Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Empat Bulan yang Mengubah Hidup: Catatan Perjalanan Kahiu Academy Batch 3
Setelah empat bulan penuh proses belajar dan bertumbuh, para peserta Kahiu Academy Batch 3 akhirnya menuntaskan perjalanan mereka.
Momen kelulusan yang dirayakan dalam acara Farewell Kahiu menjadi simbol penting dari sebuah transformasi—dari remaja putus sekolah menjadi individu yang lebih percaya diri, terampil, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Program ini bukan sekadar pelatihan, melainkan ruang aman untuk menggali potensi, membangun karakter, dan menemukan harapan baru.
Yuk, simak perjalanan mereka selama di Kahiu Academy dan bagaimana program ini telah membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah!
Kahiu Academy: Cahaya Harapan bagi Remaja Putus Sekolah
Sejak pertama kali didirikan pada tahun 2022, Kahiu Academy menjadi cahaya harapan bagi remaja putus sekolah di Kalimantan Barat.
Program ini dirancang untuk memberikan pendidikan dan pelatihan yang komprehensif, dengan tujuan membekali para peserta dengan keterampilan teknis dan non-teknis agar mereka dapat menjadi individu yang lebih mandiri dan berdaya.
Kahiu Academy mengusung pendekatan yang menyeluruh. Tidak hanya fokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan praktis, program ini juga menanamkan nilai-nilai penting seperti kepedulian terhadap lingkungan dan pengembangan karakter.
Dengan demikian, setiap peserta tidak hanya mendapatkan bekal untuk dunia kerja atau usaha mandiri, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kesadaran sosial dan tanggung jawab terhadap komunitas serta alam sekitarnya.
Perjalanan Belajar di Kahiu Academy: Lebih dari Sekadar Pelatihan
Selama empat bulan terakhir, sebanyak 14 peserta dari empat kecamatan di Kalimantan Barat mengikuti program pelatihan intensif yang diselenggarakan di Pusat Pembelajaran Sir Michael Uren YIARI Ketapang.
Mereka menjalani proses belajar yang padat, mencakup lebih dari 40 materi yang terbagi dalam dua kategori utama: keterampilan teknis (hard skill) dan pengembangan diri (soft skill).
Peserta Kahiu Academy Batch 3 (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Seluruh materi yang diberikan tidak hanya ditujukan untuk membentuk kompetensi individu, tetapi juga untuk menumbuhkan semangat berkontribusi terhadap masyarakat dan lingkungan.
Melalui pendekatan ini, peserta diajak untuk belajar demi masa depan mereka sendiri, sekaligus didorong untuk menjadi bagian dari perubahan yang lebih luas di komunitas masing-masing.
Materi Pelatihan yang Beragam dan Komprehensif
Selama mengikuti program, peserta Kahiu Academy Batch 3 mendapatkan berbagai pelatihan yang dirancang untuk membekali mereka dengan keterampilan praktis sebagai bekal menghadapi masa depan. Materi yang disampaikan mencakup:
Keterampilan teknis, yang relevan dengan berbagai bidang pekerjaan. Materi ini memungkinkan peserta untuk langsung terjun ke dunia kerja atau bahkan memulai usaha mandiri sesuai minat dan potensi masing-masing.
Pengembangan karakter dan kepemimpinan, yang bertujuan membentuk kepercayaan diri serta ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Pendidikan lingkungan, yang meningkatkan kesadaran peserta akan pentingnya pelestarian alam serta bagaimana menerapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih dari sekadar teori di dalam kelas, para peserta juga mendapat kesempatan untuk menerapkan ilmu mereka secara langsung melalui praktik. Pendekatan berbasis praktik ini membantu peserta memahami konteks nyata dari keterampilan yang dipelajari, sekaligus memperkuat pemahaman mereka dalam situasi dunia nyata.
Farewell Kahiu: Merayakan Kelulusan dengan Penuh Makna
Setelah melalui perjalanan panjang yang penuh tantangan dan proses pembelajaran, peserta Kahiu Academy Batch 3 akhirnya berhasil menyelesaikan program mereka.
Momen kelulusan ini dirayakan dalam acara Farewell Kahiu, sebuah perayaan yang sarat makna dan emosi. Bukan hanya menjadi ajang perpisahan, acara ini juga menjadi simbol keberhasilan dan pencapaian luar biasa, baik bagi para peserta, mentor, pembimbing, maupun seluruh pihak yang terlibat dalam program ini.
