Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Bekantan: Upaya Pelestarian Ikon Fauna Kalimantan yang Terancam

Hai, sobat #KonservasYIARI!

Bekantan atau Nasalis larvatus adalah primata unik dengan hidung menonjol dan wajah mencolok, menjadikannya daya tarik bagi banyak orang.

Sebagai hewan endemik di Pulau Kalimantan, sangat disayangkan habitat alami dan populasi bekantan semakin terancam oleh berbagai faktor.

Bekantan sendiri memiliki banyak nama, seperti long-nosed monkey, proboscis monkey, kera bekantan, dan bangkatan. Penduduk lokal pun menyebutnya dengan berbagai nama seperti kera belanda, pika, bahara bentangan, raseng, dan kahau.

Dalam artikel ini, kita akan mengenal lebih dekat kehidupan bekantan, serta langkah-langkah konservasi yang dapat diambil untuk memastikan kelangsungan hidup mereka di alam liar. Yuk, simak bersama!

Perbedaan jenis bekantan jantan (kiri) dan betina (kanan) ada pada hidungnya

Ciri-ciri Bekantan

Bekantan atau proboscis monkey dikenal dengan beberapa ciri khas yang membedakannya dari primata lainnya. Berikut beberapa ciri bekantan:

  • Hidung besar dan panjang: ciri paling mencolok dari bekantan adalah hidungnya yang besar dan panjang, terutama pada jantan. Hidung ini bisa menjadi sangat besar dan bisa menggantung melebihi mulut. Fungsinya belum sepenuhnya dipahami, tetapi diyakini terkait dengan penarikan pasangan atau sebagai resonator suara yang memperkuat vokalisasi mereka.
  • Warna bulu: bekantan memiliki bulu berwarna agak kemerahan dengan bagian bawah tubuh lebih pucat. Bulu di sekitar wajah dan leher biasanya berwarna krem atau putih, sementara ekornya panjang dan sering kali berujung hitam, yang membantu mereka dalam keseimbangan saat bergerak di atas pohon.
  • Ukuran dan bentuk tubuh: jantan dewasa bisa mencapai berat sampai 24 kg dengan panjang tubuh sekitar 75 cm, belum termasuk ekor yang bisa sepanjang 60 cm. Betina secara signifikan lebih kecil dan memiliki hidung lebih pendek, kurang mencolok dibandingkan dengan jantan.
  • Tangan dan kaki: bekantan memiliki tangan dan kaki yang kuat dan fleksibel, memudahkan mereka memanjat dan berayun di antara cabang-cabang pohon. Kaki belakang mereka lebih panjang dari kaki depan, membantu mereka melompat jarak jauh.
  • Adaptasi perairan: selain keterampilan memanjat yang sangat baik, bekantan juga adalah perenang handal. Mereka memiliki kemampuan unik untuk berenang, yang tidak umum bagi banyak primata. Hal ini membantu bekantan mengakses makanan dan melarikan diri dari predator, dengan melintasi sungai atau kanal di habitat hutan rawa.
  • Ekspresi wajah: bekantan memiliki ekspresi wajah sangat ekspresif yang digunakan untuk berkomunikasi satu sama lain. Ekspresi ini termasuk menunjukkan gigi, mengernyitkan dahi, dan mengangguk, yang semuanya memainkan peran penting dalam interaksi sosial mereka.

Deskripsi Perilaku Bekantan

Inilah deskripsi mendalam tentang perilaku bekantan:

1. Struktur sosial

Bekantan punya struktur sosial yang unik. Mereka biasanya hidup dalam kelompok besar, terdiri dari satu jantan dominan, beberapa betina dewasa, dan anak-anak mereka.

Kelompok-kelompok ini berjiwa sosial tinggi dan sering terlihat beristirahat atau mencari makan bersama. Jantan dewasa sering kali sangat protektif terhadap kelompoknya dan akan menunjukkan perilaku agresif untuk menangkis jantan lain atau predator.

2. Aktivitas harian

Primata ini aktif di siang hari (diurnal). Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di pohon. Makanan yang sering dicari adalah daun muda, buah-buahan, dan biji-bijian, meskipun mereka juga makan bunga dan beberapa serangga.

Perilaku mencari makan ini melibatkan banyak berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon lain, yang menunjukkan kelincahan mereka dalam bergerak di antara cabang-cabang pohon.

3. Komunikasi

Bekantan menggunakan berbagai suara dan bahasa tubuh untuk berkomunikasi. Vokalisasi mereka termasuk mendesis, mendengus, dan suara keras lainnya yang digunakan untuk berkomunikasi dengan kelompok atau memperingatkan adanya bahaya.

Mereka juga menggunakan ekspresi wajah dan postur tubuh untuk mengekspresikan suasana hati atau status sosial.

4. Perilaku reproduksi

Perilaku kawin bekantan melibatkan jantan yang menampilkan diri di depan betina dengan mengembangkan tubuh dan menunjukkan perilaku mendominasi. Betina biasanya memilih jantan berdasarkan kekuatan dan statusnya dalam kelompok.

Bekantan betina melahirkan satu anak setelah masa kehamilan sekitar 160-200 hari.

5. Adaptasi lingkungan

Sebagai hewan yang hidup di dekat perairan seperti hutan mangrove dan rawa, bekantan adalah perenang handal. Mereka sering terlihat berenang antar pulau atau menghindari predator dengan melompat ke air dan berenang ke lokasi yang aman.

Distribusi Geografis dan Habitat Bekantan

Bekantan merupakan spesies yang endemik di Pulau Kalimantan, meliputi wilayah Indonesia, Malaysia (Sabah dan Sarawak di Borneo Utara), dan Brunei Darussalam. Khususnya, mereka tersebar di sepanjang sungai dan di daerah pesisir pulau ini, mengadaptasi diri dengan lingkungan hutan rawa dan mangrove.

Distribusi geografis

Bekantan secara eksklusif ditemukan di Pulau Kalimantan. Mereka mendiami daerah-daerah yang kaya akan sumber air, di mana hal ini penting untuk kebutuhan hidup mereka. Sebagai spesies yang sangat tergantung pada ekosistem berbasis air, bekantan memilih habitat yang dekat dengan sungai, rawa, atau hutan mangrove.

Habitat

Habitat utama bekantan meliputi:

  • Hutan mangrove: bekantan sering ditemukan di hutan mangrove, yang menyediakan sumber makanan dan tempat berlindung dari predator. Hutan ini juga berperan penting dalam kehidupan reproduksi mereka, memberikan tempat yang aman untuk membesarkan anak-anak mereka.
  • Hutan rawa: daerah rawa menyediakan bekantan dengan akses ke berbagai tumbuhan air yang menjadi bagian dari diet mereka. Keterampilan berenang bekantan sangat membantu dalam navigasi dan akses ke sumber makanan di habitat ini.
  • Hutan sekunder dan primer di sepanjang sungai: bekantan juga mendiami hutan sekunder dan primer yang berada di sepanjang aliran sungai besar. Daerah-daerah ini menawarkan kanopi yang tinggi dan ketersediaan makanan stabil, seperti buah-buahan, daun, dan bunga.

Ancaman Utama Bekantan

Bekantan menghadapi beberapa ancaman serius yang berpotensi mengurangi jumlah populasi mereka secara drastis:

1. Penghancuran habitat

Kegiatan penebangan hutan untuk pertanian, pembangunan infrastruktur, dan pertambangan menjadi penyebab utama hilangnya habitat alami bekantan. Hutan mangrove dan rawa yang merupakan habitat esensial bagi mereka semakin berkurang, menyulitkan bekantan untuk menemukan makanan dan tempat berteduh.

