Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Memberi Kesempatan Anak-Anak Meraih Masa Depan
Di masa pandemi seperti ini, anak-anak menjadi kelompok dari masyarakat yang terbilang paling merasakan kesulitan. Di usia mereka, anak-anak seharusnya mengalami momen-momen bermain di luar, bersekolah, berinteraksi dengan kawan-kawan seusianya, bersosialisasi, namun semua itu harus diredam karena dunia tengah dilanda virus Covid-19 yang hingga sekarang belum ditemukan solusi pengobatannya.
Salah satu momen yang paling hilang dari anak-anak ini adalah pendidikan. Sekolah kini harus berevolusi menggunakan sistem daring. Tentu saja untuk Indonesia, sistem ini masih belum bisa dijalankan secara ideal. Banyak daerah yang belum memiliki akses internet. Belum lagi dari sisi piranti, masih tak terhitung banyaknya anak-anak di pedalaman yang belum mengetahui komputer apalagi menggunakannya.
Melihat kenyataan ini, tim edukasi di International Animal Rescue (IAR) Ketapang mengadakan program pelatihan pengetahuan dasar tentang pengoperasian komputer kepada anak-anak di desa-desa penyangga taman nasional, yang dalam hal ini adalah Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), yaitu Desa Mawang Mentatai dan Desa Nusa Poring, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi Kalimantan Barat. Kegiatan yang dimulai sejak 3 Februari 2021 ini difasilitasi IAR Indonesia dengan menyediakan 10 unit laptop dan seperangkat genset, UPS, dan stabilizer. Di tahap awal, pelatihan ini memberikan dasar-dasar pengoperasian komputer dan penggunaan Microsoft Office seperti Word, Excel, dan Power Point.
Anak-anak yang mengikuti kegiatan ini terlihat sangat antusias dalam mempelajari komputer. Sesekali, mereka bertanya pada para pengajar mengenai program yang sedang ia tekuni. Para pengajar pun dengan senang hati memberi mereka arahan kepada mereka. Anak-anak yang berusia 10-17 tahun ini sangat senang untuk mengulik-ulik berbagai macam program di komputer, seperti program mengetik dan menggambar.
Program ini diintegrasikan dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah, menyasar siswa-siswi sekolah dasar dan menengah serta anak putus sekolah. Selain untuk menyiapkan anak-anak dan remaja di kedua desa ini untuk bisa menghadapi era digital secara baik dan benar, serta mampu menumbuhkan kapasitas siswa dan remaja putus sekolah di bidang informasi teknologi sehingga mereka mempunyai keterampilan tambahan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, program ini juga diharapkan bisa menjadi aktivitas positif untuk mengalihkan anak muda dari kegiatan yang bersifat merusak alam seperti mencari kayu hutan untuk dijual dan berburu satwa dilindungi.
Hasil survei sosial dan pendidikan yang dilakukan pada akhir tahun 2017 lalu di Desa Mawang Mentatai dan Nusa Poring, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, menemukan fakta bahwa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat yang tinggal di dua desa penyangga ini masih sangat bergantung pada hutan.
Dengan kondisi ini, masyarakat pra sejahtera yang secara ekonomi masih sangat tergantung kepada hutan berpotensi merusak hutan bila eksploitasi alam yang tidak berkesinambungan terus berlanjut. Untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera, salah satu faktor yang penting adalah adanya akses pendidikan yang layak dan memadai.
”Banyak anak-anak kita yang tidak dapat bersekolah lagi karena pandemi. Di perkotaan dengan infrastruktur yang sudah maju, sekolah tatap muka dapat digantikan dengan sekolah daring, tetapi tidak demikian dengan anak-anak kami di areal ini. Pandemi yang dibayangi dengan akses yang sangat terbatas terhadap kemajuan teknologi sangat menghambat pendidikan di area ini. Sangat tidak adil kalau kita tidak memberikan kesempatan yang lebih baik bagi mereka,” ujar Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez.
“Dengan program ini, kami berharap anak-anak di dua desa penyangga ini bisa memiliki masa depan yang lebih baik. Anak-anak yang megikuti program ini sangat gembira mendapatkan kesempatan ini dan kami lebih bahagia lagi bisa melihat ana-anak ini belajar komputer untuk pertama kalinya. Kami yakin bahwa pendidikan adalah tumpuan untuk masa depan yang lebih baik dan anak-anak adalah masa depan kita dan masa depan dunia,” jelasnya lagi.
Untuk program yang baru diadakan pertama kali ini, IAR Indonesia bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Melawi mengadakan program pelatihan komputer di dua desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, yaitu Desa Mawang Mentatai dan Desa Nusa Poring, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
Program ini disambut baik oleh mitra pemerintah setempat. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Melawi, Drs. H. Joko Wahyono M.Si menyatakan dukungannya terhadap program ini dengan menerbitkan surat rekomendasi untuk sekolah sekolah yang berada di Desa Nusa Poring dan Mawang Mentatai. “Kami mendukung kegiatan ini dan mengarahkan para guru yang mampu mengoperasikan komputer untuk dapat membantu program ini serta guru yang belum mampu diharapkan turut serta mengikuti program ini,” ujarnya. “Kami juga meminta semua siswa yang masuk kriteria untuk mengikuti program ini dan kami akan memberikan sertifikat kepada siswa yang telah mengikuti pelatihan ini dengan baik sampai selesai,” jelasnya lagi.
Bantuan bagi pendidikan generasi muda, tak hanya IAR Indonesia lakukan dalam bentuk pelatihan komputer. Sejak awal tahun 2020, kami memberikan beasiswa pendidikan kepada anak-anak di desa Mawang Mentatai dan Nusa Poring untuk 18 anak yang terdiri dari 14 anak perempuan dan empat anak lelaki.
Selain bantuan pendidikan formal, kami juga melakukan kegiatan dan pengajaran berbasis kepedulian lingkungan bagi para generasi muda. Salah satunya, untuk menumbuhkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, IAR Indonesia mengajak anak-anak dari Taman Baca Sir Michael Uren bersama dengan masyarakat dan wisatawan pantai untuk berkolaborasi mengadakan aksi bersih pantai di Pantai Pantai Tanjung Belandang, Kalimantan Barat.
Dengan terlaksananya program-program edukasi ini, IAR Indonesia berharap besar bahwa para generasi muda mendapatkan pendidikan yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan kemampuannya. Diharapkan pula niat baik ini dapat dijadikan titik tolak untuk penumbuhan kepedulian baik bagi masyarakat secara umum maupun generasi muda secara khusus terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup di wilayahnya. Dukungan dari segala pihak sangat dihargai supaya para generasi muda berpotensi ini dapat tumbuh menjadi pelindung lingkungan yang hebat.
