Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Masuk Status Terancam, Inilah Upaya Konservasi untuk Monyet Ekor Panjang
Di tahun 2022 ini, ternyata ada kabar yang cukup mengkhawatirkan tentang monyet ekor panjang nih Sobat YIARI. Menurut Redlist IUCN, Macaca fascicularis atau biasa kita sebut monpai atau monyet ekor panjang (MEP), dalam satu tahun terakhir ini sudah mengalami dua kali penurunan status konservasi, dari nyaris terancam, rentan, hingga, terancam. Pasalnya nih, mereka sering diburu dan dipelihara di rumah-rumah yang menyebabkan keberadaannya di alam berkurang drastis. Pandangan masyarakat juga menganggap bahwa monyet jenis ini populasinya masih melimpah di Indonesia, bahkan ada pula yang menganggapnya hama karena sering memasuki perumahan dan perkebunan penduduk dan mengambil bahan-bahan makanan milik warga. Anggapan ini muncul karena monyet ekor panjang memang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi yang menyebabkannya mudah ditemukan di sekitar kita.
Oleh karena itu, untuk melindungi mereka di luar dan di dalam habitatnya perlu upaya holistik alias menyeluruh yang melibatkan banyak pihak. Kami bekerjasama dengan beberapa instansi, di antaranya adalah Taman Nasional Gunung Halimun Salak serta Pemadam Kebakaran Kota dan Kabupaten Bogor untuk menjaga MEP ini bisa hidup aman dan damai di habitatnya, jauh dari interaksi negatif dengan manusia.
Kegiatan perlindungan MEP diawali di bulan Maret di sekitar kawasan konservasi yaitu di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Tim gabungan TNGHS dan Yayasan IAR Indonesia (YIARI) mengajak masyarakat di sekitar kawasan untuk menghadiri penyuluhan terkait potensi konflik dan interaksi negatif antara masyarakat dengan monyet ekor panjang. Dalam kegiatan ini, kami memberikan penyuluhan untuk melaporkan temuan monyet ekor panjang di luar kawasan yang memasuki area pemukiman dan memberikan penyadartahuan untuk menghindari interaksi-interaksi yang berpotensi negatif dengan MEP. Setelah kegiatan ini selesai, konflik antara warga dengan monyet ekor panjang bisa diredam.
Monyet ekor panjang memakan buah pidada yang merupakan pakan alaminya di Suaka Margasatwa Muara Angke, DKI Jakarta (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)
Sementara itu, untuk kegiatan perlindungan monyet di luar kawasan konservasi kami lakukan bersama instansi Pemadam Kebakaran pada akhir September ini. Kami bersama BBKSDA Jawa Barat menginisiasi peningkatan kapasitas Petugas Pemadam Kebakaran Kota dan Kabupaten Bogor yang bertugas untuk mengevakuasi satwa liar. Kalian pernah melihat atau mendengar Damkar yang bertugas di sekitar tempat tinggal kalian beraksi untuk mengevakuasi satwa seperti tawon dan ular di rumah atau kebun warga ‘kan? Nah, para Petugas Damkar juga terkadang mengevakuasi primata termasuk MEP yang masuk ke pemukiman warga. Dalam pelatihan yang telah disusun sebagai upaya kerjasama lebih lanjut antara BKSDA Jawa Barat, Damkar Kota dan Kabupaten Bogor, serta YIARI selama dua tahun terakhir ini menitikberatkan pada upaya penanganan primata secara aman. Banyaknya konflik antara MEP dengan manusia menjadikan primata ini perhatian para konservasionis. Maka dari itu, di Indonesia, perlu adanya upaya bersama untuk melindungi mereka dari kepunahan. Jangan sampai akibat kita melupakan nasib mereka, satwa yang biasa kita temui dengan mudah hari ini hanya bisa dilihat lewat buku bergambar oleh anak cucu kita di masa depan. Yuk, kita lindungi para monyet ini bersama-sama.
