Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Mari Berkenalan dengan Logo Baru YIARI
Di usia kami yang menginjak 15 tahun tahun ini, Yayasan IAR Indonesia punya logo baru nih sobat #KonservasYIARI. Logo baru kami ini punya makna dan filosofi yang menggambarkan visi dan misi kami sebagai lembaga yang memiliki pendekatan holistik dalam menjalankan program-program konservasi dan penyelamatan satwa liar dilindungi. Nah, yuk merapat untuk mengenal lebih dalam logo baru kami ini.
Logo baru YIARI
Simbol tangan manusia dan satwa
Gambar tangan satwa di sebelah kiri dan tangan manusia di sebelah kanan dalam posisi sejajar menaungi pohon, menggambarkan bahwa manusia dan satwa berperan seimbang dan sama pentingnya dalam mengayomi dan merawat alam dan seisinya, sekaligus memperlihatkan visi dan misi YIARI untuk menjalankan tugasnya secara holistik. Keberadaan satwa disimbolkan dengan tangan yang berbulu untuk mewakili baik itu satwa liar maupun domestik yang menjadi perhatian YIARI. Posisi yang sama dengan tangan manusia memberi makna di mana kesehatan dari manusia juga tergantung dari kesehatan lingkungan, kesehatan satwa domestik maupun satwa liar. Di sinilah YIARI ikut serta dalam menjaga kesehatan ekosistem dan manusia.
Pohon
Keberadaan pohon sangat penting di planet ini. Berfungsi sebagai paru-paru dunia, pohon juga melambangkan habitat yang diperlukan bagi satwa-satwa untuk hidup. Fungsi penting pohon makin diperlukan dalam kaitannya memperlambat laju perubahan iklim. Untuk itulah, YIARI juga membuat program-program restorasi yang bertujuan untuk menyeimbangkan ekosistem, memulihkan habitat, dan berupaya menahan laju perubahan iklim. Pohon yang ditampilkan mengambil bentuk mangrove yang merupakan benteng pesisir pantai Indonesia. Makna pohon ini penting bagi Indonesia yang sebagian besar wilayahnya adalah laut dan pantai.
YIARI
Singkatan dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia. Tulisan YIARI berada di tengah sebagai bagian dari batang pohon, melambangkan harapan dan tujuan kerja kami untuk menjadi penopang bagi kehidupan dan kelestarian alam.
Akar
Keberadaan akar di logo ini mewakili tujuan YIARI untuk bisa berakar di masyarakat, bekerja bersama masyarakat, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Simbol akar inilah yang mewakili program-program YIARI di bidang pemberdayaan masyarakat dan pendidikan serta penyadartahuan.
Garis
Melambangkan semangat YIARI membawa visi dan misi yang holistik dalam melindungi satwa dan habitatnya, dengan melibatkan kolaborasi bersama masyarakat dan pemerintah, untuk menciptakan ekosistem yang harmonis, adil, dan bermartabat bagi satwa dan manusia.
Nah, itulah cerita tentang logo kami. Semoga visi dan misi kami yang tergambar dalam logo baru kami ini, bisa terus kami jalankan dengan tentunya dukungan dan kolaborasi dari para Sobat #KonservasYIARI!
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Ulang Tahun ke-15 YIARI: Terus Semangat Merawat Alam Demi Masa Depan Bumi
Ibarat remaja yang baru merasakan cinta, pasti menggebu-gebu kan? Itulah semangat yang kami rasakan di usia 15 tahun ini Sobat KonservasYIARI. Sebagai lembaga yang bergerak di bidang konservasi dan penyelamatan satwa yang berdiri pada 14 Februari 2008 dengan bermitra bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), 15 tahun perjalanan kami di Indonesia, ternyata tidak pernah memupus semangat kami untuk terus menjalankan visi dan misi kami. Untuk menandai ulang tahun kami itulah, kami mengadakan perayaan di Learning Centre Sir Michael Uren, yang terletak di Sei Awan Kiri, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat pada 14 Februari. Sejumlah kegiatan dilakukan dengan mengajak partisipasi masyarakat. Di antaranya lomba menggambar dan mewarnai untuk anak-anak, lomba tari daerah kreasi dengan tema flora dan fauna, lomba sumpit untuk umum dan pelajar SD, lomba gasing, hingga lomba fotografi. Selain lomba, diadakan berbagai pertunjukan seni, dari musik hingga tari yang mengangkat budaya daerah. Berbagai pihak yang selama ini menjadi mitra YIARI, diundang untuk hadir, baik dari jajaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), jajaran Pemprov Kalimantan Barat, Pemda Ketapang, DPRD, TNI AL, Kepolisian, lembaga-lembaga masyarakat dan adat, hingga beberapa pesohor seperti petinju nasional Daud Yordan.
Acara syukuran ulang tahun ini juga dihelat YIARI di lokasi program yang berada di Bogor, Jawa Barat. Untuk acara di Bogor, YIARI mengadakan jamuan makan siang bagi mitra dan karyawan yang berlangsung di Hotel Mirah Bogor, pada Jumat 17 Februari 2023. Selain acara ramah tamah ini, YIARI juga menyelenggarakan aneka lomba dan syukuran bersama warga di sekitar lokasi pusat rehabilitasi primata milik YIARI yang terletak di Sinarwangi, Curug Nangka, Bogor, Jawa Barat.
Suasana perhelatan perayaan Hari Ulang Tahun YIARI di Bogor, Jawa Barat (Rendi Afandi | Yayasan IAR Indonesia)
“Kami sangat bersyukur acara ulang tahun ini berlangsung lancar dan meriah, dengan keterlibatan aktif dari masyarakat serta dukungan pemerintah baik pusat maupun daerah. Hal lain yang terutama membuat kami bahagia tentunya adalah keberadaan karyawan YIARI sendiri. Selama 15 tahun ini, kami didukung oleh semangat dan energi yang tulus dari para karyawan di lokasi-lokasi tempat kami bekerja baik itu di Kalimantan Barat, Bogor, dan Lampung. Tanpa dedikasi dan integritas mereka, tidak mungkin kami bisa berjalan hingga sejauh ini,” ujar Karmele Llano Sanchez, CEO YIARI.