Pelepasliaran Orangutan di Pekan Peduli Orangutan
Bertepatan dengan Pekan Peduli Orangutan (Orangutan Caring Week), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) bersama IAR Indonesia melepasliarkan lima individu orangutan kalimantan (Pongopygmaeus), di kawasan TNBBBR, Rabu (11/11). Mereka yang dilepasliarkan terdiri dari tiga individu jantan bernama Jacky, Beno, dan Puyol, serta dua individu betina bernama Oscarina, dan Isin. Kelimanya merupakan orangutan rehabilitasi yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi.
Jacky diselamatkan dari daerah Muara Pawan dan masuk ke pusat rebilitasi pada Agustus 2013. Selanjutnya Beno diselamatkan dari daerah Simpang Dua pada 2015, Puyol diselamatkan dari daerah Kendawangan pada 2010, Oscarina diselamatkan dari Pontianak pada 2011 dan Isin diselamatkan dari Kabupaten Kayong Utara pada 2017 silam.
Proses rehabilitasi ini tidak mudah dan bisa berlangsung lama tergantung kemampuan masing-masing individu. Rehabilitasi ini diperlukan untuk mengembalikan sifat dan kemampuan alami orangutan untuk bertahan hidup di habitat aslinya. Di alam bebas, bayi orangutan akan tinggal bersama induknya sampai usia 7-8 tahun untuk belajar dari induknya bagimana bertahan hidup di alam sebagai orangutan. Karena bayi orangutan ini dipaksa berpisah dengan induknya untuk dijadikan peliharaan, bayi orangutan ini kehilangan kesempatan untuk menguasai kemampuan bertahan hidupnya.
Warga lokal dari dusun penyangga kawasan TNBBBR membantu tim pelepasliaran mengangkut oranguitan menuju titik pelepasan. Foto: Heribertus Suciadi/IAR Indonesia.
Kepala Balai TNBBBR, Agung Nugroho, menyatakan bahwa kegiatan pelepasliaran ini dilakukan dengan melalui serangkaian kegiatan dan kajian. Dirinya berharap, orangutan yang dilepaskan di dalam kawasan TNBBBR ini mampu membentuk populasi baru, dan mempertahankan eksistensi spesiesnya. Sebelumnya, pada bulan Februari 2020, pihaknya juga melepasliarkan lima individu orangutan.
“Semua kegiatan dan kajian ini, dilakukan untuk memastikan semua orangutan yang telah dilepasliarkan, dapat hidup aman, dan tercukupi pakannya. Ketika pelepasliaran dilakukan, bukan berarti kerja kita selesai. Tim monitoring akan tetap bekerja selama lebih kurang tiga bulan, untuk memastikan setiap orangutan yang dilepasliarkan dapat beradaptasi dengan habitat barunya,” katanya.
Dua individu orangutan mulai menikmati kebebasannya di kawasan TNBBBR. Foto: Heribertus Suciadi/IAR Indonesia.
Kawasan TNBBBR dipilih sebagai tempat pelepasliaran karena berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan, jumlah jenis pohon pakannya tinggi sedangkan jumlah populasi alami orangutan cukup rendah.
Untuk mencapai lokasi pelepasliaran, tim pelepasan bersama orangutan harus menempuh perjalanan darat sejauh 700 kilometer dan dilanjutkan dengan perahu dan berjalan kaki. Diperlukan waktu hingga 3 hari untuk mencapai titik pelepasan dari pusat rehabilitasi orangutan IAR Indonesia di Ketapang. Meskipun demikian, status kawasan sebagai Taman Nasional akan lebih menjamin keselamatan satwa di dalamnya.
“Dengan dilepasliarkannya 5 individu orangutan ini, maka telah dilepasliarkan 51 individu orangutan di wilayah kerja Balai TNBBBR, yang terdiri dari 10 individu orangutan liar/translokasi, dan 41 individu orangutan hasil rehabilitasi dari Pusat Penyelamatan Konservasi Orangutan (PPKO) Ketapang,” tutur Agung.
Perjalanan menuju titik pelepasliaran orangutan harus ditempuh dengan menyusuri sungai. Foto: Heribertus Suciadi/IAR Indonesia.
Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta, dalam keterangannya menyampaikan penyelamatan satwa berupa evakuasi, translokasi dan beberapa kegiatan lain seperti penyuluhan dan penyadartahuan, merupakan bagian dari solusi konflik satwa dan manusia. Perlu disadari bersama, bahwa sebagai bagian dari ekosistem dan sebagai bagian dari alam, manusia harus bisa menerima kehadiran komponen alam lainnya, termasuk satwa liar.
“Sudah waktunya masing-masing belajar hidup berdampingan dalam harmoni. Manusia sebagai makhluk yang dianggap paling cerdas, memiliki tanggung jawab terbesar untuk mewujudkan dan menjaga harmonisasi alam,” ungkapnya.
Program pelepasliaran ini bisa dikatakan berhasil dengan lahirnya 3 bayi orangutan secara alami di dalam kawasan Taman Nasional Bukit baka Bukit Raya dari orangutan hasil rehabilitasi yang dilepasliarkan di sana. Kelahiran generasi baru orangutan ini membumbungkan harapan bahwa populasi orangutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya serta di Kalimantan Barat pada umumnya akan terus terjaga dan lestari.
Sebelumnya pada awal November 2019, Shila yang dimonitoring setiap hari sejak pelepasan terpantau melahirkan bayi orangutan berjenis kelamin jantan yang kemudian diberi nama Dara oleh Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar, kesuksesan ini berulang ketika pada Juni 2020, orangutan hasil rehabilitasi bernama Desi juga melahirkan anak pertamanya yang berkenis kelamin betina. Oleh Menteri LHK, bayi orangutan ini diberi nama Dara. Yang paling baru, orangutan hasil rehabilitasi bernama Laksmi juga menyumbangkan generasi baru orangutan di dalam kawasan TNBBBR pada awal Oktober lalu. Oleh wakil menteri LHK, Dr. Alue Dohong, bayi orangutan betina ini diberi nama Lusiana.
Penghargaan
Berkat peran aktif dan kerja keras semua pihak, IAR Indonesia kembali mendapatkan penghargaan atas pendekatannya yang inovatif dan holistik dalam penyelamatan satwa liar dan habitatnya, khususnya di Kalimantan Barat. Penghargaan kali ini diberikan oleh BBVA Foundation di Spanyol pada bulan Oktober 2020 untuk kategori keanekaragaman hayati atas upaya pendekatan inovatif dan terintegrasi untuk melindungi keanekaragaman hayati di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) dan beberapa spesies ikonik di dalamnya termasuk orangutan.