2. Perburuan ilegal

Meski bekantan dilindungi oleh undang-undang, perburuan untuk daging atau perdagangan sebagai hewan peliharaan masih berlangsung. Ini sering terjadi karena kurangnya pengawasan dan penegakan hukum yang efektif.

3. Kerusakan ekologis

Polusi air dan tanah, terutama dari aktivitas industri dan pertanian, juga memengaruhi kesehatan ekosistem yang mendukung kehidupan bekantan. Pencemaran ini bisa merusak sumber makanan dan kualitas habitat mereka secara keseluruhan.

Program Konservasi untuk Bekantan

Untuk mengatasi ancaman ini, berbagai program konservasi telah dilaksanakan:

  • Perlindungan hukum: bekantan termasuk dalam daftar spesies yang dilindungi, dengan hukuman yang ketat bagi siapa pun yang menangkap, membunuh, atau memperdagangkan mereka. Penerapan hukum ini membutuhkan kerja sama antara pemerintah dan lembaga penegak hukum.
  • Zona konservasi: pembentukan zona konservasi seperti taman nasional dan cagar alam di Kalimantan telah menjadi strategi penting. Zona ini memberikan perlindungan bagi bekantan dan spesies lainnya, memungkinkan mereka berkembang biak dan hidup tanpa gangguan dari aktivitas manusia.
  • Pendidikan dan kesadaran publik: program pendidikan dan peningkatan kesadaran di kalangan masyarakat lokal dan global tentang pentingnya melestarikan bekantan dan habitatnya juga tak kalah penting. Ini termasuk campaign informasi dan program di sekolah-sekolah untuk mengajarkan nilai konservasi.
  • Penelitian dan pemantauan: studi ilmiah terus dilakukan untuk lebih memahami ekologi bekantan, perilaku mereka, dan interaksi dengan habitat. Data dari penelitian ini berguna untuk merumuskan strategi konservasi yang lebih efektif.
  • Kerja sama internasional: kerja sama antar negara di Pulau Kalimantan (Indonesia, Malaysia, Brunei) dalam melindungi bekantan juga sangat krusial, mengingat distribusi geografis bekantan yang melintasi perbatasan negara.

Peran Masyarakat dan Pemerintah untuk Konservasi Bekantan

Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian bekantan dan habitatnya bisa dicapai melalui pendidikan dan campaign kesadaran lingkungan.

Pentingnya keterlibatan pemerintah dalam proses ini tidak bisa diabaikan, karena dukungan mereka dapat memotivasi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam upaya konservasi. Selain itu, memperkuat penegakan hukum terhadap aktivitas ilegal seperti penebangan hutan dan perburuan liar menjadi langkah penting lain untuk menjaga populasi bekantan.

Undang-undang seperti UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, menyertakan pasal-pasal penting di dalamnya, termasuk:

  • Pasal 21 Ayat (1): melarang setiap orang untuk menangkap, melukai, membunuh, atau memperniagakan satwa yang dilindungi.
  • Pasal 40 Ayat (2): menyebutkan sanksi pidana bagi siapa saja yang melanggar ketentuan tentang perlindungan satwa liar, termasuk pidana penjara hingga 5 tahun dan denda maksimal Rp100 juta

Namun, meskipun undang-undang tersebut sudah ada, masih terdapat tantangan dalam penerapannya, yang memerlukan kerja sama antara pemerintah, organisasi, dan masyarakat.

Dengan komitmen yang kuat dari semua pihak, kita dapat mengharapkan masa depan yang lebih baik untuk bekantan, primata endemik dari Pulau Kalimantan. Bekantan, sebagai bagian dari warisan alam Indonesia, patut dijaga bersama.

Melalui kolaborasi yang efektif dan sinergis, upaya pelestarian dan perlindungan ini bisa dilaksanakan secara strategis. Setiap langkah kecil yang diambil memiliki potensi untuk memberikan dampak besar pada kelangsungan hidup bekantan di alam liar.

Yuk, mari bersama mengambil bagian dari upaya konservasi bekantan!

Nana Nadiya Mahardika

Referensi:

 

Kambing hutan sumatera (Capricornis sumatraensis) merupakan satwa langka yang tersebar di Semenanjung Malaka yang meliputi Malaysia dan Thailand, juga Indonesia. Pada 14 Agustus 2023, di Blok Inti KPH Batutegi, Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Tercatat bahwa kamera jebak (camera trap) yang dipasang oleh KPH Batutegi dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia telah menangkap satwa langka ini. Hal ini menambah jumlah temuan satwa eksotis ini menjadi total 3 kali selama pemasangan kamera jebak di tahun 2022-2023. Sebelumnya tim gabungan menemukan spesies kambing-hutan ini pada 14 Juli 2022 dan 4 November 2022.

Kabar Bahagia, Orangutan “Laksmi” Kembali Melahirkan di TN Bukit Baka Bukit Raya

Kabar gembira kembali kita terima dalam konservasi orangutan di Kalimantan Barat. Orangutan betina hasil rehabilitasi bernama “LAKSMI” kembali melahirkan 1 (satu) individu bayi orangutan dengan selamat di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) pada awal tahun 2023, tepatnya di lokasi pelepasliaran di Teluk Ribas Resort Mentatai, SPTN Wilayah I Nanga Pinoh, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Perkembangan kondisi Orangutan yang menggembirakan ini merupakan salah satu parameter terselenggaranya dengan baik Program Konservasi Orangutan yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Cq. Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik, melalui kegiatan reintroduksi orangutan ke habitat alaminya yang dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) didukung oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Ketapang.

Informasi kelahiran bayi orangutan dari indukan “LAKSMI” diperoleh dari saudara Gregorius (Kepala Camp Monitoring Orangutan Teluk Ribas) bersama tim monitoring. Hingga saat ini kondisi bayi terus dilakukan pemantauan dan sedang diupayakan mendekati sang induk dalam rangka memastikan kesehatan sang induk pasca melahirkan dan jenis kelamin bayi orangutan. Beberapa bulan belakangan,  “LAKSMI” memang terpantau dengan kondisi perut agak membesar dan diduga sedang hamil. Namun belum sempat mendapat pemeriksaan medis, “LAKSMI” sempat hilang dari pemantauan. Pada tanggal 25 Januari 2023, “LAKSMI” muncul dengan membawa anak dan terpantau oleh Tim Monitoring dalam keadaan sehat.

Kelahiran satu individu orangutan ini menambah daftar panjang kelahiran orangutan secara alami di dalam kawasan TNBBBR. Kelahiran bayi orangutan ini merupakan anak ke-2 dari “LAKSMI” yang dilahirkan di alam. Sebelumnya “LAKSMI” juga menyumbangkan generasi baru orangutan betina pada awal Oktober 2021 dan oleh Wakil Menteri LHK, Dr. Alue Dohong diberi nama “LUSIANA”.  Sebelumnya, pada awal November 2019 orangutan bernama “SHILA” yang dimonitoring setiap hari sejak pelepasan juga terpantau melahirkan bayi orangutan berjenis kelamin jantan yang kemudian diberi nama “SURYA” oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ibu Siti Nurbaya.  Kesuksesan ini berulang ketika pada Juni 2020, orangutan hasil rehabilitasi bernama “DESI” melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin betina, dan oleh Menteri LHK diberi nama “DARA”.

