Silakan atur halaman utama di Settings → Reading → Your homepage displays
dan pilih A static page, lalu pilih halaman dengan template Home.
Celaka Satwa Obesitas dan 4 Cara Penanganannya
Halo sobat #KonsevasYIARI, pasti kalian suka kalo melihat satwa atau binatang yang memiliki badan gemoy. Istilah gemoy sekarang digunakan untuk sesuatu yang lucu dan menggemaskan. Satwa yang memiliki badan gendut atau besar lebih terlihat gemoy, setuju nggak? Meski terlihat lucu dan menggemaskan, satwa yang memiliki badan terlalu besar dapat menyebabkan obesitas loh. Obesitas memiliki dampak negatif pada satwa itu sendiri. Seperti halnya manusia, satwa juga butuh hidup sehat dan menjauhi obesitas. Nah berikut adalah penjelasan terkait obesitas pada satwa.
Apa itu obesitas pada satwa?
Obesitas terjadi dikarenakan ketidakseimbangan antara jumlah kalori yang dikonsumsi dengan kalori yang dikeluarkan. Satwa yang tidak banyak melakukan aktivitas di alam akan lebih rentan terkena obesitas. Kalori yang ada pada tubuh satwa tersebut tidak akan terurai dan disimpan dalam bentuk lemak. Selain hal tersebut, faktor genetik juga dapat menyebabkan lebih rentan terkena obesitas. Obesitas juga merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan antara tinggi badan dan berat badan.
Bagaimana ciri-ciri satwa yang mengalami obesitas?
Ciri-ciri fisik pada satwa yang mengalami obesitas dapat dilihat secara langsung. Lingkar tubuh telah umum digunakan sebagai alat antropometrik untuk menilai komposisi tubuh dan risiko kesehatan pada individu obesitas. Tubuh satwa yang mengalami obesitas akan cenderung lebih besar daripada satwa sejenisnya. Tingkah laku satwa yang mengalami obesitas dapat diketahui dengan ciri-ciri tidak terlalu banyak bergerak atau beraktivitas, nafsu makan yang berlebih, dan memiliki kesulitan untuk bergerak. Agar lebih jelas membedakan antara satwa obesitas dengan satwa yang tidak mengalami obesitas, yuk kita perhatikan gambar berikut.
Sastro, kukang jawa jantan dengan berat badan ideal (kiri) dan Nia, kukang sumatera dengan kondisi obesitas (kanan), terlihat bahwa perut Nia sudah menyentuh lantai (Fattreza Ihsan dan Imam Arifin | Yayasan IAR Indonesia)
Lalu mengapa obesitas pada satwa itu bahaya?
Penumpukan lemak pada tubuh satwa dapat menyebabkan atau memengaruhi fungsi tubuh saat terserap organ-organ tertentu. Terganggunya fungsi organ tertentu dalam tubuh tentu dapat berdampak pada kesehatan satwa tersebut.
Sistem kekebalan tubuh pada satwa juga akan terancam jika satwa mengalami obesitas. Hal ini dikarenakan satwa tidak banyak bergerak atau melakukan aktivitas sehingga tubuhnya rentan terkena penyakit. Satwa yang mengalami obesitas juga akan terkena gangguan pernapasan. Hal ini dikarenakan terjadinya pembengkakan dan penyempitan pada saluran pernapasan.
Obesitas pada satwa akan memicu banyak penyakit lainnya. Oleh karena itu perlu dilakukan penanganan khusus untuk satwa yang mengalami obesitas. Penanganan tersebut antara lain adalah :
Mengontrol porsi makan
Satwa yang mengalami obesitas dapat dibawa ke pusat rehabilitasi. Pemberian makan pada pusat rehabilitasi akan selalu dikontrol dan sesuai dengan porsinya. Makanan setiap satwa sudah ada takarannya. Jadi, untuk mencegah obesitas maka harus memberikan makan yang cukup dan terukur. Sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik.
