Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Pemberdayaan Masyarakat: Pengertian, Konsep, Tujuan, dan Strateginya

Sobat #konservasYIARI, pernahkah kamu membayangkan apakah suatu masyarakat dapat berkembang tanpa adanya dukungan serta keterlibatan aktif dari warganya sendiri?

Jawabannya tentu tidak.

Pemberdayaan masyarakat merupakan fondasi utama dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Melalui proses ini, setiap individu diberi kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidupnya secara mandiri.

Pemberdayaan bukan hanya sekadar slogan, melainkan pendekatan nyata yang menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan, baik dari aspek ekonomi, sosial, hingga budaya.

Contohnya dapat dilihat pada kegiatan seperti pameran kerajinan tangan, atraksi budaya, serta promosi produk lokal di desa wisata—upaya ini tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal.

Dalam artikel ini, kita akan membahas secara menyeluruh mengenai pengertian pemberdayaan masyarakat, tujuan yang ingin dicapai, serta contoh-contoh konkret implementasinya di lapangan. Check it out!

Apa Itu Pemberdayaan Masyarakat?

Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah proses terstruktur yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas individu maupun kelompok dalam masyarakat agar mereka mampu mengendalikan dan memperbaiki kualitas hidup secara mandiri.

Konsep ini tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan sesaat, tetapi juga pada peningkatan akses terhadap sumber daya, pengembangan keterampilan, serta penguatan posisi masyarakat dalam pengambilan keputusan.

Dengan kata lain, pemberdayaan mendorong masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan, bukan sekadar penerima manfaat.

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa pemberdayaan bertujuan menciptakan masyarakat yang lebih mandiri dan mampu beradaptasi dengan tantangan zaman, guna menciptakan kondisi hidup yang lebih baik dan berkelanjutan.

Landasan Hukum: Undang-Undang Desa

Menurut Undang-Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014, khususnya pada butir 12, pemberdayaan masyarakat desa merupakan serangkaian upaya untuk meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan warga.

Upaya ini dilakukan melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, sikap, perilaku, serta kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan potensi dan sumber daya lokal.

Proses pemberdayaan tersebut diwujudkan melalui penetapan kebijakan, pelaksanaan program, serta kegiatan dan pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan riil dan permasalahan utama yang dihadapi oleh masyarakat desa.

Konsep Pemberdayaan Masyarakat

Konsep pemberdayaan masyarakat berfokus pada upaya meningkatkan kemandirian dan kapasitas individu maupun kelompok agar mampu mengambil peran aktif dalam proses pembangunan.

Menurut Buku Ajar Pemberdayaan Masyarakat karya A. Hasdiansyah, pemberdayaan mencakup sejumlah prinsip utama:

1. Partisipasi aktif

Pemberdayaan menekankan pentingnya keterlibatan langsung masyarakat dalam setiap proses pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan mereka.

Warga didorong untuk menyampaikan pendapat, memberikan masukan, serta terlibat dalam merancang dan melaksanakan program atau kebijakan yang berdampak pada komunitas mereka. Partisipasi ini merupakan fondasi utama agar pembangunan benar-benar sesuai dengan kebutuhan lokal.

2. Pengembangan kapasitas

Salah satu tujuan utama pemberdayaan adalah meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang. Ini mencakup peningkatan wawasan, keterampilan teknis dan sosial, serta akses terhadap informasi dan teknologi yang relevan guna memperbaiki taraf hidup mereka secara berkelanjutan.

3. Kendali atas sumber daya

Masyarakat perlu memiliki akses dan kendali yang adil terhadap sumber daya penting, seperti tanah, air, bahan baku, pendidikan, layanan kesehatan, serta infrastruktur dasar. Penguasaan atas sumber daya ini akan memperkuat posisi tawar masyarakat dan meningkatkan kemandirian ekonomi mereka.

4. Kemandirian

Masyarakat yang diberdayakan diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan secara mandiri, mengambil inisiatif untuk berinovasi, serta mengelola sumber daya yang tersedia tanpa ketergantungan berlebih kepada pihak luar. Kemandirian ini menciptakan daya tahan komunitas terhadap perubahan sosial dan ekonomi.

5. Partnership dan kolaborasi

Pemberdayaan tidak dapat dilakukan secara sepihak. Kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan—seperti pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, sektor swasta, dan komunitas lokal—diperlukan untuk menciptakan sinergi dalam merancang dan melaksanakan program pembangunan.

Kerja sama ini memastikan pemberdayaan berjalan efektif dan inklusif.

6. Perubahan sosial dan budaya

Pemberdayaan juga menuntut adanya transformasi dalam norma dan struktur sosial yang mungkin membatasi partisipasi kelompok tertentu, seperti perempuan, anak muda, atau kelompok rentan lainnya.

Perubahan ini mencakup pergeseran nilai menuju penghargaan terhadap kesetaraan, inklusivitas, serta penguatan hak-hak masyarakat dalam berbagai dimensi kehidupan.

Tujuan Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat bertujuan utama untuk menciptakan kondisi di mana individu dan kelompok dalam komunitas memiliki kontrol atas kehidupan mereka sendiri.

Tujuan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari peningkatan kapasitas diri hingga penciptaan lingkungan sosial yang adil dan inklusif.

1. Meningkatkan Kemandirian

Salah satu tujuan mendasar pemberdayaan masyarakat adalah meningkatkan kemandirian, baik secara individu maupun kolektif. Masyarakat yang mandiri mampu mengelola potensi dan sumber daya yang dimiliki secara optimal. Selain itu, mereka tidak lagi terlalu bergantung pada bantuan pihak luar dalam menyelesaikan permasalahan, melainkan mampu mengambil inisiatif dan menemukan solusi sendiri.

2. Menciptakan Keadilan Sosial

Tujuan lain dari pemberdayaan adalah menciptakan keadilan sosial dengan memperluas akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan peluang ekonomi bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan dan masyarakat di daerah terpencil. Dengan memberikan kesempatan yang lebih merata, pemberdayaan dapat membantu mengurangi kesenjangan sosial dan meningkatkan inklusi dalam proses pembangunan.

3. Memperkuat Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan

Pemberdayaan juga bertujuan memperkuat peran serta masyarakat dalam pembangunan. Hal ini dilakukan dengan membekali mereka dengan keterampilan dan pengetahuan yang relevan agar dapat berkontribusi secara aktif. Masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai objek pembangunan, melainkan menjadi subjek atau penggerak utama yang mampu merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi program pembangunan secara mandiri dan partisipatif.

4. Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi

Tujuan lainnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat melalui penciptaan peluang usaha, peningkatan produktivitas, dan akses terhadap sumber pendapatan yang stabil.

Dengan adanya pemberdayaan, masyarakat dapat membangun usaha mandiri, memanfaatkan modal usaha dengan bijak, dan memperluas jaringan ekonomi mereka, sehingga taraf hidup meningkat secara berkelanjutan.

5. Memperkuat Solidaritas dan Kohesi Sosial

Selain aspek ekonomi dan kapasitas, pemberdayaan juga bertujuan memperkuat solidaritas dan kohesi sosial. Melalui kegiatan bersama seperti gotong royong dan forum diskusi komunitas, masyarakat belajar membangun kerja sama dan saling percaya.

Ini penting untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dan inklusif, serta meningkatkan rasa tanggung jawab kolektif terhadap kemajuan komunitas.

6. Meningkatkan Kesadaran terhadap Hak dan Kewajiban

Pemberdayaan mendorong masyarakat untuk memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara.

Dengan meningkatnya kesadaran ini, masyarakat akan lebih aktif dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik, serta lebih peduli terhadap isu-isu lingkungan dan kebijakan publik yang berdampak langsung pada kehidupan mereka. Kesadaran ini juga penting untuk menciptakan masyarakat yang kritis dan partisipatif.

Strategi Pemberdayaan Masyarakat

Agar tujuan pemberdayaan dapat tercapai, diperlukan strategi yang tepat dan kontekstual. Strategi ini harus mempertimbangkan kebutuhan, potensi, serta tantangan yang dihadapi oleh masing-masing komunitas.

1. Peningkatan Kapasitas melalui Pelatihan dan Pendidikan

Salah satu strategi utama adalah meningkatkan kapasitas masyarakat melalui program pelatihan dan pendidikan. Pelatihan keterampilan teknis, edukasi keuangan, serta peningkatan literasi sosial menjadi sarana penting untuk memperkuat keahlian dan wawasan masyarakat.

Strategi ini juga mencakup pengembangan potensi diri agar individu lebih siap berkontribusi dalam pembangunan ekonomi dan sosial di lingkungan mereka.

2. Pendekatan Berbasis Partisipasi

Strategi ini menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam seluruh proses pemberdayaan. Partisipasi aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program akan meningkatkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab masyarakat terhadap hasil pembangunan.

Pendekatan ini juga menolak metode top-down dan lebih menekankan pada adaptasi program berdasarkan kebutuhan dan konteks lokal, sehingga hasilnya lebih relevan dan berkelanjutan.

3. Akses terhadap Sumber Daya dan Modal

Strategi selanjutnya adalah memastikan masyarakat memiliki akses yang memadai terhadap sumber daya dan modal. Hal ini mencakup penyediaan dana usaha, sarana produksi, teknologi, serta dukungan pemasaran.

Dengan akses ini, masyarakat dapat mengembangkan usaha produktif secara mandiri dan memperkuat fondasi ekonomi komunitasnya.

4. Pendekatan Berbasis Komunitas

Membangun kekuatan sosial melalui pendekatan komunitas juga menjadi strategi efektif. Pembentukan koperasi, kelompok usaha bersama (KUB), atau organisasi masyarakat lokal mendorong kolaborasi, pertukaran pengetahuan, dan saling bantu antaranggota.

Strategi ini memperkuat solidaritas sosial dan menjadi sarana untuk menyelesaikan masalah secara kolektif.

5. Dukungan Kebijakan yang Berpihak pada Masyarakat

Pemberdayaan juga membutuhkan kebijakan publik yang mendukung. Pemerintah dan sektor terkait perlu menciptakan regulasi yang mendorong partisipasi masyarakat, mempermudah akses terhadap modal, serta melindungi hak-hak warga.

