Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Kukang Jawa: Ciri-ciri, Habitat, Ancaman, dan Upaya Konservasi
Pernah coba cari informasi soal kukang jawa di internet?
Mirisnya, salah satu kata kunci yang paling sering muncul justru “harga kukang jawa”. Artinya, masih banyak orang yang penasaran bukan hanya tentang kehidupan satwa mungil ini, tapi juga bagaimana cara memilikinya sebagai peliharaan.
Padahal, kukang jawa seharusnya hidup bebas di alam, bukan di kandang. Nah, di artikel ini kita akan bahas lebih dalam tentang kukang jawa, mulai dari ciri khas, tempat tinggal asli, sampai ancaman yang membuat satwa ini makin langka!
Apa itu Kukang Jawa?
Kukang jawa (Nycticebus javanicus) adalah primata kecil endemik Pulau Jawa yang aktif di malam hari (nokturnal) dan termasuk dalam famili Lorisidae.
Satwa ini mudah dikenali dari wajahnya yang menggemaskan, mata besar yang membantu mereka melihat dalam gelap, serta gerakan lambat dan penuh kehati-hatian. Karena itulah, kukang sering dijuluki “monyet malas”, meski sebenarnya sebutan ini tidak tepat, kukang justru memiliki strategi bertahan hidup yang khas dan cerdas.
Dalam dunia internasional, kukang jawa dikenal sebagai Javan Slow Loris. Lebih dari sekadar primata lucu, mereka punya peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, mulai dari mengendalikan populasi serangga hingga membantu penyerbukan tanaman.
Kukang jawa memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari primata lain:
Mata besar dan bulat: mata kukang jawa berukuran besar, adaptasi alami untuk membantu mereka melihat dengan jelas di malam hari saat mencari makan atau bergerak di hutan.
Tubuh kecil dengan gerakan lambat: ukuran tubuhnya relatif kecil, dengan panjang rata-rata 30–38 cm. Mereka terkenal dengan gerakannya yang pelan dan hati-hati, sebuah strategi untuk menghindari predator.
Bulu tebal berwarna cokelat abu-abu: kukang jawa memiliki bulu halus berwarna cokelat keabu-abuan dengan garis gelap yang memanjang dari kepala hingga punggung. Corak ini membantu mereka berkamuflase di antara pepohonan
Gigi khusus untuk mengeluarkan racun: uniknya, kukang jawa adalah salah satu primata berbisa. Mereka punya kelenjar di lengan yang menghasilkan racun, lalu menjilatnya untuk bercampur dengan air liur. Gigitan mereka bisa menimbulkan reaksi berbahaya.
Ekornya sangat pendek: kukang jawa memiliki ekor yang sangat pendek sehingga tubuhnya tampak lebih mungil dan bulat.
Suara halus dan jarang terdengar: kukang jawa cenderung tenang dan jarang bersuara. Mereka lebih banyak berkomunikasi melalui isyarat tubuh atau bau yang ditinggalkan di ranting pohon.
Sebaran dan Populasi Kukang Jawa
Populasi kukang jawa kini semakin terfragmentasi akibat berbagai aktivitas manusia, seperti penggundulan hutan untuk industri perkebunan, pembukaan lahan pertanian, serta ekspansi pemukiman.
Satwa ini terutama dapat ditemukan di kawasan hutan primer dan sekunder, misalnya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak di Jawa Barat, Taman Nasional Ujung Kulon di Banten, serta hutan-hutan di sekitar Gunung Slamet dan Gunung Merapi.
Selain itu, kukang jawa juga tercatat mendiami hutan bakau dan hutan pantai yang masih memiliki tutupan vegetasi rapat.
Namun, semakin banyak individu yang terlihat di perkebunan karet dan kopi, yang meskipun menyediakan sumber makanan, bukanlah habitat alaminya. Kondisi ini menyebabkan fragmentasi habitat yang serius, meningkatkan risiko isolasi genetik, serta memperkecil peluang kukang jawa untuk bertahan hidup di alam liar.
Populasi Kukang Jawa
Menurut data dari IUCN, laporan dari YIARI, serta penelitian yang diterbitkan oleh Mongabay, kukang jawa dikategorikan sebagai spesies Kritis (Critically Endangered) karena populasi mereka terus menurun drastis. Perburuan untuk dijadikan peliharaan eksotis, pemotongan gigi yang menyiksa, serta hilangnya habitat akibat deforestasi menjadi faktor utama kepunahan mereka.
Dalam beberapa dekade terakhir, diperkirakan lebih dari 80% populasi kukang jawa telah hilang akibat perburuan dan perusakan lingkungan.
Jika tidak ada tindakan serius, spesies ini bisa punah dalam waktu dekat.
Habitat dan Ekologi Kukang Jawa
Gambar kukang jawa/Fattreza Ihsan YIARI
Habitat dan ekologi yang stabil sangat penting bagi kelangsungan hidup kukang jawa. Mengetahui di mana mereka tinggal dan bagaimana mereka beradaptasi akan membantu memahami mengapa konservasi spesies ini menjadi krusial.
Habitat Kukang Jawa
Kukang jawa paling banyak ditemukan di hutan primer dengan tutupan pohon rapat, karena lingkungan ini memberi perlindungan alami dari predator maupun manusia.
Hutan yang masih utuh juga menawarkan suhu dan kelembapan stabil, mendukung metabolisme serta pola hidup nokturnal mereka, sekaligus membantu menghindari stres akibat perubahan lingkungan yang mendadak. Selain sebagai tempat berlindung, hutan primer menyediakan sumber makanan berlimpah seperti buah, nektar, dan serangga.
Sayangnya, akibat deforestasi dan perubahan fungsi lahan, kukang jawa kini semakin sering ditemukan di hutan sekunder, hutan bakau, sampai hutan pantai dengan vegetasi beragam.
Beberapa bahkan bertahan di perkebunan karet, kopi, dan cengkeh yang masih memiliki pohon besar untuk tempat tinggal. Kondisi ini menunjukkan adanya fragmentasi habitat yang memaksa kukang beradaptasi di lingkungan kurang ideal. Tak jarang mereka terlihat di sekitar pemukiman manusia, di mana risiko perburuan, perdagangan ilegal, dan konflik semakin tinggi.
Peran Ekologi Kukang Jawa
Penyerbuk alami: saat mengisap nektar, serbuk sari menempel di tubuh kukang dan berpindah ke bunga lain ketika mereka bergerak, sehingga membantu proses penyerbukan yang penting bagi regenerasi tumbuhan hutan.
Pengendali populasi serangga: kukang memangsa berbagai serangga, termasuk hama seperti belalang, kecoa, dan serangga kecil lainnya yang berpotensi merusak vegetasi, sehingga membantu menjaga keseimbangan ekosistem secara alami.
Indikator kesehatan ekosistem: keberadaan kukang menandakan bahwa suatu kawasan hutan masih memiliki keanekaragaman hayati yang baik, sedangkan penurunan populasinya sering menjadi tanda ekosistem sedang mengalami degradasi akibat aktivitas manusia.
