Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Orangutan Bisa Terkena Malaria? Misterinya Baru Terungkap Setelah Lebih dari 100 Tahun!
Ketika orang membicarakan ancaman bagi orangutan, biasanya yang terlintas adalah hutan yang ditebang, kebakaran lahan, atau perburuan. Semua itu memang nyata.
Namun ada ancaman lain yang jauh lebih kecil dan nyaris tak terlihat: malaria.
Yup, orangutan di Kalimantan juga bisa terinfeksi penyakit ini. Dalam beberapa kasus, infeksinya bahkan dapat berkembang menjadi kondisi yang serius.
Lalu, seperti apa sebenarnya identitas genetik parasit malaria yang menginfeksi orangutan?
Sebuah penelitian terbaru oleh Anita B. Dharmayanthi dan tim peneliti dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), BRIN, serta mitra internasional, yang dipublikasikan dalam jurnal “The mitochondrial genome sequence of the Bornean orang-utan malaria parasite, Plasmodium pitheci”, akhirnya mulai menjawab misteri tersebut.
Temuan ini membantu ilmuwan memahami parasit tersebut dengan lebih jelas dan membuka jalan bagi penanganan malaria orangutan yang lebih tepat.
Malaria pada Orangutan, Ancaman yang Jarang Dibicarakan
Orangutan kalimantan Rickyna dan Ricko di Pusat Rehabilitasi YIARI, sedang bergelantungan di pohon (Muffidz Ma’sum|YIARI)
Pada orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), malaria disebabkan oleh parasit bernama Plasmodium pitheci. Parasit ini menyerang sel darah merah dan dapat memicu gejala yang mirip dengan malaria pada manusia.
Beberapa gejala yang bisa muncul antara lain:
demam
lemas
anemia
Dalam beberapa kasus, infeksi ini bahkan dapat berkembang menjadi kondisi yang cukup serius dan memerlukan penanganan medis.
Kasus malaria pada orangutan cukup sering ditemukan, terutama di pusat rehabilitasi. Di tempat-tempat ini, orangutan yang diselamatkan dari perdagangan ilegal, konflik dengan manusia, atau kehilangan habitat dirawat sebelum akhirnya dilepasliarkan kembali ke alam.
Bagi spesies yang populasinya terus menurun, penyakit seperti malaria menjadi tantangan tambahan karena tidak hanya memengaruhi kesehatan individu, tetapi juga proses rehabilitasi dan pelepasliaran.
Parasit yang Sudah Dikenal Lebih dari Satu Abad
Parasit malaria pada orangutan sebenarnya bukan hal baru bagi ilmuwan. Spesies ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1907 dan kemudian diberi nama Plasmodium pitheci.
Namun selama lebih dari satu abad, identitas parasit ini belum benar-benar jelas. Selama ini, para peneliti mengenalinya terutama dari bentuknya di bawah mikroskop, yaitu dengan melihat struktur parasit di dalam sel darah merah orangutan.
Masalahnya, beberapa parasit malaria pada primata memiliki bentuk yang sangat mirip. Tanpa informasi genetik, sulit memastikan apakah parasit yang diamati benar-benar spesies yang sama atau sebenarnya berbeda.
Karena itu, dalam berbagai penelitian muncul beberapa kelompok parasit yang diduga berbeda, seperti:
Plasmodium sp. VM
Plasmodium sp. VS
Plasmodium sp. Pongo clade A
Plasmodium sp. Pongo clade B
Namun tanpa bukti genetik yang jelas, para ilmuwan belum dapat memastikan apakah kelompok-kelompok tersebut benar-benar spesies yang berbeda atau sebenarnya masih bagian dari Plasmodium pitheci.
Baru melalui pendekatan genetika modern, para peneliti akhirnya mulai dapat melihat identitas parasit ini dengan lebih jelas.
Temuan Menarik dari DNA Parasit
Orangutan kalimantan dilepasliarkan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, terlihat bergelantungan di pohon (Muffidz Ma’sum|YIARI)
Untuk memahami parasit ini dengan lebih jelas, para peneliti kemudian membaca DNA Plasmodium pitheci dan membandingkannya dengan berbagai sekuens parasit malaria orangutan yang pernah dilaporkan sebelumnya.
Hasilnya cukup menarik.
Beberapa parasit yang sebelumnya dianggap berbeda ternyata memiliki kemiripan genetik yang sangat tinggi dengan Plasmodium pitheci. Parasit yang pernah disebut sebagai VM, VS, serta Pongo clade A dan B kemungkinan besar sebenarnya merujuk pada spesies yang sama.
Temuan ini membantu menjelaskan kebingungan lama dalam penelitian malaria pada orangutan: nama-nama yang muncul di berbagai studi sebelumnya ternyata kemungkinan tidak merujuk pada spesies yang berbeda.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa Plasmodium pitheci tidak seseragam yang dibayangkan. Dari sampel yang dianalisis, peneliti menemukan 27 variasi genetik berbeda.
Selain itu, para peneliti juga menemukan satu kelompok parasit lain yang cukup berbeda secara genetik, yaitu Plasmodium sp. Pongo clade C. Perbedaan ini membuat para peneliti menduga bahwa kelompok tersebut mungkin merupakan spesies malaria orangutan yang berbeda dan masih perlu diteliti lebih lanjut.
Dengan kata lain, selain membantu memperjelas identitas Plasmodium pitheci, penelitian ini juga memberi petunjuk keragaman malaria pada orangutan mungkin lebih besar dari yang selama ini diketahui.
Mengapa Penemuan Ini Penting bagi Konservasi Orangutan?
Bagi upaya konservasi orangutan, temuan ini punya arti yang cukup besar.
Dengan mengetahui identitas genetik Plasmodium pitheci, para peneliti dan dokter hewan kini memiliki dasar yang lebih kuat untuk memahami dan menangani infeksi malaria pada orangutan.
Secara sederhana, penelitian ini membuka beberapa manfaat penting.
1. Diagnosis malaria bisa menjadi lebih akurat
Selama ini, malaria pada orangutan lebih banyak dikenali lewat pemeriksaan mikroskopis, yang membutuhkan keahlian khusus dan tidak selalu mudah membedakan antarspesies.
Dengan adanya informasi genetik yang lebih jelas, para ilmuwan kini dapat mengembangkan metode deteksi berbasis DNA yang lebih spesifik. Ini memungkinkan parasit malaria dikenali dengan lebih cepat dan lebih akurat.
2. Penanganan medis pada orangutan bisa lebih tepat
Diagnosis yang lebih jelas membantu tim dokter hewan menentukan penanganan yang lebih sesuai bagi orangutan yang terinfeksi malaria.
Jika infeksi dapat dikenali lebih awal, perawatan bisa diberikan sebelum kondisi orangutan menjadi lebih parah. Hal ini sangat penting terutama di pusat rehabilitasi, tempat banyak orangutan yang sedang dalam proses pemulihan setelah diselamatkan dari berbagai ancaman.
3. Membantu pemantauan kesehatan sebelum pelepasliaran
Sebelum orangutan dilepasliarkan kembali ke alam, kondisi kesehatannya harus dipastikan dalam keadaan baik.
Metode diagnosis yang lebih akurat membantu tim konservasi memantau apakah orangutan yang akan dilepasliarkan benar-benar bebas dari infeksi atau tidak. Ini penting agar proses pelepasliaran tidak membawa risiko kesehatan bagi individu tersebut maupun bagi populasi liar.
4. Memberi petunjuk tentang penyebaran penyakit
Keragaman genetik parasit yang ditemukan dalam penelitian ini juga dapat membantu ilmuwan memahami bagaimana malaria menyebar di antara populasi orangutan.
Informasi ini bisa memberikan gambaran tentang hubungan antar-populasi orangutan dan potensi penyebaran parasit di berbagai wilayah di Borneo.
Bagi spesies yang populasinya terus menurun, pemahaman seperti ini menjadi sangat penting untuk mendukung upaya perlindungan jangka panjang.
Pelajaran Lebih Luas dari Penelitian Ini
Orangutan kalimantan bernama Gatot di Pusat Rehabilitasi YIARI sedang tersenyum (Muffidz Ma’sum|YIARI)
Penelitian tentang malaria pada orangutan tidak hanya penting bagi konservasi satwa liar. Temuan seperti ini juga mengingatkan kita bahwa kesehatan satwa dan manusia sering kali saling terhubung.
Dalam sejarah malaria, ada beberapa kasus di mana parasit yang awalnya menginfeksi primata akhirnya juga ditemukan pada manusia. Salah satu contoh yang cukup dikenal adalah Plasmodium knowlesi. Parasit ini awalnya diketahui menginfeksi monyet ekor panjang, tetapi kemudian ditemukan juga dapat menyebabkan malaria pada manusia di Asia Tenggara.
Hal ini menunjukkan batas antara penyakit pada satwa liar dan manusia tidak selalu sepenuhnya terpisah.
Karena itu, memahami parasit malaria pada satwa liar bukan hanya soal melindungi spesies yang terancam punah. Pengetahuan ini juga membantu ilmuwan memahami bagaimana penyakit dapat berevolusi, beradaptasi, dan dalam beberapa kasus berpindah antarspesies.
Seiring meningkatnya interaksi antara manusia dan satwa liar, baik karena perubahan penggunaan lahan, deforestasi, maupun aktivitas manusia di kawasan hutan, memahami penyakit pada satwa liar menjadi semakin penting.
