Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
10 Fakta Unik Owa Jawa, Primata Endemik Pulau Jawa yang Setia
Pulau Jawa merupakan rumah bagi berbagai spesies satwa liar yang unik, salah satunya adalah owa jawa (Hylobates moloch).
Primata ini tergolong endemik, yang berarti hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa dan tidak dijumpai secara alami di wilayah lain.
Owa jawa memiliki ciri khas yang membedakannya dari primata lain, yaitu lengan yang lebih panjang daripada tubuhnya. Adaptasi ini memudahkannya untuk bergerak lincah di antara pepohonan dengan cara bergelantungan atau yang dikenal sebagai brachiation.
Selain itu, owa jawa juga terkenal dengan suaranya yang lantang dan khas. Suara tersebut sering terdengar seperti lantunan “nyanyian” yang menggema di hutan.
Masih banyak fakta menarik lainnya tentang primata endemik ini. Yuk, simak penjelasan lebih lanjut mengenai kehidupan dan keunikan owa jawa berikut!
Mengenal Owa Jawa
Owa jawa (Hylobates moloch) adalah primata endemik yang hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa.
Dalam bahasa Inggris, satwa ini dikenal dengan sebutan Javan gibbon atau silvery gibbon. Berdasarkan klasifikasinya, owa jawa termasuk ke dalam kelas Mamalia dan famili Hylobatidae.
Kerabat terdekat owa jawa adalah Siamang (Symphalangus syndactylus), yang juga berasal dari keluarga Hylobatidae. Namun, owa jawa memiliki tubuh lebih kecil dibandingkan dengan Siamang.
Ciri-ciri Fisik Owa Jawa
Owa sedang bergelantungan di pohon/Aris Hidayat YIARI
Beberapa karakteristik fisik yang membedakan owa jawa dengan primata lain antara lain:
Tubuh ramping dan proporsional
Bulu di leher, dada, dan punggung berwarna abu-abu keperakan
Rambut di atas kepala dan wajah berwarna hitam pekat
Alis berwarna putih yang kontras dengan wajahnya
Kepala kecil dan bulat
Hidung tidak terlalu menonjol
Tidak memiliki ekor
Lengan lebih panjang daripada tubuhnya, memudahkan bergerak dari pohon ke pohon
Pola Perilaku Owa Jawa
Selain fisiknya yang unik, owa jawa juga memiliki perilaku khas, di antaranya:
Mengeluarkan suara nyaring dan khas untuk berkomunikasi
Aktif pada siang hari, terutama dari pagi hingga sore
Menghabiskan sebagian besar hidupnya di pepohonan (arboreal)
Bergerak dengan cara berayun dan memanjat dari pohon ke pohon (brachiation)
Dapat berjalan tegak dengan dua kaki (bipedal) di atas cabang atau tanah
Hidup berkelompok dalam unit kecil berbasis keluarga inti
Berinteraksi melalui kontak fisik, seperti saling menyentuh atau bahkan berkelahi
Habitat Owa Jawa
Sebagai primata endemik, habitat owa jawa hanya terdapat di Pulau Jawa, terutama di hutan hujan tropis dataran rendah hingga pegunungan pada ketinggian 1.400–2.400 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Namun, dalam beberapa kasus owa jawa juga ditemukan di kawasan dengan ketinggian kurang dari 1.400 mdpl.
Sebaran utama owa jawa meliputi wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan sebagian Banten. Beberapa kawasan yang menjadi habitatnya antara lain:
Gunung Halimun
Gunung Puntang
Gunung Salak
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Gunung Slamet
Pegunungan Dieng
Hutan Petungkriyono, Pekalongan
Taman Nasional Ujung Kulon (wilayah STPN III Gunung Honje)
Pola Makan Owa Jawa
Gambar satwa owa/Denny Setiawan YIARI
Owa jawa merupakan satwa pemakan tumbuhan (herbivora-frugivora), meskipun sesekali juga mengonsumsi serangga kecil. Makanan utamanya terdiri atas:
Buah-buahan
Daun muda
Biji-bijian
Tunas
Bunga
Kulit pohon
Serangga
Biasanya, owa jawa makan secara individu, namun sering juga berbagi makanan dengan anggota keluarganya. Pola makan ini sangat penting dalam menjaga kesehatan ekosistem hutan karena perannya sebagai penyebar biji alami.
Owa sedang bergelantungan di pohon/Rendi Afandi YIARI
Menurut Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), owa jawa (Hylobates moloch) dikategorikan sebagai satwa dengan status Endangered (Terancam Punah).
