Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Ini Bukti Kehebatan Primata Indonesia yang Perlu Kamu Ketahui!
Gak hanya superhero, primata Indonesia juga memiliki kehebatan yang luar biasa loh! Kehebatan primata ini tidak bisa disaingi oleh jenis satwa liar lainnya 😯
Ngomongin soal kehebatan, di Hari Primata Indonesia yang jatuh pada 30 Januari 2024 ini menggunakan tema Primata Kita Luar Biasa. Karena memang luar biasa hebat primata kita!
Kira-kira Sobat #KonservasYIARI tahu tidak kehebatan yang dimiliki primata kita? Nah, kehebatan yang dimiliki primata Indonesia antara lain sebagai petani hutan, pengendali hama tumbuhan, dan diva di tengah rimba.
Sobat ga percaya? Kalau gitu langsung saja Sobat simak kehebatan dari primata Indonesia!
1. Kehebatan si Petani Hutan
Pertama ini kita akan melihat kehebatan dari satu-satunya kera besar yang ada di Indonesia serta akrab disapa petani hutan, yaitu orangutan. Orangutan tanpa lelah dan tidak pamrih setiap hari selalu menebar biji-bijian yang nantinya akan menjadi pohon baru. Kenapa bisa ya Sob?
Orangutan kalimantan (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Orangutan itu senang berjelajah jauh untuk mencari makanan, salah satu makanan orangutan adalah buah-buahan. Melalui kotorannya, orangutan menyebarkan biji dari buah yang dimakannya. Nantinya biji tersebut akan tumbuh menjadi pohon yang baru.
Wah hebat sekali ya! Orangutan membantu pohon-pohon dihutan untuk beregenerasi.
Ohiya Sobat! Kotoran dan urin orangutan juga dapat berlaku sebagai pupuk bagi biji atau bibit tersebut. Benar-benar petani hutan sesungguhnya ya Sobat 👏
Kehebatan lainnya dari petani hutan ini adalah kemampuannya dalam membuat sarang di atas pohon yang tinggi. Bahannya dari ranting dan dedaunan. Saat proses membuat sarang, orangutan akan mematahkan ranting dan mengambil dedaunan.
Sarang orangutan (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Tanpa disadari proses membuat sarang ini dapat membuka kanopi hutan dan memungkinkan cahaya matahari masuk hingga lantai hutan. Benar Sobat! Cahaya matahari diperlukan oleh bibit pohon untuk berfotosintesis dan tumbuh.
Wah sungguh hebat sekali ya orangutan, mulai dari perilaku hingga kotorannya pun memberikan manfaat bagi hutan 🙂
2. Kehebatan si Pengendali Hama Tumbuhan
Selanjutnya Sobat kita akan melihat kehebatan primata kukang! Kukang dikenal dengan sebutan si pengendali hama tumbuhan. Tak heran ya Sobat, salah satu makanan kesukaan kukang adalah serangga. Dan hama tumbuhan banyak dari jenis serangga.
Kukang jawa (Denny Setiawan | YIARI)
Memakan serangga dilakukan kukang untuk memenuhi kebutuhan protein dan nantinya digunakan untuk pembentukan senyawa racun pada tubuhnya 😯 Biasanya kukang betina akan lebih banyak memakan serangga dibandingkan dengan kukang jantan. Hal ini dilakukan untuk pembentukan susu.
Nah Sobat menurut penelitian yang dilakukan Romdhoni et al. (2018), kukang tercatat memakan serangga pada tumbuhan bambu temen (Gigantochloa verticulata), bambu surat (G. pseudoarundinaceae), suren (Toona sureni), dan alpukat (Persea americana). Serangga yang berpotensi menjadi pakan kukang adalah ulat, kumbang, kupu-kupu, ngengat, belalang, dan laba-laba.
Kehebatan kukang lainnya adalah membantu dalam proses penyerbukan. Makanan kesukaan kukang lainnya adalah nektar bunga. Ketika kukang memakan nektar bunga secara langsung serbuk bunga akan menyebar melalui perpindahan kukang dari lokasi satu ke lokasi lainnya.
