Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Agribisnis adalah: Pengertian, Manfaat, Ruang Lingkup, dan Contoh
Di balik sepiring nasi dan sayur yang kita nikmati setiap hari, ada serangkaian proses panjang yang melibatkan lebih dari sekadar petani di sawah.
Dunia pertanian bukan lagi soal mencangkul dan memanen, namun telah berkembang menjadi sistem bisnis yang kompleks dan menjanjikan. Inilah yang disebut sebagai agribisnis.
Jadi, apa sebenarnya agribisnis itu? Dan mengapa semakin banyak orang meliriknya sebagai ladang cuan masa depan?
Langsung saja kita kupas!
Apa Itu Agribisnis?
Agribisnis adalah kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan produksi, pengelolaan, dan pemasaran produk pertanian dalam konteks bisnis.
Istilah ini mencerminkan pendekatan komersial terhadap sektor pertanian, di mana hasil pertanian diproduksi untuk kebutuhan sendiri, sekaligus dijual dan memberi keuntungan secara ekonomi.
Agribisnis mencakup cara berpikir dan bertindak yang menempatkan pertanian sebagai bagian dari sistem usaha, bukan sekadar aktivitas budidaya.
Artinya, setiap proses, mulai dari perencanaan produksi, pengelolaan sumber daya, hingga distribusi hasil, dilakukan secara efisien, terorganisasi, dan berorientasi pada pasar. Agribisnis menekankan pertanian bukan hanya soal menanam dan memanen, tapi juga melibatkan strategi, manajemen, dan nilai tambah ekonomi di dalamnya.
Apa Saja Manfaat Agribisnis?
Dua orang petani sedang memanen cabai/Sumber: Pixabay
Berikut berbagai manfaat agribisnis yang berdampak luas bagi masyarakat, perekonomian, dan lingkungan:
Meningkatkan pendapatan petani: hasil panen bisa diolah menjadi produk bernilai tambah, misalnya singkong jadi keripik atau pisang jadi sale. Dengan begitu, petani mendapat keuntungan lebih besar.
Menciptakan lapangan kerja baru: dari penyediaan bibit hingga distribusi produk, agribisnis menyerap banyak tenaga kerja. Hal ini membantu mengurangi pengangguran, terutama di pedesaan.
Menjaga ketahanan pangan: sistem agribisnis yang terkelola baik memastikan pangan tetap tersedia dan terdistribusi merata. Ini penting untuk mencegah krisis pangan.
Mendorong inovasi teknologi: teknologi seperti drone, aplikasi digital, dan irigasi otomatis membuat pertanian lebih efisien. Hasil panen pun menjadi lebih berkualitas.
Meningkatkan nilai tambah produk: produk segar dapat diolah menjadi makanan atau minuman olahan. Nilai jualnya lebih tinggi dan berpeluang masuk pasar ekspor.
Membangun kemandirian ekonomi desa: usaha agribisnis lokal memperkuat perekonomian desa. Dengan begitu, masyarakat tidak terlalu bergantung pada kota.
Mengurangi kerugian pascapanen: hasil panen yang tidak laku bisa diolah kembali, misalnya menjadi pupuk atau makanan olahan. Ini mengurangi kerugian sekaligus limbah.
Memperkuat posisi tawar petani: petani mendapat akses pasar lebih luas dan bisa membangun merek sendiri. Hal ini membuat mereka tidak bergantung pada tengkulak.
Perkembangan agribisnis tidak terjadi begitu saja. Ada berbagai faktor yang menjadi pendorong sehingga sektor ini terus tumbuh dan semakin penting bagi perekonomian. Beberapa di antaranya adalah:
Kebutuhan pangan yang terus meningkat: pertumbuhan penduduk membuat permintaan pangan semakin besar. Agribisnis hadir untuk memastikan ketersediaan makanan cukup dan terdistribusi dengan baik.
Perkembangan teknologi pertanian: inovasi seperti mesin modern, aplikasi digital, hingga sistem irigasi pintar membuat produksi pertanian lebih efisien dan hasilnya lebih optimal.
Dukungan pemerintah dan kebijakan: program subsidi pupuk, pelatihan petani, serta akses pembiayaan menjadi dorongan kuat bagi pengembangan agribisnis di berbagai daerah.