Status ini menunjukkan, spesies ini menghadapi risiko tinggi mengalami kepunahan di alam liar jika tidak ada upaya konservasi yang serius.
Di Indonesia, owa jawa termasuk ke dalam daftar satwa dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan. Perlindungan hukum ini bertujuan untuk mencegah perburuan, perdagangan ilegal, serta kerusakan habitat yang dapat semakin memperburuk kondisi populasinya.
Populasi owa jawa terus menurun akibat berbagai ancaman, antara lain:
Perdagangan ilegal satwa liar, terutama untuk dijadikan hewan peliharaan
Perburuan liar, baik untuk diperjualbelikan maupun karena konflik dengan manusia
Kerusakan habitat akibat pembukaan lahan, alih fungsi hutan, dan fragmentasi hutan yang membatasi ruang jelajahnya
10 Fakta Unik tentang Owa Jawa
Owa jawa dikenal luas karena suaranya yang nyaring dan melengking, yang digunakan untuk berkomunikasi serta menandai wilayah kekuasaannya di hutan.
Namun, tidak hanya itu, ada banyak fakta menarik lain tentang primata endemik Pulau Jawa ini yang patut kamu ketahui:
1. Setia pada Satu Pasangan Seumur Hidup (Monogami)
Owa jawa adalah primata monogami. Artinya, mereka hanya memiliki satu pasangan seumur hidup. Sepasang owa jawa akan selalu bersama, baik saat mencari makan, bermain, maupun beristirahat.
Ikatan ini diperkuat melalui perilaku grooming (membersihkan bulu pasangan) serta duduk berdekatan, yang menunjukkan adanya hubungan sosial dan emosional yang sangat kuat.
2. Aktif di Siang Hari (Diurnal)
Berbeda dengan primata nokturnal yang beraktivitas di malam hari, owa jawa termasuk satwa diurnal. Mereka memanfaatkan waktu pagi hingga sore untuk mencari makan, bersosialisasi, dan bermain.
Pola aktivitas ini juga membantu mempererat ikatan sosial dalam kelompok kecil berbasis keluarga.
Salah satu keistimewaan owa jawa adalah kemampuan vokalisasinya yang unik. Suaranya yang lantang kerap terdengar menyerupai nyanyian. Vokalisasi ini berfungsi untuk berkomunikasi sekaligus menandai wilayah teritorial.
Menariknya, owa jawa memiliki kebiasaan melakukan “morning call”. Biasanya, owa jawa betina akan “bernyanyi” setiap beberapa hari sekali di pagi hari untuk mempertegas batas wilayah mereka.
Tidak jarang, owa jawa jantan dan betina juga bernyanyi bersama sebagai bentuk komunikasi sekaligus cara memperkuat ikatan pasangan.
4. Mempunyai keterampilan akrobatik
Owa sedang bergelantungan di pohon/Rendi Afandi YIARI
Selain terkenal dengan vokalisasinya yang menyerupai nyanyian, owa jawa juga memiliki keterampilan akrobatik yang menakjubkan.
Dengan lengan panjang dan tubuh ramping, mereka mampu berayun lincah dari dahan ke dahan, bahkan sesekali melakukan gerakan seperti jungkir balik di udara. Keterampilan ini juga menjadi strategi penting dalam menghindari predator serta menjaga keseimbangan saat bergerak di hutan.
5. Makhluk Sosial yang Penyayang Keluarga
Sebagai primata monogami, owa jawa sangat setia pada pasangannya dan hidup dalam kelompok kecil berbasis keluarga inti.
Biasanya, kelompok ini terdiri dari sepasang induk (jantan dan betina) serta anak-anak mereka. Kehidupan berkelompok ini memperlihatkan betapa owa jawa adalah makhluk sosial yang sangat menyayangi dan melindungi keluarganya, dengan interaksi yang penuh perhatian dan kehangatan.
6. Suka Bermain dan Menjahili Sesama
Owa jawa dikenal ceria dan gemar bermain. Mereka sering menjahili satu sama lain melalui permainan kejar-kejaran, tarik-menarik, hingga berguling bersama.
Selain menyenangkan, aktivitas ini juga berfungsi mempererat ikatan sosial dalam kelompok. Perilaku bermain ini menjadi salah satu ciri khas primata yang cerdas dan memiliki kehidupan sosial yang dinamis.
