Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Edukasi Hari Primata Lampung, Kenalkan Konservasi Sejak Dini!

Pada 9 Februari 2025, kegiatan edukasi dalam rangka peringatan Hari Primata Indonesia sukses diselenggarakan di Dusun Beringin 4, Lampung. Acara ini meliba tkan sebanyak 52 anak-anak dari keluarga petani, yang berasal dari jenjang pra-PAUD sampai SMP.

Kegiatan ini bukan sekadar perayaan simbolis, melainkan sebuah langkah nyata dalam menanamkan kesadaran lingkungan dan pentingnya konservasi sejak usia dini. Melalui serangkaian aktivitas seperti pengenalan jenis-jenis primata Indonesia, mewarnai, mendongeng, sampai permainan edukatif, anak-anak diajak untuk belajar sambil bermain, mengenal primata lebih dekat, serta memahami peran penting mereka dalam ekosistem.

Ingin tahu bagaimana anak-anak di Dusun Beringin 4 belajar mencintai alam sambil bermain? Simak selengkapnya di artikel ini!

Apa Tujuan dan Output dari Kegiatan Perayaan Hari Primata Indonesia di Dusun Beringin 4?

Kegiatan edukasi dalam rangka Hari Primata Indonesia di Dusun Beringin 4 bukan hanya bertujuan untuk memperingati hari penting ini, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam upaya konservasi satwa liar.

Menurut Jurnal Primatologi Indonesia, Indonesia merupakan rumah bagi lebih dari 59 spesies primata dari 11 genus, yang tersebar di berbagai habitat mulai dari hutan hujan tropis hingga pegunungan.

Sayangnya, keberadaan mereka semakin terancam oleh perburuan, perdagangan ilegal, serta kerusakan hutan yang masif.

Melalui kegiatan ini, YIARI merancang pendekatan edukatif yang menyasar anak-anak dari keluarga petani sebagai langkah awal membangun kesadaran kolektif sejak dini. Adapun tujuan utamanya mencakup:

  • Memberikan pendampingan intensif kepada anak-anak petani dampingan dalam memahami pentingnya pelestarian satwa liar.
  • Meningkatkan pengetahuan anak-anak mengenai berbagai jenis primata di Indonesia dan fungsi ekologisnya.
  • Menanamkan nilai-nilai konservasi sejak usia dini, agar terbentuk kebiasaan menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
  • Melakukan survei dan pendataan persepsi anak-anak serta keluarga mereka untuk mendukung keberlanjutan program edukasi konservasi.

Rangkaian Kegiatan untuk Edukasi Konservasi Primata

Berikut rangkaian kegiatan ini:

1. Penyampaian Materi: Mengenal Primata dan Habitatnya

Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu mengenal primata dan habitatnya (Tim Edukasi | YIARI)

Sesi ini menjadi inti dari kegiatan edukasi konservasi. Anak-anak dikenalkan pada berbagai jenis primata yang hidup di Indonesia, seperti orangutan, lutung, dan tarsius. Mereka juga diajak memahami peran ekologis primata, misalnya sebagai penyebar biji tanaman yang membantu regenerasi hutan.

Materi disampaikan melalui media visual seperti gambar dan video edukatif agar lebih menarik dan mudah dicerna. Selain itu, anak-anak juga dikenalkan dengan berbagai ancaman nyata yang dihadapi primata, seperti deforestasi, perburuan liar, dan perdagangan satwa ilegal.

Melalui sesi ini, peserta memperoleh pengetahuan sekaligus diharapkan menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap satwa liar.

2. Mewarnai

Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu mewarnai (Tim Edukasi | YIARI)

Mewarnai menjadi salah satu kegiatan favorit yang menyenangkan sekaligus mendidik. Anak-anak diberikan sketsa bergambar primata khas Indonesia untuk diwarnai sesuai dengan imajinasi mereka.

Kegiatan ini mengasah kemampuan motorik dan kreativitas, serta menjadi sarana mengenal satwa lebih dekat melalui pendekatan visual dan artistik.

Dengan tema yang sesuai, mewarnai menjadi media pembelajaran yang efektif untuk memperkuat pemahaman anak tentang jenis dan ciri khas primata Indonesia.

3. Mendongeng

Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu mendongeng (Tim Edukasi | YIARI)

Dongeng adalah salah satu metode paling efektif dalam menyampaikan pesan kepada anak-anak. Dalam sesi ini, mereka diajak mendengarkan cerita yang mengangkat tema pentingnya menjaga hutan dan melindungi satwa liar.

Cerita disampaikan dengan alur yang menarik serta tokoh-tokoh hewan yang mudah dikenali dan disukai oleh anak-anak.

Melalui dongeng, anak-anak dihibur sekaligus belajar bahwa tindakan manusia dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup satwa di alam liar. Pesan moral yang disampaikan mampu membentuk kesadaran ekologis dan menanamkan nilai-nilai konservasi sejak usia dini.

4. Games Edukasi

Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu games edukasi (Tim Edukasi | YIARI)

Bagi anak-anak, belajar akan lebih menyenangkan jika dilakukan melalui permainan. Dalam sesi ini, tim YIARI mengajak anak-anak untuk mengikuti berbagai permainan edukatif setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan lainnya.

Permainan yang disajikan dirancang untuk melatih kerja sama tim, ketelitian, serta kemampuan berpikir kritis. Dengan metode belajar sambil bermain ini, anak-anak menjadi lebih mudah memahami isu-isu konservasi dan lebih sadar akan pentingnya menjaga primata serta lingkungan hidup mereka.

5. Membaca Buku

Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu membaca (Tim Edukasi | YIARI)

Selain mendengarkan dongeng, anak-anak juga diajak untuk membaca buku-buku bertema konservasi satwa liar. Buku-buku ini berisi cerita inspiratif serta informasi menarik mengenai primata dan ekosistem hutan tempat mereka hidup.

Kegiatan membaca ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai konservasi melalui literasi, serta meningkatkan minat baca anak-anak. Melalui cerita yang dikemas secara ringan dan edukatif, diharapkan anak-anak dapat memahami pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan menghargai kehidupan satwa liar di sekitarnya.

6. Survei Persepsi Anak-anak

Salah satu kegiatan edukasi Hari Primata Lampung yaitu survei persepsi anak-anak (Tim Edukasi | YIARI)

Sebagai bagian dari evaluasi program dan upaya perbaikan berkelanjutan, tim YIARI juga melakukan survei terhadap anak-anak dan keluarga mereka. Survei ini bertujuan untuk menggali pemahaman, sikap, serta tingkat kesadaran mereka terhadap konservasi primata.

Hasil survei akan menjadi dasar dalam merancang program edukasi selanjutnya agar lebih relevan dan efektif. Dengan melibatkan partisipasi langsung dari peserta, pendekatan ini membantu memastikan kegiatan konservasi benar-benar berdampak dan diterima oleh masyarakat, terutama generasi muda.

Harapan dan Dampak Edukasi Konservasi Primata

Dengan adanya edukasi konservasi primata, terdapat beberapa harapan dan dampak edukasi yang bisa dicapai dalam jangka pendek maupun panjang, antara lain:

1. Peran Penting Primata dalam Ekosistem

Primata memegang peranan penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem hutan. Mereka berfungsi sebagai penyebar biji, pengendali populasi serangga, hingga indikator alami terhadap kesehatan lingkungan. Sayangnya, ancaman terhadap populasi primata terus meningkat akibat perburuan liar, perdagangan ilegal, serta kerusakan habitat.

Upaya konservasi primata tidak bisa hanya mengandalkan kalangan ilmuwan atau aktivis lingkungan semata. Keterlibatan masyarakat luas, termasuk anak-anak sebagai generasi penerus, menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan spesies ini di masa depan.