Ancaman Kukang Jawa
Gambar kukang jawa sedang memanjat pohon/Rendi Afandi YIARI
Meski sudah berstatus satwa yang dilindungi, kukang jawa tetap menghadapi berbagai ancaman serius yang membuat populasinya terus menurun.
1. Perdagangan ilegal
Kukang sering dijadikan hewan peliharaan eksotis karena penampilannya yang menggemaskan. Menurut laporan Yayasan IAR Indonesia (YIARI), ribuan kukang diperdagangkan secara ilegal setiap tahunnya, terutama melalui media sosial seperti Facebook dan WhatsApp.
2. Pemotongan gigi secara paksa
Untuk menghilangkan bahaya gigitannya, pedagang kerap mencabut gigi kukang dengan cara brutal. Tindakan ini sering menyebabkan infeksi parah, dan banyak kukang mati dalam perjalanan sebelum sampai ke tangan pembeli.
3. Hilangnya habitat
Studi Wich et al. (2018) mencatat, lebih dari 50% habitat kukang jawa telah hilang dalam tiga dekade terakhir akibat konversi hutan menjadi lahan pertanian dan pemukiman.
4. Perubahan iklim dan penggunaan pestisida
Perubahan suhu dan curah hujan yang tidak menentu memengaruhi ketersediaan makanan bagi kukang. Selain itu, penggunaan pestisida di perkebunan turut menurunkan populasi serangga yang merupakan sumber makanan utama mereka.
Bayangkan jika suatu hari nanti anak-anak kita hanya bisa melihat kukang jawa di buku sejarah, bukan lagi di alam liar. Jika eksploitasi terus berlanjut, skenario ini bukan sekadar kemungkinan, melainkan kenyataan yang kian mendekat.
Kita semua punya pilihan: membiarkan mereka punah, atau bertindak sekarang. Jangan pernah membeli kukang sebagai peliharaan, sebarkan informasi tentang bahaya perdagangan ilegal, dan dukung lembaga konservasi yang bekerja keras untuk menyelamatkan mereka.
Satu langkah kecil dari kita bisa menjadi harapan besar bagi kelangsungan hidup kukang jawa.
Hutan akan kehilangan salah satu penjaganya jika kukang benar-benar lenyap. Namun, selama masih ada kepedulian dan keberanian untuk bertindak, harapan itu tetap ada. Kini giliran kita: akankah kamu ikut menyelamatkan mereka?
Featured image: Gambar kukang jawa/Denny Setiawan YIARI
Kisah Barda, Kukang Jawa Korban Tembakan Senapan Angin
Barda, seekor kukang jawa (Nycticebus javanicus), ditemukan dalam kondisi yang bikin hati miris.
Matanya ditembus peluru, membuat ia kehilangan penglihatan dan tak bisa lagi menikmati hutan tempatnya hidup.
Kejadian ini terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Sukabumi, Jawa Barat, sebuah bukti betapa perburuan masih jadi ancaman nyata bagi satwa liar.
Namun, cerita Barda tidak berhenti di sana. Di balik luka yang ia bawa, ada orang-orang yang berusaha memberinya kesempatan kedua untuk bertahan.
Barda, kukang jawa jantan yang akan menjadi saksi nyata kekejaman perburuan liar. (Rendi Afandi|YIARI)
Artikel ini akan mengajak kita mengenal lebih dekat perjalanan Barda, perawatan yang ia jalani di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), sekaligus membahas bagaimana kukang jawa (salah satu satwa endemik Jawa) terus berjuang melawan ancaman kepunahan.
Barda Harus Menjalani Operasi Pengangkatan Mata
Hasil pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan, peluru yang merenggut penglihatan Barda bersarang di dekat pelipis matanya. Kondisi ini membuat kedua matanya tak lagi memiliki refleks normal.
Menurut penjelasan drh. Indri Saptorini, dokter hewan YIARI, kerusakan paling parah terjadi pada bola mata kanan yang mengalami luka serius dan meradang.
“Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata kedua matanya tidak memiliki refleks, dan ada kelukaan di bola mata kanan,” jelas drh. Indri.
“Karena itu tim memutuskan untuk melakukan prosedur pengangkatan bola mata atau enukleasi.”
Dokter sedang melakukan prosedur operasi pengangkatan mata Barda. (Rendi Afandi|YIARI)
Prosedur enukleasi ini terpaksa dilakukan demi menyelamatkan nyawa Barda.
Luka pada mata kanannya dikhawatirkan bisa menyebarkan infeksi ke seluruh tubuh, yang berpotensi memperburuk kondisinya. Operasi ini dilakukan dengan cara mengangkat seluruh organ mata yang rusak, termasuk saraf dan pembuluh darah yang sudah tidak berfungsi normal.
“Proses enukleasi pada kukang sama seperti pada hewan lain, yaitu mengangkat semua organ mata termasuk saraf dan pembuluh darah yang mengalami kerusakan,” tambah drh. Indri.
Selama operasi berlangsung, tim medis harus bekerja dengan sangat hati-hati. Area bola mata memiliki banyak pembuluh darah, sehingga sedikit kesalahan saja bisa menyebabkan pendarahan.
Setelah menjalani operasi enukleasi, tim medis YIARI terus melakukan observasi terhadap kondisi Barda.
Dua minggu pertama menjadi masa kritis, karena perkembangan kesehatannya harus dipantau dari hari ke hari.
Kabar baiknya, kondisi Barda kini berangsur membaik. Ia ditempatkan di sebuah kandang kecil yang disebut kandang perawatan.
Di sinilah Barda mulai beradaptasi dengan hidup barunya. Meski tidak lagi bisa melihat, kukang jawa jantan ini sudah berani melakukan aktivitas ringan seperti makan dan minum sendiri, walau sesekali masih terlihat kesulitan.
Barda sedang terbaring lemas di ruang tindakan. (Rendi Afandi|YIARI)
Kandang perawatan dibuat khusus untuk satwa dengan kebutuhan berbeda. Lingkungannya lebih sederhana, sehingga Barda lebih mudah menemukan makanan dan beraktivitas tanpa harus bersaing dengan kukang lain.
Menurut drh. Indri Saptorini, hal ini penting agar Barda tetap bisa bertahan hidup.
“Kalau ditempatkan di kandang biasa, dikhawatirkan ia kalah saing dengan kukang lain yang masih normal, terutama dalam mencari makan,” jelas drh. Indri.
Selain tempat tinggal yang lebih aman, Barda juga mendapat pengawasan medis setiap hari. Tim YIARI memantau kesembuhan lukanya, perilakunya, hingga pola makannya.
Setelah luka benar-benar pulih, tim akan menilai apakah hilangnya penglihatan membuat perilaku Barda berubah, misalnya menjadi lebih aktif di siang hari atau tidur lebih lama di malam hari.
Barda hanyalah satu dari banyak satwa yang menjadi korban kekejaman perburuan liar di alam bebas. Peluru senapan angin yang bersarang di matanya menjadi bukti betapa bengisnya tangan manusia yang tega melukai satwa dilindungi.
Padahal, kukang bukanlah objek perburuan. Mereka adalah satwa liar yang memiliki peran penting di ekosistem dan seharusnya hidup bebas di habitat alaminya.
