Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Restorasi Adalah: Pengertian, Tujuan, dan Manfaatnya
Bayangkan sebuah hutan yang dulu rindang kini berubah menjadi lahan gersang, atau terumbu karang yang semula penuh warna kini memutih dan mati. Kerusakan lingkungan seperti ini bukan sekadar kehilangan pemandangan indah, tetapi juga ancaman nyata bagi keanekaragaman hayati dan kehidupan manusia.
Di sinilah restorasi memainkan peran penting—sebuah upaya ilmiah dan sosial untuk menghidupkan kembali ekosistem yang rusak dan mengembalikan keseimbangan alam yang selama ini terganggu.
Artikel ini akan membahas secara menyeluruh mengenai konsep restorasi lingkungan, mulai dari definisinya, tujuan utama, sampai berbagai pendekatan yang digunakan dalam praktiknya. Yuk, simak!
Definisi Restorasi
Restorasi adalah proses yang bertujuan memulihkan ekosistem yang mengalami degradasi, kerusakan, atau kehancuran dengan mengembalikan struktur, fungsi, serta dinamika alaminya.
Upaya ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mencerminkan komitmen jangka panjang terhadap perbaikan lingkungan secara menyeluruh.
Menurut Society for Ecological Restoration (SER), restorasi didefinisikan sebagai kegiatan yang bertujuan untuk memprakarsai atau mempercepat pemulihan ekosistem secara berkelanjutan. Definisi ini menekankan pentingnya mengembalikan fungsi ekologis dan menjamin keberlangsungan ekosistem dalam jangka panjang.
Dalam pelaksanaannya, restorasi lingkungan melibatkan berbagai pendekatan, seperti reintroduksi spesies asli, rehabilitasi lahan terdegradasi, serta pengelolaan sumber daya alam yang berbasis prinsip keberlanjutan. Tujuan utamanya adalah mengembalikan keseimbangan ekologis sekaligus meningkatkan keanekaragaman hayati yang merupakan fondasi bagi stabilitas lingkungan.
Lebih dari itu, restorasi juga memiliki dampak signifikan dalam meningkatkan kualitas udara dan air, serta menyediakan berbagai layanan ekosistem penting yang mendukung kehidupan manusia—seperti penyediaan air bersih, penyerapan karbon, dan perlindungan terhadap bencana alam.
Penting untuk dipahami bahwa restorasi lingkungan tidak semata-mata berfokus pada aspek ekologis. Proses ini juga mencakup dimensi sosial dan budaya yang tak kalah vital. Keterlibatan aktif masyarakat lokal, penghargaan terhadap kearifan tradisional, serta integrasi nilai-nilai budaya lokal menjadi faktor penentu dalam keberhasilan proyek restorasi.
Singkatnya, restorasi lingkungan adalah suatu pendekatan terpadu yang menggabungkan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, serta partisipasi masyarakat untuk menciptakan sistem ekologis yang sehat, tangguh, dan berkelanjutan.
Restorasi lingkungan bukan sekadar aktivitas menanam pohon atau memperbaiki lahan rusak, tetapi merupakan investasi jangka panjang demi kelestarian bumi. Di tengah krisis iklim global dan kerusakan alam yang semakin parah, restorasi hadir sebagai solusi strategis untuk memulihkan ekosistem yang terdegradasi dan menjaga keseimbangan alam.
Berikut delapan manfaat utama restorasi lingkungan yang perlu diketahui:
1. Memulihkan Keanekaragaman Hayati
Restorasi memainkan peran penting dalam mengembalikan habitat alami bagi berbagai spesies flora dan fauna yang terancam punah. Dengan memperbaiki kondisi lingkungan, spesies asli memiliki peluang untuk berkembang biak kembali, menjaga keseimbangan rantai makanan, dan mendukung stabilitas ekosistem.
2. Meningkatkan Kualitas Udara dan Air
Proses restorasi yang melibatkan penanaman vegetasi hijau membantu menyerap karbon dioksida dan polutan lainnya, sehingga kualitas udara meningkat.
Selain itu, akar tanaman berfungsi sebagai penyaring alami yang menyaring air hujan sebelum masuk ke aliran sungai atau danau, sehingga mengurangi pencemaran dan meningkatkan ketersediaan air bersih.
3. Mengurangi Risiko Bencana Alam
Ekosistem yang sehat seperti hutan bakau, lahan basah, dan hutan hujan tropis berfungsi sebagai pelindung alami dari berbagai bencana. Hutan bakau, misalnya, mampu meredam gelombang tsunami, sementara lahan basah berperan menyerap air dan mencegah banjir. Restorasi dapat memperkuat ketahanan suatu wilayah terhadap risiko bencana.
4. Mendukung Ketahanan Pangan
Restorasi lahan yang rusak akibat erosi, deforestasi, atau pencemaran berkontribusi dalam meningkatkan kesuburan tanah. Hal ini berdampak langsung pada produktivitas pertanian dan memperkuat sistem ketahanan pangan, terutama bagi komunitas yang bergantung pada hasil pertanian lokal.
5. Meningkatkan Sumber Pendapatan Komunitas Lokal
Proyek restorasi umumnya melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal, baik dalam kegiatan penanaman kembali, pemeliharaan, maupun pengelolaan ekosistem secara berkelanjutan.
Keterlibatan ini tidak hanya memberdayakan masyarakat, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru. Selain itu, restorasi membuka peluang ekonomi melalui pengembangan ekowisata, pemanfaatan produk hutan nonkayu, serta praktik pertanian ramah lingkungan.
6. Mendukung Penyerapan Karbon dan Mitigasi Perubahan Iklim
Hutan dan vegetasi yang dipulihkan melalui restorasi berfungsi sebagai penyerap karbon alami (carbon sink), menyerap emisi karbon dioksida dari atmosfer.
Dengan demikian, restorasi menjadi strategi penting dalam mitigasi perubahan iklim global, karena berkontribusi langsung dalam menurunkan konsentrasi gas rumah kaca yang menjadi penyebab utama pemanasan global.
