Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Kisah Barda, Kukang Jawa Korban Tembakan Senapan Angin

Barda, seekor kukang jawa (Nycticebus javanicus), ditemukan dalam kondisi yang bikin hati miris.

Matanya ditembus peluru, membuat ia kehilangan penglihatan dan tak bisa lagi menikmati hutan tempatnya hidup.

Kejadian ini terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Sukabumi, Jawa Barat, sebuah bukti betapa perburuan masih jadi ancaman nyata bagi satwa liar.

Namun, cerita Barda tidak berhenti di sana. Di balik luka yang ia bawa, ada orang-orang yang berusaha memberinya kesempatan kedua untuk bertahan.

Barda, kukang jawa jantan yang akan menjadi saksi nyata kekejaman perburuan liar. (Rendi Afandi|YIARI)

Artikel ini akan mengajak kita mengenal lebih dekat perjalanan Barda, perawatan yang ia jalani di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), sekaligus membahas bagaimana kukang jawa (salah satu satwa endemik Jawa) terus berjuang melawan ancaman kepunahan.

Barda Harus Menjalani Operasi Pengangkatan Mata

Hasil pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan, peluru yang merenggut penglihatan Barda bersarang di dekat pelipis matanya. Kondisi ini membuat kedua matanya tak lagi memiliki refleks normal.

Menurut penjelasan drh. Indri Saptorini, dokter hewan YIARI, kerusakan paling parah terjadi pada bola mata kanan yang mengalami luka serius dan meradang.

Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata kedua matanya tidak memiliki refleks, dan ada kelukaan di bola mata kanan,” jelas drh. Indri.

Karena itu tim memutuskan untuk melakukan prosedur pengangkatan bola mata atau enukleasi.”

Dokter sedang melakukan prosedur operasi pengangkatan mata Barda. (Rendi Afandi|YIARI)

Prosedur enukleasi ini terpaksa dilakukan demi menyelamatkan nyawa Barda.

Luka pada mata kanannya dikhawatirkan bisa menyebarkan infeksi ke seluruh tubuh, yang berpotensi memperburuk kondisinya. Operasi ini dilakukan dengan cara mengangkat seluruh organ mata yang rusak, termasuk saraf dan pembuluh darah yang sudah tidak berfungsi normal.

Proses enukleasi pada kukang sama seperti pada hewan lain, yaitu mengangkat semua organ mata termasuk saraf dan pembuluh darah yang mengalami kerusakan,” tambah drh. Indri.

Selama operasi berlangsung, tim medis harus bekerja dengan sangat hati-hati. Area bola mata memiliki banyak pembuluh darah, sehingga sedikit kesalahan saja bisa menyebabkan pendarahan.

Baca juga: Apa itu Kukang? Ciri Khas, Perilaku, Habitat, Jenis, hingga Ancaman yang Dihadapi

Kini Barda Ditempatkan di Kandang Perawatan

Setelah menjalani operasi enukleasi, tim medis YIARI terus melakukan observasi terhadap kondisi Barda.

Dua minggu pertama menjadi masa kritis, karena perkembangan kesehatannya harus dipantau dari hari ke hari.

Kabar baiknya, kondisi Barda kini berangsur membaik. Ia ditempatkan di sebuah kandang kecil yang disebut kandang perawatan.

Di sinilah Barda mulai beradaptasi dengan hidup barunya. Meski tidak lagi bisa melihat, kukang jawa jantan ini sudah berani melakukan aktivitas ringan seperti makan dan minum sendiri, walau sesekali masih terlihat kesulitan.

Barda sedang terbaring lemas di ruang tindakan. (Rendi Afandi|YIARI)

Kandang perawatan dibuat khusus untuk satwa dengan kebutuhan berbeda. Lingkungannya lebih sederhana, sehingga Barda lebih mudah menemukan makanan dan beraktivitas tanpa harus bersaing dengan kukang lain.

Menurut drh. Indri Saptorini, hal ini penting agar Barda tetap bisa bertahan hidup.

Kalau ditempatkan di kandang biasa, dikhawatirkan ia kalah saing dengan kukang lain yang masih normal, terutama dalam mencari makan,” jelas drh. Indri.

Selain tempat tinggal yang lebih aman, Barda juga mendapat pengawasan medis setiap hari. Tim YIARI memantau kesembuhan lukanya, perilakunya, hingga pola makannya.

Setelah luka benar-benar pulih, tim akan menilai apakah hilangnya penglihatan membuat perilaku Barda berubah, misalnya menjadi lebih aktif di siang hari atau tidur lebih lama di malam hari.

Baca juga: Operasi Sistotomi Kukang: Pengangkatan Batu dari Kandung Kemih Shuri

Kukang Bukanlah Objek Perburuan

Barda hanyalah satu dari banyak satwa yang menjadi korban kekejaman perburuan liar di alam bebas. Peluru senapan angin yang bersarang di matanya menjadi bukti betapa bengisnya tangan manusia yang tega melukai satwa dilindungi.

Padahal, kukang bukanlah objek perburuan. Mereka adalah satwa liar yang memiliki peran penting di ekosistem dan seharusnya hidup bebas di habitat alaminya.

Seperti yang disampaikan drh. Indri Saptorini, peluru yang ditemukan di mata Barda jelas menunjukkan adanya pelaku yang sengaja melukai, bukan kejadian alami.

Harapannya, jangan pernah berburu dengan alasan apa pun, termasuk menggunakan senapan angin. Kukang bukan objek perburuan, mereka adalah satwa liar yang seharusnya hidup di alam,” tegas drh. Indri.

Menanamkan Cinta Satwa Sejak Dini: Perayaan Hari Anak Nasional Bersama YIARI

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2025, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelenggarakan serangkaian kegiatan edukatif dan menyenangkan yang berlangsung di tiga lokasi berbeda, yaitu Taman Baca Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Bogor, Jawa Barat; Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren di Ketapang, Kalimantan Barat; serta SDN 23 Matan Hilir Selatan di wilayah Sungai Besar, Ketapang, Kalimantan Barat.

Kegiatan ini menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan hidup sejak usia dini. Anak-anak sebagai generasi penerus perlu dibekali dengan pemahaman akan pentingnya menjaga alam dan makhluk hidup di dalamnya, salah satunya melalui pengenalan terhadap satwa liar dan habitat alaminya.

Membaca nyaring dan membuat poster

Kegiatan “Kenali Satwa, Sayangi Alam” yang diselenggarakan di TBM Lentera Pustaka, menjadi sarana untuk menumbuhkan literasi dan meningkatkan minat baca di bidang lingkungan. Selain difasilitasi oleh YIARI, kegiatan ini juga dibantu oleh 7 relawan TBM Lentera Pustaka dan 8 mahasiswa KKN IPB.

Kegiatan dikemas secara edukatif dan interaktif, dimulai dari sesi membaca nyaring buku cerita petualangan “Karmila & Gito bersama Owa Kelempiau” yang mengangkat kisah tentang melindungi satwa. Menariknya, setiap karakter yang ada dalam buku diperankan dan dibacakan oleh kakak-kakak YIARI. Keseruan membaca ini berhasil menarik perhatian anak-anak terhadap alur cerita dan pesan-pesan yang dibawakan.

Usai membaca nyaring, kegiatan dilanjutkan dengan aktivitas prakarya. Mulai dari membuat poster habitat satwa, dan mewarnai untuk anak-anak prasekolah dan tingkat bawah. Dari aktivitas ini, anak-anak belajar mengenai perbedaan ruang habitat yang digunakan oleh satwa liar.

Kakak-kakak YIARI membaca nyaring dengan memerankan karakter pada buku cerita Petualangan Karmila dan Gito bersama Owa Kelempiau di TBM Lentera Pustaka, Bogor. (YIARI) 

Kegiatan ini memberikan pengalaman berkesan bagi anak-anak. Mereka tampak antusias mengikuti setiap sesi dan banyak yang baru mengenal satwa seperti kukang dan owa jawa. Selain memperluas wawasan, kegiatan ini juga membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian satwa dan habitatnya.

“Kegiatan-kegiatannya seru banget, asik,” kata Ade Amirah (15), salah satu peserta kegiatan.

“Dan juga nambahin pengetahuan aku, bagaimana bentuk rupa owa jawa, yang ternyata harus dilindungi dan tidak boleh diburu,” ungkapnya menambahkan.

Hak anak dan kesejahteraan satwa

Sementara itu, di Ketapang, Kalimantan Barat, perayaan Hari Anak Nasional juga berlangsung meriah di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren. Anak-anak dari komunitas sekitar, seperti Zwageri Generation, berpartisipasi dalam berbagai aktivitas kreatif seperti mewarnai sketsa satwa, membuat bando berbentuk hewan, dan membuat video ucapan bertema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap pemenuhan hak anak. Sekaligus juga,  dikaitkan dengan tanggung jawab anak terhadap kesejahteraan satwa.

