Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Keseruan 3 R di Hari Bumi
Udah pada tau kan ya kalau Hari Bumi diperingati setiap tanggal 22 April? Nah, untuk memperingati Hari Bumi tahun ini, kami bikin dua acara yang dilakukan secara serentak nih di Kalimantan Barat. Satu rangkaian kegiatan di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren di Kecamatan Muara Pawan, satu lagi di Desa Batu Lapis Kecamatan Hulu Sungai. Dua-duanya di Kabupaten Ketapang. Buat kalian yang nanya kenapa kok nggak dijadiin satu acara aja toh sama-sama di Ketapang, jadi Kabupaten Ketapang ini luas banget gengs, jarak tempuh dari pusat pembelajaran kami sampai ke Desa Batu Lapis ini bisa memakan waktu lebih dari tujuh jam. Makanya kita bikin acaranya terpisah aja biar semua dapat keseruannya tanpa mesti repot-repot perjalanan jauh.
Nah, berhubung Hari Bumi tahun ini adalah “Invest in Our Planet” di mana kita semua mesti sadar dan beralih ke gaya hidup yang berkelanjutan, kami ngadain acara ini dengan mengedepankan konsep 3R. Udah pada paham pastinya kan soal 3R? Ya betul, Reduce, Reuse, Recycle. Di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren, konsep 3R dalam kegiatan ini diwujudkan dengan mengurangi (reduce) penggunaan plastik sekali pakai dengan mengarahkan peserta dan pengunjung untuk membawa tempat makan dan botol minum sendiri. Mendaur ulang sampah plastik (recycle) dengan membuat bungkus kerajinan dari bungkus kemasan bekerjasama dengan Bagian Pengelolaan Sampah dan Limbah Berbahaya Dinas Perkim-LH untuk kemudian dipamerkan. Terakhir, kami mewujudkan konsep penggunaan kembali (reuse) barang bekas dengan menampilkan perkusi yang menggunakan barang bekas sebagai instrumen musiknya.
Ada lomba membaca puisi, lho, di peringatan Hari Bumi Yayasan IAR Indonesia 2022 (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Pertunjukan perkusi ini dibawakan oleh anak-anak dari Zwagery Generation, komunitas konservasi di Ketapang yang bergerak dalam menyelamatkan satwa liar dan habitatnya melalui perspektif edukasi penyadartahuan dan budaya lokal dengan alat musik sederhana dari botol kaca, jerigen bekas, kaleng bekas, dan botol bekas minuman ringan. Selain perkusi, ada juga pembacaan puisi berjudul “Campur Tangan Manusia dan Lentera Mata” masih oleh anak-anak dari Zwagery Generation. Meskipun alatnya sederhana, musiknya merdu dan asyik lho, apalagi yang dibawakan tuh lagunya Gombloh yang judulnya “Lestari Alamku.” Jadi makin syahdu kaaan. Untuk penutupnya, ada penampilan teater dari Sanggar Mustike Tanah Kayong, yang merupakan pemenang lomba teater Pekan Peduli Orangutan yang diselenggarakan pada November 2021 lalu. Buat kalian yang penasaran Apa itu Sanggar Mustike Tanah Kayong, jadi itu tuh komunitas seni yang berasal dari Ketapang, tepatnya Desa Kuala Satong di Kecamatan Matan Hilir Utara. Di acara Hari Bumi ini, mereka membawakan dua lakon, “Ujang Kenceng dan Ujang Lelengop menangkap orangután” serta “Sekolah untuk Bumi”. Gak cuma taterer, mereka juga menampilkan pembacaan puisi dan syair gulung. Mereka ini masih berusia 12-15 tahun lho. Keren kan?
Oh iya, acara ini dibuka oleh direktur program kami, Karmele Llano Sanchez setelah sebelumnya ada sambutan-sambutan dari Dinas Pendidikan dan Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim-LH) Kabupaten Ketapang. Karena acara ini diselenggarakan pada bulan puasa, kami juga ngadain buka puasa bersama. Tambah seru lagi karena ada ceramah konservasi mengenai eco-ramadan bersama Ustadz M. Nashir Syam, M.Pd.I, Sekretaris MUI Kabupaten Ketapang yang menjelaskan mengenai bagaimana mengurangi sampah plastik di bulan ramadan.
Direktur Program kami, Dr. Karmele Llano Sanchez sedang memberikan sambutan di hari ke-dua peringatan Hari Bumi 2022 (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Kalau acara di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren ini hanya satu hari dan menampilkan banyak pertunjukan, sedangkan di Desa Batu Lapis kami ngadain acaranya dua hari dan diisi berbagi lomba dan aksi.
Hari pertama, kami ngadain lomba membuat tempat sampah dari bahan bekas dan lomba kebersihan lingkungan. Pesertanya lumayan banyak loh, total ada 59 orang peserta yang berpartisipasi dalam lomba ini. Lombanya ini berkelompok ya gaes, datu kelompok berisi 2-3 orang yang terdiri dari anak dan orangtua. Anak-anak dan orangtua peserta lomba terlihat sangat antusias mengikuti lomba ini. Usaha dan kreativitas mereka dalam mengikuti lomba patut diacungi jempol. Dari hasil lomba ini, para peserta bisa bikian 45 tempat sampah baru dari barang bekas! Pemenang dipilih berdasarkan kerapian, keindahan, dan kreativitas. Ada lima kelompok yang terpilih menjadi pemenang dan mendapatkan hadih berupa perlengkapan sekolah dan alat tulis serta T-shirt dan tumbler. Para peserta lomba ini juga berharap, ke depannya lomba-lomba semacam ini diadakan lagi supaya mereka bisa terus belajar dan semangat sehingga bisa menjadi kebiasaan baik bagi lingkungan mereka.
Setelah lomba, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian materi pendidikan lingkungan hidup bersama anak-anak Desa Batu Lapis. Kegiatan ini difasilitasi oleh tim edukasi kami dan diikuti oleh 50 anak. Salah satu materi yang diberikan adalah membuat kerajinan tangan dari barang bekas. Kerajinan tangan yang dibuat berupa tempat pensil dari botol plastik dan kardus bekas. Meskipun dari barang bekas, hasil kerajinannya ucul-ucul loh.
Para anak-anak penari tradisional turut memeriahkan acara ini (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Hari kedua juga tidak kalah seru gaes, pagi-pagi kami udah menanam pohon dan keliling membersihkan sampah di sekitar pemukiman Desa Batu Lapis. Hasilnya terkumpul 158,7 kilogram sampah. Sampah didominasi dari plastik, terutama bungkusan sisa snack dan kantong plastik.
Malamnya kami ngadain pemutaran film buat warga desa. Film yang kami suguhkan adalah film dokumenter tentang orangutan dan inovasi pengolahan sampah plastik yang dijadikan tempat tanaman organik. Selain nonton film, kami juga mengadakan kuis buat para penonton yang berisi pertanyaan seputar satwa liar, sampah, dan film yang ditonton. Mereka juga antusias banget lho menjawab kuis-kuis ini sampai sepuluh paket hadiah yang kami sediakan berhasil mereka bawa pulang. Harapan kami sih, dengan adanya kegiatan ini, kepedulian masyarakatnya terhadap permasalahan sampah meningkat. Kami sengaja melibatkan anak-anak dan orangtuanya dalam berbagi kegiatan yang kami selenggarakan supaya semua generasi berperan aktif dalam mengatasi permasalahan sampah plastik. Di Batu Lapis aja semua udah peduli sama sampah plastik. Kamu kapan?
