Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Beragam Bentuk Enrichment Makaka, Unik Banget!

Sobat #KonservasYIARI suka mengamati lingkungan sekitar gak? Atau pernah ikut pengamatan satwa? Kalau masa liburan mau berakhir, pasti Sobat #KonservasYIARI juga melakukan persiapan untuk kembali melakukan kegiatan seperti semula ‘kan? Yang masih bersekolah menyiapkan peralatan sekolahnya, yang bekerja mungkin menyiapkan fisik dan mentalnya untuk kembali berutinitas. Begitu juga satwa di pusat rehabilitasi nih Sob. Dibantu oleh para perawat satwa, para satwa di pusat rehabilitasi pun melakukan persiapan sebelum dilepasliarkan ke alam. Salah satu persiapannya disebut dengan enrichment. 

Kandang enrichment tematik tema alam yang dilengkapi dengan hammock, air terjun, tali tambang untuk berayun, serta rolling ball yang diisi dengan biji-bijian (Ruli | Yayasan IAR Indonesia).
Enrichment? Apa tuh?

Singkatnya, enrichment atau pengayaan merupakan upaya seperti pemberian fasilitas, dan pakan tambahan, juga modifikasi cara pemberian dan jenis pakan tambahan.

Tapi tapi tapi, hal ini tujuannya agar apa sih?

Ada beberapa nih, di antaranya agar:

  1. Satwa di pusat rehabilitasi dapat lebih enjoy menghabiskan waktunya
  2. Mengurangi tingkat kebosanan atau kejenuhan satwa di kandang, sehingga makaka lebih aktif melakukan kegiatan seperti mencari makan
  3. Mengurangi karakter perilaku abnormal (perilaku yang tidak biasa muncul pada satwa liar di alam, umumnya merupakan indikator respon stres ketika dipiara di kandang)
  4. Membantu mempercepat pemulihan stres
  5. Menimbulkan kembali sifat (perilaku) dan naluri alami  satwa yang sedang menjalani pemulihan di pusat rehabilitasi

Jadi, enrichment ini seperti pembekalan untuk para satwa sebelum dilepasliarkan kembali ke alam gitu deh.

Kami juga pernah bahas sedikit terkait enrichment untuk satwa liar di pusat rehabilitasi, boleh disimak juga melalui kedua tautan dibawah ini ya!

Belajar Adaptasi dengan Enrichment

Enrichment Makanan Bantu Monyet Ekor Panjang Berperilaku Alami

Lalu, enrichment ada jenisnya gak ya?

Berdasarkan Smithsonian Institute, ada lima tipe enrichment yang bisa diberikan pada hewan, yaitu enrichment habitat, kognitif, sensorik, pakan, serta mainan.

Tak jarang juga ada gabungan dari tipe enrichment tersebut. Enrichment pakan yang diberikan juga bisa disebut dengan food based enrichment, yaitu pemberian pakan yang divariasikan seperti meletakkan pakan dalam wadah yang digantung pada ranting-ranting pohon, sehingga dapat melatih insting berburu dan mencegah terjadinya perilaku abnormal atau stres pada satwa (Kuntum et al. 2020).

Kalau di pusat rehabilitasi YIARI sendiri, enrichment dibagi menjadi dua yaitu, enrichment harian dan enrichment tematik atau enrichment lingkungan. Enrichment tematik merupakan proses pemberian enrichment dinamis untuk meningkatkan pengayaan lingkungan satwa, perubahan lingkungan, meningkatkan pilihan-pilihan enrichment untuk kesejahteraan satwa di kandang rehabilitasi YIARI. Jadi, enrichment tematik ini bisa meliputi enrichment habitat, kognitif, sensorik, serta mainan. Kalau enrichment harian, merupakan enrichment yang diberikan setiap harinya. Ada juga tambahan enrichment bulanan berupa dedaunan yang diletakkan di atas kandang setiap bulannya.

Wah menarik, tapi enrichment yang diberikan satwa sebetulnya berupa apa sih? Ada contoh fotonya gak ya?

Penasaran kan? Ada dong! Kita bahas enrichment hariannya dulu ya! Untuk makaka, berikut jadwal enrichment harian yang diberikan oleh para perawat satwa secara rutin setiap harinya pukul 8 nih Sobat #KonservasYIARI!

Enrichment harian sesuai jadwalnya (Amun Nawawi | Yayasan IAR Indonesia)

Enrichment harian tersebut diantaranya ialah:

  • Biji-bijian yang diletakkan pada serbuk kayu (Senin)
  • Pipa yang diisi madu atu yoghurt (Selasa)
  • Biji-bijian yang dimasukkan ke dalam pipa shake (Rabu)
  • Kotak kawat yang diisi dengan daun yang kemudian diletakkan di dalam atau di luar kandang (Kamis)
  • Bola (rolling ball) yang diisi dengan biji-bijian (Jumat)
  • Daun seperti daun kaliandra, bambu, atau daun lainnya yang diletakkan di dalam atau di luar kandang (Sabtu)
  • Serta enrichment harian pada hari Minggu, pipa yang diisi dengan sirup atau yoghurt (Minggu).
Teratur banget ya enrichment hariannya, kalau enrichment tematiknya seperti apa ya?

