera (KMPGS).
Pada 17 Maret 2025, mereka secara resmi meluncurkan program budidaya ikan nila berbasis koperasi melalui kegiatan Tebar Bibit Ikan di Desa Pematang Gadung, Kabupaten Ketapang. Program ini menjadi simbol kolaborasi lintas sektor, sekaligus sebagai titik awal terbentuknya ekosistem ekonomi lokal yang tangguh dan berbasis komunitas.
Simak kisahnya berikut ini, bagaimana benih ikan yang ditebar membawa harapan baru bagi kemandirian ekonomi masyarakat!
Koperasi sebagai Fondasi Kemandirian Ekonomi Desa
Koperasi Mandiri Pematang Gadung Sejahtera (KMPGS) lahir dari semangat membangun sistem ekonomi desa yang lebih mandiri dan inklusif. Inisiatif ini mulai dirancang sejak tahun 2024 oleh YIARI bersama masyarakat Desa Pematang Gadung, sebagai respons atas kebutuhan akan wadah ekonomi berbasis komunitas.
Setelah melalui berbagai tahap persiapan, koperasi ini akhirnya diresmikan secara hukum melalui pengesahan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan Nomor AHU-0003874.AH.01.29 Tahun 2024.
Peluncuran perdana koperasi ditandai secara simbolis dengan kegiatan Tebar Bibit Ikan, yang melibatkan para anggota koperasi dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan berfokus pada sektor perikanan, koperasi ini kini memiliki 23 anggota aktif yang akan terlibat langsung dalam pengelolaan dan pengembangan usaha.
Kegiatan Tebar Bibit Ikan di Pematang Gadung bersama para anggota KMPGS (Heribertus Suciadi | YIARI)
“Melalui koperasi, kami berharap dapat menciptakan kemandirian ekonomi kepada kelompok dampingan kita secara khusus dan masyarakat desa secara umum. Dengan model usaha yang berkelanjutan, anggota koperasi tidak hanya memperoleh penghasilan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang kuat dan berdampak jangka panjang,” ujar Silverius Oscar Unggul, Ketua Umum YIARI.
Dengan hadirnya KMPGS, diharapkan masyarakat Pematang Gadung memiliki pondasi ekonomi yang tidak hanya bertumpu pada bantuan eksternal, tetapi dibangun melalui kekuatan kolektif dan pengelolaan sumber daya lokal secara berkelanjutan.
Budidaya Ikan Nila dengan Sistem Keramba Jaring Apung (KJA)
Melihat potensi sumber daya perairan yang melimpah di Batang Sungai Pesaguan, KMPGS mengembangkan budidaya ikan nila menggunakan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) sebagai model usaha utamanya.
Sistem ini dipilih karena mampu meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem air. Dibandingkan metode tradisional, KJA memungkinkan pemantauan kualitas air dan pertumbuhan ikan secara lebih terkontrol.
Pada tahap awal, program ini melibatkan dua unit KJA dengan kapasitas 4.000 ekor ikan nila. Setiap unit dikelola oleh dua anggota koperasi, sehingga total ada empat orang yang terlibat langsung dalam proses budidaya. Unit-unit ini dirancang untuk memaksimalkan pertumbuhan ikan dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.
Ketua Koperasi KMPGS, Ilyas, menyampaikan rasa optimisme para anggota dengan adanya dukungan dari berbagai pihak. “Dengan adanya KMPGS, kami merasa lebih percaya diri mengembangkan usaha ini. Kami tidak hanya mendapat bantuan modal, tapi juga pelatihan dan pendampingan untuk mengelola usaha dengan lebih baik,” ujarnya.
Menariknya, usaha ini dijalankan dengan skema permodalan bergulir. Artinya, modal awal yang berasal dari donatur akan dikelola dan dikembangkan oleh koperasi secara berkelanjutan.
Dengan pendekatan ini, anggota koperasi dapat terus mengembangkan usahanya tanpa ketergantungan pada bantuan eksternal dalam jangka panjang. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat kemandirian ekonomi, tetapi juga menciptakan siklus usaha yang inklusif dan adaptif.
