Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Ulang Tahun ke-15 YIARI: Terus Semangat Merawat Alam Demi Masa Depan Bumi

Ibarat remaja yang baru merasakan cinta, pasti menggebu-gebu kan? Itulah semangat yang kami rasakan di usia 15 tahun ini Sobat KonservasYIARI. Sebagai lembaga yang bergerak di bidang konservasi dan penyelamatan satwa yang berdiri pada 14 Februari 2008 dengan bermitra bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), 15 tahun perjalanan kami di Indonesia, ternyata tidak pernah memupus semangat kami untuk terus menjalankan visi dan misi kami. Untuk menandai ulang tahun kami itulah, kami mengadakan perayaan di Learning Centre Sir Michael Uren, yang terletak di Sei Awan Kiri, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat pada 14 Februari. Sejumlah kegiatan dilakukan dengan mengajak partisipasi masyarakat. Di antaranya lomba menggambar dan mewarnai untuk anak-anak, lomba tari daerah kreasi dengan tema flora dan fauna, lomba sumpit untuk umum dan pelajar SD, lomba gasing, hingga lomba fotografi. Selain lomba, diadakan berbagai pertunjukan seni, dari musik hingga tari yang mengangkat budaya daerah. Berbagai pihak yang selama ini menjadi mitra YIARI, diundang untuk hadir, baik dari jajaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), jajaran Pemprov Kalimantan Barat, Pemda Ketapang, DPRD, TNI AL, Kepolisian, lembaga-lembaga masyarakat dan adat, hingga beberapa pesohor seperti petinju nasional Daud Yordan.

Acara syukuran ulang tahun ini juga dihelat YIARI di lokasi program yang berada di Bogor, Jawa Barat. Untuk acara di Bogor, YIARI mengadakan jamuan makan siang bagi mitra dan karyawan yang berlangsung di Hotel Mirah Bogor, pada Jumat 17 Februari 2023. Selain acara ramah tamah ini, YIARI juga menyelenggarakan aneka lomba dan syukuran bersama warga di sekitar lokasi pusat rehabilitasi primata milik YIARI yang terletak di Sinarwangi, Curug Nangka, Bogor, Jawa Barat.

Suasana perhelatan perayaan Hari Ulang Tahun YIARI di Bogor, Jawa Barat (Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)

“Kami sangat bersyukur acara ulang tahun ini berlangsung lancar dan meriah, dengan keterlibatan aktif dari masyarakat serta dukungan pemerintah baik pusat maupun daerah. Hal lain yang terutama membuat kami bahagia tentunya adalah keberadaan karyawan YIARI sendiri. Selama 15 tahun ini, kami didukung oleh semangat dan energi yang tulus dari para karyawan di lokasi-lokasi tempat kami bekerja baik itu di Kalimantan Barat, Bogor, dan Lampung. Tanpa dedikasi dan integritas mereka, tidak mungkin kami bisa berjalan hingga sejauh ini,” ujar Karmele Llano Sanchez, CEO YIARI.

Hal serupa disampaikan Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul yang mengungkapkan apresiasinya pada seluruh pihak yang terlibat pada perayaan ulang tahun ke-15 ini. “Bagi lembaga yang bergerak di bidang konservasi, dukungan pemerintah dan masyarakat adalah fondasi bagi program-program kerja yang kami lakukan. Untuk itulah kemitraan menjadi sangat penting di hari ini. Kolaborasi dan sinergi adalah kunci bagi kesuksesan pekerjaan menjaga alam yang menjadi tanggung jawab kita bersama. Karena itulah, gerak langkah YIARI selama 15 tahun ini telah membawa program-program kami tidak lagi hanya bergerak dalam hal penyelamatan satwa liar dilindungi, namun menjangkau pendekatan yang lebih holistik melalui pemberdayaan masyarakat, edukasi, dan penyadartahuan,” ujar Silverius Oscar Unggul.

Pada perayaan HUT YIARi ke-15 ini di Pusat Rehabilitasi Orangutan kami di Ketapang, Kalimantan Barat, kami memberi apresiasi bagi para pemenang lomba dalam rangkaian perayaan HUT YIARI ini (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Perjalanan YIARI bermula saat Karmele Llano Sanchez dan Argitoe Ranting beserta kawan-kawan melakukan kegiatan pelepasliaran makaka dan beruk ke Batutegi, Lampung pada 2006 dengan dukungan dana dari International Animal Rescue (IAR). Keberhasilan kegiatan ini mendorong IAR memberi dukungan lebih lanjut kepada Karmele dan Argitoe dan tim pada saat itu, untuk membangun pusat rehabilitasi bagi kukang dan makaka di Ciapus, Bogor, Jawa Barat pada 2007. Setahun kemudian, lahir secara resmi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) yang didaftarkan di Kementerian Hukum dan Ham pada 14 Februari 2008. Pada waktu itu, YIARI yang menjadi bagian IAR di Indonesia, bergerak di bidang penyelamatan dan rehabilitasi satwa dengan tujuan untuk menyejahterakan satwa yang menjadi korban dari perdagangan satwa liar.

Perkembangan YIARI semakin bertumbuh saat Karmele bertemu dengan orangutan Jojo dalam sebuah kegiatan penyelamatan di Pontianak pada 2009. Di tahun ini juga, YIARI memulai program pemulihan orangutan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Atas dorongan dan dukungan sepenuhnya dari BKSDA Kalimantan Barat yang saat itu dipimpin oleh Edy Sutiyarto selaku Kepala Balai, yang melihat belum adanya pusat rehabilitasi orangutan di wilayah Kalbar, maka dibangunlah pusat rehabilitasi orangutan di Desa Sei Awan Kiri, Ketapang, pada 2012.

Sejak awal kami berdiri di tahun 2008, kami fokus dalam perlindungan satwa liar termasuk dalam upaya monitoring rutin pasca pelepasliaran (Tim Animal Management | Yayasan IAR Indonesia)

Perjalanan YIARI setelah itu berkembang ke arah holistik melihat bahwa isu-isu yang terkait satwa liar yang dilindungi tak hanya bisa diatasi dengan penyelamatan, rehablitasi dan pelepasliaran saja. Perlu adanya pendekatan holistik kepada masyarakat sehingga YIARI kini telah menjalankan kemitraan dengan berbagai pihak melalui program pemberdayaan masyarakat, edukasi, kampanye, penegakan hukum bagi kasus-kasus kejahatan terhadap satwa liar dilindungi, penanganan konflik antara manusia dan satwa, serta perlindungan dan restorasi habitat.