7. Jarang Turun ke Tanah (Arboreal)
Menurut Museum Biologi Universitas Gadjah Mada, owa jawa termasuk satwa arboreal, yaitu hewan yang hampir seluruh hidupnya dihabiskan di atas pohon.
Dengan tubuh ramping dan lengan panjang, mereka dapat bergerak lincah untuk berayun maupun memanjat. Pola hidup ini membuat owa jawa sangat bergantung pada kelestarian hutan tropis yang utuh dan sehat.
8. Rambut dengan Lapisan Lilin Alami
Gambar satwa owa/Denny Setiawan YIARI
Selain perilakunya yang unik, owa jawa juga memiliki ciri fisik yang menarik, yaitu rambut berwarna abu-abu keperakan dengan lapisan lilin alami.
Menurut Yayasan owa jawa, lapisan ini berfungsi untuk melindungi tubuh dari air hujan sekaligus membantu menjaga suhu tubuh tetap stabil. Adaptasi ini penting agar owa jawa dapat bertahan hidup di lingkungan hutan tropis yang lembap.
Bayi owa jawa akan terus bersama induknya hingga mencapai usia matang secara seksual. Proses ini berlangsung cukup lama, yakni sekitar 8–10 tahun.
Saat sudah dewasa, owa jawa biasanya akan meninggalkan kelompok asalnya untuk mencari pasangan, kemudian membentuk keluarga baru. Hal ini sekaligus menjaga agar tidak terjadi perkawinan sedarah dalam kelompok.
10. Masa Hamil Sekitar 7–8 Bulan
Setelah menemukan pasangan, owa jawa betina akan menjalani masa kehamilan selama 7–8 bulan, sebagaimana dijelaskan oleh Pusat Studi Satwa Primata IPB University.
Uniknya, owa jawa tidak langsung kembali bereproduksi setelah melahirkan. Mereka membutuhkan waktu 2–3 tahun sebelum memiliki anak berikutnya. Jeda reproduksi ini penting untuk memastikan induk mampu merawat anaknya dengan baik hingga mandiri.
Saatnya Bersama Menjaga Owa Jawa
Di balik keceriaan dan keunikannya, owa jawa kini menghadapi ancaman serius yang membahayakan kelangsungan hidupnya. Perburuan liar, perdagangan ilegal, serta perusakan hutan yang terus terjadi membuat populasi primata endemik Pulau Jawa ini kian terdesak.
Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin suara khas owa jawa hanya akan menjadi kenangan di masa depan.
Sebagai satwa yang berstatus terancam punah dan dilindungi undang-undang, sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk ikut menjaga keberadaan owa jawa.
Kita tidak harus memulai dengan langkah besar, hal kecil seperti memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya owa jawa dan pelestarian habitatnya bisa menjadi kontribusi nyata.
Dengan dukungan semua pihak, baik masyarakat, lembaga konservasi, maupun pemerintah, kita bisa memastikan owa jawa tetap bergelantungan lincah di hutan Pulau Jawa, melantunkan suara khasnya untuk generasi mendatang.
Sumber dan referensi:
1. New England Primate Conservancy. SILVERY GIBBON. [Buka]
3. Kappeler M, 1984. The Lesser Apes. Evolutionary and Behavioural Biology. Edinburgh University Press.
4. Museum Biologi Universitas Gadjah Mada. Owa Jawa.[Buka]
5. Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. Owa Jawa di Jalur Wisata Cibodas.[Buka]
6. Featured image: Owa sedang bergelantungan di pohon/Rendi Afandi YIARI
Ini Bukti Kehebatan Primata Indonesia yang Perlu Kamu Ketahui!
Gak hanya superhero, primata Indonesia juga memiliki kehebatan yang luar biasa loh! Kehebatan primata ini tidak bisa disaingi oleh jenis satwa liar lainnya 😯
Ngomongin soal kehebatan, di Hari Primata Indonesia yang jatuh pada 30 Januari 2024 ini menggunakan tema Primata Kita Luar Biasa. Karena memang luar biasa hebat primata kita!
Kira-kira Sobat #KonservasYIARI tahu tidak kehebatan yang dimiliki primata kita? Nah, kehebatan yang dimiliki primata Indonesia antara lain sebagai petani hutan, pengendali hama tumbuhan, dan diva di tengah rimba.
Sobat ga percaya? Kalau gitu langsung saja Sobat simak kehebatan dari primata Indonesia!
1. Kehebatan si Petani Hutan
Pertama ini kita akan melihat kehebatan dari satu-satunya kera besar yang ada di Indonesia serta akrab disapa petani hutan, yaitu orangutan. Orangutan tanpa lelah dan tidak pamrih setiap hari selalu menebar biji-bijian yang nantinya akan menjadi pohon baru. Kenapa bisa ya Sob?
