Trenggiling: Pengertian, Ciri-ciri, Jenis, Fakta Unik, dan Persebarannya di Indonesia
Predator puncak seperti singa dan harimau dikenal sebagai ancaman besar bagi satwa liar di habitat aslinya.
Namun, berbeda dengan sebagian besar hewan, ada satu makhluk unik yang mampu bertahan dari serangan predator tanpa harus melarikan diri—cukup dengan berdiam diri. Dapatkah kamu menebak hewan apa itu?
Yup, jawabannya adalah trenggiling, mamalia bersisik yang memiliki pertahanan alami luar biasa. Dikenal sebagai “si bola bersisik”, trenggiling memiliki lapisan sisik keras yang menyelimuti hampir seluruh tubuhnya. Sisik tersebut berfungsi layaknya perisai yang efektif untuk melindunginya dari serangan hewan buas.
Lalu, bagaimana cara trenggiling melindungi diri? Saat merasa terancam, trenggiling akan segera menggulung tubuhnya hingga membentuk bola padat. Dengan posisi ini, bagian tubuhnya yang rentan tersembunyi di dalam gulungan, sementara bagian luar yang dilapisi sisik keras menjadi tameng pertahanan.
Sayangnya, di balik keunikan dan kemampuannya bertahan dari predator, trenggiling justru menghadapi ancaman besar dari manusia. Mamalia ini tercatat sebagai salah satu hewan yang paling banyak diperdagangkan secara ilegal di dunia. Permintaan tinggi terhadap sisik dan dagingnya membuat trenggiling menjadi target perburuan liar yang masif.
Lalu, apa yang membuat trenggiling begitu diburu, dan bagaimana upaya pelestariannya saat ini? Simak penjelasan lengkapnya di bagian selanjutnya.
Mengenal Trenggiling
Trenggiling merupakan salah satu hewan yang termasuk dalam kelas mamalia. Sebagai mamalia, trenggiling berkembang biak secara seksual dan melahirkan anak (vivipar). Trenggiling betina memiliki kelenjar susu untuk menyusui anak-anaknya.
Nama “trenggiling” berasal dari bahasa Melayu yang berarti berguling, merujuk pada kebiasaan hewan ini menggulungkan tubuh saat merasa terancam. Dalam bahasa Inggris, trenggiling dikenal dengan sebutan pangolin.
Hewan unik ini memiliki sisik keras dan kuat yang melapisi hampir seluruh tubuhnya, kecuali bagian perut. Fungsi utama sisik ini adalah sebagai pelindung dari serangan predator. Ketika merasa dalam bahaya, trenggiling akan menggulung tubuhnya hingga membentuk bola, menyembunyikan bagian tubuh yang rentan di dalam gulungan tersebut.
Habitat trenggiling sangat beragam, mulai dari hutan hujan tropis, sabana, padang rumput, hingga lahan pertanian di dataran rendah. Makanan utamanya adalah semut dan rayap, yang ditangkap menggunakan lidah panjang dan lengket—ciri khas trenggiling yang membantunya menjangkau mangsa di dalam sarang.
Saat ini terdapat delapan spesies trenggiling yang tersebar di dua benua, yaitu Asia dan Afrika. Berikut daftarnya:
Spesies Trenggiling di Asia:
- Trenggiling Cina (Manis pentadactyla)
- Trenggiling India (Manis crassicaudata)
- Trenggiling Filipina (Manis culionensis)
- Trenggiling Sunda (Manis javanica)
Spesies Trenggiling di Afrika:
- Trenggiling tanah (Smutsia temminckii)
- Trenggiling raksasa (Smutsia gigantea)
- Trenggiling pohon (Phataginus tricuspis)
- Trenggiling berekor panjang (Phataginus tetradactyla)
Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, spesies trenggiling yang ditemukan adalah trenggiling Sunda (Manis javanica). Hewan ini tersebar di beberapa wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, dan Jawa, serta sejumlah pulau kecil seperti Bangka, Belitung, dan Nias.
Mengutip laporan dari Traffic, trenggiling Sunda saat ini dikategorikan sebagai spesies kritis (Critically Endangered) dalam Daftar Merah Spesies Terancam IUCN. Populasi trenggiling ini mengalami penurunan drastis, yang sebagian besar disebabkan oleh maraknya perdagangan ilegal.
Di Indonesia, trenggiling termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Perlindungan terhadap trenggiling Sunda juga ditegaskan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018.
Setiap orang yang menangkap, membunuh, melukai, atau memperdagangkan trenggiling secara ilegal dapat dikenai sanksi pidana. Sesuai Pasal 40 Ayat (2) jo Pasal 21 Ayat (2) Huruf (d) UU No. 5 Tahun 1990, pelanggaran tersebut dapat dikenai hukuman penjara maksimal lima tahun dan denda hingga Rp100 juta.
Ciri-ciri Trenggiling
Trenggiling merupakan mamalia yang memiliki sejumlah ciri fisik dan perilaku unik, menjadikannya berbeda dari hewan lainnya. Faktanya, trenggiling adalah satu-satunya mamalia di dunia yang memiliki sisik.
