Tentang
Program
Cerita Publikasi Bergabung
Donasi

Yayasan IAR Indonesia

Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.

Bijak Berwisata dan Berinteraksi dengan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)

Masih ingatkah Sobat KonservasYIARI dengan kasus serangan monyet ekor panjang yang bernama monpai di salah satu objek wisata? Selain dalam bentuk serangan, interaksi negatif dengan monpai dapat mengakibatkan penularan penyakit (zoonosis). Jadi penyakit ini menular dari satwa vertebrata ke manusia atau sebaliknya melalui infeksi patogen seperti bakteri, virus, fungi dan parasit secara alami. Semua hal itu bisa terjadi jika Sobat KonservasYIARI tidak bijak dalam berwisata. Bukannya menghilangkan kepenatan, justru malah mendatangkan petaka!

Lalu bagaimana sih cara agar kita bisa berwisata dengan bijak dan aman?

1. Hindari memberi makan kepada monpai

Monpai memiliki makanan alaminya sendiri yang disesuaikan dengan anatomi tubuhnya. Pemberian makan sembarangan dapat menimbulkan masalah bagi monpai, pengunjung wisata, maupun masyarakat sekitar. Insting alami monpai akan tumpul akibat ketergantungan pada sumber makanan dari pengunjung dan mendorong perilaku memalak. Lebih parahnya lagi ketika wisata sepi, monpai bisa saja mencari makanan ke pemukiman warga atau warung di tempat wisata.

Monyet ekor panjang memakan pisang di Suaka Margasatwa Muara Angke. Apabila makaka semakin sering diberi makanan oleh manusia, maka ia akan semakin ketergantungan dengan kita (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)

2. Hindari kerumunan kelompok monyet

Baik di alam maupun di tempat penangkaran ex-situ, monpai hidup dalam kelompok besar. Induk monpai selalu melindungi anak-anaknya, mereka tidak segan-segan untuk menyerang secara tiba-tiba apabila merasa terganggu. Wah alih-alih berwisata justru bisa berujung pada celaka. Jadi sebisa mungkin untuk menghindari kerumunan kelompok monyet ekor panjang saat berwisata.

Sekelompok monyet ekor panjang atau monpai di hutan (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)

3. Hindari berswafoto dengan monpai

Jika ingin mengambil foto satwa liar, kita dapat mengambilnya dari jarak yang aman dan lakukan tanpa harus menyentuh serta mengganggu monpai. Kemudian abadikanlah monpai dengan tingkah laku dan ekspresi alaminya. Tindakan berswafoto yang tidak bijak dapat menggiring persepsi yang bertentangan dengan tujuan konservasi. Selain itu interaksi yang terlalu dekat dengan monpai saat swafoto dapat menularkan penyakit (zoonosis).

Konflik antara monyet ekor panjang dan manusia akan semakin mudah terjadi seiring berkurangnya jarak antara manusia dan MEP (Fakultas Kehutanan UGM)

4. Bawa kembali sampahmu

Tempat sampah atau sampah yang dibuang sembarangan, rentan menjadi tempat yang dikunjungi monpai untuk mengais sisa-sisa makanan. Jika Sobat KonservasYIARI ingin membuang sampah di tempat wisata, pastikan tempat sampah tersebut memiliki penutup yang tidak mudah dibuka oleh monpai. Selain itu tindakan membuang sampah sembarang dapat merusak habitat dari monpai.

Tempat sampah atau sampah yang dibuang sembarangan, rentan menjadi tempat yang dikunjungi monpai untuk mengais sisa-sisa makanan. Jika Sobat KonservasYIARI ingin membuang sampah di tempat wisata, pastikan tempat sampah tersebut memiliki penutup yang tidak mudah dibuka oleh monpai. Selain itu tindakan membuang sampah sembarang dapat merusak habitat dari monpai.

Penyediaan tempat sampah yang cukup di lokasi wisata sangat penting dilakukan untuk mengurangi konflik antara manusia dan monpai (Tim HMC | Yayasan IAR Indonesia)

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Referensi :

Nanda IMAP. 2020. Analisis risiko penularan zoonosis dari serangga konsumsi. Jurnal Multidisipliner Mahasiswa Indonesia. 2(2): 132-155.