Melindungi Orangutan Juga Berarti Memahami Penyakitnya
Penelitian Dharmayanthi dan tim menunjukkan bahwa ancaman bagi orangutan tidak hanya datang dari hilangnya habitat, tetapi juga dari penyakit.
Dengan berhasil memetakan DNA Plasmodium pitheci, para ilmuwan kini memiliki cara yang lebih akurat untuk mengenali parasit malaria pada orangutan. Pengetahuan ini dapat membantu upaya perawatan, pemantauan kesehatan, serta proses rehabilitasi sebelum orangutan kembali ke alam liar.
Pada akhirnya, melindungi orangutan bukan hanya soal menjaga hutan tetap berdiri. Konservasi juga berarti memahami ancaman kesehatan yang mereka hadapi, termasuk penyakit yang sering kali tidak terlihat tetapi dapat memengaruhi kelangsungan hidup mereka.
Featured image: Orangutan kalimantan bernama Ashoka di Pusat Rehabilitasi YIARI (Muffidz Ma’sum|YIARI)
Tautan Jurnal
The mitochondrial genome sequence of the Bornean orang-utan (Pongo pygmaeus) malaria parasite, Plasmodium pitheci. Malaria Journal. [Buka]
Susi dan Sisa Luka yang Tak Pernah Sirna
Embun pagi masih menggelayut di kanopi Hutan Lindung Gunung Tarak, Kalimantan Barat. Suara rangkong dan owa bersahutan, memecah keheningan hutan yang baru terbangun. Di antara rimbunnya pepohonan, orangutan betina bernama Susi terbangun di sarangnya, menjalani kehidupan liar yang perlahan ia bangun kembali, dengan jejak masa lalu yang belum sepenuhnya lepas darinya.
Bertahun-tahun lalu, Susi bukanlah penghuni hutan. Ia hidup terkurung di sebuah rumah di Pontianak, dipelihara secara ilegal. Saat tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI menyelamatkannya pada 2011, kondisi Susi sangat memprihatinkan. Sebuah rantai melilit lehernya terlalu kencang, menyebabkan luka terbuka yang terinfeksi, bernanah, dan berbau busuk. Ketika memeriksanya tim medis menemukan karet yang telah tertanam di jaringan kulit lehernya.
Perlu lima tahun rehabilitasi sebelum Susi dinyatakan siap kembali ke alam. Pada 2016, BKSDA Kalbar, Dinas Kehutanan Kalbar dan YIARI melepasliarkan Susi di Hutan Lindung Gunung Tarak. Di sanalah babak baru hidupnya dimulai dengan satu catatan penting, Susi tidak benar-benar dilepas sendirian.
Ketika menemukan luka pada tubuh Susi saat penyelamatan pada tahun 2011, tim medis segera melakukan upaya penyembuhan luka Susi (YIARI)
Sejak hari pertama, tim monitoring YIARI mengikuti setiap langkahnya. Pemantauan dilakukan dari pagi hingga sore hari, sejak Susi turun dari sarang hingga kembali membangun sarang untuk beristirahat. Aktivitasnya dicatat dengan detail, ke mana ia bergerak, apa yang dimakannya, bagaimana perilakunya, hingga kondisi fisiknya. Data lokasi direkam menggunakan GPS, membentuk peta jelajah kehidupan Susi di alam liar.
Upaya monitoring pasca-pelepasliaran bukanlah pekerjaan sederhana. Pemantauan orangutan di alam membutuhkan sumber daya yang besar. Mulai dari waktu yang panjang, tim yang terlatih, hingga biaya operasional yang tidak sedikit. Tim harus bekerja berhari-hari di medan hutan yang sulit, mengikuti pergerakan orangutan dari pagi hingga sore, mencatat data perilaku secara detail, serta memastikan keselamatan tim dan satwa. Proses ini dilakukan secara berkelanjutan, bahkan bertahun-tahun setelah pelepasliaran, karena dampak pemeliharaan ilegal tidak selalu muncul dalam waktu singkat. Namun bagi upaya konservasi, investasi besar ini menjadi krusial untuk memastikan bahwa orangutan yang telah dikembalikan ke alam benar-benar memiliki hidup yang layak dan sejahtera.
Kabar gembira kembali datang dari Susi pada akhir Maret 2020. Di tengah situasi pandemi Covid-19, Susi melahirkan satu bayi orangutan betina dengan selamat. Bayi itu diberi nama Sinar. Bagi tim, kelahiran Sinar menjadi salah indikator penting bahwa Susi mampu beradaptasi dan berkembang biak di alam.
Namun monitoring tidak hanya soal menunggu dan merayakan keberhasilan. Fungsinya justru paling terasa ketika masalah muncul. Pada Desember 2025, tim monitoring menemukan luka di bagian dada Susi. Luka itu tidak tampak sebagai cedera baru akibat interaksi dengan lingkungan. Dugaan awal mengarah pada dampak lanjutan dari cedera lama di area leher sebagai warisan dari masa ketika Susi dirantai dan dipelihara secara ilegal bertahun-tahun silam.
Penanganan luka pada bagian dada susi pada bulan Desember 2025 (Muffidz Ma’sum | YIARI)
“Kami bisa mengenali perubahan sekecil apapun karena kami mengikuti aktivitas hariannya secara konsisten,” ujar Deni, Koordinator Tim Survey Monitoring YIARI. “Pada kasus Susi, luka di dada teridentifikasi karena kami memantau pergerakan, perilaku, hingga kondisi fisiknya setiap hari.” Menurutnya, tanpa pemantauan jangka panjang, kondisi seperti ini berisiko luput dari perhatian hingga menjadi lebih serius. Luka lama yang tampak telah sembuh bisa memunculkan dampak lanjutan bertahun-tahun kemudian.
Berdasarkan evaluasi bersama tim medis YIARI dan BKSDA, diputuskan untuk mengevakuasi Susi sementara ke pusat rehabilitasi YIARI. Selama kurang lebih satu bulan, ia menjalani perawatan intensif. Setelah kondisinya dinyatakan pulih, Susi kembali ke habitatnya di Gunung Tarak,
Direktur Utama YIARI, Karmele L. Sanchez, menegaskan bahwa monitoring pasca-pelepasliaran merupakan bagian tak terpisahkan dari konservasi orangutan. “Pemantauan rutin memungkinkan deteksi dini terhadap risiko kesehatan dan keselamatan individu yang telah kembali ke alam,” ujarnya. “Monitoring memastikan orangutan hasil rehabilitasi benar-benar mampu bertahan hidup dan beradaptasi”
Kisah Susi, menurut Karmele, memperlihatkan satu hal yang kerap luput dari perhatian publik. Luka akibat pemeliharaan ilegal tidak selalu langsung hilang ketika orangutan dilepasliarkan. Dampaknya bisa muncul bertahun-tahun kemudian, diam-diam, di tengah hutan yang tampak aman. “Ini menjadi alarm bahwa perdagangan dan pemeliharaan satwa liar secara ilegal meninggalkan luka panjang, baik fisik maupun psikologis,” tambahnya. “Monitoring pasca-pelepasliaran adalah kunci untuk memastikan setiap individu benar-benar aman dan sejahtera.”
Pasca operasi, Susi sudah kembali dilepasliarkan kembali di Hutan Lindung Gunung Tarak (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Di kanopi Gunung Tarak, Susi kembali menjalani hidupnya. Sekilas, ia tampak telah sepenuhnya kembali menjadi bagian dari hutan. Namun luka di tubuhnya mengingatkan bahwa tidak semua dampak pemeliharaan ilegal berhenti ketika rantai dilepas dan kandang dibuka.Pemeliharaan meninggalkan konsekuensi jangka panjang yang tak selalu terlihat. Cedera fisik, gangguan kesehatan, hingga trauma dapat muncul kembali bertahun-tahun setelah orangutan dilepasliarkan, bahkan ketika mereka telah berhasil beradaptasi di alam. Luka akibat eksploitasi satwa liar bisa jauh lebih panjang daripada yang kerap dibayangkan.
Bagi YIARI dan para mitra, kisah Susi adalah catatan bahwa konservasi bukan sekadar mengembalikan orangutan ke hutan, tapi juga memastikan mereka benar-benar pulih dan terlindungi. Lebih dari itu, kisah ini menjadi seruan agar pemeliharaan dan perdagangan satwa liar harus dihentikan sejak awal, sebelum luka-luka seperti yang dialami Susi terus berulang, tersembunyi di balik rimbunnya hutan.
11 Fakta Unik Orangutan: Kecerdasan, Habitat, dan Perilaku
Siapa yang belum pernah melihat orangutan? Di kebun binatang, taman satwa, atau bahkan di buku pelajaran, sosok primata besar berwarna kemerahan ini pasti sudah tidak asing lagi.
Orangutan bukan sekadar penghuni hutan tropis, tetapi juga salah satu makhluk paling cerdas di Bumi.
Dengan lengan panjang yang dapat mencapai dua meter dan ekspresi wajah yang menyerupai manusia, orangutan telah lama memikat perhatian para peneliti serta pecinta satwa di seluruh dunia. Namun, di balik tubuhnya yang tampak tambun dan tenang, tersimpan berbagai keunikan yang mungkin belum banyak diketahui.
Yuk, kita kenali lebih dekat dan temukan fakta-fakta menarik tentang orangutan!
11 Fakta Orangutan yang Perlu Kamu Ketahui
Di balik sosoknya yang tenang dan penuh pesona, orangutan menyimpan banyak rahasia menarik tentang cara hidup, kecerdasan, dan kemampuan beradaptasinya di alam liar.