Untuk saat ini kandang untuk enrichment tematik yang aktif digunakan ada beberapa tema, juga dengan alat yang beragam di dalam kandangnya, yuk langsung intip!

Beberapa makaka sedang bermain di atas roda treadmill (Ruli | Yayasan IAR Indonesia)
Kandang enrichment tema tersembunyi dengan rumah jamur untuk bersembunyi (Ruli | Yayasan IAR Indonesia)
Enrichment tematik dengan tema taman bermain dengan beragam alat untuk bermain (Ruli | Yayasan IAR Indonesia)

Jadi, kurang lebih begitulah sekilas informasi terkait enrichment makaka yang penulisannya dibantu oleh Kang Ruli atau yang biasa dipanggil Jubel, selaku perawat satwa yang bertanggung jawab terhadap enrichment makaka. Nah, Sobat #KonservasYIARI sudah sedikit lebih paham tentang enrichment Makaka kan? Next time bahas apalagi ya? Bahas enrichment kukang seru kaliya?👀

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Referensi:
Gakkum MenLHK. 2020. Buku Panduan Penanganan (Handling) Satwa Primata.
https://gakkum.menlhk.go.id/assets/filepublikasi/Buku_Panduan_Penanganan_(Handling)_Satwa-Primata_Final_ok.pdf
Kebun Binatang Nasional dan Institut Biologi Konservasi Smithsonian, https://nationalzoo.si.edu/animals/animal-enrichment
Kuntum R, Yusuf R, Darusman HS. 2020. Evaluasi Manajemen Pemeliharaan terhadap Endoparasit Saluran Pencernaan pada Kukang Sumatera (Nycticebus coucang). Jurnal Primatologi Indonesia. 17 (1): 22-27.

Fathia Rosatika

Albinisme pada Kukang dan Kerumitannya dalam Perlindungan Hewan

Taukah kalian apa itu hewan albino? Sebagian dari kita mungkin sudah tahu apa itu satwa albino. Fenomena albino pada hewan atau albinisme adalah fenomena hilangnya pigmentasi atau pewarnaan pada kulit, rambut, mata, atau sisik hewan. Peristiwa ini bisa terjadi pada satwa ikan, reptil, amfibi, maupun mamalia.

Albinisme terdapat dua jenis, albino total dan albino sebagian. Albino total terjadi lebih jarang daripada albino sebagian, alias lebih langka. Hewan albino adalah hewan yang tidak biasa, oleh karena itu banyak orang yang dibuat kagum olehnya. Tiap kali terdapat kejadian albinisme, peneliti sangat tertarik untuk meneliti hewan tersebut.

Alby si Kukang Albino (Foto: Denny Setiawan)

Pusat rehabilitasi kami juga sempat merehabilitasi salah satu kukang albino. Ia bernama Alby si Kukang Sumatra. Mulanya Alby diselamatkan pada Agustus 2018 oleh tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah III Bandar Lampung dan IAR Indonesia dari seorang remaja di Desa Kacapi, Lampung Selatan, yang akan memperdagangkannya secara online. Untungnya ia sempat diselamatkan dan selanjutnya dirawat di Pusat Rehabilitasi kami di Bogor, Jawa Barat.

Saat ini ia sudah hidup dengan bebas di alam. Ia dilepasliarkan dua bulan kemudian pada Oktober 2018. Alby si kukang albino memang sudah hidup nyaman di alam. Namun rupanya masih terdapat satwa-satwa albino lainnya yang tidak seberuntung Alby. Fenomena perdaganagan satwa albino tidak berhenti sampai disini saja. Sebab, perlu diketahui bahwa satwa albino adalah satwa langka, sehingga mereka biasa dihargai tinggi dalam perdagangan satwa ilegal.

Alby dilepasliarkan oleh BKSDA Bandar Lampung (Foto: Reza Septian)

Beberapa peristiwa bahkan menunjukkan bahwa terdapat satwa-satwa yang dirupakan sebagai hewan albino supaya dapat laku dengan harga tinggi. Hal ini banyak terjadi pada satwa primata seperti monyet ekor panjang dan kukang. Contohnya adalah Mukti yang masuk ke pusat rehabilitasi kukang kami Februari 2021 lalu. Ia sampai di klinik kami dengan penuh luka.

Penampakan rupa dan lukanya pun tidak wajar. Ia berbulu keputihan dengan luka bakar di kulitnya. Setelah dirawat oleh tim medis kami, rupanya luka yang ada padanya dikarenakan paparan zat kimia berbahaya yang mengenai kulitnya. Karena ia berasal dari penyelamatan perdagangan liar, kami menduga bahwa ia adalah kukang biasa yang hendak di-“albino”-kan supaya dapat terjual dengan harga tinggi. Praktik ini biasa kami sebut dengan nama bleaching atau pemutihan.