Rahman H, Sartika. 2022. Upaya pencegahan travel disease dalam persepsi travel agent. Jurnal penelitian kesehatan suara forikes.

Elif Ivana Hendastari & Cahya Riza Haromaen

Keseruan Conservation Camp Batutegi di Hari Primata Indonesia 2023

Bagaimana Sabtu-Minggu kalian? Diisi dengan apakah?

Sabtu-Minggu kali ini kami mengisinya dengan kegiatan yang positif, lho. Untuk memperingati Hari Primata Indonesia, kami bersama para pemuda dari Kabupaten Tanggamus, Lampung bersama-sama belajar mengenai konservasi sambil berpetualang dalam acara Batutegi Conservation Camp. Acara ini dilaksanakan pada pada tanggal 28-29 Januari kemarin di Kawasan Hutan Lindung Batutegi, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Kegiatan yang diinisiasi oleh KPH Batutegi dan YIARI berkolaborasi dengan Kukangku dan Gibbonesia, serta komunitas peduli lingkungan di Tanggamus, Lampung ini dilangsungkan untuk menginisiasi pembentukan pemuda pro-konservasi.

Tahukah kamu apa itu pemuda pro-konservasi? Mereka adalah salah satu elemen masyarakat yang penting dalam upaya perlindungan alam ini. Para pemuda ini bisa menjadi generasi penerus kegiatan konservasi, terutama di Hutan Lindung Batutegi. Mengingat banyaknya kegiatan perusakan hutan di sekitar kita saat ini seperti penebangan ilegal, perburuan satwa liar, dan perambahan hutan, perlu adanya upaya untuk melindungi alam yang harus dilakukan bersama-sama oleh seluruh masyarakat dan pihak yang tinggal dan hadir di sekitar kawasan konservasi, dan dalam hal ini diwujudkan dengan pembentukan pemuda pro-konservasi ini.

Para peserta yang berjumlah 36 orang dan berasal dari berbagai komunitas pecinta alam ini berangkat dari Basecamp Yayasan IAR Indonesia di Air Naningan, Lampung pada siang hari. Selama perjalanan kurang lebih 2 jam menggunakan kendaraan darat dan perahu, akhirnya mereka sampai di Basecamp Yayasan IAR Indonesia di Kawasan Hutan Lindung Batutegi Way Rilau. Setibanya para peserta, mereka mendirikan tenda masing-masing sebelum akhirnya berkumpul bersama panitia dan mendapatkan materi konservasi. Kegiatan-kegiatan yang kami lakukan di Conservation Camp ini dikemas dalam kegiatan yang rekreatif sekaligus edukatif supaya para peserta bisa memahami dengan baik.

Para peserta Batutegi Conservation Camp sedang menonton bersama video edukasi konservasi bertemakan biodiversitas di Batutegi (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)

Pada hari pertama kegiatan dimulai sekitar pukul 16.30 sore. Kegiatan dimulai dengan diskusi bersama Mas Huda, Senior Manajer Resiliensi Habitat Yayasan IAR Indonesia untuk berkenalan dengan keanekaragaman hayati di wilayah konservasi Hutan Lindung Batutegi. Setelah istirahat, sholat, dan makan malam, mereka mendapatkan materi konservasi lewat pemutaran video mengenai profil Yayasan IAR Indonesia dan video edukasi di pandu oleh Mas Huda dan Kak Agung, Manajer Kampanye Yayasan IAR Indonesia. Kegiatan hari pertama diakhiri dengan sarasehan antara peserta dan panitia. Kami mengobrol santai mengenai tujuan pembentukan wadah untuk pemuda konservasi sekaligus sharing pengalaman-pengalaman unik dan berkesan selama berkegiatan di alam.

