Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Aksi Kolaborasi Tanam 40 Bibit Pohon di Sungai Deras, Kalimantan Barat di Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Sobat #KonservasYIARI merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 05 Juni 2023 kemarin dengan ngapain nih? Kalau kami merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia melalui kegiatan restorasi ekosistem di Desa Pematang Gadung, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Ketapang, Kalimantan Barat. Kegiatan ini merupakan kegiatan kolaborasi YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia) dengan UPT (Unit Pelaksana Teknis) Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah Ketapang Selatan.
Penyerahan bibit ubah secara simbolis ketika pembukaan acara (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
Upaya restorasi ekosistem ini dilakukan melalui kegiatan penanaman dengan tema “Solusi untuk Polusi Plastik demi FOLU Net Sink 2030”. Sekitar 50 orang dari berbagai pihak hadir ada kegiatan ini. Pihak-pihak tersebut diantaranya ialah Kodim 1203 Ketapang, Polres Ketapang, Danlanal (Komandan Pangkalan TNI AL), Kejari (Kejaksaan Negeri) Ketapang, Dishub (Dinas Perhubungan) Ketapang, Disdik (Dinas Pendidikan Ketapang), PolPP Ketapang, Perkim LH (Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup) Ketapang, BKSDA Kalbar SKW 1 Ketapang, Mitra Pembangunan Ketapang, Balai Tanagupa (Taman Nasional Gunung Palung), BPDAS Kapuas, KPH Ketapang Selatan, KPH Ketapang Utara, MPK (Mohairson Pawan Khatulistiwa), Yasayan WeBe, Tropenbos Indonesia, Manggala Agni Kalimantan X / Ketapang, Politap (Politeknik Negeri Ketapang), Kecamatan MHS (Matan Hilir Selatan), Ikahut Untan (Ikatan Alumni Kehutanan Universitas Tanjungpura), Distanakbun (Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan) Ketapang, SMPN 7 Matan Hilir Selatan, SMKN 1 Matan Hilir Selatan, Perangkat Desa Pematang Gadung, LPHD (Lembaga Pengelola Hutan Desa) Pematang Gadung.
Semua undangan kegiatan menggunakan alat perlindungan lengkap sebelum melakukan perjalanan melalui aliran air Sungai Deras (Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)
Acara seremonial pembukaan kegiatan ini dilakukan di dermaga Desa Pematang Gadung. Selanjutnya para peserta mengikuti kegiatan penanaman di areal penanaman berlokasi di area Restorasi Sungai Deras, Hutan Desa Pematang Gadung yang berjarak 30 menit dari lokasi pembukaan. Perjalanan menuju areal penanaman ditempuh dengan mengarungi Sungai Deras menggunakan kendaraan air atau speedboat.
Sejumlah total 40 bibit ubah jambu (Syzygium sp.) dan bibit bintangur (Calophyllum sp.) dilakukan secara simbolis. Sesungguhnya, kegiatan restorasi ini sendiri sudah berjalan dari awal tahun 2018 nih Sobat #KonservasYIARI. Bahkan hingga saat ini, di area tersebut sudah tertanam 85 ribu bibit di lahan seluas 146 ha, luar biasa ya!
Potret Kepala SPTN Wilayah 11 Melano, Ahmad Sirojudin, S. Hut bersama Direktur Program dan Operasional Yayasan IAR Indonesia, Argitoe Ranting, sebelum melakukan penanaman (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
Kegiatan dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup ini juga kami lakukan dalam bentuk edukasi konservasi di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Semoga kegiatan peringatan hari lingkungan hidup ini bisa bermanfaat untuk lingkungan dan memotivasi masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan ya!
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Fathia Rosatika
Suksesnya Panen Padi di Tiga Desa di Ketapang, Kalimantan Barat
Siapa yang menanam dia yang menuai, kata-kata ini pas banget nih buat para petani dampingan kami di tiga desa di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, yaitu Desa Pematang Gadung, Desa Kuala Tolak, dan Desa Tanjung Pura. Ketiga kelompok tani yang ada di tiga desa ini, merupakan kelompok tani yang anggota-anggotanya pernah bekerja sebagai penambang dan pembalak (logger). Dengan bertani, mereka telah meninggalkan pekerjaan lama mereka. Yuk kita ikuti keberhasilan panen mereka.
Di Desa Pematang Gadung, kelompok tani Sejahtera Kite dan ibu-ibu yang tergabung dalam komunitas The Power of Mama melakukan panen padi di dua lahan milik Pak Misrai dan Ibu Nuraida pada 26 Januari 2023 lalu. Keduanya adalah warga masyarakat di Desa Pematang Gadung. Di kedua lahan tersebut, kelompok tani ini menanam padi varietas Ampara dan Srikandi yang mereka tanam pada Oktober 2022.
Di lahan Pak Misrai yang seluas satu hektar, 24 warga masyarakat terlibat dalam kegiatan ini, termasuk para anggota kelompok tani Sejahtera Kite. Dari kegiatan panen tersebut, diperoleh padi sebanyak 825 kilogram. Sementara di lahan Bu Nuraida, 26 orang ibu-ibu yang tergabung dalam komunitas The Power of Mama menghasilkan 972 kilogram padi dari lahan seluas satu hektar. Jumlah ini meningkat pesat dibandingkan sebelumnya ketika kami belum memberikan pendampingan dan para petani masih menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Di tahun sebelumnya, di lahan yang sama, mereka hanya menghasilkan padi sebanyak 216 kilogram di lahan Pak Misrai dan padi 600 kg di lahan Bu Nuraida.
Panen padi di Desa Pematang Gadung, Kalimantan Barat bisa dikatakan cukup sukses. Program kolaborasi YIARI dengan PT. Mohairson Pawan Khatulistiwa (MPK) ini berhasil meningkatkan produksi gabah kering padi dari lahan pertanian warga sebesar kurang lebih sepertiga dari panen sebelumnya. (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
Mayoritas anggota kelompok tani Sejahtera Kite di Desa Pematang Gadung ini merupakan mantan pekerja Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dan keluarganya. Pada tahun 2021 jumlah anggotanya baru tujuh orang dan setahun berselang, jumlah anggotanyanya berkembang pesat menjadi 22 orang.
