Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Susi dan Sisa Luka yang Tak Pernah Sirna

Embun pagi masih menggelayut di kanopi Hutan Lindung Gunung Tarak, Kalimantan Barat. Suara rangkong dan owa bersahutan, memecah keheningan hutan yang baru terbangun. Di antara rimbunnya pepohonan, orangutan betina bernama Susi terbangun di sarangnya, menjalani kehidupan liar yang perlahan ia bangun kembali, dengan jejak masa lalu yang belum sepenuhnya lepas darinya.

Bertahun-tahun lalu, Susi bukanlah penghuni hutan. Ia hidup terkurung di sebuah rumah di Pontianak, dipelihara secara ilegal. Saat tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI menyelamatkannya pada 2011, kondisi Susi sangat memprihatinkan. Sebuah rantai melilit lehernya terlalu kencang, menyebabkan luka terbuka yang terinfeksi, bernanah, dan berbau busuk. Ketika memeriksanya tim medis menemukan karet yang telah tertanam di jaringan kulit lehernya.

Perlu lima tahun rehabilitasi sebelum Susi dinyatakan siap kembali ke alam. Pada 2016, BKSDA Kalbar, Dinas Kehutanan Kalbar dan YIARI melepasliarkan Susi di Hutan Lindung Gunung Tarak. Di sanalah babak baru hidupnya dimulai dengan satu catatan penting, Susi tidak benar-benar dilepas sendirian.

Ketika menemukan luka pada tubuh Susi saat penyelamatan pada tahun 2011, tim medis segera melakukan upaya penyembuhan luka Susi (YIARI)

Sejak hari pertama, tim monitoring YIARI mengikuti setiap langkahnya. Pemantauan dilakukan dari pagi hingga sore hari, sejak Susi turun dari sarang hingga kembali membangun sarang untuk beristirahat. Aktivitasnya dicatat dengan detail, ke mana ia bergerak, apa yang dimakannya, bagaimana perilakunya, hingga kondisi fisiknya. Data lokasi direkam menggunakan GPS, membentuk peta jelajah kehidupan Susi di alam liar.

Upaya monitoring pasca-pelepasliaran bukanlah pekerjaan sederhana. Pemantauan orangutan di alam membutuhkan sumber daya yang besar. Mulai dari waktu yang panjang, tim yang terlatih, hingga biaya operasional yang tidak sedikit. Tim harus bekerja berhari-hari di medan hutan yang sulit, mengikuti pergerakan orangutan dari pagi hingga sore, mencatat data perilaku secara detail, serta memastikan keselamatan tim dan satwa. Proses ini dilakukan secara berkelanjutan, bahkan bertahun-tahun setelah pelepasliaran, karena dampak pemeliharaan ilegal tidak selalu muncul dalam waktu singkat. Namun bagi upaya konservasi, investasi besar ini menjadi krusial untuk memastikan bahwa orangutan yang telah dikembalikan ke alam benar-benar memiliki hidup yang layak dan sejahtera.

Kabar gembira kembali datang dari Susi pada akhir Maret 2020. Di tengah situasi pandemi Covid-19, Susi melahirkan satu bayi orangutan betina dengan selamat. Bayi itu diberi nama Sinar. Bagi tim, kelahiran Sinar menjadi salah indikator penting bahwa Susi mampu beradaptasi dan berkembang biak di alam.

Namun monitoring tidak hanya soal menunggu dan merayakan keberhasilan. Fungsinya justru paling terasa ketika masalah muncul. Pada Desember 2025, tim monitoring menemukan luka di bagian dada Susi. Luka itu tidak tampak sebagai cedera baru akibat interaksi dengan lingkungan. Dugaan awal mengarah pada dampak lanjutan dari cedera lama di area leher sebagai warisan dari masa ketika Susi dirantai dan dipelihara secara ilegal bertahun-tahun silam.

Penanganan luka pada bagian dada susi pada bulan Desember 2025 (Muffidz Ma’sum | YIARI)

“Kami bisa mengenali perubahan sekecil apapun karena kami mengikuti aktivitas hariannya secara konsisten,” ujar Deni, Koordinator Tim Survey Monitoring YIARI. “Pada kasus Susi, luka di dada teridentifikasi karena kami memantau pergerakan, perilaku, hingga kondisi fisiknya setiap hari.” Menurutnya, tanpa pemantauan jangka panjang, kondisi seperti ini berisiko luput dari perhatian hingga menjadi lebih serius. Luka lama yang tampak telah sembuh bisa memunculkan dampak lanjutan bertahun-tahun kemudian.

Berdasarkan evaluasi bersama tim medis YIARI dan BKSDA, diputuskan untuk mengevakuasi Susi sementara ke pusat rehabilitasi YIARI. Selama kurang lebih satu bulan, ia menjalani perawatan intensif. Setelah kondisinya dinyatakan pulih, Susi kembali ke habitatnya di Gunung Tarak,

Direktur Utama YIARI, Karmele L. Sanchez, menegaskan bahwa monitoring pasca-pelepasliaran merupakan bagian tak terpisahkan dari konservasi orangutan. “Pemantauan rutin memungkinkan deteksi dini terhadap risiko kesehatan dan keselamatan individu yang telah kembali ke alam,” ujarnya. “Monitoring memastikan orangutan hasil rehabilitasi benar-benar mampu bertahan hidup dan beradaptasi”

Kisah Susi, menurut Karmele, memperlihatkan satu hal yang kerap luput dari perhatian publik. Luka akibat pemeliharaan ilegal tidak selalu langsung hilang ketika orangutan dilepasliarkan. Dampaknya bisa muncul bertahun-tahun kemudian, diam-diam, di tengah hutan yang tampak aman. “Ini menjadi alarm bahwa perdagangan dan pemeliharaan satwa liar secara ilegal meninggalkan luka panjang, baik fisik maupun psikologis,” tambahnya. “Monitoring pasca-pelepasliaran adalah kunci untuk memastikan setiap individu benar-benar aman dan sejahtera.”

Pasca operasi, Susi sudah kembali dilepasliarkan kembali di Hutan Lindung Gunung Tarak (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Di kanopi Gunung Tarak, Susi kembali menjalani hidupnya. Sekilas, ia tampak telah sepenuhnya kembali menjadi bagian dari hutan. Namun luka di tubuhnya mengingatkan bahwa tidak semua dampak pemeliharaan ilegal berhenti ketika rantai dilepas dan kandang dibuka.Pemeliharaan meninggalkan konsekuensi jangka panjang yang tak selalu terlihat. Cedera fisik, gangguan kesehatan, hingga trauma dapat muncul kembali bertahun-tahun setelah orangutan dilepasliarkan, bahkan ketika mereka telah berhasil beradaptasi di alam. Luka akibat eksploitasi satwa liar bisa jauh lebih panjang daripada yang kerap dibayangkan.

Bagi YIARI dan para mitra, kisah Susi adalah catatan bahwa konservasi bukan sekadar mengembalikan orangutan ke hutan, tapi juga memastikan mereka benar-benar pulih dan terlindungi. Lebih dari itu, kisah ini menjadi seruan agar pemeliharaan dan perdagangan satwa liar harus dihentikan sejak awal, sebelum luka-luka seperti yang dialami Susi terus berulang, tersembunyi di balik rimbunnya hutan.

Dari Kebun Warga ke Rimba: Perjalanan Orangutan Menuju Rumah Barunya

Beberapa waktu lalu, warga di Dusun Sumber Priangan, Kalimantan Barat, dikejutkan oleh kemunculan seekor orangutan di pekarangan rumah mereka.

Awalnya dikira hanya monyet biasa, tapi setelah dilihat lebih dekat, ternyata satwa dilindungi yang makin jarang terlihat. Kejadian ini bukan pertama kalinya—orangutan masuk ke area kebun dan permukiman karena hutan tempat tinggalnya makin sempit.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, tim dari BKSDA Kalimantan Barat, KPH Ketapang Selatan, dan YIARI pun bergerak cepat. Tujuannya sederhana: membantu orangutan ini kembali ke habitat yang lebih aman, jauh dari aktivitas manusia.