Besok minggunya, tepatnya jam 6 pagi, kami mulai hari dengan sarapan bersama dan senam. Kegiatan pagi dimulai dengan senam karena setelah itu kami langsung tancap gas dengan kegiatan di lapangan. Kegiatan lapangan pertama adalah penanaman bibit pohon loa, salam, dan beringin. Pada kegiatan ini kami bersama-sama menanam 18 bibit di sekitar sungai daerah Way Rilau.

Bersama KPH Batutegi, kami menanam 18 pohon di sekitar sungai di Kawasan Way Rilau Hutan Lindung Batutegi (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)

Setelah kegiatan penanaman, kita melanjutkan dengan eksplorasi alam di sekitar Camp. Di sela-sela eksplorasi, ada juga pemaparan penggunaan camera trap alias kamera penjebak untuk pengamatan satwa liar. Selain itu, juga ada pengenalan rotan sebagai salah satu hasil hutan bukan kayu yang bisa dimanfaatkan masyarakat di sekitar hutan. Kegiatan tracking ini berlangsung hingga tengah hari menuju kolam alam untuk rehat. Setelah itu para peserta kembali ke Camp untuk siap-siap kembali pulang.

Anggi Agustian, salah satu peserta Conservation Camp mewakili Komunitas Lentera Nusantara berpendapat bahwa kegiatan ini adalah kegiatan yang seru yang bisa menambah wawasan para pesertanya terkait konservasi di Lampung. “Pengalaman di sini kita bisa mendapatkan banyak sekali pengalaman, wawasan, ilmu, pengetahuan, yang sebelumnya memang kita kuranglah dalam hal itu. Jadi kita berterimakasih sekali kepada YIARI dan juga KPH Batutegi telah memberikan kita semua kesempatan untuk belajar bersama-sama tentang apa sih yang ada di KPH Batutegi ini terutama keanekaragaman hayati yang ada di sini,” ujarnya. Redi Yuliawan juga mengatakan kalau Kemah Konservasi ini sangat memuaskannya dalam mendapat ilmu lebih banyak terkait konservasi dan siap untuk menyebarluaskannya di komunitasnya. “Sudah ada dalam pikiran saya untuk mengikuti materi-materi yang sudah diberikan dan terutama melestarikan hutan dan populasi hewan-hewan yang ada di dalam hutan tersebut,” jelasnya.

Kak Aris dari Yayasan IAR Indonesia sedang menjelaskan penggunaan kamera penjebak dan fungsinya kepada para peserta Batutegi Conservation Camp (Denny Setiawan | Yayasan IAR Indonesia)

Penyuluh KPHL Batutegi Provinsi Lampung menyatakan kalau pihak KPHL Batutegi sangat terkesan dengan pembawaan materi konservasi yang menarik dan menyenangkan kepada para peserta. “Harapannya ke depannya bisa mengedukasi lebih banyak orang lagi terkait primata yang ada di Indonesia terkait kelestariannya, bagaimana cara kita melestarikan, bagaimana cara kita menindaklanjuti apabila kita menemukan pertunjukan-pertunjukan topeng monyet di jalanan, dan istilahnya, sekecil apapun itu perbuatan kita, kita bisa menyelamatkan primata dengan cara kita sendiri,” jelasnya.

Mas Huda sangat berharap bahwa dengan kegiatan ini , para peserta yang tergabung dengan komunitas pecinta alam ini dapat memandu komunitasnya untuk mulai memahami pentingnya konservasi hutan di sekitar mereka. “YIARI bersama KPH Batutegi mencoba merangkul komunitas-komunitas tersebut untuk bisa membantu dalam perlindungan hutan dan keanekaragaman hayati yang berada di dalamnya dengan membuat kegiatan inisiasi forum pemuda peduli konservasi di lampung, khususnya di Tanggamus. Kegiatan ini adalah permulaan dan akan ditindaklanjuti dnegan kegiatan lainnya,” terangnya.

Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Sumber: Balai KSDA Sumatera Selatan

Perjalanan Enam Kukang Sumatera Menuju Hutan Batutegi Lampung

Kabar gembira datang dari Lampung nih. Jadi, pada 25 Juli lalu, ada enam individu kukang sumatera yang telah dilepasliarkan oleh BBKSDA Jawa Barat bersama BKSDA Lampung, KPHL Batutegi, dan Yayasan IAR Indonesia ke Kawasan Hutan KPHL Batutegi Blok Way Rilau Resor Way Sekampung, Lampung. Keenam kukang ini terdiri dari tiga kukang betina, yaitu Tigan, Murphy, dan Anjay dan tiga lainnya adalah jantan bernama Sukhoi, Lulu, dan Terserah.

Semuanya memiliki histori yang berbeda-beda. Tigan, dan Murphy adalah kukang yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi oleh warga pada November 2021 oleh BKSDA. Kalau Lulu, dia adalah kukang yang diselamatkan dari perdagangan satwa liar ilegal pada November 2013. Sedangkan Anjay, Sukhoi, dan Terserah adalah kukang yang direhabilitasi sejak bayi di pusat rehabilitasi satwa kami.

Proses rehabilitasi mereka bisa dibilang cukup unik. Tigan, Murphy, dan Lulu sempat dititiprawatkan di pusat rehabilitasi kami di Ciapus, Jawa Barat. Mereka mendapat perawatan dan penanganan medis dulu sebelum dikembalikan lagi ke habitat asalnya. Perawatan mereka ngga mudah lho, khususnya untuk Lulu. Ia harus direhabilitasi selama kurang lebih 9 tahun sebelum akhirnya dinyatakan siap untuk dilepasliarkan. Sulitnya mengembalikan perilaku liarnya adalah salah satu penyebabnya. Untungnya Tigan dan Murphy lebih mudah dalam menerima program rehabilitasi. 

Lulu diberi obat cacing seminggu sebelum ia dilepasliarkan (Denny Setiawan | IAR Indonesia)

Para kukang sumatera yang dirawat dari bayi juga ngga kalah sulit dalam perawatannya. Sebab, mereka harus mendapatkan perlakuan khusus, apalagi jika sudah tidak memiliki induk. Kalau dalam kasus mereka, untungnya induk masing-masing kukang masih ada dan masih bisa mengasuh mereka.

Singkat cerita, mereka sudah dinyatakan siap untuk dilepasliarkan nih sama dokter-dokter hewan kami. Karena mereka adalah kukang sumatera, kami memutuskan untuk melepasliarkan mereka di Hutan Lindung Batutegi. Hutan ini adalah salah satu hutan di Sumatera yang memenuhi persyaratan untuk pelepasliaran kukang. Syarat-syarat tersebut di antaranya memiliki karakteristik habitat yang baik yang mampu menampung tanaman pakan kukang dalam jumlah melimpah. Daerah hutan lindung ini juga memiliki populasi kukang yang cukup banyak dan stabil, ditambah lagi dengan jumlah predator dan perburuan ilegal yang minim. Masyarakat di sekitar Hutan Lindung Batutegi juga sudah memiliki kesadaran mengenai pentingnya menjaga kawasan hutan di sekitar mereka. Oleh karena itu, Hutan Lindung Batutegi merupakan lokasi pelepasliaran yang sangat baik bagi keenam kukang sumatera ini.

Murphy menjelajah lantai kandang habituasi di Hutan Lindung Batutegi, Way Sekampung (Fattreza Ihsan | IAR Indonesia)

Waktu pelepasliaran pun tiba. Rombongan berangkat di hari Minggu tanggal 24 Jul 2022 untuk bertolak dari pusat rehabilitasi satwa di Ciapus menuju Hutan Lindung Batutegi, Lampung. Setelah menyeberang ke pulau sumatera melalui jalur darat dan laut, akhirnya kami tiba di pos monitoring kukang kami. Sebanyak 10 orang tim gabungan ikut memastikan mereka sampai dengan selamat. Esoknya, mereka ditranslokasi ke kandang habituasi untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Saat ini mereka sudah dinyatakan lulus pelepasliaran setelah beradaptasi di kandang habituasi selama kurang lebih satu minggu. Keenam kukang sumatera kini telah resmi menjadi warga Hutan Lindung Batutegi. Harapannya, mereka bisa membangun kembali populasi kukang sumatera yang terancam punah di habitat aslinya. Selamat menempuh kehidupan baru di rumah baru kalian ya!