Laksmi terpantau sedang menggendong anak yang baru dilahirkannya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (Dok: Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya)

Kehadiran generasi-generasi baru orangutan ini menumbuhkan semangat dalam upaya konservasi serta keyakinan bahwa populasi orangutan khususnya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dan di seluruh kawasan habitat orangutan Provinsi Kalimantan Barat akan terus terjaga dan bertambah. Kelahiran mereka menjadi sangat penting dan bersejarah karena menjadi kebanggaan atas keberhasilan program rehabilitasi orangutan di Indonesia. Keberhasilan program penyelamatan, rehabilitasi, pelepasliaran dan monitoring orangutan ini tidak hanya berhasil membuat “LAKSMI” bahagia hidup bebas kembali dan berkembang biak di habitat alaminya, namun juga menjadi wujud kesuksesan Kementerian LHK bersama para pihak dalam menjaga kelestarian spesies orangutan di Indonesia pada umumnya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, RM. Wiwied Widodo, S.Hut., M.Sc. menyampaikan, “Apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah bekerja keras dan ikut berperan aktif dalam upaya perlindungan dan pelestarian orangutan. Keberhasilan ini menjadi wujud komitmen dan keseriusan Pemerintah dalam upaya Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia”.  RM. Wiwied Widodo menambahkan bahwa Kementerian LHK  cq. Direktorat Jenderal KSDAE akan terus mengembangkan kerjasama dengan berbagai pihak yang serius berkomitmen membantu upaya konservasi. Terimakasih atas kerja keras Bapak Kepala Balai TN. Bukit Baka Bukit Raya beserta jajaran dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia ( YIARI) atas komitmen membantu pemerintah dalam Konservasi Orangutan.

Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Andi Muhammad Kadhafi, S.Hut., M.Si. turut menyampaikan, “Kawasan TN Bukit Baka merupakan habitat yang sesuai dan cocok bagi orangutan. Hal ini dapat kita lihat dari individu-individu orangutan yang telah melewati proses rehabilitasi dan pelepasliaran, dapat menjadi individu yang kembali mempunyai kehidupan liar serta beradaptasi untuk bertahan hidup dan berkembang biak secara alami “.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Sumber: Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya

Mengenal 3 Jenis Orangutan Dilindungi di Indonesia

Hewan orangutan sering kita dengar dan lihat di berbagai media, mulai dari televisi, media cetak, hingga internet. Orangutan merupakan hewan endemik Indonesia. Mereka termasuk ke dalam kelompok primata, bersama dengan monyet, kukang, tarsius, dan owa. Mereka biasa ditemukan di dalam jantung hutan hujan tropis negara Indonesia.

 

Nama “orangutan” ini berasal dari bahasa Melayu “orang” yang berarti manusia dan “utan” yang berasal dari kata hutan. Dengan kata lain makna harfiah dari satwa ini adalah manusia hutan. Memang perawakan dan wajahnya kurang lebih mirip dengan manusia. Hanya saja, orangutan memiliki warna rambut yang berbeda dan tubuh yang lebih kecil dari manusia.

 

Di samping keunikan tersebut, binatang langka ini rupanya termasuk ke dalam kelompok satwa dilindungi. Perburuan liar dan habitat yang berkurang menyebabkan satwa mengagumkan ini memiliki jumlah yang tinggal sedikit di alam.

 

Di seluruh dunia hanya terdapat 3 jenis orangutan. Seluruhnya merupakan endemik atau asli Indonesia. Hal ini seharusnya membuat kita bangga karena memiliki keragaman biodiversitas. Namun, di samping itu binatang mengagumkan ini rupanya termasuk ke dalam kelompok satwa dilindungi. Perburuan liar dan habitat yang berkurang menyebabkan satwa ini memiliki jumlah yang tinggal sedikit di alam dan menjadi langka.

 

Perlu adanya upaya konservasi yang giat mengenai pelestarian orangutan. Supaya kita dapat lebih mudah dalam membantu upaya konservasi orangutan, mari kita simak 3 jenis orangutan yang berada di Indonesia. Ada jenis-jenis apa saja, sih, orangutan itu?

 

1. Orangutan Sumatra (Pongo abelii)

orangutan sumatra bergelantung

Orangutan sumatra hendak mengambil buah di pepohonan. (Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia)

Orangutan ini adalah orangutan yang berasal dari bagian utara Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatra Utara. Mereka memiliki rambut berwarna merah cerah, mudah dibedakan dari jenis primata yang lainnya. Ukuran tubuh dari orangutan sumatra ini bisa mencapai 1,7 meter dan beratnya bisa mencapai 90 kg. Lumayan, besar juga, ya.

Mereka memiliki kebiasaan makan yang cukup unik. Dibandingkan dengan jenis-jenis orangutan yang lain, mereka cenderung menyukai buah-buahan (frugivor) dan serangga (insektivor). Mereka terkadang juga memakan telur burung atau mamalia kecil lainnya. Mereka juga merupakan hewan yang pintar. Orangutan sumatra pernah teramati menggunakan alat untuk mencari makanan, seperti menggunakan ranting untuk mencongkel buah-buahan atau mengorek sarang rayap.

 

2. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus)

orangutan kalimantan shila surya

Orangutan kalimantan bernama Shila dan anaknya Surya yang diberi nama oleh Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar. (Foto: Heribertus Suciadi)

Orangutan kalimantan, seperti namanya, berasal dari Pulau Kalimantan. Mereka tersebar di berbagai daerah dari pulau ini mulai dari bagian selatan pulau hingga bagian utaranya, bahkan hingga ke negara Malaysia. Mereka memiliki warna rambut yang sedikit berbeda dengan orangutan sumatra. Rambut dari orangutan kalimantan berwarna lebih coklat daripada orangutan sumatra. Ukuran tubuhnya juga lebih besar daripada orangutan sumatra. Orangutan kalimantan ini bisa memiliki ukuran tubuh 1,2-1,7 m dan berat 50-100 kg untuk jantannya, serta 1-1,2 m dan berat 30-50 kg untuk betinanya.

Orangutan kalimantan memiliki kebiasaan hidup yang berbeda juga dari orangutan sumatra. Mereka dikenal lebih penyendiri, artinya orangutan kalimantan terlihat lebih jarang berkumpul ketimbang orangutan sumatra. Orangutan kalimantan memiliki kebiasaan makan yang mirip dengan orangutan sumatra. Makanannya cukup beragam, mulai dari buah-buahan seperti buah ara dan durian, dedaunan, biji-bijian, bunga, hingga serangga dan mamalia kecil lain seperti kukang.

 

3. Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis)

orangutan tapanuli bersama anaknya

Orangutan tapanuli bersama dua anak kembarnya. (Foto: YEL-SOCP/Andayani Ginting)

Orangutan tapanuli adalah orangutan yang paling terakhir ditemukan. Mereka baru saja ditetapkan oleh peneliti sebagai spesies tersendiri, terpisah dari orangutan sumatra pada tahun 2017 lalu. Orangutan tapanuli tersebar di suatu wilayah di Pulau Sumatra, tepatnya di hutan bagian selatan Danau Toba. Orangutan ini adalah orangutan terlangka yang ada di Indonesia.

Berbeda dengan orangutan lainnya, wajah orangutan ini memiliki bentuk yang lebih kecil, lebih pipih, dan lebih lebar daripada kedua jenis orangutan yang lain. Orangutan tapanuli juga berambut lebih tebal daripada saudaranya orangutan sumatra maupun orangutan kalimantan. Orangutan ini dapat memiliki ukuran tubuh mencapai 137 cm dan berat 70-90 kg untuk jantan, serta 110 cm dan berat 40-50 kg untuk betina.

 

 

Itulah pengenalan ketiga orangutan asli Indonesia. Jangan sampai hewan khas negara ini menjadi punah karena kita tidak merawatnya dengan baik. Oleh karena itu, mari kita jaga lingkungan kita, terutama hutan alami, supaya para hewan mengagumkan ini bisa tetap hidup lestari di Indonesia.