Berikut fakta unik tentang orangutan yang akan membuat kamu semakin kagum dan peduli terhadap keberlangsungan hidup mereka:
1. Arsitek Alam yang Andal
Setiap malam, orangutan membangun “tempat tidur” baru di atas pohon dengan merangkai dahan dan daun. Mereka hampir tidak pernah menggunakan tempat tidur yang sama dua kali. Rajin sekali, bukan?
Proses konstruksi ini hanya memakan waktu sekitar 5–10 menit, tetapi hasilnya kokoh dan nyaman. Fakta ini menunjukkan betapa adaptifnya orangutan terhadap lingkungan hutan yang terus berubah.
2. Rentang Lengan Terpanjang di Dunia Primata
Kalau diperhatikan, orangutan sering berpindah dari satu ranting ke ranting lain. Meskipun terlihat pelan, mereka sebenarnya sangat terampil.
Rentang lengan orangutan jantan dewasa bisa mencapai sekitar 2,2 meter—terpanjang di antara semua primata. Padahal tinggi badan mereka hanya sekitar 1,2–1,5 meter. Rasio tubuh dan lengan ini membantu mereka bergerak efisien di antara pepohonan.
3. Kecerdasan Setara Anak Usia 7 Tahun
Orangutan sedang bergelantungan di pohon/Muffidz Ma’sum YIARI
Orangutan termasuk primata paling cerdas setelah manusia. Mereka bisa menggunakan alat, memecahkan masalah sederhana, dan belajar memahami simbol atau bahasa isyarat.
Salah satu contohnya adalah individu orangutan bernama Chantek, yang pernah mempelajari lebih dari 150 kata dalam Bahasa Isyarat Amerika (ASL). Ini menunjukkan kemampuan berpikir orangutan yang cukup tinggi untuk ukuran satwa liar.
Seperti halnya kera besar lainnya, orangutan memiliki cara komunikasi yang beragam. Mereka menggunakan lebih dari 40 jenis suara untuk berinteraksi—mulai dari panggilan panjang yang bisa terdengar hingga dua kilometer, sampai suara lembut untuk jarak dekat.
Orangutan jantan dewasa juga memiliki kantung leher besar yang membantu memperkuat suara mereka saat berteriak atau memanggil pasangannya.
5. Ahli “Farmasi” di Alam Liar
Pernah bertanya-tanya, orangutan makan apa saja?
Selain buah-buahan yang menjadi makanan utamanya, orangutan juga mengonsumsi lebih dari 400 jenis tanaman berbeda, termasuk daun, kulit kayu, bunga, dan bahkan tanah liat yang kaya mineral.
Menariknya, orangutan diketahui memakan tanaman tertentu ketika sedang sakit. Kebiasaan ini menunjukkan naluri alami mereka dalam memanfaatkan tumbuhan sebagai “obat” di alam liar.
6. Masa Kehamilan Terpanjang di Dunia Primata
Tahukah kamu, orangutan betina memiliki masa kehamilan sekitar 8,5 bulan, hampir sama dengan manusia. Mereka biasanya melahirkan satu anak setiap 6–8 tahun, menjadikan proses reproduksi mereka salah satu yang paling lambat di antara mamalia besar.
Karena jarang bereproduksi, populasi orangutan sangat rentan menurun jika terjadi perburuan atau kerusakan habitat.
7. Memori yang Kuat Seperti “Peta Hidup” di Hutan
Orangutan memiliki daya ingat yang sangat baik, terutama dalam mengenali lokasi sumber makanan. Mereka dapat mengingat letak ratusan pohon buah di hutan dan tahu kapan masing-masing pohon akan berbuah.
Kemampuan ini membantu mereka berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain tanpa tersesat. Dalam studi lapangan, akurasi mereka dalam menemukan sumber makanan mencapai sekitar 95 persen, menjadikan mereka salah satu primata dengan kemampuan navigasi terbaik.
8. Perbedaan Orangutan Jantan dan Betina
Sekilas terlihat mirip, tetapi ukuran tubuh orangutan jantan dan betina ternyata jauh berbeda.
Orangutan jantan dewasa dapat memiliki berat antara 90–130 kilogram, sedangkan betina hanya sekitar 35–50 kilogram. Perbedaan ukuran yang cukup besar ini disebut dimorfisme seksual.
Selain tubuh yang lebih besar, jantan dewasa memiliki bantalan pipi besar (cheek pads) yang menandakan dominasi dan kematangan. Dalam perilakunya, orangutan jantan cenderung lebih berani menjaga wilayah, sementara betina lebih berhati-hati dan sering bergerak bersama individu lain untuk menjaga keamanan.
9. Penyebar Benih di Hutan
Orangutan sedang bergelantungan di pohon/Muffidz Ma’sum YIARI
Orangutan punya peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Satu individu bisa membantu menyebarkan benih dari lebih dari 500 jenis tanaman setiap tahun.
Benih tersebut tersebar melalui kotoran mereka di berbagai lokasi, membantu tumbuhnya kembali pepohonan baru. Karena itulah orangutan sering disebut sebagai “tukang kebun hutan” yang berperan penting dalam regenerasi hutan tropis.
10. Habitat yang Terancam dan Populasi yang Menurun
Habitat orangutan kini hanya tersisa sekitar 0,5 persen dari luas aslinya di masa lalu. Di Indonesia, orangutan hanya dapat ditemukan di hutan hujan tropis Sumatera dan Kalimantan.
Sebaran dan jenis orangutan di Indonesia:
Kalimantan: terdapat di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. Spesies: Pongo pygmaeus (Orangutan Kalimantan). Habitat utama: Taman Nasional Tanjung Puting, Sebangau, Kutai, dan Hutan Lindung Wehea.
Sumatera: terdapat di Aceh dan Sumatera Utara. Spesies: Pongo abelii (Orangutan Sumatera) yang hidup di Ekosistem Leuser, dan Pongo tapanuliensis (Orangutan Tapanuli) yang hanya ditemukan di Batang Toru, Tapanuli Selatan.
Menurut data WWF (2023), sekitar 1.000–5.000 hektare habitat orangutan hilang setiap tahun akibat deforestasi dan konversi lahan.
Populasinya pun menurun drastis, kini hanya tersisa sekitar 104.000 individu orangutan Kalimantan dan 14.000 individu orangutan Sumatera di alam liar, turun jauh dari sekitar 230.000 individu pada tahun 1973.
Sementara itu, Orangutan Tapanuli, yang baru diidentifikasi pada 2017, hanya tersisa sekitar 800 individu, menjadikannya primata paling terancam punah di dunia.
11. Fenomena “Arrested Development” pada Orangutan
Orangutan sedang bergelantungan di pohon/Muffidz Ma’sum YIARI
Orangutan jantan memiliki fenomena biologis unik yang disebut “arrested development” atau perkembangan tertunda. Kondisi ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan lebih dari satu dekade.
Dalam fase ini, jantan dewasa tetap berada dalam bentuk unflanged (tanpa pipi besar) meskipun sudah matang secara seksual. Para peneliti menduga fenomena ini dipengaruhi oleh stres sosial, terutama saat jantan muda hidup di sekitar jantan dominan yang berpipi besar.
Menariknya, jantan unflanged tetap sehat dan mampu bereproduksi, meski betina umumnya lebih memilih kawin dengan jantan berpipi besar (flanged). Fenomena ini jarang ditemukan di dunia hewan dan menjadi salah satu bukti kompleksitas perilaku sosial orangutan.
Waktunya Peduli pada Si Penjaga Hutan Tropis
Orangutan bukan sekadar primata biasa. Mereka adalah makhluk luar biasa yang memiliki kecerdasan tinggi, sistem sosial kompleks, dan peran ekologis yang vital bagi keberlangsungan hutan tropis.
Sayangnya, keberadaan mereka kini terancam serius akibat aktivitas manusia.
Kita memiliki tanggung jawab untuk melindungi orangutan dan habitatnya. Melalui pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan mereka ini, semoga kita dapat lebih menghargai dan berkontribusi dalam upaya konservasi primata istimewa ini!
Featured image: Orangutan sedang bergelantungan di pohon/Muffidz Ma’sum YIARI
Dari Kebun Warga ke Rimba: Perjalanan Orangutan Menuju Rumah Barunya
Beberapa waktu lalu, warga di Dusun Sumber Priangan, Kalimantan Barat, dikejutkan oleh kemunculan seekor orangutan di pekarangan rumah mereka.
Awalnya dikira hanya monyet biasa, tapi setelah dilihat lebih dekat, ternyata satwa dilindungi yang makin jarang terlihat. Kejadian ini bukan pertama kalinya—orangutan masuk ke area kebun dan permukiman karena hutan tempat tinggalnya makin sempit.
Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, tim dari BKSDA Kalimantan Barat, KPH Ketapang Selatan, dan YIARI pun bergerak cepat. Tujuannya sederhana: membantu orangutan ini kembali ke habitat yang lebih aman, jauh dari aktivitas manusia.
Di artikel ini, kita akan menyelami perjalanan penyelamatan orangutan tersebut—dari laporan warga, proses evakuasi, sampai momen pelepasliaran di Hutan Lindung Gunung Tarak. Sebuah cerita nyata tentang bagaimana manusia dan alam bisa saling menjaga, selama ada kemauan untuk bekerja bersama. Yuk, simak!