Hal serupa disampaikan Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul yang mengungkapkan apresiasinya pada seluruh pihak yang terlibat pada perayaan ulang tahun ke-15 ini. “Bagi lembaga yang bergerak di bidang konservasi, dukungan pemerintah dan masyarakat adalah fondasi bagi program-program kerja yang kami lakukan. Untuk itulah kemitraan menjadi sangat penting di hari ini. Kolaborasi dan sinergi adalah kunci bagi kesuksesan pekerjaan menjaga alam yang menjadi tanggung jawab kita bersama. Karena itulah, gerak langkah YIARI selama 15 tahun ini telah membawa program-program kami tidak lagi hanya bergerak dalam hal penyelamatan satwa liar dilindungi, namun menjangkau pendekatan yang lebih holistik melalui pemberdayaan masyarakat, edukasi, dan penyadartahuan,” ujar Silverius Oscar Unggul.
Pada perayaan HUT YIARi ke-15 ini di Pusat Rehabilitasi Orangutan kami di Ketapang, Kalimantan Barat, kami memberi apresiasi bagi para pemenang lomba dalam rangkaian perayaan HUT YIARI ini (Muffidz Ma’sum | Yayasan IAR Indonesia)
Perjalanan YIARI bermula saat Karmele Llano Sanchez dan Argitoe Ranting beserta kawan-kawan melakukan kegiatan pelepasliaran makaka dan beruk ke Batutegi, Lampung pada 2006 dengan dukungan dana dari International Animal Rescue (IAR). Keberhasilan kegiatan ini mendorong IAR memberi dukungan lebih lanjut kepada Karmele dan Argitoe dan tim pada saat itu, untuk membangun pusat rehabilitasi bagi kukang dan makaka di Ciapus, Bogor, Jawa Barat pada 2007. Setahun kemudian, lahir secara resmi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) yang didaftarkan di Kementerian Hukum dan Ham pada 14 Februari 2008. Pada waktu itu, YIARI yang menjadi bagian IAR di Indonesia, bergerak di bidang penyelamatan dan rehabilitasi satwa dengan tujuan untuk menyejahterakan satwa yang menjadi korban dari perdagangan satwa liar.
Perkembangan YIARI semakin bertumbuh saat Karmele bertemu dengan orangutan Jojo dalam sebuah kegiatan penyelamatan di Pontianak pada 2009. Di tahun ini juga, YIARI memulai program pemulihan orangutan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Atas dorongan dan dukungan sepenuhnya dari BKSDA Kalimantan Barat yang saat itu dipimpin oleh Edy Sutiyarto selaku Kepala Balai, yang melihat belum adanya pusat rehabilitasi orangutan di wilayah Kalbar, maka dibangunlah pusat rehabilitasi orangutan di Desa Sei Awan Kiri, Ketapang, pada 2012.
Sejak awal kami berdiri di tahun 2008, kami fokus dalam perlindungan satwa liar termasuk dalam upaya monitoring rutin pasca pelepasliaran (Tim Animal Management | Yayasan IAR Indonesia)
Perjalanan YIARI setelah itu berkembang ke arah holistik melihat bahwa isu-isu yang terkait satwa liar yang dilindungi tak hanya bisa diatasi dengan penyelamatan, rehablitasi dan pelepasliaran saja. Perlu adanya pendekatan holistik kepada masyarakat sehingga YIARI kini telah menjalankan kemitraan dengan berbagai pihak melalui program pemberdayaan masyarakat, edukasi, kampanye, penegakan hukum bagi kasus-kasus kejahatan terhadap satwa liar dilindungi, penanganan konflik antara manusia dan satwa, serta perlindungan dan restorasi habitat.
Di tahun 2023 ini, YIARI telah menempuh perjalanan 15 tahun di Indonesia, sebagai mitra bagi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan unsur-unsur Pemerintah Indonesia lainnya baik Pusat maupun Daerah, serta bermitra dengan masyarakat dan swasta, dengan mengemban VISI “Dunia tempat manusia dan satwa hidup berdampingan dalam ekosistem yang sehat” dan MISI: “Membangun kesadaran dan kepedulian untuk melindungi satwa dan habitatnya”. Sehingga di ulang tahun ke-15 ini, YIARI menampilkan tagline YIARIBESTARI: Bersama Menjaga Alam Harmoni Demi Masa Depan Bumi.
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Mengikuti Jejak Tim Patroli Kawasan Hutan
Siang itu, suara langkah kaki manusia terdengar meningkahi beragam suara penghuni hutan. Langkah mereka berkecipak saat rombongan ini melintasi genangan rawa gambut di Hutan Desa Pematang Gadung. Rombongan yang terdiri dari tim patroli IAR Indonesia ini berjalan sambil sesekali menebar pandangannya ke sekeliling, berusaha menemukan satwa yang mungkin bersembunyi di rimbun pepohonan. Setiap ada temuan satwa atau jejak satwa, jemari mereka sibuk menyentuh layar gawai yang dipegangnya. Bukan untuk memperbarui status, tapi mencatat temuan mereka ke dalam aplikasi SMART Patrol.
SMART (Spasial Monitoring and reporting Tools) merupakan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk menyimpan data kegiatan patrol/pengelolaan kawasan konservasi atau jenis kawasan lainnya, sekaligus sebagai penyimpan data/database. SMART juga memiliki kemampuan untuk merencanakan, mendokumentasikan, menganalisis, dan mengeluarkan laporan sehingga data-data dalam suatau kawasan, baik itu data potensi, ancaman maupun kenaekaragaman hayati dapat dikelola sesuai kebutuhan penggunanya. Yang jauh lebih penting dari kemudahan penggunaannya adalah SMART dapat membantu pihak manajemen dalam membuat strategi dan perencanaan berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan.
Sejak awal 2017, IAR memanfaatkan (SMART) untuk kegiatan patroli perlindungan kawasan dan keanekaragaman hayati. Dengan menggunakan metode ini, peralatan yang dibawa lebih ringkas, waktu yang digunakan untuk memasukkan dan mengolah data juga lebih singkat. Data yang dimasukkan juga lebih akurat dengan cacatan waktu dan titik koordinat lokasi pengambilan data dapat dipertanggungjawabkan.
Sebelumnya, tim patroli IAR Indonesia perlu membawa meteran, kertas data, jam, kamera, dan GPS. Setiap ada temuan berupa satwa atau ada ancaman kerhadap keamanan hutan seperti penebangan liar, kebakaran, pertambangan maupun perburuan, tim patroli harus mencatat temuannya secara manual, memasukkan jam pengambilan gambar, serta memasukkan titik GPS lokasi pengambil data. Kemudian kertas data diserahkan kepada tim pengolah data, yang harus memasukan data dari kertas data ke dalam komputer secara manual. Ketika diperlukan, pencarian data yang sudah masuk ke komputer pun harus dilakukan secara manual.