Yuk, dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.

Jalan Panjang Menuju Kebebasan 13 Kukang di Hari Bhakti Rimbawan

Selain menjadi peringantan penting bagi KLHK, Hari Bhakti Rimbawan pada tahun ini juga menjadi kado istimewa bagi 13 individu kukang sumatera (Nycticebus coucang) yang telah menjalani proses pemulihan di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia, Bogor, Jawa Barat. Pasalnya, IAR Indonesia yang bekerja sama dengan Bidang KSDA Wilayah I Bogor Balai Besar KSDA Jawa Barat dan Seksi Wilayah III Lampung Balai KSDA Bengkulu, akan melepasliarkan ketiga belas kukang sumatera itu ke habitatnya di kawasan Hutan Lindung Batutegi, Lampung, Senin (16/03).

Imam Arifin, dokter hewan IAR Indonesia mengatakan, kukang yang terdiri dari 6 jantan dan 7 betina itu telah menjalani serangkaian proses rehabilitasi hingga dinyatakan sehat untuk pulang ke habitatnya. Berdasarkan hasil observasi di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia, mereka telah memenuhi syarat pelepasliaran setelah melalui tahap pemeriksaan medis, karantina dan pemulihan perilaku.

“Mereka yang akan dilepasliarkan sebelumnya telah menjalani proses dan tahapan pemulihan secara intensif, dimulai dari masa karantina dan pemeriksaan medis untuk memastikan semuanya tidak mengidap dan membawa penyakit ke habitat barunya. Selain itu, aktivitas harian, pakan serta kebiasaan mereka juga diamati untuk memastikan bahwa perilaku mereka sudah normal menjadi liar kembali,” ujar Imam Arifin.

Koordinator Pelepasliaran Kukang Sumatra, Bobby Muhidin mengatakan, prosesi pelepasliaran kukang dilaksanakan oleh tim gabungan dari Bidang KSDA Bogor, Sekwil III KSDA Lampung, KPH Batutegi dan relawan lokal. Mereka mengangkut kandang transportasi khusus berisi kukang dengan berjalan kaki masuk ke blok inti areal kelola KPH Batutegi menuju area habituasi kukang. “Habituasi merupakan kawasan di dalam area HL Batutegi sebagai lokasi kukang untuk beradaptasi dengan habitat barunya hingga akhirnya benar-benar bisa dilepasliar,” ujar Muhidin.

Warga lokal ikut membantu membawa kandang translokasi kukang menuju area habituasi di dalam kawasan HL Batutegi. Foto Reza Septian/IAR Indonesia

Dia menambahkan bahwa pasca pelepasliaran kukang tetap ada proses panjang yang harus dilakukan untuk memastikan kukang sukses bertahan hidup di alam. “Setiap hari tim melakukan pengamatan untuk mengetahui perkembangan perilaku kukang di dalam habituasi. Apabila menunjukan perkembangan yang baik, mencari makan secara alami, beradaptasi dengan alam dan bisa survive, barulah kukang itu bisa benar-benar dilepasliar,” tambahnya.

Pascalepasliar, kukang juga tetap dipantau selama sekitar enam bulan untuk mengetahui bagaimana perilaku alaminya di habitat asal. Untuk memudahkan pemantauan, kukang terlebih dahulu dipasang perangkat satelit-collar di bagian leher. “Perangkat itu berfungsi sebagai pengirim sinyal yang nantinya ditangkap oleh antena dan menimbulkan bunyi di receiver. Bunyi yang keluar dari receiver itu membantu tim monitoring untuk menemukan keberadaan kukang di alam,” tambahnya.