Di artikel ini, kita akan menyelami perjalanan penyelamatan orangutan tersebut—dari laporan warga, proses evakuasi, sampai momen pelepasliaran di Hutan Lindung Gunung Tarak. Sebuah cerita nyata tentang bagaimana manusia dan alam bisa saling menjaga, selama ada kemauan untuk bekerja bersama. Yuk, simak!

Dari Pekarangan Warga ke Alam Liar: Awal Mula Kisah

Orangutan kalimantan jantan yang ditranslokasi dari kebun warga dari Dusun Sumber Priangan, Kalimantan Barat, dimasukkan ke kandang translokasi setelah dibius (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Kemunculan orangutan di sekitar pemukiman Dusun Sumber Priangan terjadi lebih dari sekali. Ia terlihat berjalan di antara pepohonan, mendekati rumah warga, dan memakan buah-buahan di kebun seperti jambu, kelapa, hingga nanas.

Reaksi warga pun beragam—ada yang panik, ada pula yang merasa kasihan. “Awalnya kami kira hanya monyet biasa,” ujar salah satu warga. “Tapi setelah dilihat lebih dekat, ternyata orangutan. Kami takut, tapi juga kasihan. Mungkin dia tersesat atau habitatnya terganggu.”

Kejadian ini langsung menarik perhatian tim Orangutan Protection Unit (OPU) dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Setelah melakukan pemantauan, tim menemukan bahwa lokasi tersebut mengalami kerusakan habitat yang cukup parah akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan.

Fragmentasi lahan dan jaraknya yang dekat dengan jalan utama Ketapang–Pontianak juga membuat kehadiran orangutan menjadi sangat berisiko, baik bagi satwa maupun manusia.

Atas dasar itu, setelah koordinasi dengan BKSDA Kalimantan Barat dan KPH Ketapang Selatan, translokasi dianggap sebagai solusi terbaik. Bukan hanya untuk menyelamatkan orangutan, tapi juga untuk mencegah potensi konflik yang bisa membahayakan warga sekitar.

Proses Penyelamatan yang Penuh Perhitungan

Dokter hewan YIARI melakukan pemeriksaan awal setelah orangutan kalimantan dibius (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Tim gabungan dari YIARI, BKSDA Kalimantan Barat, dan KPH Ketapang Selatan bergerak sejak dini hari. Sekitar pukul 04.30 WIB, mereka tiba di lokasi untuk memulai proses evakuasi. Karena orangutan merupakan satwa liar yang kuat dan bisa berbahaya jika merasa terancam, proses penanganannya harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Tim dokter hewan dari YIARI menggunakan senjata bius untuk menenangkan orangutan sebelum dilakukan pemeriksaan medis. Dosis obat dihitung secara cermat, disesuaikan dengan ukuran dan perkiraan berat badan orangutan. Penembakan bius ini juga tidak bisa dilakukan sembarangan—hanya dilakukan oleh petugas yang memiliki izin resmi dan pelatihan khusus.

Setelah orangutan terbius dan jatuh di atas jaring pengaman, tim medis segera memeriksa kondisinya. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa orangutan ini memiliki berat sekitar 60–65 kilogram dan terdapat luka lama di punggung tangan kirinya.

Luka tersebut sudah membentuk jaringan ikat, meski masih mengeluarkan sedikit nanah dan darah. Selain itu, beberapa gigi terlihat rusak atau hilang, kemungkinan karena faktor usia. Meski begitu, secara keseluruhan, kondisi orangutan cukup stabil dan memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali ke alam.

Perjalanan Menuju Rumah Baru: Hutan Lindung Gunung Tarak

Setelah memastikan kondisi fisiknya memungkinkan untuk dilepasliarkan, tim segera membawa orangutan menuju lokasi translokasi: kawasan Hutan Lindung Gunung Tarak. Perjalanan darat ini memakan waktu sekitar tujuh jam, dan melibatkan bantuan masyarakat setempat, terutama saat membawa orangutan masuk lebih dalam ke dalam hutan.

Pemilihan lokasi tidak dilakukan sembarangan. Kawasan ini telah melalui survei kelayakan dan dinyatakan cocok sebagai habitat baru. Selain letaknya yang relatif jauh dari permukiman, hutan ini juga masih memiliki tutupan vegetasi yang baik serta sumber pakan alami yang cukup untuk mendukung kehidupan orangutan di alam liar.

Kandang transportasi dibawa menembus hutan untuk persiapan pemindahan orangutan kalimantan ini (Heribertus Suciadi | YIARI)

Sesampainya di lokasi, kandang dibuka perlahan. Orangutan itu sempat menoleh sejenak sebelum melangkah cepat ke dalam hutan, menjauh dari manusia. Ia memanjat pohon, bergerak lincah, dan menunjukkan perilaku alami yang menjadi tanda kesiapan untuk hidup bebas kembali. Momen ini menjadi titik akhir dari proses penyelamatan, sekaligus awal dari babak baru kehidupannya di rumah yang lebih aman.

Gunung Tarak: Surga Baru bagi Sang Penjelajah Hutan

Kandang transportasi dibawa menembus hutan untuk persiapan pemindahan orangutan kalimantan ini (Heribertus Suciadi | YIARI)

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menjaga kelangsungan hidup satwa liar. “Kami mengapresiasi keterlibatan aktif masyarakat yang membantu proses pelepasan hingga ke dalam kawasan hutan. Ini adalah langkah kecil yang membawa dampak besar bagi pelestarian hutan dan masa depan keanekaragaman hayati Indonesia,” ujarnya.

Kepala KPH Ketapang Selatan, Kuswadi, SP., juga menyampaikan terima kasih atas partisipasi semua pihak, khususnya masyarakat Dusun Sumber Priangan. Ia mengajak masyarakat di sekitar kawasan lindung untuk terus menjaga hutan sebagai sumber air, oksigen, dan rumah bagi satwa-satwa langka.

Senada dengan itu, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, S.Hut., M.Si., menekankan bahwa translokasi ini merupakan bagian dari komitmen untuk merespons cepat potensi konflik manusia dan satwa. “Kami mengajak semua pihak untuk terus menjaga habitat alami agar tidak ada lagi satwa yang kehilangan tempat hidupnya,” tegasnya.

Mengapa Kisah Ini Penting untuk Kita Semua?

Kisah orangutan yang tersesat di perkebunan lalu dikembalikan ke hutan ini bukan sekadar cerita penyelamatan satwa. Ini adalah cermin dari masalah yang lebih besar: semakin menyempitnya habitat alami akibat aktivitas manusia. Ketika hutan dikonversi menjadi lahan perkebunan atau pemukiman, satwa liar kehilangan ruang untuk hidup—dan konflik pun menjadi tak terhindarkan.

Namun di balik tantangan itu, kisah ini juga menunjukkan bahwa solusi tetap ada. Selama ada kemauan untuk berkolaborasi, konflik bisa diubah menjadi peluang untuk belajar dan bertindak. Masyarakat yang peduli, pemerintah yang responsif, dan lembaga konservasi yang tangguh adalah kombinasi penting dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Perjalanan orangutan kembali ke Hutan Lindung Gunung Tarak adalah harapan. Harapan bahwa masih ada ruang bagi kehidupan liar untuk pulih. Dan bahwa kita semua punya peran dalam memastikan hutan tetap lestari—bukan hanya untuk orangutan, tapi juga untuk masa depan kita bersama.

Pulih dari Luka, Marisa Dipulangkan ke TANAGUPA

SIARAN PERS

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melakukan pelepasan satu individu orangutan (Pongo pygmaeus) di Bukit Daun Sandar, RPTN II Sempurna, Taman Nasional Gunung Palung, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang pada Kamis (14/11).

Orangutan berjenis kelamin betina berusia 6 tahun ini sebelumnya diselamatkan dari kasus konflik manusia – orangutan oleh tim gabungan Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalimantan Barat, Balai TANAGUPA dan YIARI di salah satu kebun milik warga di Desa Riam Berasap, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara pada 10 Juli 2024. Marisa diselamatkan setelah induknya ditemukan mati di kebun warga. Berdasarkan hasil nekropsi oleh tim medis YIARI, kematian induknya diduga disebabkan oleh infeksi akibat luka yang cukup dalam di punggungnya. Sementara itu, Marisa juga ditemukan dengan luka parah di kaki kanannya. Luka ini diduga disebabkan oleh senjata tajam.