2. Edukasi Konservasi untuk Generasi Muda

Melalui kegiatan edukatif dalam rangka Hari Primata Indonesia, YIARI menanamkan nilai-nilai konservasi kepada anak-anak dengan pendekatan yang menyenangkan dan interaktif. Anak-anak dikenalkan pada keanekaragaman primata Indonesia serta diajak memahami bagaimana perilaku manusia dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup mereka.

Aktivitas seperti mendongeng, mewarnai, membaca buku, hingga bermain permainan edukatif menjadi media efektif dalam menyampaikan pesan-pesan konservasi. Dengan metode ini, anak-anak diharapkan mengalami proses pembelajaran yang membekas secara emosional.

3. Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Dalam jangka pendek, kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran anak-anak mengenai pentingnya pelestarian primata dan lingkungan hidup. Anak-anak mulai memahami bahwa tindakan sederhana, seperti tidak membeli atau memelihara satwa liar, dapat memberikan dampak besar terhadap kelestarian ekosistem.

Di masa depan, edukasi ini diharapkan dapat melahirkan generasi yang lebih sadar lingkungan dan berperan aktif dalam upaya pelestarian satwa liar. Anak-anak yang tumbuh dengan nilai-nilai konservasi berpotensi menjadi agen perubahan yang mendorong terciptanya masyarakat yang lebih ramah lingkungan dan bertanggung jawab.

4. Membangun Masa Depan yang Harmonis

Kegiatan edukasi seperti Hari Primata Lampung membuktikan proses pembelajaran yang dikemas secara menyenangkan mampu menumbuhkan rasa empati yang mendalam terhadap alam. Selain memahami pentingnya melindungi primata, anak-anak juga terdorong untuk terlibat langsung dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya.

Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh peserta, relawan, dan pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Semangat yang ditunjukkan anak-anak Dusun Beringin 4 menjadi bukti bahwa pendidikan dan konservasi dapat berjalan beriringan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Program seperti ini diharapkan dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak wilayah, sehingga semakin banyak anak-anak Indonesia yang tumbuh dengan kesadaran akan pentingnya konservasi. Mari bersama-sama menjaga sahabat hutan kita—primata—demi masa depan bumi yang lestari, harmonis, dan berkelanjutan!

Petani Dampingan YIARI Studi Banding ke KPH Pesawaran: Menggali Ilmu Kelembagaan Usaha Kelompok Tani

Salah satu sektor ekonomi utama di Indonesia adalah pertanian.

Sektor ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, banyak kelompok tani yang masih menghadapi tantangan dalam mengelola usaha secara kontinu. Pemahaman tentang ilmu kelembagaan usaha kelompok tani menjadi kunci dalam membangun usaha tani yang lebih kuat dan mandiri.

Untuk mendukung hal ini, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengadakan studi banding bagi petani dampingan mereka ke Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Pesawaran, Lampung.

Bagaimana pengalaman para petani dampingan YIARI dalam studi banding ini dan apa manfaatnya bagi pengelolaan usaha tani yang lebih berkelanjutan?

Simak selengkapnya dalam artikel berikut, ya!

Apa Itu Agroforesti?

Agroforestri adalah metode pengelolaan lahan yang mengintegrasikan budidaya tanaman kehutanan, pertanian, dan peternakan dalam satu sistem yang saling mendukung. Pendekatan ini ditujukan sebagai solusi atas permasalahan konversi lahan yang seringkali berdampak negatif terhadap lingkungan.

Konversi lahan yang tidak terencana dapat menimbulkan berbagai kerusakan ekologis, seperti banjir, kekeringan, erosi tanah, penurunan kesuburan lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, serta percepatan perubahan iklim.

Dengan menerapkan agroforestri, masyarakat dapat menjaga fungsi ekologis lahan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari hasil pertanian dan kehutanan.

Secara etimologis, istilah agroforestry berasal dari bahasa Inggris, yakni “agro” yang berarti pertanian dan “forestry” yang berarti kehutanan. Di Indonesia, konsep ini dikenal pula dengan sebutan wanatani—gabungan kata “wana” (hutan) dan “tani” (pertanian).

Istilah ini mencerminkan harmonisasi antara kegiatan pertanian dan pelestarian hutan dalam satu kesatuan ekosistem yang berkelanjutan.

Pentingnya Studi Banding Agroforesti bagi Kelompok Tani Dampingan YIARI

Petani dampingan YIARI menggali ilmu kelembagaan usaha kelompok tani di KPH Pesawaran (Tim Comdev | YIARI)

Kegiatan studi banding yang dilaksanakan pada 17–19 Desember 2024 menjadi momen penting bagi delapan petani dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Makmur dan Wanatani Lestari.

Dalam kunjungan ini, mereka memperoleh kesempatan langsung untuk belajar dari praktik kelembagaan dan usaha tani yang diterapkan oleh kelompok tani di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Pesawaran, Lampung.

Adapun tujuan utama kegiatan ini adalah:

1. Memperkuat pemahaman petani mengenai kelembagaan usaha tani berbasis pertanian berkelanjutan

Studi banding ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas petani dalam memahami struktur, peran, dan fungsi kelembagaan dalam konteks usaha tani. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai sistem kelembagaan, petani diharapkan mampu menjalankan kegiatan pertanian secara lebih terorganisir dan berkelanjutan, baik dari segi produksi, pemasaran, maupun pengelolaan sumber daya.

2. Belajar langsung dari kelembagaan kelompok tani yang telah terbukti solid dan bersifat kolektif

KPH Pesawaran dipilih sebagai lokasi pembelajaran karena kelompok tani di wilayah ini telah berhasil membentuk kelembagaan yang kuat dan mampu menjalankan usaha tani secara kolektif. Pengalaman langsung dari kelompok tani ini menjadi referensi konkret bagi petani dampingan YIARI untuk memahami bagaimana tata kelola yang baik dapat mendorong keberhasilan bersama.

3. Menggali penerapan sistem agroforestri yang terintegrasi dengan prinsip konservasi alam

Melalui studi banding ini, para petani mendapatkan wawasan mengenai bagaimana sistem agroforestri dapat diterapkan dalam skala kelompok. Model ini tidak hanya menggabungkan fungsi produksi pertanian dan kehutanan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan melalui perlindungan tanah, air, dan keanekaragaman hayati.

4. Meninjau dampak sistem agroforestri dalam meningkatkan produktivitas lahan

KPH Pesawaran menunjukkan bahwa pendekatan agroforestri dapat memberikan manfaat multidimensi: meningkatkan hasil pertanian, menjaga stabilitas lingkungan, serta menciptakan sumber penghasilan yang berkelanjutan. Hal ini penting untuk diterapkan oleh kelompok tani lainnya yang ingin memperkuat ketahanan ekonomi dan ekologis.

5. Mendalami aspek manajerial kelembagaan kelompok tani

Selain aspek teknis pertanian, peserta juga dibekali dengan pemahaman tentang tata kelola kelembagaan yang mencakup sistem kerja kolektif, manajemen pemasaran, serta pencatatan administratif yang transparan dan akuntabel. Hal ini menjadi fondasi penting bagi kelompok tani agar mampu berkembang secara profesional.

6. Mendorong kemandirian dan daya saing usaha tani

Dengan bekal pengetahuan dan pengalaman dari studi banding, petani dampingan diharapkan mampu mengadopsi praktik kelembagaan yang terbukti berhasil. Langkah ini penting untuk meningkatkan efisiensi operasional kelompok, memperkuat solidaritas anggota, serta memperluas akses pasar dan peluang ekonomi secara mandiri.