Kebijakan yang berpihak ini akan menciptakan iklim yang kondusif bagi tumbuhnya usaha kecil dan peningkatan kapasitas masyarakat secara luas.

6. Pemanfaatan Teknologi dan Inovasi

Strategi terakhir adalah memanfaatkan teknologi dan inovasi digital untuk memperluas jangkauan pemberdayaan. Melalui pelatihan daring, e-commerce, serta layanan keuangan digital, masyarakat dapat mengakses sumber daya secara lebih efisien.

Teknologi juga memungkinkan masyarakat di daerah terpencil untuk tetap terhubung dan berpartisipasi dalam ekonomi digital, asalkan infrastruktur penunjangnya tersedia.

Contoh Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan di berbagai sektor kehidupan seperti ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Program-program pemberdayaan biasanya melibatkan partisipasi aktif warga serta kerja sama antara pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan sektor swasta.

Berikut beberapa contoh implementasi pemberdayaan masyarakat berdasarkan sektor:

1. Pemberdayaan di Sektor Ekonomi

Di sektor ekonomi, pemberdayaan masyarakat sering diwujudkan melalui pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) atau koperasi desa.

Model ini mendorong masyarakat untuk membangun usaha kecil secara kolektif, seperti produksi makanan olahan, kerajinan tangan, hingga pertanian. Keberadaan koperasi mempermudah akses terhadap modal usaha, pelatihan bisnis, serta pemasaran produk.

Contohnya adalah koperasi petani kopi yang berhasil menembus pasar ekspor karena peningkatan kualitas produksi dan manajemen usaha. Bentuk pemberdayaan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi lokal.

Pemberdayaan ekonomi warga desa melalui kegiatan Kelompok Usaha Bersama (Karang Taruna Giriwangi)

Selain itu, pelatihan wirausaha untuk perempuan menjadi program yang semakin banyak dikembangkan di berbagai daerah. Melalui pelatihan menjahit, memasak, hingga pemasaran digital, perempuan—khususnya ibu rumah tangga—didorong untuk memiliki penghasilan mandiri.

2. Pemberdayaan di Sektor Pendidikan

Di bidang pendidikan, pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui inisiatif berbasis komunitas yang memberikan akses belajar kepada anak-anak dan remaja di wilayah terpencil.

Salah satu contohnya adalah pendirian rumah baca dan sekolah alternatif yang dikelola oleh relawan atau komunitas lokal. Fasilitas ini memungkinkan anak-anak yang kesulitan menjangkau sekolah formal tetap mendapatkan pendidikan dasar dan penguatan literasi.

Anak-anak belajar di rumah baca sebagai upaya pemberdayaan pendidikan (Hypeabis.id)

Selain itu, program beasiswa bagi siswa dari keluarga kurang mampu juga menjadi bentuk pemberdayaan yang berdampak signifikan.

3. Pemberdayaan di Sektor Kesehatan

Sektor kesehatan menjadi salah satu ruang strategis untuk pemberdayaan, terutama melalui program Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).

Posyandu melibatkan kader-kader masyarakat yang mendapatkan pelatihan dari tenaga medis untuk memberikan layanan kesehatan dasar kepada ibu hamil, bayi, dan balita. Layanan ini mencakup imunisasi, penimbangan balita, serta edukasi gizi dan pola hidup sehat.

Program lain seperti kader kesehatan lingkungan juga penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pencegahan penyakit menular, seperti demam berdarah atau tuberkulosis. Pelibatan warga secara langsung dalam edukasi kesehatan terbukti mampu memperluas jangkauan informasi dan mendorong penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan sehari-hari.

4. Pemberdayaan di Sektor Lingkungan dan Infrastruktur

Dalam sektor lingkungan, program bank sampah menjadi salah satu contoh inovatif.

Masyarakat diajak untuk memilah sampah yang dapat didaur ulang, lalu menukarkannya menjadi tabungan atau barang kebutuhan sehari-hari. Kegiatan ini tidak hanya menciptakan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi.

Di sisi lain, program air bersih dan sanitasi berbasis masyarakat juga memainkan peran penting dalam pemberdayaan. Melalui pembangunan sumur bor, instalasi air bersih, dan toilet umum, masyarakat tidak hanya mendapatkan fasilitas, tetapi juga dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan infrastruktur tersebut.

Penutup

Pemberdayaan masyarakat bukan sekadar konsep, melainkan sebuah proses nyata yang memerlukan komitmen, kolaborasi, dan strategi yang berkelanjutan.

Melalui pendekatan yang partisipatif dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia—baik manusia, alam, finansial, kelembagaan, maupun teknologi—masyarakat dapat didorong untuk menjadi aktor utama dalam pembangunan.

Keberhasilan pemberdayaan terletak pada bagaimana setiap pihak mampu bersinergi untuk menciptakan perubahan yang inklusif dan berkeadilan. Dengan terus memperkuat kapasitas lokal dan membangun kesadaran kolektif, kita dapat mewujudkan masyarakat yang tidak hanya sejahtera, tetapi juga berdaya dan berdaulat atas masa depannya sendiri.

Sumber dan Referensi:

Featured image: Pameran kerajinan, atraksi budaya, dan produk lokal di desa wisata sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat untuk mendukung ekonomi lokal (cikoneng-ciamis.desa.id)

Empat Bulan yang Mengubah Hidup: Catatan Perjalanan Kahiu Academy Batch 3

Setelah empat bulan penuh proses belajar dan bertumbuh, para peserta Kahiu Academy Batch 3 akhirnya menuntaskan perjalanan mereka.

Momen kelulusan yang dirayakan dalam acara Farewell Kahiu menjadi simbol penting dari sebuah transformasi—dari remaja putus sekolah menjadi individu yang lebih percaya diri, terampil, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Program ini bukan sekadar pelatihan, melainkan ruang aman untuk menggali potensi, membangun karakter, dan menemukan harapan baru.

Yuk, simak perjalanan mereka selama di Kahiu Academy dan bagaimana program ini telah membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah!

Kahiu Academy: Cahaya Harapan bagi Remaja Putus Sekolah

Sejak pertama kali didirikan pada tahun 2022, Kahiu Academy menjadi cahaya harapan bagi remaja putus sekolah di Kalimantan Barat.

Program ini dirancang untuk memberikan pendidikan dan pelatihan yang komprehensif, dengan tujuan membekali para peserta dengan keterampilan teknis dan non-teknis agar mereka dapat menjadi individu yang lebih mandiri dan berdaya.

Kahiu Academy mengusung pendekatan yang menyeluruh. Tidak hanya fokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan praktis, program ini juga menanamkan nilai-nilai penting seperti kepedulian terhadap lingkungan dan pengembangan karakter.

Dengan demikian, setiap peserta tidak hanya mendapatkan bekal untuk dunia kerja atau usaha mandiri, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kesadaran sosial dan tanggung jawab terhadap komunitas serta alam sekitarnya.

Perjalanan Belajar di Kahiu Academy: Lebih dari Sekadar Pelatihan

Selama empat bulan terakhir, sebanyak 14 peserta dari empat kecamatan di Kalimantan Barat mengikuti program pelatihan intensif yang diselenggarakan di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren YIARI Ketapang.

Mereka menjalani proses belajar yang padat, mencakup lebih dari 40 materi yang terbagi dalam dua kategori utama: keterampilan teknis (hard skill) dan pengembangan diri (soft skill).

Peserta Kahiu Academy Batch 3 (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Seluruh materi yang diberikan tidak hanya ditujukan untuk membentuk kompetensi individu, tetapi juga untuk menumbuhkan semangat berkontribusi terhadap masyarakat dan lingkungan.

Melalui pendekatan ini, peserta diajak untuk belajar demi masa depan mereka sendiri, sekaligus didorong untuk menjadi bagian dari perubahan yang lebih luas di komunitas masing-masing.

Materi Pelatihan yang Beragam dan Komprehensif

Selama mengikuti program, peserta Kahiu Academy Batch 3 mendapatkan berbagai pelatihan yang dirancang untuk membekali mereka dengan keterampilan praktis sebagai bekal menghadapi masa depan. Materi yang disampaikan mencakup:

  • Keterampilan teknis, yang relevan dengan berbagai bidang pekerjaan. Materi ini memungkinkan peserta untuk langsung terjun ke dunia kerja atau bahkan memulai usaha mandiri sesuai minat dan potensi masing-masing.
  • Pengembangan karakter dan kepemimpinan, yang bertujuan membentuk kepercayaan diri serta ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
  • Pendidikan lingkungan, yang meningkatkan kesadaran peserta akan pentingnya pelestarian alam serta bagaimana menerapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih dari sekadar teori di dalam kelas, para peserta juga mendapat kesempatan untuk menerapkan ilmu mereka secara langsung melalui praktik. Pendekatan berbasis praktik ini membantu peserta memahami konteks nyata dari keterampilan yang dipelajari, sekaligus memperkuat pemahaman mereka dalam situasi dunia nyata.

Farewell Kahiu: Merayakan Kelulusan dengan Penuh Makna

Setelah melalui perjalanan panjang yang penuh tantangan dan proses pembelajaran, peserta Kahiu Academy Batch 3 akhirnya berhasil menyelesaikan program mereka.

Momen kelulusan ini dirayakan dalam acara Farewell Kahiu, sebuah perayaan yang sarat makna dan emosi. Bukan hanya menjadi ajang perpisahan, acara ini juga menjadi simbol keberhasilan dan pencapaian luar biasa, baik bagi para peserta, mentor, pembimbing, maupun seluruh pihak yang terlibat dalam program ini.

Peserta melakukan presentasi (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Dalam acara yang diselenggarakan, setiap peserta diberikan kesempatan untuk berbagi cerita dan refleksi tentang perjalanan mereka selama mengikuti pelatihan.

Mereka menceritakan perubahan yang mereka alami, bagaimana program ini telah mengubah cara pandang mereka terhadap masa depan, serta bagaimana keterampilan yang mereka peroleh telah menumbuhkan kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh.

Peserta melakukan presentasi (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Tak hanya itu, para peserta juga mempresentasikan rencana mereka setelah kelulusan. Ada yang ingin mengejar cita-cita profesionalnya, ada yang berencana untuk mengadakan kegiatan pemberdayaan di kampung halaman, dan ada pula yang bercita-cita mengembangkan pertanian berkelanjutan.