Di Kuala Tolak, petani dampingan kami yang tergabung dalam kelompok tani Semangat Jaya Bersama juga melakukan panen padi pada 15 Februari 2023. Dalam panen yang melibatkan 13 orang anggota kelompok tani ini, mereka berhasil mendapatkan 563 kilogram padi dari lahan seluas 1.800 m2. Sebagian besar anggota kelompok tani ini dulunya adalah para pembalak liar. Para anggota kelompok tani ini menanam padi varietas Bramo dan Thailand pada bulan Oktober 2022.
Selain padi kami juga melakukan pendampingan kegiatan agroforestri kepada kelompok tani Hijrah Bersama di Desa Tanjung Pura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang. Kelompok Tani ini terdiri dari 19 orang yang sebelumnya berprofesi sebagai pembalak. Di dalam kegiatan ini kami mendampingi mereka melakukan penanaman petai, jengkol, durian, cabe, terong, dan bawang merah. Kami juga memberikan pelatihan pembuatan pupuk dan pestisida organik beserta penerapannya untuk tanaman agroforestri. Dari berbagai jenis tanaman yang sudah ditanam oleh anggota kelompok tani Hijrah Bersama, bawang merah menjadi tanaman pertama yang dipanen. Pada 10 Maret 2023 kemarin, anggota Hijrah Bersama melakukan panen bawang merah sebanyak 30 kilogram yang akan dimanfaatkan sendiri oleh anggota kelompok.
Cabe, salah satu bahan masakan favorit masyarakat Ketapang turut ditanam warga di sela-sela kesibukannya mengurus padi (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
Sejak tahun lalu, kami melakukan pendampingan kepada para kelompok tani ini dengan memberikan pelatihan mengenai pembuatan pupuk dan pestisida organik serta penerapannya pada tanaman. Sebelumnya kelompok tani Semangat Jaya Bersama masih menggunakan pupuk kimia dan belum melakukan perawatan tanaman padi secara baik. Hasilnya panen padi bisa meningkat sebanyak 43 persen dibandingkan dengan hasil panen sebelumnya yang masih menggunakan pupuk kimia. Dulunya, mereka hanya mampu menghasilkan padi sebanyak 394 kilogram di lahan yang sama.
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
The Power of Mama, Aksi Ibu Peduli Lingkungan Hidup di Ketapang
Peran penting perempuan sebagai penggerak masyarakat, pasti sudah pada mengamini kan? Apalagi di desa-desa di mana para perempuan terutama yang sudah menjadi ibu, tugasnya banyak banget, Sob. Selain mengurus keperluan rumah tangganya, perempuan sering berperan penting dalam memberikan pendidikan dan pengetahuan kepada anak-anaknya. Nah karena itulah, kami membentuk The Power of Mama, sebuah komunitas yang terdiri dari para perempuan lintas generasi dan terutama kaum ibu, yang tinggal di kawasan desa di sekitar Ketapang Kalimantan Barat. Komunitas ini memiliki kegiatan yang bertujuan menjadikan kaum perempuan dan para ibu sebagai pelopor dalam menggerakkan kesadaran masyarakat di desa tempat mereka tinggal untuk peduli terhadap lingkungan, terutama dalam kegiatan-kegiatan pelestarian alam di kawasan tempat mereka tinggal.
Tujuan ini nggak muluk-muluk kok, Sob. Karena pengaruh perempuan di masyarakat desa tuh besar banget. Bayangin, merekalah yang akan bisa ngasih tau ke anak-anak mereka tentang kondisi lingkungan mereka, bahaya-bahayanya, solusinya, dan kemudian ngajak anak-anak mereka untuk melakukan Tindakan-tindakan positif yang bisa melestarikan alam lingkungan mereka. Power pengaruh mereka juga nggak kecil bagi suami-suami mereka, juga apalagi untuk sesama perempuan lainnya.
Para ibu anggota komunitas lingkungan The Power of Mama sedang menerima pelatihan dan pendampingan (Muffidz Ma’sum | IAR Indonesia)
Kemunculan komunitas ini berangkat dari kehadiran dua tokoh perempuan di dua desa di Ketapang, yaitu Bu Siti dan Bu Maimun yang selama beberapa waktu berinisiatif melakukan sejumlah kegiatan lingkungan di antaranya pertanian organik dan berkeliling desa untuk mengecek kondisi alam di sekitar mereka terutama dari risiko kebakaran. Inisiatif dari kedua ibu inilah yang kemudian mendorong YIARI untuk membentuk komunitas The Power of Mama yang terdiri dari para perempuan usia 25 hingga 50-an tahun yang tinggal di empat desa di wilayah Ketapang, Kalbar, yaitu Desa Pematang Gadung, Sungai Besar, Sukamaju, dan Sungai Awan Kiri.
Nah setelah terbentuk nih komunitasnya, kegiatan The Power of Mama akan banyak menekankan pada peningkatan kemampuan dan kapasitas mereka sebagai perempuan yang diharapkan bisa menjadi garda terdepan dalam memberikan perubahan positif bagi lingkungannya. “Dengan berbagai pelatihan yang kami kembangkan untuk mereka, kami berharap para ibu ini memiliki bekal pengetahuan dan kemampuan yang penting dalam merawat dan menjaga lingkungan alam di desanya. Salah satunya adalah pembekalan dalam mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” ujar Wendi Tamariska, Manager Community Development YIARI. Dengan kegiatan ini, harapannya para anggota The Power of Mama dapat memberikan contoh yang baik serta pelopor kegiatan lingkungan hidup di lingkungan mereka.
Ibu Siti yang merupakan salah satu pemantik komunitas The Power of Mama memberikan arahan kepada para ibu yang lain (Muffidz Ma’sum | IAR Indonesia)
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif ibu-ibu ini, terutama Bu Siti dan Bu Maimun dalam menjaga lingkungannya. Komunitas The Power of Mama ini adalah inisiatif mandiri mereka, dan YIARI berperan untuk memfasilitasi dan merealisasikannya. Dengan kehadiran The Power of Mama, kami yakin bahwa desa-desa tempat mereka tinggal akan menjadi desa percontohan yang tidak hanya berhasil dalam menjaga lingkungan, tapi juga menampilkan kekuatan perempuan sebagai bagian terpenting dalam mempersiapkan masa depan yang lebih baik bagi generasi selanjutnya,” ujar Karmele Llano Sanchez, Direktur Program YIARI.
