Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Yuk, Kenali 3 Primata Endemik Pulau Jawa!
Halo Sobat #KonservasYIARI!
Satwa endemik merupakan satwa yang hidup atau mendiami wilayah tertentu secara alami dan tidak ditemukan di wilayah lain. Keberadaan satwa endemik memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Namanya juga satwa endemik ya Sobat! Jika satwa ini punah, sudah pasti tidak ada lagi spesies yang bisa menggantikan perannya. Dan dipastikan ekosistem akan kehilangan keseimbangan.
Primata berperan membantu pepohonan di hutan dalam proses berkembang biak sebagai penebar bebijian dan juga pengatur pertumbuhan pepohonan di hutan.
Primata endemik dapat kita temui di berbagai hutan Indonesia, salah satunya hutan di Pulau Jawa. Namun sayangnya banyak masyarakat Indonesia bahkan di Pulau Jawa yang belum mengetahui keberadaan primata endemik tersebut.
Oleh sebab itu yuk kita kenali 3 primata endemik Pulau Jawa!
1. Owa Jawa
Owa jawa termasuk kedalam kelompok kera kecil yang mendiami hutan di Pulau Jawa, mulai dari Jawa Barat hingga sebagian Jawa Tengah.
Owa jawa memiliki rambut berwarna abu-abu dengan lengan yang lebih panjang dari ukuran tubuh dan kakinya. Owa jawa yang memiliki nama latin Hylobates moloch ini sangat menyukai aktivitas berayun di pohon (brankiasi).
Hylobates moloch (Rob Banks, all rights reserved / iNaturalist)
Hal unik lainnya owa jawa merupakan primata yang setia dan hidup berkelompok kecil. Owa jawa memiliki suara yang khas dimana salah satu fungsinya untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya. Bahkan suaranya seperti penyanyi sopran lho! 😮
Menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) keberadaan owa jawa kini terancam punah (endangered). Hal ini disebabkan karena banyaknya yang menjadikan owa jawa sebagai peliharaan dan perdagangan satwa.
2. Kukang Jawa
Kukang jawa yang memiliki nama latin Nycticebus javanicus ini merupakan primata nokturnal. Masyarakat mengganggap kukang sebagai primata yang lucu dan menggemaskan, padahal kukang memiliki bisa yang dapat menyebabkan demam dan pembengkakkan pada tubuh manusia.
Kukang jawa memiliki garis cokelat melintang pada punggungnya dan lingkaran cokelat berbentuk berlian di sekitar matanya. Kukang jawa merupakan primata endemik Pulau Jawa yang sebarannya berada di Jawa Barat hingga Jawa Tengah.
Nycticebus javanicus (Carlos N. G. Bocos, all rights reserved / iNaturalist)
Menurut IUCN kukang jawa memiliki status konservasi kritis di alam (criticallyendangered). Selain perdagangan dan pemeliharaan masih banyak mitos di masyarakat yang percaya dengan khasiat dengan memakan daging kukang bahkan minyak kukang. Padahal Sobat, belum ada penelitian yang membuktikan akan khasiat tersebut!
3. Lutung Jawa
Lutung jawa atau lebih dikenal dengan sebutan lutung budeng merupakan jenis lutung dengan rambut berwarna hitam pekat. Namun Sobat, bayi lutung jawa memiliki warna rambut kuning keemasan yang berangsur-angsur akan berubah menjadi hitam. Menurut IUCN, lutung jawa memiliki status konservasi rentan (vulnerable).
Satwa dari keluarga Cercopithecidae yang memiliki nama latin Trachypithecus auratus yang terpecah menjadi dua sub-spesies berdasarkan wilayah persebarannya, yaitu Trachypithecus auratus auratus dan Trachypithecus auratus mauritius.
Trachypithecus auratus auratus adalah subspesies lutung yang hidup di daerah Jawa Timur, Bali, Lombok, P. Sempu, dan Nusa Barung.