Ragam ide dan inisiatif yang mereka sampaikan menunjukkan bahwa program ini telah membuka wawasan dan membekali mereka dengan kemampuan nyata untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Menatap Masa Depan dengan Optimisme

Antusiasme dan semangat para peserta dalam menyongsong kehidupan setelah lulus sangat terasa sepanjang acara perpisahan. Dengan bekal yang telah mereka peroleh selama mengikuti program di Kahiu Academy, para lulusan kini lebih percaya diri untuk menghadapi berbagai tantangan, serta menciptakan peluang baru bagi diri mereka sendiri dan komunitas tempat mereka tinggal.

Kelulusan dari Kahiu Academy bukanlah akhir, melainkan awal dari langkah-langkah baru yang penuh harapan. Para peserta kini memiliki keterampilan dan wawasan yang lebih luas—baik untuk bekerja di berbagai sektor maupun membangun usaha mandiri. Lebih dari itu, mereka juga dibekali semangat untuk berkontribusi nyata bagi lingkungan dan masyarakat.

Kami berharap, program ini terus berkembang dan menjangkau lebih banyak remaja di Kalimantan Barat. Keberhasilan para lulusan Kahiu Academy menjadi bukti nyata bahwa pendidikan dan pelatihan yang tepat dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam mendukung perjalanan ini—para mentor, fasilitator, mitra, dan seluruh pendukung program. Semoga para lulusan Kahiu Academy terus melangkah maju, meraih mimpi mereka, dan membawa perubahan positif bagi komunitasnya.

Petani Dampingan YIARI Studi Banding ke KPH Pesawaran: Menggali Ilmu Kelembagaan Usaha Kelompok Tani

Salah satu sektor ekonomi utama di Indonesia adalah pertanian.

Sektor ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, banyak kelompok tani yang masih menghadapi tantangan dalam mengelola usaha secara kontinu. Pemahaman tentang ilmu kelembagaan usaha kelompok tani menjadi kunci dalam membangun usaha tani yang lebih kuat dan mandiri.

Untuk mendukung hal ini, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengadakan studi banding bagi petani dampingan mereka ke Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Pesawaran, Lampung.

Bagaimana pengalaman para petani dampingan YIARI dalam studi banding ini dan apa manfaatnya bagi pengelolaan usaha tani yang lebih berkelanjutan?

Simak selengkapnya dalam artikel berikut, ya!

Apa Itu Agroforesti?

Agroforestri adalah metode pengelolaan lahan yang mengintegrasikan budidaya tanaman kehutanan, pertanian, dan peternakan dalam satu sistem yang saling mendukung. Pendekatan ini ditujukan sebagai solusi atas permasalahan konversi lahan yang seringkali berdampak negatif terhadap lingkungan.

Konversi lahan yang tidak terencana dapat menimbulkan berbagai kerusakan ekologis, seperti banjir, kekeringan, erosi tanah, penurunan kesuburan lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, serta percepatan perubahan iklim.

Dengan menerapkan agroforestri, masyarakat dapat menjaga fungsi ekologis lahan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari hasil pertanian dan kehutanan.

Secara etimologis, istilah agroforestry berasal dari bahasa Inggris, yakni “agro” yang berarti pertanian dan “forestry” yang berarti kehutanan. Di Indonesia, konsep ini dikenal pula dengan sebutan wanatani—gabungan kata “wana” (hutan) dan “tani” (pertanian).

Istilah ini mencerminkan harmonisasi antara kegiatan pertanian dan pelestarian hutan dalam satu kesatuan ekosistem yang berkelanjutan.

Pentingnya Studi Banding Agroforesti bagi Kelompok Tani Dampingan YIARI

Petani dampingan YIARI menggali ilmu kelembagaan usaha kelompok tani di KPH Pesawaran (Tim Comdev | YIARI)

Kegiatan studi banding yang dilaksanakan pada 17–19 Desember 2024 menjadi momen penting bagi delapan petani dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Makmur dan Wanatani Lestari.

Dalam kunjungan ini, mereka memperoleh kesempatan langsung untuk belajar dari praktik kelembagaan dan usaha tani yang diterapkan oleh kelompok tani di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Pesawaran, Lampung.

Adapun tujuan utama kegiatan ini adalah:

1. Memperkuat pemahaman petani mengenai kelembagaan usaha tani berbasis pertanian berkelanjutan

Studi banding ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas petani dalam memahami struktur, peran, dan fungsi kelembagaan dalam konteks usaha tani. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai sistem kelembagaan, petani diharapkan mampu menjalankan kegiatan pertanian secara lebih terorganisir dan berkelanjutan, baik dari segi produksi, pemasaran, maupun pengelolaan sumber daya.

2. Belajar langsung dari kelembagaan kelompok tani yang telah terbukti solid dan bersifat kolektif

KPH Pesawaran dipilih sebagai lokasi pembelajaran karena kelompok tani di wilayah ini telah berhasil membentuk kelembagaan yang kuat dan mampu menjalankan usaha tani secara kolektif. Pengalaman langsung dari kelompok tani ini menjadi referensi konkret bagi petani dampingan YIARI untuk memahami bagaimana tata kelola yang baik dapat mendorong keberhasilan bersama.

3. Menggali penerapan sistem agroforestri yang terintegrasi dengan prinsip konservasi alam

Melalui studi banding ini, para petani mendapatkan wawasan mengenai bagaimana sistem agroforestri dapat diterapkan dalam skala kelompok. Model ini tidak hanya menggabungkan fungsi produksi pertanian dan kehutanan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan melalui perlindungan tanah, air, dan keanekaragaman hayati.

4. Meninjau dampak sistem agroforestri dalam meningkatkan produktivitas lahan

KPH Pesawaran menunjukkan bahwa pendekatan agroforestri dapat memberikan manfaat multidimensi: meningkatkan hasil pertanian, menjaga stabilitas lingkungan, serta menciptakan sumber penghasilan yang berkelanjutan. Hal ini penting untuk diterapkan oleh kelompok tani lainnya yang ingin memperkuat ketahanan ekonomi dan ekologis.

5. Mendalami aspek manajerial kelembagaan kelompok tani

Selain aspek teknis pertanian, peserta juga dibekali dengan pemahaman tentang tata kelola kelembagaan yang mencakup sistem kerja kolektif, manajemen pemasaran, serta pencatatan administratif yang transparan dan akuntabel. Hal ini menjadi fondasi penting bagi kelompok tani agar mampu berkembang secara profesional.

6. Mendorong kemandirian dan daya saing usaha tani

Dengan bekal pengetahuan dan pengalaman dari studi banding, petani dampingan diharapkan mampu mengadopsi praktik kelembagaan yang terbukti berhasil. Langkah ini penting untuk meningkatkan efisiensi operasional kelompok, memperkuat solidaritas anggota, serta memperluas akses pasar dan peluang ekonomi secara mandiri.

Sinergi Berbagai Pihak untuk Peningkatan Kapasitas Petani

Keberhasilan studi banding ini tak lepas dari peran aktif berbagai pihak yang terlibat dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan. Kolaborasi lintas sektor antara lembaga pendamping, tenaga ahli, dan pelaku usaha tani menjadi kunci dalam memperkuat kapasitas kelompok tani.

Pihak-pihak yang berperan dalam kegiatan ini antara lain:

  • Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) sebagai inisiator dan penyelenggara, bertanggung jawab atas koordinasi dan fasilitasi kegiatan.
  • KPH Pesawaran sebagai mitra utama dan tuan rumah studi banding, berbagi pengalaman nyata dalam kelembagaan kelompok tani dan penerapan sistem agroforestri.
  • KPH Batutegi, yang mendampingi petani dampingan selama proses pembelajaran berlangsung.
  • Jurusan Kehutanan Universitas Negeri Lampung, yang turut berperan sebagai pendamping lapangan dan penghubung antara aspek akademik dan praktik lapangan.
  • Kelompok Tani di KPH Pesawaran, yang berperan sebagai narasumber utama, memberikan inspirasi serta berbagi praktik baik dalam pengelolaan usaha tani berbasis agroforestri.

Delapan peserta studi banding berasal dari dua Gapoktan aktif, yakni Sumber Makmur dan Wanatani Lestari, yang selama ini telah mengikuti program pemberdayaan petani yang diinisiasi oleh YIARI.

Melalui kegiatan ini, para petani diharapkan mampu mereplikasi praktik kelembagaan yang berhasil dan membangun sistem usaha tani yang lebih kuat, mandiri, dan berkelanjutan.

Rangkaian Kegiatan Studi Banding di KPH Pesawaran

Kegiatan menggali ilmu kelembagaan kelompok usaha tani di KPH Pesawaran (Tim Comdev | YIARI)

Selama studi banding, peserta mengikuti berbagai kegiatan mulai dari diskusi, kunjungan lapangan, hingga praktik pengolahan hasil pertanian. Berikut rangkaian kegiatan yang dilakukan delapan petani dampingan YIARI di KPH Pesawaran:

Hari Pertama: Pengenalan dan Kunjungan Lapangan

Kegiatan dimulai dengan sesi pengenalan tentang KPH Pesawaran, termasuk diskusi interaktif yang membahas tujuan serta manfaat kelembagaan kelompok tani dalam menunjang keberlanjutan usaha pertanian. Para peserta kemudian berdiskusi langsung dengan pengurus Gapoktan di KPH Pesawaran untuk memahami struktur organisasi, sistem pengelolaan usaha, serta dinamika kelompok tani yang telah berjalan.

Setelah istirahat dan shalat ashar, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke lahan pertanian milik petani lokal yang telah menerapkan pola agroforestri. Beberapa komoditas yang diamati antara lain pala, kemiri, kakao, dan kapulaga. Peserta juga mengikuti sesi khusus mengenai kombinasi agroforestri kompleks, yang menampilkan strategi diversifikasi tanaman untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.

Di malam hari, para peserta mengikuti kegiatan “Ngobrol Pintar (Ngopi) Petani”, yaitu forum santai yang membuka ruang dialog antarpetani. Dalam suasana informal ini, peserta dapat bertukar pengalaman, mengajukan pertanyaan, serta menggali wawasan lebih dalam mengenai praktik pertanian ramah lingkungan yang diterapkan di KPH Pesawaran.