Akses pasar yang lebih luas: kemajuan transportasi dan perdagangan digital membuka peluang baru. Produk lokal kini bisa dipasarkan tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga ke pasar internasional.
Kesadaran konsumen terhadap produk berkualitas: masyarakat semakin peduli pada produk sehat, organik, dan ramah lingkungan. Tren ini mendorong pelaku agribisnis untuk menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar modern.
Potensi sumber daya alam Indonesia: lahan yang subur, iklim tropis, dan keanekaragaman hayati menjadikan Indonesia sangat potensial untuk mengembangkan berbagai jenis agribisnis.
Ruang Lingkup Agribisnis
Dua orang petani sedang menanam tanaman sayur di ladang/Sumber: Unsplash
Secara umum, ruang lingkup agribisnis dapat dibagi menjadi empat sektor utama, yaitu:
1. Subsektor Hulu (Upstream)
Upstream mencakup segala kegiatan yang berhubungan dengan penyediaan sarana produksi, seperti benih unggul, pupuk, pestisida, pakan ternak, alat dan mesin pertanian. Perusahaan atau pelaku usaha di tahap ini menjadi penyuplai kebutuhan dasar bagi petani dan peternak.
2. Kegiatan Budidaya (On-Farm)
Tahap ini adalah inti dari agribisnis, yaitu proses produksi itu sendiri—baik berupa tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, maupun peternakan. Di sinilah petani dan peternak melakukan aktivitas utama mereka.
3. Subsektor Hilir (Downstream)
Bagian ini berkaitan dengan pengolahan hasil pertanian dan peternakan, seperti industri makanan, minuman, atau bioenergi. Produk mentah diolah menjadi produk bernilai tambah agar siap dipasarkan ke konsumen.
4. Pemasaran dan Distribusi
Tidak kalah penting, agribisnis juga mencakup proses pengemasan, distribusi, hingga strategi pemasaran produk. Di era digital saat ini, pemasaran agribisnis bahkan sudah merambah e-commerce dan platform media sosial.
Berikut beberapa contoh usaha agribisnis yang bisa dijalankan oleh individu maupun kelompok, dari skala kecil hingga besar:
Berikut ini beberapa contoh usaha agribisnis yang bisa dijalankan oleh individu maupun kelompok, dari skala kecil hingga besar:
Budidaya sayuran organik: usaha ini cocok untuk pasar modern yang peduli kesehatan. Bisa dimulai dari lahan kecil menggunakan sistem hidroponik atau vertikultur.
Peternakan ayam petelur: menghasilkan telur sebagai produk utama. Pasarnya luas, mulai dari rumah tangga, restoran, hingga industri makanan.
Perkebunan kopi: Indonesia adalah salah satu negara penghasil kopi terbaik dunia. Usaha ini bisa dijalankan di daerah dataran tinggi.
Pengolahan hasil pertanian (UMKM): contohnya membuat keripik pisang, dodol mangga, atau jus instan dari jahe. Produk olahan punya nilai jual lebih tinggi.
Pembibitan tanaman hortikultura: menjual bibit unggul seperti cabai, tomat, atau terong. Cocok untuk petani pemula yang belum ingin langsung ke tahap budidaya.
Usaha pakan ternak: menyediakan pakan berkualitas untuk ayam, sapi, atau ikan. Kebutuhannya stabil dan sangat dibutuhkan oleh peternak.
Akuakultur (budidaya ikan lele/nila): bisa dilakukan di kolam terpal, cocok untuk lahan sempit. Pasar ikan konsumsi selalu ada, baik untuk rumah tangga maupun restoran.
Distribusi dan pemasaran produk pertanian: menjadi perantara antara petani dan konsumen akhir, baik secara offline maupun lewat platform digital seperti marketplace agribisnis.
Penyedia alat dan mesin pertanian (alsintan): menjual atau menyewakan traktor, mesin panen, alat semprot, dan lainnya. Sangat dibutuhkan, terutama di daerah sentra pertanian.
Pembuatan pupuk organik: usaha ramah lingkungan yang memanfaatkan limbah pertanian dan peternakan. Produk pupuk organik makin dicari untuk pertanian sehat.
