Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang Pada 4 Pulau di Indonesia: Ancaman dan Harapan

 

Monyet ekor panjang dengan nama ilmiah Macaca fascicularis, termasuk salah satu primata yang tersebar luas di Indonesia. Bahkan, beberapa subspesiesnya hanya ditemukan di pulau-pulau kecil dan kini tengah menghadapi tekanan serius.

Untuk mengungkap kondisi terbaru spesies tersebut, Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan bersama YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia)  menyelenggarakan Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang Pada Empat Pulau di Indonesia pada 18 Maret 2025.

Apa saja hasil penting dari seminar ini terkait konservasi monyet ekor panjang? Berikut rangkumannya.

Hasil dan Dampak Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang pada 4 Pulau di Indonesia

Latar Belakang dan Pelaksanaan Survei

Bertempat di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, seminar hybrid ini menghadirkan akademisi dan organisasi konservasi untuk membahas hasil survei cepat Monyet Ekor Panjang (MEP) yang dilakukan oleh YIARI bersama Ditjen. KSDAE Kemenhut, BKSDA Aceh, BKSDA Kalimantan Timur, dan BTN Karimunjawa.

Survei dilaksanakan pada Mei hingga Juli 2023 di empat lokasi, yaitu Pulau Simeulue, Pulau Lasia, Taman Nasional Karimunjawa, dan Pulau Maratua. Keempat pulau tersebut diketahui merupakan habitat bagi subspesies monyet ekor panjang yang memiliki ciri morfologi khas serta sebaran geografis yang sangat terbatas.

Minimnya data ilmiah mengenai populasi dan distribusi mereka menjadikan wilayah-wilayah ini sebagai prioritas dalam konservasi primata di Indonesia. Selain itu, status taksonomi keempat subspesies tersebut belum didukung oleh data molekuler yang memadai. Karena itu, survei ini menjadi langkah penting untuk mendukung upaya konservasi yang lebih terarah dan berbasis bukti ilmiah.

Temuan Survei dan Dampaknya terhadap Strategi Konservasi

Bapak Silverius Oscar Unggul memberikan sambutan di atas mimbar (Hasna Latifatunnisa|YIARI)

 

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menekankan bahwa survei ini memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi populasi monyet ekor panjang di wilayah-wilayah yang selama ini kurang mendapatkan perhatian.

Data yang dihasilkan menjadi referensi penting bagi pemerintah, akademisi, dan organisasi konservasi dalam menyusun strategi pelestarian jangka panjang.

Penelitian lanjutan, terutama dalam bidang studi genetik dan konservasi Macaca, sangat dibutuhkan untuk memperdalam pemahaman ilmiah sekaligus menyempurnakan pendekatan konservasi yang diterapkan.

Salah satu komponen penting dalam menjaga keberlangsungan hidup monyet ekor panjang di alam liar adalah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat guna menumbuhkan kesadaran kolektif.

Seminar ini diharapkan dapat membentuk komitmen bersama dalam memperkuat perlindungan monyet ekor panjang di habitat alaminya, serta menghasilkan rekomendasi konkret untuk meningkatkan efektivitas konservasi melalui sinergi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan kalangan akademisi.

Hasil diskusi ini diharapkan menjadi landasan kebijakan konservasi yang lebih kokoh, berbasis data ilmiah, dan mampu mendorong upaya pelestarian ke depan.

Namun, strategi yang disusun tidak akan efektif tanpa pemahaman mendalam terhadap berbagai ancaman nyata yang dihadapi spesies ini di lapangan.

Ancaman Serius terhadap Monyet Ekor Panjang

Dalam kesempatan yang sama, Silverius juga menyoroti berbagai ancaman serius yang dihadapi monyet ekor panjang, terutama akibat praktik pemeliharaan ilegal dan meningkatnya konflik dengan manusia.

Permintaan untuk menjadikan monyet sebagai hewan peliharaan eksotis terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Penangkapan dari alam liar tidak hanya membahayakan individu yang diambil tetapi juga induk dari bayi monyet ekor panjang yang dibunuh dengan tragis, selain itu juga merusak struktur sosial kelompoknya di habitat asli.

