Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Sumber Daya Alam yang Terjaga dalam Habitat Satwa yang Asri
Kita selalu diingatkan untuk selalu menjaga satwa di habitatnya. Tapi kenapa sih kita harus melakukannya?
Habitat satwa sebenarnya tidak hanya bermanfaat untuk satwa aja, lho. Manusia juga bisa memanfaatkan sumber daya alam terbarukan yang dihasilkan di habitat satwa ini selama keasriannya tetap kita jaga.
Yuk, kita simak sumber daya alam apa aja sih yang bisa kita dapatkan dengan menjaga habitat para satwa.
1. Air
Danau Penyenggat, Ulak Medang (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Air adalah sumber kehidupan dan komponen penting makhluk hidup. Tanpa air, sulit bagi makhluk hidup untuk dapat bertahan hidup. Tidak terkecuali manusia. Meskipun air menutupi 2/3 luasan permukaan bumi, hanya 2,5% air tawar yang dapat diminum yang ada di bumi.
Untuk mencegah kelangkaan air, kita haruslah menjaga alam. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar siklus air tetap terjaga, sehingga air tawar tetap mudah untuk didapatkan. Ketika kita menjaga alam, yang kita jaga sebenarnya adalah siklus air tersebut yang sedang berjalan. Siklus air menjaga air tetap berada dalam ekosistem sehingga dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Siklus air yang baik akan menghasilkan mata air dan sungai yang jernih, serta tidak menyebabkan banjir.
2. Bahan Pangan
Kopi di perkebunan masyarakat (Tim Comdev | IAR Indonesia)
Makanan bisa dengan mudah kita dapatkan di alam. Berbagai macam asupan nabati dan hewani dapat kita dapatkan di alam dengan tetap memerhatikan jumlah yang kita ambil. Contohnya adalah buah-buahan, kacang-kacangan, daging, ikan, dan lain sebagainya.
Menurut Kuswiyati dalam Suhardi et al (2002) setidaknya terdapat 77 jenis bahan pangan sumber karbohidrat, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis biji-bijian dan buah-buahan, 288 jenis sayur-sayuran, 110 jenis rempah-rempah terdapat di hutan. Hal ini menunjukkan bahwa hutan punya potensi yang sangat besar dalam memberikan kontribusi penyediaan pangan untuk masyarakat.
Manusia juga terkadang bercocok tanam di dalam hutan. Saat ini kita bahkan telah menemukan cara untuk bercocok tanam di hutan tanpa merambahnya. Sudah ada sistem tanam yang berkelanjutan dengan mengintegrasi pertanian atau perkebunan dengan hutan atau bisa kita sebut agroforestri.
3. Kayu
Pohon penghasil kayu (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Yap, kayu adalah salah satu sumber daya alam yang dapat diperbarui. Kayu seringkali dijadikan sebagai material pembuatan rumah maupun perabotan rumah tangga. Penggunaannya tidak masalah asalkan tidak mengganggu keseimbangan ekosistem.
Indonesia terkenal akan jenis-jenis kayunya yang kuat, tahan lama, dan berkualitas. Sedikitnya, terdapat 43 jenis kayu di Indonesia, 20 di antaranya secara khusus sering digunakan sebagai material rumah dan perabotan rumah tangga. Jenis-jenis kayu tersebut dapat diperoleh di berbagai daerah di Indonesia dan memiliki keunggulannya masing-masing. Varian kayu di Indonesia di antaranya adalah kayu jati, mahoni, pinus, merbau, sonokeling, dan kamper.
4. Hasil Hutan Bukan Kayu
Tumbuhan nipah (Rudiansyah | IAR Indonesia)
Hutan maupun habitat satwa lainnya tidak hanya menghasilkan kayu dan bahan makanan, lho. Ada banyak sumber daya tumbuhan dan hewani lain yang dapat kita manfaatkan. Contohnya adalah rotan, purun, nipah, gaharu, minyak tumbuhan, sutra alami dan lain-lain.