Untuk menjadi anggota The Power of Mama, tidak ada syarat khusus yang diberlakukan. “Siapa pun perempuan yang tertarik bisa bergabung dan nantinya YIARI memberikan bantuan berupa fasilitas patroli seperti kendaraan kendaraan bermotor dan perlengkapan keamanan, pembekalan untuk para anggota berupa pengetahuan umum tentang instansi terkait bencana, keanekaragaman hayati, dampak bencana kebakaran hingga pelatihan pemadaman kebakaran hutan dan lahan,” ujar Argitoe Ranting, Kepala Program YIARI.
Para ibu anggota The Power of Mama mendapatkan pendampingan untuk mengembangkan kegiatan komunitas mereka (Muffidz Ma’sum | IAR Indonesia)
The Power of Mama yang didirikan pada 6 Juni 2022, saat ini telah memiliki 46 anggota dari empat desa. Kegiatan yang saat ini mereka lakukan adalah patroli dan monitoring kebakaran hutan dan lahan di desa masing-masing sebagai bagian dari persiapan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim.
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Bantuan Handtractor Dukung Pertanian Organik Berkelanjutan di Melawi
Tau nggak sih rasanya mencangkul tanah seluas empat hektar? Beuh, ngebayanginnya aja udah keringat dingin kan, Sob. Nah, buat meringankan pekerjaan mengolah lahan tersebut, Yayasan IAR Indonesia (YIARI) baru-baru ini ngasih bantuan satu unit handtracktor buat empat kelompok tani di Desa Nusa Poring, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Karena alat ini baru dikenal masyarakat di sana, so waktu kami menyerahkan sumbangan pada Mei 2022, kami juga ngasih pelatihan perakitan, penggunaan, dan perawatan kepada empat kelompok tani. Kami juga bikinin jadwal penggunaan handtracktor supaya bisa dipakai bergantian di antara keempatnya, yaitu Kelompok Lacok Kerojo, Mamal Kerojo, Semangat Kerojo Samo, dan Belantong Beroto.
Bantuan ini baru awal aja nih Sob. Kami saat ini sedang melakukan pendampingan pertanian berkelanjutan sejak Februari tahun ini, tapi baru di satu dusun aja, yaitu di Dusun Sekujang di Desa Nusa Poring tadi. Nah, empat kelompok tani ini adanya di Dusun Sekujang ini. Masing-masing kelompok punya lahan satu hektar. Oya, kelompok-kelompok ini dibentuk dari inisiasi warga desa lho, tentu saja kami dampingi pembentukannya. Uniknya lagi, keempat kelompok ini diinisiasi oleh para ibu-ibu, yang kemudian menjabat sebagai ketua dan para pengurus di masing-masing kelompok. Nah kemudian barulah bapak-bapak di dusun itu pada ikutan. Keren kan! Rencananya nih, kami nggak cuma akan mengembangkannya di satu dusun. Ada total lima dusun di Nusa Poring, dan kami berharap bisa melakukan pendampingan ini ke semua dusun.
Para ibu sedang meyiapkan media tanam untuk pembibitan. Bersama-sama, mereka menginisiasi proyek pertanian berkelanjutan di Dusun Sekujang, Desa Nusa Poring (Muffidz Ma’sum | IAR Indonesia)
Lantas, apa sih yang kami ajarin ke mereka? Buat yang kepo, kami kenalkan nih kegiatan pertanian berkelanjutan yang menerapkan pola pertanian menetap. Sebelumnya, masyarakat masih mengandalkan sistem ladang berpindah yang berjarak cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Sering kali, karena jarak yang jauh, tanaman pertanian yang sudah ditanam tidak sempat dirawat dengan baik sehingga hasil panennya tidak maksimal. Sementara itu, lahan di sekitar pemukiman belum dimanfaatkan secara optimal untuk pertanian masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan di bidang pertanian mulai dari cara menanam, perawatan, sampai penanganan organisme pengganggu tanaman.
Kami juga mengenalkan teknologi pertanian seperti teknik membuat pupuk kompos, pupuk cair organik sampai pengenalan alsintan (alat dan mesin pertanian). Nggak lupa juga, kami memberikan alat-alat penunjang pertanian, seperti cangkul, pupuk, paranet, terpal, selang, dan lain-lain.
Para petani Desa Nusa Poring bergotong-royong membuat pupuk kompos. Pupuk kompos ini nantinya akan digunakan di lahan pertanian berkelanjutan mereka (Muffidz Ma’sum | IAR Indonesia)
Nggak muluk-muluk, kami berharap dengan bertani menetap ini, masyarakat setempat bisa menerapkan pertanian yang berkelanjutan dengan memanfaatkan lahan non-produktif di desa untuk budidaya tanaman sayur hutan atau tanaman sayur yang biasa mereka jual di pasar. Selain memaksimalkan lahan, kegiatan pertanian menetap ini diharapkan bisa mengurangi aktivitas pembukaan ladang untak ladang berpindah. Kegiatan ini juga dilakukan dengan melibatkan para pekerja kayu dan istri mereka untuk menjadi petani sayur.
Respon para kelompok tani ini seneng banget, Sob. Salah satunya Pak Andreas, salah satu anggota Mamal Kerojo. “Ya memang kami sudah jauh tertinggal. Kami punya lahannya, tetapi kami tidak paham mengolahnya. Kami bersyukur masih ada lembaga yang mau mengajarkan kami. Saya sendiri tertarik untuk berladang dan berkebun dengan menggunakan traktor ini untuk mengolah lahan. Karena kami bisa lebih cepat dan ringan kerjanya. Coba kalau pakai cangkul, lahan sebesar ini berbulan-bulan kita kerjakan.”
Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Tell Me If You Care
Of course I care, beb. Care ke kamu kan?
Aigoo… bukan. Kalau itu sih percaya. Ini nih, peduli ke orangutan. Soalnya ada acara spesialnya tuh…
Wah apaan tuh spesialnya? Hubungan kita?
Yaelah…kita mulu yak dibahas. Ini lho, ternyata tiap tahun tuh selalu ada acara Pekan Peduli Orangutan, yaitu satu minggu khusus yang diperingati untuk mempromosikan kesadaran dan mengedukasi masyarakat tentang orangutan, konservasi alam, dan kerusakan habitatnya.
Emang kapan peringatannya?
Tanggalnya beda-beda tiap tahun sih, tapi biasanya ada di minggu kedua November. Kalau tahun 2021 lalu, kebetulan peringatannya dari tanggal 7 hingga 13 November. Temanya tuh “Menghormati Alam untuk Menyelamatkan Orangutan, Keanekaragaman Hayati, dan Masa Depan Bersama Kita”. Oh iya, temanya bakal beda-bedan tiap tahun ya.