Agribisnis sebagai Pilar Perekonomian
Kehadiran agribisnis memberikan manfaat besar bagi petani, masyarakat, dan perekonomian, sekaligus membuka peluang inovasi di sektor pertanian modern.
Dengan dukungan teknologi, kebijakan yang tepat, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia, agribisnis dapat menjadi pilar utama dalam mewujudkan ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi bangsa.
Oleh sebab itu, yuk mulai menghargai produk lokal, mendukung petani kecil, serta memilih produk pertanian yang ramah lingkungan. Langkah sederhana ini akan memberi dampak besar bagi masa depan pertanian dan keberlanjutan pangan kita!
Featured image:Seseorang sedang memegang buah tomat hasil panen/Sumber: Pixabay
Lahan Gambut dan Fungsinya bagi Lingkungan, Ini Jenis dan Ciri-ciri yang Harus Diketahui
Pernahkah kamu berpijak di atas tanah yang terasa lembut, basah, bahkan sedikit bergoyang? Jika iya, kemungkinan besar kamu sedang berada di lahan gambut!
Lahan ini bukan sekadar tanah basah biasa, tetapi merupakan ekosistem yang kaya akan bahan organik dan memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
Dari menyimpan karbon dalam jumlah besar hingga menjadi rumah bagi spesies langka, lahan gambut menyimpan banyak fakta menarik yang jarang diketahui. Namun, di balik manfaatnya yang luar biasa, ekosistem ini juga menghadapi ancaman serius akibat aktivitas manusia.
Mari kita telusuri lebih dalam tentang apa itu lahan gambut, bagaimana proses terbentuknya, serta mengapa pelestariannya sangat penting bagi kehidupan kita!
Pengertian Lahan Gambut
Menurut Wetlands International, lahan gambut adalah jenis lahan basah yang memiliki lapisan tanah berair dan tersusun dari bahan tanaman mati yang mengalami proses pembusukan secara perlahan.
Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan lahan gambut sebagai lahan yang terbentuk dari serasah, sisa tanaman basah, atau genangan air yang membusuk serta mengalami proses penguraian yang berlangsung sangat lambat.
Lahan gambut terbentuk melalui akumulasi bahan organik yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang membusuk selama ribuan tahun. Proses ini terjadi di lingkungan yang tergenang air, seperti rawa, cekungan sungai, dan kawasan pesisir.
Menurut buku Creating and Restoring Wetlands (Second Edition) karya Christopher Craft (2022), lahan gambut dapat terbentuk dari berbagai jenis vegetasi, termasuk lumut gambut (Sphagnum), tumbuhan herba, serta vegetasi berkayu.
Karena terbentuk di lingkungan yang minim oksigen (anaerob), bahan organik di dalam gambut tidak terdekomposisi secara sempurna. Proses dekomposisi yang berlangsung sangat lambat menyebabkan akumulasi bahan organik dalam jumlah besar, sehingga membentuk lapisan gambut yang tebal.
Jenis-jenis Lahan Gambut
Lahan gambut diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis beradasarkan lokasi, lingkungan pembentukan, kematangan, kesuburan, dan kedalamannya.
Jenis gambut berdasarkan lokasinya
1. Gambut pantai
Gambut pantai terbentuk di sekitar kawasan pesisir dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Jenis gambut ini mendapatkan tambahan mineral dari air laut, sehingga memiliki karakteristik unik dibandingkan dengan jenis gambut lainnya. Vegetasi yang dominan di kawasan ini adalah hutan mangrove.
2. Gambut pedalaman
Gambut pedalaman terbentuk jauh dari garis pantai dan hanya dipengaruhi oleh air hujan. Berbeda dengan gambut pantai, jenis ini tidak menerima pengayaan mineral dari laut. Vegetasi yang tumbuh di gambut pedalaman didominasi oleh hutan kayu berdaun lebar.
3. Gambut transisi
Sesuai namanya, gambut transisi terbentuk di antara wilayah pantai dan pedalaman. Jenis ini memiliki karakteristik yang merupakan perpaduan antara gambut pantai dan gambut pedalaman, baik dalam hal komposisi tanah maupun vegetasi yang tumbuh di atasnya.