Dengan pemanfaatan SMART, tim patroli hanya perlu mengambil data menggunakan smartphone. Sekali mengetik data temuan, informasi waktu dan lokasi secara otomatis langsung ditambahkan di dalam data temuan. Memindahkan data kekomputer pun tidak lagi dilakukan secara manual. Data yang masuk bisa dikelompokan berdasarkan query sehingga penarikan data pun lebih mudah karena data sudah terklasifikasi.
Sampai saat ini IAR Indonesia mengimplementasikan SMART Patrol di dua kabupaten yaitu Ketapang dan Melawi. Penggunaan SMART Patrol di Ketapang meliputi Hutan Desa Pematang Gadung, Hutan Desa Sungai Besar, Hutan Desa Sungai Pelang, dan Hutan Lindung Gunung Tarak. Selain itu tim Orangutan Protection Unit (OPU) juga memanfaatkan SMART Patrol untuk melakukan patroli dan verifikasi konflik manusia-orangutan. Sedangkan di Kabupaten Melawi, SMART Patrol diterapkan dalam program perlindungan kawasan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.
Hasil monitoring lapangan menggunakan SMART Patrol sejak Januari sampai November 2019 berhasil mendata puluhan kegiatan ilegal yang dilakukan di dalam kawasan Hutan Desa Pematang Gadung dan Hutan Desa Sungai Besar. “Rinciannya ada 2 perburuan, 97 penebangan liar, dan 44 pertambangan illegal di dalam kawasan. SMART Patrol ini juga berhasil mendata adanya 309 ancaman berupa kebakaran di dua hutan desa tersebut,” ujar Muhadi, Supervisor Tim Orangutan Protection Unit yang bertanggungjawab mengelola data SMART di IAR Indonesia.
Selain kegiatan ilegal yang bisa mengancam eksistensi hutan, tim patroli di Hutan Desa ini juga mencatatkan 2602 perjumpaan dengan burung, reptil dan mamalia termasuk orangutan. Perjumpaan ini termasuk perjumpaan individu satwa, jejak, sarang, kotoran, bekas cakaran, kubangan dan bangkai satwa. Data yang ada juga menunjukkan total jarak yang ditempuh oleh tim patroli lebih dari 4.000 km dengan durasi patroli mencapai 2720 jam.
Kehilangan Rumah Habitatnya, Berat Ditranslokasi ke Hutan Sentap Kancang
Pasca kebakaran hutan dan lahan di daerah Ketapang, Kalimantan Barat, pekerjaan untuk memulihkan kembali kondisi kerusakan alam ini ternyata masih terus berlanjut. Terutama dalam hal menyelamatkan satwa-satwa yang kehilangan ruang hidupnya. Pekerjaan terbaru adalah menyelamatkan Berat, orangutan jantan berbobot lebih dari 80 kg. Pada akhir pekan lalu, tepatnya Jumat, 8 November 2019, tim Orangutan Protection Unit (OPU) dari IAR Indonesia menerima laporan warga tentang keberadaan orangutan ini di lahan konsesi sawit di Desa Mayak, Kecamatan Muara Pawan, Kalimantan Barat.
Menindaklanjuti laporan ini, tim OPU IAR Indonesia segera menuju lokasi dan menemukan keberadaan orangutan ini yang beraktivitas di tanah karena tidak ada lagi pohon tinggi. Kondisi hutan di sekitar kebun sawit itu sudah terbakar dan tidak ada lagi tempat hidup yang layak bagi orangutan ini sehingga ia memasuki lahan kebun dan memakan umbut-umbut sawit untuk bertahan hidup. Melihat kondisi di lokasi yang tak memungkinkan orangutan ini bisa melanjutkan hidup, tim OPU memutuskan untuk mentranslokasi orangutan ini yang kemudian dinama “Berat” ke hutan yang lebih baik. Kegiatan penyelamatan ini dilakukan bersama BKSDA Kalbar pada hari Minggu 10 November 2019.
Setelah menjalani proses pemeriksaan medis oleh tim dokter IAR Indonesia, Berat yang diperkirakan berusia lebih dari 20 tahun, kemudian ditranslokasi ke hutan Sentap Kancang, yang dinilai lebih sesuai sebagai habitat barunya karena hutan tersebut masih menyediakan pepohonan dan tanaman yang cukup sebagai pakannya. Selain itu kepadatan populasi orangutan di hutan ini belum terlalu tinggi sehingga ia masih memiliki ruang hidup yang sesuai bagi karakter orangutan sebagai satwa yang soliter.
Sebelumnya, hanya dalam jangka waktu 2 bulan, IAR Indonesia telah menyelamatkan 6 individu orangutan korban kebakaran di Ketapang. “Berat adalah korban kebakaran 2019 yang ke 7 hanya di areal sekitar ketapang saja. Ancaman kebakaran sudah menjadi ancaman terbesar bagi kehidupan orangutan dan juga menjadi salah satu faktor terbesar yang mendorong efek rumah kaca dan perubahan iklim,” ujar Karmele L. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia. “Selain kerugian lingkungan kita harus memperhitungkan Kerugian ekonomi bagi pemerintah, bagi masyarakat dan bagi seluruh dunia akibat kebakaran juga karena kebakaran adalah permasalahan kita Bersama,” tambahnya.
Penyelamatan dan translokasi Berat ini memperlihatkan bahwa bencana kebakaran hutan dan lahan sejak pertengahan tahun ini, memerlukan kerja sama semua pihak dalam memulihkan kembali kondisi hutan. Kesadaran warga yang semakin meningkat terhadap penyelamatan satwa juga turut mendukung pekerjaan-pekerjaan petugas penyelamat satwa di lapangan, dengan cara segera melaporkan keberadaan satwa dilindungi yang kehilangan hutan sebagai rumah hidupnya. Namun yang terutama, ke depannya, upaya masyarakat juga sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kembali kebakaran hutan dan lahan serta praktik-praktik yang merusak ekosistem dan keseimbangan alam.