Tidak kalah hebat ya dengan orangutan! Kukang pun memiliki kehebatan yang tak tertandingi 😎
3. Kehebatan si Diva di Tengah Rimba
Selanjutnya Sobat ada owa! Tentu owa dikenal memiliki suara yang keras dan dapat terdengar hingga sejauh 2 km. Hal ini disebabkan teknik vokal owa mirip dengan penyanyi sopran 😯
Owa jawa (Rendi Afandi | YIARI)
Owa betina mendapat sebutan diva di tengah rimba, bagaimana tidak? Suara owa betina pada pagi hari yang disebut great call, bagaikan sebuah lagu! Suaranya dimulai dengan interval lambat yang semakin cepat sampai ke lengkingan panjang dan diakhiri dengan interval yang semakin melambat.
Selain itu Sob, suara owa betina memiliki peran penting, yaitu sebagai tanda wilayah teritorinya. Wilayah tersebut akan dijaga dan tidak akan mengijinkan owa dari kelompok lain untuk masuk. Tugas owa betina ini menyiarkan batas-batas wilayahnya melalui suaranya tiap pagi. Ternyata owa juga bisa menggambarkan kehebatan kaum perempuan ya Sob! 😁
Hebat sekali bukan primata di Indonesia? Masih banyak lagi primata di Indonesia yang memiliki kehebatan luar biasa.
Sobat juga bisa loh menciptakan kehebatan diri sendiri, salah satunya dengan turut serta dalam melestarikan keberadaan primata serta habitatnya di Indonesia.
Ohiya Sob! Hari Primata Indonesia pada 30 Januari 2024 ini menggunakan tema Primata Kita Luar Biasa. Karena memang luar biasa hebat ya primata kita! 👏 Tema tersebut sekaligus sebagai pengingat akan peran penting primata dalam menjaga keseimbangan kehidupan di bumi.
SELAMAT HARI PRIMATA INDONESIA! PRIMATA KITA LUAR BIASA!
Romdhoni H, Komala R, Sigaud M, Nekaris KAI, Sedayu A. 2018. Studi pakan kukang jawa (Nycticebus javanicus Goeffroy, 1812) di Talun Desa Cipaganti, Garut, Jawa Barat. Journal of Biology. 11(1): 9-15.
Satwa endemik merupakan satwa yang hidup atau mendiami wilayah tertentu secara alami dan tidak ditemukan di wilayah lain. Keberadaan satwa endemik memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Namanya juga satwa endemik ya Sobat! Jika satwa ini punah, sudah pasti tidak ada lagi spesies yang bisa menggantikan perannya. Dan dipastikan ekosistem akan kehilangan keseimbangan.
Primata berperan membantu pepohonan di hutan dalam proses berkembang biak sebagai penebar bebijian dan juga pengatur pertumbuhan pepohonan di hutan.
Primata endemik dapat kita temui di berbagai hutan Indonesia, salah satunya hutan di Pulau Jawa. Namun sayangnya banyak masyarakat Indonesia bahkan di Pulau Jawa yang belum mengetahui keberadaan primata endemik tersebut.
Oleh sebab itu yuk kita kenali 3 primata endemik Pulau Jawa!
1. Owa Jawa
Owa jawa termasuk kedalam kelompok kera kecil yang mendiami hutan di Pulau Jawa, mulai dari Jawa Barat hingga sebagian Jawa Tengah.
Owa jawa memiliki rambut berwarna abu-abu dengan lengan yang lebih panjang dari ukuran tubuh dan kakinya. Owa jawa yang memiliki nama latin Hylobates moloch ini sangat menyukai aktivitas berayun di pohon (brankiasi).
Hylobates moloch (Rob Banks, all rights reserved / iNaturalist)
Hal unik lainnya owa jawa merupakan primata yang setia dan hidup berkelompok kecil. Owa jawa memiliki suara yang khas dimana salah satu fungsinya untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya. Bahkan suaranya seperti penyanyi sopran lho! 😮
Menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) keberadaan owa jawa kini terancam punah (endangered). Hal ini disebabkan karena banyaknya yang menjadikan owa jawa sebagai peliharaan dan perdagangan satwa.
2. Kukang Jawa
Kukang jawa yang memiliki nama latin Nycticebus javanicus ini merupakan primata nokturnal. Masyarakat mengganggap kukang sebagai primata yang lucu dan menggemaskan, padahal kukang memiliki bisa yang dapat menyebabkan demam dan pembengkakkan pada tubuh manusia.