Peserta melakukan presentasi (Muffidz Ma’sum | YIARI)
Dalam acara yang diselenggarakan, setiap peserta diberikan kesempatan untuk berbagi cerita dan refleksi tentang perjalanan mereka selama mengikuti pelatihan.
Mereka menceritakan perubahan yang mereka alami, bagaimana program ini telah mengubah cara pandang mereka terhadap masa depan, serta bagaimana keterampilan yang mereka peroleh telah menumbuhkan kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh.
Peserta melakukan presentasi(Muffidz Ma’sum | YIARI)
Tak hanya itu, para peserta juga mempresentasikan rencana mereka setelah kelulusan. Ada yang ingin mengejar cita-cita profesionalnya, ada yang berencana untuk mengadakan kegiatan pemberdayaan di kampung halaman, dan ada pula yang bercita-cita mengembangkan pertanian berkelanjutan.
Ragam ide dan inisiatif yang mereka sampaikan menunjukkan bahwa program ini telah membuka wawasan dan membekali mereka dengan kemampuan nyata untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Menatap Masa Depan dengan Optimisme
Antusiasme dan semangat para peserta dalam menyongsong kehidupan setelah lulus sangat terasa sepanjang acara perpisahan. Dengan bekal yang telah mereka peroleh selama mengikuti program di Kahiu Academy, para lulusan kini lebih percaya diri untuk menghadapi berbagai tantangan, serta menciptakan peluang baru bagi diri mereka sendiri dan komunitas tempat mereka tinggal.
Kelulusan dari Kahiu Academy bukanlah akhir, melainkan awal dari langkah-langkah baru yang penuh harapan. Para peserta kini memiliki keterampilan dan wawasan yang lebih luas—baik untuk bekerja di berbagai sektor maupun membangun usaha mandiri. Lebih dari itu, mereka juga dibekali semangat untuk berkontribusi nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
Kami berharap, program ini terus berkembang dan menjangkau lebih banyak remaja di Kalimantan Barat. Keberhasilan para lulusan Kahiu Academy menjadi bukti nyata bahwa pendidikan dan pelatihan yang tepat dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam mendukung perjalanan ini—para mentor, fasilitator, mitra, dan seluruh pendukung program. Semoga para lulusan Kahiu Academy terus melangkah maju, meraih mimpi mereka, dan membawa perubahan positif bagi komunitasnya.
Harapan Baru Ucil: Rela Berhenti Sekolah Demi Keluarga
Nama saya Perdi, biasa dipanggil Ucil. Saya berasal dari Dusun Beloyang Mentatai, tepatnya di kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Usia saya saat ini 15 tahun.
Sebagai anak pertama, saya rela tidak melanjutkan sekolah demi mencari uang. Ini saya lakukan agar bisa membantu keluarga, terutama menyekolahkan kedua adik saya. Jujur, saya tidak bisa berharap banyak dari kedua orangtua. Meski mereka juga bekerja, sekolah adik-adik saya tidak begitu diperhatikan.
Kadang, saya merasa sedih karena kami tidak punya apa-apa. Saya juga iri sama kawan-kawan yang dengan mudahnya meminta ke orangtuanya. Saya justru harus bekerja mati-matian, baru bisa mendapatkan apa yang saya mau.
Saya berhenti sekolah sejak kelas tiga SD. Iri sebenarnya melihat orang-orang yang punya gelar SMA atau sarjana. Sedangkan saya, menulis saja kesulitan. Saya pernah menangis sendiri, memikirkan kehidupan saya yang seperti ini.
Kegiatan Mini Pameran Kahiu Academy, Ucil pertama kali melakukan presentasi didepan umum terkait konservasi dan kerusakan hutan (Tim edukasi | YIARI)
Anak Sekecil itu Terpaksa Kerja Kayu
Sejak kecil, saya terpaksa ikut kerja kayu. Awal kerja kayu, saya bertugas membantu menyapu membersihkan serpihan. Upahnya hanya 25 ribu per hari. Dua tahun setelahnya saya belajar memikul kayu.
Karena saya masih kecil, saya diberi tugas memikul balok kayu ukuran 4 meter dan tebal 10 cm. Dalam sebulan saya rata-rata bisa memikul 100 batang. Jika produksi sedang ramai, bisa sampai 200 batang per bulan.
Penghasilan yang didapat dari pikul kayu dalam sebulan bisa mencapai 4 juta. Tapi bersih yang bisa saya bawa pulang hanya setengahnya saja karena biaya-biaya lain. Setiap balok yang saya pikul sebenarnya dihargai 80 ribu, tapi itu harus dibagi lagi dengan tukang potong.