Seperti yang disampaikan drh. Indri Saptorini, peluru yang ditemukan di mata Barda jelas menunjukkan adanya pelaku yang sengaja melukai, bukan kejadian alami.
“Harapannya, jangan pernah berburu dengan alasan apa pun, termasuk menggunakan senapan angin. Kukang bukan objek perburuan, mereka adalah satwa liar yang seharusnya hidup di alam,” tegas drh. Indri.
Operasi Sistotomi Kukang: Pengangkatan Batu dari Kandung Kemih Shuri
Terbaring lemah di ruang tindakan, seekor kukang jawa jantan bernama Shuri tampak tenang di bawah pengaruh anestesi.
Namun di balik ketenangan itu, tubuhnya tengah berjuang menghadapi kondisi serius—dua batu berukuran cukup besar bersarang di dalam kandung kemihnya. Batu-batu tersebut, jika tidak segera ditangani, bisa memicu komplikasi berbahaya yang mengancam keselamatannya.
Shuri bukanlah kukang muda. Ia termasuk individu kukang lansia yang berada dalam perawatan di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Dalam pemeriksaan rutin melalui X-Ray, terdapat dua batu di kandung kemih Shuri. Kondisi ini mengharuskan tindakan medis segera melalui prosedur operasi sistotomi, yaitu pembedahan untuk mengangkat batu dari kandung kemih.
Lalu, dari mana sebenarnya asal batu yang ada di dalam kandung kemih Shuri? Yuk, simak penjelasan lebih lanjutnya berikut ini!
Apa Itu Operasi Sistotomi?
Untuk menangani kondisi Shuri, tim medis YIARI melakukan operasi sistotomi, yaitu tindakan bedah yang dilakukan untuk mengangkat batu dari dalam kandung kemih.
Operasi ini juga umum dilakukan pada satwa lain—bahkan manusia—ketika batu kandung kemih sudah berukuran besar dan tidak dapat dikeluarkan secara alami.
Menurut drh. Imam Arifin, dokter hewan yang menangani langsung Shuri, sistotomi menjadi satu-satunya pilihan terbaik dalam kasus ini.
“Operasi sistotomi itu berarti pembedahan kandung kemih pada kukang. Tujuannya untuk mengambil batu, karena di dalam kandung kemih Shuri sudah terbentuk dua batu berukuran cukup besar,” jelasnya.
drh. Imam Arifin melakukan tindakan operasi sistotomi pada Shuri (Rendi Afandi | YIARI)
Jika tidak segera diangkat, batu-batu tersebut dapat mengganggu proses berkemih, menyebabkan rasa sakit, dan dalam jangka panjang memicu infeksi hingga kerusakan organ.
“Kalau dibiarkan, bisa timbul komplikasi yang lebih serius. Makanya tindakan cepat dan tepat sangat diperlukan,” tambah Imam.
Operasi sistotomi tidak dilakukan secara sembarangan. Prosedur ini membutuhkan persiapan matang karena kukang termasuk satwa yang sangat sensitif terhadap stres. Bahkan sedikit tekanan berlebih bisa memengaruhi kondisi fisiologis mereka secara drastis.
Oleh karena itu, sebelum operasi dilakukan, tim medis harus memastikan bahwa Shuri dalam kondisi stabil dan cukup kuat untuk menjalani anestesi serta pembedahan.
Proses Operasi: Dua Batu Berhasil Diangkat dari Kandung Kemih Shuri
Setelah dipastikan dalam kondisi stabil, Shuri dijadwalkan menjalani operasi pada 16 Januari 2025. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, kukang jantan ini menunjukkan respons tubuh yang cukup baik menjelang prosedur.
Pagi itu, ruang tindakan di fasilitas YIARI dipersiapkan secara khusus. Segala alat steril, obat anestesi, serta dukungan tenaga medis hewan sudah disiapkan. Shuri diposisikan dengan hati-hati, dan proses anestesi total dilakukan agar ia tidak merasakan sakit selama operasi berlangsung.
“Saat operasi, Shuri tampak tertidur dengan tenang. Ini sangat penting untuk menghindari stres berlebih, karena kukang sangat sensitif terhadap rasa sakit dan tekanan,” jelas drh. Imam.
Pembedahan dilakukan langsung oleh drh. Imam Arifin, dibantu oleh beberapa tenaga medis lainnya. Operasi berlangsung lancar, dua batu berhasil diangkat dari kandung kemih Shuri. Batu-batu tersebut memiliki bentuk pipih dan berwarna putih, persis seperti yang ditunjukkan hasil X-Ray sebelumnya.
Ukuran batu cukup besar jika dibandingkan dengan ukuran tubuh Shuri. Hal ini semakin menegaskan keberadaan batu tersebut memang berpotensi mengganggu sistem perkemihannya secara serius jika tidak segera ditangani.
“Operasi berjalan baik. Dua batu yang bersemayam di kandung kemih berhasil diangkat seluruhnya tanpa komplikasi. Kami lega melihat hasilnya,” ungkap Imam.
Setelah operasi selesai, Shuri dipindahkan ke ruang pemulihan. Dalam beberapa jam pertama, tim medis terus memantau tanda-tanda vitalnya: detak jantung, suhu tubuh, dan respons pernapasan. Semua berada dalam batas normal.
Meskipun masih dalam kondisi lemah, respons Shuri menunjukkan tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan proses pemulihan pasca operasi.
Apa Penyebab Terbentuknya Batu di Kandung Kemih Kukang?
Munculnya batu di kandung kemih bukanlah hal yang terjadi secara tiba-tiba. Ada sejumlah faktor yang secara umum dapat memicu terbentuknya batu tersebut pada satwa, termasuk kukang. Menurut drh. Imam Arifin, faktor-faktor tersebut meliputi:
Jenis makanan atau pola makan yang tidak sesuai
Infeksi saluran kemih
Faktor genetik
pH urin yang terlalu basa atau terlalu asam
Usia lanjut
Kondisi Shuri saat berada di ruang tindakan (Rendi Afandi | YIARI)
Shuri, sebagai kukang jantan berusia tua, kemungkinan mengalami penurunan fungsi organ secara alami. Hal ini dapat memengaruhi sistem ekskresi, termasuk kualitas dan keseimbangan pH urin.
Namun demikian, Imam menyatakan belum bisa dipastikan secara spesifik faktor dominan penyebab terbentuknya batu pada Shuri.
“Faktornya banyak. Bisa karena makanan, bisa juga karena pH urin yang berubah. Tapi dalam kasus Shuri, kami belum bisa menentukan penyebab pastinya. Analisis urin lebih lanjut akan kami lakukan,” ujar Imam.
Untuk memastikan akar masalahnya, tim medis YIARI akan melakukan urinalisis guna mengecek komposisi urin Shuri, termasuk kadar mineral, pH, dan potensi infeksi.
Hasil dari pemeriksaan ini akan sangat penting untuk menentukan langkah pencegahan di masa mendatang, tidak hanya untuk Shuri, tetapi juga kukang lain yang berada dalam program rehabilitasi.
Terkait kemungkinan faktor makanan, Imam menjelaskan pakan kukang di YIARI sudah disesuaikan sedekat mungkin dengan makanan alami mereka di alam liar. Pemberian buah-buahan, serangga kecil, dan dedaunan dipastikan dalam porsi dan frekuensi yang tepat.