Kukang jawa memiliki garis cokelat melintang pada punggungnya dan lingkaran cokelat berbentuk berlian di sekitar matanya. Kukang jawa merupakan primata endemik Pulau Jawa yang sebarannya berada di Jawa Barat hingga Jawa Tengah.
Nycticebus javanicus (Carlos N. G. Bocos, all rights reserved / iNaturalist)
Menurut IUCN kukang jawa memiliki status konservasi kritis di alam (criticallyendangered). Selain perdagangan dan pemeliharaan masih banyak mitos di masyarakat yang percaya dengan khasiat dengan memakan daging kukang bahkan minyak kukang. Padahal Sobat, belum ada penelitian yang membuktikan akan khasiat tersebut!
3. Lutung Jawa
Lutung jawa atau lebih dikenal dengan sebutan lutung budeng merupakan jenis lutung dengan rambut berwarna hitam pekat. Namun Sobat, bayi lutung jawa memiliki warna rambut kuning keemasan yang berangsur-angsur akan berubah menjadi hitam. Menurut IUCN, lutung jawa memiliki status konservasi rentan (vulnerable).
Satwa dari keluarga Cercopithecidae yang memiliki nama latin Trachypithecus auratus yang terpecah menjadi dua sub-spesies berdasarkan wilayah persebarannya, yaitu Trachypithecus auratus auratus dan Trachypithecus auratus mauritius.
Trachypithecus auratus auratus adalah subspesies lutung yang hidup di daerah Jawa Timur, Bali, Lombok, P. Sempu, dan Nusa Barung.
Berbeda halnya dengan Trachypithecus auratus mauritius yang merupakan sub-spesies lutung jawa yang merupakan satwa endemik Pulau Jawa dalam jumlah yang cukup terbatas seperti di Jawa Barat dan Banten.
Trachypithecus auratus mauritius (m choi azis, all rights reserved / iNaturalist)
Ohiya Sobat! Lutung dianggap satwa yang menyeramkan dan menurut cerita rakyat dari Sunda, lutung merupakan kutukan dari perwujudan seorang pangeran. Yup benar sekali! Cerita rakyat ‘Lutung Kasarung’. Lutung kasarung digambarkan sebagai makhluk buruk rupa.
Sobat! Dari ketiga jenis primata endemik Pulau Jawa di atas semua memiliki status konservasi yang mengkhawatirkan. Sebagai masyarakat Indonesia kita harus turut serta dalam menjaga keberlangsungan habitat ataupun primata endemik tersebut.
Primata endemik memiliki peran yang sangat penting bagi ekosistem. Bayangkan Sobat jika primata endemik punah? Apakah Sobat bisa menggantikan perannya? Jangan sampai kelak generasi muda Indonesia hanya mengenal sebatas nama saja tanpa melihat langsung primata endemik tersebut hidup di alam liar.
Featured image: Hutan Halimun salah satu habitat owa jawa (Ade javanese / CC BY-SA 4.0 DEED)
Elif Ivana Hendastari
Relung Primata di Masa Kini: Penyelamatan dan Pelestarian
Indonesia memiliki hutan yang menyimpan kekayaan ragam primata endemik alias hanya terdapat di Indonesia saja. Jumlahnya saat ini mencapai 59 spesies dari 11 genus primata. Sementara itu, dari segi jumlah, keanekaragaman primata Indonesia menempati urutan tertinggi ketiga setelah Brazil dan Madagaskar.
“Jenis primata yang ada di Indonesia tersebar di empat pulau besar, yaitu Sumatra (memiliki 24 spesies, termasuk primata Kepulauan Mentawai sebanyak 4 spesies), Kalimantan (14 spesies), Sulawesi (16 spesies), serta Jawa dan Bali (5 spesies). Sementara itu, Papua dan Kepulauan Maluku tidak memiliki satwa primata.” dikutip dari Tirto id
Meskipun kaya akan jenis primata di Indonesia, kini banyak primata yang terancam punah akibat semakin berkurangnya habitat mereka dan maraknya perburuan liar untuk dipelihara secara ilegal ataupun diperdagangkan. Apabila kondisi semacam ini dibiarkan secara terus menerus, maka akan mengakibatkan kelangkaan hingga kepunahan sumber daya hayati di Indonesia, dan tentunya akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia.