Peserta mewarnai di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren. (YIARI)

Kegiatan serupa juga diselenggarakan di SDN 23 Matan Hilir Selatan. Dalam kolaborasi ini, anak-anak mengikuti lomba mewarnai dengan tema kesejahteraan satwa, mendengarkan materi edukatif, serta menonton film edukasi “Monpai Exploit” bersama. Dari hasil kegiatan ini,  anak-anak mulai memahami bahwa kesejahteraan bukan hanya hak manusia saja, tetapi juga hak satwa, baik peliharaan maupun satwa liar di hutan. Pemahaman ini tergambarkan dari karya mereka yang menunjukkan interaksi positif antara anak dan satwa, serta ucapan refleksi dalam video yang mereka buat.

Foto bersama dengan peserta di SDN 23 MHS Sungai Besar. (YIARI)

Kegiatan Hari Anak Nasional yang dilakukan YIARI menjadi bukti bahwa edukasi konservasi bisa dikenalkan sejak dini, dengan cara yang menyenangkan dan bermakna. Melalui pengenalan terhadap satwa liar dan habitatnya, anak-anak tidak hanya mendapat pengetahuan baru, tetapi juga nilai-nilai empati, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Nasya Karina Nur’aziza

Operasi Sistotomi Kukang: Pengangkatan Batu dari Kandung Kemih Shuri

Terbaring lemah di ruang tindakan, seekor kukang jawa jantan bernama Shuri tampak tenang di bawah pengaruh anestesi.

Namun di balik ketenangan itu, tubuhnya tengah berjuang menghadapi kondisi serius—dua batu berukuran cukup besar bersarang di dalam kandung kemihnya. Batu-batu tersebut, jika tidak segera ditangani, bisa memicu komplikasi berbahaya yang mengancam keselamatannya.

Shuri bukanlah kukang muda. Ia termasuk individu kukang lansia yang berada dalam perawatan di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Dalam pemeriksaan rutin melalui X-Ray, terdapat dua batu di kandung kemih Shuri. Kondisi ini mengharuskan tindakan medis segera melalui prosedur operasi sistotomi, yaitu pembedahan untuk mengangkat batu dari kandung kemih.

Lalu, dari mana sebenarnya asal batu yang ada di dalam kandung kemih Shuri? Yuk, simak penjelasan lebih lanjutnya berikut ini!

Apa Itu Operasi Sistotomi?

Untuk menangani kondisi Shuri, tim medis YIARI melakukan operasi sistotomi, yaitu tindakan bedah yang dilakukan untuk mengangkat batu dari dalam kandung kemih.

Operasi ini juga umum dilakukan pada satwa lain—bahkan manusia—ketika batu kandung kemih sudah berukuran besar dan tidak dapat dikeluarkan secara alami.

Menurut drh. Imam Arifin, dokter hewan yang menangani langsung Shuri, sistotomi menjadi satu-satunya pilihan terbaik dalam kasus ini.

“Operasi sistotomi itu berarti pembedahan kandung kemih pada kukang. Tujuannya untuk mengambil batu, karena di dalam kandung kemih Shuri sudah terbentuk dua batu berukuran cukup besar,” jelasnya.

drh. Imam Arifin melakukan tindakan operasi sistotomi pada Shuri (Rendi Afandi | YIARI)

Jika tidak segera diangkat, batu-batu tersebut dapat mengganggu proses berkemih, menyebabkan rasa sakit, dan dalam jangka panjang memicu infeksi hingga kerusakan organ.

“Kalau dibiarkan, bisa timbul komplikasi yang lebih serius. Makanya tindakan cepat dan tepat sangat diperlukan,” tambah Imam.

Operasi sistotomi tidak dilakukan secara sembarangan. Prosedur ini membutuhkan persiapan matang karena kukang termasuk satwa yang sangat sensitif terhadap stres. Bahkan sedikit tekanan berlebih bisa memengaruhi kondisi fisiologis mereka secara drastis.

Oleh karena itu, sebelum operasi dilakukan, tim medis harus memastikan bahwa Shuri dalam kondisi stabil dan cukup kuat untuk menjalani anestesi serta pembedahan.

Proses Operasi: Dua Batu Berhasil Diangkat dari Kandung Kemih Shuri

Setelah dipastikan dalam kondisi stabil, Shuri dijadwalkan menjalani operasi pada 16 Januari 2025. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, kukang jantan ini menunjukkan respons tubuh yang cukup baik menjelang prosedur.

Pagi itu, ruang tindakan di fasilitas YIARI dipersiapkan secara khusus. Segala alat steril, obat anestesi, serta dukungan tenaga medis hewan sudah disiapkan. Shuri diposisikan dengan hati-hati, dan proses anestesi total dilakukan agar ia tidak merasakan sakit selama operasi berlangsung.

“Saat operasi, Shuri tampak tertidur dengan tenang. Ini sangat penting untuk menghindari stres berlebih, karena kukang sangat sensitif terhadap rasa sakit dan tekanan,” jelas drh. Imam.

Pembedahan dilakukan langsung oleh drh. Imam Arifin, dibantu oleh beberapa tenaga medis lainnya. Operasi berlangsung lancar, dua batu berhasil diangkat dari kandung kemih Shuri. Batu-batu tersebut memiliki bentuk pipih dan berwarna putih, persis seperti yang ditunjukkan hasil X-Ray sebelumnya.

Ukuran batu cukup besar jika dibandingkan dengan ukuran tubuh Shuri. Hal ini semakin menegaskan keberadaan batu tersebut memang berpotensi mengganggu sistem perkemihannya secara serius jika tidak segera ditangani.

Operasi berjalan baik. Dua batu yang bersemayam di kandung kemih berhasil diangkat seluruhnya tanpa komplikasi. Kami lega melihat hasilnya,” ungkap Imam.

Setelah operasi selesai, Shuri dipindahkan ke ruang pemulihan. Dalam beberapa jam pertama, tim medis terus memantau tanda-tanda vitalnya: detak jantung, suhu tubuh, dan respons pernapasan. Semua berada dalam batas normal.

Meskipun masih dalam kondisi lemah, respons Shuri menunjukkan tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan proses pemulihan pasca operasi.

Apa Penyebab Terbentuknya Batu di Kandung Kemih Kukang?

Munculnya batu di kandung kemih bukanlah hal yang terjadi secara tiba-tiba. Ada sejumlah faktor yang secara umum dapat memicu terbentuknya batu tersebut pada satwa, termasuk kukang. Menurut drh. Imam Arifin, faktor-faktor tersebut meliputi:

  • Jenis makanan atau pola makan yang tidak sesuai
  • Infeksi saluran kemih
  • Faktor genetik
  • pH urin yang terlalu basa atau terlalu asam
  • Usia lanjut
Kondisi Shuri saat berada di ruang tindakan (Rendi Afandi | YIARI)

Shuri, sebagai kukang jantan berusia tua, kemungkinan mengalami penurunan fungsi organ secara alami. Hal ini dapat memengaruhi sistem ekskresi, termasuk kualitas dan keseimbangan pH urin.

Namun demikian, Imam menyatakan belum bisa dipastikan secara spesifik faktor dominan penyebab terbentuknya batu pada Shuri.

“Faktornya banyak. Bisa karena makanan, bisa juga karena pH urin yang berubah. Tapi dalam kasus Shuri, kami belum bisa menentukan penyebab pastinya. Analisis urin lebih lanjut akan kami lakukan,” ujar Imam.

Untuk memastikan akar masalahnya, tim medis YIARI akan melakukan urinalisis guna mengecek komposisi urin Shuri, termasuk kadar mineral, pH, dan potensi infeksi.

Hasil dari pemeriksaan ini akan sangat penting untuk menentukan langkah pencegahan di masa mendatang, tidak hanya untuk Shuri, tetapi juga kukang lain yang berada dalam program rehabilitasi.

Terkait kemungkinan faktor makanan, Imam menjelaskan pakan kukang di YIARI sudah disesuaikan sedekat mungkin dengan makanan alami mereka di alam liar. Pemberian buah-buahan, serangga kecil, dan dedaunan dipastikan dalam porsi dan frekuensi yang tepat.

“Pakan kami sudah diatur mengikuti pola makan mereka di alam. Tapi untuk memastikan, tetap akan kami evaluasi ulang dan sesuaikan jika perlu,” tambahnya.

