Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Ibu Lina Kartasasmita, Menginspirasi Lewat Pendidikan

Siapa bilang pendidikan itu membosankan? Ibu Lina Kartasasmita membuktikan sebaliknya!

Sebagai seorang ibu, guru dan life coach, Ibu Lina telah menjelajahi dunia pendidikan dengan penuh dedikasi. Mulai dari mengajar akuntansi sampai menjadi guru bahasa dan life coach, Ibu Lina selalu berusaha membuat dampak positif bagi murid-muridnya dan masyarakat luas.

Yuk, kenali dan simak perjalanan inspiratif Ibu Lina!

Latar Belakang Kecintaannya pada Pendidikan

Terinspirasi dari keluarganya

Perempuan kelahiran tahun 1966 ini mendapatkan inspirasi pendidikan dari keluarganya sejak dini. Kakeknya adalah seorang guru bahasa Indonesia untuk orang-orang Belanda di zaman penjajahan, dan salah satu kakaknya juga mengikuti jejak tersebut dengan menjadi guru.

Namun, inspirasi terbesarnya adalah dari ayahnya, pendiri sekolah swasta Dhammasavana di Jakarta, yang menekankan pentingnya pendidikan.

Ayah Ibu Lina selalu berpesan, “Yang bisa mengubah hidup kamu adalah belajar. Hanya pendidikan yang bisa membawa kamu lebih maju.” selain menjadi doktrin keluarga, pesan ini juga menumbuhkan semangat belajar dalam diri Ibu Lina yang berkelanjutan hingga saat ini.

Ibu Lina yakin ilmu pengetahuan adalah kunci untuk mengubah hidup seseorang dan berbagi ilmu adalah cara untuk memperkuat komunitas. Pengajaran dari ibunya juga menegaskan hal ini, “Kalau orang sakit kita sembuhkan, hari itu saja ia sembuh dan bisa sakit lagi. Tapi kalau kamu mendidik seseorang, ilmunya akan digunakan seumur hidupnya untuk mencari nafkah dan mengajar anak-anaknya.”

Dalam sebuah wawancara daring, Ibu Lina juga menyampaikan, “Kalau saya kasih orang uang, mungkin habis dalam sekejap. Tapi kalau saya kasih dia ilmu, itu akan berkepanjangan dalam hidupnya. Ilmu yang dibagi tidak akan pernah habis.”

Terbiasa mengajar di sekolah sejak kecil

Ibu Lina telah mengenal dunia pendidikan sejak usia muda, meneladani semangat ayahnya. Semenjak duduk di bangku SMP dan SMA, ia telah aktif mengambil peran dalam dunia pendidikan, tidak hanya sebagai siswa tapi juga sebagai pengajar.

Ibu Lina sering kali dipercaya untuk menggantikan guru akuntansi di sekolah yang didirikan oleh ayahnya, serta menjaga kestabilan kelas saat guru berhalangan hadir.

Selain tugas-tugas resmi, Ibu Lina juga mencari cara untuk menambah uang jajannya dengan mengajarkan pelajaran kepada teman-temannya. Kecintaannya terhadap pengajaran ini ternyata menurun kepada anak-anaknya, yang juga mengikuti jejaknya dengan mengajari teman-teman mereka di sekolah.

Bagi Ibu Lina, mengajar adalah panggilan hati, terutama dalam mendidik generasi muda yang tanpa bimbingan yang tepat. Menurutnya, kunci dari pendidikan efektif terletak pada kecocokan antara guru dan murid; tanpa adanya kesesuaian tersebut, proses belajar mengajar tidak akan berlangsung dengan efektif. 

Terinspirasi dari banyak tokoh inspiratif dunia

Inspirasi Ibu Lina juga didapatkan dari berbagai tokoh besar dunia yang memiliki visi perubahan positif.

Margaret Thatcher menginspirasinya dengan ketangguhan sebagai pemimpin perempuan, sementara Mahatma Gandhi mengajarkan pentingnya kesederhanaan dan keberanian dalam memperjuangkan keadilan.

Di sisi lain, Lee Kuan Yew memengaruhi pandangan Ibu Lina mengenai pentingnya pendidikan sebagai pilar kemajuan bangsa. Ia juga mengambil hikmah dari ajaran Lao Tzu tentang kedamaian batin dan hidup secara otentik.

Inspirasi dari tokoh-tokoh tersebut membentuk cara Ibu Lina dalam mengajar, melatih, dan berinteraksi dengan orang lain. Dengan mengikuti pemikiran dan tindakan mereka, ia berusaha menjadi pendidik dan pembimbing yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat, baik di Indonesia maupun di komunitas internasional.

Tantangan yang Dihadapi Ibu Lina

Pelatihan Manajemen Keuangan Ibu Lina kepada siswa penerima beasiswa Kahiu (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Perjalanannya mengenyam pendidikan sampai menjadi pengajar tidak selalu mulus, banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Ibu Lina.

Menjadi kaum minoritas

Menghadapi statusnya sebagai minoritas ganda di Indonesia, Ibu Lina menjalani tantangan besar dalam mengejar pendidikan tinggi.

Pada waktu itu, masuk ke universitas negeri sangat sulit bagi beliau, sehingga beliau memilih untuk melanjutkan studi di jurusan akuntansi di sebuah universitas swasta.

Dalam menghadapi diskriminasi dan kesulitan lainnya, Ibu Lina tidak pernah menyerah. Dengan tekad kuat, ketekunan, dan dukungan tidak tergoyahkan dari keluarganya, beliau berhasil mengatasi tantangan tersebut.

Ibu Lina berbagi filosofinya dalam pendekatan pendidikan,

“While I do it, I do it my best. Saya lakukan yang terbaik dengan apa yang saya punya, yang saya bisa. Ketika bertemu murid baru, saya selalu bilang, ‘I’m not only your teacher, I can also be your friend. Doing something good is good karma. Kalau saya melakukan kebaikan untuk mereka, you don’t owe me, the universe owes me.’ Saya percaya, ketika saya melakukan kebaikan, menolong seseorang, bukan berarti orangnya harus membayar ke saya, tetapi saya menghutangi Tuhan. Tuhan yang akan membayar balik kebaikan itu kepada saya.”

Tinggal di negeri orang

Pada awal tahun 2000-an, ketika suaminya mendapat penugasan selama tiga tahun ke Amerika Serikat, Ibu Lina dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang berharga. Keputusan untuk meninggalkan Indonesia dan menetap di luar negeri tidaklah mudah, terutama mengingat anak-anaknya yang sedang dalam fase penting pertumbuhan.

Tinggal di Amerika membawa tantangan besar dalam adaptasi budaya dan bahasa untuk keluarga Ibu Lina.

Selain menghadapi kesulitan pribadi dan bertanggung jawab mengurus keluarga di negara yang asing, Ibu Lina juga dihadapkan pada tantangan profesional dalam menemukan peran yang sesuai dengan keahliannya. Namun, daripada menyerah, Ibu Lina melihat ini sebagai kesempatan untuk berkembang.

Di tengah tantangan tersebut, Ibu Lina mengambil inisiatif mengajar Bahasa Indonesia untuk ekspatriat. Selanjutnya, ia meningkatkan kualifikasi profesionalnya dengan mendapatkan sertifikat MBA dari sebuah universitas terkemuka dan mengikuti program executive coaching di University of Cambridge.

Melalui upaya dan ketekunan ini, Ibu Lina berhasil menyesuaikan diri dengan kehidupan baru di Amerika, sekaligus menambahkan dimensi baru pada kariernya.

Berhadapan dengan murid berkepala batu

Dalam perjalanan kariernya sebagai pendidik, Ibu Lina sering berhadapan dengan tantangan unik: murid yang memiliki keyakinan yang salah namun kuat.

Namun, dengan kesabaran dan pendekatan yang tepat, Ibu Lina berhasil memperbaiki kesalahpahaman mereka. Misalnya, ada kalanya seorang murid bersikeras bendera Indonesia berbentuk lingkaran, tetapi dengan sabar Ibu Lina mampu menyajikan bukti sejarah yang akurat untuk mengoreksi pandangan tersebut.