Berbeda halnya dengan Trachypithecus auratus mauritius yang merupakan sub-spesies lutung jawa yang merupakan satwa endemik Pulau Jawa dalam jumlah yang cukup terbatas seperti di Jawa Barat dan Banten.
Trachypithecus auratus mauritius (m choi azis, all rights reserved / iNaturalist)
Ohiya Sobat! Lutung dianggap satwa yang menyeramkan dan menurut cerita rakyat dari Sunda, lutung merupakan kutukan dari perwujudan seorang pangeran. Yup benar sekali! Cerita rakyat ‘Lutung Kasarung’. Lutung kasarung digambarkan sebagai makhluk buruk rupa.
Sobat! Dari ketiga jenis primata endemik Pulau Jawa di atas semua memiliki status konservasi yang mengkhawatirkan. Sebagai masyarakat Indonesia kita harus turut serta dalam menjaga keberlangsungan habitat ataupun primata endemik tersebut.
Primata endemik memiliki peran yang sangat penting bagi ekosistem. Bayangkan Sobat jika primata endemik punah? Apakah Sobat bisa menggantikan perannya? Jangan sampai kelak generasi muda Indonesia hanya mengenal sebatas nama saja tanpa melihat langsung primata endemik tersebut hidup di alam liar.
Featured image: Hutan Halimun salah satu habitat owa jawa (Ade javanese / CC BY-SA 4.0 DEED)
Elif Ivana Hendastari
Mikroplastik, si Kecil yang Memberikan Dampak Besar
Halo Sobat #KonservasYIARI!
Tahukan Sobat pada awalnya plastik diciptakan sebagai pengganti akan penggunaan paper bag. Seiring berjalannya waktu, plastik diproduksi secara massal dan sekarang ini menjadi ancaman bagi kehidupan. Sekarang ini plastik dapat ditemukan diseluruh segmen kehidupan di bumi, mulai dari barang-barang rumah tangga, kosmetik, bahkan di dalam tubuh kita. Lho kok bisa ya plastik ada di tubuh kita?
Plastik memiliki sifat yang elastis, murah, fleksibel, dan tidak bisa terurai. Plastik yang sudah tidak terpakai akan menjadi sampah plastik. Sampah plastik dengan ukuran besar yang tidak diolah atau bahkan berkeliaran di lingkungan dapat menjadi ukuran yang sangat kecil.
Saking kecilnya, kita tidak bisa melihat dengan mata saja, Sobat bisa menyebutnya dengan mikroplastik. Mikroplastik merupakan sampah plastik dengan ukuran kurang dari atau sama dengan 5 milimeter. Sudah banyak Sobat penelitian yang membuktikan keberadaan mikroplastik ini. Mikroplastik dapat masuk ke dalam rantai makanan melalui makanan seperti ikan, kerang, dan sayur serta buah yang telah terkontaminasi mikroplastik dan berakhir pada tubuh kita.
Sampah plastik yang menumpuk (CC0 1.0 DEED)
Penelitian dipublikasikan di jurnal Science of the Total Environment dengan judul Detection of microplastics in human lung tissue using μFTIR spectroscopy (Deteksi mikroplastik pada jaringan paru-paru manusia menggunakan spektroskopi μFTIR) menemukan mikroplastik pada jaringan paru-paru manusia.
Buku yang berjudul Rekam Jejak Mikroplastik yang baru-baru ini dipublikasi oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) merangkum seluruh penelitian mengenai mikroplastik dan ditemukan bahwa mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan.
Mikroplastik masuk ke dalam rantai makanan (Referensi : Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat)
Seperti penurunan IQ, penyakit paru-paru, penuruan metabolisme tubuh, gagal ginjal, memicu gangguan hormon, gangguan saraf, dan menyebarkan bakteri infeksikus.
Lantas bagaimana ya Sobat agar kita bisa membantu untuk menahan serta menyuarakan polusi sampah plastik dan mikroplastik agar tidak semakin besar?