Anak-anak turut merayakan Pekan Peduli Orangutan Tahun 2021 ini (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Ada temanya?
Ada dong, temanya ini tuh lebih ke penyadartahuan kepada masyarakat bahwa manusia tidak bisa hidup sendirian dan harus berdampingan dengan makhluk lain. Kalau orangutan dan hutan sampai musnah, kita manusia juga akan susah buat bertahan hidup.
Oooh gitu ya. Pastinya IAR Indonesia bikin acara dong ya?
Pastinya! Jadi kami bikin acara lumayan banyak, sampe dua hari gitu. Tempatnya di Learning Centre Sir Michael Uren. Jadi selama dua hari, yaitu 12-13 November 2021, kita ngadain lomba teater, pameran, lomba foto aksi pelestarian orangutan dan habitatnya melalui twibbon, sampe pertunjukan tari. Kami sengaja bikin acaranya macem-macem dan melibatkan banyak orang, terutama anak-anak karena kami sadar, penyadartahuan ini memerlukan pendekatan yang melibatkan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan yang menarik, terutama bagi generasi muda supaya pesan-pesan tentang satwa dan lingkungan hidup ini tersampaikan secara efektif.
Ih setuju banget ini. Terus, lomba teaternya untuk umum gitu?
Oh iya, lomba teaternya ini ditujukan bagi anak-anak usia 7-13 tahun aja. Tujuannya sih biar lewat pertujukan teater, anak-anak bisa menyampaikan pesan melestarikan orangutan dan habitatnya kepada penonton. Selain itu, edukasi dan penyadartahuan tentang orangutan dan habitatnya dapat diketahui oleh peserta sejak dini.
Seru banget yaaa, ceritain dong acaranya gimana!
Ya seperti biasanya sih, di awal ada sambutan dari BKSDA Kalbar SKW I Ketapang, Dinas Pendidikan Ketapang, Direktur IAR Indonesia, lanjut penampilan Sape, alat musik tradisional Suku Dayak. Terus, di hari kedua, kami nampilin tarian dari kelompok Politeknik Negeri Ketapang (Politap) sama komunitas Zwageri Generation. Abi situ lanjut dengan penampilan teater dari UKM Seni Politap berjudul “Suaka Rimba”, penampilan sape, penampilan teater “Cupak dan Gantang”, Pencak Silat dari Sanggar Mustika Tanah Kayong, terus terakhir pengumuman lomba deh.
Langsung diumumnin hari itu juga hasil lombanya? Siapa yang menang? Ada hadiahnya gak? Kriterianya apa aja?
Eit, tanyanya satu-satu dong. Kriteria penilaian bagi kelompok teater ini tuh dilihat dari cerita, tema dan alur cerita sesuai atau enggak sama sinopsis yang udah kita kasi sebelumnya. Terus dilihat juga, di penampilan teater itu, mereka ngasi solusi apa atas permasalahan yang dihadapi orangutan dan habitatnya. Kalau dari hasil penjurian, juara pertama diraih Sanggar Mustika Tanah Kayong, juara kedua SDN 08 Benua Kayong, juara ketiga Sanggar Range Perangai, dan juara keempat adalah Pawan Social Sunday. Hadiahnya untuk juara satu Rp 12.500.000, juara dua Rp 8.000.000, juara tiga Rp 6.000.000 dan juara empat Rp 2.000.000.
Meriahnya pemberian hadiah oleh Manajer Program IAR Indonesia, Ibu Dokter Karmele kepada para pemenang lomba teater (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Katanya tadi ngelibatin masyarakat juga? Rame yang datang?
Banyak kok. Dari instansi pemerintah, ada perwakilan dari Dinas Pendidikan Ketapang, Dinas PerkimLH, Balai Taman Nasional Gunung Palung, Polres Ketapang, Bhayangkari Polres Ketapang, Kejaksaan Negeri Ketapang, Adhyaksa Dharma Karini Kejaksaan Negeri Ketapang, Kodim 1203 Ketapang, Koramil 1203-12/MHU, Persit KCK Cabang XLVII Kodim 1203 Ketapang, Persit Koramil Kota, Lanal Ketapang, Kecamatan Muara Pawan, dan Politap Ketapang. Dari masyarakat, ada perwakilan Yayasan WeBe, Yayasan Palung, Pongo Ranger Community. Dukungan kegiatan ini juga datang dari sejumlah mitra swasta, yaitu PT. MPK, PT. KAL, CUPS, CUPL, Bank Kalbar, PT. Gemilang Berlian Indah, PT. TMS, dan Syandi Band.
Anyone said anything?
Yes. Kepala Balai KSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta, bilang kalau peringatan berbagai hari satwa sedunia misalnya peduli gajah, harimau, orangutan merupakan pengingat bahwa manusia perlu berbagi ruang secara harmonis dengan satwa liar. Beliau juga bilang kalau di berbagai daerah telah ada bukti bahwa manusia bisa hidup berdampingan dengan satwa liar, misalnya di Lampung, manusia bisa berdampingan dengan gajah. Pak Sadtata nambahin juga kalau kerja keras konservasi ini tidak bisa dilakukan sendiri, tekanan terhadap upaya konservasi akan terus berubah sehingga kita perlu bersama-sama mengatur strategi pendekatan agar hubungan manusia dan satwa liar ini menjadi relavan. Juga berharap kegiatan hari itu dapat berjalan dengan lancar dan pesan-pesan konservasi dapat tersampaikan dan semoga semua pihak akan lebih mengerti peran dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya menjaga dan melindungi ekosistem agar tetap berkelanjutan.
Terus ada lagi dari Lilik Trianto, Kasi PAUD Dinas Pendidikan Ketapang sebagai perwakilan dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang. Pak Lilik bilang kalau pihaknya sangat menyambut baik acara ini dan mendorong IAR Indonesia dapat melaksanakan kegiatan lain seperti sosialisasi ke sekolah-sekolah, edukasi pembelajaran dari pendidikan formal maupun non formal. Dia juga menyampaikan bahwa Dinas Pendidikan siap memfasilitasi IAR Indonesia kalau ingin melaksanakan edukasi, pembelajaran, atau sosialisasi kepada kepala sekolah, supaya edukasi ini bisa dimulai sejak dini, seperti perlombaan untuk anak PAUD, pengenalan satwa melalui poster, menggambar, dan bercerita tentang orangutan.