Dengan Satu Mata, Junai Melanjutkan Hidup di Gunung Tarak
Ketapang, Kalbar – Junai, orangutan liar jantan dewasa berusia lebih dari 20 tahun, akhirnya dinyatakan mampu untuk kembali dilepaskan di hutan, setelah sebelumnya, ia diselamatkan dalam kondisi mata kiri mengalami kebutaan. Saat diselamatkan di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang pada 20 September lalu, Junai dalam kondisi memprihatinkan. Tubuhnya kurus dan mata kiri buta yang setelah diperiksa oleh tim medis, ternyata ditemukan dua butir peluru di dalam tengkorak tepat di belakang bola matanya. Sungguh suatu mukjizat ia bisa bertahan hidup dengan kondisi tersebut.
Setelah sebulan menjalani masa pemulihan di IAR Indonesia yang memiliki fasilitas perawatan bagi satwa liar terutama orangutan, Junai dinilai siap untuk kembali hidup di habitat alaminya. Kedua peluru di belakang mata kirinya diputuskan tak diambil dengan pertimbangan bahwa operasi yang akan dilakukan sangat berisiko mengancam keselamatannya.
Gunung Tarak yang berada tidak jauh dari kawasan Taman Nasional Gunung Palung pun akhirnya dipilih sebagai lokasi pelepasliarannya. Di kawasan hutan lindung gunung ini, IAR Indonesia bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Ketapang Selatan, dan Balai Taman Nasional Gunung Palung melepaskan Junai pada Senin, 11 November 2019.
Kegiatan pelepasan ini menempuh waktu sekitar 12 jam menggunakan kendaraan mobil dan menempuh perjalanan kaki menuju titik pelepasan. Pelepasliaran di Gunung Tarak ini merupakan kali pertama sejak terakhir kali melepasliarkan orangutan bersama BKSDA Kalbar dan KPH Ketapang Selatan pada 2017. Total sudah 15 orangutan dilepaskan di kawasan ini sejak tahun 2014.
Untuk memastikan kondisi Junai terus selamat dan mampu melanjutkan hidupnya, IAR Indonesia menempatkan tim patroli dan monitoring yang telah berada di sana sebagai bagian dari prosedur yang ditetapkan IAR Indonesia dalam program pelepasliaran orangutan.
Meskipun salah satu matanya mengalami kebutaan, tim pelepasan yakin bahwa hal tersebut tidak akan mengurangi kemampuannya untuk bertahan hidup selayaknya orangutan. Orangutan dikenal sebagai satwa cerdas dengan tingkat kemampuan adaptasi yang tinggi.
“Sebelumnya kami pernah juga melepaskan orangutan yang satu kakinya lumpuh akibat peluru pada tahun 2016 di HL Gunung Tarak, orangutan ini kami pantau setiap hari selama beberapa bulan dan terbukti bahwa orangutan ini mampu bertahan hidup dengan normal walaupun salah satu kakinya lumpuh akibat ada belasan peluru yang beberapa di antaranya mengenai saraf tulang belakangnya,” ujar Argitoe Ranting, Manager Survey, Release, dan Monitoring IAR Indonesia. “Kehilangan satu matanya tidak akan berpengaruh banyak dalam kemampuan bertahan hidupnya karena kemampuan adaptasi orangutan cukup bagus di alam liar. Kami yakin Junai akan baik-baik saja dan senang dengan rumah barunya ini,”tambahnya lagi.
Pernyataan Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez,
Orangutan Junai ini adalah salah satu korban kebakaran hutan dan lahan pada bulan kemarin. Kita sangat sedih melihat areal yang telah terbakar di sekitar kawasan hutan yang menjadi habitat orangutan Junai. Orangutan yang terpaksa kehilangan habitat tidak jarang masuk di areal kebun warga atau areal kampung, dimana kadang ada juga masyarakat yang sangat tidak bertanggung jawab yang hanya ingin ‘bermain-main’ dengan menyakiti orangutan dengan menembak peluru pada matanya. Jika peluru sampai kena kedua matanya, orangutannya bisa menjadi cacat untuk selamanya dan kesulitan untuk melanjutkan hidupnya. Kami sangat yakin bahwa sebagian dari masyarakat di ketapang, dan di seluruh Kalimantan tidak menyetujui dengan cara tersebut”
Pernyataan Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor, S.Hut., M.T.
Sebagai penggiat konservasi, kita mempunya satu pekerjaan rumah, yakni membangun pola pikir masyarakat untuk lebih peduli pada hutan, ekosistem dan satwa liar. Kerja-kerja konservasi sudah banyak dilakukan, tapi penganiayaan terhadap satwa liar masih saja terus berlangsung. Penyelamatan satwa liar sudah sering dilakukan, namun itu tidak akan pernah cukup selama kita tidak mampu merubah mindset masyarakat dan generasi muda untuk lebih ramah pada satwa liar.
Pernyataan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kehutanan Kalimatan Barat, Untad Dharmawan
Pelepasliaran satwa liar ke habitat aslinya pada dasarnya bertujuan untuk menjaga keseimbangan ekologis pada suatu ekosistem dalam hal ini adalah ekosistem hutan. Karena masing-masing dari setiap komponen yang ada dalam kesatuan ekosistem tersebut pada dasarnya memiliki peran dan relung ekologisnya masing2-masing sehingga akan tercipta suatu keseimbangan yang saling tergantung antara satu dengan yang lainnya.
Orangutan sebagai salah satu dari satwa langka yang dilindungi adalah merupakan Satwa khas bumi Kalimantan yang saat ini kehidupannya “terancam punah” akibat berbagai macam tekanan terhadap keberadaan hutan sebagai habitat kehidupan Orangutan. Tekanan berupa deforestasi, desertifikasi, overeksploitasi hutan, kebakaran hutan dan ditambah lagi perburuan liar semakin mengancam keberadaan orangutan itu sendiri.
Upaya yang telah dilakuan oleh Lembaga IAR indonesia selama ini dengan terus berupaya menyelamatkan, merawat, merehabilitasi dan melepasliarkan orangutan ke habitatnya patut kita apresiasi. Selain ini merupakan langkah upaya kita untuk menjaga dan melestarikan fungsi hutan, juga ini merupakan upaya sadar kita untuk “memanusiakan manusia” sebagai khalifah dimuka bumi.
Inventarisasi dan Pemantauan Satwa Liar untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati
Satwa liar memiliki peranan penting di dalam keseimbangan ekosistem hutan hujan tropis. Keanekaragaman jenis dan keanekaragaman fungsionalnya berkontribusi pada dinamika proses dari ekosistem ini. Misalnya, beberapa kelompok mamalia dan burung terlibat langsung dalam proses regenarasi hutan melalui polinasi, pemencaran biji, dan siklus nutrisi. Namun demikian, mereka terus terancam oleh perburuan, fragmentasi, dan kehilangan habitat. Semua faktor ancaman tersebut dapat menyebabkan kepunahan lokal dan pada akhirnya akan berdampak pada dinamika ekosistem hutan secara keseluruhan.