Dukungan Penuh dari Berbagai Pihak
Peluncuran usaha perikanan berbasis koperasi di Desa Pematang Gadung tidak berjalan sendiri.
Berbagai pihak hadir memberikan dukungan nyata, mulai dari instansi pemerintah hingga perwakilan komunitas lokal. Kehadiran mereka menjadi bukti kuat kolaborasi adalah kunci utama dalam membangun ekonomi desa yang berkelanjutan.
Kegiatan Tebar Bibit Ikan dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten Ketapang melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian; Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan; serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa.
Selain itu, hadir pula Camat Matan Hilir Selatan, KPH Ketapang Selatan, Bhabinkamtibmas, anggota komunitas The Power of Mama, LPHD Pematang Gadung, dan perwakilan dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Perwakilan pemerintah menebar bibit ikan di Pematang Gadung(Heribertus Suciadi | YIARI)
Kepala Desa Pematang Gadung, Sahdimin, menyampaikan rasa terima kasihnya atas sinergi yang terbangun.
“Kami sangat mengapresiasi dukungan dari YIARI dan seluruh mitra yang telah membantu mewujudkan program ini. Ini bukan hanya tentang menebar benih ikan nila, tetapi juga menanam harapan bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat Pematang Gadung,” ujarnya.
Kehadiran para pemangku kepentingan dalam kegiatan tebar bibit ikan di Pematang Gadung (Heribertus Suciadi | YIARI)
Lebih lanjut, Sahdimin berharap kolaborasi ini terus berlanjut dalam bentuk pendampingan teknis dan perluasan akses pasar. Dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah dan mitra pembangunan, koperasi KMPGS diyakini akan mampu tumbuh menjadi penggerak utama perekonomian desa yang mandiri dan berbasis komunitas.
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan dari Budidaya Ikan Nila
Budidaya ikan nila dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) tidak hanya menggerakkan roda ekonomi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Dengan menggunakan sistem KJA di sungai, pemanfaatan lahan darat dapat diminimalkan, sehingga tidak perlu membuka lahan baru yang berisiko merusak ekosistem hutan dan lahan basah di sekitar desa.
Dari sisi lingkungan, ikan nila termasuk spesies yang mampu tumbuh dengan baik dalam kondisi perairan yang bersih dan relatif stabil, tanpa perlu penggunaan bahan kimia berbahaya. Dengan begitu, praktik budidaya ini tetap menjaga kualitas air dan keseimbangan ekosistem perairan secara alami.
Secara ekonomi, sistem ini memungkinkan panen yang lebih terukur dan konsisten, sehingga pendapatan anggota koperasi menjadi lebih stabil. Keuntungan yang diperoleh dari hasil panen dapat digunakan untuk meningkatkan taraf hidup keluarga, memperluas skala usaha, hingga membuka peluang ekonomi baru seperti pengolahan hasil perikanan.
Model usaha ini juga memberi ruang belajar bagi masyarakat untuk mengelola bisnis secara kolektif dan berkelanjutan. Bukan hanya soal keuntungan jangka pendek, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan sambil mengelola sumber daya secara produktif.
Menuju Ekonomi Berbasis Komunitas yang Berkelanjutan
Langkah awal yang diambil YIARI dan KMPGS melalui program budidaya ikan nila ini bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan upaya membangun fondasi jangka panjang menuju desa yang berdaya dan berkelanjutan.
Keberhasilan program ini diharapkan dapat menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain yang ingin mengembangkan potensi lokalnya melalui pendekatan koperasi dan pengelolaan sumber daya alam secara bijak.
Kegiatan tebar bibit ikan di Pematang Gadung(Heribertus Suciadi | YIARI)
Ke depan, koperasi KMPGS memiliki peluang besar untuk terus berkembang. Tidak hanya dalam skala produksi, tetapi juga melalui diversifikasi usaha seperti pengolahan hasil panen, pengemasan produk lokal, sampai penguatan akses ke pasar yang lebih luas. Semua ini akan membuka lebih banyak peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
Dengan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan mitra pembangunan, Desa Pematang Gadung telah menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi bukan sekadar wacana, melainkan dapat benar-benar diwujudkan melalui kerja sama dan komitmen bersama.
