Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Penerapan Aplikasi SMART Patrol Perkuat Pembelajaran Konservasi di SMK Kehutanan Bakti Rimba

Yayasan Inisiasi Alam dan Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan SMK Kehutanan Bakti Rimba bersinergi dalam kolaborasi edukatif dengan fokus pada implementasi aplikasi SMART Patrol. Kegiatan ini dilaksanakan pada 14 November 2025 di Hutan Penelitian Dramaga, Kota Bogor dengan tujuan untuk memperkuat pemahaman siswa mengenai konservasi satwa liar dan pentingnya pemantauan kawasan hutan.

Sebelum melakukan praktik lapangan, siswa mengikuti sesi pengenalan materi di sekolah. Dalam sesi tersebut, tim YIARI memperkenalkan SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool) Patrol, yaitu aplikasi sistem patroli berbasis data dan teknologi  yang digunakan untuk mencatat, memantau, dan menganalisis aktivitas patroli konservasi.  Melalui pendampingan langsung, siswa belajar memahami alur pengumpulan data di lapangan, cara pencatatan temuan, hingga pelaporan menggunakan perangkat SMART. 

Pemberian arahan oleh Tim YIARI pada siswa-siswi sebelum melakukan kegiatan lapangan (Elvyra|YIARI)

Kegiatan praktik di Hutan Penelitian Dramaga berjalan lancar dan mendapat sambutan antusias dari para siswa. Para siswa didampingi tim YIARI yang membantu menjelaskan tata cara penggunaan SMART Patrol di lapangan. Mereka berkesempatan mencoba langsung penggunaan aplikasi SMART dalam simulasi patroli, sehingga memperoleh gambaran nyata tentang bagaimana teknologi digunakan untuk menjaga kawasan hutan dan satwa liar.

Kepala SMK Kehutanan Bakti Rimba, Ribai, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi ini. “Kami berharap kegiatan ini tidak hanya berlangsung tiga kali pertemuan atau satu bulan saja, tetapi dapat diperpanjang minimal satu semester,” ujarnya saat ditemui pada Kamis, 13 November 2025. Menurutnya, program edukasi dari YIARI sangat melengkapi kompetensi siswa, sejalan dengan fokus sekolah pada rehabilitasi, pemetaan, dan inventarisasi hutan. “Dengan adanya program konservasi satwa liar ini, pengetahuan dan keterampilan anak-anak Bakti Rimba menjadi jauh lebih lengkap,” imbuhnya.

Siswa-siswi sedang mengambil data pengamatan menggunakan aplikasi SMART (Hulwia|YIARI)

Kolaborasi ini merupakan bagian dari program KOAKSI (Kolaborasi Edukasi Konservasi) yang telah berjalan sejak awal Oktober. Program ini menghadirkan berbagai materi dasar konservasi untuk menumbuhkan kesadaran keanekaragaman hayati sejak dini. Hingga saat ini, edukasi di SMK Kehutanan Bakti Rimba sudah berlangsung empat kali pertemuan.

Pendamping lapangan YIARI, Riki, sedang menjelaskan hasil pengamatan SMART (Hulwia|YIARI)

Melalui penerapan aplikasi SMART Patrol, siswa diharapkan dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan dunia kehutanan dan konservasi. Dukungan dan kesadaran yang tumbuh dari kegiatan ini menjadi pondasi penting dalam membentuk generasi muda yang peduli serta siap terlibat aktif dalam pelestarian hutan dan satwa liar.

Saat ini, SMART Patrol juga tengah dikembangkan menjadi standar yang digunakan di berbagai Taman Nasional di Indonesia, sehingga kemampuan mengoperasikannya menjadi nilai tambah bagi para siswa. Dengan membekali mereka keterampilan yang selaras dengan kebutuhan lapangan dan perkembangan teknologi konservasi, YIARI dan SMK Bakti Rimba berharap para lulusan semakin siap dan kompeten dalam dunia kerja modern serta mampu memberi dampak jangka panjang bagi masa depan konservasi Indonesia.

Eunike Hana Grasia

Bimbingan Teknis SMART Conservation Tools bersama BBKSDA Jabar Lanjut sampai Part 2!

Orang pintar pakai? SMART Conservation Tools! Apakah SMART ini ramai digunakan  sampai lanjut part 2? Pastinya!

Kali ini bimbingan teknis (bimtek) terkait SMART-CT (SMART Patrol)  ini dilaksanakan di Kantor BBKSDA Jawa Barat yang berlokasi di Kecamatan Gedebage, Bandung, Jawa Barat. Selama dua hari, 19-20 Maret 2024, yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, mayoritas Tim YIARI melaksanakan kegiatan sambil menunaikan ibadah puasa nih Sob. No lemes-lemes dan bukan menjadi hambatan, justru menjadi pemantik semangat tim yang makin gacor loh!