Penghargaan ini tidak lepas dari dukungan dan kerjasama yang sangat baik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. Melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, program IAR Indonesia di Kalimantan Barat dapat terwujud dan berjalan dengan baik.
Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez mengungkapkan apresiasinya kepada semua pihak yang berperan penting dalam seluruh kerja konservasi IAR Indonesia. “Saya sangat berterimakasih kepada segenap pengurus, manajemen dan staf IAR Indonesia karena tanpa mereka, program ini tidak akan bisa terealisasi. Saya juga sangat berterimakasih kepada seluruh mitra kerja IAR Indonesia, terutama kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan karena tanpa dukungan dan keterlibatan mereka, program kami tidak akan bisa berjalan. Terimakasih juga kami haturkan kepada seluruh masyarakat di lokasi program kami di sekitar kawasan Taman Nasional Bukit baka Bukit Raya karena sebenarnya merekalah pemeran utama dalam program ini.”
Secara khusus, dewan juri yang terdiri dari para ilmuwan yang bekerja di bidang lingkungan, komunikator, ahli hukum lingkungan dan pembuatan kebijakan, serta perwakilan dari beberapa LSM konservasi juga memberikan pujian atas strategi konservasi jangka panjang IAR Indonesia dalam ekosistem yang dilanda tantangan deforestasi.
Perlindungan alam merupakan prioritas utama bagi BBVA Foundation yang selama lebih dari 20 tahun tahun telah mendukung penelitian di bidang ekologi dan biologi konservasi. Hadiah penghargaan yang diberikan untuk masing-masing kategori mencapai 250.000 euro atau setara dengan 4,3 miliar rupiah menjadikan penghargan ini merupakan salah satu penghargaan dengan hadiah yang paling besar di seluruh dunia. Pemanfaatan hadiah ini akan dikembalikan sebesar-besarnya manfaat untuk program konservasi di TNBBBR dengan pelibatan lebih lanjut pihak Taman Nasional, pemerintah dan masyarakat setempat.
Satu individu orangutan yang dilepasliarkan IAR Indonesia bersama Balai TNBBBR, BKSDA Kalimantan Barat. Foto: Heribertus Suciadi/IAR Indonesia.
Semua kerja konservasi yang dilakukan IAR Indonesia selama ini dilandasi visi untuk mewujudkan kehidupan di mana manusia dan satwa dapat hidup berdampingan di dalam ekosistem yang berkelanjutan. “Kami berusaha mewujudkan visi kami dengan misi untuk membangun kesadaran akan pelestarian lingkungan hidup dan mengimplementasikan sistem yang efektif di mana habitat dan satwa dapat terlindungi. Oleh karena itu, kegiatan yang dilakukan IAR Indonesia tidak hanya fokus pada penyelamatan orangutan dan satwa liar tetapi juga bertujuan untuk membantu manusia,” ujar Karmele lagi.
Sejak berdiri pada tahun 2009 silam, IAR Indonesia bermitra dengan KLHK telah menyelamatkan lebih dari 250 orangutan dan melepaskan 129 orangutan, 46 orangutan di antaranya dilepaskan di dalam kawasan TNBBBR sejak 2016 sampai sekarang. Sebagian orangutan hasil pelepasliaran ini sudah berhasil berkembang biak di alam. Khusus untuk pelepasliaran orangutan di TNBBBR, dukungan Tropical Forest Conservation ACT (TFCA) Kalimantan berperan besar dalam pelaksanaannya mulai tahun 2017 hingga awal 2020.
“Kami ucapkan selamat atas penghargaan yang diterima dan semoga IAR Indonesia dapat meningkatkan kontribusinya dalam konservasi keanekaragaman hayati,” Puspa Dewi Liman dari TFCA Kalimantan menyampaikan harapannya. TFCA Kalimantan adalah program kerjasama pengalihan utang antara pemerintah Indonesia dan Amerika, dengan TNC dan WWF sebagai swap partner, sementara Yayasan KEHATI berperan sebagai administrator TFCA Kalimantan.
Dalam pelaksanaan kegiatan, IAR telah memadukan upaya konservasi Orangutan dengan pengembangan ekonomi masyarakat, khususnya bagi masayrakat yang bermukim di dalam zona pemanfaatan tradisional Kawasan TNBBBR. Melalui pelibatan masyarakat dalam berbagai aktifitas, selain bertambahnya alternative ekonomi dan pemahaman akan konservasi orangutan, dukungan masyarakat bagi pengelolaan taman nasional juga meningkat, sebagai contoh lebih dari 50 warga setempat yang pernah terlibat dalam pembalakan liar kini bekerja untuk IAR dalam penyelamatan dan pemulihan orangutan. Dengan peningkatan dukungan tersebut, pengelolaan TNBBBR dapat mewujudkan fungsinya sebagai penyangga sistem kehidupan.
Menyadari bahwa akses penduduk di dua desa penyangga kawasan TNBBR ini jauh dari fasilitas kesehatan dan pendidikan, serta perlunya peningkatan kesejahteraan manusia, IAR Indonesia juga melakukan program edukasi dan pengembangan masyarakat di dua desa penyangga ini. “Ini adalah salah satu wilayah pedalaman yang miskin di mana masyarakat bahkan tidak memiliki akses yang memadai ke fasilitas kesehatan dan pendidikan. Keadaan ini diperburuk dengan tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang layak di sana. Tekanan ekonomi inilah yang kemudian mendorong mereka melakukan beberapa kegiatan yang kurang selaras dengan konservasi,” jelas Karmele
Puncak pengembangan program pendidikan adalah pada tahun 2019, dibantu oleh beberapa donator khususnya Heidi Drymer, IAR Indonesia untuk pertama kalinya memberikan program beasiswa kepada 18 anak yang memenuhi syarat untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi di Nanga Pinoh. Program yang direncanakan berjalan selama 3 tahun ini juga akan memberikan kebutuhan sehari-hari dan perawatan kesehatan sampai anak-anak ini dapat menyelesaikan sekolahnya serta dapat menjadi panutan bagi anak-anak dusun lainya.
Melibatkan kaum muda sejak dini dalam kegiatan penyelamatan satwa dan pelestarian habitatnya, menjadi salah satu cara IAR Indonesia untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat secara bertahap, sekaligus mengedukasi masyarakat akan manfaat menjaga kelestarian hutan dan lingkungan.
