Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Yuk Kenali Primata Indonesia dengan Status Kritis di Alam!
Kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Oleh sebab itu Sobat #KonservasYIARI harus kenal dengan primata di Indonesia yang memiliki status Critically Endangered (CR) atau kritis di alam.
Primata yang memiliki status konservasi kritis di alam menandakan bahwa primata tersebut menghadapi risiko kepunahan di waktu dekat 😭
Beberapa jenis primata di Indonesia yang saat ini memiliki status kritis menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List, yaitu kukang, tarsius, makaka, surili, simakobu, dan orangutan.
Oleh sebab itu, cara paling awal yang harus kamu lakukan untuk turut serta dalam upaya pelestarian adalah mengenali jenis primata dengan status kritis tersebut.
Yuk kita kenali jenis primata di Indonesia dengan status konservasi kritis di alam. Primata tersebut dikelompokkan ke dalam 6 kelompok atau genus ya Sob!
1. Genus Nycticebus (Kukang)
Nycticebus bancanus (Denny Setiawan | YIARI)
Nycticebus javanicus (Denny Setiawan | YIARI)
Genus yang pertama adalah Nycticebus atau kukang. Kukang ya Sobat bukan Kungkang! Kukang merupakan primata nokturnal yang secara morfologi termasuk primata kecil.
Banyak orang yang menyebutnya primata yang lucu sehingga memeliharanya, padahal ya Sobat kukang memiliki bisa di lengannya. Kukang menyalurkan bisa tersebut melalui gigitan. Gigitan kukang menyebabkan demam hingga pembengkakkan lho! 🤢
Menurut penelitian Ruskhanidar et al. (2017), terdapat 6 jenis kukang yang ada di Indonesia. Banyak sekali ya Sobat!
Dari keenam jenis tersebut, dua diantaranya memiliki status CR atau kritis di alam. Siapa saja ya Sobat? Yaitu Nycticebus bancanus dan Nycticebus javanicus.
Nycticebus bancanus dikenal dengan kukang bangka karena habitatnya endemik di Kepulauan Bangka Belitung. Jenis kukang ini memiliki garis antar mata yang lebar dan warna punggung merah kecokelatan menyala yang khas.
Selanjutnya Nycticebus javanicus yang dikenal dengan kukang jawa. Kukang jawa memiliki habitat di hutan-hutan Pulau Jawa. Kukang jawa ditemukan di hutan hujan dataran rendah hingga pegunungan dan perkebunan mulai dari Banten, provinsi paling barat, hingga Jawa Tengah. Kukang jawa memiliki warna rambut kelabu keputih-putihan. Pada punggung terdapat garis cokelat melintang dari bagian belakang tubuh hingga dahi. Rambut sekitar telinga berwarna cokelat serta di sekitar mata juga berwarna cokelat membentuk bulatan sehingga menyerupai kacamata.
Sobat, jumlah kukang bangka dan kukang jawa di alam mengalami penurunan. Hal ini disebabkan mereka kehilangan habitatnya, yaitu hutan. Selain habitatnya yang hilang mereka dijadikan hewan peliharaan dan perdagangan satwa.
2. Genus Tarsius (Tarsius)
Mungkin Sobat jarang ya mengetahui primata yang satu ini? Tarsius merupakan primata kecil yang memiliki mata besar dan bulat. Sama halnya dengan kukang, tarsius aktif di malam hari (nokturnal).
Tarsius tumpara (James Eaton | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Tarsius memiliki kepala yang unik karena mampu berputar hingga 180 derajat ke kanan dan ke kiri. Seperti burung hantu ya Sob! 😅. Makanan utama tarsius adalah serangga seperti kecoa dan jangrik namun juga memakan reptil kecil.
Di Indonesia terdapat 9 jenis tarsius, satu diantaranya memiliki status CR atau kritis di alam. Jenis tersebut adalah Tarsius tumpara.
Tarsius tumpara atau tarsius siau merupakan primata endemik Pulau Siau, Sulawesi Utara. Bukan hanya di Indonesia saja Sobat, primata ini masuk ke dalam 25 primata paling terancam punah di dunia 😭
Sama dengan jenis tarsius lainnya, tarsius siau memiliki warna tubuh abu-abu gelap dengan ekor yang panjang tidak berambut, kecuali pada bagian ujungnya.
Mengingat wilayah habitat yang terbatas, ancaman utama tarsius siau adalah erupsi gunung berapi, Gunung Karangetang. Selain itu hilangnya habitat tarsius siau karena alih fungsi lahan menjadi pemukiman.