Yuk, Ngerayain Hari Migrasi Burung dengan Baca Dua Buku Ini
Sob, tahu nggak kalau setiap tanggal 14 Mei, seluruh dunia merayakan hari migrasi burung. Nah pasti di antara kalian ada yang penasaran nih, kenapa sih migrasi burung tuh perlu dirayain. Ternyata penting banget, Sob. Migrasi burung itu ngasih keuntungan ekosistem dan berkontribusi penting buat kualitas hidup dan ekonomi kita. Sebagian keuntungannya itu dari mengontrol hama, penyerbukan tanaman, sampai jadi indicator penting buat kesehatan planet bumi ini. Karena penting itulah, tiap tahun, selalu ada tema yang dirayakan saat peringatan migrasi burung ini. Tahun ini, temanya Polusi Cahaya. Jadi nih, sinar atau cahaya artifisial itu makin banyak bertambah secara global setidaknya dua persen setiap tahun dan hal ini berpengaruh ke burung-burung. Polusi cahaya ini jadi ancaman saat burung-burung bermigrasi, bikin mereka disorientasi waktu terbang di malam hari, bikin mereka nabrak gedung-gedung, ngganggu jam internal mereka, bahkan sampai mempengaruhi kemampuan mereka melakukan migrasi jarak jauh.
Gajahan timur (Numenius madagascariensis), salah satu burung yang bermigrasi ke Indonesia (Erik Sulidra | IAR Indonesia)
Peran penting migrasi burung ini juga kami pandang berharga nih. Dan ini salah satunya kami tandai dengan menerbitkan dua buku fotografi yang menampilkan migrasi dan kekayaan keanekaragaman burung yang ada di sejumlah wilayah Indonesia. Penasaran dengan dua buku ini? Yang pertama, buku berjudul “Another Life” karya Erik Sulidra yang diterbitkan pada 2019 yang memperlihatkan satwa-satwa terutama burung yang tinggal atau singgah di Ketapang, Kalimantan Barat. Kemudian satunya lagi, buku “Burung Liar Kawasan Hutan KPH Batu Tegi Lampung: Menyingkap Keragaman Jenis Burung di Hutan Lindung Batu Tegi” yang diterbitkan bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, UPTD KPH Batu Tegi dan bersama kami, Yayasan IAR Indonesia. Nah, buku ini ditulis oleh Manajer Resiliensi Habitat Yayasan IAR Indonesia, Robithotul Huda.
Buat yang penasaran dengan ide awal mulanya buku ini diterbitkan, sini kita simak cerita dari masing-masing penulis. Baik Erik dan Huda, ternyata sama-sama kepikiran bikin buku ini pada 2015, Sob. Kalau Huda, idenya muncul karena ingin merekam potensi biodiversitas satwa di Batu Tegi hasil monitoring teman-teman staf di lapangan. “Terutama jenis-jenis burung, karena memang belum ada yang membuat. Ditambah lagi dengan hobi saya dan teman-teman di bidang fotografi hidupan liar,” ujar Huda.
Peluncuran buku Burung Liar Kawasan Hutan Lindung Batutegi karya Huda bersama Dishut Provinsi Lampung(Denny Setiawan | IAR Indonesia)
Nah kalau Erik, pas 2015 lagi dikompori tuh sama temannya buat bikin buku karena ternyata dia sudah punya banyak foto-foto tentang satwa liar terutama burung, sejak dia mulai menekuni hobi fotografi pada 2011. “Setelah itu saya mencari beberapa referensi di buku yang khusus menceritakan biodiversitas di Tanah Kayong dan foto-fotonya, ternyata sangat minim. Saya jadi semakin tertantang dan bersemangat untuk membuat buku, hitung-hitung sebagai sumbangan karya dokumentasi satwa di Tanah Kayong,” kata Erik.
Proses penulisan kedua buku ini seru banget lho. Erik Sulidra, cerita nih kalau motret satwa liar itu memang nggak gampang. “Satwa liar itu instingnya kuat. Jadi kita harus pintar-pintar mengatur strategi di lapangan. Dan tidak setiap saat ketika kita pergi berburu foto itu bisa mendapatkan gambar, apalagi yang bagus. Jadi kadang saya dan teman-teman harus merayap di lumpur untuk bisa mendekati burung. Waktu itu saya ingat benar waktu motret burung migrasi di tepian pantai. Untuk mendekati burung-burung yang bertengger di beting-beting lumpur. Itu burungnya lagi makan dan kami mikir gimana caranya mendekati dengan lensa yang terbatas panjangnya. Akhirnya kami merayap dengan posisi tengkurap kayak latihan militer lah, dan prosesnya bisa 2-3 jam itu. Merayap, udah pasti tuh bahu pegel, sama nahan kamera supaya tidak terkena air asin,” kata Erik.
Kebayang kan ribetnya? Nah kata Erik, ini baru burung di pantai. Belum lagi kalau burung di hutan. Erik sharing nih kalau motret burung di hutan itu tantangannya banyak ranting dan daun yang menghalangi pandangan. Apalagi kalau burungnya cepet pindah-pindahnya. “Belum lagi jenis-jenis burung yang suka bertengger di puncak kanopi hutan. Lebih sulit lagi nampaknya, hanya dapat suaranya, jadi kami harus cari angle yang pas untuk bisa lihat burung yang ada di puncak pohon,” lanjut Erik.
Dari semua jenis burung yang pernah difotonya, Erik paling kesulitan saat harus memotret Enggang Gading. Kata dia, selain karena susah sekali ketemunya, habitatnya pun di hutan-hutan primer yang kondisinya masih bagus. Kemudian juga jenis burung yang pergerakannya di lantai hutan. “Kayak jenis-jenis ruai, jenis-jenis paok, ayam hutan, biasanya mereka sangat sensitif terhadap gerakan langkah kaki kita. Jadi belum nyampe kita ketemu burungnya, mereka udah tau dan kabur duluan,” tutur Erik.
Tampaknya sulit banget ya Sob? Well, Erik ngasih tips nih. Dia bilang, teknik terbaik untuk memotret satwa liar itu, tentukan spot pemotretan yang pas dengan obyeknya, kemudian bikin tempat persembunyian di spot itu, dan sebisa mungkin berkamuflase biar satwa-satwa liar itu nggak tahu kalau mereka mau dipotret.
Erik dan tim mengarungi sungai untuk memotret burung(Petrus Kanisius | IAR Indonesia)
Kalau tantangan yang dihadapi Robithotul Huda hampir mirip. Tapi agak sedikit kompleks nih. Mulai dari proses pendataan, pendokumentasian, hingga menyusunnya menjadi tulisan yang padu. “Dalam proses pendataan misalnya, terdapat beberapa burung yang ternyata hilir mudik di sekitar kawasan Batutegi alias keluar-masuk kawasan, yang menyebabkan sulitnya menentukan burung apa saja yang pasti akan dimasukkan ke buku. Rangkong misalnya, dulu ia masih ditemukan di tahun 2009 berdasarkan pengamatan rekan-rekan Yayasan IAR Indonesia dan Ecopass, namun ketika saya dan tim melakukan monitoring saat ini, sudah tidak ada rangkong di daerah KPH Batutegi,” ujar Huda.
Dari segi pendokumentasian, Huda dan timnya cukup kesulitan ketika mengabadikan jenis burung yang pemalu seperti burung-burung semak dan territorial. Contohnya burung puyuh gonggong sumatra, salah satu burung endemik di Pulau Sumatra yang terkenal sulit untuk ditangkap kamera. Untuk penulisan, Huda menemukan tantangan dari segi penamaan spesies atau taksonomi burung liar di Batutegi. “Seperti yang kita ketahui, taksonomi burung itu sangat dinamis atau mudah berubah-ubah, sehingga cukup menyulitkan untuk mengklasifikasikan burung-burung yang sudah kami temukan dan dokumentasikan,” ujar Huda. “Untungnya, dalam pengelompokan ini, saya dibantu oleh seorang ornitologis yang sudah lama berkecimpung di dunia perburungan Indonesia yaitu James A. Eaton, penulis buku ‘Birds of the Indonesian Archipelago: Greater Sundas and Wallacea’,” tambah Huda.