Peni, Secuil Kisah Bahagia di Tengah Perjuangan Hidup Orangutan

Oleh: Dewi Ria Utari

Siang itu, sorot mata kebahagiaan tim survei dan monitoring mengikuti seekor orangutan betina yang berloncatan di antara liana dan pepohonan sambil menggendong bayi orangutan di pelukannya. Ia begitu lincah. Namun juga hati-hati dan tampak selalu memastikan bahwa bayi di pelukannya tetap aman. Orangutan betina itu bernama Peni

Melihat kondisinya yang telah menjadi ibu, tentu saja ini merupakan kabar bahagia bagi tim survei dan monitoring International Animal Rescue (IAR) Indonesia di Gunung Tarak. Bagaimana tidak, Peni, orangutan yang merupakan individu yang direhabilitasi, ternyata berhasil beradaptasi di alam liar dan bahkan telah menjadi ibu. Karena keberadaan Peni telah memperlihatkan keberhasilan proses reintroduksi orangutan di Gunung Tarak, tim IAR Indonesia pun menamakan bayinya, Tarak.

Peni saat dijumpai tim monitoring tengah menggendong bayinya di hutan Gunung Tarak. Foto: IAR Indonesia.

Sosok Peni terbilang cukup bersejarah bagi pekerjaan IAR Indonesia dalam hal penyelamatan, rehabilitasi, dan kemudian melepaskan satwa (terutama orangutan) ke alam liar. Sejarah itu diukir sejak Peni diselamatkan. Di usia balitanya, ia mengalami kejadian traumatik. Dalam pelukan ibunya, Peni terusir dari hutan yang semakin menipis karena hutan tersebut akan dialihfungsikan menjadi kebun sawit. Sudah menjadi insting, ibu orangutan yang masih memiliki bayi, akan mencari tempat yang diperkirakannya merupakan sumber makanan. Peni dan Ibunya pun tiba di sebuah desa di pinggir hutan. Alih-alih mendapatkan makanan, warga desa yang ketika kejadian tersebut berlangsung, yaitu 2010, belum banyak yang memiliki kesadaran dan pengetahuan bahwa orangutan merupakan satwa dilindungi, segera merenggut Ibu Peni dari bayinya, dan menenggelamkan sang ibu ke dalam kolam.

Orangutan adalah satwa yang tak bisa berenang. Tentu saja tindakan kejam ini berbuntut nyawa. Dalam keadaan sekarat, si ibu kemudian diikat bersama anaknya, dan mereka dilempari benda apa pun oleh warga desa. Sungguh tindakan yang pada dasarnya memperlihatkan bahwa ketidaktahuan merupakan salah satu sumber dari perbuatan keji.

Induk Peni berusaha melepaskan diri dari ikatan saat tertangkap dan jadi tontonan oleh penduduk karena memasuki area ladang dan kebun penduduk setempat. Untuk bisa melumpuhkannya penduduk memukuli, merendamnya dalam kolam lalu mengikatnya. Diperkirakan akibat hutan-hutan tempat habitat orangutan yang terus menyusut menyebabkan orangutan itu berkeliaran di ladang dan kebun penduduk untuk mencari makan. Foto: Feri Latief (2010).

IAR Indonesia tiba terlambat di Desa Peniraman, Sungai Pinyuh, Kabupaten Pontianak, tempat kejadian memilukan ini terjadi. Sambil berupaya meredakan emosi warga, tim medis berusaha menyelamatkan ibu dan bayi orangutan ini. Sayangnya terlambat. Nyawa ibu orangutan tak lagi bertahan. Ia meninggal. Untunglah si bayi masih bisa diselamatkan. Ia pun kemudian segera dibawa ke pusat rehabilitasi IAR Indonesia di Ketapang, Kalimantan Barat. Sesampainya di sana, ia pun diperiksa secara lebih lanjut, dan kemudian ia dinamakan Peni – mengacu pada nama desa tempat ia diselamatkan.

Merehabilitasi Peni bukan perkara mudah. Ia diselamatkan dari peristiwa yang membuatnya traumatik. Satwa terutama orangutan, memiliki daya ingatan yang kuat dan menyaksikan kematian ibunya, merupakan pengalaman yang mengguncangkan batin. Rehabilitasi Peni tak hanya berfokus pada bagaimana ia bisa belajar menjadi orangutan sesuai kodrat dan nalurinya, namun juga mengatasi pengalaman traumatiknya.

Peni kecil saat berada di Pusat Rehabilitasi Orangutan IAR Indonesia di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Foto: IAR Indonesia.

Perlu kerja sama yang kompak antara tim animal keeper dan medis untuk terus memantau perkembangan Peni di sekolah hutan yang dijalaninya di pusat rehabilitasi IAR Indonesia. Hingga akhirnya, setelah empat tahun di pusat rehabilitasi, Peni dinilai telah berhasil menjalankan semua kemampuan yang diperlukan orangutan untuk hidup di alam liar. Dari mencari makanan, hingga membuat sarang.

Pada 2014, Peni dilepasliarkan di Gunung Tarak. Di hutan inilah, Peni kembali bertemu dengan teman-teman orangutan yang juga direhabilitasi oleh IAR Indonesia, yaitu Helen, Prima, dan Susi. Meski sudah dilepasliarkan, sudah menjadi prosedur wajib di IAR Indonesia, kehidupan para orangutan rehabilitasi ini tetap dimonitor. Tak hanya untuk memantau kemampuan mereka bertahan hidup, namun juga proses adaptasi mereka dengan orangutan liar.

Kabar menggembirakan pun muncul tahun ini. Tim survei dan monitoring yang sebelumnya cukup lama tidak menyaksikan keberadaan Peni, dikejutkan dengan pemandangan membahagiakan di mana ia tampak menggendong bayi orangutan.

Peni adalah kisah sukses kami, kisah membahagiakan yang memberikan harapan dan semangat bahwa kerja keras lembaga-lembaga penyelamatan satwa tidak sia-sia. Tentu saja dukungan dari pemerintah sangat memberikan andil dalam memberikan ruang bagi satwa-satwa dilindungi ini bisa menemukan rumah tempat ia hidup dan bereproduksi. Tanpa dukungan dari Taman Nasional Gunung Tarak, bisa jadi Peni tak menemukan kehidupan baru. Hutan-hutan seperti Taman Nasional di Gunung Tarak ini adalah masa depan mereka. Dan kita memerlukan lebih banyak lagi hutan bagi mereka.

Perubahan Iklim Memburuk, Dua Orangutan Terusir dari Hutan

Perubahan iklim yang dialami hampir seluruh permukaan bumi, telah menjadikan kondisi cuaca tak lagi bisa diprediksi. Bahkan menjadi salah satu faktor utama dari peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia sejak pertengahan tahun ini. Berdasarkan laporan oleh  Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), kebakaran hutan dan lahan di Indonesia adalah yang terburuk sejak tahun 2015, menghasilkan tidak kurang dari 708 juta ton karbon dioksida ekuivalen di atmosfer. Sebagian besar merupakan hasil dari kebakaran gambut. Angka ini hampir 2x lipat emisi karbon yang dihasilkan dari kebakaran hutan Amazon.

Namun, karhutla di Indonesia tidak hanya berpengaruh pada perubahan iklim. Keanekaragamanhayati hutan rawa gambut Kalimantan juga turut terancam. Inilah nasib buruk yang harus dihadapi oleh orangutan, primata ikonik kalimantan, satu-satunya kera besar yang ada di Asia.

Kebakaran hutan besar-besaran yang menghancurkan hutan di Indonesia pada tahun 2015 mengakibatkan banyak orangutan mati, dan sebagian besar lainnya kehilangan habitatnya, mendorong spesies ini ke jurang kepunahan dan memperburuk konflik dengan manusia. Orangutan yang terdesak keluar dari habitatnya yang hancur memasuki kebun-kebun warga di mana biasanya mereka akan terluka atau bahkan mati karena diserang manusia.