Sinergi Berbagai Pihak untuk Peningkatan Kapasitas Petani

Keberhasilan studi banding ini tak lepas dari peran aktif berbagai pihak yang terlibat dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan. Kolaborasi lintas sektor antara lembaga pendamping, tenaga ahli, dan pelaku usaha tani menjadi kunci dalam memperkuat kapasitas kelompok tani.

Pihak-pihak yang berperan dalam kegiatan ini antara lain:

  • Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) sebagai inisiator dan penyelenggara, bertanggung jawab atas koordinasi dan fasilitasi kegiatan.
  • KPH Pesawaran sebagai mitra utama dan tuan rumah studi banding, berbagi pengalaman nyata dalam kelembagaan kelompok tani dan penerapan sistem agroforestri.
  • KPH Batutegi, yang mendampingi petani dampingan selama proses pembelajaran berlangsung.
  • Jurusan Kehutanan Universitas Negeri Lampung, yang turut berperan sebagai pendamping lapangan dan penghubung antara aspek akademik dan praktik lapangan.
  • Kelompok Tani di KPH Pesawaran, yang berperan sebagai narasumber utama, memberikan inspirasi serta berbagi praktik baik dalam pengelolaan usaha tani berbasis agroforestri.

Delapan peserta studi banding berasal dari dua Gapoktan aktif, yakni Sumber Makmur dan Wanatani Lestari, yang selama ini telah mengikuti program pemberdayaan petani yang diinisiasi oleh YIARI.

Melalui kegiatan ini, para petani diharapkan mampu mereplikasi praktik kelembagaan yang berhasil dan membangun sistem usaha tani yang lebih kuat, mandiri, dan berkelanjutan.

Rangkaian Kegiatan Studi Banding di KPH Pesawaran

Kegiatan menggali ilmu kelembagaan kelompok usaha tani di KPH Pesawaran (Tim Comdev | YIARI)

Selama studi banding, peserta mengikuti berbagai kegiatan mulai dari diskusi, kunjungan lapangan, hingga praktik pengolahan hasil pertanian. Berikut rangkaian kegiatan yang dilakukan delapan petani dampingan YIARI di KPH Pesawaran:

Hari Pertama: Pengenalan dan Kunjungan Lapangan

Kegiatan dimulai dengan sesi pengenalan tentang KPH Pesawaran, termasuk diskusi interaktif yang membahas tujuan serta manfaat kelembagaan kelompok tani dalam menunjang keberlanjutan usaha pertanian. Para peserta kemudian berdiskusi langsung dengan pengurus Gapoktan di KPH Pesawaran untuk memahami struktur organisasi, sistem pengelolaan usaha, serta dinamika kelompok tani yang telah berjalan.

Setelah istirahat dan shalat ashar, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke lahan pertanian milik petani lokal yang telah menerapkan pola agroforestri. Beberapa komoditas yang diamati antara lain pala, kemiri, kakao, dan kapulaga. Peserta juga mengikuti sesi khusus mengenai kombinasi agroforestri kompleks, yang menampilkan strategi diversifikasi tanaman untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.

Di malam hari, para peserta mengikuti kegiatan “Ngobrol Pintar (Ngopi) Petani”, yaitu forum santai yang membuka ruang dialog antarpetani. Dalam suasana informal ini, peserta dapat bertukar pengalaman, mengajukan pertanyaan, serta menggali wawasan lebih dalam mengenai praktik pertanian ramah lingkungan yang diterapkan di KPH Pesawaran.

Hari Kedua: Diskusi dan Pendalaman Materi

Fokus kegiatan pada hari kedua adalah pendalaman materi melalui diskusi intensif. Peserta mempelajari sejarah kelembagaan kelompok tani di KPH Pesawaran, khususnya mengenai transisi pengelolaan lahan dari sistem monokultur ke agroforestri. Mereka juga mendalami berbagai pola agroforestri, termasuk teknik pengelolaan lahan, pemanenan, dan pemasaran hasil.

Selanjutnya, peserta mempelajari strategi kelembagaan dalam mengelola produk hasil pertanian, seperti proses pengolahan, pengemasan, dan distribusi. Diskusi juga mencakup peran aktif KPH Pesawaran dalam membina petani melalui penguatan kelembagaan pemasaran dan pengembangan koperasi.

Sore harinya, peserta melakukan sesi refleksi untuk mengevaluasi pengetahuan dan wawasan yang telah diperoleh. Kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta untuk mengidentifikasi pelajaran penting yang bisa diterapkan di kelompok tani masing-masing. Di malam hari, sesi “Ngopi Petani” kembali diadakan sebagai forum lanjutan untuk memperdalam diskusi dan mempererat hubungan antarpeserta dan petani lokal.

Salah satu sesi menggali ilmu kelembagaan usaha kelompok tani dengan berdiskusi (Tim Comdev | YIARI)

Hari Ketiga: Praktik Pengolahan Produk dan Penutupan

Pada hari terakhir, peserta mengikuti sesi praktik langsung pengolahan hasil pertanian. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain:

  • Pengolahan kemiri menjadi minyak berkualitas tinggi, yang memiliki nilai ekonomi besar dalam industri pangan dan kosmetik.
  • Pengolahan pala menjadi produk turunan, seperti manisan atau bumbu siap pakai, untuk meningkatkan daya jual komoditas tersebut.
  • Pembuatan arang briket dari kulit kemiri, sebagai bentuk pemanfaatan limbah pertanian yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis.

Setelah sesi praktik, peserta kembali melakukan refleksi akhir untuk menyusun rencana tindak lanjut yang realistis dan sesuai dengan kondisi kelompok tani mereka. Studi banding ini diakhiri dengan sesi penutupan resmi, di mana para peserta menyampaikan komitmen mereka dalam mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan berlangsung.

Harapan dan Rencana Tindak Lanjut

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan studi banding ini, para peserta diharapkan mampu mengadaptasi dan menerapkan pengetahuan mengenai kelembagaan usaha kelompok tani ke dalam konteks lokal di komunitas masing-masing.

Pembentukan kelembagaan yang lebih kuat menjadi prioritas utama, dengan mengadopsi model yang telah terbukti berhasil diterapkan di KPH Pesawaran. Melalui proses ini, kelompok tani diharapkan mampu membangun struktur organisasi yang solid, berorientasi pada kerja sama, dan mendukung pertumbuhan usaha secara kolektif.

Pengembangan usaha berbasis agroforestri juga menjadi fokus utama dalam rencana lanjutan peserta. Dengan pendekatan ini, mereka tidak hanya mengejar peningkatan produktivitas dan pendapatan, tetapi juga turut menjaga keseimbangan lingkungan melalui praktik pertanian yang berkelanjutan. Implementasi sistem agroforestri diyakini mampu menjawab tantangan pertanian modern yang membutuhkan integrasi antara aspek ekonomi dan ekologi.

Dalam hal pengolahan pascapanen, peserta berkomitmen untuk menerapkan berbagai teknik yang telah dipelajari selama studi banding. Di antaranya adalah penggunaan alat pengering (dryer) untuk menjaga kualitas hasil panen serta pengolahan komoditas menjadi produk bernilai tambah, seperti minyak kemiri, olahan pala, atau briket dari limbah pertanian.

Langkah-langkah ini dirancang untuk memperluas potensi pasar dan meningkatkan pendapatan kelompok, sekaligus mengurangi limbah dan dampak negatif terhadap lingkungan.

Apresiasi kepada Semua Pihak yang Terlibat

Kesuksesan kegiatan studi banding ini tidak terlepas dari kontribusi dan sinergi berbagai pihak. Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada KPH Pesawaran yang telah membuka ruang pembelajaran bagi petani dampingan YIARI, serta berbagi praktik terbaik dalam pengelolaan kelembagaan dan penerapan agroforestri.