Mukti terbaring di klinik pusat rehabilitasi kukang kami di Bogor, Jawa Barat (Foto: Denny Setiawan)

Sayangnya, Mukti kurang beruntung. Meski telah kami rawat di pusat rehabilitasi kami, tidak lama setelah datang ia akhirnya mati karena malnutrisi. Kami menduga bahwa perlakuan yang buruk ketika Mukti masih diperdagangkan dan penggunaan zat berbahaya membuat Mukti tidak mampu bertahan hidup lama. Hal ini menunjukkan betapa berbahayanya praktik-praktik tersebut. Tidak hanya mendapat luka, namun satwa tersebut juga beresiko keracunan, malnutrisi, dan mati. Praktik ini juga berisiko mengubah perilaku satwa akibat dirawat dalam keadaan yang buruk.

Mukti terlihat dalam kondisi kesakitan (Foto: Denny Setiawan)

Fenomena albinisme harusnya merupakan fenomena alam yang istimewa. Namun, masih banyak pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang dapat mengancam satwa-satwa ini di alam. Perlu adanya pengawasan yang ketat dalam mencegah perdagangan satwa liar  di Indonesia. Selain itu diperlukan juga penyuluhan dan penyadartahuan bagi masyarakat luas untuk tidak memelihara dan memperdagangkan satwa liar.

Tugas kita sebagai manusia seharusnya adalah menjadi pelindung bagi satwa-satwa liar ini, baik yang mengalami albinisme maupun yang normal. Dengan begitu hewan-hewan tersebut dapat hidup dengan aman di alam.

Belajar Adaptasi dengan Enrichment

Wah, adaptasi jadi kaya nih?

Hahaha…bukan.

Enrichment yang ini nggak ada hubungannya dengan menjadi kaya raya, friend. Melainkan proses di mana kami memberikan ‘wahana’ khusus agar para satwa ini bisa beradaptasi dan bebas berekspresi seperti di habitat aslinya. Singkatnya, enrichment ini merupakan satu cara untuk menstimulasikan kembali perilaku dan naluri alamiah si satwa yang lagi menjalani pemulihan di pusat rehabilitasi. Jadi di masa itu mereka diberi pembekalan sebelum dilepasliarkan kembali ke alam.

 

Emang kenapa perlu enrichment?

Pertama, jangan dibayangkan pembekalan yang dimaksud itu seperti hewan-hewan pertunjukan yang dilatih ya. Nggak gitu konsepnya. Kedua, kan kita tau nih nasib satwa yang direhabilitasi itu gimana… pastinya mereka memerlukan serangkaian proses pemulihan kondisi kesehatan dan perilakunya juga.

Ketiga, cerita jelasnya gini.

Di alam, satwa liar liar sejatinya udah dapat kebebasannya dari semesta. Bayangin aja, mereka di sana udah bebas ngelakuin apapun. Mulai dari mengekspresikan perilaku, mencari makan, bergaul, traveling ke sana ke mari, dan tentunya bebas dari perasaan stres, tekanan maupun gundah gulana.

Namun, saat mereka diburu, ditangkap, bahkan dipelihara di rumah maka semua kebebasan itu akhirnya terenggut. Jika sudah begitu, mereka memerlukan penanganan khusus (dalam hal ini upaya rehabilitasi) untuk mendapatkan perawatan serta pemulihan.

Kami ngasih pola asuhan dan perawatan yang menyeluruh ke semua satwa yang lagi dipulihin di tempat kami. Setiap hari mulai dari pemenuhan nutrisi, kesehatan, hingga aspek lainnya selama menjalani pemulihan bisa terpenuhi. Nah dari serangkaian panjangnya proses pemulihan A sampe Z itu, ada yang namanya pengayaan atau enrichment itu, friend.

 

 

Cara buatnya gimana?

Para perawat satwa kami setiap hari nyiapin berbagai macam bentuk pengayaan dan tiap-tiap jenis pengayaan itu punya tujuan masing-masing. Misal ada yang jenisnya buat merangsang mereka untuk lebih aktif, terus ada juga yang sifatnya meningkatkan insting alaminya. Perihal bikin pengayaan itu gimana, nggak sembarangan dan fa fi fu was wis wus lho. Soalnya bikinnya juga mempertimbangkan nilai-nilai ilmiah dari sejumlah penelitian.

Fyi nih, kami nggak sekadar kasih pengayaannya aja tapi juga ngamatin gimana respon mereka terhadap wahana itu. Beratus-ratus bahkan beribu-ribu ribu jam kami catat perilaku mereka, terus dihitung-hitung dengan pendekatan riset, dan hasilnya jadi salah satu penentu apakah mereka udah layak kembali ke habitatnya atau belum.