Dari Pekarangan Warga ke Alam Liar: Awal Mula Kisah
Orangutan kalimantan jantan yang ditranslokasi dari kebun warga dari Dusun Sumber Priangan, Kalimantan Barat, dimasukkan ke kandang translokasi setelah dibius (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Kemunculan orangutan di sekitar pemukiman Dusun Sumber Priangan terjadi lebih dari sekali. Ia terlihat berjalan di antara pepohonan, mendekati rumah warga, dan memakan buah-buahan di kebun seperti jambu, kelapa, hingga nanas.
Reaksi warga pun beragam—ada yang panik, ada pula yang merasa kasihan. “Awalnya kami kira hanya monyet biasa,” ujar salah satu warga. “Tapi setelah dilihat lebih dekat, ternyata orangutan. Kami takut, tapi juga kasihan. Mungkin dia tersesat atau habitatnya terganggu.”
Kejadian ini langsung menarik perhatian tim Orangutan Protection Unit (OPU) dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Setelah melakukan pemantauan, tim menemukan bahwa lokasi tersebut mengalami kerusakan habitat yang cukup parah akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan.
Fragmentasi lahan dan jaraknya yang dekat dengan jalan utama Ketapang–Pontianak juga membuat kehadiran orangutan menjadi sangat berisiko, baik bagi satwa maupun manusia.
Atas dasar itu, setelah koordinasi dengan BKSDA Kalimantan Barat dan KPH Ketapang Selatan, translokasi dianggap sebagai solusi terbaik. Bukan hanya untuk menyelamatkan orangutan, tapi juga untuk mencegah potensi konflik yang bisa membahayakan warga sekitar.
Proses Penyelamatan yang Penuh Perhitungan
Dokter hewan YIARI melakukan pemeriksaan awal setelah orangutan kalimantan dibius (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Tim gabungan dari YIARI, BKSDA Kalimantan Barat, dan KPH Ketapang Selatan bergerak sejak dini hari. Sekitar pukul 04.30 WIB, mereka tiba di lokasi untuk memulai proses evakuasi. Karena orangutan merupakan satwa liar yang kuat dan bisa berbahaya jika merasa terancam, proses penanganannya harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Tim dokter hewan dari YIARI menggunakan senjata bius untuk menenangkan orangutan sebelum dilakukan pemeriksaan medis. Dosis obat dihitung secara cermat, disesuaikan dengan ukuran dan perkiraan berat badan orangutan. Penembakan bius ini juga tidak bisa dilakukan sembarangan—hanya dilakukan oleh petugas yang memiliki izin resmi dan pelatihan khusus.
Setelah orangutan terbius dan jatuh di atas jaring pengaman, tim medis segera memeriksa kondisinya. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa orangutan ini memiliki berat sekitar 60–65 kilogram dan terdapat luka lama di punggung tangan kirinya.
Luka tersebut sudah membentuk jaringan ikat, meski masih mengeluarkan sedikit nanah dan darah. Selain itu, beberapa gigi terlihat rusak atau hilang, kemungkinan karena faktor usia. Meski begitu, secara keseluruhan, kondisi orangutan cukup stabil dan memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali ke alam.
Perjalanan Menuju Rumah Baru: Hutan Lindung Gunung Tarak
Setelah memastikan kondisi fisiknya memungkinkan untuk dilepasliarkan, tim segera membawa orangutan menuju lokasi translokasi: kawasan Hutan Lindung Gunung Tarak. Perjalanan darat ini memakan waktu sekitar tujuh jam, dan melibatkan bantuan masyarakat setempat, terutama saat membawa orangutan masuk lebih dalam ke dalam hutan.
Pemilihan lokasi tidak dilakukan sembarangan. Kawasan ini telah melalui survei kelayakan dan dinyatakan cocok sebagai habitat baru. Selain letaknya yang relatif jauh dari permukiman, hutan ini juga masih memiliki tutupan vegetasi yang baik serta sumber pakan alami yang cukup untuk mendukung kehidupan orangutan di alam liar.
Kandang transportasi dibawa menembus hutan untuk persiapan pemindahan orangutan kalimantan ini (Heribertus Suciadi | YIARI)
Sesampainya di lokasi, kandang dibuka perlahan. Orangutan itu sempat menoleh sejenak sebelum melangkah cepat ke dalam hutan, menjauh dari manusia. Ia memanjat pohon, bergerak lincah, dan menunjukkan perilaku alami yang menjadi tanda kesiapan untuk hidup bebas kembali. Momen ini menjadi titik akhir dari proses penyelamatan, sekaligus awal dari babak baru kehidupannya di rumah yang lebih aman.
Gunung Tarak: Surga Baru bagi Sang Penjelajah Hutan
Kandang transportasi dibawa menembus hutan untuk persiapan pemindahan orangutan kalimantan ini (Heribertus Suciadi | YIARI)
Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menjaga kelangsungan hidup satwa liar. “Kami mengapresiasi keterlibatan aktif masyarakat yang membantu proses pelepasan hingga ke dalam kawasan hutan. Ini adalah langkah kecil yang membawa dampak besar bagi pelestarian hutan dan masa depan keanekaragaman hayati Indonesia,” ujarnya.
Kepala KPH Ketapang Selatan, Kuswadi, SP., juga menyampaikan terima kasih atas partisipasi semua pihak, khususnya masyarakat Dusun Sumber Priangan. Ia mengajak masyarakat di sekitar kawasan lindung untuk terus menjaga hutan sebagai sumber air, oksigen, dan rumah bagi satwa-satwa langka.
Senada dengan itu, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, S.Hut., M.Si., menekankan bahwa translokasi ini merupakan bagian dari komitmen untuk merespons cepat potensi konflik manusia dan satwa. “Kami mengajak semua pihak untuk terus menjaga habitat alami agar tidak ada lagi satwa yang kehilangan tempat hidupnya,” tegasnya.
Mengapa Kisah Ini Penting untuk Kita Semua?
Kisah orangutan yang tersesat di perkebunan lalu dikembalikan ke hutan ini bukan sekadar cerita penyelamatan satwa. Ini adalah cermin dari masalah yang lebih besar: semakin menyempitnya habitat alami akibat aktivitas manusia. Ketika hutan dikonversi menjadi lahan perkebunan atau pemukiman, satwa liar kehilangan ruang untuk hidup—dan konflik pun menjadi tak terhindarkan.
Namun di balik tantangan itu, kisah ini juga menunjukkan bahwa solusi tetap ada. Selama ada kemauan untuk berkolaborasi, konflik bisa diubah menjadi peluang untuk belajar dan bertindak. Masyarakat yang peduli, pemerintah yang responsif, dan lembaga konservasi yang tangguh adalah kombinasi penting dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Perjalanan orangutan kembali ke Hutan Lindung Gunung Tarak adalah harapan. Harapan bahwa masih ada ruang bagi kehidupan liar untuk pulih. Dan bahwa kita semua punya peran dalam memastikan hutan tetap lestari—bukan hanya untuk orangutan, tapi juga untuk masa depan kita bersama.
Pulih dari Luka, Marisa Dipulangkan ke TANAGUPA
SIARAN PERS
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melakukan pelepasan satu individu orangutan (Pongo pygmaeus) di Bukit Daun Sandar, RPTN II Sempurna, Taman Nasional Gunung Palung, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang pada Kamis (14/11).
Orangutan berjenis kelamin betina berusia 6 tahun ini sebelumnya diselamatkan dari kasus konflik manusia – orangutan oleh tim gabungan Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalimantan Barat, Balai TANAGUPA dan YIARI di salah satu kebun milik warga di Desa Riam Berasap, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara pada 10 Juli 2024. Marisa diselamatkan setelah induknya ditemukan mati di kebun warga. Berdasarkan hasil nekropsi oleh tim medis YIARI, kematian induknya diduga disebabkan oleh infeksi akibat luka yang cukup dalam di punggungnya. Sementara itu, Marisa juga ditemukan dengan luka parah di kaki kanannya. Luka ini diduga disebabkan oleh senjata tajam.
Melihat kondisi Marisa yang terluka, BKSDA Kalbar memutuskan untuk menitiprawatkan anak orangutan ini ke Pusat Penyelamatan Orangutan YIARI di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang untuk dilakukan pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Setelah empat bulan menjalani perawatan intensif di bawah pengawasan tim medis dan perawat satwa di pusat rehabilitasi orangutan YIARI, Marisa dinyatakan pulih dan siap untuk dikembalikan ke habitat aslinya yang lebih aman.
Pemeriksaan Marisa sebelum dilepasliarkan (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Koordinator tim medis YIARI, Fina Fadiah, menegaskan luka Marisa sudah sembuh dan dia bisa segera dikembalikan ke habitatnya. “Saat ini luka di Marisa sudah sembuh dan setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, kami yakin sudah saatnya Marisa dipulangkan ke habitatnya. Ketika diselamatkan, luka di kakinya cukup parah. Ada fraktur terbuka yang sudah terinfeksi dan bernanah. Luka pada bagian kaki kanannya juga cukup dalam sampai menembus ke otot dan tulang. Untungnya, berkat kerja keras semua tim, saat ini lukanya sudah pulih dan Marisa siap dipulangkan ke TANAGUPA,” terangnya. Dia juga menjelaskan pemulihan ini tidak hanya fokus pada fisik, tetapi juga dengan psikisnya. “Kami merawat Marisa dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip kesejahteraan satwa. Kami berupaya mengurangi stresnya dengan meminimalkan kontak langsung dengan Marisa,” tambah Fina.