Melihat kondisi Marisa yang terluka, BKSDA Kalbar memutuskan untuk menitiprawatkan anak orangutan ini ke Pusat Penyelamatan Orangutan YIARI di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang untuk dilakukan pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Setelah empat bulan menjalani perawatan intensif di bawah pengawasan tim medis dan perawat satwa di pusat rehabilitasi orangutan YIARI, Marisa dinyatakan pulih dan siap untuk dikembalikan ke habitat aslinya yang lebih aman.

Pemeriksaan Marisa sebelum dilepasliarkan (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Koordinator tim medis YIARI, Fina Fadiah, menegaskan luka Marisa sudah sembuh dan dia bisa segera dikembalikan ke habitatnya. “Saat ini luka di Marisa sudah sembuh dan setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, kami yakin sudah saatnya Marisa dipulangkan ke habitatnya. Ketika diselamatkan, luka di kakinya cukup parah. Ada fraktur terbuka yang sudah terinfeksi dan bernanah. Luka pada bagian kaki kanannya juga cukup dalam sampai menembus ke otot dan tulang. Untungnya, berkat kerja keras semua tim, saat ini lukanya sudah pulih dan Marisa siap dipulangkan ke TANAGUPA,” terangnya. Dia juga menjelaskan pemulihan ini tidak hanya fokus pada fisik, tetapi juga dengan psikisnya. “Kami merawat Marisa dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip kesejahteraan satwa. Kami berupaya mengurangi stresnya dengan meminimalkan kontak langsung dengan Marisa,” tambah Fina.

Untuk mencegah konflik serupa terjadi lagi, orangutan ini dilepaskan di kawasan yang jauh dari pemukiman dan kebun masyarakat. TANAGUPA dipilih menjadi tempat pelepasan karena berdasarkan titik lokasi penyelamatannya, Marisa diperkirakan berasal dari wilayah sekitar perbatasan TANAGUPA. Selain itu, Resort Daung Sandar juga dinilai cukup bagus, karena berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Balai TANAGUPA dan YIARI, jumlah dan jenis pakan masih cukup tinggi. Status kawasan sebagai Taman Nasional juga lebih menjamin keselamatan Marisa di masa depan. Lokasi ini dikelilingi sungai yang bisa menjadi barier alami untuk mencegah orangutan kembali ke kebun masyarakat.

Setelah menempuh perjalanan selama 6 jam dari pusat rehabilitasi orangutan YIARI, tim berhasil sampai di titik pelepasan. Marisa pun dilepaskan di dalam kawasan TANAGUPA. Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari dukungan masyarakat yang turut serta membantu membawa orangutan ke dalam kawasan taman nasional.

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran (Muffidz Ma’sum | YIARI)

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi yang terjalin antara pemerintah, Non-profit Organization (NGO), dan masyarakat dalam upaya pelestarian orangutan dan habitatnya. Silverius menekankan pentingnya peran bersama dalam menjaga keberlanjutan ini. “Kami mengundang seluruh pemangku kepentingan, khususnya masyarakat, untuk menjadi garda terdepan dalam upaya konservasi satwa liar, terutama orangutan dan habitatnya. Penemuan orangutan di area kebun warga ini menjadi pengingat pentingnya memperkuat kerjasama, terutama dengan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan habitat orangutan. Jika masyarakat yang tinggal di perbatasan habitat orangutan dapat hidup harmonis berdampingan, orangutan dapat terjaga keberlanjutannya dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.”

“Hal ini selaras dengan visi YIARI untuk menciptakan dunia di mana manusia dan satwa hidup berdampingan dalam ekosistem yang sehat. Ini juga mendukung arahan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, dalam sambutannya di upacara serah terima jabatan menteri Kehutanan yang menekankan agar kita semua memiliki spirit bagaimana menjaga keseimbangan hidup dengan alam,” tutupnya.

Kepala Balai TANAGUPA, Himawan Sasongko mengatakan “Pelepasliaran anak orangutan ini adalah bentuk harapan baru setelah kehilangan induknya akibat konflik dengan manusia. Kami berkomitmen untuk memastikan ia dapat hidup mandiri di habitat alaminya. Dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menggantikan peran induk orangutan dengan menjamin pulihnya kesehatan fisik dan psikis serta perilaku di pusat rehabilitasi dan kemudian memberikan tempat hidup yang bisa menjamin kelangsungan hidupnya, tapi yang perlu diingat adalah seberapapun hebat dan majunya pengetahuan kita, kita tidak akan pernah, sekali lagi tidak akan pernah bisa menggantikan kasih sayang induknya di alam. Melalui upaya pelepasliaran ini, kami berharap anak orangutan dapat menemukan kembali kehidupan baru di habitat alaminya serta menjadi simbol pentingnya harmoni antara manusia dan satwa liar.”

Tentang YIARI

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan lembaga nirlaba yang  bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan,  pelepasliaran, dan pemantauan pasca lepas liar. YIARI  juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara  habitat, satwa, dan manusia.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

YIARI: +62 821-5346-2720  (Heribertus Suciadi, Manager Media dan Komunikasi YIARI)

Yuk Kenali Primata Indonesia dengan Status Kritis di Alam!

Kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Oleh sebab itu Sobat #KonservasYIARI harus kenal dengan primata di Indonesia yang memiliki status Critically Endangered (CR) atau kritis di alam.

Primata yang memiliki status konservasi kritis di alam menandakan bahwa primata tersebut menghadapi risiko kepunahan di waktu dekat 😭

Beberapa jenis primata di Indonesia yang saat ini memiliki status kritis menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List, yaitu kukang, tarsius, makaka, surili, simakobu, dan orangutan. 

Oleh sebab itu, cara paling awal yang harus kamu lakukan untuk turut serta dalam upaya pelestarian adalah mengenali jenis primata dengan status kritis tersebut.  

Yuk kita kenali jenis primata di Indonesia dengan status konservasi kritis di alam. Primata tersebut dikelompokkan ke dalam 6 kelompok atau genus ya Sob! 

1. Genus Nycticebus (Kukang)

Nycticebus bancanus (Denny Setiawan | YIARI)
Nycticebus javanicus (Denny Setiawan | YIARI)

Genus yang pertama adalah Nycticebus atau kukang. Kukang ya Sobat bukan Kungkang!  Kukang merupakan primata nokturnal yang secara morfologi termasuk primata kecil.

Banyak orang yang menyebutnya primata yang lucu sehingga memeliharanya, padahal ya Sobat kukang memiliki bisa di lengannya. Kukang menyalurkan bisa tersebut melalui gigitan. Gigitan kukang menyebabkan demam hingga pembengkakkan lho! 🤢

Menurut penelitian Ruskhanidar et al. (2017), terdapat 6 jenis kukang yang ada di Indonesia. Banyak sekali ya Sobat! 

Dari keenam jenis tersebut, dua diantaranya memiliki status CR atau kritis di alam. Siapa saja ya Sobat? Yaitu Nycticebus bancanus dan Nycticebus javanicus.

Nycticebus bancanus dikenal dengan kukang bangka karena habitatnya endemik di Kepulauan Bangka Belitung. Jenis kukang ini memiliki garis antar mata yang lebar dan warna punggung merah kecokelatan menyala yang khas. 

Selanjutnya Nycticebus javanicus yang dikenal dengan kukang jawa. Kukang jawa memiliki habitat di hutan-hutan Pulau Jawa. Kukang jawa ditemukan di hutan hujan dataran rendah hingga pegunungan dan perkebunan mulai dari Banten, provinsi paling barat, hingga Jawa Tengah. Kukang jawa memiliki warna rambut kelabu keputih-putihan. Pada punggung terdapat garis cokelat melintang dari bagian belakang tubuh hingga dahi. Rambut sekitar telinga berwarna cokelat serta di sekitar mata juga berwarna cokelat membentuk bulatan sehingga menyerupai kacamata.