7. Mengembalikan Fungsi Ekosistem
Fungsi-fungsi dasar ekosistem seperti daur air, siklus nutrisi, serta pengaturan suhu dan kelembapan mikro lokal dapat pulih kembali melalui proses restorasi.
Ketika ekosistem berfungsi secara optimal, lingkungan menjadi lebih stabil, produktif, dan mampu menyediakan berbagai layanan ekosistem yang mendukung kehidupan manusia secara berkelanjutan.
8. Menumbuhkan Kesadaran dan Pendidikan Lingkungan
Kegiatan restorasi sering kali disertai dengan edukasi publik mengenai pentingnya pelestarian alam. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran yang efektif, terutama bagi generasi muda, untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran ekologis. Pendidikan lingkungan yang terintegrasi dengan aksi nyata akan memperkuat komitmen kolektif terhadap keberlanjutan planet ini.
Restorasi sebagai Langkah untuk Memulihkan Alam dan Lingkungan
Restorasi lingkungan bukan sekadar upaya teknis untuk memperbaiki kerusakan alam, melainkan bentuk tanggung jawab moral kita terhadap bumi dan generasi mendatang.
Di tengah tantangan krisis iklim dan semakin terbatasnya sumber daya alam, restorasi menjadi harapan nyata untuk membangun kembali hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Setiap pohon yang ditanam, setiap lahan yang dipulihkan, dan setiap komunitas yang diberdayakan adalah langkah kecil menuju perubahan besar. Kini saatnya kita semua berperan aktif—karena masa depan yang berkelanjutan hanya bisa terwujud jika dimulai dari kesadaran dan tindakan hari ini.
Lahan Gambut dan Fungsinya bagi Lingkungan, Ini Jenis dan Ciri-ciri yang Harus Diketahui
Pernahkah kamu berpijak di atas tanah yang terasa lembut, basah, bahkan sedikit bergoyang? Jika iya, kemungkinan besar kamu sedang berada di lahan gambut!
Lahan ini bukan sekadar tanah basah biasa, tetapi merupakan ekosistem yang kaya akan bahan organik dan memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
Dari menyimpan karbon dalam jumlah besar hingga menjadi rumah bagi spesies langka, lahan gambut menyimpan banyak fakta menarik yang jarang diketahui. Namun, di balik manfaatnya yang luar biasa, ekosistem ini juga menghadapi ancaman serius akibat aktivitas manusia.
Mari kita telusuri lebih dalam tentang apa itu lahan gambut, bagaimana proses terbentuknya, serta mengapa pelestariannya sangat penting bagi kehidupan kita!
Pengertian Lahan Gambut
Menurut Wetlands International, lahan gambut adalah jenis lahan basah yang memiliki lapisan tanah berair dan tersusun dari bahan tanaman mati yang mengalami proses pembusukan secara perlahan.
Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan lahan gambut sebagai lahan yang terbentuk dari serasah, sisa tanaman basah, atau genangan air yang membusuk serta mengalami proses penguraian yang berlangsung sangat lambat.
Lahan gambut terbentuk melalui akumulasi bahan organik yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang membusuk selama ribuan tahun. Proses ini terjadi di lingkungan yang tergenang air, seperti rawa, cekungan sungai, dan kawasan pesisir.
Menurut buku Creating and Restoring Wetlands (Second Edition) karya Christopher Craft (2022), lahan gambut dapat terbentuk dari berbagai jenis vegetasi, termasuk lumut gambut (Sphagnum), tumbuhan herba, serta vegetasi berkayu.
Karena terbentuk di lingkungan yang minim oksigen (anaerob), bahan organik di dalam gambut tidak terdekomposisi secara sempurna. Proses dekomposisi yang berlangsung sangat lambat menyebabkan akumulasi bahan organik dalam jumlah besar, sehingga membentuk lapisan gambut yang tebal.
Jenis-jenis Lahan Gambut
Lahan gambut diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis beradasarkan lokasi, lingkungan pembentukan, kematangan, kesuburan, dan kedalamannya.
Jenis gambut berdasarkan lokasinya
1. Gambut pantai
Gambut pantai terbentuk di sekitar kawasan pesisir dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Jenis gambut ini mendapatkan tambahan mineral dari air laut, sehingga memiliki karakteristik unik dibandingkan dengan jenis gambut lainnya. Vegetasi yang dominan di kawasan ini adalah hutan mangrove.
2. Gambut pedalaman
Gambut pedalaman terbentuk jauh dari garis pantai dan hanya dipengaruhi oleh air hujan. Berbeda dengan gambut pantai, jenis ini tidak menerima pengayaan mineral dari laut. Vegetasi yang tumbuh di gambut pedalaman didominasi oleh hutan kayu berdaun lebar.
3. Gambut transisi
Sesuai namanya, gambut transisi terbentuk di antara wilayah pantai dan pedalaman. Jenis ini memiliki karakteristik yang merupakan perpaduan antara gambut pantai dan gambut pedalaman, baik dalam hal komposisi tanah maupun vegetasi yang tumbuh di atasnya.
Lahan Gambut (Pexels.com/Lauri Poldre)
Jenis gambut berdasarkan lingkungan pembentukannya
1. Gambut topogen
Gambut topogen terbentuk di daerah cekungan atau danau yang berada tepat di atas tanah mineral. Proses pembentukannya dipengaruhi oleh limpasan air sungai dan pasang surut air laut.
2. Gambut ombrogen
Berbeda dengan gambut topogen, gambut ombrogen terbentuk terutama karena curah hujan tanpa pengaruh signifikan dari air sungai atau air laut. Jenis gambut ini umumnya ditemukan di wilayah yang tidak jauh dari pantai.
Jenis gambut berdasarkan tingkat kematangannya
1. Gambut saprik
Gambut saprik merupakan jenis gambut yang paling matang. Bahan organik di dalamnya telah mengalami pelapukan sempurna sehingga asal-usulnya sulit dikenali. Warna gambut ini bervariasi dari cokelat tua, kelabu, hingga hitam. Secara tekstur, gambut saprik lebih halus dibandingkan jenis gambut lainnya.