Melalui kegiatan Tebar Bibit Ikan, yang tampak sederhana di permukaan, telah ditanam benih harapan untuk masa depan desa yang lebih hijau, mandiri, dan sejahtera. Karena pada akhirnya, membangun desa bukan hanya soal pembangunan fisik, tapi juga soal menumbuhkan rasa percaya diri bahwa masyarakat mampu mengelola kehidupannya sendiri—dari desa, oleh desa, dan untuk desa.
Panen Ikan Nila: YIARI Dukung Budidaya Swakelola
Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat, terutama bagi komunitas lokal yang sangat bergantung pada sumber daya alam di sekitarnya.
Dalam menghadapi berbagai tantangan global seperti perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah, pengembangan sistem pangan swakelola menjadi solusi yang efektif sekaligus berkelanjutan.
Sebagai bentuk komitmen terhadap penguatan ketahanan pangan lokal, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) aktif mendorong praktik budidaya ikan nila yang ramah lingkungan. Melalui program panen ikan nila, YIARI mendukung peningkatan produksi ikan secara berkelanjutan, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai teknik budidaya yang efisien, hemat sumber daya, dan selaras dengan prinsip-prinsip konservasi.
Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai program panen ikan nila yang dilaksanakan oleh YIARI. Check it out!
Kapan Program Ini Dilaksanakan?
Kegiatan panen ikan nila YIARI di Desa Ulak Medang, Ketapang, Kalimantan Barat (Tim Comdev | YIARI)
Pada Jumat, 28 Februari 2025, YIARI bersama Kelompok Usaha Bersama (KUB) Alam Lestari melaksanakan panen ikan nila di Desa Ulak Medang, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari program budidaya perikanan berkelanjutan yang dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan lokal melalui pendekatan berbasis komunitas.
Desa Ulak Medang dipilih sebagai lokasi program karena memiliki potensi sumber daya air yang mendukung, serta semangat masyarakat yang tinggi untuk mengembangkan usaha budidaya secara mandiri. Keterlibatan aktif warga menjadi kunci dalam setiap tahap kegiatan—mulai dari pengelolaan kolam, pemberian pakan, hingga proses panen.
Melalui kegiatan ini, YIARI tidak hanya menyalurkan pengetahuan teknis dan pendampingan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai konservasi dalam praktik budidaya agar tetap sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan.
Hasil Panen dan Praktik Budidaya Ramah Lingkungan
Panen ikan nila yang dilakukan di Desa Ulak Medang membuahkan hasil yang menggembirakan. Dalam satu kali panen, masyarakat berhasil memanen 409 kilogram ikan nila. Capaian ini bukan hanya menunjukkan keberhasilan dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas pengelolaan budidaya.
Selama proses budidaya, tingkat kematian ikan (mortalitas) tercatat sebesar 20%, sementara nilai food conversion ratio (FCR) mencapai 1,25. Angka FCR ini menandakan efisiensi yang baik dalam penggunaan pakan—semakin rendah nilai FCR, semakin efisien ikan dalam mengubah pakan menjadi massa tubuh.
Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari penerapan praktik budidaya yang ramah lingkungan. Sejak awal, program ini dirancang dengan pendekatan konservatif untuk menjaga kesehatan ikan dan kualitas ekosistem perairan. Beberapa prinsip utama yang diterapkan meliputi:
Pemantauan kualitas air secara berkala untuk menjaga kondisi optimal bagi pertumbuhan ikan.
Pengaturan kepadatan tebar agar ikan tidak stres dan ruang hidup tetap memadai.
Pemilihan pakan berkualitas tinggi dan efisien, sehingga mendukung pertumbuhan tanpa mencemari lingkungan.
Pengelolaan limbah budidaya secara bertanggung jawab agar tidak merusak ekosistem sekitar kolam.