Memberikan makanan yang sehat dan bergizi
Selain memberikan makanan yang cukup dan tidak berlebihan, kandungan gizi pada makanan juga harus diperhatikan. Dalam penanganan obesitas, pusat rehabilitasi akan berusaha memberikan makanan yang kalorinya tidak terlalu tinggi. Hal ini bertujuan untuk mencegah penumpukan kalori pada tubuh satwa.
Memberi latihan agar satwa terus bergerak dan beraktivitas
Penanganan satwa obesitas juga harus disertai dengan pembiasaan bergerak dan beraktivitas. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kalori yang ada pada tubuh satwa dan tentunya sebagai pembiasaan tingkah laku agar kembali seperti semula.
Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala
Pemeriksaan kesehatan oleh tim medis juga diperlukan dalam penanganan satwa obesitas. Hal ini akan terus diberikan untuk memastikan kondisi kesehatan satwa yang sedang dalam penanganan.
Obesitas sering terjadi pada hewan yang dipelihara oleh manusia. Hal ini terjadi karena sikap sayang terhadap hewan peliharaan yang salah sehingga tidak terkontrol dalam pemberian makannya.
Monyet ekor panjang yang mengalami obesitas (Harish, CC BY-SA 4.0)
Nah sobat #KonservasYIARI, kepedulian terhadap satwa dapat dimulai dengan membiarkan satwa liar hidup di alam bebas. Dengan begitu, satwa akan dapat hidup sehat dan melakukan aktivitas sebagaimana mestinya. Sobat #KonservasYIARI, yuk kita kampanyekan larangan memelihara dan memperjual belikan satwa liar agar tetap terjaga kelestariannya. Kita peduli, satwa lestari!
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Referensi:
Audrina MB, Harianto, Puspasari I. 2019. Rancang bangun pemberi makan otomatis pada kucing menggunakan mikrokontroler. Journal of Control and Network System. 8(2) : 182-189. Ghassani YK, Rianti P, Priambada NP, Arifin I, Saptorini I, Prameswari W, Darusman HS. 2022. Penilaian kesejahteraan kukang (Nycticebus spp.) di pusat rehabilitasi primata Indonesia: Pengembangan dan validasi skor kondisi tubuh. American Journal of Primatology. 1-15. https://www.alodokter.com/kenali-ciri-ciri-obesitas-pada-anjing-dan-beragam-risiko-kesehatan-yang-mengintai https://hewania.com/gaya-hidup-sehat-pada-hewan-untuk-menghindari-obesitas/12069/ https://www.royalcanin.com/id/cats/health-and-wellbeing/health-risks-of-overweight-and-obese-cats
Ravy Nur Aziz
Serba-Serbi Enrichment Kukang di Pusat Rehabilitasi
Kalau minggu lalu kita sudah bahas enrichment makaka, Sobat #KonservasYIARI kepo gak sih bagaimana dengan enrichment kukang? Apakah sama dengan enrichment makaka?
Yuk simak informasi yang kami dapatkan dari Kang Barnas atau yang lebih dikenal dengan nama Acong! Beliau adalah perawat satwa kukang YIARI sejak tahun 2010 yang kini bertanggung jawab terhadap enrichment kukang.
Ada apa aja ya jenis jenis enrichment kukang?
Kalau berdasarkan sumbernya, jenis enrichment kukang tersebut dibagi menjadi dua, yaitu enrichment alami dan buatan. Contoh enrichment alami diantaranya adalah buah hutan, daun pisang, kakao, daun congkok, daun patat, dan sebagainya. Enrichment non-alami diantaranya adalah bola, pipa, kawat, dan sebagainya. Enrichment alami biasanya dikombinasikan dengan enrichment non-alami sebagai enrichment harian.
Seperti makaka, pada kukang juga terdapat enrichment harian dan enrichment lingkungan.
Enrichment buah hutan (Tim Perawat Satwa | IAR Indonesia)
Lalu, apa sih persamaan dan perbedaan pemberian enrichment makaka dan kukang?