Orangutan kalimantan (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Orangutan itu senang berjelajah jauh untuk mencari makanan, salah satu makanan orangutan adalah buah-buahan. Melalui kotorannya, orangutan menyebarkan biji dari buah yang dimakannya. Nantinya biji tersebut akan tumbuh menjadi pohon yang baru.
Wah hebat sekali ya! Orangutan membantu pohon-pohon dihutan untuk beregenerasi.
Ohiya Sobat! Kotoran dan urin orangutan juga dapat berlaku sebagai pupuk bagi biji atau bibit tersebut. Benar-benar petani hutan sesungguhnya ya Sobat 👏
Kehebatan lainnya dari petani hutan ini adalah kemampuannya dalam membuat sarang di atas pohon yang tinggi. Bahannya dari ranting dan dedaunan. Saat proses membuat sarang, orangutan akan mematahkan ranting dan mengambil dedaunan.
Sarang orangutan (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Tanpa disadari proses membuat sarang ini dapat membuka kanopi hutan dan memungkinkan cahaya matahari masuk hingga lantai hutan. Benar Sobat! Cahaya matahari diperlukan oleh bibit pohon untuk berfotosintesis dan tumbuh.
Wah sungguh hebat sekali ya orangutan, mulai dari perilaku hingga kotorannya pun memberikan manfaat bagi hutan 🙂
2. Kehebatan si Pengendali Hama Tumbuhan
Selanjutnya Sobat kita akan melihat kehebatan primata kukang! Kukang dikenal dengan sebutan si pengendali hama tumbuhan. Tak heran ya Sobat, salah satu makanan kesukaan kukang adalah serangga. Dan hama tumbuhan banyak dari jenis serangga.
Kukang jawa (Denny Setiawan | YIARI)
Memakan serangga dilakukan kukang untuk memenuhi kebutuhan protein dan nantinya digunakan untuk pembentukan senyawa racun pada tubuhnya 😯 Biasanya kukang betina akan lebih banyak memakan serangga dibandingkan dengan kukang jantan. Hal ini dilakukan untuk pembentukan susu.
Nah Sobat menurut penelitian yang dilakukan Romdhoni et al. (2018), kukang tercatat memakan serangga pada tumbuhan bambu temen (Gigantochloa verticulata), bambu surat (G. pseudoarundinaceae), suren (Toona sureni), dan alpukat (Persea americana). Serangga yang berpotensi menjadi pakan kukang adalah ulat, kumbang, kupu-kupu, ngengat, belalang, dan laba-laba.
Kehebatan kukang lainnya adalah membantu dalam proses penyerbukan. Makanan kesukaan kukang lainnya adalah nektar bunga. Ketika kukang memakan nektar bunga secara langsung serbuk bunga akan menyebar melalui perpindahan kukang dari lokasi satu ke lokasi lainnya.
Tidak kalah hebat ya dengan orangutan! Kukang pun memiliki kehebatan yang tak tertandingi 😎
3. Kehebatan si Diva di Tengah Rimba
Selanjutnya Sobat ada owa! Tentu owa dikenal memiliki suara yang keras dan dapat terdengar hingga sejauh 2 km. Hal ini disebabkan teknik vokal owa mirip dengan penyanyi sopran 😯
Owa jawa (Rendi Afandi | YIARI)
Owa betina mendapat sebutan diva di tengah rimba, bagaimana tidak? Suara owa betina pada pagi hari yang disebut great call, bagaikan sebuah lagu! Suaranya dimulai dengan interval lambat yang semakin cepat sampai ke lengkingan panjang dan diakhiri dengan interval yang semakin melambat.
Selain itu Sob, suara owa betina memiliki peran penting, yaitu sebagai tanda wilayah teritorinya. Wilayah tersebut akan dijaga dan tidak akan mengijinkan owa dari kelompok lain untuk masuk. Tugas owa betina ini menyiarkan batas-batas wilayahnya melalui suaranya tiap pagi. Ternyata owa juga bisa menggambarkan kehebatan kaum perempuan ya Sob! 😁
Hebat sekali bukan primata di Indonesia? Masih banyak lagi primata di Indonesia yang memiliki kehebatan luar biasa.
Sobat juga bisa loh menciptakan kehebatan diri sendiri, salah satunya dengan turut serta dalam melestarikan keberadaan primata serta habitatnya di Indonesia.