Tantangan Panen Ikan Nila
Di balik keberhasilan budidaya ikan nila, terdapat sejumlah tantangan signifikan yang dihadapi oleh para pembudidaya di lapangan. Beberapa kendala utama berikut menjadi perhatian serius dalam pengelolaan budidaya yang berkelanjutan.
Berikut tantangan-tantangan beserta solusi yang telah diupayakan oleh YIARI bersama Kelompok Usaha Bersama (KUB) Alam Lestari:
YIARI dan KUB Alam Lestari bekerjasama untuk panen ikan nila (Tim Comdev | YIARI)
1. Fluktuasi harga jual ikan
Harga jual ikan nila di pasaran cenderung tidak stabil karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti fluktuasi permintaan konsumen, musim panen, serta kondisi ekonomi secara umum.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, harga ikan air tawar—termasuk ikan nila—bisa mengalami perubahan antara 10% hingga 20% dalam hitungan bulan, tergantung pada dinamika stok dan permintaan pasar.
Ketidakstabilan harga ini berdampak langsung pada pendapatan pembudidaya, yang kerap kali harus menjual hasil panen dengan harga di bawah biaya produksi. Untuk mengatasi tantangan ini, kami bersama KUB Alam Lestari berinisiatif membangun jaringan pemasaran yang lebih luas dan stabil.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah menjalin kemitraan langsung dengan pembeli tetap, seperti pasar tradisional dan koperasi. Melalui pendekatan ini, pembudidaya dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasar terbuka dan memastikan aliran pendapatan yang lebih terjamin.
2. Tingginya harga pakan
Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya ikan nila, yang menurut laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dapat mencapai 60–70% dari total biaya operasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, harga pakan komersial terus meningkat, didorong oleh mahalnya bahan baku seperti tepung ikan dan kedelai yang sebagian besar masih diimpor.
Kenaikan ini sangat membebani pelaku budidaya, khususnya skala kecil dan menengah. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial, kami mulai mengembangkan solusi berbasis lokal melalui produksi pakan alternatif.
Bahan-bahan seperti daun lamtoro, dedak padi, serta maggot (larva lalat BSF) yang kaya protein menjadi pilihan utama. Pendekatan ini tidak hanya membantu menekan biaya operasional, tetapi juga mendukung praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang mudah diakses.
3. Komunikasi Antaranggota Kelompok
Budidaya dalam skema kelompok memerlukan koordinasi dan komunikasi yang solid antaranggota. Setiap individu harus menerapkan standar budidaya yang sama, mulai dari pengelolaan kualitas air, pemberian pakan, hingga penjadwalan panen.
Namun dalam praktiknya, perbedaan pengalaman, pemahaman teknis, dan cara kerja sering kali menjadi sumber ketidakseimbangan.
Untuk memperkuat sinergi dalam kelompok, kami secara aktif mendorong keterbukaan informasi dan menyelenggarakan pelatihan bersama secara berkala. Selain itu, forum diskusi rutin juga difasilitasi guna memberikan ruang bagi anggota untuk berbagi pengalaman, membahas tantangan teknis, dan mencari solusi bersama.
Komunikasi yang efektif terbukti meningkatkan efisiensi produksi serta membantu mengurangi potensi konflik dalam pengelolaan usaha secara kolektif.
Manfaat Panen Ikan Nila
Hasil panen ikan nila YIARI bersama KUB Alam Lestari (Tim Comdev | YIARI)
Bagi masyarakat Desa Ulak Medang, panen ikan nila bukan sekadar kegiatan ekonomi, melainkan cerminan dari perubahan cara hidup yang lebih berkelanjutan. Program ini memberikan dampak nyata, baik dari sisi pendapatan keluarga maupun kesadaran lingkungan.
Salah satu anggota KUB Alam Lestari, Kusmaheru, membagikan pengalamannya:
“Di panen ikan nila kali ini, keramba saya menghasilkan 100 kg ikan yang langsung terjual habis. Sebelum mengikuti program ini saya kerja tebang kayu. Ya, niat saya sih sebenernya ingin berubah dari kerja kayu, dan saya jalani usaha dengan KUB ini pun, saya melihat dulu keadaan dan bagaimana hasilnya. Kalau memang menghasilkan, langkah baik selanjutnya saya akan berhenti kerja kayu.”