Setelah kedua buku ini berhasil diterbitkan oleh Yayasan IAR Indonesia, kedua penulis ini punya harapan khusus nih, Sob. Erik berharap bukunya bisa tersebar luas biar orang-orang bisa lebih tahu keanekaragaman hayati di Tanah Kayong. “Syukur-syukur buku ini bisa jadi panduan lapangan bagi kawan-kawan lain yang sedang studi, atau melakukan pengamatan satwa di Tanah Kayong khususnya,” ujar Erik.
Sedangkan Huda, berharap buku ini bisa dibaca untuk para pelajar dan didistribusikan ke sekolah-sekolah. “Supaya murid-murid khususnya dan masyarakat tahu bahwa banyak burung-burung unik dan indah yang terdapat di sekitar mereka dan akhirnya mereka tergerak untuk melindungi burung-burung tersebut. Mengingat fungsi hutan lindung di daerah Batu Tegi mulai berubah karena lahan di daerah ini diolah oleh masyarakat menjadi berbagai macam peruntukan, perlu adanya pengingat bahwa masih ada keanekaragaman hayati di Batu Tegi yang perlu dijaga oleh masyarakat di sekitarnya,” ujar Huda.
Ria Utari/Heribertus Suciadi/Fattreza Ihsan
Investasi Bagi Bumi dengan Restorasi
By the way gaes, kemarin pas Hari Bumi 22 April, kalian masih ingat dengan tema tahun ini kan ya? So tahun ini tuh, dunia ngerayain Hari Bumi dengan tema “Invest in Our Planet. What Will You Do?”. Kayaknya nggak perlu dijelasin panjang lebar deh, karena tagline ini tuh udah kode keras banget supaya kita segera mengubah kebiasaan-kebiasaan kita yang bisa merusak bumi terutama yang bikin iklim di bumi makin ga jelas. Di website earthday.org aja udah dibilang tuh: “Now is the time for the unstoppable courage to preserve and protect our health, our families, our livelihoods.” Tuh kan!
Nah, kami di Yayasan IAR Indonesia udah mulai dari sejak kami berdiri nih, yaitu 14 tahun lalu, untuk ngejalani program-program yang tujuannya untuk merawat dan memulihkan bumi terutama kawasan hutan. Salah satunya program restorasi nih. So, apa sih program restorasi ini? Restorasi ini bukan jenis restoran lho, ini tuh penanaman pohon di lahan-lahan hutan. Sesuai namanya, tujuannya itu supaya kawasan hutan yang rusak atau kehilangan pohon-pohon, jadi terestorasi atau terpulihkan kembali, alias ada lagi tuh anggota keluarga pepohonannya.
Persiapan bibit pohon yang hendak ditanam (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Sejarahnya kami bikin program ini berasal ketika nerima banyak laporan soal orangutan yang masuk ke kawasan Desa Pematang Gadung, di Kalimantan Barat. Jadilah konflik tuh. Warga desa kesel karena orangutan pada masuk ke perkebunan mereka dan makan hasil kebun. Mereka kayak gini tentu ada sebabnya, ya iyalah. Habitatnya mulai terganggu, berkurang kawasan hutannya, sehingga pohon-pohon yang biasanya jadi sumber pakan mereka mulai menipis. Hal ini makin parah sewaktu ada kejadian kebakaran hutan di kawasan Pematang Gadung pada 2015.
Setahun kemudian, tepatnya 2016, kami mulai deh program restorasi ini. Kami melakukannya di lahan tidur terbuka serta area hutan yang sempat terdampak kebakaran hutan. Tujuan utama restorasi ini sebenarnya buat memperbaiki habitat orangutan dengan cara menanam pohon-pohon yang bisa menjadi sumber pakan buat orangutan. Jadi kan kalau di hutan sumber makanan mereka sudah cukup, mereka nggak akan masuk ke lahan manusia.
So, kita mulai tuh program ini dengan tentu saja menanam pohon-pohon yang disukai orangutan. Apa aja tuh? Banyak sebenarnya. Kita sebut sebagian ya. Ada kayu ara, medang, ubah, rambutan hutan, nangka hutan, dan kubing. Nah, abis menanam, masih ada lanjutannya tuh. Kami kemudian harus memastikan pohon-pohon itu tumbuh besar dengan baik.
Penanaman pohon di lahan restorasi (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Untuk tahapannya sendiri, kami memulai penanaman dengan melakukan survei lokasi terlebih dulu. Survei lokasi ini untuk mengetahui jenis tanaman apa saja yang cocok untuk ditanam dan bisa tumbuh di area itu. Setelah melakukan survei, tim restorasi harus melakukan pembersihan dan bikin plot tanam. Pembersihan ini perlu dilakukan karena semak dan rumput yang ada bisa menganggu pertumbuhan tanaman. Setelah bersih dan plot tanam terbentuk, dilakukan pencarian bibit, penyemaian, dan penanaman. Bibit yang dipilih biasanya diambil dari hutan di sekitar lokasi restorasi supaya bibit yang ditanam cocok dengan kondisi area tanam. Tujuannya ya biar tanaman yang ditanam ini mampu bertahan di musim panas dan musim penghujan. Setelah bibit ditanam, tim akan melakukan monitoring, perawatan, dan penanaman sisip untuk menggantikan bibit yang ditemukan mati. Monitoring ini dilakukan dengan mengukur pertumbuhan tanaman.
Restorasi ini tidak sesimpel menanam dan bersantai menunggu pohon tumbuh besar. Tantangannya lumayan banyak lho, salah satu yang paling besar adalah cuaca. Kadang, kalau sedang musim hujan, air akan membanjiri lokasi tanam sehingga mengakibatkan banyak bibit yang mati akibat busuk akar. Salah satu solusi untuk masalah ini adalah menanam bibit asli yang memang cocok dengan daerah tersebut. Kalau kematian bibit tidak bisa dihindari, biasanya tim restorasi akan melakukan tanam sisip di musim kemarau untuk menggantikan bibit yang mati.
Musim kemarau tuh pelik juga gaes. Apalagi kalau kemaraunya panjang beut. Potensi kebakaran hutan dan lahan jadi meningkat. Nah, biar bibit-bibit itu nggak mati, aktivitas penyiraman ditingkatkan dan membuat sekat bakar dengan pohon jenis leban, gelam, dan ubah yang mampu hidup bahkan saat sudah terbakar. Meskipun upaya pencegahan sudah dilakukan semaksimal mungkin, pada tahun 2019 terjadi kebakaran hutan yang menyebabkan 98% areal restorasi di Hutan Desa Pematang Gadung habis terbakar. Meskipun begitu, tim kami tidak putus asa. Kami kembali bekerja keras dan akhirnya, dalam waktu satu tahun, lokasi ini kembali hijau.
Setelah kegiatan restorasi ini berjalan dengan lancar di Desa Pematang Gadung, program yang didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Gunung Palung, serta Dinas Kehutanan Kalimantan Barat ini semakin berkembang dan dilanjutkan di beberapa lokasi lain seperti Hutan Lindung Gunung Tarak di Desa Pangkalan Teluk, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Taman Nasional Gunung Palung di Kabupaten Kayong Utara, serta di pusat Rehabilitasi Orangutan kami di Desa Sungai Awan, Kecamatan Muara Pawan, Ketapang.
Sampai saat ini total sudah tertanam lebih dari 100 ribu bibit di lahan seluas 201 ha di wilayah Kalimantan Barat. Targetnya nih gaes, kebutuhan pakan orangutan liar terpenuhi dengan banyaknya pohon yang tumbuh dan hidup dengan baik di area yang semakin bertambah.