Kebakaran tahun ini juga menghancurkan populasi orangutan di Kalimantan. Sejak kebakaran yang diawali pada Juli 2019, IAR Indonesia telah menyelamatkan 9 orangutan dari kawasan hutan yang terbakar. “Pada tahun 2015 kami menyelamatkan 44 orangutan dari habitatnya yang hancur dalam beberapa bulan bahkan setelah kebakarannya mereda,” ujar Argitoe Ranting, manager Lapangan IAR Indonesia. Semakin lama waktu yang kita ambil untuk menyelamatkan orangutan yang kehilangan habitatnya, kondisi mereka akan semakin kritis,” tambahnya lagi.

Orangutan betina dewasa berna Epen yang diselamatkan di Desa Sungai Besar, Kecamatan Hilir Selatan, Ketapang. Jumat, 29 November 2019

Dalam sepekan terakhir ini, IAR Indonesia dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang menyelamatkan dua individu orangutan di Ketapang. Satu individu orangutan jantan bernama Jebur diselamatkan dari kebun karet milik warga di Desa Sungai Awan Kiri, dan Epen, orangutan betina dewasa yang diselamatkan dari Desa Sungai Besar dua hari setelahnya. “Orangutan betina ini sangat kurus,” jelas Argito. “Sepertinya orangutan ini telah menderita kelaparan selama berbulan-bulan sejak habittnya terbakar. Kami juga menduga dia kehilangan bayinya karena orangutan ini masih mengeluarkan air susu. Mungkin bayinya mati karena kekurangan nutrisi. Jilka kami tidak segera menyelamatkannya, mungkin dia sudah mati sekarang,” katanya lagi

Pelepasan orangutan Jebur ke Hutan Sentap Kancang, tidak jauh dari tempatnya diselamatkan di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Ketapang, 27 November 2019

Jebur yang diperkirakan berusia 8 tahun ini langsung dilepaskan di Hutam Sentap kancang tidak jauh dari tempat dia diselamatkan, sementara Epen saat ini masih menjalani pemeriksaan dan perawatan oleh tim medis IAR Indonesia yang bekerja keras untuk memastikan dia kembali pulih dan bisa dipulangkan ke habitat aslinya sesegera mungkin.

“Kehilangan habitat orangutan karena kebakaran adalah ancaman terbesar bagi orangutan saat ini,” ujar Karmele L. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia. “Sungguh memilukan melihat orangutan korban kebakaran hutan ini yang menderita kelaparan, tidak mempunyai apapun untuk dimakan, sama seperti yang kita saksikan pada tahun 2015. Meskipun demikian, kekuatan untuk tetap hidup dalam kondisi seperti ini cukup mencengangkan. Bagian yang paling menyedihkan adalah kita tidak bisa menghitung berapa banyak dari orangutan ini yang tidak berhasil bertahan dan akhirnya terbakar dalam kebakaran atau mati perlahan karena kelaparan”

Kebakaran hutan dan lahan di Ketapang

Ancaman perubahan iklim telah di ambang pintu. Mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 90 persen bencana di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi atau bencana yang disebabkan oleh faktor cuaca. Tidak bisa dipungkiri, cuaca ekstrem ini merupakan salah satu dampak perubahan iklim. World Economic Forum pada The Global Risk Report 2019 juga menyatakan, perubahan iklim menempati posisi paling atas sebagai penyebab musibah global, seperti bencana alam, cuaca ekstrem, krisis pangan dan air bersih, hilangnya keanekaragaman hayati, dan runtuhnya ekosistem. Dengan situasi demikian, kita harus bisa siap untuk bencana kebakaran pada tahun ke tahun berikutnya.

Pada minggu ini, dari tanggal 2 sampai 13 Desember, isu perubahan iklim menjadi isu penting dan serius yang akan dibahas dalam United Nation Climate Change Conference yang berlangsung di Madrid, Spanyol. Pertemuan yang disebut juga COP25, ini merupakan pertemuan lanjutan para pihak yang hadir pada konvensi PBB tentang perubahan iklim untuk memastikan hasil kesepatakan konvensi tersebut dilaksanakan.

Karmele mengatakan, “Kita memerlukan kemauan dan komitmen yang kuat dari semua negara untuk memerangi perubahan iklim. Kebakaran hutan merupakan penghasil rumah kaca terbesar di dunia. Bila kita tidak melindungi hutan yang tersisa, kita tidak hanya akan menderita akibat perubahan iklim, tetapi juga akan menyaksikan keanekaragaman hayati dari Kalimantan, termasuk orangutan, akan musnah.

Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta mengatakan bahwa kejadian karhutla yang selalu berulang setiap tahun ini membawa dampak negatif yang luar biasa bagi lingkungan, hutan dan satwa liar. “Seharusnya hal ini cukup menyadarkan kita bahwa mestinya ada kebijakan yang bersifat menyeluruh dan menyentuh akar permasalahan yang harus diimplementasikan oleh semua pihak,” ujarnya. Pihaknya juga mengapresiasi tindakan yang diambil oleh warga yang melaporkan kasus orangutan ini ke instansi terkait sehingga bisa segera diselamatkan. “Hal itu menunjukkan tingkat pemahaman dan kesadaran terhadap kelestarian satwa liar semakin baik,” tambahnya

Dengan Satu Mata, Junai Melanjutkan Hidup di Gunung Tarak

Ketapang, Kalbar –  Junai, orangutan liar jantan dewasa berusia lebih dari 20 tahun, akhirnya dinyatakan mampu untuk kembali dilepaskan di hutan, setelah sebelumnya, ia diselamatkan dalam kondisi mata kiri mengalami kebutaan. Saat diselamatkan di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang pada 20 September lalu, Junai dalam kondisi memprihatinkan. Tubuhnya kurus dan mata kiri buta yang setelah diperiksa oleh tim medis, ternyata ditemukan dua butir peluru di dalam tengkorak tepat di belakang bola matanya. Sungguh suatu mukjizat ia bisa bertahan hidup dengan kondisi tersebut.

Setelah sebulan menjalani masa pemulihan di IAR Indonesia yang memiliki fasilitas perawatan bagi satwa liar terutama orangutan, Junai dinilai siap untuk kembali hidup di habitat alaminya. Kedua peluru di belakang mata kirinya diputuskan tak diambil dengan pertimbangan bahwa operasi yang akan dilakukan sangat berisiko mengancam keselamatannya.

Gunung Tarak yang berada tidak jauh dari kawasan Taman Nasional Gunung Palung pun akhirnya dipilih sebagai lokasi pelepasliarannya. Di kawasan hutan lindung gunung ini, IAR Indonesia bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Ketapang Selatan, dan Balai Taman Nasional Gunung Palung melepaskan Junai pada Senin, 11 November 2019.

Kegiatan pelepasan ini menempuh waktu sekitar 12 jam menggunakan kendaraan mobil dan menempuh perjalanan kaki menuju titik pelepasan. Pelepasliaran di Gunung Tarak ini merupakan kali pertama sejak terakhir kali melepasliarkan orangutan bersama BKSDA Kalbar dan KPH Ketapang Selatan pada 2017. Total sudah 15 orangutan dilepaskan di kawasan ini sejak tahun 2014.

Untuk memastikan kondisi Junai terus selamat dan mampu melanjutkan hidupnya, IAR Indonesia menempatkan tim patroli dan monitoring yang telah berada di sana sebagai bagian dari prosedur yang ditetapkan IAR Indonesia dalam program pelepasliaran orangutan.