3. Genus Macaca (Makaka)
Makaka adalah jenis monyet dengan ciri-ciri memiliki badan yang tegap, bagian bawah tubuh yang berwarna merah dan memiliki ekor panjang. Makaka cukup populer dan mudah dijumpai terutama di daerah kepulauan dengan iklim tropis. Kalau Sobat bisa sepopuler makaka tidak? 😎
Macaca nigra (msilver2 | all rights reserved | iNaturalist)
Macaca nigra (Michele Lin | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Macaca pagensis di Taman Safari, Jawa Barat (Sakurai Midori | (CC BY 3.0 DEED) | Wikimedia)
Terdapat 10 jenis makaka yang tersebar di Indonesia, namun dua diantaranya memiliki status kritis di alam 😭 Jenis tersebut adalah Macaca nigra dan Macaca pagensis.
Yaki merupakan nama lokal dari Macaca nigra yang tersebar di Sulawesi bagian utara dan beberapa pulau sekitarnya. Selain warnanya yang hitam, yaki memiliki ciri unik yaitu jambul di atas kepalanya. Ciri yang paling mencolok adalah terjadinya pembengkakkan pada bagian belakang betina (buttocks) dan berwarna kemerahan pada saat birahi.
Dari Pulau Sulawesi kita ke Pulau Sumatra, Kepulauan Mentawai habitat dari primata endemik, Macaca pagensis. Primata ini memiliki nama lokal makaka mentawai atau bokkoi. Memiliki rambut berwarna cokelat gelap pada bagian belakang sedangkan pada bagian leher, bahu, dan bagian bawah berwarna cokelat pucat. Bagian pipi bokkoi berwarna lebih gelap daripada makaka lainnya.
Yaki dan bokkoi menghadapi ancaman yaitu perburuan dan habitat yang hilang. Masih banyak masyarakat yang memburu yaki untuk dimakan. Habitat bokkoi terancam karena maraknya penebangan komersil untuk lahan perkebunan kelapa sawit.
4. Genus Presbytis (Surili)
Genus Presbytis disebut juga dengan suliri namun banyak masyarakat Indonesia yang menyebut genus ini dengan nama lutung. Walaupun surili dan lutung berada dalam famili yang sama, namun lutung merupakan sebutan untuk genus Trachypithecus ya Sobat.
Presbytis percura (IUCN Red List)
P. chrycomelas chrycomelas (Chien Lee | all rights reserved | iNaturalist)
P. chrycomelas cruciger (Burhanuddin Ihsan Alfani | all rights reserved | iNaturalist)
Di Indonesia jenis surili Presbytis potenziani,Presbytis percura, dan Presbytis chrysomelas memiliki status konservasi CR atau kritis.
Oke, kita bahas satu-satu ya Sobat! 👍
Presbytis percura merupakan surili yang hanya ditemukan di Provinsi Riau, Indonesia. P. percura pada awalnya merupakan subspesies dari P. femoralis, namun analisis genetik mengungkapkannya sebagai spesies yang berbeda.
P. percura umumnya berwarna hitam di bagian atas, dengan kepala abu-abu dan bagian bawah berwarna putih. Terdapat lingkaran mata yang tipis dan pucat.
Presbytis potenziani dengan nama lokal joja merupakan surili endemik Kepulauan Mentawai. Joja berbagi wilayah habitat dengan Macaca pagensis (makaka mentawai atau bokkoi), Simias concolor (simakobu atau monyet ekor babi), dan Hylobates klossii (owa mentawai atau bilou).
Joja memiliki ekor berwarna hitam, di bagian perut warnanya pucat hingga cokelat kemerahan, warna putih terdapat di bagian dagu, dahi dan pipi.
Presbytis chrysomelas merupakan primata endemik Kalimantan dengan 2 subspesies, yaitu P. chrycomelas chrycomelas yang seluruh warna tubuhnya hitam dan P. chrycomelas cruciger yang memiliki warna rambut pada tubuhnya dominan terdiri dari tiga warna yakni kuning, hitam dan putih.
Keberadaan surili terancam Sobat karena maraknya konversi hutan dengan perluasan perkebunan dalam beberapa tahun terakhir.
5. Genus Simias (Simakobu)
Simakobu yang memiliki nama ilmiah Simias concolor ini masuk ke dalam “The World’s 25 Most Endangered Primates” (25 Primata Paling Terancam Punah di Dunia) sama halnya dengan Tarsius tumpara ya Sobat 😣
Simakobu disebut juga dengan monyet ekor babi karena ekornya yang pendek dan sedikit berambut. Simakobu merupakan primata endemik Mentawai, Sumatra Barat. Tubuh simakobu berwarna hitam dengan hidung pesek dan terkesan menghadap ke atas.
Terdapat dua subspecies Simias concolor, yaitu Simias concolor concolor dan Simias concolor siberut. Kedua subspesies ini memiliki wilayah habitat yang berbeda. Subspesies Simias concolor concolor mendiami Pulau Pagai Selatan, Pagai Utara, dan Sipora. Sedangkan subspesies Simias concolor siberut hanya dapat ditemui di Pulau Siberut.