Hari Kedua: Diskusi dan Pendalaman Materi

Fokus kegiatan pada hari kedua adalah pendalaman materi melalui diskusi intensif. Peserta mempelajari sejarah kelembagaan kelompok tani di KPH Pesawaran, khususnya mengenai transisi pengelolaan lahan dari sistem monokultur ke agroforestri. Mereka juga mendalami berbagai pola agroforestri, termasuk teknik pengelolaan lahan, pemanenan, dan pemasaran hasil.

Selanjutnya, peserta mempelajari strategi kelembagaan dalam mengelola produk hasil pertanian, seperti proses pengolahan, pengemasan, dan distribusi. Diskusi juga mencakup peran aktif KPH Pesawaran dalam membina petani melalui penguatan kelembagaan pemasaran dan pengembangan koperasi.

Sore harinya, peserta melakukan sesi refleksi untuk mengevaluasi pengetahuan dan wawasan yang telah diperoleh. Kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta untuk mengidentifikasi pelajaran penting yang bisa diterapkan di kelompok tani masing-masing. Di malam hari, sesi “Ngopi Petani” kembali diadakan sebagai forum lanjutan untuk memperdalam diskusi dan mempererat hubungan antarpeserta dan petani lokal.

Salah satu sesi menggali ilmu kelembagaan usaha kelompok tani dengan berdiskusi (Tim Comdev | YIARI)

Hari Ketiga: Praktik Pengolahan Produk dan Penutupan

Pada hari terakhir, peserta mengikuti sesi praktik langsung pengolahan hasil pertanian. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain:

  • Pengolahan kemiri menjadi minyak berkualitas tinggi, yang memiliki nilai ekonomi besar dalam industri pangan dan kosmetik.
  • Pengolahan pala menjadi produk turunan, seperti manisan atau bumbu siap pakai, untuk meningkatkan daya jual komoditas tersebut.
  • Pembuatan arang briket dari kulit kemiri, sebagai bentuk pemanfaatan limbah pertanian yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis.

Setelah sesi praktik, peserta kembali melakukan refleksi akhir untuk menyusun rencana tindak lanjut yang realistis dan sesuai dengan kondisi kelompok tani mereka. Studi banding ini diakhiri dengan sesi penutupan resmi, di mana para peserta menyampaikan komitmen mereka dalam mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan berlangsung.

Harapan dan Rencana Tindak Lanjut

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan studi banding ini, para peserta diharapkan mampu mengadaptasi dan menerapkan pengetahuan mengenai kelembagaan usaha kelompok tani ke dalam konteks lokal di komunitas masing-masing.

Pembentukan kelembagaan yang lebih kuat menjadi prioritas utama, dengan mengadopsi model yang telah terbukti berhasil diterapkan di KPH Pesawaran. Melalui proses ini, kelompok tani diharapkan mampu membangun struktur organisasi yang solid, berorientasi pada kerja sama, dan mendukung pertumbuhan usaha secara kolektif.

Pengembangan usaha berbasis agroforestri juga menjadi fokus utama dalam rencana lanjutan peserta. Dengan pendekatan ini, mereka tidak hanya mengejar peningkatan produktivitas dan pendapatan, tetapi juga turut menjaga keseimbangan lingkungan melalui praktik pertanian yang berkelanjutan. Implementasi sistem agroforestri diyakini mampu menjawab tantangan pertanian modern yang membutuhkan integrasi antara aspek ekonomi dan ekologi.

Dalam hal pengolahan pascapanen, peserta berkomitmen untuk menerapkan berbagai teknik yang telah dipelajari selama studi banding. Di antaranya adalah penggunaan alat pengering (dryer) untuk menjaga kualitas hasil panen serta pengolahan komoditas menjadi produk bernilai tambah, seperti minyak kemiri, olahan pala, atau briket dari limbah pertanian.

Langkah-langkah ini dirancang untuk memperluas potensi pasar dan meningkatkan pendapatan kelompok, sekaligus mengurangi limbah dan dampak negatif terhadap lingkungan.

Apresiasi kepada Semua Pihak yang Terlibat

Kesuksesan kegiatan studi banding ini tidak terlepas dari kontribusi dan sinergi berbagai pihak. Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada KPH Pesawaran yang telah membuka ruang pembelajaran bagi petani dampingan YIARI, serta berbagi praktik terbaik dalam pengelolaan kelembagaan dan penerapan agroforestri.

Dukungan dari KPH Batutegi sebagai pendamping serta kelompok tani setempat yang menjadi narasumber lapangan, telah menjadi fondasi penting dalam keberhasilan program ini.

Melalui kegiatan ini, petani dampingan YIARI memperoleh bekal pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan untuk memperkuat kelembagaan kelompok, memperluas jejaring kerja sama, dan meningkatkan efektivitas pengelolaan usaha tani.

Harapannya, dengan sistem yang lebih tertata dan pendekatan kolektif yang solid, kelompok tani dapat menghasilkan produk yang lebih bernilai, memperluas akses pasar, serta membangun usaha yang berdaya saing dan berkelanjutan. Ilmu yang diperoleh juga diharapkan dapat ditularkan ke anggota kelompok lainnya, sehingga manfaat studi banding ini dapat dirasakan secara luas di tingkat komunitas.

Tebar Bibit Ikan Nila di Pematang Gadung: Langkah Nyata Mewujudkan Ekonomi Berkelanjutan

Di tengah upaya membangun desa yang mandiri dan berkelanjutan, sebuah langkah penting diambil oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan Koperasi Mandiri Pematang Gadung Sejahtera (KMPGS).

Pada 17 Maret 2025, mereka secara resmi meluncurkan program budidaya ikan nila berbasis koperasi melalui kegiatan Tebar Bibit Ikan di Desa Pematang Gadung, Kabupaten Ketapang. Program ini menjadi simbol kolaborasi lintas sektor, sekaligus sebagai titik awal terbentuknya ekosistem ekonomi lokal yang tangguh dan berbasis komunitas.

Simak kisahnya berikut ini, bagaimana benih ikan yang ditebar membawa harapan baru bagi kemandirian ekonomi masyarakat!

Koperasi sebagai Fondasi Kemandirian Ekonomi Desa

Koperasi Mandiri Pematang Gadung Sejahtera (KMPGS) lahir dari semangat membangun sistem ekonomi desa yang lebih mandiri dan inklusif. Inisiatif ini mulai dirancang sejak tahun 2024 oleh YIARI bersama masyarakat Desa Pematang Gadung, sebagai respons atas kebutuhan akan wadah ekonomi berbasis komunitas.

Setelah melalui berbagai tahap persiapan, koperasi ini akhirnya diresmikan secara hukum melalui pengesahan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan Nomor AHU-0003874.AH.01.29 Tahun 2024.

Peluncuran perdana koperasi ditandai secara simbolis dengan kegiatan Tebar Bibit Ikan, yang melibatkan para anggota koperasi dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan berfokus pada sektor perikanan, koperasi ini kini memiliki 23 anggota aktif yang akan terlibat langsung dalam pengelolaan dan pengembangan usaha.

Kegiatan Tebar Bibit Ikan di Pematang Gadung bersama para anggota KMPGS (Heribertus Suciadi | YIARI)

Melalui koperasi, kami berharap dapat menciptakan kemandirian ekonomi kepada kelompok dampingan kita secara khusus dan masyarakat desa secara umum. Dengan model usaha yang berkelanjutan, anggota koperasi tidak hanya memperoleh penghasilan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang kuat dan berdampak jangka panjang,” ujar Silverius Oscar Unggul, Ketua Umum YIARI.

Dengan hadirnya KMPGS, diharapkan masyarakat Pematang Gadung memiliki pondasi ekonomi yang tidak hanya bertumpu pada bantuan eksternal, tetapi dibangun melalui kekuatan kolektif dan pengelolaan sumber daya lokal secara berkelanjutan.

Budidaya Ikan Nila dengan Sistem Keramba Jaring Apung (KJA)

Melihat potensi sumber daya perairan yang melimpah di Batang Sungai Pesaguan, KMPGS mengembangkan budidaya ikan nila menggunakan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) sebagai model usaha utamanya.

Sistem ini dipilih karena mampu meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem air. Dibandingkan metode tradisional, KJA memungkinkan pemantauan kualitas air dan pertumbuhan ikan secara lebih terkontrol.

Pada tahap awal, program ini melibatkan dua unit KJA dengan kapasitas 4.000 ekor ikan nila. Setiap unit dikelola oleh dua anggota koperasi, sehingga total ada empat orang yang terlibat langsung dalam proses budidaya. Unit-unit ini dirancang untuk memaksimalkan pertumbuhan ikan dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.

Ketua Koperasi KMPGS, Ilyas, menyampaikan rasa optimisme para anggota dengan adanya dukungan dari berbagai pihak. “Dengan adanya KMPGS, kami merasa lebih percaya diri mengembangkan usaha ini. Kami tidak hanya mendapat bantuan modal, tapi juga pelatihan dan pendampingan untuk mengelola usaha dengan lebih baik,” ujarnya.

Menariknya, usaha ini dijalankan dengan skema permodalan bergulir. Artinya, modal awal yang berasal dari donatur akan dikelola dan dikembangkan oleh koperasi secara berkelanjutan.

Dengan pendekatan ini, anggota koperasi dapat terus mengembangkan usahanya tanpa ketergantungan pada bantuan eksternal dalam jangka panjang. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat kemandirian ekonomi, tetapi juga menciptakan siklus usaha yang inklusif dan adaptif.

Dukungan Penuh dari Berbagai Pihak

Peluncuran usaha perikanan berbasis koperasi di Desa Pematang Gadung tidak berjalan sendiri.

Berbagai pihak hadir memberikan dukungan nyata, mulai dari instansi pemerintah hingga perwakilan komunitas lokal. Kehadiran mereka menjadi bukti kuat kolaborasi adalah kunci utama dalam membangun ekonomi desa yang berkelanjutan.

Kegiatan Tebar Bibit Ikan dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten Ketapang melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian; Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan; serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa.