Cerita Kusmaheru menjadi bukti budidaya ikan nila dapat menjadi jalan keluar dari ketergantungan terhadap aktivitas yang berpotensi merusak hutan. Selain menghasilkan keuntungan ekonomi, kegiatan ini juga mendorong transformasi sosial yang lebih ramah lingkungan.
Tidak hanya itu, keberhasilan panen turut membuka peluang baru bagi anggota keluarga lain untuk terlibat, mulai dari pengolahan hasil panen hingga distribusi ke pasar lokal. Dalam jangka panjang, ini memperkuat ketahanan keluarga dan memperluas manfaat program ke lapisan masyarakat yang lebih luas.
Menatap Masa Depan Budidaya Berkelanjutan
Budidaya ikan nila yang dikembangkan di Desa Ulak Medang menunjukkan ketahanan pangan dan konservasi lingkungan bisa berjalan beriringan. Melalui pendekatan berbasis komunitas, program ini bukan hanya menghasilkan panen yang sukses, tetapi juga menumbuhkan kesadaran baru tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Ke depan, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain yang ingin mengembangkan sistem pangan mandiri. Budidaya ikan nila bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan dapur, tapi juga tentang menjaga hutan tetap lestari, mengurangi tekanan terhadap alam, dan memperkuat kemandirian masyarakat.
Karena pada akhirnya, menanam harapan berarti menuai masa depan.
Kerja Sama Konservasi Laut Kalimantan Barat: Upaya Bersama Jaga Ekosistem Pesisir
Kerja sama dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut memegang peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan. Wilayah pesisir dan laut menyimpan keanekaragaman hayati, sekaligus menjadi sumber utama penghidupan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Sayangnya, tekanan akibat eksploitasi berlebihan, dampak perubahan iklim, serta berbagai aktivitas manusia lainnya semakin mengancam keberlanjutan sumber daya tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi pengelolaan yang terpadu, berbasis kolaborasi lintas sektor, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Dalam hal ini, sinergi antara lembaga pemerintah, organisasi konservasi, serta komunitas lokal menjadi elemen kunci untuk memastikan kelestarian lingkungan pesisir dapat terjaga secara berkelanjutan.
Salah satu contoh dari upaya kolaboratif ini adalah penandatanganan perjanjian kerja sama antara Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak, yang bertujuan untuk memperkuat perlindungan serta pengelolaan sumber daya pesisir secara lebih efektif.
Penandatanganan perjanjian kerja sama dilaksanakan pada tanggal 10 Februari 2025 antara YIARI, BPSPL Pontianak, Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, serta Yayasan WeBe Konservasi Ketapang.
Kolaborasi ini bertujuan memperkuat upaya konservasi lingkungan, mendorong pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, serta meningkatkan keterlibatan akademisi dan komunitas dalam pelestarian ekosistem pesisir dan perairan di wilayah Kalimantan Barat.
Acara penandatanganan berlangsung dalam format hybrid, yakni menggabungkan kehadiran fisik dan partisipasi daring. Sebagian peserta hadir langsung di kantor BPSPL Pontianak, sementara lainnya mengikuti prosesi melalui platform Zoom Meeting.
Format ini memungkinkan partisipasi yang lebih luas, mendorong transparansi, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor. Melalui kerja sama ini, diharapkan akan lahir berbagai program yang berdampak nyata dalam menjaga keberlanjutan ekosistem serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Tujuan Perjanjian Kerjasama YIARI dengan BPSPL Pontianak
Proses penandatanganan dokumen kerjasama antara YIARI dan BPSPL (BPSPL Pontianak)
Melalui perjanjian ini, keempat lembaga berkomitmen untuk memperkuat upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan di wilayah Kalimantan Barat. Adapun tujuan utama dari kerjasama ini yaitu:
1. Menguatkan Jejaring dan Kolaborasi Efektif
Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan organisasi konservasi menjadi elemen penting dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan laut. Melalui perjanjian ini, komunikasi dan koordinasi lintas sektor diharapkan semakin terjalin kuat, sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan sumber daya alam secara lebih efektif dan terpadu.