Ada beberapa nih Sob. Jadi, meskipun enrichment kukang dan makaka sama-sama terjadwal, jadwal enrichment kukang dibuat dalam rangka waktu bulanan, tidak mingguan seperti makaka. Meskipun begitu, untuk pemberian enrichment buah hutan dilakukan pada setiap hari minggu.
Lalu, waktu pemberian dan jadwal pemberian enrichment mereka pun berbeda. Sobat #KonservasYIARI tahu kan kalau kukang termasuk hewan nokturnal atau aktif pada malam hari? Oleh karena itu, enrichment harian untuk kukang diberikan pukul 02.00 dini hari, mengikuti jadwal aktif kukang. Jadi, ketika para Sobat #KonservasYIARI sedang istirahat atau tidur, para kukang ini sedang diberikan enrichment!
Perbedaannya juga terdapat pada jenis dan variasi enrichment. Enrichment tematik atau enrichment lingkungan kukang berupa furnitur kandang Sob, tidak didesain tematik seperti pada kandang makaka. Enrichment lingkungan tersebut di antaranya berupa batang pohon, lorong bambu, tali ban, serta lubang pohon seperti sarang tarsius juga. Bisa dikatakan pula kalau enrichment harian kukang lebih bervariasi daripada makaka. Meski pemberiannya tetap sama ya, satu kali sehari.
Enrichment pipa buah berupa pipa yang dilubangi kemudian diisi makanan seperti buah (Tim Perawat Satwa | IAR Indonesia)
Menurut kang Acong sendiri selaku perawat satwa kukang, pemberian enrichment kukang sedikit lebih menantang daripada pemberian enrichment untuk makaka. Kenapa ya?
Waktu perawatan dan pemberian enrichment yang dilakukan pada malam hari. Karena kukang termasuk satwa nokturnal, para perawat kukang pun melakukan tugasnya mengikuti jadwal para kukang, yaitu pada malam hari. Luar biasa ya para perawat satwa ini! Kita sih lagi istirahat ya kalau malam hari.
Cara memancing satwa terhadap enrichment. Kalau makaka ‘kan identik aktif sekali bergerak ya, jadi enrichment akan tetap dimainkan baik ada tidaknya makanan pada enrichment tersebut. Kalau kukang? Aduh agak sulit sulit gampang nih, biasanya mereka hanya mau menghampiri enrichment yang ada makanannya… Bahkan, mereka juga belum tentu suka dengan makanan yang diberikan pada enrichment tersebut, beberapa kukang memang picky banget nih…
Kukang lebih butuh perhatian khusus dibanding makaka. Tubuh kukang yang mungil serta kandangnya yang lebih kecil membuat para perawat satwa perlu memperhatikan dan merawat kukang dan kandangnya dengan lebih maksimal lagi.
Enrichment wire food berupa makanan seperti buah yang dihalangi dengan kawat (Tim Perawat Satwa | IAR Indonesia)
Wah baru tahu deh kukang picky atau pilih-pilih juga kalau makan ya🤔
Iya bisa dibilang begitu… Hal tersebut juga tidak bisa digeneralisir karena ada juga kukang yang cenderung pemakan segala. Preferensi makan tiap kukang juga berbeda-beda, seperti manusia, mereka punya seleranya masing-masing! Tapi kalau ada kukang yang benar-benar tidak suka dengan enrichmentnya, enrichment tersebut bisa benar-benar tidak dimakan loh! 🙁lalu kalau sudah begini jadi tugas para perawat satwa deh yang membersihkan makanan tersebut.
Oiya Kang Acong sendiri selaku perawat satwa kukang yang sudah merawat kukang selama belasan tahun ini pernah menemukan inovasi untuk enrichment kukang loh! Enrichment tersebut berupa angpau insect, yaitu serangga yang dimasukkan ke dalam angpau. Inspirasi ini didapatkan dari anaknya.