Bahan-bahan ini memiliki fungsi dan manfaatnya yang berbeda-beda. Hal ini diketahui oleh masyarakat lokal yang memanfaatkannya untuk hal yang beragam pula. Ada yang menjadikannya perabotan, perhiasan, hingga obat-obatan tradisional.
5. Biodiversitas
Kodok kongkang gading (Tim SMKN 1 Ketapang Grup 1)
Flora dan fauna yang kita lindungi juga merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Di Indonesia sendiri terdapat 14438 spesies satwa dan tumbuhan, dimana sekitar lebih dari 3800 spesiesnya termasuk kategori endemik alias asli Indonesia. Kekayaan ini sangatlah tak ternilai harganya. Sebab, kita tak hanya mendapatkan pengetahuan dari mereka, namun juga kearifan serta kultur yang membentuk peradaban kita hingga saat ini.
Keberadaan biodiversitas ini juga dapat dijadikan indikator keasrian habitat mereka. Apabila satwa maupun tumbuhan tertentu sulit ditemukan di suatu daerah, maka ada lingkungan tersebut sedang tidak baik-baik saja dan membutuhkan perawatan. Sebab, keberadaan biodiversitas ini pada akhirnya juga akan membuat ekosistem terawat karena mereka memiliki fungsi di alam yang membuat ekosistem menjadi sehat.
Mengikuti Jejak Tim Patroli Kawasan Hutan
Siang itu, suara langkah kaki manusia terdengar meningkahi beragam suara penghuni hutan. Langkah mereka berkecipak saat rombongan ini melintasi genangan rawa gambut di Hutan Desa Pematang Gadung. Rombongan yang terdiri dari tim patroli IAR Indonesia ini berjalan sambil sesekali menebar pandangannya ke sekeliling, berusaha menemukan satwa yang mungkin bersembunyi di rimbun pepohonan. Setiap ada temuan satwa atau jejak satwa, jemari mereka sibuk menyentuh layar gawai yang dipegangnya. Bukan untuk memperbarui status, tapi mencatat temuan mereka ke dalam aplikasi SMART Patrol.
SMART (Spasial Monitoring and reporting Tools) merupakan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk menyimpan data kegiatan patrol/pengelolaan kawasan konservasi atau jenis kawasan lainnya, sekaligus sebagai penyimpan data/database. SMART juga memiliki kemampuan untuk merencanakan, mendokumentasikan, menganalisis, dan mengeluarkan laporan sehingga data-data dalam suatau kawasan, baik itu data potensi, ancaman maupun kenaekaragaman hayati dapat dikelola sesuai kebutuhan penggunanya. Yang jauh lebih penting dari kemudahan penggunaannya adalah SMART dapat membantu pihak manajemen dalam membuat strategi dan perencanaan berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan.
Sejak awal 2017, IAR memanfaatkan (SMART) untuk kegiatan patroli perlindungan kawasan dan keanekaragaman hayati. Dengan menggunakan metode ini, peralatan yang dibawa lebih ringkas, waktu yang digunakan untuk memasukkan dan mengolah data juga lebih singkat. Data yang dimasukkan juga lebih akurat dengan cacatan waktu dan titik koordinat lokasi pengambilan data dapat dipertanggungjawabkan.
Sebelumnya, tim patroli IAR Indonesia perlu membawa meteran, kertas data, jam, kamera, dan GPS. Setiap ada temuan berupa satwa atau ada ancaman kerhadap keamanan hutan seperti penebangan liar, kebakaran, pertambangan maupun perburuan, tim patroli harus mencatat temuannya secara manual, memasukkan jam pengambilan gambar, serta memasukkan titik GPS lokasi pengambil data. Kemudian kertas data diserahkan kepada tim pengolah data, yang harus memasukan data dari kertas data ke dalam komputer secara manual. Ketika diperlukan, pencarian data yang sudah masuk ke komputer pun harus dilakukan secara manual.
Dengan pemanfaatan SMART, tim patroli hanya perlu mengambil data menggunakan smartphone. Sekali mengetik data temuan, informasi waktu dan lokasi secara otomatis langsung ditambahkan di dalam data temuan. Memindahkan data kekomputer pun tidak lagi dilakukan secara manual. Data yang masuk bisa dikelompokan berdasarkan query sehingga penarikan data pun lebih mudah karena data sudah terklasifikasi.