Bimtek tahap satu telah kami laksanakan tahun lalu, tepatnya pada 21 – 22 Juli 2023.

Baca: Bimbingan Implementasi SMART Bersama BBKSDA Jabar Wilayah II Soreang

Lalu, apa bedanya bimtek lalu dan yang kini dilakukan?

Pada bimtek tahap satu itu masih tahap pendahuluan Sob. Jadi isi materinya antara lain pengenalan SMART, praktik pengambilan serta input data dengan SMART Mobile, penjelasan cara analisis, laporan, juga diskusi rencana aksi Penerapan SMART di lingkup BBKSDA Jabar.

Di bimtek satu  kan para peserta sudah paham mekanisme pengumpulan datanya, nah selanjutnya datanya diapain? Kami bahas di pelatihan bimtek part dua ini! Jadi focus bimtek dua ini adalah data data data. Mulai dari pengolahannya, pengenalan SIPEDATI (Sistem informasi pengelolaan data spatial), pembahasan struktur data, alur data, validasi data, verifikasi data, pengolahan, analisis data, pembuatan report, juga diakhiri dengan diskusi rencana dan tindak lanjut. Wow, padat sekali ya acaranya!

Peserta pelatihan bimtek menyimak dan mempraktikkan materi dengan seksama (Uci Sanusi | YIARI) 

SMART terus SMART terus, memang apa sih masalah terkait konservasi kawasan dan biodiversitas yang dapat diatasi dari implementasi SMART-CT? Terutama di wilayah Jawa Barat?

Untuk menjawab keresahan itu, Tim YIARI pun langsung bertanya ke dua narasumber ahli nih. Tidak lain tidak bukan sang pemateri atau , Alfin Muhammad Alfiyasin S.Hut serta Kabalai BBKSDA Jabar, Irawan Asaad, S.T., M.Sc., Ph.D. Simak ya, Sob!

Alfin: Dengan dukungan data dari SMART, masalah yang bisa diatasi diantaranya adalah mencegah gangguan kawasan konservasi dan ancaman bagi biodiversitas. Kita juga bisa melihat tren gangguan secara berkala, juga lokasinya. Nah data yang sudah terkumpul dan terkelola dengan baik di SMART Mobile ini bisa membantu keputusan pengambilan kebijakan yang sesuai dalam pengelolaan kawasan.

Irawan: Saat ini data patroli belum terstruktur dengan baik. Melalui SMART-CT diharapkan data keberadaan dan sebaran satwa, tumbuhan dapat terdokumentasi dengan baik. Salah satu hasil dari SMART juga dapat digunakan untuk melihat kesesuaian habitat terutama untuk lokasi pelepasliaran berdasarkan hasil perjumpaan satwa tersebut.

Seluruh tim BBKSDA Jabar dan YIARI seusai pelaksanaan bimtek tahap dua (Uci Sanusi | YIARI) 

Selanjutnya, bagaimana ya sistem kerja SMART Conservation Tools ini?

Alfin: SMART bisa berjalan dengan adanya petugas di lapangan yang mencatat setiap temuan, kemudian divalidasi dan diverifikasi oleh tim admin dari setiap temuan, sehingga data yang terkumpul clear. Hal ini bisa terwujud dengan adanya dukungan peralatan yang memadai dan dukungan dari pimpinan.

Irawan: SMART merupakan tool untuk collect data yang dipakai pada tingkat tapak, data yang diambil di lapangan tersebut kemudian dapat diolah dan dianalisis menjadi salah satu tool untuk pengambilan keputusan dan kebijakan pengelolaan.

Bagaimana keberjalanan implementasi SMART Conservation Tools ini di lingkup kerja BBKSDA Jawa Barat?

Alfin: Implementasi SMART di BBKSDA Jabar sedang berjalan, karena sudah dilakukan 2 tahap pelatihan atau bimtek. Tahap pertama dilakukan pelatihan pada petugas pengambil data di setiap resort atau seksi atau bidang.  Tahap kedua telah dilakukan pelatihan lanjutan untuk tim admin untuk membuat sistem database SMART di BBKSDA Jabar serta analisis pemanfaatan data untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi dan biodiversitas yang lebih efektif. Dengan dua pelatihan tersebut, diharapkan implementasi penggunaan dan pemanfaatannya  SMART di BBKSDA Jabar bisa lebih cepat.

Irawan: SMART di BBKSDA Jabar dikenal sejak 2018 namun baru kembali diaktifkan lagi pada triwulan IV Tahun 2023. Sehingga masih perlu adaptasi dengan operator atau petugas lapangan dan perlu dievaluasi hasilnya secara berkelanjutan.