Dukungan dari KPH Batutegi sebagai pendamping serta kelompok tani setempat yang menjadi narasumber lapangan, telah menjadi fondasi penting dalam keberhasilan program ini.

Melalui kegiatan ini, petani dampingan YIARI memperoleh bekal pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan untuk memperkuat kelembagaan kelompok, memperluas jejaring kerja sama, dan meningkatkan efektivitas pengelolaan usaha tani.

Harapannya, dengan sistem yang lebih tertata dan pendekatan kolektif yang solid, kelompok tani dapat menghasilkan produk yang lebih bernilai, memperluas akses pasar, serta membangun usaha yang berdaya saing dan berkelanjutan. Ilmu yang diperoleh juga diharapkan dapat ditularkan ke anggota kelompok lainnya, sehingga manfaat studi banding ini dapat dirasakan secara luas di tingkat komunitas.

Pengalaman Herma dan Isna Magang Multidivisi: Belajar SMART Patrol sampai Membuat Pestisida Nabati

HERMA YULIANTIKA

Proses melepaskan plastik sambungan stek pucuk bibit alpukat bersama kelompok tani beringin 4 (Dok. pribadi)

Halo, Sobat #KonservasYIARI saya Herma Yuliantika kerap disapa dengan panggilan herma. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Institut Teknologi Sumatera, program studi S1 Rekayasa Kehutanan semester 6, Saya berasal dari Kotabumi Utara, Lampung Utara. Sebagai seorang mahasiswa Rekayasa Kehutanan, saya tertarik untuk mengikuti magang di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) untuk mengeksplorasi kegiatan di YIARI, kemudian saya juga pernah mengikuti kegiatan di YIARI sebagai volunteer penelitian kupu-kupu pada Agustus 2022.

Saya memiliki minat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pengendalian hama & penyakit atau pemeliharaan tanaman, salah satunya yaitu pestisida nabati. Salah satu divisi di YIARI yaitu Community Developmet (Comdev) memiliki program pendampingan dan monitoring terhadap Gapoktan, salah satunya yaitu pembuatan pestisida nabati yang diaplikasikan di persemaian. Hal tersebut membuat saya semakin tertarik magang di YIARI.

Aktivitas saya selama magang lebih dominan mengikuti kegiatan COMDEV bersama bang Aji Mandala. Saya mengikuti kegiatan pendampingan dan monitoring peternakan dan persemaian di kelompok tani Sumber Makmur, di lokasi tersebut juga saya melakukan wawancara dengan mas wawan dan ibu sri mengenai pestisida nabati yang sudah mereka aplikasikan sebagai bahan pengetahuan saya dalam melakukan penelitian, hasil dari wawancara yang saya dapatkan bahwa kelompok tani yang dibina oleh YIARI cenderung memiliki kemajuan berpikir dalam pengelolaan pertanian yang ditandai dengan penggunaan pestisida nabati yang lebih dominan dibandingkan pestisida kimia.

Kemudian, saya juga mengikuti monitoring persemaian di kelompok tani beringin 4 dan balai rejo. Saat monitoring persemaian di beringin 4, saya bersama anggota kelompok tani mencoba membuat pestisida nabati sebagai bahan penelitian saya yang terbuat dari bahan brotowali dan sereh wangi yang diaplikan pada hama ulat dan penggerek buah kopi.

Hasil diskusi yang saya dapatkan dari kelompok tani beringin 4, penggerek buah kopi menjadi permasalahan yang cukup merugikan petani, oleh sebab itu saya memilih penggerek buah kopi sebagai bahan uji coba pestisida nabati. Hasil pengujian mortalitas yang dilakukan, pestisida nabati cenderung efektif pada hama ulat dan penggerek buah kopi di semua perlakuan hanya yang membedakan lamanya waktu kematian hama.

Herma bersama kelompok tani membuat pestisida nabati dari sereh wangi dan brotowali (Dok. pribadi)

Saya berkesempatan untuk belajar menggunakan aplikasi SMART oleh Mas Ari Sutopo, beliau mengajarkan penggunaan smart desktop dan mobile. Kemudian, saya juga berkesempatan mengikuti kegiatan edukasi oleh kak inggit dalam acara ulang tahun ke-8 Taman Baca Jalosi Sanak Negeri.

Saya juga belajar mengidentifikasi satwa dari hasil camera trap Batutegi yang didampingi oleh bang Aris, saat mengidentifikasi satwa tersebut saya cukup senang karena di hutan batutegi khususnya blok inti masih terdapat satwa yang sebelumnya belum pernah saya lihat secara langsung yaitu kuau, landak, kancil, musang leher kuning, linsang, babi, beruang, dan lain sebagainya.

Kegiatan akhir yang saya ikuti yaitu acara Hari Bebas Plastik Sedunia di gunung tanggamus bersama IAR-BOLANG LANSIA, dari acara tersebut saya jadi memiliki pengalaman mendaki di campground gunung tanggamus dan membuka pemikiran saya mengenai bahaya nya sampah plastik terhadap lingkungan.

Banyak pengalaman menarik selama magang di YIARI, baik di lapangan atau di kantor. Kegiatan COMDEV merupakan kegiatan yang paling berkesan untuk saya karena di COMDEV saya mendapatkan ilmu baru mengenai pengelolaan pertanian dan peternakan yang bijak, serta meningkatkan jiwa bersosialisasi bersama kelompok tani.  Hal menarik lainnya yaitu saya banyak bertemu orang-orang yang hebat di YIARI ataupun komunitas-komunitas lain yang menambah ilmu pengetahuan saya. 

ROISNA YURISBA

Proses pembuatan pestisida nabati dengan bahan disekitar lingkungan masyarakat (Dok. pribadi)

Hai teman-teman, nama saya Roisna Yurisba biasa dipanggil Isna. Saya adalah mahasiswa semester 6 Program Studi S1 Rekayasa Kehutanan dari Institut Teknologi Sumatera, saya berasal dari Tanggamus. Saya tertarik melakukan kegiatan magang di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dikarenakan Program Studi yang saya tempuh memiliki kegiatan yang sama dengan YIARI, sehingga saya dapat peluang untuk belajar, mengasah keterampilan, mengeksplorasi minat, berkontribusi dan dapat membuka pandangan tentang masa depan.

Saya mengenal YIARI saat Bapak Robithotul Huda, S.Si., M.Ling menghadiri acara Seminar Nasional Hasil Ekspedisi Observasi Lingkungan Kehutanan (ORANGUTAN) yang diadakan oleh Himpunan FORESTA serta rekomendasi teman yang pernah menjadi volunteer di naungan YIARI. 

Kegiatan yang telah saya lakukan selama sebulan magang di YIARI Indonesia antara lain mempelajari penggunaan dan mengolah data di SMART App yang berguna untuk mengumpulkan data yang terjadi di sekitar lingkungan didampingi oleh Bang Ari, berkesempatan dapat mengidentifikasi dan mengetahui persebaran satwa liar yang ada di kawasan Batutegi dari camera trap yang didampingi oleh Bang Aris dan melakukan kegiatan Community Development (Comdev) diantaranya menghadiri ulang tahun ke-8 Taman Baca Jalosi Sanak Negeri di Batutegi.