Sobat, jumlah kukang bangka dan kukang jawa di alam mengalami penurunan. Hal ini disebabkan mereka kehilangan habitatnya, yaitu hutan. Selain habitatnya yang hilang mereka dijadikan hewan peliharaan dan perdagangan satwa. 

 

2. Genus Tarsius (Tarsius)

Mungkin Sobat jarang ya mengetahui primata yang satu ini? Tarsius merupakan primata kecil yang memiliki mata besar dan bulat. Sama halnya dengan kukang, tarsius aktif di malam hari (nokturnal). 

Tarsius tumpara (James Eaton | some rights reserved  (CC-BY-NC) | iNaturalist)

Tarsius memiliki kepala yang unik karena mampu berputar hingga 180 derajat ke kanan dan ke kiri. Seperti burung hantu ya Sob! 😅. Makanan utama tarsius adalah serangga seperti kecoa dan jangrik namun juga memakan reptil kecil. 

Di Indonesia terdapat 9 jenis tarsius, satu diantaranya memiliki status CR atau kritis di alam. Jenis tersebut adalah Tarsius tumpara.

Tarsius tumpara atau tarsius siau merupakan primata endemik Pulau Siau, Sulawesi Utara. Bukan hanya di Indonesia saja Sobat, primata ini masuk ke dalam 25 primata paling terancam punah di dunia 😭

Sama dengan jenis tarsius lainnya, tarsius siau memiliki warna tubuh abu-abu gelap dengan ekor yang panjang tidak berambut, kecuali pada bagian ujungnya. 

Mengingat wilayah habitat yang terbatas, ancaman utama tarsius siau adalah erupsi gunung berapi, Gunung Karangetang. Selain itu hilangnya habitat tarsius siau karena alih fungsi lahan menjadi pemukiman. 

 

3. Genus Macaca (Makaka)

Makaka adalah jenis monyet dengan ciri-ciri memiliki badan yang tegap, bagian bawah tubuh yang berwarna merah dan memiliki ekor panjang. Makaka cukup populer dan mudah dijumpai terutama di daerah kepulauan dengan iklim tropis. Kalau Sobat bisa sepopuler makaka tidak? 😎

Macaca nigra (msilver2 | all rights reserved  | iNaturalist)
Macaca nigra  (Michele Lin | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
Macaca pagensis di Taman Safari, Jawa Barat (Sakurai Midori | (CC BY 3.0 DEED) | Wikimedia)

Terdapat 10 jenis makaka yang tersebar di Indonesia, namun dua diantaranya memiliki status kritis di alam 😭 Jenis tersebut adalah Macaca nigra dan Macaca pagensis.

Yaki merupakan nama lokal dari Macaca nigra yang tersebar di Sulawesi bagian utara dan beberapa pulau sekitarnya. Selain warnanya yang hitam, yaki memiliki ciri unik yaitu jambul di atas kepalanya. Ciri yang paling mencolok adalah terjadinya pembengkakkan pada bagian belakang betina (buttocks) dan berwarna kemerahan pada saat birahi. 

Dari Pulau Sulawesi kita ke Pulau Sumatra, Kepulauan Mentawai habitat dari primata endemik, Macaca pagensis. Primata ini memiliki nama lokal makaka mentawai atau bokkoi. Memiliki rambut berwarna cokelat gelap pada bagian belakang sedangkan pada bagian leher, bahu, dan bagian bawah berwarna cokelat pucat. Bagian pipi bokkoi berwarna lebih gelap daripada makaka lainnya. 

Yaki dan bokkoi menghadapi ancaman yaitu perburuan dan habitat yang hilang. Masih banyak masyarakat yang memburu yaki untuk dimakan. Habitat bokkoi terancam karena maraknya penebangan komersil untuk lahan perkebunan kelapa sawit. 

4. Genus Presbytis (Surili)

Genus Presbytis disebut juga dengan suliri namun banyak masyarakat Indonesia yang menyebut genus ini dengan nama lutung. Walaupun surili dan lutung berada dalam famili yang sama, namun lutung merupakan sebutan untuk genus Trachypithecus ya Sobat.

Presbytis percura  (IUCN Red List)
P. chrycomelas chrycomelas 
(Chien Lee | all rights reserved | iNaturalist)
P. chrycomelas cruciger 
(Burhanuddin Ihsan Alfani | all rights reserved | iNaturalist)

Di Indonesia jenis surili Presbytis potenziani, Presbytis percura, dan Presbytis chrysomelas memiliki status konservasi CR atau kritis. 

Oke, kita bahas satu-satu ya Sobat! 👍

Presbytis percura merupakan surili yang hanya ditemukan di Provinsi Riau, Indonesia. P. percura pada awalnya merupakan subspesies dari P. femoralis, namun analisis genetik mengungkapkannya sebagai spesies yang berbeda. 

P. percura umumnya berwarna hitam di bagian atas, dengan kepala abu-abu dan bagian bawah berwarna putih. Terdapat lingkaran mata yang tipis dan pucat. 

Presbytis potenziani dengan nama lokal joja merupakan surili endemik Kepulauan Mentawai. Joja berbagi wilayah habitat dengan Macaca pagensis (makaka mentawai atau bokkoi), Simias concolor (simakobu atau monyet ekor babi), dan Hylobates klossii (owa mentawai atau bilou).  

Joja memiliki ekor berwarna hitam, di bagian perut warnanya pucat hingga cokelat kemerahan, warna putih terdapat di bagian dagu, dahi dan pipi.

Presbytis chrysomelas merupakan primata endemik Kalimantan dengan 2 subspesies, yaitu P. chrycomelas chrycomelas yang seluruh warna tubuhnya hitam dan P. chrycomelas cruciger yang memiliki warna rambut pada tubuhnya dominan terdiri dari tiga warna yakni kuning, hitam dan putih.

Keberadaan surili terancam Sobat karena maraknya konversi hutan dengan perluasan perkebunan dalam beberapa tahun terakhir.

 

5. Genus Simias (Simakobu)

Simakobu yang memiliki nama ilmiah Simias concolor ini masuk ke dalam “The World’s 25 Most Endangered Primates” (25 Primata Paling Terancam Punah di Dunia) sama halnya dengan Tarsius tumpara ya Sobat 😣

Simakobu , Simias concolor (Sam Morton | CC-BY-NC-SA 02 DEED |  flickr)
Simias concolor (IUCN Red List)

Simakobu disebut juga dengan monyet ekor babi karena ekornya yang pendek dan sedikit berambut. Simakobu merupakan primata endemik Mentawai, Sumatra Barat. Tubuh simakobu berwarna hitam dengan hidung pesek dan terkesan menghadap ke atas. 

Terdapat dua subspecies Simias concolor, yaitu Simias concolor concolor dan Simias concolor siberut. Kedua subspesies ini memiliki wilayah habitat yang berbeda. Subspesies Simias concolor concolor mendiami Pulau Pagai Selatan, Pagai Utara, dan Sipora. Sedangkan subspesies Simias concolor siberut hanya dapat ditemui di Pulau Siberut. 

Populasi simakobu mengalami penurunan akibat perburuan liar dan rusaknya habitat. Hal ini sangat mengancam keberadaan simakobu yang merupakan satwa endemik Kepulauan Mentawai.

 

6. Genus Pongo (Orangutan)

Genus Pongo merupakan kelompok orangutan si kera besar satu-satunya yang berada di Indonesia. Namun, seluruh spesies pada genus ini kritis di alam Sobat! 😭

Kira-kira Sobat bisa melihat perbedaan dari ketiga jenis orangutan tidak? 🤔 Yuk kita simak perbedaan dari ketiga spesies orangutan ini!

(Rudiansyah | YIARI)
(andraescholz | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
(Farhan Adyn | some rights reserved (CC-BY-NC) | iNaturalist)
SpesiesOrangutan kalimantan (Pongo pygmaeus)Orangutan sumatera (Pongo abelii)Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis)
HabitatHutan KalimantanHutan SumatraHutan Sumatra
Ciri WarnaWarna rambut panjang dan kusut dengan warna merah gelap kecokelatan.Warna rambut cenderung lebih terang berwarna cokelat agak jingga. Warna rambut yang lebih tebal dan keriting dengan kumis dan jenggot yang menonjol.
Bantalan pipi jantanBantalan pipi melebar yang menyebabkan wajahnya terlihat bulat dan memiliki ukuran paling besar.Kantung pipi yang lebih panjang pada orangutan jantan. Bantalan pipinya cenderung datar dan ditumbuhi rambut halus berwarna pirang.