Selain itu, hadir pula Camat Matan Hilir Selatan, KPH Ketapang Selatan, Bhabinkamtibmas, anggota komunitas The Power of Mama, LPHD Pematang Gadung, dan perwakilan dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Perwakilan pemerintah menebar bibit ikan di Pematang Gadung (Heribertus Suciadi | YIARI)

Kepala Desa Pematang Gadung, Sahdimin, menyampaikan rasa terima kasihnya atas sinergi yang terbangun.

Kami sangat mengapresiasi dukungan dari YIARI dan seluruh mitra yang telah membantu mewujudkan program ini. Ini bukan hanya tentang menebar benih ikan nila, tetapi juga menanam harapan bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat Pematang Gadung,” ujarnya.

Kehadiran para pemangku kepentingan dalam kegiatan tebar bibit ikan di Pematang Gadung (Heribertus Suciadi | YIARI)

Lebih lanjut, Sahdimin berharap kolaborasi ini terus berlanjut dalam bentuk pendampingan teknis dan perluasan akses pasar. Dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah dan mitra pembangunan, koperasi KMPGS diyakini akan mampu tumbuh menjadi penggerak utama perekonomian desa yang mandiri dan berbasis komunitas.

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan dari Budidaya Ikan Nila

Budidaya ikan nila dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) tidak hanya menggerakkan roda ekonomi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Dengan menggunakan sistem KJA di sungai, pemanfaatan lahan darat dapat diminimalkan, sehingga tidak perlu membuka lahan baru yang berisiko merusak ekosistem hutan dan lahan basah di sekitar desa.

Dari sisi lingkungan, ikan nila termasuk spesies yang mampu tumbuh dengan baik dalam kondisi perairan yang bersih dan relatif stabil, tanpa perlu penggunaan bahan kimia berbahaya. Dengan begitu, praktik budidaya ini tetap menjaga kualitas air dan keseimbangan ekosistem perairan secara alami.

Secara ekonomi, sistem ini memungkinkan panen yang lebih terukur dan konsisten, sehingga pendapatan anggota koperasi menjadi lebih stabil. Keuntungan yang diperoleh dari hasil panen dapat digunakan untuk meningkatkan taraf hidup keluarga, memperluas skala usaha, hingga membuka peluang ekonomi baru seperti pengolahan hasil perikanan.

Model usaha ini juga memberi ruang belajar bagi masyarakat untuk mengelola bisnis secara kolektif dan berkelanjutan. Bukan hanya soal keuntungan jangka pendek, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan sambil mengelola sumber daya secara produktif.

Menuju Ekonomi Berbasis Komunitas yang Berkelanjutan

Langkah awal yang diambil YIARI dan KMPGS melalui program budidaya ikan nila ini bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan upaya membangun fondasi jangka panjang menuju desa yang berdaya dan berkelanjutan.

Keberhasilan program ini diharapkan dapat menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain yang ingin mengembangkan potensi lokalnya melalui pendekatan koperasi dan pengelolaan sumber daya alam secara bijak.

Kegiatan tebar bibit ikan di Pematang Gadung (Heribertus Suciadi | YIARI)

Ke depan, koperasi KMPGS memiliki peluang besar untuk terus berkembang. Tidak hanya dalam skala produksi, tetapi juga melalui diversifikasi usaha seperti pengolahan hasil panen, pengemasan produk lokal, sampai penguatan akses ke pasar yang lebih luas. Semua ini akan membuka lebih banyak peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

Dengan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan mitra pembangunan, Desa Pematang Gadung telah menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi bukan sekadar wacana, melainkan dapat benar-benar diwujudkan melalui kerja sama dan komitmen bersama.

Melalui kegiatan Tebar Bibit Ikan, yang tampak sederhana di permukaan, telah ditanam benih harapan untuk masa depan desa yang lebih hijau, mandiri, dan sejahtera. Karena pada akhirnya, membangun desa bukan hanya soal pembangunan fisik, tapi juga soal menumbuhkan rasa percaya diri bahwa masyarakat mampu mengelola kehidupannya sendiri—dari desa, oleh desa, dan untuk desa.

Panen Ikan Nila: YIARI Dukung Budidaya Swakelola

Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat, terutama bagi komunitas lokal yang sangat bergantung pada sumber daya alam di sekitarnya.

Dalam menghadapi berbagai tantangan global seperti perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah, pengembangan sistem pangan swakelola menjadi solusi yang efektif sekaligus berkelanjutan.

Sebagai bentuk komitmen terhadap penguatan ketahanan pangan lokal, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) aktif mendorong praktik budidaya ikan nila yang ramah lingkungan. Melalui program panen ikan nila, YIARI mendukung peningkatan produksi ikan secara berkelanjutan, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai teknik budidaya yang efisien, hemat sumber daya, dan selaras dengan prinsip-prinsip konservasi.

Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai program panen ikan nila yang dilaksanakan oleh YIARI. Check it out!

Kapan Program Ini Dilaksanakan?

Kegiatan panen ikan nila YIARI di Desa Ulak Medang, Ketapang, Kalimantan Barat  (Tim Comdev | YIARI)

Pada Jumat, 28 Februari 2025, YIARI bersama Kelompok Usaha Bersama (KUB) Alam Lestari melaksanakan panen ikan nila di Desa Ulak Medang, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari program budidaya perikanan berkelanjutan yang dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan lokal melalui pendekatan berbasis komunitas.

Desa Ulak Medang dipilih sebagai lokasi program karena memiliki potensi sumber daya air yang mendukung, serta semangat masyarakat yang tinggi untuk mengembangkan usaha budidaya secara mandiri. Keterlibatan aktif warga menjadi kunci dalam setiap tahap kegiatan—mulai dari pengelolaan kolam, pemberian pakan, hingga proses panen.

Melalui kegiatan ini, YIARI tidak hanya menyalurkan pengetahuan teknis dan pendampingan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai konservasi dalam praktik budidaya agar tetap sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan.

Hasil Panen dan Praktik Budidaya Ramah Lingkungan

Panen ikan nila yang dilakukan di Desa Ulak Medang membuahkan hasil yang menggembirakan. Dalam satu kali panen, masyarakat berhasil memanen 409 kilogram ikan nila. Capaian ini bukan hanya menunjukkan keberhasilan dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas pengelolaan budidaya.

Selama proses budidaya, tingkat kematian ikan (mortalitas) tercatat sebesar 20%, sementara nilai food conversion ratio (FCR) mencapai 1,25. Angka FCR ini menandakan efisiensi yang baik dalam penggunaan pakan—semakin rendah nilai FCR, semakin efisien ikan dalam mengubah pakan menjadi massa tubuh.

Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari penerapan praktik budidaya yang ramah lingkungan. Sejak awal, program ini dirancang dengan pendekatan konservatif untuk menjaga kesehatan ikan dan kualitas ekosistem perairan. Beberapa prinsip utama yang diterapkan meliputi:

  • Pemantauan kualitas air secara berkala untuk menjaga kondisi optimal bagi pertumbuhan ikan.
  • Pengaturan kepadatan tebar agar ikan tidak stres dan ruang hidup tetap memadai.
  • Pemilihan pakan berkualitas tinggi dan efisien, sehingga mendukung pertumbuhan tanpa mencemari lingkungan.
  • Pengelolaan limbah budidaya secara bertanggung jawab agar tidak merusak ekosistem sekitar kolam.

Tantangan Panen Ikan Nila

Di balik keberhasilan budidaya ikan nila, terdapat sejumlah tantangan signifikan yang dihadapi oleh para pembudidaya di lapangan. Beberapa kendala utama berikut menjadi perhatian serius dalam pengelolaan budidaya yang berkelanjutan.

Berikut tantangan-tantangan beserta solusi yang telah diupayakan oleh YIARI bersama Kelompok Usaha Bersama (KUB) Alam Lestari:

YIARI dan KUB Alam Lestari bekerjasama untuk panen ikan nila (Tim Comdev | YIARI)

1. Fluktuasi harga jual ikan

Harga jual ikan nila di pasaran cenderung tidak stabil karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti fluktuasi permintaan konsumen, musim panen, serta kondisi ekonomi secara umum.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, harga ikan air tawar—termasuk ikan nila—bisa mengalami perubahan antara 10% hingga 20% dalam hitungan bulan, tergantung pada dinamika stok dan permintaan pasar.

Ketidakstabilan harga ini berdampak langsung pada pendapatan pembudidaya, yang kerap kali harus menjual hasil panen dengan harga di bawah biaya produksi. Untuk mengatasi tantangan ini, kami bersama KUB Alam Lestari berinisiatif membangun jaringan pemasaran yang lebih luas dan stabil.

Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah menjalin kemitraan langsung dengan pembeli tetap, seperti pasar tradisional dan koperasi. Melalui pendekatan ini, pembudidaya dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasar terbuka dan memastikan aliran pendapatan yang lebih terjamin.

2. Tingginya harga pakan

Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya ikan nila, yang menurut laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dapat mencapai 60–70% dari total biaya operasional.

Dalam beberapa tahun terakhir, harga pakan komersial terus meningkat, didorong oleh mahalnya bahan baku seperti tepung ikan dan kedelai yang sebagian besar masih diimpor.

Kenaikan ini sangat membebani pelaku budidaya, khususnya skala kecil dan menengah. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial, kami mulai mengembangkan solusi berbasis lokal melalui produksi pakan alternatif.

Bahan-bahan seperti daun lamtoro, dedak padi, serta maggot (larva lalat BSF) yang kaya protein menjadi pilihan utama. Pendekatan ini tidak hanya membantu menekan biaya operasional, tetapi juga mendukung praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang mudah diakses.

3. Komunikasi Antaranggota Kelompok

Budidaya dalam skema kelompok memerlukan koordinasi dan komunikasi yang solid antaranggota. Setiap individu harus menerapkan standar budidaya yang sama, mulai dari pengelolaan kualitas air, pemberian pakan, hingga penjadwalan panen.

Namun dalam praktiknya, perbedaan pengalaman, pemahaman teknis, dan cara kerja sering kali menjadi sumber ketidakseimbangan.

Untuk memperkuat sinergi dalam kelompok, kami secara aktif mendorong keterbukaan informasi dan menyelenggarakan pelatihan bersama secara berkala. Selain itu, forum diskusi rutin juga difasilitasi guna memberikan ruang bagi anggota untuk berbagi pengalaman, membahas tantangan teknis, dan mencari solusi bersama.