Selama bekerja kayu, kaki kiri saya pernah sobek terkena kayu. Kalau saya ingat-ingat, bisa saja kaki saya patah waktu itu.
Kerja kayu memang memberikan penghasilan lumayan, itu juga kalau kuat badannya. Kalau sudah tua atau tenaga kurang, sudah pasti tidak banyak yang bisa diambil. Lama-lama, kerja kayu tidak bisa diandalkan. Belum lagi resiko kerjanya.
Kegiatan menanam padi di pulau rangkong saat praktek lapangan kelas pertanian di Kahiu Academy (Tim edukasi | YIARI)
Kesempatan untuk Belajar
Tuhan sepertinya menunjukkan jalan buat saya. Tuhan memberikan saya kesempatan sekali lagi untuk belajar bersama Kahiu Academy. Di Kahiu, saya punya teman baru. Bahagia bisa tertawa dan bercanda bersama mereka. Di program ini, saya banyak belajar hal baru, menambah ilmu dan pengalaman.
Awalnya memang tidak mudah. Saya merasa malu. Hanya lulusan kelas 3 SD. Sikap dan perilaku saya labil dan mudah emosi. Saya senang bisa bercanda dengan teman-teman, tapi saya juga mudah tersinggung. Sikap ini kadang membuat suasana menjadi tidak nyaman bagi teman-teman.
Atas bimbingan kak Dieka dan kakak-kakak di YIARI, saya banyak belajar untuk lebih terbuka. Belajar meminta maaf. Teman-teman juga banyak membantu. Mendukung saya belajar menulis. Membuat saya jadi lebih percaya diri.
Apa yang saya dapat di Kahiu tidaklah sia-sia. Saya bisa komputer. Belajar mengetik, meski lama karena jari-jarinya belum terbiasa. Saya belajar membuat presentasi. Saya juga belajar membuat rencana finansial. Belajar fotografi, juga belajar edit desain menggunakan Canva.
Di salah satu tugas tentang rencana masa depan, saya tuliskan di presentasi, mau buka usaha foto dan kafe, kelak. Tapi baru-baru ini, saya pikir untuk mencoba berkebun. Setelah mendapatkan pelatihan pertanian dari pak Eko, saya rasa ini bisa dilakukan sepulang nanti ke dusun. Kami punya tanah, sayang kalau tidak dimanfaatkan.
Saya sudah coba hitung-hitung. Hasil panen dari bertani pasti selalu habis diambil oleh pasar di Serawai dan Menukung. Kalau ini bisa dijalankan dengan serius, pasti bisa jadi penghasilan tetap setiap bulannya.
Untuk jalankan usaha ini, saya juga bisa ajak kedua orangtua bantu kerja di kebun. Saya berharap, hasil yang didapat dari berkebun nantinya bisa membantu adik saya melanjutkan sekolahnya, lulus hingga SMA atau jadi sarjana. Atau, mewujudkan rencana masa depan saya, buka kafe.
Semoga ini menjadi jalan baik bagi saya dan keluarga.
Kegiatan Mini Pameran Kahiu Academy (Tim edukasi | YIARI)
Tentang Kahiu Academy
Kahiu Academy merupakan program pembinaan dan peningkatan keterampilan yang dikhususkan bagi remaja. Program ini menyasar remaja putus sekolah atau lulusan setingkat SMA, yang masih memiliki motivasi untuk belajar dan mengembangkan kemampuan diri. Saat ini, Kahiu Academy telah terlaksana hingga batch kedua, dengan jumlah keterlibatan sebanyak 35 peserta.
Peserta Kahiu Academy berasal dari berbagai desa mitra YIARI di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Kegiatan berlangsung selama empat bulan, dengan beragam pelatihan dan keterampilan seperti komputer, bahasa Inggris, penerapan pertanian, teknik las, mengemudi, dan lainnya. Selain itu, ada juga kelas-kelas yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan serta pengembangan sikap dan perilaku positif terhadap diri sendiri, juga bagi konservasi alam.
Selepas dari Kahiu, peserta diharapkan dapat lebih mandiri untuk mengembangkan potensi diri di dunia usaha, bekerja, melanjutkan pendidikan, ataupun bidang lainnya yang bisa diterapkan sesuai dengan minatnya.