Keselamatan orangutan sangat terancam oleh kehilangan habitat hutan yang terus dibabat dalam skala besar untuk perkebunan yang masing-masing dapat mencakup ratusan kilometer persegi. 

Sekarang Sobat sudah kenal ya dengan primata di Indonesia yang memiliki status konservasi kritis di alam 👍

Semoga Sobat bisa turut serta membantu upaya pelestarian mereka ya, dengan membaca dan menyebarkan informasi ini sudah dapat membantu mereka, loh. Jadi jangan lupa bagikan informasi ini juga ya!

Dalam memperingati Hari Primata Indonesia tahun 2024 yang jatuh pada tanggal 30 Januari, semoga primata di Indonesia dapat terus lestari ya Sobat!

SELAMAT HARI PRIMATA INDONESIA! PRIMATA KITA LUAR BIASA!

Elif Ivana Hendastari

Referensi : 

  1. https://biodiversitywarriors.kehati.or.id/artikel/tarsius-siau-2/?lang=en  
  2. https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Makaka 
  3. https://primata.ipb.ac.id/macaca-nigra-2/ 
  4. https://primata.ipb.ac.id/macaca-pagensis/  
  5. https://biodiversitywarriors.kehati.or.id/artikel/simakobu-simias-concolor-primata-paling-terancam-di-dunia/?lang=en 
  6. https://indonesia.go.id/kategori/seni/859/indonesia-memiliki-tiga-spesies-orangutan#:~:text=Warna%20dan%20bulu%20orangutan%20sumatra,tebal%20daripada%20kerabatnya%20di%20Kalimantan
  7. https://museum.biologi.ugm.ac.id/2023/08/29/tiga-perbedaan-fisik-spesies-orang-utan/
  8. https://kukangku.id/kukang/jawa/  
  9. International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List
  10. Ruskhanidar, Maulana VS, Loe FR. Spesies dan Sebaran Satwa Primata di Indonesia. Jurnal Primatologi Indonesia. 14(1):3-8. 
  11. Feature image : Design by Elif Ivana Hendastari

 

Mengantar 6 Orangutan Pasca Rehabilitasi Kembali ke TNBBBR

Balai KSDA Kalimantan Barat bersama Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) dan didukung oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Ketapang kembali melakukan pelepasliaran 6 (enam) individu orangutan di TNBBBR wilayah kerja Resort Mentatai, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Nanga Pinoh, Pontianak, 26 Juni 2023.

Keenam individu orangutan yang dilepasliarkan ini merupakan orangutan yang dititipkan untuk dirawat di Balai KSDA Kalbar di Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI Ketapang dengan rentang waktu tahun 2012 hingga tahun 2020.

Pelepasliaran orangutan ini merupakan langkah penting dalam upaya pelestarian satwa liar dilindungi, serta pemulihan populasi orangutan di alam. Selain itu, kegiatan ini menjadi puncak dari penyelamatan orangutan yang dimulai dari proses rehabilitasi sampai pada tahap mengembalikan orangutan ke habitatnya di alam.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, RM Wiwied Widodo dalam keterangannya menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam upaya pelestarian orangutan yang merupakan salah satu satwa endemik Kalimantan.

“Upaya memulangkan orangutan ke habitat aslinya dengan kondisi kesehatan satwa yang baik, perilaku dan sifat keliarannya yang sudah kembali normal merupakan proses yang panjang dan tentunya tidak mudah. Sudah sepatutnya kita sebagai manusia untuk tidak memelihara dan memenjarakan orangutan dalam kandang hanya karena keegoisan semata. Biarkan mereka hidup bebas untuk menjaga keseimbangan di alam” jelasnya.

Tim pelepasliaran beserta para orangutan yang akan dilepasliarkan dalam perjalanan menuju lokasi pelepasliaran menggunakan speedboat (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Rangkaian kegiatan pelepasliaran dimulai sejak dari lokasi rehabilitasi YIARI Ketapang pada tanggal 22 Juni 2023, sampai tanggal 26 Juni 2023 saat dimana ke-enam individu orangutan dilepasliarkan di lokasi pelepasliaran. Ke-enam individu orangutan yang dilepasliarkan terdiri dari 1 (satu) individu jantan dan 5 (lima) individu betina.

Sebelum dilakukan pelepasliaran, semua individu orangutan tersebut telah selesai menjalani proses rehabilitasi, kajian medis, dan perilaku sehingga dapat dipastikan semuanya dalam kondisi sehat dan siap untuk dilepasliarkan.

Selaras dengan hal tersebut Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Andi Muhammad Kadhafi, dalam keterangannya menyampaikan jika Pelepasliaran 6 (enam) individu Orangutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya merupakan salah satu bentuk kolaborasi antara Balai KSDA Kalimantan Barat selaku management authority pengelolaan tumbuhan dan satwa liar dengan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR), serta didukung oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Orangutan bernama “Faini” sebagai induk asuh dan anak asuhnya, “Covita” saat dilepasliarkan (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

“Pelepasliaran kali ini merupakan yang kesekian kalinya sejak tahun 2016. Hingga saat ini telah berhasil dilepasliarkan sebanyak 69 (enam puluh sembilan) individu orangutan hasil rehabilitasi di kawasan ini. Melalui kegiatan ini tentunya diharapkan dapat meningkatkan sebaran populasi orangutan di habitat alaminya khususnya di TNBBBR,” ujarnya.

Ia pun menjelaskan jika salah satu capaian penting dari hasil pelepasliaran adalah termonitornya kelahiran 5 (lima) individu orangutan di kawasan ini. Hal ini mengindikasikan bahwa TNBBBR merupakan salah satu habitat yang sesuai untuk orangutan hingga mereka mampu beradaptasi bahkan bereproduksi. Selanjutnya ia pun mengapresiasi dukungan dari seluruh pihak terkait hingga kegiatan pelepasliaran ini berjalan lancar. Melalui dukungan para pemangku kepentingan pula kami akan berupaya terus menjaga kelestarian Orangutan Kalimantan yang saat ini berstatus Sangat Terancam Punah khususnya di dalam kawasan TNBBBR.

“Mari kita bersama menjaga kelestarian satwa liar dilindungi, kelestarian hutan berikut isinya demi anak cucu kita,” serunya.

“Budi”, satu-satunya orangutan jantan yang dilepasliarkan berumur ± 11 (sebelas) tahun, merupakan orangutan yang berasal dari hasil penyelamatan di daerah Kubing, Dusun Sawah Sempurna, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang. “Budi” telah menjalani proses rehabilitasi sejak bulan Desember 2014. Sedangkan lima individu orangutan betina yang dilepasliarkan adalah “Tulip”, “Bianca”, “Jamilah”, “Faini”,  dan “Covita”.

“Budi”, satu-satunya orangutan jantan yang dilepasliarkan (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

“Tulip” orangutan peliharaan warga di Jl. H. Agus Salim No. 7 Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang. Orangutan “Tulip” diperkirakan berumur ± 13 tahun dan telah menjalani proses rehabilitasi sejak 5 April 2012.

Orangutan “Bianca”, merupakan orangutan betina berumur ± 7 tahun berasal dari hasil penyelamatan Balai KSDA Kalimantan Barat di daerah Desa Randau Jungkal Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang pada tanggal 5 Oktober 2016. “Jamilah”, merupakan orangutan betina berumur ± 9 tahun berasal dari daerah Sandai Kabupaten Ketapang dan telah dititiprawatkan di Pusat Rehabilitasi YIARI Ketapang sejak 24 Februari 2016.