Lahan Gambut (Pexels.com/Lauri Poldre)
Jenis gambut berdasarkan lingkungan pembentukannya
1. Gambut topogen
Gambut topogen terbentuk di daerah cekungan atau danau yang berada tepat di atas tanah mineral. Proses pembentukannya dipengaruhi oleh limpasan air sungai dan pasang surut air laut.
2. Gambut ombrogen
Berbeda dengan gambut topogen, gambut ombrogen terbentuk terutama karena curah hujan tanpa pengaruh signifikan dari air sungai atau air laut. Jenis gambut ini umumnya ditemukan di wilayah yang tidak jauh dari pantai.
Jenis gambut berdasarkan tingkat kematangannya
1. Gambut saprik
Gambut saprik merupakan jenis gambut yang paling matang. Bahan organik di dalamnya telah mengalami pelapukan sempurna sehingga asal-usulnya sulit dikenali. Warna gambut ini bervariasi dari cokelat tua, kelabu, hingga hitam. Secara tekstur, gambut saprik lebih halus dibandingkan jenis gambut lainnya.
2. Gambut fibrik
Gambut fibrik adalah gambut yang masih muda dan belum mengalami pelapukan sempurna. Bahan asalnya masih dapat dikenali dengan mudah. Struktur gambut fibrik didominasi oleh serat-serat kasar dengan warna cokelat.
3. Gambut hemik
Gambut hemik merupakan jenis gambut setengah matang, di mana sebagian bahan organiknya telah mengalami pelapukan tetapi masih ada bagian yang dapat dikenali. Teksturnya berada di antara gambut saprik yang halus dan gambut fibrik yang kasar. Warna gambut hemik umumnya cokelat.
Jenis gambut berdasarkan tingkat kesuburannya
1. Eutrofik
Jenis gambut ini memiliki tingkat kesuburan yang tinggi karena kaya akan mineral, basa, dan unsur hara. Gambut eutrofik sering ditemukan di daerah yang mendapat pasokan mineral dari air sungai atau pasang surut air laut.
2. Mesotrofik
Gambut mesotrofik memiliki tingkat kesuburan sedang, dengan kandungan mineral dan basa yang tidak terlalu tinggi tetapi masih cukup untuk mendukung pertumbuhan vegetasi.
3. Oligotrofik
Gambut oligotrofik adalah jenis gambut yang paling tidak subur karena miskin mineral dan unsur hara. Jenis ini umumnya ditemukan di daerah yang hanya mendapat pasokan air dari curah hujan, tanpa tambahan mineral dari sumber lain.
Jenis gambut berdasarkan kedalamannya
1. Gambut dangkal
Lahan gambut yang memiliki ketebalan antara 50 – 100 cm. Jenis ini umumnya masih dapat dimanfaatkan untuk pertanian dengan teknik pengelolaan tertentu.
2. Gambut sedang
Lahan gambut dengan ketebalan antara 100 – 200 cm. Gambut jenis ini mulai memiliki kandungan bahan organik yang lebih tebal dan membutuhkan perlakuan khusus jika ingin dimanfaatkan untuk aktivitas pertanian atau perkebunan.
3. Gambut dalam
Lahan gambut yang memiliki ketebalan antara 200 – 300 cm. Jenis ini menyimpan lebih banyak karbon dan cenderung lebih rentan terhadap degradasi jika dikeringkan atau dimanfaatkan secara tidak berkelanjutan.
4. Gambut sangat dalam
Lahan gambut dengan ketebalan lebih dari 300 cm. Jenis ini memiliki kandungan bahan organik yang sangat tinggi dan berperan penting dalam penyimpanan karbon global. Gambut sangat dalam sebaiknya tetap dilestarikan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Ciri Lahan Gambut
Lahan gambut memiliki karakteristik yang unik dari lahan-lahan lainnya. Adapun ciri-ciri lahan gambut adalah sebagai berikut.
Lahan Gambut (Pexels.com/Valeria Klys)
Tanah yang tebal dan lunak: lahan gambut ditandai dengan lapisan tanah yang tebal, lunak, dan berwarna cokelat tua hingga kehitaman.
Bersifat asam: lingkungan lahan gambut memiliki tingkat keasaman yang tinggi akibat akumulasi bahan organik yang terurai secara perlahan di kondisi anaerob (minim oksigen).