Yuk Sob, kita aamiinkan dan dukung bersama, segala harapan baik terkait SMART-CT yang sudah disampaikan, apalagi yang mendukung konservasi dan keanekaragaman hayati 🌳😄

Mengikuti Jejak Tim Patroli Kawasan Hutan

Siang itu, suara langkah kaki manusia terdengar meningkahi beragam suara penghuni hutan. Langkah mereka berkecipak saat rombongan ini melintasi genangan rawa gambut di Hutan Desa Pematang Gadung. Rombongan yang terdiri dari tim patroli IAR Indonesia ini berjalan sambil sesekali menebar pandangannya ke sekeliling, berusaha menemukan satwa yang mungkin bersembunyi di rimbun pepohonan. Setiap ada temuan satwa atau jejak satwa, jemari mereka sibuk menyentuh layar gawai yang dipegangnya. Bukan untuk memperbarui status, tapi mencatat temuan mereka ke dalam aplikasi SMART Patrol.

SMART (Spasial Monitoring and reporting Tools) merupakan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk menyimpan data kegiatan patrol/pengelolaan kawasan konservasi atau jenis kawasan lainnya, sekaligus sebagai penyimpan data/database. SMART juga memiliki kemampuan untuk merencanakan, mendokumentasikan, menganalisis, dan mengeluarkan laporan sehingga data-data dalam suatau kawasan, baik itu data potensi, ancaman maupun kenaekaragaman hayati dapat dikelola sesuai kebutuhan penggunanya. Yang jauh lebih penting dari kemudahan penggunaannya adalah SMART dapat membantu pihak manajemen dalam membuat strategi dan perencanaan berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan.

Sejak awal 2017, IAR memanfaatkan (SMART) untuk kegiatan patroli perlindungan kawasan dan keanekaragaman hayati. Dengan menggunakan metode ini, peralatan yang dibawa lebih ringkas, waktu yang digunakan untuk memasukkan dan mengolah data juga lebih singkat. Data yang dimasukkan juga lebih akurat dengan cacatan waktu dan titik koordinat lokasi pengambilan data dapat dipertanggungjawabkan.

Sebelumnya, tim patroli IAR Indonesia perlu membawa meteran, kertas data, jam, kamera, dan GPS. Setiap ada temuan berupa satwa atau ada ancaman kerhadap keamanan hutan seperti penebangan liar, kebakaran, pertambangan maupun perburuan, tim patroli harus mencatat temuannya secara manual, memasukkan jam pengambilan gambar, serta memasukkan titik GPS lokasi pengambil data. Kemudian kertas data diserahkan kepada tim pengolah data, yang harus memasukan data dari kertas data ke dalam komputer secara manual. Ketika diperlukan, pencarian data yang sudah masuk ke komputer pun harus dilakukan secara manual.

Dengan pemanfaatan SMART, tim patroli hanya perlu mengambil data menggunakan smartphone. Sekali mengetik data temuan, informasi waktu dan lokasi secara otomatis langsung ditambahkan di dalam data temuan. Memindahkan data kekomputer pun tidak lagi dilakukan secara manual. Data yang masuk bisa dikelompokan berdasarkan query sehingga penarikan data pun lebih mudah karena data sudah terklasifikasi.

Sampai saat ini IAR Indonesia mengimplementasikan SMART Patrol di dua kabupaten yaitu Ketapang dan Melawi. Penggunaan SMART Patrol di Ketapang meliputi Hutan Desa Pematang Gadung, Hutan Desa Sungai Besar, Hutan Desa Sungai Pelang, dan Hutan Lindung Gunung Tarak. Selain itu tim Orangutan Protection Unit (OPU) juga memanfaatkan SMART Patrol untuk melakukan patroli dan verifikasi konflik manusia-orangutan. Sedangkan di Kabupaten Melawi, SMART Patrol diterapkan dalam program perlindungan kawasan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

Hasil monitoring lapangan menggunakan SMART Patrol sejak Januari sampai November 2019 berhasil mendata puluhan kegiatan ilegal yang dilakukan di dalam kawasan Hutan Desa Pematang Gadung dan Hutan Desa Sungai Besar. “Rinciannya ada 2 perburuan, 97 penebangan liar, dan 44 pertambangan illegal di dalam kawasan. SMART Patrol ini juga berhasil mendata adanya 309 ancaman berupa kebakaran di dua hutan desa tersebut,” ujar Muhadi, Supervisor Tim Orangutan Protection Unit yang bertanggungjawab mengelola data SMART di IAR Indonesia.

Selain kegiatan ilegal yang bisa mengancam eksistensi hutan,  tim patroli di Hutan Desa ini juga mencatatkan 2602 perjumpaan dengan burung, reptil dan mamalia termasuk orangutan. Perjumpaan ini termasuk perjumpaan individu satwa, jejak, sarang, kotoran, bekas cakaran, kubangan dan bangkai satwa.  Data yang ada juga menunjukkan total jarak yang ditempuh oleh tim patroli lebih dari 4.000 km dengan durasi patroli mencapai 2720 jam.