Sampai saat ini IAR Indonesia mengimplementasikan SMART Patrol di dua kabupaten yaitu Ketapang dan Melawi. Penggunaan SMART Patrol di Ketapang meliputi Hutan Desa Pematang Gadung, Hutan Desa Sungai Besar, Hutan Desa Sungai Pelang, dan Hutan Lindung Gunung Tarak. Selain itu tim Orangutan Protection Unit (OPU) juga memanfaatkan SMART Patrol untuk melakukan patroli dan verifikasi konflik manusia-orangutan. Sedangkan di Kabupaten Melawi, SMART Patrol diterapkan dalam program perlindungan kawasan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.
Hasil monitoring lapangan menggunakan SMART Patrol sejak Januari sampai November 2019 berhasil mendata puluhan kegiatan ilegal yang dilakukan di dalam kawasan Hutan Desa Pematang Gadung dan Hutan Desa Sungai Besar. “Rinciannya ada 2 perburuan, 97 penebangan liar, dan 44 pertambangan illegal di dalam kawasan. SMART Patrol ini juga berhasil mendata adanya 309 ancaman berupa kebakaran di dua hutan desa tersebut,” ujar Muhadi, Supervisor Tim Orangutan Protection Unit yang bertanggungjawab mengelola data SMART di IAR Indonesia.
Selain kegiatan ilegal yang bisa mengancam eksistensi hutan, tim patroli di Hutan Desa ini juga mencatatkan 2602 perjumpaan dengan burung, reptil dan mamalia termasuk orangutan. Perjumpaan ini termasuk perjumpaan individu satwa, jejak, sarang, kotoran, bekas cakaran, kubangan dan bangkai satwa. Data yang ada juga menunjukkan total jarak yang ditempuh oleh tim patroli lebih dari 4.000 km dengan durasi patroli mencapai 2720 jam.
Dengan Satu Mata, Junai Melanjutkan Hidup di Gunung Tarak
Ketapang, Kalbar – Junai, orangutan liar jantan dewasa berusia lebih dari 20 tahun, akhirnya dinyatakan mampu untuk kembali dilepaskan di hutan, setelah sebelumnya, ia diselamatkan dalam kondisi mata kiri mengalami kebutaan. Saat diselamatkan di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang pada 20 September lalu, Junai dalam kondisi memprihatinkan. Tubuhnya kurus dan mata kiri buta yang setelah diperiksa oleh tim medis, ternyata ditemukan dua butir peluru di dalam tengkorak tepat di belakang bola matanya. Sungguh suatu mukjizat ia bisa bertahan hidup dengan kondisi tersebut.
Setelah sebulan menjalani masa pemulihan di IAR Indonesia yang memiliki fasilitas perawatan bagi satwa liar terutama orangutan, Junai dinilai siap untuk kembali hidup di habitat alaminya. Kedua peluru di belakang mata kirinya diputuskan tak diambil dengan pertimbangan bahwa operasi yang akan dilakukan sangat berisiko mengancam keselamatannya.
Gunung Tarak yang berada tidak jauh dari kawasan Taman Nasional Gunung Palung pun akhirnya dipilih sebagai lokasi pelepasliarannya. Di kawasan hutan lindung gunung ini, IAR Indonesia bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Ketapang Selatan, dan Balai Taman Nasional Gunung Palung melepaskan Junai pada Senin, 11 November 2019.
Kegiatan pelepasan ini menempuh waktu sekitar 12 jam menggunakan kendaraan mobil dan menempuh perjalanan kaki menuju titik pelepasan. Pelepasliaran di Gunung Tarak ini merupakan kali pertama sejak terakhir kali melepasliarkan orangutan bersama BKSDA Kalbar dan KPH Ketapang Selatan pada 2017. Total sudah 15 orangutan dilepaskan di kawasan ini sejak tahun 2014.
Untuk memastikan kondisi Junai terus selamat dan mampu melanjutkan hidupnya, IAR Indonesia menempatkan tim patroli dan monitoring yang telah berada di sana sebagai bagian dari prosedur yang ditetapkan IAR Indonesia dalam program pelepasliaran orangutan.