Dihuni oleh banyak lumut gambut (Sphagnum): lahan gambut menjadi habitat utama bagi Sphagnum, jenis lumut dengan daya serap tinggi yang berperan dalam mempertahankan kelembapan tanah.
Keanekaragaman flora dan fauna: lahan gambut mendukung keberagaman hayati dengan banyaknya spesies tumbuhan dan hewan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan basah.
Drainase terbatas: lahan gambut memiliki sistem drainase yang buruk, sehingga tanah tetap jenuh air dalam waktu lama, terutama saat musim hujan atau bercocok tanam.
Lapisan bahan organik tebal: tanah gambut terdiri dari akumulasi bahan organik, terutama sisa tanaman yang membusuk selama ribuan tahun.
Tanah yang tergenang air: karena terbentuk di daerah dengan permukaan air tanah yang tinggi, lahan gambut sering kali dalam kondisi tergenang air.
Vegetasi yang beragam: Lahan gambut mendukung berbagai jenis vegetasi, termasuk vegetasi pembentuk gambut, tumbuhan herba, dan vegetasi berkayu seperti pohon-pohon khas hutan rawa.
Fungsi Lahan Gambut
Lahan gambut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan kehidupan manusia. Berikut adalah beberapa fungsi utama lahan gambut:
1. Penyimpan karbon dan pengendali perubahan iklim
Lahan gambut berfungsi sebagai penyerap dan penyimpan karbon terbesar di dunia. Lapisan gambut yang tebal mengandung bahan organik yang belum sepenuhnya terurai, sehingga mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar. Jika lahan gambut mengalami kerusakan atau kebakaran, karbon yang tersimpan akan terlepas ke atmosfer dalam bentuk gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄), yang dapat mempercepat perubahan iklim.
2. Menjaga keseimbangan hidrologi
Lahan gambut berperan sebagai spons alami yang menyerap dan menyimpan air dalam jumlah besar. Kemampuannya dalam mengatur air ini membantu mengurangi risiko banjir saat musim hujan dan menjaga ketersediaan air saat musim kemarau.
3. Habitat bagi keanekaragaman hayati
Lahan gambut menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna, termasuk spesies langka dan endemik seperti orangutan, harimau Sumatra, dan burung enggang. Selain itu, ekosistem gambut juga mendukung pertumbuhan berbagai jenis tumbuhan khas, seperti ramin (Gonystylus bancanus) dan jelutung (Dyera costulata).
4. Mendukung sumber penghidupan masyarakat
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lahan gambut, ekosistem ini menjadi sumber penghidupan, baik melalui hasil hutan non-kayu (seperti rotan dan madu hutan) maupun kegiatan perikanan dan pertanian yang ramah lingkungan.
5. Penyaring air alami
Lahan gambut memiliki kemampuan menyaring air secara alami dengan menahan partikel-partikel polutan dan menjaga kualitas air tanah. Hal ini membantu menjaga kebersihan sumber air bagi ekosistem dan manusia.
6. Mencegah intrusi air laut
Di daerah pesisir, lahan gambut berfungsi sebagai benteng alami yang membantu mencegah masuknya air laut ke daratan. Ini penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem air tawar dan mencegah degradasi lahan pertanian akibat salinisasi.
Penutup
Lahan gambut memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, menyimpan karbon, mengatur siklus air, serta menjadi habitat bagi berbagai flora dan fauna. Selain itu, lahan gambut juga mendukung kehidupan masyarakat sekitar dengan menyediakan sumber daya alam yang bernilai ekonomi.
Namun, ancaman terhadap lahan gambut, seperti alih fungsi lahan, kebakaran, dan pengeringan yang tidak berkelanjutan, dapat menyebabkan dampak lingkungan yang serius, termasuk peningkatan emisi gas rumah kaca dan hilangnya keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, pelestarian dan pengelolaan lahan gambut yang bijak sangat diperlukan agar manfaatnya dapat terus dirasakan oleh generasi mendatang.
Dengan memahami fungsi dan pentingnya lahan gambut, diharapkan kesadaran akan upaya pelestarian ekosistem ini semakin meningkat, baik di tingkat individu, komunitas, maupun pemerintah.