2. Gambut fibrik
Gambut fibrik adalah gambut yang masih muda dan belum mengalami pelapukan sempurna. Bahan asalnya masih dapat dikenali dengan mudah. Struktur gambut fibrik didominasi oleh serat-serat kasar dengan warna cokelat.
3. Gambut hemik
Gambut hemik merupakan jenis gambut setengah matang, di mana sebagian bahan organiknya telah mengalami pelapukan tetapi masih ada bagian yang dapat dikenali. Teksturnya berada di antara gambut saprik yang halus dan gambut fibrik yang kasar. Warna gambut hemik umumnya cokelat.
Jenis gambut berdasarkan tingkat kesuburannya
1. Eutrofik
Jenis gambut ini memiliki tingkat kesuburan yang tinggi karena kaya akan mineral, basa, dan unsur hara. Gambut eutrofik sering ditemukan di daerah yang mendapat pasokan mineral dari air sungai atau pasang surut air laut.
2. Mesotrofik
Gambut mesotrofik memiliki tingkat kesuburan sedang, dengan kandungan mineral dan basa yang tidak terlalu tinggi tetapi masih cukup untuk mendukung pertumbuhan vegetasi.
3. Oligotrofik
Gambut oligotrofik adalah jenis gambut yang paling tidak subur karena miskin mineral dan unsur hara. Jenis ini umumnya ditemukan di daerah yang hanya mendapat pasokan air dari curah hujan, tanpa tambahan mineral dari sumber lain.
Jenis gambut berdasarkan kedalamannya
1. Gambut dangkal
Lahan gambut yang memiliki ketebalan antara 50 – 100 cm. Jenis ini umumnya masih dapat dimanfaatkan untuk pertanian dengan teknik pengelolaan tertentu.
2. Gambut sedang
Lahan gambut dengan ketebalan antara 100 – 200 cm. Gambut jenis ini mulai memiliki kandungan bahan organik yang lebih tebal dan membutuhkan perlakuan khusus jika ingin dimanfaatkan untuk aktivitas pertanian atau perkebunan.
3. Gambut dalam
Lahan gambut yang memiliki ketebalan antara 200 – 300 cm. Jenis ini menyimpan lebih banyak karbon dan cenderung lebih rentan terhadap degradasi jika dikeringkan atau dimanfaatkan secara tidak berkelanjutan.
4. Gambut sangat dalam
Lahan gambut dengan ketebalan lebih dari 300 cm. Jenis ini memiliki kandungan bahan organik yang sangat tinggi dan berperan penting dalam penyimpanan karbon global. Gambut sangat dalam sebaiknya tetap dilestarikan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Ciri Lahan Gambut
Lahan gambut memiliki karakteristik yang unik dari lahan-lahan lainnya. Adapun ciri-ciri lahan gambut adalah sebagai berikut.
Lahan Gambut (Pexels.com/Valeria Klys)
Tanah yang tebal dan lunak: lahan gambut ditandai dengan lapisan tanah yang tebal, lunak, dan berwarna cokelat tua hingga kehitaman.
Bersifat asam: lingkungan lahan gambut memiliki tingkat keasaman yang tinggi akibat akumulasi bahan organik yang terurai secara perlahan di kondisi anaerob (minim oksigen).
Dihuni oleh banyak lumut gambut (Sphagnum): lahan gambut menjadi habitat utama bagi Sphagnum, jenis lumut dengan daya serap tinggi yang berperan dalam mempertahankan kelembapan tanah.
Keanekaragaman flora dan fauna: lahan gambut mendukung keberagaman hayati dengan banyaknya spesies tumbuhan dan hewan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan basah.
Drainase terbatas: lahan gambut memiliki sistem drainase yang buruk, sehingga tanah tetap jenuh air dalam waktu lama, terutama saat musim hujan atau bercocok tanam.
Lapisan bahan organik tebal: tanah gambut terdiri dari akumulasi bahan organik, terutama sisa tanaman yang membusuk selama ribuan tahun.
Tanah yang tergenang air: karena terbentuk di daerah dengan permukaan air tanah yang tinggi, lahan gambut sering kali dalam kondisi tergenang air.
Vegetasi yang beragam: Lahan gambut mendukung berbagai jenis vegetasi, termasuk vegetasi pembentuk gambut, tumbuhan herba, dan vegetasi berkayu seperti pohon-pohon khas hutan rawa.
Fungsi Lahan Gambut
Lahan gambut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan kehidupan manusia. Berikut adalah beberapa fungsi utama lahan gambut:
1. Penyimpan karbon dan pengendali perubahan iklim
Lahan gambut berfungsi sebagai penyerap dan penyimpan karbon terbesar di dunia. Lapisan gambut yang tebal mengandung bahan organik yang belum sepenuhnya terurai, sehingga mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar. Jika lahan gambut mengalami kerusakan atau kebakaran, karbon yang tersimpan akan terlepas ke atmosfer dalam bentuk gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄), yang dapat mempercepat perubahan iklim.
2. Menjaga keseimbangan hidrologi
Lahan gambut berperan sebagai spons alami yang menyerap dan menyimpan air dalam jumlah besar. Kemampuannya dalam mengatur air ini membantu mengurangi risiko banjir saat musim hujan dan menjaga ketersediaan air saat musim kemarau.
3. Habitat bagi keanekaragaman hayati
Lahan gambut menjadi rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna, termasuk spesies langka dan endemik seperti orangutan, harimau Sumatra, dan burung enggang. Selain itu, ekosistem gambut juga mendukung pertumbuhan berbagai jenis tumbuhan khas, seperti ramin (Gonystylus bancanus) dan jelutung (Dyera costulata).
4. Mendukung sumber penghidupan masyarakat
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lahan gambut, ekosistem ini menjadi sumber penghidupan, baik melalui hasil hutan non-kayu (seperti rotan dan madu hutan) maupun kegiatan perikanan dan pertanian yang ramah lingkungan.
5. Penyaring air alami
Lahan gambut memiliki kemampuan menyaring air secara alami dengan menahan partikel-partikel polutan dan menjaga kualitas air tanah. Hal ini membantu menjaga kebersihan sumber air bagi ekosistem dan manusia.