Salah satu lokasi restorasi kami di Pulau Rangkong, Ketapang, Kalimantan Barat (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Tidak hanya bermanfaat bagi alam dan orangutan, program restorasi ini juga membantu perekonomian warga desa. Di Desa Pematang Gadung sendiri, progam ini memberikan pekerjaan kepada 21 ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok pembuat ecopolybag. Ya, kita nanem pohonnya pake ecoplybag yang terbuat dari anyaman daun nipah, jadi program kami ini anti plastik ya gaes. Selain itu, program ini juga menyediakan lapangan pekerjaan yang melibatkan 22 orang di seluruh site restorasi untuk melakukan penanaman dan perawatan pohon. So, inilah sebagian upaya kami bagi bumi. What about you?
Muda, Beda, dan Berbahaya
Ah iya, lagunya Superman Is Dead bukan?
Bukaaaan, kita lagi mau ngomongin komunitas pemuda di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Ooooh, emang pemuda ini ngapain? Kok beda dan berbahaya?
Bedanya, mereka ini membentuk komunitas untuk melindungi ekosistem mangrove di desa mereka di Sungai Besar. Mereka juga melakukan patroli di dalam kawasan mangrove. Aksi ini berbahaya buat mereka yang coba-coba merusak ekosistem mangrove atau berburu secara ilegal di wilayah mangrove Sungai Besar. Hehe
Ih, keren kali lah.
Iya dong, namanya aja SHIELD. Singkatan dari Sahabat Hijau Eco Lestari Desa. SHIELD ini berperan dalam membentengi kawasan mangrove Desa Sungai Besar dengan melakukan penanaman mangrove dan patroli.
Para anggota SHIELD bersama aparat desa (Tim Comdev | IAR Indonesia)
Mantep banget ya. Ceritain dong awal mulanya gimana?
Oke. Awalnya kita punya program konservasi mangrove. Program konservasi mangrove yang kita lakukan ini berbasis pada masyarakat yang hidup dan tinggal di sekitar ekosistem mangrove itu. Kebetulan, kita udah lama berkegiatan bareng masyarakat di Desa Sungai besar ini, akhirnya kita inisiasi para pemuda di Sungai Besar untuk membentuk SHIELD tadi. Kita pilih para pemuda karena mereka ini kan sedang di fase kehidupan yang aktif dan haus akan pengetahuan dan pengalaman baru. Kita inisiasi untuk membentuk komunitas untuk menyatukan semangat dan rasa kepedulian terhadap lingkunga. Umumnya, komunitas remaja lebih terbuka dan kritis terhadap suatu perubahan lingkungan yang seharusnya mereka rasa menjadi tanggung jawab mereka dan hak mereka di hari nanti.
Got it. Terus selain menginisiasi, IAR Indonesia ngasi pelatihan-pelatihan atau apa gitu gak?
Jelas iya dong. Kita memang lebih banyak bantu di peningkatan kapasitas para pemudi ini lewat beberapa pelatihan. Beberapa pelatihan yang udah kita lakuin tuh pelatihan pemilihan bibit mangrove yang layak untuk disemaikan dan dijadikan sumber bibit. Kita juga ngasi pelatihan monitoring pertumbuhan bibit mangrove melalui pertumbuhan tinggi dan jumlah daun serta indeks mortalitas bibit. Kita juga nyediain dua rumah pembibitan sekalian 7500 bibit mangrove untuk praktek penyemaiannya. Kita juga ngasi pelatihan teknik monitoring dan pengambilan data biodiversitas yang ada di dalam ekosistem mangrove.
Banyak juga ya…
Masih ada lagi lho. Kita juga ngapi pelatihan buat warga desa untuk pembuatan rumah pembibitan dan pelatihan pembuatan polybag. Nah kita dorong SHIELD tadi sebagai motor penggeraknya.
Persiapan persiapan menggunakan ecopolybag (Tim Comdev | IAR Indonesia)
Hasil pelatihannya gimana tuh?
Bagus banget sih hasilnya, mereka udah membibitkan sekitar 12.000 bibit mangrove usia 1-2 bulan. Bibit-bibit ini diambil data pertumbuhan mangrove dari tinggi badan dan jumlah daun serta indeks mortalitasnya. Nantinya, mangrove ini akan ditanam kalau usianya udah xx bulan. Targetnya mereka mau naman 15.000 bibit di lahan seluas 1,5 ha. Mereka juga memberikan pelatihan dan pendampingan langsung pemilihan bibit mangrove yang layak untuk disemaikan dan dijadikan bibit siap tanam kepada masyarakat umum melalui program konservasi mangrove berbasis masyarakat yang mereka terima dari kita. Gak cuma pelatihan, mereka juga ikut memantau dan mengelola rumah persemaian yang dibuat masyarakat.
Keren-keren. Salut deh buat pemuda dan masyarakat Desa Sungai Besar. Btw emang pentingnya mangrove apa sih?
Kita jelasin gambaran umumnya dulu deh ya. Hampir 25% mangrove yang ada di dunia ini berada di Indonesia. Dan dari total luasan mangrove di Indonesia, sebagian besar (41%) ada pesisir Pulau Kalimantan. Nah mangrove ini banyak terancam oleh reklamasi, budidaya sentra perikanan, bahkan diambil kayu untuk bahan bakar. Belum lagi ancaman biodiversity di dalamnya akibat perburuan liar atau racun ikan. Padahal fungsi mangrove banyak banget. Dia tuh menghasilkan berbagai komoditas perikanan dan kehutanan, dia juga berperan untuk mencegah abrasi pantai, menstabilkan daerah pesisir, menyaring limbah secara alami, mencegah intrusi air laut, sebagai habitat dan tempat pemijahan beberapa jenis satwa yang tinggal di wilayah mangrove. Selain itu ekosistem mangrove juga punya potensi yang besar dalam menyerap dan menyimpan karbon. Tahu kan, karbon tuh berkontribusi besar terhadap terjadinya perubahan iklim. Dengan menjaga ekosistem mangrove artinya kita telah melakukan mitigasi bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Banyak banget ya ternyata manfaatnya. Boleh dong sekali-kali kita lihat ekosistem mangrove di sana.
Ayuk, kita tunggu kedatangannya ya!
Heribertus Suciadi
Welcome to the Planetary Health
Wuih ada temuan planet baru nih?
Bukan pake banget. Planetary health ini bukan nama planet, tapi suatu istilah yang sebenarnya refer to kesehatan publik atau masyarakat, gaes.
Oh gitu? Explain please…
Jadi kalau kamu baca-baca atau googling tentang planetary health, ini sebenarnya suatu konsep yang meyakini – dan emang beneran gaes – bahwa kesehatan manusia dan kesehatan keseluruhan isi planet tempat manusia hidup itu, berkaitan dan terhubung banget. Jadi nih kalau lingkungan kita hidup itu ga sehat, itu juga ngaruh ke kesehatan manusia. Nah soal lingkungan yang sehat ini termasuk juga dengan hewan peliharaan kita.
Setuju banget ini. Terus kenapa tiba-tiba ngomongin planetary apa tadi?
Planetary health! Gini, kami mau cerita soal program kami yang berkaitan dengan upaya merealisasikan konsep planetary health ini. Yaitu dengan vaksin.
Wah vaksin untuk covid?
Nggak, ini vaksin untuk hewan peliharaan. Jadi kami baru aja ngasih vaksin ke anjing-anjing peliharaan warga di desa-desa penyangga Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Ada dua desa yang termasuk dalam desa penyangga Taman Nasional ini yaitu Desa Mawang Mentatai dan Desa Nusa Poring di Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
Dokter hewan kami sedang memberikan vaksin bagi anjing milik masyarakat (Tim Medis| IAR Indonesia)
Ooh gitu, kenapa bikin program vaksin untuk anjing-anjing ini?