Kemampuan untuk secara langsung memantau status dan perubahan dari populasi-populasi satwa liar dalam konteks spasial-temporal adalah elemen kunci dari konservasi dan pengelolaan ekosistem hutan hujan tropis di Indonesia khususnya di Kalimantan Barat. Inventarisasi populasi satwa liar merupakan langkah penting pertama dalam penyediaan data dasar (baseline) untuk memahami struktur, kekayaan, kelimpahan, dan sebaranya di habitat alami.
Tim survey biodiversity memasang kamera jebak di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya
Di Kalimantan Barat, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya adalah salah satu kawasan penting sebagai “rumah” bagi satwa liar dan beragam kekayaan hayati lainya. Selain avifauna (burung) dan herpetofauna (reptil dan amfibi), mamalia merupakan kelompok satwaliar dengan kekayaan dan keragaman serta peran ekologis yang sangat penting. IAR Indonesia sejak mulai aktif berkegiatan di TN Bukit Baka Bukit Raya pada 2015, menaruh perhatian pada keberlangsungan populasi-populasi satwa liar di kawasan konservasi ini. Salah satunya, pada April 2019, dilakukan kegiatan inventarisasi dan pemantauan satwa liar menggunakan perangkap kamera yang masih berlangsung hingga sekarang. Perangkap kamera banyak digunakan dalam studi satwa liar dalam dekade terakhir karena dinilai cukup efisien dan mudah dilakukan.
Survei tersebut bertujuan untuk memperoleh daftar inventarisasi dari semua spesies mamalia serta satwa liar lainya. Selain itu, secara lebih spesifik, survei perangkap kamera bertujuan mengestimasi kekayaan jenis, mengevaluasi upaya pengambilan sampel, mengukur keanekaragaman spesies dan kelimpahan relatif, serta memperkirakan tingkat okupansi dari komunitas satwaliar. Hasil survei ini kemudian diharapkan dapat digunakan sebagai data dasar dalam rencana pemantauan dan pengelolaan populasi satwa liar di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di masa mendatang.
Kucing Teluk ( Pardofelis badia) yang tertangkap kamera jebak di kawasan TNBBBR.
Dari sebanyak 21 unit kamera jebak yang dipasang di area seluas ±7,4 kilometer persegi (±740 hektar), di dalam 1.424 hari perangkap kamera kami mencatat sedikitnya terdapat 17 jenis satwa liar termasuk 15 jenis mamalia berukuran sedang dan besar serta dua jenis burung. Sejak April 2019 hingga Agustus /2019, kami memperoleh total 148 gambar independen, di antaranya dapat diidentifikasi hingga tingkat spesies. Spesies yang paling sering tertangkap perangkap kamera adalah beruk (Macaca nemestrina, 32 foto) dengan rerata tingkat jebakan 3,32 foto independen per 100 hari jebak, diikuti oleh kijang merah (Muntiacus atherodes, 20 foto, tingkat jebakan 2,04), dan kijang muntjak (Muntiacus muntjak, 15 foto, tingkat jebakan 1,47). Beruk merupakan spesies yang tertangkap jebakan hampir di semua lokasi perangkap kamera.
Kami mendeteksi keberadaan beberapa spesies yang terdaftar dalam Daftar Merah IUCN termasuk trenggiling (CE), beruang madu (VU), dan ruai (NT). Dalam survei kami, ada sepuluh species resident seperti ruai, musang, dan babi berjanggut. Sementara itu terdapat tujuh spesies lain yang jarang terdeteksi yang hanya tercatat satu kali selama periode sampling (hingga Agustus 2019). Salah satu spesies yang paling jarang dijumpai adalah trenggiling yang terdaftar sebagai Kritis dalam Daftar Merah IUCN 2017 dan Appendix I CITES. Trenggiling adalah salah satu dari satwa yang dilindungi yang paling banyak diburu dan dieksploitasi di Asia Tenggara. Seperti spesies trenggiling lainnya, trenggiling Sunda diburu untuk kulit, sisik, dan dagingnya, digunakan dalam pembuatan pakaian dan obat tradisional. Meskipun dilindungi, perdagangan ilegal telah menyebabkan penurunan ukuran populasi jenis ini dengan cepat.
Empat mamalia terestrial yang juga jarang dijumpai yang kami deteksi dengan hanya satu foto adalah landak, kucing batu, tufted ground squirrel, dan biawak dumeril. Hampir semua dari tujuh satwa yang jarang tersebut relatif sulit diamati karena kualitas gambar yang rendah, dan perilakunya yang tergolong satwa nokturnal. Selama kegiatan IAR di TNBBBR berjalan, staf lapangan jarang menjumpai ruai, trenggiling sunda, dan atau kucing batu. Hal ini menunjukkan bahwa kamera jebak cukup berguna untuk menginventarisir satwa liar yang elusive (sulit dijumpai). Dua spesies burung, ruai, dan crested partridge yang kami deteksi terdaftar sebagai spesies yang hampir terancam (NT), Appendiks II dan III CITES. Ruai yang tertangkap kamera jebak sebanyak tujuh kali dikenal sebagai satwa endemik Kalimantan.
Dari hasil kami, evaluasi tentang berapa lama kamera harus dioperasikan masih belum dapat ditentukan secara tepat karena kurva akumulasi masih belum menunjukkan daerah plateu. Hal ini mungkin mengindikasikan bahwa upaya survei yang lebih lama dan lebih besar masih diperlukan untuk merekam beberapa spesies satwa liar lainya. Pada prinsipnya, semakin besar ukuran sampling atau periode pengambilan sampel yang lebih lama, semakin banyak spesies akan dicatat. Kurva sampling ini naik relatif cepat pada awalnya, kemudian jauh lebih lambat dalam sampel selanjutnya seiring bertambahnya taksa yang jarang dijumpai. Hasil survei kami menunjukkan bahwa usaha pengambilan sampel yang lebih besar atau periode sampling yang lebih lama masih diperlukan. Diharapkan ketika kurva akumulasi spesies mencapai asimtot, kita dapat cukup yakin bahwa seluruh spesies yang ada di lokasi survei telah tercatat.