Di sana saya melihat bagaimana antusiasnya anak-anak dalam memeriahkan acara tersebut, saat itu saya bertanya kepada keluarga pemilik Taman Baca tersebut dan menyatakan bahwa anak-anak sangat senang membaca buku bahkan datang ke Taman Baca sebelum waktu yang ditentukan, mengikuti pemantauan dan evaluasi terhadap Gapoktan di Sumber Makmur, Beringin 4, dan Balai Rejo dimana saya mengetahui bagaimana cara melakukan persemaian yang baik terhadap jenis tanaman yang berbeda, pembuatan JAKABA (Jamur Keberuntungan Abadi).

Kemudian saya berkesempatan diajak oleh Kak Inggit untuk mengikuti edukasi Peringatan Hari Tanpa Kantong Plastik Sedunia yang diadakan di Gunung Tanggamus. Penelitian yang saya lakukan di YIARI adalah uji efektivitas insektisida nabati menggunakan bahan buah maja dengan campuran kunyit yang dilakukan di desa Beringin 4 bersama Gapoktan yang dibantu oleh Bang Aji. 

Pembuatan Pestisida Nabati Buah Maja dan Kunyit yang Dibantu Oleh Petani Gapoktan Beringin 4 (Dok. pribadi)

Menurut hasil wawancara bersama Gapoktan desa Beringin 4 menyatakan bahwa hama penggerek buah dapat menyebabkan kerusakan sebesar 20 % yang mengakibatkan buah kopi mengalami pembusukan. Sehingga dengan dibantu dalam pencarian buah maja dan kunyit di lahan petani diharapkan hasil Insektisida Nabati yang telah saya buat dapat mematikan hama tersebut dan menjadi solusi bagi petani kopi. Menurut saya hasil desa yang di bina oleh YIARI sangat berdampak positif bagi pola pikir warga yang dulunya bekerja sebagai pemburu sekarang fokus terhadap persemaian dan warga setempat sangat aktif mengikuti kegiatan dari YIARI seperti berkontribusi mengikuti sekolah lapang.

Selain ramah lingkungan, alasan warga memilih menggunakan pestisida nabati dibandingkan pestisida kimia adalah rendah residu terpaparnya pada hewan, penggunaan lebih aman, bermanfaat bagi kesehatan manusia, dan memanfaatkan keanekaragaman hayati setempat untuk dijadikan sebagai pestisida nabati sehingga saya mendapatkan pengalaman selama magang di YIARI seperti saya memperoleh banyak pengalaman baru, meningkatkan semangat yang tinggi terhadap pengetahuan baru, saya senang bertemu dengan warga yang dapat bertukar informasi terkait pertanian dan bagaimana mengelola tanaman yang baik serta para staf YIARI yang mau membagikan pengetahuannya kepada saya. 

Kolaborasi Asik Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia di Gunung Tanggamus

Selamat hari bebas kantong plastik sedunia Sob! Untuk memperingati hari peringatan tersebut, pada 8 – 9 Juli 2023, kami bersama KPH Kota Agung Utara dan Komunitas Bolang Lansia Explorer mengajak para komunitas pecinta lingkungan untuk mengikuti rangkaian pendidikan lingkungan di Gunung Tanggamus, Lampung.

Tujuan kegiatan ini selain untuk memperingati hari bebas kantong plastik sedunia ialah mengajak pemuda komunitas khususnya yang ada di Provinsi Lampung untuk ikut berperan langsung dalam mengurangi limbah plastik dan menjaga lingkungan sekitar melalui  edukasi wisata sadar lingkungan, serta mendukung upaya untuk mewujudkan gunung Tanggamus bebas sampah.

Ngapain aja tuh kegiatannya? Ceritain dong kegiatannya mulai dari hari pertama!

Beragam banget dong kegiatannya! Jadi, kegiatan dimulai pada 8 Juli malam hari dengan agenda edukasi pemberian materi mengenai sampah. Materi disampaikan oleh tim pihak KPH Kota Agung Utara dan pihak tim YIARI. Pihak KPH Kota Agung Utara yang diwakili oleh Bapak Ponijan, S.ST, MMP selaku koordinator penyuluh menyampaikan kondisi terkait dan isu-isu yang ada di Gunung Tanggamus.

Penyampaian materi dari YIARI diwakili oleh Elif dan Juan, volunteer YIARI dari IPB yang aktif di komunitas Asarasi, yaitu komunitas yang bergerak dalam bidang konservasi dan lingkungan terutama mengenai sampah dan mikroplastik. Materi yang disampaikan keduanya menjelaskan tentang sampah, jenis-jenisnya, bahaya sampah plastik, serta cara mengurangi sampah plastik. Dalam diskusi ini peserta aktif menyampaikan pendapatnya dan juga menjawab setiap pertanyaan yang ditanyakan.

Kenapa di Gunung Tanggamus ya?

Jadi, kalau menurut penyampaian dari pihak KPH Kota Agung Utara, Gunung Tanggamus bisa dikata memiliki kondisi yang kurang ramah lingkungan nih, Sob. Jadi masih ditemui beberapa sampah yang menumpuk di beberapa lokasi. Nah, sampah ini kemungkinan ada akibat ulah perilaku para pendaki tidak bertanggung jawab yang meninggalkan sampah plastik, khususnya sampah logistik di atas gunung. Hingga saat ini masih ada sampah plastik yang tersebar di penjuru Gunung Tanggamus, bahkan hingga puncak!

Keseruan rangkaian kegiatan peringatan hari bebas plastik, yang diantaranya ada diskusi terkait sampah, serta penanaman pohon (Tim Edukasi | Yayasan IAR Indonesia)

Kalau di hari kedua?

Kegiatan hari kedua dimulai dengan menanam 50 bibit pohon kehutanan (Multi Purpose Tree Species) dengan jenis pohon alpukat, durian dan tambahan beberapa pohon beringin di sepanjang jalur pendakian menuju camp ground 1. Nah, kalau biasanya bibit untuk penanaman menggunakan plastik polybag yang tidak ramah lingkungan, tentu saja di hari bebas kantong plastik ini kami menggunakan ecopolybag yang ramah lingkungan!

Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan membersihkan sampah di sepanjang jalur pendakian camping ground Gunung Tanggamus hingga posko pendakian. Pada sesi ini, peserta dibagi menjadi lima orang dalam satu tim. Dengan alat tempur memungut sampah yaitu sarung tangan, pencapit dan trashbag, para peserta pun berangkat mengumpulkan sampah.


Eits jangan salah, trashbag yang digunakan pun berasal dari serat singkong loh, yang pastinya ramah lingkungan! Sampah yang terkumpul kemudian dibawa turun menuju  posko pendakian dan  dilakukan penimbangan serta penentuan juara, berdasarkan berat sampah yang berhasil dikumpulkan. Setelah semua sampah ditimbang, ketahuan deh bahwa total sampah yang terkumpul sebanyak 51,5 kg! Ternyata masih banyak sekali ya sampah yang masih terdapat di Gunung Tanggamus .

Wow ramai gak yang ikut?

Selain Bolang Lansia Explorer -yep, kepanjangannya dari bocah petualang lanjut usia- sebagai kolaborator, tujuh komunitas lainnya turut berpartisipasi dalam acara ini, di antaranya Tapak Lampung, Komunitas Jejak Hantu, Future Indonesia, Lentera Nusantara, Wisata Lampungsai, Asa Konservasi, dan Sahabat Laut Indonesia. Total peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 47 orang yang berasal dari seluruh komunitas yang hadir.

Keseruan rangkaian kegiatan peringatan hari bebas plastik pada hari kedua (Tim Edukasi | Yayasan IAR Indonesia)

Seru banget! Para pesertanya full power semangat membersihkan lingkungan ya!