“Pakan kami sudah diatur mengikuti pola makan mereka di alam. Tapi untuk memastikan, tetap akan kami evaluasi ulang dan sesuaikan jika perlu,” tambahnya.
Tantangan saat Melakukan Operasi Sistotomi
Menangani satwa liar dalam kondisi kritis bukanlah tugas mudah, apalagi ketika prosedur medis melibatkan pembedahan seperti operasi sistotomi.
Meski Shuri bukanlah kasus pertama yang dihadapi, setiap tindakan medis tetap memerlukan kesiapan fisik dan mental yang tinggi dari tim dokter hewan.
Potret dua batu yang berhasil diangkat dari kandung kemih Shuri (Rendi Afandi | YIARI)
drh. Imam Arifin mengungkapkan operasi pada Shuri merupakan kasus ketiga sistotomi pada kukang yang pernah ia tangani bersama tim YIARI dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini bukan pengalaman pertama, tapi setiap kasus pasti punya tantangannya sendiri. Apalagi kukang adalah primata yang sangat sensitif terhadap stres. Itu yang membuat penanganannya harus ekstra hati-hati,” jelas Imam.
Ia mengenang saat pertama kali melakukan sistotomi pada kukang beberapa tahun lalu. Saat itu, Imam mengaku sempat ragu karena minimnya referensi dan pengalaman praktik operasi serupa pada satwa dengan karakteristik unik seperti kukang. Namun setelah operasi pertama berjalan sukses, kepercayaan dirinya meningkat, dan pendekatan medis pun terus disempurnakan dari waktu ke waktu.
“Waktu pertama kali, jujur saya sempat tegang. Tapi kami belajar banyak dari pengalaman itu. Sekarang, kami lebih siap, lebih terstruktur. Tapi tetap, harus waspada—karena risikonya tetap besar,” tambahnya.
Salah satu tantangan terbesar dalam operasi ini adalah menjaga kestabilan fisiologis kukang selama prosedur. Kukang bisa mengalami drop secara tiba-tiba jika stres, bahkan hanya karena suara bising atau perubahan suhu ruang. Maka dari itu, YIARI selalu memastikan ruang operasi tenang, steril, dan tim bekerja dengan koordinasi yang rapi dan minim distraksi.
Imam juga menekankan, meskipun batu yang dikeluarkan dari kandung kemih terlihat kecil, dampaknya bisa sangat besar terhadap kesehatan. Jika tidak segera ditangani, batu tersebut dapat memicu infeksi serius, radang, dan kerusakan organ yang sulit dipulihkan.
Komitmen YIARI dalam Menjaga Kesehatan Satwa Liar
Kisah Shuri menjadi salah satu cerminan nyata dari komitmen tanpa henti YIARI dalam menjaga kesejahteraan satwa liar, terutama yang berada dalam masa rehabilitasi. Setiap individu satwa yang dirawat, termasuk kukang seperti Shuri, mendapatkan perhatian dan penanganan menyeluruh, mulai dari deteksi dini penyakit hingga prosedur medis lanjutan.
Pengalaman Shuri menjadi pengingat bahwa kesehatan satwa perlu terus dipantau secara berkala, terlebih bagi yang telah berusia lanjut. Tak hanya itu, kisah ini juga membuka ruang diskusi lebih luas tentang pentingnya penelitian lanjutan, edukasi masyarakat, serta kolaborasi lintas pihak dalam menjaga kelestarian dan kesejahteraan satwa liar Indonesia.
Featured image: Shuri, kukang jawa jantan lansia yang harus menjalani operasi sistotomi (Rendi Afandi | YIARI)
Editor: Hasna Latifatunnisa
Mengantar 7 Kukang Jawa ke Gunung Koneng, Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Tim gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat bersama Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) kembali melakukan rangkaian pelestarian keanekaragaman hayati di Jawa Barat, mengawali tahun 2024 ini dengan melepasliarkan 7 (tujuh) individu kukang jawa (Nycticebus javanicus) hasil rehabilitasi. Satwa ini termasuk ke dalam satwa dilindungi menurut PermenLHK Nomor 106 Tahun 2018. Kegiatan kepasliar ini dilakukan hari Jumat, 19 Januari 2024 di Kawasan Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Gunung Koneng Blok Ciawitali, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (PTNW) III Sukabumi, Balai Taman Nasional Gunung Halimun–Salak, Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten.
Tujuh kukang jawa yang akan dilepasliarkan ini terdiri dari enam individu kukang jantan bernama Paw-paw, Klap, Kilat, Teru, Ciban, Cibon, serta satu kukang betina bernama Ciben. Kukang-kukang ini berasal dari pelaporan dan penyerahan masyarakat kepada Balai Besar KSDA Jawa Barat, serta Balai KSDA Yogyakarta. Selain itu, terdapat pula Kukang yang merupakan serahan warga melalui pusat penyelamatan satwa, yang kemudian dititip rawatkan di pusat rehabilitasi satwa YIARI di Ciapus, Kabupaten Bogor, Jawa Barat untuk menjalani penanganan medis dan proses rehabilitasi sebelum dikembalikan lagi ke habitat aslinya.
Lokasi pelepasliaran ditentukan berdasarkan informasi sebaran habitat alami kukang jawa (Nycticebus javanicus). Kawasan Resort PTN Gunung Koneng Blok Ciawitali, Seksi PTNW III Sukabumi–TNGHS merupakan area pelepasliaran yang sesuai, karena merupakan bagian habitat sebaran kukang jawa. Pertimbangan utama dalam menentukan lokasi rilis adalah daerah yang relatif jauh dari pemukiman, relatif aman dari perburuan atau gangguan, serta terdapat ketersediaan pakan. Lokasi tersebut juga dinilai sesuai berdasarkan kajian kesesuaian habitat pelepasliaran satwa yang dilakukan oleh TNGHS.
Melewati tebing-tebing terjal, tim gabungan pelepasliaran membawa para kukang jawa dalam kandang transport. (Fattreza Ihsan | YIARI)
Kawasan TNGHS dinilai memiliki ketersediaan pakan potensial Kukang yang melimpah, diantaranya terdapat tumbuhan Puspa (Schima wallichii), Bubuay (Plectocomia elongata), Suwangkung (Caryota rumphiana), Rotan (Calamus sp.), serta tumbuhan herba dan pancang lainnya. Terdapat juga jenis-jenis serangga, reptil dan burung kecil seperti kutilang yang juga merupakan pakan kukang.
Populasi kukang jawa jarang dijumpai di kawasan ini sehingga tingkat kompetisi para kukang yang akan dilepasliarkan untuk mencari makanan menjadi rendah. Dengan tingkat ancaman dan gangguan yang dinilai rendah, juga kondisi sosial budaya masyarakat yang tinggal berbatasan dengan kawasan tersebut sudah memiliki kesadaran pentingnya menjaga satwa liar, menjadikan kawasan memenuhi semua syarat dan cocok untuk menjadi lokasi pelepasliaran. Titik pelepasliaran yang berada di TNGHS ini berjarak sekitar 124 kilometer dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Bogor, ditempuh dengan perjalanan darat menggunakan mobil selama 4 jam, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit.