Dengan adanya fasilitas pengayaan itu, mereka dapat menyalurkan perilaku alami sebenernya. Jadi meski di dalam sanctuary nih, para satwa ini nggak diem-diem dan bengong meratapi nasibnya. Mereka bisa aktif sekaligus mengekspresikan perilakunya dengan bebas. Aslik, itu ngebantu banget buat stimulasi kemampuan perilaku mereka selama perawatan. Apalagi buat satwa yang punya kemungkinan kecil untuk bisa balik ke habitatnya 🙁

 

 

Kenapa pengayaan penting sih?

Kita harus tau bahwa tujuan akhir dari upaya rehabilitasi adalah mempersiapkan mereka untuk pulang ke habitatnya. Bukan sebaliknya seperti memperbanyak jumlah mereka selama direhabilitasi. Itu namanya penangkaran.

Terus yang perlu kalian tau, upaya pemberiaan pengayaan ini juga jadi salah satu bentuk komitmen kami memenuhi aspek kesejahteraan mereka yang udah terenggut, friend. Dan ini udah jadi prioritas kami sejak awal. Bahkan nih, nggak hanya berdasarkan prinsip-prinsip kesejahteraan, lebih dari itu kami juga udah memastikan sejauh mana aspek-aspek pendukung kesejahteraan seperti ‘bagaimana kondisi kesehatan mereka?’, ‘apakah diet dan pakan mereka bergizi?’, hingga ‘sebebas apa mereka dapat mengekspresikan perilakunya selama direhabilitasi?’ itu bisa terpenuhi. Di luar itu sebenarnya masih banyak aspek lainnya. Gils, kan! Yap pada akhirnya kerja keras ini dilakukan semata untuk memberikan kesempatan hidup kedua yang sempurna bagi mereka di habitatnya.

Kala Hidup Jakaria Untuk Kesejahteraan Kukang

Sekilas rupa, dia tampak seperti orang kebanyakan. Perawakannya sedang, dengan wajah mudah tersenyum. Sosoknya juga kerap melempar gurauan di kala senggang. Dia adalah Jakaria (38). Sejak 2009 silam, Jakaria menjadi perawat satwa dan menangani kukang-kukang yang bernasib tidak beruntung di bawah perawatan pusat rehabilitasi IAR Indonesia di Bogor, Jawa Barat. Meski tidak memiliki latar belakang sebagai seorang ahli, dedikasinya sebagai perawat kukang tak diragukan. Kemampuan yang kini ia miliki pun dimulainya dari nol.

Bagi dia, merawat kukang bukan sekadar pekerjaan biasa. Butuh nyali besar untuk memulainya. Karena konsekuensi nyata yang timbul dari pilihan itu, selain riskan tergigit kukang, bersiap tidak bisa menikmati jam tidur seperti orang pada umumnya akan menjadi rutinitas sehari-hari. Hal itu bukan tanpa dasar. Kukang merupakan primata nokturnal atau aktif di malam hari, yang menantang dirinya untuk bisa ikut menyesuaikan kehidupan kukang.

“Mulanya memang sulit untuk beradaptasi dengan jam tidur yang tidak biasa. Tapi demi misi memberikan kesejahteraan bagi kukang yang bernasib tak beruntung, apapun tantangannya perlahan dapat teratasi,” ungkapnya.

Berkat giatnya, Jakaria kini begitu piawai menangani kukang yang berada dalam masa pemulihan. Dari menyiapkan pakan, treatment kandang, mengamati perilaku hingga melakukan handling. Khusus handling, jika tak pandai, bukan tidak mungkin kukang dapat melukai tangannya dengan sekali gigitan.

“Saya sudah tidak mengingat persis berapa kali digigit kukang, tidak terhitung,” ujar dia seraya berusaha mengingat kembali momen pertamanya digigit kukang. Namun begitu, yang paling persis Jakaria iingat adalah saat efek gigitannya tidak hanya membuat tangannya terluka, tapi juga membuatnya sulit tertidur menahan nyeri.

Jakaria (kanan) saat membantu tim medis memeriksa kondisi kukang di pusat rehabilitasi IAR Indonesia.

Selama sekitar satu dekade, pria kelahiran Bogor 38 tahun silam ini menjadi perawat kukang. Dalam kurun waktu itu juga dia banyak mengenyam pelajaran dan pengalaman penting yang membuatnya menjadi seperti saat ini. Dia bahkan mengaku, perasannya dengan kukang sudah begitu terikat. Sebagian besar dari sekitar 150 individu kukang yang tengah menjalani perawatan dan pemulihan di pusat rehabilitasi, mampu ia kenali. Dari bentuk fisik, perilaku, hingga karakter tertentu pada setiap indvidu.