Meskipun salah satu matanya mengalami kebutaan, tim pelepasan yakin bahwa hal tersebut tidak akan mengurangi kemampuannya untuk bertahan hidup selayaknya orangutan. Orangutan dikenal sebagai satwa cerdas dengan tingkat kemampuan adaptasi yang tinggi.
“Sebelumnya kami pernah juga melepaskan orangutan yang satu kakinya lumpuh akibat peluru pada tahun 2016 di HL Gunung Tarak, orangutan ini kami pantau setiap hari selama beberapa bulan dan terbukti bahwa orangutan ini mampu bertahan hidup dengan normal walaupun salah satu kakinya lumpuh akibat ada belasan peluru yang beberapa di antaranya mengenai saraf tulang belakangnya,” ujar Argitoe Ranting, Manager Survey, Release, dan Monitoring IAR Indonesia. “Kehilangan satu matanya tidak akan berpengaruh banyak dalam kemampuan bertahan hidupnya karena kemampuan adaptasi orangutan cukup bagus di alam liar. Kami yakin Junai akan baik-baik saja dan senang dengan rumah barunya ini,”tambahnya lagi.
Pernyataan Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez,
Orangutan Junai ini adalah salah satu korban kebakaran hutan dan lahan pada bulan kemarin. Kita sangat sedih melihat areal yang telah terbakar di sekitar kawasan hutan yang menjadi habitat orangutan Junai. Orangutan yang terpaksa kehilangan habitat tidak jarang masuk di areal kebun warga atau areal kampung, dimana kadang ada juga masyarakat yang sangat tidak bertanggung jawab yang hanya ingin ‘bermain-main’ dengan menyakiti orangutan dengan menembak peluru pada matanya. Jika peluru sampai kena kedua matanya, orangutannya bisa menjadi cacat untuk selamanya dan kesulitan untuk melanjutkan hidupnya. Kami sangat yakin bahwa sebagian dari masyarakat di ketapang, dan di seluruh Kalimantan tidak menyetujui dengan cara tersebut”
Pernyataan Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor, S.Hut., M.T.
Sebagai penggiat konservasi, kita mempunya satu pekerjaan rumah, yakni membangun pola pikir masyarakat untuk lebih peduli pada hutan, ekosistem dan satwa liar. Kerja-kerja konservasi sudah banyak dilakukan, tapi penganiayaan terhadap satwa liar masih saja terus berlangsung. Penyelamatan satwa liar sudah sering dilakukan, namun itu tidak akan pernah cukup selama kita tidak mampu merubah mindset masyarakat dan generasi muda untuk lebih ramah pada satwa liar.
Pernyataan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kehutanan Kalimatan Barat, Untad Dharmawan
Pelepasliaran satwa liar ke habitat aslinya pada dasarnya bertujuan untuk menjaga keseimbangan ekologis pada suatu ekosistem dalam hal ini adalah ekosistem hutan. Karena masing-masing dari setiap komponen yang ada dalam kesatuan ekosistem tersebut pada dasarnya memiliki peran dan relung ekologisnya masing2-masing sehingga akan tercipta suatu keseimbangan yang saling tergantung antara satu dengan yang lainnya.
Orangutan sebagai salah satu dari satwa langka yang dilindungi adalah merupakan Satwa khas bumi Kalimantan yang saat ini kehidupannya “terancam punah” akibat berbagai macam tekanan terhadap keberadaan hutan sebagai habitat kehidupan Orangutan. Tekanan berupa deforestasi, desertifikasi, overeksploitasi hutan, kebakaran hutan dan ditambah lagi perburuan liar semakin mengancam keberadaan orangutan itu sendiri.
Upaya yang telah dilakuan oleh Lembaga IAR indonesia selama ini dengan terus berupaya menyelamatkan, merawat, merehabilitasi dan melepasliarkan orangutan ke habitatnya patut kita apresiasi. Selain ini merupakan langkah upaya kita untuk menjaga dan melestarikan fungsi hutan, juga ini merupakan upaya sadar kita untuk “memanusiakan manusia” sebagai khalifah dimuka bumi.