6. Mencegah intrusi air laut
Di daerah pesisir, lahan gambut berfungsi sebagai benteng alami yang membantu mencegah masuknya air laut ke daratan. Ini penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem air tawar dan mencegah degradasi lahan pertanian akibat salinisasi.
Penutup
Lahan gambut memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, menyimpan karbon, mengatur siklus air, serta menjadi habitat bagi berbagai flora dan fauna. Selain itu, lahan gambut juga mendukung kehidupan masyarakat sekitar dengan menyediakan sumber daya alam yang bernilai ekonomi.
Namun, ancaman terhadap lahan gambut, seperti alih fungsi lahan, kebakaran, dan pengeringan yang tidak berkelanjutan, dapat menyebabkan dampak lingkungan yang serius, termasuk peningkatan emisi gas rumah kaca dan hilangnya keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, pelestarian dan pengelolaan lahan gambut yang bijak sangat diperlukan agar manfaatnya dapat terus dirasakan oleh generasi mendatang.
Dengan memahami fungsi dan pentingnya lahan gambut, diharapkan kesadaran akan upaya pelestarian ekosistem ini semakin meningkat, baik di tingkat individu, komunitas, maupun pemerintah.
Featured image: Lahan Gambut (Pixabay.com/Lipponen)
15 Tips mudah untuk Gaya Hidup Ramah Lingkungan
“Buanglah sampah pada tempatnya” adalah sebuah slogan yang tidak lekang oleh waktu.
Sejak masa sekolah dasar, slogan ini sudah banyak menghiasi tempat-tempat seperti sekolah, rumah sakit, perkantoran, hingga fasilitas publik. Namun, seberapa besar dampak dari slogan ini terhadap kebiasaan masyarakat?
Kenyataannya, sampah masih berserakan di mana-mana, baik di daratan maupun di perairan.
Apakah kondisi ini bisa berubah? Tentu saja bisa—dengan menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Seperti apa gaya hidup ini? Simak selengkapnya!
Pengertian Gaya Hidup Ramah Lingkungan
Gaya hidup ramah lingkungan adalah pola hidup yang bertujuan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap alam.
Dalam kehidupan modern saat ini, berbagai aktivitas manusia sering memberikan dampak buruk terhadap lingkungan. Salah satu contohnya adalah kebiasaan membuang sampah plastik secara sembarangan. Sampah plastik tidak hanya berupa kantong belanja, tetapi juga termasuk botol minuman kemasan, bungkus makanan, hingga berbagai jenis plastik sekali pakai lainnya.
Tingginya tingkat konsumsi masyarakat berbanding lurus dengan peningkatan jumlah sampah yang dihasilkan. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2023, Indonesia menghasilkan lebih dari 38 juta ton sampah setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, pemerintah baru mampu mengelola sekitar 62 persen atau sekitar 24 juta ton.
Artinya, masih ada 14 juta ton sampah (sekitar 37 persen) yang belum tertangani. Jika masalah ini terus dibiarkan, akumulasi sampah akan semakin meningkat di tahun-tahun mendatang.
Namun, apakah menjaga kebersihan lingkungan dan kelestarian bumi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah? Tentu saja tidak. Sebagai penghuni bumi yang diberkahi akal, setiap individu memiliki tanggung jawab yang sama dalam merawat dan menjaga lingkungan.
Lantas, bagaimana caranya kita dapat berkontribusi dalam menjaga lingkungan?
Jawabannya adalah dengan menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Gaya hidup ramah lingkungan melibatkan perubahan kebiasaan lama yang merugikan lingkungan menjadi kebiasaan baru yang lebih sehat, baik untuk tubuh maupun bumi. Contoh sederhana dari gaya hidup ramah lingkungan meliputi tidak membuang sampah sembarangan dan membawa botol minum (tumbler) sendiri sebagai pengganti botol plastik sekali pakai.
Ilustrasi gaya hidup ramah lingkungan (pixabay-zeropromosi)
15 Gaya Hidup Ramah Lingkungan untuk Kehidupan Sehari-hari
Tak hanya itu, masih banyak langkah lain yang dapat kita lakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Berikut 15 cara efektif untuk menjalankan gaya hidup ramah lingkungan!
1. Membawa tumbler sendiri
Membawa tumbler atau botol minum sendiri saat bepergian dapat mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai yang dapat mencemari lingkungan. Selain itu, ini juga membantu menekan jumlah sampah plastik yang sulit terurai.
2. Memisahkan sampah organik dan anorganik
Memisahkan sampah organik dan anorganik penting untuk memudahkan proses daur ulang. Sampah organik, seperti sisa makanan dan kulit buah, dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik, seperti plastik, bisa diolah kembali atau dijadikan bahan kerajinan.
3. Sistem 3R (reuse,reduce,recycle)
Praktik 3R adalah salah satu cara efektif untuk mengurangi limbah. Misalnya, mengurangi konsumsi barang sekali pakai (reduce), menggunakan kembali barang yang masih layak (reuse), dan mendaur ulang bahan yang dapat diproses ulang (recycle).
4. Tidak membakar sampah
Tahukah kamu, asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah itu bisa membahayakan kesehatan manusia?
Pembakaran sampah menghasilkan asap berbahaya yang mencemari udara dan membahayakan kesehatan. Sebaiknya, sampah organik diolah menjadi kompos. Sementara itu, sampah anorganik bisa didaur ulang atau diberikan kepada pihak yang bisa memanfaatkannya.
5. Menggunakan transportasi umum
Memanfaatkan transportasi umum, seperti kereta dan bus, dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan kemacetan. Semakin banyak orang menggunakan transportasi umum, semakin rendah tingkat polusi udara yang dihasilkan.
Ilustrasi Gaya hidup ramah lingkungan/pixabay-mmurphy
6. Penggunaan kendaraan listrik
Jika tetap ingin menggunakan kendaraan pribadi, beralih ke kendaraan listrik bisa menjadi pilihan yang lebih ramah lingkungan. Kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi gas buang, sehingga mengurangi polusi udara yang menjadi salah satu penyebab utama pemanasan global.