Featured image: Lahan Gambut (Pixabay.com/Lipponen)
Serba-Serbi Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di 2022
Nggak kalah dengan banyaknya konser musik di tahun ini setelah tiga tahun kita tahan napas nggak berani ngapa-ngapain karena pandemi, tahun ini Yayasan IAR Indonesia (YIARI) pun mulai banyak banget kegiatan seru yang melibatkan masyarakat nih Sob. Sepanjang tahun ini, tim community development kami terus melakukan inovasi-inovasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama yang tinggal berbatasan langsung dengan wilayah hutan.
Cerita seru pertama yang kami mau share adalah kegiatan peningkatan produksi pertanian padi di Desa Pematang Gadung dan pertanian tebu di Desa Tanjung Baik Budi, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Di daerah ini, kami membantu masyarakat meningkatkan hasil pertaniannya dengan memberikan pendampingan dan pelatihan pembuatan dan penggunaan pupuk serta pestisida organik yang dibuat sendiri dengan bahan-bahan yang ada di sekitar. Hasilnya gak main-main nih, di lokasi yang sama seluas 2.250 meter persegi, jadi bisa menghasilkan 240 gantang gabah atau sekitar 624 kg, padahal dulunya di lahan yang sama cuma bisa menghasilkan panen 80 gantang atau sekitar 208 kilogram aja. Dengan penggunaan bahan-bahan yang ramah lingkungan dan perawatan yang baik dan benar, hasil panen bisa meningkat sampai 3 kali lipat lho! Keren kan ya bapak ibu petani di sana? Oh iya, buat kalian yang bingung, 1 gantang gabah kira-kira 2,6 kg sementara 1 gantang beras kira-kira 4 kg ya.
Program ini diadakan karena kami melihat bahwa minat masyarakat untuk bertani cenderung menurun karena rendahnya pengetahuan dan keterampilan pertanian sehingga hasil panen tidak maksimal. Penurunan minat ini menyebabkan banyak lahan tidur dan tidak tergarap sementara intervensi dan ancaman terhadap hutan semakin meningkat. Beberapa petani juga masih menerapkan pola pertanian yang tidak ramah lingkungan, misalnya dengan pembukaan lahan dengan cara dibakar dan penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang justru membahayakan lingkungan dan menurunkan produktivitas pertanian dalam jangka panjang.
Nggak cuma meningkatkan hasil pertanian, program ini juga berhasil meningkatkan jumlah petani yang menggarap lahannya secara organik dan meningkatkan jumlah lahan. Dari yang sebelumnya hanya 7 petani di lahan seluas 2.259 meter persegi, sekarang sudah menjadi 25.000 meter persegi lahan yang sudah ditanami dengan metode pertanian berkelanjutan dengan melibatkan 23 orang petani yang kita dampingi. Kita tunggu saja hasil panennya tahun depan ya.
Petani tebu binaan kami di Desa Tanjung Baik Budi menunjukkan tebu yang sudah siap panen. (Muffidz Ma’sum | IAR Indonesia)
Kalau di Pematang Gadung kami menanam padi, di Tanjung Baik Budi kami menanam tebu. Kok tebu? Ya karena memang lahannya cocok untuk menanam tebu dan warga desa juga familiar dengan tanaman ini serta penjualan hasil panennya cenderung mudah di Kabupaten Ketapang.
Tebu ini dipasarkan kepada masyarakat sekitar desa maupun pedagang es tebu yang ada di kota Ketapang dengan berkisar antara 4.000 – 5.000 rupiah per batang. Sebagian lagi diolah langsung oleh para petani menjadi gula tebu dengan harga jual 17,000/kg. Pada musim panen pada pertengahan tahun kemarin, penghasilan kotor yang didapat para petani ini mencapai lebih dari 100 juta rupiah.
Kegiatan ini melibatkan 16 petani dan sudah berjalan sejak awal tahun dengan penanaman 7500 batang tebu di lahan seluas 5000 meter persegi. Sama seperti di Pematang Gadung dan semua pertanian dampingan kami, pertanian tebu ini juga menggunakan pupuk organik. Dengan memanfaatkan lahan tidur yang ada, sekarang para petani ini sedang dalam proses pembuatan demplot di lahan seluas 50.000 meter persegi.
