Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Selamat Setelah Tersengat Listrik, Kukang Elektro Dilepasliarkan di HL Gunung Tarak

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat (BKSDA Kalbar) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Ketapang Selatan dan IAR Indonesia melepasliarkan satu ekor kukang kalimantan (Nycticebus menagensis) hasil penyelamatan akibat sengatan listrik ke Kawasan Hutan Lindung Gunung Tarak, Dusun Pangkalan Jihing, Desa Pangkalan Telok, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, pada Hari Minggu, 16 Januari 2022.

Tim pelepasan yang terdiri dari personel BKSDA Kalbar SKW I Ketapang, KPH Ketapang Selatan dan IAR Indonesia berangkat dari pusat penyelamatan dan konservasi IAR Indonesia pukul 15.00 WIB. Perjalanan ditempuh dengan menggunakan mobil selama lima jam dan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama dua jam. Selama perjalanan, kondisi satwa kukang yang diberi nama Elektro ini selalu diperiksa oleh tim medis IAR Indonesia secara berkala.

Tiba di titik pelepasliaran, pada pukul 22.00 WIB, kandang dibuka oleh Harison, personel dari BKSDA Kalbar SKW I Ketapang, dan drh. Arief dari IAR Indonesia. Lima belas menit kemudian, Elektro keluar dan langsung memanjat pohon. Untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan di rumah barunya, akan dilakukan pemantauan oleh tim monitoring selama beberapa hari ke depan.

Tim memastikan kandang transit untuk Elektro aman sebelum berangkat ke lokasi pelepasliaran (IAR Indonesia | Rudiansyah)

Kukang jantan ini diberi nama Elektro karena merujuk pada kisah penyelamatan dirinya oleh warga Kecamatan Delta Pawan, Ketapang pada 26 November 2021 silam. Ketika itu, warga menemukan Elektro tersengat listrik dan melekat di tiang listrik dengan kondisi kaku dan tidak bisa bergerak. Warga kemudian menghubungi BKSDA SKW I Ketapang, dan tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalbar SKW I Ketapang segera melakukan penyelamatan. Setelah itu, Elektro dibawa ke klinik satwa liar IAR Indonesia untuk mendapatkan perawatan.

Pada pemeriksaan awal, diketahui kondisi Elektro secara umum cukup baik meskipun kemudian tim medis IAR Indonesia menemukan luka akibat sengatan listrik di jari-jari kaki kanannya. Luka yang cukup parah dan sudah mengalami pembusukan membuat tim memutuskan untuk mengamputasi jari kaki Elektro.

Selama menjalani perawatan, luka di kaki Elektro berangsur sembuh. Jari-jari lain pada tangan yang dilakukan amputasi masih dapat menjalankan fungsinya dengan baik sehingga meskipun Elektro kehilangan dua jari, dia tidak kehilangan kemampuannya untuk makan, berjalan ataupun menggenggam mangsanya. Setelah diobservasi selama satu bulan, Elektro masih menunjukkan sifat liar dan kemampuan bertahan hidup di alam sehingga tim memutuskan untuk melepaskan Elektro ke habitat aslinya di HL Gunung Tarak.

Hutan Lindung Gunung Tarak kembali dipilih menjadi tempat pelepasan kukang karena hutan lindung ini merupakan habitat yang cocok dengan ketersediaan jumlah dan jenis pakan yang berlimpah bagi satwa ini.

Kukang Elektro langsung memanjat pohon begitu keluar dari kandang transit (IAR Indonesia | Rudiansyah)

Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta menyampaikan apresiasinya atas kegiatan pelepasliaran ini sekaligus pada kisah penyelamatan yang melibatkan kerjasama berbagai pihak, terutama kepada masyarakat yang memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap nilai-nilai konservasi dengan mengambil langkah/tindakan yang tepat dengan menghubungi pihak yang berwenang. Kesadaran dan kepedulian ini perlu dijaga, bahkan perlu adanya peningkatan keterlibatan masyarakat dalam kerja-kerja konservasi melalui penyelenggaraan konservasi yang berbasis masyarakat”.

Kepala Program IAR Indonesia, Argitoe Ranting turut mengapresiasi kerja sama yang baik antara warga, Lembaga pemerintah dan LSM. “Keberhasilan translokasi Kukang Elektro ini tidak lepas dari semangat dan kerja sama yang sangat baik antara masyarakat, pemerintah dan kembaga swadaya masyarakat. Berkat kesigapan warga Ketapang dan petugas lapangan Wildlife Rescue Unit BKSDA Kalbar, kukang yang sebelumnya tersengat listrik ini berhasil diselamatkan dan dijembalikan ke alam. Harapannya semoga populasi kukang di Kalimantan ini masih akan tetap terjaga,” jelasnya.