Populasi simakobu mengalami penurunan akibat perburuan liar dan rusaknya habitat. Hal ini sangat mengancam keberadaan simakobu yang merupakan satwa endemik Kepulauan Mentawai.
6. Genus Pongo (Orangutan)
Genus Pongo merupakan kelompok orangutan si kera besar satu-satunya yang berada di Indonesia. Namun, seluruh spesies pada genus ini kritis di alam Sobat! 😭
Kira-kira Sobat bisa melihat perbedaan dari ketiga jenis orangutan tidak? 🤔 Yuk kita simak perbedaan dari ketiga spesies orangutan ini!
(Rudiansyah | YIARI)
(andraescholz | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
(Farhan Adyn | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Spesies
Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus)
Orangutan sumatera(Pongo abelii)
Orangutan tapanuli(Pongo tapanuliensis)
Habitat
Hutan Kalimantan
Hutan Sumatra
Hutan Sumatra
Ciri Warna
Warna rambut panjang dan kusut dengan warna merah gelap kecokelatan.
Warna rambut cenderung lebih terang berwarna cokelat agak jingga.
Warna rambut yang lebih tebal dan keriting dengan kumis dan jenggot yang menonjol.
Bantalan pipi jantan
Bantalan pipi melebar yang menyebabkan wajahnya terlihat bulat dan memiliki ukuran paling besar.
Kantung pipi yang lebih panjang pada orangutan jantan.
Bantalan pipinya cenderung datar dan ditumbuhi rambut halus berwarna pirang.
Keselamatan orangutan sangat terancam oleh kehilangan habitat hutan yang terus dibabat dalam skala besar untuk perkebunan yang masing-masing dapat mencakup ratusan kilometer persegi.
Sekarang Sobat sudah kenal ya dengan primata di Indonesia yang memiliki status konservasi kritis di alam 👍
Semoga Sobat bisa turut serta membantu upaya pelestarian mereka ya, dengan membaca dan menyebarkan informasi ini sudah dapat membantu mereka, loh. Jadi jangan lupa bagikan informasi ini juga ya!
Dalam memperingati Hari Primata Indonesia tahun 2024 yang jatuh pada tanggal 30 Januari, semoga primata di Indonesia dapat terus lestari ya Sobat!
SELAMAT HARI PRIMATA INDONESIA! PRIMATA KITA LUAR BIASA!
International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List
Ruskhanidar, Maulana VS, Loe FR. Spesies dan Sebaran Satwa Primata di Indonesia. Jurnal Primatologi Indonesia. 14(1):3-8.
Feature image : Design by Elif Ivana Hendastari
Potensi Transmisi Zoonosis pada Makaka, Berbahaya tapi Bisa Dicegah!
Selamat Hari Makaka Internasional, Sobat #KonservasYIARI! Tanggal 16 Maret diperingati Hari Makaka Internasional. Hari makaka diperingati pertama kalinya pada tanggal 16 Maret tahun 2016, yang dilatarbelakangi oleh kecintaan serta upaya untuk melakukan pelestarian terhadap makaka di seluruh dunia.
Makaka adalah genus primata yang banyak ditemukan di dunia. Populasinya dapat ditemukan mulai dari Maroko, Aljazair, Afghanistan, Cina, Jepang, dan Asia Tenggara (Napier dan Napier 1985), banyak juga ya Sob! Di Indonesia Genus Makaka juga memiliki tingkat persebaran yang luas, terutama di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi hingga kepulauan di Nusa Tenggara. Jenis makaka yang dapat ditemukan di Indonesia di antaranya ialah Macaca nemestrina, M. siberu, M. pagensis, M. nigra, M. nigrescens, M. tonkeana, M. ochreata, M. hecki, M. maura, M. fascicularis (Ruskhanidar et al. 2017).
Aktivitas terlarang masyarakat terhadap Macaca Fascicularis (Monyet Ekor Panjang) di Suaka Margasatwa Angke Kapuk (YIARI)
makaka merupakan salah satu genus yang memiliki tingkat adaptasi cukup baik. Jadi, jangan heran ya Sob, kalau kalian lagi berkunjung ke lokasi yang dekat dengan tempat tinggal makaka ada kemungkinan kalian bakal disamperin hihihi. Seperti foto di atas, merupakan kejadian yang berlokasi di kawasan Suaka Margasatwa Angke Kapuk, Jakarta. Hal tersebut terjadi karena habitat makaka yang berdampingan secara langsung dengan aktivitas manusia yang menyebabkan makaka terbiasa bertemu manusia.
Tapi, jangan sampai kamu melakukan interaksi langsung dengan mereka ya! Karena makaka berpotensi membawa virus, bakteri, dan parasit yang bisa menularkan penyakit ke manusia. Penularan penyakit tersebut biasa disebut zoonosis, yang berarti penularan penyakit dari hewan ke manusia atau sebaliknya.