Iyadong! Bahkan setelah acara selesai dan ditutup pun para peserta kembali menuruni gunung sambil aktif memungut sampah, luar biasa ya Sob semangat para partisipan kegiatan untuk menjaga lingkungan! Jangan mau kalah ya! Oiya untuk dapat menyebarkan edukasi yang telah disampaikan, para peserta diberi challenge mengunggah foto atau video ke instagram, dengan meng-tag ig @iar_indonesia dan @bolanglansia, kemudian diberi tagar #SampahmuTanggungJawabmu dan #PendakiBijakTanpaPlastik.

Semoga selain Gunung Tanggamus, gunung-gunung  dan bentang alam lainnya bisa bebas dari sampah ya!

 

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Fathia Rosatika

Memperingati Hari Lingkungan Hidup dengan Edukasi Konservasi di Taman Baca Jalosi, Lampung

Selamat Hari Lingkungan Hidup sedunia, Sobat #KonservasYIARI!

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup sedunia yang diperingati setiap tanggal 05 Juni, kami mengadakan kegiatan bertema konservasi pada 04 Juni 2023 lalu di Taman Baca Jalosi Sanak Negeri yang berlokasi di Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

Kegiatan yang didampingi Kak Inggit, salah satu inisiator dari YIARI, ini berkolaborasi dengan volunteer dan komunitas pemuda “Bolang Lansia Explorer”. Sebanyak 33 anak-anak dari PAUD hingga SMP aktif mengikuti rangkaian kegiatan sampai akhir.

Anak-anak fokus mengikuti kegiatan membaca, mewarnai dan menggambar (Tim Edukasi | Yayasan IAR Indonesia)

Kegiatan yang dilakukan meliputi pembuatan persemaian mini di lingkungan taman baca dengan ukuran 2 m x 3 m, belajar membaca untuk anak-anak PAUD, membaca puisi, mewarnai, juga menggambar.

Tanaman yang ditanam pada persemaian adalah beragam jenis sayur mayur seperti bayam hijau, terong hijau bulat, timun lalap, rempai, sawi bunga, kangkung, dan cabai. Setelah persemaian dibuat, anak-anak diberi tanggung jawab untuk merawat tanaman tersebut. Jika anak-anak berhasil merawat tanaman tersebut sampai siap panen, hasil panennya pun dapat dimanfaatkan langsung oleh mereka!

Persiapan bahan dan persemaian lahan untuk pembuatan persemaian mini  (Tim Edukasi | Yayasan IAR Indonesia)

Dengan adanya kegiatan pembuatan persemaian mini tersebut, harapannya anak-anak peserta dapat memiliki rasa tanggung jawab untuk melakukan kegiatan pemeliharaan terhadap tanaman yang telah mereka tanam. Semoga rangkaian kegiatan ini juga dapat menanamkan rasa menjaga lingkungan dan mencintai makhluk hidup yang berada di lingkungan sekitar.

Selain manfaat yang didapat dari kegiatan untuk anak-anak peserta, kegiatan ini juga bermanfaat untuk pemuda-pemuda komunitas dan dapat menjadi inspiratif tindakan pergerakan mengajak anak muda untuk ikut serta dalam kegiatan konservasi.

Hasil kerja keras dan semangat adik-adik peserta yang dipandu kakak-kakak, akhirnya persemaian mini sudah jadi! (Tim Edukasi | Yayasan IAR Indonesia)

Semoga harapan-harapan yang ada terkait acara ini bisa terwujud ya, aamiin! Rencananya, akan dilakukan kegiatan kolaborasi lanjutan bersama beberapa pihak di Taman Baca Jalosi Sanak Negeri dalam agenda Anniversary Taman Baca di bulan ini juga, nantikan keseruannya ya! Nah kalau Sobat #KonservasYIARI pernah ikut kegiatan lingkungan gak? 

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Fathia Rosatika

Dinas Kehutanan Lampung Adakan Lomba Cepat Tepat “Literasi Konservasi” Tingkat SMA

Dinas Kehutanan Provinsi Lampung bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Tanggamus, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, KPH Batutegi, KPH Pematang Neba, Forum Taman Bacaan Masyarakat Tanggamus, dan Yayasan IAR Indonesia (YIARI) menyelenggarakan Lomba Cepat Tepat (LCT) Konservasi dan Literasi tingkat SMA/SMK sederajat se-Kabupaten Tanggamus pada 26-27 Oktober 2022. Kegiatan yang didukung oleh Tanggamus Electric Power, PT. Tirta Investama Tanggamus, Institut Bakti Nusantara, dan Jawara Internet Sehat Lampung ini diikuti oleh 36 tim yang berasal dari 27 sekolah se-Tanggamus Raya. Kompetisi dilangsungkan di Kampus Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Islam (STEBI) Tanggamus, Lampung.

LCT dengan tema “Literasi Konservasi” ini diadakan sebagai ajang pembelajaran kepada para siswa di tingkat SMA/SMK dan sederajat untuk lebih peduli terhadap lingkungan di sekitarnya. Sebelum lomba dilaksanakan, peserta dibekali dengan kisi-kisi soal berupa pengetahuan alam di wilayah Kabupaten Tanggamus, pengetahuan konservasi di Indonesia, juga pengetahuan biodiversitas burung liar di KPH Batutegi. Sebelumnya, sebagai bahan pengetahuan, masing-masing tim mendapatkan Buku Burung Liar di Kawasan KPH Batutegi yang diterbitkan oleh YIARI.

Empat tim SMA/SMK dari Kabupaten Tanggamus berkompetisi secara sportif di kegiatan Lomba Cepat Tepat “Literasi Konservasi” (Didin Setiawan | IAR Indonesia)

Kegiatan LCT ini juga dihadiri dan dibuka oleh Bupati Tanggamus, Dewi Handajani, S.E., M.M. Beliau mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi adanya LCT “Literasi Konservasi” yang diselenggarakan oleh berbagai instansi dan komunitas di Kabupaten Tanggamus. “Harapannya, kegiatan LCT ini bisa memberikan pentingnya kesadaran untuk menyejahterakan masyarakat sekaligus menjaga alam,” ujarnya.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Ir. Yanyan Ruchyansyah yang hadir dalam acara ini menyatakan bahwa paradigma konservasi saat ini tidak hanya berfokus pada perlindungan habitat, tetapi juga pemberdayaan masyakarat. “Dengan diadakannya kegiatan LCT “Literasi Konservasi” ini, diharapkan dapat mendorong budaya baca para siswa di Kabupaten Tanggamus. Selain itu, LCT ini juga dapat memperkenalkan para siswa dengan pengetahuan mengenai konservasi hutan,” ujar Ir. Yanyan Ruchyansyah menambahkan.

Bupati Kabupaten Tanggamus, Dewi Handajani, menerima Buku Burung Liar di Kawasan KPH Batutegi karya Robithotul Huda dari Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Yanyan Ruchyansyah (Fattreza Ihsan | Yayasan IAR Indonesia)

Ketua Pelaksana LCT “Literasi Konservasi” sekaligus staf YIARI, Nur Istiqomatu Rosyidah, S.Si. menyatakan lomba cepat tepat ini tidak akan terlaksana tanpa adanya kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak. “Saya turut senang acara ini dapat berlangsung dengan lancar dan sukses. Yang terpenting kegiatan ini dapat menginisiasi upaya pendidikan konservasi lebih lanjut di wilayah Kabupaten Tanggamus dan sekitarnya,” ujarnya.