“Terlebih jika kukang itu sudah lama tinggal dan berada di pusat rehabilitasi, saya tahu persis karakter dan keseharian mereka,” tambah dia. Kendati begitu, selamanya tinggal di pusat rehabilitasi bukanlah harapan dirinya terhadap kukang-kukang itu. Sebab sejatinya, kukang harus hidup di tempat yang sesungguhnya. Mereka memiliki hak yang sama dengan makhluk hidup yang lain. Seperti tempat tinggal yang aman di habitat, mendapatkan pakan alami, bebas berekspresi dan melangsungkan hidup generasinya tanpa ada gangguan.

Namun kenyataan selama ini berkata lain. Sampai saat ini masih ada kukang yang masuk ke sini dengan beragam kondisi. Ada yang cukup baik, tapi tak sedikit yang memprihatinkan karena menjadi korban pedagangan ilegal atau telah lama menjadi hewan peliharaan. Karenanya butuh waktu yang relatif panjang untuk merawat dan memulihkan mereka.

Untuk itu, dia bersama timnya berusaha maksimal untuk memenuhi kebutuhan dasar dan memberikan kesejahteraan kukang-kukang selama di bawah perawatan IAR Indonesia. “Meski tak seperti hutan, tempat tinggal mereka yang menyediakan beragam kebutuhannya, saya selalu menaruh harapan penuh agar mereka dapat menikmati kebebasannya kembali setelah selesai menjalani masa pemulihan. Upaya keras ini semata hanya untuk memberikan kesempatan kehidupan kedua bagi mereka,” pungkas dia.

Apa kabar Kukang: Refleksi 10 Tahun IAR Indonesia Menyelamatkan Kukang

Tidak mudah, itu adalah kata yang tepat untuk mereflesikan bagaimana upaya penyelamatan kukang yang dilakukan oleh Yayasan IAR Indonesia selama satu dekade terakhir. Dinamika yang muncul begitu beragam dan menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi.

Sebagai pusat rehabilitasi kukang pertama di Indonesia, saat itu tidak banyak acuan dan literatur yang bisa digunakan untuk menangani perawatan kukang di pusat rehabilitasi. Namun karena itu pula, IAR Indonesia akhirnya bisa membuat sebuah standar prosedur komperehensif yang ideal untuk diterapkan oleh lembaga-lembaga lain di pusat penyelamatan satwa lainnya.

Sejak 2008, IAR Indonesia memfokuskan programnya untuk membantu merawat kukang yang menjadi korban perburuan, perdagangan dan pemeliharaan. Selama itu pula, lebih dari 3.500 individu kukang diselamatkan serta menjalani perawatan di pusat rehabilitasi yang berlokasi di Curug Nangka, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Permasalahan yang kerap terjadi pada kukang di tahun-tahun pertama itu sangat tinggi. Di mana angka perdagangannya mencapai 7.000 individu per tahun. Fakta tersebut menjadi dasar bagi lembaga konservasi dunia (IUCN) mengkategorikan status kepunahan satwa untuk meratifikasi ulang status kukang (terutama kukang jawa) menjadi Kritis (Critically Endangered), yang berarti satu tingkat di bawah punah.

Hingga kini, status tersebut masih bertahan setelah lebih dari satu dekade berlalu.

Meski data mengenai angka perdagangan kukang telah mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir yaitu sekitar 2.000 individu per tahun, namun populasi di alam tetap masih dalam ancaman dan tanda tanya besar. Berapa lagi yang masih tersisa dan sampai kapan akan bertahan. Pertanyaan ini tetap menjadi misteri karena masih minimnya penelitian di lapangan.

Penuh tantangan

Upaya yang dilakukan IAR Indonesia di awal dekade memang penuh dengan tantangan. Mulai dari fasilitas yang belum memadai, jumlah kukang yang masuk, hingga kondisi kesehatan satwa yang tak sepenuhnya baik.

Idealnya, fasilitas pusat rehabilitasi hanya mampu menampung 100 individu kukang. Kapasitas ini tak hanya dipengaruhi oleh area yang terbatas pada lahan seluas 1 hektar, akan tetapi juga dipengaruhi oleh SDM tenaga medis dan perawat satwa. Daya tampung yang ideal akan berdampak pada kesejahteraan satwa yang menjadi etika dasar dalam memperlakukan satwa.

Kasus penegakan hukum yang terjadi di tahun 2013 merupakan kasus terbesar dalam sejarah kejahatan perdagangan kukang. 238 individu kukang sumatera berhasil diselamatkan, lalu dititiprawat di pusat rehab IAR Indonesia.

Kehadiran ratusan kukang secara tiba-tiba tentu tidak dibarengi dengan ketersediaan fasilitas yang ada. Meski begitu, IAR Indonesia tetap berusaha untuk memberikan perawatan kepada seluruh kukang, dengan kata lain, tim harus bekerja ekstra untuk itu semua.