Selama bertahun-tahun, Ibu Lina telah mengajar ribuan siswa dari berbagai latar belakang, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Di antara murid-muridnya terdapat ekspatriat dari perusahaan besar seperti Chevron dan Kedutaan Besar Spanyol, serta remaja dan anak-anak dari desa-desa terpencil di Kalimantan yang belajar melalui Kahiu Academy.

Pengalaman ini memperluas wawasan Ibu Lina tentang keberagaman pelajar, serta memperkaya metode pengajarannya yang kini lebih inklusif dan efektif.

Berbagai Kontribusi Sosial Ibu Lina

Mendirikan komunitas membaca

Pada tahun 2018, Ibu Lina bersama dua teman dan kedua anaknya, mendirikan Lit & Coffee, sebuah klub buku yang berkomitmen untuk menggalakkan kegemaran membaca dan berdiskusi di kalangan generasi muda. Komunitas ini menyelenggarakan diskusi rutin mengenai berbagai genre buku, dan tidak lama kemudian, mereka juga memulai diskusi film.

Sejak awal, Lit & Coffee menawarkan suasana yang inklusif dengan tidak menerapkan sistem keanggotaan, sehingga semua diskusi terbuka untuk umum dan mengundang siapa saja yang berminat.

Kegiatan diskusi ini awalnya dilakukan secara tatap muka. Namun, dengan keinginan peserta untuk meningkatkan frekuensi pertemuan, kegiatan mulai beralih ke platform seperti Zoom. Keputusan ini memungkinkan fleksibilitas lokasi dan waktu, yang berdampak pada peningkatan antusiasme dan jumlah partisipan.

Diskusi daring pun telah menarik minat peserta dari berbagai daerah di Indonesia seperti Batam dan Banda Aceh, serta beberapa partisipan dari luar negeri.

Membimbing kemampuan softskill siswa Kahiu Academy

Pelatihan Manajemen Keuangan Ibu Lina kepada siswa Kahiu Academy (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Kontribusi Ibu Lina lainnya adalah keterlibatannya dengan Kahiu Academy, sebuah program beasiswa pendidikan keterampilan gagasan YIARI sejak 2022.

Dalam sesi pelatihannya, Ibu Lina mengajarkan teknik dasar pengelolaan uang dan menekankan pentingnya literasi keuangan bagi pemuda, membantu mereka memahami cara mengelola keuangan dengan bijak.

Kahiu Academy berkomitmen untuk membekali siswanya dengan berbagai keterampilan esensial yang dibutuhkan untuk sukses di masa depan. Program ini mencakup pembelajaran akademis, kepemimpinan, dan keuangan. Sebelum mengajar di Kahiu Academy, Ibu Lina juga telah memberikan pelatihan public speaking dan pengelolaan keuangan kepada staf YIARI.

Perannya sebagai pendidik dan life coach memberikan kepuasan tersendiri ketika melihat murid-muridnya berhasil dan berkembang. Ibu Lina percaya pendidikan holistik yang mencakup pembelajaran akademis, keterampilan hidup, dan literasi keuangan adalah kunci untuk membenahi hidup seseorang.

Ia juga melengkapi diri dengan pengetahuan literasi keuangan. Baginya, membenahi hidup orang itu tidak hanya pada perasaan, pikiran, dan mindset-nya, tapi juga bagaimana mengelola keuangan.

Bertekad untuk Terus Mengemban dan Berbagi ilmu

Ibu Lina punya impian besar: ia ingin terus menjadi sumber inspirasi dan manfaat dengan membagikan ilmunya dan menyediakan pendidikan berkualitas yang mudah diakses oleh semua anak di Indonesia.

Dalam upaya untuk memperluas jangkauannya, Ibu Lina berencana untuk menulis buku tentang parenting dan pendidikan, serta ingin meningkatkan jumlah kelas online yang diselenggarakannya untuk menjangkau lebih banyak murid.

Ibu Lina percaya belajar adalah kunci untuk tetap awet muda dan semangat. “Saya percaya anti penuaan itu bukan krim. Anti penuaan itu belajar. Selama kita belajar, kita tetap awet muda. Karena kita selalu memiliki tujuan baru yang ingin dicapai esok hari. Selalu ada sesuatu yang ingin kita kejar dalam hidup,” ujarnya dengan penuh semangat.

Sebagai seorang pendidik dan life coach, Ibu Lina Kartasasmita telah memberikan dampak yang signifikan dan positif bagi banyak orang. Kisah hidupnya mengajarkan kita tentang pentingnya pendidikan, kesabaran, dan semangat untuk terus belajar serta berbagi.

Melalui dedikasinya, Ibu Lina menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan dapat mengubah hidup seseorang dan bagaimana berbagi ilmu pengetahuan dapat memberdayakan komunitas.

Ingin belajar lebih banyak dari Ibu Lina? Sobat #KonservasYIARI bisa menghubungi beliau melalui Linked in atau Instagram beliau ya! 😄

***

Tentang Kahiu Academy

Kahiu Academy merupakan sebuah program beasiswa gagasan YIARI sejak 2022.  Program berupa pendidikan keterampilan bagi remaja putus sekolah hingga lulusan SMA dari desa-desa dampingan YIARI di Ketapang, Kalimantan Barat. Tujuan utama Kahiu Academy ialah memberikan pendidikan berkualitas anak-anak desa yang berbatasan dengan hutan untuk mendapatkan keterampilan yang bermanfaat, menghindari pekerjaan ilegal, dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Awal Berseri Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Tujuh Orangutan Kembali ke Habitat Asli 

Di awal masa jabatan Raja Juli Antoni sebagai Menhut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) kembali melakukan pelepasliaran 7 (tujuh) individu orangutan di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya wilayah kerja Resort Mentatai, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Nanga Pinoh (31/10)

Mereka adalah orangutan yang dititiprawatkan Balai KSDA Kalbar di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI Ketapang sejak tahun 2010 hingga 2020. Semuanya merupakan orangutan yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi. Sebelum dilepasliarkan, mereka menjalani masa rehabilitasi di pusat rehabilitasi orangutan di YIARI di Desa Sungai Awan, Ketapang. 

Proses rehabilitasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan sifat alami mereka, sekaligus membuatnya memiliki kemampuan bertahan hidup di habitat asli. Orangutan semestinya hidup bersama induknya sejak lahir sampai usia 6-8 tahun. Selama masa pengasuhan inilah, orangutan perlu mempelajari berbagai kemampuan hidup seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang. Namun karena berbagai sebab, bayi orangutan ini terpisah dari induknya dan berakhir di tangan manusia, sehingga kehilangan kesempatan untuk mempelajari segala kemampuan tersebut. Proses rehabilitasi sampai pelepasliaran ini bisa memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Waktu yang diperlukan dapat mencapai 14 tahun, tergantung kemampuan masing-masing individu.

Pelepasliaran orangutan merupakan satu langkah penting setelah rehabilitasi, sebagai upaya pelestarian satwa liar dilindungi serta pemulihan populasi orangutan di alam. Dari tujuh orangutan yang dilepasliarkan, dua orangutan bernama Rika dan Kamila berjenis kelamin betina. Sementara Aben, Muaro, Onyo, Batis, dan Lambai berjenis kelamin jantan. Hal yang istimewa dari kegiatan pelepasliaran kali ini adalah empat dari tujuh orangutan ini adalah pasangan induk dan anak orangutan asuh. Mereka adalah Kamila-Batis dan Rika-Aben. 

Tim pelepasliaran berangkat dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Ketapang pada tanggal 29 Oktober 2024 pada pukul 04.00 WIB. Selama di perjalanan tim selalu memperhatikan kondisi orangutan yang dibawa agar tidak mengalami stres di dalam kandang, mengingat jarak tempuh yang sangat jauh (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Rika merupakan orangutan betina yang berasal dari Desa Batu Tajam, Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Dia diselamatkan dari perdagangan dan pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi oleh WRU BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI pada 28 Oktober 2013. Pemeliharanya mengaku memperoleh Rika dari anaknya yang membeli orangutan tersebut dari seorang pemburu seharga Rp500.000. Selama tiga bulan dipelihara, Rika diikat dengan rantai di bawah rumah dan diberi makan nasi serta sayur-sayuran. 