Orangutan betina ke-empat yang dilepasliarkan adalah orangutan “Faini”, orangutan betina berumur ± 10 tahun ini berasal dari daerah Desa Randau Jekak, Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang. Orangutan ini diselamatkan BKSDA Kalimantan Barat karena terjadi interaksi negatif antara manusia dengan orangutan pada tanggal 17 Desember 2015. Sedangkan orangutan “Covita” merupakan orangutan betina berumur ± 6 tahun hasil penyelamatan BKSDA Kalimantan Barat di Desa Krio Hulu, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang pada tanggal 29 Agustus 2020.

Sebelum rangkaian kegiatan pelepasliaran, BKSDA Kalimantan Barat telah mendapatkan persetujuan dari Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: S.374/KKHSG/PSG2/KSA.2/06/2023 perihal Rekomendasi Pelepasliaran Orangutan.

Dipilihnya TNBBBR SPTN Wil I Nanga Pinoh Resort Mentatai menjadi lokasi pelepasliaran karena kondisi kawasan dan hutannya sesuai dengan tipe habitat untuk orangutan, serta mempunyai kelimpahan pohon pakan untuk orangutan yang mencukupi. Walaupun aksesibilitas menuju lokasi pelepasliaran cukup berat, di sisi lain kondisi tersebut menguntungkan bagi keamanan ke-enam individu orangutan yang dilepasliarkan.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, RM Wiwied Widodo, dalam keterangan penutupnya menyampaikan, “Melalui pelaksanaan kegiatan pelepasliaran orangutan di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya ini, kita berharap orangutan yang sampai saat ini masih menyandang status konservasi Critically Endangered (CR) menurut data IUCN dapat meningkat populasinya serta terjaga kelestariannya di alam”.

YIARI sebagai mitra Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan pelepasliaran ini. “Kami sangat bersyukur, kegiatan pelepasliaran 6 individu orangutan ini dapat berjalan baik dan sesuai rencana, terutama di tengah kondisi cuaca yang memasuki musim kemarau dan perubahan iklim yang sangat memengaruhi, terutama dengan mulai datangnya fenomena El Nino di bulan Juni ini. Di sinilah, kemitraan multi pihak diperlukan untuk menjaga kawasan hutan, karena pekerjaan kita tidak hanya berhenti pada mengantarkan satwa liar kembali ke habitatnya, namun juga memastikan rumah mereka tetap aman dan lestari,” ujar Silverius Oscar Unggul, Ketua Umum YIARI.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Pulih Pasca Kena Jerat, Orangutan Siap Kembali ke Habitatnya

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat pada Sabtu (15 April 2023), melakukan pelepasliaran 1 (satu) individu orangutan kembali ke habitatnya. Orangutan betina dewasa yang diperkirakan berusia ± 30 tahun ini merupakan orangutan hasil penyelamatan oleh BKSDA Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama LPHD Pemangkat dan Yayasan IAR Indonesia akibat terkena jerat di kawasan hutan Dusun Penyekam Raya, Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara pada tanggal 24 Februari 2023 silam.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, RM Wiwied Widodo dalam keterangan tertulisnya menyampaikan bahwa timnya melihat orangutan dalam kondisi lemas dan kesulitan bergerak akibat luka jeratan pada pergelangan tangannya. Tim BKSDA Kalimantan Barat kemudian memutuskan untuk melakukan penyelamatan terhadap orangutan tersebut, dengan menitipkan sementara di tempat rehabilitasi Yayasan IAR Indonesia untuk dilakukan perwatan medis. 

“Setelah dilakukan perawatan intensif selama lebih kurang 2 bulan di tempat rehabilitasi, kondisi orangutan  menunjukkan perkembangan yang baik dari hari ke hari, luka pergelangan pulih dan tangan bisa digunakan secara normal, di hingga akhirnya siap untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya,” ungkap Wiwied.

Perjalanan tim melewati sungai menuju lokasi pelepasliaran (Heribertus Suciadi | Yayasan IAR Indonesia)

Pelepasliaran kali ini dilakukan oleh BKSDA Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama dengan KPH Wilayah Kayong, LPHD Padu Banjar dan didukung oleh Yayasan IAR Indonesia di Kawasan Hutan Desa Nipah Kuning, dimana kawasan ini merupakan kawasan hutan terdekat dengan lokasi awal diselamatkannya orangutan dimaksud.

Kawasan hutan Nipah Kuning dianggap sesuai dengan tipe habitat orangutan karena banyak dijumpai pohon pakan yang masih melimpah. Kawasan ini masih juga masih dijumpai orangutan liar yang menjadikan Hutan Nipah Kuning sebagai tempat hidupnya. Selain dilihat dari kesesuaian tipe habitat bagi orangutan, kawasan hutan Nipah Kuning juga dianggap aman dari berbagai macam gangguan karena lokasinya jauh dari aktivitas manusia.

Perjalanan menuju kawasan hutan Nipah Kuning tepatnya di lokasi pelepasliaran menggunakan 2 (dua) tipe tranportasi yaitu darat dan air. Perjalanan darat menggunakan kendaraan roda 4 (empat) ditempuh selama ± 4 (empat) jam, sampai di Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara. Desa ini merupakan desa terdekat dengan lokasi pelepasliaran. 

Perjalanan kemudian dilanjutkan menggunakan perahu selama ± 4 (empat) jam, hal ini karena akses menuju lokasi pelepasliaran harus melewati sungai. Walaupun membutuhkan waktu yang relatif lama untuk sampai lokasi pelepasliaran, selama diperjalanan tim terus mengawasi dan memantau kondisi orangutan untuk memastikan kondisi orangutan dalam kedaadan baik serta menghindari terjadinya stres.

Sampai di lokasi pelepasliaran, tim terlebih dahulu melakukan pengecekan kondisi orangutan sebelum dilakukannya pelepasliaran. Ini ditujukan untuk memastikan kondisi orangutan dalam keadaan baik, sehat dan layak untuk dilepasliarkan. 

Orangutan yang dilepasliarkan tersebut sedang mencoba beradaptasi di kawasan lokasi pelepasliaran yang akan menjadi rumah barunya (Heribertus Suciadi | Yayasan IAR Indonesia)

Setelah kondisi orangutan dipastikan siap untuk dilepasliarkan, tim langsung melakukan pelepasliaran orangutan tersebut ke habitat barunya. Sebelum meninggalkan lokasi pelepasliaran tim melakukan pemantauan terhadap orangutan untuk mengetahui kondisi pasca pelepasliaran. 

Dari hasil pemantauan tim BKSDA Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, diketahui bahwa oragutan mampu beradaptasi dengan habitat barunya. Kondisi ini ditunjukkan dari perilaku orangutan yang langsung beraktifitas makan daun dari pohon yang ada di kawasan Hutan Nipah Kuning.

“Dengan dilakukan pelepasliaran orangutan ini kita dapat belajar bahwa sudah saatnya kita harus mulai hidup berdampingan dengan makhluk hidup khususnya satwa liar. Karena bagaimanapun, satwa liar juga memerlukan rumah sebagai tempat tinggal yang aman tanpa adanya gangguan,” terang Wiwied.(*)

Tim gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama LPHD Pemangkat, dan Yayasan IAR Indonesia saat melakukan pelepasliaran orangutan di Kawasan Hutan Desa Nipah Kuning,15 April 2023 lalu (Heribertus Suciadi | Yayasan IAR Indonesia)

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Kabar Bahagia, Orangutan “Laksmi” Kembali Melahirkan di TN Bukit Baka Bukit Raya

Kabar gembira kembali kita terima dalam konservasi orangutan di Kalimantan Barat. Orangutan betina hasil rehabilitasi bernama “LAKSMI” kembali melahirkan 1 (satu) individu bayi orangutan dengan selamat di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) pada awal tahun 2023, tepatnya di lokasi pelepasliaran di Teluk Ribas Resort Mentatai, SPTN Wilayah I Nanga Pinoh, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Perkembangan kondisi Orangutan yang menggembirakan ini merupakan salah satu parameter terselenggaranya dengan baik Program Konservasi Orangutan yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Cq. Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik, melalui kegiatan reintroduksi orangutan ke habitat alaminya yang dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) didukung oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Ketapang.