Tahapan pra-translokasi dan pelepasliaran dilakukan dengan membangun kandang habituasi terlebih dahulu, yang terbuat dari jaring dan bambu dengan luas sekitar 18 m2, sebanyak kurang lebih 5 unit. Kandang habituasi berfungsi sebagai sarana adaptasi bagi kukang di lokasi baru. Kukang yang dilepasliarkan akan menjalani proses habituasi selama 4-5 hari di dalam kawasan TNGHS. Selama masa habituasi, tim Survey, Release, dan Monitoring YIARI mengamati perilaku dan kesehatan seluruh kukang tersebut. Apabila dinilai baik dalam beradaptasi di lingkungan barunya, kukang-kukang ini akan dilepasliarkan dari kandang habituasi ke alam bebas.
Manajer Animal Management selaku Dokter Hewan YIARI, drh. Nur Purba Priambada mengantar Teru ke kandang habituasinya. Teru adalah kukang jawa yang berasal dari serahan warga ke BBKSDA Jawa Barat tahun 2023 silam. (Fattreza Ihsan | YIARI)
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, Irawan Asaad, S.T., M.Sc., Ph.D menyatakan, “Kami mengapresiasi hasil kerja bersama antara Balai Besar KSDA Jawa Barat dan YIARI, serta Balai TNGHS. Kami sangat berbahagia karena dapat mengawali tahun 2024 ini dengan memulai kembali rangkaian pelestarian keanekaragaman hayati di Jawa Barat, melepas liar 7 (tujuh) individu kukang, satwa liar paling banyak yang diselamatkan dan dilepasliarkan oleh Balai Besar KSDA Jawa Barat dan YIARI. Kami berharap momen ini menjadi momentum penambah erat ikatan kebersamaan dan penambah semangat melestarikan satwa liar dilindungi, perlu diingat bahwa satwa liar bukan untuk dipelihara, kebahagiaan hidupnya berada di tengah hutan bukan di tengah rumah anda, apalagi di kandang peliharaan.”
Ir.Irzal Azhar, M.Si, selaku kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak mengapresiasi kerjasama multipihak dalam upaya konservasi biodiversitas. “Kami memberikan apresiasi kepada YIARI dan Balai Besar KSDA Jawa Barat yang telah bekerjasama dengan kami dalam konservasi biodiversitas di TNGHS, khususnya pelestarian kukang jawa melalui upaya rehabilitasi dan pelepasliaran kembali ke habitat aslinya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Dengan kegiatan ini kami berharap keseimbangan populasi kukang jawa khususnya dan ekosistem TNGHS secara keseluruhan dapat dipertahankan sehingga kawasan TNGHS tetap dapat memberikan manfaat ekologis yang berkelanjutan.”
Ketua Program YIARI, Karmele Llano Sanchez menyatakan, “Kami mengapresiasi dukungan masyarakat dan pihak pemerintah, dalam hal ini BBKSDA Jawa Barat dan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak atas kerjasamanya pada kegiatan pelepasliaran ini. Semoga kolaborasi dan sinergi dengan pemerintah dan masyarakat dalam upaya konservasi satwa liar, terutama kukang bisa terus terjaga, bahkan meningkat. Semoga kesadaran semua pihak dalam melindungi hutan sebagai rumah satwa-satwa liar juga terus meningkat. Hal ini tentunya untuk mewujudkan kelestarian satwa liar agar dapat terus hidup dengan aman di habitat alaminya.”
.
Sekarang Kita Cerita Tentang Hari Itu
Sekarang? Bukannya nanti?
Kalau nanti, itu judul film bro and sis. Sekarang, ada yang mau kita ceritain nih, tentang hari itu.
Wuih kayaknya ada sesuatu banget nih di hari itu
Yoi, sesuatu itu tentang si Lolyn.
Ih namanya cute banget
Yang cute nggak namanya kok. Nah, mupeng kan? Sini ngedeket, biar ceritanya lebih syahdu.
Jadi nih ya… Lolyn itu nama kukang jawa – tuh lihat dulu fotonya. Cute kan? Lolyn ini baru aja graduation nih. Dia udah dinyatakan lulus dari tempat rehabilitasi satwa punyanya IAR Indonesia. Nah sama dokter-dokter hewan di sana, Lolyn ini dirasa bakal siap nih kalau diantar pulang kembali ke hutan. So, jadilah Lolyn ini diantar oleh Balai Besar KSDA Jawa Barat, Balai Taman Nasional GHS, sama kakak-kakak dari IAR Indonesia ke kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Desember 2020 lalu.
Nah abis diantar pulang itu, dia nggak langsung ditinggal gitu aja. Lolyn ama beberapa temennya dipasangin alat khusus di lehernya, Namanya GPS-collar. Eits tenang aja, ini nggak bikin dia sakit kok. Alat ini buat memantau dia, siapa tahu dia nggak betah di hutan atau nggak bisa hidup mandiri. Nah kalau 3-6 bulan itu ternyata dia baik-baik aja, bisa main, bobok ciang, bobok malam, cari makan (nggak pake ojol ya), dia bisa tuh lulus. Kalau kita-kita tuh graduation pake toga, kalau kukang beda lagi sob graduationnya. Tanda dia lulus, perangkat GPS-collar-nya dilepas tuh sama kakak-kakak yang memantau dia.
Terus kenapa lulus? Emang dia isi kuis di hutan?
Wait a minute.. *glek seruput kopi*
Pernyataan lulus itu sebenarnya ungkapan kebahagiaan karena doi udah mampu beradaptasi dan perkembangan perilakunya sangat bagus. Mastiin ini penting banget, karena status kukang tuh masih Critically Endangered (CR) a.k.a terancam punah. Label CR ini udah terbilang gawat karena hanya satu tahap lagi menuju kepunahan di alam 🙁
I see…mesti dijagain bener tuh si Lolyn
Yoi, jadi sebelum dinyatakan lulus, kakak-kakak yang mantau dia setiap malam menyusuri hutan, mendaki gunung, lewati lembah *(auto terngiang lagu Ninja Hatori), untuk mencari keberadaan Lolyn dan mencatat perkembangan perilaku dia selama di alam bebas. Nggak tanggung-tanggung lho, pemantauan dilakukan dari matahari terbenam sampai fajar menyingsing.
Nah dari hasil pengamatan kakak-kakak selama hampir enam bulan itu, Lolyn telah memenuhi indikator kemampuan untuk bertahan hidup di alam. Kata mereka, hal itu ditunjukkan dengan perkembangan perilakunya yang sangat bagus. Yeaay! Terus pasca-pelepasliarannya itu, dia terlihat aktif dan sekarang dia bisa benar-benar hidup tanpa pantauan. Gak cuma itu, pelepasan GPS-collar ini juga jadi tanda berakhirnya proses pengamatan terhadap Lolyn yang telah dilepasliarkan.
Congrat ya Lolyn! Jadi ini ya yang mau diceritain itu? So happy for you Lolyn!