Jadi gini, hampir seluruh penduduk di dua desa penyangga tadi adalah suku Dayak dan mayoritas punya anjing sebagai hewan peliharaan yang dimanfaatkan untuk menunggu rumah, ladang, atau teman berburu di hutan. Sayangnya, di sana masih banyak anjing yang menderita penyakit kulit dan cacingan. Penyakit ini bersifat zoonosis yang artinya dapat menular dari manusia ke hewan dan sebaliknya. Nah anjing-anjing yang terkena penyakit ini berkeliaran bebas di sekitar rumah dan kontak langsung dengan manusia. Jadi potensi penularan penyakit antara manusia dan hewan cukup tinggi. Nah terus, kebetulan di Kalimantan Barat khususnya Kabupaten Melawi itu zona merah virus rabies yang sebagian besar penyebab penularannya ke manusia melalui gigitan anjing.
Eh jadi rabies ini bisa menular gitu?
Iya. Rabies tuh merupakan penyakit zoonosis atau penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia yang disebabkan oleh virus. Rabies dapat menular dari hewan ke manusia melalui air liur hewan yang terinfeksi virus rabies yang masuk ke tubuh manusia melalui paparan mukosa yang terbuka, yang paling umum adalah luka yang disebabkan gigitan hewan yang terinfeksi virus tersebut. Virus ini menyerang sistem saraf dan gejala umumnya meliputi demam, sakit kepala, kelebihan air liur, kejang otot, kelumpuhan, dan kebingungan mental.
Ya ampun ngeri banget
Iya banget. Bahkan penyakit rabies ini dapat menyebabkan kematian pada manusia maupun hewan yang terpapar virus ini kalau gak cepetan dapet pengananan khusus berupa penyuntikan Vaksin Anti Rabies (VAR) maupun dengan Serum Anti Rabies (SAR). Berita baiknya, penyakit rabies bisa dicegah kok. Caranya dengan cara memberikan vaksinasi rabies untuk hewan peliharaan yang berisiko terpapar. Karena itulah, selain ngasi obat cacing dan obat scabies, kita juga ngadain vaksinasi untuk anjing peliharaan yang ada di Desa Penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.
Anjing-anjing yang telah disuntik diharapkan akan bebas dari penyakit rabies (Tim Medis| IAR Indonesia)
Ih bagus banget misinya, jadi penasaran kayak gimana kegiatannya
Jadi nih, kita adakan dulu sosialisasi zoonosis untuk warga desa. Kegiatan ini dilakukan di seluruh dusun yang ada di desa penyangga TNBBBR dari Juni sampai Oktober 2021. Kegiatan ini dilakukan secara door to door dengan sasaran masyarakat yang memiliki hewan peliharaan terutama anjing dan sosialisasi ke masyarakat yang masih melakukan aktivitas berburu dan mengkonsumsi hewan buruan yang rentan menularkan penyakit zoonosis. Sosialisasi yang diberikan bertujuan untuk memberi pengetahuan kepada masyarakat seputar pengertian zoonosis, bahaya zoonosis, ancaman zoonosis dari hewan liar hasil buruan, pencegahan zoonosis, dan mematahkan mitos yang beredar di masyarakat seputar vaksinasi rabies pada anjing.
Lho ada mitos segala?
Iya, ternyata ada lho. Jadi, ada mitos yang berdar di kalangan warga desa kalau anjing udah divaksin, dia jadi pemalas, termasuk malas ke ladang ikut majikannya. Mereka juga ada yang percaya kalau anjing tidak akan mau menggonggong lagi kalau sudah divaksin. Dan memang masih ada masyarakat yang gak mau anjingnya divaksi gara-gara itu. Untunglah abis kami sosialisasi dan kasih penjelasan, mereka ngebolehin anjingnya divaksin.
Syukur deh kalau udah tercerahkan. Abis sosialisasi ngapain lagi?
Selesai sosialisasi, terus kita melakukan juga pendataan populasi anjing dan pemberian obat cacing untuk anjing. Pendataan ini bertujuan untuk menghitung populasi anjing di desa penyangga sebagai acuan untuk melakukan vaksinasi rabies bareng Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Melawi. Setelah didata, tim medis kita ngasiin obat cacing dan treatment penyakit kulit. Dari Juni sampai September 2021 lalu, ada 211 ekor anjing yang udah diberi obat cacing dan scabies.
Warga seneng dong anjingnya dapat obat cacing sama obat penyakit kulit?
Senang dong. Selain dapat obat dan perawatan gratis, mereka juga mulai mengerti dengan bahaya zoonosis dan mulai paham dengan tujuan pemberian vaksin. Bahkan mereka tercerahkan atas mitos keliru yang beredar bahwa anjing yang divaksin akan menjadi malas ke ladang.
Mantep deh. Udah berapa anjing yang divaksin?
Tanggal 9-12 November ada 124 ekor anjing yang divaksin. Rencananya kami masih akan lanjutin lagi programnya.
Satu dari ratusan anjing peliharaan masyarakat yang telah kita beri vaksin (Tim Medis| IAR Indonesia)
Banyak juga ya? Ada pihak lain yang membantu?
Ada dong, vaksinasi dilakukan oleh dokter hewan kami dibantu dua orang vaksinator dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Melawi. Vaksinnya disuntikan melalui injeksi di bawah permukaan kulit. Proses handling anjing dilakukan oleh pemilik untuk menjaga keamanan vaksinator. Selain menyuntikkan vaksin ke anjing, tim juga melakukan sosialisasi tentang efek samping yang dapat muncul pada anjing pasca vaksinasi dan meminta pemilik untuk selalu memperhatikan anjingnya dan menghubungi tim jika timbul efek samping pada anjing.
Terus taunya anjing udah vaksin atau belum gimana? Pake aplikasi semacam Peduli Lindungi?
Ya enggak lah. Anjing yang sudah divaksinasi diberikan kalung merah aja sebagai penanda.
Oooh. Hehe. Kirain.. Respon warga terhadap vaksinasi rabies oke ngga?
Oke banget dong. Ternyata mereka mulai sadar akan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh penyakit rabies melalui sosialisasi yang sudah dilakukan sebelumnya. Masyarakat juga senang dan menyambut kegiatan kesehatan hewan ini dengan antusias karena anjing mereka lebih sehat dan bebas dari penyakit kulit setelah dilakukannya pemberian obat cacing dan anti scabies sebelumnya. Mayoritas masyarakat yang awalnya meragukan vaksinasi rabies juga sudah mempersilahkan tim untuk melakukan vaksinasi terhadap anjingnya.
Ada kendala nggak selama kegiatan ini?
Ada, tapi enggak banyak sih, dan bisa diatasi kok. Kemarin kendanya sih lebih ke faktor alam kayak hujan deras yang bikin sungai banjir, jadi tim vaksinasi hasur menunggu dulu beberapa jam supaya air sungai surut. Ini karena kami harus lewat sungai untuk pergi ke dusun-dusun itu dan kalau debit airnya tinggi, bisa membahayakan tim. Selain itu, banyak juga masyarakat yang masih membawa anjingnya ke ladang di tanggal yang sebelumnya sudah diinformasikan, sehingga beberapa anjing belum tervaksinasi.
Wah terus buat yang belum divaksin ini gimana?
Rencananya vaksinasi susulan akan dilakukan kepada anjing yang belum tervaksinasi dan kami mau bikin program kesehatan hewan peliharaan secara rutin di seluruh dusun di Desa Penyangga TNBBBR.