Dalam program pemberdayaan masayarakat, IAR Indonesia mendampingi masyarakat untuk mengolah hasil alam secara berkelanjutan tanpa merusak hutan. Pengetahuan inilah yang diupayakan IAR Indonesia dalam semua kegiatan pemberdayaan masyarakat yang tinggal di area hutan dan area-area yang berdekatan dengan habitat satwa. Selain untuk menghindarkan kemunculan konflik antara manusia dan satwa, informasi tentang pengolahan produk-produk alam dengan bijak, bisa menjadi pekerjaan alternatif dan bahkan utama bagi masyarakat.
Semua pendekatan holistik dengan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat ini ini bertujuan untuk mengubah pola pikir masyarakat desa di sekitar taman nasional dari perilaku deforestasi menjadi penjaga hutan dengan menghentikan pembalakan liar di daerah tersebut dan mengajarkan penduduk desa tentang keistimewaan hutan mereka dan bahwa menyelamatkan hutan adalah solusi ekonomi jangka panjang yang lebih berkelanjutan daripada menghancurkannya.
“Penghargaan ini bukan merupakan tujuan dari program konservasi orangutan yang terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat. Penghargaan ini menunjukkan bahwa arah program kami sudah benar dan kami terpacu untuk mengembangkannya secara lebih luas dengan para pemangku kepentingan terkait,” kata Tantyo Bangun, Ketua Umum IAR Indonesia meneguhkan komitmen IAR Indonesia untuk masa depan.
Penghargaan untuk Pahlawan Langit Biru Tanpa Asap
Riuh tepuk tangan pecah di ruang pertemuan Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren Ketapang saat perwakilan Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Ketapang, Adi Mulya memberikan penghargaan Petani Pemanfaatan Lahan Tanpa Bakar kepada Sujana. Pria parubaya ini merupakan petani asal Desa Sungai Awan Kiri, Delta Pawan, Ketapang, Kalimantan Barat yang konsisten menjaga lingkungan.
“Pemberian penghargaan yang juga bertepatan dengan peringatan Hari Orangutan Internasional ini merupakan komitmen pemerintah daerah dalam upaya pelestarian lingkungan,” ucap Benyamin, Manajer Edukasi dan Penyadartahuan IAR Indonesia.
Adi Mulya (kiri) saat memberikan penghargaan Pahlawan Langit Biru Tanpa Asap kepada Sujana (kanan) di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren Ketapang. Rudiansyah/IAR Indonesia.
Dengan tema “Pahlawan untuk Langit Biru” yang diusung pada perayaan Hari Orangutan Internasional tahun ini, Benyamin mengungkapkan bahwa tema ini mengandung pesan kuat. Kebakaran hutan dan lahan selalu menjadi ancaman serius terhadap habitat orangutan dan keanekaragaman hayati di dalamnya. Bahkan beberapa area pusat penyelamatan dan konservasi IAR Indonesia nyaris terbakar dalam kebakaran masif di sumatera dan kalimantan pada 2019 silam.
“Untuk itu, kami sangat menghargai para petani yang melakukan pemanfaatan lahan tanpa bakar. Sujana memperoleh penghargaan atas konsistensinya melakukan pemanfaatan lahan tanpa bakar sejak 1 dekade lalu,” tambahnya. Selain memberikan penghargaan, untuk mendukung pekerjaan Sujana, IAR Indonesia juga memberikan benih tanaman dan seperangkat alat pertanian.
Pemberian penghargaan ini dihadiri oleh Kapolsek Muara Pawan, perwakilan Camat Muara Pawan, Balai Penyuluh Pertanian Muara Pawan, staf Balai Taman Nasional Gunung Palung, Staf Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kabupaten Ketapang, perwakilan Danramil 1203-12 Matan Hilir Utara, Kadus Pematang Merbau, Ketua RT 07 dan RT 10.
Untuk melibatkan kaum perempuan dan anak-anak, IAR Indonesia juga mengadakan lomba foto kontes ibu anak dan lomba video dakwah konservasi secara daring untuk kaum perempuan.
Perempuan-perempuan tangguh dari desa penyanggah kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.
Selain memberikan penghargaan di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren dan mengadakan lomba secara daring, pada perayaan hari Orangutan Internasional ini IAR Indonesia juga melakukan kegiatan nonton bareng di beberapa tempat. Antara lain di Taman Baca Inovator di Desa Pematang Gadung, Sekolah adat Arus Kualan di Desa Balai Pinang, dan Pastoran Wisma Emaus di Nanga Pinoh Kabupaten Melawi.
Film yang disajikan adalah film mengenai kebakaran hutan dan Lahan tahun 2019, serta dua film mengenai orangutan berjudul Kisahku dan Masa Depan Rumahku yang menceritakan kehidupan orangutan bernama Peni dan film dokumenter mengenai perjuangan dan perjalanan pelepasliaran orangutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya berjudul Into the Wild.
Kegiatan nonton bareng yang mayoritas diikuti oleh anak-anak usia sekolah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman bahwa hutan dan satwa yang dilindungi sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan agar di masa depan kita dan anak cucu bisa menikmati keindahan alam serta dapat melihat satwa yang sudah hampir punah.
“Melalui perayaan IOD 2020 ini kita semua tentunya berharap agar dapat terus berkomitmen dan konsisten dengan perlindungan orangutan melalui edukasi yang baik dan benar agar seluruh lapisan masyarakat terus berperan aktif dalam perlindungan orangutan dan habitatnya,” pungkas Benyamin
Induk Baru Bagi Bayi Orangutan Yatim Piatu
Jauh di jantung Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, pintu kandang transport terbuka perlahan. Monti yang menggendong anak asuhnya melangkah keluar, pelan tapi pasti menuju kebebasannya. Awal Februari ini menjadi saat yang bersejarah ketika Monti mencecap kebebasan sejati setelah lebih dari 10 tahun menjalani proses rehabilitasi di IAR Indonesia. Lebih istimewa lagi karena di rumah barunya ini Monti ditemani anak angkatnya yang didapat selama masa rehabilitasi. Proses Panjang ini harus dilalui Monti untuk menguasai kemampuan bertahan hidup di alam sebagai orangutan.
Salah satu tantangan terbesar dalam upaya rehabilitasi orangutan adalah tidak adanya buku panduan yang pasti bagaimana cara dan tatalaksana merehabilitasi orangutan dan mengembalikan perilaku serta kemampuan alaminya untuk hidup bertahan di hutan. Proses rehabilitasi merupakan proses panjang yang memakan waktu, tenaga dan upaya yang tidak sedikit. Proses ini dapat mencapai 7-8 tahun bahkan lebih tergantung kemampuan masing-masing individu.