Untuk mencegah konflik serupa terjadi lagi, orangutan ini dilepaskan di kawasan yang jauh dari pemukiman dan kebun masyarakat. TANAGUPA dipilih menjadi tempat pelepasan karena berdasarkan titik lokasi penyelamatannya, Marisa diperkirakan berasal dari wilayah sekitar perbatasan TANAGUPA. Selain itu, Resort Daung Sandar juga dinilai cukup bagus, karena berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Balai TANAGUPA dan YIARI, jumlah dan jenis pakan masih cukup tinggi. Status kawasan sebagai Taman Nasional juga lebih menjamin keselamatan Marisa di masa depan. Lokasi ini dikelilingi sungai yang bisa menjadi barier alami untuk mencegah orangutan kembali ke kebun masyarakat.
Setelah menempuh perjalanan selama 6 jam dari pusat rehabilitasi orangutan YIARI, tim berhasil sampai di titik pelepasan. Marisa pun dilepaskan di dalam kawasan TANAGUPA. Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari dukungan masyarakat yang turut serta membantu membawa orangutan ke dalam kawasan taman nasional.
Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi yang terjalin antara pemerintah, Non-profit Organization (NGO), dan masyarakat dalam upaya pelestarian orangutan dan habitatnya. Silverius menekankan pentingnya peran bersama dalam menjaga keberlanjutan ini. “Kami mengundang seluruh pemangku kepentingan, khususnya masyarakat, untuk menjadi garda terdepan dalam upaya konservasi satwa liar, terutama orangutan dan habitatnya. Penemuan orangutan di area kebun warga ini menjadi pengingat pentingnya memperkuat kerjasama, terutama dengan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan habitat orangutan. Jika masyarakat yang tinggal di perbatasan habitat orangutan dapat hidup harmonis berdampingan, orangutan dapat terjaga keberlanjutannya dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.”
“Hal ini selaras dengan visi YIARI untuk menciptakan dunia di mana manusia dan satwa hidup berdampingan dalam ekosistem yang sehat. Ini juga mendukung arahan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, dalam sambutannya di upacara serah terima jabatan menteri Kehutanan yang menekankan agar kita semua memiliki spirit bagaimana menjaga keseimbangan hidup dengan alam,” tutupnya.
Kepala Balai TANAGUPA, Himawan Sasongko mengatakan “Pelepasliaran anak orangutan ini adalah bentuk harapan baru setelah kehilangan induknya akibat konflik dengan manusia. Kami berkomitmen untuk memastikan ia dapat hidup mandiri di habitat alaminya. Dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menggantikan peran induk orangutan dengan menjamin pulihnya kesehatan fisik dan psikis serta perilaku di pusat rehabilitasi dan kemudian memberikan tempat hidup yang bisa menjamin kelangsungan hidupnya, tapi yang perlu diingat adalah seberapapun hebat dan majunya pengetahuan kita, kita tidak akan pernah, sekali lagi tidak akan pernah bisa menggantikan kasih sayang induknya di alam. Melalui upaya pelepasliaran ini, kami berharap anak orangutan dapat menemukan kembali kehidupan baru di habitat alaminya serta menjadi simbol pentingnya harmoni antara manusia dan satwa liar.”
Tentang YIARI
Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran, dan pemantauan pasca lepas liar. YIARI juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara habitat, satwa, dan manusia.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
YIARI: +62 821-5346-2720 (Heribertus Suciadi, Manager Media dan Komunikasi YIARI)
Lima Prinsip Kesejahteraan Satwa yang Harus Kamu Ingat!
Pasti Sobat #KonservasYIARI mendambakan hidup sejahtera dan bebas, bukan?
Seperti halnya manusia, hewan juga merupakan makhluk hidup yang berhak menikmati kehidupan yang bebas dan sejahtera.
Kesejahteraan hewan, yang dikenal dengan lima prinsip kebebasan kesejahteraan hewan atau ‘five freedoms’, adalah suatu kondisi di mana kebutuhan alami dan esensial hewan terpenuhi secara memadai.
Konsep ini pertama kali diusulkan oleh John Webster pada tahun 1994 dan kini telah menjadi standar global minimal untuk kesejahteraan hewan.
Prinsip kesejahteraan satwa sangat penting dalam konservasi ex-situ, yaitu penanganan satwa liar yang tidak berada dalam habitat asli mereka. Prinsip ini menjadi acuan utama saat berinteraksi dengan hewan serta dalam pembuatan habitat buatan seperti kandang.
Kebanyakan, prinsip ini diterapkan oleh lembaga konservasi untuk tujuan umum seperti di kebun binatang, serta oleh lembaga spesialis seperti Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), yang fokus pada rehabilitasi primata seperti kukang, orangutan, dan berbagai jenis makaka.
Di YIARI, prinsip kesejahteraan satwa dijadikan sebagai dasar dalam proses rehabilitasi hingga pelepasliaran kembali ke alam liar.
Lalu, apa saja sebenarnya kelima prinsip kesejahteraan satwa? Dan bagaimana penerapannya di YIARI?
Untuk menjawab itu, kami berkesempatan berbincang dengan drh. Nur Purba Priambada, salah satu Dokter Hewan di YIARI. Yuk, simak penjelasannya!
1. Bebas dari lapar dan haus
Inilah prinsip pertama kesejahteraan satwa! Prinsip ini melibatkan penyediaan pakan dan air minum yang memadai, karena kedua hal ini merupakan kebutuhan dasar semua makhluk hidup, termasuk manusia, Sob!
Penting untuk memastikan jenis pakan yang diberikan sesuai dengan makanan alami dari masing-masing spesies, lengkap dengan nutrisi yang seimbang. Akses ke pakan dan air juga harus mudah, dengan penempatan yang disesuaikan dengan perilaku alami satwa.
Sebagai contoh, YIARI menyiapkan pakan untuk kukang dengan berbagai improvisasi agar pakan tersebut setidaknya mendekati makanan alami mereka, termasuk pemberian getah (meskipun getahnya instan), serangga, nektar, hingga sayuran sebagai pengganti buah hutan yang kaya serat.
Selain itu, ada juga persiapan enrichment untuk kukang, seperti madu yang dibungkus dengan daun, yang dilakukan oleh tim Animal Management di YIARI.
Persiapan penyediaan enrichment kukang, madu yang dibungkus dengan daun(Animal Management | YIARI)
Sementara itu, untuk makaka, YIARI menyediakan buah dan sayuran dengan kandungan nutrisi yang seimbang. Semua ini adalah hasil dari kajian mendalam bersama para ahli nutrisi, bertujuan untuk memastikan kesejahteraan satwa tersebut terpenuhi dengan baik.
Prinsip selanjutnya adalah memastikan satwa bebas dari rasa tidak nyaman. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan satwa terhadap tempat tinggal atau naungan atau sarang yang sesuai dengan habitat aslinya.
Selain itu, Sobat harus memerhatikan faktor lingkungan yang meliputi kelembapan, ventilasi, pencahayaan, dan temperatur. Tentu faktor lingkungan harus sesuai dengan kondisi alami habitat satwa tersebut.
Penggunaan lampu cahaya merah untuk mengurangi intensitas cahaya tinggi di kandang rehabilitasi kukang YIARI (Denny Setiawan | YIARI)
Dalam prinsip kedua ini, YIARI menyesuaikan intensitas cahaya pada kandang kukang, mengingat kukang adalah satwa nokturnal. Selain itu, YIARI menggunakan cahaya merah, yang memiliki tingkat intensitas cahaya rendah saat melakukan pengambilan gambar satwa. Hal ini dilakukan agar satwa tetap merasa aman dan nyaman.
3. Bebas dari sakit, luka, dan penyakit
Prinsip ketiga ini menekankan satwa tidak boleh terpapar pada stimulasi yang menyakitkan seperti pemukulan, penyiksaan, atau pengikatan yang terlalu kencang. Ingat, Sob, satwa juga memiliki perasaan dan mampu merasakan sakit!
Lebih lanjut, penting untuk memastikan satwa bebas dari luka, baik luka fisik maupun internal, dan terhindar dari sumber penyakit apapun. Dalam kondisi kandang atau lingkungan urban, penyakit dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk pakan yang tidak segar atau sudah busuk.
Interaksi dengan manusia juga dapat menjadi sumber penyakit, karena manusia dan satwa dapat saling menularkan penyakit, yang dikenal sebagai zoonosis.
Di YIARI, penerapan prinsip ini diwujudkan melalui pemeriksaan kesehatan secara berkala pada primata yang sedang menjalani rehabilitasi.
Pengecekan kesehatan secara berkala terhadap kukang yang dilakukan oleh Dokter Hewan di YIARI (Reza Septian | YIARI)
4. Bebas mengekspresikan perilaku alamiah
Prinsip keempat menekankan pentingnya memungkinkan satwa untuk mengekspresikan perilaku alaminya. Ini termasuk menyediakan atau menambahkan fasilitas di kandang yang mendukung pengayaan kandang, atau yang sering disebut enrichment.
Contoh dari penerapan ini adalah penyediaan enrichment harian untuk makaka, seperti rumah jamur yang memungkinkan mereka bersembunyi di kandang rehabilitasi. Sementara itu, untuk kukang, enrichment disediakan secara bulanan dengan lebih beragam, termasuk batang pohon, lorong bambu, tali ban, serta lubang-lubang pohon yang dapat digunakan sebagai tempat bersembunyi atau bermain.
Penyediaan enrichment di kandang makaka berupa rumah jamur(Animal Management | YIARI)Penyediaan enrichment lorong bambu di kandang kukang (Reza Septian | YIARI)
Selain itu, YIARI juga mengelola beberapa pulau khusus yang diperuntukkan untuk rehabilitasi orangutan. Pulau-pulau tersebut dijadikan tempat agar orangutan dapat merasakan kehidupan di alam liar dan bebas mengekspresikan perilaku alami selama masa rehabilitasi. Ini semacam simulasi kehidupan di habitat asli mereka, Sob!