Heribertus Suciadi
Sumber Daya Alam yang Terjaga dalam Habitat Satwa yang Asri
Kita selalu diingatkan untuk selalu menjaga satwa di habitatnya. Tapi kenapa sih kita harus melakukannya?
Habitat satwa sebenarnya tidak hanya bermanfaat untuk satwa aja, lho. Manusia juga bisa memanfaatkan sumber daya alam terbarukan yang dihasilkan di habitat satwa ini selama keasriannya tetap kita jaga.
Yuk, kita simak sumber daya alam apa aja sih yang bisa kita dapatkan dengan menjaga habitat para satwa.
1. Air
Danau Penyenggat, Ulak Medang (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Air adalah sumber kehidupan dan komponen penting makhluk hidup. Tanpa air, sulit bagi makhluk hidup untuk dapat bertahan hidup. Tidak terkecuali manusia. Meskipun air menutupi 2/3 luasan permukaan bumi, hanya 2,5% air tawar yang dapat diminum yang ada di bumi.
Untuk mencegah kelangkaan air, kita haruslah menjaga alam. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar siklus air tetap terjaga, sehingga air tawar tetap mudah untuk didapatkan. Ketika kita menjaga alam, yang kita jaga sebenarnya adalah siklus air tersebut yang sedang berjalan. Siklus air menjaga air tetap berada dalam ekosistem sehingga dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Siklus air yang baik akan menghasilkan mata air dan sungai yang jernih, serta tidak menyebabkan banjir.
2. Bahan Pangan
Kopi di perkebunan masyarakat (Tim Comdev | IAR Indonesia)
Makanan bisa dengan mudah kita dapatkan di alam. Berbagai macam asupan nabati dan hewani dapat kita dapatkan di alam dengan tetap memerhatikan jumlah yang kita ambil. Contohnya adalah buah-buahan, kacang-kacangan, daging, ikan, dan lain sebagainya.
Menurut Kuswiyati dalam Suhardi et al (2002) setidaknya terdapat 77 jenis bahan pangan sumber karbohidrat, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis biji-bijian dan buah-buahan, 288 jenis sayur-sayuran, 110 jenis rempah-rempah terdapat di hutan. Hal ini menunjukkan bahwa hutan punya potensi yang sangat besar dalam memberikan kontribusi penyediaan pangan untuk masyarakat.
Manusia juga terkadang bercocok tanam di dalam hutan. Saat ini kita bahkan telah menemukan cara untuk bercocok tanam di hutan tanpa merambahnya. Sudah ada sistem tanam yang berkelanjutan dengan mengintegrasi pertanian atau perkebunan dengan hutan atau bisa kita sebut agroforestri.
3. Kayu
Pohon penghasil kayu (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Yap, kayu adalah salah satu sumber daya alam yang dapat diperbarui. Kayu seringkali dijadikan sebagai material pembuatan rumah maupun perabotan rumah tangga. Penggunaannya tidak masalah asalkan tidak mengganggu keseimbangan ekosistem.
Indonesia terkenal akan jenis-jenis kayunya yang kuat, tahan lama, dan berkualitas. Sedikitnya, terdapat 43 jenis kayu di Indonesia, 20 di antaranya secara khusus sering digunakan sebagai material rumah dan perabotan rumah tangga. Jenis-jenis kayu tersebut dapat diperoleh di berbagai daerah di Indonesia dan memiliki keunggulannya masing-masing. Varian kayu di Indonesia di antaranya adalah kayu jati, mahoni, pinus, merbau, sonokeling, dan kamper.
4. Hasil Hutan Bukan Kayu
Tumbuhan nipah (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Hutan maupun habitat satwa lainnya tidak hanya menghasilkan kayu dan bahan makanan, lho. Ada banyak sumber daya tumbuhan dan hewani lain yang dapat kita manfaatkan. Contohnya adalah rotan, purun, nipah, gaharu, minyak tumbuhan, sutra alami dan lain-lain.
Bahan-bahan ini memiliki fungsi dan manfaatnya yang berbeda-beda. Hal ini diketahui oleh masyarakat lokal yang memanfaatkannya untuk hal yang beragam pula. Ada yang menjadikannya perabotan, perhiasan, hingga obat-obatan tradisional.
5. Biodiversitas
Kodok kongkang gading (Tim SMKN 1 Ketapang Grup 1)
Flora dan fauna yang kita lindungi juga merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Di Indonesia sendiri terdapat 14438 spesies satwa dan tumbuhan, dimana sekitar lebih dari 3800 spesiesnya termasuk kategori endemik alias asli Indonesia. Kekayaan ini sangatlah tak ternilai harganya. Sebab, kita tak hanya mendapatkan pengetahuan dari mereka, namun juga kearifan serta kultur yang membentuk peradaban kita hingga saat ini.
Keberadaan biodiversitas ini juga dapat dijadikan indikator keasrian habitat mereka. Apabila satwa maupun tumbuhan tertentu sulit ditemukan di suatu daerah, maka ada lingkungan tersebut sedang tidak baik-baik saja dan membutuhkan perawatan. Sebab, keberadaan biodiversitas ini pada akhirnya juga akan membuat ekosistem terawat karena mereka memiliki fungsi di alam yang membuat ekosistem menjadi sehat.
Selalu Ada Yang Penting Tentang Mangrove
I know…I know… Karena penting buat lingkungan kan?
Betul! Nah tuh udah tahu jawabannya. Tapi kalian udah tahu nggak arti pentingnya mangrove itu kayak gimana?
Hehehe…nggak terlalu sih…
Nah, jadi secara fisik nih, hutan mangrove punya peran yang sangat penting sebagai pelindung kawasan pesisir dari empasan angin, arus, dan ombak dari laut. Sebaliknya, dia juga berperan sebagai benteng pantai dari pengaruh banjir dari daratan. Lagian tuh ya, sebagai salah satu ekosistem pantai, hutan mangrove memainkan peranan yang sangat penting dalam menunjang kehidupan berbagai biota laut, terutama beberapa jenis ikan, udang, dan kepiting. Hutan mangrove yang terjaga dengan baik akan mampu memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat khususnya kelompok nelayan. Nah, peran penting ini kerasa banget buat Indonesia, karena sebagai negara maritim dengan dua per tiga luas wilayahnya adalah lautan, Indonesia memiliki hutan mangrove terbesar di dunia loh. Bayangin aja, 20% atau 1/5 dari total luas mangrove dunia itu ada di Indonesia!
Wih, keren keren.
Iya, tapi sayangnya ada beberapa kegiatan manusia yang menyebabkan kerusakan hutan mangrove. Dari 3,31 juta hektar, 600 ribu hektar di antaranya teridentifikasi kritis.
Duh kenapa bisa gitu ya?
Macem-macem sih, salah satunya pencemaran lingkungan, terus penebangan mangrove dan konversi hutan mangrove terutama untuk pembangunan tambak. Faktor manusia ini nih yang merupakan faktor paling dominan penyebab rusaknya hutan mangrove. Faktor alam ada juga, tapi gak terlalu signifikan, misalnya aja abrasi gelombang laut dan sedimentasi dari aloran sungai.
Ih, ngeri juga yang kalau ekosistem mangrove yang manfaatnya bejibun itu sampe rusak.
Nah makanya kita ngadain beberapa kegiatan di Hari Mangrove Sedunia.
Wah ada perayaannya ya?