Di tahun 2023 ini, YIARI telah menempuh perjalanan 15 tahun di Indonesia, sebagai mitra bagi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan unsur-unsur Pemerintah Indonesia lainnya baik Pusat maupun Daerah, serta bermitra dengan masyarakat dan swasta, dengan mengemban VISI “Dunia tempat manusia dan satwa hidup berdampingan dalam ekosistem yang sehat” dan MISI: “Membangun kesadaran dan kepedulian untuk melindungi satwa dan habitatnya”. Sehingga di ulang tahun ke-15 ini, YIARI menampilkan tagline YIARIBESTARI: Bersama Menjaga Alam Harmoni Demi Masa Depan Bumi.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Merayakan Keberagaman Primata Nonmanusia di Hari Primata Indonesia 2023

Yayasan IAR Indonesia berkolaborasi dengan Forum Orangutan Indonesia pada Januari lalu menyelenggarakan perayaan Hari Primata Indonesia (HPI) 2023. Tak kurang 27 organisasi bergabung dalam kegiatan HPI 2023 yang tersebar di dekat ataupun di luar habitat. Tahun ini, kami mengangkat tema “Setiap Primata Itu Berarti”. Tema ini dipilih sebagai pengingat bahwa kehadiran primata nonmanusia merupakan bagian dari ekosistem yang memberikan banyak kebaikan yang sangat berarti. Sebagai aktivitas kolaborasi, kami membebaskan kolaborator untuk melakukan berbagai kegiatan  misalnya mengunggah konten edukatif di media sosial, penggalangan dana, seminar/webinar atau gelar wicara dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan ini dipilih agar kolaborator bisa menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing organisasi.

Kilas Balik Peringatan HPI

Peringatan HPI pertama kalinya digiatkan pada 2014 oleh PROFAUNA Indonesia. Organisasi yang bergerak di bidang konservasi hutan dan perlindungan satwa liar ini prihatin terhadap perdagangan ilegal primata yang semakin marak pada 2013. Tanggal 30 Januari dipilih didasari pada kampanye “Primate Freedom Tour” pada 2011 di kota-kota di pulau Jawa dan Bali untuk perlindungan primata Indonesia.

Di tahun-tahun sebelumnya, kami juga mengorganisasikan HPI dengan tema “Hidup Selaras: Manusia dan Primata Saling Menjaga Alam”. Gelar wicara, pertunjukan seni, dan challenge menjadi kegiatan yang kami lakukan bersama beberapa kolaborator. Sedangkan pada 2021, webinar menjadi aktivitas utama kami yang mengangkat “Serba-serbi Primata di Media Sosial”. Selain itu, kami juga menggalang dana melalui penjualan cendera mata bersama Asosiasi Dokter Hewan Satwa Liar, Akuatik, dan Hewan Eksotik Indonesia untuk disalurkan ke Wildlife Rescue Centre, Yogyakarta.

Salah satu topik bahasan dalam webinar untuk memperingati Hari Primata Indonesia di tahun 2021 adalah dampak negatif pemeliharaan primata. Disini drh. Meri dari Jakarta Animal Aid Network / Jaringan Satwa Indonesia memaparkan akibat-akibat buruk dari pemeliharaan primata di rumah (Foto: Yayasan IAR Indonesia)

Semarak HPI 2023

Sejauh pengamatan kami, kegiatan HPI 2023 telah dilakukan dengan berbagai bentuk. Misalnya diskusi, kampanye, edukasi dan penyadartahuan, kemah konservasi, dan lain sebagainya. Berdasarkan pengamatan kami, semarak HPI 2023 dirayakan di beberapa daerah di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi oleh kolaborator.

Di Sumatera, sebuah organisasi pemerhati primata di Kabupaten Natuna bernama Mantau Kekah misalnya, melakukan pengamatan kekah (Presbytis natunae) di Desa Mekar Jaya, Kabupaten Natuna. Yayasan IAR sendiri berkegiatan kemah yang bertajuk Batutegi Conservation Camp di KPH Batutegi, Lampung yang diikuti oleh beberapa komunitas. Selain mengenalkan tentang Yayasan IAR Indonesia, peserta juga diajak berdiskusi asyik tentang konservasi primata di Indonesia, menanam pohon, serta pengenalan camera trap.

Kegiatan penanaman pohon dilangsungkan pada Conservation Camp sebagai ajang menyebarluaskan kesadaran lingkungan bagi para pemuda Batutegi, Lampung (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)

Yayasan Orangutan Indonesia mengadakan Diskusi dan Kampanye bersama Kader Konservasi tingkat SMA sederajat di Kotawaringin Barat. Setelahnya, dilakukan Focus Group Discussion yang berkaitan dengan Rencana Tindak Lanjut yang dilakukan bersama Generasi Muda.

Bergesar ke timur, kolaborasi dalam  kampanye penyadartahuan primata berlangsung semarak. Balla Konservasi Wallacea dan Sikola Ale’ beserta BKSDA Sulawesi Selatan, TN Bantimurung Bulusaraung, dan Fauna dan Flora Internasional berkongsi melakukan kegiatan ini di car free day di Jalan Boulevard dan Samangki di Kabupaten Maros pada Minggu (29/1).

Little Fireface Project yang berbasis di Garut terlibat dalam gelar wicara yang mengangkat topik tentang miskonsepsi terkait spesies kukang (Nycticebus sp.). Rimba Experiences melakukan kegiatan serupa bersama komunitas-komunitas di sekitar Ciwidey, Bandung. Terakhir, Asta Conservation memperingati HPI 2023 dengan membuat give away berupa Kalender Satwa 2023 yang diterbitkan secara terbatas.

Merayakan Keanekaragaman Primata Indonesia

Keberadaan primata di Indonesia adalah suatu kebanggaan terhadap kekayaan hayatinya. Hingga saat ini, keanekaragaman spesies primata di Indonesia berjumlah 64 spesies. Tidak mungkin di tahun-tahun selanjutnya akan bertambah seiring dengan penelitian terkini.

Krabuku ingkat (Cephalopachus bancanus) adalah salah satu satwa dilindungi di Indonesia yang hidup di pedalaman hutan Sumatra. Tugas kita sekarang adalah melindunginya dari berbagai macam ancaman yang mengancam populiasinya di alam (Muhidin | Yayasan IAR Indonesia)

Dari yang berukuran kecil seperti tarsius, hingga yang berukuran besar seperti orangutan. Dari yang bersembunyi di kegelapan malam seperti kukang, hingga menikmati senja seperti bekantan. Primata Indonesia selayaknya cerminan kehidupan sosial kita. Hidup dalam komunitas yang besar seperti yaki, atau hidup dalam keluarga kecil nan harmonis selayaknya siamang.

Perayaan Hari Primata Indonesia dilaksanakan setiap tahunnya pada tanggal 30 Januari. Peringatan ini tentu bukanlah sekadar perayaan semata. Ada makna dan pesan yang selalu menjadi pengingat kita, akan pentingnya keberadaan primata Indonesia, untuk kita jaga, untuk kita lestarikan, untuk tetap menjadi kebanggaan Indonesia.

Sebelum menutup artikel ini, kami punya pantun:

Kaki bekantan ada selaputnya

Kami tunggu kolaborasimu di HPI berikutnya!