Biji Kopi, Sebuah Harapan di Tanah Batu Lapis
Di tengah bayangan kelam akan habisnya sumber daya hutan, muncul secercah harapan baru di Desa Batu Lapis.
Deli, seorang pemuda desa yang dulunya hidup dari menebang kayu, kini menemukan cara lain untuk bertahan—melalui biji kopi. Langkah kecil yang ia ambil ini perlahan mengubah bukan hanya hidupnya, tetapi juga masa depan desanya.
Ketidakpastian Masa Depan di Desa Batu Lapis
Moses, seorang ayah dari tiga anak, kerap merenung memikirkan masa depan keturunannya. Ia sadar bahwa sumber daya alam di hutan kian menipis.
Moses ( Muffidz Ma’sum | YIARI )
“Mungkin generasi kami masih bisa bertahan, tapi bagaimana dengan anak cucu kami?” ujarnya saat berbincang di teras rumahnya.
Selama puluhan tahun, Moses telah bekerja sebagai penebang kayu di hutan Kalimantan. Sebagai bagian dari suku Dayak, Moses menggantungkan hidup dari hasil hutan.
Bertani dan menebang kayu ulin adalah pekerjaan utama mayoritas warga di Desa Batu Lapis, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Dalam dua dekade terakhir, pekerjaan ini memang telah memajukan desa. Kondisi ekonomi masyarakat semakin membaik.
“Dulu rumah-rumah di sini kecil, tapi sekarang sudah lebih besar, dan kami bisa membangun jalan untuk mempermudah transportasi,” cerita Moses.
Namun, ia menyadari ketergantungan pada penebangan kayu tak bisa selamanya diandalkan. Peraturan pemerintah yang semakin ketat terkait logging menjadi tekanan bagi warga desa.
“Kami tentu ingin mencari pekerjaan lain yang lebih aman dan tidak lagi merusak hutan,” kata Moses dengan penuh harap.
Moses sedang mengecek alat penebang kayu di bengkel miliknya( Muffidz Ma’sum | YIARI )
Deli dan Clarisa: Harapan Baru untuk Masa Depan Desa
Harapan itu kini mulai terlihat, berkat usaha dua anak muda dari Desa Batu Lapis, Deli dan Clarisa.
Deli ( Muffidz Ma’sum | YIARI )
Mereka adalah lulusan dari Kahiu Academy–sebuah program pendampingan untuk anak-anak putus sekolah yang diinisiasi oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Setelah mengikuti pelatihan, Deli dan Clarisa didampingi untuk mengembangkan usaha mandiri, seperti mengajar anak-anak atau bercocok tanam.
“Jika ada edukasi untuk anak-anak, serta pelatihan dan pendampingan bagi warga, seperti dalam bertani, ini bisa menjadi harapan bagi kami ke depan,” kata Moses dengan senyum optimis.
Membangun Perkebunan Kopi di Desa Batu Lapis
Suatu pagi, sebuah kapal kayu melaju di atas sungai Biha yang surut akibat kemarau.
Di atasnya, Deli dengan pendamping dari YIARI duduk bersiap menuju ladang.
Sesampainya di ladang, Deli segera mempersiapkan peralatan untuk berkebun. Ia berjalan melewati jalan setapak menuju ladangnya, di mana sepuluh bedeng tanaman sudah ia siapkan.
Di tengah ladang, berdiri rumah semai dengan terpal hitam yang menaungi daun-daun semai kopi yang mulai tumbuh. Dengan hati-hati, Deli menyirami tanaman yang akan menjadi cikal bakal perkebunan kopi pertama di Desa Batu Lapis.
Deli sedang menyiram semai kopi yang nantinya akan dia tanam untuk perkebunan kopi( Muffidz Ma’sum | YIARI )
Sebelum terjun ke dunia pertanian, ia bekerja sebagai penebang kayu dan pemburu satwa. “Dulu saya menebang kayu dan berburu, tapi saya sadar pekerjaan ini tidak cocok untuk saya,” ujarnya.
Pertemuan dengan Kahiu Academy mengubah hidupnya. Ia tertarik dengan ilmu pertanian yang diajarkan dalam program tersebut dan mengikuti pelatihan selama empat bulan di Ketapang.
Setelah lulus, Deli dikirim ke Lampung untuk belajar lebih dalam tentang budidaya kopi, termasuk teknik penyemaian, pembibitan, hingga penanaman.
Pemilihan kopi sebagai tanaman utama bukan tanpa alasan.