Tentunya dengan cara yang mudah dan skala kecil yaitu melakukan Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) terhadap sampah rumah tangga. Dan memulai melakukan pengolahan sampah mandiri di rumah masing-masing.
Ohiya Sobat, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) turut serta juga dalam menyuarakan isu polusi plastik dengan kegiatan pemberdayaan, sosialisasi, ataupun edukasi kepada komunitas dan kelompok masyarakat. Selain itu YIARI menerapkan konsep 3R dalam pelaksanaan kegiatannya.
Memperingati Hari Bumi 2022, YIARI melaksanakan kegiatan bersih-bersih dengan mengajak masyarakat sekitar (Rudiansyah | YIARI)
Tahun lalu, tepatnya pada bulan April 2022 dalam rangka memperingati Hari Bumi YIARI melaksanakan dua kegiatan yang dilakukan secara serentak di Kalimantan Barat.
Kegiatan ini dirancang dengan konsep 3R, konsep 3R dalam kegiatan ini diwujudkan dengan mengurangi (reduce) penggunaan plastik sekali pakai dengan mengarahkan peserta dan pengunjung untuk membawa tempat makan dan botol minum sendiri. Mendaur ulang sampah plastik (recycle) dengan membuat bungkus kerajinan dari bungkus kemasan bekerjasama dengan Bagian Pengelolaan Sampah dan Limbah Berbahaya Dinas Perkim-LH untuk kemudian dipamerkan. Terakhir, YIARI mewujudkan konsep penggunaan kembali (reuse) barang bekas dengan menampilkan perkusi yang menggunakan barang bekas sebagai instrumen musiknya.
Memperingati Hari Bumi 2022 YIARI menampilkan perkusi menggunakan barang bekas (Rudiansyah | YIARI)
Di tahun ini tepatnya bulan Juli 2023 dalam rangka memperingati Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia YIARI mengadakan diskusi santai berkolaborasi dengan komunitas penggiat alam di Gunung Tanggamus, Lampung.
YIARI Memperingati Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia 2023 bersama komunitas di Gunung Tanggamus, Lampung (Tim Edukasi | YIARI)
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada para komunitas pegiat alam mengenai isu polusi plastik dan mikroplastik. Konsep kegiatan yang sangat seru dan menyenangkan, bersama peserta melakukan pendakian menuju campsite di atas Gunung Tanggamus. Para peserta diajak untuk berdiskusi dan berlomba untuk mengumpulkan sampah di sepanjang jalur pendakian. Total sampah anorganik yang dikumpulkan seberat 51,5 kg! Luar biasa ya Sobat! Tidak lupa juga YIARI dan peserta menanam pohon di sekitar campsite.
Menimbang sampah yang berhasil dikumpulkan oleh peserta (Tim Edukasi | YIARI)
Begitulah Sobat hal-hal yang bisa kita jadikan contoh untuk melakukan gerakan dalam mengurangi sampah plastik dan menyuarakan isu mikroplastik.
Sampah plastik atau mikroplastik merupakan bom waktu yang saat ini mengancam kehidupan bumi baik itu manusia maupun satwa liar. Jangan takut untuk melakukan gerakan atau hal kecil dalam mendukung upaya pengurangan penggunaan plastik.
Dalam menangani permasalahan sampah plastik dibutuhkan peran seluruh pihak bahkan dibutuhkan peran dari Sobat!
Ingat, sekecil apapun gerakan yang Sobat lakukan, yakinlah akan memberikan dampak yang besar, sama seperti mikroplastik.
Featured image: Mikroplastik pada sedimen pantai pengamatan menggunakan mikroskop stereo | Elif Ivana Hendastari
Elif Ivana Hendastari
Mengenal Ragam Ekosistem Satwa Liar di Indonesia
Halo Sobat #KonservasYIARI!