2. Mendukung Inisiatif Konservasi Berkelanjutan
Dengan luas wilayah laut sekitar 3,25 juta km², Indonesia menyimpan keanekaragaman hayati laut yang luar biasa. Perjanjian ini bertujuan memperkuat berbagai inisiatif konservasi agar dapat berjalan secara berkelanjutan, menjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus menjamin keberlanjutan ekonomi dan sosial masyarakat pesisir dalam jangka panjang.
3. Meningkatkan Pengelolaan Sumber Daya Laut di Kalimantan Barat
Perairan Kalimantan Barat merupakan habitat penting bagi sejumlah spesies langka dan dilindungi, seperti penyu, dugong, serta berbagai jenis ikan karang. Kerja sama ini diharapkan mampu mendorong penerapan sistem pengelolaan berbasis ilmiah dan adaptif, dengan menekankan praktik yang berorientasi pada kelestarian lingkungan.
4. Menjaga Kekayaan Alam
Komitmen YIARI dan BPSPL untuk menjaga laut Kalimantan Barat (BPSPL Pontianak)
Ancaman terhadap ekosistem laut, seperti pencemaran, perusakan habitat pesisir, dan aktivitas penangkapan ikan yang merusak, semakin meningkat.
Perjanjian ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat upaya pelestarian keanekaragaman hayati laut, sehingga generasi mendatang masih dapat menikmati dan memanfaatkan kekayaan alam Indonesia secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Rencana Implementasi Kerjasama
Agar perjanjian kerja sama ini dapat terlaksana secara efektif dan memberikan dampak nyata, keempat lembaga yang terlibat telah merancang rencana implementasi yang mencakup sejumlah program strategis.
Rencana ini disusun berdasarkan prinsip kolaboratif, berbasis ilmu pengetahuan, dan berorientasi pada keberlanjutan. Adapun langkah-langkah utama yang akan dijalankan meliputi:
1. Pelatihan dan Penyuluhan
Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir dan stakeholder lainnya dalam mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan. Kegiatan yang akan dilakukan mencakup pelatihan konservasi, penerapan teknik budidaya ramah lingkungan, serta pengenalan praktik perikanan berkelanjutan yang mendukung keseimbangan ekosistem.
2. Penelitian dan Pengembangan
Untuk memastikan setiap langkah konservasi berbasis pada data yang akurat, akan dilakukan serangkaian kajian ilmiah mengenai kondisi ekosistem pesisir dan laut di Kalimantan Barat. Penelitian ini mencakup pemantauan populasi spesies yang dilindungi, identifikasi ancaman terhadap habitat laut, serta penyusunan rekomendasi teknis untuk pengelolaan yang lebih baik.
3. Penguatan Kebijakan dan Regulasi
Dalam upaya memperkuat tata kelola lingkungan, kerja sama ini juga mencakup dukungan terhadap perumusan serta penerapan kebijakan yang berbasis data ilmiah. Selain itu, akan dilakukan pemantauan terhadap pelaksanaan regulasi konservasi untuk memastikan kepatuhan di tingkat lokal maupun regional.
4. Peningkatan Kesadaran Publik
Edukasi masyarakat menjadi aspek penting dalam menjaga keberlanjutan. Melalui berbagai kegiatan kampanye, sosialisasi, dan penyebaran informasi, program ini bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat luas mengenai pentingnya pelestarian ekosistem laut, serta manfaat pengelolaan sumber daya pesisir secara bijak dan berkelanjutan.
Ekosistem Laut, Tanggung Jawab Bersama
Sinergi antara BPSPL Pontianak, Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, YIARI, dan Yayasan WeBe Konservasi Ketapang merupakan langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan kekayaan alam pesisir dan laut.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, pemanfaatan sumber daya laut diharapkan dapat dilakukan secara bijak, tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem. Berbagai inisiatif seperti penelitian ilmiah, pendampingan masyarakat, dan penerapan teknologi ramah lingkungan menjadi pilar utama dalam membangun model pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.