Komunikasi yang efektif terbukti meningkatkan efisiensi produksi serta membantu mengurangi potensi konflik dalam pengelolaan usaha secara kolektif.

Manfaat Panen Ikan Nila

Hasil panen ikan nila YIARI bersama KUB Alam Lestari  (Tim Comdev | YIARI)

Bagi masyarakat Desa Ulak Medang, panen ikan nila bukan sekadar kegiatan ekonomi, melainkan cerminan dari perubahan cara hidup yang lebih berkelanjutan. Program ini memberikan dampak nyata, baik dari sisi pendapatan keluarga maupun kesadaran lingkungan.

Salah satu anggota KUB Alam Lestari, Kusmaheru, membagikan pengalamannya:

“Di panen ikan nila kali ini, keramba saya menghasilkan 100 kg ikan yang langsung terjual habis. Sebelum mengikuti program ini saya kerja tebang kayu. Ya, niat saya sih sebenernya ingin berubah dari kerja kayu, dan saya jalani usaha dengan KUB ini pun, saya melihat dulu keadaan dan bagaimana hasilnya. Kalau memang menghasilkan, langkah baik selanjutnya saya akan berhenti kerja kayu.”

Cerita Kusmaheru menjadi bukti budidaya ikan nila dapat menjadi jalan keluar dari ketergantungan terhadap aktivitas yang berpotensi merusak hutan. Selain menghasilkan keuntungan ekonomi, kegiatan ini juga mendorong transformasi sosial yang lebih ramah lingkungan.

Tidak hanya itu, keberhasilan panen turut membuka peluang baru bagi anggota keluarga lain untuk terlibat, mulai dari pengolahan hasil panen hingga distribusi ke pasar lokal. Dalam jangka panjang, ini memperkuat ketahanan keluarga dan memperluas manfaat program ke lapisan masyarakat yang lebih luas.

Menatap Masa Depan Budidaya Berkelanjutan

Budidaya ikan nila yang dikembangkan di Desa Ulak Medang menunjukkan ketahanan pangan dan konservasi lingkungan bisa berjalan beriringan. Melalui pendekatan berbasis komunitas, program ini bukan hanya menghasilkan panen yang sukses, tetapi juga menumbuhkan kesadaran baru tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Ke depan, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain yang ingin mengembangkan sistem pangan mandiri. Budidaya ikan nila bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan dapur, tapi juga tentang menjaga hutan tetap lestari, mengurangi tekanan terhadap alam, dan memperkuat kemandirian masyarakat.

Karena pada akhirnya, menanam harapan berarti menuai masa depan.

HPSN 2025: YIARI Ajak Anak-anak di Ketapang Bersih-bersih Sampah

Sampah merupakan persoalan serius yang tidak hanya menjadi tanggung jawab nasional, tetapi juga tantangan global yang hingga kini masih terus diupayakan penyelesaiannya.

Berdasarkan Surat Edaran (SE) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025, data dari Global Waste Management Outlook 2024 mencatat bahwa sekitar 38 persen sampah di dunia masih belum terkelola dengan baik. Kondisi ini memberikan kontribusi besar terhadap tiga krisis lingkungan utama yang dikenal sebagai Triple Planetary Crisis, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.

Di tingkat nasional, Indonesia mencatat timbunan sampah sebesar 56,63 juta ton pada tahun 2023. Dari total tersebut, hanya 39,01 persen atau sekitar 22,09 juta ton yang berhasil dikelola. Sisanya, yaitu 60,99 persen atau sekitar 34,54 juta ton, belum mendapatkan penanganan yang memadai.

Sebagai bagian dari peringatan HPSN 2025, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menginisiasi kegiatan bersih-bersih lingkungan bersama anak-anak di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Aksi ini bertujuan menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini, serta mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah di sekitar mereka.

Penasaran seperti apa kegiatan yang dilakukan? Yuk, simak keseruan aksi YIARI bersama anak-anak di Ketapang berikut ini!

Aksi Bersih Sampah Dilakukan di Tujuh Titik Lokasi

Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bersama anak-anak di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menyelenggarakan aksi bersih sampah di tujuh titik lokasi berbeda. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yakni pada 21 dan 22 Februari 2025.

Tepat pada tanggal 21 Februari, bertepatan dengan peringatan HPSN, kegiatan diawali dengan aksi bersih sampah bersama siswa-siswi SDN 20 Pangkalan Jihing, yang juga menjadi bagian dari site kerja Gunung Tarak.

Aksi bersih sampah YIARI dan siswa-siswi di SDN 20 Pangkalan Jihing. (Tim Edukasi | YIARI)

Masih di hari yang sama, YIARI mengadakan kegiatan daur ulang sampah di Learning Centre Sir Michael Uren (LC SMU). Pada kegiatan ini, YIARI berkolaborasi dengan Genta (Gerakan Pecinta Alam) dari SMKN 1 Ketapang, menciptakan momen edukatif seputar pengelolaan dan pemanfaatan sampah secara kreatif.

Selain itu, YIARI turut menggelar aksi bersih lingkungan bersama anak-anak di Desa Nusa Poring, yang merupakan bagian dari site project Melawi.

Pada tanggal 22 Februari, aksi bersih sampah dilanjutkan di tiga sekolah dasar dan satu desa, yakni SDN 33 Cali, SDN 14 Pulau Cempedak, SDN 07 Hulu Sungai, serta Desa Batu Lapis.

Masyarakat Sambut Positif Aksi Bersih Sampah yang Diinisiasi YIARI

Aksi bersih sampah di Desa Nusa Poring. (Tim Edukasi | YIARI)

Aksi bersih sampah yang diinisiasi oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Desa Nusa Poring mendapatkan respons positif dari masyarakat setempat. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025.

Menurut Dieka Pertiwi, Manajer Edukasi dan Penyadartahuan YIARI, kegiatan bersih-bersih sampah sebenarnya bukanlah hal baru bagi anak-anak maupun warga di Kabupaten Ketapang. Aksi serupa telah menjadi kegiatan rutin yang dilakukan di berbagai desa.

Sebenarnya, aksi bersih sampah ini bukan kegiatan baru. Kegiatan seperti ini memang sudah rutin dilakukan. Jadi, HPSN itu sifatnya hanya seremonial saja, karena di luar momen perayaan seperti ini, aktivitas bersih-bersih sudah menjadi agenda reguler di desa-desa,” jelas Dieka.

Lebih lanjut, Dieka menjelaskan dalam rangka HPSN 2025, YIARI menyelenggarakan aksi bersih sampah dengan pendekatan yang lebih seremonial dan melibatkan sejumlah sekolah di wilayah Ketapang.

“Respons dari masyarakat sangat positif, terutama dari anak-anak yang memang terbiasa mengikuti kegiatan ini secara rutin setiap bulan,” tambahnya.

Anak-anak di Ketapang Terbiasa Bermain sambil Membersihkan Sampah

Salah satu fakta menarik dari kegiatan bersih sampah di Kabupaten Ketapang adalah kebiasaan anak-anak yang menjadikan aksi peduli lingkungan sebagai bagian dari aktivitas bermain sehari-hari. Di beberapa wilayah, seperti di Mentatai, anak-anak kerap berenang atau menyelam di sungai sambil memungut sampah yang mereka temui di permukaan maupun dasar sungai.

Seorang anak memungut sampah di Desa Batu Lapis, Kecamatan Hulu Sungai. (Tim Edukasi | YIARI)

Mereka, kalau melihat sampah di dasar sungai, langsung diambil. Itu sudah menjadi kebiasaan,” ungkap Dieka.

Ia menambahkan, kesadaran ini merupakan hasil dari berbagai kegiatan edukatif dan aksi peduli lingkungan yang dilakukan secara konsisten di wilayah Ketapang.

Kegiatan-kegiatan yang sudah rutin dilakukan membuat anak-anak lebih sadar. Bahkan, mereka dengan inisiatif sendiri memungut sampah, termasuk yang berada di dasar sungai sekalipun,” jelasnya.

Sampah Plastik Masih Menjadi Tantangan Terbesar

Dari berbagai jenis sampah yang mencemari lingkungan, sampah plastik menjadi tantangan terbesar yang dihadapi saat ini. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di kalangan anak-anak. Di Kabupaten Ketapang, misalnya, anak-anak masih memiliki kebiasaan membeli jajanan yang umumnya dikemas dalam plastik sekali pakai.

Meski demikian, kesadaran anak-anak terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sudah tergolong baik. Meski masih mengonsumsi produk berkemasan plastik, mereka telah terbiasa membuang sampah pada tempatnya, bukan sembarangan.

Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan, YIARI terus mengedukasi anak-anak dan masyarakat di Ketapang, khususnya terkait bahaya dan pengelolaan sampah plastik. Salah satu kebiasaan positif yang mulai dibangun adalah membawa wadah atau tempat minum sendiri saat membeli jajanan, guna mengurangi ketergantungan terhadap kemasan plastik sekali pakai.

Masalah sampah memang tidak akan pernah benar-benar habis. Namun, sebagai individu, kita bisa berkontribusi melalui langkah-langkah kecil yang konsisten, seperti memilah sampah, membawa wadah sendiri, atau rutin mengikuti kegiatan bersih-bersih lingkungan. Tak harus menunggu momen tertentu seperti Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), aksi menjaga kebersihan bisa dilakukan setiap minggu, bahkan setiap hari, di lingkungan tempat tinggal kita.

Seperti yang telah ditunjukkan oleh anak-anak di Ketapang—bermain sambil memungut sampah—aksi sederhana ini memiliki dampak besar jika dilakukan secara kolektif. Sudah saatnya kita menjadikan kepedulian terhadap sampah sebagai bagian dari gaya hidup. Yuk, mulai sekarang biasakan memungut sampah dan membuangnya di tempat yang semestinya!

Featured image: Siswa SDN O7 Hulu Sungai membersihkan sampah. (Tim Edukasi | YIARI)

Sukses Beternak Ayam Kampung: Perjalanan Kelompok Wanita Tani di Lampung

Di tengah upaya meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat, pemanfaatan lahan pekarangan makin kreatif. Salah satu inovasi yang mulai diterapkan adalah pendampingan ternak ayam kampung—tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan gizi keluarga, tapi juga sebagai peluang usaha yang menjanjikan.