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Selain itu Indonesia kaya akan ragam ekosistem satwa liar mulai dari daratan hingga perairan.
Keanekaragaman ekosistem di Indonesia beriringan pula dengan beragamnya habitat satwa liar. Satwa liar menempati relung habitatnya masing-masing, hal ini disebabkan karena berbagai faktor seperti kebutuhan akan pakan dan perilaku.
Seperti owa yang merupakan primata arboreal dimana banyak menghabiskan hidupnya di atas tajuk-tajuk pepohonan hutan belantara. Berbeda dengan komodo si satwa purba dan endemik yang hanya ditemukan di padang rumput sabana Nusa Tenggara Timur.
Ohiya Sobat, di dalam suatu ekosistem serangkaian interaksi dapat terjadi baik antar spesies (biotik) ataupun bagian alam yang tidak hidup (abiotik).
Oleh sebab itu, yuk kita simak ragam ekosistem satwa liar yang ada di Indonesia!
1. Ekosistem Darat
Ekosistem darat atau terestrial di Indonesia meliputi ekosistem padang rumput sabana dan hutan hujan tropis.
Ekosistem padang rumput sabana didominasi oleh rumput dan semak-semak, biasanya ditumbuhi oleh pohon-pohon berjenis pendek. Ekosistem ini umumnya berada di wilayah pulau kecil atau dekat pesisir.
Ekosistem padang rumput sabana di Indonesia berada di Taman Nasional (TN) Ujung Kulon , TN Baluran, dan TN Komodo.
Sabana Taman Nasional Baluran (EkoKintokoKusumo / CC BY-SA 4.0 DEED)
Sabana merupakan habitat bagi mamalia seperti banteng (Bos javanicus), rusa timor (Cervus timorensis), dan kerbau liar (Bubalus bubalis). Satwa tersebut membutuhkan habitat yang kaya akan rerumputan.
Sabana Taman Nasional Komodo (Mufidqa91 | CC BY-SA 4.0 DEED)
Sabana TN Komodo merupakan satu-satunya sabana di Indonesia yang menjadi habitat bagi satwa purba komodo (Varanus komodoensis).
Sobat pasti tahukan komodo merupakan satwa dilindungi? bahkan TN Komodo ditetapkan sebagai warisan dunia lho! Kehadiran rumput dan semak di Sabana TN Komodo menjadi penting bagi pakan komodo salah satunya adalah rusa.
Selanjutnya nih ada ekosistem hutan hujan tropis Sobat!
Kondisi Sungai di Gunung Lumut, Kalimantan Timur, Indonesia (Jan van der Ploeg | CC BY-NC-ND 2.0 DEED)
Letak geografis Indonesia yang berada pada garis khatulistiwa menyebabkan Indonesia memiliki iklim tropis. Jadi tidak salah ya Sobat jika Indonesia didominasi oleh ekosistem hutan hujan tropis.
Salah satu hutan hujan tropis di Indonesia berada di TN Tanjung Puting. TN Tanjung Puting menjadi habitat bagi kera besar asia yaitu orangutan.
Orangutan kalimantan di Taman Nasional Tanjung Puting (Rezky Putri Harisanti | CC BY-SA 4.0 DEED)
Orangutan membutuhkan pohon-pohon besar dan tinggi untuk membuat sarang yang tentunya tersedia di hutan. Hutan menyediakan pakan alami bagi orangutan yang sangat melimpah ruah. Selain itu orangutan membantu hutan sebagai petani hutan untuk menyebarkan biji-bijian.
Keberadaan ekosistem hutan hujan tropis juga penting bagi kehidupan manusia. Hutan sebagai daerah resapan dan penyedia sumber air bagi kehidupan manusia. Bahkan hutan merupakan tempat bagi masyarakat adat atau rimba untuk tinggal dan menetap.