Tau ga kenapa makaka bisa menimbulkan ancaman penyakit bagi manusia? Karena, makaka termasuk ke dalam ordo Primata yang memiliki kemiripan genetik, fisiologis dan perilaku dengan manusia (Schillaci et al. 2005). Satwa primata merupakan agen atau sumber penyakit zoonosis yang signifikan bagi manusia, karena dapat menularkan 25% penyakit menular yang muncul (emerging infectious disease) (Pedersen dan Davies 2009).
Lalu, bagaimana cara penularannya? Terdapat berbagai cara Infeksi bakteri dari makaka ke manusia nih Sob, baik secara langsung atau tidak langsung. Terinfeksi secara langsung jika kamu terkena gigitan atau cakaran dari makaka. Sedangkan infeksi secara tidak langsung di antaranya melalui air yang terkontaminasi, juga makanan yang terkontaminasi kista Entamoeba spp. Selain itu potensial utama infeksi yaitu dari fecal-oral dan kontak langsung antara manusia danNon Human Primates¹(Lastuti 2021). Untuk lebih jelasnya, bisa menyimak poster di bawah ini ya!
Cara Penularan Zoonosis (Ria Risyanti | YIARI)
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Lastuti (2021), pada Macaca fascicularis (monyet ekor panjang) di Taman Nasional Baluran menunjukkan hasil positif Entamoeba coli. Bakteri tersebut merupakan agen penyakit yang menginfeksi saluran pencernaan. Selain E.coli masih banyak agen penyakit yang dibawa makaka antara lain Plasmodium knowlesi yaitu parasit pada makaka di kawasan Asia Tenggara (Macaca nemestrina dan M. fascicularis), yang dapat menyebabkan malaria loh Sob. (Jongwutiwes et al. 2011; Millar dan Cox-Singh 2015).
Ohiya, Kalian harus tahu bahwa salah satu zoonosis yang paling signifikan ialah tuberkulosis. Penyebab utama penyakit ini adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium bovis (Une dan Mori 2007).
Lalu, bagaimana caranya supaya kita tidak tertular zoonosis? Sobat #KonservasYIARI bisa melakukan pencegahan dini dengan cara-cara sebagai berikut ya!
Cara Pencegahan Zoonosis (Ria Risyanti | YIARI)
Potensi transmisi zoonosis harus diwaspadai karena dapat menyebabkan wabah pandemi. Hal ini bisa dipengaruhi peningkatan distribusi populasi manusia dan aktivitas manusia pada habitat satwa primata yang dapat memicu interaksi manusia dan satwa secara negatif.
Jadi tetap hati-hati dan waspada ya Sob! Jangan sampai tertular dan menularkan penyakit terhadap primata.
30 Hari Menjadi bagian dari YIARI bersama Mahasiswi Kedokteran Hewan Unpad
Halo, Sobat #KonservasYIARI
Libur telah tiba bagi kami para mahasiswa semester 2 dan 4. Seneng banget, dong tentunya pulang ke rumah dan bertemu keluarga dan teman. Sebulan di rumah masih oke, tiga bulan di rumah? Tentu aja bosan lah! Ini pengalaman kami mengisi liburan produktif selama 30 hari di Yayasan IAR Indonesia.
Fadhilah Nashrillah
Kegiatan magang Dila di YIARI (dok. pribadi)
Halo, Sobat #KonservasYIARI! Perkenalkan aku Fadhilah Nashrillah, panggil aja Dila. Aku adalah mahasiswa kedokteran hewan semester dua dari Universitas Padjajaran, aku mengikuti kegiatan magang ini melalui organisasi Asosiasi Minat Bidang Veteriner (Ambivet) dari unit kegiatan mahasiswa jurusan kampusku.
Menurutku magang adalah salah satu aktivitas produktif yang bisa dilakukan selama masa liburan perkuliahan yang cukup panjang. YIARI menjadi salah satu pilihan buatku nih untuk magang, alasan pertama adalah karena yayasan ini berfokus kepada rehabilitasi satwa dan salah satu pusat rehabilitasi kukang terbesar, kebetulan banget aku sangat tertarik untuk mempelajari apa itu rehabilitasi pada satwa liar terutama kukang. Selain itu sebagai mahasiswa kedokteran hewan aku juga tertarik dong untuk mempelajari bagaimana cara pemeriksaan serta pengobatan yang dilakukan kepada satwa liar di tempat rehabilitasi ini.