Proses rehabilitasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan sifat alami mereka sekaligus membuat mereka memiliki kemampuan bertahan hidup di habitat aslinya. Orangutan akan hidup bersama induknya sejak lahir sampai usia 6-8 tahun. Selama masa asuh inilah, orangutan seharusnya mempelajari berbagai kemampuan hidup seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang. Namun karena berbagai sebab, bayi orangutan ini terpisah dari induknya dan berakhir di tangan manusia sehingga kehilangan kesempatan untuk mempelajari segala kemampuan tersebut.
Salah satu terobosan yang dilakukan IAR Indonesia untuk mempercepat proses rehabilitasi orangutan adalah memberikan induk asuh bagi bayi orangutan yatim piatu yang menjalani rehabilitasi. Strategi yang pertama kali dilakukan pada pertengahan tahun 2018 ini dilakukan kepada orangutan dewasa bernama Muria dan bayi orangutan bernama Zoya.
Pasangan Induk-anak asuh bernama Muria dan Zoya yang dilepasliarkan di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya tawal tahun 2019 lalu.
Muria dulunya merupakan orangutan betina yang dipelihara oleh seorang warga di Ketapang selama ±3 tahun. Muria mulai menjalani proses rehabilitasi di IAR Indonesia pada Juni 2014. Setelah menjalani proses rehabilitasi selama 4 tahun, Muria yang sudah menguasai semua kemampuan hidup di alam ini menjadi induk asuh bagi Zoya, bayi orangutan berumur 1 tahun yang terpisah dari induknya pada akhir tahun 2017 lalu. Zoya merupakan bayi orangutan yang masih memerlukan induknya sehingga tim rehabilitasi mencarikan induk asuh untuk Zoya. Muria yang dinilai mempunyai naluri sebagai seorang ibu menjadi kandidat kuat dan diperkenalkan dengan Zoya pada Juni 2018. Hasilnya cukup menggembirakan karena keduanya menunjukkan perkembangan yang positif.
Setelah dinilai mampu pulang kembali ke habitat aslinya, Muria dan Zoya dilepasliarkan di dalam kawasan TNBBBRdi Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat pada Februari 2019. Karena orangutan ini adalah orangutan hasil rehabilitasi, IAR Indonesia menerjunkan tim monitoring yang akan memantau kehidupan mereka di rumah barunya. Hasilnya, selama lebih dari 1 tahun ini, keduanya dapat beradaptasi dengan cepat dan dapat hidup dengan baik di rumah barunya.
Kisah Monti dan Anggun menjadi kisah sukses selanjutnya. Monti merupakan orangutan berusia 12 tahun yang diselamatkan dari Desa Sungai Awan Kiri di Kabupaten Ketapang pada November 2009 sedangkan Anggun yang berusia 3 tahun diselamatkan pada tahun 2012 di Desa Sungai Melayu, Kabupaten Ketapang. Untuk mempercepat proses rehabilitasi, tim animal management IAR Indonesia mencarikan induk asuh untuk Anggun.
Monti yang sudah menjalani rehabilitasi selama lebih dari 10 tahun ini dianggap cocok dipasangkan dengan Anggun sebagai induk asuhnya. Harapannya, Monti bisa mengajari Anggun berbagai kemampuan yang diperlukan untuk bertahan hidup seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang. Monti juga bisa menjadi pelindung bagi Anggun yang bertubuh mungil. Strategi ini berhasil. Monti menjadi induk yang protektif dan Anggun menjadi lebih percaya diri untuk mempelajari hal-hal baru.
Monti bersama anak asuhnya yang bernama Anggun di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia di Ketapang
Monti sejauh ini telah memenuhi dan bahkan melampaui semua harapan sebagai ibu asuh. Dia sangat baik, lembut, dan peduli dengan bayinya, Anggun. Anggun juga telah berperan dalam membantu rehabilitasi Monti karena Anggun adalah orangutan yang tidak bergantung pada manusia yang selalu berada di atas pohon. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di kanopi hutan sehingga membuat Monti mengikutinya ke atas pohon. Saat ini Monti dan Anggun juga telah menjalani kehidupan barunya di TNBBBR, dibawah pengawasan tim monitoring dan dokter hewan yang selalu siaga untuk memastikannya dapat hidup tengan aman dan nyaman di rumah barunya.
Direktur Program IAR Indonesia mengatakan bahwa ini adalah bukti bahwa orangutan juga bisa menjadi ibu angkat untuk orangutan lainnya. “Hal ini bukan hanya mengkonfirmasi bahwa orangutan adalah satwa cerdas yang mirip dengan manusia, tetapi juga ini juga membuktikan bahwa meskipun orangutan seperti Monti kehilangan induknya pada usia yang masih sangat muda, dia mampu untuk menjadi induk yang baik, bukan hanya dengan anak sendiri, tetapi juga dengan bayi orangutan lainnya,” jelasnya. Selama setahun ini, berdasarkan hasil pemantauan, keduanya dapat beradaptasi dengan baik dan bertahan hidup di dalam Kawasan taman nasional. “Kami sangat gembira melihat orangutan Muria dan anak angknya, Zoya yang telah berhasil hidup di hutan selama 1 tahun. Ini menjadi bukti pertama bahwa benar proses rehabilitasi bisa dilakukan oleh orangutan itu sendiri,” tambahnya lagi.
Penguatan Peran Perempuan Dalam Upaya Perlindungan Habitat
Serombongan anak perempuan berseragam sekolah nampak riang mengayuh sepedanya di pagi yang berkabut itu. Hawa dingin tidak menyurutkan semangat mereka untuk pergi ke sekolah di Kota Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Mereka adalah siswi SMP dan SMA yang mendapatkan beasiswa dari IAR Indonesia untuk melanjutkan Pendidikan lanjut di kota yang cukup jauh dari tempat asal mereka.
Mereka berasal dari Desa Mawang Mentatai dan Nusa Poring yang terletak di tepi Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Desa asal mereka yang terletak di ujung kecamatan Menukung ini hanya mempunyai dua sekolah dasar dan dua sekolah menengah pertama. Waktu tempuh dari desa mereka ke Nanga Pinoh mencapai 5-6 jam dengan mobil berpenggerak empat roda. Jalan tanah yang hancur lebur terutama saat hujan tidak akan bisa dilalui dengan mobil biasa.
Beasiswa yang diberikan IAR Indonesia sejak bulan Juli 2019 ini melibatkan 18 anak yang terdiri dari 4 perempuan dan 14 laki-laki yang memenuhi syarat untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi di Nanga Pinoh. Program yang direncanakan berjalan selama 3 tahun ini juga akan memberikan kebutuhan sehari-hari dan perawatan kesehatan sampai anak-anak ini dapat menyelesaikan sekolahnya serta dapat menjadi panutan bagi anak-anak dusun lainya.