Beberapa pulau yang digunakan YIARI untuk rehabilitasi orangutan termasuk Pulau Pak Ali, Pulau Setrum, Pulau Monyet, dan Pulau Rangkong.
Orangutan di pulau yang digunakan untuk rehabilitasi orangutan (Heribertus Suciadi | YIARI)
Penting juga untuk menyediakan kesempatan bereproduksi dan bersosialisasi, karena seperti manusia, satwa juga memiliki kebutuhan sosial. Di YIARI, kukang dikelompokkan dengan individu lain untuk merangsang perilaku sosial mereka, yang dapat membantu mengurangi stres yang mungkin mereka alami sebelumnya.
Selain itu, kita juga perlu memperhatikan waktu aktivitas satwa. Ada satwa yang aktif di siang hari (diurnal) dan yang aktif di malam hari (nokturnal). Penting untuk tidak mengganggu satwa di luar waktu aktif mereka, seperti memberi makan pada waktu yang salah.
Sama seperti manusia, Sobat pasti akan merasa terganggu jika dibangunkan dari istirahat, bukan?
Prinsip terakhir ini sebenarnya merupakan prinsip paling sulit untuk dipenuhi, yaitu bebas dari rasa takut dan tertekan. Prinsip ini sulit dilakukan pada satwa liar dan belum terdomestikasi.
Pada prinsip kelima, yang menjadi sumber ketakutan dari satwa justru datang dari pemelihara atau manusia. Bagi satwa, manusia adalah objek asing yang bisa menjadi ancaman. Tak hanya itu suara bising kendaraan juga bisa menyebabkan satwa tertekan.
Di YIARI, prinsip kelima ini dapat dilakukan dengan berusaha mengurangi kontak langsung antara manusia dengan satwa.
Oh iya, Sob! Karena YIARI adalah lembaga konservasi khusus, akses ke kandang rehabilitasi sangat terbatas. Hanya orang-orang yang memiliki kepentingan langsung, seperti dokter hewan dan perawat satwa, yang diizinkan masuk ke area kandang rehabilitasi di YIARI. Bahkan mereka pun harus menjalani berbagai tes kesehatan yang ketat sebelum diperbolehkan masuk, lho!
Dokter hewan dan perawat satwa sedang bertugas di kandang rehabilitasi kukang YIARI (Reza Septian | YIARI)
Pastinya, dokter hewan memiliki tugas utama untuk memeriksa kesehatan satwa dan mengamati perilaku mereka. Sementara itu, perawat satwa mendukung dokter dengan memberikan pakan, menambahkan enrichment, dan juga melakukan observasi perilaku satwa.
Bagaimana, Sob? Semoga Sobat selalu ingat akan lima prinsip kesejahteraan satwa dan menjadi lebih bijak dalam berinteraksi dengan mereka, ya👍
Memang menjadi dilema, sebab pada umumnya satwa liar hidup bebas di alam tanpa interaksi dengan manusia. Jadi, sebaiknya Sobat tidak memelihara satwa liar secara pribadi tanpa alasan yang jelas!
Teguh IG, Masy’ud B, Rachmawati E. 2010. Kajian pengelolaan kesejahteraan satwa di Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang Sumatera Selatan. Media Konservasi. 15(1):26-30.
Feature image : YIARI | Design by Elif Ivana Hendastari
Yuk Kenali Primata Indonesia dengan Status Kritis di Alam!
Kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Oleh sebab itu Sobat #KonservasYIARI harus kenal dengan primata di Indonesia yang memiliki status Critically Endangered (CR) atau kritis di alam.
Primata yang memiliki status konservasi kritis di alam menandakan bahwa primata tersebut menghadapi risiko kepunahan di waktu dekat 😭
Beberapa jenis primata di Indonesia yang saat ini memiliki status kritis menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List, yaitu kukang, tarsius, makaka, surili, simakobu, dan orangutan.
Oleh sebab itu, cara paling awal yang harus kamu lakukan untuk turut serta dalam upaya pelestarian adalah mengenali jenis primata dengan status kritis tersebut.
Yuk kita kenali jenis primata di Indonesia dengan status konservasi kritis di alam. Primata tersebut dikelompokkan ke dalam 6 kelompok atau genus ya Sob!
1. Genus Nycticebus (Kukang)
Nycticebus bancanus (Denny Setiawan | YIARI)
Nycticebus javanicus (Denny Setiawan | YIARI)
Genus yang pertama adalah Nycticebus atau kukang. Kukang ya Sobat bukan Kungkang! Kukang merupakan primata nokturnal yang secara morfologi termasuk primata kecil.
Banyak orang yang menyebutnya primata yang lucu sehingga memeliharanya, padahal ya Sobat kukang memiliki bisa di lengannya. Kukang menyalurkan bisa tersebut melalui gigitan. Gigitan kukang menyebabkan demam hingga pembengkakkan lho! 🤢
Menurut penelitian Ruskhanidar et al. (2017), terdapat 6 jenis kukang yang ada di Indonesia. Banyak sekali ya Sobat!
Dari keenam jenis tersebut, dua diantaranya memiliki status CR atau kritis di alam. Siapa saja ya Sobat? Yaitu Nycticebus bancanus dan Nycticebus javanicus.
Nycticebus bancanus dikenal dengan kukang bangka karena habitatnya endemik di Kepulauan Bangka Belitung. Jenis kukang ini memiliki garis antar mata yang lebar dan warna punggung merah kecokelatan menyala yang khas.
Selanjutnya Nycticebus javanicus yang dikenal dengan kukang jawa. Kukang jawa memiliki habitat di hutan-hutan Pulau Jawa. Kukang jawa ditemukan di hutan hujan dataran rendah hingga pegunungan dan perkebunan mulai dari Banten, provinsi paling barat, hingga Jawa Tengah. Kukang jawa memiliki warna rambut kelabu keputih-putihan. Pada punggung terdapat garis cokelat melintang dari bagian belakang tubuh hingga dahi. Rambut sekitar telinga berwarna cokelat serta di sekitar mata juga berwarna cokelat membentuk bulatan sehingga menyerupai kacamata.
Sobat, jumlah kukang bangka dan kukang jawa di alam mengalami penurunan. Hal ini disebabkan mereka kehilangan habitatnya, yaitu hutan. Selain habitatnya yang hilang mereka dijadikan hewan peliharaan dan perdagangan satwa.
2. Genus Tarsius (Tarsius)
Mungkin Sobat jarang ya mengetahui primata yang satu ini? Tarsius merupakan primata kecil yang memiliki mata besar dan bulat. Sama halnya dengan kukang, tarsius aktif di malam hari (nokturnal).
Tarsius tumpara (James Eaton | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Tarsius memiliki kepala yang unik karena mampu berputar hingga 180 derajat ke kanan dan ke kiri. Seperti burung hantu ya Sob! 😅. Makanan utama tarsius adalah serangga seperti kecoa dan jangrik namun juga memakan reptil kecil.
Di Indonesia terdapat 9 jenis tarsius, satu diantaranya memiliki status CR atau kritis di alam. Jenis tersebut adalah Tarsius tumpara.
Tarsius tumpara atau tarsius siau merupakan primata endemik Pulau Siau, Sulawesi Utara. Bukan hanya di Indonesia saja Sobat, primata ini masuk ke dalam 25 primata paling terancam punah di dunia 😭
Sama dengan jenis tarsius lainnya, tarsius siau memiliki warna tubuh abu-abu gelap dengan ekor yang panjang tidak berambut, kecuali pada bagian ujungnya.
Mengingat wilayah habitat yang terbatas, ancaman utama tarsius siau adalah erupsi gunung berapi, Gunung Karangetang. Selain itu hilangnya habitat tarsius siau karena alih fungsi lahan menjadi pemukiman.
3. Genus Macaca (Makaka)
Makaka adalah jenis monyet dengan ciri-ciri memiliki badan yang tegap, bagian bawah tubuh yang berwarna merah dan memiliki ekor panjang. Makaka cukup populer dan mudah dijumpai terutama di daerah kepulauan dengan iklim tropis. Kalau Sobat bisa sepopuler makaka tidak? 😎
Macaca nigra (msilver2 | all rights reserved | iNaturalist)
Macaca nigra (Michele Lin | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Macaca pagensis di Taman Safari, Jawa Barat (Sakurai Midori | (CC BY 3.0 DEED) | Wikimedia)
Terdapat 10 jenis makaka yang tersebar di Indonesia, namun dua diantaranya memiliki status kritis di alam 😭 Jenis tersebut adalah Macaca nigra dan Macaca pagensis.
Yaki merupakan nama lokal dari Macaca nigra yang tersebar di Sulawesi bagian utara dan beberapa pulau sekitarnya. Selain warnanya yang hitam, yaki memiliki ciri unik yaitu jambul di atas kepalanya. Ciri yang paling mencolok adalah terjadinya pembengkakkan pada bagian belakang betina (buttocks) dan berwarna kemerahan pada saat birahi.
Dari Pulau Sulawesi kita ke Pulau Sumatra, Kepulauan Mentawai habitat dari primata endemik, Macaca pagensis. Primata ini memiliki nama lokal makaka mentawai atau bokkoi. Memiliki rambut berwarna cokelat gelap pada bagian belakang sedangkan pada bagian leher, bahu, dan bagian bawah berwarna cokelat pucat. Bagian pipi bokkoi berwarna lebih gelap daripada makaka lainnya.