Kegiatan yang aku lakukan disini sangat beragam. Aku berkesempatan untuk merasakan pengalaman menjadi seorang keeper satwa monyet (Macaca fascicularis), beruk (Macaca nemestrina), kukang jawa (Nycticebus javanicus) dan kukang sumatera (Nycticebus coucang) selama 3 minggu. Sebagai seorang keeper aku belajar untuk berinteraksi dengan satwa di tempat rehabilitasi dengan baik dan benar,Ternyata keeper juga ga boleh terlalu dekat dengan satwanya, loh!. Aku juga belajar untuk membuat berbagai macam enrichment lingkungan dan perilaku yang menarik, enrichment ini gunanya untuk menjaga perilaku normal dari satwa. Tidak hanya membuat enrichment, memberi makan, dan membersihkan kandang sebagai keeper aku belajar untuk bisa mengobservasi perilaku satwa-satwa tersebut, dari hasil observasilah ditentukan apakah satwa rehabilitasi layak untuk dilepasliarkan atau tidak.
Terkadang disela-sela kegiatan aku dipanggil ke klinik untuk mengamati pemeriksaan harian dan melakukan pengobatan pada kukang maupun macaca. Pengalaman di klinik yang cukup seru adalah aku melakukan pengamatan operasi vasectomy sebanyak dua kali pada monyet ekor panjang dan aku juga membantu pemeriksaan ulas darah kukang dan macaca.
Selain di kandang aku juga belajar kampanye sosial media di bagian campaign selama 10 hari terakhir. Berbeda dengan di kandang, di campaign aku mempelajari banyak hal tentang owa dan kukang, di sini aku ngebuat artikel dan trivia. Aku yang tidak pernah membuat artikel dan trivia mencoba pengalaman pertama di kantor YIARI, desain dan artikel aku pun di post di website resmi gibbonesia.id dan juga instagram @gibbonesia dan @kukangku. Jujur, aku seneng banget!
Walaupun lika-liku perizinannya tidak mudah, banyaknya tes-tes kesehatan yang harus dilakukan agar bisa turun tangan langsung dengan satwa, surat perizinan yang lama turun dari kampus, tapi it’s really worth it! Dengan menjadi keeper aku merasakan ikatan terhadap satwa yang kurawat. Aku juga memperoleh banyak pengetahuan mulai dari ilmu tentang konservasi alam hingga ilmu saat sedang di klinik.
Pengalaman magang ini membuka pikiran aku terhadap konservasi, dulu dipikiranku konservasi ya hanya melindungi satwa aja. Ternyata banyak aspek lingkungan dan manusia juga yang diperhatikan di tempat konservasi. Nah, sobat #KonservasYIARI pokoknya kalian harus coba deh magang di sini, dijamin ga bakal nyesel!
Atria Destriana Fath
Kegiatan magang Atria di YIARI (Dok. pribadi)
Halo, Sobat #KonservasYIARI !
Kenalin, nama aku Atria Destriana Fath, biasa dipanggil Atria atau Tria. Tapi, kalau ada yang mau manggil sayang juga boleh, kok! Aku mahasiswa semester empat kedokteran hewan dari Universitas Padjadjaran. Aku ikut magang ini melalui unit kegiatan mahasiswa program studi yaitu Asosiasi Minat Bidang Veteriner (Ambivet).
Menurut aku, magang di YIARI seru dan bikin produktif banget! Soalnya selama empat minggu magang, aku dapet banyak banget ilmu, keterampilan, dan pengalaman yang bermanfaat. Awalnya aku pilih YIARI karena YIARI salah satu pusat rehabilitasi satwa yang berfokus di rehabilitasi dan pelepasliaran satwa. Mangkanya aku tertarik banget magang di sini! Selain itu, karena aku pengen banget nambah pengetahuan dan pengalaman aku tentang satwa liar. Oh iya, karena basic aku di kedokteran hewan, aku juga pengen banget belajar gimana cara handling dan perawatan satwa liar.
Kayak yang udah aku sebutin sebelumnya, kalau magang di sini tuh seru dan produktif banget. Lho, kenapa? Soalnya aku bisa ngerasain jadi perawat satwa, khususnya satwa beruk (Macaca nemestrina), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kukang jawa (Nycticebus javanicus), kukang sumatera (Nycticebus coucang), dan kukang kalimantan (Nycticebus borneanus). Selain itu, karena waktu yang aku punya cukup banyak jadinya aku dapet kesempatan buat magang di bagian campaign, lho! Buat cerita lengkapnya aku ceritain di bawah, ya!
Jadi di 10 hari pertama, aku dapet kesempatan jadi perawat satwa di kukang. Seru banget! Aku jadi tau kebiasaan kukang, pakan kukang, dan perilaku normal serta abnormal dari kukang. Aku ngerasain gimana nyiapin pakan kukang, ngasih pakan kukang, bikin enrichment, dan merawat kukang. Terus, aku juga coba observasi kukang jadi aku tau gimana perilaku normal dan abnormal dari kukang. Ternyata bikin enrichment dan observasi kukang seru dan semenarik itu!
Selanjutnya, di 10 hari kedua, aku dapet kesempatan jadi perawat satwa di macaca. Jujur, ternyata seru pisan! Aku jadi tau kebiasaan, pakan, perilaku normal dan abnormal macaca, sama dikasih sneak peek cara vasectomy monyet ekor panjang, xixi. Oh iya, pembuatan enrichment-nya juga seru dan menarik-menarik banget, lho!