Selain mendapatkan fasilitas berupa pembiayaan uang sekolah, uang gedung, uang pendaftaran, uang seragam dan uang buku selama tiga tahun, para peserta program beasiswa ini juga akan mendapatkan biaya untuk makan dan tempat tinggal di Nanga Pinoh serta uang transportasi.
Melibatkan kaum perempuan sejak dini dalam kegiatan penyelamatan satwa dan pelestarian habitatnya, menjadi salah satu cara dan tujuan IAR Indonesia untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat secara bertahap, sekaligus mengedukasi masyarakat akan manfaat menjaga kelestarian hutan dan lingkungan.
Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dengan mengadakan program beasiswa ini, yang pertama adalah untuk mengirim siswa yang ingin dan layak ke sekolah menengah atas untuk memberi mereka pendidikan yang lebih tinggi, sehingga mereka dapat memperluas pengetahuan dan keterampilan mereka sehingga di kemudian hari mereka dapat mendapatkan pekerjaan yang leih layak daripada memburu hewan liar untuk diperdagangkan atau mengambil kayu dari dalam hutan secara illegal untuk dijual seperti yang masih dilakukan orangtua dan kebanyakan warga desa tersebut.
Tujuan lainnya adalah untuk mengubah pola pikir masyarakat desa di sekitar taman nasional dari dari perilaku deforestasi menjadi penjaga hutan dengan menghentikan pembalakan liar di daerah tersebut dan mengajarkan penduduk desa tentang keunikan hutan mereka dan bahwa menyelamatkan hutan adalah solusi jangka panjang yang lebih berkelanjutan daripada menghancurkannya.
Melalui program beasiswa ini, IAR Indonesia juga menyediakan pengembangan kapasitas yang berkaitan dengan mata pencaharian yang berkelanjutan dari hutan, konservasi hutan, dan kesejahteraan hewan kepada penerima beasiswa serta masyarakat desa. Pengembangan kapasitas ini bertujuan untuk mengembangkan generasi muda yang peduli dan memahami pentingnya hutan adat dan orangutan yang ada di sekitar mereka. Dengan demikian, diharapkan ketertarikan terhadap dunia konservasi terus tumbuh seiring dengan keinginan untuk menjadi agen perubahan di komunitas mereka.
“Kegiatan yang dilakukan IAR Indonesia tidak hanya fokus pada penyelamatan orangutan dan satwa liar tetapi juga bertujuan untuk membantu manusia,” ujar direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez. “Program beasiswa ini sangat penting terutama bagi kaum perempuan yang selama ini banyak memiliki hambatan dalam mengakses Pendidikan yang lebih tinggi. Kami percaya keterlibatan kaum perempuan muda begitu penting, karena merekalah yang akan memegang peranan dalam mengatur keuangan keluarga, baik untuk keperluan sehari-hari maupun ketika mereka memerlukan biaya tambahan bagi keperluan kesehatan dan pendidikan. Selain itu, sangat penting memberdayakan kaum muda perempuan melalui pendidikan, karena merekalah sosok utama dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan, kesehatan, dan ekonomi keluarga bagi anak-anak mereka nantinya,” jelasnya lagi.
Selama ini biaya pendidikan menjadi salah satu alasan bagi keluarga-keluarga di desa tersebut untuk merambah hutan. Dengan bantuan pendidikan ini, orangtua tidak perlu lagi merambah hutan untuk membiayai anak mereka untuk bersekolah. Selain itu anak-anak tersebut juga memiliki kesempatan untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Dengan upaya-upaya ini, kita berharap masyarakat semakin terbantu dalam meraih kehidupan yang layak, sehingga di tangan merekalah, masa depan hutan dan alam yang indah di TNBBBR terus terjaga.
Induk-Anak Asuh Orangutan Kembali Pulang
Strategi rehabilitasi orangutan dengan menggunakan pola orangtua asuh kembali menuai kesuksesan. Setelah sebelumnya berhasil melepaskan pasangan anak-induk asuh Muria dan Zoya, kali ini Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan mitra IAR Indonesia kembali melakukan pelepasliaran pasangan anak-induk asuh bernama Monti dan Anggun di dalam kawasan TNBBBR wilayah kerja SPTN 1 Nanga Pinoh, Resort Mentatai, 11 Februari 2020. Tidak hanya mereka berdua, tiga orangutan lain bernama Merah, Ujang, dan Utat juta turut dilepasliarkan di lokasi yang sama.
Ujang, Monti dan Anggun dilepasliarkan di dalam Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya
Semuanya merupakan orangutan yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan ilegal. Sebelum dilepasliarkan, mereka menjalani masa rehabilitasi di pusat rehabilitasi orangutan di IAR Indonesia, Ketapang. Proses rehabilitasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan sifat alami mereka sekaligus membuat mereka memiliki kemampuan bertahan hidup di habitat aslinya. Orangutan akan hidup bersama induknya sejak lahir sampai usia 6-8 tahun. Selama masa pengasuhan inilah, orangutan seharusnya mempelajari berbagai kemampuan hidup seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang. Namun karena berbagai sebab, bayi orangutan ini terpisah dari induknya dan berakhir di tangan manusia sehingga kehilangan kesempatan untuk mempelajari segala kemampuan tersebut.
Proses rehabilitasi sampai pelepasliaran ini bisa memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Saat ini IAR Indonesia menampung lebih dari 90 individu orangutan untuk direhabilitasi. Proses rehabilitasi juga tidak bisa dibilang singkat. Proses ini dapat mencapai 7-8 tahun tergantung kemampuan masing-masing individu.
Monti merupakan orangutan berusia 12 tahun yang diselamakan dari Desa Sungai awan di Kabupaten Ketapang pada November 2009 sedangkan Anggun berusia 3 tahun dan diselamatkan pada tahun 2012 di Desa Sungai Melayu, Ketapang. Untuk mempercepat proses rehabilitasi yang bertujuan untuk mengembalikan sifat dan kemampuan alami orangutan, tim animal management IAR Indonesia mencarikan induk asuh untuk Anggun.
Monti bersama Anggun di dalam Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya
Monti yang sudah menjalani rehabilitasi selama lebih dari 10 tahun ini sudah menguasai semua kemampuan yang diperlukan oleh orangutan untuk bertahan hidup di habitat alaminya dan dianggap cocok dipasangkan dengan Anggun sebagai anak asuhnya. Harapannya, Monti bisa mengajari Anggun berbagai kemampuan yang diperlukan untuk bertahan hidup seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang. Monti juga bisa menjadi pelindung bagi Anggun yang bertubuh mungil. Strategi ini berhasil. Monti menjadi induk yang protektif dan Anggun menjadi lebih percaya diri untuk mempelajari hal-hal baru.