Indeks keanekaragaman spesies juga digunakan sebagai parameter dasar untuk program pengelolaan satwa liar yang bertujuan untuk memantau struktur dan komposisi komunitas satwa liar dari waktu ke waktu. Indeks keanekaragaman yang paling umum digunakan dalam ekologi adalah keanekaragaman Shannon dan keanekaragaman Simpson. Keanekaragaman Shannon dan Simpson meningkat seiring dengan meningkatnya kekayaan jenis, untuk pola kemerataan tertentu, dan meningkat seiring dengan meningkatnya kemerataan. Estimasi indeks keanekaragaman kami menunjukkan bahwa komunitas satwa liar di Resor Mentatai di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi.
Penulis: Ahmad Jabbar
Nasib Orangutan Di Ujung Peluru
Minggu siang itu, 22 September 2019, sejumlah dokter hewan dan paramedis IAR Indonesia tampak sibuk. Di atas meja operasi, orangutan bernama Arang terbaring dalam pengaruh obat bius. Arang adalah orangutan betina yang diselamatkan oleh IAR Indonesia dan BKSDA pada 19 September 2019 di lahan bekas terbakar di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang.
Drh. Joost, medical advisor IAR Indonesia tampak berkonsentrasi penuh dengan pisau bedahnya. Pelan tapi pasti, pisau bedah itu menyayat kulit di pangkal hidung Arang. Darah segar mengalir keluar. Setelah darah dibersihkan, terlihat sebutir peluru bersarang di dalamnya. Dengan bantuan sebatang pinset, drh Joost mengambil peluru itu.Pekerjaan belum tuntas. Ketika dilakukan lagi foto rontgen, diketahui ada peluru lain yang bersarang di bawah mata kirinya. Prosedur operasi pun dilakukan lagi untuk mengeluarkan peluru tersebut.
Kasus peluru yang ditemukan pada Arang bukanlah kasus pertama di IAR Indonesia. Sebelumnya ada delapan orangutan yang didapati mempunyai peluru di dalam tubuhnya. Total ada puluhan peluru yang bersarang di dalam tubuh para orangutan ini. Sebagian tidak bisa diambil karena pengambilan peluru akan berisiko untuk keselamatan nyawanya.
Drh. Claudia Hartley dan drh. Karmele memeriksa kondisi mata Dio yang terkena peluru
Pada 2009, orangutan bernama Ricky mati dengan dua peluru di tangan dan satu peluru di dekat ginjalnya. Kemudian pada 2014, orangutan bernama Dio diselamatkan dengan satu mata buta. Ketika diperiksa, terdapat sebutir peluru di bola matanya. Matanya membusuk dan mengalami infeksi akibat peluru ini hingga akhirnya tim medis IAR Indonesia memutuskkan untuk mengangkat bola matanya. Dibantu oleh seorang Ophthalmologist dari Inggris, Claudia Hartley, operasi pengangkatan mata ini berhasil dilakukan.
Kekejaman luar bisa terhadap satwa ini tidak pernah berhenti. Pada akhir 2015, kami menyelamatkan orangutan yang satu kakinya mengalami kelumpuham. Setelah dilakukan pemeriksaan dengan sinar X, baru diketahui bahwa orangutan yang diberi nama Jambu ini juga merupakan korban senapan angin. Di tubuhnya terdapat belasan peluru dan sebagian bersarang di tulang belakangnya. Peluru ini ditengarai mengenai salah satu bagian sarafnya dan menyebabkan kelumpuhan.
Tim medis memonitoring Didik sebelum melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru dari bahunya
Masih ada lagi kasus Didik, di mana bayi orangutan malang ini harus menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru di bahu kirinya. Beruntung Didik tidak mengalami luka parah akibat peluru ini. Peluru di bahunya relatif mudah dikeluarkan. Kasus senapan angin yang lebih parah menimpa Reva. Di tubuhnya ada enam peluru yang tersebar di beberapa area tubuhnya, bahkan tulang jarinya patah akibat terjangan peluru. Selain itu masih ada Zola dan Ami yang masing-masing mempunyai satu peluru di badannya.
Penggunaan senapan angin untuk berburu menjadi momok bagi kehidupan satwa liar. Banyak komunitas maupun pemburu perorangan menjadikan satwa liar sebagai sasaran tembak, bahkan satwa yang dilindungi undang-undang pun tidak luput dari terjangan peluru mereka. Padahal peraturan tentang penggunaan senapan angin sudah tertera cukup jelas dalam Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia nomor 8 tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olahraga. Dalam Pasal 4 ayat (1) dan (3), senapan angin (air rifle) termasuk ke dalam senjata api olahraga yang pemakaiannya hanya digunakan untuk menembak sasaran atau target. Sedangkan dalam pasal 5 ayat (3), senapan angin (air rifle) hanya dilakukan di lokasi pertandingan dan latihan.
Sayangnya, kasus perburuan satwa liar dengan senapan angin masih terus terjadi. Selain sosialisasi dan penegakan hukum yang lemah, pemasaran senapan angin secara bebas di pasaran turut mendukung penggunaan senapan angin secara sembarangan. Kasus-kasus penembakan terus terjadi, mulai dari yang terpublikasikan dan ditangani oleh petugas terkait, sampai pada kasus yang tidak terpublikasikan sama sekali. Disinyalir, satwa yang menjadi korban jauh lebih banyak yang tidak terpantau dan terpublikasi.
Sosialisasi dari pemegang peraturan, baik dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kepolisian Republik Indonesia ataupun Perbakin sebagai pusat komunitas tembak di Indonesia seharusnya dilakukan secara berkala dan tegas agar masyarakat makin menyadari penyalahgunaan senapan angin yang menjadikan satwa sebagai sasaran, harus ditindak secara hukum yang tegas.
Heribertus Suciadi
Kisah Empat Individu Orangutan yang Terselamatkan dari Api
Dalam kisah Ramayana, terdapat satu episode yang mengisahkan tentang kera putih Anoman, yang tetap hidup dari kobaran api yang melalap Kerajaan Alengka. Babak yang dikenal dengan judul “Anoman Obong” ini menjadi sebuah paradoks atas nasib sejumlah orangtuan dan satwa yang terperangkap karhutla yang berlangsung di sejumlah wilayah di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir ini. Mereka tentu saja tidak memiliki kesaktian seperti halnya Anoman. Yang bisa mereka lakukan adalah menunggu nasib untuk menentukan apakah mereka terselamatkan atau tidak.