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Afrizal Abdi

Bijak Berwisata dan Berinteraksi dengan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)

Masih ingatkah Sobat KonservasYIARI dengan kasus serangan monyet ekor panjang yang bernama monpai di salah satu objek wisata? Selain dalam bentuk serangan, interaksi negatif dengan monpai dapat mengakibatkan penularan penyakit (zoonosis). Jadi penyakit ini menular dari satwa vertebrata ke manusia atau sebaliknya melalui infeksi patogen seperti bakteri, virus, fungi dan parasit secara alami. Semua hal itu bisa terjadi jika Sobat KonservasYIARI tidak bijak dalam berwisata. Bukannya menghilangkan kepenatan, justru malah mendatangkan petaka!

Lalu bagaimana sih cara agar kita bisa berwisata dengan bijak dan aman?

1. Hindari memberi makan kepada monpai

Monpai memiliki makanan alaminya sendiri yang disesuaikan dengan anatomi tubuhnya. Pemberian makan sembarangan dapat menimbulkan masalah bagi monpai, pengunjung wisata, maupun masyarakat sekitar. Insting alami monpai akan tumpul akibat ketergantungan pada sumber makanan dari pengunjung dan mendorong perilaku memalak. Lebih parahnya lagi ketika wisata sepi, monpai bisa saja mencari makanan ke pemukiman warga atau warung di tempat wisata.

Monyet ekor panjang memakan pisang di Suaka Margasatwa Muara Angke. Apabila makaka semakin sering diberi makanan oleh manusia, maka ia akan semakin ketergantungan dengan kita (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)

2. Hindari kerumunan kelompok monyet

Baik di alam maupun di tempat penangkaran ex-situ, monpai hidup dalam kelompok besar. Induk monpai selalu melindungi anak-anaknya, mereka tidak segan-segan untuk menyerang secara tiba-tiba apabila merasa terganggu. Wah alih-alih berwisata justru bisa berujung pada celaka. Jadi sebisa mungkin untuk menghindari kerumunan kelompok monyet ekor panjang saat berwisata.

Sekelompok monyet ekor panjang atau monpai di hutan (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)

3. Hindari berswafoto dengan monpai

Jika ingin mengambil foto satwa liar, kita dapat mengambilnya dari jarak yang aman dan lakukan tanpa harus menyentuh serta mengganggu monpai. Kemudian abadikanlah monpai dengan tingkah laku dan ekspresi alaminya. Tindakan berswafoto yang tidak bijak dapat menggiring persepsi yang bertentangan dengan tujuan konservasi. Selain itu interaksi yang terlalu dekat dengan monpai saat swafoto dapat menularkan penyakit (zoonosis).

Konflik antara monyet ekor panjang dan manusia akan semakin mudah terjadi seiring berkurangnya jarak antara manusia dan MEP (Fakultas Kehutanan UGM)

4. Bawa kembali sampahmu

Tempat sampah atau sampah yang dibuang sembarangan, rentan menjadi tempat yang dikunjungi monpai untuk mengais sisa-sisa makanan. Jika Sobat KonservasYIARI ingin membuang sampah di tempat wisata, pastikan tempat sampah tersebut memiliki penutup yang tidak mudah dibuka oleh monpai. Selain itu tindakan membuang sampah sembarang dapat merusak habitat dari monpai.

Tempat sampah atau sampah yang dibuang sembarangan, rentan menjadi tempat yang dikunjungi monpai untuk mengais sisa-sisa makanan. Jika Sobat KonservasYIARI ingin membuang sampah di tempat wisata, pastikan tempat sampah tersebut memiliki penutup yang tidak mudah dibuka oleh monpai. Selain itu tindakan membuang sampah sembarang dapat merusak habitat dari monpai.

Penyediaan tempat sampah yang cukup di lokasi wisata sangat penting dilakukan untuk mengurangi konflik antara manusia dan monpai (Tim HMC | Yayasan IAR Indonesia)

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Referensi :

Nanda IMAP. 2020. Analisis risiko penularan zoonosis dari serangga konsumsi. Jurnal Multidisipliner Mahasiswa Indonesia. 2(2): 132-155.

Rahman H, Sartika. 2022. Upaya pencegahan travel disease dalam persepsi travel agent. Jurnal penelitian kesehatan suara forikes.

Elif Ivana Hendastari & Cahya Riza Haromaen

Keseruan Conservation Camp Batutegi di Hari Primata Indonesia 2023

Bagaimana Sabtu-Minggu kalian? Diisi dengan apakah?

Sabtu-Minggu kali ini kami mengisinya dengan kegiatan yang positif, lho. Untuk memperingati Hari Primata Indonesia, kami bersama para pemuda dari Kabupaten Tanggamus, Lampung bersama-sama belajar mengenai konservasi sambil berpetualang dalam acara Batutegi Conservation Camp. Acara ini dilaksanakan pada pada tanggal 28-29 Januari kemarin di Kawasan Hutan Lindung Batutegi, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Kegiatan yang diinisiasi oleh KPH Batutegi dan YIARI berkolaborasi dengan Kukangku dan Gibbonesia, serta komunitas peduli lingkungan di Tanggamus, Lampung ini dilangsungkan untuk menginisiasi pembentukan pemuda pro-konservasi.

Tahukah kamu apa itu pemuda pro-konservasi? Mereka adalah salah satu elemen masyarakat yang penting dalam upaya perlindungan alam ini. Para pemuda ini bisa menjadi generasi penerus kegiatan konservasi, terutama di Hutan Lindung Batutegi. Mengingat banyaknya kegiatan perusakan hutan di sekitar kita saat ini seperti penebangan ilegal, perburuan satwa liar, dan perambahan hutan, perlu adanya upaya untuk melindungi alam yang harus dilakukan bersama-sama oleh seluruh masyarakat dan pihak yang tinggal dan hadir di sekitar kawasan konservasi, dan dalam hal ini diwujudkan dengan pembentukan pemuda pro-konservasi ini.

Para peserta yang berjumlah 36 orang dan berasal dari berbagai komunitas pecinta alam ini berangkat dari Basecamp Yayasan IAR Indonesia di Air Naningan, Lampung pada siang hari. Selama perjalanan kurang lebih 2 jam menggunakan kendaraan darat dan perahu, akhirnya mereka sampai di Basecamp Yayasan IAR Indonesia di Kawasan Hutan Lindung Batutegi Way Rilau. Setibanya para peserta, mereka mendirikan tenda masing-masing sebelum akhirnya berkumpul bersama panitia dan mendapatkan materi konservasi. Kegiatan-kegiatan yang kami lakukan di Conservation Camp ini dikemas dalam kegiatan yang rekreatif sekaligus edukatif supaya para peserta bisa memahami dengan baik.