Area habituasi menjadi tempat kukang memulihkan kondisi dan beradaptasi di lingkungan barunya. Foto Reza Septian/IAR Indonesia

Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Lampung, Hifzon Zawahiri menyambut baik program pelepasliaran ini. Menurutnya membutuhkan tenaga dan materi yang tidak sedikit. Untuk itu dia menghimbau kepada masyarakat agar tidak membeli dan memelihara kukang, karena “Mengingat prinsip ekonomi penawaran dan permintaan, pemeliharaan kukang bersifat mendukung adanya perburuan dan perdagangan. Itu artinya, perburuan akan terus berlangsung selama masih adanya permintaan terhadap pemeliharaan kukang, dan itu hanya akan mendekatkan kukang menuju kepunahannya,” ungkapnya.

Hifzon menambahkan, bukan proses yang mudah dan singkat bagi kukang-kukang serahan masyarakat itu untuk mencapai ke tahap pelepasliaran. Waktu yang relatif panjang dan tenaga yang tidak sedikit harus dicurahkan demi memberikan kehidupan kedua bagi mereka. Sebab umumnya, kukang yang dipelihara dan terbiasa hidup dengan manusia cenderung mengalami perubahan perilaku dan kehilangan sifat liarnya. Sehingga mereka membutuhkan waktu lagi untuk menyesuaikan diri supaya bisa dilepasliarkan.

Satu individu kukang keluar dari kandang transportasi menuju area habituasi. Proses habituasi akan berlangsung selama 2 hingga 4 minggu. Foto Reza Septian/IAR Indonesia

BBKSDA Jawa Barat memiliki tugas fungsi untuk menyelamatkan satwa satwa liar. Untuk itu telah dibentuk tim gugus tugas Tumbuhan Satwa Liar (TSL). “Kami senang dapat melepasliarkan 13 (tiga belas) ekor Kukang Sumatera ke habitatnya pada momen Hari Bhakti Rimbawan. Akan tetapi kami lebih senang lagi jika tidak ada lagi satwa yang harus dilepasliarkan. Artinya, semua satwa sudah hidup bebas di habitatnya,” kata Lanasari, Kepala Bidang KSDA Jawa Barat Wilayah I Bogor.

Kepala KPH Batutegi, Ruchyansyah mengatakan, pelepasliaran kukang dan beberapa jenis satwa liar lain bukan baru pertama kali dilakukan di blok inti KPH Batutegi mengingat kondisi hutannya masih cukup baik. Kami menyambut baik aktivitas pelepasliaran ini karena dapat menambah keanekaragaman satwa liar di blok inti, apalagi selama ini pasca pelepasliaran tim dari IAR Indonesia juga melakukan pemantauan aktivitas satwa yang dilepasliarkan selama beberapa waktu, sehingga diketahui pergerakannya dan dapat diprediksi kemampuannya beradaptasi serta kemungkinannya akan menimbulkan gangguan atau tidak. “Di samping itu, kami terus mendorong IAR untuk membantu kami dalam mengedukasi masyarakat sekitar sehingga mereka juga ikut berperan dalam melestarikan satwa liar khususnya kukang di blok inti KPH Batutegi.”

Proses habituasi akan berlangsung selama 2 hingga 4 minggu. Foto Reza Septian/IAR Indonesia

Kukang (Nycticebus sp) merupakan primata dilindungi UU No. 5 tahun 1990 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. Dalam peraturan internasional, kukang juga dilindungi dalam kategori Appendix I oleh Convention International on Trade of Endangered Species (CITES) yang artinya dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional.

Di Indonesia terdapat tiga jenis kukang yaitu kukang jawa (Nycticebus javanicus), kukang sumatera (Nycticebus coucang) dan kukang kalimantan (Nycticebus menagensis). Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List, kukang jawa masuk kategori Kritis atau satu langkah menuju kepunahan di alam. Untuk kukang sumatera dan kukang kalimantan berstatus Rentan atau tiga langkah menuju kepunahan di alam liar.

Menjaga Kelestarian Bentang Alam Batutegi

Tak seperti biasanya, rumah bercat kuning di ujung jalan itu terlihat ramai. Dua orang tampak mondar-mandir bergantian membawa tas besar, sementara satunya fokus mengikat barang-barang di atas motor trail. Sabtu (24/07) pagi itu menjadi waktu yang sibuk bagi tim IAR Indonesia mengemas perlengkapan dan bersiap masuk ke hutan untuk melakukan survei di kawasan Hutan Lindung Batutegi.