Memasuki awal 2025, Kelompok Wanita Tani (KWT) Gapoktan Wanatani Lestari, salah satu gapoktan binaan YIARI, membangun kandang ayam kampung dari bambu lokal. Program ini punya tiga tujuan utama: menyediakan sumber protein yang lebih mudah diakses, menambah penghasilan keluarga, dan menghasilkan pupuk organik untuk tanaman hortikultura.

Lalu, seperti apa pendampingan ini dijalankan? Yuk, simak lebih lanjut!

Membangun Kandang Ayam Kampung Secara Gotong Royong

Kandang ayam dari bambu lokal dalam program pendampingan ternak ayam kampung (Tim Comdev | YIARI)

Kelompok Wanita Tani Gapoktan Wanatani Lestari di KPH Batutegi, Lampung, memanfaatkan lahan pekarangan rumah dengan menerapkan sistem pertanian terpadu. Selain membudidayakan tanaman hortikultura, kelompok ini kini mengembangkan usaha peternakan ayam kampung sebagai bagian dari strategi diversifikasi usaha tani.

Perencanaan teknis program ini telah dimulai sejak akhir Desember 2024 dan mulai diterapkan pada minggu pertama Januari 2025. Langkah awal yang dilakukan adalah pembangunan kandang ayam, yang difasilitasi oleh Yayasan IAR Indonesia (YIARI) dengan dukungan aktif dari masyarakat tani setempat. Sebagai bentuk kemandirian, anggota kelompok tani secara swadaya mengumpulkan bambu lokal untuk digunakan sebagai material utama dinding dan lantai kandang.

Dengan semangat gotong royong, para suami anggota kelompok tani turut berpartisipasi dalam pembangunan kandang ayam kampung berukuran 11 x 2 meter. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok melalui pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal serta mendorong ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.

Pemasangan terpal dalam program pendampingan ternak ayam kampung (Tim Comdev | YIARI)

Proses pembangunan kandang ini melibatkan 15 orang, termasuk staf YIARI, mahasiswa magang, serta para ibu anggota KWT. Mereka bekerja sama untuk memastikan kandang yang dibangun memiliki struktur kokoh, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan pemeliharaan ayam.

Pembangunan dilakukan secara bertahap, dimulai dari pembuatan rangka, pemasangan dinding bambu, sampai penyelesaian lantai dan atap. Untuk meningkatkan perlindungan dari angin dan hujan, dinding kandang dilapisi terpal agar suhu di dalamnya tetap stabil. Dengan lingkungan yang lebih terjaga, ayam dapat tumbuh secara optimal dan sehat.

Langkah Awal Menuju Produksi Ayam Berkualitas

Setelah kandang selesai dibangun pada 22 Januari 2025, langkah berikutnya adalah menciptakan lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan ayam. Faktor-faktor utama yang diperhatikan meliputi ventilasi, penempatan pakan dan minum, pencahayaan, serta kebersihan kandang.

Ventilasi yang tepat menjadi prioritas utama untuk memastikan sirkulasi udara yang lancar, mengurangi kelembaban berlebih, serta mencegah penyebaran penyakit. Selain itu, penempatan tempat pakan dan minum dirancang secara strategis agar mudah diakses oleh ayam, meminimalkan risiko kontaminasi, dan mengurangi pemborosan pakan.

Untuk menjaga suhu kandang tetap hangat, terutama pada malam hari, dipasang lampu yang berfungsi sebagai sumber penerangan sekaligus penghangat. Pencahayaan yang cukup membantu ayam tetap aktif sekaligus mengurangi stres yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan kesehatannya. Dengan manajemen kandang yang optimal, diharapkan ayam dapat tumbuh sehat dan menghasilkan produksi berkualitas tinggi.

Kandang ayam dengan ventilasi baik, lampu, dan tempat makan minum bambu (Tim Comdev | YIARI)

Sebagai bagian dari pemanfaatan sumber daya lokal, wadah pakan ayam dibuat dari bambu. Penggunaan bambu tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga lebih ekonomis dan mudah diperoleh oleh kelompok tani. Dengan pendekatan ini, program budidaya ayam kampung juga mengurangi ketergantungan pada peralatan berbahan plastik atau logam yang lebih mahal.

Pada tahap awal, sebanyak 266 ekor ayam kampung berusia dua minggu yang telah divaksin mulai dimasukkan ke dalam kandang. Dalam empat minggu ke depan, kandang kedua direncanakan selesai dibangun untuk menampung tambahan 200 ekor ayam. Dengan sistem ini, kelompok tani bisa melakukan panen setiap bulan, dengan target bobot ayam mencapai 1 kg dalam waktu 2,5 bulan.

Ayam kampung diberi pakan berkualitas di kandang (Tim Comdev | YIARI)

Selain memastikan kondisi kandang yang mendukung, aspek nutrisi juga menjadi faktor utama dalam budidaya ayam kampung. Ayam memerlukan pakan berkualitas dengan komposisi seimbang yang mencakup protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral untuk menunjang pertumbuhan optimal serta menjaga daya tahan tubuhnya.

Selain itu, pengawasan kesehatan ayam secara berkala sangat penting untuk mencegah penyakit, meningkatkan tingkat keberhasilan budidaya, serta memastikan hasil ternak yang sehat dan berkualitas. Langkah ini mencakup vaksinasi, pemantauan gejala penyakit, serta penerapan kebersihan kandang yang ketat.

Beragam Potensi dan Manfaat dari Ayam Kampung

Selain memberikan manfaat ekonomi dari hasil penjualan, beternak ayam kampung juga membuka peluang bagi kelompok tani untuk menerapkan sistem pertanian terpadu.

Salah satu manfaat utama dari usaha ini adalah pemanfaatan kotoran ayam sebagai pupuk organik. Pupuk ini dapat meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman hortikultura yang dikelola oleh kelompok tani. Dengan adanya pupuk organik, biaya pembelian pupuk kimia dapat ditekan, menjadikan usaha pertanian lebih hemat dan ramah lingkungan. Selain itu, sistem pertanian terpadu menciptakan siklus produksi yang lebih efisien, di mana limbah ternak dimanfaatkan kembali untuk mendukung sektor pertanian.

Lebih dari sekadar keuntungan finansial, beternak ayam kampung juga membawa manfaat sosial bagi komunitas. Kegiatan ini memperkuat semangat gotong royong di antara anggota kelompok tani serta memberikan peluang bagi mereka untuk mengembangkan keterampilan baru dalam beternak dan mengelola usaha secara mandiri.

Penutup 

Pendampingan dalam budidaya ayam kampung ini menjadi bukti nyata pemberdayaan komunitas dapat berjalan selaras dengan keberlanjutan lingkungan. Dengan dukungan berbagai pihak serta semangat gotong royong, program ini diharapkan terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak komunitas untuk memanfaatkan lahan pekarangan secara produktif.

Ke depan, Kelompok Wanita Tani (KWT) Gapoktan Wanatani Lestari berencana meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar penjualan ayam kampung. Langkah ini akan membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi anggotanya, sekaligus berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan di daerah mereka.

Pendampingan seperti ini membuktikan inovasi di sektor pertanian mampu memberikan manfaat luas, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Mari bersama mendukung pertanian berkelanjutan dan memberdayakan lebih banyak komunitas untuk mandiri!

YIARI Rayakan Hari Keanekaragaman Hayati melalui  Harmonisasi Seni dan Konservasi

Ketapang, 19  Mei 2024  –   Dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati (HKH), Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengadakan serangkaian kegiatan di Learning Centre Sir Michael Uren, Ketapang. Acara ini diisi dengan presentasi kreatif dari siswa yang terlibat dalam After School Program (ASP) YIARI, dihadiri oleh siswa, orang tua, perwakilan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang, perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Ketapang, PT. MPK, aparatur Desa Sungai Awan Kiri, juga beberapa media lokal. 

After School Program (ASP) yang dijalankan oleh YIARI merupakan inisiatif pendidikan untuk melibatkan siswa dalam aktivitas pembelajaran dan kreativitas di luar jam sekolah reguler. Berfokus pada edukasi lingkungan dan konservasi, program ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi dan memperdalam pengetahuan serta keterampilan mereka tentang keanekaragaman hayati dan pelestarian alam.

Hadirin tetap semangat mengikuti rangkaian acara di tengah cuaca terik siang itu (Heribertus Suciadi | YIARI)

Sekretaris Dinas Pendidikan, Rudy, S.Sos., M.Si, menyampaikan apresiasi Dinas Pendidikan kepada YIARI, “Program ASP mendorong siswa lebih termotivasi dan berinovasi dalam karya dan kegiatan lainnya dalam rangka meningkatkan kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan yang mungkin belum didapatkan secara optimal di sekolah. Kami melihat apa yang telah dilakukan oleh YIARI bisa menjadi contoh dalam penerapan muatan lokal.”

Ia juga menyampaikan pentingnya kolaborasi untuk meningkatkan kesadaran menjaga kelestarian alam, “Kami juga mengharapkan beberapa program kegiatan antara Dinas Pendidikan dengan YIARI untuk mengadakan sosialisasi memberikan pengetahuan ke sekolah-sekolah untuk muatan lokal, terutama menyangkut tentang Sekolah Hijau. Kami akan menggandeng YIARI dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam bidang pelestarian alam, karena potensi alam yang ada di Ketapang sangat banyak dan melimpah. Kita tidak hanya mengenalkan kekayaan alam yang  hampir punah, tapi juga sumber daya alam yang masih melimpah. Semoga  kegiatan seperti ini akan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran kekayaan alam yang kita miliki.”

Hari keanekaragaman hayati sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 Mei merupakan kesempatan global untuk mengakui dan merayakan kekayaan alam yang kita miliki di planet ini. Tahun ini, HKH mengusung tema “Be Part of the Plan“, sebuah ajakan global yang melibatkan semua pihak dalam upaya pemulihan keanekaragaman hayati. Pertunjukan karya seni, pertunjukan tari tradisional dan modern, pembacaan puisi, serta pemutaran video animasi yang ditampilkan, semuanya bertujuan untuk mendidik dan memotivasi masyarakat tentang pentingnya pelestarian alam.