Di 10 hari terakhir, aku magang di campaign. Gak kalah seru sama magang di kandang! Magang di campaign ini nambah pengetahuan aku tentang satwa liar, khususnya owa dan kukang. Selain itu, aku juga belajar tentang nulis artikel, bikin video tentang larangan pelihara satwa liar, dan desain buat instastory di akun Instagram @kukangku dan @gibbonesia.
Seru banget, deh! Pokoknya magang di YIARI beneran nambah ilmu, pengalaman, pengetahuan, dan relasi. Pokoknya seru banget dan gak bosenin, hihi! Ditambah, YIARI gak hanya mementingkan kesejahteraan hewan, tapi mementingkan kesejahteraan manusia dan lingkungan. Udahan dulu kali ya cerita-cerita ini. Sampai jumpa lagi Sobat #KonservasYIARI !
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Dipelihara di Luar Habitat, Ternyata Makaka Bisa Berperilaku Abnormal
Primata makaka seperti monyet ekor panjang dan beruk punya perilaku alaminya tersendiri di alam. Di alam, primata makaka bisa mengekspresikan nalurinya melalui tingkah laku normal. Tingkah ini meliputi tingkah agonistik atau perilaku menyerang, tingkah sosial afiliatif (grooming), perilaku seksual, bermain, makan, dan istirahat.
Perilaku saling grooming monyet ekor panjang di dalam kandang (Yayasan IAR Indonesia)
Sobat #KonservasYIARI pasti jadi penasaran selain tingkah laku normal, apa ada tingkah laku makaka lainnya?
Ya, ada! Tingkah laku lainnya itu disebut dengan tingkah laku abnormal. Biasanya perilaku ini bakal muncul saat makaka ada di penangkaran dan laboratorium. Perilaku abnormal ini juga muncul saat makaka berada di tempat pemeliharaan pribadi, pameran, dan juga atraksi.
Munculnya perilaku abnormal ini dikarenakan: satwa ditempatkan di kandang dalam waktu yang lama, dikandangkan sendiri, tidak ada kontak visual atau auditori dengan satwa lain, kandang terlalu sempit, dan tidak ada atau tidak memadainyapengayaan lingkungan. Munculnya tingkah laku abnormal ini bisa dijadikan sebagai tanda atau indikator bahwa satwa yang berada di lingkungan tersebut menderita secara psikologis.
Perilaku diam monyet ekor panjang di kandang (Yayasan IAR Indonesia)
Lalu apa saja tanda perilaku yang menunjukkan tingkah laku abnormal pada makaka?
Tingkah laku abnormal ini bisa ditandai dengan adanya tingkah stereotypies yang punya arti tingkah laku berulang tanpa adanya tujuan atau faedah untuk makaka. Nah contoh dari tingkah laku stereotypies ini antara lain, tingkah laku berjalan bolak-balik, melompat berulang-ulang, jungkir balik, menggoyang-goyangkan badan, mencabuti rambut, menghisap jari, dan menggigit jari tangan atau kaki.
Duh Sobat #KonservasYIARI ternyata selama ini perilaku yang dikira “lucu atau menghibur” adalah pertanda bahwa makaka sedang mengalami tekanan dan penderitaan secara psikologis. Yuk hentikan gerakan pemeliharaan satwa liar! Untuk apa pelihara satwa liar jika hanya membuat satwa itu menderita.
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Referensi :
Sajuthi D, Astuti DA, Perwitasari D, Iskandar E, Sulistiawati E, Suprapto IH, Kyes RC. 2016. Hewan Model Satwa Primata Volume I Macaca fascicularis Kajian Populasi, Tingkah Laku, Status Nutrien, dan Nutrisi untuk Model Penyakit. Bogor: PT Penerbit IPB Press.
Cahya Riza Haromaen
Beragam Bentuk Enrichment Makaka, Unik Banget!
Sobat #KonservasYIARI suka mengamati lingkungan sekitar gak? Atau pernah ikut pengamatan satwa? Kalau masa liburan mau berakhir, pasti Sobat #KonservasYIARI juga melakukan persiapan untuk kembali melakukan kegiatan seperti semula ‘kan? Yang masih bersekolah menyiapkan peralatan sekolahnya, yang bekerja mungkin menyiapkan fisik dan mentalnya untuk kembali berutinitas. Begitu juga satwa di pusat rehabilitasi nih Sob. Dibantu oleh para perawat satwa, para satwa di pusat rehabilitasi pun melakukan persiapan sebelum dilepasliarkan ke alam. Salah satu persiapannya disebut dengan enrichment.