Saat ini baik Anggun maupun Monti sudah bisa mencari makan sendiri dan tidak lagi bergantung pada makanan yang diberikan oleh animal keeper. Direktur Program IAR Indoneisa mengatakan bahwa ini adalah bukti bahwa orangutan juga bisa menjadi ibu angkat untuk orangutan lainnya. “Hal ini bukan hanya mengkonfirmasi bahwa orangutan adalah satwa cerdas yang mirip dengan manusia, tetapi juga ini juga membuktikan bahwa meskipun orangutan seperti Monti kehilangan induknya pada usia yang masih sangat muda, dia mampu untuk menjadi induk yang baik, bukan hanya dengan anak sendiri, tetapi juga dengan bayi orangutan lainnya,” jelasnya.
Sebelumnya, pada bulan Februari 2019, Balai TNBBBR, BKSDA Kalbar dan IAR Indonesia berhasil melepasliarkan orangutan bernama Muria dan anak angkatnya yang bernama Zoya. Sampai saat ini, keduanya masih dipantau oleh tim monitoring IAR Indonesia. Selama setahun ini, berdasarkan hasil pemantauan, keduanya dapat beradaptasi dengan baik dan bertahan hidup di dalam kawasan taman nasional. “Kami sangat gembira melihat orangutan Muria dan anak angkatnya, Zoya yang telah berhasil hidup di hutan selama 1 tahun. Ini menjadi bukti pertama bahwa benar proses rehabilitasi bisa dilakukan oleh orangutan itu sendiri,” tambahnya lagi.
Merah adalah orangutan jantan berusia 9 tahun yang ditemukan oleh pekerja perusahaana yang berlokasi di Tanah Merah, Ketapang. Merah ditemukan sendirian berada di tepi jalan dan dekat dengan perkampungan. Ketika diserahkan kepada IAR Indonesia pada Agustus 2012, Merah masih berusia 1 tahun. Sedangkan Ujang merupakan orangutan jantan berusia 11 tahun yang diselamatkan dari tangan pemelihara di Sei Tolak, Ketapang. Sebelumnya Ujang dipelihara dalam kondisi yang buruk selama 9 bulan. Ketika diselamatkan pada Juli 2010, kondisi Ujang tidak terlalu sehat dengan perut kembung dan kulit yang pucat.
Tidak jauh berbeda, Utat juga diselamatkan dari kasus pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi. Orangutan betina berusia 9 tahun ini dulunya diselamatkan dari rumah warga pada Juli 2016 dari daerah Matan di Kabupaten Ketapang. Selama dipelihara Utat diletakan di dalam kandang kayu di bawah rumah. Pemiliknya memberi makan Utat nasi dan lauk pauk, sama seperti yang dimakan pemiliknya dan tidak terbiasa dengan makanan alaminya. Namun saat ini, Utat dinyatakan sudah mampu bertahan hidup di habitat aslinya. Termasuk kemampuan mencari pakan alaminya
Perjalanan panjang menuju titik pelepasan di jantung Kawasan TNBBBR ini memerlukan waktu tempuh 3 hari. Perjalanan hari pertama menempuh perjalanan darat sejauh lebih dari 700 kilometer ini dilanjutkan dengan menggunakan perahu mesin selama satu jam dan berjalan kaki sejauh 9 kilometer.
Warga desa di sekitar Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya memanggul kandang berisi orangutan menuju titik pelepasan
Sejak tahun 2016 IAR Indonesia mendirikan stasiun monitoring untuk memantau orangutan rehabilitasi yang dilepaskna dalam kawasan ini. Tim monitoring diterjunkan untuk melakukan pemantauan perilaku dan proses adaptasi orangutan ini di lingkungan barunya. Tim monitoring yang terdiri dari warga desa penyangga kawasan TNBBBR ini akan mencatat perilaku orangutan setiap 2 menit dari orangutan bangun sampai tidur lagi setiap harinya. Proses pemantauan ini berlangsung selama 1-2 tahun untuk memastikan orangutan yang dilepaskan bisa bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungan barunya. “Kita tidak bisa mensukseskan program ini tanpa partisipasi dan keterlibatan dari warga setempat. Kami sangat bangga bisa bekerja sama dengan warga desa-desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya,” ujar Karmele lagi.
Didampingi oleh anggota TNI dan Polri, tim pelepasan membawa kandang berisi orangutan dengan perahu menyeberangi Sungai Mentatai di dalam kawasan Taman Nasional Bukit baka Bukit Raya
Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Agung Nugroho mengatakan bahwa kegiatan pelepasliaran ini dilakukan dengan melalui serangkaian kegiatan dan kajian. “Semua kegiatan dan kajian ini dilakukan untuk memastikan semua orangutan yang telah dilepasliarkan dapat hidup aman dan nyaman. Ketika pelepasliaran dilakukan bukan berarti kerja kita selesai. Tim monitoring akan bekerja tetap selama lebih kurang 1-2 tahun untuk memastikan setiap orangutan yang dilepasliarkan dapat beradaptasi dengan habitat barunya. Harapannya, orangutan yang dilepaskan di dalam kawasan TNBBBR ini mampu membentuk populasi baru dan mempertahankan eksistensi spesiesnya,” tutupnya.
Inventarisasi dan Pemantauan Satwa Liar untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati
Satwa liar memiliki peranan penting di dalam keseimbangan ekosistem hutan hujan tropis. Keanekaragaman jenis dan keanekaragaman fungsionalnya berkontribusi pada dinamika proses dari ekosistem ini. Misalnya, beberapa kelompok mamalia dan burung terlibat langsung dalam proses regenarasi hutan melalui polinasi, pemencaran biji, dan siklus nutrisi. Namun demikian, mereka terus terancam oleh perburuan, fragmentasi, dan kehilangan habitat. Semua faktor ancaman tersebut dapat menyebabkan kepunahan lokal dan pada akhirnya akan berdampak pada dinamika ekosistem hutan secara keseluruhan.
Kemampuan untuk secara langsung memantau status dan perubahan dari populasi-populasi satwa liar dalam konteks spasial-temporal adalah elemen kunci dari konservasi dan pengelolaan ekosistem hutan hujan tropis di Indonesia khususnya di Kalimantan Barat. Inventarisasi populasi satwa liar merupakan langkah penting pertama dalam penyediaan data dasar (baseline) untuk memahami struktur, kekayaan, kelimpahan, dan sebaranya di habitat alami.