Menjaga Kelestarian Bentang Alam Batutegi

Tak seperti biasanya, rumah bercat kuning di ujung jalan itu terlihat ramai. Dua orang tampak mondar-mandir bergantian membawa tas besar, sementara satunya fokus mengikat barang-barang di atas motor trail. Sabtu (24/07) pagi itu menjadi waktu yang sibuk bagi tim IAR Indonesia mengemas perlengkapan dan bersiap masuk ke hutan untuk melakukan survei di kawasan Hutan Lindung Batutegi.

Survei Keanekaragaman Hayati dengan menggunakan metode smart-patrol ini rutin dilakukan dan merupakan salah satu program kerja sama antara IAR Indonesia dengan Kesatuan Pengelola Hutan Lindung (KPHL) Batutegi sebagai pengelola kawasan. Sebagai informasi, smart-patrol adalah aplikasi penunjang tim lapangan yang bukan sekadar perangkat untuk mengumpulkan data, namun lebih dari itu, dikembangkan berdasarkan pengalaman praktis dan dibuat untuk membantu perlindungan kawasan konservasi.

Hutan Lindung Batutegi yang berada di Kabupaten Tanggamus, Lampung, kaya akan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Selain memiliki fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan seperti tata air, pengendali erosi, dan pemelihara kesuburan tanah, kawasan dengan luasan sekitar 58.000 ha tersebut juga menjadi daerah aliran sungai (DAS) prioritas di Provinsi Lampung, karena fungsinya sebagai catchment area untuk sumber air irigasi.

Tidak hanya itu, HL Batutegi menjadi salah satu rumah dari beragam jenis primata seperti, siamang (Hylobates syndactylus), kukang sumatera (Nycticebus coucang), owa (Hylobates spp), lutung simpai (Presbytis melalophos) serta menjadi habitat yang nyaman bagi kambing gunung (Capricornis sumatraensis), beruang madu (Helarctos malayanus), kucing emas (Pardofelis temminckii), dan tapir (Tapirus indicus).

Survei rutin dilakukan untuk menginventarisir keragaman hayati di kawasan HL Batutegi.

Untuk menjaga kebermanfaatan dan potensi keragaman hayati di dalamnya bukanlah hal mudah. Sejumlah ancaman seperti perburuan satwa, pembukaan lahan secara ilegal yang sering mengintai menjadi tantangan untuk menjaga kelestarian bentang alam Batutegi.

“Secara berkala, seraya melakukan inventarisasi keragaman hayati tidak jarang saya menemukan jerat, jejak perburuan hingga perambahan hutan di dalam kawasan,” tutur Miftakhul Huda, Koordinator IAR Indonesia untuk Program Konservasi Batutegi. Batutegi lanjut Huda bukan sekadar hutan, melainkan sumber kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya yang harus dijaga dan dikelola secara bijak.

Huda mengungkapkan, survei yang dilakukan sejak awal 2019 ini menemukan setidaknya puluhan kasus aktivitas perburuan satwa liar di dalam kawasan HL Batutegi. Temuan tersebut berupa berbagai jenis jerat seperti sling kawat, rotan, getah, hingga jaring untuk menangkap burung. Menurut dia, tingginya angka temuan tanda perburuan tersebut dapat mengakibatkan menurunnya populasi satwa liar. Hal ini berdampak buruk bagi keberadaan dan kelangsungan hidup satwa liar dan ekosistem di dalamnya.

Selain ancaman, tanda-tanda keberadaan satwa juga teridentifikasi lewat survei ini. Tanda itu terdiri dari tapak/jejak, suara, cakaran, kubangan, bekas pakan, kotoran, sarang dan gesekan badan yang terdiri dari kelas primata, aves, dan mamalia. Ini menggambarkan potensi HL Batutegi yang memang kaya akan keragaman hayatinya.

Lewat Program Survei Keanekaragaman Hayati yang dilakukan secara berkala bersama KPHL Batutegi, IAR Indonesia berupaya menjaga dan melestarikan bentang alam HL Batutegi. Kegiatan ini berupa pendataan kekayaan keragaman hayati yang dilakukan secara rutin bersama Polhut KPHL, masyarakat lokal, serta relawan. Pelibatan masyarakat di sini bertujuan untuk dapat menumbuhkan rasa memiliki dan menjaga HL Batutegi. “Selain pendataan, semua temuan yang dicatat tentu nantinya diharapkan menjadi rekomendasi dan strategi pengelolaan konservasi kawasan Batutegi selanjutnya,” tutup Huda.