Ohiya Sob! Hari Primata Indonesia pada 30 Januari 2024 ini menggunakan tema Primata Kita Luar Biasa. Karena memang luar biasa hebat ya primata kita! 👏 Tema tersebut sekaligus sebagai pengingat akan peran penting primata dalam menjaga keseimbangan kehidupan di bumi.
SELAMAT HARI PRIMATA INDONESIA! PRIMATA KITA LUAR BIASA!
Romdhoni H, Komala R, Sigaud M, Nekaris KAI, Sedayu A. 2018. Studi pakan kukang jawa (Nycticebus javanicus Goeffroy, 1812) di Talun Desa Cipaganti, Garut, Jawa Barat. Journal of Biology. 11(1): 9-15.
Relung Primata di Masa Kini: Penyelamatan dan Pelestarian
Indonesia memiliki hutan yang menyimpan kekayaan ragam primata endemik alias hanya terdapat di Indonesia saja. Jumlahnya saat ini mencapai 59 spesies dari 11 genus primata. Sementara itu, dari segi jumlah, keanekaragaman primata Indonesia menempati urutan tertinggi ketiga setelah Brazil dan Madagaskar.
“Jenis primata yang ada di Indonesia tersebar di empat pulau besar, yaitu Sumatra (memiliki 24 spesies, termasuk primata Kepulauan Mentawai sebanyak 4 spesies), Kalimantan (14 spesies), Sulawesi (16 spesies), serta Jawa dan Bali (5 spesies). Sementara itu, Papua dan Kepulauan Maluku tidak memiliki satwa primata.” dikutip dari Tirto id
Meskipun kaya akan jenis primata di Indonesia, kini banyak primata yang terancam punah akibat semakin berkurangnya habitat mereka dan maraknya perburuan liar untuk dipelihara secara ilegal ataupun diperdagangkan. Apabila kondisi semacam ini dibiarkan secara terus menerus, maka akan mengakibatkan kelangkaan hingga kepunahan sumber daya hayati di Indonesia, dan tentunya akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia.
International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) mengkategorikan sebagian besar spesies primata Indonesia berstatus kritis, terancam, dan rentan. Sementara menurut Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora (CITES), status primata Indonesia saat ini berada pada Apendix I dan Apendix II. Yang mana Apendix I merupakan kategori spesies terancam punah bila perdagangan tidak dihentikan, sementara Apendix II berpeluang punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa pengaturan. Ancaman yang mempengaruhi status keselamatan dan kelestarian primata ini dibahas dalam “Relung Primata di Masa Kini : Penyelamatan dan Pelestarian” yang merupakan judul dalam webinar Primates Week, yang berlangsung pada 3 September 2022. Dalam acara webinar ini, dihadirkan pembicara hebat dan kompeten, dari berbagai Yayasan yang berfokus dibidang penyelamatan dan pelestarian satwa. Pembicara tersebut adalah Fauzia Yudanti, administrator dan asisten dari Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara (KIARA), Nur Aoliya, S. Si yang merupakan Vinance Manager dari Yayasan swaraOwa serta drh. Ida Junyati Masnur dari Aspinall Foundation.
Pemaparan materi oleh Fauzia Yudanti dari Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara (KIARA) (Dok: Himpunan Mahasiswa Biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Fauzia Yudanti menjelaskan mengenai “Penyelamatan dan Pelestarian dengan Research Berkelanjutan”. Riset ini dilakukan di Hutan Citalahab, Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang termasuk hutan submountain, dan dikenal sebagai salah satu pelabuhan terakhir dan juga rumah bagi banyak spesies yang terancam punah, seperti Surili, owa jawa, dan lain – lainnya. Hutan Citalahab ini berbatasan langsung dengan perkebunan dan pemukiman masyarakat sehingga dapat menjadi potensi ancaman dan memberikan tekanan terhadap primata yang ada di Citalahab.
“Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 3 kelompok owa jawa, karena tidak memiliki jumlah pasti untuk perhitungan jumlah individu, dikarenakan fokus penelitian nya lebih terkait ke perilaku untuk mendapatkan data – data demografis. Hal ini menjadi alasan mengapa penelitian ini dilakukan secara jangka panjang. Karena demografi ini adalah informasi yang sangat mendasar akan tetapi biasanya informasi – informasi terkait demografi satwa liar seringkali tidak tersedia. Sehingga kami bertujuan untuk memberikan wawasan baru mengenai owa Jawa yang kian terancam punah.” Ujarnya.