Meskipun salah satu matanya mengalami kebutaan, tim pelepasan yakin bahwa hal tersebut tidak akan mengurangi kemampuannya untuk bertahan hidup selayaknya orangutan. Orangutan dikenal sebagai satwa cerdas dengan tingkat kemampuan adaptasi yang tinggi.

“Sebelumnya kami pernah juga melepaskan orangutan yang satu kakinya lumpuh akibat peluru pada tahun 2016 di HL Gunung Tarak, orangutan ini kami pantau setiap hari selama beberapa bulan dan terbukti bahwa orangutan ini mampu bertahan hidup dengan normal walaupun salah satu kakinya lumpuh akibat ada belasan peluru yang beberapa di antaranya mengenai saraf tulang belakangnya,” ujar Argitoe Ranting, Manager Survey, Release, dan Monitoring IAR Indonesia. “Kehilangan satu matanya tidak akan berpengaruh banyak dalam kemampuan bertahan hidupnya karena kemampuan adaptasi orangutan cukup bagus di alam liar. Kami yakin Junai akan baik-baik saja dan senang dengan rumah barunya ini,”tambahnya lagi.

 

Pernyataan Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez,

Orangutan Junai ini adalah salah satu korban kebakaran hutan dan lahan pada bulan kemarin. Kita sangat sedih melihat areal yang telah terbakar di sekitar kawasan hutan yang menjadi habitat orangutan Junai. Orangutan yang terpaksa kehilangan habitat tidak jarang masuk di areal kebun warga atau areal kampung, dimana kadang ada juga masyarakat yang sangat tidak bertanggung jawab yang hanya ingin ‘bermain-main’ dengan menyakiti orangutan dengan menembak peluru pada matanya. Jika peluru sampai kena kedua matanya, orangutannya bisa menjadi cacat untuk selamanya dan kesulitan untuk melanjutkan hidupnya. Kami sangat yakin bahwa sebagian dari masyarakat di ketapang, dan di seluruh Kalimantan tidak menyetujui dengan cara tersebut”

Pernyataan Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor, S.Hut., M.T.

Sebagai penggiat konservasi, kita mempunya satu pekerjaan rumah, yakni membangun pola pikir masyarakat untuk lebih peduli pada hutan, ekosistem dan satwa liar. Kerja-kerja konservasi sudah banyak dilakukan, tapi penganiayaan terhadap satwa liar masih saja terus berlangsung. Penyelamatan satwa liar sudah sering dilakukan, namun itu tidak akan pernah cukup selama kita tidak mampu merubah mindset masyarakat dan generasi muda untuk lebih ramah pada satwa liar.

Pernyataan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kehutanan Kalimatan Barat, Untad Dharmawan

Pelepasliaran satwa liar ke habitat aslinya pada dasarnya bertujuan untuk menjaga keseimbangan ekologis pada suatu ekosistem dalam hal ini adalah ekosistem hutan. Karena masing-masing dari setiap komponen yang ada dalam kesatuan ekosistem tersebut pada dasarnya memiliki peran dan relung ekologisnya masing2-masing sehingga akan tercipta suatu keseimbangan yang saling tergantung antara satu dengan yang lainnya.

Orangutan sebagai salah satu dari satwa langka yang dilindungi adalah merupakan Satwa khas bumi Kalimantan yang saat ini kehidupannya “terancam punah” akibat berbagai macam tekanan terhadap keberadaan hutan sebagai habitat kehidupan Orangutan. Tekanan berupa deforestasi, desertifikasi, overeksploitasi hutan, kebakaran hutan dan ditambah lagi perburuan liar semakin mengancam keberadaan orangutan itu sendiri.

Upaya yang telah dilakuan oleh Lembaga IAR indonesia selama ini dengan terus berupaya menyelamatkan, merawat, merehabilitasi dan melepasliarkan orangutan ke habitatnya patut kita apresiasi. Selain ini merupakan langkah upaya kita untuk menjaga dan melestarikan fungsi hutan, juga ini merupakan upaya sadar kita untuk  “memanusiakan manusia” sebagai khalifah dimuka bumi.

Inventarisasi dan Pemantauan Satwa Liar untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati

Satwa liar memiliki peranan penting di dalam keseimbangan ekosistem hutan hujan tropis. Keanekaragaman jenis dan keanekaragaman fungsionalnya berkontribusi pada dinamika proses dari ekosistem ini. Misalnya, beberapa kelompok mamalia dan burung terlibat langsung dalam proses regenarasi hutan melalui polinasi, pemencaran biji, dan siklus nutrisi. Namun demikian, mereka terus terancam oleh perburuan, fragmentasi, dan kehilangan habitat. Semua faktor ancaman tersebut dapat menyebabkan kepunahan lokal dan pada akhirnya akan berdampak pada dinamika ekosistem hutan secara keseluruhan.

Kemampuan untuk secara langsung memantau status dan perubahan dari populasi-populasi satwa liar dalam konteks spasial-temporal adalah elemen kunci dari konservasi dan pengelolaan ekosistem hutan hujan tropis di Indonesia khususnya di Kalimantan Barat. Inventarisasi populasi satwa liar merupakan langkah penting pertama dalam penyediaan data dasar (baseline) untuk memahami struktur, kekayaan, kelimpahan, dan sebaranya di habitat alami.

Tim survey biodiversity memasang kamera jebak di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya

Di Kalimantan Barat, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya adalah salah satu kawasan penting sebagai “rumah” bagi satwa liar dan beragam kekayaan hayati lainya. Selain avifauna (burung) dan herpetofauna (reptil dan amfibi), mamalia merupakan kelompok satwaliar dengan kekayaan dan keragaman serta peran ekologis yang sangat penting. IAR Indonesia sejak mulai aktif berkegiatan di TN Bukit Baka Bukit Raya pada 2015, menaruh perhatian pada keberlangsungan populasi-populasi satwa liar di kawasan konservasi ini. Salah satunya, pada April 2019, dilakukan kegiatan inventarisasi dan pemantauan satwa liar menggunakan perangkap kamera yang masih berlangsung hingga sekarang. Perangkap kamera banyak digunakan dalam studi satwa liar dalam dekade terakhir karena dinilai cukup efisien dan mudah dilakukan.

Survei tersebut bertujuan untuk memperoleh daftar inventarisasi dari semua spesies mamalia serta satwa liar lainya. Selain itu, secara lebih spesifik, survei perangkap kamera bertujuan mengestimasi kekayaan jenis, mengevaluasi upaya pengambilan sampel, mengukur keanekaragaman spesies dan kelimpahan relatif, serta memperkirakan tingkat okupansi dari komunitas satwaliar. Hasil survei ini kemudian diharapkan dapat digunakan sebagai data dasar dalam rencana pemantauan dan pengelolaan populasi satwa liar di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di masa mendatang.

Kucing Teluk ( Pardofelis badia) yang tertangkap kamera jebak di kawasan TNBBBR.

Dari sebanyak 21 unit kamera jebak yang dipasang di area seluas ±7,4 kilometer persegi (±740 hektar), di dalam 1.424 hari perangkap kamera kami mencatat sedikitnya terdapat 17 jenis satwa liar termasuk 15 jenis mamalia berukuran sedang dan besar serta dua jenis burung. Sejak April 2019 hingga Agustus /2019, kami memperoleh total 148 gambar independen, di antaranya dapat diidentifikasi hingga tingkat spesies. Spesies yang paling sering tertangkap perangkap kamera adalah beruk (Macaca nemestrina, 32 foto) dengan rerata tingkat jebakan 3,32 foto independen per 100 hari jebak, diikuti oleh kijang merah (Muntiacus atherodes, 20 foto, tingkat jebakan 2,04), dan kijang muntjak (Muntiacus muntjak, 15 foto, tingkat jebakan 1,47). Beruk merupakan spesies yang tertangkap jebakan hampir di semua lokasi perangkap kamera.