Saat ini, semakin banyak produsen mobil dan motor berlomba-lomba menciptakan kendaraan listrik yang lebih efisien dan terjangkau. Dengan memilih kendaraan listrik, kita turut serta mengupayakan perbaikan lingkungan, sekaligus mendukung teknologi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
7. Bijak penggunaan AC
Meskipun memberikan kesejukan, AC juga menyumbang emisi gas rumah kaca yang dihasilkan saat proses pendinginan, lho.
Sebagai alternatif, gunakan kipas angin atau nikmati angin alami dari jendela. Selain itu, luangkan waktu di luar ruangan supaya membantu mengurangi konsumsi energi, sekaligus meningkatkan kesehatan dengan paparan sinar matahari dan udara segar.
8. Hemat listrik
Bijak dalam penggunaan listrik adalah langkah efektif dalam mendukung gaya hidup ramah lingkungan. Semakin banyak energi listrik yang digunakan, semakin besar pula polusi yang dihasilkan oleh industri pembangkit listrik, terutama yang masih menggunakan bahan bakar fosil.
Untuk mengurangi konsumsi listrik, matikan perangkat yang tidak terpakai, gunakan lampu hemat energi, dan pilih peralatan listrik dengan konsumsi daya yang rendah. Selain menjaga lingkungan, langkah ini juga bisa menghemat pengeluaran bulanan.
9. Hemat air
Semakin banyak air yang dihemat, semakin sedikit tekanan terhadap sumber air bersih dan ekosistem akuatik. Boros dalam penggunaan air dapat mengganggu ketersediaan air bersih, serta memengaruhi ekosistem lain, seperti tanaman yang bergantung pada air bersih.
Gunakan air secara bijak, seperti dengan memperpendek waktu mandi, memperbaiki keran yang bocor, dan mengurangi penggunaan air berlebihan.
10. Penggunaan bahan ramah lingkungan
Memilih produk ramah lingkungan mencakup pemilihan barang-barang dari bahan yang dapat terurai, atau yang diproduksi secara bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Misalnya, banyak deterjen menggunakan bahan kimia keras dan sulit terurai yang berisiko mencemari air dan tanah. Sebagai alternatif, ada deterjen ramah lingkungan yang terbuat dari bahan-bahan organik dan lebih aman bagi ekosistem.
11. Menanam pohon
Menanam pohon adalah salah satu upaya paling sederhana dan efektif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Pohon berfungsi menyerap karbon dioksida (CO₂) dan menghasilkan oksigen (O₂), sehingga berperan penting dalam mengurangi polusi udara dan pemanasan global.
Selain itu, akar pohon juga dapat menahan air, mengurangi risiko banjir, dan menjaga kelembapan tanah. Kesadaran untuk menanam lebih banyak pohon, baik di halaman rumah maupun di area publik, merupakan bentuk nyata kontribusi individu dalam memelihara bumi yang lebih hijau dan sehat.
12. Meminimalkan penggunaan kantong plastik saat berbelanja
Mengurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja adalah langkah sederhana yang berdampak besar dalam menjaga lingkungan. Bawalah tas belanja atau goodie bag yang dapat digunakan berulang kali, dengan tujuan mengurangi limbah plastik yang sulit terurai di alam.
13. Tidak menggunakan tisu
Dalam sehari, ada berapa banyak tisu yang kamu habiskan? Kemudian pikirkan lagi, dari tisu, berapa banyak pohon yang harus ditebang untuk membuatnya?
Jadi coba bayangkan saja jika dalam satu hari kamu menghabiskan banyak tisu hanya mengeringkan tangan yang sebenarnya bisa dikeringkan dengan handuk kecil atau sapu tangan yang bisa dibawa kemanapun kamu pergi. Berarti semakin banyak pohon yang harus ditebang setiap harinya hanya karena hal sepele seperti mengeringkan tangan.
Penggunaan berlebihan bisa mempercepat deforestasi dan mengakibatkan perubahan iklim serius. Sebagai gantinya, pakailah sapu tangan yang dapat dicuci dan digunakan kembali.
14. Mengurangi food waste
Ilustrasi gaya hidup ramah lingkungan (pixabay-marsraw)
Berdasarkan laporan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada tahun 2021 tercatat bahwa sampah makanan yang dihasilkan sebanyak 28,3 persen dari total sampah yang diproduksi.
Jika menurut kamu kalau sampah makanan itu tidak berbahaya, maka kamu salah besar. Karena sampah makanan berdampak buruk pada lingkungan karena menghasilkan emisi gas rumah kaca saat membusuk di tempat pembuangan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk lebih bijak dalam mengolah dan membeli makanan agar mengurangi limbah dan emisi yang dihasilkannya.
15. Berkebun di rumah
Selain menanam pohon, berkebun di rumah juga merupakan langkah yang efektif untuk mendukung gaya hidup ramah lingkungan. Berkebun baik untuk lingkungan dengan menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen, sekaligus menyehatkan diri sendiri melalui aktivitas fisik dan hasil panen segar yang bebas pestisida.
Jika kamu tidak memiliki lahan luas, berkebun tetap bisa dilakukan di ruang terbatas dengan memanfaatkan pot, hidroponik, atau vertical garden.
Sebagai individu yang peduli akan masa depan bumi, kita semua memiliki tanggung jawab untuk mulai menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.
Langkah-langkah kecil seperti mengurangi sampah plastik, menghemat energi, menanam pohon, hingga mengelola sampah dengan bijak dapat membawa perubahan signifikan bagi kelestarian lingkungan.
Ingat, bumi adalah rumah kita bersama, dan sudah saatnya kita menjaga dan merawatnya demi keberlanjutan generasi mendatang. Mari mulai dari diri sendiri, mulai hari ini!
Mengenal Konsep 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle)
Mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah adalah tiga prinsip yang sering digaungkan dalam mengelola sampah. Prinsip ini biasa disebut 3R (reduce, reuse, recycle).