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Nasib Monyet Ekor Panjang Kini Makin Terancam
Baru-baru ini, Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) telah menaikkan status monyet ekor panjang dari vulnerable ke endangered. Kenaikan status ini dikarenakan banyaknya kasus sedih yang mengancam kehidupan monyet ekor panjang. Mereka tidak lagi dapat hidup liar, dan dijadikan bahan uji bio medis, perdagangan ilegal, aksi hiburan topeng monyet, dan juga pemburuan liar. Meskipun sering kali kita jumpai, tanpa kita sadari keberlangsungan hidup monyet ekor panjang perlu menjadi perhatian kita.
Ancaman yang menyelimuti masa depan monyet ekor panjang ini dibahas dalam “Raising Awareness for Living Beings: Long-Tailed Monkey Conservation” yang merupakan judul dalam webinar PRIMALI Berdaya keempat, yang berlangsung pada 3 Juni 2022. Dalam acara webinar ini, dihadirkan dua pembicara yang ahli dalam bidangnya.
Pembicara tersebut adalah drh. Wendi Prameswari, Manager Manajemen Satwa di Yayasan IAR Indonesia (YIARI) Bogor dan Rheza Maulana, relawan di Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga, serta bekerja di Southeast Asian Primatological Association.
Dalam webinar tersebut, para ahli yang menjadi narasumber memaparkan bahwa mekipun monyet ekor panjang populasinya tersebar di ruang lingkup kawasan Asia Tenggara, namun jumlah populasinya secara pasti masih menjadi tanda tanya besar, dikarenakan monyet ekor panjang merupakan satwa yang mudah untuk beradaptasi di berbagai macam lingkungan dan iklim cuaca. Monyet ekor panjang juga mudah dalam mencari makanan, dikarenakan mereka merupakan hewan omnivora.
Wendi Prameswari menjelaskan kultur pemeliharaan topeng monyet di Indonesia (Sahda Nabilah Agusta | PRIMALI Berdaya)
Monyet ekor panjang merupakan makhluk sosial, mereka memiliki sistem berkelompok, maka ketika terdapat manusia yang memburu monyet ekor panjang, mereka harus memisahkan induk dengan anaknya. Tidak jarang, manusia dengan tega membunuh sang induk untuk mendapatkan anaknya, dan menjadikan mereka uji lab bio medis, atau dipelihara secara ilegal, serta diperdagangkan.
Dalam pemaparan materi dari drh. Wendi Prameswari, ia menjelaskan, “Mereka merupakan hewan yang hidup di alam liar, berkelompok hampir 50 ekor, dan memiliki fungsi tersendiri, seperti penyebar biji dan bagian dari rantai makanan di alam liar,” papar drh. Wendi dalam menjawab pertanyaan peserta. “Tidak hanya itu, satwa liar juga tidak boleh dipelihara karena dapat membawa dan menularkan penyakit, seperti penyakit AIDS, Salmonella, Ebola, dan Rabies,” ujarnya menambahkan.
Sementara itu, Rheza Maulana menerangkan bahwa satwa liar tidak sama dengan hewan peliharaan, terutama monyet ekor panjang. Pada dasarnya, satwa liar, terutama monyet ekor panjang hidup berdampingan dengan satwa liar lainnya, dan mereka hidup jauh dengan manusia.
Dalam pemaparannya, Rheza Maulana mengatakan bahwa, monyet ekor panjang berisiko membawa penyakit kepada manusia. Terdapat sylvatic cycle, bagaimana penyakit yang seharusnya tersegel di dalam hutan, tetapi aktivitas manusialah yang melepas penyakit tersebut keluar, atau ke dunia manusia.
Rheza Maulana menjelaskan apa itu Sylvatic Cycle yang merupakan siklus penyakit yang berpotensi timbul apabila memelihara monyet (Sahda Nabilah Agusta | IAR Indonesia)
“Kebanyakan pandemi manusia yang terjadi sampai sekarang, diklasifikasikan sebagai zoonosis, atau penyakit yang menular dari satwa liar. Di antaranya sejarah panjang menyakit menular yang disebarkan oleh primata yang bukan manusia. Seperti AIDS, Rabies, dan Herpes,” ujar Reza.