Penyiksaan terhadap monyet ekor panjang pun sering terjadi, membuat mereka hidup dalam kondisi yang tidak sesuai dengan standar kesejahteraan satwa. Padahal, setiap satwa berhak atas 5 Freedoms atau Lima Kebebasan yang harus dipenuhi untuk memastikan kualitas hidup satwa. Kebebasan tersebut mencakup: bebas dari lapar dan haus, ketidaknyamanan, sakit dan cedera, bebas berperilaku alami, serta bebas dari stres dan ketakutan.


Tanpa upaya perlindungan yang segera dan terkoordinasi, populasi monyet ekor panjang di pulau-pulau kecil terancam terus menurun dan menghadapi risiko kepunahan.

Menyadari urgensi ancaman tersebut, berbagai pihak kini mendorong penguatan upaya konservasi yang lebih terstruktur dan berbasis data.

Harapan dan Upaya Konservasi Berbasis Data

Narasumber dan MC duduk di atas panggung saat seminar tengah berlangsung (Hasna Latifatunnisa|YIARI)

 

Dalam konteks itulah, Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang pada Empat Pulau di Indonesia menjadi momentum penting dalam merumuskan langkah konservasi yang lebih ilmiah dan sistematis.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik, Nunu Anugrah S.Hut., M.Sc., menyampaikan bahwa prioritas kegiatan konservasi spesies ke depan akan difokuskan pada pendekatan Red List IUCN (Daftar Merah IUCN), sebuah instrumen penting untuk memantau perubahan status konservasi spesies dari waktu ke waktu.

Pendekatan ini dinilai krusial karena mampu membantu memahami dinamika populasi satwa secara ilmiah, dan menjadi dasar dalam merancang kebijakan konservasi yang lebih tepat sasaran dan berbasis sains.

Slide presentasi IUCN Red List yang ditampilkan pada layar proyektor (Hasna Latifatunnisa|YIARI)



Sebagai bagian dari penguatan kapasitas nasional, Kementerian Kehutanan bersama BRIN dan ID SSG IUCN tengah merumuskan pembentukan lembaga atau komite nasional yang akan berperan dalam melakukan asesmen mandiri terhadap status keterancaman spesies di Indonesia.

Harapannya, hasil dari Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang pada 4 Pulau di Indonesia dapat menjadi acuan strategis bagi investasi konservasi yang lebih terstruktur dan sistematis, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

YIARI juga aktif mengembangkan program konservasi monyet ekor panjang, dengan perhatian khusus pada isu zoonosis, kesejahteraan satwa, serta mitigasi konflik antara manusia dan satwa. 

Pendataan populasi monyet ekor panjang dan beruk di wilayah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan juga terus dilakukan sebagai dasar penguatan strategi perlindungan.

Langkah-langkah ini menjadi bukti bahwa konservasi monyet ekor panjang membutuhkan kolaborasi lintas sektor, berbasis ilmu pengetahuan, dan dilandasi komitmen jangka panjang.

Dukung Bersama Kelangsungan Hidup Monyet Ekor Panjang

Para peserta yang hadir langsung pada seminar hybrid hasil survei cepat monyet ekor panjang pada 4 pulau di Indonesia (Hasna Latifatunnisa|YIARI)

 

Seminar Hasil Survei Cepat Monyet Ekor Panjang pada 4 Pulau di Indonesia memberikan pemahaman lebih dalam tentang berbagai tantangan yang mengancam keberlangsungan hidup spesies ini.

Perlindungan mereka membutuhkan dukungan nyata dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga organisasi konservasi.

Berikut beberapa langkah yang dapat kita upayakan bersama:

1. Hindari Memelihara Satwa Liar

Monyet ekor panjang adalah satwa liar yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Memelihara mereka sebagai hewan peliharaan justru merusak struktur sosial kelompoknya dan mempercepat penurunan populasi di alam.