Tentu saja! Jadi Hari Mangrove Sedunia atau International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem, diadakan pertama kali tahun 2015 oleh Konferensi Umum UNESCO dan dirayakan setiap tahun di 26 Juli. Tujuan sih buat meningkatkan kesadaran akan pentingnya ekosistem mangrove dan memberikan solusi akan pengelolaan dan konservasi yang berkelanjutan. Jelas fungsinya mangrove banyak banget, dia tuh menghasilkan berbagai komoditas perikanan dan kehutanan, dia juga berperan untuk mencegah abrasi pantai, menstabilkan daerah pesisir, menyaring limbah secara alami, mencegah intrusi air laut, sebagai habitat dan tempat pemijahan beberapa jenis satwa yang tinggal di wilayah mangrove. Selain itu ekosistem mangrove juga punya potensi yang besar dalam menyerap dan menyimpan karbon. Tahu kan, karbon tuh berkontribusi besar terhadap terjadinya perubahan iklim. Dengan menjaga ekosistem mangrove artinya kita telah melakukan mitigasi bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim.
I see… terus kegiatannya apa aja?
Macem-macem sih, ada lomba foto mangrove, penanaman mangrove, sampai pameran foto, berkolaborasi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kuala Satong, Dinas Pariwisata Kabupaten Ketapang, Politeknik Negeri Ketapang, PT. Mohairson Pawan Khatulistiwa, dan Aliansi Pemuda Pecinta Alam.
Kegiatannya di mana?
Untuk lomba foto sama penanaman mangrove di Mangrove Center Kuala Satong.
Kuala Satong itu di mana sih?
Kuala Satong tuh nama desa di Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Nah di sana, ada kawasan mangrove yang dijadikan tempat wisata. Asik kan, mangrove terjaga, masyarakat pun bisa dapat wisata dan warga lokal bisa dapat tambahan penghasilan. Lumayan luas sih tempatnya. Enam hektar.
Ih kok asik banget sih..
Iya, di sana ada jalur tracking sepanjang 1,5 km. Terus ada jungle track yang terbuat dari kayu sepanjang 300 meter, jadi kalian kalau main ke sana bisa jalan-jalan di dalam hutan mangrovenya. Oh iya, ada enam saung juga yang bisa kalian pake buat istirahat sambal nikmatin suasana hutan.
Wih, kreatif banget ya masyarakat di sana. Awalnya gimana sih kok bisa jadi punya ide buat tempat wisata gitu?
Hmmm, jadi masyarakat Kuala Satong ini memang jempolan gaes. Mereka udah dari dulu paham pentingnya ekosistem mangrove yang ada di desa mereka. Terus di 2008, salah satu tokoh masyarakat Desa Kuala Satong, Syakrani, sudah mulai giat melestarikan ekosistem mangrove. Awalnya Syakrani masih berjuang sendirian, belum banyak yang tertarik untuk memanfaatkan hutan mangrove ini, tapi lama-lama kerja keras Syakrani berbuah manis. Selain mendapat dukungan dari masyarakat, dia juga mendapat dukungan dari pihak pemerintah dan swasta sehingga akhirnya bisa membentuk Kelompok Sadar Wisata serta mewujudkan Wisata Hutan Mangrove di Kuala Satong.
Eh, tadi kan ada lomba foto kan ya? Ceritain dong.
Sure! So, buat ngasi edukasi soal ekosistem mangrove sekalian promosi wisata di Kuala Satong, kita ngadain lomba foto, temanya “Atraksi Wisata di Areal Mangrove”. Lomba foto ini dibagi jadi tiga kategori: flora fauna, bentang alam, dan modelling. Ini lomba fotonya dibagi per kelompok gitu sih, total ada 23 tim dengan 69 orang yang ikutan lomba. Lombanya sendiri 4 hari, dari tanggal 24-27 Agustus. Oh iya, biarpun lomba, tapi kita tetep pake prokes yak, jadi setiap tim secara bergantian melakukan pengambilan gambar di lokasi Wisata Mangrove Kuala Satong menyesuaikan dengan daya tampung lokasi dan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
Wah keren! Seru banget! Terus hasil karya peserta lombanya bisa dilihat di mana?
Nah, hasil karya peserta lomba sempet dipamerin tuh, di Gedung Kuliah 2 Politeknik Ketapang, dari tanggal 23-25 Agustus 202. Pamerannya ini nampilin hasil karya para peserta lomba. Total ada 42 karya foto dari 23 tim. Pameran ini lumayan rame lho, cuma tiga hari aja tapi jumlah pengunjungnya sampe 575 orang. Itu juga karena dibatasi jumlah pengunjungnya gaes. Jadi hanya ada boleh 25 orang dalam ruangan. Jadi kalau mau datang ke pameran, pengunjung harus daftar dulu di aplikasi untuk ngatur kuotanya.
Kalau yang nanem mangrove gimana tuh?
Kalau nanam mangrovenya sih dua hari, Sabtu, 24 Juli dan Minggu, 25 Juli.
Banyak gak yang ikutan nanam mangrove? Ditanamnya di mana sih?
Yang ikutan nanam lumayan banyak sih, semua peserta lomba ikutan, mulai dari mahasiswa, komunitas pecinta reptil, komunitas fotografi sampe masyarakat umum. Mereka ini nanam bibit mangrove di sekitar track yang terbuka di dalam Kawasan Wisata Mangrove ini. Tujuannya ya buat menambah menambah vegetasi mangrove pada areal yang terbuka akibat pembangunan dan normalisasi sungai.
Aih serunya.. jadi pengen ikutan!
Siap! Nanti kami kabari kalau ada kegiatan lainnya ya.
Have You Done Something for Your Earth?
Hemmm…not much sih. Btw, kenapa nih tiba-tiba ngomongin soal bumi?
Gini, kan 5 Juni lalu kita ngerayain Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Nah, karena tema tahun ini Restorasi Ekosistem, Yayasan IAR Indonesia ngadain acara spesial nih sob.
Wih jadi penasaran. Acaranya apaan sih?
Kami ngajakin adik-adik pelajar SMK Negeri 1 Matan Hilir Utara di Ketapang Kalimantan Barat, untuk nanam pohon sama ngebersihin sampah plastik di Desa Sungai Besar yang terletak di Kecamatan Matan Hilir Selatan di Ketapang. Seru lho acaranya, ada 110 murid dari kelas X yang ikutan nanem bibit pohon di halaman sekolah mereka ini. Kan halaman sekolah mereka luas banget tuh, tapi sayangnya masih gersang.
Nah, kebetulan nih pas banget kan sama tema Hari Lingkungan Hidup yang ngangkat soal restorasi. Apalagi sesuai dengan mandatnya PBB nih, Restorasi Ekosistem itu bisa ditunjukkan dengan berbagai cara, dari nanam pohon, penghijauan di tempat tinggal kita, bikin taman-taman sekitar kita lebih hijau, ngubah pola makan kita jadi lebih sehat, dan ngebersihin sungai dan pantai. PBB juga ngasih saran nih supaya kegiatan restorasi ini banyak ngelibatin anak muda.
Ih keren banget… terus gimana sih ceritanya bisa kolaborasi ama sekolah ini?
Nah ini juga ada ceritanya nih. Jadi kami kan sering nih ngajak temen-temen pelajar buat jadi relawan untuk kegiatan dan program-program kami, terus pas kami main ke sekolah ini, kepala sekolah SMK Negeri 1 Matan Hilir Utara tertarik nih bikin kegiatan kolaborasi. Selain karena tujuannya baik, kebetulan sekolah ini sedang berupaya jadi sekolah adiwiyata.
Wah, sekolah adiwiyata nih apa ya?
Gelar ‘Sekolah Adiwiyata’ ini diberikan buat sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan. Ada program-programnya nih sob buat sekolah untuk bisa dapat gelar ini. Itu ada ketentuannya, ngikutin Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 5 Tahun 2013 tentang pedoman pelaksanaan program Adiwiyata.