Untuk itulah dari kegiatan webinar ini, kami mengimbau supaya keberadaan monyet ekor panjang dan satwa liar lainnya, tidak berada di ruang lingkup manusia. Habitat mereka berada di dalam hutan, sudah seharusnya manusia tidak mengambil mereka menjadi peliharaan atau tindakan-tindakan yang menganggu kesejahteraan mereka.
Program Integrasi Masyarakat dan Lingkungan Berdaya atau PRIMALI Berdaya yang merupakan sebuah program dibentuk oleh sekelompok mahasiswa pada awal Februari 2022 dalam mengintegrasi masyarakat dan lingkungan dalam menjaga kelestarian satwa liar di Indonesia. PRIMALI Berdaya sendiri merupakan bentuk kolaborasi antara mahasiswa dengan YIARI dalam mengadvokasi isu konservasi satwa liar di Indonesia.
Masih terdapat banyak insight yang dapat dipetik dari kegiatan webinar kemarin, tetapi alangkah baiknya kalian menonton tayangan ulangnya di channel youtube PRIMALI Berdaya pada link berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=zaXDVHWLIQI
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Syifa Nurul Amira
Peluang Beasiswa Kuliah di Politeknik Negeri Ketapang
Halo #SobatIAR.
Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), PT. Mohairson Pawan Khatulistiwa (PT. MPK), dan Politeknik Negeri Ketapang (Politap) bekerjasama membuka peluang beasiswa kuliah di Politeknik Negeri Ketapang melalui program “Afirmasi Desa Tertinggal melalui KIP Kuliah” untuk 15 orang.
Beasiswa ini terbuka untuk program Diploma 3 dan Program Sarjana Terapan (Diploma 4). Program-program tersebut di antaranya adalah D3 Pemeliharaan Mesin, D3 Teknologi Pertambangan, D3 Teknologi Hasil Perkebunan, D3 Teknologi Informasi, D3 Agro Industri, D3 Teknologi Listrik, D4 Teknologi Rekayasa Konstruksi Jalan dan Jembatan, Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan.
Persyaratan Beasiswa
Uang SPP hingga selesai kuliah
Biaya hidup setiap bulan selama masa kuliah
Tahapan Seleksi Beasiswa
Seleksi administrasi 15-20 Juli 2022
Seleksi wawancara 21-22 Juli 2022
Pengumuman kelulusan 23 Juli 2022
Persyaratan Beasiswa
Memiliki NISN (Nomor Induk Siswa Nasional)
Lulusan SMA, MA, SMK, atau Paket C yang lulus pada tahun 2022, 2021, 2020 di wilayah Kabupaten Ketapang
Maksimal umur 21 tahun pada tanggal 14 Juni 2022
Menyertakan Surat Keterangan Tidak Mampu atau Fotokopi Kartu Indonesia Pintar atau Fotokopi Kartu Program Keluarga Harapan (sertakan salah satu)
Menyertakan Surat Keterangan Penghasilan Orang Tua
Menyertakan Fotokopi Rapor dari Kelas X hingga Kelas XII SMA atau MA atau SMK
Menulis essai terkait isu lingkungan, satwa dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan (Tulisan tangan, minimal 1 halaman kertas folio bergaris)
Bersedia mengisi surat pernyataan bersedia menjalankan program beasiswa hingga lulus kuliah
Bersedia mengikuti kegiatan YIARI selama weekend dan libur semester
Bersedia menjalani Magang di YIARI selama 1 tahun, setelah menyelesaikan pendidikan
Diutamakan yang berasal dari pinggiran Kota Ketapang atau pelosok Kabupaten Ketapang
Pendaftaran bisa dilakukan secara online maupun offline: Email: ketapangrecruitment@internationalanimalrescue.org dengan subject #Beasiswa atau mengirimkan/mengantarkan langsung ke alamat Kantor YIARI Ketapang Jln. Ketapang – Tanjungpura KM 1,3 Dusun Pematang Merbau, Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang 78813
Batas akhir pendaftaran beasiswa 20 Juli 2022 Pukul 24.00 WIB
Serupa Tapi Tak Sama: Beruk dan Monyet Ekor Panjang
Banyak dari kita yang belum ngeh akan perbedaan antara beruk dan monyet. Beda, ya! Monyet adalah segala jenis primata yang bukan prosimian (tarsius, lemur, dll.) dan kera (orangutan, owa, dll.). Jadi, nyatanya beruk adalah masih bagian dari monyet!