Penelitian ini dilakukan dengan 3 kegiatan, yaitu : Monitoring perilaku harian owa Jawa menggunakan metode Focal sampling dengan interval 10 menit, dari pagi hingga mereka kembali tidur. selain itu, dicatat juga titik koordinat dari pohon yang digunakan untuk mereka beraktivitas, seperti makan, beristirahat, dan lain – lainnya. Kemudian, untuk menilai bagaimana kondisi hutan sebagai habitat Owa Jawa, dilakukan pengumpulan data lingkungan (suhu dan curah hujan) serta pengumpulan data fenologi dari tumbuhan pakannya. Dimana kegiatan penelitian ini melibatkan masyarakat secara langsung dengan tujuan untuk menjembatani antara peneliti dengan masyarakat, dengan harapan agar masyarakat sekitar dapat menjadi agen konservasi untuk menyebarluaskan informasi terkait penelitian yang dilakukan. “Dari hasil penelitian yang dilakukan, terkait wilayah jelajah atau home range dari Owa Jawa, dari 3 kelompok kita bisa mengetahui bahwa rata – rata Owa Jawa yang ada di hutan Citalahab memiliki wilayah jelajah sekitar 32 hektar. Luasan ini cukup rendah dikarenakan hutan Citalahab ini termasuk ke dalam hutan submountain. Kemudian, hasilnya dibandingkan selama kurun waktu 5 tahun (dari tahun 2015 – 2020), bisa dilihat home range nya agak berubah namun cukup stabil di setiap kelompoknya. Riset spesies itu memang penting, akan tetapi kita juga harus mengkorelasikan antara riset spesies dengan habitatnya sendiri. Karena kualitas hutan yang akan menentukan masa hidup Owa Jawa dan satwa liar lainnya. Misalnya dengan melihat pola persebaran biji oleh Owa Jawa melalui fesesnya. Lalu, karena pakan adalah hal yang penting bagi kondisi kelangsungan hidup Owa Jawa, penelitian fitokimia pakan pun dilakukan untuk mengetahui kandungan yang ada di setiap pakannya.” ujarnya menambahkan.
Pemaparan materi oleh Nur Aoliya, S.Si dari Yayasan SwaraOwa (Dok: Himpunan Mahasiswa Biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Selanjutnya, Dalam pemaparan materi dari Nur Aoliya, S.Si, ia menjelaskan mengenai “Pelestarian Hutan Konservasi dalam Lingkungan Masyarakat”, dimana materi ini membahas tentang hutan konservasi, ancaman hutan konservasi, etika konservasi, kebutuhan manusia (aktualisasi diri, penghargaan, sosial, rasa aman, fisiologis), serta dua program konservasi primata dan masyarakat versi Yayasan swaraOwa. Beliau menjelaskan solusi Konservasi yang dilakukan oleh Yayasan swaraOwa dalam mengakhiri permasalahan masyarakat dengan primata disekitar, yaitu dengan memberikan edukasi bertahap dan melalui pelatihan mengolah sumberdaya kopi yang ada di wilayah tersebut serta pembukaan lapangan pekerjaan kepada masyarakat sekitar untuk mengurangi perburuan dan penangkapan primata. “Dengan adanya produk owa kopi ini diharapkan masyarakat mempunyai pendapatan yang lebih dari kopi jadi mereka tidak lagi memburu dan merusak hutan” ujar Nur Aoliya.
Pemaparan materi oleh drh. Ida Junyati Masnur dari Aspinall Foundation (Dok: Himpunan Mahasiswa Biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Selanjutnya, dalam pemaparan materi dari drh. Ida Junyati Masnur, beliau menjelaskan mengenai “Rehabilitasi Primata”. Dimana materi ini mencakup penjelasan singkat primata termasuk taksonomi dan ancaman, proses rehabilitasi, pemeriksaan kesehatan primata tersebut, perubahan perilaku dan pakan.
drh. Ida menyebutkan bahwa “Satwa yang direhabilitasi biasanya berasal dari penyitaan, penyelamatan oleh institusi yang berwenang seperti BKSDA, serta dari repatriasi”. Perlu diketahui juga, ternyata tidak semua primata hasil rehabilitasi bisa dilepasliarkan. Hal tersebut dikarenakan primata terdapat sakit (herpes virus, TBC) dan/atau cacat fisik tidak dapat dilepasliarkan langsung karena nantinya dapat menularkannya kepada spesies lain sehingga dapat mengganggu aktifitas primata.