Pada hari pertama, tim yang terdiri masing-masing tiga orang mengikuti babak penyisihan bersama empat tim lainnya. Tim yang memiliki nilai tertinggi lolos untuk maju ke babak semifinal pada hari selanjutnya. Kemudian pada semifinal dipilih tiga tim terbaik untuk bertanding pada babak terakhir yaitu babak final. Juara 1 dari LCT ini adalah SMA Negeri 2 Kotaagung, disusul oleh SMA Negeri 1 Sumberrejo di posisi kedua, SMA Negeri 1 Semaka di posisi ketiga, dan SMA Negeri 1 Kotaagung yang mendapat peringkat harapan. Para juara diberi penghargaan secara langsung oleh Wakil Bupati Kabupaten Tanggamus, Hi. A.M. Syafi’i, S.Ag. Di samping hadiah berupa uang tunai, trofi, dan piagam penghargaan, para pemenang juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti field trip ke wilayah blok inti KPH Batutegi bersama tim Yayasan IAR Indonesia.

Para pemenang LCT mendapatkan piagam penghargaan dan piala dari Wakil Bupati Kabupaten Tanggamus, A.M. Syafi’i (Fattreza Ihsan | Yayasan IAR Indonesia)

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Sekolah Lapang Peningkatan SDM Kelembagaan Kelompok Tani HKm dan Optimalisasi Lahan Garapan Petani Agroforestri Gapoktan di Batutegi

Program Hutan Kemasyarakatan (HKm) merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan hutan sekaligus memberikan manfaat pada masyarakat dengan syarat mengembangkan sistem agroforestri. Penerapan sistem agroforestri pada lahan HKm diharapkan menjadi solusi untuk kebutuhan lahan sebagai faktor produksi sekaligus untuk pemulihan hutan terutama sebagai penyangga kehidupan.

Masyarakat sebagai pelaku utama dalam skema HKm merasakan dampak yang besar, karena masyarakat memiliki akses untuk dapat memanfaatkan hasil hutan bukan kayu yang dapat membantu dalam meningkatkan kesejahteraannya. Pengelolaan HKm akan berjalan dengan baik melalui sebuah wadah yaitu berupa kelompok tani hutan. Partisipasi aktif petani dalam kegiatan kelembagaan memberikan dampak positif yaitu berupa peningkatan pendapatan dari usaha tani yang signifikan dengan tetap memperhatikan kelestarian lahan HKm itu sendiri.

Pembuatan pupuk organik padat dan cair adalah salah satu materi pembelajaran dalam sekolah lapang yang diterima oleh Gapoktan Sumber Makmur (Tim Comdev | IAR Indonesia)

Pada praktiknya, petani penggarap belum mampu menerapkan sesuai dengan aturan yang berlaku dalam skema HKm. Hal ini juga terjadi pada tiga Gapoktan yang saat ini didampingi oleh YIARI di dalam wilayah kelola KPHL Batutegi, yaitu di Gapoktan Sumber Makmur, Mandiri Lestari dan Wanatani Lestari. Maka dari itu perlu adanya upaya dalam hal peningkatan SDM kelompok tani, baik dari segi kelembagaan kelompoknya dan juga tentang budidaya tanaman di lahan HKm nya. Hal ini penting dilakukan karena dalam pengelolaan lahan HKm upaya pelibatan masyarakat harus dilakukan dengan memperkuat kelembagaan masyarakat. Selanjutanya peningkatan pengetahuan kelompok tani tentang budidaya tanaman di lahan HKm juga sangat penting dilakukan karena banyak petani yang mengalami kendala dalam hal budidaya, seperti kecilnya angka hasil produksi tanaman, cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang belum tepat dan juga tentang pemberian pupuk yang selama ini banyak dari petani menggunakan pupuk kimia sebagai bahan untuk meningkatkan hasil produksi tanaman tanpa memperhitungkan dampak negatif yang akan timbul dikemudian hari.

Menjawab masalah diatas, maka YIARI mencoba membuat kegiatan yang bertujuan untuk menjawab permasalahan yang selama ini dihadapi petani dengan partisipasi aktif masyarakat petani HKm dalam sebuah kegiatan “Pendampingan sekolah lapang peningkatan SDM kelembagaan kelompok dan optimalisasi lahan garapan petani agroforestri”. Sehingga petani bisa memperoleh peningkatan pendapatan dan keberadaan lahan HKm tetap terjaga kelestariannya. Dampak positif tersebut nantinya dapat dilihat dari kondisi tutupan lahan HKm dan juga peningkatan pendapatan yang diperoleh oleh petani HKm sebelum dan sesudah adanya pendampingan yang dilakukan.

Para petani Gapoktan Wanatani Lestari dan Mandiri Lestari mendapat pemaparan teknik pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dari Bapak Eko Sukamto, penyuluh pertanian dari Kalimantan Barat (Tim Comdev | Yayasan IAR Indonesia)

Adapun tujuan pelaksanaan kegiatan Sekolah Lapang ini adalah :  (1) Meningkatkan pemahaman petani tentang kelembagaan kelompok di lahan HKm; (2) Memperkuat pemahaman petani tentang penerapan system agroforestry; (3) Mengenalkan dan memberikan pemahaman mengenai budidaya tanaman dengan penerapan agroforestri, pentingnya pupuk organik dan pengendalian OPT di lahan HKm;  (4) Melatih petani untuk bisa membuat pupuk organik secara mandiri dan mampu melakukan pengendalian OPT di lahan HKm.

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

PLN Diharapkan Jadi Leading Sector untuk Pencegahan Kasus Kukang Tersengat Listrik di Lampung

[et_pb_section admin_label=”section”] [et_pb_row admin_label=”row”] [et_pb_column type=”4_4″][et_pb_text admin_label=”Text”]

Kukang Sumatra merupakan salah satu primata dilindungi dan langka di Indonesia. Penyebaran kukang dengan nama latin Nycticebus coucang ini berada di wilayah Sumatra dan Jawa Barat, salah satunya Lampung. Sayangnya kini status konservasi kukang sumatera telah naik dari rentan menjadi terancam pada 2020 oleh Redlist IUCN. Hal ini dikarenakan oleh berbagai macam ancaman, salah satunya sengatan jaringan listrik.

Fenomena pemadaman listrik karena satwa liar, khususnya kukang, ternyata cukup sering terjadi di Lampung. Kukang yang sering melintas di jaringan listrik untuk berpindah tempat, dapat menyebabkan arus pendek yang berujung pada pemadaman listrik. Menurut data yang dihimpun oleh PLN Lampung, sejak tahun 2020 hingga Mei 2022, sebanyak 6.328 kasus gangguan pada jaringan listrik disebabkan oleh satwa liar yang tersengat di jaringan listrik. Dari ribuan kasus tersebut, kukang sumatera menjadi salah satu penyebab utama gangguan jaringan listrik di Lampung. Hampir sebagian besar kukang ditemukan mati akibat korsleting listrik.

Ancaman ini tentu berpotensi mengganggu infrastruktur jaringan listrik di wilayah Lampung, serta berpotensi menurunkan populasi kukang sumatera di habitatnya. Oleh sebab itu, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, SKW III Lampung BKSDA Bengkulu, dan Yayasan IAR Indonesia menginisiasi Diskusi Publik: “Jaringan Listrik Negara dan Upaya Konservasi Kukang Sumatera” untuk berupaya menyelesaikan permasalahan ini yang diselenggarakan di Kantor Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Kamis, 1 September 2022. Kegiatan ini turut mengundang PLN UID Lampung, media Konsentris.id, UNILA, jurnalis dari berbagai media cetak dan daring, organisasi non-profit, serta akademisi dari berbagai universitas dan institut.