Manager Animal Management YIARI, Andini Nurillah, menyatakan bahwa selama sepuluh tahun belajar di pusat rehabilitasi YIARI, Rika menunjukkan kemajuan signifikan dalam menguasai keterampilan bertahan hidup sebagai orangutan. “Tidak hanya menguasai kemampuan bertahan hidup sebagai orangutan, Rika juga terbukti mampu mengajarkan kemampuan ini kepada orangutan lainnya, bahkan dapat menjadi induk asuh yang mumpuni bagi bayi orangutan,” ujar Andini.

Sementara itu, Aben, orangutan jantan yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan satwa liar di Ketapang pada 10 Desember 2019 menjadi bayi orangutan beruntung yang tidak perlu menjalani masa rehabilitasi panjang seperti Rika. Rika dipasangkan dengan Aben untuk menjadi ibu angkat. Hasilnya, Rika bisa mengajari Aben dengan berbagai kemampuan yang diperlukan untuk bertahan hidup seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang. Rika juga bisa menjadi pelindung bagi Aben yang bertubuh mungil. Strategi ini berhasil. Rika menjadi induk yang protektif dan Aben menjadi lebih percaya diri untuk mempelajari hal-hal baru.

Kisah sukses induk-anak asuh orangutan lainnya datang dari Karmila dan Batis. Karmila adalah orangutan betina asal Benua Kayong, Ketapang, Kalimantan Barat. Ia diselamatkan dari kasus pemeliharaan ilegal satwa liar dari seorang warga yang mengaku mendapatkan Karmila dai perkebunan sawit di daerah tersebut. Andini menegaskan, selama 14 tahun di YIARI, Karmila telah menjalani proses rehabilitasi intensif dan menunjukkan perkembangan luar biasa. “Ia menjadi orangutan yang mahir mencari makanan, membuat sarang, serta memiliki keterampilan bertahan hidup lainnya yang esensial di alam liar,” tegasnya. Pada 19 November 2020, Karmila mulai disosialisasikan sebagai induk asuh bagi bayi orangutan bernama Batis. Selama masa sosialisasi, Karmila mampu beradaptasi dengan baik, menunjukkan kemampuan keibuan yang kuat, dan berhasil menjadi induk asuh yang andal. Saat ini, Karmila yang diperkirakan berusia sekitar 15 tahun siap untuk dilepasliarkan bersama anak asuhnya, Batis.

Perjalanan memikul kandang para orangutan memasuki kawasan hutan TNBBBR dibantu oleh para porter yang berasal dari warga desa sekitar TNBBBR (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Sementara Batis adalah orangutan jantan yang berasal dari Desa Batu Lapis, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Ia diselamatkan pada 17 April 2020 dari kasus pemeliharaan satwa ilegal dilindungi. Sebelumnya, Batis ditemukan oleh seorang warga di hutan saat mengumpulkan kayu dan tidak menyadari orangutan merupakan satwa dilindungi. Selama tiga bulan dipelihara, Batis ditempatkan dalam kandang kayu berukuran 50 x 80 cm dan diberi makan nasi, pisang, pepaya, serta minum air putih bahkan kopi. Ketika diselamatkan, Batis diperkirakan berusia sekitar 1 tahun. Setelah menjalani masa karantina, ia mulai disosialisasikan dengan Karmila, induk asuhnya, pada 19 November 2020. Melalui sosialisasi ini, Batis belajar berbagai keterampilan bertahan hidup, seperti foraging, traveling, dan membuat sarang. Selama empat tahun rehabilitasi, kondisi kesehatannya terpantau baik dan siap untuk dilepasliarkan bersama induk asuhnya, Karmila.

Muaro adalah orangutan jantan asal Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, yang tiba di YIARI pada 11 Februari 2018. Kisahnya bermula saat ia terpisah dari induknya akibat pembukaan lahan oleh salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit pada Desember 2016. Selama itu, Muaro dipelihara oleh seorang warga desa dan diberi makanan manusia seperti susu, air gula, nasi, dan lauk. Penyelamatan Muaro dilakukan oleh tim gabungan WRU BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI pada 9 Februari 2018. Setelah enam tahun menjalani rehabilitasi, Muaro yang saat ini berusia delapan tahun sudah menunjukkan kemampuannya untuk hidup liar di habitat aslinya. 

Onyo adalah orangutan jantan yang berasal dari daerah Nek Doyan, Ketapang. Ia pertama kali tiba di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) pada 10 Maret 2013, setelah ditemukan oleh seorang warga di bawah pohon. Berdasarkan penuturan warga, induk Onyo sempat terlihat di sekitar lokasi, namun kemudian pergi menjauh meninggalkan Onyo sendirian. Selama masa pemeliharaan sebelum diserahkan ke YIARI, Onyo diberi makan nasi dan susu kental manis oleh warga setempat. Setelah sebelas tahun menjalani rehabilitasi di YIARI, Onyo yang saat ini diperkirakan berusia 12 tahun dinilai sudah layak dilepasliarkan. 

Selain melalui perjalanan darat dengan kendaraan motor dan berjalan kaki, perjalanan ke lokasi pelepasliaran juga dilakukan dengan mengendarai perahu motor selama 1 jam (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Lambai adalah orangutan jantan yang berasal dari Dusun Tanjung Lambai, Kecamatan Nanga Tayap, Kalimantan Barat. Ia tiba di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) setelah diselamatkan oleh tim gabungan WRU BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI pada 30 April 2016. Kisah penyelamatannya dimulai ketika seorang karyawan perusahaan perkebunan kelapa sawit menemukan Lambai dalam sebuah kardus yang jatuh dari mobil. Setelah menjalani proses rehabilitasi selama 8 tahun, Lambai yang saat ini berusia 10 tahun dinilai siap untuk dilepasliarkan di habitat asli.

Rehabilitasi ini diperlukan untuk mengembalikan sifat dan kemampuan alami orangutan untuk bertahan hidup di habitatnya. Di alam bebas, bayi orangutan akan tinggal bersama induknya sampai usia 7-8 tahun. Ia belajar dari induknya tentang bertahan hidup di alam sebagai orangutan. Dikarenakan bayi orangutan dipaksa berpisah dengan induknya untuk dijadikan peliharaan, bayi orangutan kehilangan kesempatan untuk menguasai kemampuan bertahan hidup.

Perjalanan untuk menuju titik pelepasan memerlukan waktu selama 3 hari, dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Sungai Awan, Ketapang menuju titik pelepasan di dalam kawasan TNBBBR. Tim pelepasan berangkat dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Ketapang pada tanggal 29 Oktober 2024 pada pukul 04.00 WIB. Selama di perjalanan tim selalu memperhatikan kondisi orangutan yang dibawa agar tidak mengalami stres di dalam kandang, mengingat jarak tempuh yang sangat jauh. Memerlukan waktu setidaknya  17 jam bagi tim untuk mencapai di kantor seksi Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Nanga Pinoh. Tim beristirahat satu malam sebelum melanjutkan perjalanan ke titik pelepasan. Kegiatan pelepasan ini melibatkan lebih dari 100 orang yang terdiri dari masyarakat, BKSDA Kalbar, BTNBBBR, dan tim YIARI sendiri.

Lambai, salah satu orangutan jantan yang dilepasliarkan di TNBBBR (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Keesokan paginya, perjalanan dilanjutkan menuju dusun terdekat dengan kawasan TNBBBR. Perjalanan darat ditempuh selama 5 jam, kemudian diteruskan dengan perahu motor selama 1 jam. Tidak sampai di situ, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki memasuki kawasan hutan TNBBBR. 

Didukung oleh para porter yang berasal dari warga desa sekitar TNBBBR, perjalanan dengan memikul kandang ini memakan waktu hingga 5 jam. Setelahnya, keempat orangutan ditempatkan di dalam kandang habituasi agar bisa beristirahat dan sedikit beradaptasi dengan lingkungan baru. Keesokan harinya, tim melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dan ketujuh orangutan ini dilepaskan di dua titik pelepasan berbeda.

Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dipilih menjadi tempat pelepasliaran orangutan mengingat habitat tersebut menyediakan sumber pakan yang melimpah dan sesuai untuk habitat orangutan sekaligus menjadi bukti bahwa habitat di TNBBBR masih aman dan terlindung Hasil survey tim gabungan BTNBBBR dan YIARI menunjukkan jumlah serta jenis pohon pakan orangutan berlimpah. Selain itu, jumlah populasi orangutan di dalam kawasan juga masih sangat sedikit. Status kawasan TNBBBR sebagai kawasan konservasi lebih menjamin keamanan dan kesejahteraan satwa di dalamnya. Sampai saat ini, YIARI telah melepaskan 82 orangutan sejak tahun 2016.

Mengingat orangutan yang dilepaskan ini merupakan orangutan hasil rehabilitasi, YIARI bersama BTNBBBR menerjunkan tim monitoring untuk melakukan pemantauan perilaku dan proses adaptasi orangutan ini di lingkungan barunya. Tim monitoring yang terdiri dari masyarakat desa penyangga kawasan TNBBBR akan mencatat perilaku orangutan setiap 2 menit, dari orangutan bangun sampai tidur lagi setiap harinya. Proses pemantauan berlangsung selama 1-2 tahun, memastikan orangutan yang dilepaskan bisa bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Sepasang anak (Batis) dan ibu asuh (Karmila) orangutan memanjat pohon beberapa saat setelah dilepasliarkan (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul mengapresiasi upaya bersama ini sebagai permulaan yang baik dalam kepemimpinan Menteri Kehutanan yang baru. “Semoga kegiatan pelepasliaran ini menjadi langkah awal yang baik di awal kepemimpinan Menteri Kehutanan kita, Bapak Raja Juli Antoni.” Dia juga menegaskan bahwa ini adalah upaya nyata dari kolaborasi pelestarian satwa liar di Indonesia. “Saya bangga menjadi bagian dari tim yang memberi kesempatan hidup yang baru bagi orangutan yang sebelumnya perlu diselamatkan dan telah menjalani rehabilitasi. Pelepasliaran tujuh individu orangutan ini adalah bukti nyata dari komitmen bersama dalam upaya bersama pelestarian satwa liar yang dilindungi di Indonesia. Keberhasilan ini tidak lepas dari kerjasama yang solid antara YIARI, Balai KSDA Kalimantan Barat, dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Setiap individu orangutan yang kami lepasliarkan telah melalui proses rehabilitasi panjang dan menyeluruh, yang bertujuan agar mereka memiliki keterampilan bertahan hidup di habitat aslinya. Kami berharap langkah ini dapat memperkuat populasi orangutan di Kalimantan Barat dan mendukung pelestarian hutan yang menjadi rumah mereka,” tutupnya.

Kepala BTNBBBR, Andi Muhammad Kadhafi, menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi yang kuat antara berbagai pihak. TNBBBR dipilih sebagai lokasi pelepasliaran mengingat habitat tersebut menyediakan sumber pakan yang melimpah dan sesuai untuk habitat orangutan.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, RM Wiwied Widodo, mengungkapkan pentingnya pelestarian satwa endemik Kalimantan. Ia menekankan bahwa orangutan adalah bagian dari kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia, yang harus dijaga dan dilestarikan. Dukungan dari semua pihak sangat penting untuk memastikan kelangsungan hidup spesies ini.

Tentang YIARI

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan lembaga nirlaba yang  bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan,  pelepasliaran, dan pemantauan pasca lepas liar. YIARI  juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara  habitat, satwa, dan manusia.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

YIARI: +62 821-5346-2720  (Heribertus Suciadi, Manager Media dan Komunikasi YIARI)

Pohon Jelutung: Manfaat, Distribusi Habitat, Ancaman, dan Strategi Pemanfaatan

Hai, sobat #KonservasYIARI!

Pernah mendengar pohon jelutung? Jika belum, mungkin tanpa sadar kita sudah menikmati manfaatnya.

Pohon ini merupakan salah satu jenis penghasil lateks atau getah alami yang memiliki banyak kegunaan di berbagai industri.

Pohon jelutung tumbuh subur di hutan tropis Asia Tenggara dan memiliki nilai ekonomi yang cukup signifikan.

Namun, keberadaannya kini terancam oleh deforestasi, alih fungsi lahan, serta eksploitasi berlebihan. Untuk menjaga keberlanjutannya, penting bagi kita memahami manfaat dan menerapkan strategi konservasi yang efektif, demi mendukung industri yang berkelanjutan serta ekosistem yang sehat.

Yuk, kenalan lebih jauh tentang pohon jelutung dan upaya pelestariannya!

Pengenalan dan Manfaat Ekonomi Jelutung

Secara umum, pohon jelutung terbagi menjadi dua jenis, yaitu jelutung rawa (Dyera costulata) dan jelutung darat (Dyera polyphylla atau Dyera lowii).

Pohon ini dikenal sebagai salah satu penghasil getah terbaik di dunia, berbeda dengan pohon lain yang biasanya dimanfaatkan kayunya. Tak heran, negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, sampai negara-negara di Eropa masih banyak mengimpor getah jelutung dari Indonesia.

Balok getah karet cetakan pohon jelutung (Hutanharapan.id)

Inilah berbagai manfaat pohon jelutung:

1. Sumber getah alami berkualitas tinggi

Pohon jelutung merupakan salah satu sumber utama lateks alami berkualitas tinggi. Lateks yang dihasilkan memiliki tingkat elastisitas dan daya tahan lebih baik dibandingkan getah karet biasa.

Hal ini membuat getah jelutung sangat diandalkan dalam berbagai industri, terutama yang memerlukan bahan dengan ketahanan tinggi dan fleksibilitas, seperti industri ban dan produk berbahan dasar karet lainnya.

2. Bahan baku industri

    Getah jelutung memiliki beragam aplikasi di industri, mulai dari pembuatan ban mobil sampai isolator kabel. Keunggulannya yang lebih elastis dan tahan lama membuatnya cocok digunakan sebagai bahan utama dalam industri tersebut.

    Selain itu, getah jelutung juga dimanfaatkan dalam pembuatan permen karet, cat, dan vernis akrilik, karena sifatnya yang mudah diolah dan stabil.

    3. Pendukung ekonomi lokal

      Keberadaan pohon jelutung memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat lokal di sekitar habitatnya. Petani dan penduduk setempat dapat memanfaatkan pohon ini dengan menjual getahnya ke pasar lokal maupun internasional.

      Selain itu, kayu dari pohon jelutung juga bisa diolah menjadi produk mebel yang memiliki nilai jual tinggi, memberikan peluang tambahan bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

      4. Berpotensi menyerap karbon

        Sebagai bagian dari ekosistem hutan tropis, pohon jelutung berperan penting dalam menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Proses ini membantu dalam mengurangi konsentrasi gas rumah kaca, yang berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim.

        Oleh karena itu, keberadaan pohon jelutung juga pada upaya pelestarian lingkungan global.

        5. Konservasi ekosistem gambut

          Pohon jelutung secara alami tumbuh di lahan gambut, yang merupakan ekosistem penting untuk menjaga keseimbangan hidrologis. Lahan gambut yang terjaga baik dapat mencegah banjir, menjaga kelembaban tanah, dan mengurangi risiko kebakaran hutan.

          Dengan demikian, pelestarian pohon jelutung berkontribusi langsung terhadap keberlanjutan ekosistem gambut dan kesehatan lingkungan secara keseluruhan.

          6. Memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan

            Pohon jelutung memiliki masa panen panjang, yakni sekitar 15-20 tahun. Hal ini memungkinkan petani dan masyarakat di sekitar hutan jelutung untuk mendapatkan penghasilan dalam jangka panjang dari penyadapan getah secara berkelanjutan.

            Dengan siklus panen yang dapat dilakukan setiap minggu, potensi pendapatan ini bisa terus berkembang tanpa merusak lingkungan, asalkan pengelolaan dilakukan secara bertanggung jawab dan sesuai prinsip konservasi.

            Distribusi dan Habitat Jelutung

            Pohon jelutung tersebar luas di wilayah hutan tropis di Asia Tenggara, meliputi Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

            Di Indonesia sendiri, pohon ini banyak ditemukan di Sumatra, Kalimantan, dan sebagian wilayah Sulawesi. Jelutung umumnya tumbuh di dua jenis habitat utama, yaitu lahan rawa dan lahan dataran tinggi, yang membedakannya menjadi dua spesies utama: jelutung rawa (Dyera costulata) dan jelutung darat (Dyera polyphylla atau Dyera lowii).

