Tanpa Menebang Hutan, Petani Lampung Bisa Raup Rp37 Juta Setahun
Kabut tipis masih menggantung di lereng Gunung Tanggamus ketika para petani mulai masuk ke kebun mereka di kawasan Batutegi, Lampung. Di bawah naungan pohon durian dan kemiri, tanaman kopi tumbuh berdampingan dengan pisang, cabai, bahkan kolam ikan di sudut lahan.
Kebun seperti ini memang tidak terlihat seperti perkebunan pada umumnya. Di satu lahan, banyak jenis tanaman tumbuh bersamaan. Namun justru dari pola tanam inilah para petani mendapatkan penghasilan yang cukup besar.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Ulin: Jurnal Hutan Tropis (2025) meneliti 261 petani di tiga kelompok tani Hutan Kemasyarakatan (HKm) di KPH Batutegi. Hasilnya, sistem agroforestri menyumbang sekitar 72 hingga 89 persen dari total pendapatan petani, dengan penghasilan rata-rata mencapai puluhan juta rupiah per tahun.
Menariknya, semua itu dilakukan tanpa harus menebang hutan.
Di Batutegi, hutan tetap berdiri, sementara kebun tetap menghasilkan. Lalu, bagaimana sistem agroforestri ini bisa menjadi sumber penghidupan utama bagi petani sekaligus tetap menjaga fungsi hutan?
Agroforestri di Hutan Kemasyarakatan Batutegi
Di kawasan Batutegi, para petani mengelola lahan melalui skema Hutan Kemasyarakatan (HKm), salah satu program Perhutanan Sosial yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk memanfaatkan kawasan hutan negara secara legal dan berkelanjutan.
Sistem yang mereka terapkan adalah agroforestri, yaitu pola tanam yang menggabungkan berbagai jenis tanaman dalam satu lahan. Di kebun-kebun ini, kopi biasanya menjadi komoditas utama, lalu dipadukan dengan tanaman lain yang punya fungsi berbeda.
Dalam satu lahan, misalnya, petani bisa menanam:
- Tanaman utama: kopi
- Pohon penaung: durian, kemiri, jengkol, atau alpukat
- Tanaman sela: pisang, cabai, dan sereh
Susunan seperti ini membuat kebun tetap produktif sepanjang tahun karena setiap tanaman punya waktu panen yang berbeda.
Sebagian petani juga menambahkan kegiatan lain ke dalam sistem ini, seperti:
- Budidaya ikan di kolam kecil
- Beternak lebah madu
- Memelihara kambing
Semua elemen ini saling mendukung. Tanaman menyediakan naungan dan pakan, sementara kotoran ternak bisa dimanfaatkan sebagai pupuk alami.
Meski lahan yang mereka kelola berada di kawasan hutan lindung, petani tidak menebang pohon untuk dijual sebagai kayu. Mereka hanya memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, seperti kopi, buah-buahan, dan rempah.
Dari sistem inilah sebagian besar penghasilan petani di Batutegi berasal.
Agroforestri Jadi Sumber Pendapatan Utama Petani
Seberapa besar sebenarnya peran agroforestri bagi penghasilan petani di Batutegi?
Penelitian terhadap 261 petani dari tiga gabungan kelompok tani (gapoktan) di KPH Batutegi menunjukkan bahwa agroforestri menyumbang sekitar 72 hingga 89 persen dari total pendapatan petani. Artinya, sebagian besar penghasilan rumah tangga mereka berasal dari kebun agroforestri, bukan dari pekerjaan lain di luar lahan.
Rata-rata pendapatan agroforestri di tiap gapoktan juga cukup menonjol:
| Gapoktan | Pendapatan agroforestri |
| Sumber Makmur | 37,8 juta per tahun |
| Wanatani Lestari | 28,4 juta per tahun |
| Mandiri Lestari | 34,1 juta per tahun |
Pendapatan ini berasal dari berbagai hasil kebun yang dipanen sepanjang tahun, mulai dari kopi hingga buah-buahan dan rempah.
Sementara itu, pekerjaan lain di luar kebun agroforestri, seperti buruh tani, berdagang, atau membuka usaha kecil, hanya menyumbang sekitar 11 hingga 28 persen dari total pendapatan petani.