Upaya bersama ini tidak hanya berfokus pada aspek ekologi, tetapi juga menekankan pentingnya keseimbangan antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Dengan demikian, ekosistem laut tetap terjaga, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
Selain itu, kegiatan edukasi dan peningkatan kapasitas bagi nelayan serta komunitas lokal menjadi elemen penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi berbasis kelautan. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan masyarakat pesisir yang mandiri, tangguh, dan peduli terhadap pelestarian lingkungan laut.
Featured image: Tim penggagas kerjasama YIARI dan BPSPL demi konservasi laut Kalimantan Barat (BPSPL Pontianak)
HPSN 2025: YIARI Ajak Anak-anak di Ketapang Bersih-bersih Sampah
Sampah merupakan persoalan serius yang tidak hanya menjadi tanggung jawab nasional, tetapi juga tantangan global yang hingga kini masih terus diupayakan penyelesaiannya.
Berdasarkan Surat Edaran (SE) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025, data dari Global Waste Management Outlook 2024 mencatat bahwa sekitar 38 persen sampah di dunia masih belum terkelola dengan baik. Kondisi ini memberikan kontribusi besar terhadap tiga krisis lingkungan utama yang dikenal sebagai Triple Planetary Crisis, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.
Di tingkat nasional, Indonesia mencatat timbunan sampah sebesar 56,63 juta ton pada tahun 2023. Dari total tersebut, hanya 39,01 persen atau sekitar 22,09 juta ton yang berhasil dikelola. Sisanya, yaitu 60,99 persen atau sekitar 34,54 juta ton, belum mendapatkan penanganan yang memadai.
Sebagai bagian dari peringatan HPSN 2025, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menginisiasi kegiatan bersih-bersih lingkungan bersama anak-anak di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Aksi ini bertujuan menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini, serta mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah di sekitar mereka.
Penasaran seperti apa kegiatan yang dilakukan? Yuk, simak keseruan aksi YIARI bersama anak-anak di Ketapang berikut ini!
Aksi Bersih Sampah Dilakukan di Tujuh Titik Lokasi
Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bersama anak-anak di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menyelenggarakan aksi bersih sampah di tujuh titik lokasi berbeda. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yakni pada 21 dan 22 Februari 2025.
Tepat pada tanggal 21 Februari, bertepatan dengan peringatan HPSN, kegiatan diawali dengan aksi bersih sampah bersama siswa-siswi SDN 20 Pangkalan Jihing, yang juga menjadi bagian dari site kerja Gunung Tarak.
Aksi bersih sampah YIARI dan siswa-siswi di SDN 20 Pangkalan Jihing. (Tim Edukasi | YIARI)
Masih di hari yang sama, YIARI mengadakan kegiatan daur ulang sampah di Learning Centre Sir Michael Uren (LC SMU). Pada kegiatan ini, YIARI berkolaborasi dengan Genta (Gerakan Pecinta Alam) dari SMKN 1 Ketapang, menciptakan momen edukatif seputar pengelolaan dan pemanfaatan sampah secara kreatif.
Selain itu, YIARI turut menggelar aksi bersih lingkungan bersama anak-anak di Desa Nusa Poring, yang merupakan bagian dari site project Melawi.
Pada tanggal 22 Februari, aksi bersih sampah dilanjutkan di tiga sekolah dasar dan satu desa, yakni SDN 33 Cali, SDN 14 Pulau Cempedak, SDN 07 Hulu Sungai, serta Desa Batu Lapis.
Masyarakat Sambut Positif Aksi Bersih Sampah yang Diinisiasi YIARI
Aksi bersih sampah di Desa Nusa Poring. (Tim Edukasi | YIARI)
Aksi bersih sampah yang diinisiasi oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Desa Nusa Poring mendapatkan respons positif dari masyarakat setempat. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025.
Menurut Dieka Pertiwi, Manajer Edukasi dan Penyadartahuan YIARI, kegiatan bersih-bersih sampah sebenarnya bukanlah hal baru bagi anak-anak maupun warga di Kabupaten Ketapang. Aksi serupa telah menjadi kegiatan rutin yang dilakukan di berbagai desa.