Enrichment dari buah kakao dan pipa yang kemudian akan diisi serangga (Tim Perawat Satwa | IAR Indonesia)
Penasaran deh, kalau pemberian enrichment kukang pada zaman dahulu dan zaman sekarang ada bedanya gak ya?🤔
Ada! Tapi fakta ini sedikit bikin sedih deh😢 Dahulu, madu yang diberikan sebagai enrichment seringkali diberikan dengan cara dioleskan pada daun pisang, dan satu daun pisang saja cukup untuk seluruh kukang. Namun kini semakin banyak kukang di pusat rehabilitasi dan rasanya tidak memungkinkan jika pemberian madu selalu dilakukan dengan daun pisang. Namun mereka tetap mendapatkan enrichment dengan daun pisang, kok. Intensitasnya saja jadi berkurang, kini enrichment dengan daun pisang diberikan dua kali dalam satu bulan.
Oleh karena itu, yuk bantu konservasi kukang agar tidak semakin banyak kukang yang perlu dirawat di pusat rehabilitasi!
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Fathia Rosatika
Beragam Bentuk Enrichment Makaka, Unik Banget!
Sobat #KonservasYIARI suka mengamati lingkungan sekitar gak? Atau pernah ikut pengamatan satwa? Kalau masa liburan mau berakhir, pasti Sobat #KonservasYIARI juga melakukan persiapan untuk kembali melakukan kegiatan seperti semula ‘kan? Yang masih bersekolah menyiapkan peralatan sekolahnya, yang bekerja mungkin menyiapkan fisik dan mentalnya untuk kembali berutinitas. Begitu juga satwa di pusat rehabilitasi nih Sob. Dibantu oleh para perawat satwa, para satwa di pusat rehabilitasi pun melakukan persiapan sebelum dilepasliarkan ke alam. Salah satu persiapannya disebut dengan enrichment.
Kandang enrichment tematik tema alam yang dilengkapi dengan hammock, air terjun, tali tambang untuk berayun, serta rolling ball yang diisi dengan biji-bijian (Ruli | Yayasan IAR Indonesia).
Enrichment? Apa tuh?
Singkatnya, enrichment atau pengayaanmerupakan upaya seperti pemberian fasilitas, dan pakan tambahan, juga modifikasi cara pemberian dan jenis pakan tambahan.
Tapi tapi tapi, hal ini tujuannya agar apa sih?
Ada beberapa nih, di antaranya agar:
Satwa di pusat rehabilitasi dapat lebih enjoy menghabiskan waktunya
Mengurangi tingkat kebosanan atau kejenuhan satwa di kandang, sehingga makaka lebih aktif melakukan kegiatan seperti mencari makan
Mengurangi karakter perilaku abnormal (perilaku yang tidak biasa muncul pada satwa liar di alam, umumnya merupakan indikator respon stres ketika dipiara di kandang)
Membantu mempercepat pemulihan stres
Menimbulkan kembali sifat (perilaku) dan naluri alami satwa yang sedang menjalani pemulihan di pusat rehabilitasi
Jadi, enrichment ini seperti pembekalan untuk para satwa sebelum dilepasliarkan kembali ke alam gitu deh.
Kami juga pernah bahas sedikit terkait enrichment untuk satwa liar di pusat rehabilitasi, boleh disimak juga melalui kedua tautan dibawah ini ya!
Berdasarkan Smithsonian Institute, ada lima tipe enrichment yang bisa diberikan pada hewan, yaitu enrichment habitat, kognitif, sensorik, pakan, serta mainan.
Tak jarang juga ada gabungan dari tipe enrichment tersebut. Enrichment pakan yang diberikan juga bisa disebut dengan food based enrichment, yaitu pemberian pakan yang divariasikan seperti meletakkan pakan dalam wadah yang digantung pada ranting-ranting pohon, sehingga dapat melatih insting berburu dan mencegah terjadinya perilaku abnormal atau stres pada satwa (Kuntum et al. 2020).