Iya nanti disampaikan ke Lolyn. Jadi sesuatu yang mau diceritain tentang hari itu tuh tentang graduationnya Lolyn, sob. Karena untuk sampai ke tahap ini nggak gampang lho. Lagi-lagi, semua itu memerlukan tenaga, waktu, dan proses yang relatif panjang. Bayangin aja, selama sekitar setengah lusin purnama setelah dilepasliarkan, tim pemantau di lapangan terus mengamati perilaku Lolyn setiap malamnya. Si kukang lagi ngapain, jalannya ke mana aja, makan apa aja, sampai dia tidur di pohon mana, itu semua dicatat.
Terus nih, untuk bisa menemukan Lolyn, tim pemantau membawa perangkat yang bisa menerima sinyal dari GPS-collar yang terpasang di leher Lolyn. Biasanya nih, hasil catatan yang didapat kakak-kakak pemantau itu, menunjukkan perkembangan perilaku dan daya jelajah primata noktrunal itu sudah memiliki daerah jelajah yang stabil dan pintar memanfaatkan pakan alami. Terus juga, biasanya ada tuh catatan dia udah berkenalan dengan sesama kukang alias kukang liar.
Uhuy! Asoy! Terus-terus apa lagi ceritanya?
Udah dulu sob, mau lanjut ngejar kakak-kakak pemantau itu. Next time, kita cerita-cerita lagi tentang hari-hari yang sesuatu banget yak.
The Day You Went Away
Duh kok sedih sih?
Nggak kok, nggak sedih, justru happy
Lho kok?
Iya, jadi gini, Mei dan Juni lalu Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat atau yang lebih dikenal dengan BBKSDA Jabar udah lepasliarkan total 34 individu primata si malu-malu alias kukang ke habitat aslinya nih di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) di Lampung dan Suaka Margasatwa (SM) Cikepuh di Sukabumi. Selain mengembalikan kukang kembali ke habitatnya, pelepasliaran ini sekaligus merupakan rangkaian road toHari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2021 yang puncaknya akan diselenggarakan di Kupang, NTT pada Agustus mendatang. Yeaaay!
Terus menurut Kepala BBKSDA Jabar Ammy Nurwati, 34 primata (14 kukang sumatera dan 20 kukang jawa) yang terancam punah itu berasal dari serahan masyarakat ke sejumlah wilayah kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Jawa Barat dan Jakarta. Dari situ, kukang-kukang tersebut dititiprawatkan di Pusat Rehabilitasi Primata – yang dikelola BBKSDA Jawa Barat bekerja sama dengan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi (IAR) Indonesia, di kaki Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.
Tapi kenapa perlu direhabilitasi?
Gini, gini… si malu-malu ini nasibnya banyak yang tidak beruntung. Mereka kerap menjadi objek ilegal seperti hewan peliharaan dan eksploitasi orang-orang yang nggak bertanggung jawab :(. Terus nih, kondisi mereka juga saat pertama tiba di pusat rehabilitasi umumnya cukup memprihatinkan. Mereka bisa mengalami stres, trauma, kekurangan gizi, sampai perubahan perilaku karena tidak mendapatkan kebutuhan yang layaknya didapat kukang yang hidup di alam bebas.
Tapi syukurnya sekarang udah banyak masyarakat yang sadar akan kelangsungan hidup kukang. Hal itu terlihat dari meningkatnya kepedulian untuk menyerahkan primata nokturnal itu ke otoritas yang tepat, termasuk ke BKSDA untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Terus teruus…
Nah, Bu Ammy ini mengapresiasi kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian satwa liar dengan menyerahkan mereka ke BKSDA. Di samping itu, pihaknya juga terus mengupayakan penyelamatan satwa liar dilindungi yang terancam dari berbagai aktivitas ilegal dengan melakukan edukasi mengenai perlindungan dan pelestarian satwa liar. “Ke depannya, kita optimis akan lebih banyak masyarakat yang peduli terhadap kelestarian satwa dan habitatnya dengan adanya kerjasama dan sosialisasi dari berbagai pihak,” begitu kata beliau.
Dia juga berharap, dengan pelepasliaran ini, dedek-dedek kukang ini dapat berkembang biak dan melangsungkan hidupnya dengan baik. Lagi pula nih sob, pelepasliaran tuh juga merupakan salah satu upaya untuk mendukung keberlangsungan proses ekologis di dalam kawasan konservasi. Di samping itu juga untuk menjaga dan meningkatkan populasi jenis primata dan mamalia sebagai satwa endemik.
Ah I see…terus kenapa ngelepasin dedek-dedek kukang ini ke Bukit Barisan dan SM Cikepuh?
Nah mengenai TNBBS dan SM Cikepuh dipilih sebagai lokasi pelepasliaran, hal ini telah ditentukan berdasarkan penilaian kesesuaian habitat yang telah dilakukan sebelumnya oleh tim dari BBKSDA Jabar, Balai Besar TNBBS, dan Yayasan IAR Indonesia. Kawasan tersebut memiliki ekosistem yang cocok sebagai tempat pelestarian dan perlindungan terhadap kelangsungan hidup kukang, dilihat dari aspek keamanan kawasan, ketersediaan pakan dan naungan, daya dukung habitat serta tingkat ancaman predator. Harapannya nih, dengan pelepasliaran ini, kukang-kukang itu dapat berkembang biak dan melangsungkan hidupnya dengan baik.
Satu lagi nih yang harus kalian tau, untuk melepasliarkan a.k.a mengembalikan mereka pulang ke habitat bukan perkara mudah. Butuh waktu panjang, tenaga besar, serta biaya yang tidak sedikit. Bayangkan, para kukang yang menjalani pemulihan di pusat rehabilitasi yang dikelola bersama Balai Besar KSDA Jawa Barat dan di bawah penanganan langsung tim IAR Indonesia ini harus melalui banyak proses serta tahapan. Mulai dari pemeriksaan medis, di mana mereka dicek kesehatannya dari A sampai Z untuk memastikan kondisinya.
Kenapa sampai sedetail itu, sih?
Jadi gini. Kondisi kukang yang tiba di pusat rehabilitasi umumnya memprihatinkan, mereka perlu menjalani semua proses itu. Selesai dicek kesehatannya, mereka juga harus menjalani masa karantina di kandang (sanctuary) khusus. Gunanya, untuk menekan potensi penularan penyakit bawaan yang diidap kukang sebelumnya ke kukang lainnya yang udah pada sehat.
Setelah masa karantina usai, proses pemulihan tidak otomatis selesai. Si mata bulan ini akan menjalani treatment khusus untuk menstimulasi perilaku dan naluri alamiahnya. Semua proses panjang ini harus mereka jalani untuk mengembalikan sifat liar alami dan menjamin bahwa mereka bisa bertahan hidup dan berkembang biak di habitat alaminya.
Oh, jadi ini ya cerita tentang hari saat mereka pergi?
Yoi. Sedikit sedih juga sih karena mereka itu imut-imut banget. Tapi juga seneng dan bangga soalnya mereka jadinya bisa balik ke hutan yang memang harusnya habitat asli mereka. Semua ini nggak bakalan bisa sukses tanpa kerja bareng banyak pihak sob, dari Balai Besar KSDA Jawa Barat, Balai Besar TNBBS, Bidang KSDA Wilayah I Bogor BBKSDA Jawa Barat, Seksi Konservasi Wilayah III Lampung BKSDA Bengkulu, dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi (IAR) Indonesia. Seneng banget deh rasanya bisa ngasih kesempatan kedua bagi kukang hasil serahan ini sekaligus mendukung keberlangsungan proses ekologis di dalam kawasan konservasi.