“Sebenarnya, aksi bersih sampah ini bukan kegiatan baru. Kegiatan seperti ini memang sudah rutin dilakukan. Jadi, HPSN itu sifatnya hanya seremonial saja, karena di luar momen perayaan seperti ini, aktivitas bersih-bersih sudah menjadi agenda reguler di desa-desa,” jelas Dieka.
Lebih lanjut, Dieka menjelaskan dalam rangka HPSN 2025, YIARI menyelenggarakan aksi bersih sampah dengan pendekatan yang lebih seremonial dan melibatkan sejumlah sekolah di wilayah Ketapang.
“Respons dari masyarakat sangat positif, terutama dari anak-anak yang memang terbiasa mengikuti kegiatan ini secara rutin setiap bulan,” tambahnya.
Anak-anak di Ketapang Terbiasa Bermain sambil Membersihkan Sampah
Salah satu fakta menarik dari kegiatan bersih sampah di Kabupaten Ketapang adalah kebiasaan anak-anak yang menjadikan aksi peduli lingkungan sebagai bagian dari aktivitas bermain sehari-hari. Di beberapa wilayah, seperti di Mentatai, anak-anak kerap berenang atau menyelam di sungai sambil memungut sampah yang mereka temui di permukaan maupun dasar sungai.
Seorang anak memungut sampah di Desa Batu Lapis, Kecamatan Hulu Sungai. (Tim Edukasi | YIARI)
“Mereka, kalau melihat sampah di dasar sungai, langsung diambil. Itu sudah menjadi kebiasaan,” ungkap Dieka.
Ia menambahkan, kesadaran ini merupakan hasil dari berbagai kegiatan edukatif dan aksi peduli lingkungan yang dilakukan secara konsisten di wilayah Ketapang.
“Kegiatan-kegiatan yang sudah rutin dilakukan membuat anak-anak lebih sadar. Bahkan, mereka dengan inisiatif sendiri memungut sampah, termasuk yang berada di dasar sungai sekalipun,” jelasnya.
Sampah Plastik Masih Menjadi Tantangan Terbesar
Dari berbagai jenis sampah yang mencemari lingkungan, sampah plastik menjadi tantangan terbesar yang dihadapi saat ini. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di kalangan anak-anak. Di Kabupaten Ketapang, misalnya, anak-anak masih memiliki kebiasaan membeli jajanan yang umumnya dikemas dalam plastik sekali pakai.
Meski demikian, kesadaran anak-anak terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sudah tergolong baik. Meski masih mengonsumsi produk berkemasan plastik, mereka telah terbiasa membuang sampah pada tempatnya, bukan sembarangan.
Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan, YIARI terus mengedukasi anak-anak dan masyarakat di Ketapang, khususnya terkait bahaya dan pengelolaan sampah plastik. Salah satu kebiasaan positif yang mulai dibangun adalah membawa wadah atau tempat minum sendiri saat membeli jajanan, guna mengurangi ketergantungan terhadap kemasan plastik sekali pakai.
Masalah sampah memang tidak akan pernah benar-benar habis. Namun, sebagai individu, kita bisa berkontribusi melalui langkah-langkah kecil yang konsisten, seperti memilah sampah, membawa wadah sendiri, atau rutin mengikuti kegiatan bersih-bersih lingkungan. Tak harus menunggu momen tertentu seperti Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), aksi menjaga kebersihan bisa dilakukan setiap minggu, bahkan setiap hari, di lingkungan tempat tinggal kita.
Seperti yang telah ditunjukkan oleh anak-anak di Ketapang—bermain sambil memungut sampah—aksi sederhana ini memiliki dampak besar jika dilakukan secara kolektif. Sudah saatnya kita menjadikan kepedulian terhadap sampah sebagai bagian dari gaya hidup. Yuk, mulai sekarang biasakan memungut sampah dan membuangnya di tempat yang semestinya!
Featured image: Siswa SDN O7 Hulu Sungai membersihkan sampah. (Tim Edukasi | YIARI)