Kalau di pusat rehabilitasi YIARI sendiri, enrichment dibagi menjadi dua yaitu, enrichment harian dan enrichment tematik atau enrichment lingkungan. Enrichment tematik merupakan proses pemberian enrichment dinamis untuk meningkatkan pengayaan lingkungan satwa, perubahan lingkungan, meningkatkan pilihan-pilihan enrichment untuk kesejahteraan satwa di kandang rehabilitasi YIARI. Jadi, enrichment tematik ini bisa meliputi enrichment habitat, kognitif, sensorik, serta mainan. Kalau enrichment harian, merupakan enrichment yang diberikan setiap harinya. Ada juga tambahan enrichment bulanan berupa dedaunan yang diletakkan di atas kandang setiap bulannya.
Wah menarik, tapi enrichment yang diberikan satwa sebetulnya berupa apa sih? Ada contoh fotonya gak ya?
Penasaran kan? Ada dong! Kita bahas enrichment hariannya dulu ya! Untuk makaka, berikutjadwal enrichment harian yang diberikan oleh para perawat satwa secara rutin setiap harinya pukul 8 nih Sobat #KonservasYIARI!
Enrichment harian sesuai jadwalnya (Amun Nawawi | Yayasan IAR Indonesia)
Enrichment harian tersebut diantaranya ialah:
Biji-bijian yang diletakkan pada serbuk kayu (Senin)
Pipa yang diisi madu atu yoghurt (Selasa)
Biji-bijian yang dimasukkan ke dalam pipa shake (Rabu)
Kotak kawat yang diisi dengan daun yang kemudian diletakkan di dalam atau di luar kandang (Kamis)
Bola (rollingball) yang diisi dengan biji-bijian (Jumat)
Daun seperti daun kaliandra, bambu, atau daun lainnya yang diletakkan di dalam atau di luar kandang (Sabtu)
Serta enrichment harian pada hari Minggu, pipa yang diisi dengan sirup atau yoghurt (Minggu).
Teratur banget ya enrichment hariannya, kalau enrichment tematiknya seperti apa ya?
Untuk saat ini kandang untuk enrichment tematik yang aktif digunakan ada beberapa tema, juga dengan alat yang beragam di dalam kandangnya, yuk langsung intip!
Beberapa makaka sedang bermain di atas roda treadmill (Ruli | YayasanIAR Indonesia)
Kandang enrichment tema tersembunyi dengan rumah jamur untuk bersembunyi (Ruli | Yayasan IAR Indonesia)
Enrichment tematik dengan tema taman bermain dengan beragam alat untuk bermain (Ruli | Yayasan IAR Indonesia)
Jadi, kurang lebih begitulah sekilas informasi terkait enrichment makaka yang penulisannya dibantu oleh Kang Ruli atau yang biasa dipanggil Jubel, selaku perawat satwa yang bertanggung jawab terhadap enrichment makaka. Nah, Sobat #KonservasYIARI sudah sedikit lebih paham tentang enrichment Makaka kan? Next time bahas apalagi ya? Bahas enrichment kukang seru kaliya?👀
Dukung satwa-satwa dilindungi Indonesia dengan membagikan kisah ini di sosial mediamu atau ikut berdonasi untuk satwa-satwa di pusat rehabilitasi kami dengan mengklik link di sini.
Referensi: Gakkum MenLHK. 2020. Buku Panduan Penanganan (Handling) Satwa Primata. https://gakkum.menlhk.go.id/assets/filepublikasi/Buku_Panduan_Penanganan_(Handling)_Satwa-Primata_Final_ok.pdf Kebun Binatang Nasional dan Institut Biologi Konservasi Smithsonian, https://nationalzoo.si.edu/animals/animal-enrichment Kuntum R, Yusuf R, Darusman HS. 2020. Evaluasi Manajemen Pemeliharaan terhadap Endoparasit Saluran Pencernaan pada Kukang Sumatera (Nycticebus coucang). Jurnal Primatologi Indonesia. 17 (1): 22-27.