Kalau dari IAR sendiri?
Kalau dari kami, Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez bilang kalau peserta lomba teater ini murni dari anak-anak yang merasa peduli dengan orangutan. Dia sangat mengapresiasi anak-anak ini yang berlatih selama berbulan-bulan mereka berlatih demi bisa tampil. Dia juga bilang kalau anak-anak banyak mengalami permasalahan dari perubahan iklim dan pandemi. Jadi kita sebagai orang dewasa harus bertanggungjawabkan kepada dunia ini agar jangan sampai anak-anak kita tidak bisa menikmati hutan dan orangutan.
Betul banget tuh! Semoga makin banyak ya orang peduli ama masa depan bumi ini. Like I care ke kamu gitu beb…
Deuh…mulai lagi deh.
Heribertus Suciadi
Kehilangan Rumah Habitatnya, Berat Ditranslokasi ke Hutan Sentap Kancang
Pasca kebakaran hutan dan lahan di daerah Ketapang, Kalimantan Barat, pekerjaan untuk memulihkan kembali kondisi kerusakan alam ini ternyata masih terus berlanjut. Terutama dalam hal menyelamatkan satwa-satwa yang kehilangan ruang hidupnya. Pekerjaan terbaru adalah menyelamatkan Berat, orangutan jantan berbobot lebih dari 80 kg. Pada akhir pekan lalu, tepatnya Jumat, 8 November 2019, tim Orangutan Protection Unit (OPU) dari IAR Indonesia menerima laporan warga tentang keberadaan orangutan ini di lahan konsesi sawit di Desa Mayak, Kecamatan Muara Pawan, Kalimantan Barat.
Menindaklanjuti laporan ini, tim OPU IAR Indonesia segera menuju lokasi dan menemukan keberadaan orangutan ini yang beraktivitas di tanah karena tidak ada lagi pohon tinggi. Kondisi hutan di sekitar kebun sawit itu sudah terbakar dan tidak ada lagi tempat hidup yang layak bagi orangutan ini sehingga ia memasuki lahan kebun dan memakan umbut-umbut sawit untuk bertahan hidup. Melihat kondisi di lokasi yang tak memungkinkan orangutan ini bisa melanjutkan hidup, tim OPU memutuskan untuk mentranslokasi orangutan ini yang kemudian dinama “Berat” ke hutan yang lebih baik. Kegiatan penyelamatan ini dilakukan bersama BKSDA Kalbar pada hari Minggu 10 November 2019.
Setelah menjalani proses pemeriksaan medis oleh tim dokter IAR Indonesia, Berat yang diperkirakan berusia lebih dari 20 tahun, kemudian ditranslokasi ke hutan Sentap Kancang, yang dinilai lebih sesuai sebagai habitat barunya karena hutan tersebut masih menyediakan pepohonan dan tanaman yang cukup sebagai pakannya. Selain itu kepadatan populasi orangutan di hutan ini belum terlalu tinggi sehingga ia masih memiliki ruang hidup yang sesuai bagi karakter orangutan sebagai satwa yang soliter.
Sebelumnya, hanya dalam jangka waktu 2 bulan, IAR Indonesia telah menyelamatkan 6 individu orangutan korban kebakaran di Ketapang. “Berat adalah korban kebakaran 2019 yang ke 7 hanya di areal sekitar ketapang saja. Ancaman kebakaran sudah menjadi ancaman terbesar bagi kehidupan orangutan dan juga menjadi salah satu faktor terbesar yang mendorong efek rumah kaca dan perubahan iklim,” ujar Karmele L. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia. “Selain kerugian lingkungan kita harus memperhitungkan Kerugian ekonomi bagi pemerintah, bagi masyarakat dan bagi seluruh dunia akibat kebakaran juga karena kebakaran adalah permasalahan kita Bersama,” tambahnya.
Penyelamatan dan translokasi Berat ini memperlihatkan bahwa bencana kebakaran hutan dan lahan sejak pertengahan tahun ini, memerlukan kerja sama semua pihak dalam memulihkan kembali kondisi hutan. Kesadaran warga yang semakin meningkat terhadap penyelamatan satwa juga turut mendukung pekerjaan-pekerjaan petugas penyelamat satwa di lapangan, dengan cara segera melaporkan keberadaan satwa dilindungi yang kehilangan hutan sebagai rumah hidupnya. Namun yang terutama, ke depannya, upaya masyarakat juga sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kembali kebakaran hutan dan lahan serta praktik-praktik yang merusak ekosistem dan keseimbangan alam.
Dengan Satu Mata, Junai Melanjutkan Hidup di Gunung Tarak
Ketapang, Kalbar – Junai, orangutan liar jantan dewasa berusia lebih dari 20 tahun, akhirnya dinyatakan mampu untuk kembali dilepaskan di hutan, setelah sebelumnya, ia diselamatkan dalam kondisi mata kiri mengalami kebutaan. Saat diselamatkan di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang pada 20 September lalu, Junai dalam kondisi memprihatinkan. Tubuhnya kurus dan mata kiri buta yang setelah diperiksa oleh tim medis, ternyata ditemukan dua butir peluru di dalam tengkorak tepat di belakang bola matanya. Sungguh suatu mukjizat ia bisa bertahan hidup dengan kondisi tersebut.
Setelah sebulan menjalani masa pemulihan di IAR Indonesia yang memiliki fasilitas perawatan bagi satwa liar terutama orangutan, Junai dinilai siap untuk kembali hidup di habitat alaminya. Kedua peluru di belakang mata kirinya diputuskan tak diambil dengan pertimbangan bahwa operasi yang akan dilakukan sangat berisiko mengancam keselamatannya.
Gunung Tarak yang berada tidak jauh dari kawasan Taman Nasional Gunung Palung pun akhirnya dipilih sebagai lokasi pelepasliarannya. Di kawasan hutan lindung gunung ini, IAR Indonesia bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Ketapang Selatan, dan Balai Taman Nasional Gunung Palung melepaskan Junai pada Senin, 11 November 2019.
Kegiatan pelepasan ini menempuh waktu sekitar 12 jam menggunakan kendaraan mobil dan menempuh perjalanan kaki menuju titik pelepasan. Pelepasliaran di Gunung Tarak ini merupakan kali pertama sejak terakhir kali melepasliarkan orangutan bersama BKSDA Kalbar dan KPH Ketapang Selatan pada 2017. Total sudah 15 orangutan dilepaskan di kawasan ini sejak tahun 2014.