Tantangan saat Melakukan Operasi Sistotomi

Menangani satwa liar dalam kondisi kritis bukanlah tugas mudah, apalagi ketika prosedur medis melibatkan pembedahan seperti operasi sistotomi.

Meski Shuri bukanlah kasus pertama yang dihadapi, setiap tindakan medis tetap memerlukan kesiapan fisik dan mental yang tinggi dari tim dokter hewan.

Potret dua batu yang berhasil diangkat dari kandung kemih Shuri (Rendi Afandi | YIARI)

drh. Imam Arifin mengungkapkan operasi pada Shuri merupakan kasus ketiga sistotomi pada kukang yang pernah ia tangani bersama tim YIARI dalam beberapa tahun terakhir.

Ini bukan pengalaman pertama, tapi setiap kasus pasti punya tantangannya sendiri. Apalagi kukang adalah primata yang sangat sensitif terhadap stres. Itu yang membuat penanganannya harus ekstra hati-hati,” jelas Imam.

Ia mengenang saat pertama kali melakukan sistotomi pada kukang beberapa tahun lalu. Saat itu, Imam mengaku sempat ragu karena minimnya referensi dan pengalaman praktik operasi serupa pada satwa dengan karakteristik unik seperti kukang. Namun setelah operasi pertama berjalan sukses, kepercayaan dirinya meningkat, dan pendekatan medis pun terus disempurnakan dari waktu ke waktu.

Waktu pertama kali, jujur saya sempat tegang. Tapi kami belajar banyak dari pengalaman itu. Sekarang, kami lebih siap, lebih terstruktur. Tapi tetap, harus waspada—karena risikonya tetap besar,” tambahnya.

Salah satu tantangan terbesar dalam operasi ini adalah menjaga kestabilan fisiologis kukang selama prosedur. Kukang bisa mengalami drop secara tiba-tiba jika stres, bahkan hanya karena suara bising atau perubahan suhu ruang. Maka dari itu, YIARI selalu memastikan ruang operasi tenang, steril, dan tim bekerja dengan koordinasi yang rapi dan minim distraksi.

Imam juga menekankan, meskipun batu yang dikeluarkan dari kandung kemih terlihat kecil, dampaknya bisa sangat besar terhadap kesehatan. Jika tidak segera ditangani, batu tersebut dapat memicu infeksi serius, radang, dan kerusakan organ yang sulit dipulihkan.

Komitmen YIARI dalam Menjaga Kesehatan Satwa Liar

Kisah Shuri menjadi salah satu cerminan nyata dari komitmen tanpa henti YIARI dalam menjaga kesejahteraan satwa liar, terutama yang berada dalam masa rehabilitasi. Setiap individu satwa yang dirawat, termasuk kukang seperti Shuri, mendapatkan perhatian dan penanganan menyeluruh, mulai dari deteksi dini penyakit hingga prosedur medis lanjutan.

Pengalaman Shuri menjadi pengingat bahwa kesehatan satwa perlu terus dipantau secara berkala, terlebih bagi yang telah berusia lanjut. Tak hanya itu, kisah ini juga membuka ruang diskusi lebih luas tentang pentingnya penelitian lanjutan, edukasi masyarakat, serta kolaborasi lintas pihak dalam menjaga kelestarian dan kesejahteraan satwa liar Indonesia.

Featured image: Shuri, kukang jawa jantan lansia yang harus menjalani operasi sistotomi (Rendi Afandi | YIARI)

Editor: Hasna Latifatunnisa

Apa itu Kukang? Ciri Khas, Perilaku, Habitat, Jenis, hingga Ancaman yang Dihadapi

Pernahkah kamu mendengar tentang kukang? Primata dengan mata besar yang menawan dan gerak lambatnya yang hampir tidak terdengar.

Namun, di balik keunikannya, kukang menghadapi ancaman serius yang mengancam kelangsungan hidupnya di alam liar. Mulai dari perburuan ilegal hingga degradasi habitat, setiap hari menjadi perjuangan bagi keberlangsungan spesies ini.

Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang kukang—mulai dari ciri khas fisik, habitat alami, pola makan, jenis, hingga berbagai ancaman yang terus membayangi. Yuk, kita telusuri kehidupan si bermata besar yang menyimpan segudang “keajaiban” ini!

Pengenalan Kukang

Kukang adalah primata kecil yang tergolong dalam genus Nycticebus, bagian dari keluarga Lorisidae.

Dalam bahasa Inggris, satwa ini dikenal dengan sebutan slow loris karena pergerakannya yang sangat lambat dan penuh kehati-hatian. Ukuran tubuh kukang relatif kecil, umumnya tidak lebih dari 30 sentimeter.

Sebagai satwa nokturnal, kukang aktif di malam hari. Mereka menghabiskan sebagian besar siang dengan tidur di balik dedaunan lebat atau bersembunyi di celah-celah pohon. Pergerakannya yang pelan dan senyap menjadi mekanisme alami untuk menghindari predator dan menjaga keberadaan mereka tetap tersembunyi.

Kukang tersebar luas di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk India, Vietnam, Filipina, Indonesia, dan negara-negara lainnya yang memiliki ekosistem hutan tropis. Keberadaan mereka sangat bergantung pada kelestarian hutan yang menjadi habitat utama.

Ciri Khas dan Perilaku

Salah satu ciri paling mencolok dari kukang adalah sepasang mata besar dan bulat yang memancarkan kesan menggemaskan. Namun, fungsi mata ini lebih dari sekadar penampilan. Sebagai satwa nokturnal, kukang mengandalkan penglihatannya yang tajam dalam gelap untuk mencari makan dan menghindari ancaman di malam hari.

Gerakan kukang yang sangat lambat dan hati-hati bukan tanpa alasan. Ini merupakan bentuk adaptasi alami untuk menghindari perhatian predator. Dengan bergerak perlahan, kukang tidak menimbulkan suara atau gerakan mencolok yang bisa mengundang bahaya. Selain itu, cengkeramannya yang kuat memungkinkan kukang menggantung di dahan pohon dalam waktu lama tanpa kelelahan, sebuah kemampuan penting dalam habitat arboreal.

Keunikan lain dari kukang yang jarang ditemukan pada primata lain adalah kemampuan menghasilkan racun. Kelenjar di bagian siku kukang mengeluarkan zat beracun yang, ketika bercampur dengan air liur, menjadi senjata pertahanan yang efektif. Racun ini dapat dipakai untuk melindungi diri dari predator maupun untuk melumpuhkan mangsa kecil.

Secara perilaku, kukang adalah satwa soliter dan sangat teritorial. Mereka lebih suka hidup menyendiri, kecuali selama musim kawin atau saat merawat anak. Salah satu mekanisme pertahanan unik mereka adalah kemampuan untuk “berpura-pura mati”—berhenti total dari pergerakan ketika merasa terancam, sebuah strategi yang dapat mengecoh predator.

Habitat Kukang

Kukang mendiami hutan tropis lembap yang lebat di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Mereka ditemukan di berbagai jenis hutan, mulai dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan dengan suhu lebih sejuk.

Primata ini sangat bergantung pada keberadaan kanopi pohon yang rapat sebagai tempat berlindung dan beraktivitas. Kanopi rindang tidak hanya menyediakan perlindungan dari predator, tetapi juga menjadi jalur utama bagi kukang untuk berpindah tempat dan mencari makanan tanpa perlu turun ke tanah. Oleh sebab itu, kehilangan habitat akibat deforestasi dan fragmentasi hutan menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup mereka.

Makanan Kukang

Kukang adalah omnivora dengan pola makan yang beragam, tergantung pada spesies dan habitat tempat mereka hidup. Diet alaminya mencakup serangga, telur burung, reptil kecil, serta aneka buah-buahan dan getah pohon. Fleksibilitas ini mencerminkan kemampuan adaptasi kukang terhadap kondisi lingkungan, yang memungkinkan mereka memaksimalkan asupan nutrisi yang tersedia di alam liar.

Salah satu sumber makanan yang sangat penting bagi kukang adalah getah pohon. Getah ini kaya akan nutrisi dan relatif mudah ditemukan di habitat hutan tropis. Kukang menggunakan gigi khusus yang tajam (dikenal sebagai dental comb) untuk mengikis permukaan kulit pohon dan merangsang keluarnya getah. Setelah itu, mereka menjilati cairan manis tersebut dengan perlahan.

Selain itu, kukang juga memakan serangga dan hewan kecil lainnya, yang memberikan asupan protein tinggi. Selain penting bagi keseimbangan gizinya, perilaku ini juga berkontribusi pada pengendalian populasi serangga di ekosistem hutan. Dengan memangsa serangga secara selektif, kukang memainkan peran ekologis yang signifikan sebagai pengendali hayati alami.