Terus nih, program ini biasanya dilaksanakan dengan berdasarkan pada tiga prinsip utama, yaitu edukatif, partisipatif, dan berkelanjutan. Nah, biasanya nih, suatu sekolah yang sudah bikin program dengan tiga prinsip utama ini, bisa dapat gelar Adiwiyata karena dianggap berhasil jadi tempat buat pelajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan serta norma dan etika bagi siswa-siswinya untuk menjadi dasar bagi terciptanya kesejahteraan.
Oh paham-paham. Terus apa saja bibit pohon yang ditanam?
Banyak, ada bibit kaliandra, durian, gandaria, sama belimbing darah. Totalnya sekitar 70-an bibit yang udah ditanam mereka. Pengennya sih nantinya pohon-pohon ini akan tumbuh besar dan subur, sekolah kan jadi adem tuh, mau belajar atau main sambil belajar jadi enak banget tuh. Lagian kalau ada pohon buah gitu kan yang ngerasain manfaatnya gak cuma kita manusia, tapi hewan-hewan pun bisa ikuta juga dapet manfaatnya.
Mereka bisa makan buahnya, bikin sarang juga boleh banget. Asik banget kan kalau pagi-pagi di sekolah belajar sambal dengerin kicauan burung di alam? Nambah konsentrasi banget tuh kalau lagi ngerjain ulangan.
Wiiih, asik yak. Bayanginnya aja udah adem nih. Guru-gurunya pada ikutan gak?
Ya jelas ikut dong, kepala sekolahnya langsung yang memimpin kegiatan. Kepala sekolah SMKN 1 Matan Hilir Selatan, Pak Israel Tangel ini bilang juga kalau harusnya kegiatan pelestarian lingkungan bukan hanya dilakukan oleh lembaga atau organisasi tertentu saja, akan tetapi semua pihak harus terlibat aktif termasuk unsur-unsur pendidikan seperti guru dan pelajar di sekolah. Masuk akal banget kan? Emang seharusnya kegiatan pelestarian dilakukan oleh semua orang, kan semua orang juga butuh udara bersih buat hidup yang nyaman.
Got it. Kalau yang dari IAR sendiri siapa aja yang ikut?
Dari IAR sendiri, selain menerjunkan tim edukasi dan penyadartahuan, ada Mba Rahmanita, Manager HRD. Kalau dia sih bilangnya dari dulu pengen banget ngajakin semua orang untuk lebih peduli dengan lingkungan, melakukan aksi kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan melakukan penanaman pohon. Menurutnya, kondisi lingkungan yang dirasakan sekarang adalah warisan generasi terdahulu sehingga apabila lingkungan ini dititipkan dalam keadaan baik, maka kita juga harus mengembalikan untuk generasi ke depan juga dalam keadaan baik.
Mantap! Lain kali ajakin kita ya ikut acara kayak gini
Beneran ikut ya next time. Kalau mau tahu acara-acara kami, sering-sering cek website dan akun medsos kami ya sob, siapa tahu ada yang deketan sama lokasi kamu.
Merawat Gambut Demi Masa Depan Alam Indonesia
Nilai dan fungsi penting lahan dan hutan rawa gambut bagi keberlangsungan ekosistem yang hidup wilayahnya telah banyak diketahui. Sayangnya, keunikan kondisinya yang rentan terhadap gangguan eksternal tidak banyak dipahami masyarakat luas. Hingga saat ini, lahan gambut di Indonesia masih menghadapi sejumlah ancaman deforestasi dan degradasi akibat pengelolaan dan pemanfaatan yang kurang berkelanjutan.
Kegiatan pembalakan, konversi hutan gambut menjadi lahan industri perkebunan, kehutanan produksi, pemukiman disertai pembangunan drainase berlebihan, serta kebakaran merupakan pemicu dan pemacu utama deforestasi dan degradasi gambut di Indonesia. Deforestasi dan degradasi gambut berdampak pada gangguan hidrologi, penurunan tutupan hutan, subsidensi gambut, peningkatan kerentanan kebakaran, peningkatan emisi gas rumah kaca, kehilangan biodiversitas, dan sederet kerugian sosial ekonomi lainnya.
Mengingat pentingnya kerja sama semua pihak untuk menjaga kawasan gambut ini, Badan Restorasi Gambut Indonesia dan IAR Indonesia mengadakan pelatihan pada 19-21 November 2019. Dalam salah satu agenda pelatihan tersebut, sejumlah warga desa berseragam oranye dengan gambar kubah gambut tampak sibuk memegang pipa besi panjang. Terik matahari yang menyengat tidak mengganggu kesibukan mereka membuat sumur bor. Air bercampur lumpur menyembur keluar dari sumur. Tak ayal, sebagian dari mereka basah kuyup. Namun hal itu tidak mengurangi kegiatan mereka mempraktikkan pembuatan sumur bor untuk membasahkan kembali (rewetting) gambut dalam kegiatan yang bertajuk sosialisasi dan diskusi serta bimbingan teknis pembuatan sumur bor dan sekat kanal.
Selama tiga hari, kegiatan ini dihadiri lebih dari 50 orang yang berasal dari beberapa instansi seperti TNI, Polisi, Manggala Agni, perangkat desa dan warga desa di Kecamatan Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, dan Muara Pawan.
Praktik pembuatan sumur bor yang berlangsung dari pukul 09.00 pagi sampai sore hari ini dilaksanakan di lahan milik IAR Indonesia di Desa Sungai Awan Kiri pada hari terakhir. Tujuan dari praktik ini adalah supaya pembuatan sumur bor bisa diimplementasikan di desa yang rawan kebakaran serta memiliki lahan gambut yang luas sebagai proses dan upaya pencegahan kebakaran.
Pemberian materi sebagai pengantar pemahaman dilakukan di hari pertama, bertempat di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren Ketapang. Di pembekalan materi ini, peserta mendapatkan penjelasan pengantar ekosistem gambut dan kelembagaan Badan Restorasi Gambut RI, kebijakan kedeputian bidang konstruksi, operasi dan pemeliharaan restorasi gambut Provinsi Kalimantan Barat, kegiatan restorasi gambut lingkup Provinsi Kalimantan Barat, mekanisme pembangunan anggaran dasar terkait perlindungan dan penanggulangan bencana, program kerja badan penanggulangan bencana daerah terkait penanggulangan bencana berbasis masyarakat, serta penanggulangan karhutla di Kabupaten Ketapang di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren Ketapang.
Pada hari kedua, peserta diajak meninjau sekat kanal di Desa Tempurukan dan pada hari ketiga, para peserta mempraktikkan pembuatan sumur bor untuk pembahasan kembali lahan gambut.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mensosialisasikan dan mensinergiskan program-program BRG yang akan dilaksanakan di Kabupaten Ketapang pada instansi pemerintah kabupaten terkait dan pemerintah desa, memberikan pengetahuan dan pemahaman dasar kepada para peserta dari masyarakat desa serta mempraktikkan tata cara pembangunan sumur bor dan sekat kanal sesuai standar yang ditetapkan.
Harapannya, semua pihak mengetahui peran, fungsi, dan tanggung jawabnya masing-masing terkait pengelolaan kawasan gambut. Terutama bagi para peserta dari desa, dengan mengikuti pelatihan ini, mereka mengetahui dan memahami tentang tata cara pembangunan sumur bor dan sekat kanal sesuai standar yang ditetapkan, dan menjadi pendorong bagi setiap desa untuk menangani serius penanggulangan kebakaran pada lahan gambut dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes). RPJMDes ini merupakan rencana per 5 tahun yang dibuat berdasarkan musyawarah desa dan saat ini desa-desa yang terlibat sudah memasukan rencana penanggulangan bencana kebakaran di lahan gambut ke dalam RPJMDes. Hal ini berarti desa-desa ini sudah berkomitmen untuk pengelolaan gambut.