International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) mengkategorikan sebagian besar spesies primata Indonesia berstatus kritis, terancam, dan rentan. Sementara menurut Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora (CITES), status primata Indonesia saat ini berada pada Apendix I dan Apendix II. Yang mana Apendix I merupakan kategori spesies terancam punah bila perdagangan tidak dihentikan, sementara Apendix II berpeluang punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa pengaturan. Ancaman yang mempengaruhi status keselamatan dan kelestarian primata ini dibahas dalam “Relung Primata di Masa Kini : Penyelamatan dan Pelestarian” yang merupakan judul dalam webinar Primates Week, yang berlangsung pada 3 September 2022. Dalam acara webinar ini, dihadirkan pembicara hebat dan kompeten, dari berbagai Yayasan yang berfokus dibidang penyelamatan dan pelestarian satwa. Pembicara tersebut adalah Fauzia Yudanti, administrator dan asisten dari Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara (KIARA), Nur Aoliya, S. Si yang merupakan Vinance Manager dari Yayasan swaraOwa serta drh. Ida Junyati Masnur dari Aspinall Foundation.
Pemaparan materi oleh Fauzia Yudanti dari Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara (KIARA) (Dok: Himpunan Mahasiswa Biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Fauzia Yudanti menjelaskan mengenai “Penyelamatan dan Pelestarian dengan Research Berkelanjutan”. Riset ini dilakukan di Hutan Citalahab, Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang termasuk hutan submountain, dan dikenal sebagai salah satu pelabuhan terakhir dan juga rumah bagi banyak spesies yang terancam punah, seperti Surili, owa jawa, dan lain – lainnya. Hutan Citalahab ini berbatasan langsung dengan perkebunan dan pemukiman masyarakat sehingga dapat menjadi potensi ancaman dan memberikan tekanan terhadap primata yang ada di Citalahab.
“Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 3 kelompok owa jawa, karena tidak memiliki jumlah pasti untuk perhitungan jumlah individu, dikarenakan fokus penelitian nya lebih terkait ke perilaku untuk mendapatkan data – data demografis. Hal ini menjadi alasan mengapa penelitian ini dilakukan secara jangka panjang. Karena demografi ini adalah informasi yang sangat mendasar akan tetapi biasanya informasi – informasi terkait demografi satwa liar seringkali tidak tersedia. Sehingga kami bertujuan untuk memberikan wawasan baru mengenai owa Jawa yang kian terancam punah.” Ujarnya.
Penelitian ini dilakukan dengan 3 kegiatan, yaitu : Monitoring perilaku harian owa Jawa menggunakan metode Focal sampling dengan interval 10 menit, dari pagi hingga mereka kembali tidur. selain itu, dicatat juga titik koordinat dari pohon yang digunakan untuk mereka beraktivitas, seperti makan, beristirahat, dan lain – lainnya. Kemudian, untuk menilai bagaimana kondisi hutan sebagai habitat Owa Jawa, dilakukan pengumpulan data lingkungan (suhu dan curah hujan) serta pengumpulan data fenologi dari tumbuhan pakannya. Dimana kegiatan penelitian ini melibatkan masyarakat secara langsung dengan tujuan untuk menjembatani antara peneliti dengan masyarakat, dengan harapan agar masyarakat sekitar dapat menjadi agen konservasi untuk menyebarluaskan informasi terkait penelitian yang dilakukan. “Dari hasil penelitian yang dilakukan, terkait wilayah jelajah atau home range dari Owa Jawa, dari 3 kelompok kita bisa mengetahui bahwa rata – rata Owa Jawa yang ada di hutan Citalahab memiliki wilayah jelajah sekitar 32 hektar. Luasan ini cukup rendah dikarenakan hutan Citalahab ini termasuk ke dalam hutan submountain. Kemudian, hasilnya dibandingkan selama kurun waktu 5 tahun (dari tahun 2015 – 2020), bisa dilihat home range nya agak berubah namun cukup stabil di setiap kelompoknya. Riset spesies itu memang penting, akan tetapi kita juga harus mengkorelasikan antara riset spesies dengan habitatnya sendiri. Karena kualitas hutan yang akan menentukan masa hidup Owa Jawa dan satwa liar lainnya. Misalnya dengan melihat pola persebaran biji oleh Owa Jawa melalui fesesnya. Lalu, karena pakan adalah hal yang penting bagi kondisi kelangsungan hidup Owa Jawa, penelitian fitokimia pakan pun dilakukan untuk mengetahui kandungan yang ada di setiap pakannya.” ujarnya menambahkan.