Inventarisasi dan Pemantauan Satwa Liar untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati
Satwa liar memiliki peranan penting di dalam keseimbangan ekosistem hutan hujan tropis. Keanekaragaman jenis dan keanekaragaman fungsionalnya berkontribusi pada dinamika proses dari ekosistem ini. Misalnya, beberapa kelompok mamalia dan burung terlibat langsung dalam proses regenarasi hutan melalui polinasi, pemencaran biji, dan siklus nutrisi. Namun demikian, mereka terus terancam oleh perburuan, fragmentasi, dan kehilangan habitat. Semua faktor ancaman tersebut dapat menyebabkan kepunahan lokal dan pada akhirnya akan berdampak pada dinamika ekosistem hutan secara keseluruhan.
Kemampuan untuk secara langsung memantau status dan perubahan dari populasi-populasi satwa liar dalam konteks spasial-temporal adalah elemen kunci dari konservasi dan pengelolaan ekosistem hutan hujan tropis di Indonesia khususnya di Kalimantan Barat. Inventarisasi populasi satwa liar merupakan langkah penting pertama dalam penyediaan data dasar (baseline) untuk memahami struktur, kekayaan, kelimpahan, dan sebaranya di habitat alami.
Tim survey biodiversity memasang kamera jebak di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya
Di Kalimantan Barat, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya adalah salah satu kawasan penting sebagai “rumah” bagi satwa liar dan beragam kekayaan hayati lainya. Selain avifauna (burung) dan herpetofauna (reptil dan amfibi), mamalia merupakan kelompok satwaliar dengan kekayaan dan keragaman serta peran ekologis yang sangat penting. IAR Indonesia sejak mulai aktif berkegiatan di TN Bukit Baka Bukit Raya pada 2015, menaruh perhatian pada keberlangsungan populasi-populasi satwa liar di kawasan konservasi ini. Salah satunya, pada April 2019, dilakukan kegiatan inventarisasi dan pemantauan satwa liar menggunakan perangkap kamera yang masih berlangsung hingga sekarang. Perangkap kamera banyak digunakan dalam studi satwa liar dalam dekade terakhir karena dinilai cukup efisien dan mudah dilakukan.
Survei tersebut bertujuan untuk memperoleh daftar inventarisasi dari semua spesies mamalia serta satwa liar lainya. Selain itu, secara lebih spesifik, survei perangkap kamera bertujuan mengestimasi kekayaan jenis, mengevaluasi upaya pengambilan sampel, mengukur keanekaragaman spesies dan kelimpahan relatif, serta memperkirakan tingkat okupansi dari komunitas satwaliar. Hasil survei ini kemudian diharapkan dapat digunakan sebagai data dasar dalam rencana pemantauan dan pengelolaan populasi satwa liar di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di masa mendatang.
Kucing Teluk ( Pardofelis badia) yang tertangkap kamera jebak di kawasan TNBBBR.
Dari sebanyak 21 unit kamera jebak yang dipasang di area seluas ±7,4 kilometer persegi (±740 hektar), di dalam 1.424 hari perangkap kamera kami mencatat sedikitnya terdapat 17 jenis satwa liar termasuk 15 jenis mamalia berukuran sedang dan besar serta dua jenis burung. Sejak April 2019 hingga Agustus /2019, kami memperoleh total 148 gambar independen, di antaranya dapat diidentifikasi hingga tingkat spesies. Spesies yang paling sering tertangkap perangkap kamera adalah beruk (Macaca nemestrina, 32 foto) dengan rerata tingkat jebakan 3,32 foto independen per 100 hari jebak, diikuti oleh kijang merah (Muntiacus atherodes, 20 foto, tingkat jebakan 2,04), dan kijang muntjak (Muntiacus muntjak, 15 foto, tingkat jebakan 1,47). Beruk merupakan spesies yang tertangkap jebakan hampir di semua lokasi perangkap kamera.