Kukang dikenal sangat selektif dalam memilih makanan. Mereka tidak sembarangan mengonsumsi apa pun yang tersedia, melainkan menunjukkan preferensi terhadap jenis makanan tertentu yang paling sesuai dengan kebutuhan nutrisinya. Kebiasaan ini merupakan bagian dari strategi bertahan hidup yang cerdas di lingkungan yang terus berubah.

Jenis-jenis Kukang di Indonesia

Indonesia merupakan rumah bagi beberapa spesies kukang, yang masing-masing memiliki karakteristik unik dan menarik. Jenis-jenis kukang di Indonesia antara lain:

1. Kukang Sumatera (Nycticebus coucang)

Nycticebus coucang | Bobby Muhidin (YIARI)

Kukang Sumatera dikenal sebagai salah satu spesies kukang dengan ukuran tubuh terbesar.

Panjang tubuhnya dapat mencapai 27 hingga 38 sentimeter. Ciri khas utama dari kukang ini adalah bulunya yang lebat dengan warna bervariasi, mulai dari cokelat keabu-abuan sampai cokelat kemerahan, biasanya dihiasi oleh garis di punggung yang kontras.

Wajahnya tampak mencolok dengan “topeng” gelap yang melintang dari mata ke mata, serta sepasang mata besar yang sangat menonjol. Kukang Sumatera juga memiliki gigi khusus yang digunakan untuk menggores kulit pohon agar getahnya keluar.

Secara geografis, spesies ini tersebar di Pulau Sumatera, Semenanjung Malaysia, dan sebagian wilayah selatan Thailand. Mereka mendiami hutan hujan tropis dataran rendah, namun juga bisa ditemukan di hutan sekunder dan hutan mangrove yang masih memiliki vegetasi lebat.

2. Kukang Jawa (Nycticebus javanicus)

Nycticebus javanicus | Reza Septian (YIARI)

Kukang Jawa merupakan spesies endemik yang hanya ditemukan di Pulau Jawa. Ukuran tubuhnya lebih kecil dibandingkan kukang Sumatera, dan memiliki bulu cenderung lebih gelap, berfungsi sebagai kamuflase alami saat beraktivitas di malam hari.

Spesies ini sangat teritorial dan menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pohon. Mereka jarang sekali turun ke tanah, karena pergerakan arboreal lebih aman dari predator. Pola makan kukang Jawa terdiri dari serangga, getah pohon, dan buah-buahan, dengan kecenderungan kuat terhadap konsumsi getah sebagai sumber nutrisi utama.

3. Kukang Kalamasan Kalimantan (Nycticebus menagensis)

Nycticebus menagensis | Heribertus Suciadi (YIARI)

Kukang Kalamasan, atau yang juga dikenal sebagai Kukang Filipina, merupakan spesies kukang yang mendiami wilayah pesisir utara dan timur Kalimantan, serta Kepulauan Sulu di Filipina. Dulunya, spesies ini dianggap sebagai subspesies dari kukang Kalimantan (Nycticebus borneanus), namun studi genetik dan morfologis terbaru telah mengukuhkan statusnya sebagai spesies yang terpisah.

Ciri fisik kukang Kalamasan menyerupai kukang lain, dengan bulu lebat berwarna abu-abu hingga cokelat yang membantu menyamarkan diri di antara pepohonan. Ukurannya relatif kecil, dengan panjang tubuh rata-rata di bawah 25 sentimeter. Seperti kukang lainnya, mereka aktif di malam hari dan mengandalkan indra penciuman serta penglihatan untuk mencari makan.

4. Kukang Kayan (Nycticebus kayan)

Nycticebus kayan | Jmiksanek (Wikimedia)

Kukang Kayan merupakan salah satu spesies kukang yang baru diidentifikasi secara ilmiah pada dekade terakhir. Nama spesies ini diambil dari Sungai Kayan yang berada di Kalimantan Utara, salah satu wilayah utama dalam sebaran alaminya.

Ciri khas kukang ini terletak pada pola wajahnya yang unik, yakni adanya garis putih tegas yang melintang dari mata ke arah mulut, memberikan tampilan kontras yang khas. Warna bulunya cenderung lebih gelap dibandingkan spesies kukang lainnya, berfungsi sebagai kamuflase di habitat hutan tropis.

Penyebaran kukang Kayan mencakup wilayah tengah hingga utara Pulau Kalimantan, termasuk Brunei, Sarawak, Sabah, Kalimantan Timur, hingga Sungai Mahakam dan Sungai Rajang. Spesies ini menghuni berbagai tipe ekosistem hutan, mulai dari dataran rendah sampai pegunungan, dan bergantung pada kelestarian hutan lebat sebagai tempat berlindung dan mencari makan.

5. Kukang Bangka (Nycticebus bancanus)

Nycticebus bancanus | Denny Setiawan (YIARI)

Kukang Bangka adalah spesies kukang yang secara geografis terbatas pada Pulau Bangka, lepas pantai timur Sumatera. Hidup di lingkungan pulau yang relatif terisolasi, spesies ini mengembangkan beberapa adaptasi unik.

Secara fisik, kukang Bangka berukuran lebih kecil dibandingkan kerabatnya di daratan utama, dengan bulu yang cenderung lebih pucat dan padat. Diet mereka serupa dengan kukang lain, terdiri dari buah-buahan, getah pohon, serta serangga kecil.

Karena keterbatasan habitat dan ancaman dari aktivitas manusia, kukang ini termasuk spesies yang rawan terhadap tekanan lingkungan dan memerlukan perhatian konservasi khusus.

6. Kukang Benggala (Nycticebus bengalensis)

Meskipun bukan spesies endemik Indonesia, kukang Benggala ditemukan di beberapa bagian barat wilayah Indonesia, terutama yang berbatasan dengan daratan Asia Tenggara seperti Myanmar, Laos, dan Thailand.

Kukang ini memiliki tubuh lebih besar dan bulu lebih tebal, yang merupakan adaptasi terhadap lingkungan dengan suhu yang lebih rendah di wilayah pegunungan. Warna bulunya bervariasi dari cokelat muda hingga kelabu, dengan pola wajah khas menyerupai “topeng” gelap.

Polanya dalam mencari makan tidak jauh berbeda dengan spesies kukang lainnya—mereka mengonsumsi buah, getah pohon, dan serangga sebagai bagian utama dari dietnya.

7. Kukang Kalimantan (Nycticebus borneanus)

Kukang Kalimantan merupakan spesies kukang endemik yang secara eksklusif ditemukan di Pulau Kalimantan. Sebelumnya, spesies ini kerap diklasifikasikan sebagai bagian dari kukang Sumatera atau kukang Menagensis. Namun, analisis genetika dan morfologi terkini telah menetapkannya sebagai spesies yang berdiri sendiri.

Ciri-ciri kukang Kalimantan mencakup ukuran tubuh sedang dengan warna bulu yang bervariasi antara cokelat keabu-abuan hingga kemerahan, serta pola wajah yang menyerupai spesies kukang lain, namun dengan garis yang lebih halus dan kontras warna yang berbeda.

Mereka mengonsumsi serangga, buah-buahan, dan getah pohon, serta sangat bergantung pada keberadaan hutan tropis Kalimantan yang masih utuh untuk bertahan hidup.

Status Perlindungan Kukang

Kukang merupakan salah satu primata yang menghadapi ancaman kepunahan serius. Berdasarkan Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature), sebagian besar spesies kukang masuk dalam kategori Rentan (Vulnerable) hingga Terancam Punah (Endangered). Kondisi ini diperparah oleh perburuan liar yang masif dan kerusakan habitat yang semakin meluas.

Dua ancaman terbesar terhadap keberlangsungan hidup kukang adalah perdagangan ilegal dan deforestasi. Kukang kerap diburu untuk dijadikan hewan peliharaan eksotis karena penampilannya yang dianggap lucu. Tidak jarang, proses penangkapan dilakukan secara brutal, yang menyebabkan luka serius bahkan kematian. Selain itu, bagian tubuh kukang juga digunakan dalam praktik pengobatan tradisional di beberapa budaya, yang semakin mendorong angka perburuan.

Untuk melindungi spesies ini, berbagai regulasi internasional dan nasional telah diterapkan. Kukang termasuk dalam daftar Apendiks I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yang berarti segala bentuk perdagangan internasional spesies ini dilarang secara ketat.

Di Indonesia, kukang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Perburuan, kepemilikan, atau perdagangan kukang tanpa izin merupakan tindakan ilegal dan dapat dikenakan sanksi pidana.

