11 Fakta Unik Badak Sumatera, Badak Paling Kecil di Dunia!
Di antara semua spesies badak yang masih hidup, ternyata ada satu yang ukurannya paling kecil, lho! Namanya badak sumatera, dengan nama latin Dicerorhinus sumatrensis.
Meski tubuhnya paling mungil, badak ini punya banyak keunikan yang membedakannya dari jenis badak lainnya.
Yuk, kenalan lebih dekat lewat fakta-fakta menarik tentang badak sumatera!
11 Fakta Badak Sumatra
Sebagai salah satu satwa paling langka di dunia, badak sumatera menyimpan banyak keunikan yang jarang diketahui:
1. Satu-satunya Badak yang Berbulu
Badak sumatera merupakan satu-satunya spesies badak yang memiliki bulu.
Kulitnya berwarna cokelat kemerahan dengan bulu pendek, gelap, dan kaku. Pada individu yang hidup di penangkaran, bulu cenderung lebih lebat dan panjang karena minim gesekan dengan tumbuhan.
Fungsi bulu ini sangat penting, yakni membantu menjaga lumpur tetap menempel di kulit. Lumpur berperan untuk mendinginkan tubuh sekaligus melindungi dari gigitan serangga.
Karakteristik berbulu ini membuat badak sumatera lebih erat kaitannya dengan spesies badak berbulu yang sudah punah, dibandingkan dengan spesies badak lain yang masih hidup hingga kini.
2. Punya Dua Cula
Badak sumatera memiliki dua cula berwarna abu-abu gelap hingga hitam. Cula ini berbentuk kerucut ramping, melengkung ke belakang, dan permukaannya relatif halus.
Cula depan berukuran lebih besar, dengan panjang sekitar 25–79 sentimeter. Sementara itu, cula kedua jauh lebih kecil, rata-rata hanya sekitar 10 sentimeter, bahkan kadang hanya berupa benjolan tidak beraturan di ujung hidung.
Seperti halnya rambut dan kuku manusia, cula badak sumatera tersusun dari keratin. Artinya, jika patah, cula tersebut mampu tumbuh kembali.
Baca juga: Mengenal Burung Cendrawasih: Definisi, Jenis, Habitat, Ancaman, dan Upaya Pelestarian
3. Tinggal di Hutan Tropis yang Sulit Dijangkau
Habitat badak sumatera berada di hutan hujan tropis yang lebat, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.
Hutan ini menyediakan tempat hidup ideal, dengan medan berbukit dan pegunungan yang sesuai untuk gaya hidup spesies ini.
Dahulu, badak sumatera dapat ditemukan di seluruh Asia Tenggara, terutama di hutan pegunungan lebat di Malaysia, Indonesia, Myanmar, dan Thailand, serta di kaki Pegunungan Himalaya di Bhutan.
Namun, populasinya menurun drastis. Kini badak sumatera hanya bertahan di beberapa kawasan di Indonesia, seperti Taman Nasional Bukit Barisan, Gunung Leuser, dan Way Kambas. Sebuah populasi kecil juga baru-baru ini ditemukan di Kalimantan Tengah.
4. Mengalami Krisis Populasi
Saat ini, populasi badak sumatera diperkirakan hanya tersisa 39–47 ekor di alam liar. Jumlah yang sangat sedikit ini membuatnya masuk dalam kategori sangat terancam punah (Critically Endangered) menurut IUCN sejak 1996.
Penurunan populasi ini dipicu oleh perburuan liar, kerusakan habitat, serta meningkatnya aktivitas manusia di sekitar kawasan hutan.
Sebagai langkah pelestarian, pemerintah mendirikan Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) di Taman Nasional Way Kambas pada tahun 1998.
Berdiri di atas lahan seluas 100 hektare, SRS kini menjadi rumah bagi tujuh ekor badak, termasuk dua anak badak sumatera yang lahir di sana: Andatu (2012) dan Delilah (2016).
5. Ukuran Tubuh yang Kecil

Badak sumatera merupakan spesies badak terkecil di dunia. Berat tubuhnya berkisar antara 500–960 kilogram, dengan tinggi sekitar 1–1,5 meter dan panjang tubuh mencapai 2,5 meter. Tinggi bahunya umumnya berada di kisaran 1,2–1,45 meter.
Ukuran tubuh yang relatif kecil ini membuat badak sumatera lebih lincah saat bergerak di hutan hujan tropis yang lebat dan berbukit. Hal ini menjadi salah satu keunggulan adaptif dibandingkan dengan spesies badak lain.
6. Gemar Mandi Lumpur
Di siang hari, badak sumatera menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berendam di kubangan lumpur.
Aktivitas ini bermanfaat untuk mengatur suhu tubuh, mencegah kulit mengering, serta menghilangkan ektoparasit (parasit yang hidup di permukaan tubuh) dan serangga pengisap darah.
Ketika sulit menemukan kubangan lumpur, terutama di daerah pegunungan, mereka dapat menggunakan kubangan yang sama berulang kali dalam jangka waktu yang lama.
Lama-kelamaan, lubang ini menjadi ciri khas karena bisa terbentuk sampai beberapa meter ke dalam lereng.
7. Penyendiri dan Pemalu