Kami mendeteksi keberadaan beberapa spesies yang terdaftar dalam Daftar Merah IUCN termasuk trenggiling (CE), beruang madu (VU), dan ruai (NT). Dalam survei kami, ada sepuluh species resident seperti ruai, musang, dan babi berjanggut. Sementara itu terdapat tujuh spesies lain yang jarang terdeteksi yang hanya tercatat satu kali selama periode sampling (hingga Agustus 2019). Salah satu spesies yang paling jarang dijumpai adalah trenggiling yang terdaftar sebagai Kritis dalam Daftar Merah IUCN 2017 dan Appendix I CITES. Trenggiling adalah salah satu dari satwa yang dilindungi yang paling banyak diburu dan dieksploitasi di Asia Tenggara. Seperti spesies trenggiling lainnya, trenggiling Sunda diburu untuk kulit, sisik, dan dagingnya, digunakan dalam pembuatan pakaian dan obat tradisional. Meskipun dilindungi, perdagangan ilegal telah menyebabkan penurunan ukuran populasi jenis ini dengan cepat.

Empat mamalia terestrial yang juga jarang dijumpai yang kami deteksi dengan hanya satu foto adalah landak, kucing batu, tufted ground squirrel, dan biawak dumeril. Hampir semua dari tujuh satwa yang jarang tersebut relatif sulit diamati karena kualitas gambar yang rendah, dan perilakunya yang tergolong satwa nokturnal. Selama kegiatan IAR di TNBBBR berjalan, staf lapangan jarang menjumpai ruai, trenggiling sunda, dan atau kucing batu. Hal ini menunjukkan bahwa kamera jebak cukup berguna untuk menginventarisir satwa liar yang elusive (sulit dijumpai). Dua spesies burung, ruai, dan crested partridge yang kami deteksi terdaftar sebagai spesies yang hampir terancam (NT), Appendiks II dan III CITES. Ruai yang tertangkap kamera jebak sebanyak tujuh kali dikenal sebagai satwa endemik Kalimantan.

Dari hasil kami, evaluasi tentang berapa lama kamera harus dioperasikan masih belum dapat ditentukan secara tepat karena kurva akumulasi masih belum menunjukkan daerah plateu. Hal ini mungkin mengindikasikan bahwa upaya survei yang lebih lama dan lebih besar masih diperlukan untuk merekam beberapa spesies satwa liar lainya. Pada prinsipnya, semakin besar ukuran sampling atau periode pengambilan sampel yang lebih lama, semakin banyak spesies akan dicatat. Kurva sampling ini naik relatif cepat pada awalnya, kemudian jauh lebih lambat dalam sampel selanjutnya seiring bertambahnya taksa yang jarang dijumpai. Hasil survei kami menunjukkan bahwa usaha pengambilan sampel yang lebih besar atau periode sampling yang lebih lama masih diperlukan. Diharapkan ketika kurva akumulasi spesies mencapai asimtot, kita dapat cukup yakin bahwa seluruh spesies yang ada di lokasi survei telah tercatat.

Indeks keanekaragaman spesies juga digunakan sebagai parameter dasar untuk program pengelolaan satwa liar yang bertujuan untuk memantau struktur dan komposisi komunitas satwa liar dari waktu ke waktu. Indeks keanekaragaman yang paling umum digunakan dalam ekologi adalah keanekaragaman Shannon dan keanekaragaman Simpson. Keanekaragaman Shannon dan Simpson meningkat seiring dengan meningkatnya kekayaan jenis, untuk pola kemerataan tertentu, dan meningkat seiring dengan meningkatnya kemerataan. Estimasi indeks keanekaragaman kami menunjukkan bahwa komunitas satwa liar di Resor Mentatai di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi.

Penulis: Ahmad Jabbar

Nasib Orangutan Di Ujung Peluru

Minggu siang itu, 22 September 2019, sejumlah dokter hewan dan paramedis IAR Indonesia tampak sibuk.  Di atas meja operasi, orangutan bernama Arang terbaring dalam pengaruh obat bius. Arang adalah orangutan betina yang diselamatkan oleh IAR Indonesia dan BKSDA pada 19 September 2019 di lahan bekas terbakar di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang.

Drh. Joost, medical advisor IAR Indonesia tampak berkonsentrasi penuh dengan pisau bedahnya. Pelan tapi pasti, pisau bedah itu menyayat kulit di pangkal hidung Arang. Darah segar mengalir keluar. Setelah darah dibersihkan, terlihat sebutir peluru bersarang di dalamnya. Dengan bantuan sebatang pinset, drh Joost mengambil peluru itu.Pekerjaan belum tuntas.  Ketika dilakukan lagi foto rontgen, diketahui ada peluru lain yang bersarang di bawah mata kirinya. Prosedur operasi pun dilakukan lagi untuk mengeluarkan peluru tersebut.

Kasus peluru yang ditemukan pada Arang bukanlah kasus pertama di IAR Indonesia. Sebelumnya ada delapan orangutan yang didapati mempunyai peluru di dalam tubuhnya. Total ada puluhan peluru yang bersarang di dalam tubuh para orangutan ini. Sebagian tidak bisa diambil karena pengambilan peluru akan berisiko untuk keselamatan nyawanya.

Drh. Claudia Hartley dan drh. Karmele memeriksa kondisi mata Dio yang terkena peluru

Pada 2009, orangutan bernama Ricky mati dengan dua peluru di tangan dan satu peluru di dekat ginjalnya. Kemudian pada 2014, orangutan bernama Dio diselamatkan dengan satu mata buta. Ketika diperiksa, terdapat sebutir peluru di bola matanya. Matanya membusuk dan mengalami infeksi akibat peluru ini hingga akhirnya tim medis IAR Indonesia memutuskkan untuk mengangkat bola matanya. Dibantu oleh seorang Ophthalmologist dari Inggris, Claudia Hartley, operasi pengangkatan mata ini berhasil dilakukan.

Kekejaman luar bisa terhadap satwa ini tidak pernah berhenti. Pada akhir 2015, kami menyelamatkan orangutan yang satu kakinya mengalami kelumpuham. Setelah dilakukan pemeriksaan dengan sinar X, baru diketahui bahwa orangutan yang diberi nama Jambu ini juga merupakan korban senapan angin. Di tubuhnya terdapat belasan peluru dan sebagian bersarang di tulang belakangnya. Peluru ini ditengarai mengenai salah satu bagian sarafnya dan menyebabkan kelumpuhan.

Tim medis memonitoring Didik sebelum melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru dari bahunya

Masih ada lagi kasus Didik, di mana bayi orangutan malang ini harus menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru di bahu kirinya. Beruntung Didik tidak mengalami luka parah akibat peluru ini. Peluru di bahunya relatif mudah dikeluarkan. Kasus senapan angin yang lebih parah menimpa Reva. Di tubuhnya ada enam peluru yang tersebar di beberapa area tubuhnya, bahkan tulang jarinya patah akibat terjangan peluru. Selain itu masih ada Zola dan Ami yang masing-masing mempunyai satu peluru di badannya.

Penggunaan senapan angin untuk berburu menjadi momok bagi kehidupan satwa liar. Banyak komunitas maupun pemburu perorangan menjadikan satwa liar sebagai sasaran tembak, bahkan satwa yang dilindungi undang-undang pun tidak luput dari terjangan peluru mereka. Padahal peraturan tentang penggunaan senapan angin sudah tertera cukup jelas dalam Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia nomor 8 tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olahraga. Dalam Pasal 4 ayat (1) dan (3), senapan angin (air rifle) termasuk ke dalam senjata api olahraga yang pemakaiannya hanya digunakan untuk menembak sasaran atau target. Sedangkan dalam pasal 5 ayat (3), senapan angin (air rifle) hanya dilakukan di lokasi pertandingan dan latihan.