Apalagi kalau kalian tahu, status kukang-kukang imut ini sangat dilindungi lho, oleh Undang-undang No. 5 tahun 1990 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. Kukang jawa, primata yang masuk dalam daftar 25 primata paling terancam punah di dunia ini juga dilindungi oleh peraturan internasional dalam Apendiks I oleh Convention International on Trade of Endangered Species (CITES) yang artinya dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional.
So, kalau ketemu ama mereka di kebun atau daerah dekat hutan, biarin aja ya. Karena bisa jadi mereka cuma numpang lewat atau mau cari makan. Soalnya nih, kebun atau hutan sekunder sekitar pemukiman juga jadi lokasi favorit mereka. Terus kalo lihat ada yang pelihara kukang, segera kasih tau orangnya untuk kembalikan si mungil itu ke otoritas yang tepat. Pokoknya, please jangan dipelihara yaa.
Menyelamatkan Suga si Kukang
Kukang ini Bernama Suga. Ia datang di pusat rehabilitasi kami dengan keadaan penuh luka di bagian wajah dan lengannya. Begitu Suga datang, tim kami segera melakukan penanganan medis kepadanya. Ia berhasil sampai ke pusat rehabilitasi kami berkat laporan warga Ciamis kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Ciamis pada 9 Juni 2021.
Berdasarkan laporan, kukang ini adalah kukang jantan. Ia terluka akibat berkelahi dengan kukang jantan lainnya ketika mempertahankan wilayahnya. Kukang jantan biasa berkelahi dengan cara menggigit bagian tubuh lawannya menggunakan giginya yang tajam. Gigitannya juga berbisa sehingga mampu melukai hewan lain dengan cukup parah.
Pencukuran bulu Suga si Kukang untuk mempermudah penanganan medis
Kondisi Suga cukup mengenaskan. Wajahnya lebam dan penuh darah. Begitu pula dengan tangannya. Ia mendapatkan perawatan intensif dan menjalani penanganan medis berupa pembersihan luka di wajah dan tangannya. Rambutnya juga terpaksa kami cukur akibat kotor oleh darah yang mengering, sehingga menyulitkan kami melakukan pemberian obat.
Meski begitu Suga masih memiliki harapan untuk bisa kembali ke alam liar, sebab ia masih memiliki gigi yang utuh dan tubuh yang sehat. Setelah rehabilitasi dan pemeriksaan lebih lanjut di pusat rehabilitasi kami, besar kemungkinannya untuk dapat dilepasliarkan kembali bersama kawan-kawan kukangnya yang lain. Ia dijadwalkan akan menjalani pemeriksaan rontgen untuk mengecek tulang dari benda asing seperti peluru angin. Selain itu ia juga akan diperiksa di laboratorium kami apakah ia bebas dari penyakit-penyakit lainnya.
Mari dukung Suga yang terinspirasi dari Suga BTS ini untuk cepat pulih dari luka yang dideritanya. Kamu bisa ikut membantu dengan cara berdonasi melalui laman donasi kami di di. Atau kamu bisa bantu untuk membagikan kisah-kisah konservasi kami di media sosialmu.
Perjuangan Meli Untuk Mendapatkan Kesempatan Kembali ke Alam Bebas
Masih ingat Meli, bayi kukang yang diselamatkan warga dan BKSDA Cirebon pada Desember lalu? Saat ini dia tumbuh menjadi kukang remaja yang aktif dan sehat!
Sudah hampir 4 bulan Meli menjalani proses perawatan dan pemulihan di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia. Selama itu pula Meli terus menunjukan perilaku dan perkembangan yang bagus. Bahkan, tim medis dan perawat satwa yang mengurus langsung Meli kagum melihat progress pertumbuhannya yang pesat.
“Kami senang melihat pertumbuhan Meli yang semakin membaik. Perawatan dan treatment yang kami berikan direspon dengan baik oleh kukang yatim tersebut,” ujar Indri Saptorini, dokter hewan IAR Indonesia.
Pertumbuhan Meli begitu pesat. Ia tampak aktif dan digadang akan menjadi kandidat pelepasliaran selanjutnya saat usia dia mencapai batas minimal. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia
Indri menceritakan, Meli ditemukan sendiri di kebun tanpa sang induk dengan luka di bagian punggung yang disinyalir diakibatkan terjatuh dari atas pohon. Saat pertama kali diselamatkan pada Desember silam, kondisi Meli begitu lemah dan kurus. Hal itu dikarenakan dia tidak mendapat perawatan alami dari induknya sebagaimana kehidupan bayi kukang lainnya.
Dari hasil pemeriksaan terkini, luka itu sudah sembuh dan tidak menunjukan kejanggalan yang disebabkan luka tersebut. Selain itu berat badannya juga berada di angka ideal sebagai kukang remaja,” tuturnya.
Bayi kukang lanjut Indri, umumnya akan bergantung pada induknya hingga berusia 6 bulan. Selama masa perawatan itu pula, bayi kukang akan terus bergelantung di tubuh induknya untuk bertahan hidup di bawah asuhan sang induk.
“Untuk itu kami secara rutin memberikan perawatan intensif pengganti sang induk seperti memberikan asupan protein dan vitamin, menempatkannya di tempat khusus yang hangat dan melatihnya bergerak untuk merangsang kemampuan memanjatnya,” tambah dia.
Saat ini, Meli sudah dipindahkan ke kandang khusus (enclosure) sosialisasi seperti kukang-kukang lainnya yang tengah menjalani perawatan dan pemulihan di pusat rehabilitasi. Perilaku Meli juga diobservasi setiap hari oleh perawat satwa untuk melihat perkembangannya. Upaya tersebut dilakukan agar Meli tetap aktif bergerak dan terbiasa dengan lingkungan serta keberadaan kukang lainnya.
“Tentu untuk mencapai ke tahap ini Meli sudah dipastikan benar-benar sehat sehingga tidak berpotensi menularkan penyakit ke kukang lainnya. Selama di kandang khusus itu juga Meli mulai dikenalkan dengan pakan alami seperti yang diberikan pada kukang lainnya,” lanjut Indri.
Kerja keras semua ini dilakukan demi Meli dan kukang-kukang yang bernasib tidak beruntung bisa kembali menikmati kebebasannya hidup di alam bebas. Meski tidak mudah dan harus mengeluarkan materi yang tidak sedikit, hanya itu salah satu yang dapat dilakukan untuk memberi kesempatan kedua mereka selain kita harus menjaga dan melindungi kukang tetap di habitatnya.
Sebelumnya, Resort Konservasi Wilayah XXII Cirebon Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat bersama IAR Indonesia telah menyelamatkan satu individu bayi kukang jawa (Nycitebus javanicus) yang ditemukan di kebun milik warga Desa Padabeunghar, Kecamatan Pesawahan, Cirebon, Jawa Barat, Selasa (17/12/2019).