Para peserta Batutegi Conservation Camp sedang menonton bersama video edukasi konservasi bertemakan biodiversitas di Batutegi (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)

Pada hari pertama kegiatan dimulai sekitar pukul 16.30 sore. Kegiatan dimulai dengan diskusi bersama Mas Huda, Senior Manajer Resiliensi Habitat Yayasan IAR Indonesia untuk berkenalan dengan keanekaragaman hayati di wilayah konservasi Hutan Lindung Batutegi. Setelah istirahat, sholat, dan makan malam, mereka mendapatkan materi konservasi lewat pemutaran video mengenai profil Yayasan IAR Indonesia dan video edukasi di pandu oleh Mas Huda dan Kak Agung, Manajer Kampanye Yayasan IAR Indonesia. Kegiatan hari pertama diakhiri dengan sarasehan antara peserta dan panitia. Kami mengobrol santai mengenai tujuan pembentukan wadah untuk pemuda konservasi sekaligus sharing pengalaman-pengalaman unik dan berkesan selama berkegiatan di alam.

Besok minggunya, tepatnya jam 6 pagi, kami mulai hari dengan sarapan bersama dan senam. Kegiatan pagi dimulai dengan senam karena setelah itu kami langsung tancap gas dengan kegiatan di lapangan. Kegiatan lapangan pertama adalah penanaman bibit pohon loa, salam, dan beringin. Pada kegiatan ini kami bersama-sama menanam 18 bibit di sekitar sungai daerah Way Rilau.

Bersama KPH Batutegi, kami menanam 18 pohon di sekitar sungai di Kawasan Way Rilau Hutan Lindung Batutegi (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)

Setelah kegiatan penanaman, kita melanjutkan dengan eksplorasi alam di sekitar Camp. Di sela-sela eksplorasi, ada juga pemaparan penggunaan camera trap alias kamera penjebak untuk pengamatan satwa liar. Selain itu, juga ada pengenalan rotan sebagai salah satu hasil hutan bukan kayu yang bisa dimanfaatkan masyarakat di sekitar hutan. Kegiatan tracking ini berlangsung hingga tengah hari menuju kolam alam untuk rehat. Setelah itu para peserta kembali ke Camp untuk siap-siap kembali pulang.

Anggi Agustian, salah satu peserta Conservation Camp mewakili Komunitas Lentera Nusantara berpendapat bahwa kegiatan ini adalah kegiatan yang seru yang bisa menambah wawasan para pesertanya terkait konservasi di Lampung. “Pengalaman di sini kita bisa mendapatkan banyak sekali pengalaman, wawasan, ilmu, pengetahuan, yang sebelumnya memang kita kuranglah dalam hal itu. Jadi kita berterimakasih sekali kepada YIARI dan juga KPH Batutegi telah memberikan kita semua kesempatan untuk belajar bersama-sama tentang apa sih yang ada di KPH Batutegi ini terutama keanekaragaman hayati yang ada di sini,” ujarnya. Redi Yuliawan juga mengatakan kalau Kemah Konservasi ini sangat memuaskannya dalam mendapat ilmu lebih banyak terkait konservasi dan siap untuk menyebarluaskannya di komunitasnya. “Sudah ada dalam pikiran saya untuk mengikuti materi-materi yang sudah diberikan dan terutama melestarikan hutan dan populasi hewan-hewan yang ada di dalam hutan tersebut,” jelasnya.

Kak Aris dari Yayasan IAR Indonesia sedang menjelaskan penggunaan kamera penjebak dan fungsinya kepada para peserta Batutegi Conservation Camp (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)

Penyuluh KPHL Batutegi Provinsi Lampung menyatakan kalau pihak KPHL Batutegi sangat terkesan dengan pembawaan materi konservasi yang menarik dan menyenangkan kepada para peserta. “Harapannya ke depannya bisa mengedukasi lebih banyak orang lagi terkait primata yang ada di Indonesia terkait kelestariannya, bagaimana cara kita melestarikan, bagaimana cara kita menindaklanjuti apabila kita menemukan pertunjukan-pertunjukan topeng monyet di jalanan, dan istilahnya, sekecil apapun itu perbuatan kita, kita bisa menyelamatkan primata dengan cara kita sendiri,” jelasnya.

Mas Huda sangat berharap bahwa dengan kegiatan ini , para peserta yang tergabung dengan komunitas pecinta alam ini dapat memandu komunitasnya untuk mulai memahami pentingnya konservasi hutan di sekitar mereka. “YIARI bersama KPH Batutegi mencoba merangkul komunitas-komunitas tersebut untuk bisa membantu dalam perlindungan hutan dan keanekaragaman hayati yang berada di dalamnya dengan membuat kegiatan inisiasi forum pemuda peduli konservasi di lampung, khususnya di Tanggamus. Kegiatan ini adalah permulaan dan akan ditindaklanjuti dnegan kegiatan lainnya,” terangnya.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Sumber: Balai KSDA Sumatera Selatan

Implementasi Konsep One Health, BKSDA Sumsel Gelar Seminar dan Pelatihan Penanganan Primata Hasil Sitaan

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) bersama The Aspinall Foundation Indonesian Program (TAF-IP) menyelenggarakan seminar sehari dan pelatihan penanganan primata hasil sitaan atau serahan pada Senin (30/01), di kantor Resort Konservasi Wilayah IV Kota Palembang. Kegiatan ini guna penyelamatan dan penanganan primata hasil sitaaan atau serahan sukarela untuk melakukan tindakan yang tepat sesuai dengan protokol dan prosedur yang ada serta mengantisipasi potensi terjadinya zoonosis.

Salah satu konsep yang tumbuh mengenai hubungan manusia, satwa liar, dan lingkungan adalah One Health. Konsep ini lebih menekankan kemanunggalan kesehatan manusia, kesehatan satwa, kesehatan tumbuh-tumbuhan, kesehatan lingkungan, dengan kesehatan planet bumi sebagai sebuah kesatuan. Pendekatan One Health dilaksanakan dengan tiga prinsip, yaitu komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi. Hadir sebagai narasumber dalam seminar ini, Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata, drh. Ida Mansur dari TAF-IP, dan drh. Wendi Prameswari dari YIARI, yang dilanjutkan dengan pelatihan melalui fasilitasi dari TAF-IP dan YIARI.

Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata mengatakan bahwa 80% satwa liar bernilai penting dan terancam punah berada di luar kawasan konservasi, sehingga menyebabkan potensi interaksi negatif satwa dan manusia. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan konservasi perlu didukung dengan upaya konservasi pada kawasan di sekitarnya.

Dokter hewan Purbo Priambada dan dokter hewan Wendi Prameswari memeragakan cara penanganan kukang sumatra yang tepat dan aman bagi para peserta pelatihan (Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)

“Telah banyak regulasi terkini yang menjadi jalan tengah, misal koridor, bagaimana kawasan bernilai konservasi tinggi dikelola bersama oleh para pihak. Selain itu, juga terdapat pedoman bagaimana memperkuat dan mempertahankan kawasan konservasi tanpa membuka konflik baru, seperti kemitraan konservasi di dalam kawasan konservasi dan perhutanan sosial di luar kawasan konservasi”, kata Kepala Balai Ujang saat menyampaikan paparannya dengan tema perlindungan satwa liar di dalam dan di luar kawasan konservasi di Sumatera Selatan.