2. Meningkatkan Kesadaran Tentang Bahaya Eksploitasi Satwa

Salah satu tantangan utama dalam konservasi adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap dampak perdagangan satwa liar. Edukasi mengenai pentingnya melindungi satwa dapat mengurangi permintaan terhadap monyet ekor panjang sebagai hewan peliharaan.

3. Menyebarkan Informasi Tentang Pentingnya Konservasi

Semakin banyak orang mengetahui pentingnya melindungi spesies yang terancam punah, semakin besar pula dampaknya. Penyebaran informasi yang edukatif dan akurat dapat menumbuhkan kepedulian dan peran serta masyarakat dalam upaya pelestarian.

YIARI terus mengembangkan berbagai program konservasi monyet ekor panjang melalui riset, edukasi, dan kolaborasi dengan berbagai pihak.

Dukungan dari seluruh lapisan masyarakat sangat penting untuk menjaga keberadaan spesies ini di alam liar.

Yuk, ambil bagian dalam upaya pelestarian. Sebarkan informasi ini agar semakin banyak orang yang peduli dan turut menjaga monyet ekor panjang dari eksploitasi dan kepunahan.

Beragam Bentuk Enrichment Makaka, Unik Banget!

Sobat #KonservasYIARI suka mengamati lingkungan sekitar gak? Atau pernah ikut pengamatan satwa? Kalau masa liburan mau berakhir, pasti Sobat #KonservasYIARI juga melakukan persiapan untuk kembali melakukan kegiatan seperti semula ‘kan? Yang masih bersekolah menyiapkan peralatan sekolahnya, yang bekerja mungkin menyiapkan fisik dan mentalnya untuk kembali berutinitas. Begitu juga satwa di pusat rehabilitasi nih Sob. Dibantu oleh para perawat satwa, para satwa di pusat rehabilitasi pun melakukan persiapan sebelum dilepasliarkan ke alam. Salah satu persiapannya disebut dengan enrichment. 

Kandang enrichment tematik tema alam yang dilengkapi dengan hammock, air terjun, tali tambang untuk berayun, serta rolling ball yang diisi dengan biji-bijian (Ruli | Yayasan IAR Indonesia).
Enrichment? Apa tuh?

Singkatnya, enrichment atau pengayaan merupakan upaya seperti pemberian fasilitas, dan pakan tambahan, juga modifikasi cara pemberian dan jenis pakan tambahan.

Tapi tapi tapi, hal ini tujuannya agar apa sih?

Ada beberapa nih, di antaranya agar:

  1. Satwa di pusat rehabilitasi dapat lebih enjoy menghabiskan waktunya
  2. Mengurangi tingkat kebosanan atau kejenuhan satwa di kandang, sehingga makaka lebih aktif melakukan kegiatan seperti mencari makan
  3. Mengurangi karakter perilaku abnormal (perilaku yang tidak biasa muncul pada satwa liar di alam, umumnya merupakan indikator respon stres ketika dipiara di kandang)
  4. Membantu mempercepat pemulihan stres
  5. Menimbulkan kembali sifat (perilaku) dan naluri alami  satwa yang sedang menjalani pemulihan di pusat rehabilitasi

Jadi, enrichment ini seperti pembekalan untuk para satwa sebelum dilepasliarkan kembali ke alam gitu deh.

Kami juga pernah bahas sedikit terkait enrichment untuk satwa liar di pusat rehabilitasi, boleh disimak juga melalui kedua tautan dibawah ini ya!

Belajar Adaptasi dengan Enrichment

Enrichment Makanan Bantu Monyet Ekor Panjang Berperilaku Alami

Lalu, enrichment ada jenisnya gak ya?

Berdasarkan Smithsonian Institute, ada lima tipe enrichment yang bisa diberikan pada hewan, yaitu enrichment habitat, kognitif, sensorik, pakan, serta mainan.

Tak jarang juga ada gabungan dari tipe enrichment tersebut. Enrichment pakan yang diberikan juga bisa disebut dengan food based enrichment, yaitu pemberian pakan yang divariasikan seperti meletakkan pakan dalam wadah yang digantung pada ranting-ranting pohon, sehingga dapat melatih insting berburu dan mencegah terjadinya perilaku abnormal atau stres pada satwa (Kuntum et al. 2020).