Jika dihitung dari total pendapatan rumah tangga per bulan, angkanya secara umum mendekati atau melampaui UMP Lampung tahun 2023, meski ada perbedaan antar-gapoktan.
Temuan ini menunjukkan, kebun agroforestri bukan hanya berperan dalam menjaga kawasan hutan, tetapi juga menjadi penopang ekonomi rumah tangga petani.
Kopi Jadi Tulang Punggung Pendapatan
Di kebun agroforestri Batutegi, ada banyak jenis tanaman yang tumbuh bersama. Namun dari semua komoditas tersebut, kopi tetap menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi petani.
Penelitian menunjukkan, kopi menyumbang sekitar 32 hingga 46 persen dari total pendapatan agroforestri di ketiga gapoktan yang diteliti. Tidak heran jika tanaman ini menjadi komoditas utama yang paling diandalkan petani.
Selain kopi, ada beberapa komoditas lain yang juga memberi tambahan penghasilan, meski kontribusinya lebih kecil, seperti:
- Lada: sekitar 3–20 persen
- Cengkeh: sekitar 1–11 persen
- Durian: sekitar 2–9 persen
- Kemiri: sekitar 2–6 persen
Menariknya, ada satu komoditas yang produksinya sangat tinggi di kebun petani, tetapi kontribusinya terhadap pendapatan justru kecil: pisang.
Di banyak kebun agroforestri Batutegi, pisang tumbuh cukup melimpah. Tanaman ini cepat dipanen dan relatif mudah dibudidayakan. Namun karena harga jualnya rendah, nilai ekonominya tidak sebesar kopi atau beberapa tanaman lainnya.
Temuan yang dilakukan Manurung dan tim menunjukkan bahwa dalam sistem agroforestri, banyaknya hasil panen tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya pendapatan. Nilai ekonomi setiap komoditas tetap menjadi faktor penting.
Selain itu, komposisi tanaman di kebun juga tidak selalu sama. Beberapa kebun memiliki lebih banyak pohon buah seperti durian atau kemiri, sementara yang lain lebih didominasi tanaman seperti jengkol atau petai. Perbedaan komposisi inilah yang ikut memengaruhi besarnya pendapatan petani di tiap gapoktan.
Diversifikasi Kebun Membuat Pendapatan Lebih Stabil
Salah satu kekuatan utama agroforestri adalah keberagaman tanaman dalam satu lahan. Bagi petani, ini bukan sekadar soal variasi tanaman, tetapi juga strategi untuk menjaga kestabilan penghasilan.
Di kebun agroforestri Batutegi, tanaman biasanya memiliki waktu panen yang berbeda. Secara sederhana, petani membaginya menjadi dua kelompok:
| Kategori Tanaman | Contoh Tanaman | Karakteristik |
| Tanaman yang cepat dipanen | Pisang, cabai, sereh | Dapat dipanen dalam waktu relatif singkat sehingga memberikan pemasukan lebih cepat bagi petani. |
| Tanaman jangka panjang | Kopi, durian, kemiri, cengkeh | Membutuhkan waktu lebih lama untuk berproduksi, tetapi memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan menjadi sumber pendapatan utama. |
Dengan kombinasi seperti ini, petani tidak harus menunggu satu musim panen saja untuk mendapatkan pemasukan. Saat kopi belum dipanen, mereka masih bisa menjual pisang atau cabai. Ketika musim panen kopi tiba, pendapatan biasanya meningkat lebih besar.
Strategi ini juga membantu petani menghadapi risiko. Jika harga salah satu komoditas turun atau panennya gagal, masih ada tanaman lain yang bisa menjadi sumber penghasilan.
Karena itu, agroforestri sering dianggap sebagai sistem pertanian yang lebih tahan terhadap ketidakpastian ekonomi maupun kondisi alam.
Menjaga Hutan Sekaligus Menghasilkan Uang
Agroforestri tidak hanya memberikan penghasilan bagi petani, tetapi juga membantu menjaga fungsi ekologis hutan, terutama di kawasan lindung seperti Batutegi.