Tim survey biodiversity memasang kamera jebak di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya
Di Kalimantan Barat, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya adalah salah satu kawasan penting sebagai “rumah” bagi satwa liar dan beragam kekayaan hayati lainya. Selain avifauna (burung) dan herpetofauna (reptil dan amfibi), mamalia merupakan kelompok satwaliar dengan kekayaan dan keragaman serta peran ekologis yang sangat penting. IAR Indonesia sejak mulai aktif berkegiatan di TN Bukit Baka Bukit Raya pada 2015, menaruh perhatian pada keberlangsungan populasi-populasi satwa liar di kawasan konservasi ini. Salah satunya, pada April 2019, dilakukan kegiatan inventarisasi dan pemantauan satwa liar menggunakan perangkap kamera yang masih berlangsung hingga sekarang. Perangkap kamera banyak digunakan dalam studi satwa liar dalam dekade terakhir karena dinilai cukup efisien dan mudah dilakukan.
Survei tersebut bertujuan untuk memperoleh daftar inventarisasi dari semua spesies mamalia serta satwa liar lainya. Selain itu, secara lebih spesifik, survei perangkap kamera bertujuan mengestimasi kekayaan jenis, mengevaluasi upaya pengambilan sampel, mengukur keanekaragaman spesies dan kelimpahan relatif, serta memperkirakan tingkat okupansi dari komunitas satwaliar. Hasil survei ini kemudian diharapkan dapat digunakan sebagai data dasar dalam rencana pemantauan dan pengelolaan populasi satwa liar di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di masa mendatang.
Kucing Teluk ( Pardofelis badia) yang tertangkap kamera jebak di kawasan TNBBBR.
Dari sebanyak 21 unit kamera jebak yang dipasang di area seluas ±7,4 kilometer persegi (±740 hektar), di dalam 1.424 hari perangkap kamera kami mencatat sedikitnya terdapat 17 jenis satwa liar termasuk 15 jenis mamalia berukuran sedang dan besar serta dua jenis burung. Sejak April 2019 hingga Agustus /2019, kami memperoleh total 148 gambar independen, di antaranya dapat diidentifikasi hingga tingkat spesies. Spesies yang paling sering tertangkap perangkap kamera adalah beruk (Macaca nemestrina, 32 foto) dengan rerata tingkat jebakan 3,32 foto independen per 100 hari jebak, diikuti oleh kijang merah (Muntiacus atherodes, 20 foto, tingkat jebakan 2,04), dan kijang muntjak (Muntiacus muntjak, 15 foto, tingkat jebakan 1,47). Beruk merupakan spesies yang tertangkap jebakan hampir di semua lokasi perangkap kamera.
Kami mendeteksi keberadaan beberapa spesies yang terdaftar dalam Daftar Merah IUCN termasuk trenggiling (CE), beruang madu (VU), dan ruai (NT). Dalam survei kami, ada sepuluh species resident seperti ruai, musang, dan babi berjanggut. Sementara itu terdapat tujuh spesies lain yang jarang terdeteksi yang hanya tercatat satu kali selama periode sampling (hingga Agustus 2019). Salah satu spesies yang paling jarang dijumpai adalah trenggiling yang terdaftar sebagai Kritis dalam Daftar Merah IUCN 2017 dan Appendix I CITES. Trenggiling adalah salah satu dari satwa yang dilindungi yang paling banyak diburu dan dieksploitasi di Asia Tenggara. Seperti spesies trenggiling lainnya, trenggiling Sunda diburu untuk kulit, sisik, dan dagingnya, digunakan dalam pembuatan pakaian dan obat tradisional. Meskipun dilindungi, perdagangan ilegal telah menyebabkan penurunan ukuran populasi jenis ini dengan cepat.
Empat mamalia terestrial yang juga jarang dijumpai yang kami deteksi dengan hanya satu foto adalah landak, kucing batu, tufted ground squirrel, dan biawak dumeril. Hampir semua dari tujuh satwa yang jarang tersebut relatif sulit diamati karena kualitas gambar yang rendah, dan perilakunya yang tergolong satwa nokturnal. Selama kegiatan IAR di TNBBBR berjalan, staf lapangan jarang menjumpai ruai, trenggiling sunda, dan atau kucing batu. Hal ini menunjukkan bahwa kamera jebak cukup berguna untuk menginventarisir satwa liar yang elusive (sulit dijumpai). Dua spesies burung, ruai, dan crested partridge yang kami deteksi terdaftar sebagai spesies yang hampir terancam (NT), Appendiks II dan III CITES. Ruai yang tertangkap kamera jebak sebanyak tujuh kali dikenal sebagai satwa endemik Kalimantan.
Dari hasil kami, evaluasi tentang berapa lama kamera harus dioperasikan masih belum dapat ditentukan secara tepat karena kurva akumulasi masih belum menunjukkan daerah plateu. Hal ini mungkin mengindikasikan bahwa upaya survei yang lebih lama dan lebih besar masih diperlukan untuk merekam beberapa spesies satwa liar lainya. Pada prinsipnya, semakin besar ukuran sampling atau periode pengambilan sampel yang lebih lama, semakin banyak spesies akan dicatat. Kurva sampling ini naik relatif cepat pada awalnya, kemudian jauh lebih lambat dalam sampel selanjutnya seiring bertambahnya taksa yang jarang dijumpai. Hasil survei kami menunjukkan bahwa usaha pengambilan sampel yang lebih besar atau periode sampling yang lebih lama masih diperlukan. Diharapkan ketika kurva akumulasi spesies mencapai asimtot, kita dapat cukup yakin bahwa seluruh spesies yang ada di lokasi survei telah tercatat.
Indeks keanekaragaman spesies juga digunakan sebagai parameter dasar untuk program pengelolaan satwa liar yang bertujuan untuk memantau struktur dan komposisi komunitas satwa liar dari waktu ke waktu. Indeks keanekaragaman yang paling umum digunakan dalam ekologi adalah keanekaragaman Shannon dan keanekaragaman Simpson. Keanekaragaman Shannon dan Simpson meningkat seiring dengan meningkatnya kekayaan jenis, untuk pola kemerataan tertentu, dan meningkat seiring dengan meningkatnya kemerataan. Estimasi indeks keanekaragaman kami menunjukkan bahwa komunitas satwa liar di Resor Mentatai di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi.
Penulis: Ahmad Jabbar
Kisah Panji Petualang Ikut Kami Melepas Orangutan
Panji Petualang berkesempatan ikut tim kami melepasliarkan 6 individu orangutan pulang ke habitatnya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Februari 2019 lalu. Ia mengisahkan bagaimana upaya penyelamatan orangutan ini tidaklah mudah. Ingin tahu kisah selengkapnya? Simak semua part videonya di bawah ini!