Prinsip ini sangat populer karena sangat mudah diikuti oleh berbagai kalangan. Sebab, hanya dengan mengurangi sampah, menggunakan kembali barang-barang yang tidak terpakai, dan mendaur ulang sampah yang mudah di daur ulang, kita dapat meningkatkan kualitas hidup di rumah dengan berkurangnya hasil buangan kita ke lingkungan.
Setiap urutan ini memiliki prioritas yang berbeda. Reduce atau pengurangan sampah adalah prioritas utama dalam pengelolaan sampah. Disusul oleh Reuse atau penggunaan kembali sampah, lalu Recycle atau pendaurulangan sampah.
Untuk lebih mengetahui bagaimana penerapannya di kehidupan sehari-hari, yuk, simak informasi mengenai 3R ini!
1. Reduce (Mengurangi)
Penggunaan tas purun sebagai polybag mengurangi penggunaan plastik yang sulit terurai di tanah
Mengurangi sampah adalah prioritas utama dalam pengelolaan sampah secara modern. Dengan mengurangi penggunaan sampah, terutama yang tidak bisa didaur ulang, kita telah membantu mengurangi beban lingkungan kita.
Barang-barang yang dapat dikurangi misalnya adalah sampah sekali pakai seperti kantong plastik, kertas, botol minuman, hingga karton.
Kita dapat menggunakan alternatif lain untuk mengurangi penggunaan sampah sekali pakai dengan menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan atau alat yang dapat digunakan berulang-kali.
2. Reuse (Menggunakan Kembali)
Penggunaan plastik sebagai pot bunga atau hiasan
Barang-barang tidak terpakai yang kondisinya masih cukup baik sebaiknya tidak langsung dibuang begitu saja. Kita dapat memanfaatkan barang tersebut untuk digunakan sebagai barang lain yang fungsinya dapat terpenuhi.
Contohnya adalah memanfaatkan botol plastik bekas untuk wadah alat tulis, pot bunga, atau bahkan digunakan sebagai hiasan ruangan.
3. Recycle (Mendaur Ulang)
Mendaur ulang sampah organik dapat dilakukan secara sederhana di rumah
Apabila suatu barang sudah berkondisi buruk atau sudah kehilangan fungsinya, hal yang biasa kita lakukan adalah membuangnya ke tempat sampah. Padahal setiap barang yang sudah terlihat kurang baik itu masih memiliki kegunaan, lho. Kita dapat mendaurulangnya menjadi barang baru melalui proses-proses tertentu yang berbeda-beda untuk tiap jenis barang.
Plastik dan kertas adalah salah satunya. Sampah plastik biasa didaur ulang berdasarkan kode-kode yang tercantum. Sementara kertas terpakai dapat didaur ulang menjadi kertas baru. Jenis-jenis sampah lain juga dapat didaur ulang seperti kaca, baterai, tekstil, dll.
Peringatan International Orangutan Day: Mengajarkan Upaya Pencegahan Kebakaran Hingga Permainan Tradisional Bertema Konservasi
IAR Indonesia berkolaborasi dengan Polsek Muara Pawan dan dua komunitas pemuda penggiat konservasi yaitu Kami Pencinta Alam (Kamipala) dan Pongo Ranger Community (PRC) merayakan International Orangutan Day dengan melakukan pendidikan lingkungan kepada siswa-siswi SMK Negeri 1 Muara Pawan. Senin (19/8). Mengambil tema Menyelamatkan Alam untuk Masa Depan, materi yang diberikan dalam kegiatan ini adalah Pencegahan Kebakaran Hutan, Dampak Kebakaran Hutan, Hubungan Rawa Gambut dengan Kebakaran, Pendidikan Lingkungan hidup di Sekolah. Masing-masing materi disampaikan oleh Polsek Muara Pawan, Kamipala, IAR Indonesia, dan PRC. Tema yang diambil ini memiliki makna bahwa alam adalah aset beharga untuk keberlangsungan hidup di masa depan, baik untuk manusia maupun satwa.
Bukan tanpa sebab materi kebakaran sangat ditonjolkan di peringatan hari Orangutan Internasional ini. Musim kering di pertengahan tahun ini memicu banyak kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera, tidak terkecuali di Ketapang. Puluhan titik panas muncul di Ketapang hampir setiap hari, bahkan kebakaran juga terjadi tidak jauh dari tempat rehabilitasi IAR Indonesia di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang. Di sela aktivitas pemadaman kebakaran yang mengancam pusat rehabilitasi orangutan, IAR Indonesia tetap antusias untuk merayakan peringatan hari orangutan Internasional dan berbagi kasih dengan satwa kebanggan Kalimantan ini.
Dengan adanya kegiatan ini diharapkan sekolah dan peserta didik dapat turut aktif dalam menjaga habitat orangutan dari ancaman kebakaran. Selain itu, informasi yang didapat oleh peserta didik dapat disampaikan kepada keluarga, teman sebaya, dan lingkungan sekitar tempat tinggal mereka untuk tidak membakar hutan dan lahan di saat musim kemarau panjang.
Bripka Herlan menjelaskan mengenai pencegahan kebakaran hutan dan lahan kepada siswa siswi SMK 1 Muara Pawan
Kapolsek Muara Pawan yang diwakili oleh Bripka Herlan selaku Bhabinkamtibmas Desa Sei Awan Kiri mengharapkan semua pemangku kepentingan ikut berperan aktif dalam penanganan Karhutla. “Saya berharap masyarakat sadar akan pentingnya lingkungan bersih dan bebas dari kabut asap,” ujarnya.
Selain kegiatan pendidikan lingkungan, IAR Indonesia juga melaksanakan lomba permainan tradisional berupa estafet kelereng menggunakan bambu kering di Taman Baca Desa Pematang Gadung. Melalui berbagai permainan tradisional ini, IAR Indonesia berharap anak-anak melestarikan permainan-permainan yang mengangkat kebudayaan lokal, dan terutama bisa lebih dekat dengan alam dan memanfaatkan alam secara berkelanjutan tanpa merusaknya.