Dalam sistem ini, pohon-pohon besar tetap dipertahankan di dalam kebun. Berbeda dengan pertanian monokultur yang biasanya membuka lahan secara luas, agroforestri justru menggabungkan berbagai tanaman di bawah naungan pohon.
Karena itu, kebun tetap produktif tanpa kehilangan fungsi ekologisnya. Beberapa manfaat ekologis dari sistem agroforestri antara lain:
- Menjaga tata air, sehingga kawasan hutan tetap mampu menyimpan cadangan air tanah
- Mengurangi erosi tanah, terutama di daerah lereng atau perbukitan
- Menjaga kesuburan tanah melalui siklus alami daun gugur dan bahan organik
- Mendukung keanekaragaman hayati, karena kebun yang beragam menyediakan habitat bagi berbagai jenis satwa
Hal yang tidak kalah penting, petani di kawasan HKm Batutegi tidak menebang pohon untuk dijual sebagai kayu. Mereka hanya memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, seperti kopi, buah-buahan, atau rempah.
Dengan cara ini, fungsi hutan lindung tetap terjaga, sementara masyarakat di sekitarnya tetap bisa mendapatkan penghidupan dari lahan yang mereka kelola.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Meski sistem agroforestri di Batutegi terbukti mampu memberikan penghasilan yang cukup baik bagi petani, bukan berarti sistem ini berjalan tanpa tantangan. Penelitian tersebut menemukan beberapa kendala yang masih dihadapi petani di lapangan.
Beberapa tantangan utama yang masih dihadapi petani antara lain:
- Harga pisang masih rendah. Produksinya cukup tinggi di kebun agroforestri Batutegi, tetapi nilai jualnya relatif kecil karena jenis yang banyak ditanam adalah pisang janten (pisang uli) yang harganya lebih murah dibandingkan beberapa jenis pisang lainnya.
- Integrasi peternakan belum banyak dimanfaatkan. Dari ratusan petani yang diteliti, hanya sebagian kecil yang mengembangkan usaha peternakan seperti ikan, lebah madu, atau kambing, padahal kegiatan ini berpotensi menambah pendapatan sekaligus menyediakan pupuk organik bagi kebun.
- Akses pasar masih terbatas. Banyak petani masih menjual hasil panen kepada pengepul lokal, sehingga pilihan pasar menjadi sempit dan harga jual sering kali kurang menguntungkan.
Beberapa tantangan tersebut menunjukkan bahwa sistem agroforestri masih bisa dikembangkan lebih jauh. Dengan pengelolaan dan dukungan yang tepat, peluang untuk meningkatkan pendapatan petani sebenarnya masih cukup besar.
Beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan antara lain:
- Diversifikasi produk olahan: Pisang yang produksinya melimpah bisa diolah menjadi keripik, sale pisang, atau tepung pisang yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Begitu juga dengan kopi yang bisa diproses menjadi kopi bubuk kemasan.
- Penguatan pemasaran melalui gapoktan: Dengan kerja sama yang lebih kuat melalui gapoktan, petani memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas dan mendapatkan harga yang lebih adil.
Dari Hutan yang Dijaga, Penghidupan Tumbuh
Kisah para petani di Batutegi menunjukkan bahwa menjaga hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tidak selalu harus saling bertentangan.
Melalui sistem agroforestri, satu lahan bisa menghasilkan banyak hal sekaligus: kopi, buah-buahan, rempah, bahkan hasil peternakan. Di saat yang sama, pohon-pohon tetap berdiri dan fungsi hutan sebagai penyangga lingkungan tetap terjaga.
Temuan penelitian ini memberi gambaran bahwa dengan pengelolaan yang tepat, hutan tidak hanya bisa dilindungi, tetapi juga menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat di sekitarnya.
Batutegi mungkin hanya satu contoh, tetapi dari sini terlihat bahwa hutan dan penghidupan masyarakat sebenarnya bisa tumbuh bersama.
Tautan Jurnal
Kontribusi Agroforestri terhadap Pendapatan Petani Hutan Kemasyarakatan di KPH Batutegi, Provinsi Lampung. Ulin – J Hut Trop. [Buka]
Featured image: Ilustrasi hutan yang menerapkan agroforestri/Sumber: Pexels