Perjuangan Meli Untuk Mendapatkan Kesempatan Kembali ke Alam Bebas

Masih ingat Meli, bayi kukang yang diselamatkan warga dan BKSDA Cirebon pada Desember lalu? Saat ini dia tumbuh menjadi kukang remaja yang aktif dan sehat!

Sudah hampir 4 bulan Meli menjalani proses perawatan dan pemulihan di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia. Selama itu pula Meli terus menunjukan perilaku dan perkembangan yang bagus. Bahkan, tim medis dan perawat satwa yang mengurus langsung Meli kagum melihat progress pertumbuhannya yang pesat.

“Kami senang melihat pertumbuhan Meli yang semakin membaik. Perawatan dan treatment yang kami berikan direspon dengan baik oleh kukang yatim tersebut,” ujar Indri Saptorini, dokter hewan IAR Indonesia.

Pertumbuhan Meli begitu pesat. Ia tampak aktif dan digadang akan menjadi kandidat pelepasliaran selanjutnya saat usia dia mencapai batas minimal. Foto: Reza Septian/IAR Indonesia

Indri menceritakan, Meli ditemukan sendiri di kebun tanpa sang induk dengan luka di bagian punggung yang disinyalir diakibatkan terjatuh dari atas pohon. Saat pertama kali diselamatkan pada Desember silam, kondisi Meli begitu lemah dan kurus. Hal itu dikarenakan dia tidak mendapat perawatan alami dari induknya sebagaimana kehidupan bayi kukang lainnya.

Dari hasil pemeriksaan terkini, luka itu sudah sembuh dan tidak menunjukan kejanggalan yang disebabkan luka tersebut. Selain itu berat badannya juga berada di angka ideal sebagai kukang remaja,” tuturnya.

Bayi kukang lanjut Indri, umumnya akan bergantung pada induknya hingga berusia 6 bulan. Selama masa perawatan itu pula, bayi kukang akan terus bergelantung di tubuh induknya untuk bertahan hidup di bawah asuhan sang induk.

“Untuk itu kami secara rutin memberikan perawatan intensif pengganti sang induk seperti memberikan asupan protein dan vitamin, menempatkannya di tempat khusus yang hangat dan melatihnya bergerak untuk merangsang kemampuan memanjatnya,” tambah dia.

Saat ini, Meli sudah dipindahkan ke kandang khusus (enclosure) sosialisasi seperti kukang-kukang lainnya yang tengah menjalani perawatan dan pemulihan di pusat rehabilitasi. Perilaku Meli juga diobservasi setiap hari oleh perawat satwa untuk melihat perkembangannya. Upaya tersebut dilakukan agar Meli tetap aktif bergerak dan terbiasa dengan lingkungan serta keberadaan kukang lainnya.

“Tentu untuk mencapai ke tahap ini Meli sudah dipastikan benar-benar sehat sehingga tidak berpotensi menularkan penyakit ke kukang lainnya. Selama di kandang khusus itu juga Meli mulai dikenalkan dengan pakan alami seperti yang diberikan pada kukang lainnya,” lanjut Indri.

Kerja keras semua ini dilakukan demi Meli dan kukang-kukang yang bernasib tidak beruntung bisa kembali menikmati kebebasannya hidup di alam bebas. Meski tidak mudah dan harus mengeluarkan materi yang tidak sedikit, hanya itu salah satu yang dapat dilakukan untuk memberi kesempatan kedua mereka selain kita harus menjaga dan melindungi kukang tetap di habitatnya.

Sebelumnya, Resort Konservasi Wilayah XXII Cirebon Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat bersama IAR Indonesia telah menyelamatkan satu individu bayi kukang jawa (Nycitebus javanicus) yang ditemukan di kebun milik warga Desa Padabeunghar, Kecamatan Pesawahan, Cirebon, Jawa Barat, Selasa (17/12/2019).

Kepala Resort Konservasi Wilayah XXII Cirebon Slamet Priambada mengatakan, keberadaan bayi kukang yang diberi nama Meli itu pertama kali dilaporkan oleh seorang warga bernama Meliyana pada Senin (16/12). Meliyana menemukannya dalam keadaan tergeletak dengan kondisi lemah di tengah kebun tanpa ada induknya.