Narasumber lainnya, drh. Ida Masnur dari TAF-IP menyampaikan materi tentang pengelolaan primata di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS)-Primata Jawa di Jawa Barat dan PRS-Lutung Jawa di Jawa Timur. Saat ini terdapat tiga jenis primata yang dikelola, yaitu lutung jawa (Trachypithecus auratus), surili jawa (Presbytis comata), dan owa jawa (Hylobates moloch). Dalam panduan rehabilitasi satwa yang dipedomani, Best Practise Guidelines for the Rehabilitation and Translocation of Gibbons, drh. Ida menjelaskan skema rehabilitasi satwa meliputi kedatangan satwa-karantina, fasilitas sarana dan prasarana yang dibutuhkan, pemeriksaan kesehatan, pengayaan perilaku, kajian lokasi pelepasliaran, dan animal welfare.

Panduan rehabilitasi satwa tersebut juga dipedomani oleh YIARI dalam penanganan satwa. Dalam pemaparannya, drh. Wendi Prameswari dari YIARI menerangkan bahwa saat ini terdapat dua lokasi PRS Primata yang dikelola YIARI yaitu di Bogor (rehabilitasi kukang) dan Ketapang (rehabilitasi orangutan).

Peserta dari tiap instansi mengemukakan pendapat dan belajar bersama mengenai penanganan yang baik dan tepat bagi primata, terutama mereka yang dievakuasi dari hasil pemeliharaan, perdagangan, ataupun perburuan (Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)

“Penanganan atau proses evakuasi yang dilakukan YIARI terbagi menjadi dua upaya, yaitu rilis atau rehabilitasi. Proses rilis dapat dilakukan dengan kriteria kondisi kesehatan bagus, misalnya pada kukang dengan kondisi gigi bagus dan lengkap, tidak ada luka, serta mata normal. Sebaliknya, dilakukan rehabilitasi jika kondisi kesehatannya tidak baik”, ungkapnya.

Dalam pelatihan penanganan primata hasil sitaan atau serahan, peserta diedukasi penerapan praktik handling satwa dan penanaman microchip pada satwa kukang sebagai obyek pembelajaran. Tujuan pemasangan microchip pada satwa adalah untuk identifikasi dan memudahkan penelusuran keberadaan satwa tersebut.

Selain diikuti jajaran pegawai Balai KSDA Sumatera Selatan dan petugas PRS-RKW IV Kota Palembang, pada seminar dan pelatihan ini turut hadir dari unsur Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, Balai Karantina Pertanian Kelas I Palembang, Dinas Pemadaman Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Palembang, dan Yayasan ALOBI.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Sumber: Balai KSDA Sumatera Selatan

BKSDA Bogor dan Yayasan IAR Indonesia Selenggarakan Peningkatan Kapasitas Dinas Pemadam Kebakaran Kota dan Kabupaten Bogor dalam Menangani Primata

Upaya konservasi primata di Bogor tak jauh dari interaksi-interaksi negatif yang tak diinginkan antara satwa dengan manusia. Beberapa satwa liar seperti monyet ekor panjang mencari makanan hingga masuk ke pemukiman warga. Terdapat juga permasalahan dengan primata seperti lutung, owa, surili, beruk, dan kukang yang seringkali terlantar lantaran ditinggal pemiliknya ketika sudah bosan atau sudah enggan merawat. Hal ini menjadi permasalahan yang cukup rumit mengingat sebagian dari primata ini masuk dalam daftar satwa yang dilindungi oleh Peraturan Menteri LHK 106 tahun 2018.

Untuk itu, kami bekerjasama dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kota dan Kabupaten Bogor dalam upaya penanganan evakuasi primata di wilayah Bogor. Pihak Dinas Pemadam Kebakaran yang biasa disebut Damkar sudah berpengalaman dalam upaya penyelamatan satwa liar di daerah pemukiman warga, baik itu satwa domestik maupun satwa liar. Kerjasama penyelamatan satwa liar dengan Damkar Kota dan Kabupaten Bogor ini sudah terbangun dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Bogor (BKSDA Bogor) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Kerjasama ini telah berhasil mengevakuasi banyak satwa liar dalam 2 tahun terakhir.

Tim Animal Management Yayasan IAR Indonesia memperagakan cara menangani satwa primata kecil. Dalam peragaan ini ditunjukkan cara menangani kukang (Rizazul Tri | IAR Indonesia)

Upaya penyelamatan primata maupun satwa liar lainnya haruslah tetap menggunakan prinsip
kehati-hatian, salah satunya adalah terkait potensi penularan penyakit zoonosis dari
satwa liar ke manusia maupun sebaliknya. Salah satu konsep yang tumbuh mengenai
hubungan manusia, satwa liar, dan lingkungan adalah Planetary Health. Konsep ini
lebih menekankan kemanunggalan kesehatan manusia, kesehatan hewan, kesehatan
tumbuh-tumbuhan, kesehatan lingkungan, dengan kesehatan planet bumi sebagai
sebuah kesatuan.

Pelatihan Peningkatan Kapasitas Dinas Pemadam Kebakaran dalam Penyelamatan Penanganan Monyet Ekor Panjang dan Primata di Kota dan Kabupaten Bogor menjadi topik yang penting mengingat dalam 2 tahun terakhir, laporan penyerahan temuan primata terutama monyet ekor panjang di Bogor cukup sering. Melalui kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh BKSDA Bogor dan YIARI ini, diharapkan petugas pemadam kebakaran di Kabupaten dan Kota Bogor yang berhubungan langsung dengan penyelamatan satwa dapat menanggapi dan menangani penanganan primata khususnya monyet ekor panjang dan hewan lainnya secara efisien dan sesuai prinsip kesejahteraan satwa.

Ibu Lana Sari sedang menjelaskan mengenai prosedur evakuasi satwa liar di Kantor Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten (Fattreza Ihsan | Yayasan IAR Indonesia)

Kegiatan ini diadakan secara terpisah untuk Dinas Pemadam Kebakaran di Kota Bogor maupun di Kabupaten Bogor. Pelatihan diadakan pada Selasa, 27 September 2022 bertempat di Kantor Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bogor, dan pada Kamis, 29 September 2022 bertempat di Kantor Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bogor. Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh petugas pemadam kebakaran yang berjumlah total 55 orang untuk kedua kantor tersebut.

Banyak pertanyaan mengenai teknis penanganan yang baik dan alur evakuasi satwa yang ditanyakan oleh para peserta kepada pemateri pelatihan. Kepala Bidang BBKSDA Jawa Barat Wilayah I Bogor, Lana Sari ,S.Pi,M.Sc, selaku pemateri menjelaskan beberapa poin penting dalam penyelamatan primata. “Pendataan adalah elemen penting dalam rangkaian evakuasi primata di Bogor, sebab sebelum dievakuasi perlu ada identifikasi terlebih dahulu”, ujarnya.