Yaki dan bokkoi menghadapi ancaman yaitu perburuan dan habitat yang hilang. Masih banyak masyarakat yang memburu yaki untuk dimakan. Habitat bokkoi terancam karena maraknya penebangan komersil untuk lahan perkebunan kelapa sawit.
4. Genus Presbytis (Surili)
Genus Presbytis disebut juga dengan suliri namun banyak masyarakat Indonesia yang menyebut genus ini dengan nama lutung. Walaupun surili dan lutung berada dalam famili yang sama, namun lutung merupakan sebutan untuk genus Trachypithecus ya Sobat.
Presbytis percura (IUCN Red List)
P. chrycomelas chrycomelas (Chien Lee | all rights reserved | iNaturalist)
P. chrycomelas cruciger (Burhanuddin Ihsan Alfani | all rights reserved | iNaturalist)
Di Indonesia jenis surili Presbytis potenziani,Presbytis percura, dan Presbytis chrysomelas memiliki status konservasi CR atau kritis.
Oke, kita bahas satu-satu ya Sobat! 👍
Presbytis percura merupakan surili yang hanya ditemukan di Provinsi Riau, Indonesia. P. percura pada awalnya merupakan subspesies dari P. femoralis, namun analisis genetik mengungkapkannya sebagai spesies yang berbeda.
P. percura umumnya berwarna hitam di bagian atas, dengan kepala abu-abu dan bagian bawah berwarna putih. Terdapat lingkaran mata yang tipis dan pucat.
Presbytis potenziani dengan nama lokal joja merupakan surili endemik Kepulauan Mentawai. Joja berbagi wilayah habitat dengan Macaca pagensis (makaka mentawai atau bokkoi), Simias concolor (simakobu atau monyet ekor babi), dan Hylobates klossii (owa mentawai atau bilou).
Joja memiliki ekor berwarna hitam, di bagian perut warnanya pucat hingga cokelat kemerahan, warna putih terdapat di bagian dagu, dahi dan pipi.
Presbytis chrysomelas merupakan primata endemik Kalimantan dengan 2 subspesies, yaitu P. chrycomelas chrycomelas yang seluruh warna tubuhnya hitam dan P. chrycomelas cruciger yang memiliki warna rambut pada tubuhnya dominan terdiri dari tiga warna yakni kuning, hitam dan putih.
Keberadaan surili terancam Sobat karena maraknya konversi hutan dengan perluasan perkebunan dalam beberapa tahun terakhir.
5. Genus Simias (Simakobu)
Simakobu yang memiliki nama ilmiah Simias concolor ini masuk ke dalam “The World’s 25 Most Endangered Primates” (25 Primata Paling Terancam Punah di Dunia) sama halnya dengan Tarsius tumpara ya Sobat 😣
Simakobu disebut juga dengan monyet ekor babi karena ekornya yang pendek dan sedikit berambut. Simakobu merupakan primata endemik Mentawai, Sumatra Barat. Tubuh simakobu berwarna hitam dengan hidung pesek dan terkesan menghadap ke atas.
Terdapat dua subspecies Simias concolor, yaitu Simias concolor concolor dan Simias concolor siberut. Kedua subspesies ini memiliki wilayah habitat yang berbeda. Subspesies Simias concolor concolor mendiami Pulau Pagai Selatan, Pagai Utara, dan Sipora. Sedangkan subspesies Simias concolor siberut hanya dapat ditemui di Pulau Siberut.
Populasi simakobu mengalami penurunan akibat perburuan liar dan rusaknya habitat. Hal ini sangat mengancam keberadaan simakobu yang merupakan satwa endemik Kepulauan Mentawai.
6. Genus Pongo (Orangutan)
Genus Pongo merupakan kelompok orangutan si kera besar satu-satunya yang berada di Indonesia. Namun, seluruh spesies pada genus ini kritis di alam Sobat! 😭
Kira-kira Sobat bisa melihat perbedaan dari ketiga jenis orangutan tidak? 🤔 Yuk kita simak perbedaan dari ketiga spesies orangutan ini!
(Rudiansyah | YIARI)
(andraescholz | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
(Farhan Adyn | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Spesies
Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus)
Orangutan sumatera(Pongo abelii)
Orangutan tapanuli(Pongo tapanuliensis)
Habitat
Hutan Kalimantan
Hutan Sumatra
Hutan Sumatra
Ciri Warna
Warna rambut panjang dan kusut dengan warna merah gelap kecokelatan.
Warna rambut cenderung lebih terang berwarna cokelat agak jingga.
Warna rambut yang lebih tebal dan keriting dengan kumis dan jenggot yang menonjol.
Bantalan pipi jantan
Bantalan pipi melebar yang menyebabkan wajahnya terlihat bulat dan memiliki ukuran paling besar.
Kantung pipi yang lebih panjang pada orangutan jantan.
Bantalan pipinya cenderung datar dan ditumbuhi rambut halus berwarna pirang.
Keselamatan orangutan sangat terancam oleh kehilangan habitat hutan yang terus dibabat dalam skala besar untuk perkebunan yang masing-masing dapat mencakup ratusan kilometer persegi.
Sekarang Sobat sudah kenal ya dengan primata di Indonesia yang memiliki status konservasi kritis di alam 👍
Semoga Sobat bisa turut serta membantu upaya pelestarian mereka ya, dengan membaca dan menyebarkan informasi ini sudah dapat membantu mereka, loh. Jadi jangan lupa bagikan informasi ini juga ya!
Dalam memperingati Hari Primata Indonesia tahun 2024 yang jatuh pada tanggal 30 Januari, semoga primata di Indonesia dapat terus lestari ya Sobat!
SELAMAT HARI PRIMATA INDONESIA! PRIMATA KITA LUAR BIASA!
International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List
Ruskhanidar, Maulana VS, Loe FR. Spesies dan Sebaran Satwa Primata di Indonesia. Jurnal Primatologi Indonesia. 14(1):3-8.
Feature image : Design by Elif Ivana Hendastari
Ketahui 4 Langkah Bijak ketika Bertemu Orangutan Liar
Halo, Sobat #KonservasYIARI!
Bertemu dengan orangutan liar mungkin dapat menjadi pengalaman yang unik dan langka. Namun tidak menutup kemungkinan akan terjadi konflik antara manusia dengan orangutan ketika bertemu baik secara sengaja, maupun tidak sengaja.
Seperti kasus yang terjadi di Ketapang, Kalimantan Barat pada September 2023 lalu. Seekor orangutan tiba-tiba datang menyerang warga yang sedang mengangkut buah sawit di kebun miliknya. Hal tersebut diduga terjadi karena habitat orangutan terbakar.
Orangutan tersebut membuat warga mengalami luka gigitan di sekujur tubuh dan harus mendapat perawatan intensif. Oleh karena itu, kita butuh kehati-hatian dan pemahaman yang tepat[1] untuk menjaga keamanan diri kita terhadap orangutan.
Berikut adalah 4 langkah bijak yang dapat kita lakukan ketika bertemu orangutan liar!
Menurut penelitian, orangutan liar jarang sekali berperilaku agresif dan menyerang manusia. Selama manusia tidak mengganggu habitat dan teritorinya, orangutan tidak akan menyerang dan berkonflik dengan manusia.
Jadi, tetap tenang ya, Sobat! Hindari membuat suara keras atau tindakan yang dapat membuat orangutan merasa terganggu.
2. Menjauh Perlahan
Langkah yang harus ditempuh ketika bertemu orangutan di ladang adalah menjauh perlahan. Dengan itu mereka tidak akan menghampiri kita. (TIM OPU | YIARI)
Setiap orangutan memiliki teritori untuk mencukupi kehidupannya. Jika bertemu mereka di alam bebas, sebaiknya kita menjaga jarak aman sekitar 10-15 meter, kemudian menjauh dan pergi dari lokasi tersebut secara perlahan. Dengan begitu, kita telah membiarkan mereka hidup dengan tenang di habitatnya!🌳🌿
3. Tidak Melakukan Gerakan Tiba-Tiba
Meski tampak tenang, penting bagi kita untuk tidak bergerak secara tiba-tiba ketika bertemu orangutan supaya tidak memancing agresivitasnya. (Rudiansyah | YIARI)
Orangutan merupakan satwa liar yang sangat sensitif, sehingga kita sebaiknya tidak membuat keributan, mengambil gambar dengan flash, dan membuat gerakan tiba-tiba. Janganlah berlari, berteriak, apalagi memukul, mengusir dan melempari orangutan ketika bertemu dengan mereka.
Jangan sampai kita membuat mereka merasa terancam ya, Sobat!
4. Segera Lapor ke Petugas Pemerintahan
BKSDA terkait dapat dihubungi supaya orangutan yang ditemukan dapat segera dievakuasi (Tim Media | YIARI)
Orangutan biasanya masuk ke lahan warga saat makanan yang disukainya sedang musim, seperti musim buah durian, petai, dan mayang aren. Apabila kita menemukan orangutan liar di sekitar pemukiman warga, segera lapor ke petugas pemerintahan seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) atau Taman Nasional terdekat kita ya, Sobat!
Meskipun orangutan tidak akan menyerang warga jika tidak merasa terdesak, orangutan tidak seharusnya ditemukan di sekitar pemukiman dan harus kembali ke habitat aslinya. Pelaporan penemuan orangutan liar dapat dilakukan melalui call center BKSDA yang dapat diakses di link berikut ya, Sobat KonservasYIARI !