Mungkin selama ini yang kalian susah bedakan itu adalah beruk dan monyet ekor panjang. Nih tersangkanya!
Beruk atau Macaca nemestrina (kiri) dan monyet ekor panjang Macaca fascicularis (kanan) (Reza Septian | IAR Indonesia)
Sering dibilang mirip, kedua primata berstatus vulnerable di red list IUCN ini memang memiliki banyak kesamaan. Tapiii… banyak juga perbedaannya, lho!
Beruk dan monyet ekor panjang sama-sama merupakan old world monkeys dari keluarga Cercopithecidae. Beruk secara spesifik memiliki nama latin Macaca nemestrina (Linnaeus 1766). Sementara itu, monyet ekor panjang (MEP), memiliki nama latin Macaca fascicularis (Raffles 1821). Tidak heran jika keduanya dikatakan mirip karena mereka berasal kelompok genus yang sama, yakni Macaca.
Persebaran
Beruk memiliki persebaran pada dua pulau besar di Indonesia, yakni Pulau Sumatera, dan Kalimantan. Habitat beruk dapat berupa dataran rendah dan perbukitan hutan hujan primer (Crockett dan Wilson 1980), akan tetapi lebih sering ditemukan di daerah sub-pegunungan hingga pada ketinggian 1900 mdpl. Sementara pada monyet ekor panjang, ia memiliki daya adaptasi lebih tinggi sehingga persebarannya lebih luas. Di Indonesia, spesies ini tersebar di Sumatera, Jawa dan Bali, Kalimantan, Kepulauan Lingga dan Riau, Bangka, Belitung, Banyak, Kepulauan Tambelan, Kepulauan Natuna, Simalur, Nias, Matasari, Bawean, Maratua, Timor, Lombok, Sumba dan Sumbawa (Lekagul and McNeely 1977). Berbeda dengan beruk, habitat MEP cenderung tersebar di dataran rendah.
Ukuran dan Bentuk Tubuh
Beberapa perbedaan antara beruk dan monyet ekor panjang dapat langsung terlihat dari bentuk tubuh yang dimiliki. Beruk pada umumnya memiliki tubuh yang cenderung berukuran lebih besar dengan bobot yang lebih berat daripada monyet ekor panjang. Rambut yang tumbuh juga memiliki warna yang berbeda, yakni coklat keabu-abuan sampai agak keemasan serta rambut pada kepala yang berwarna gelap pada beruk. Sementara itu pada MEP, rambut berwarna coklat keabu-abuan dan kemerah-merahan.
Tidak hanya warna rambut yang dapat terlihat jelas, bagian ekor juga menjadi pembeda yang paling mencolok pada kedua satwa primata ini.
Beruk memiliki ekor yang pendek dan tidak berambut dengan panjang ekor 13-24 cm (Rahayu 2001) sehingga ia kerap kali dijuluki sebagai southern pig-tailed. Sementara pada MEP, ekornya mampu mencapai panjang hingga 1 sampai 1,5 kali ukuran tubuhnya, yakni 40-75 cm dan ditutupi oleh rambut halus.
Pakan
Beruk dan MEP merupakan spesies primata frugivora karena sebagian besar konsumsi pakan mereka adalah buah-buahan (Fleagle 1988 dan Gusnia 2010). Proporsi banyaknya buah pada diet pakan kedua spesies ini mencapai lebih dari 90%. Selain memakan buah-buahan, beruk dan MEP juga dapat memakan berbagai jenis pakan, seperti daun, tunas muda, kulit pohon, bunga, biji, dan serangga (Dolhinow dan Fuentes 1999).
Pidada, makanan para monyet (Reza Septian | IAR Indonesia)
Walaupun demikian, kedua satwa ini juga disebut juga sebagai satwa omnivora (pemakan segala). Terkadang pakan keduanya dapat bervariasi dari buah-buahan, daun, bunga, jamur, serangga, siput, rumput muda, dan lain sebagainya. Bahkan MEP kerap kali memakan kepiting sampai-sampai ia dijuluki sebagai crab-eating macaque. Hal ini disebabkan MEP mampu beradaptasi dengan habitat dataran rendah seperti pantai. Sedangkan pada beruk yang tinggal di dataran tinggi, beruk tidak memiliki akses pada pakan seperti kepiting.