Ancaman yang Dihadapi Kukang

Inilah beberapa ancaman utama yang dihadapi oleh kukang:

  • Perdagangan ilegal

Kukang sering menjadi korban perdagangan hewan peliharaan ilegal. Wajahnya yang dianggap menggemaskan menjadikannya buruan utama pasar satwa eksotis. Banyak kukang yang ditangkap dari alam liar secara kejam—taringnya dipotong tanpa bius agar tidak menggigit, yang justru menyebabkan infeksi hingga kematian.

Perdagangan ini tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak populasi alami kukang.

  • Penggunaan dalam pengobatan tradisional

Di beberapa daerah, kukang dipercaya memiliki nilai pengobatan. Bagian tubuhnya digunakan sebagai bahan ramuan tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Praktik ini memperkuat permintaan pasar gelap dan memperparah perburuan.

  • Kehilangan dan fragmentasi habitat

Kegiatan seperti pembukaan lahan untuk pertanian, penebangan hutan, dan pembangunan infrastruktur telah mengakibatkan kerusakan parah pada habitat kukang. Hilangnya kanopi pohon yang menjadi tempat hidup utama menyebabkan kukang kehilangan sumber makanan dan tempat berlindung.

Selain itu, fragmentasi habitat membuat populasi kukang terisolasi, yang menurunkan keanekaragaman genetik dan memperbesar risiko kepunahan.

  • Interaksi negatif dengan manusia

Ketika habitatnya terganggu dan berdekatan dengan pemukiman, kukang kadang dianggap sebagai hama. Banyak yang ditangkap, dibunuh, atau diusir dari habitat aslinya. Interaksi negatif ini sering terjadi karena ketidaktahuan masyarakat tentang nilai ekologis kukang.

  • Ketidaktahuan dan kurangnya kesadaran masyarakat

Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai status kukang sebagai satwa yang dilindungi menyebabkan banyak orang masih membeli atau memelihara kukang secara ilegal. Kampanye edukasi yang masih terbatas dan minimnya sosialisasi hukum juga memperburuk situasi ini.

Bersama Menjaga Warisan Alam

Di penghujung perjalanan kita mengenal kukang, satu hal menjadi semakin nyata: keberadaan mereka bukan sekadar harta karun biologis, tetapi juga indikator penting dari kesehatan ekosistem hutan kita. Kukang adalah bagian tak terpisahkan dari jaringan kehidupan yang menjaga keseimbangan alam semesta.

Setiap individu kukang yang menghilang dari hutan menjadi pertanda ekosistem yang mendukung kehidupan kita tengah terganggu. Melindungi kukang berarti menjaga kelestarian hutan tropis dan seluruh kehidupan yang bergantung padanya—mulai dari mikroorganisme tanah sampai pepohonan raksasa, dari burung langka hingga manusia.

Tindakan yang kita ambil hari ini akan menentukan masa depan kukang dan kualitas lingkungan yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang. Kini saatnya kita bergandengan tangan—masyarakat, pemerintah, lembaga konservasi, dan dunia usaha—untuk memperkuat komitmen terhadap pelestarian alam.

Yuk, pastikan suara dari hutan-hutan kita tidak akan hilang dalam senyap. Biarkan suara kehidupan tetap mengalun, dan biarkan kukang terus berayun di antara cabang pohon, menjadi simbol harapan dan keberlangsungan alam yang lestari!

Featured image: Nycticebus javanicus | Denny Setiawan (YIARI)

Translokasi 10 Kukang Jawa ke Gunung Kendeng, Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Sukabumi, 23 Oktober 2024 — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat bersama Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melaksanakan kegiatan translokasi 10 kukang jawa (Nycticebus javanicus) di Kawasan Resort Pengelolaan Taman Nasional Gunung Kendeng, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (PTNW) III Sukabumi, BTNGHS. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk melindungi populasi satwa endemik yang terancam punah.

Pemerintah Indonesia telah memberikan perlindungan terhadap Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Permen LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi di Indonesia. Kukang Jawa, sebagai satwa endemik dan terancam punah yang terdapat di Kawasan TNGHS, termasuk dalam Permen tersebut. Selain itu, International Union for Conservation of Nature (IUCN) juga telah mengklasifikasikan jenis primata ini sebagai satwa terancam (endangered).

Pemeriksaan kukang yang berada dalam kandang transport (Rendi Afandi|YIARI)

Adapun sepuluh kukang yang ditranslokasi terdiri dari tiga kukang jantan bernama Petruk, Yuda, Gareng, serta tujuh kukang betina bernama Alon, Citas, Kunthi, Madrim, Bestari, Kajol, dan Loni. Kukang-kukang ini berasal dari pelaporan dan penyerahan masyarakat kepada BBKSDA Jawa Barat dan BKSDA Yogyakarta. Setelah diserahkan, satwa-satwa tersebut dititiprawatkan di pusat rehabilitasi satwa YIARI di Ciapus, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, di mana mereka menjalani penanganan medis intensif dan proses rehabilitasi yang komprehensif.

Proses rehabilitasi yang dijalani bertujuan untuk memulihkan kesehatan dan perilaku alami mereka, sekaligus mempersiapkannya untuk kembali ke alam liar. Rehabilitasi ini meliputi pemeriksaan kesehatan menyeluruh, pengaturan diet spesifik, serta pemberian fasilitas dan kegiatan yang mendukung perilaku alami mereka. Kegiatan rehabilitasi penting untuk memastikan kukang-kukang tersebut siap dilepasliarkan di habitat.

Pemasangan GPS collar pada kukang (Rendi Afandi |YIARI)

Setelah menyelesaikan proses rehabilitasi, tahapan selanjutnya yaitu translokasi dan habituasi. Translokasi adalah proses pengangkutan satwa dari pusat rehabilitasi ke kandang habituasi di lokasi pelepasliaran (yang berada di kawasan TNGHS), salah satu habitat sebaran kukang jawa di Pulau Jawa.

Kawasan Resort PTN Gunung Kendeng, Seksi PTNW III Sukabumi BTNGHS, dipilih sebagai lokasi pelepasliaran berdasarkan beberapa pertimbangan utama, yaitu ketersediaan pakan, keamanan lokasi dari perburuan atau gangguan, serta jarak yang relatif jauh dari pemukiman untuk meminimalisir konflik dengan masyarakat. Selain itu, pemilihan lokasi ini juga telah dikukuhkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Nomor: SK. 50/KSDAE/SET.3/KSA.2/3/2021 tentang Penetapan Lokasi Pelepasliaran Lima Jenis Satwa di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak periode tahun 2021 – 2025. Keputusan ini menetapkan area dengan kesesuaian habitat sebesar 22.848,1 Ha dan area prediksi pelepasan sebesar 15.578,4 Ha, termasuk habitat untuk kukang jawa. Lokasi translokasi ini berjarak sekitar 36 kilometer dari Pusat Rehabilitasi YIARI di Bogor, dengan perjalanan darat yang memakan waktu sekitar empat jam, diikuti berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit.

Di kandang habituasi yang luasnya sekitar 18 m2 dan terbuat dari jaring serta bambu, kukang diberi pakan dan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru secara bertahap selama sekitar satu minggu. Proses adaptasi penting untuk memastikan kukang mampu bertahan sebelum dilepas ke alam. Pelepasliaran juga dilakukan pada malam hari, memberikan mereka akses untuk keluar dari kandang habituasi dan menjelajah habitat baru secara mandiri.

Tim YIARI dibantu beberapa warga lokal membawa kandang transpor kukang melewati wilayah hutan Kawasan Gunung Kendeng  (Rendi Afandi |YIARI)

Tahapan terakhir dari proses ini adalah pemantauan pasca pelepasliaran, yang dilakukan selama dua hingga tiga bulan dengan menggunakan GPS collar. Pemantauan bertujuan untuk melacak adaptasi kukang pada habitat baru mereka, memastikan mereka mampu bertahan hidup, mencari makan, dan berperilaku sesuai kebutuhan alaminya.

Translokasi salah satu kukang ke kandang habituasi oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Budhi Chandra, S.H., M.H.,  (Rendi Afandi |YIARI)

Upaya pelepasliaran ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi ekologis kukang di habitat alami mereka, sekaligus sebagai langkah edukatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi.

Argitoe Ranting, Direktur Operasional Program YIARI, menekankan pentingnya pelepasliaran sebagai indikator keberhasilan dalam konservasi satwa liar. “Pelepasliaran kukang jawa ini merupakan puncak dari upaya penyelamatan panjang dan teliti, dimulai dari proses penyelamatan, rehabilitasi, hingga akhirnya pelepasliaran ke habitat alami mereka. Kami berharap kegiatan memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan satwa yang dilepasliarkan, serta menyediakan data untuk studi lanjutan tentang konservasi kukang jawa.”