Untuk memastikan kondisi Junai terus selamat dan mampu melanjutkan hidupnya, IAR Indonesia menempatkan tim patroli dan monitoring yang telah berada di sana sebagai bagian dari prosedur yang ditetapkan IAR Indonesia dalam program pelepasliaran orangutan.
Meskipun salah satu matanya mengalami kebutaan, tim pelepasan yakin bahwa hal tersebut tidak akan mengurangi kemampuannya untuk bertahan hidup selayaknya orangutan. Orangutan dikenal sebagai satwa cerdas dengan tingkat kemampuan adaptasi yang tinggi.
“Sebelumnya kami pernah juga melepaskan orangutan yang satu kakinya lumpuh akibat peluru pada tahun 2016 di HL Gunung Tarak, orangutan ini kami pantau setiap hari selama beberapa bulan dan terbukti bahwa orangutan ini mampu bertahan hidup dengan normal walaupun salah satu kakinya lumpuh akibat ada belasan peluru yang beberapa di antaranya mengenai saraf tulang belakangnya,” ujar Argitoe Ranting, Manager Survey, Release, dan Monitoring IAR Indonesia. “Kehilangan satu matanya tidak akan berpengaruh banyak dalam kemampuan bertahan hidupnya karena kemampuan adaptasi orangutan cukup bagus di alam liar. Kami yakin Junai akan baik-baik saja dan senang dengan rumah barunya ini,”tambahnya lagi.
Pernyataan Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez,
Orangutan Junai ini adalah salah satu korban kebakaran hutan dan lahan pada bulan kemarin. Kita sangat sedih melihat areal yang telah terbakar di sekitar kawasan hutan yang menjadi habitat orangutan Junai. Orangutan yang terpaksa kehilangan habitat tidak jarang masuk di areal kebun warga atau areal kampung, dimana kadang ada juga masyarakat yang sangat tidak bertanggung jawab yang hanya ingin ‘bermain-main’ dengan menyakiti orangutan dengan menembak peluru pada matanya. Jika peluru sampai kena kedua matanya, orangutannya bisa menjadi cacat untuk selamanya dan kesulitan untuk melanjutkan hidupnya. Kami sangat yakin bahwa sebagian dari masyarakat di ketapang, dan di seluruh Kalimantan tidak menyetujui dengan cara tersebut”
Pernyataan Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor, S.Hut., M.T.
Sebagai penggiat konservasi, kita mempunya satu pekerjaan rumah, yakni membangun pola pikir masyarakat untuk lebih peduli pada hutan, ekosistem dan satwa liar. Kerja-kerja konservasi sudah banyak dilakukan, tapi penganiayaan terhadap satwa liar masih saja terus berlangsung. Penyelamatan satwa liar sudah sering dilakukan, namun itu tidak akan pernah cukup selama kita tidak mampu merubah mindset masyarakat dan generasi muda untuk lebih ramah pada satwa liar.
Pernyataan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kehutanan Kalimatan Barat, Untad Dharmawan
Pelepasliaran satwa liar ke habitat aslinya pada dasarnya bertujuan untuk menjaga keseimbangan ekologis pada suatu ekosistem dalam hal ini adalah ekosistem hutan. Karena masing-masing dari setiap komponen yang ada dalam kesatuan ekosistem tersebut pada dasarnya memiliki peran dan relung ekologisnya masing2-masing sehingga akan tercipta suatu keseimbangan yang saling tergantung antara satu dengan yang lainnya.
Orangutan sebagai salah satu dari satwa langka yang dilindungi adalah merupakan Satwa khas bumi Kalimantan yang saat ini kehidupannya “terancam punah” akibat berbagai macam tekanan terhadap keberadaan hutan sebagai habitat kehidupan Orangutan. Tekanan berupa deforestasi, desertifikasi, overeksploitasi hutan, kebakaran hutan dan ditambah lagi perburuan liar semakin mengancam keberadaan orangutan itu sendiri.
Upaya yang telah dilakuan oleh Lembaga IAR indonesia selama ini dengan terus berupaya menyelamatkan, merawat, merehabilitasi dan melepasliarkan orangutan ke habitatnya patut kita apresiasi. Selain ini merupakan langkah upaya kita untuk menjaga dan melestarikan fungsi hutan, juga ini merupakan upaya sadar kita untuk “memanusiakan manusia” sebagai khalifah dimuka bumi.
Nasib Orangutan Di Ujung Peluru
Minggu siang itu, 22 September 2019, sejumlah dokter hewan dan paramedis IAR Indonesia tampak sibuk. Di atas meja operasi, orangutan bernama Arang terbaring dalam pengaruh obat bius. Arang adalah orangutan betina yang diselamatkan oleh IAR Indonesia dan BKSDA pada 19 September 2019 di lahan bekas terbakar di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang.
Drh. Joost, medical advisor IAR Indonesia tampak berkonsentrasi penuh dengan pisau bedahnya. Pelan tapi pasti, pisau bedah itu menyayat kulit di pangkal hidung Arang. Darah segar mengalir keluar. Setelah darah dibersihkan, terlihat sebutir peluru bersarang di dalamnya. Dengan bantuan sebatang pinset, drh Joost mengambil peluru itu.Pekerjaan belum tuntas. Ketika dilakukan lagi foto rontgen, diketahui ada peluru lain yang bersarang di bawah mata kirinya. Prosedur operasi pun dilakukan lagi untuk mengeluarkan peluru tersebut.
Kasus peluru yang ditemukan pada Arang bukanlah kasus pertama di IAR Indonesia. Sebelumnya ada delapan orangutan yang didapati mempunyai peluru di dalam tubuhnya. Total ada puluhan peluru yang bersarang di dalam tubuh para orangutan ini. Sebagian tidak bisa diambil karena pengambilan peluru akan berisiko untuk keselamatan nyawanya.
Drh. Claudia Hartley dan drh. Karmele memeriksa kondisi mata Dio yang terkena peluru
Pada 2009, orangutan bernama Ricky mati dengan dua peluru di tangan dan satu peluru di dekat ginjalnya. Kemudian pada 2014, orangutan bernama Dio diselamatkan dengan satu mata buta. Ketika diperiksa, terdapat sebutir peluru di bola matanya. Matanya membusuk dan mengalami infeksi akibat peluru ini hingga akhirnya tim medis IAR Indonesia memutuskkan untuk mengangkat bola matanya. Dibantu oleh seorang Ophthalmologist dari Inggris, Claudia Hartley, operasi pengangkatan mata ini berhasil dilakukan.