Kandang enrichment tematik tema alam yang dilengkapi dengan hammock, air terjun, tali tambang untuk berayun, serta rolling ball yang diisi dengan biji-bijian (Ruli | Yayasan IAR Indonesia).
Enrichment? Apa tuh?
Singkatnya, enrichment atau pengayaanmerupakan upaya seperti pemberian fasilitas, dan pakan tambahan, juga modifikasi cara pemberian dan jenis pakan tambahan.
Tapi tapi tapi, hal ini tujuannya agar apa sih?
Ada beberapa nih, di antaranya agar:
Satwa di pusat rehabilitasi dapat lebih enjoy menghabiskan waktunya
Mengurangi tingkat kebosanan atau kejenuhan satwa di kandang, sehingga makaka lebih aktif melakukan kegiatan seperti mencari makan
Mengurangi karakter perilaku abnormal (perilaku yang tidak biasa muncul pada satwa liar di alam, umumnya merupakan indikator respon stres ketika dipiara di kandang)
Membantu mempercepat pemulihan stres
Menimbulkan kembali sifat (perilaku) dan naluri alami satwa yang sedang menjalani pemulihan di pusat rehabilitasi
Jadi, enrichment ini seperti pembekalan untuk para satwa sebelum dilepasliarkan kembali ke alam gitu deh.
Kami juga pernah bahas sedikit terkait enrichment untuk satwa liar di pusat rehabilitasi, boleh disimak juga melalui kedua tautan dibawah ini ya!
Berdasarkan Smithsonian Institute, ada lima tipe enrichment yang bisa diberikan pada hewan, yaitu enrichment habitat, kognitif, sensorik, pakan, serta mainan.
Tak jarang juga ada gabungan dari tipe enrichment tersebut. Enrichment pakan yang diberikan juga bisa disebut dengan food based enrichment, yaitu pemberian pakan yang divariasikan seperti meletakkan pakan dalam wadah yang digantung pada ranting-ranting pohon, sehingga dapat melatih insting berburu dan mencegah terjadinya perilaku abnormal atau stres pada satwa (Kuntum et al. 2020).
Kalau di pusat rehabilitasi YIARI sendiri, enrichment dibagi menjadi dua yaitu, enrichment harian dan enrichment tematik atau enrichment lingkungan. Enrichment tematik merupakan proses pemberian enrichment dinamis untuk meningkatkan pengayaan lingkungan satwa, perubahan lingkungan, meningkatkan pilihan-pilihan enrichment untuk kesejahteraan satwa di kandang rehabilitasi YIARI. Jadi, enrichment tematik ini bisa meliputi enrichment habitat, kognitif, sensorik, serta mainan. Kalau enrichment harian, merupakan enrichment yang diberikan setiap harinya. Ada juga tambahan enrichment bulanan berupa dedaunan yang diletakkan di atas kandang setiap bulannya.
Wah menarik, tapi enrichment yang diberikan satwa sebetulnya berupa apa sih? Ada contoh fotonya gak ya?
Penasaran kan? Ada dong! Kita bahas enrichment hariannya dulu ya! Untuk makaka, berikutjadwal enrichment harian yang diberikan oleh para perawat satwa secara rutin setiap harinya pukul 8 nih Sobat #KonservasYIARI!
Enrichment harian sesuai jadwalnya (Amun Nawawi | Yayasan IAR Indonesia)
Enrichment harian tersebut diantaranya ialah:
Biji-bijian yang diletakkan pada serbuk kayu (Senin)
Pipa yang diisi madu atu yoghurt (Selasa)
Biji-bijian yang dimasukkan ke dalam pipa shake (Rabu)
Kotak kawat yang diisi dengan daun yang kemudian diletakkan di dalam atau di luar kandang (Kamis)
Bola (rollingball) yang diisi dengan biji-bijian (Jumat)
Daun seperti daun kaliandra, bambu, atau daun lainnya yang diletakkan di dalam atau di luar kandang (Sabtu)
Serta enrichment harian pada hari Minggu, pipa yang diisi dengan sirup atau yoghurt (Minggu).
Teratur banget ya enrichment hariannya, kalau enrichment tematiknya seperti apa ya?
Untuk saat ini kandang untuk enrichment tematik yang aktif digunakan ada beberapa tema, juga dengan alat yang beragam di dalam kandangnya, yuk langsung intip!