Informasi kelahiran bayi orangutan dari indukan “LAKSMI” diperoleh dari saudara Gregorius (Kepala Camp Monitoring Orangutan Teluk Ribas) bersama tim monitoring. Hingga saat ini kondisi bayi terus dilakukan pemantauan dan sedang diupayakan mendekati sang induk dalam rangka memastikan kesehatan sang induk pasca melahirkan dan jenis kelamin bayi orangutan. Beberapa bulan belakangan,  “LAKSMI” memang terpantau dengan kondisi perut agak membesar dan diduga sedang hamil. Namun belum sempat mendapat pemeriksaan medis, “LAKSMI” sempat hilang dari pemantauan. Pada tanggal 25 Januari 2023, “LAKSMI” muncul dengan membawa anak dan terpantau oleh Tim Monitoring dalam keadaan sehat.

Kelahiran satu individu orangutan ini menambah daftar panjang kelahiran orangutan secara alami di dalam kawasan TNBBBR. Kelahiran bayi orangutan ini merupakan anak ke-2 dari “LAKSMI” yang dilahirkan di alam. Sebelumnya “LAKSMI” juga menyumbangkan generasi baru orangutan betina pada awal Oktober 2021 dan oleh Wakil Menteri LHK, Dr. Alue Dohong diberi nama “LUSIANA”.  Sebelumnya, pada awal November 2019 orangutan bernama “SHILA” yang dimonitoring setiap hari sejak pelepasan juga terpantau melahirkan bayi orangutan berjenis kelamin jantan yang kemudian diberi nama “SURYA” oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ibu Siti Nurbaya.  Kesuksesan ini berulang ketika pada Juni 2020, orangutan hasil rehabilitasi bernama “DESI” melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin betina, dan oleh Menteri LHK diberi nama “DARA”.

Laksmi terpantau sedang menggendong anak yang baru dilahirkannya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (Dok: Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya)

Kehadiran generasi-generasi baru orangutan ini menumbuhkan semangat dalam upaya konservasi serta keyakinan bahwa populasi orangutan khususnya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dan di seluruh kawasan habitat orangutan Provinsi Kalimantan Barat akan terus terjaga dan bertambah. Kelahiran mereka menjadi sangat penting dan bersejarah karena menjadi kebanggaan atas keberhasilan program rehabilitasi orangutan di Indonesia. Keberhasilan program penyelamatan, rehabilitasi, pelepasliaran dan monitoring orangutan ini tidak hanya berhasil membuat “LAKSMI” bahagia hidup bebas kembali dan berkembang biak di habitat alaminya, namun juga menjadi wujud kesuksesan Kementerian LHK bersama para pihak dalam menjaga kelestarian spesies orangutan di Indonesia pada umumnya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, RM. Wiwied Widodo, S.Hut., M.Sc. menyampaikan, “Apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah bekerja keras dan ikut berperan aktif dalam upaya perlindungan dan pelestarian orangutan. Keberhasilan ini menjadi wujud komitmen dan keseriusan Pemerintah dalam upaya Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia”.  RM. Wiwied Widodo menambahkan bahwa Kementerian LHK  cq. Direktorat Jenderal KSDAE akan terus mengembangkan kerjasama dengan berbagai pihak yang serius berkomitmen membantu upaya konservasi. Terimakasih atas kerja keras Bapak Kepala Balai TN. Bukit Baka Bukit Raya beserta jajaran dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia ( YIARI) atas komitmen membantu pemerintah dalam Konservasi Orangutan.

Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Andi Muhammad Kadhafi, S.Hut., M.Si. turut menyampaikan, “Kawasan TN Bukit Baka merupakan habitat yang sesuai dan cocok bagi orangutan. Hal ini dapat kita lihat dari individu-individu orangutan yang telah melewati proses rehabilitasi dan pelepasliaran, dapat menjadi individu yang kembali mempunyai kehidupan liar serta beradaptasi untuk bertahan hidup dan berkembang biak secara alami “.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Sumber: Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya

Kisah-kisah Orangutan di 2022: Dari Kesetrum Listrik Hingga Kelahiran

[et_pb_section admin_label=”section”] [et_pb_row admin_label=”row”] [et_pb_column type=”4_4″][et_pb_text admin_label=”Text”]

Halo Sobat YIARI, sebentar lagi kita sudah akan tiba di pengujung tahun 2022. Nah kita mau kasih lihat nih highlight kejadian-kejadian seru dalam program-program kami yang berkaitan dengan penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran orangutan yang kami jalankan setahun ini.

Cerita pertama tentang kesetrum listrik nih. Kalian tahu kan rasanya kesetrum pas gak sengaja pegang alat elektronik gitu? Pasti kaget dan shock kan ya? Nah itu juga yang dialami oleh orangutan bernama Belukar. Bedanya Belukar ini kasusnya cukup parah karena dia kesetrum dari tiang listrik yang biasa ada di tepi jalan, 16 Juli 2022. Kebayang kan sengatan listriknya segede apa. Selama kami melakukan penyelamatan orangutan  dari tahun 2009, ini adalah kasus pertama, dan semoga terakhir kali kami menemukan orangutan yang terkena sengatan listrik.

Akibat sengatan listrik ini, kondisi Belukar lumayan parah, Sob. Ketika tim gabungan Wildlife Rescue Unit BKSDA Kalbar dan YIARI datang, Belukar kesulitan bergerak dan banyak luka di sekujur tubuhnya. Di pusat rehabilitasi kami, Belukar menjalani perawatan intensif untuk luka bakar yang dialaminya. Selain luka bakar, lengan kiri dan jari-jari kanannya tidak dapat diluruskan. Untuk itulah tim medis YIARI tidak hanya fokus pada penyembuhan luka bakarnya, namun juga upaya terapi untuk mengembalikan kondisi tangannya. Setelah satu bulan, kami berhasil memulihkan kembali fungsi lengan dan jari-jemarinya, sehingga Belukar dapat memakainya kembali untuk makan, menggenggam, bergelantungan, dan melakukan fungsi-fungsi lain yang diperlukannya untuk hidup di alam liar. Karena kondisinya sudah sembuh total, saat ini Belukar sudah dipulangkan ke habitat aslinya di dalam kawasan Hutan Sentap Kancang. 

Belukar dilepasliarkan di Hutan Sentap Kancang setelah menempuh perjalanan sejauh puluhan kilometer dari pusat rehabilitasi kami di Ketapang (Rudiansyah | IAR Indonesia)

Selain Belukar, sepanjang tahun ini, kami melakukan dua penyelamatan orangutan.  Semuanya merupakan orangutan liar yang masuk ke dalam pemukiman warga, keduanya juga langsung dikembalikan ke hutan tempatnya berasal tanpa ada kendala. Keduanya bernama Kumbang dan Kandis yang ditranslokasikan pada 9 dan 17 Februari 2022. Minimnya konflik antara manusia dengan orangutan tidak lepas dari tim Orangutan Protection Unit (OPU) YIARI yang melakukan patroli, mitigasi dan sosialisasi di sekitar wilayah hotspot konflik. Berkat temen-temen OPU pula, kami bisa segera terima laporan kalau ada orangutan yang harus diselamatkan.

Nah yang kejadian baru terjadi di November ini adalah diselamatkannya bayi orangutan bernama Mawa yang belum berusia 1 tahun Sob. Bayangkan sekecil itu, dia sudah ditemukan sendirian di area pembukaan lahan sebuah perusahaan hutan tanaman industri di wilayah Sungai Bulan di Desa Durian Sebatang. Warga setempat yang menemukan dia, bilang bahwa Mawa ditemukan tanpa induknya di sela-sela timbunan ranting hasil tebangan logger. Kasihan banget kan? Kejadian ini jadi bikin kita shock juga Sob, karena sudah dua tahun terakhir, kami tidak pernah lho nerima laporan penyelamatan bayi orangutan. Untunglah Mawa kondisinya sekarang baik-baik aja, meski saat ditemukan dia dalam kondisi dehidrasi dan malnutrisi banget.

