YIARI Ketapang Berhasil Menyelamatkan Lima Orangutan Dari Hutan yang Rusak
Orangutan seberat lebih dari 60 kg itu masih bergantung di ketinggian 20 meter. Dua peluru bius yang ditembakkan Argito, manager lapangan YIARI, belum mampu membuatnya tertidur. Sementara anggota tim menunggu di bawahnya sambil membentangkan jaring. Orangutan yang bergantung dan berayun-ayun membuat tim rescue harus tergopoh-gopoh bergeser mencari posisi yang tepat.
Hutan yang tergenang air setinggi lutut semakin menyulitkan pergerakan. Sepuluh menit kemudian orangutan yang kemudian diberi nama Brama ini menuruni pohon sambil terhuyung, sampai akhirnya jatuh di jaring yang telah disiapkan. Tim rescue dengan sigap segera menggulung orangutan yang masih bergerak gerak dan mengangkutnya ke tanah yang tidak tergenang banjir akibat hujan semalaman. Brama merupakan orangutan terakhir dari total lima orangutan di Sungai Besar yang diselamatkan oleh YIARI Ketapang.
Total dari bulan Maret sampau Mei, lima orangutan liar telah diselamatkan dari kawasan Sungai Besar dan Sungai Bakau. Kelima orangutan ini sering muncul di perkampungan warga serta merusak ladang. Mereka masuk ke ladang warga karena makanan di hutan tempat tinggalnya mulai habis. Beberapa laporan warga menunjukkan adanya petak-petak hutan yang hampir habis, di mana di dalamnya ada beberapa orangutan yang terjebak serta tidak dapat pergi.
Hutan ini merupakan hutan gambut dengan tingkat keragaman hayati yang cukup tinggi namun kondisinya semakin menyempit dan menyebabkan makanan orangutan berkurang drastis. Menurut laporan, hutan ini berstatus Hutan Kemasyarakatn atau Hutan Desa dengan populasi orangutan yang sangat besar. Studi yang dilakukan oleh IAR pada tahun 2013 menunjukkan ada total lebih dari 500 orangutan yang berada di kawasan Sungai besar dan Pematang Gadung. Perambahan hutan untuk pertanian, perkebunan, serta pertambangan emas illegal merupakan ancaman nyata bagi orangutan.
Menanggapi laporan warga, YIARI Ketapang menempatkan tim mitra di Sungai Besar untuk memantau orangutan yang sering masuk warga. Setelah data dirasa cukup, penyelamatan untuk pertama kalinya dilakukan pada bulan April 2012. Dari penyelamatan ini tim YIARI berhasil mendapat satu orangutan betina dewasa dan satu anak orangutan. Kondisinya kurus karena telah kelaparan dalam waktu yang lama. Pemerikasaan medis juga melaporkan adanya tanda-tanda kekurangan nutrisi. Saat ini kedua orangutan itu berada di Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan milik YIARI di Ketapang.
Upaya rescue kedua kalinya pada tanggal 4 mei 2015. Hasilnya didapatdua orangutan betina Rescue kedua ini merupakan hasil kerjasama antara YIARI dan BKSDA. Kondisi dua orangutan betina ini juga tidak jauh berbeda dengan orangutan yang didapatkan pada rescue April silam. Dua orangutan ini kurus dan menderita kekurangan nutrisi. Bahkan tim medis merasa perlu memberinya cairan infus sebum membawanya keluar dari hutan
Rescue ketiga dilaksanakan pada akhir bulan setelah melakukan pengintaian selama dua hari. Agak berbeda dengan rescue sebelumnya. Pada rescue kali ini tim YIARI harus bekerja ekstra keras dan hati-hati di hutan yang banjir. Bahkan di beberapa bagian kedalamannya mencapai pinggang. Orangutan terakhir yang direscue ini terlihat bugar dan badannya padat berisi. Hanya bulu bagian belakng yang terlihat botak. Butuh waktu yang lama untuk menunggu orangutan masuk ke dalam jangkauan aman untuk dilumpuhkan dengan peluru bius. Kondisi hutan yang tergenang air menyulitkan pergerakan tim rescue yang berulangkali harus mengikuti pergerakan orangutan. Lantai hutan yang terendam juga membahayakan orangutan bila orangutan sampai jatuh ke sampai ke dasar hutan. Setelah berjibaku di dalam hutan selama 4 jam,akhirnya tim rescue bisa membawa orangutan ini ke luar untuk dimasukkan ke dalam kandang transport.
Kini kelima orangutan sudah berada di dalam kandang karantina untuk memulihkan kondisinya agar siap untuk ditranslokasikan ke hutan yang aman seperti Taman Nasional. “Rencananya akan kita translokasi pada pertengahan Juni ini,” ujar dokter Adi selaku Manager Operasional YIARI Ketapang.