            Ilustrasi ketinggian pohon jelutung (Kompasiana)

            1. Jelutung rawa

              Jelutung rawa tumbuh subur di kawasan lahan gambut dan hutan rawa. Habitat ini biasanya memiliki kadar air tinggi dengan tanah berlapis gambut tebal.

              Jelutung rawa mampu tumbuh di kondisi tanah yang tergenang air dan tetap berfungsi sebagai tanaman yang mendukung ekosistem lahan basah, termasuk dalam menjaga keseimbangan hidrologis dan mencegah penurunan permukaan tanah.

              Kondisi ideal bagi jelutung rawa mencakup lahan yang lembab, sinar matahari yang cukup, dan temperatur hutan tropis yang hangat. Habitat ini juga sering kali berfungsi sebagai penyimpan karbon alami, mengingat kemampuan lahan gambut dalam menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar.

              2. Jelutung darat

                Sebaliknya, jelutung darat tumbuh di habitat dataran tinggi dan hutan-hutan tropis dengan tanah yang lebih kering dibandingkan lahan gambut. Spesies ini umumnya ditemukan di hutan dataran rendah hingga menengah, dan cenderung lebih tahan terhadap kondisi tanah yang tidak terlalu basah.

                Meskipun tumbuh di dataran lebih tinggi, jelutung darat tetap memerlukan curah hujan yang cukup untuk mendukung pertumbuhannya. Pohon ini sering ditemukan di area yang lebih dekat dengan permukiman, sehingga memungkinkan pengelolaan dan pemanenan getah secara lebih intensif oleh masyarakat lokal.

                Secara keseluruhan, distribusi pohon jelutung mencerminkan perannya yang penting dalam ekosistem tropis dan kontribusinya terhadap keanekaragaman hayati.

                Namun, saat ini habitat jelutung terancam oleh deforestasi, konversi lahan menjadi perkebunan atau pertanian, serta praktik penyadapan yang tidak berkelanjutan. Upaya pelestarian habitat jelutung harus mempertimbangkan karakteristik ekologi dan kebutuhan spesifiknya, sehingga populasinya tetap dapat terjaga dalam jangka panjang.

                Ancaman dan Strategi Konservasi Jelutung

                Pohon jelutung, meskipun memiliki nilai ekonomi dan ekologis yang signifikan, menghadapi sejumlah ancaman yang mengancam kelangsungan hidupnya.

                Berikut beberapa ancaman utama yang dihadapi:

                1. Deforestasi dan konversi lahan

                  Deforestasi adalah ancaman terbesar bagi pohon jelutung. Ekspansi perkebunan kelapa sawit, pertanian, dan pembangunan infrastruktur seringkali mengakibatkan konversi lahan hutan jelutung. Hal ini menyebabkan hilangnya habitat alami dan mengurangi populasi pohon jelutung secara drastis.

                  Proses konversi lahan gambut menjadi area pertanian atau perkebunan juga berdampak buruk pada ekosistem gambut, di mana jelutung rawa tumbuh.

                  2. Eksploitasi berlebihan

                    Permintaan getah jelutung yang tinggi, baik di pasar domestik maupun internasional, mendorong praktik penyadapan berlebihan. Penyadapan tanpa mengikuti prosedur yang tepat dapat merusak kesehatan pohon dan mengurangi produktivitasnya.

                    Praktik ini biasanya dilakukan tanpa mempertimbangkan jeda waktu yang dibutuhkan pohon untuk memulihkan diri, sehingga mempercepat kerusakan dan bahkan kematian pohon.

                    3. Kebakaran hutan dan degradasi lahan

                      Kebakaran hutan, terutama di lahan gambut, merupakan ancaman serius bagi habitat jelutung. Lahan gambut yang kering sangat rentan terhadap kebakaran, yang dapat menghancurkan hutan jelutung dan mengurangi populasi pohon secara signifikan.

                      Selain itu, pengeringan lahan gambut untuk kepentingan lain juga dapat menyebabkan degradasi lahan, sehingga mengganggu pertumbuhan dan regenerasi alami pohon jelutung.

                      4. Perubahan iklim

                        Pohon jelutung sangat sensitif terhadap perubahan iklim, terutama karena pergeseran pola curah hujan dan kenaikan suhu. Kondisi ini dapat memengaruhi siklus pertumbuhan dan penyadapan getah.

                        Curah hujan yang tidak menentu atau musim kemarau berkepanjangan dapat memperlambat pertumbuhan jelutung. Sementara suhu lebih tinggi memicu kebakaran lahan gambut.

                        Bibit Jelutung Rawa di Kelompok Tani Hutan (KTH) Tella Serasan, Muara Enim (wikigambut.id)

                        Untuk melindungi pohon jelutung dari ancaman-ancaman tersebut, diperlukan langkah-langkah konservasi yang efektif. Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan:

                        1. Pengelolaan hutan berkelanjutan

                          Pengelolaan hutan secara berkelanjutan, termasuk penerapan prinsip-prinsip agroforestri, dapat membantu mempertahankan habitat alami jelutung sekaligus memaksimalkan manfaat ekonominya.

                          Agroforestri memungkinkan pohon jelutung ditanam bersama dengan tanaman lain, menciptakan ekosistem yang lebih sehat dan stabil serta mendukung sumber pendapatan masyarakat lokal.

                          2. Penyadapan ramah lingkungan

                            Praktik penyadapan ramah lingkungan harus diterapkan untuk mengurangi kerusakan pada pohon. Penggunaan teknik penyadapan yang benar dan pengaturan jadwal penyadapan yang teratur dapat membantu menjaga kesehatan pohon dan meningkatkan produktivitas jangka panjang.

                            Pelatihan bagi petani dan masyarakat setempat tentang metode penyadapan yang berkelanjutan juga penting untuk memastikan keberhasilan upaya konservasi.

                            3. Restorasi habitat

                              Restorasi habitat, khususnya lahan gambut yang terdegradasi, berguna dalam memperbaiki kondisi lingkungan tempat jelutung tumbuh. Upaya ini mencakup reboisasi, pemulihan lahan gambut yang rusak, serta perlindungan sumber daya air agar tetap mendukung pertumbuhan jelutung.

                              Restorasi juga berfungsi sebagai langkah mitigasi perubahan iklim dengan memperkuat peran hutan jelutung sebagai penyerap karbon.

                              4. Perlindungan kawasan konservasi

                                Pembentukan dan pemeliharaan kawasan konservasi yang melindungi habitat jelutung sangat diperlukan. Dengan memberikan status perlindungan resmi, kawasan ini akan lebih terlindungi dari kegiatan konversi lahan dan penebangan ilegal.

                                Kolaborasi dengan pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat lokal dapat membantu menjaga keberlanjutan kawasan ini.

                                5. Peningkatan kesadaran masyarakat

                                  Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pohon jelutung bagi ekonomi lokal dan ekosistem adalah kunci dalam strategi konservasi. Edukasi publik melalui kampanye, pelatihan, dan program berbasis masyarakat dapat meningkatkan pemahaman dan dukungan terhadap pelestarian jelutung.

                                  Keterlibatan masyarakat setempat sebagai penjaga ekosistem juga dapat membantu menciptakan solusi konservasi yang lebih efektif dan berkelanjutan.

                                  Sobat #KonservasYIARI,

                                  bagi masyarakat lokal, terutama di daerah Sumatera dan Kalimantan, pohon jelutung menjadi sumber penghidupan penting, terutama getahnya. Banyak masyarakat lokal menggantungkan penghidupan mereka pada produksi lateks atau getah jelutung.

                                  Menjaga populasi dan keberlanjutan pohon jelutung akan memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat lokal. Sebagai salah satu sumber daya alam yang memiliki nilai ekonomi dan ekologi tinggi, pohon jelutung menyimpan banyak peran. 

                                  Yuk, kita manfaatkan keberadaan pohon jelutung dengan bijak! budayakan mengolah alam sekitar dengan optimal dan bijak ya, sobat.