Dokter hewan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi, drh. Indri Saptorini menyatakan pentingnya untuk mengikuti kaidah-kaidah kesejahteraan satwa ketika menangani satwa liar yang hendak dievakuasi. “Perlu diketahui bahwa satwa baiknya terbebas dari rasa takut dan tidak nyaman ketika kita tangkap. Hal ini tentuanya untuk mengurangi stres pada hewan yang bersangkutan”, ujarnya.

Petugas Pemadam Kebakaran Kota Bogor mengajukan pertanyaan kepada narasumber terkait materi penanganan primata yang diberikan (Yuda Fitra | Yayasan IAR Indonesia)

Kepala Bidang Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bogor, H. Sudiyanta, bahwa pelatihan ini sangat penting untuk dilakukan mengingat banyaknya pelaporan terkait evakuasi primata di Kabupaten Bogor. “Pelatihan ini adalah kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan koordinasi untuk penanganan satwa liar di Kabupaten Bogor, supaya evakuasi dapat berlangsung cepat dan baik,” pungkasnya.

Kepala Bidang Pemadam dan Penyelamatan Pemadam Kebakaran Kota Bogor, Mochamad Ade Nugraha S.P M.E, menyatakan bahwa bahwa pelatihan ini adalah salah satu momentum untuk bekerjasama lebih lanjut terkait penanganan satwa liar yang berada di pemukiman warga dengan BKSDA Bogor dan Yayasan IAR Indonesia. “Pada kegiatan pelatihan penanganan primata ini cukup bagus terselenggarakan oleh BKSDA Bogor dan Yayasan IAR Indonesia. Anggota kami cukup antusias dalam menerima materi baik teori maupun praktek”, ujarnya.

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Welcome to the Planetary Health

Wuih ada temuan planet baru nih?

Bukan pake banget. Planetary health ini bukan nama planet, tapi suatu istilah yang sebenarnya refer to kesehatan publik atau masyarakat, gaes.

 

Oh gitu? Explain please…

Jadi kalau kamu baca-baca atau googling tentang planetary health, ini sebenarnya suatu konsep yang meyakini – dan emang beneran gaes – bahwa kesehatan manusia dan kesehatan keseluruhan isi planet tempat manusia hidup itu, berkaitan dan terhubung banget. Jadi nih kalau lingkungan kita hidup itu ga sehat, itu juga ngaruh ke kesehatan manusia. Nah soal lingkungan yang sehat ini termasuk juga dengan hewan peliharaan kita.

 

Setuju banget ini. Terus kenapa tiba-tiba ngomongin planetary apa tadi?

Planetary health! Gini, kami mau cerita soal program kami yang berkaitan dengan upaya merealisasikan konsep planetary health ini. Yaitu dengan vaksin.

 

Wah vaksin untuk covid?

Nggak, ini vaksin untuk hewan peliharaan. Jadi kami baru aja ngasih vaksin ke anjing-anjing peliharaan warga di desa-desa penyangga Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Ada dua desa yang termasuk dalam desa penyangga Taman Nasional  ini yaitu  Desa  Mawang Mentatai dan Desa Nusa Poring di Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.

Dokter hewan kami sedang memberikan vaksin bagi anjing milik masyarakat (Tim Medis| IAR Indonesia)

Ooh gitu, kenapa bikin program vaksin untuk anjing-anjing ini?

Jadi gini,  hampir seluruh penduduk di dua desa penyangga tadi adalah suku Dayak dan mayoritas punya anjing sebagai hewan peliharaan yang dimanfaatkan untuk menunggu rumah, ladang, atau teman berburu di hutan. Sayangnya, di sana masih banyak anjing yang menderita penyakit kulit dan cacingan. Penyakit ini bersifat zoonosis yang artinya dapat menular dari manusia ke hewan dan sebaliknya. Nah anjing-anjing yang terkena penyakit ini berkeliaran bebas di sekitar rumah dan kontak langsung dengan manusia. Jadi potensi penularan penyakit antara manusia dan hewan cukup tinggi. Nah terus, kebetulan di Kalimantan Barat khususnya Kabupaten Melawi itu zona merah virus rabies yang sebagian besar penyebab penularannya ke manusia melalui gigitan anjing.

 

Eh jadi rabies ini bisa menular gitu?

Iya. Rabies tuh merupakan penyakit zoonosis atau penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia yang disebabkan oleh virus. Rabies dapat menular dari hewan ke manusia melalui air liur hewan yang terinfeksi virus rabies yang masuk ke tubuh manusia melalui paparan mukosa yang terbuka, yang paling umum adalah luka yang disebabkan gigitan hewan yang terinfeksi virus tersebut. Virus ini menyerang sistem saraf dan gejala umumnya meliputi demam, sakit kepala, kelebihan air liur, kejang otot, kelumpuhan, dan kebingungan mental.

 

Ya ampun ngeri banget

Iya banget. Bahkan penyakit rabies ini dapat menyebabkan kematian pada manusia maupun hewan yang terpapar virus ini kalau gak cepetan dapet pengananan khusus berupa penyuntikan Vaksin Anti Rabies (VAR) maupun dengan Serum Anti Rabies (SAR). Berita baiknya, penyakit rabies bisa dicegah kok. Caranya dengan cara memberikan vaksinasi rabies untuk hewan peliharaan yang berisiko terpapar. Karena itulah, selain ngasi obat cacing dan obat scabies, kita juga ngadain vaksinasi untuk anjing peliharaan yang ada di Desa Penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

Anjing-anjing yang telah disuntik diharapkan akan bebas dari penyakit rabies (Tim Medis| IAR Indonesia)

Ih bagus banget misinya, jadi penasaran kayak gimana kegiatannya

Jadi nih, kita adakan dulu sosialisasi zoonosis untuk warga desa. Kegiatan ini dilakukan di seluruh dusun yang ada di desa penyangga TNBBBR dari Juni sampai Oktober 2021. Kegiatan ini dilakukan secara door to door dengan sasaran masyarakat yang memiliki hewan peliharaan terutama anjing dan sosialisasi ke masyarakat yang masih melakukan aktivitas berburu dan mengkonsumsi hewan buruan yang rentan menularkan penyakit zoonosis. Sosialisasi yang diberikan bertujuan untuk memberi pengetahuan kepada masyarakat seputar pengertian zoonosis, bahaya zoonosis, ancaman zoonosis dari hewan liar hasil buruan, pencegahan zoonosis, dan mematahkan mitos yang beredar di masyarakat seputar vaksinasi rabies pada anjing.

 

Lho ada mitos segala?

Iya, ternyata ada lho. Jadi, ada mitos yang berdar di kalangan warga desa kalau anjing udah divaksin, dia jadi pemalas, termasuk malas ke ladang ikut majikannya. Mereka juga ada yang percaya kalau anjing tidak akan mau menggonggong lagi kalau sudah divaksin. Dan memang masih ada masyarakat yang gak mau anjingnya divaksi gara-gara itu. Untunglah abis kami sosialisasi dan kasih penjelasan, mereka ngebolehin anjingnya divaksin.

 

Syukur deh kalau udah tercerahkan. Abis sosialisasi ngapain lagi?