Reproduksi
Dalam reproduksinya, kedua satwa ini juga memiliki perbedaan. Beruk memiliki siklus reproduksi yang lebih pendek dari MEP.
Beruk dapat hidup hingga 26 tahun dengan kematangan seksual terjadi sekitar usia 4-4,5 tahun. Siklus birahi beruk terjadi selama 32 hari sampai 40 hari. Lama mengandung pada individu betina berkisar 6 bulan dengan jumlah anak per kelahiran adalah 1 ekor. Beruk mempunyai jarak kelahiran antara 24 bulan hingga 48 bulan dan periode merawat anaknya selama 7 bulan sampai 14 bulan (Rahayu 2001).
Monyet ekor panjang dilepasliarkan di Suaka Margasatwa Cikepuh 2019 silam (Reza Septian | IAR Indonesia)
Sementara itu pada MEP, lama hidupnya dapat mencapai sampai 30 tahun lamanya. MEP mencapai kedewasaan lebih cepat, yakni berkisar antara 3,5-5 tahun. Kematangan seksual pada individu jantan adalah 4,2 tahun dan betina 4,3 tahun. Siklus menstruasi berkisar selama 28 hari dan lama birahi sekitar 11 hari. Selang waktu pembiakan terjadi antara 24-28 bulan, masa kehamilan berkisar selama 5-6 bulan. Jumlah anak yang dapat dilahirkan biasanya adalah 1 ekor. Masa mengasuh anak MEP berlangsung selama 14-18 bulan.
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Referensi:
Crockett CM, Wilson WL. 1980. The ecological separation of Macaca nemestrina and Macaca fascicularis in Sumatra. In: The Macaques: Studies in Ecology, Behaviour and Evolution, D.G.L Lindburg (ed). Van Nostrand Reinhold Company. New York. P. 148.
Fleagle, J.G,. 1988. Primate Adaptation and Evolution. Academic Press. Inc. USA.
Gusnia, N. A. 2010. Perilaku seksual monyet ekor panjang (Macaca fascicularis Raffles 1821) di penangkaran semi alami Pulau Tinjil, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Lekagul B, McNeely JA. 1977. MAMMALS OF THAILAND. Association for the Conservation of Wildlife. Journal of Mammalogy. 60(1): 241–242
Dolhinow, P, & A. Fuente. 1999. The Non Human Primates. Mayfield PublishingCompany. California
Rahayu AS. 2001. Studi Perilaku dan Habitat Beruk (Macaca nemestrina Linneaus 1766) di Kawasan Lindung HPHTI PT Riau Andalan Pulp And Paper, Riau [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor
Penulis: Alfatheya Diva
Biarlah yang Panjang Ekornya Saja
Hayo… nyindir siapa nih?
Ini bukan nyindir kok, ini kita lagi mau cerita soal si ekor panjang
Siapa tuh?
Ini nih, si Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
Oh, kenapa dengan mereka?
Jadi gini, waktu 9 Desember 2021 lalu, ada FGD nih di Ruang Rapat Komodo Ditjen KSDAE (Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem) tentang mengurai konflik monyet ekor panjang di Bogor dan sekitarnya. Nah, ternyata dari acara itu, baru ketahuan nih kalau yang panjang ternyata ga cuma ekornya aja. Konflik yang muncul ternyata panjang juga gaes.
I see, pantesan ngadain FGD ya. Siapa aja yang datang tuh?
Ada dari Pemadam Kebakaran Kota Bogor, Pemadam Kebakaran Kabupaten Bogor, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Depok, Perhutani KPH (Kesatuan Pemangkuan Hutan) Bogor, Dinas Kehutanan Provinsi Jabar, Balai Karantina Pertanian Tanjung Priok, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan, Balai TNGHS (Taman Nasional Gunung Halimun Salak), Balai Besar TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango), BBKSDA Jabar Bidang Wilayah I Bogor, Pusat Studi Satwa Primata, dan kemudian tentu saja kami dari IAR Indonesia.