                                  Referensi:

                                  Feature image: Gambutkita.org

                                  https://www.cifor-icraf.org/knowledge/publication/27408/

                                  https://journal.ipb.ac.id/index.php/konservasi/article/download/13925/10452/0

                                  https://youtu.be/cfw7VwAKnfY?si=WWZAIss_tcawOBUy

                                  https://bahrulrambe.blogspot.com/2019/04/paper-ekonomi-sumber-dayahutan-medan_11.html

                                  https://www.foreststreesagroforestry.org/news-article/icraf-explores-why-people-matter-and-jelutung-holds-promise-for-indonesias-peat/

                                  https://www.researchgate.net/publication/277249567_Jelutung_Rawa_Teknik_Budidaya_dan_Prospek_Ekonominya

                                  https://ppjp.ulm.ac.id/journals/index.php/jss/article/view/6150

                                  Harapan Baru Ucil: Rela Berhenti Sekolah Demi Keluarga

                                  Nama saya Perdi, biasa dipanggil Ucil. Saya berasal dari Dusun Beloyang Mentatai, tepatnya di kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Usia saya saat ini 15 tahun.

                                  Sebagai anak pertama, saya rela tidak melanjutkan sekolah demi mencari uang. Ini saya lakukan agar bisa membantu keluarga, terutama menyekolahkan kedua adik saya. Jujur, saya tidak bisa berharap banyak dari kedua orangtua. Meski mereka juga bekerja, sekolah adik-adik saya tidak begitu diperhatikan.

                                  Kadang, saya merasa sedih karena kami tidak punya apa-apa. Saya juga iri sama kawan-kawan yang dengan mudahnya meminta ke orangtuanya. Saya justru harus bekerja mati-matian, baru bisa mendapatkan apa yang saya mau.

                                  Saya berhenti sekolah sejak kelas tiga SD. Iri sebenarnya melihat orang-orang yang punya gelar SMA atau sarjana. Sedangkan saya, menulis saja kesulitan. Saya pernah menangis sendiri, memikirkan kehidupan saya yang seperti ini.

                                  Kegiatan Mini Pameran Kahiu Academy, Ucil pertama kali melakukan presentasi didepan umum terkait konservasi dan kerusakan hutan (Tim edukasi | YIARI)

                                  Anak Sekecil itu Terpaksa Kerja Kayu

                                  Sejak kecil, saya terpaksa ikut kerja kayu. Awal kerja kayu, saya bertugas membantu menyapu membersihkan serpihan. Upahnya hanya 25 ribu per hari. Dua tahun setelahnya saya belajar memikul kayu.

                                  Karena saya masih kecil, saya diberi tugas memikul balok kayu ukuran 4 meter dan tebal 10 cm. Dalam sebulan saya rata-rata bisa memikul 100 batang. Jika produksi sedang ramai, bisa sampai 200 batang per bulan.

                                  Penghasilan yang didapat dari pikul kayu dalam sebulan bisa mencapai 4 juta. Tapi bersih yang bisa saya bawa pulang hanya setengahnya saja karena biaya-biaya lain. Setiap balok yang saya pikul sebenarnya dihargai 80 ribu, tapi itu harus dibagi lagi dengan tukang potong.

                                  Selama bekerja kayu, kaki kiri saya pernah sobek terkena kayu. Kalau saya ingat-ingat, bisa saja kaki saya patah waktu itu.

                                  Kerja kayu memang memberikan penghasilan lumayan, itu juga kalau kuat badannya. Kalau sudah tua atau tenaga kurang, sudah pasti tidak banyak yang bisa diambil. Lama-lama, kerja kayu tidak bisa diandalkan. Belum lagi resiko kerjanya.

                                  Kegiatan menanam padi di pulau rangkong saat praktek lapangan kelas pertanian di Kahiu Academy  (Tim edukasi | YIARI)

                                  Kesempatan untuk Belajar

                                  Tuhan sepertinya menunjukkan jalan buat saya. Tuhan memberikan saya kesempatan sekali lagi untuk belajar bersama Kahiu Academy. Di Kahiu, saya punya teman baru. Bahagia bisa tertawa dan bercanda bersama mereka. Di program ini, saya banyak belajar hal baru, menambah ilmu dan pengalaman.

                                  Awalnya memang tidak mudah. Saya merasa malu. Hanya lulusan kelas 3 SD. Sikap dan perilaku saya labil dan mudah emosi. Saya senang bisa bercanda dengan teman-teman, tapi saya juga mudah tersinggung. Sikap ini kadang membuat suasana menjadi tidak nyaman bagi teman-teman.

                                   Atas bimbingan kak Dieka dan kakak-kakak di YIARI, saya banyak belajar untuk lebih terbuka. Belajar meminta maaf. Teman-teman juga banyak membantu. Mendukung saya belajar menulis. Membuat saya jadi lebih percaya diri.

                                  Apa yang saya dapat di Kahiu tidaklah sia-sia. Saya bisa komputer. Belajar mengetik, meski lama karena jari-jarinya belum terbiasa. Saya belajar membuat presentasi. Saya juga belajar membuat rencana finansial. Belajar fotografi, juga belajar edit desain menggunakan Canva.

                                  Di salah satu tugas tentang rencana masa depan, saya tuliskan di presentasi, mau buka usaha foto dan kafe, kelak. Tapi baru-baru ini, saya pikir untuk mencoba berkebun. Setelah mendapatkan pelatihan pertanian dari pak Eko, saya rasa ini bisa dilakukan sepulang nanti ke dusun. Kami punya tanah, sayang kalau tidak dimanfaatkan.

                                   Saya sudah coba hitung-hitung. Hasil panen dari bertani pasti selalu habis diambil oleh pasar di Serawai dan Menukung. Kalau ini bisa dijalankan dengan serius, pasti bisa jadi penghasilan tetap setiap bulannya.

                                  Untuk jalankan usaha ini, saya juga bisa ajak kedua orangtua bantu kerja di kebun. Saya berharap, hasil yang didapat dari berkebun nantinya bisa membantu adik saya melanjutkan sekolahnya, lulus hingga SMA atau jadi sarjana. Atau, mewujudkan rencana masa depan saya, buka kafe.

                                  Semoga ini menjadi jalan baik bagi saya dan keluarga.

                                  Kegiatan Mini Pameran Kahiu Academy (Tim edukasi | YIARI)

                                  Tentang Kahiu Academy

                                  Kahiu Academy merupakan program pembinaan dan peningkatan keterampilan yang dikhususkan bagi remaja. Program ini menyasar remaja putus sekolah atau lulusan setingkat SMA, yang masih memiliki motivasi untuk belajar dan mengembangkan kemampuan diri. Saat ini, Kahiu Academy telah terlaksana hingga batch kedua, dengan jumlah keterlibatan sebanyak 35 peserta.

                                  Peserta Kahiu Academy berasal dari berbagai desa mitra YIARI di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Kegiatan berlangsung selama empat bulan, dengan beragam pelatihan dan keterampilan seperti komputer, bahasa Inggris, penerapan pertanian, teknik las, mengemudi, dan lainnya. Selain itu, ada juga kelas-kelas yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan serta pengembangan sikap dan perilaku positif terhadap diri sendiri, juga bagi konservasi alam.

                                  Selepas dari Kahiu, peserta diharapkan dapat lebih mandiri untuk mengembangkan potensi diri di dunia usaha, bekerja, melanjutkan pendidikan, ataupun bidang lainnya yang bisa diterapkan sesuai dengan minatnya.

                                  It’s Time to Learn Computer!

                                  Belajar komputer? Kan udah banyak yang tahu dan bisa?

                                  Ternyata nggak semuanya sudah bisa memakai komputer lho, friend. Ini kondisi yang cukup memprihatinkan apalagi buat para pelajar yang harus belajar pake sistem daring. Bayangin tuh, gimana mau online kalau komputer aja mereka nggak punya, boro-boro punya, kenal pun belum. Nah, inilah kondisi yang terjadi di sebagian besar daerah di pedalaman. So, kami pun kemudian ngadain pelatihan komputer buat masyarakat di sana, terutama buat orang-orang yang bener-bener belum pernah pegang komputer.

                                   

                                  Aduh, prihatin dengernya. Terus gimana tuh kalian ngasih pelatihannya?