Kalau kalian penasaran dengan kegiatan pendampingan masyarakat lainnya, tenang saja, kami masih konsisten menjalankan program-program kami kok. Kami masih melanjutkan program-program kami yang lain seperti perahu sayur, pembuatan ecopolybag dan sebagainya. Karena kami yakin, satwa akan sejahtera bila masyarakat juga sejahtera.
Para Ibu Komunitas The Power of Mama sedang belajar merakit drone yang akan digunakan untuk patroli pengendalian api di Kabupaten Ketapang (Heribertus Suciadi | Yayasan IAR Indonesia)
Di tahun ini kami juga menginisiasi pembentukan The Power of Mama, sebuah komunitas yang terdiri dari para perempuan lintas generasi dan terutama kaum ibu, yang tinggal di kawasan desa di sekitar Ketapang, Kalimantan Barat. Komunitas ini memiliki kegiatan yang bertujuan menjadikan kaum perempuan dan para ibu sebagai pelopor dalam menggerakkan kesadaran masyarakat di desa tempat mereka tinggal untuk peduli terhadap lingkungan, terutama dalam kegiatan-kegiatan pelestarian alam di kawasan tempat mereka tinggal.
The Power of Mama yang didirikan pada 6 Juni 2022 ini terdiri dari para perempuan usia 25 hingga 50-an tahun yang tinggal di empat desa di wilayah Ketapang, Kalbar, yaitu Desa Pematang Gadung, Sungai Besar, Sukamaju, dan Sungai Awan Kiri. Saat ini kegiatan berfokus pada patroli dan monitoring pencegahan kebakaran hutan dan lahan di desa masing-masing sebagai bagian dari persiapan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim.
Kami juga terus melakukan restorasi sebagai salah satu upaya kami untuk mengembalikan keanekaragaman hayati yang rusak akibat kebakaran hutan. Di tahun ini, kami melakukan restorasi di Taman Nasional Gunung Palung, Hutan Desa Pematang Gadung, dan di Desa Sungai Awan. Di tahun ini, sampai bulan Oktober 2020, total kami telah menanam 17.777 pohon di lahan seluas 34 ha. Secara total kami telah menanam lebih dari 115 ribu bibit pohon di lahan seluas 235 ha sejak tahun 2017.
Petani anggota Gapoktan Sumber Makmur sedang menyiram bakal pupuk organik dengan starter pupuk (Tim Comdev | Yayasan IAR Indonesia)
Selain kegiatan pendampingan masyarakat di Pulau Kalimantan, kita juga ada nih program serupa yang dijalankan di Pulau Sumatra, tepatnya di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Di Tanggamus yang kaya akan hutan alami yang masih asri ini, kami mendampingi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dalam membangun sistem pertanian ramah hutan, yaitu wanatani alias agroforestri yang tidak memerlukan pembukaan lahan hutan. Hingga saat ini sudah ada tiga Gapoktan yang masuk dalam dampingan kami. Mereka terdiri dari sembilan Kelompok Tani Hutan (KTH) yang beranggotakan total 52 orang. Karena mereka sedang membangun sistem pertanian yang ramah hutan, kami mengajak para petani untuk menambah keahlian-keahlian bertani mereka melalui berbagai macam pelatihan. Di antaranya adalah pembuatan pupuk organik, pengendalian organisme pengganggu tanaman, teknik perbanyakan tanaman, hingga peningkatan kapasitas keorganisasian.
Di samping kegiatan peningkatan kapasitas petani Gapoktan kami juga mendampingi kegiatan penyemaian bibit tanaman wanatani sejak tahun 2021. Di tahun kemarin, para petani telah berhasil menyemai sebanyak 2960 benih. Nah di tahun ini, hingga November saja jumlah bibit yang disemai sudah lebih banyak dari tahun kemarin yaitu berjumlah 3895 benih. Benih yang menyemai terdiri dari berbagai macam tanaman produksi. Di antaranya adalah alpukat, durian, pinang betara, dan aren.
Begitu padatnya kegiatan pemberdayaan masyarakat yang kami lakukan di tahun ini, semoga tahun depan kita bisa terus tancap gas bikin yang lebih seru lagi ya Sob.
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.