Sisik ini menjadi salah satu sistem pertahanan tubuh paling khas di antara hewan mamalia.
Berikut ciri-ciri umum trenggiling yang perlu kamu ketahui:
- Memiliki sisik keras dan kuat yang menutupi seluruh tubuhnya, kecuali bagian bawah. Sisik ini tersusun dari keratin, protein yang sama dengan yang membentuk kuku dan rambut manusia.
- Mampu melindungi diri dari predator dengan cara menggulungkan tubuhnya menjadi bola rapat, sehingga hanya sisik kerasnya yang terlihat.
- Memiliki ekor panjang yang berfungsi sebagai penyeimbang saat bergerak dan juga sebagai alat bantu saat memanjat.
- Kaki trenggiling tergolong pendek dengan cakar besar dan kuat, yang digunakan untuk menggali sarang semut dan rayap.
- Mempunyai 46–47 ruas tulang belakang, jumlah terbanyak di antara semua mamalia yang diketahui hingga saat ini.
- Tidak memiliki gigi. Sebagai gantinya, trenggiling menelan makanan utuh dan menggilingnya menggunakan kerikil kecil di lambungnya.
- Memiliki lidah yang sangat panjang, lengket, dan fleksibel, yang bisa menjulur lebih panjang dari tubuhnya sendiri. Lidah ini digunakan untuk menangkap semut dan rayap di dalam sarang.
- Bersifat nokturnal, artinya aktif di malam hari untuk mencari makan dan bergerak.
- Soliter, yaitu hidup menyendiri dan jarang terlihat dalam kelompok.
- Merupakan pemakan serangga (insektivora), dengan makanan utama berupa semut dan rayap.
- Memiliki indra penciuman yang tajam, yang membantunya mendeteksi lokasi koloni semut atau rayap.
- Panjang tubuhnya (dari kepala hingga ekor) berkisar antara 79–88 sentimeter.
- Berat tubuhnya dapat mencapai 12 kilogram, meskipun umumnya berada di kisaran 8–10 kilogram.
- Bereproduksi secara seksual, dan termasuk hewan vivipar, yaitu berkembang biak dengan cara melahirkan anak.
12 Fakta Unik tentang Trenggiling
Selain dikenal karena sisiknya yang keras, trenggiling juga memiliki perilaku dan karakteristik yang sangat unik. Mamalia ini tergolong pemalu dan lebih suka hidup menyendiri (soliter). Di habitat alaminya, trenggiling menunjukkan sejumlah perilaku menarik yang membedakannya dari hewan lainnya.
Berikut beberapa fakta unik trenggiling yang hidup di alam bebas:
1. Sisiknya terbuat dari keratin
Sisik trenggiling tersusun dari keratin, yaitu protein yang sama yang menyusun kuku dan rambut manusia. Meskipun bukan tulang, sisik ini sangat kuat dan keras sehingga mampu melindungi trenggiling dari predator buas seperti singa, harimau, bahkan manusia.
2. Menghancurkan makanan di lambung
Karena tidak memiliki gigi, trenggiling tidak mengunyah makanannya di mulut. Sebaliknya, makanan seperti semut dan rayap akan dihancurkan di lambung, dibantu oleh kerikil kecil yang ikut tertelan untuk menggiling makanan secara mekanis.
3. Tinggal di celah pohon atau lubang tanah
Pada siang hari, trenggiling biasanya beristirahat di celah-celah pohon, rongga batang, atau lubang tanah yang ia gali sendiri. Tempat persembunyian ini melindunginya dari panas matahari dan ancaman predator.
4. Ukuran lidahnya melebihi panjang tubuh
Mengutip dari American Association for the Advancement of Science (AAAS), lidah trenggiling bisa lebih panjang dari tubuhnya sendiri. Lidah yang fleksibel ini sangat membantu saat menjangkau serangga di dalam sarang semut atau rayap yang berada jauh di dalam tanah atau kayu.
5. Memiliki air liur yang lengket
Trenggiling memiliki air liur yang sangat lengket, yang berfungsi untuk menjerat semut dan rayap saat lidahnya menjulur masuk ke dalam sarang serangga. Dalam satu kali makan, trenggiling bisa mengonsumsi ribuan serangga sekaligus.
6. Memiliki indera penciuman yang tajam
Trenggiling mengandalkan indra penciuman yang sangat sensitif untuk mencari makan. Dengan kemampuan ini, mereka bisa mendeteksi keberadaan koloni semut atau rayap bahkan dari jarak jauh. Indra penciuman menjadi alat navigasi utama dalam kelangsungan hidupnya, terutama karena penglihatannya cenderung lemah.
7. Memiliki Indera penglihatan yang buruk
Trenggiling dikenal memiliki penglihatan yang kurang tajam. Oleh karena itu, mereka sangat mengandalkan indra penciumannya untuk mencari makanan dan mengenali lingkungan sekita
8. Bisa berjalan dengan kaki belakang saja
Trenggiling memiliki kemampuan berjalan secara bipedal, yaitu dengan dua kaki belakang saja. Saat berjalan tegak, ia menggunakan ekornya yang panjang sebagai penyeimbang tubuh. Gerakan ini biasanya dilakukan saat menjelajah atau menghindari rintangan.