Penampilan tari melayu “pokok bakau” yang menunjukkan kekuatan, keindahan, dan fungsi bakau (Heribertus Suciadi | YIARI)

Seluruh rangkaian acara memegang peranan penting dalam upaya konservasi. Acara ini juga memfasilitasi dialog antara para pelajar dan para pemangku kepentingan, membuka lebih banyak kesempatan kerjasama dalam upaya konservasi. Melalui edukasi dan seni, peringatan HKH tidak hanya merayakan keindahan alam, tetapi juga menanamkan pentingnya tindakan konservatif dalam kehidupan sehari-hari. Pesan yang disampaikan melalui tarian, puisi, solo vokal, multimedia, serta teater dalam bahasa Inggris memperkuat urgensi dan tanggung jawab bersama dalam melindungi ekosistem kita.

Pada kunjungannya dalam rangka Edu-tourism 16 Mei 2024, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Ketapang, Junaidi Firawan S.Sos., M.E mengapresiasi adanya YIARI di Ketapang. “YIARI sangat peduli terhadap kesimbangan alam, serta habitat dan satwa yang ada di lingkungan YIARI ini.”

Para performer setelah menyampaikan pesan konservasi melalui pertunjukkan seni yang mereka tampilkan (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Setiap pertunjukan dan kegiatan yang diadakan selama HKH memiliki makna mendalam. Tarian anak Dayak, misalnya, bukan hanya perwujudan estetika, tapi juga menggambarkan persatuan dan persahabatan anak anak yang mencintai alam, sekaligus percaya pentingnya menjaga satwa. Pembacaan puisi dan orasi yang dilakukan oleh para siswa ASP lebih dari sekadar ekspresi artistik; pesannya mengingatkan kita tentang kerusakan yang disebabkan manusia, serta urgensi untuk melakukan upaya menjaga alam. Di sisi lain, video animasi tentang kebakaran hutan mengingatkan kita tentang konsekuensi nyata dari tindakan tidak bertanggung jawab dan pentingnya pemulihan dan pelestarian ekosistem.

Dieka Pertiwi, manajer edukasi dan penyadartahuan YIARI menyampaikan harapan terselenggaranya acara ini sebagai wadah berekspresi para siswa. “Semoga kegiatan ini bisa terus berjalan dan menjadi wadah bagi anak-anak berekspresi dan menyuarakan pesan konservasi.”

YIARI berterima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dan berkontribusi dalam acara peringatan ini. Semoga acara ini bisa menjadi upaya mengokohkan komitmen bersama dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati yang berkelanjutan! 🙌

Potret suksesor di balik perayaan HKH ini (Heribertus Suciadi | YIARI)

***

Narahubung:

Heribertus Suciadi Nugraha

Manajer Media dan Komunikasi

Telp: +62 821-5346-2720

Email: heribertus@internationalanimalrescue.org

Tentang Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI):

Berdiri sejak 2008, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) adalah organisasi yang didukung secara penuh oleh International Animal Rescue (IAR) untuk bergerak di bidang pelestarian primata Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran dan pemantauan pasca lepas liar. YIARI berkomitmen memberikan perlindungan terhadap primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara lingkungan, satwa, dan manusia.

Komunitas The Power of Mama Terima Penghargaan Nasional Clean Air Championship Award

Pada 17 November 2023, komunitas The Power of Mama (TPoM) menerima penghargaan “Clean air Championship Award 2023” tingkat petani, MPA, perorangan wilayah Kalimantan. Penerimaan penghargaan ini diwakili oleh Maimun bertempat di Institut Pertanian Bogor (IPB) International Convention Center, Kota Bogor, Jawa Barat. Penghargaan yang diberikan oleh Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University dan Farmers’ Initiatives for Ecological Livelihood and Democracy (FIELD) Indonesia ini merupakan bentuk apresiasi dalam rangka program udara bersih Indonesia.

Menurut Prof. Bambang Hero Saharjo, selaku Ketua Tim Seleksi Penerima Awards di tingkat Kabupaten, Provinsi dan Nasional untuk tiga kategori, penghargaan ini pertama kali diadakan pada tahun 2022. “Latar belakang adanya penghargaan ini di antaranya kami melihat peran dari penerima award ini. Ada yang dari MPA (masyarakat peduli api), kemudian ada yang dari petani, kemudian ada yang dari masyarakat, perorangan. Kemudian juga ada dari instansi, seperti dari DLHK. Kemudian dari manggala agni, sampai ke tingkat perorangan. Menurut kami itu sangat penting dalam hal memberi support dan semangat semua level untuk sepakat menciptakan udara bersih. Kami juga dibantu oleh satu tim research dari United Kingdom yang menetapkan 7 kriteria untuk pemilihan penerima award ini. Jadi sebetulnya ini penghargaan internasional,” ujar Prof. Bambang Hero Saharjo yang juga merupakan Direktur Regional Fire Management Research Center (RFMRC) South East Asia di bawah Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB.

Dalam pidato yang disampaikan di depan para tamu undangan acara penghargaan ini, Maimun sangat mengapresiasi dukungan yang diterima The Power of Mama terutama dari YIARI dan The Orangutan Project (TOP).

Ibu Maimun selaku perwakilan The Power of Mama saat menyampaikan pidatonya (Fattreza Ihsan | YIARI)

“Ini suatu penghargaan yang sangat luar biasa, kalau bagi saya orang biasa, ini adalah mimpi. Tapi tentu ini merupakan suatu tanggung jawab yang bakal kami emban ke depannya. Saya berdiri di sini hari ini sebagai perwakilan dari salah satu anggota organisasi kami, yaitu The Power of Mama. Kami dari The Power of Mama itu terinspirasi oleh Ibu Dokter Karmele Llano Sanchez, Direktur Utama YIARI, karena beliau adalah inisiator kegiatan dari komunitas ini, dan oleh ibu Menteri LHK kita, Ibu Siti Nurbaya, karena beliau adalah sosok perempuan yang menjadi contoh bagi kami untuk bergerak dan berjuang di bidang lingkungan hidup. Kami tidak dibayar dan bukan merupakan suatu instansi, namun sebagai relawan yang bergerak di bidang lingkungan. Jadi kami menjadi bagian dari komunitas ini semata-mata dari hati nurani kami,” ujar Maimun, 53 tahun, yang berasal dari Desa Suka Maju, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Sejumlah dukungan yang telah diterima The Power of Mama, disampaikan lebih lanjut oleh Maimun dalam pidatonya. Ia menjelaskan bahwa kelompok The Power of Mama telah menerima sejumlah program peningkatan kapasitas. Di antaranya pelatihan menggunakan drone untuk memantau kawasan yang rawan kebakaran, SMART Patrol, public speaking, dan pemadaman kebakaran. “Kami berharap The Power of Mama ini akan semakin berkembang, semakin maju, juga bisa menginspirasi kaum wanita, kaum ibu-ibu, tentunya yang ada di pedesaan. Karena kebakaran hutan dan lahan itu tentu beradanya di pedesaan, seperti desa kami yang sering terjadi kebakaran. Semoga kegiatan komunitas kami ini bisa diterima di masyarakat, kami mengharapkan itu bantuan dan dorongan dari semua pihak pemerintah yang ada di Indonesia,” ujar Maimun yang juga aktif sebagai fasilitator desa dan penggerak pertanian organik di desanya.

The Power of Mama yang didirikan pada 8 Juni 2022 ini merupakan komunitas yang terdiri dari para perempuan lintas generasi dan terutama kaum ibu, yang tinggal di kawasan desa di sekitar Ketapang, Kalimantan Barat. Komunitas ini bertujuan menjadikan kaum perempuan dan para ibu sebagai pelopor dalam menggerakkan kesadaran masyarakat sekitar untuk peduli terhadap lingkungan, terutama dalam kegiatan-kegiatan pelestarian alam di kawasan tempat mereka tinggal. Saat ini kegiatan berfokus pada patroli dan monitoring pencegahan kebakaran hutan dan lahan di desa masing-masing sebagai bagian dari persiapan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim.

Selain penghargaan untuk tingkat petani, MPA, perorangan, penghargaan serupa juga diberikan pada tingkat Manggala Agni atau BPBD dan tingkat kelompok di wilayah Kalimantan dan Sumatera (Fattreza Ihsan | YIARI)

YIARI sebagai lembaga yang menginisiasi kemunculan The Power of Mama, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi mendalam atas prestasi yang didapatkan kelompok yang sekarang telah berjumlah 92 ibu-ibu rumah tangga dari 6 desa di Ketapang. “Mereka perempuan hebat yang telah berhasil memberikan inspirasi bagi kita semua, terutama bagi komunitas di sekeliling mereka. Tanggung jawab mereka tidak putus hanya di rumah tangga, tetapi mereka berperan aktif dalam menjaga lingkungan untuk kita semua. Kita harus saling memberi dukungan dan inspirasi sebagai sosok perempuan yang punya peran sangat penting dalam menjaga lingkungan seperti ibu Siti Nurbaya, Menteri LHK yang tidak pernah berhenti menjadi inspirasi untuk kami semua. Kami juga sangat berterima kasih kepada para pihak yang telah memberikan pengakuan atas kerja keras mereka yang telah bekerja dengan sukarela mengamankan lingkungan desa mereka dari kerusakan alam, terutama api. Kami dari YIARI berharap, kemunculan The Power of Mama ini akan menumbuhkan inisiatif-inisiatif masyarakat dalam menjaga alam dan bumi ini,” ujar Karmele Llano Sanchez, Direktur Utama YIARI.

Sejalan dengan harapan YIARI ini, Prof. Bambang Hero Saharjo mengungkapkan bahwa perlu banyak upaya-upaya masyarakat untuk menjaga kualitas udara. “Ketika kita bicara tentang kualitas udara itu, tidak berkaca pada hari ini saja. Karena bisa jadi apa yang terjadi sekarang itu adalah kulminasi dari perjalanan-perjalanan sebelumnya.  Di situlah kita melihat ada peran dari masing-masing, apakah itu perorangan, co-leadership dan sebagainya.”