Pembukaan FGD Mengurai Konflik MEP di Bogor (Fattreza Ihsan | IAR Indonesia)
Jadi kenapa sih FGD ini diadain?
Kalian tahu kan kalau akhir-akhir ini di daerah Bogor dan sekitarnya, Monyet Ekor Panjang (MEP) itu suka banget berkeliaran di sekitaran manusia, apalagi di daerah yang berbatasan dengan hutan tempat tinggal mereka. Ketika mereka ketemu manusia, kadang-kadang MEP ini suka gangguin manusia yang pada akhirnya berujung konflik. Mungkin sebagian dari kalian pernah merasakannya, seperti hasil panen buah kalian dibawa kabur oleh MEP, atau mereka masuk ke rumah dan mengganggu orang di rumah dengan keberadaannya, atau bahkan terkadang MEP juga suka mengganggu anak-anak yang sedang bermain di depan rumahnya. Kalau konflik antara manusia dengan MEP ini dibiarkan saja dan tidak segera ditangani, maka masalah ini bisa berbuntut panjang seperti ekor MEP.
Dari kejadian-kejadian itulah maka lembaga-lembaga ini ngumpul untuk brainstorming gimana cari solusinya. Seru juga sih karena kami jadinya paham situasi-situasi yang dihadapi lembaga-lembaga ini terkait Monyet Ekor Panjang (MEP). Misalnya dari cerita Pak Andi Irawan dari BBKSDA Jabar, penyebab konflik MEP ini bervariasi. Ada yang karena tangkapan, kemudian ada juga karena pemeliharaan yang kemudian diserahkan ke BBKSDA karena pemiliknya bosan, dan juga karena habitatnya berkurang karena ada pembangunan di kawasan tempat habitat MEP ini berada. Lain lagi dengan cerita dari pihak TNGHS yang cerita kalau konflik di tempatnya biasanya terjadi di kawasan wisata. Kemudian dari Dinas Pertanian di Depok, sempet cerita kalau mereka sudah pernah mencoba melakukan penanganan MEP dengan kendang jebak, tapi tidak banyak kemajuan yang terjadi gaes, sehingga memang ada baiknya banyak sosialisasi nih sebagai upaya pencegahan. Wah banyak deh sebenarnya cerita-cerita yang terkumpul di acara tersebut. Yang pasti bermanfaat banget buat kita semua untuk sama-sama mikirin solusinya.
Masih ingat dengan Mas Huda, Manajer Resiliensi Habitat IAR Indonesia? Kali ini beliau memimpin diskusi lanjutan bersama peserta (Fattreza Ihsan | IAR Indonesia)
Terus apa dong solusinya?
Sebenarnya lebih tepatnya rekomendasi. Jadi dari acara itu, kita semua sepakat perlu adanya pemahaman dan sosialisasi peraturan terkait penanganan konflik satwa, khususnya monyet ekor kepada instansi/lembaga terkait sehingga penanganan konflik MEP dapat berjalan sinergis. Terus kita juga mikir perlu adanya koordinasi dan komunikasi antar instansi, lembaga, hingga komunitas setidaknya di Bogor dan sekitarnya untuk menindaklanjuti laporan konflik MEP dalam bentuk whatsapp grup. Nah kalau sudah ada WA Group kan enak nih komunikasinya, juga bisa share panduan-panduannya, karena itu perlu ada panduan penanganan konflik monyet ekor panjang biar jadi acuan mereka-mereka yang bekerja dalam menangani MEP. Kaitannya untuk pencegahan, FGD ini juga sepakat untuk perlunya diadain lebih banyak penyuluhan dan edukasi nih terutama buat kalian-kalian yang udah melihara MEP dan masyarakat yang ada di sekitar habitat MEP liar.
Wah looks good! Semoga hasilnya bener-bener bisa dijalankan ya…
Amin!! Biarlah yang panjang cukup ekornya si MEP aja ya, konfliknya pendek-pendek aja. Sukur-sukur nggak ada.