Seremoni pelepasliaran yang dihadiri oleh BTNGHS, BBKSDA Jabar, YIARI, Camat Kabandungan, Kepala Kepolisian Sektor Klapanunggal, serta Komandan Rayon Militer Klapanunggal (Rendi Afandi |YIARI)

Budhi Chandra, S.H., M.H., selaku Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, memberi tanggapan terkait kegiatan ini. “Pelepasliaran kukang jawa ini bukan hanya langkah penting dalam konservasi satwa yang terancam punah, tetapi juga merupakan wujud nyata komitmen kami dalam melestarikan keanekaragaman hayati di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan satwa liar dan lingkungan kita.”

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, Agus Arianto, S.Hut., turut menyampaikan apresiasi kepada YIARI yang telah mendukung program pemerintah dalam pelestarian satwa liar dilindungi. “Kami menghimbau segenap lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga keberlangsungan kelestarian satwa liar dilindungi kukang jawa di habitatnya, karena kelestarian dapat terwujud dari kepedulian dan komitmen bersama. Mencintai satwa liar tidak berarti harus dilakukan dengan cara memelihara, sejatinya dengan membiarkannya hidup di alam liar, di habitatnya merupakan bentuk mencintai satwa liar sesungguhnya.” 

Celaka Satwa Obesitas dan 4 Cara Penanganannya

Halo sobat #KonsevasYIARI, pasti kalian suka kalo melihat satwa atau binatang yang memiliki badan gemoy. Istilah gemoy sekarang digunakan untuk sesuatu yang lucu dan menggemaskan. Satwa yang memiliki badan gendut atau besar lebih terlihat gemoy, setuju nggak? Meski terlihat lucu dan menggemaskan, satwa yang memiliki badan terlalu besar dapat menyebabkan obesitas loh. Obesitas memiliki dampak negatif pada satwa itu sendiri. Seperti halnya manusia, satwa juga butuh hidup sehat dan menjauhi obesitas. Nah berikut adalah penjelasan terkait obesitas pada satwa.

Apa itu obesitas pada satwa?

Obesitas terjadi dikarenakan ketidakseimbangan antara jumlah kalori yang dikonsumsi dengan kalori yang dikeluarkan. Satwa yang tidak banyak melakukan aktivitas di alam akan lebih rentan terkena obesitas. Kalori yang ada pada tubuh satwa tersebut tidak akan terurai dan disimpan dalam bentuk lemak. Selain hal tersebut, faktor genetik juga dapat menyebabkan lebih rentan terkena obesitas. Obesitas juga merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan antara tinggi badan dan berat badan.

Bagaimana ciri-ciri satwa yang mengalami obesitas?

Ciri-ciri fisik pada satwa yang mengalami obesitas dapat dilihat secara langsung. Lingkar tubuh telah umum digunakan sebagai alat antropometrik untuk menilai komposisi tubuh dan risiko kesehatan pada individu obesitas. Tubuh satwa yang mengalami obesitas akan cenderung lebih besar daripada satwa sejenisnya. Tingkah laku satwa yang mengalami obesitas dapat diketahui dengan ciri-ciri tidak terlalu banyak bergerak atau beraktivitas, nafsu makan yang berlebih, dan memiliki kesulitan untuk bergerak. Agar lebih jelas membedakan antara satwa obesitas dengan satwa yang tidak mengalami obesitas, yuk kita perhatikan gambar berikut.

 

Sastro, kukang jawa jantan dengan berat badan ideal (kiri) dan Nia, kukang sumatera dengan kondisi obesitas (kanan), terlihat bahwa perut Nia sudah menyentuh lantai (Fattreza Ihsan dan Imam Arifin | Yayasan IAR Indonesia)

Lalu mengapa obesitas pada satwa itu bahaya?

Penumpukan lemak pada tubuh satwa dapat menyebabkan atau memengaruhi fungsi tubuh saat terserap organ-organ tertentu. Terganggunya fungsi organ tertentu dalam tubuh tentu dapat berdampak pada kesehatan satwa tersebut. 

Sistem kekebalan tubuh pada satwa juga akan terancam jika satwa mengalami obesitas. Hal ini dikarenakan satwa tidak banyak bergerak atau melakukan aktivitas sehingga tubuhnya rentan terkena penyakit. Satwa yang mengalami obesitas juga akan terkena gangguan pernapasan. Hal ini dikarenakan terjadinya pembengkakan dan penyempitan pada saluran pernapasan.

Obesitas pada satwa akan memicu banyak penyakit lainnya. Oleh karena itu perlu dilakukan penanganan khusus untuk satwa yang mengalami obesitas. Penanganan tersebut antara lain adalah :

  1. Mengontrol porsi makan

Satwa yang mengalami obesitas dapat dibawa ke pusat rehabilitasi. Pemberian makan pada pusat rehabilitasi akan selalu dikontrol dan sesuai dengan porsinya. Makanan setiap satwa sudah ada takarannya. Jadi, untuk mencegah obesitas maka harus memberikan makan yang cukup dan terukur. Sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik.

  1. Memberikan makanan yang sehat dan bergizi

Selain memberikan makanan yang cukup dan tidak berlebihan, kandungan gizi pada makanan juga harus diperhatikan. Dalam penanganan obesitas, pusat rehabilitasi akan berusaha memberikan makanan yang kalorinya tidak terlalu tinggi. Hal ini bertujuan untuk mencegah penumpukan kalori pada tubuh satwa.

  1. Memberi latihan agar satwa terus bergerak dan beraktivitas

Penanganan satwa obesitas juga harus disertai dengan pembiasaan bergerak dan beraktivitas. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kalori yang ada pada tubuh satwa dan tentunya sebagai pembiasaan tingkah laku agar kembali seperti semula.

  1. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala

Pemeriksaan kesehatan oleh tim medis juga diperlukan dalam penanganan satwa obesitas. Hal ini akan terus diberikan untuk memastikan kondisi kesehatan satwa yang sedang dalam penanganan.

Obesitas sering terjadi pada hewan yang dipelihara oleh manusia. Hal ini terjadi karena sikap sayang terhadap hewan peliharaan yang salah sehingga tidak terkontrol dalam pemberian makannya. 

Monyet ekor panjang yang mengalami obesitas (Harish, CC BY-SA 4.0)

Nah sobat #KonservasYIARI, kepedulian terhadap satwa dapat dimulai dengan membiarkan satwa liar hidup di alam bebas. Dengan begitu, satwa akan dapat hidup sehat dan melakukan aktivitas sebagaimana mestinya. Sobat #KonservasYIARI, yuk kita kampanyekan larangan memelihara dan memperjual belikan satwa liar agar tetap terjaga kelestariannya. Kita peduli, satwa lestari!

 

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Referensi:

Audrina MB, Harianto, Puspasari I. 2019. Rancang bangun pemberi makan otomatis pada kucing menggunakan mikrokontroler. Journal of Control and Network System. 8(2) : 182-189.
Ghassani YK, Rianti P, Priambada NP, Arifin I, Saptorini I, Prameswari W, Darusman HS. 2022. Penilaian kesejahteraan kukang (Nycticebus spp.) di pusat rehabilitasi primata Indonesia: Pengembangan dan validasi skor kondisi tubuh. American Journal of Primatology. 1-15.
https://www.alodokter.com/kenali-ciri-ciri-obesitas-pada-anjing-dan-beragam-risiko-kesehatan-yang-mengintai
https://hewania.com/gaya-hidup-sehat-pada-hewan-untuk-menghindari-obesitas/12069/
https://www.royalcanin.com/id/cats/health-and-wellbeing/health-risks-of-overweight-and-obese-cats

 

Ravy Nur Aziz

Serba-Serbi Enrichment Kukang di Pusat Rehabilitasi

Kalau minggu lalu kita sudah bahas enrichment makaka, Sobat #KonservasYIARI kepo gak sih bagaimana dengan enrichment kukang? Apakah sama dengan enrichment makaka?

Yuk simak informasi yang kami dapatkan dari Kang Barnas atau yang lebih dikenal dengan nama Acong! Beliau adalah perawat satwa kukang YIARI sejak tahun 2010 yang kini bertanggung jawab terhadap enrichment kukang.

Ada apa aja ya jenis jenis enrichment kukang?

Kalau berdasarkan sumbernya, jenis enrichment kukang tersebut dibagi menjadi dua, yaitu enrichment alami dan buatan. Contoh enrichment alami diantaranya adalah buah hutan, daun pisang, kakao, daun congkok, daun patat, dan sebagainya. Enrichment non-alami diantaranya adalah bola, pipa, kawat, dan sebagainya. Enrichment alami biasanya dikombinasikan dengan enrichment non-alami sebagai enrichment harian.