Badak sumatera adalah hewan penyendiri yang dikenal tidak agresif. Mereka cenderung memilih melarikan diri ketika menghadapi ancaman, daripada bertarung langsung.
Hal ini juga terlihat dari tidak adanya indikasi perebutan wilayah melalui pertarungan, meskipun wilayah jelajah badak sumatera kerap tumpang tindih.
Meski begitu, mereka tetap menandai wilayahnya di sepanjang jalur utama dengan urin, kotoran, goresan, serta batang pohon yang dipelintir.
Badak sumatera jantan memiliki wilayah jelajah yang luas, mencapai sekitar 50 kilometer persegi, sedangkan betina memiliki wilayah jelajah yang lebih kecil, sekitar 10–15 kilometer persegi.
Baca juga: Anoa Sulawesi: Karakteristik, Habitat, Ancaman, dan Upaya Konservasi
8. Pola Makan dan Makanan Favorit
Badak sumatera adalah hewan herbivora yang mengonsumsi berbagai jenis tumbuhan, mulai dari daun, ranting, semak, hingga buah-buahan. Beberapa makanan favoritnya meliputi:
- Buah ara
- Bambu
- Mangga liar
Dalam sehari, mereka dapat mengonsumsi sekitar 50–60 kilogram tumbuhan, yang setara dengan hampir sepuluh persen dari berat tubuhnya.
Saat mencari makan, badak sumatera menyantap berbagai bagian tumbuhan. Mereka memakan ujung tanaman yang tumbuh di lantai hutan, mengunyah daun dari pohon muda yang dipatahkan untuk mencapai pucuknya, serta menarik tanaman merambat dari batang pohon.
Biasanya, mereka mencari makan di area yang subur dengan vegetasi sekunder, seperti lokasi bekas longsor, pohon tumbang, atau di sepanjang tepi sungai.
9. Cara Komunikasi dan Jejak Pergerakan
Badak sumatera berkomunikasi dengan berbagai suara, seperti siulan dan keluhan. Mereka juga meninggalkan tanda aroma untuk menandai wilayah sekaligus berkomunikasi dengan badak lain.
Misalnya, ketika menemukan tumpukan kotoran, badak sumatera biasanya menaruh tumpukan baru di dekatnya. Setelah itu, mereka menggaruk kaki belakang di tumpukan tersebut dan menendangnya ke semak-semak. Tindakan ini diduga bertujuan untuk menandai jejak kaki dan area sekitar dengan aroma khas.
Selain itu, badak sumatera sering menggunakan jaringan jalur satwa di sepanjang punggungan utama dan tepian sungai untuk berpindah dari satu area ke area lain, seperti tempat makan, kubangan garam, atau saat melakukan migrasi musiman. Jalur-jalur ini biasanya terbuka dan mudah terlihat karena juga dilalui hewan besar lain, terutama gajah.
10. Pentingnya Punya Kubangan Garam

Salah satu cara badak sumatera menjaga kesehatannya adalah dengan menyerap mineral penting melalui kubangan garam.
Kubangan ini biasanya terbentuk di sekitar mata air panas kecil, rembesan air mineral, atau yang dikenal sebagai “gunung lumpur.”
Setiap individu badak umumnya memiliki kubangan favorit yang dikunjungi setiap satu hingga dua bulan, dan lebih sering jika betina sedang bersama anaknya.
Selain sebagai sumber mineral, kubangan garam juga berfungsi sebagai titik temu sosial. Di tempat ini, badak jantan dapat mengenali jejak aroma betina yang sedang dalam masa birahi.
11. Lambat dalam Bereproduksi
Umur hidup badak sumatera berkisar antara 35–40 tahun. Mereka memiliki masa kehamilan yang cukup panjang, sekitar 15–16 bulan. Di alam liar, badak betina biasanya hanya melahirkan satu anak setiap 4–5 tahun.
Lambatnya proses reproduksi ini juga dipengaruhi oleh usia kematangan seksual. Badak betina baru siap berkembang biak pada usia sekitar 4 tahun, sedangkan jantan mulai aktif secara seksual pada usia 7 tahun.
Menjaga Harapan untuk Badak Sumatera
Badak sumatera adalah salah satu satwa paling langka di dunia. Sayangnya, mereka harus berjuang menghadapi berbagai ancaman, mulai dari hilangnya hutan tempat tinggal hingga sulitnya berkembang biak.
Meski begitu, harapan belum hilang. Program konservasi seperti Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) dan perlindungan di taman nasional sudah mulai menunjukkan hasil. Lahirnya anak-anak badak di penangkaran jadi tanda bahwa masa depan mereka masih bisa diselamatkan.
Kita semua bisa ikut ambil bagian, sekecil apa pun langkahnya. Dengan lebih peduli pada lingkungan dan mendukung upaya konservasi, kita membantu memastikan badak sumatera tetap ada untuk generasi mendatang!
Referensi:
- International Fund for Animal Welfare (IFAW) – Sumatran Rhinos[Buka]
- National Geographic – Sumatran Rhinoceros Facts.[Buka]
- International Rhino Foundation – Sumatran Rhino. [Buka]
- Save Sumatran Rhinos – Official Campaign to Save the Sumatran Rhino. [Buka]
- Save the Rhino International – Sumatran Rhino. [Buka]
- World Wildlife Fund (WWF) – Sumatran Rhino. [Buka]
- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) – Sanctuary Badak Sumatera di Taman Nasional Way Kambas. [Buka]
- Featured image: Badak sumatera yang sedang mengasuh satu anaknya/Source:KSDAE