Kami mendeteksi keberadaan beberapa spesies yang terdaftar dalam Daftar Merah IUCN termasuk trenggiling (CE), beruang madu (VU), dan ruai (NT). Dalam survei kami, ada sepuluh species resident seperti ruai, musang, dan babi berjanggut. Sementara itu terdapat tujuh spesies lain yang jarang terdeteksi yang hanya tercatat satu kali selama periode sampling (hingga Agustus 2019). Salah satu spesies yang paling jarang dijumpai adalah trenggiling yang terdaftar sebagai Kritis dalam Daftar Merah IUCN 2017 dan Appendix I CITES. Trenggiling adalah salah satu dari satwa yang dilindungi yang paling banyak diburu dan dieksploitasi di Asia Tenggara. Seperti spesies trenggiling lainnya, trenggiling Sunda diburu untuk kulit, sisik, dan dagingnya, digunakan dalam pembuatan pakaian dan obat tradisional. Meskipun dilindungi, perdagangan ilegal telah menyebabkan penurunan ukuran populasi jenis ini dengan cepat.
Empat mamalia terestrial yang juga jarang dijumpai yang kami deteksi dengan hanya satu foto adalah landak, kucing batu, tufted ground squirrel, dan biawak dumeril. Hampir semua dari tujuh satwa yang jarang tersebut relatif sulit diamati karena kualitas gambar yang rendah, dan perilakunya yang tergolong satwa nokturnal. Selama kegiatan IAR di TNBBBR berjalan, staf lapangan jarang menjumpai ruai, trenggiling sunda, dan atau kucing batu. Hal ini menunjukkan bahwa kamera jebak cukup berguna untuk menginventarisir satwa liar yang elusive (sulit dijumpai). Dua spesies burung, ruai, dan crested partridge yang kami deteksi terdaftar sebagai spesies yang hampir terancam (NT), Appendiks II dan III CITES. Ruai yang tertangkap kamera jebak sebanyak tujuh kali dikenal sebagai satwa endemik Kalimantan.
Dari hasil kami, evaluasi tentang berapa lama kamera harus dioperasikan masih belum dapat ditentukan secara tepat karena kurva akumulasi masih belum menunjukkan daerah plateu. Hal ini mungkin mengindikasikan bahwa upaya survei yang lebih lama dan lebih besar masih diperlukan untuk merekam beberapa spesies satwa liar lainya. Pada prinsipnya, semakin besar ukuran sampling atau periode pengambilan sampel yang lebih lama, semakin banyak spesies akan dicatat. Kurva sampling ini naik relatif cepat pada awalnya, kemudian jauh lebih lambat dalam sampel selanjutnya seiring bertambahnya taksa yang jarang dijumpai. Hasil survei kami menunjukkan bahwa usaha pengambilan sampel yang lebih besar atau periode sampling yang lebih lama masih diperlukan. Diharapkan ketika kurva akumulasi spesies mencapai asimtot, kita dapat cukup yakin bahwa seluruh spesies yang ada di lokasi survei telah tercatat.
Indeks keanekaragaman spesies juga digunakan sebagai parameter dasar untuk program pengelolaan satwa liar yang bertujuan untuk memantau struktur dan komposisi komunitas satwa liar dari waktu ke waktu. Indeks keanekaragaman yang paling umum digunakan dalam ekologi adalah keanekaragaman Shannon dan keanekaragaman Simpson. Keanekaragaman Shannon dan Simpson meningkat seiring dengan meningkatnya kekayaan jenis, untuk pola kemerataan tertentu, dan meningkat seiring dengan meningkatnya kemerataan. Estimasi indeks keanekaragaman kami menunjukkan bahwa komunitas satwa liar di Resor Mentatai di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi.
Penulis: Ahmad Jabbar
Meningkatkan Ekonomi Masyarakat dengan Pengolahan Produk Alam
Alam memberkati manusia dengan beragam kekayaan yang jika diolah dengan bijak, tidak hanya menunjang kebutuhan lahiriah namun juga memberikan kesejahteraan secara ekonomi dan bahkan memberi ruang hidup bagi satwa. Pengetahuan inilah yang diupayakan IAR Indonesia dalam semua kegiatan pemberdayaan masyarakat yang tinggal di area hutan dan area-area yang berdekatan dengan habitat satwa. Selain untuk menghindarkan kemunculan konflik antara manusia dan satwa, informasi tentang pengolahan produk-produk alam dengan bijak, bisa menjadi pekerjaan alternatif dan bahkan utama bagi masyarakat, ketimbang mereka menjalankan pekerjaan yang merusak alam.