Menyembuhkan yang sakit

Di setengah dekade pertama, 70% kukang yang diterima oleh IAR Indonesia berada dalam kondisi kesehatan yang buruk. Seperti, rusaknya gigi akibat dipotong paksa, malnutrisi, infeksi kulit, cacingan dan sederet kasus kesehatan lainnya. Tidak semua kukang dengan kondisi buruk tersebut bisa bertahan lama, beberapa di antaranya seakan mampir hanya untuk berpamitan, sebelum tindakan medis sempat diberikan.

Selain gigi yang dipotong oleh pedagang, tingginya angka kasus kesehatan kukang besar dipengaruhi oleh faktor pemeliharaan. Pemberian pakan yang tidak sesuai, kebersihan kandang, hingga interaksi antara pemelihara dan satwa.

Di IAR Indonesia, proses menyembuhkan kukang harus melalui prosedur yang panjang. Semua itu dilakukan agar kukang bebas dari luka maupun penyakit yang mungkin diidap.

Untuk memastikan hal tersebut, selama dua minggu pertama di pusat rehab, kukang akan melalui proses karantina dan juga pemeriksaan. Mulai dari cek fisik, hingga cek laboratorium.

Satu individu kukang menjalani pengecekan fisik dan pemeriksaan kesehatan sebelum dilepasliarkan ke habitatnya.

Dengan menggunakan mesin x-ray, pemeriksaan fisik kukang tidak hanya sekedar kasat mata. Kondisi tulang tulang yang bengkok menjadi catatan penting bahwa kukang peliharaan tumbuh dengan perlakuan dan nutrisi buruk. Belum lagi masalah baru yang akhir-akhir ini sering ditemukan, teror senapan angin.

Dari hasil pemeriksaan fisik tersebut akan ditentukan apakah perlu dilakukan tindakan medis seperti operasi atau lolos menuju tahap berikutnya.

Pemeriksaan laboratorium juga tak kalah pentingnya. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak adanya penyakit zoonosis yang berpotensi menular kepada manusia atau satwa lainnya. Dalam hal ini uji darah dan tubercolosis harus dilakukan karena kukang peliharaan rentan terpapar penyakit.

Proses pemeriksaan kesehatan di atas hanya bagian dari keseluruhan rangkaian perawatan, yang tentunya membutuhkan biaya besar dan tak sebanding dengan angka perdagangannya.

Menyiapkan pulang ke habitat

Tidak semua kukang memiliki kesempatan untuk bisa kembali ke habitatnya. Kondisi fisik yang cacat menjadi penilaian utama dalam penentuan ini. Hal ini berkaitan dengan kemampuan kukang untuk bertahan hidup di alam liar nantinya.

Kukang-kukang tanpa gigi adalah salah satu kondisi yang rentan jika harus dilepasliarkan. Meski secara insting liar, mereka akan kesulitan untuk mempertahankan diri dari serangan predator, ataupun kukang liar di alam. Termasuk pula kemampuan mereka mencari pakan alami yang bersumber dari batang kayu keras.

Bukan itu saja, kukang yang terlalu lama dalam pemeliharaan menunjukkan perilaku abnormal yang sulit untuk dipulihkan. Perubahan perilaku satwa tersebut tentu akan menyulitkan jika ia harus dilepaskan kembali ke alam.

Mengembalikan insting liar satwa tentu tidak mudah. Perlu perlakuan-perlakuan khusus yang diberikan untuk merangsang kembali insting mereka. Oleh karena itu, pengayaan selama perawatan sangat dibutuhkan agar naluri kukang terdorong ke sifat liarnya.

Aktivitas dan perilaku kukang selama di kandang perawatan perlu dipantau dengan metode ilmiah, sehingga hasil yang didapat menjadi sebuah evaluasi dalam penentuan kelayakan pelepasliaran.

Tak ada standar yang pasti berapa lama waktu yang dibutuhkan kukang selama direhabilitasi. Ada yang cepat, ada juga yang lama. Semua itu kembali kepada kemampuan individu satwa.

Kini, ada 160 individu kukang yang menjadi bagian perawatan pusat rehab IAR Indonesia. 120 lebih di antaranya akan dirawat hingga akhir hayat. Sisanya menanti harapan terwujud untuk bisa pulang ke habitatnya dan kembali berperan bagi alam.

Perjuangan Meli Untuk Mendapatkan Kesempatan Kembali ke Alam Bebas

Masih ingat Meli, bayi kukang yang diselamatkan warga dan BKSDA Cirebon pada Desember lalu? Saat ini dia tumbuh menjadi kukang remaja yang aktif dan sehat!

Sudah hampir 4 bulan Meli menjalani proses perawatan dan pemulihan di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia. Selama itu pula Meli terus menunjukan perilaku dan perkembangan yang bagus. Bahkan, tim medis dan perawat satwa yang mengurus langsung Meli kagum melihat progress pertumbuhannya yang pesat.

“Kami senang melihat pertumbuhan Meli yang semakin membaik. Perawatan dan treatment yang kami berikan direspon dengan baik oleh kukang yatim tersebut,” ujar Indri Saptorini, dokter hewan IAR Indonesia.

