Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Kolaborasi YIARI dan JPK: Menguatkan Jurnalisme Lingkungan Berbasis Gender dan Komunitas

Isu lingkungan dan keberlanjutan kini makin banyak mendapat perhatian, apalagi di tengah maraknya eksploitasi sumber daya alam (SDA) yang berdampak langsung pada ekosistem dan kehidupan masyarakat. Untuk ikut mendorong peran media dalam mengangkat isu-isu penting ini, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) bersama Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) mengadakan lokakarya penulisan di Hotel Neo, Pontianak, menjelang akhir tahun 2024.

Lokakarya ini dirancang untuk memperkuat kemampuan jurnalis dalam meliput topik lingkungan secara lebih mendalam dan bermakna. Peserta juga dibekali pemahaman soal pengelolaan serta konservasi SDA, ditambah pelatihan menulis agar hasil liputan mereka lebih tajam, informatif, dan punya dampak yang nyata bagi masyarakat.

“Mungkin teman-teman pernah lihat video orangutan yang bingung nyari tempat tinggal karena habitatnya sudah rusak—lahan mereka sudah jadi tanah kosong. Ini masih jadi isu penting yang perlu terus diangkat. Selain itu, ada juga topik One Health yang tidak kalah penting. Konsep ini menjelaskan bagaimana kesehatan satwa, alam, dan manusia saling berkaitan. Kalau satwanya nggak sehat, bisa jadi berpengaruh ke manusia juga,” jelas Hasna, Supervisor Media dan Komunikasi YIARI.

Pembukaan acara oleh Ketua JPK Aseanty Pahlevi (Fathia Rosatika | YIARI)

Lokakarya ini resmi dibuka oleh Sekretaris YIARI, Marius Marcellius, bersama Ketua Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK), Aseanty Pahlevi. Dalam sambutannya, keduanya menegaskan pentingnya peran jurnalis dalam menjaga perhatian publik terhadap isu-isu lingkungan. Mereka juga menyoroti bagaimana media bisa menjadi alat advokasi yang kuat untuk mendorong pengelolaan sumber daya alam yang lebih bijak dan berkelanjutan.

Lokakarya Penulisan Bersama JPK: Meningkatkan Kapasitas Jurnalis dalam Peliputan SDA

Sebanyak 16 jurnalis dari Pontianak, Ketapang, dan Singkawang ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Peserta berasal dari berbagai latar belakang media, baik cetak, online, maupun televisi. Menariknya, mayoritas peserta adalah jurnalis perempuan yang memang punya kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan.

Selama lokakarya berlangsung, para peserta mendapat banyak insight dari para pemateri yang berpengalaman di bidangnya, seperti Ganjar Krisdiyan (Assistant Manager Community Development YIARI), Sapariah Saturi (jurnalis Mongabay Indonesia), dan Aries Munandar (Redaktur Jubi sekaligus jurnalis lepas).

Mereka membahas berbagai strategi meliput isu lingkungan, perkembangan terbaru soal pengelolaan SDA, serta tantangan yang sering muncul saat menulis berita konservasi dan keberlanjutan. Selain itu, peserta juga diajak mendalami teknik menulis yang efektif dan cara menyusun narasi yang kuat dan berbasis data.

Di sesi berikutnya, pembahasan berlanjut ke topik etika jurnalisme lingkungan dan pemetaan isu, yang membantu jurnalis memahami prinsip-prinsip peliputan yang etis serta berbagai hambatan yang biasa mereka hadapi di lapangan.

Sesi 1: Mengupas Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Alam

Pemaparan materi oleh Ganjar Krisdiyan (Fathia Rosatika | YIARI)

Sesi pertama dalam lokakarya ini dibuka oleh Ganjar Krisdiyan, Assistant Manager Community Development YIARI. Dalam presentasinya, Ganjar mengajak peserta memahami lebih dalam soal tren pengelolaan sumber daya alam, konservasi, dan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati. Materi ini menjadi landasan awal untuk memperluas wawasan peserta mengenai isu-isu lingkungan yang semakin mendesak di Indonesia.

Ganjar menjelaskan secara komprehensif tentang apa yang dimaksud dengan hutan dan kawasan hutan, serta mengapa keanekaragaman hayati sangat krusial bagi keseimbangan ekosistem. Ia juga menyoroti tantangan nyata di lapangan, seperti alih fungsi lahan dan meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar—fenomena yang kian sering terjadi akibat perambahan hutan dan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.

Tak hanya itu, Ganjar turut membahas berbagai regulasi terkait perlindungan satwa liar, serta menjelaskan tahapan dalam upaya konservasi seperti penyelamatan (rescue), rehabilitasi, hingga pelepasliaran satwa kembali ke habitat alaminya. Diskusi juga menyoroti pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam kegiatan konservasi, baik lewat pendekatan berbasis komunitas maupun melalui kebijakan yang lebih berpihak pada lingkungan.