Kalau di pusat rehabilitasi YIARI sendiri, enrichment dibagi menjadi dua yaitu, enrichment harian dan enrichment tematik atau enrichment lingkungan. Enrichment tematik merupakan proses pemberian enrichment dinamis untuk meningkatkan pengayaan lingkungan satwa, perubahan lingkungan, meningkatkan pilihan-pilihan enrichment untuk kesejahteraan satwa di kandang rehabilitasi YIARI. Jadi, enrichment tematik ini bisa meliputi enrichment habitat, kognitif, sensorik, serta mainan. Kalau enrichment harian, merupakan enrichment yang diberikan setiap harinya. Ada juga tambahan enrichment bulanan berupa dedaunan yang diletakkan di atas kandang setiap bulannya.

Wah menarik, tapi enrichment yang diberikan satwa sebetulnya berupa apa sih? Ada contoh fotonya gak ya?

Penasaran kan? Ada dong! Kita bahas enrichment hariannya dulu ya! Untuk makaka, berikut jadwal enrichment harian yang diberikan oleh para perawat satwa secara rutin setiap harinya pukul 8 nih Sobat #KonservasYIARI!

Enrichment harian sesuai jadwalnya (Amun Nawawi | Yayasan IAR Indonesia)

Enrichment harian tersebut diantaranya ialah:

  • Biji-bijian yang diletakkan pada serbuk kayu (Senin)
  • Pipa yang diisi madu atu yoghurt (Selasa)
  • Biji-bijian yang dimasukkan ke dalam pipa shake (Rabu)
  • Kotak kawat yang diisi dengan daun yang kemudian diletakkan di dalam atau di luar kandang (Kamis)
  • Bola (rolling ball) yang diisi dengan biji-bijian (Jumat)
  • Daun seperti daun kaliandra, bambu, atau daun lainnya yang diletakkan di dalam atau di luar kandang (Sabtu)
  • Serta enrichment harian pada hari Minggu, pipa yang diisi dengan sirup atau yoghurt (Minggu).
Teratur banget ya enrichment hariannya, kalau enrichment tematiknya seperti apa ya?

Untuk saat ini kandang untuk enrichment tematik yang aktif digunakan ada beberapa tema, juga dengan alat yang beragam di dalam kandangnya, yuk langsung intip!

Beberapa makaka sedang bermain di atas roda treadmill (Ruli | Yayasan IAR Indonesia)
Kandang enrichment tema tersembunyi dengan rumah jamur untuk bersembunyi (Ruli | Yayasan IAR Indonesia)
Enrichment tematik dengan tema taman bermain dengan beragam alat untuk bermain (Ruli | Yayasan IAR Indonesia)

Jadi, kurang lebih begitulah sekilas informasi terkait enrichment makaka yang penulisannya dibantu oleh Kang Ruli atau yang biasa dipanggil Jubel, selaku perawat satwa yang bertanggung jawab terhadap enrichment makaka. Nah, Sobat #KonservasYIARI sudah sedikit lebih paham tentang enrichment Makaka kan? Next time bahas apalagi ya? Bahas enrichment kukang seru kaliya?👀

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Referensi:
Gakkum MenLHK. 2020. Buku Panduan Penanganan (Handling) Satwa Primata.
https://gakkum.menlhk.go.id/assets/filepublikasi/Buku_Panduan_Penanganan_(Handling)_Satwa-Primata_Final_ok.pdf
Kebun Binatang Nasional dan Institut Biologi Konservasi Smithsonian, https://nationalzoo.si.edu/animals/animal-enrichment
Kuntum R, Yusuf R, Darusman HS. 2020. Evaluasi Manajemen Pemeliharaan terhadap Endoparasit Saluran Pencernaan pada Kukang Sumatera (Nycticebus coucang). Jurnal Primatologi Indonesia. 17 (1): 22-27.

Fathia Rosatika