Pertumbuhan Meli begitu pesat. Ia tampak aktif dan digadang akan menjadi kandidat pelepasliaran selanjutnya saat usia dia mencapai batas minimal. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia

Indri menceritakan, Meli ditemukan sendiri di kebun tanpa sang induk dengan luka di bagian punggung yang disinyalir diakibatkan terjatuh dari atas pohon. Saat pertama kali diselamatkan pada Desember silam, kondisi Meli begitu lemah dan kurus. Hal itu dikarenakan dia tidak mendapat perawatan alami dari induknya sebagaimana kehidupan bayi kukang lainnya.

Dari hasil pemeriksaan terkini, luka itu sudah sembuh dan tidak menunjukan kejanggalan yang disebabkan luka tersebut. Selain itu berat badannya juga berada di angka ideal sebagai kukang remaja,” tuturnya.

Bayi kukang lanjut Indri, umumnya akan bergantung pada induknya hingga berusia 6 bulan. Selama masa perawatan itu pula, bayi kukang akan terus bergelantung di tubuh induknya untuk bertahan hidup di bawah asuhan sang induk.

“Untuk itu kami secara rutin memberikan perawatan intensif pengganti sang induk seperti memberikan asupan protein dan vitamin, menempatkannya di tempat khusus yang hangat dan melatihnya bergerak untuk merangsang kemampuan memanjatnya,” tambah dia.

Saat ini, Meli sudah dipindahkan ke kandang khusus (enclosure) sosialisasi seperti kukang-kukang lainnya yang tengah menjalani perawatan dan pemulihan di pusat rehabilitasi. Perilaku Meli juga diobservasi setiap hari oleh perawat satwa untuk melihat perkembangannya. Upaya tersebut dilakukan agar Meli tetap aktif bergerak dan terbiasa dengan lingkungan serta keberadaan kukang lainnya.

“Tentu untuk mencapai ke tahap ini Meli sudah dipastikan benar-benar sehat sehingga tidak berpotensi menularkan penyakit ke kukang lainnya. Selama di kandang khusus itu juga Meli mulai dikenalkan dengan pakan alami seperti yang diberikan pada kukang lainnya,” lanjut Indri.

Kerja keras semua ini dilakukan demi Meli dan kukang-kukang yang bernasib tidak beruntung bisa kembali menikmati kebebasannya hidup di alam bebas. Meski tidak mudah dan harus mengeluarkan materi yang tidak sedikit, hanya itu salah satu yang dapat dilakukan untuk memberi kesempatan kedua mereka selain kita harus menjaga dan melindungi kukang tetap di habitatnya.

Sebelumnya, Resort Konservasi Wilayah XXII Cirebon Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat bersama IAR Indonesia telah menyelamatkan satu individu bayi kukang jawa (Nycitebus javanicus) yang ditemukan di kebun milik warga Desa Padabeunghar, Kecamatan Pesawahan, Cirebon, Jawa Barat, Selasa (17/12/2019).

Kepala Resort Konservasi Wilayah XXII Cirebon Slamet Priambada mengatakan, keberadaan bayi kukang yang diberi nama Meli itu pertama kali dilaporkan oleh seorang warga bernama Meliyana pada Senin (16/12). Meliyana menemukannya dalam keadaan tergeletak dengan kondisi lemah di tengah kebun tanpa ada induknya.

Pandemi Covid-19: Sebuah Pesan dari Kami

Untuk para pendukung,

Kita semua saat ini tengah mengalami krisis global akibat wabah penyakit Covid-19. Wabah yang mulai terjadi pada akhir 2019 itu sekarang telah menyebar dan menjangkit ke lebih dari 160 negara, menginfeksi ratusan ribu orang dan mengakibatkan puluhan ribu korban jiwa di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Covid-19 yang memunculkan sejumlah gejala seperti demam, batuk hingga gangguan pernapasan pada mulanya diyakini berasal dari spesies eksotis di pasar hewan dan tertular ke manusia. Namun sekarang, Covid-19 muncul sebagai penyakit infeksi pernapasan yang menyebar dengan cepat antar manusia ke manusia. Hingga pada 11 Maret 2020, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Covid-19 sebagai pandemi baru.

Efek pandemi Covid-19 baru mulai kita rasakan. Para ahli memperkirakan efek tersebut masih akan terasa hingga beberapa minggu bahkan bulan ke depan. Dengan tingkat penularan pandemi Covid-19 yang tinggi, penting bagi kita semua untuk berkontribusi mencegah risiko penularannya.

Karena itu, di tengah situasi sulit ini, kami mengajak semua dari kita untuk melakukan yang terbaik demi mengurangi risiko penularan Covid-19 dan melindungi orang-orang, terutama yang lebih penting ke bagian paling rentan dari kita yaitu orang tua serta orang-orang dengan masalah kesehatan dengan melakukan jaga jarak fisik (physical distancing), menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan.