Hary Putra Dwitama, Manajer Bagian Jaringan dan Konstruksi PLN UP3 Metro, menjelaskan permasalahan yang dialami instansinya terkait pemadaman listrik oleh kukang sumatera (Fattreza Ihsan | IAR Indonesia)

Pada kegiatan diskusi publik ini, para peserta diskusi membahas mengenai latar belakang dan penyebab, sejarah, dampak, serta bagaimana penyelesaian fenomena pemadaman jaringan listrik oleh kukang sumatera. Diskusi dipantik oleh Agus Setiawan, Dosen Manajemen Kehutanan UNILA yang menjabarkan apa itu kukang dan klasifikasinya, serta menjelaskan deskripsi biologi dan fungsi ekosistem dari kukang kepada para peserta. Agus Setiawan juga menjabarkan di mana saja permasalahan jaringan listrik kukang terjadi di daerah Sumatera, yaitu tersebar dari Batam, Sumatera Barat, dan Lampung.

Hifzon Zawahiri, Kepala SKW III Lampung BKSDA Bengkulu mengonfirmasi data banyaknya permasalahan jaringan listrik oleh kukang sumatera di Lampung. Ia menyatakan bahwa sejak tahun 2019 hingga tahun 2022, terdapat pelaporan penyerahan sebanyak 116 individu kukang yang tersengat listrik dari PLN. Irhamuddin, Fungsional PEH BKSDA Bengkulu menyatakan bahwa banyak tiang listrik yang melintas melalui kawasan hutan produksi yang merupakan habitat kukang. Sebanyak 70% konflik kukang terjadi pada tiang listrik yang ada di kawasan hutan lampung.

Manajer Bagian Jaringan dan Konstruksi PLN UP3 Metro, Hary Putra Dwitama, menjelaskan sebanyak 75,65 persen dari total kasus gangguan jaringan listrik oleh satwa liar selama 2021 sampai 2022 disebabkan oleh kukang. “Selama 2021 sampai 2022 itu kita menemukan untuk kasus kukang saja ada 1.200 kasus. Itu sekitar 75 persen dari semua kasus gangguan listrik karena satwa liar. Selebihnya karena tupai, ular, burung, monyet, kalelawar, dan lain-lain,” katanya dalam diskusi publik ini. Ia memperkirakan bahwa pemadaman listrik akibat satwa kukang sebagian besar terjadi pada malam hingga dini hari, atau sekitar pukul 18.00-06.00 WIB.

Selain instansi pemerintahan dan PLN yang hadir dalam diskusi publik ini, berbagai elemen masyarakat seperti jurnalis dan akademisi turut hadir untuk memberikan saran terkait fenomena pemadaman jaringan listrik negara oleh kukang (Fattreza Ihsan | Yayasan IAR Indonesia)

Untuk menyelesaikan permasalahan ini, ia menyatakan PLN UID Lampung telah melakukan pencegahan kukang supaya tidak naik ke jaringan listik sejak tahun 2017, terutama Saluran Utama Tegangan Menengah (SUTM) yang merupakan lokasi utama terjadinya gangguan listrik oleh kukang. Ia menyatakan PLN UID Lampung telah memasang caping untuk menghalangi kukang naik ke atas tiang serta rotari dan kejut binatang (kentang) untuk mencegah kukang merayap ke arah trafo. Sayangnya, menurut data dari PLN, instrumen tersebut hanya efektif selama satu tahun sejak dipasang dan mengalami penurunan efektivitas untuk mencegah kukang merayap menuju jaringan listrik negara.

Hendry Sihaloho, jurnalis dari Konsentris.id, menyatakan hasil liputannya yang berjudul “Fenomena Kematian Kukang Sumatera di Jaringan Listirk Negara di Lampung” yang dimuat dalam Konsentris.id, dalam diskusi ini. Menurutnya kukang perlu dilindungi karena memegang peranan penting dalam ekosistem hutan Lampung dan memberikan dampak positif bagi masyarakat di sekitarnya. Perlu adanya upaya yang sinergis antara berbagai pihak untuk menyelesaikan permasalahan ini. Dalam diskusi ini akhirnya para peserta menyepakati beberapa hal untuk menyelesaikan fenomena ini, di antaranya yaitu pemutakhiran data kukang yang tersengat listrik, pembentukan konsorsium atau platform bersama untuk mendiskusikan permasalahan ini, serta menetapkan PLN sebagai leading sector untuk upaya-upaya penyelesaian fenomena pemadaman listrik oleh kukang. Selain itu, disepakati pula rencana tindak lanjut yang akan dilakukan, yaitu memperkuat komunikasi serta pembentukan tim untuk memitigasi konflik kukang terkait dengan pembangunan jaringan listrik.

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
[/et_pb_text][/et_pb_column] [/et_pb_row] [/et_pb_section]

Kelahiran Istimewa Anak Kucing Emas di Hutan Lindung Batutegi

Di tengah ancaman yang semakin tinggi terhadap kawasan hutan di Provinsi Lampung khususnya kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Batutegi, tim survei dari KPHL Batutegi dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menemukan bahwa beberapa jenis satwa mampu bertahan hidup dan berkembang biak dengan baik di hutan ini. Salah satu satwa tersebut ialah kucing emas asia (Pardofelis temminckii). Dari hasil survei, terlihat induk kucing ini sedang membawa anaknya dan di tempat lain terlihat anak kucing ini sedang beraktivitas bersama induknya.

Penemuan aktivitas anak kucing ini terekam oleh kamera jebak (camera trap) pada bulan Mei 2022 lalu. Hal ini tentunya sangat menggembirakan namun juga menjadi tantangan ke depan untuk bisa mempertahankan kawasan KPHL Batutegi supaya tetap terjaga dengan baik. Ruang bagi satwa liar adalah salah satu komponen penting supaya mereka tetap mampu bertahan hidup dan berkembang biak dalam kawasan hutan ini.

Seekor kucing emas asia betina terekam oleh kamera jebak berjalan bersama anaknya di tengah Hutan Lindung (HL) Batutegi. Meski hanya terlihat sekilas, penemuan ini merupakan tanda bahwa kawasan HL Batutegi adalah daerah yang cocok untuk kehidupan satwa liar, terutama kucing emas (KPHL Batutegi)

KPHL Batutegi bersama dengan YIARI masih melakukan pendataan terhadap potensi keanekaragaman hayati yang ada di kawasan hutan tersebut dengan menggunakan camera trap kamera penjebak. Kamera dipasang dengan sistematis berdasarkan grid yang telah ditentukan yaitu 2×2 km dan tersebar di seluruh kawasan khususnya blok inti. Hasil sementara pemasangan kamera penjebak ini mendapatkan beberapa satwa seperti harimau sumatra, beruang madu, macan dahan, kambing hutan, serta banyak jenis satwa lainnya. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan survei yang pernah dilakukan pada tahun sebelumnya, yaitu tahun 2018.

Pada Maret 2022 lalu, Dinas kehutanan Provinsi Lampung, KPHL Batutegi dan YIARI memublikasi sebuah buku tentang potensi keanekaragaman hayati yang ada di kawasan KPH Batu tegi khususnya jenis burung dengan judul “Burung Liar Kawasan Hutan KPHL Batutegi: Menyingkap Keragaman Burung di Hutan Lindung Batu Tegi”. Dalam buku tersebut disebutkan tentang temuan-temuan jenis burung yang tersebar di kawasan Hutan Lindung Batutegi dengan total 245 jenis burung yang ditemukan yang tergabung dalam 61 famili. Hal ini merupakan salah satu buah dari hasil pendataan dan monitoring biodiversitas yang konsisten oleh KPHL Batutegi dan YIARI.

Menjaga hutan tidaklah mungkin dilakukan sendiri oleh pengelola kawasan yaitu KPHL Batutegi. Untuk itu maka berbagai pihak bersama-sama menjaga dan merawat hutan ini agar tetap lestari. Hal ini dilakukan supaya masyarakat mendapatkan manfaat yang besar dari kelestariannya.

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.