Untuk itulah dari acara webinar ini, kami menghimbau berbagai pihak terutama masyarakat Indonesia dalam pelaksanaannya diharapkan dapat membuka serta meningkatkan wawasan masyarakat terhadap dunia konservasi primata dan mengajak masyarakat untuk turut serta dalam upaya pelestarian primata. Karena primata merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan sehingga dapat menunjang kehidupan manusia. Peran primata bagi keseimbangan ekosistem hutan diantaranya adalah sebagai pemencar biji vegetasi hutan, mediator penyerbukan, dan penambah volume humus untuk kesuburan tanah. Apabila kondisi yang mengancam primata semakin besar, maka jika hal semacam ini dibiarkan secara terus menerus, akan mengakibatkan kelangkaan hingga kepunahan sumber daya hayati di Indonesia, dan tentunya akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia.
Primates Week yang merupakan sebuah program dibentuk oleh Kelompok Pengamat Primata (KPP) Tarsius UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan tujuan sebagai wadah untuk menampung ide-ide kreatif serta inovatif dalam menangani isu-isu yang berkenaan dengan primata serta menjadi roda estafet dalam upaya konservasi primata.
Masih terdapat banyak sekali insight yang dapat dipetik dari acara webinar kemarin, akan tetapi, alangkah baiknya kalian menonton tayangan ulangnya di channel YouTube KPP Tarsius UIN Jakarta pada link berikut ini :
Yuk, kita dukung segala upaya untuk menjaga keselamatan dan kelestarian primata di Indonesia agar eksistensi nya tetap terjaga hingga masa mendatang.
Dukung juga satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Wanda Sopiah
Kisah Perjalanan Translokasi Empat Satwa Liar, Dari Sumatera Hingga Papua
Pernahkah kalian dengar berita tentang satwa-satwa dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya? Perpindahan ini ada cerita dan alasannya. Terkadang kita menemukan satwa yang tidak berada di tempat yang seharusnya. Entah itu karena perdagangan ilegal, perburuan, maupun pemeliharaan satwa liar yang tidak seharusnya terjadi. Nah, selama tiga bulan kemarin, kami punya cerita tentang satwa-satwa liar yang ditemukan di satu daerah namun berbeda dengan habitat asalnya. Siapa aja sih, satwa-satwa itu?
Kisah pertama terjadi di bulan Mei kemarin. Bersama BKSDA Sumatera Barat, kami membantu rangkaian kegiatan persiapan translokasi kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta)atau biasa disingkat KMB. Kura-kura ini ditranslokasikan dari Padang, Sumatera Barat ke Timika, Papua. Mereka diselamatkan dari perdagangan ilegal. Jumlahnya banyak banget, Sob. Sebanyak 472 ekor kura-kura moncong babi dan 6 ekor kura-kura baning coklat (Manouria emys) berhasil diamankan sebagai barang bukti oleh tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Sumbar bekerja sama dengan Ditreskrimsus Polda Sumbar pada 7 Maret 2022. Mereka direncanakan untuk diselundupkan ke luar negeri. Sedih sekali ya.
Karena jumlah kura-kura yang diamankan sangat banyak, kami turut membantu melakukan pengecekan kesehatan bagi kura-kura ini. Kami juga melakukan penyuluhan dan pelatihan bagi staf lapangan BKSDA Sumbar dan BBKSDA Papua mengenai cara menangani dan melakukan kesehatan kura-kura moncong babi. Mereka kemudian ditranslokasikan ke Papua pada 31 Mei 2022 oleh tim yang bertugas. Syukurlah, kegiatan translokasi ini berjalan dengan lancar.
Kura-kura moncong babi yang sedang diperiksa kesehatannya (Indri Saptorini | IAR Indonesia)
Kemudian ada Kaka, anak orangutan sumatera berjenis kelamin jantan yang sempat mampir ke pusat rehabilitasi kami di Bogor sebelum berpindah ke Sumatera Utara. Ia berusia 3 tahun ketika diserahkan sukarela oleh seorang warga Bogor kepada BBKSDA Jawa Barat pada 7 Januari 2022 lalu. Selanjutnya, Kaka dititiprawat di Pusat Rehabilitasi Satwa kami di Ciapus, Bogor. Kami sempat membantu perawatan dan pemeriksaan kesehatan Kaka selama ia dititiprawat.