Masyarakat Utik dan Hutan Adat Mereka (Hendrojkson | CC BY-SA 2.0 DEED)
Selain itu hutan menyediakan kekayaan alam yang dibutuhkan bagi manusia seperti kayu. Dan tentunya hutan berperan dalam mengatur iklim dunia lho Sobat! Ternyata hutan memiliki peran yang sangat penting ya.
2. Ekosistem Perairan
Ekosistem perairan atau aquatik di Indonesia tentu beranekaragam juga nih Sobat! Seperti ekosistem sungai dan laut.
Ekosistem sungai merupakan ekosistem perairan yang menghubungkan daratan dengan lautan serta dekat sekali dengan kehidupan manusia. Bahkan manusia juga menjadikan sungai sebagai sumber air, sarana transportasi, dan aktivitas sehari-hari. Namun siapa sangka, sungai merupakan habitat bagi satwa juga!
Sungai Mahakam, Kalimantan Timur (Herusutimbul | CC BY-SA 4.0 DEED)
Banyak satwa liar seperti ikan, reptil, serangga bahkan mamalia yang menjadikan sungai sebagai habitat. Banyak spesies katak membutuhkan sungai atau perairan sebagai tempat berkembang biak dan nursery.
Salah satu sungai di Indonesia yang menjadi habitat bagi si lumba-lumba air tawar adalah Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Sungai Mahakam menjadi habitat bagi pesut mahakam (Orcaella brevirostris).
Pesut mahakam (suebsa, some rights reserved | CC-BY-NC | iNaturalist)
Keberadaan pesut mahakam berperan sebagai indikator bagi kualitas lingkungan. Pesut mahakam akan mendiami daerah perairan dengan kedalaman yang sesuai untuknya, bila keberadaan pesut mahakam tidak dapat ditemukan di perairan tersebut, maka menandakan perairan tersebut telah mengalami pendangkalan.
Selain itu pesut mahakam dapat berguna bagi nelayan dalam menentukan lokasi dan waktu untuk mencari ikan.
Pesut mahakam kini terancam punah akibat banyaknya pencemaran air dan aktivitas manusia, pesut mahakam sering sekali terjebak jaring nelayan.
Ekosistem perairan lainnya adalah ekosistem laut, Indonesia memiliki luas lautan yang lebih luas dibanding dengan daratan. Tidak salah jika Indonesia dijuluki sebagai negara maritim ya Sobat!
Taman Laut Raja Ampat, Papua (Sfw_2503 | CC BY-SA 4.0 DEED)
Ekosistem laut tentu sangat beragam juga, mulai dari pesisir hingga laut dalam. Banyak satwa liar yang hidup di lautan, bahkan lautan pun tidak memiliki batas yang nyata. Sehingga banyak satwa liar di lautan yang melakukan migrasi.
Pemandangan bawah laut di Distrik Misool, Raja Ampat (Fakhrizal Setiawan`| CC BY-SA 4.0 DEED)
Ekosistem laut di Indonesia yang terkenal akan keindahan bawah lautnya adalah Taman Nasional Laut (TNL) Raja Ampat. TNL Raja Ampat berada di pusat coral triangle yang menyebabkan banyaknya spesies karang hidup disana.
Pari manta (CC0 1.0 DEED)
Selain itu di TNL Raja Ampat Sobat juga bisa menemukan ikan pari manta besar (Mobula birostris).
Bagaimana Sobat? Bukankah sangat luar biasa kaya ya Indonesia ini, mulai dari ekosistem hingga satwa liar. Mulai dari wilayah hutan hingga laut lepas. Seluruh kekayaan alam tersebut saling berinteraksi bahkan manusia pun ikut terlibat didalamnya dan membutuhkan kekayaan alam tersebut pula.
Dalam memperingati hari habitat dan satwa liar yang jatuh pada Oktober 2023, yuk sama-sama kita berpikir dan merenung kembali, apakah kita sudah turut serta menjaga kekayaan alam ini? Atau justru menjadi perusak?