Nah, itulah 4 langkah bijak yang dapat kita lakukan jika bertemu dengan orangutan liar!
Dengan melakukan langkah tersebut, kita telah berkontribusi untuk menjaga orangutan beserta lingkungan alaminya. Apalagi orangutan sangat rentan terhadap kepunahan sebab memiliki laju reproduksi yang sangat lambat.
Ingat ya, Sobat! mengagumi tidak harus memiliki. Cukup kagumi dari jauh dan biarkan orangutan hidup bebas di habitatnya agar mereka tetap ada di generasi mendatang.
Referensi:
Hastari, B., & Girsang, S. R. M. (2019). Partisipasi Pelaku Ekowisata Dalam Upaya Konservasi di Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah. Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan, 6(2), 105-116.
Hockings, K., & Humle, T. (2010). Panduan Pencegahan dan Mitigasi Konflik antara Manusia dan Kera Besar. Switzerland: IUCN, Species Survival Commission.
Marshall, A. J., Lacy, R., Ancrenaz, M., Byers, O., Husson, S. J., Leighton, M., … & Wich, S. A. (2009). Orangutan population biology, life history, and conservation. Orangutans: Geographic variation in behavioral ecology and conservation, 311-326.
Siregar, D. I., Zaitunah, A., & Patana, P. (2015). Pemetaan daerah rawan konflik orangutan sumatera (Pongo abelii) dengan manusia di desa sekitar Cagar Alam Dolok Sibual-Buali. Peronema forestry science journal, 4(1), 120-133.
Hafiza Rizki Nurbaiti
Mengantar 6 Orangutan Pasca Rehabilitasi Kembali ke TNBBBR
Balai KSDA Kalimantan Barat bersama Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) dan didukung oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Ketapang kembali melakukan pelepasliaran 6 (enam) individu orangutan di TNBBBR wilayah kerja Resort Mentatai, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Nanga Pinoh, Pontianak, 26 Juni 2023.
Keenam individu orangutan yang dilepasliarkan ini merupakan orangutan yang dititipkan untuk dirawat di Balai KSDA Kalbar di Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI Ketapang dengan rentang waktu tahun 2012 hingga tahun 2020.
Pelepasliaran orangutan ini merupakan langkah penting dalam upaya pelestarian satwa liar dilindungi, serta pemulihan populasi orangutan di alam. Selain itu, kegiatan ini menjadi puncak dari penyelamatan orangutan yang dimulai dari proses rehabilitasi sampai pada tahap mengembalikan orangutan ke habitatnya di alam.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, RM Wiwied Widodo dalam keterangannya menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam upaya pelestarian orangutan yang merupakan salah satu satwa endemik Kalimantan.
“Upaya memulangkan orangutan ke habitat aslinya dengan kondisi kesehatan satwa yang baik, perilaku dan sifat keliarannya yang sudah kembali normal merupakan proses yang panjang dan tentunya tidak mudah. Sudah sepatutnya kita sebagai manusia untuk tidak memelihara dan memenjarakan orangutan dalam kandang hanya karena keegoisan semata. Biarkan mereka hidup bebas untuk menjaga keseimbangan di alam” jelasnya.
Tim pelepasliaran beserta para orangutan yang akan dilepasliarkan dalam perjalanan menuju lokasi pelepasliaran menggunakan speedboat (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
Rangkaian kegiatan pelepasliaran dimulai sejak dari lokasi rehabilitasi YIARI Ketapang pada tanggal 22 Juni 2023, sampai tanggal 26 Juni 2023 saat dimana ke-enam individu orangutan dilepasliarkan di lokasi pelepasliaran. Ke-enam individu orangutan yang dilepasliarkan terdiri dari 1 (satu) individu jantan dan 5 (lima) individu betina.
Sebelum dilakukan pelepasliaran, semua individu orangutan tersebut telah selesai menjalani proses rehabilitasi, kajian medis, dan perilaku sehingga dapat dipastikan semuanya dalam kondisi sehat dan siap untuk dilepasliarkan.
Selaras dengan hal tersebut Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Andi Muhammad Kadhafi, dalam keterangannya menyampaikan jika Pelepasliaran 6 (enam) individu Orangutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya merupakan salah satu bentuk kolaborasi antara Balai KSDA Kalimantan Barat selaku management authority pengelolaan tumbuhan dan satwa liar dengan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR), serta didukung oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).
Orangutan bernama “Faini” sebagai induk asuh dan anak asuhnya, “Covita” saat dilepasliarkan (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
“Pelepasliaran kali ini merupakan yang kesekian kalinya sejak tahun 2016. Hingga saat ini telah berhasil dilepasliarkan sebanyak 69 (enam puluh sembilan) individu orangutan hasil rehabilitasi di kawasan ini. Melalui kegiatan ini tentunya diharapkan dapat meningkatkan sebaran populasi orangutan di habitat alaminya khususnya di TNBBBR,” ujarnya.
Ia pun menjelaskan jika salah satu capaian penting dari hasil pelepasliaran adalah termonitornya kelahiran 5 (lima) individu orangutan di kawasan ini. Hal ini mengindikasikan bahwa TNBBBR merupakan salah satu habitat yang sesuai untuk orangutan hingga mereka mampu beradaptasi bahkan bereproduksi. Selanjutnya ia pun mengapresiasi dukungan dari seluruh pihak terkait hingga kegiatan pelepasliaran ini berjalan lancar. Melalui dukungan para pemangku kepentingan pula kami akan berupaya terus menjaga kelestarian Orangutan Kalimantan yang saat ini berstatus Sangat Terancam Punah khususnya di dalam kawasan TNBBBR.
“Mari kita bersama menjaga kelestarian satwa liar dilindungi, kelestarian hutan berikut isinya demi anak cucu kita,” serunya.
“Budi”, satu-satunya orangutan jantan yang dilepasliarkan berumur ± 11 (sebelas) tahun, merupakan orangutan yang berasal dari hasil penyelamatan di daerah Kubing, Dusun Sawah Sempurna, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang. “Budi” telah menjalani proses rehabilitasi sejak bulan Desember 2014. Sedangkan lima individu orangutan betina yang dilepasliarkan adalah “Tulip”, “Bianca”, “Jamilah”, “Faini”, dan “Covita”.
“Budi”, satu-satunya orangutan jantan yang dilepasliarkan (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
“Tulip” orangutan peliharaan warga di Jl. H. Agus Salim No. 7 Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang. Orangutan “Tulip” diperkirakan berumur ± 13 tahun dan telah menjalani proses rehabilitasi sejak 5 April 2012.
Orangutan “Bianca”, merupakan orangutan betina berumur ± 7 tahun berasal dari hasil penyelamatan Balai KSDA Kalimantan Barat di daerah Desa Randau Jungkal Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang pada tanggal 5 Oktober 2016. “Jamilah”, merupakan orangutan betina berumur ± 9 tahun berasal dari daerah Sandai Kabupaten Ketapang dan telah dititiprawatkan di Pusat Rehabilitasi YIARI Ketapang sejak 24 Februari 2016.
Orangutan betina ke-empat yang dilepasliarkan adalah orangutan “Faini”, orangutan betina berumur ± 10 tahun ini berasal dari daerah Desa Randau Jekak, Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang. Orangutan ini diselamatkan BKSDA Kalimantan Barat karena terjadi interaksi negatif antara manusia dengan orangutan pada tanggal 17 Desember 2015. Sedangkan orangutan “Covita” merupakan orangutan betina berumur ± 6 tahun hasil penyelamatan BKSDA Kalimantan Barat di Desa Krio Hulu, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang pada tanggal 29 Agustus 2020.
Sebelum rangkaian kegiatan pelepasliaran, BKSDA Kalimantan Barat telah mendapatkan persetujuan dari Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: S.374/KKHSG/PSG2/KSA.2/06/2023 perihal Rekomendasi Pelepasliaran Orangutan.
Dipilihnya TNBBBR SPTN Wil I Nanga Pinoh Resort Mentatai menjadi lokasi pelepasliaran karena kondisi kawasan dan hutannya sesuai dengan tipe habitat untuk orangutan, serta mempunyai kelimpahan pohon pakan untuk orangutan yang mencukupi. Walaupun aksesibilitas menuju lokasi pelepasliaran cukup berat, di sisi lain kondisi tersebut menguntungkan bagi keamanan ke-enam individu orangutan yang dilepasliarkan.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, RM Wiwied Widodo, dalam keterangan penutupnya menyampaikan, “Melalui pelaksanaan kegiatan pelepasliaran orangutan di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya ini, kita berharap orangutan yang sampai saat ini masih menyandang status konservasi Critically Endangered (CR) menurut data IUCN dapat meningkat populasinya serta terjaga kelestariannya di alam”.
YIARI sebagai mitra Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan pelepasliaran ini. “Kami sangat bersyukur, kegiatan pelepasliaran 6 individu orangutan ini dapat berjalan baik dan sesuai rencana, terutama di tengah kondisi cuaca yang memasuki musim kemarau dan perubahan iklim yang sangat memengaruhi, terutama dengan mulai datangnya fenomena El Nino di bulan Juni ini. Di sinilah, kemitraan multi pihak diperlukan untuk menjaga kawasan hutan, karena pekerjaan kita tidak hanya berhenti pada mengantarkan satwa liar kembali ke habitatnya, namun juga memastikan rumah mereka tetap aman dan lestari,” ujar Silverius Oscar Unggul, Ketua Umum YIARI.
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.