Pemaparan materi oleh Nur Aoliya, S.Si dari Yayasan SwaraOwa (Dok: Himpunan Mahasiswa Biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Selanjutnya, Dalam pemaparan materi dari Nur Aoliya, S.Si, ia menjelaskan mengenai “Pelestarian Hutan Konservasi dalam Lingkungan Masyarakat”, dimana materi ini membahas tentang hutan konservasi, ancaman hutan konservasi, etika konservasi, kebutuhan manusia (aktualisasi diri, penghargaan, sosial, rasa aman, fisiologis), serta dua program konservasi primata dan masyarakat versi Yayasan swaraOwa. Beliau menjelaskan solusi Konservasi yang dilakukan oleh Yayasan swaraOwa dalam mengakhiri permasalahan masyarakat dengan primata disekitar, yaitu dengan memberikan edukasi bertahap dan melalui pelatihan mengolah sumberdaya kopi yang ada di wilayah tersebut serta pembukaan lapangan pekerjaan kepada masyarakat sekitar untuk mengurangi perburuan dan penangkapan primata. “Dengan adanya produk owa kopi ini diharapkan masyarakat mempunyai pendapatan yang lebih dari kopi jadi mereka tidak lagi memburu dan merusak hutan” ujar Nur Aoliya.
Pemaparan materi oleh drh. Ida Junyati Masnur dari Aspinall Foundation (Dok: Himpunan Mahasiswa Biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Selanjutnya, dalam pemaparan materi dari drh. Ida Junyati Masnur, beliau menjelaskan mengenai “Rehabilitasi Primata”. Dimana materi ini mencakup penjelasan singkat primata termasuk taksonomi dan ancaman, proses rehabilitasi, pemeriksaan kesehatan primata tersebut, perubahan perilaku dan pakan.
drh. Ida menyebutkan bahwa “Satwa yang direhabilitasi biasanya berasal dari penyitaan, penyelamatan oleh institusi yang berwenang seperti BKSDA, serta dari repatriasi”. Perlu diketahui juga, ternyata tidak semua primata hasil rehabilitasi bisa dilepasliarkan. Hal tersebut dikarenakan primata terdapat sakit (herpes virus, TBC) dan/atau cacat fisik tidak dapat dilepasliarkan langsung karena nantinya dapat menularkannya kepada spesies lain sehingga dapat mengganggu aktifitas primata.
Untuk itulah dari acara webinar ini, kami menghimbau berbagai pihak terutama masyarakat Indonesia dalam pelaksanaannya diharapkan dapat membuka serta meningkatkan wawasan masyarakat terhadap dunia konservasi primata dan mengajak masyarakat untuk turut serta dalam upaya pelestarian primata. Karena primata merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan sehingga dapat menunjang kehidupan manusia. Peran primata bagi keseimbangan ekosistem hutan diantaranya adalah sebagai pemencar biji vegetasi hutan, mediator penyerbukan, dan penambah volume humus untuk kesuburan tanah. Apabila kondisi yang mengancam primata semakin besar, maka jika hal semacam ini dibiarkan secara terus menerus, akan mengakibatkan kelangkaan hingga kepunahan sumber daya hayati di Indonesia, dan tentunya akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia.
Primates Week yang merupakan sebuah program dibentuk oleh Kelompok Pengamat Primata (KPP) Tarsius UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan tujuan sebagai wadah untuk menampung ide-ide kreatif serta inovatif dalam menangani isu-isu yang berkenaan dengan primata serta menjadi roda estafet dalam upaya konservasi primata.
Masih terdapat banyak sekali insight yang dapat dipetik dari acara webinar kemarin, akan tetapi, alangkah baiknya kalian menonton tayangan ulangnya di channel YouTube KPP Tarsius UIN Jakarta pada link berikut ini :
Yuk, kita dukung segala upaya untuk menjaga keselamatan dan kelestarian primata di Indonesia agar eksistensi nya tetap terjaga hingga masa mendatang.
Dukung juga satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.