                                  Jujur, ini tantangan juga buat kami. Apalagi banyak desa yang belum dapat akses listrik. Untunglah kita bisa manfaatin sinar matahari sebagai sumber listrik pakai solar panel. Nah, begitu ada akses listrik, kami jadi mudah tuh ngajarin temen-temen di desa ini untuk belajar komputer pake laptop.

                                   

                                  Wah langsung pake laptop ya?

                                  Iya, biar praktis juga ketika kami harus ngasih pelatihan ke banyak desa. Nah, buat pelatihan ini, sementara kami baru ada sembilan laptop dulu, tapi nantinya bakal ditambah sih. Doain aja yak.

                                   

                                  Amiiin. Eh tadi katanya pelatihan ini buat yang belum pernah pegang komputer, anak-anak nih maksudnya?

                                  Enggak dong. Gak cuma anak-anak, ini pelatihannya beneran buat warga desa, semua umur, cewek cowok, mulai dari anak SD sampe ke pegawai pemerintah desa kita ajak bareng-bareng belajar komputer. Mereka semua sebelumnya belum pernah dapat pelatihan komputer. Belum ada sekolah yang ada pelajaran komputernya juga di sana. Jangankan komputer, listrik aja belum ada kan.

                                   

                                   

                                  I see. Ini pelatihannya dari kapan sih? Sama desanya ini di mana aja?

                                  Pelatihannya sih udah mulai dari akhir Mei tahun ini. Masih lanjut terus sampe sekarang dan besok-besok. Pokoknya sampai mereka semua bisa pinter ngejalanin komputer deh. Tempatnya di Desa Mawang Mentatai dan Desa Nusa Poring.

                                   

                                  Mana tuh?

                                  Yaelah, googling dong, kalian kan punya telepon pintar, punya akses internet. Tapi ya udah deh, biar cepet, sini kami kasih tahu. Jadi keduanya tuh desa di Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.

                                   

                                  Emang ngapain sih repot-repot ngadain pelatihan di sana? Listrik aja gak ada kan, apalagi internet.

                                  Justru karena itu, kita nggak mau saudara-saudara kita yang nggak dapat akses listrik dan sarana pendidikan yang memadai, nggak dapat akses buat belajar komputer. Kita yakin banget kalau hak-hak buat belajar itu harus dipunyai semua orang, makanya kita kasih pelatihannya nggak mandang tua muda atau cewek cowok. Oh iya, malah banyak perempuan yang ikutan lho daripada cowoknya.

                                   

                                  Oh iya?

                                  Iya dong, nih, yang cewek 37, yang cowok 22 orang.

                                   

                                  Wih mantep.

                                  Iya dong, ini sejalan juga dengan tujuan kami untuk program pemberdayaan masyarakat dan edukasi yang salah satunya adalah ningkatin kemampuan dan peran ekonomi perempuan dalam keluarga. Kalau pada melek teknologi, perempuan tidak akan kalah dari laki-laki dalam mendapatkan pekerjaan yang setara.

                                   

                                   

                                  Oke deh, but I need some more background soal pelatihan komputer ini. Kok bisa-bisanya out of nowhere ada pelatihan ini sih? YIARI kan bergerak di bidang konservasi ya? Apa hubungannya sama konservasi?

                                  Ok, kita jelasin pelan-pelan. Jadi, dalam upaya kita untuk melindungi orangutan dan habitatnya sekaligus melindungi keanakaragaman hayati di dalamnya, kita perlu juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat orangutan. Nah karena kita melakukan pelepasliaran orangutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TANAKAYA) yang memang berbatasan langsung dengan Desa Mawang Mentatai dan Nusa Poring, jadi kami ngadain pelatihan komputernya di sini deh.

                                   

                                  Terus-terus?

                                  Kita kan tadi ngomongin soal kesejahteraan masyarakat, nah kami yakin kalau masyarakat mau sejahtera, salah satu hal yang harus dibuka adalah akses pendidikan kepada masyarakat ini. Kami juga ada program beasiswa, tapi yang ini kita bahas lain waktu yak. Hehe. Jadi kalau masyarakat mempunyai kemampuan yang bakal kepake di dunia kerja, mereka gak perlu lagi masuk ke dalam hutan dan melakukan hal-hal ilegal buat mencari penghidupan. Kita juga nggak pengen masyarakat yang ada di sini nggak bisa make komputer cuma gara-gara tempatnya jauh, terpencil, transport susah, litrik nggak ada, dan lain-lain

                                   

                                  Wuih keren. Udah berapa orang nih yang ikut pelatihan ini?

                                  Yang udah ikutan sampe September kemarin tuh ada 50 anak sekolah, gurunya 2 orang, masyarakat umum yang ikut ada dua, tambah lagi ada delapan perangkat desa yang ikutan pelatihan komputer ini.

                                   

                                  Wih, pelatihannya ada juga yang buat pemerintah desa juga ya…

                                  Iya, ini yang minta emang mereka sendiri karena keterbatasan SDM mereka dalam penggunaan teknologi. Saat ini kan semua proses input informasi desa maupun administrasi desa harus dilakukan secara online dengan memanfaatkan komputer, terus masih banyak pegawai kantor desa yang belum bisa pake komputer.

                                   

                                  I see… Pelatihannya ini diajarin apa aja?

                                  Masih yang simpel-simpel aja sih. Mulai dari penjelasan soal apa itu perangkat lunak dan perangkat keras, cara nyalain sama matiin laptop yang bener, latihan ngetik di aplikasi pengolah kata dan data. Belajar menu dan fitur-fiturnya gitu, sama sekalian belajar ngeprint.

                                   

                                  Hasilnya?

                                  Bagus kok, masyarakat yang gak pernah pegang laptop sama sekali sekarang udah ngerti gitu gimana cara nyalain-matiin laptop, udah pada bisa ngetik, bikin tabel, bikin format surat, bikin rumus di aplikasi pengolah data, ngeprint, macem-macem lah. Kemajuan banget buat mereka yang sebelumnya gngak pernah pegang komputer sama sekali.

                                   

                                  Mantep juga ya. Btw bikin pelatihan gini tantangannya ada gak?

                                  Ada dong. Banyak. Hehehe. Terutama soal transportasi dan listrik sih ya. Akses antar wilayah di dalam desanya itu lho, susah banget, apalagi kalau hujan, jalan tanah itu jadi kayak bubur, mobil jelas nggak bisa lewat, sementara pake motor juga agak repot karena harus nenteng-nenteng laptop. Terus nih ya, nggak semua tempat punya solar panel buat ngecas laptop. Jadi kadang repot juga kalau laptop udah pada lowbat. Belum lagi karena ini kan program yang baru banget ya, jadi banyak yang senang dan mau belajar komputer gitu tapi masih malu-malu buat tanya kalau masih ada yang nggak mereka ngerti. Dan karena ini pertama, jadi di awal-awal masih rada-rada susah buat  jelasin materinya. Tapi setelah jalan dua-tiga minggu lancar kok.

                                   

                                  Manteplah, semoga makin banyak masyarakat desa yang melek teknologi biar bisa ikut bersaing di dunia digital kayak gini.

                                  Pastinyaaaa.

                                  Penguatan Peran Perempuan Dalam Upaya Perlindungan Habitat

                                  Serombongan anak perempuan berseragam sekolah nampak riang mengayuh sepedanya di pagi yang berkabut itu. Hawa dingin tidak menyurutkan semangat mereka untuk pergi ke sekolah di Kota Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Mereka adalah siswi SMP dan SMA yang mendapatkan beasiswa dari IAR Indonesia untuk melanjutkan Pendidikan lanjut di kota yang cukup jauh dari tempat asal mereka.

                                  Mereka berasal dari Desa Mawang Mentatai dan Nusa Poring yang terletak di tepi Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Desa asal mereka yang terletak di ujung kecamatan Menukung ini hanya mempunyai dua sekolah dasar dan dua sekolah menengah pertama. Waktu tempuh dari desa mereka ke Nanga Pinoh mencapai 5-6 jam dengan mobil berpenggerak empat roda. Jalan tanah yang hancur lebur terutama saat hujan tidak akan bisa dilalui dengan mobil biasa.