Setelah kurang-lebih empat bulan direhabilitasi, Kaka kami antar ke salah satu mitra kerjasama BBKSDA Sumatera Utara, yaitu Yayasan Ekosistem Lestari (YEL-SOCP) di Batu Mbelin, Sibolangit pada 31 Mei 2022. Ia dipindah ke sana supaya mendapatkan perawatan dan program rehabilitasi yang lebih baik mengingat letak pusat rehabilitasinya yang lebih dekat dengan hutan Aceh bagian utara, tempat ia berasal. Kerjasama yang erat antara instansi pemerintahan dan yayasan non-profit membuahkan proses translokasi yang lancar dan bebas hambatan, Kaka sampai di pusat rehabilitasi orangutan sumatera YEL-SOCP dengan sehat dan selamat.
Kumbang ketika ditemukan terjerat dan hendak diberi penanganan medis (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Satwa ketiga, yaitu kisah orangutan juga, namun kali ini ia berasal dari Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara. Kisah orangutan yang diberi nama Kumbang ini berawal dari adanya laporan warga mengenai adanya orangutan yang masuk ke desa mereka. Kumbang ditemukan dalam kondisi mengalami luka parah di pergelangan tangan kirinya akibat terkena jerat pemburu. Meskipun berhasil lolos, jerat tali sepanjang empat meter masih terikat erat dan menyebabkan luka yang cukup parah. Dari hasil pemeriksaan di lapangan oleh tim medis kami, diketahui lukanya sudah cukup parah dengan tali yang sudah masuk ke dalam daging dan tembus sampai ke tulang.
Melihat kondisinya saat itu, tim penyelamat terdiri dari Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang Resort Sukadana, Yayasan IAR Indonesia (YIARI), Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kayong Utara, Yayasan Palung, Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) Padu Banjar, dan LPHD Pulau Kumbang memutuskan membawa Kumbang ke tempat rehabilitasi kami di Ketapang, Kalimantan Barat, yang mempunyai fasilitas perawatan satwa liar untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.
Setelah menjalani pengobatan dan perawatan intensif selama empat bulan di fasilitas perawatan satwa liar YIARI, luka di tangannya sudah pulih total dan berdasarkan hasil pemeriksaan terakhir oleh tim medis YIARI dan BKSDA Kalbar, Kumbang sudah siap untuk dipulangkan ke habitat aslinya.
Kaka, salah satu orangutan sumatera yang merupakan korban pemeliharaan ilegal, sebelum ditranslokasi ke Yayasan Ekosistem Lestari (YEL-SOCP) (Fattreza Ihsan | IAR Indonesia)
Untuk mencapai titik pelepasan, tim harus menempuh perjalanan darat selama empat jam dan ditambah dengan satu jam perjalanan menyusuri sungai. Hutan Lindung Gambut Sungai Paduan dipilih menjadi tempat pelepasan Kumbang karena berdasarkan hasil observasi lanskap, Kumbang memang berasal dari wilayah ini. Selain itu, berdasarkan survei yang telah dilakukan, hutan ini mempunyai banyak jenis pakan orangutan dan populasi asli orangutan yang ada belum terlalu banyak. Selain itu, wilayah ini juga dikelola secara kolektif oleh LPHD yang mempunyai tim patroli sehingga hutan ini relatif aman.
Cerita yang terakhir datang dari Oga, seekor owa jawa (Hylobates moloch) malang yang diselamatkan dalam keadaan tangannya putus karena tertembak. Ia dievakuasi BBKSDA Jawa Barat wilayah I Bogor setelah dipelihara selama lima tahun oleh seorang warga di daerah Depok, Jawa Barat. Untungnya, ketika diperiksa oleh tim medis kami kondisi Oga cukup sehat. Karena Oga berasal dari Jawa Barat, ia segera diantar menuju pusat rehabilitasi owa Aspinal Indonesia di Kabupaten Bandung, Jawa Barat untuk direhabilitasi 26 Juni lalu.
Oga, owa jawa yang berlengan satu ini tiba di Pusat Rehabilitasi Owa Yayasan Aspinall Indonesia pada 26 Juni 2022 (Muffidz Ma’sum | IAR Indonesia)
Pemilik Oga sebelumnya sudah kami ingatkan mengenai bahaya dari pemeliharaan primata yang dapat menularkan penyakit pada manusia (zoonosis). Sebab satwa yang berasal dari alam liar bisa jadi membawa penyakit yang mampu menular ke manusia, begitu pun sebaliknya. Oleh karena itu, supaya tidak terdapat transfer penyakit antara keduanya, interaksi antara manusia dengan satwa liar sangatlah perlu untuk dibatasi.
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.