Kepala Resort Konservasi Wilayah XXII Cirebon Slamet Priambada mengatakan, keberadaan bayi kukang yang diberi nama Meli itu pertama kali dilaporkan oleh seorang warga bernama Meliyana pada Senin (16/12). Meliyana menemukannya dalam keadaan tergeletak dengan kondisi lemah di tengah kebun tanpa ada induknya.
Memastikan Rumah Baru yang Aman dan Sejahtera bagi Kukang
Ada kesibukan yang melebihi kebiasaan yang terjadi di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia di Kaki Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat pada Selasa (17/12) malam itu. Para perawat satwa (animal keeper) berpakaian lengkap dengan masker dan sarung tangannya terlihat lalu-lalang menggendong boks alumunium di area kandang rehabilitasi satwa. Mereka bergantian secara estafet membawa boks yang sekilas mirip kotak pemungutan suara, dari area kandang rehabilitasi, menuju mobil bak terbuka yang terparkir sejak sore.
Rupanya boks alumunium itu merupakan kandang transportasi untuk membawa kukang yang akan pulang kembali ke habitatnya setelah menjalani proses pemulihan di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia. Di dalam boks khusus tersebut terdapat ranting pohon lengkap dengan dedaunan yang sengaja dimasukkan sebagai tempat nyaman bagi kukang selama melakukan perjalanan. Semua persiapan matang itu dilakukan demi memastikan kelancaran dan keamanan perjalanan kukang pulang ke rumah barunya.
Namun sebelum melakukan semua jerih payah tersebut, salah satu hal terpenting yang dilakukan tim IAR Indonesia adalah mencari lokasi yang aman bagi rumah baru kukang. Dua kawasan konservasi di Jawa Barat dipilih sebagai lokasi rumah baru mereka. Kedua kawasan tersebut adalah Suaka Margasatwa Gunung Sawal di Ciamis dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak di Sukabumi. Keduanya dipilih berdasarkan kajian survei dan penilaian mendalam untuk menjadi lokasi lepasliar kukang jawa. Sejumlah indikator atau penilaian utama yang harus terpenuhi adalah daya dukung habitat, dalam hal ini potensi ketersediaan pakan serta naungan yang memadai. Selanjutnya, ancaman predator hingga keamanan kawasan juga tak dilewatkan.
“Keamanan kawasan ini berarti pelepasliaran harus dilakukan di dalam kawasan konservasi yang terjamin keamanannya dari aktivitas manusia yang bersinggungan atau berpengaruh bagi kelangsungan hidup kukang. Di samping itu, kedua kawasan itu juga diketahui merupakan salah satu habitat alami kukang jawa yang penting di wilayah Jawa Barat,” ujar Supervisor Survey, Release and Monitoring IAR Indonesia, Hilmi Mubarok.
Pemilihan kawasan sebagai lokasi rumah baru bagi kukang ini tentunya akan berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup kukang. Selain indikator utama tadi, Hilmi menambahkan terdapat sejumlah faktor lainnya yang dapat memengaruhi ketahanan atau tingkat keberhasilan mereka di rumah barunya yaitu curah hujan, suhu, dan kelembaban udara. Hal itu ditemukan berdasakan kajian data pengamatan pasca-pelepasliaran kukang jawa yang dilakukan tim lapangan setiap malam.
“Tim di lapangan melakukan pengamatan terhadap kukang-kukang pasca-pelepasliaran. Setiap malamnya tim mencatat perilaku, wilayah jelajah hingga kondisi iklim mikro secara berkala selama hingga enam bulan. Selama masa pengamatan tersebut tim mulai bisa menilai keberhasilan adaptasi kukang paling cepat setelah tiga bulan. Karena pada tiga bulan pertama mereka masih dalam proses adaptasi mencari lokasi jelajah, pohon tidur dan tidak jarang bertemu kukang liar. Ketika selama tiga bulan itu kukang menunjukkan perilaku yang bagus dan stabil, kemungkinan besar ia telah berhasil beradaptasi di lingkungan barunya,” kata Hilmi.
Selain memastikan lokasi rumah barunya, pekerjaan penyelamatan satwa juga harus memastikan proses rehabilitasi mereka berjalan dengan baik. Sebagian besar dari satwa kukang yang diterima IAR Indonesia adalah serahan masyarakat ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat dan BKSDA Jakarta. Masyarakat yang menyerahkan primata nokturnal itu ke BKSDA mengaku menemukannya tersesat ke pemukiman atau ke kebun. Namun ada juga yang akhirnya sadar bahwa memelihara kukang merupakan perbuatan melanggar hukum.
“Lamanya mereka menjalani rehabilitasi tergantung pada setiap individu dan kondisi saat pertama tiba di pusat rehabilitasi. Tapi umumnya, jika kukang sudah lama dipelihara manusia, maka akan membutuhkan waktu panjang untuk merehabilitasinya, karena tidak mudah untuk mengembalikan perilaku alamiah kukang. Berbeda dengan kukang yang memang ditemukan tersesat ke pemukiman atau kebun. Biasanya ia dapat segera dilepasliarkan jika telah memenuhi syarat. Sekalipun harus dirawat terlebih dahulu, itu juga tidak akan lama,” ujar Indri Saptorini, dokter hewan IAR Indonesia.
Kelimabelas kukang yang dilepasliarkan pada 17 Desember tersebut, menurut Indri telah dalam kondisi prima. Mereka telah menjalani serangkaian tahapan untuk mengembalikan perilaku dan naluri alamiahnya. Mulai dari karantina dan pemeriksaan medis untuk memastikan mereka tidak mengidap penyakit. Disusul observasi perilaku oleh animal keeper, pengenalan pakan alami sampai mereka dinilai layak dan dinyatakan siap ditranslokasi untuk menjalani habituasi (pengenalan) di lingkungan barunya. Proses panjang ini harus mereka lalui sebagai syarat sebelum pulang kembali ke habitatnya. Semua itu dilakukan agar kukang benar-benar siap dan mampu bertahan hidup di alam bebas.
Ahmad Munawir, Kepala Balai TNGHS menempatkan kukang ke area habituasi
Sebelumnya sudah ada 25 individu kukang jawa yang juga telah ditranslokasi untuk pulang kembali ke alam bebas. Mereka juga telah melalui proses dan tahapan pemulihan yang sama. Faktanya, untuk mempersiapkan kepulangan kukang ke alam bukanlah ihwal mudah jika dibandingkan dengan mengambilnya paksa dari habitatnya. Selain membutuhkan waktu yang relatif panjang, upaya yang dilakukan juga begitu besar. Hal itu tercermin dari proses awal rehabilitasi hingga pemantauan pasca-pelepasliarannya di alam bebas yang harus dilakukan dengan detail.
“Setiap tahapan perawatan dan pemulihan yang dilalui kukang akan kami perhatikan dengan saksama. Kami juga memastikan pada setiap prosesnya tidak ada yang terluput. Hal ini semata agar mereka benar-benar mendapatkan kesejahteraan dan kehidupan sejatinya di alam bebas sebagaimana satwa liar lainnya yang hidup di habitatnya,” ujar Hilmi Mubarok.