                                  Beasiswa yang diberikan IAR Indonesia sejak bulan Juli 2019 ini melibatkan 18 anak yang terdiri dari 4 perempuan dan 14 laki-laki yang memenuhi syarat untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi di Nanga Pinoh. Program yang direncanakan berjalan selama 3 tahun ini  juga akan memberikan kebutuhan sehari-hari dan perawatan kesehatan sampai anak-anak ini dapat menyelesaikan sekolahnya serta dapat menjadi panutan bagi anak-anak dusun lainya.

                                  Selain mendapatkan fasilitas berupa pembiayaan uang sekolah, uang gedung, uang pendaftaran, uang seragam dan uang buku selama tiga tahun, para peserta program beasiswa ini juga akan mendapatkan biaya untuk makan dan tempat tinggal di Nanga Pinoh serta uang transportasi.

                                  Melibatkan kaum perempuan sejak dini dalam kegiatan penyelamatan satwa dan pelestarian habitatnya, menjadi salah satu cara dan tujuan IAR Indonesia untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat secara bertahap, sekaligus mengedukasi masyarakat akan manfaat menjaga kelestarian hutan dan lingkungan.

                                  Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dengan mengadakan program beasiswa ini, yang pertama adalah untuk mengirim siswa yang ingin dan layak ke sekolah menengah atas untuk memberi mereka pendidikan yang lebih tinggi, sehingga mereka dapat memperluas pengetahuan dan keterampilan mereka sehingga di kemudian hari mereka dapat mendapatkan pekerjaan yang leih layak daripada  memburu hewan liar untuk diperdagangkan atau mengambil kayu dari dalam hutan secara illegal untuk dijual seperti yang masih dilakukan orangtua dan kebanyakan warga desa tersebut.

                                  Tujuan lainnya adalah untuk mengubah pola pikir masyarakat desa di sekitar taman nasional dari dari perilaku deforestasi menjadi penjaga hutan dengan menghentikan pembalakan liar di daerah tersebut dan mengajarkan penduduk desa tentang keunikan hutan mereka dan bahwa menyelamatkan hutan adalah solusi jangka panjang yang lebih berkelanjutan daripada menghancurkannya.

                                  Melalui program beasiswa ini, IAR Indonesia juga menyediakan pengembangan kapasitas yang berkaitan dengan mata pencaharian yang berkelanjutan dari hutan, konservasi hutan, dan kesejahteraan hewan kepada penerima beasiswa serta masyarakat desa. Pengembangan kapasitas ini bertujuan untuk mengembangkan generasi muda yang peduli dan memahami pentingnya hutan adat dan orangutan yang ada di sekitar mereka. Dengan demikian, diharapkan ketertarikan terhadap dunia konservasi terus tumbuh seiring dengan keinginan untuk menjadi agen perubahan di komunitas mereka.

                                  “Kegiatan yang dilakukan IAR Indonesia tidak hanya fokus pada penyelamatan orangutan dan satwa liar tetapi juga bertujuan untuk membantu manusia,” ujar direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez.  “Program beasiswa ini sangat penting terutama bagi kaum perempuan yang selama ini banyak memiliki hambatan dalam mengakses Pendidikan yang lebih tinggi. Kami percaya keterlibatan kaum perempuan muda begitu penting, karena merekalah yang akan memegang peranan dalam mengatur keuangan keluarga, baik untuk keperluan sehari-hari maupun ketika mereka memerlukan biaya tambahan bagi keperluan kesehatan dan pendidikan. Selain itu, sangat penting memberdayakan kaum muda perempuan melalui pendidikan, karena merekalah sosok utama dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan, kesehatan, dan ekonomi keluarga bagi anak-anak mereka nantinya,” jelasnya lagi.

                                  Selama ini biaya pendidikan menjadi salah satu alasan bagi keluarga-keluarga di desa tersebut untuk merambah hutan. Dengan bantuan pendidikan ini, orangtua tidak perlu lagi merambah hutan untuk membiayai anak mereka untuk bersekolah. Selain itu anak-anak tersebut juga memiliki kesempatan untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Dengan upaya-upaya ini, kita berharap masyarakat semakin terbantu dalam meraih kehidupan yang layak, sehingga di tangan merekalah, masa depan hutan dan alam yang indah di TNBBBR terus terjaga.

                                  Bunga Citra Lestari, Mengejar Pendidikan di Kota Demi Meraih Cita-Cita

                                  ”Saya mau menjadi dokter. Saya ingin meringankan beban orangtua saya dan menggapai cita-cita saya,” ujar Bunga Citra Lestari dengan mantap ketika ditanya mengapa dia mau mengikuti program beasiswa Yayasan IAR Indonesia (YIARI). Menjadi dokter merupakan profesi yang didambanya sedari kecil. Gadis yang akrab disapa Bunga ini lahir di Dusun Nangai Dawai, 21 Juni, 16 tahun silam. Secara administratif, dusun ini masuk Desa Nusa Poring, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.

                                  Sama seperti kampung yang masuk dalam wilayah Desa Mawang, kampung-kampung yang masuk dalam desa Nusa Poring juga terlibat secara langsung dengan program pelepasliaran orangutan yang dilakukan IAR Indonesia bersama Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Anak anak dari kampung-kampung yang terlibat langsung dengan program tersebut mendapat tawaran untuk mengikuti program beasiswa, terutama anak-anak yang berprestasi tetapi tidak mampu secara finansial.

                                  Secara finansial Bunga termasuk anak yang kurang beruntung. Ia dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang kurang mampu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya, orang tuanya bergantung pada hasil ladang dan hasil hutan, terutama kayu. Karena itu, sejak kecil gadis yang mempunya hobi menyanyi dan memasak ini sudah dibiasakan dengan pekerjaan berat seperti membantu ibunya melakukan pekerjaan rumah tangga dan bahkan tidak jarang dia pergi menoreh karet dan menjualnya untuk mendapatkan uang tambahan. Itu semua dia lakukan untuk membantu meringankan beban kedua orang tuanya.

                                  Bagi anak-anak tidak mampu seperti Bunga, sekolah sangat penting untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Mereka sangat berharap bahwa dengan sekolah mereka dapat membawa perubahan bagi hidup mereka ke depan. Di sisi lain meraih Pendidikan yang lebih tinggi bukanlah perkara yang mudah. Tidak adanya sekolah menengah atas di kampung mereka menyebabkan sekolah terasa sangat mahal karena mereka tidak hanya harus membayar biaya sekolah, tetapi mereka juga harus menanggung biaya hidup di kota yang tidak murah.

                                  Itulah sebabnya ketika mengetahui adanya program beasiswa dari YIARI, tanpa banyak tanya, anak kedua dari tiga bersaudara langsung mendaftarkan diri. Bagi Bunga, program beasiswa ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Dia akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin untuk membuka peluang yang lebih baik ke depan. Dia sangat berharap dengan mengikuti program ini terbuka peluang untuk bisa kuliah kedokteran.

                                  Gadis yang kini belajar di SMU Santa Maria Nanga Pinoh ini rajin berangkat sekolah dan tidak pernah sekalipun alpa serta aktif di kelas. Bunga termasuk anak yang cerdas dan cepat dalam memahami pelajaran. Tidak hanya aktif di kelas, Bunga juga rajin mengikuti ekstrakurikuler pramuka dan futsal, bahkan gadis yang jago bela diri ini juga rajin mengikuti pertandingan karate di tingkat kabupaten.

                                  Bunga tidak sendirian, bersama 16 temannya, mereka bersama-sama berjuang melanjutkan pendidikan di kota, jauh dengan keluarga mereka dengan sejuta harapan akan masa depan yang lebih cerah. “Bagi saya, pendidikan sangat penting, tidak peduli dengan dengan kemampuan saya yang terbatas, saya tidak akan menyerah,” ujar buah cinta dari pasangan Yohanes Nake dan Semi Wati ini. Dia sempat berpikir untuk mencari kerja untuk mengumpulkan uang jika setelah lulus SMP tidak ada biaya sekolah. “Adanya kesempatan beasiswa dari IAR ini membuat saya semakin termotivasi untuk menggapai impiannya sebagai dokter suatu hari nanti. Saya ingin membantu orang-orang di kampung saya yang masih kekurangan akses dan fasilitas kesehatan,” tutupnya.