Sejumlah kegiatan yang mengajarkan pada cara-cara pengolahan produk-produk alam dengan bijak, telah dilakukan bagian program Community Development di IAR Indonesia sejak 2017. Sejumlah produk unggulan telah dihasilkan oleh kelompok-kelompok masyarakat di daerah Kalimantan Barat. Di antaranya produk organik seperti pupuk organik cair (POC), mikroorganisme lokal (MOL) dan cuka kayu, dan hasil hutan bukan kayu berupa minyak tengkawang dan madu hutan.
Produk-produk Organik IAR Indonesia
Produk organik dikembangkan sebagai salah satu media edukasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan limbah dan sumber daya alam yang tersedia di sekitar mereka. Misalnya pemanfaatan limbah pertanian seperti sabut kelapa, ranting/kayu kering, tempurung kelapa, sampah daun maupun batang pisang dan juga bahan-bahan sekitar yang dapat dimanfaatkan berupa air kelapa, air cucian beras, air gula, maupun sisa buah/buah busuk. Bahan-bahan yang ada inilah selanjutnya dimanfaatkan dengan cara diolah dan difermentasi menjadi produk-produk organik. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem serta menciptakan pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan dengan pemanfaatan limbah pertanian dan bahan-bahan sekitar.
Buah tengkawang yang dikeringkan
Adapun pengolahan tengkawang (Shorea spp) juga menjadi alternatif kegiatan pemberdayaan masyarakat yang sangat berpotensi. Tengkawang merupakan pohon dari genus Shorea yang buahnya menghasilkan minyak nabati. Lemak tengkawang memiliki sifat yang khas sehingga harganya relatif lebih tinggi dari minyak nabati lain seperti minyak kelapa. Menurut penelitian Alamendah tahun 2009, lemak tengkawang bisa digunakan sebagai bahan pengganti minyak cokelat, bahan lipstik, sabun, lilin, minyak makan dan bahan obat-obatan. Pohon tengkawang di Kalimantan Barat, setiap tahun mampu menghasilkan buah tengkawang sekitar 50.000 ton/tahun (Intan, 2017). Potensi yang besar ini, diharapkan bisa menjadi alternatif pemasukan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat di desa-desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.
Madu Desa Ulak Medang
Produk unggulan lainnya yang dikembangkan adalah madu hutan yang berasal dari Desa Ulak Medang. Madu hutan ini berasal dari pohon-pohon rengas, vegetasi khas hutan rawa gambut. Secara umum, permintaan madu hutan di Ketapang, sangat tinggi sehingga madu hutan Ulak Medang berpotensi untuk menjadi memenuhi permintaan. Hal ini secara tidak langsung, membawa pengaruh positif dalam meningkatkan perekonomian masyarakat di Desa Ulak Medang.
Strategi pemberdayaan untuk meningkatkan penghasilan masyarakat sekitar hutan dengan pengembangan produk unggulan diharapkan dapat menjadi salah mata pencaharian alternatif yang menjanjikan dalam meningkatkan ekonomi masyarakat agar tidak ada lagi yang merambah hutan dan membahayakan satwa liar.
Heribertus Suciadi
SIAR Vol 5: Juni 2019
Tentang SIAR
SIAR merupakan buletin bulanan digital IAR Indonesia yang berisi informasi upaya-upaya berkelanjutan dalam menjaga dan melestarikan satwa liar serta habitatnya, yang tercermin dalam program-program kami. Karena itu, pada tiap edisi SIAR memperlihatkan bahwa perhatian kami tidak semata-mata tertuju pada kesejahteraan satwa yang dilindungi, namun juga apresiasi kami pada sosok-sosok yang berjasa dalam menjaga pelestarian lingkungan.