9. Satu-satunya mamalia bersisik di dunia
Trenggiling merupakan satu-satunya mamalia di dunia yang seluruh tubuhnya dilapisi sisik besar dan keras. Menariknya, berat sisik tersebut dapat mencapai sekitar 20 persen dari total berat tubuhnya.
10. Jumlah sisik berbeda tiap spesies
Jumlah sisik pada tubuh trenggiling bervariasi tergantung jenis spesiesnya. Dilansir dari ScienceDirect, berikut perbandingan jumlah sisik pada beberapa spesies:
- Trenggiling Cina (Manis pentadactyla): sekitar 527–581 sisik
- Trenggiling Filipina (Manis culionensis): sekitar 940 sisik
- Trenggiling Sunda (Manis javanica): bisa mencapai sekitar 1.000 sisik
11. Mamalia dengan jumlah tulang ruas terbanyak
Trenggiling memiliki 46 hingga 47 ruas tulang belakang, menjadikannya mamalia dengan jumlah ruas tulang paling banyak dibandingkan mamalia lain. Fleksibilitas tulang ini juga mendukung kemampuannya untuk menggulung tubuh secara sempurna.
12. Memangsa hingga 20.000 serangga per malam
Berdasarkan laporan Planet Wild, trenggiling dapat memangsa hingga 20.000 serangga seperti semut dan rayap dalam satu malam. Dengan kemampuan ini, trenggiling berperan sebagai spesies kunci dalam menjaga keseimbangan populasi serangga di ekosistemnya.
Status Konservasi Trenggiling
Trenggiling saat ini berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Meskipun memiliki kemampuan bertahan dari predator alam, ancaman terbesar bagi keberlangsungan hidup trenggiling justru berasal dari manusia. Perburuan liar dan perdagangan ilegal menjadi penyebab utama menurunnya populasi trenggiling secara drastis dalam beberapa dekade terakhir.
Menurut Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature), seluruh spesies trenggiling yang ada di dunia telah dikategorikan sebagai spesies yang terancam punah, dengan beberapa di antaranya berstatus kritis (Critically Endangered), termasuk trenggiling Sunda (Manis javanica) yang tersebar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Ancaman terbesar datang dari perdagangan ilegal internasional, baik dalam bentuk sisik maupun daging. Sisik trenggiling dipercaya memiliki khasiat medis dalam pengobatan tradisional, meskipun belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut. Selain itu, daging trenggiling dianggap sebagai makanan eksotis di beberapa negara, terutama di kawasan Asia Timur.
Untuk mengatasi ancaman ini, berbagai langkah perlindungan telah dilakukan. Di Indonesia, trenggiling merupakan satwa yang dilindungi secara hukum. Perlindungan ini diatur dalam:
- Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
- Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018, yang menetapkan daftar tumbuhan dan satwa liar dilindungi, termasuk trenggiling Sunda.
Setiap orang yang menangkap, memelihara, melukai, membunuh, atau memperdagangkan trenggiling secara ilegal dapat dikenai sanksi pidana. Berdasarkan Pasal 40 ayat (2) jo Pasal 21 ayat (2) huruf (d) UU No. 5 Tahun 1990, pelanggaran tersebut dapat dikenakan hukuman penjara hingga 5 tahun dan denda maksimal Rp100 juta.
Selain upaya hukum, lembaga konservasi nasional dan internasional seperti TRAFFIC, WWF, dan IUCN juga terus menggalakkan edukasi, patroli satwa, serta rehabilitasi dan pelepasliaran trenggiling hasil sitaan.
Mengapa Kita Harus Peduli pada Trenggiling?
Trenggiling bukan hanya hewan yang unik dengan sisik keras dan lidah super panjang, tetapi juga makhluk penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sebagai pemangsa alami semut dan rayap, trenggiling membantu mengendalikan populasi serangga yang bisa menjadi hama bagi tanaman dan merusak struktur tanah.
Dengan lebih mengenal trenggiling—dari ciri-cirinya, fakta unik, hingga status konservasinya—diharapkan kesadaran kita semua akan pentingnya melindungi satwa ini semakin meningkat. Kamu bisa ikut berperan dengan tidak membeli produk berbahan dasar trenggiling, menyebarkan informasi yang benar, serta mendukung program konservasi dan penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar.
Mari kita jaga trenggiling agar tetap lestari di alam, demi generasi yang akan datang dan demi bumi yang lebih seimbang!
Sumber dan Referensi:
What is a Pangolin. Save Pangolins.
The Plight of the Pangolin. EcoHealth Alliance.
Facts About Pangolins. World Animal Protection.
Pangolins: Introducing the lonely and sweet-natured scaly anteater. Planet Wild.
Featured image: Ilustrasi trenggiling (unsplash.com/Studio Crevettes)