Beberapa makaka sedang bermain di atas roda treadmill (Ruli | YayasanIAR Indonesia)
Kandang enrichment tema tersembunyi dengan rumah jamur untuk bersembunyi (Ruli | Yayasan IAR Indonesia)
Enrichment tematik dengan tema taman bermain dengan beragam alat untuk bermain (Ruli | Yayasan IAR Indonesia)
Jadi, kurang lebih begitulah sekilas informasi terkait enrichment makaka yang penulisannya dibantu oleh Kang Ruli atau yang biasa dipanggil Jubel, selaku perawat satwa yang bertanggung jawab terhadap enrichment makaka. Nah, Sobat #KonservasYIARI sudah sedikit lebih paham tentang enrichment Makaka kan? Next time bahas apalagi ya? Bahas enrichment kukang seru kaliya?👀
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Referensi: Gakkum MenLHK. 2020. Buku Panduan Penanganan (Handling) Satwa Primata. https://gakkum.menlhk.go.id/assets/filepublikasi/Buku_Panduan_Penanganan_(Handling)_Satwa-Primata_Final_ok.pdf Kebun Binatang Nasional dan Institut Biologi Konservasi Smithsonian, https://nationalzoo.si.edu/animals/animal-enrichment Kuntum R, Yusuf R, Darusman HS. 2020. Evaluasi Manajemen Pemeliharaan terhadap Endoparasit Saluran Pencernaan pada Kukang Sumatera (Nycticebus coucang). Jurnal Primatologi Indonesia. 17 (1): 22-27.
Fathia Rosatika
Masuk Status Terancam, Inilah Upaya Konservasi untuk Monyet Ekor Panjang
Di tahun 2022 ini, ternyata ada kabar yang cukup mengkhawatirkan tentang monyet ekor panjang nih Sobat YIARI. Menurut Redlist IUCN, Macaca fascicularis atau biasa kita sebut monpai atau monyet ekor panjang (MEP), dalam satu tahun terakhir ini sudah mengalami dua kali penurunan status konservasi, dari nyaris terancam, rentan, hingga, terancam. Pasalnya nih, mereka sering diburu dan dipelihara di rumah-rumah yang menyebabkan keberadaannya di alam berkurang drastis. Pandangan masyarakat juga menganggap bahwa monyet jenis ini populasinya masih melimpah di Indonesia, bahkan ada pula yang menganggapnya hama karena sering memasuki perumahan dan perkebunan penduduk dan mengambil bahan-bahan makanan milik warga. Anggapan ini muncul karena monyet ekor panjang memang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi yang menyebabkannya mudah ditemukan di sekitar kita.
Oleh karena itu, untuk melindungi mereka di luar dan di dalam habitatnya perlu upaya holistik alias menyeluruh yang melibatkan banyak pihak. Kami bekerjasama dengan beberapa instansi, di antaranya adalah Taman Nasional Gunung Halimun Salak serta Pemadam Kebakaran Kota dan Kabupaten Bogor untuk menjaga MEP ini bisa hidup aman dan damai di habitatnya, jauh dari interaksi negatif dengan manusia.
Kegiatan perlindungan MEP diawali di bulan Maret di sekitar kawasan konservasi yaitu di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Tim gabungan TNGHS dan Yayasan IAR Indonesia (YIARI) mengajak masyarakat di sekitar kawasan untuk menghadiri penyuluhan terkait potensi konflik dan interaksi negatif antara masyarakat dengan monyet ekor panjang. Dalam kegiatan ini, kami memberikan penyuluhan untuk melaporkan temuan monyet ekor panjang di luar kawasan yang memasuki area pemukiman dan memberikan penyadartahuan untuk menghindari interaksi-interaksi yang berpotensi negatif dengan MEP. Setelah kegiatan ini selesai, konflik antara warga dengan monyet ekor panjang bisa diredam.
Monyet ekor panjang memakan buah pidada yang merupakan pakan alaminya di Suaka Margasatwa Muara Angke, DKI Jakarta (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)
Sementara itu, untuk kegiatan perlindungan monyet di luar kawasan konservasi kami lakukan bersama instansi Pemadam Kebakaran pada akhir September ini. Kami bersama BBKSDA Jawa Barat menginisiasi peningkatan kapasitas Petugas Pemadam Kebakaran Kota dan Kabupaten Bogor yang bertugas untuk mengevakuasi satwa liar. Kalian pernah melihat atau mendengar Damkar yang bertugas di sekitar tempat tinggal kalian beraksi untuk mengevakuasi satwa seperti tawon dan ular di rumah atau kebun warga ‘kan? Nah, para Petugas Damkar juga terkadang mengevakuasi primata termasuk MEP yang masuk ke pemukiman warga. Dalam pelatihan yang telah disusun sebagai upaya kerjasama lebih lanjut antara BKSDA Jawa Barat, Damkar Kota dan Kabupaten Bogor, serta YIARI selama dua tahun terakhir ini menitikberatkan pada upaya penanganan primata secara aman. Banyaknya konflik antara MEP dengan manusia menjadikan primata ini perhatian para konservasionis. Maka dari itu, di Indonesia, perlu adanya upaya bersama untuk melindungi mereka dari kepunahan. Jangan sampai akibat kita melupakan nasib mereka, satwa yang biasa kita temui dengan mudah hari ini hanya bisa dilihat lewat buku bergambar oleh anak cucu kita di masa depan. Yuk, kita lindungi para monyet ini bersama-sama.
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.