Selesai sosialisasi, terus kita melakukan juga pendataan populasi anjing dan pemberian obat cacing untuk anjing. Pendataan ini bertujuan untuk menghitung populasi anjing di desa penyangga sebagai acuan untuk melakukan vaksinasi rabies bareng Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Melawi. Setelah didata, tim medis kita ngasiin obat cacing dan treatment penyakit kulit. Dari Juni sampai September 2021 lalu, ada 211 ekor anjing yang udah diberi obat cacing dan scabies.

 

Warga seneng dong anjingnya dapat obat cacing sama obat penyakit kulit?

Senang dong. Selain dapat obat dan perawatan gratis, mereka juga mulai mengerti dengan bahaya zoonosis dan mulai paham dengan tujuan pemberian vaksin. Bahkan mereka tercerahkan atas mitos keliru yang beredar bahwa anjing yang divaksin akan menjadi malas ke ladang.

 

Mantep deh. Udah berapa anjing yang divaksin?

Tanggal 9-12 November ada 124 ekor anjing yang divaksin. Rencananya kami masih akan lanjutin lagi programnya.

Satu dari ratusan anjing peliharaan masyarakat yang telah kita beri vaksin (Tim Medis| IAR Indonesia)

Banyak juga ya? Ada pihak lain yang membantu?

Ada dong, vaksinasi dilakukan oleh dokter hewan kami dibantu dua orang vaksinator dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Melawi. Vaksinnya disuntikan melalui injeksi di bawah permukaan kulit. Proses handling anjing dilakukan oleh pemilik untuk menjaga keamanan vaksinator. Selain menyuntikkan vaksin ke anjing, tim juga melakukan sosialisasi tentang efek samping yang dapat muncul pada anjing pasca vaksinasi dan meminta pemilik untuk selalu memperhatikan anjingnya dan menghubungi tim jika timbul efek samping pada anjing.

 

Terus taunya anjing udah vaksin atau belum gimana? Pake aplikasi semacam Peduli Lindungi?

Ya enggak lah. Anjing yang sudah divaksinasi diberikan kalung merah aja sebagai penanda.

 

Oooh. Hehe. Kirain.. Respon warga terhadap vaksinasi rabies oke ngga?

Oke banget dong. Ternyata mereka mulai sadar akan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh penyakit rabies melalui sosialisasi yang sudah dilakukan sebelumnya. Masyarakat juga senang dan menyambut kegiatan kesehatan hewan ini dengan antusias karena anjing mereka lebih sehat dan bebas dari penyakit kulit setelah dilakukannya pemberian obat cacing dan anti scabies sebelumnya. Mayoritas masyarakat yang awalnya meragukan vaksinasi rabies juga sudah mempersilahkan tim untuk melakukan vaksinasi terhadap anjingnya.

 

Ada kendala nggak selama kegiatan ini?

Ada, tapi enggak banyak sih, dan bisa diatasi kok. Kemarin kendanya sih lebih ke faktor alam kayak hujan deras yang bikin sungai banjir, jadi tim vaksinasi hasur menunggu dulu beberapa jam supaya air sungai surut. Ini karena kami harus lewat sungai untuk pergi ke dusun-dusun itu dan kalau debit airnya tinggi, bisa membahayakan tim. Selain itu, banyak juga masyarakat yang masih membawa anjingnya ke ladang di tanggal yang sebelumnya sudah diinformasikan, sehingga beberapa anjing belum tervaksinasi.

 

Wah terus buat yang belum divaksin ini gimana?

Rencananya vaksinasi susulan akan dilakukan kepada anjing yang belum tervaksinasi dan kami mau bikin program kesehatan hewan peliharaan secara rutin di seluruh dusun di Desa Penyangga TNBBBR.

 

Heribertus Suciadi

Ada Yang Penting, Tapi Kurang Populer

Wih…apaan tuh?

Penasaran kan? Ya ini tentang riset ilmiah si kukang.

 

Eits, berat bener deh topiknya…

Nggak! Nah ini nih, banyak banget yang suka nyangka kalau udah bicara tentang riset ilmiah tuh berat, padahal nggak selalu gitu lho, friend. Riset tuh seru, apalagi dalam konservasi satwa. Jadi, kalau kita mau bener-bener peduli ama konservasi satwa, itu nggak cuma ngerjain penyelamatan doang. Kita perlu juga nih ngelakuin riset ilmiah supaya yang kita kerjakan itu selain ada catatannya, juga bisa buat panduan pekerjaan kita nanti-nantinya. Terutama buat kukang yang masih belum banyak riset ilmiahnya.

 

Ah I see…paham sekarang. Terus kenapa masih minim ya riset ilmah tentang kukang?

Iya nih, perhatian orang-orang untuk melakukan riset mengenai si primata bulan itu belum banyak dibandingkan satwa dilindungi lainnya. Padahal status konservasi dan peran ekologi si kukang ini ya sama pentingnya seperti satwa liar lain, sebut aja orangutan, harimau, dan hewan-hewan terancam lainnya yang kita punya. Nah akhirnya persoalan ini udah lama jadi salah satu weakness point dalam konservasi kukang. Jawaban kenapa masih minim, kami pun nggak tahu pasti. Bisa jadi memang nggak banyak orang interest sama si kukang. Tapi yang pasti, dari sisi kami sebagai organisasi yang udah lebih dari satu dekade ngebantu perawatan dan konservasi kukang, weakness point itu justru tantangan buat ngedorong kami untuk ningkatin popularitas si kukang melalui beragam topik riset yang holistik, friend. Sekarang bahkan nggak menutup kemungkinan topik penelitian juga bisa diilhami dari jagat maya.

Dulu banget kalo inget awal-awal kami berdiri, emang belum banyak tuh jejak literatur yang bisa kami jadiin rujukan buat nanganin dan ngerawat si kukang. Bisa dibilang, waktu itu kami masih banyak trial-and-error. Tapi sekarang, kondisinya mulai membaik nih. Sejumlah catatan ilmiah sudah banyak dikerjakan.

 

 

Wuih keren! Jadi pengen tahu nih riset ilmiah kukangnya apa aja sih?

Macem-macem, friend. Mulai dari sisi perilaku si kukang, habitat, medik konservasinya, bahkan sampe ke persoalan potret kukang di jagat maya.

 

Ah jadi paham sekarang. Terus riset-risetnya itu sudah digunakan buat apa aja sih?

Nah, ternyata nih friend, hasil riset tuh bisa jadi modal gaul lho hahahah! Becanda friend. Jadi gini, ternyata nih karena belum banyak yang bikin riset ilmiah tentang kukang, tim kami jadi sering diundang ikutan beragam konferensi ilmiah di tingkat nasional dan internesyenel, untuk ngomongin tentang si anak manis kukang ini. Tentu saja kami jadi semangat nih. Karena ini sesuai banget dengan misi kami untuk ningkatin interest dan popularitas ilmiah si kukang. Terus selain itu, biasanya dalam ajang-ajang konferensi nih, dijadiin juga momentum reuni, memperkuat hubungan antarpegiat konservasi, dan punya manfaat untuk membangun jaringan baru bersama para ahli-peneliti primata terbaik di Indonesia. Pastinya ini juga ngebuat kita jadi merasa nggak sendirian menghadapi berbagai tantangan yang berubah seiring perkembangan zaman. Tsaaah.