Perlombaan bernuansa lingkungan hidup juga diperkenalkan kepada peserta lewat permainan ular tangga konservasi. Tidak seperti ular tangga pada umumnya, papan permainan ini berukuran 4 x 4 meter dan dalam setiap kotaknya berisi pengetahuan tentang kehidupan orangutan beserta ancamannya. Melalui media permainan ini, anak-anak menjadi lebih mudah memahami materi dan tentunya menyenangkan untuk anak seusia mereka.
Anak-anak Desa Pematang Gadung bermain ular tangga konservasi
Tidak lupa, IAR Indonesia juga memberikan beberapa hadiah kepada para juara yaitu perlengkapan sekolah dan botol minum yang dapat mereka gunakan di sekolah untuk dapat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Seperti yang kita semua ketahui, sektor sekolah juga salah satu penyumbang sampah plastik yang terbanyak. Oleh karena itu, melalui peringatan IOD 2019 ini, IAR Indonesia mengajak semua pihak untuk bersama-sama menyatukan aksi untuk menjaga alam, menjaga habitat orangutan, dan mengurangi penggunaan plastik untuk Indonesia yang lebih baik.
Penegakan Hukum Terpadu Mulai Didorong untuk Penanganan Perdagangan Satwa Ilegal. Seperti Apa?
Diburu, diperjualbelikan dan dipelihara. Demikianlah nasib satwa yang hidup di tanah indonesia, akhir – akhir ini. Meski negara ini tersohor akan kelimpahaan keanekaragaman hayati serta kekayaan alam, namun nyatanya hal itu masih bias jika berbicara soal kelestariannya.
Di alam liar, satwa – satwa itu seolah dipaksa keluar dari hutan akibat aktivitas pembukaan kawasan. Habitat mereka disulap sedemikian rupa demi melancarkan kepentingan industri maupun perkebunan, sehingga lahan yang tadinya hijau berubah warna menjadi terbuka dan rusak.
Ditempat semestinya mereka hidup dan berkembang biak pun kondisinya tidak berbeda jauh. Mereka masih saja terus diburu atas nama rupiah untuk memenuhi permintaan pasar yang luas. Tak jarang permasalahan tersebut sering menimbulkan konflik yang berkepanjangan.
Seekor owa jawa yang diserahkan sukarela dari dari Tempat Wisata Kampung Gajah, Lembang Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat di Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat. BBKSDA kembali mendapatkan penyerahan satwa sebanyak 16 ekor satwa terancam punah yang rencananya akan segera direhabilitasi sampai akhirnya dilepasliarkan. Foto : Donny Iqbal
Aspek biosfer maupun hidrologis yang telah terbangun secara alami terintregritas dalam satu kesatuan ekosistem flora dan fauna. Seakan terdegradasi bersamaan dengan lunturnya nilai kearifan lokal yang telah ada sejak zaman nenek moyang.
Menurut IUCN, Indonesia adalah salah satu dari 17 negara megadiversivitas, yang memiliki keanekaragaman yang melimpah. Meskipun hanya menempati 1,3% dari luas bumi, Indonesia mempunyai 12% mamalia dunia, 7.3% amfibi dan reptil dunia, dan 17% burung-burung dunia.
Indonesia memiliki 185 spesies mamalia, 131 spesies burung, kedua terbesar di dunia, 64 spesies amfibi dan reptil, 149 spesies ikan, 288 spesies moluska dan invertebrata dan 408 spesies tanaman. Tak tanggung – tanggung jumlahnya sekitar 1,200 spesies fauna dan flora. Namun, saat ini sebagian besar terancam punah.
Dari data yang dikumpulkan Mongabay, selama kurun waktu 2 dekade terakhir telah terjadi penurunan cukup serius mengenai jumlah populasi spesies akibat eksploitasi berlebihan. Selain itu juga perdagangan satwa liar merupakan ancaman terbesar seiring dengan hilangnya habitat.
Diduga, Indonesia merupakan sumber, tujuan, dan bahkan tempat transit penyelundupan satwa liar. Ditaksir, nilai dari perdagangan ilegal ini diperkirakan bisa mencapai US$ 1 milyar per tahun.
Banyak kasus sindikat perburuan dan perdagangan yang terus berulang setiap tahunnya. Mulai dari perburuan harimau sumatera, penyelundupan burung endemik hingga penjualan tenggiring yang bernilai fantastis.
Jajaran KLHK menyerahkan ke Kejaksaan, barang bukti sitaan, dan tersangka perdagangan satwa ilegal di Jakarta. Foto: Jhon
Tentu hal ini menimbul kerugian besar baik dari segi ekonomi, lingkungan ataupun sosial. Padahal umumnya, perburuan dilakukan oleh masyarakat lokal. Dalam pola perdagangan satwa liar, masyarakat lokal hanya mendapatkan keuntungan sangat sedikit ketimbang pihak pedagang.
Alhasil, masyarakat lokal juga yang mesti menanggung kerugiannya. Mulai dari kepunahan satwa , kerusakan ekologi yang berpengaruh langsung terhadap lingkungan sosial setempat.
Ironisnya lagi di negeri ini juga tumbuh subur kelompok pecinta satwa atau animal lovers yang terkadang banyak memelihara satwa dilindungi. Dengan berkedok konservasi, kelompok penghobi ini sering ikut andil melakukan transaksi perdagangan, bahkan bertukar satwa secara online ataupun pada saat pertemuan tertutup.
Penegakan Hukum
Sejauh ini, penegakan hukum atas kejahatan terhadap satwa liar di Indonesia masih sangat rendah. Hal itu disampaikan Dwi Adhiasto Nugroho, manajer program unit kejahatan satwa liar lembaga Wildlife Conservation Society (WCS), sebuah lembaga yang bergerak pada penelitian konservasi keanekaragaman hayati.
Menurutnya, statistik penanganan kasus kejahatan terhadap satwa liar terhitung sejak 2003 – 2016 berjumlah 470 dengan rata-rata mendapat vonis hukuman dibawah 2 tahun penjara. Dia menduga rendahnya vonis ini diakibatkan isu satwa liar yang masih dipandang kurang penting dan pemahaman akan konservasi satwa liar yang masih kurang dicerna oleh para jaksa.