Sayangnya, kasus perburuan satwa liar dengan senapan angin masih terus terjadi. Selain sosialisasi dan penegakan hukum yang lemah, pemasaran senapan angin secara bebas di pasaran turut mendukung penggunaan senapan angin secara sembarangan. Kasus-kasus penembakan terus terjadi, mulai dari yang terpublikasikan dan ditangani oleh petugas terkait, sampai pada kasus yang tidak terpublikasikan sama sekali. Disinyalir, satwa yang menjadi korban jauh lebih banyak yang tidak terpantau dan terpublikasi.

Sosialisasi dari pemegang peraturan, baik dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kepolisian Republik Indonesia ataupun Perbakin sebagai pusat komunitas tembak di Indonesia seharusnya dilakukan secara berkala dan tegas agar masyarakat makin menyadari penyalahgunaan senapan angin yang menjadikan satwa sebagai sasaran, harus ditindak secara hukum yang tegas.

 

Heribertus Suciadi

Jerit, Orangutan yang Menjadi Korban Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan menjadi perhatian bagi seluruh masyarakat Indonesia. Ketapang adalah salah satu lokasi yang paling terdampak oleh asap. Dilansir dari LAPAN, berdasarkan pantauan satelit NOAA dengan tingkat kepercayaan 70% terdapat lebih dari 1400 titik panas di seluruh kabupaten Ketapang selama bulan September ini. Kabut asap yang dihasilkan dari kebakaran ini mengganggu kegiatan sekolah, penerbangan dan aktifitas masyarakat.

Tidak hanya manusia yang menjadi korban langsung dari karhutla, rumah dan habitat orangutan di lahan gambut juga turut terbakar di seluruh Kalimantan. Akibatnya, sejumlah orangutan menjadi korban. Kehilangan rumah bagi orangutan mengakibatkan orangutan juga kehilangan ruang gerak dan makanan. Jika orangutan tidak diselamatkan, mereka bisa mati kelaparan. Seringkali orangutan yang kehilangan tempat tinggal ini terpaksa masuk ke kebun warga untuk mencari makan, di sinilah orangutan menghadapi satu ancaman lagi: konflik dengan manusia.

Balai Konservasi Sumber Aaya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) 1 Ketapang bersama Yayasan IAR Indonesia kembali menyelamatkan satu individu orangutan di kebun karet milik warga di Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Sabtu (21/9). Orangutan yang diberi nama Jerit ini berjenis kelamin jantan dan diperkirakan berusia 7 tahun.

Sebelumya, masyarakat kebun Kuala Satong serta tim patroli OPU dari IAR menemukan satu orangutan remaja yang sudah lama dilaporkan oleh pemilik kebun karet “Kami mempunyai kerjasama yang baik dengan petani dan masyarakat di areal landscape Gunung Palung-Sungai Putri” ujar Argitoe Ranting, Manager Lapangan IAR Indonesia. “Dengan kerjasama seperti ini, orangutan masih bisa diselematkan, dan tidak disakiti oleh para masyarakat di sini. Tetapi karena hutan di sekitar kebun sudah terbakar semua, kita tidak ada alternatif, dan orangutan ini harus ditangkap dan ditranslokasi ke hutan yang aman,” tambahnya

Di daerah Kuala Satong, Ketapang, yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Palung, dulunya juga banyak hutan dan habitat orangutan. Akibat pembukaan lahan yang dikonversi menjadi sawit dan kebakaran hutan, habitat orangutan semakin mengecil. Kebakaran hutan di daerah Kuala Satong sangat luas dan menyebar. Kebakaran habitat yang luas inilah yang mendorong orangutan masuk ke kebun warga dan menimbulkan konflik manusia-orangutan. Orangutan yang masuk ke kebun bisa merusak kebun untuk mencari makan dan pada akhirnya, manusia juga yang turut dirugikan. Karena itulah, meskipun tindakan penyelamatan ini adalah opsi terakhir, hal ini harus dilakukan untuk mencegah kerugian baik dari sisi manusia maupun satwa liar.

Menghadapi situasi ini, IAR Indonesia bersama BKSDA menerjunkan tim penyelamat untuk mengevakuasi anak orangutan ini. Karena orangutan ini merupakan orangutan liar, maka tim penyelamat menggunakan senapan bius untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Ketika dibius, kondisi orangutan remaja ini cukup memprihatinkan, selain sangat kurus dan mengalami dehidrasi, tim penyelamat juga menemukan luka membusuk yang melingkar di kaki kanannya akibat lilitan tali jerat.

“Ini sudah kali kedua kami menemukan orangutan yang terjebak jerat di lokasi sekitar disini. Dulu pada tahun 2012, kami juga menyelamatkan satu orangutan yang karena jerat, lukanya sangat parah sehingga tangannya harus diamputasi,” jelas Argitoe. “Orang memang tidak memasang jerat untuk menangkap orangutan, tetapi kejadian seperti ini sangat memungkinkan, dan jika orangutan ini tidak kami selamatkan hari ini, mungkin dalam berapa hari, infeksi alibat luka jerat bisa fatal juga,” tambahnya.

Saat ini Jerit berada di dalam penanganan tim medis IAR Indonesia. Mereka melakukan perawatan dan pengobatan yang diperlukan dan akan memastikan kondisi kesehatannya sudah pulih total sebelum orangutan ini dilepas kembali ke alam.

Penyelamatan orangutan yang hanya berselang kurang dari 1 minggu dari penyelamatan orangutan sebelumnya seakan menjadi bukti bahwa gelombang besar penyelamatan orangutan akan segera terjadi. “Kami baru saja menyelamatkan dua orangutan dari lahan yang terbakar hari senin lalu. Penyelamatan ini mengingatkan kami akan kebakaran besar di tahun 2015 di mana kami menyelamatkan lebih dari 40 orangutan sejak kebakaran terjadi sampai setahun pasca kebakaran,” ujar Tantyo Bangun, Ketua Yayasan IAR Indonesia. “Sudah saatnya kita menyelesaikan masalah kebakaran yang tidak hanya merugikan manusia, tetapi juga turut serta merugikan alam dan memusnahkan keanekaragaman hayati di dalamnya termasuk orangutan. Jika masalah terkait kebakaran tidak segera kita selesaikan, orangutan akan segera punah. Orangutan tidak hanya menghadapi permasalahan terkait alihfungsi lahan, tetapi juga harus menghadapi kebakaran dan perburuan. Untuk itulah kami bekerjasama dengan BKSDA dan TANAGUPA untuk membantu orangutan menghadapi itu semua,“ tambahnya lagi.

Pernyataan Karmele L. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia, “Kebakaran hutan di Kalimantan merupakan satu bukti nyata tentang krisis mengenai perubahan iklim dan kepunahan massal di seluruh dunia. Dalam habitat orangutan yang terbakar, ada jutaan jenis satwa dan tumbuhan yang tidak bisa diselamatkan. Orangutan pun juga banyak yang menjadi korban akibat kebakaran. Kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera tidak hanya berdampak pada negara ini: akibat kebakaran gambut green house emisi bertambah, akibatnya pemanasan global semakin bertambah. Kita sedang dalam krisi dan kita semua tergantung pada bagaimana negara-negara di seluruh dunia dan kita semua mengambil sikap dalam menghadapi masalah ini dan menemukan soluisnya. Pemerintah dari seluruh dunia harus bergerak mulai dari sekarang sebelum semuanya terlambat untuk mengatasi masalah ini.”

Heribertus Suciadi