Tidak hanya melakukan penyelamatan dan translokasi orangutan liar, kami juga melepasliarkan lima orangutan hasil rehabilitasi di Bukit Baka Bukit Raya di Kabupaten Melawi pada 17 Juni 2022, sehingga secara total kami telah melepaskan 64 orangutan di dalam kawasan TNBBBR sejak 2016. Tahun ini kami juga kembali mendapatkan kabar gembira dengan kehadiran satu bayi orangutan jantan yang diberi nama Bumi yang dilahirkan secara alami oleh Muria, salah satu orangutan hasil rehabilitasi yang dilepasliarkan di sana. Bumi lahir bertepatan dengan Hari Bumi, 21 April 2022. Sejauh ini, program pelepasliaran kami di TNBBBR tahun 2016 sudah menghasilkan empat bayi orangutan yang lahir secara alami di sana.

Bumi lahir dengan selamat dari induk bernama Muria pada 21 April lalu di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Di pekerjaan rehabilitasi, tim animal management kami menerima kunjungan dari  Dr. Aurora Mateo Roman. Dia adalah dokter spesialis gigi atau dentistry untuk satwa. Saat ini di bekerja di klinik hewan di Madrid, Spanyol Dr. Aurora berada 10 hari di ketapang untuk memberikan peningkatan kapasitas untuk dokter hewan kami sekaligus melakukan dental prosedur untuk orangutan. Peningkatan kapasitas yang diberikan untuk dokter hewan kami meliputi basic dental, x-ray dental, dan peralatan dental. Dokter hewan kami juga mendapatkan materi mengenai pembiusan lokal dan total serta kardiologi dasar.

Bersama dokter Aurora, kami melakukan pemeriksaan gigi terhadap 11 individu orangutan. Pemeriksaan ini meliputi seluruh rongga mulut. Tidak hanya pemeriksaan gigi, gusi, lidah, bahkan hingga dinding mulut juga tidak luput dari pemeriksaan ini. Pemeriksaan ini penting untuk mengetahui kondisi kesehatan orangutan. Gigi yang bermasalah bisa memberikan banyak dampak negatif terhadap orangutan seperti kesulitan makan, tidak aktif, bahkan hingga demam dan sakit sistemik lain. Dari hasil pemeriksaan ini, caries dan gigi berlubang merupakan kasus yang paling banyak ditemui. Penambalan gigi dilakukan untuk lubang yang masih belum terlalu parah.Sedangkan untuk gigi yang sudah berlubang parah, tim kami melakukan prosedur pencabutan gigi.  Itulah kesibukan kami sepanjang tahun ini yang berkaitan dengan penyelamatan dan rehabilitasi orangutan, Sobat YIARI. Semoga tahun depan, satwa-satwa orangutan kita bisa makin sehat dan sejahtera dan kembali pulang ke habitatnya ya.

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

[/et_pb_text][/et_pb_column] [/et_pb_row] [/et_pb_section]

Ancaman Malaria Bagi Populasi Orangutan

Kita semua pastinya sudah tahu kan kalau orangutan itu kesamaan DNA-nya dengan manusia sampai 97 persen? Nah kesamaan ini jadi bikin orangutan banyak memiliki sifat-sifat seperti kita, Sobat IAR. Termasuk penyakit yang diderita manusia, bisa juga diderita oleh orangutan. Nah, ini yang sering luput dari perhatian masyarakat umum, bahkan di kalangan peneliti sekalipun. Karena itulah, Yayasan IAR Indonesia (YIARI) di sela-sela pekerjaan kami menyelamatkan dan merehabilitasi satwa, para dokter hewan kami juga menyempatkan diri melakukan penelitian yang diperlukan bagi komunitas ilmuwan untuk ke depannya bisa menggunakan hasil penelitian ini demi menyelamatkan satwa-satwa yang makin berkurang populasinya.

Di pengujung akhir tahun ini, kabar membanggakan datang dari tim animal management kami, yang baru saja merilis jurnal ilmiah mereka dengan judul “Plasmodium pitheci malaria in Bornean orang-utans at a rehabilitation centre in West Kalimantan, Indonesia.” Jurnal ini dipublikasikan di situs ilmiah Malaria Journal pada 3 Oktober 2022 dan bisa diakses di sini.

Penelitian dan penulisan jurnal ini dilakukan satu tim yang terdiri dari sebagian besar dokter hewan di Indonesia dan internasional. Mereka adalah Karmele Llano Sanchez, Alex D. Greenwood, Aileen Nielsen, R. Taufiq P. Nugraha, Wendi Prameswari, Andini Nurillah, Fitria Agustina, Indra Exploitasia, Gail Campbell-Smith, Anik Budhi Dharmayanthi, Rahadian Pratama, dan J. Kevin Baird.

Tim medis kami memeriksa kesehatan Kumbang, memastikannya bebas dari segala penyakit termasuk malaria (Rudiansyah | IAR Indonesia)

Nah, mungkin Sobat YIARI bertanya-tanya, kenapa sih kami melakukan penelitian ini. Jadi tuh, kami sering mendapati kasus-kasus gejala mirip kalau manusia kena malaria, pada orangutan yang ada di rehabilitasi kami yang ada di Ketapang, Kalimantan Barat. Terus, dokter hewan kami mencari-cari apakah sebelumnya sudah pernah ada penelitian di bidang ini, supaya bisa jadi acuan kami dalam menangani gejala-gejala seperti demam, lemes, nggak mau makan, dan sampai nggak responsif gitu Sob. Ternyata jarang banget tuh laporan soal ini. Lalu, kami pun tergerak untuk melakukan penelitian untuk mengidentifikasi spesies Plasmodium yang menginfeksi orangutan di bawah perawatan kami, menentukan frekuensi dan karakter penyakit malaria di antara yang terinfeksi, dan menetapkan kriteria untuk diagnosis dan pengobatan yang berhasil.

Untuk meneliti ancaman malaria pada orangutan ini, tim kami mengambil sampel darah seluruh orangutan yang ada di pusat rehabilitasi kami dari tahun 2017 hingga 2021. Didapati 89 dari 131 orangutan yang diambil sampel darahnya, dinyatakan positif malaria yang disebabkan oleh parasit Plasmodium pitheci. Selama periode tersebut, 14 kasus (mempengaruhi 13 orangutan) berkembang menjadi malaria klinis (0,027 serangan/orangutan-tahun). Tiga kasus lain ditemukan terjadi dari 2010-2016. Individu yang sakit memiliki gejala demam, anemia, trombositopenia, dan leukopenia.

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Plasmodium pitheci sangat sering menginfeksi orangutan pusat rehabilitasi kami. Pada sekitar 14% orangutan yang terinfeksi, penyakit malaria terjadi dan berkisar dari sedang hingga parah di alam. Infeksi atas malaria inilah yang mendorong kami untuk mengajak semua pihak menyadari bahwa malaria turut menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup spesies yang terancam punah ini.

Rahayu, salah satu orangutan kalimantan yang merupakan penyintas malaria yang sembuh di pusat rehabilitasi kami (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)

Dokter Karmele Llano Sanchez menyatakan bahwa sejauh penelitian ini dilakukan, tidak ada bukti bahwa parasit yang menjangkiti orangutan ini bisa berpindah ke manusia atau demikian juga sebaliknya, malaria yang dialami manusia akan menular ke orangutan. “Penelitian ini pada dasarnya sebuah awalan bagi para saintis untuk meneliti malaria lebih dalam lagi,” ujar Dokter Karmele.

Kondisi alam saat ini seperti perubahan iklim, berkurangnya keanekaragaman hayati dan kerusakan alam lainnya, sebenarnya menjadi salah satu pendorong banyaknya kasus-kasus kesehatan yang dialami satwa liar, di mana salah satunya epidemiologi penyakit seperti malaria. Bahkan perilaku nyamuk yang menularkan parasit malaria pun, adalah salah satu contoh bagaimana mereka merespon perubahan ini sehingga memberikan dampak bagi kesehatan satwa seperti orangutan. Di sinilah menurut Dokter Karmele, dokter hewan dan para saintis, memiliki tanggung jawab untuk mulai melakukan lebih banyak penelitian tentang patogen dan penyakit satwa liar yang akan mempengaruhi pekerjaan konservasi di masa depan.

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.