Sebagaimana ditulis di Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila. Seyogyanya, landasan tersebut telah memberikan kerangka payung hukum. UU dan kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam, termasuk konservasi satwa liar, juga sudah diatur di Pasal 33 Undang-Undang Dasar, ayat 3 dan 4.
UU No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Dilanjutkan Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Pada 21 Februari 2017, WCS menggelar pelatihan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan kapasitas para jaksa se-Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. Terutama dalam hal penanganan kasus perdagangan satwa secara ilegal, kejahatan lintas negara yang terorganisir, serta mendorong penggunaan ketentuan hukum lain (pendekatan hukum terpadu multidoors) dalam penanganan kasus kejahatan terkait satwa yang dilindungi.
Salah satu wujud nyata upaya serius penegakan hukum terpadu dalam lingkup proses peradilan adalah dengan munculnya Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Kejaksaan Agung RI dengan nomor B-3000/E/EJP/09/2016 tentang perihal Optimalisasi Penanganan Perkara terkait Kejahatan Satwa Liar, pada tahun lalu.
Selama 2016, Kejaksaan Agung telah menangani kasus mengenai lingkungan hidup 58 perkara, konservasi sumberdaya alam hayati 65 perkara, pertambangan minyak bumi 243 perkara dan kehutanan 879 perkara.
Peningkatan ini dapat menyesatkan, bila melihat pada estimasi kasus satwa liar yang terus berjalan sporadis dengan berbagai macam modus. Pemberantasan perdagangan satwa liar, seperti terhalang political will. Terdapat juga celah-celah hukum dan inkonsistensi yang kadang menghalangi keberhasilan penanganan kasus dari suatu proses tuntutan.
Perbaikan hukum untuk memperkuat lembaga penegakan hukum pemerintah, meningkatakan kolaborasi antar lembaga, dan membangun kesadaran hukum dan peraturan, merupakan hal sangat penting untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada.
Seekor siamang yang diserahkan sukarela dari dari Tempat Wisata Kampung Gajah, Lembang Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat di Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat. BBKSDA Jabar kembali mendapatkan penyerahan satwa sebanyak 16 ekor satwa terancam punah yang rencananya akan segera direhabilitasi sampai akhirnya dilepasliarkan. Foto : Donny Iqbal
Penyerahan Satwa
Sebelumnya, Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Jawa Barat berhasil mengamankan 16 ekor satwa yang dilindungi di tempat wisata Kampung Gajah Wonderland di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, akhir pekan lalu.
Kepala BBKSDA Jabar, Sustyo Iriyono, menuturkan, 16 ekor satwa yang ditemukan petugas yakni owa jawa sebanyak 3 ekor, siamang sebanyak 2 ekor, binturong 2 ekor, tarsius 4 ekor, julang mas sebanyak 1 ekor, kakaktua jambul kuning 2 ekor, merak 1 ekor, dan elang brontok 1 ekor.
Menurut informasi, penyerahan itu dilatarbelakangi karena adanya pelaporan dari masyarakat terkait keberadaan satwa langka di tempat wisata tersebut. Setelah laporan ditindaklanjuti dan diterjunkan tim, akhirnya terjalin kesepakatan untuk diserahkan secara “sukarela” ke pihak berwenang agar dilakukan proses rehabilitasi hingga pelepasliaran kembali.
Ihwal, kapan pemeliharaan satwa dilindungi sebanyak itu, Sustyo enggan membahas lebih lanjut. Menurutnya, saat ini pihaknya masih fokus melakukan pendekatan secara preventif . Namun, kata dia, secara bertahap akan mulai menerapkan pendekatan hukum agar menimbulkan efek jera.
Tercatat, sudah cukup banyak kasus penyerahan satwa langka secara “sukarela” yang ditangani BBKSDA Jabar. Tetapi siklusnya justru terkesan monoton, diserahkan-direhabilitasi-dilepasliarkan. Belum ada tindakan cukup signifikan memberantas fenomena perburuan yang makin massif.
Pelepasliaran
Di waktu yang tidaklama, Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Satwa International Animal Rescue (IAR) Indonesia bekerja sama dengan BBKSDA Jawa Barat, kembali melakukan pelepasliaran 10 kukang jawa.
Pelepasliaran kukang dilakukan di Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Sebelum dilepasliarkan pihak IAR membutuhkan waktu sekitar 6 bulan hingga 1 tahun untuk merehabilitasi kondisi kukang.
Pusat Rehabilitasi IAR yang berlokasi di kaki Gunung Salak Bogor, kebanyakan melakukan rehabilitasi dari hasil serahan masyarakat dan sitaan tangkap tangan sindikiat perburuan dan perdagangan.
Menurut penuturan IAR, dari 10 kukang jawa 2 diantaranya mengalami luka yang cukup serius. Tangan kanan kukang berkelamin betina mengalami luka parah seperti terkena jerat. Terpaksa seluruh jarinya diamputasi agar infeksi tidak menyebar.
Sementara kukang jantan terdapat luka pada bagian dada, perut dan tangannya akibat sengatan listrik. Beruntung kondisi kedua kukang masih liar dengan formasi gigi yang lengkap sehingga pemulihannya berangsur cepat hingga waktu pelepasliaran.
Sejauh ini, sejak tahun 2014 sekitar 25 kukang hasil rehabilitasi IAR dan serahan warga sudah dilepasliarkan di SM Gunung Sawal. Namun, di wilayah Jawa Barat angka perburuan dan perdagangan masih lebih tinggi dari upaya konservasi.
Kukang jawa (Nycticebus javanicus) berhasil dilepasliarkan kembali ke habitatnya di kawan Suaka Marga Satwa Gunung Sawal, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. sejak tahun 2014 sekitar 25 kukang hasil rehabilitasi IAR dan serahan warga sudah dilepasliarkan di SM Gunung Sawal. Namun, di wilayah Jawa Barat angka perburuan dan perdagangan masih lebih tinggi dari upaya konservasi. Foto : IAR Indonesa