Upaya kami

Kami mendukung upaya Pemerintah Indonesia untuk melakukan physical distancing sebagai langkah mengurangi risiko Covid-19 dengan menerapkan protokol tersebut di lingkup kerja kami, termasuk di beberapa camp-camp monitoring. Di samping itu, kami juga telah meminimalisir beberapa kegiatan yang bersifat interaksi langsung seperti pengembangan kapasitas di masyarakat dan penyuluhan wawasan terhadap lingkungan.

Tetapi di tengah situasi seperti ini, beberapa tim yang bertugas langsung dengan satwa di bawah perawatan kami, seperti orangutan, kukang dan monyet harus tetap berjaga seperti biasa. Para perawat satwa dan tim medis, tetap memberikan perawatan terbaik untuk semua primata korban perdagangan – pemeliharaan ilegal atau kehilangan habitat karena kerusakan hutan yang tengah menjalani pemulihan di fasilitas rehabilitasi kami.

Kendati begitu, semuanya sudah kami persiapkan dan mengantisipasinya dengan peningkatan kewaspadaan terhadap aspek kesehatan dan keselamatan melalui sejumlah protokol untuk tetap melindungi kesehatan para tim dan satwa kami. Sebelum pandemi Covid-19 merebak, kami telah menerapkan standar prosedur perawatan satwa yang ketat demi kesinambungan kesehatan antara satwa dan manusia. Karena kami menyadari potensi dan risiko kehadiran virus apapun dapat terjadi pada waktu yang tidak bisa diprediksi.

Sangat mengkhawatirkan bagi kami bahwa primata seperti orangutan, kukang, dan monyet juga memiliki potensi terpapar Covid-19. Meski belum ada penelitian yang cukup untuk memahami dampak potensial dari virus ini pada primata lain, kami sudah mengambil semua tindakan darurat pencegahan untuk memastikan bahwa mereka yang berada di bawah perawatan kami tetap aman dari virus ini.

Itu semua merupakan prioritas kami untuk melindungi kesehatan dan kehidupan para primata yang tengah menjalani pemulihan di pusat rehabilitasi. Saat ini kami telah memperketat semua standar prosedur keamanan hayati dan biosafety dengan meminimalisir kontak satwa, penyemprotan desinfektan, dan secara berkala memastikan semuanya yang bekerja dengan para satwa tetap dalam kondisi sehat.

Tak kalah penting, kami telah merampungkan dan mengembangkan modul Pengkajian dan Manajemen Risiko Penyakit (Disease Risk Assessment and Management), beserta strategi kesiapsiagaan seandainya virus akan ditransmisikan ke primata mana pun di bawah perawatan kami. Dalam masa-masa sulit seperti saat ini, penting bagi kita semua untuk bekerja sama mengurangi risiko dan dampak pandemi Covid-19.

Harapan untuk kita semua

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa zoonosis atau penularan penyakit dari hewan ke manusia (juga sebaliknya) menjadi ancaman nyata bagi kita. Risiko zoonosis yang memunculkan wabah global serupa juga telah berulang kali terjadi di dunia seperti SARS, MERS, Ebola, Zika dan Avian Influenza. Tetapi itu semua hanya bisa terjadi ketika satwa liar ditangkap, diburu, diperdagangkan, disimpan sebagai hewan peliharaan, dan dikonsumsi. Ketika mereka tetap berada di habitatnya dan tidak memiliki kontak dengan manusia, tidak akan ada risiko penularan zoonosis dan pandemi yang terjadi.

Tentu, kita tidak ingin mendapati peristiwa yang sama terulang di masa depan. Jika kita ingin menghindari hal tersebut, biarkan mereka tetap berada di habitatnya. Lakukan pencegahan aktivitas yang mendukung rantai perdagangan satwa seperti memburu dan menangkap satwa liar, membeli di pasar ilegal dan memeliharanya sebagai hewan peliharaan, hingga mengonsumsi daging mereka. Dengan mengubah pola hidup menjadi seperti itu, masa depan tanpa wabah pandemi dapat diwujudkan.

Kami berharap kepada para pendukung untuk mengikuti arahan dan rekomendasi yang diberikan Pemerintah Indonesia dalam upaya mengurangi risiko penularan Covid-19. Semoga dengan menerapkan ketaatan, kita semua tetap dalam kondisi sehat dan melewati situsi krisis ini. Tak kalah lebih penting, perlengkapan pendukung seperti masker, alkohol, sarung tangan, dan pembersih tangan yang menjadi kebutuhan standasar operasional perawatan satwa kami agar segera mudah didapat.

Dari tempat kami, kami juga berpesan untuk terus mendukung upaya perlindungan habitat dan keberlangsungan hidup satwa liar agar tidak terulang wabah atau pandemi serupa di masa depan.

#StaySafe #DiRumahAja

Salam hangat,

Karmele L. Sanchez
Direktur Program IAR Indonesia