Soal internesyenel nih… baru banget, salah satu dokter hewan kami Indri Saptorini presentasiin karya ilmiah yang berjudul “Electrocution Cases in Rescued-Javan Slow Loris at IAR Indonesia during Januari 2019 until April 2020” dalam konferensi Asian Society of Conservation Medicine (ASCM) akhir September kemarin. Singkatnya, di ajang bergengsi tahunan itu dia cerita soal penanganan sengatan listrik pada kukang yang direhabilitasi di tempat kami. And you should know, Indri menjadi salah satu presenter terbaik (The Excellence Oral Presentation) bersama empat presenter lain dari Jepang dan Thailand.

 

Wah selamat!! Terus kegiatan lainnya yg ngomongin riset ilmiah ini ada lagi ga?

Ada dong! Secara rutin nih, kami juga adakan pertemuan-pertemuan antarpegiat, mitra, dan kolega dari berbagai organisasi. Kita sebutnya forum Vet Capacity Building. Di dalam forum itu kita sebenernya lebih banyak berbagi berbagai hal dan bertukar pengalaman seputar isu-isu terkini terkait dengan beberapa kasus, khususnya aspek medis yang menjadi tantangan para kolega. Karena kita tau, nggak semua dari kita bisa ngebuat hal itu. Makanya, kami punya komitmen memfasilitasi itu untuk kemajuan kapasitas kemampuan bersama di semua kalangan!

Selain bisa refreshing keilmuan, dari kegiatan-kegiatan itu kita jadi nambah networking atau jejaring yang luar biasa luas. Dari yang perlu rekomendasi ahli, ide, hingga penanganan dalam tantangannya.

 

Mantap! Jadi pengen ikutan riset nih!

Gas! Ditunggu aja kabar dari kami selanjutnya ya…

Belajar Adaptasi dengan Enrichment

Wah, adaptasi jadi kaya nih?

Hahaha…bukan.

Enrichment yang ini nggak ada hubungannya dengan menjadi kaya raya, friend. Melainkan proses di mana kami memberikan ‘wahana’ khusus agar para satwa ini bisa beradaptasi dan bebas berekspresi seperti di habitat aslinya. Singkatnya, enrichment ini merupakan satu cara untuk menstimulasikan kembali perilaku dan naluri alamiah si satwa yang lagi menjalani pemulihan di pusat rehabilitasi. Jadi di masa itu mereka diberi pembekalan sebelum dilepasliarkan kembali ke alam.

 

Emang kenapa perlu enrichment?

Pertama, jangan dibayangkan pembekalan yang dimaksud itu seperti hewan-hewan pertunjukan yang dilatih ya. Nggak gitu konsepnya. Kedua, kan kita tau nih nasib satwa yang direhabilitasi itu gimana… pastinya mereka memerlukan serangkaian proses pemulihan kondisi kesehatan dan perilakunya juga.

Ketiga, cerita jelasnya gini.

Di alam, satwa liar liar sejatinya udah dapat kebebasannya dari semesta. Bayangin aja, mereka di sana udah bebas ngelakuin apapun. Mulai dari mengekspresikan perilaku, mencari makan, bergaul, traveling ke sana ke mari, dan tentunya bebas dari perasaan stres, tekanan maupun gundah gulana.

Namun, saat mereka diburu, ditangkap, bahkan dipelihara di rumah maka semua kebebasan itu akhirnya terenggut. Jika sudah begitu, mereka memerlukan penanganan khusus (dalam hal ini upaya rehabilitasi) untuk mendapatkan perawatan serta pemulihan.

Kami ngasih pola asuhan dan perawatan yang menyeluruh ke semua satwa yang lagi dipulihin di tempat kami. Setiap hari mulai dari pemenuhan nutrisi, kesehatan, hingga aspek lainnya selama menjalani pemulihan bisa terpenuhi. Nah dari serangkaian panjangnya proses pemulihan A sampe Z itu, ada yang namanya pengayaan atau enrichment itu, friend.

 

 

Cara buatnya gimana?

Para perawat satwa kami setiap hari nyiapin berbagai macam bentuk pengayaan dan tiap-tiap jenis pengayaan itu punya tujuan masing-masing. Misal ada yang jenisnya buat merangsang mereka untuk lebih aktif, terus ada juga yang sifatnya meningkatkan insting alaminya. Perihal bikin pengayaan itu gimana, nggak sembarangan dan fa fi fu was wis wus lho. Soalnya bikinnya juga mempertimbangkan nilai-nilai ilmiah dari sejumlah penelitian.

Fyi nih, kami nggak sekadar kasih pengayaannya aja tapi juga ngamatin gimana respon mereka terhadap wahana itu. Beratus-ratus bahkan beribu-ribu ribu jam kami catat perilaku mereka, terus dihitung-hitung dengan pendekatan riset, dan hasilnya jadi salah satu penentu apakah mereka udah layak kembali ke habitatnya atau belum.

Dengan adanya fasilitas pengayaan itu, mereka dapat menyalurkan perilaku alami sebenernya. Jadi meski di dalam sanctuary nih, para satwa ini nggak diem-diem dan bengong meratapi nasibnya. Mereka bisa aktif sekaligus mengekspresikan perilakunya dengan bebas. Aslik, itu ngebantu banget buat stimulasi kemampuan perilaku mereka selama perawatan. Apalagi buat satwa yang punya kemungkinan kecil untuk bisa balik ke habitatnya 🙁

 

 

Kenapa pengayaan penting sih?

Kita harus tau bahwa tujuan akhir dari upaya rehabilitasi adalah mempersiapkan mereka untuk pulang ke habitatnya. Bukan sebaliknya seperti memperbanyak jumlah mereka selama direhabilitasi. Itu namanya penangkaran.

Terus yang perlu kalian tau, upaya pemberiaan pengayaan ini juga jadi salah satu bentuk komitmen kami memenuhi aspek kesejahteraan mereka yang udah terenggut, friend. Dan ini udah jadi prioritas kami sejak awal. Bahkan nih, nggak hanya berdasarkan prinsip-prinsip kesejahteraan, lebih dari itu kami juga udah memastikan sejauh mana aspek-aspek pendukung kesejahteraan seperti ‘bagaimana kondisi kesehatan mereka?’, ‘apakah diet dan pakan mereka bergizi?’, hingga ‘sebebas apa mereka dapat mengekspresikan perilakunya selama direhabilitasi?’ itu bisa terpenuhi. Di luar itu sebenarnya masih banyak aspek lainnya. Gils, kan! Yap pada akhirnya kerja keras ini dilakukan semata untuk memberikan kesempatan hidup kedua yang sempurna bagi mereka di habitatnya.