Kekejaman luar bisa terhadap satwa ini tidak pernah berhenti. Pada akhir 2015, kami menyelamatkan orangutan yang satu kakinya mengalami kelumpuham. Setelah dilakukan pemeriksaan dengan sinar X, baru diketahui bahwa orangutan yang diberi nama Jambu ini juga merupakan korban senapan angin. Di tubuhnya terdapat belasan peluru dan sebagian bersarang di tulang belakangnya. Peluru ini ditengarai mengenai salah satu bagian sarafnya dan menyebabkan kelumpuhan.
Tim medis memonitoring Didik sebelum melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru dari bahunya
Masih ada lagi kasus Didik, di mana bayi orangutan malang ini harus menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru di bahu kirinya. Beruntung Didik tidak mengalami luka parah akibat peluru ini. Peluru di bahunya relatif mudah dikeluarkan. Kasus senapan angin yang lebih parah menimpa Reva. Di tubuhnya ada enam peluru yang tersebar di beberapa area tubuhnya, bahkan tulang jarinya patah akibat terjangan peluru. Selain itu masih ada Zola dan Ami yang masing-masing mempunyai satu peluru di badannya.
Penggunaan senapan angin untuk berburu menjadi momok bagi kehidupan satwa liar. Banyak komunitas maupun pemburu perorangan menjadikan satwa liar sebagai sasaran tembak, bahkan satwa yang dilindungi undang-undang pun tidak luput dari terjangan peluru mereka. Padahal peraturan tentang penggunaan senapan angin sudah tertera cukup jelas dalam Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia nomor 8 tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olahraga. Dalam Pasal 4 ayat (1) dan (3), senapan angin (air rifle) termasuk ke dalam senjata api olahraga yang pemakaiannya hanya digunakan untuk menembak sasaran atau target. Sedangkan dalam pasal 5 ayat (3), senapan angin (air rifle) hanya dilakukan di lokasi pertandingan dan latihan.
Sayangnya, kasus perburuan satwa liar dengan senapan angin masih terus terjadi. Selain sosialisasi dan penegakan hukum yang lemah, pemasaran senapan angin secara bebas di pasaran turut mendukung penggunaan senapan angin secara sembarangan. Kasus-kasus penembakan terus terjadi, mulai dari yang terpublikasikan dan ditangani oleh petugas terkait, sampai pada kasus yang tidak terpublikasikan sama sekali. Disinyalir, satwa yang menjadi korban jauh lebih banyak yang tidak terpantau dan terpublikasi.
Sosialisasi dari pemegang peraturan, baik dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kepolisian Republik Indonesia ataupun Perbakin sebagai pusat komunitas tembak di Indonesia seharusnya dilakukan secara berkala dan tegas agar masyarakat makin menyadari penyalahgunaan senapan angin yang menjadikan satwa sebagai sasaran, harus ditindak secara hukum yang tegas.
Heribertus Suciadi
Kisah Empat Individu Orangutan yang Terselamatkan dari Api
Dalam kisah Ramayana, terdapat satu episode yang mengisahkan tentang kera putih Anoman, yang tetap hidup dari kobaran api yang melalap Kerajaan Alengka. Babak yang dikenal dengan judul “Anoman Obong” ini menjadi sebuah paradoks atas nasib sejumlah orangtuan dan satwa yang terperangkap karhutla yang berlangsung di sejumlah wilayah di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir ini. Mereka tentu saja tidak memiliki kesaktian seperti halnya Anoman. Yang bisa mereka lakukan adalah menunggu nasib untuk menentukan apakah mereka terselamatkan atau tidak.
Untuk inilah, IAR Indonesia meningkatkan patroli di kawasan hutan dan lahan, terutama yang mengalami dan terdampak kebakaran. Dari patroli inilah, pada 16 September lalu, salah satu staf IAR menemukan dua individu orangutan yang berada di atas pohon di tengah lahan yang sudah terbakar, di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang. Melihat kondisi hutan di sekitar orangutan tersebut yang sudah habis terbakar, IAR Indonesia bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, memutuskan untuk segera mengevakuasi dua individu ini. Tim penyelamat segera bergerak cepat dan dalam tempo kurang dari satu jam, kedua orangutan itu sudah terbius dan segera diamankan di dalam kandang transportasi. Ketika diselamatkan, kondisi kedua orangutan ini mengalami dehidrasi, bahkan ditemukan juga peluru senapan angin di muka salah satu orangutan ini.
Kedua orangutan ini terdiri dari satu orangutan jantan yang diberi nama Bara dan satu individu orangutan betina yang diberi nama Arang. Keduanya diperkirakan berusia sekitar 20 tahun. Baik Bara dan Arang kemudian dirawat dan dipulihkan kondisinya di pusat rehabilitasi satwa IAR Indonesia-Ketapang.
Tak lebih dari sepekan kemudian, IAR Indonesia kembali mendapatkan kabar tentang individu orangutan yang terancam kelangsungan hidupnya karena habitatnya terlalap habis oleh api. Bersama BKSDA Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) 1 Ketapang, tim gabungan ini berhasil menyelamatkan satu individu orangutan di kebun karet milik warga di Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, pada Sabtu (21/9). Orangutan yang diberi nama Jerit ini berjenis kelamin jantan dan diperkirakan berusia 7 tahun.
Penyelamatan Orangutan Korban Kebakaran
Saat diselamatkan, Jerit dalam kondisi sangat kurus, dehidrasi, dan terdapat luka membusuk yang melingkar di kaki kanannya akibat lilitan tali jerat. Melihat kondisinya yang semacam ini, ia kemudian menjalani perawatan oleh tim medis IAR Indonesia untuk memastikan kondisi kesehatannya sudah pulih total sebelum ia bisa dilepas kembali ke alam.
Keberadaan Jerit di wilayah tersebut sebelumnya sudah pernah dilaporkan oleh pemilik kebun karet. Berkat kerja sama yang baik antara petani dan masyarakat di areal lanskap Gunung Palung dan Sungai Putri, maka keberadaan Jerit tidak dianggap sebagai konflik. Tetapi karena hutan di sekitar kebun sudah terbakar semua, kita tidak ada alternatif, dan orangutan ini harus ditangkap dan ditranslokasi ke hutan yang aman,” ujar Argitoe Ranting, Manager Lapangan IAR Indonesia.