Seperti makaka, pada kukang juga terdapat enrichment harian dan enrichment lingkungan.

Enrichment buah hutan (Tim Perawat Satwa | IAR Indonesia)

Lalu, apa sih persamaan dan perbedaan pemberian enrichment makaka dan kukang?

Ada beberapa nih Sob. Jadi, meskipun enrichment kukang dan makaka sama-sama terjadwal, jadwal enrichment kukang dibuat dalam rangka waktu bulanan, tidak mingguan seperti makaka. Meskipun begitu, untuk pemberian enrichment buah hutan dilakukan pada setiap hari minggu.

Lalu, waktu pemberian dan jadwal pemberian enrichment mereka pun berbeda. Sobat #KonservasYIARI tahu kan kalau kukang termasuk hewan nokturnal atau aktif pada malam hari? Oleh karena itu, enrichment harian untuk kukang diberikan pukul 02.00 dini hari, mengikuti jadwal aktif kukang. Jadi, ketika para Sobat #KonservasYIARI sedang istirahat atau tidur, para kukang ini sedang diberikan enrichment!


Perbedaannya juga terdapat pada jenis dan variasi enrichment. Enrichment tematik atau enrichment lingkungan kukang berupa furnitur kandang Sob, tidak didesain tematik seperti pada kandang makaka. Enrichment lingkungan tersebut di antaranya berupa batang pohon, lorong bambu, tali ban, serta lubang pohon seperti sarang tarsius juga. Bisa dikatakan pula kalau enrichment harian kukang lebih bervariasi daripada makaka. Meski pemberiannya tetap sama ya, satu kali sehari.

Enrichment pipa buah berupa pipa yang dilubangi kemudian diisi makanan seperti buah
(Tim Perawat Satwa | IAR Indonesia)

Menurut kang Acong sendiri selaku perawat satwa kukang, pemberian enrichment kukang sedikit lebih menantang daripada pemberian enrichment untuk makaka. Kenapa ya?

  • Waktu perawatan dan pemberian enrichment yang dilakukan pada malam hari. Karena kukang termasuk satwa nokturnal, para perawat kukang pun melakukan tugasnya mengikuti jadwal para kukang, yaitu pada malam hari. Luar biasa ya para perawat satwa ini! Kita sih lagi istirahat ya kalau malam hari.
  • Cara memancing satwa terhadap enrichment. Kalau makaka ‘kan identik aktif sekali bergerak ya, jadi enrichment akan tetap dimainkan baik ada tidaknya makanan pada enrichment tersebut. Kalau kukang? Aduh agak sulit sulit gampang nih, biasanya mereka hanya mau menghampiri enrichment yang ada makanannya… Bahkan, mereka juga belum tentu suka dengan makanan yang diberikan pada enrichment tersebut, beberapa kukang memang picky banget nih…
  • Kukang lebih butuh perhatian khusus dibanding makaka. Tubuh kukang yang mungil serta kandangnya yang lebih kecil membuat para perawat satwa perlu memperhatikan dan merawat kukang dan kandangnya dengan lebih maksimal lagi.

Enrichment wire food berupa makanan seperti buah yang dihalangi dengan kawat (Tim Perawat Satwa | IAR Indonesia)

Wah baru tahu deh kukang picky atau pilih-pilih juga kalau makan ya🤔

Iya bisa dibilang begitu… Hal tersebut juga tidak bisa digeneralisir karena ada juga kukang yang cenderung pemakan segala. Preferensi makan tiap kukang juga berbeda-beda, seperti manusia, mereka punya seleranya masing-masing! Tapi kalau ada kukang yang benar-benar tidak suka dengan enrichmentnya, enrichment tersebut bisa benar-benar tidak dimakan loh! 🙁lalu kalau sudah begini jadi tugas para perawat satwa deh yang membersihkan makanan tersebut. 

Oiya Kang Acong sendiri selaku perawat satwa kukang yang sudah merawat kukang selama belasan tahun ini pernah menemukan inovasi untuk enrichment kukang loh! Enrichment tersebut berupa angpau insect, yaitu serangga yang dimasukkan ke dalam angpau. Inspirasi ini didapatkan dari anaknya.

Enrichment dari buah kakao dan pipa yang kemudian akan diisi serangga (Tim Perawat Satwa | IAR Indonesia)

Penasaran deh, kalau pemberian enrichment kukang pada zaman dahulu dan zaman sekarang ada bedanya gak ya?🤔

Ada! Tapi fakta ini sedikit bikin sedih deh😢 Dahulu, madu yang diberikan sebagai enrichment seringkali diberikan dengan cara dioleskan pada daun pisang, dan satu daun pisang saja cukup untuk seluruh kukang. Namun kini semakin banyak kukang di pusat rehabilitasi dan rasanya tidak memungkinkan jika pemberian madu selalu dilakukan dengan daun pisang. Namun mereka tetap mendapatkan enrichment dengan daun pisang, kok. Intensitasnya saja jadi berkurang, kini enrichment dengan daun pisang diberikan dua kali dalam satu bulan.

Oleh karena itu, yuk bantu konservasi kukang agar tidak semakin banyak kukang yang perlu dirawat di pusat rehabilitasi!

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Fathia Rosatika

In Memoriam Hayang dan Lailasari: Dua Kukang Tertua di Pusat Rehabilitasi Kami

Sobat #KonservasYIARI kali ini kami mau cerita tentang dua kukang senior di pusat rehabilitasi kami yang berada di Ciapus, Bogor, Jawa Barat. Kenapa perlu kami ceritakan? Pasti kalian bertanya-tanya kan? Ini karena kami berharap, tidak ada lagi kisah-kisah sedih kukang yang tak bisa lagi kembali pulang ke habitat alaminya karena kasus pemeliharaan dan kisah sedih lainnya yang pernah mereka alami, sehingga ending-nya mereka menghabiskan sisa hidupnya di pusat rehabilitasi.

Pada 6 September 2008, pusat rehabilitasi kami kedatangan kukang sumatera (Nycticebus coucang) betina bernama Hayang. Ia spesial karena merupakan kukang pertama yang dirawat di pusat rehabilitasi kami di Ciapus.  Ia merupakan kukang serahan masyarakat dari PPS (Pusat Penyelamatan Satwa) Tegal Alur yang berhasil diselamatkan dari perdagangan satwa liar, dan kemudian dititiprawatkan di pusat rehabilitasi YIARI.

Hayang ketika baru sampai ke pusat rehabilitasi pada September 2008 (Tim Animal Management | Yayasan IAR Indonesia)

Hayang mengalami pemotongan gigi yang masif ketika masih di tangan pedagang. Ketika sampai di pusat rehabilitasi, keadaan Hayang sangat memprihatinkan. Terdapat luka bekas gigitan di kakinya, seluruh gigi Hayang sudah terpotong dan terjadi infeksi parah di gusinya hingga mengeluarkan nanah dan ia hampir tidak bisa makan. Dokter di pusat rehabilitasi kami kemudian perlu mencabut gigi tersebut agar tidak terjadi infeksi yang lebih parah lagi. Sayangnya, jumlah gigi Hayang yang tertinggal tidak cukup untuk digunakan bertahan hidup di alam liar. Kehidupan Hayang pun terbatas hanya di kandang rehabilitasi. Meskipun datang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan tersebut, ternyata Hayang mampu  bertahan hidup lama. Hingga 13 Februari 2023, setelah tinggal selama kurang-lebih 15 tahun di pusat rehabilitasi, Hayang dipanggil Tuhan. Sedih banget rasanya.

Setelah kepergian Hayang, Lailasari, atau biasa kami panggil Laila, yang merupakan salah satu kukang sumatera (Nycticebus coucang) senior atau tertua di pusat rehabilitasi juga menyusul kepergian Hayang pada tanggal 22 April 2023 lalu. Makin sedih deh😢.

Laila dirawat di pusat rehabilitasi sejak sejak Juni 2010 di usia remaja yaitu ketika usianya 2 tahun. Kurang-lebih hingga kematiannya, Laila telah dirawat selama 13 tahun oleh para dokter hewan dan perawat satwa kami di pusat rehabilitasi. Wah, kok lama banget ya 13 tahun? Sedangkan, bukannya rata-rata perawatan kukang sebelum dilepasliarkan itu adalah satu tahun? Ternyata, Laila harus tinggal dan menetap di pusat rehabilitasi karena kondisinya nih sobat #KonservasYIARI. Laila dulu mulai masuk ke pusat rehabilitasi dengan keadaan gigi yang sudah habis dipotong, sehingga dinilai tidak bisa untuk dilepasliarkan. Meski begitu, ia tetap kami rawat dan rehabilitasi dengan maksimal hingga ajalnya menjemput.