“Di Desa Batu Lapis, kebanyakan warga menanam sawit yang penyimpanannya itu hanya bertahan 2 hari paling lama. Sementara biji kopi itu bisa disimpan lebih lama, dikeringkan dan disimpan berbulan-bulan,” ungkap Deli.
Selain itu, hasil kopi bisa saya kirim ke kota dengan motor, jadi ini lebih praktis bagi saya,” tambahnya. Ini menjadi solusi yang lebih efektif bagi Deli yang masih belum memiliki kendaraan besar untuk transportasi hasil tani.
Harapan Baru untuk Masa Depan Desa
Bagi Deli, perkebunan kopi adalah harapan baru. Dukungan dari keluarga dan teman-temannya semakin menguatkan tekadnya.
“Saya berharap, usaha ini bisa menginspirasi warga lain. Jika banyak yang mengikuti, kehidupan masyarakat bisa lebih baik, ekonomi desa meningkat, dan lingkungan pun terjaga dari kerusakan hutan,” katanya dengan penuh semangat.
Dieka, manajer program Kahiu Academy, ikut serta meninjau perkembangan Deli dan Clarisa.
“Kahiu Academyditujukan untuk anak-anak putus sekolah agar mereka memiliki keterampilan dan bisa mandiri,” jelas Dieka.
Program ini diperuntukkan bagi pemuda usia 17-25 tahun, dengan pelatihan intensif selama empat bulan yang mencakup berbagai materi, mulai dari pertanian hingga kesetaraan gender.
“Kami berharap para peserta dapat mengamalkan ilmu yang mereka dapatkan untuk diri sendiri dan komunitasnya,” tambah Dieka.
Dengan 48 materi yang diberikan selama pelatihan, Dieka berharap akan ada lebih banyak “Deli” dan “Clarisa” lain yang bisa mengamalkan ilmu mereka untuk kebaikan diri sendiri dan komunitas.
Mulai dari Belajar Hal Baru hingga Mengenali Diri: Kisah Inspiratif Fira di Kahiu Academy
Saat pertama kali ditawari mengikuti Kahiu Academy, saya membutuhkan waktu untuk bisa menentukan jawaban. Jika saya bersedia mengikuti Kahiu, maka saya harus keluar dari zona nyaman dan pergi ke suatu tempat yang belum pernah saya singgahi.
Ditambah lagi, itu akan berlangsung dalam jangka waktu yang menurut saya lumayan lama. Bertemu dengan orang baru, tempat yang baru, dan juga suasana baru yang entah akan seperti apa.
Hingga pada akhirnya, saya memutuskan untuk ikut Kahiu Academy. Tidak ada salahnya untuk mencoba dan mempelajari hal baru. Pikir saya waktu itu.
Di hari pertama, saya berkenalan dengan teman-teman dari Melawi dan Batu Lapis. Kami yang berasal dari Ketapang baru datang ketika pembelajaran sudah dimulai. Hal ini membuat saya sedikit merasa segan karena seperti orang baru datang.
Padahal, saya termasuk anak yang mudah bergaul dan cepat beradaptasi. Namun ternyata cukup sulit untuk bisa berbaur, khususnya dengan peserta laki-laki. Dengan peserta perempuan, kami bisa menjalin pertemanan dengan mudah. Masih ada kecanggungan memang antara peserta laki-laki dan perempuan.
Kegiatan Fira saat Menjadi Peserta Kahiu Academy, Salah Satunya yaitu Kelas Pertanian dengan pak Eko yang Membahas Hubungan Timbal balik Kehidupan (Tim Edukasi Kahiu Academy | YIARI)
Belajar keterampilan dan hal-hal baru
Di Kahiu Academy, ada banyak kelas yang harus kami ikuti. Kelas-kelas ini terasa menyenangkan karena ada banyak hal baru yang saya pelajari. Terutama di kelas self assesment. Buat saya, ini membuat saya lebih mengenal diri saya lebih jauh lagi.
Saya belajar untuk bertanya dan jujur kepada diri saya sendiri. Apa yang saya sukai, dan apakah saya mau menjalaninya. Tanpa saya sadari, saya semakin menantikan kelas-kelas berikutnya yang akan diberikan.
Kami juga diajarkan komputer. Di kelas ini kami dibedakan berdasarkan tingkatan. Ada yang basic dan middle. Pembagian kelas ini cukup efektif, karena secara basic saya sempat mempelajari selama di sekolah. Sehingga materi yang diberikan seperti melanjutkan apa yang sudah dipelajari di sekolah.