Di daerah Kuala Satong, Ketapang, yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Palung, dulunya merupakan wilayah hutan dan habitat orangutan. Akibat pembukaan lahan yang dikonversi menjadi sawit dan dengan adanya kebakaran hutan, habitat orangutan semakin mengecil. Kebakaran hutan di daerah Kuala Satong sangat luas dan menyebar. Kebakaran habitat yang luas inilah yang mendorong orangutan masuk ke kebun warga dan menimbulkan konflik manusia-orangutan. Karena itulah, meskipun tindakan penyelamatan ini adalah opsi terakhir, hal ini harus dilakukan untuk mencegah kerugian baik dari sisi manusia maupun satwa liar.
Translokasi Orangutan ke Taman Nasional Gunung Palung
Ketiga individu orangutan ini – Arang, Bara, dan Jerit – pada Jumat, 27 September lalu ditranslokasi ke Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), yang berdasarkan hasil survei, tingkat keanekaragaman pakan orangutan di dalam kasawan tersebut cukup tinggi dan status kawasannya sebagai Taman Nasional akan lebih menjamin kesalamatan orangutan dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kegiatan translokasi ini melibatkan tim gabungan Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), Balai Konservasi Sumber Daya Alam Barat (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi (SKW) I Ketapang Resort Sukadana dan IAR Indonesia.
Hanya sehari berselang setelah translokasi itu, IAR Indonesia dan BKSDA Kalbar kembali menyelamatkan 1 individu orangutan jantan liar dan diperkirakan berusia 20 tahun di Desa Tanjungura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Sabtu, 28 Desember 2019. Orangutan yang diberi nama Junai ini dievakuasi lantaran sering masuk ke kebun warga untuk mencari makan.
Orangutan Junai di Desa Tanjungpura, Ketapang
Kegiatan penyelamatan orangutan di Tanjung Pura ini berawal dari laporan masyarakat kepada Tim Mitra di Desa Tanjungpura. Menindaklanjuti laporan ini, tim Orangutan Protection Unit (OPU) IAR Indonesia melakukan verifikasi pada hari Selasa (24/9). Orangutan jantan dewasa berada di sepetak hutan yang telah terfragmentasi karena sebagian sudah terbakar. Karena dari hasil pengamatan Tim OPU serta analisis vegetasi dan pemetaan melalui drone yang dilakukan oleh tim OPU dinyatakan bahwa orangutan ini tidak bisa digiring kembali ke habitatnya karena hutan yang ada sudah terfragmentasi akibat kebakaran sehingga ditranslokasi terpaksa dilakukan sebagai satu-satunya jalan untuk menyelamatkannya.
Pada saat dilakukan pemeriksaan medis, diketahui bahwa mata kanan orangutan ini mengalami kebutaan. Saat ini Junai sudah berada di dalam penanganan tim medis IAR Indonesia. Mereka melakukan perawatan dan pengobatan yang diperlukan dan akan memastikan kondisi kesehatannya sudah pulih total sebelum orangutan ini dilepas kembali ke alam.
Penyelamatan orangutan di tengah lahan yang terbakar ini menjadi bukti nyata bahwa kebakaran hutan dalam lahan dalam skala sebesar ini turut mengancam eksistensi keanekaragaman hayati termasuk orangutan. Orangutan yang selama ini sudah menghadapi ancaman perburuan dan pembukaan lahan, sekarang harus juga menghadapi ancaman kebakaran.
Kebakaran Hutan dn Lahan di Kabupaten Ketapang
Ketua Yayasan IAR Indonesia, Tantyo Bangun mengatakan bahwa penyelamatan kali ini hanya permulaan. “Berdasarkan pengalaman kami pada kasus kebakaran hutan pada 2015, efek kebakaran ini akan terasa bahkan sampai satu tahun pasca kebakaran. Akan banyak sekali orangutan yang kehilangan rumahnya akibat kebakaran ini. Hal ini akan memicu gelombang besar penyelamatan orangutan. Pada 2015, Kementerian LHK dan Yayasan IAR Indonesia menyelamatkan lebih dari 40 orangutan. Kementerian LHK dan Yayasan IAR Indonesia serta pusat penyelamatan orangutan lainnya bisa kewalahan menghadapi gelombang ini dan kalau hal ini terus terjadi, efeknya akan panjang dan tingkat kerentanan orangutan terhadap kepunahan akan semakin besar,” ujar Tantyo.
Karmele Llano Sanchez, Direktur IAR Indonesia menambahkan bahwa kini saatnya untuk secara serius setiap komponen masyarakat dan pemerintah, mengatasi masalah kebakaran, yang bukan hanya mengancam manusia dengan menimbulkan penyakit dan mengganggu aktivitas anak-anak yang tidak bisa bersekolah karena bahaya dari asapnya, tetapi juga kebakaran hutan dan lahan ini menjadi ancaman orangutan paling utama di Kalimantan Barat. “Jika kita tidak ada upaya untuk mengatasi permasalahan ini, maka populasi orangutan akan semakin terancam. Sudah hampir dua bulan ini tim kami bekerja keras 24 jam tanpa istirahat untuk mengamankan tempat rehabilitasi dari kebakaran, tetapi pekerjaan untuk menyelamatkan semua orangutan yang terancam akibat kebakaran baru aja mulai. Dengan kerjasama tim dari TANAGUPA, BKSDA Kalbar dan Yayasan IAR Indonesia kondisi lebih buruk kedua orangutan ini dapat dihindari,” ujarnya.
Penyelamatan orangutan yang hanya berselang kurang dari satu minggu ini memperlihatkan eskalasi yang cukup tinggi atas karhutla di tahun ini. “Kebakaran hutan ini adalah satu bukti nyata tentang krisis mengenai perubahan iklim dan kepunahan massal di seluruh dunia. Dalam habitat orangutan yang terbakar, ada jutaan jenis satwa dan tumbuhan yang tidak bisa diselamatkan. Kita sedang dalam krisis dan kita semua tergantung pada bagaimana negara-negara di seluruh dunia dan kita semua mengambil sikap dalam menghadapi masalah ini dan menemukan soluisnya. Pemerintah dari seluruh dunia harus bergerak mulai dari sekarang sebelum semuanya terlambat untuk mengatasi masalah ini,” ujar Karmele.