Selama tinggal di kandang, kondisi tubuh Laila sempat tergolong cenderung kegemukan, namun berkat adanya pengontrolan diet pakan, beratnya berangsur-angsur mulai ideal. Setiap minggu pun Laila kami periksa kondisi tubuhnya. Laila juga diberikan pakan pengayaan (enrichment) seperti madu, adonan getah, kakao,  serangga, juga beberapa buah-buahan hutan lainnya yang diletakkan dalam berbagai macam wadah, untuk mempertahankan perilaku alaminya. Enrichment diberikan setiap harinya setelah pemberian pakan yang kedua, yaitu saat menjelang jam 3 pagi. Enrichment yang diberikan akan berbeda setiap harinya sesuai dengan kalender enrichment.

Laila di kandang rehabilitasi (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)

Seperti manusia, Laila juga punya menu favorit. Menu makanan favoritnya adalah jangkrik dan ulat sagu. Menu pengayaan favoritnya adalah ketupat berisi serangga, yang tentunya tidak hanya diberikan untuk Laila ketika bulan ramadhan atau perayaan lebaran saja hehe. Meski hanya tinggal di dalam kandang, aktivitas Laila tergolong tinggi yaitu sebanyak 99,07%. Aktivitas tersebut di antaranya ialah kegiatan forage (mencari dan mengumpulkan makan) yang mendominasi, feeding (makan), aktivitas sosial, self grooming (membersihkan diri), dan vigilance (perilaku waspada). Interaksi Laila dengan kukang lainnya tergolong baik, karena terlihat perilaku sosial seperti saling grooming dan bermain bersama. Di antara kukang lain, terlihat juga bahwa hanya Laila-lah yang perilakunya cenderung dekat dengan manusia, hal ini terjadi karena ia sudah dekat dengan manusia sejak muda.

Meskipun Laila sempat menjadi hewan peliharaan, selama di pusat rehabilitasi, Laila menunjukkan perilaku normal yang baik, yaitu perilaku yang mengarah ke sifat asli kukang. Selain itu, perilaku pakan untuk usianya pun tergolong baik. Kecuali pada beberapa tahun terakhir, Laila menunjukkan tanda penyakit degeneratif karena usianya. Selama beberapa tahun kebelakang, Laila pun rutin diberi vitamin setiap minggu untuk menunjang nutrisinya.

Pada 7 April 2023, Laila harus dirawat di klinik karena terlihat kurang aktif dan berkurangnya nafsu makan. Kemudian setelah pemeriksaan lebih lanjut, terlihat pada perutnya terdapat cairan yang menunjukkan terdapat kegagalan organ pada tubuh Laila. Setelah di nekropsi pada pagi harinya langsung setelah kematian, terlihat pada rongga tubuh Laila terdapat tumor yang telah menyebar ke berbagai organ tubuh Laila dan tergolong cukup parah.

Walaupun Hayang dan Laila datang ke pusat rehabilitasi dengan kondisi yang cukup memprihatinkan, ternyata mereka masih memiliki semangat untuk hidup yang tinggi. Dibantu dengan perawatan penuh dan kasih sayang dari para perawat satwa dan dokter hewan, mereka mampu bertahan sampai belasan tahun kemudian, luar biasa ya! Begitulah Sobat YIARI cerita dari Hayang dan Laila. harapannya semoga tidak ada lagi kukang seperti mereka ya, yang harus menua di kandang, bukan di habitat sesungguhnya yaitu di alam.

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Fathia Rosatika

Kukang Bujang dan Apem, Kisah Nyata Kejamnya Perburuan dan Pemeliharaan Satwa

Di awal tahun 2023 ini, kami menerima serahan beberapa kukang yang tiba dalam keadaan terluka parah. Kukang pertama kami selamatkan pada akhir Januari ini. Ia kami beri nama Bujang. Kukang ini dalam keadaan lemas, diantar oleh warga Sinarwangi di Kabupaten Bogor, berharap mendapatkan perawatan yang layak baginya.

Hasil rontgen Bujang yang menunjukkan 4 buah peluru bersarang pada tubuhnya (Fattreza Ihsan | Yayasan IAR Indonesia)

Pemeriksaan pertama Bujang cukup mengejutkan dokter hewan kami. Ketika dilakukan rontgen x-ray, kami menemukan 4 buah peluru mimis alias senapan angin bersarang di kepala, sekitar leher, dan lengannya. Selain itu kami mendapati gigi Bujang patah dan infeksi. Hingga sekarang, ia masih menjalani pemulihan intensif di pusat rehabilitasi kami di Ciapus, Bogor. Ia mendapatkan penanganan medis berupa operasi pengangkatan peluru senapan angin dari tubuhnya, operasi pencabutan gigi, serta pemberian obat dan nutrisi yang ia butuhkan untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Kabar baiknya, kini ia sudah mengalami pemulihan ke arah yang lebih baik.

Kukang kedua yang kami terima adalah seekor kukang jawa juga yang tiba pada akhir Februari lalu dalam kondisi yang lebih memprihatinkan. Apem namanya, diserahkan oleh BKSDA Bogor ke pusat rehabilitasi kami dalam keadaan mengalami infeksi gigi yang cukup kronis karena sudah ada benjolan berisi nanah pada gusi dekat giginya yang terpotong. Tingkat keparahannya sudah ada dalam taraf yang apabila tidak segera diberi penanganan medis, maka Apem berpotensi tinggi mati. Di hari kedua Apem tiba di pusat rehabilitasi kami, ia segera diberi antibiotik dan radang, serta dijadwalkan di minggu yang sama untuk dilakukan operasi pencabutan gigi terinfeksi.

Proses operasi pencabutan gigi Apem untuk mengobati infeksi pada gusinya (Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)

Kasus penemuan peluru dan penemuan luka pada area mulut mengindikasikan masih adanya perburuan dan perdagangan kukang di sekitar kita. Kedua aktivitas ini menyebabkan dampak buruk yang cukup tinggi bagi satwa endemik Indonesia yang dilindungi ini. Secara ekologi, perburuan dan perdagangan liar bisa menurunkan populasi kukang secara drastis.

Dari sisi upaya rehabilitasi, kasus perdagangan dan perburuan satwa liar cenderung membuat upaya ini lebih sulit. Kasus seperti ini berpotensi menghambat pelepasliaran kukang akibat luka dan cacat permanen akibat perdagangan dan perburuan kukang. Kukang yang mengalami luka tembak bisa mengakibatkan cacat permanen seperti kebutaan, kerusakan otak, hingga hilangnya fungsi-fungsi tubuh dari kukang.

Untuk penemuan luka pada gigi dan gusi, besar kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh pemotongan secara sengaja gigi kukang oleh para pedagang satwa liar sebagai upaya untuk mencegah pembeli tergigit oleh kukang. Kukang yang sudah mengalami infeksi gigi yang cukup parah terpaksa harus dicabut gigi-giginya dan apabila gigi yang dicabut sudah cukup banyak, kukang tidak bisa dilepasliarkan karena tidak akan mampu mengonsumsi makanan alaminya di alam. Perilaku kukang yang pernah dipelihara juga menjadi perhatian khusus karena bisa jadi mereka tidak bisa dilepasliarkan akibat perilaku alami mereka tidak kunjung kembali ketika direhabilitasi.

Drh. Indri Saptorini, sebagai Dokter Hewan YIARI menyatakan keprihatinannya setelah mengoperasi Apem. Ia khawatir dengan kondisi gigi depan, atas, dan bawah dari Apem yang sudah terpotong, Apem tidak bisa dilepasliarkan ke habitat alaminya. “Sepertinya tidak mungkin untuk dilepaskan ke alam lagi, ya. Karena kita tahu bahwa fungsi dari gigi kukang ini selain untuk alat untuk mencari makan juga sebagai alat pertahanan diri,” ujarnya.

Ia berharap untuk semua orang yang masih memelihara dan membeli satwa liar untuk menghentikan “hobi” mereka yang merugikan satwa liar dan lingkungan. Sebab proses rehabilitasi kukang yang telah mengalami nasib buruk diburu dan diperjualbelikan itu sangat sulit. Hanya upaya kita untuk memberi penyadaratahuan dan edukasi lingkungan di samping penegakan hukum yang tegas bagi para pemburu dan dan pedagang satwa liar dilindungilah yang mampu untuk mencegah mimpi buruk bagi kukang ini terjadi.

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.