Untuk inilah, IAR Indonesia meningkatkan patroli di kawasan hutan dan lahan, terutama yang mengalami dan terdampak kebakaran. Dari patroli inilah, pada 16 September lalu, salah satu staf IAR menemukan dua individu orangutan yang berada di atas pohon di tengah lahan yang sudah terbakar, di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang. Melihat kondisi hutan di sekitar orangutan tersebut yang sudah habis terbakar, IAR Indonesia bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, memutuskan untuk segera mengevakuasi dua individu ini. Tim penyelamat segera bergerak cepat dan dalam tempo kurang dari satu jam, kedua orangutan itu sudah terbius dan segera diamankan di dalam kandang transportasi. Ketika diselamatkan, kondisi kedua orangutan ini mengalami dehidrasi, bahkan ditemukan juga peluru senapan angin di muka salah satu orangutan ini.
Kedua orangutan ini terdiri dari satu orangutan jantan yang diberi nama Bara dan satu individu orangutan betina yang diberi nama Arang. Keduanya diperkirakan berusia sekitar 20 tahun. Baik Bara dan Arang kemudian dirawat dan dipulihkan kondisinya di pusat rehabilitasi satwa IAR Indonesia-Ketapang.
Tak lebih dari sepekan kemudian, IAR Indonesia kembali mendapatkan kabar tentang individu orangutan yang terancam kelangsungan hidupnya karena habitatnya terlalap habis oleh api. Bersama BKSDA Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) 1 Ketapang, tim gabungan ini berhasil menyelamatkan satu individu orangutan di kebun karet milik warga di Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, pada Sabtu (21/9). Orangutan yang diberi nama Jerit ini berjenis kelamin jantan dan diperkirakan berusia 7 tahun.
Penyelamatan Orangutan Korban Kebakaran
Saat diselamatkan, Jerit dalam kondisi sangat kurus, dehidrasi, dan terdapat luka membusuk yang melingkar di kaki kanannya akibat lilitan tali jerat. Melihat kondisinya yang semacam ini, ia kemudian menjalani perawatan oleh tim medis IAR Indonesia untuk memastikan kondisi kesehatannya sudah pulih total sebelum ia bisa dilepas kembali ke alam.
Keberadaan Jerit di wilayah tersebut sebelumnya sudah pernah dilaporkan oleh pemilik kebun karet. Berkat kerja sama yang baik antara petani dan masyarakat di areal lanskap Gunung Palung dan Sungai Putri, maka keberadaan Jerit tidak dianggap sebagai konflik. Tetapi karena hutan di sekitar kebun sudah terbakar semua, kita tidak ada alternatif, dan orangutan ini harus ditangkap dan ditranslokasi ke hutan yang aman,” ujar Argitoe Ranting, Manager Lapangan IAR Indonesia.
Di daerah Kuala Satong, Ketapang, yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Palung, dulunya merupakan wilayah hutan dan habitat orangutan. Akibat pembukaan lahan yang dikonversi menjadi sawit dan dengan adanya kebakaran hutan, habitat orangutan semakin mengecil. Kebakaran hutan di daerah Kuala Satong sangat luas dan menyebar. Kebakaran habitat yang luas inilah yang mendorong orangutan masuk ke kebun warga dan menimbulkan konflik manusia-orangutan. Karena itulah, meskipun tindakan penyelamatan ini adalah opsi terakhir, hal ini harus dilakukan untuk mencegah kerugian baik dari sisi manusia maupun satwa liar.
Translokasi Orangutan ke Taman Nasional Gunung Palung
Ketiga individu orangutan ini – Arang, Bara, dan Jerit – pada Jumat, 27 September lalu ditranslokasi ke Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), yang berdasarkan hasil survei, tingkat keanekaragaman pakan orangutan di dalam kasawan tersebut cukup tinggi dan status kawasannya sebagai Taman Nasional akan lebih menjamin kesalamatan orangutan dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kegiatan translokasi ini melibatkan tim gabungan Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), Balai Konservasi Sumber Daya Alam Barat (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi (SKW) I Ketapang Resort Sukadana dan IAR Indonesia.
Hanya sehari berselang setelah translokasi itu, IAR Indonesia dan BKSDA Kalbar kembali menyelamatkan 1 individu orangutan jantan liar dan diperkirakan berusia 20 tahun di Desa Tanjungura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Sabtu, 28 Desember 2019. Orangutan yang diberi nama Junai ini dievakuasi lantaran sering masuk ke kebun warga untuk mencari makan.
Orangutan Junai di Desa Tanjungpura, Ketapang
Kegiatan penyelamatan orangutan di Tanjung Pura ini berawal dari laporan masyarakat kepada Tim Mitra di Desa Tanjungpura. Menindaklanjuti laporan ini, tim Orangutan Protection Unit (OPU) IAR Indonesia melakukan verifikasi pada hari Selasa (24/9). Orangutan jantan dewasa berada di sepetak hutan yang telah terfragmentasi karena sebagian sudah terbakar. Karena dari hasil pengamatan Tim OPU serta analisis vegetasi dan pemetaan melalui drone yang dilakukan oleh tim OPU dinyatakan bahwa orangutan ini tidak bisa digiring kembali ke habitatnya karena hutan yang ada sudah terfragmentasi akibat kebakaran sehingga ditranslokasi terpaksa dilakukan sebagai satu-satunya jalan untuk menyelamatkannya.
Pada saat dilakukan pemeriksaan medis, diketahui bahwa mata kanan orangutan ini mengalami kebutaan. Saat ini Junai sudah berada di dalam penanganan tim medis IAR Indonesia. Mereka melakukan perawatan dan pengobatan yang diperlukan dan akan memastikan kondisi kesehatannya sudah pulih total sebelum orangutan ini dilepas kembali ke alam.
Penyelamatan orangutan di tengah lahan yang terbakar ini menjadi bukti nyata bahwa kebakaran hutan dalam lahan dalam skala sebesar ini turut mengancam eksistensi keanekaragaman hayati termasuk orangutan. Orangutan yang selama ini sudah menghadapi ancaman perburuan dan pembukaan lahan, sekarang harus juga menghadapi ancaman kebakaran.