Survei Keanekaragaman Hayati dengan menggunakan metode smart-patrol ini rutin dilakukan dan merupakan salah satu program kerja sama antara IAR Indonesia dengan Kesatuan Pengelola Hutan Lindung (KPHL) Batutegi sebagai pengelola kawasan. Sebagai informasi, smart-patrol adalah aplikasi penunjang tim lapangan yang bukan sekadar perangkat untuk mengumpulkan data, namun lebih dari itu, dikembangkan berdasarkan pengalaman praktis dan dibuat untuk membantu perlindungan kawasan konservasi.

Hutan Lindung Batutegi yang berada di Kabupaten Tanggamus, Lampung, kaya akan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Selain memiliki fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan seperti tata air, pengendali erosi, dan pemelihara kesuburan tanah, kawasan dengan luasan sekitar 58.000 ha tersebut juga menjadi daerah aliran sungai (DAS) prioritas di Provinsi Lampung, karena fungsinya sebagai catchment area untuk sumber air irigasi.

Tidak hanya itu, HL Batutegi menjadi salah satu rumah dari beragam jenis primata seperti, siamang (Hylobates syndactylus), kukang sumatera (Nycticebus coucang), owa (Hylobates spp), lutung simpai (Presbytis melalophos) serta menjadi habitat yang nyaman bagi kambing gunung (Capricornis sumatraensis), beruang madu (Helarctos malayanus), kucing emas (Pardofelis temminckii), dan tapir (Tapirus indicus).

Survei rutin dilakukan untuk menginventarisir keragaman hayati di kawasan HL Batutegi.

Untuk menjaga kebermanfaatan dan potensi keragaman hayati di dalamnya bukanlah hal mudah. Sejumlah ancaman seperti perburuan satwa, pembukaan lahan secara ilegal yang sering mengintai menjadi tantangan untuk menjaga kelestarian bentang alam Batutegi.

“Secara berkala, seraya melakukan inventarisasi keragaman hayati tidak jarang saya menemukan jerat, jejak perburuan hingga perambahan hutan di dalam kawasan,” tutur Miftakhul Huda, Koordinator IAR Indonesia untuk Program Konservasi Batutegi. Batutegi lanjut Huda bukan sekadar hutan, melainkan sumber kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya yang harus dijaga dan dikelola secara bijak.

Huda mengungkapkan, survei yang dilakukan sejak awal 2019 ini menemukan setidaknya puluhan kasus aktivitas perburuan satwa liar di dalam kawasan HL Batutegi. Temuan tersebut berupa berbagai jenis jerat seperti sling kawat, rotan, getah, hingga jaring untuk menangkap burung. Menurut dia, tingginya angka temuan tanda perburuan tersebut dapat mengakibatkan menurunnya populasi satwa liar. Hal ini berdampak buruk bagi keberadaan dan kelangsungan hidup satwa liar dan ekosistem di dalamnya.

Selain ancaman, tanda-tanda keberadaan satwa juga teridentifikasi lewat survei ini. Tanda itu terdiri dari tapak/jejak, suara, cakaran, kubangan, bekas pakan, kotoran, sarang dan gesekan badan yang terdiri dari kelas primata, aves, dan mamalia. Ini menggambarkan potensi HL Batutegi yang memang kaya akan keragaman hayatinya.

Lewat Program Survei Keanekaragaman Hayati yang dilakukan secara berkala bersama KPHL Batutegi, IAR Indonesia berupaya menjaga dan melestarikan bentang alam HL Batutegi. Kegiatan ini berupa pendataan kekayaan keragaman hayati yang dilakukan secara rutin bersama Polhut KPHL, masyarakat lokal, serta relawan. Pelibatan masyarakat di sini bertujuan untuk dapat menumbuhkan rasa memiliki dan menjaga HL Batutegi. “Selain pendataan, semua temuan yang dicatat tentu nantinya diharapkan menjadi rekomendasi dan strategi pengelolaan konservasi kawasan Batutegi selanjutnya,” tutup Huda.