Sayangnya, hal serupa tidak berlaku di kelas bahasa Inggris. Bersama teman-teman yang lain, kami belajar dari basic. Memang, tidak semua peserta Kahiu ini memiliki jenjang pendidikan yang sama. Pengetahuan dasar setiap peserta jelas berbeda-beda. Meski begitu, setiap kelas tetap menyenangkan untuk saya ikuti.
Tidak semua peserta memiliki minat yang antusias di setiap kelas yang diberikan. Jujur saja, peserta yang kurang berminat pada suatu materi akan cenderung bermain-main atau tidak serius. Terkadang, saya khawatir kalau hal ini bisa mempengaruhi semangat peserta yang lainnya saat mereka benar-benar ingin belajar dan mempraktekannya kelak di rumah masing-masing.
Perubahan sikap menjadi lebih baik
Selama di Kahiu Academy, kami tidak hanya belajar soal keterampilan saja. Kami juga diajarkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan konservasi. Seperti tidak memelihara satwa liar di rumah.
Sebelumnya ini saya anggap ini adalah hal yang sepele. Tapi setelah memahaminya, saya akhirnya sadar kalau hal tersebut berdampak besar bagi kehidupan kita sendiri. Seperti menularkan penyakit, atau justru sebaliknya.
Saya juga baru tahu mengenai kesejahteraan satwa, terutama bagi hewan peliharaan. Selama ini saya hanya mengira bahwa hewan peliharaan itu cukup diberi makan dan minum saja. Ternyata ada hal-hal lain yang akhirnya saya baru tahu dan sadari. Hewan peliharaan juga harus terpenuhi kesehatan dan mengekspresikan perilakunya.
Selain itu juga ada pembelajaran tentang Sex Education. Selama di sekolah, kata ini sangat tabu untuk didengar. Padahal, ini seharusnya menjadi pembelajaran penting yang wajib diajarkan di sekolah. Bahkan, orangtua juga memiliki peran penting dalam memberikan pengertian tentang pergaulan dan memilih pertemanan.
Di usia seperti saya dan teman-teman, kami sangat rentan terjerumus pada kenakalan remaja. Kami masih sangat labil dan mencoba mencari jati diri. Pentingnya Sex Education ini mengajarkan kami akan sebab akibat agar tidak menjadi penyesalan di kemudian hari.
Kahiu Academy benar-benar telah membuka mata saya. Ternyata, masih banyak anak-anak yang tidak melanjutkan jenjang sekolah yang diwajibkan pemerintah. Mereka putus sekolah, dan terpaksa bekerja kayu di hutan dan Taman Nasional. Mereka juga rata-rata usianya masih di bawah umur.
Minimnya akses kepada pendidikan dan informasi, menjadikan mereka tidak mengetahui akan dampak yang nantinya ditimbulkan. Sedangkan oknum yang mempekerjakan, justru meraup keuntungan yang begitu besar. Yang pada akhirnya, dampak kerugian besar ini akan dirasakan oleh orang-orang yang tinggal di sekitarnya.
Perubahan sikap juga menjadi sesuatu yang saya dan teman-teman rasakan selama mengikuti Kahiu. Saya ingat betul, di satu minggu pertama, ada teman kami yang tidak bisa mengontrol emosinya, pemarah, dan juga tidak percaya diri. Sekarang, saya melihat perubahan yang positif dari dirinya dan juga saya pribadi. Saya sangat senang, karena kami bisa menjadi lebih baik dan jauh lebih percaya diri.
Kini, saya bersyukur telah diberi kesempatan untuk belajar di Kahiu Academy. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dan terapkan kelak ketika kembali pulang. Terima kasih banyak telah mendukung dan mendampingi kami. Memberikan fasilitas, waktu, tenaga dan tentunya biaya yang tidak sedikit. Semoga ini menjadi kebaikan bagi kita semua.
Fira dan Dokter Karmele Llano Sanchez saat Penutupan Acara Kahiu Academy (Tim Edukasi Kahiu Academy | YIARI)
Tentang Fira
Fira Mutia adalah salah seorang peserta Kahiu Academy YIARI batch 2 tahun 2023. Fira berasal dari Sungai Besar, Kabupaten Ketapang. Gadis berusia 24 tahun ini berencana melamar kerja di beberapa perusahaan selepas program Kahiu Academy. Fira yang hobi membaca memiliki ketertarikan untuk menulis, dan berharap bisa membuat sebuah novel kelak.