Sesi 2: Eksploitasi SDA, Krisis Energi, dan Perspektif Gender dalam Jurnalisme Lingkungan

Usai sesi pertama, pelatihan berlanjut dengan pemaparan dari Sapariah Saturi, jurnalis senior dari Mongabay Indonesia. Dalam sesi ini, Sapariah mengangkat isu penting seputar industri ekstraktif, energi, dan dampaknya terhadap kelompok rentan—terutama perempuan dan komunitas adat.

Pemaparan materi oleh Sapariah Saturi (Fathia Rosatika | YIARI)

Sapariah mengajak peserta melihat lebih dekat dampak nyata industri energi fosil, khususnya batubara, terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Ia juga membahas urgensi transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan, seperti tenaga surya dan angin. Di sisi lain, ia menyoroti kebijakan energi pemerintah yang dinilai masih terlalu bergantung pada biomassa dan kurang berpihak pada energi ramah lingkungan.

Sapariah juga turut menekankan pentingnya sensitivitas gender dalam peliputan isu lingkungan. Menurutnya, perempuan sering kali menjadi kelompok yang paling terdampak oleh krisis lingkungan—mulai dari terbatasnya akses air bersih hingga meningkatnya beban domestik—namun suara mereka masih jarang muncul di media maupun dalam pengambilan kebijakan.

Melalui sesi ini, peserta diajak untuk lebih peka dalam menyoroti kerentanan sosial dalam krisis lingkungan dan bagaimana jurnalisme dapat menjadi alat untuk memperjuangkan keadilan ekologis dan kesetaraan.

Sesi 3: Tantangan dan Peluang Jurnalisme Lingkungan

Sesi selanjutnya dipandu oleh Aries Munandar, Redaktur Jubi sekaligus jurnalis lepas, yang membahas berbagai tantangan sekaligus peluang dalam meliput isu lingkungan, khususnya di wilayah Kalimantan Barat. Menurut Aries, kerusakan ekosistem tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan lingkungan semata, karena dampaknya sangat luas—mencakup aspek sosial, budaya, hingga ekonomi masyarakat setempat.

Dalam pemaparannya, Aries menjelaskan bagaimana deforestasi dan degradasi hutan berkontribusi pada terganggunya siklus karbon global dan meningkatnya risiko bencana seperti banjir. Ia juga menyoroti rumitnya kebijakan pengelolaan hutan yang kerap dipengaruhi oleh kepentingan politik dan ekonomi, menjadikan peliputan isu lingkungan sebagai tantangan yang tidak hanya teknis, tetapi juga struktural.

Isu lainnya yang tak kalah penting adalah hilangnya kosakata dan tradisi lokal seiring dengan kerusakan alam. Aries mengingatkan pelestarian budaya lokal dan konservasi satwa endemik perlu dipandang sebagai satu kesatuan dalam upaya menjaga lingkungan secara holistik.

Diskusi ini membuka wawasan peserta tentang pentingnya menggali isu-isu yang kerap luput dari sorotan media arus utama. Dengan sudut pandang yang lebih kritis dan mendalam, jurnalis bisa menghadirkan liputan yang tidak hanya informatif, tetapi juga mendorong perubahan nyata di tingkat komunitas maupun kebijakan.

Diskusi dan Eksplorasi: Mengembangkan Liputan Lingkungan yang Berdampak

Sebagai bagian dari proses pembelajaran yang interaktif, para peserta juga mengikuti sesi eksplorasi ide liputan. Dalam sesi ini, mereka mendapat kesempatan untuk berkonsultasi langsung dengan mentor, mengembangkan gagasan liputan yang orisinal, inovatif, dan berpotensi memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Proses diskusi antar peserta dan mentor (Fathia Rosatika | YIARI)

Tak hanya mendengarkan materi, peserta juga terlibat aktif dalam diskusi kelompok kecil. Melalui diskusi ini, mereka memetakan berbagai tantangan dan peluang dalam peliputan isu lingkungan. Beberapa tantangan utama yang muncul di antaranya adalah keterbatasan akses terhadap data, tekanan dari berbagai pihak berkepentingan, hingga rendahnya minat media terhadap isu lingkungan karena dianggap kurang menjual secara komersial.

Meski demikian, sesi ini mendorong peserta untuk tetap mencari celah dan strategi dalam menyuarakan isu lingkungan secara kreatif dan relevan. Kolaborasi antarpeserta dan bimbingan dari para mentor membantu memperkuat ide-ide liputan yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu menggugah kesadaran publik.

Bersama, mari menulis untuk alam!