Kebakaran Hutan dn Lahan di Kabupaten Ketapang
Ketua Yayasan IAR Indonesia, Tantyo Bangun mengatakan bahwa penyelamatan kali ini hanya permulaan. “Berdasarkan pengalaman kami pada kasus kebakaran hutan pada 2015, efek kebakaran ini akan terasa bahkan sampai satu tahun pasca kebakaran. Akan banyak sekali orangutan yang kehilangan rumahnya akibat kebakaran ini. Hal ini akan memicu gelombang besar penyelamatan orangutan. Pada 2015, Kementerian LHK dan Yayasan IAR Indonesia menyelamatkan lebih dari 40 orangutan. Kementerian LHK dan Yayasan IAR Indonesia serta pusat penyelamatan orangutan lainnya bisa kewalahan menghadapi gelombang ini dan kalau hal ini terus terjadi, efeknya akan panjang dan tingkat kerentanan orangutan terhadap kepunahan akan semakin besar,” ujar Tantyo.
Karmele Llano Sanchez, Direktur IAR Indonesia menambahkan bahwa kini saatnya untuk secara serius setiap komponen masyarakat dan pemerintah, mengatasi masalah kebakaran, yang bukan hanya mengancam manusia dengan menimbulkan penyakit dan mengganggu aktivitas anak-anak yang tidak bisa bersekolah karena bahaya dari asapnya, tetapi juga kebakaran hutan dan lahan ini menjadi ancaman orangutan paling utama di Kalimantan Barat. “Jika kita tidak ada upaya untuk mengatasi permasalahan ini, maka populasi orangutan akan semakin terancam. Sudah hampir dua bulan ini tim kami bekerja keras 24 jam tanpa istirahat untuk mengamankan tempat rehabilitasi dari kebakaran, tetapi pekerjaan untuk menyelamatkan semua orangutan yang terancam akibat kebakaran baru aja mulai. Dengan kerjasama tim dari TANAGUPA, BKSDA Kalbar dan Yayasan IAR Indonesia kondisi lebih buruk kedua orangutan ini dapat dihindari,” ujarnya.
Penyelamatan orangutan yang hanya berselang kurang dari satu minggu ini memperlihatkan eskalasi yang cukup tinggi atas karhutla di tahun ini. “Kebakaran hutan ini adalah satu bukti nyata tentang krisis mengenai perubahan iklim dan kepunahan massal di seluruh dunia. Dalam habitat orangutan yang terbakar, ada jutaan jenis satwa dan tumbuhan yang tidak bisa diselamatkan. Kita sedang dalam krisis dan kita semua tergantung pada bagaimana negara-negara di seluruh dunia dan kita semua mengambil sikap dalam menghadapi masalah ini dan menemukan soluisnya. Pemerintah dari seluruh dunia harus bergerak mulai dari sekarang sebelum semuanya terlambat untuk mengatasi masalah ini,” ujar Karmele.
Heribertus Suciadi
Meningkatkan Ekonomi Masyarakat dengan Pengolahan Produk Alam
Alam memberkati manusia dengan beragam kekayaan yang jika diolah dengan bijak, tidak hanya menunjang kebutuhan lahiriah namun juga memberikan kesejahteraan secara ekonomi dan bahkan memberi ruang hidup bagi satwa. Pengetahuan inilah yang diupayakan IAR Indonesia dalam semua kegiatan pemberdayaan masyarakat yang tinggal di area hutan dan area-area yang berdekatan dengan habitat satwa. Selain untuk menghindarkan kemunculan konflik antara manusia dan satwa, informasi tentang pengolahan produk-produk alam dengan bijak, bisa menjadi pekerjaan alternatif dan bahkan utama bagi masyarakat, ketimbang mereka menjalankan pekerjaan yang merusak alam.
Sejumlah kegiatan yang mengajarkan pada cara-cara pengolahan produk-produk alam dengan bijak, telah dilakukan bagian program Community Development di IAR Indonesia sejak 2017. Sejumlah produk unggulan telah dihasilkan oleh kelompok-kelompok masyarakat di daerah Kalimantan Barat. Di antaranya produk organik seperti pupuk organik cair (POC), mikroorganisme lokal (MOL) dan cuka kayu, dan hasil hutan bukan kayu berupa minyak tengkawang dan madu hutan.
Produk-produk Organik IAR Indonesia
Produk organik dikembangkan sebagai salah satu media edukasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan limbah dan sumber daya alam yang tersedia di sekitar mereka. Misalnya pemanfaatan limbah pertanian seperti sabut kelapa, ranting/kayu kering, tempurung kelapa, sampah daun maupun batang pisang dan juga bahan-bahan sekitar yang dapat dimanfaatkan berupa air kelapa, air cucian beras, air gula, maupun sisa buah/buah busuk. Bahan-bahan yang ada inilah selanjutnya dimanfaatkan dengan cara diolah dan difermentasi menjadi produk-produk organik. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem serta menciptakan pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan dengan pemanfaatan limbah pertanian dan bahan-bahan sekitar.
Buah tengkawang yang dikeringkan
Adapun pengolahan tengkawang (Shorea spp) juga menjadi alternatif kegiatan pemberdayaan masyarakat yang sangat berpotensi. Tengkawang merupakan pohon dari genus Shorea yang buahnya menghasilkan minyak nabati. Lemak tengkawang memiliki sifat yang khas sehingga harganya relatif lebih tinggi dari minyak nabati lain seperti minyak kelapa. Menurut penelitian Alamendah tahun 2009, lemak tengkawang bisa digunakan sebagai bahan pengganti minyak cokelat, bahan lipstik, sabun, lilin, minyak makan dan bahan obat-obatan. Pohon tengkawang di Kalimantan Barat, setiap tahun mampu menghasilkan buah tengkawang sekitar 50.000 ton/tahun (Intan, 2017). Potensi yang besar ini, diharapkan bisa menjadi alternatif pemasukan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat di desa-desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.
Madu Desa Ulak Medang
Produk unggulan lainnya yang dikembangkan adalah madu hutan yang berasal dari Desa Ulak Medang. Madu hutan ini berasal dari pohon-pohon rengas, vegetasi khas hutan rawa gambut. Secara umum, permintaan madu hutan di Ketapang, sangat tinggi sehingga madu hutan Ulak Medang berpotensi untuk menjadi memenuhi permintaan. Hal ini secara tidak langsung, membawa pengaruh positif dalam meningkatkan perekonomian masyarakat di Desa Ulak Medang.
Strategi pemberdayaan untuk meningkatkan penghasilan masyarakat sekitar hutan dengan pengembangan produk unggulan diharapkan dapat menjadi salah mata pencaharian alternatif yang menjanjikan dalam meningkatkan ekonomi masyarakat agar tidak ada lagi yang merambah hutan dan membahayakan satwa liar.